Download

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

10 Juli 2015 di Masjid Baitul Futuh, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Dengan karunia Allah Ta’ala hari ini kita sedang melewati hari puasa ke-22 dan berada pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini. Sebagaimana sabda Hadhrat Rasulullah saw, kita telah melalui 10 hari turunnya Rahmat Ilahi, 10 hari turunnya ampunan Ilahi dan sekarang kita sedang melewati 10 hari terhindarnya dari api Neraka.[1]

Ini merupakan ihsaan (anugerah kebaikan) Allah Ta’ala bagi kita semua bahwa Dia telah menganugerahkan kita kesempatan untuk merasakan hal ini. Namun demikian, seorang mu-min sejati memiliki keyakinan teguh terhadap Allah Ta’ala, senantiasa berupaya untuk berjalan di atas ketakwaan dan hatinya dipenuhi rasa takut pada Allah Ta’ala dan ia tidak hanya merasa senang bahwa 10 hari terakhir bulan Ramadhan menjadi sumber keselamatan baginya. Tidak diragukan lagi, hari-hari di bulan Ramadhan ini merupakan sumber rahmat, ampunan serta keselamatan dari api Neraka.

Namun apakah kita benar-benar telah memperoleh bagian dari segala karunia tersebut? Perintah Allah Ta’ala dan rasul-Nya saw tidaklah tanpa syarat. Semuanya bersyarat. Demikian pula, untuk merasakan segala karunia dari hari-hari ini (Ramadhan) pun memerlukan syarat-syarat. Pun, ada syarat-syarat untuk meraih maghfirah, begitu pula harus berpegang pada syarat-syarat guna terselamatkan dari api. Maka dari itu, guna meraih faidh-faidh (aliran-aliran karunia) dari hal-hal ini ada kemestian yang harus kita perhatikan berupa memeriksa amal perbuatan kita apakahitu demi mencari ridha-Nya dan meraih karunia-Nya ataukah tidak.

Sebagian mufassirin (para penafsir) berpendapat bahwa ada dua jenis rahmat Allah Ta’ala. Pertama, Dia memberikan rahmat-Nya sebagai karunia yang untuk itu manusia tidak harus melakukan suatu usaha sebagaimana dinyatakan-Nya: رَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْء “…rahmat-Ku meliputi segala sesuatu…” [Al-Araf, 7:157] Manusia pada umumnya merasakan rahmat-Nya. Tetapi, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan: “Ayat ini menunjukan rahmat Ilahi turun secara umum dan meluas sedangkan hukuman, sesuai dengan sifat ‘Adil-Nya, diberikan setelah manusia melakukan suatu tindakan. Artinya, sifat ini muncul saat hukum Ilahi dilanggar. Hal ini sebagai konsekuensi adanya hukum Ilahi dan dosa merupakan pelanggaran terhadap hukum Ilahi tersebut. Barulah kemudian pada saat itu sifat ini muncul dan memenuhi persyaratannya.[2]

Allah Ta’ala itu Maha Penyayang kepada para hamba-Nya namun ketika mereka melanggar hukum-Nya dan pantas diberikan hukuman, sifat ‘Adil-Nya bermanifestasi. Pada umumnya, rahmat Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu tetapi pelanggaran terhadap hukum Ilahi perlu mendapatkan hukuman. Namun demikian, Allah Ta’ala tetap bisa menurunkan rahmat dan ampunan-Nya. Hendaklah diingat kondisi tersebut bukanlah bagi seorang Mu-min. Seorang mu-min sejati memiliki derajat yang khas. Keimanannya menuntutnya menjaga kondisi kerohaniannya dan menjalankan perintah Ilahi dengan sebaik-baiknya.

Namun, jika seseorang melakukan perbuatan dosa karena kelemahannya, rahmat Ilahi senantiasa menyelimutinya. Situasi demikian akan menjadi berbeda dengan seseorang yang dijelaskan pada khotbah yang lalu yakni ia yang menjadi berani berbuat dosa dengan dalih rahmat Ilahi sangat luas. Ini sama saja artinya dengan menantang murka Ilahi.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Tidak ada janji (wa’dah) dalam memberikan ancaman (wa’iid). Hanya karena kesucian-Nya, Dia berkehendak untuk menghukum orang yang berdosa. Oleh karena itu, terkadang Dia juga memberitahu mereka yang kepadanya Dia turunkan wahyu mengenai masalah ini. Namun, ketika orang yang berdosa tersebut memberikan perhatiannya untuk bertaubat dan mencari ampunan Allah Ta’ala melalui doa yang dipanjatkan dengan kerendahan dan kelembutan hati, maka rahmat-Nya akan menghapuskan hukuman tersebut. Inilah yang dimaksud oleh ayat: عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاء وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ “…Aku akan timpakan azab-Ku kepada siapa yang Aku kehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu…” [Al-Araf, 7:157][3]

Memang, Allah Ta’ala menyelamatkan dan memberikan ampunan kepada mereka yang berbuat dosa disebabkan karena mereka bertaubat. Bahkan mereka yang telah ditakdirkan akan memperoleh hukuman karena kesalahan mereka pun dapat memperoleh ampunan-Nya melalui doa yang mereka panjatkan dengan kerendahan hati. Ini bukanlah maqam seorang mu-min sejati, yaitu, ia melanggar hukum Ilahi dan kemudian barulah memanjatkan doa serta mencari rahmat-Nya.

Jenis rahmat yang kedua berkaitan dengan para mu-min sejati, yakni rahmat yang bersyarat yakni rahmat yang dapat diraih dengan berbuat kebaikan. Sebagaimana dinyatakan: إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ “Sesungguhnya, rahmat Allah dekat kepada para Muhsin (yang berbuat kebaikan).” [Al-Araf, 7:57]. Muhsin adalah seseorang yang beramal baik kepada yang lain, yang berjalan di atas ketakwaan, yang memiliki wawasan ilmu dan yang melaksanakan sampai selesai perintah Allah Ta’ala dengan sempurna dan memenuhi semua syaratnya. Allah berfirman bahwa rahmat-Nya itu dekat bagi mereka yang tidak melakukan dosa dengan penuh niat dan secara sengaja. Mereka senantiasa menyeru kepada Allah dengan rasa takut akan hukuman dosanya dan selalu mengingatnya di dalam hati.

Jika mereka secara tidak sengaja berbuat dosa, maka mereka akan menyeru Allah Ta’ala dengan ketakwaan di dalam hati dan inilah yang menarik rahmat-Nya dan segala doa mereka dikabulkan. Sungguh merupakan karunia khas Ilahi bahwa Dia mengabulkan segala doa kita. Rahmat Ilahi ada beserta orang-orang yang berbuat ihsaan yang menjalani hidup yang penuh ketakwaan dan yang melakukan kebaikan bagi yang lain serta memenuhi hak-hak mereka. Manusia tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berbuat ihsaan dengan hanya melakukan amal baik yang biasa saja. Hal ini menuntut seseorang untuk memiliki tingkat amal yang sangat tinggi.

Hadhrat Rasulullah saw mendefinisikan muhsin dengan sedemikian rupa sehingga kita perlu memberikan perhatian besar ke arahnya. Beliau saw bersabda bahwa seorang muhsin merupakan seorang yang ketika berbuat kebaikan senantiasa menyadari bahwa ia sedang melihat Allah Ta’ala atau paling tidak ia menyadari Allah Ta’ala sedang melihatnya.[4]

Jika kita keadaan ibadah dan perbuatan kita setiap saat menyadari hal ini, maka kita tidak akan melakukan perbuatan buruk lagi dan tidak akan tersesat dari jalan ketakwaan. Bahkan ia tidak akan pernah membayangkan untuk memberikan kerugian atau berlaku buruk atas orang lain. Perintah-perintah dalam Islam adalah sedemikian rupa sehingga dengan suatu cara bagi seseorang untuk mulai mengamalkannya atau berpegang teguh padanya atau dengan memperhatikan perintah Rasululullah saw apa saja namun pada akhirnya segala perintah tersebut tetap memenuhi huquuquLlah (hak-hak Allah) dan huquuqul ‘ibaad (hak-hak para hamba-Nya). Meski kita ingin agar segala doa kita dikabulkan dan agar kita menerima rahmat Ilahi, namun sangat banyak diantara kita yang tidak tetap melakukan upaya yang selayaknya dilakukan seorang mu-min sejati guna meraih ketinggian derajat kerohanian mereka.

Kita bahagia dapat merasakan 10 hari pertama bulan Ramadhan yang merupakan hari-hari turunnya rahmat-Nya namun apakah kita juga tidak merenungkan apakah selama hari-hari tersebut kita telah mengamalkan apa yang seharuskan diamalkan untuk mencari rahmat-Nya? Apakah perilaku kita seperti halnya para pendosa dan penjahat yang meraih rahmat Allah dengan merendah-rendah memanjatkan doa sementara waktu saja dan guna menghindari hukuman yang akan ditimpakan atas mereka akibat dosa dan kejahatan yang mereka lakukan? Atau apakah kita telah mencoba untuk membentuk kehidupan kita agar senantiasa berjalan di atas ketakwaan seperti para muhsin yang menjadikan Ramadhan sebagai sarana hakiki penciptaan perubahan suci yang abadi di dalam diri mereka?

Hadhrat Rasulullah saw telah memberikan kita pedoman hidup pada kata ‘rahmat’ ini. Beliau saw mengatakan kepada kita untuk mencari rahmat ini pada 10 hari pertama bulan Ramadhan. Kemudian tatkala telah mendapatkannya, berjanjilah untuk menjadikannya bagian dalam kehidupan. Namun demikian, karena Syaithan senantiasa membawa manusia kepada kesesatan, maka tatkala kita telah meraih rahmat Allah Ta’ala, kita tetap memerlukan pertolongan agar tetap teguh. Apa yang perlu kita lakukan dalam hal ini? Lewatilah 10 hari selanjutnya di bulan Ramadhan dengan memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah Ta’ala dan kekuatan tersebut adalah Istighfar (mencari ampunan-Nya).

Seorang mu-min sejati menjadikan sifat Sattar Allah Ta’ala dan rahmat-Nya menjadi bagian hidupnya, baik dalam beribadah maupun dalam amalannya. Hal ini menghasilkan ampunan dari Allah Ta’ala yang senantiasa menyelimuti dan menutupinya dan bahkan pintu rahmat-Nya menjadi terbuka baginya. Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan: “Makna asli dan hakiki istighfar adalah permohonan seseorang kepada Allah Ta’ala agar kelemahan manusiawi orang itu tidak sampai tampak (muncul) dan harapan semoga Allah Ta’ala berkenan membantu fitrat orang itu dengan kekuatan-Nya dan memasukkannya kedalam lingkaran wilayah perlindungan dan pertolongan-Nya. Akar kata istighfar diambil dari mashdar “غفر”  ghafrun yang mengandung arti menutupi atau menyelimuti.

Dengan demikian pengertiannya ialah agar Allah Ta’ala dengan kekuatan-Nya berkenan menutupi/menekan kelemahan alamiah/fitri المستغفِر al-mustaghfir (si pemohon istighfar). Tetapi, pengertian yang tepat dan hakikinya adalah permohonan agar Allah Ta’ala berkenan memelihara dan menyelamatkan si pemohon dari kelemahan alamiah dirinya dan menguatkannya dengan kekuatan-Nya, menganugerahinya pengetahuan dari khazanah-Nya dan cahaya dari Nur-Nya.

Sebab, setelah menciptakan manusia, Allah Ta’ala tidak lalu mengabaikan dan meninggalkannya. Melainkan, sebagaimana Dia itu Pencipta manusia dan Pencipta segala fitrat internal dan eksternal yang ada pada diri manusia, Dia juga menyokong manusia, artinya Dia memelihara dan membantu segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. Dia “القيوم”  ‘Al-Qayyum’ (Dzat yang Tegak Dengan Sendiri-Nya dan menyokong ciptaan-Nya), yaitu Penyokong dan Pemelihara para makhluk-Nya dengan dukungan-Nya yang tertentu. Karena itu perlu selalu diingat oleh manusia, mengingat ia telah diciptakan sebagai akibat Penciptaan dari Tuhan maka ia harus menjaga karakteristik dirinya dari kerusakan melalui sarana sifat Qayyumiyyat Tuhan (Maha Pemelihara).”[5]

Dengan demikian, demi hal itu, maka suatu keharusan alamiah bahwa manusia diperintahkan untuk selalu beristighfar. Apakah yang harus seorang manusia lakukan guna menyelamatkan dirinya sendiri dari kebengkokan dan kesesatan, untuk memperoleh bagian dari sifat Qayyumiyyat Allah Ta’ala dan mengekalkan kenikmatan keadaan rohaniah? Allah Ta’ala menjawab, “Kalian harus beristighfar!”

Maka, perhatian kearah perolehan maghfirah Ilahi adalah akibat dari perolehan maghfirat (ampunan) merupakan natijah (akibat, hasil) daripada upaya menghiasi ruh sebagaimana telah disebut tadi, dan itu adalah tetap teguh dalam istighfar dan memohon maghfirah Ilahi jika kalian hendak mendapatkan bagian tetap dari rahmat-Nya. Sesungguhnya, Allah Ta’ala itu Rahiim (Maha Penyayang) dengan corak khusus pada hari-hari (Ramadhan) ini. Fuyuudh (karunia-karunia) dari rahmat-Nya kepada para hamba-Nya terdiri dari dua jenis; pertama, karunia umum yang didapat oleh semuanya, baik ia beriman atau tidak. Kedua, aliran karunia dalam corak khusus yang Dia istimewakan hanya kepada para muhsin (orang-orang yang berbuat kebaikan). Kita berdoa semoga kita termasuk kedalam golongan ini.

Orang-orang beriman harus berusaha mengusahakan kekuatan beramal baik guna mendapatkan manfaat dari karunia khusus yang Dia istimewakan hanya kepada para Muhsin saja. Begitu pula, ia mencari cahaya dari Nur Ilahi melalui kelazimannya dalam beristighfar, dan mendapatkan kekuatan dari kekuatan-Nya yang Agung dan Perkasa sehingga ia tidak lagi kembali kepada kegelapan-kegelapan yang menghalanginya dari Nur Allah Ta’ala; atau berada dalam pangkuan setan dengan menghilangkan upaya mencari manfaat dari kekuatan Allah Ta’ala. Hal demikian karena serangan-serangan setan itu menjadi semakin kuat dan gencar jika seseorang insan tidak mendekatkan diri pada kekuatan Ilahi yang menyelimuti dan melindunginya. Untuk itu, istighfar adalah suatu keharusan yang sangat guna memperkuat seseorang dengan kekuatan Ilahi dan menolak serangan-serangan setan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa manusia secara fitrat lemah adanya dan mau tak mau harus dengan cara beristighfar guna menyelamatkan diri dari kelemahan tersebut dan penting untuk meminta kekuatan dari Allah Ta’ala. Beliau as bersabda, “Manusia senantiasa memerlukan dukungan Allah Ta’ala guna meneguhkannya dalam upaya kebaikan-kebaikan dan memperoleh manfaat senantiasa dengan karunia Allah Ta’ala dan rahmat-Nya, dan kita tidak dapat memperoleh sesuatu tanpa sokongan-Nya itu.

Allah Ta’ala telah menamai diri-Nya dengan Qoyyum (penyokong, pendukung) dan dengan hal itu kita ditarik kearah sifat-Nya ini bahwa kita dengan keadaan memerlukan dukungan-Nya itu guna membuat ajeg pada kebaikan-kebaikan dan mendapat bagian tetap dari rahmat-Nya dan ampunan-Nya. Sifat Qayyumiyyat Allah Ta’ala ini menjelaskan kepada kita bahwa jika kita ingin tetap terus dalam sesuatu apa pun maka tidak diragukan lagi kita harus meminta dukungan dari Tuhan nan Qoyyum ini. Dan, mau tak mau kita harus mengarahkan perhatian pada hal ini. Allah Ta’ala memberi kita pesan, “Kami menawarkan sandaran dan sokongan yang mana itu adalah sokongan yang Kuat.” Sesungguhnya, Allah Ta’ala قائمٌ  Qaa-im (Kuat dan Tegak) dan دائمٌ Daa-im (Tetap Maha Ada), Dia Tegak dengan sendiri-Nya menegakkan dan menyokong selain-Nya juga dan merupakan sandaran yang Maha Kuat.

Maka dari itu, kita harus memahami bahwa 10 hari pertengahan (kedua) bulan Ramadhan tidaklah berarti kita tetap untuk beristighfar sebanyak mungkin di hari-hari itu lalu merasa sudah cukup guna meraih tujuan yang dimaksudkan. Melainkan, Hadhrat Rasulullah saw menekankan kepada kita pokok pikiran berikut ini, bahwa ketika Ramadhan datang, Allah Ta’ala datang mendekati para hamba-Nya dan kita dianjurkan untuk memberikan perhatian dalam berpuasa dan lebih banyak memanjatkan doa-doa. Tetapi, kalian harus berada di bawah perlindungan Allah Ta’ala dengan senantiasa beristighfar kepada-Nya supaya kebaikan-kebaikan kalian menjadi ajeg (tetap terus) dan memperoleh bagian yang sepenuhnya dari rahmat-Nya dan menutupi kelemahan alami kalian. Semoga sebagian besar dari kita dapat melewati Ramadhan dengan cara demikian. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala semoga kita memasuki sepuluh hari kedua Ramadhan dengna pemikiran ini, senantiasa memohon maghfirat-Nya karena 10 hari kedua telah selesai sekarang, dan kita telah memasuki 10 hari terakhir dengan harapan bahwa semoga cahaya dan kekuatan yang telah kita raih dapat membawa kita meraih surga-surga ridha Ilahi dengan seizin-Nya!

Adapun sabda Hadhrat Rasulullah saw bahwa 10 hari terakhir bulan Ramadhan merupakan “عتق من النار”  ‘itqum minan naaar’ terhindarnya dari api Neraka tersebut akan terpenuhi ketika seseorang mengenakan selimut rahmat Ilahi, dengan maghfirat-Nya meraih cahaya dan kekuatan dari-Nya dan tetap istiqamah dalam itu, maka jelaslah ia akan semakin dekat dengan-Nya. Allah Ta’ala tidak meninggalkan siapapun tanpa memberikan ganjaran. Dia معطاء Mu’thaa-a (Maha Penganugerah) dan وهّاب Wahhaab (Maha Pemberi) Jika seseorang mengupayakan melakukan kebaikan demi Allah Ta’ala, maka Dia tidak hanya berfirman, “Baiklah, Aku kan menyelamatkanmu dari api Neraka” saja, bahkan sabda Hadhrat Rasulullah saw “عتق من النار”  itu mengisyaratkan Allah Ta’ala ridha terhadap amal perbuatan mereka dan memberi kabar suka perihal surga-Nya. Pintu-pintu neraka akan ditutup dengan kedatangan Ramadhan.[6]

Jika kalian beristighfar secara dawam kepada Allah Ta’ala dan berpegang teguh dalam istighfar dengan kontinyu serta berusaha untuk tetap melakukan kebaikan dan bersiteguh diatas itu dengan cara meminta perlindungan dan jaminan Ilahi, maka pintu-pintu Neraka tidak hanya ditutup bagi kita pada Ramadhan saja, bahkan ibadah yang dilakukan selama 30 hari tersebut, pemenuhan terhadap hak-hak dan kewajiban-kewajiban, taubat serta istighfar tersebut akan secara permanen menutup pintu-pintu Neraka bagi kita. Saya hendak menjelaskan kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as guna menjelaskan hakekat surga dan neraka. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Apakah tujuan Agama? Tujuan daripada agama adalah agar manusia memiliki keimanan yang meyakinkan dan pasti kepada eksistensi Allah Ta’ala dan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna, hal mana itu menyelamatkan dari hawa nafsunya dan menciptakan kecintaan pribadi kepada Allah yang Maha Kuasa. Sebab, semua itu merupakan Surga yang akan mewujud dalam berbagai bentuk di Akhirat nanti. Tidak menyadari adanya Tuhan, menjauh dari-Nya dan ketiadaan kecintaan sejati kepada-Nya adalah Neraka yang akan berbentuk beraneka macam di Akhirat nanti.”[7]

Kita perlu memahami pokok pikiran bahwa keselamatan dari neraka mulai dari kehidupan di dunia ini dan peraihan surga juga di alam ini juga. Dan, bekas-bekas yang luas dari kedua kondisi itu dengan keadaan dan corak yang berbeda akan ditemui juga di alam ukhrawi nanti.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda dengan sangat jelas perihal ini dengan penjelasan Al-Qur’an, “Hakekat Surga dan Neraka sebagaimana Al-Quran telah jelaskan tidak ada Kitab lain yang telah menguraikannya demikian. Al-Qur’an menjelaskan, وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ ‘Dan bagi orang yang takut pada Keagungan Tuhan-nya ada dua Surga.’ [Ar-Rahman, 55:47]. Itu artinya, salah satu dari dua Surga diperoleh di dunia ini karena rasa takut kepada Allah Ta’ala yang menghentikannya dari berbuat keburukan. Melakukan kejahatan senantiasa membuat hatinya penuh kekhawatiran dan kegelisahan yang merupakan Neraka di dalam dirinya.” (Takut kepada Allah menghalangi seseorang dari keburukan. Jika seseorang telah terhalangi dari perbuatan buruk, berarti ia telah meraih surga di dunia ini. Adapun perilaku keburukan dan kejahatan menciptakan suatu perasaan cemas dan takut pada diri pelakunya. Pelaku kejahatan tidak meraih ketenangan dan ketetapan di tempat mana pun bahkan menjadi selalu dalam keadaan tersiksa, maka dengan melakukan perbuatan buruk itu menjadi semacam neraka bagi diri pelakunya.)

Beliau as bersabda, “Tetapi seseorang yang takut kepada Allah Ta’ala senantiasa menghindari kejahatan dan dengan segera selamat dari siksaan dan kesakitan yang diakibatkan ikatan rantai hasrat-hasrat dan penyembahan terhadap hawa nafsu. Ia melangkah maju dalam keimanan dan secara ikhlas berpaling kepada Allah Ta’ala yang sebagai hasilnya ia dianugerahi kegembiraan serta kebahagiaan dan dengan demikian kehidupan Surgawi baginya dimulai di dunia ini juga. Demikian pula jika ia melakukan hal sebaliknya, maka kehidupan Neraka akan dimulai di dunia ini juga.[8]

Maka dari itu, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan di sini perihal bagaimana kemungkinan untuk meraih kehidupan surga di dunia ini dan bagaimana kemungkinan berupaya meraih surga di alam nanti. Beliau bersabda bahwa makna dari menghindari neraka dan meraih surga menurut Al-Qur’an bukanlah hanya neraka dan surga ukhrawi saja melainkan maksud dari itu ialah surga dan neraka di dunia ini juga. Merupakan hal yang tidak mungkin bagi seseorang untuk menghindari neraka kecuali jika dia mempunyai perasaan takut kepada Allah sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa Nabi saw bersabda, “Seorang muhsin hakiki adalah seseorang yang menyadari senantiasa bahwa Allah tengah melihatnya.”

Jika kita berpikir Allah Ta’ala setiap saat melihat kita, maka saat itu juga timbul takut kepada Allah dan itu juga akan menjauhkan kita dari keburukan. Perasaan takut di hati juga berperan menyelamatkan guna menjauhi keburukan. Ambillah contoh, seorang pencuri atau orang lain yang hendak melakukan kejahatan lainnya dengan sesuatu cara, di dalam dirinya timbul perasaan takut akan ditangkap atau ketahuan dan tercemarkan nama baiknya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa perasaan takut tersebut menjadi kondisi Neraka baginya.

Seseorang yang merasa takut kepada Allah Ta’ala meraih Surga di dunia ini dan di Akhirat kelak sedangkan seseorang yang terikat dalam hawa nafsu dan hasrat rendahnya berarti sedang terikat dalam Neraka di dunia ini dan di Akhirat kelak. Menjadi seseorang yang setia, jujur, tulus dan bersandar kepada Allah Ta’ala merupakan suatu Surga sedangkan jauh dari-Nya merupakan Neraka. Maka dari itu, puncak kalimat keselamatan dari neraka ialah seseorang mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala dan menjadikan kegentaran dan ketakwaan kepada-Nya sebagai bagian dari hidup dan kesadaran pandangannya.

Baginda Nabi Muhammad saw dalam hadits pendek ini menyebutkan tiga hal dan mengarahkan kita kearah peraihan rahmat Ilahi, dan agar tetap senantiasa dalam keadaan itu, beliau saw menarik perhatian kita pada istighfar. Dan tatkala semua hal ini telah diraih, maka setiap perkataan dan amalan seorang manusia adalah demi Allah Ta’ala. Merasakan karunia di bulan Ramadhan telah menjadi bagian hidupnya dan ia dijauhkan dari neraka serta dengan meraih ridha Ilahi ia senantiasa meraih Surga Ilahi di dunia ini dan di Akhirat kelak. Hendaknya kita senantiasa menjadikan hal itu sebagai panduan dan berpikir berdasarkan hal itu.

Baginda Nabi Muhammad saw juga telah mengarahkan perhatian pada hal lain juga guna meraih ridha Allah Ta’ala di dalam sepuluh akhir bulan Ramadhan, untuk keselamatan keimanan senantiasa dan memperteguh pada ketakwaan, yaitu, beliau saw menyampaikan kabar gembira perihal Lailatul Qadr di dalam sepuluh akhir bulan Ramadhan. Beliau saw bersabda, ” مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “ ‘man shaama Ramadhaana wa qaamanhu imaanaw wahtisaaban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbihi, wa man qaama lailatal qadri imaanaw wahtisaaban ghurifa lahu maa taqaddama min dzanbihi.’ – “Seseorang yang berpuasa selama bulan Ramadhan dengan imaanaw wa htisaaban (penuh keimanan, penuh harap akan pahala dan ridha-Nya dan mengoreksi diri sendiri) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadr dengan imaanaw wa htisaaban maka juga akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”[9]

Lailatul Qadr memiliki arti penting yang luar biasa namun hari-hari lain pada bulan Ramadhan pun juga memiliki makna yang besar. Memang benar bahwa Lailatul Qadr adalah malam diampuninya dosa-dosa tapi harus diikuti dengan amal-amal setelahnya juga dan demikian pula amal-amal pada 30 hari selama Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman bahwa inilah syarat-syarat penting, bahwa puasa Ramadhan, Lailatul Qadr dan pengampunan atas dosa bersyarat harus dengan adanya faktor keimanan, koreksi diri dan mengharapkan pahala dari-Nya.

Jika ada kelemahan di hari-hari awal Ramadhan, hendaklah lakukan upaya untuk memperbaiki kelemahan tersebut di hari-hari kemudian. Hadhrat Rasulullah saw tidak mengatakan bahwa dosa yang akan diampuni ialah dosa orang yang mendapatkan Lailatul Qadr, melainkan beliau saw berkata bahwa setiap orang yang berpuasa dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala serta bermuhasabah diri (mengoreksi diri) dapat berharap Allah memberikan ampunan kepadanya.

Allah Ta’ala telah meletakkan bagi orang-orang beriman berupa syarat, keistimewaan dan petunjuk yang banyak, dan bersamaan dengan meletakkan syarat-syarat itu terdapat hubungan yang kuat antara iman dan amal-amal baik. Hendaklah kita senantiasa memperhatikan kearah peninggian derajat keimanan kepada Allah dan juga amal-amal baik. Allah Ta’ala telah menyampaikan di dalam Al-Qur’an perihal tanda-tanda orang-orang beriman. Contohnya, salah satu tanda seorang mu-min sejati di dalam al-Quran adalah: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ “Orang-orang mu-min ialah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila Ayat-ayat-Nya ditilawatkan kepada mereka, bertambahlah keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah, mereka bertawakal.” [Al-Anfal, 8:3] Tanda seorang beriman ialah dalam setiap keadaan terdapat perasaan bahwa mengamalkan perintah-perintah Allah merupakan suatu keharusan, dan Allah telah memerintahkan kita begini dan begitu. Setiap kali diingatkan dengan sesuatu atas nama Allah, segeralah ia merasa gentar dan berupaya mengamalkan perintah-Nya.

Ketika perhatian kita berkali-kali ditekankan untuk berbuat baik dan memenuhi hak-hak orang lain demi Allah Ta’ala, maka hendaklah kita senantiasa memperhatikan perintah-perintah tersebut. Ketika seseorang diminta untuk memenuhi hak-hak ini demi Allah Ta’ala namun kemudian ia tidak memenuhinya, apakah orang tersebut dapat termasuk ke dalam golongan mu-min sejati sesuai dengan ayat ini? Disebutkan dalam Hadits Nabi saw bahwa jika setiap orang berpuasa selama bulan Ramadhan dengan mengharapkan pahala dan merasakan Lailatul Qadr, maka barulah segala dosanya akan diampuni. Dengan demikian, keberkatan Ramadhan dan Lailatul Qadr itu bersyarat. Sebagaimana telah juga saya katakan di awal khotbah ini, perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya itu bersyarat.

Jika seseorang memiliki kelemahan iman dan merampas hak orang lain namun kemudian ia menyatakan mengalami Lailatul Qadr maka itu berarti pasti terjadi [satu dari dua hal ini; pertama:] keadaan istimewa doa terjadi atasnya dan perubahan penuh terjadi pada keadaannya, dan Allah Ta’ala telah memuliakannya dengan anugerah istimewa dan rahmat-Nya, yang menuntutnya agar menjalankan segala perintah Ilahi dan tetap teguh pada keadaan itu, dan [kedua], jika tidak demikian, berarti pengakuannya mengalami Lailatul Qadr hanya khayalan dan penipuan dirinya saja. Sebab, Nabi saw membuat syarat untuk keadaan itu; iman dan محاسبة النفس muhasabah an-nafs (koreksi diri).

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan bahasan ini kepada kita bahwa Lailatul Qadr tidak hanya suatu malam khusus yang turun selama bulan Ramadhan. Lailatul Qadr itu ada tiga bentuk: [pertama], suatu malam pada bulan Ramadhan, [kedua] zaman seorang Nabi Allah dan [ketiga], Lailatul Qadr bagi seseorang juga berarti suatu waktu ketika ia menjadi suci dan bersih.” [10] Dia dibersikan dari sampah dan kekotoran dunia, memiliki keimanan yang teguh serta membersihkan dirinya dari segala kejahatan dengan mengoreksi diri dan mengharapkan pahala-Nya. Itulah Lailatul Qadr baginya.

Jika Lailatul Qadr seperti ini dialami oleh kita dan kita sungguh-sungguh menjadi milik-Nya, menjalankan segala perintah-Nya serta meningkatkan standar ibadah kita, berarti kita telah menemukan tujuan yang telah Allah Ta’ala perintahkan kepada kita. Setiap siang dan malam bagi kita menjadi saat-saat pengabulan doa.

Kita, yang merupakan pengikut dari pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw, yakni Hadhrat Masih Mau’ud as, perlu mengadakan perubahan revolusioner dalam diri kita dan meningkatkan keimanan kita sehingga setiap perkataan dan perbuatan kita adalah untuk meraih ridha Allah Ta’ala dan kita melewati kehidupan kita demi meraih pahala-Nya. Semoga keberkatan Ramadhan ini senantiasa menyertai kita!

Semoga Allah Ta’ala membuat kita semua merasakan Lailatul Qadr yang merupakan contoh khas pengabulan doa dan yang mengenainya Hadhrat Rasulullah saw telah katakan kepada kita bahwa malam tersebut turun pada satu malam selama hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Semoga dengan merasakannya dapat menjadikan kita tetap berada dalam ketakwaan serta meningkatkan standar ketakwaan kita. Semoga segala dosa yang telah lalu memperoleh ampunan-Nya dan semoga dengan karunia-Nya, Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan kita kekuatan yang khas agar dapat terhindar dari segala dosa di masa depan

[1] Al-Jaami’ li Syi’bil Iimaan, Kitab tentang Shiyam (Puasa), bab keutamaan bulan Ramadhan, jilid 5, h. 224, Maktabah ar-Rusyd, Saudi Arabia, terbitan 2004, no. 3336;

  1. Ibnu Adi,al-Kamil fi Dhu’afa ar-Rijal, IV:325, Al-Uqaili,Adh-Dhu’afa al-Kabir, III:437, No. hadis 750,Ad-Dailami, Al-Firdaws bi Ma’tsur al-Khithab, I:138, No.  79, dan Al-Khathib al-Baghdadi, Mawdhih Awham al-Jam’I wat Tafriq, II:144, No. 233,  عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  أَوَّلُ شَهْرِ رَمَضَانَ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ’Awal bulan Ramadhan adalah rahmat, pertengahannya adalah magfirah, dan akhirnya adalah pembebasan dari neraka.”

[2] Jang Muqaddas, Ruhani Khazain jilid 6, h. 207.

[3] Tuhfah Ghaznawiyah, Ruhani Khazain 15, 537.

[4] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, bab pertanyaan Jibril, no. 50.

[5] Ishmat Anbiya, Ruhani Khazain, jilid 18, h. 671. Review of Religions – Urdu, Vol. I, hal, 187 – Inti pokok Ajaran Islam, Vol II, hal 241-242

[6] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang shaum (puasa) bab fi fadhli syahr Ramadhan, 682

“‏ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ ‏”‏ Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika datang malam pertama bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satupun dari pintu-pintunya yang terbuka; dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun dari pintu-pintunya yang tertutup, serta penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadlan’.”

[7] Chashma e Masih, Ruhani Khaza’in, Vol. 20, hal 352

[8] Malfuzat jilid 3, hal. 155-156 Edisi 1985, cetakan Inggris

[9] Kitab Hadits Masyikhah Abu al-Hasan as-Sukri, w. 386 H

[10] Malfuzhat, jilid 2, h. 336.