بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

 

RINGKASAN KHUTBAH JUM’AH

HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.

Tanggal  11 September 2009  dari Baitul Futuh London UK

 

       لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ‌ؕ وَتِلْكَ اْلاَ مْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْن

 

Artinya : Sekiranga Kami menurunkan Alqur’an ini kepada gunung , niscaya engkau akan melihat gunung itu merendahkan diri dan pecah berantakan kerana takut kepada Allah. Dan inilah tamsil-tamsil yang Kami kemukakan untuk manusia, supaya mereka dapat berpikir. (AlHasyar : 22)

Banyak orang yang berhati keras sehingga ajaran Alqur’an yang begitu baik dan indah tidak bisa memberi sebarang kesan kepada mereka. Padahal didalam ayat tersebut diatas dikatakan bahwa demikian perkasanya Firman Tuhan itu sehingga jika diturunkan kepada gunungpun niscaya gunung itu akan merendahkan diri dan pecah berantakan. Sesungguhnya yang menyebabkan hati manusia menjadi keras seperti batu, tidak mau menerima ajaran-ajaran Alqur’an, adalah karena manusia sudah lupa kepada maksud dan tujuan mereka telah diciptakan oleh Tuhan kedunia, mereka telah melupakan Tuhan Pencipta mereka dan mereka lupa kepada kehidupan yang akan berlaku dialam akhirat nanti.

            Lebih jauh tentang kerasnya hati manusia itu telah dijelaskan lagi oleh Allah swt  didalam Surah Albaqarah ayat 75, sebagai berikut :

     ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِىَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً‌ ؕ وَاِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ اْلاَنْهٰرُ‌ؕ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَآءُ‌ؕ وَاِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ‌ؕ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْن

 Artinya : Lalu, menjadi keras hatimu sesudah itu, hingga ia seperti batu atau lebih keras lagi; dan sesungguhnya diantara batu-batupun ada yang mengalir darinya sungai-sungai, dan sesungguhnya diantaranya ada yang terbelah lalu keluar air darinya. Dan sesungguhnya diantaranya ada yang jatuh tersungkur karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lalai terhadap apa yang kamu kerjakan. (Albaqarah : 75)

Firman Tuhan dan Taqdir atau Keperkasaan Tuhan bisa menimbulkan kesan sekalipun terhadap benda-benda padat ciptaan-Nya, namun hati manusia demikian sangat keras, sehingga  sekalipun telah menyaksikan bukti Keperkasaan Tuhan dihadapan matanya sendiri ia tidak mendapat kesan dari padanya dan tidak mau merubah sikap pikiran dan perasaan hati-nya. Atau hatinya sendiri tidak ingin merubah sikap degilnya itu. Ayat tersebut berkaitan dengan orang-orang Yahudi, namun hal itu bukan hanya merupakan kejadian yang sifatnya sementara, bahkan didalamnya mengandung sebuah nubuatan, sebuah kejadian yang akan dihadapi manusia dimasa yang akan datang, bahwa jika didalam hati kamu tidak timbul rasa takut terhadap Tuhan maka hati kamu juga akan menjadi keras seperti itu. Keadaan masa sekarang ini harus dipikiran yang sangat serius oleh orang-orang Muslim diseluruh dunia. Pikirlah baik-baik mengapa hal itu semua tengah terjadi diatas diri mereka. Sekalipun dinegara-negara Barat para pemimpin mereka atau para ilmuwan mereka mengadakan pidato-pidato atau ceramah-ceramah dihadapan para tokoh politik dan tokoh-tokoh masyarakat, sehingga orang-orang Muslim sendiri sangat memuji kegiatan ceramah seperti itu, akan tetapi apabila tiba waktunya untuk mengambil suatu keputusan, maka keputusan itu diambil tidak atas nama kepentingan dan faedah Islam secara global namun sebaliknya dititik beratkan kepada kepentingan nama pribadi masing-masing. Standar mereka itu dianggap sebagai orang-orang Islam kelas ketiga yang untuk memerintah negara mereka sendiripun mengharapkan sokongan dari negara-negara Barat dan mereka juga tengah dilanda oleh bencana-bencana alam yang amat dahsyat, baik yang turun dari langit maupun yang muncul dari atas bumi sendiri. Mereka harus berfikir, mengapa semua bencana seperti itu terjadi ? Pada permulaan surah Al Hasyar yang ayatnya telah saya bacakan itu dimulai dengan seruan terhadap orang-orang Mukmin, dan diseru supaya mereka berusaha untuk menjadi orang-orang bertaqwa kepada Tuhan. Mereka telah diingatkan kepada apa yang harus mereka persiapkan untuk hari esok dan telah diingatkan kepada keadaan hari akhirat dan supaya mereka itu takut kepada Tuhan Pencipta mereka. Namun mereka tidak mau menaruh perhatian untuk merubah sikap dan pikiran mereka sebab mereka telah dikuasai oleh pengaruh syaitan.

            Didalam Surah Al An’am Allah swt berfirman sebagai berikut :

      وَلٰـكِنْ قَسَتْ قُلُوْبُهُمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطٰنُ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْن

Artinya : …bahkan hati mereka semakin keras dan syaitan menampakkan indah kepada mereka apa yang dikerjakan oleh mereka.(Al An’an : 44)

Ayat ini melukiskan bagaimana semakin buruknya keadaan perilaku kejahatan mereka itu. Mereka bukan mengambil pelajaran dari setiap musibah atau bencana yang terjadi, sebaliknya mereka semakin meningkat didalam kejahatan mereka, meningkat didalam kezaliman mereka, semakin meningkat didalam dosa dan ma’siyat mereka. Keadaan seperti itu tengah terjadi di Pakistan yang tengah dilanda oleh berbagai musibah diseluruh negeri, dimana-mana terjadi pertemuan-pertemuan umum yang dilanjutkan dengan demonstrasi anti pemerintah, menentang kenaikan harga-harga barang, menentang kenaikan tarif api (listrik) namun para pemimpin tetap diam tidak ambil perhatian. Surat-surat khabar telah banyak menurunkan berita bahwa keadaan negara kita tengah menghadapi malapetaka kedalam jurang kehancuran.

Huzur mengatakan bahwa sebab utamanya, sebagaimana telah berulang kali beliau peringatkan bahkan akan terus-menerus beliau peringatkan bahwa, beriman kepada Imam Zaman memang suatu hal yang tidak mungkin bagi mereka namun mereka telah membuat undang-undang yang menindas dan menganiaya para pengikut beliau a.s. Pertama mereka harus menghentikan perlakuan zalim itu terhadap kami. Mereka harus menghentikan istilah-istilah penghinaan terhadap Hazrat Imam Zaman yang dicantumkan didalam setiap surat-surat resmi mereka. Jika tidak Taqdir Allah swt akan berjalan menggilas mereka.

            Jika mereka melihat seorang non Muslim menyebut nama Allah atau memakai gantungan kalung bertuliskan nama Allah atau nama Muhammad saw, mereka sangat gembira sekali terhadapnya. Namun sebaliknya apabila orang-rang Ahmadi hanya menulis Kalimah Syahadah dimesjid mereka atau dirumah mereka, tiba-tiba para Mullah marah dan segera mereka membuang huruf-huruf itu kedalam sewer atau comberan yang kotor atau menghapusnya dengan paint atau cat. Mereka tidak mengira perbuatan aib dan buruk seperti itu sebagai penghinaan terhadap Rasulullah saw. Hati dan pikiran mereka sudah buta sudah dikelabui oleh syaitan. Jika mereka tidak mau berhenti dari perbuatan jahat seperti ini maka Taqdir Allah swt akan berlaku dan akan menggilas mereka.

            Seorang Penyiar atau broadcaster bernama Mubasher Luqman telah menayangkan sebuah siaran dengan berani sekali di Pakistan. Dia bermaksud untuk memperlihatkan bagaimana sikap buruk para Ulama sekarang di Pakistan. Kita tidak tahu sampai berapa lama dia bisa bertahan sebagai pemberani itu. Didalam salah satu programme dia tayangkan di TV jawaban seorang Alim/Ulama. Dalam acara itu seorang Alim/Ulama tengah duduk menjawab sebuah pertanyaan. Didalam jawabannya Alim/Ulama itu memberi misal nama perusahaan Coca-Cola. Sebagaimana tidak akan ada pengusaha yang berani menggunakan atau meniru nama Coca Cola itu, jika ada ia akan menghadapi tuntutan hukum dipengadilan. Demikianlah pula kita orang muslim hanya kita yang boleh menamakan diri orang Muslim, apabila orang Ahmadi menyatakan diri sebagai orang Muslim ia harus dihukum. Begitulah karakter mereka yang menamakan diri ulama, tapi bodoh di Pakistan. Ulama seperti inilah yang telah dinubuatkan oleh Hazrat Rasulullah saw yang akan muncul diakhir zaman, yaitu dizaman sekarang bahwa :  “Akan terjadi suatu zaman diwaktu itu orang yang jahil dan bodoh akan dipilih sebagai pemimpin mereka. Orang-orang akan datang kepadanya untuk bertanya tentang suatu masalah.

 

 

Maka ia akan memberi fatwa tanpa dasar ilmu pengetahuan. Maka ia sendiri akan sesat dan akan menyesatkan orang-orang lain juga”.

            Siapa yang disebut Muslim sejati? Kita tidak perlu membahas secara panjang lebar, namun ketahuilah bahwa jika ada orang-orang yang patuh-ta’at sepenuhnya dan yang mengikuti ajaran Alqur’an dan sunnah-sunnah Hazrat Rasulullah saw yang sesuai dengan definisi Musliman, hanyalah orang-orang Ahmadi. Banyak hadis yang menjelsakan definisi orang Islam sejati yang bisa dikemukakan, dan itulah yang disebut definisi yang sebenarnya bahwa, bukan definisi alim-ulama yang menisbahkan diri mereka dengan trade mark Coca Cola.

Hazrat Abdul Malik r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda :

 مَنْ قَالَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَي اللهِ

Artinya : Barangsiapa yang berkata dangan sesungguhnya, tiada Tuhan Yang patut disembah selain Allah dan ingkar kepada suatu wujud lain yang disembah selain Allah, maka jiwanya dan harta bendanya patut dihormati. Perhitungan lainnya ada ditangan Tuhan. Dialah Tuhan Yang Maha mengetahui apa yang terkandung didalam hatinya. Tuhan akan memberi ganjaran kepadanya sesuai dengan kesucian niyyat didalam hatinya.

Didalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Anas Bin malik r.a. Raulullah saw bersabda :

مَنْ صَلَّي صَلاَ تَنَا وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَاَكَلَ ذَبِيْحَتَنَا فََّذّالِكَ الْمُسْلِمُ الَّّذِيْ لَهُ ذِمَّةُاللهِ وَذِمَّةُ رَسُوْلِ اللهِ فَلاَ تُكْْفِرُوا اللهَ فِيْ ذِمَّتِهِ

Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan salat seperti kita, menghadap kearah qiblah kita, memakan daging sembelihan kita maka mereka itu adalah Muslim. Allah dan Rasul-Nya bertanggung jawab untuk melindunginya. Maka janganlah melampaui batas perlindungan Allah terhadap dirinya, jangan menghina perlindungan Allah swt dan jangan menjatuhkan kehormatan diri-nya. Berdasarkan definisi Rasulullah saw inilah kita orang-orang Ahmadi dinyatakan orang-orang Muslim. Kita sama-sekali tidak memerlukan certifikat dari seorang Mulla manapun, atau serifikat dari suatu Parlement manapun.

            Beberapa hari yang lalu Huzur telah menerima kiriman dari orang-orang Ahmadi artikel yang dimuat didalam surat-surat Khabar, mereka menghendaki supaya Huzur maklum dan memberi nasihat apa yang harus dilakukan oleh mereka. Artikel itu memuat pernyataan dari seorang politisi Pakistan yang terkenal, Altaf Hussein Sahib yang baru-baru ini telah mengeluarkan sebuah pernyataan terbuka membela Ahmadiyah dan dengan tegas mengutuk tindakan brutal dan penganiayaan terhadap orang-orang Ahmady. Sudah menjadi adat kebiasaan para wartawan, untuk memanaskan suasana, surat Khabar itu telah menurunkan berita bohong bahwa Mirza Masroor Ahmad telah bertemu dengan Altaf Hussein di London membahas rencana untuk mengembangkan MQM (Party politik Altaf Hussein) di daerah Punjab atau diseluruh negeri Pakistan.  Huzur mengatakan bahwa sejauh mana kedudukan pernyataannya itu, setiap pembela bangsa menghendaki agar setiap jenis kekacauan dan ketidak beresan dinegaranya bisa ditumpas dan pengaruh Mullaiyyat bisa berakhir. Huzur telah menyatakan rasa gembira terhadap pernyataan Altaf Hussein Sahib yang sangat berani, yang membuktikan bahwa ia ingin menyaksikan keadaan negerinya aman dan damai. Tuhan sendiri Maha Mengetahui apa niyyat yang terkandung didalam hati manusia, kita tidak ragu-ragu terhadap niyyat baik-nya itu. Ia ingin menyaksikan berakhirnya bentrokan serta kebencian antar sesama kelompok dan golongan, supaya  negerinya memperoleh kemajuan. Semoga Allah swt memberi kemajuan dan kejayaan serta melimpahkan ganjaran-Nya kepadanya dan semoga dia tidak menjadi mangsa kompromi politik yang merugikan. Huzur secara insidentil telah mendengar bahwa orang-orang yang tergabung dalam golongan Tahafuz Khataman Nabiyyin (Pelindung Khotaman Nabiyyin) merasa puas dengan pernyataan Altaf Hussein Sahib itu. Pengaruh Ulama di Pakistan demikian kuatnya sehingga didalam Surat Kabar diberitakan tentang Perdana Mentri Pakistan berkata : “ Saya ingin melakukan ini dan itu demi negara, akan tetapi saya takut kepada Para Ulama !” Demikianlah kelemahan Perdana Menteri disana, penakut.

            Huzur bersabda, sehubungan dengan berita tentang pertemuan saya dengan Altaf Hussein Sahib jika betul saya telah bertemu dengannya pasti dia sendiri yang menceritakannya. Saya ingin menegaskan satu pernyataan bahwa siapa saja yang berusaha untuk membasmi kubu kebencian dan kebohongan dia pasti akan ditolong oleh Allah swt dan dia pasti akan

memperoleh kejayaan. Kami mencintai Negara Pakistan, kami telah membantu dengan gigih demi terciptanya Negara Pakistan, kami selalu bersedia menyerahkan pengorbanan dalam bentuk apa saja demi menyelamatkan Negara Pakistan. Sejauhmana tentang penganiayaan kejam mereka terhadap orang-orang Ahmadi, kami serahkan segala-galanya kepada Allah swt. Apabila kami memerlukan bantuan dan pertolongan, kami hanya berseru kepada Allah swt semata. Kami yakin sepenuhnya bahwa usaha kami tidak ada artinya samasekali dibanding dengan program yang akan dibuat atau sedang dibuat oleh Allah swt demi Jema’at Ahmadiyah. Dan insha Allah Taqdir Tuhan atau keputusan Tuhan Yang Maha Kuasa demi Jema’at Ahmadiyah pasti dan tidak ragu-ragu lagi akan zahir dengan dahsyat dinegeri Pakistan dan juga dinegara-negara Islam lainnya. Sehingga akan nampak dengan sendirinya dengan jelas seperti terangnya sinar matahari siapa yang disebut orang Islam yang hakiki atau siapa orang yang mencintai Islam dengan sesungguhnya. Saya anjurkan kepada orang-orang Pakistani Ahmadi yang tinggal di Pakistan ataupun yang tinggal diberbagai negara diluar Pakistan untuk berdo’a demi kemaslahatan negara mereka, supaya Allah swt memberi akal kepada pemimpin bangsa dan para pemimpin agama disana. Demikian juga orang-orang Ahmadi yang tinggal dinegara-negara Islam lainnya dan yang tinggal dinegara-negara Arab supaya mereka berdo’a secara khas didalam bulan Suci Ramadhan ini, yaitu bulan terkabulnya do’a-do’a agar Taqdir Mubram Tuhan tentang Jema’at Ahmadiyah segera zahir diatas dunia ini. Amin!!

Sekarang saya ingin kembali kepada masalah pokok yang dijelaskan didalam ayat yang telah saya tilawatkan pada permulaan khutbah ini. Beliau katakan bahwa perselisihan faham tentang definisi seorang Muslim adalah perkara yang penting juga untuk dijelaskan. Allah swt

Berfirman didalam surah Al Hasyr tersebut diatas :

   لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ‌ؕ

 Artinya : Sekiranga Kami menurunkan Alqur’an ini kepada gunung , niscaya engkau akan melihat gunung itu merendahkan diri dan pecah berantakan kerana takut kepada Allah, Hazrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bahwa : “  Salah satu makna dari ayat ini adalah bahwa, kesan Alqur’an itu demikian dahsyatnya sehingga jika Alqur’an itu turun diatas Gunung maka ia akan hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah sawt. Jika kesannya begitu hebat diatas benda-benda mati diatas bumi ini, mengapa Alqur’an itu tidak memberi kesan apapun kepada manusia? Alangkah bodohnya manusia yang tidak mengambil faedah dari kesan-kesan ajaran Alqur’an ini.

Makna lainnya yang kedua adalah siapapun diantara manusia tidak akan mampu meraih kecintaan dan keridhaan Allah swt sebelum ia menghancurkan dua buah sifat yang terkandung didalam dirinya. Pertama menghancurkan sifat takabbur atau sombong, seperti halnya sebuah gunung, kepalanya atau puncaknya yang tegak berdiri itu harus dijatuhkan sehingga rata dengan bumi. Demikianlah juga manusia harus menjauhkan semua fikiran dan perasaan takabburnya, dan berusaha untuk merendahkan diri. Yang kedua yaitu, semua hubungan-hubungan buruk, yang memicu permusuhan, ketidak ta’atan dan kebencian harus diputuskan dan dihancurkan seperti hancur luluhnya sebuah gunung. Sekarang harus diganti dengan hubungan persaudaraan, kecintaan dan keramah tamahan semata-mata untuk meraih keridhaan dan kecintaan Allah swt.

            Sekarang saya kembali kepada masalah orang-orang yang menamakan diri para Ulama yang menentang Jema’at Ahmadiyah. Selama mereka tidak membuang sifat takabbur dalam menghadapi masalah Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan tidak berhenti menggunakan istilah Alqur’an atau istilah Islam yang tidak sopan, maka jika mereka benar-benar menyatakan diri mencintai Allah swt dan Rasul-Nya Muhammad saw, maka mereka harus menjalin hubungan baik dengan Imam Zaman, yakni Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Kemudian tengoklah, bagaimana masyarakat Timur maupun Barat akan memandang kalian dengan pandangan sangat hormat kepada kalian. Maka barulah rahasia dan ma’rifat yang terkandung didalam kalam suci yang telah Tuhan turunkan  kepada Hazrat Rasulullah saw akan mampu kalian fahami. Sebab untuk memahami kalam suci Allah swt didalam Alqur’an sangat diperlukan seorang hamba yang dipilih oleh Allah swt. Sebagaimana Allah sendiri telah berfirman :

اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْم – فِىْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ‏ –  لاَ يَمَسُّهٗۤ اِلاَّ الْمُطَهَّرُوْنَؕ

Artinya : Ini sungguh Alqur’an yang mulia- Dalam suatu Kitab terpelihara dengan baiknya – Yang tiada orang boleh menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan. (Al Qaqi’ah : 78-80)

Didalam ayat ini selain diberitahukan kepada orang-orang Non Muslim kemuliaan Kitab Suci Alqur’an, juga terdapat satu amanat bagi orang-orang beriman bahwa hanya orang-orang yang telah mensucikan dirinya dan mengamalkan ajaran-ajarannya yang akan mampu meraih rahasia dan ma’rifat Alqur’an. Dan untuk memperoleh pengertian rahasia Alqur’an yang hakiki mereka harus mencari orang yang telah disucikan oleh Allah swt. Pada zaman ini sesuai dengan janji Allah swt dan dengan sempurnanya nubuwatan Hazrat Rasulullah saw, rahasia dan ma’rifat Kitab Suci Alqur’an telah dianugerahkan Tuhan kepada Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Martabah dan kehormatan ini sejak mula akan diberikan kepada Al Masih dan Al Mahdi, dan sekarang sudah beliau terima.

            Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa, untuk memperoleh pengertian dan rahasia ilmu Alqur’an yang murni dan hakiki sangat diperlukan seorang guru yang telah disucikan oleh tangan Allah swt. Sejak zaman permulaan untuk memecahkan masalah didalam Alqur’an diperlukan seorang Guru, dan sekalipun banyak maslah yang telah dipecahkan, demi banyaknya masalah kesulitan yang dihadapi dimasa kini, maka kedatangan seorang Guru sangat diperlukan. Tengoklah sekarang mengapa banyak sekali timbul golongan didalam Islam? Sebabnya tidak lain para Ulama menjelaskan ayat-ayat Alqur’an menurut pengertian mereka sendiri yang sangat terbatas dan sempit, kemudian mereka jadikan ajarannya itu sebagai pegangan untuk dilaksanakan. Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda bahwa, Alqur’an adalah sebuah Kitab yang paripurna kumpulan berbagai macam ilmu pengetahuan. Namun tidak semestinya ilmu Alqur’an itu akan terbuka semuanya dalam satu masa atau waktu. Ilmunya akan zahir sesuai dengan keperluan dan tuntutan zaman. Bilamana timbul masalah yang menyulitkan ilmu Alqur’an dibukakan oleh Allah swt untuk memecahkannya melalui hamba pilihan-Nya yang telah disucikan sesuai dengan keadaan zaman. Itulah sebabnya untuk memecahkan kesulitan itu sesuai dengan keperluan zaman Allah swt selalu mengutus Guru Ruhani kedunia.

            Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa, orang-orang berkata : “Kedatangan Masih dan Mahdi tidak diperlukan, sebab Alqur’an sudah cukup bagi kami. Kami tetap berada diatas jalan yang lurus.” Pedahal mereka tentu tahu bahwa yang mampu membuka rahasia Ilmu Alqur’an hanyalah orang yang telah disucikan oleh Allah swt. Oleh kerana itu sangat diperlukan sekali kedatangan seorang yang telah disucikan oleh Tuhan untuk membuka rahasia tafsir Al Qur’an itu. Jadi untuk mengekalkan iman orang-orang Muslim dan memelihara kehormatan dan kebesaran ummat Islam sangat penting sekali untuk beriman kepada Guru Ruhani yang telah diutus Tuhan pada zaman ini yaitu Hazrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. dan berusaha mengamalkan nasihat-nasihat beliau. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa, tugas kedatangan Masih dan Mahdi  adalah untuk menghapuskan perselisihan faham antara sesama golongan yang berbeda faham dan untuk berjuang meraih kemajuan dan kejayaan Islam dengan memberi perhatian sepenuhnya terhadap ajaran-ajaran Alqur’an dan pengamalannya serta meningkatkan semangat berdo’a kehadirat Allah swt. Dan sangat disesalkan sekali manusia zaman sekarang ini tidak mau memahami masalah ini, sebab sebagian besar perhatian mereka dipusatkan hanya kepada kepentingan dunia mereka tidak ada perhatian terhadap urusan agama. Jika perhatian mereka demikian lekatnya kepada dunia bagaimana mungkin rahasia dan ma’rifat Alqur’an akan terbuka kepada mereka. Disamping merupakan bahan pemikiran bagi ummat Islam sedunia, hal itu harus menjadi pusat perhatian dan tanggung jawab bagi setiap orang Ahmadi. Setiap orang Ahmadi harus memperbanyak do’a didalam bulan suci Ramadhan ini agar hati mereka disucikan oleh Allah swt sesuai dengan kehendak-Nya bahwa hati orang-orang Mukmin yang sejati harus suci bersih, agar mampu meraih berkat-berkat Qur’an Karim didalam bulan suci Ramadhan ini, yang penjelasannya telah dikemukakan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. Orang yang telah mensucikan dirinya lalu mengamalkan ajaran Alqur’an ia akan mendapat derajat sangat tinggi disisi Tuhan.

Terdapat sebuah Hadis yang diriwayakan oleh Sahal Bin Mu’az Juhanni dari Ayah beliau, katanya Hazrat Rasulullah saw telah bersabda bahwa, orang yang selalu membaca Alqur’an dan mengamalkan ajarannya, kedua orang tuanya akan diberi dua buah mahkota diatas

kepala mereka dihari akhirat. Mahkota-mahkota itu bersinar sangat cemerlang lebih terang dari sinar matahari yang setiap hari menyinari rumah mereka. Jika derajat kedua orangtuanya itu demikian tingginya, maka bayangkanlah betapa tingginya derajat anak itu kerana rajin membaca Alqur’an dan mengamalkan ajaranya. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Barangsiapa yang menghormati Alqur’an dia akan mendapat kehormatan dilangit.” Kehormatan itu akan diperoleh jika manusia mengamalkan ajarannya.

Dalam menjelaskan ayat berikut ini :  يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْر Artinya : …….Allah menghendaki keringanan bagimu dan Dia tidak menghendaki kesukaran bagimu (Al Baqarah : 186) Huzur bersabda bahwa inilah sebuah declarasi asas dan nyata dari Allah swt bahwa didalam Alqur’an tidak ada masalah yang sulit, yang ada hanyalah kemudahan. Lebih lanjut    difirmankan lagi oleh Allah swt  :   وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ‏Artinya : Dan, sungguh, Kami telah mempermudah Alqur’an untuk diingat. Maka adakah orang yang hendak mengambil pelajaran ? (Surah Al Qamar : 18) Huzur menegaskan bahwa kita harus menerima dan menta’ati nasihat ini dan mengamalkannya dan harus membantah pendapat bahwa ajaran Alqur’an sangat susah untuk diamalkan. Alqur’an adalah firman Tuhan Yang telah menciptakan manusia semua dan telah memberi semua kemampuan akal dan fikiran serta fasilitas yang luas dan sempurna kepada manusia. Tuhan telah mengikrarkan bahwa ajaran Alqur’an sungguh sesuai benar dengan karakter atau tabi’at manusia, didalamnya terdapat berbagai macam kemudahan-kemudahan. Ajarannya telah diberikan sesuai dengan kekuatan dan kemampuan akal manusia. Apakah setelah mendapat penerangan yang demikian jelas masih juga manusia berfikir bagaimana untuk mengamalkan ajaran Alqur’an ini ?  Didalam Alqur’an telah diuraikan juga tentang peristiwa-peristiwa menakutkan yang terjadi dimasa lampau supaya manusia mengambil pelajaran daripadanya dan beramal sesuai dengan perintah Allah swt agar manusia selamat dari bencana-bencana dahsyat seperti itu. Dan ajaran-ajaran Alqur’an berlaku untuk selama-selamanya dan untuk sepanjang masa sampai hari Qiamat.

Didalam Surah Bayyinah Allah swt berfirman :

رَسُوْلٌ مِّنَ اللّٰهِ يَتْلُوْا صُحُفًا مُّطَهَّرَةًۙفِيْهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌؕ

Artinya : Seorang Rasul dari Allah yang membacakan kepada mereka  lembaran-lembaran suci, yang didalamnya terkandung perintah-perintah kekal abadi. (Al Bayyinah : 3-4)

Dalam menjelaskan ayat tersebut diatas Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa, Kitab Alqur’an adalah sebuah Kitab yang merangkumi semua intisari Kitab-kitab Allah sebelumnya. Dan mengandungi semua kebenaran dan sedikitpun tidak mengandungi sesuatu perkara yang sia-sia dan tidak pula terdapat sedikitpun keraguan didalamnya. Hazrat Masih Mau’ud a.s. selanjutnya bersabda bahwa, pada zaman sekarang ini Tauhid Ilahi sedang terpuruk dan sedang mendapat serangan yang sangat keras sekali.(Pada zaman ini banyak sekali buku-buku telah dan sedang ditulis yang isinya sangat menentang Tauhid Ilahi, oleh sebab itu membaca dan mempelajari Alqur’an sangat diperlukan). Kita yakin bahwa siapapun yang berani angkat pena melawan Tauhid Ilahi ia akan berhadapan langsung dengan Allah swt untuk menerima akibatnya. Alqur’an mengandungi bukti-bukti yang kuat untuk mempertahankan setiap penda’waannya tentang segala sesuatu dan bisa diselidiki oleh para ahli atau pakar science untuk membuktikan kebenaran pernyataannya itu. Tantangan ini terus berlaku sampai sekarang yang untuk menghadapinya adalah kewajiban para pengikut Hazrat Masih Mau’ud a.s. Konsep yang dikemukakan oleh Dr Abdus Salam juga telah membuktikan keesaan Allah swt dan membuktikan kebenaran Kitab Suci Alqur’an. Para ahli atau pakar science Ahmadi pada masa sekarang juga harus mempertahankan konsep yang telah beliau kemukakan itu. Tuhan pasti akan menolong mereka. Memang Alqur’an banyak sekali memberi penjelasan tentang keruhanian, namun ia juga memberi bimbingan terhadap ilmu pengetahuan umum dari waktu kewaktu sesuai dengan keperluan dan perkembangan alam pikiran manusia.

Didalam Surah An Namal ayat 93 Allah swt berfirman :

وَاَنْ اَتْلُوَا الْقُرْاٰنَ‌ۚ فَمَنِ اهْتَدٰى فَاِنَّمَا يَهْتَدِىْ لِنَفْسِه

Artinya : Dan supaya aku bacakan Al Qur’an. Maka barangsiapa mengikuti petunjuk maka ia hanya mengikutinya untuk kebaikan dirinya sendiri.

Jadi, betapa pentingnya hidayah itu, ia akan diperoleh dari Allah swt dengan banyak membaca dan menela’ah Kitab suci Alqur’an dan dengan mengamalkan ajaran-ajarannya. Dan untuk memahami ajarannya itu manusia harus berusaha keras untuk mensucikan dirinya. Tanpa itu tidak mungkin dapat diperoleh. Sebagaiman firman-Nya :   

 لاَ يَمَسُّهٗۤ اِلاَّ الْمُطَهَّرُوْنَ  tiada orang boleh menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan.

            Salah satu da’wa Alqur’an adalah bahwa didalamnya mengandungi semua jenis perkara, misalnya dari berbagai jenis asas akhlaq sampai kepada ilmu pengetahuan yang tinggi yang diperlukan oleh manusia sekarang telah dicantumkan didalamnya. Sebagaimana firman Tuhan didalam Surah Yunus ayat 62 berikut ini :

وَمَا تَكُوْنُ فِىْ شَاْنٍ وَّمَا تَتْلُوْا مِنْهُ مِنْ قُرْاٰنٍ وَّلاَ تَعْمَلُوْنَ مِنْ عَمَلٍ اِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوْدًا اِذْ تُفِيْضُوْنَ فِيْهِ‌ؕ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَّبِّكَ مِنْ مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِىْ اْلاَ رْضِ وَلاَ فِىْ السَّمَآءِ وَلاَ اَصْغَرَ مِنْ ذٰلِكَ وَلاَ اَكْبَرَ اِلاَّ فِىْ كِتٰبٍ مُّبِيْن

Artinya : Dan tidaklah engkau sibuk dalam sesuatu urusan dan tidak pula engkau membacakan dari pada-Nya sebagian dari Alqur’an dan tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atas kamu, ketika kamu bertekun didalamnya. Dan tidaklah tersembunyi dari Tuhan engkau sebesar zarahpun di bumi dan d liangit, dan tiada yang lebih kecil dari itu dan tidak pula yang lebih besar, melainkan itu semua ada tercatat didalam kitab yang terang.

            Ayat ini menjelaskan keagungan Allah swt. Menjelaskan bahwa perhatian Allah swt tertumpu kepada segala jenis benda. Benda-benda ghaib maupun yang nampak, yang jauh maupun dekat, yang  besar maupun kecil, setiap benda ada dibawah pengetahuan Allah swt. Hal ini sebuah decalarasi bagi orang-orang beriman maupun tidak beriman bahwa Kitab Agung ini turun dari Allah Yang mengetahui segala sesuatu secara sempurna. Itulah sebabnya Kitab ini dijaga oleh Allah swt sejak ia diturunkan sampai sekarang. Tidak ada jalan bagi siapapun baik bagi orang-orang yang menentang maupun yang beriman, tidak ada alasan lagi untuk mengatakan bahwa ajaran Kitab ini tidak bisa diamalkan.

            Huzur bersabda bahwa, tidak cukup dengan hanya berkata bahwa saya sudah membaca Alqur’an, melainkan kita harus menyampaikan ajarannya kepada dunia. Apa yang harus kita perhatikan adalah, perobahan apa yang telah timbul pada diri kita berkat membaca Alqur’an ini sehingga menimbulkan kesan baik kepada masyarakat yang tinggal disekitar kita. Allah swt telah menjelaskan semua perkara didalam Kitab suci Alqur’an ini dan pada zaman ini Dia telah mengutus seorang Guru Ruhani kedunia untuk membuka rahasia yang terkandung didalamnya. Mereka yang menyambut dan menerima Guru Ruhani itu dan mereka yang tidak mau menerima, semuanya akan menerima perhitungan mereka dihadapan Allah swt diakhirat nanti. Perkara mereka yang menolak Guru itu kita serahkan kepada Tuhan, sebaliknya kita harus banyak berdo’a kepada Allah swt agar kita mampu mempertanggungjawabkan semua urusan kita dengan-Nya.

            Huzur telah menjelaskan secara rinci dan panjang lebar dari kutipan sabda Hazrat Masih Mau’ud a.s. bahwa Kitab Suci Alqur’an adalah Kitab yang patut kita baca setiap hari dan harus berusaha memahami ajarannya untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa membaca dan mengamalkan ajaran Alqur’an kita tidak mungkin akan meraih kemajuan dan kejayaan. Untuk itu semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua. Amin !!!

Alih Bahasa oleh Hasan Basri