بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH

HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH Vatba,

MIRZA MASROOR AHMAD

Tanggal 7  September  2007 di Jerman.

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ ملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْ عَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ

عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَ

Alhamdulillah, dengan karunia Allah swt pada hari Minggu yang lalu Jalsah Salanah Jerman telah berakhir dengan baik dan penuh berkat. Dalam khutbah ini saya ingin berbicara sekitar pelaksanaan jalsah salanah tersebut. Setiap tahun telah dibentuk beberapa buah tim untuk menyelenggarakan jalsah salanah ini kemudian kepada mereka diberikan berbagai macam tugas. Semangat dan keinginan untuk berkhidmat selalu timbul dikalangan para petugas sehingga mereka melaksanakan tugas-kewajiban mereka dengan penuh tanggung jawab. Banyak para anggota Jema’at yang bertugas didalam Jalsah Salanah telah menulis surat kepada saya dari berbagai negara yang akan atau sedang menyelenggarakan Jalsah Salanah. Mereka memohon do’a agar pelaksanaan Jalsah Salanah mereka berjalan lancar dan mendapat sukses yang sebesar-besarnya. Demikianlah juga yang dilakukan oleh para petugas dan panitia Jalsah Salanah di Jerman ini mereka memohon do’a seperti itu kepada saya. Itulah sifat baik yang telah melembaga didalam hati orang-orang Jema’at berkat adanya tarbiyyat  dan berkat adanya hubungan erat dengan Allah swt. Dan itulah berkat tarbiyyat dari Hazrat Masih Mau’ud a.s yang telah menimbulkan hubungan kecintaan orang-orang Ahmadi terhadap Allah swt. Dan beliau a.s. telah membuat orang-orang Ahmadi mengenal Rabul Alamin, Rab Yang Rahman dan Rahim. Dan beliau sebagai Asyiq Shadiq Rasulullah saw telah memberi petunjuk kepada kita bagaimana caranya untuk mengenal lebih mendalam lagi sifat-sifat-Nya. Dan Allah swt-pun telah memberi taufiq kepada kita untuk menggunakan sarana-sarana dan kemampuan yang telah Dia anugerahkan kepada kita.  Sehingga dengan demikian semua pelaksanaan Jalsah dapat dilakukan dengan cermat dan sangat rapih oleh para petugas dan karyawan Jalsah Salanah.

Sebagaimana telah saya katakan selama persiapan Jalsah sedang dilakukan, hendaknya semua petugas  memanjatkan do’a sebanyak-banyaknya dan tulislah juga surat kepada saya untuk memohon do’a, karena semua orang Jema’at tahu bahwa tanpa adanya pertolongan dari Allah swt semua pekerjaan kita tidak akan dapat terlaksanakan dengan baik. Dan jika kita tidak melakukan demikian maka hubungan kita dengan Allah swt hanya pernyataan dimulut belaka. Maka pekerjaan kita akan mendapat berkat dari Allah swt jika kita selalu bersujud memohon do’a dihadapan-Nya. Sebab ditangan-Nya lah terletak segala macam kekuasaan. Dan semua pekerjaan yang kita usahakan Dia Ridhoi dan Dia Berkati-Nya. Maka dimana saja Jalsah Salanah diadakan, dan telah diselenggarakan atau telah diselesaikan dengan sukses sehingga sangat menggembirakan, disana kita harus lebih banyak merebahkan diri bersujud dihadapan Allah swt untuk menyatakan rasa yukur kepada-Nya atas perlakuan kasih sayang-Nya itu. Dan harus diingat selalu kepada firman ini

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَئَذِيْدَنَّكُمْ

artinya : wahai manusia! jika kamu bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku maka akan Aku berikan kepada kamu lebih banyak lagi.

Maka nikmat-nikmat ini akan lebih banyak lagi diterima dari sebelumnya dari Allah swt jika kita semua menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya.

Tahun depan kita akan melaksanakan Jalsah Jubilium Khilafat, insya Allah swt, kita harapkan jumlah yang hadir juga akan sangat jauh lebih banyak dari Jalsah tahun ini, insya Allah, dan persiapan juga akan jauh lebih besar lagi dari persiapan yang telah dilakukan pada tahun ini. Oleh karena itu kita harus ingat lebih banyak dari sebelumnya kepada amanat Allah swt ini, bahwa akan lebih baiknya persiapan kalian tergantung kepada pertolongan Tuhan. Oleh karena itu kalian harus selalu bersyukur kepada nikmat-nikmat yang telah Kuberikan sebelumnya kepada kalian, dan kepada kebaikan-kebaikan dan kepada penjelmaan sifat  Rahman-Ku,dan jadilah kalian orang-orang yang bersyukur lebih banyak lagi dari sebelumnya dan menjadi hamba-hamba-Ku yang banyak bersujud kepada-Ku.

 

Sesungguhnya semua persiapan-persiapan yang dilakukan betapapun baiknya jangan terlalu bergantung kepada kepandaian, kepintaran, akal dan kerja keras pribadi setiap orang, bahkan semua pekerjaan yang dilakukan itu semata-mata Allah swt-lah  akan memberikan barkat-Nya apabila kita menjadi hamba yang sejati, apabila kita menjadi hamba-hamba Allah swt yang bersyukur sambil merebahkan diri sujud dihadapan-Nya. Maka Allah swt berjanji kepada kita, berapa banyaknya berkat yang kita kehendaki dari pada pekerjaan kita ini, berapa banyaknya yang dikehendaki sekalipun nampaknya banyak kesulitan dalam pekerjaan kita itu namun Allah swt setiap sa’at siap untuk menolong kita. Bahkan akan lebih banyak dari sebelumnya nikmat-nikmat dan karunia Allah swt akan turun laksana hujan  menyirami kita semua. Jadi rasa syukur kepada Allah swt ini dan melakukan zikir kepada Allah sesungguhnya memberi kesegaran terhadap hati dan akal-pikiran manusia. Dengan banyak berzikir kepada Allah swt membuat kalbu dan akal-pikiran menjadi segar sehingga ia akan membangkitkan banyak rasa syukur kepada Allah swt sehingga manusia menjadi hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur. Karenanya hujan karunia dan rahmat Allah swt akan selalu turun kepada Jemaat ini. Insya Allah!

Dalam hal ini terdapat contoh yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw, beliau saw selalu memanjatkan do’a kepada Allah swt seperti ini :

 

Wahai Tuhan-ku ! Jadikanlah aku hamba yang selalu banyak berzikir dan banyak bersyukur kepada Engkau.

Dan untuk menjadi orang bersyukur kita harus selalu ingat kepada sabda Rasulullah saw, pertama harus bersyukur kepada Allah swt kemudian kepada hamba-hamba-Nya yang telah membantu kita dalam bentuk apapun dan dalam masalah apapun. Sebab jika setelah kamu mendapat berkat dari makhluk-Nya kamu tidak bersyukur kepadanya maka pada diri kamu tidak akan timbul kebiasaan untuk bersyukur kepada Allah swt.

Maka sesuai dengan administrasi Jema’at semua penyusun persiapan Jalsah dan para petugas serta mereka semua yang terlibat didalam urusan itu dalam bentuk pengkhidmatan apapun telah mereka lakukan dengan baik dan penuh tanggung jawab, sehingga berkat kerja keras mereka semua terdapat berbagai macam kemudahan sehingga para peserta jalsah dapat mengikuti dan mendengarkan semua program Jalsah dengan baik. Para peserta jalsah ini bukan saja dengan tenang dapat mendengarkan semua program Jalsah, melainkan tempat tinggal, makanan dan persiapan-persiapan lainnyapun tidak mendapat kesusahan selama jalsah berlangsung. Jelaslah bahwa dalam suasana kesibukan Jalsah yang begitu besar tentu setiap kemudahan dan fasilitas tidak akan dirasakan seperti keadaan dirumah sendiri. Dan dalam menempuh perjalanan juga tentu harus bersabar menghadapi beberapa macam kesusahan. Akan tetapi para petugas dan panitia telah berusaha menyediakan persiapan selengkap mungkin dan dilakukan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan keperluan. Dan pekerjaan para petugas ini dilaksanakan dengan penuh keikhlasan hingga Jalsah selesai. Didalam menjalankan tugas-tugas itu selain daripada laki-laki, para petugas perempuan, para pemuda dan pemudi juga ikut ambil bahagian dengan semangat dan penuh dedikasi.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa semangat berkhidmat itu telah dibangkitkan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. Dan semangat seperti itu dapat disaksikan oleh orang-orang yang bukan Jema’at juga. Seorang anggota Parlemen dari negara Malta dan dua orang cendekiawan Islam datang dari Indonesia telah mengakui kehebatan penyelenggaraan Jalsah ini dan mereka mengatakan bahwa Jema’at ini menerapkan disiplin dengan cara yang sangat mengagumkan. Begitu juga ada orang non Islam dari Kristen datang dari Bulgaria sangat heran menyaksikan disiplin para petugas Jalsah sambil mengatakan katanya orang-orang ini sangat mengherankan bekerja dengan tekun tanpa mendapat sedikitpun bantuan dari pihak pemerintah. Dan mereka merasa heran juga menyaksikan para petugas dan juga para tamu yang menghadiri Jalsah ini mempunyai rasa disiplin yang ketat.

Kita orang-orang Ahmadi sesuai dengan keadaan tabiat masing-masing, pekerjaan yang kita anggap mempunyai standar rendah, namun mereka itu menganggap pekerjaan kita ini mempunyai standar yang sangat tinggi. Jika dibeberapa tempat tertentu terdapat hal-hal yang kurang teratur yang tidak dapat kita atasi, mereka anggap sebagai hal yang normal dan biasa terjadi. Jadi Allah swt telah menegakkan kehormatan Jemaat dipandangan orang-orang yang bukan Jema’at atau bukan Islam. Sebagai tanda syukur kepada Allah swt atas prestasi yang sudah diperoleh itu, Jema’at harus terus meningkatkan prestasinya yang semakin tinggi lagi. Dan sedapat mungkin harus diusahakan terus untuk meningkatkan prestasi yang jauh lebih tinggi lagi. Disamping melakukan usaha-usaha keras kita harus bersujud memohon do’a lebih banyak lagi dari pada yang sudah-sudah sambil merebahkan diri dihadapan Allah swt. Dan selama kita terus melakukan pengkhidmatan, melakukan kewajiban sambil memikirkan bahwa jenis kesukaran apapun yang kita hadapi, sesuai dengan jani-janji Allah swt, akan dapat kita atasi dengan baik. Didalam tugas-tugas kewajiban kita ini dengan karunia Allah swt kemudahan-kemudahan akan selalu diperoleh dengan sendirinya.

Para pendatang dari Pakistan dan dari negara-negara lainnya juga, merasa heran menyaksikan para petugas dan panitia Jalsah Salanah Jerman yang bekerja begitu giat tanpa merasakan keletihan dan kesusahan, tanpa ada suatu hambatan, secara umum mereka terus bekerja seperti mesin. Walaupun tabiat mereka seperti itu, menurut anggapan saya, sesungguhnya sudah ada sebelumnya dan sejak lama dimanapun Jema’at menyelenggarakan Jalsah sekalipun Jalsah yang keadaannya cukup besar. Didalam Jalsah UK dan dinegara manapun juga, disebabkan sudah lama Jema’at menyelenggarakan Jalsah Salanah, pada umumnya para petugas dan panitia Jalsah Salanah bagi Jema’at yang besar-besar sudah cukup banyak mendapat pengalaman. Akan tetapi sejak permulaan diadakannya Jalsah keadaan dan tabi’at mereka di Jerman sudah seperti itu, sebabnya adalah tidak sedikit para anggota Jema’at berpengalaman datang dari Pakistan dan tinggal disini. Mereka sudah terbiasa mendapat tugas disana untuk berkhidmat didalam Jalsah Salanah. Disana mereka telah diberi latihan dibawah prakarsa Majlis Khuddamul Ahmadiyah.

          Seperti telah saya katakan sebelumnya, bahwa insya Allah apabila kita mengadakan Jalsah lagi di Rabwah Pakistan, disebabkan sudah lama disana tidak dilaksanakan Jalsah dan dengan tidak adanya latihan-latihan untuk itu, jangan-jangan disana akan mendapat kesusahan. Hal itulah yang selalu timbul didalam pikiran saya. Dan apabila diadakan Jalsah disana, insya Allah swt, begitu besar dan banyaknya jumlah pengunjung akan hadir, sehingga akan mencapai jumlah sepuluh kali ganda jumlah peserta Jalsa UK dan Jerman disatukan. Akan tetapi disamping menjadi pikiran ada juga segi-segi yang menenteramkan hati bahwa Allah swt sendirilah yang akan mempersiapkan segala-galanya untuk terlaksananya Jalsah disana yang kita angan-angankan itu. Apabila sudah tiba sa’atnya dengan karunia Allah swt orang-orang Ahmadi akan melakukan semua pekerjaannya, baik pekerjaan rutin ataupun pekerjaan lainnya, dengan karunia Allah swt orang-orang Ahmadi mempunyai kemampuan menjalankan tugas-tugas mereka dalam situasi yang darurat (emergensi) sekalipun.

          Saya sedang berbincang-bincang tentang bagaimana para petugas dan panitia Jema’at Jerman melaksanakan tanggung jawab mereka, dengan karunia Allah swt semua tugas-tugas pelaksanaan Jalsah yang begitu sangat besar telah dilaksanakan dengan teratur dan sangat rapih. Seorang pemuda datang dari Jema’at UK dan saya bertanya kepadanya : Perbedaan apa yang engkau lihat antara Jalsah UK dengan Jalsah Jerman? Ia spontan menjawab : Jalsah disini lebih teratur dan terorganize (terorganisir) dengan rapih sekali.

 

          Sebab utamanya mengapa Jalsah Jerman lebih teratur dan lebih rapih daripada Jalsah UK ialah, sebagaimana telah saya katakan bahwa disini (Jerman) terdapat banyak petugas dan panitia Jalsah yang telah berpengalaman datang dari Pakistan. Bahkan mereka juga memberi latihan-latihan kepada yang lain. Mungkin saja orang-orang UK akan merasa khawatir mendengarnya (dan mereka tidak perlu khawatir) akan hal itu. Sebab setelah mendapat latihan-latihan yang cukup lama merekapun telah mendapat standar yang lebih baik. Disini (di Jerman) dengan karunia Allah swt persiapan-persiapan nampak sangat bagus disebabkan adanya tempat Jalsah bagi Jema’at di May Market dan Menheim Market dimana telah tersedia banyak sekali perlengkapan-perlengkapannya yang diperlukan. Infrastrukur (bangunan-bangunan fisik) semua tersedia sehingga tidak perlu banyak bekerja lagi untuk persiapan Jalsah. Oleh sebab itu keperluan-keperluan lainnya dapat dipersiapkan dengan cara yang sangat baik sekali. Dengan mendapatkan tempat yang begitu luas disertai fasilitasnya yang sangat lengkap dan baik adalah semata-mata karunia Allah swt yang khas bagi Jema’at Jerman. Oleh sebab itu kita harus menjadi hamba-hamba yang sangat bersyukur kepada-Nya. Walaupun ada beberapa macam peraturan yang ketat dari pemerintah yang harus kita patuhi, akan tetapi peraturan-peraturan itu semata-mata untuk faedah kita, untuk meningkatkan mutu pekerjaan kita, untuk meningkatkan standarnya, misalnya departemen kesehatan menegaskan peraturan tentang kebersihan Langgar Khana yang sangat baik bagi kita. Kebersihan dan kerapihan adalah bahagian dari pada iman. Oleh sebab itu para tamu yang datang dari luar banyak yang memberi komentar bahwa pada Jalsah Salanah tahun ini mutu kebersihan dewan (ruang) makan sangat baik sekali. Untuk meningkatkan mutu kebersihan perabot dapur seorang engineer (insinyur) kita telah membuat sebuah mesin automatic untuk mencuci deg-deg (periuk-periuk besar untuk menanak nasi dan memasak gulai) sehingga dalam tempo satu menit saja sebuah deg dapat dicuci sampai bersih dan mengkilap seperti baru seakan-akan belum pernah dipakai. Hal itu juga salah satu perkara baru untuk meningkatkan mutu prestasi pelaksanaan program-program Jalsah Salanah.

          Saya katakan kepada engineer (insinyur) itu, buatlah lagi mesin seperti itu dan tingkatkanlah mutu dan tehniknya lalu buatlah hak patentnya. Sebelumnya akan kita berikan kepada negara-negara  yang jumlah peserta Jalsahnya cukup banyak untuk membersihkan periuk-periuk besar mereka. Sangat sederhana sekali mesin itu namun cukup bermanfaat sekali. Untuk ini juga kita harus bersyukur kepada Tuhan dan hati kita semakin bertambah untuk menyatakan rasa syukur kita kepada-Nya bahwa Dia telah memberikan kepandaian kepada orang-orang Ahmadi yang selalu memikirkan bagaimana cara membuat peralatan dengan biaya yang semurah mungkin yang dapat dipergunakan didalam berbagai macam keperluan Jema’at.

          Jadi, persiapan-persiapan yang nampak demikian baik kepada orang-orang lain, setiap tahun terus meningkat mutunya. Taufiq yang telah Allah swt berikan kepada orang-orang Jema’at itu, ilmu  mereka atau katakanlah penemuan mereka, telah dimanfa’atkan untuk memenuhi keperluan Jema’at. Penemuan baru tentang peralatan-peralatan itu janganlah menjadi bahan untuk menimbulkan rasa takabbur dan sombong didalam pikiran orang yang membuatnya. Bahkan sebaliknya dengan karunia yang telah dia peroleh itu harus menjadi lebih banyak bersujud sambil merendahkan diri dihadapan Allah swt. Dan meningkatkan lebih banyak rasa syukur lagi kepada-Nya bahwa Dia telah memberi taufiq kepadanya untuk berkhidmat kepada Jema’at-Nya.  Merendahkan diri dan menyatakan rasa syukur itu, sebagaimana telah saya katakan, akan betul-betul menjadi pernyataan yang sesungguhnya dihadapan Tuhan apabila disertai dengan banyak melakukan ibadah-ibadah kepada-Nya. Dan dia akan menganggap setiap kesempatan berkhidmat kepada Jema’at yang ia lakukan sebagai karunia dan nikmat dari pada Tuhan.

          Ingatlah selalu bahwa karunia Allah swt yang diterima oleh setiap orang Ahmadi adalah semata-mata berkat  masuk Ahmadiyah dan disebabkan dia telah menjadi orang Jema’at, dan juga sebagai pembalasan dari Allah swt karena dia telah berkhidmat kepada Jema’at-Nya. Maka ingatlah selalu kepada berkat-berkat dari Allah swt itu. Dan harus dibangkitkan rasa patuh-ta’at didalam hati kepada-Nya lebih besar lagi dari sebelumnya. Sebelum ini saya telah berulang-kali mengatakan bahwa setiap orang Ahmadi dengan mengamalkan hukum-hukum Allah swt harus berusaha sekuat tenaga untuk menjalin hubungan seerat-eratnya dengan Allah swt. Dia harus menunjukkan contoh keta’atan yang tinggi kepada Nizam Jema’at. Ingatlah selalu bahwa ita’at kepada Khilafat sangat berkaitan erat dengan ita’at kepada Nizam Jema’at. Jika seseorang menginginkan perbaikan kepada sebarang komponen Nizam Jema’at, jika ia telah melihat ada perlakuannya yang tidak betul, maka dia dapat langsung memberitahu kepada Khalifa-e-waqt. Akan tetapi siapapun yang mengingkari ita’at kepada Nizam Jema’at ia tidak dapat dibiarkan.

          Jadi keberhasilan Jalsah yang telah diperoleh dengan luar biasa itu, untuk mensyukurinya secara tepat adalah kita harus mengadakan perubahan pada diri kita masing-masing secara nyata dan istimewa dan harus menjadi contoh yang sangat baik dalam patuh-ta’at terhadap Nizam Jema’at. Ingatlah selalu perkara ini bahwa bagaimana mutu keta’atan kita terhadap hukum-hukum Allah swt yang diinginkan oleh Rasulullah saw? Dan ajaran yang beliau berikan kepada kita, apakah hak-haknya sedang kalian laksanakan ataukah sedang kalian abaikan?  Namun kewajiban kalian adalah, dengarlah dan ita’atlah ! Adapun hubungan kewajiban kalian dengan kewajiban orang-orang adalah, kewajiban mereka menjadi beban diatas diri mereka dan kewajiban kalian menjadi beban diatas diri kalian. Maka Allah swt sendiri akan mempertanyakan para pengurus Jema’at yang tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka.

Betapa besarnya karunia dan kebaikan Allah swt kepada Jema’at Ahmadiyah bahwa Dia telah menganugerahkan silsilah  Khilafat dan Dia sendiri menyebutnya Khilafat sebagai sebuah nikmat dari sekian banyak nikmat-nikmat-Nya yang sangat besar. Dan nikmat inipun telah dianugerahkan karena Dia memberi dukungan kepada yang berhak, karena Khalifa-e-waqt tidak mempunyai sebarang party atau grup. Tidak terdapat indikasi pada perlakuan Khalifah yang membuktikan adanya memihak kepada seseorang. Jika terdapat sedikitpun keluhan atau complain, terbuka peluang kepada sesiapapun untuk melaporkannya kepada Khalifa-e-waqt.

          Jadi baik orang-orang Ahmadi baru ataupun orang-orang Ahmadi yang lama jika bersama-sama menegakkan contoh-contoh baik seperti itu maka mereka dapat membantu lajunya perkembangan dan kemajuan Jema’at. Pada waktu Jalsah sedang berlangsung saya telah mengadakan meeting (pertemuan) dengan orang-orang Ahmadi yang tinggal di Jerman, khususnya para mubayi’in baru yang baru beberapa bulan saja masuk Jema’at dan ada juga beberapa anggota Jema’at lama. Disana ada seorang Jerman baru masuk Islam telah mengajukan sebuah pertanyaan, jika seseorang sudah pernah menjadi anggota pengurus dan sekarang karena ia tidak lagi menjadi anggota pengurus dia tidak menunjukkan adanya kerjasama dengan Amila baru dan dia tidak mau menta’atinya, tindakan apa yang harus dilakukan terhadapnya ? Bagaimana harus menasihati dan memperbaikinya? Disini tindakan perbaikan disebut kemudian. Pertanyaan ini telah menggerakkan hati saya, bahwa ada orang-orang Ahmadi datang dari Pakistan telah menunjukkan contoh buruk seperti itu, selama ia menjadi anggota pengurus dia kerapkali berpidato tentang ita’at terhadap Nizam Jema’at dan dia menghimbau  anggota supaya ita’at kepada Nizam Jema’at. Namun ketika ia sudah habis masanya sebagai  anggota pengurus ia menjadi betul-betul down tidak ada perhatian lagi kepada Jema’at. Para anggota Jema’at dari Pakistan harus selalu ingat, karena dari mereka diharapkan menjadi penegak contoh-contoh yang baik. Jika kalian memperlihatkan contoh buruk seperti itu berarti kalian telah mensia-siakan tarbiyat Jema’at dimasa lampau. Dan kalian telah mensia-siakan maksud dan tujuan dari pada Jalsah Salanah juga.

Perkara kedua yang harus kalian ingat adalah, tidak lama lagi semua kaum atau semua bangsa-bangsa lain akan masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah atau Islam hakiki ini. Dan setiap bangsa setelah masuk kedalam Nizam Jema’at ini akan menjalankan roda Nizam dinegara masing-masing. Oleh sebab itu sambil mengingat hal itu semua berusahalah untuk membuat hati sendiri bersih dan suci dari pikiran yang tidak wajar, jangan sampai mengatakan ;  mengapa orang-orang Jerman baru saja masuk Jema’at mereka berkuasa diatas kami dan bagaimana mereka menjadi pengurus diatas kami ? Dan jangan berpikir seperti ini pula, kami sendiri anggota lama tidak menjadi pengurus mengapa orang baru saja masuk Jema’at menjadi pengurus ? Kalian harus banyak-banyak membaca istighfar dan harus lebih maju dalam istighfar, disebabkan kelemahan kalian Allah swt telah mengambil kepengurusan dari tangan kalian dan memberikannya kepada mereka yang baru saja masuk kedalam Jema’at ini yang keikhlasan dan keta’atan mereka terhadap Nizam Jema’at dan keita’atan mereka terhadap Khilafat terus berkembang dengan pesatnya.

          Maka orang-orang yang mempunyai pikiran buruk seperti itu haruslah berusaha untuk memperbaiki diri sendiri. Kepada orang yang bertanya itu saya katakan kepadanya, nasihatilah orang-orang semacam itu sampai mereka mengerti betul dan berdo’alah untuk mereka. Jika mereka tidak mau menerima nasihat itu maka laporkanlah kepada Amir Jema’at. Jika nasihat Amirpun mereka tidak mau menerimanya maka laporkanlah kepada Khalifa-e-waqt supaya diberikan peringatan terhadap mereka.

 

          Hazrat Masih Mau’ud a.s. sangat memerlukan orang-orang yang baik dan orang-orang yang mempunyai keikhlasan tinggi bukan orang-orang yang suka mementingkan diri sendiri dan bukan pula orang-orang yang patuh-ta’at jika mendapat sesuatu faedah dari Jema’at namun apabila tidak mendapat sedikitpun manfaat lagi, keita’atannya hilang lenyap.

          Dengan karunia Allah swt anggota baru Jema’at Jerman itu dengan semangat berusaha untuk memahami Nizam Jema’at sepenuhnya dan dengan cepat ia mampu memahaminya. Seorang anak muda Jerman mengajukan pertanyaan bahwa, seorang diberi tugas memegang suatu pengurus dalam Jema’at, lalu ia mendapat tugas lagi didalam badan Khudam, Anshar atau Lajnah Immaillah. Misalnya saya diberi tugas memegang jabatan pengurus tingkat Nasional sedangkan dari Khuddamul Ahmadiyahpun saya diberi tugas. Namun karena saya masih muda saya ingin aktip didalam Khuddamul Ahmadiyah saja. Dalam situasi demikian mana yang harus saya lakukan? Diwaktu itu telah saya berikan jawaban yang ringkasnya adalah, harus selalu diingat bahwa Nizam Jema’at adalah Nizam Markazi (pusat). Sedangkan Khudam, Anshar dan Lajnah Immaillah adalah merupakan badan-badan dibawah pengawasan Jema’at. Badan-badan pusat mereka itu berada dibawah pengawasan langsung Khalifa-e-waqt, mereka meminta petunjuk-petunjuk dan mereka menyusun program-program kerja mereka dari Khalifa-e-waqt. Akan tetapi Nizam Jema’at berperan sebagai Nizam Induk. Dan ianya salah satu Nizam yang paling atas dari antara Nizam-Nizam yang dibentuk oleh Khalifa-e-waqt. Setiap anggota badan adalah anggota Jema’at juga. Dan peranannya sebagai anggota Jema’at ianya harus ta’at kepada Nizam Jema’at. Jika seseorang pemuda atau khuddam diberi tugas Jema’at secara perorangan sebagai anggota Jema’at, diwaktu yang sama ia juga diberi tugas dari Khuddamul Ahmadiyah untuk melakukan suatu tugas, maka khuddam yang diberi tugas oleh Jema’at itu peranannya bukan sebagai khuddam melainkan peranannya sebagai anggota Jema’at. Ia hendaknya memberitahu pengurus Khuddamul Ahmadiyah bahwa ia mendapat tugas dari Jemaat yang harus segera dilaksanakan, oleh karena itu saya lebih dulu pergi untuk melaksanakan tugas Jema’at itu. Laksanakanlah tugas itu lebih dulu dan tugas dari Khuddamul Ahmadiyah dapat dilaksanakan kemudian.

          Demikianlah peranan seorang khadim dalam situasi yang mendesak (emerjensi). Akan tetapi dalam program yang rutin biasanya Jema’at mempunyai jadwal (kalender) kegiatan tahunan demikian juga badan-badan Jema’at mempunyai jadwal kegiatan masing-masing sepanjang tahun. Dan jadwal Jema’at, oleh karena disusunnya paling awal sebelum badan-badan menyusunnya, oleh karena itu diwaktu badan-badan menyusun jadwal mereka harus menyesuaikan waktunya dengan jadwal Jema’at. Misalnya jadwal Ijtima, Turnament olah-raga (sport) Jalsah dan sebagainya. Jika disebabkan darurat (emerjensi) terpaksa diselenggarakan sebuah program Jema’at disatu tempat, maka program Jema’at akan diberi prioritas diatas program badan-badan.

Perlu dijelaskan bahwa program badan-badan secara langsung tidak berhak mencampuri urusan program Jema’at. Sadr Maqami (presiden Jema’at local) atau Amir Jema’at tidak dapat ikut campur dalam urusan program Khuddamul Ahmadiyah atau urusan program Lajnah Immaillah dan urusan program Ansarullah, sekalipun posisi Nizam mereka itu lebih tinggi dari pada badan-badan.

          Jika para Amir melihat badan-badan Jema’at melakukan pelanggaran terhadap ajaran Jema’at atau pelanggaran terhadap peraturan yang berlaku dalam Jema’at, maka para Amir harus segera menegur atau memanggil pimpinan badan-badan itu untuk diberi penjelasan atau diberi nasihat kepada mereka. Jika terjadi pada level cabang maka hal itu harus dilaporkan kepada Amir dan harus diberi penjelasan atau nasihat kepada Qaid kemudian harus dilaporkan kepada Khalifa-e-waqt secepatnya. Sebab kesucian tradisi Jema’at bagaimanapun harus ditegakkan. Akan tetapi harus diingat perbedaannya bahwa ikut campur secara langsung dalam urusan program-program mereka tidak dapat dibenarkan. Ditempat lain juga masalah seperti ini bisa saja terjadi, oleh karena itu saya sedang menjelaskannya secara ringkas.

          Tentang pertemuan Lajna Immaillah juga saya ingin menjelaskannya disini. Dalam hal ini harus diketahui bahwa member Lajna Immaillah tidak perlu diundang untuk menghadiri pertemuan bulanan yang diadakan oleh Jema’at dan tidak pula kehadiran mereka diperlukan sebab merekapun mempunyai pertemuan bulanan tersendiri. Kecuali Jema’at mengadakan jalsah atau pertemuan yang lebih besar seperti jalsah Siratun Nabi, jalsah youmi Muslih Mau’ud, jalsah youmi Masih Mau’ud, jalsah Youmi Khilafat dan lain sebagainya, atau program lain secara kolektif atau diadakan secara urgent mereka boleh ikut hadir didalamnya. Selain itu Lajnah sendiri boleh menyelenggarakan sendiri jalsah seperti itu.

          Maksud dan tujuan Hazrat Muslih Mau’ud r.a. mendirikan badan-badan itu supaya setiap level daripada anggota Jema’at dapat diikut sertakan didalam setiap kegiatan Jema’at. Dan supaya kemajuan Jema’at dapat diperoleh dengan cepat. Setiap badan harus mempunyai program kerja masing-masing, sehingga bisa saling berlomba satu sama lain dalam kegiatan mereka. Mereka harus berjalan seirama supaya kereta Jema’at ini terus berjalan maju diatas sebuah rel sampai keakhir tujuan dengn cepatnya. Tidak boleh terjadi saling bertabrakan satu sama lain. Jadi hal itu juga sebuah nikmat dari sekian banyak nikmat-nikmat Allah swt yang harus kita hormati sepenuhnya supaya kereta Islam dan Jema’at Ahmadiya ini berjalan tepat diatas relnya sehingga dengan lajunya menempuh arah tujuan sambil melewati berbagai macam tingkatan dan tidak akan pernah mundur kembali. Dan kita akan menyaksikan berkibarnya sang bendera Islam melambai-lambai diseluruh dunia.

          Mengambil kesempatan dalam Jalsah Salanah disini saya ingin berkata tentang para anggota Lajnah. Pada umumnya terdapat komplain dari pihak perempuan, bahwa banyak sekali kedengaran suara bising dari dalam Marki (tenda) kaum perempuan. Pada waktu saya sedang berpidato terdengar suara bising yang ditimbulkan oleh anak-anak kecil. Saya katakan kepada petugas bahwa di Jalsah UK juga biasa terjadi keadaan seperti itu. Namun disini hendaklah marki (tenda) untuk tempat anak-anak dibuat terpisah dari tenda kaum Lajnah untuk mencegah kebisingan didalam tenda utama dari suara kanak-kanak. Pada waktu itu perempuan-perempuan  juga banyak membuat bising dan ada juga yang bercakap-cakap. Oleh karena anak-anak yang  membuat kebisingan, maka anak-anakpun dijadikan alasan bahwa merekalah yang membuat kebisingan. Namun demikian pada saat saya berpidato para anggota Lajnah telah berusaha keras untuk mendengarkan sambil senyap dengan tekun dan tidak ada yang bersuara. Sampai saya merasa heran menyaksikan keadaan seperti itu dan saya juga sangat merasa senang karenanya. Namun saya menyesal juga karena saya telah berprasangka buruk bahwa perempuan banyak bercakap-cakap ditengah-tengah anak-anak sedang bising, akan tetapi saya punya pemahaman baik pula sehingga penyesalan saya dapat dijauhkan. Rupanya hal itu bukanlah prasangka buruk saya, bahkan sebuah kenyataan bahwa ketika orang lain berpidato perempuan-perempuan tidak mau diam dan senyap, banyak perempuan-perempuan yang bercakap-cakap dan bising serta gemuruh sehingga mereka tidak menghiraukan petugas yang telah menegur mereka. Dan ada yang menjawab   katanya ; suruhlah si fulan dahulu diam bercakap-cakap barulah saya akan diam. Ada juga yang menjawab katanya, sudah sekian lama kita baru saling berjumpa lagi karena suami kami tidak memberi izin untuk berjumpa seperti ini, apakah kami tidak boleh bercakap-cakap satu sama lain? Kasihan terhadap mereka yang datang dengan niat baik untuk nendengarkan acara-acara Jalsah, disebabkan kebisingan itu tidak dapat memperoleh manfa’at sebanyak-banyaknya. Banyak sekali dari antara mereka yang langsung menangis karena mereka tidak dapat mendengarkan acara-acara itu. Kebisingan demikian kerasnya sehingga suara microphonpun tidak terdengar lagi.

          Hazrat Masih Mau’ud a.s. pada suatu kali tidak mengadakan Jalsah karena tujuan dan maksud diadakannya Jalsah itu tidak dapat dipenuhi. Sekarang juga saya sedang memikirkan kearah itu, apakah ditutup saja Jalsah dalam jumlah yang besar untuk kaum perempuan. Dan adakanlah Jalsah dalam jumlah kecil-kecilan saja. Dan apabila mereka sudah mendapat tarbiyat dan sudah puas dengan adanya perubahan dikalangan mereka, barulah diadakan lagi Jalsah Pusat bagi anggota perempuan (Lajnah). Atau ambil jalan kedua, yaitu untuk memberi peringatan kepada mereka saya berhenti tidak akan menyampaikan pidato lagi dihadapan Lajnah. Dan selama belum diterima laporan yang pasti bahwa tahun ini Lajnah mendengarkan acara Jalsah dengan penuh perhatian dan tidak bising lagi, pidato tidak akan dilakukan didepan mereka. Saya tahu dan saya merasa banyak jumlahnya perempuan-perempuan yang datang dengan niat murni untuk mendengarkan acara Jalsah. Bagi orang-orang seperti itu pasti akan membuat susah. Akan tetapi untuk pengobatan sesuatu penyakit manusia kadang-kadang harus menelan obat yang pahit juga.

          Jadi sebagaimana dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. juga tidak diadakan Jalsah pada  tahun tertentu padahal dengan rasa ikhlas dan dalam jumlah banyak pula orang-orang datang untuk menghadiri Jalsah. Sekarang disini juga harus dibuat tindakan seperti itu supaya mudah-mudahan bisa membuat perbaikan dikalangan kaum perempuan. Atau dapat juga diusahakan supaya para mubayi’at baru saja yang dengan tekun dan semangat mendengarkan acara-acara Jalsah yang boleh hadir dan perempuan-perempuan yang berumur 20 sampai 25 tahun saja yang kurang suka bercakap-cakap boleh diizinkan untuk menghadiri Jalsah sedang yang lainnya harus diberi sekatan. Tindakan seperti ini tdak hanya diberlakukan disini saja melainkan, saya sedang memikirkan hal ini bahwa dinegara-negara lain juga yang Jema’atnya cukup besar akan saya kirim perwakilan kesana untuk menerapkan peraturan ini.

          Sudah diberi nasihat berulang kali kepada kaum perempuan agar mereka memahami betul kedudukan mereka dan supaya mereka berusaha untuk menunaikan kewajiban-kewajiban mereka, akan tetapi hanya sedikit dari mereka yang mau mendengar nasihat-nasihat ini. Diwaktu saya sedang berpidato didalam tenda suasananya sangat tenang tidak terdengar suara bising saya pikir mereka sedang mengamalkan semua nasihat-nasihat saya. Akan tetapi begitu saya keluar dari tenda itu mereka mulai bising terdengar suara riuh-rendah dan gemuruh sehingga selama acara-acara lainnya berjalanpun keadaan mereka tetap sama seperti itu.

          Ingatlah bagi para anggota Jema’at yang sudah lama keadaan demikian harus menjadi bahan pemikiran, jangan dibiarkan keadaan seperti itu terus berjalan, perhatikanlah keikhlasan para pendatang baru yang sedang terus meningkat. Dan ada satu hal lagi harus dilakukan untuk mencapai maksud dan tujuan menghadiri Jalsah ini yaitu orang-orang yang lama harus mempererat hubungan dengan mereka yang baru datang masuk Jema’at.

 Ingatlah bahwa setiap amal perbuatan yang tidak dikerjakan pada waktu dan kesempatannya yang tepat, sekalipun dilaksanakan dengan tepat dan baik, tidak dapat dikatakan sebagai amal soleh. Dan saya pikir Badan Lajnah Immaillah dari peringkat bawah sampai peringkat pusat bertanggung jawab atas kurangnya tarbiyyat seperti itu. Lebih baik melakukan tarbiyyat terhadap diri sendiri dahulu sebelum memikirkan banyak masalah yang besar-besar.

          Sebagaimana telah saya katakan bahwa keikhlasan para anggota Jema’at baru sedang meningkat drastic dan hal itu sedang terjadi disetiap negara didunia. Dengan melihat mereka hati kita merasa gembira bahwa keikhlasan para pendatang baru semakin meningkat. Allah swt telah memberi bahkan sedang terus memberi anggota-anggota yang kebaikan dan keikhlasan mereka sedang meningkat diberbagai negara didunia. Hati mereka sangat syahdu membaca puji-pujian sambil merendahkan diri dihadapan Allah swt sehingga membersit rasa syukur dari dalam kalbu mereka. Disamping itu telah menjadi pikiran bagi saya jangan-jangan semangat pengorbanan para perintis Ahmadi yang sudah lama tinggal didalam Jema’at ini disia-siakan oleh anak-anak keturunan mereka sendiri.

 

          Saya lihat banyak masyarakat di Jerman sangat terpengaruh oleh ajaran Islam terutama para pemuda dan pemudinya dan mereka sedang ramai masuk kedalam Jema’at. Dan mereka sedapat mungkin berusaha mengamalkan setiap hukum agama dan menta’atinya. Dan sifatnya bukan untuk sementara mereka menta’ati hukum-hukum agama itu melainkan untuk selamanya bahkan mereka menjadikan keta’atan itu sebagai kewajiban yang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab mereka.

          Sekarang disini (di Jerman) jumlah anggota Jema’at baru sudah mencapai ratusan orang. Walaupun jumlah bilangan mereka ini kecil namun pada wajah-wajah mereka nampak sekali syi’ar keta’atan terhadap hukum-hukum agama. Dengan wajah-wajah cerah mereka sedang menderap tampil kedepan didalam Jema’at. Memang waktu yang dijanjikan itu tidak lama lagi akan datang, insya Allah, apabila jumlah bilangan mereka seperti itu akan meningkat menjadi ribuan bahkan ratusan ribu banyaknya. Oleh karena itu saya berkata kepada orang-orang Ahmadi Jerman, bahwa ajaran Islam yang harus diamalkan didalam kehidupan ini hendaknya mereka sebarkan dikalangan warga bangsa sendiri sambil memohon hidayat dari Allah swt. Nur Islam yang telah anda perolehi sinarilah kalbu-kalbu yang lain juga dengan nur itu. Sampaikanlah amanat Islam yang indah ini kepada sesama anak bangsa. Basuhlah kalbu mereka dengan kesan-kesan yang indah ini bahwa Islam bukanlah agama yang menyebarkan kekerasan. Pada beberapa hari yang lalu dinegeri Jerman ini beberapa pemuda telah ditangkap oleh Polisi diantara mereka ada orang Jerman sendiri dan juga orang Turki yang terdaftar sebagai extremist. Dan dikatakan bahwa mereka ini telah mendapat training di Pakistan. Dengan itu Allah swt telah menyelamatkan negeri ini dari kerugian dan kebinasaan yang sangat besar. Sampaikanlah ajaran Islam yang sebenarnya kepada orang-orang yang telah terperosok kejalan yang sesat itu. Dan beritahulah kepada anak bangsa disini bahwa janganlah menganggap Islam yang benar terhadap Islam yang sedang dizahirkan oleh mereka itu.  Kalau mau tahu Islam yang sebenarnya datanglah kepada kami dan dengarlah keterangan dari kami.

          Jadi buatlah program yang kongkrit dan secara global untuk menyampaikan ajaran Islam yang sebenarnya kepada anak bangsa negeri ini dan perbuatan inilah cara yang paling baik untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah swt dan untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang sejati. Saya berseru kepada para Ahmadi asal Pakistan juga supaya mereka berusaha keras untuk memperbaiki diri masing-masing dengan cepat agar keadaan mereka jauh lebih baik lagi dari sebelumnya. Berusahalah untuk mengadakan revolusi ruhani pada diri mereka masing-masing. Dan itulah pula cara untuk menjadi orang yang bersyukur kepada Allah swt. Demikianlah cara untuk menghidupkan nama baik orang-orang tua mereka yang telah menyerahkan berbagai macam pengurbanan demi Jema’at ini. Dengan inilah cara yang sangat tepat untuk memenuhi hak kewajiban sebagai orang yang telah menggabungkan diri kedalam Jema’at ini. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua !

          Salah satu berkat dari berkat-berkat Jalsah yang telah kita peroleh adalah dengan karunia Allah swt sebelas orang laki-laki dan perempuan yang bertabi’at sangat baik telah mendapat taufiq masuk kedalam Jema’at selama Jalsah sedang berlangsung. Mereka telah mengucapkan janji (bai’at) dan menggabungkan diri kedalam Jema’at ini. Didalam ruangan kaum lelaki juga telah terjadi pembai’atan secara langsung dan tentu banyak orang yang telah menyaksikannya. Disana ada orang-orang yang telah bai’at sebelumnya masuk dalam tahun ini kedalam Jema’at dan 5-6 orang lagi yang baru bai’at diwaktu Jalsah telah menjadi Ahmadi. Diwaktu itu saya melihat wajah-wajah para mubayi’in baru itu yang nampak syahdu menunjukkan perasaan haru dan sangat mengagumkan. Ditempat perempuan juga saya secara langsung telah mengambil bai’at dari orang-orang perempuan Jerman. Mungkin banyak orang yang tidak tahu tentang ini. Diwaktu itu bai’at dilakukan dengan cara memegangi anggota badan isteri saya kemudian mereka saling berpegangan satu sama lain, kira-kira ada 70 orang perempuan yang bai’at. Diantara yang bai’at itu banyak yang benar-benar baru masuk kedalam Jema’at. Dan diantara mereka ada yang baru beberapa hari saja masuk kedalam Jema’at. Pada umumnya perempuan-perempuan itu menangis menunjukkan perasaan haru mereka khasnya mereka yang baru masuk kedalam Jema’at nampak sangat mengherankan. Padahal mereka baru beberapa hari atau beberapa bulan saja menjalani kehidupan sebagai orang Ahmadi. Mereka menunjukkan keikhlasan dan perasaan haru sedemikian rupa sehingga nampak Jelas bahwa setelah berada dibawah naungan Khataman Nabiyyin, Nabi  Allah yang terakhir nampak perobahan yang sangat mengagumkan. Bersamaan dengan dimulainya kalimah-kalimah bai’at diucapkan, mereka mulai menangis tersedu-sedu. Setelah bai’at ketika dipanjatkan do’a bersama keadaan rasa haru mereka semakin bertambah sehingga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Ketika saya keluar dari tenda ada yang memberitahukan kepada saya bahwa mereka melakukan sujud syukur dihadapan Allah swt. Mereka itu datang dari sebuah lingkungan masyarakat anak-anak muda yang telah melupakan Allah swt. Akan tetapi setelah mengikat hubungan dengan Al Masih Allah swt dan dan Asyiq Shadiq Nabi Muhammad saw, mereka telah mencampakkan kehidupan dunia dan kehidupan lingkungan masyarakat yang tidak menentu itu dan telah menjalin hubungan yang hidup dengan Tuhan Yang Tunggal dengan tulus dan setia serta dengan kasih-mesra terhadap-Nya.

          Jadi, itulah berkat-berkat Jalsah Salanah dan berkat-berkat itu sangat membawa faedah kepada kita apabila kita selalu menunjukkan rasa syukur kepada Allah swt. Dan kita harus selalu memperkuat ikatan janji bai’at kita dan sambil meningkatkan rasa syukur kepada Allah swt kita harus selalu berusaha untuk menjadi hamba-hamba Allah dan Rasul-Nya yang kamil dan setia. Dan barulah setiap anggota Jema’at akan menjadi anggota Jema’at Masih Mau’ud yang berguna jika hal itu semua diamalkan dengan sebaik-baiknya. Jika tidak, kita akan menjadi seperti ranting-ranting kayu yang kering yang tidak berfaedah yang hanya akan menjadi bahan bakar dalam api. Setiap anggota Jema’at janganlah menjadi seperti ranting-ranting yang kering itu bahkan jadilah ranting-ranting yang rimbun dan hijau yang bisa mendatangkan buah-buahan yang manis dari padanya. Dan sambil membuat perubahan-perubahan dalam diri masing-masing, kita harus berusaha menjadi hamba-hamba Allah yang sejati dan sambil bersyukur kepada-Nya kita harus menjadi orang-orang yang berusaha mendapatkan faedah dari tujuan Jalsah ini untuk tujuan mana Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah meletakkan fondasi Jalsah Salanah ini. Untuk itu semua semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semuanya!!

* * *