Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Raza Salim: Teladan Kaum Muda

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

16 September 2016 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Setiap orang yang datang ke dunia ini pasti akan meninggalkan dunia ini suatu hari, bahkan tidak ada satu pun di dunia ini yang kekal. Beberapa orang ada yang kembali kepada Allah Ta’ala saat masih bayi, beberapa ada yang kembali pada usia yang sangat muda, sedangkan yang lain hidup sampai tua. Namun, ada beberapa orang yang mencapai titik tertinggi usia yang Allah sebutkan dalam Al-Quranul Karim sebagai أَرْذَلِ الْعُمُرِ ‘ardzalil ‘umur (umur tua renta).[1] Pada usia ini, mereka kembali pada kondisi kebergantungan, tiada daya, tiada kekuatan, kurang pengetahuan, mirip kondisi anak kecil, yang akhirnya akan meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Sang Pencipta.

Tidak peduli pada usia berapa jiwa terpisah dari raga, yang jelas hal ini akan meninggalkan kesedihan yang sangat kepada mereka yang dekat dengannya. Namun, tentu saja ada beberapa orang yang ketika meninggalkan dunia ini, ia meninggalkan duka mendalam bagi banyak orang selain keluarganya. Jika ada orang yang mempunyai kepribadian yang dicintai dan wafat pada usia sangat muda dan amat mendadak, maka tingkat kedukaan meningkat berkali lipat.

Tetapi, kita diajarkan oleh Allah Ta’ala kala berduka dan menderita kehilangan untuk ridha atas ridha Allah dan berdoa dengan membaca, إنا لله وإنا إليه راجعون (Inna liLlaahi wa inna ilaihi raji’uun) yang artinya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Setelah membaca ayat-ayat ini dan menunjukkan kesabaran atas kehilangan yang dialami, Allah tidak hanya memuliakan derajat almarhum yang telah wafat itu, namun juga merahmati dan memberkati orang-orang yang kehilangan dengan melipur lara mereka, memberikan penghiburan, menurunkan kedamaian dan kenyamanan atas mereka.

Baru-baru ini, seorang mahasiswa Jamiah Ahmadiyah Inggris yang terkasih nan cemerlang yaitu Raza Salim (رضا سليم), meninggal dunia pada usia 20 tahun dalam sebuah peristiwa kecelakaan.[2] إنا لله وإنا إليه راجعون (Inna liLlaahi wa inna ilaihi raji’uun). Salah satu kerabatnya berkata: “Dua jam setelah mendengar berita sedih tersebut, saya pergi bersama istri saya untuk menyampaikan ungkapan simpati kepada keluarganya, kami terkejut melihat Ibunda almarhum berkata bahwa anaknya orang yang cemerlang dan sangat sayang kepadanya, tapi Sang Pencipta Yang memanggilnya jauh lebih sayang kepadanya.”

Inilah keadaan seorang beriman sejati dan yang kita saksikan pada para pengikut Hadhrat masih Mau’ud as. Tidak ada teriakan ataupun ratapan meskipun rasa pedih dan duka yang mendalam. Iya, memang benar seseorang tentu saja merasa menyayangkan, menangis dan merasa amat sedih. Siapa lagi yang dapat merasakan kesedihan melebihi sang Ibu dan sang Ayah atas wafatnya anak mereka yang masih muda? Mengenai kondisi sang Ayah, saya mengetahui bahwa setelah menerima berita kematian putranya, ia menangis dan berdoa. Namun, ketika sedikit waktu kemudian ia mendapatkan informasi lengkap yang mengungkap semuanya mengenai kewafatan putranya, ia membaca, إنا لله وإنا إليه راجعون (Inna liLlaahi wa inna ilaihi raji’uun) dan menghiasi diri dengan kesabaran nan damai.

Demikianlah, keadaan seorang beriman sejati. Tak diragukan lagi, seseorang yang kehilangan putranya yang masih muda tidak bisa melupakannya dengan mudah dan cepat, namun orang-orang yang beriman mencurahkan kedukaan dan derita mereka kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya supaya menurunkan kedamaian dan kenyamanan bagi yang ditinggalkan maupun bagi jiwa yang wafat.

Saya mengetahui kejadiannya dalam lawatan saya di Jerman sebelum kepulangan dari sana ke mari. Dan selama perjalanan, saya diinformasikan mengenai wafatnya anak muda tersebut. Sepanjang perjalanan tersebut, wajahnya terbayang di mata saya berkali-kali dan saya berdoa untuknya. Ia anak yang menyenangkan. Semua mahasiswa Jamiah Inggris sering mengunjungi saya secara rutin. Saya kenal dan memiliki hubungan personal dengan semuanya. Selama pertemuan dengan mereka, jika saya punya waktu, kami suka mengadakan sesi tanya-jawab. Pada pertemuan terakhir dengan anak muda itu, ia mempunyai beberapa pertanyaan untuk saya. Saya menjawab pertanyaannya secara rinci. Saya ingat hal ini saat ayahnya kemudian memberitahu saya bahwa anak itu sangat bahagia karena memperoleh jawaban rinci dalam pertemuan yang berlangsung selama 15-20 menit.

Dan pertukaran ilmu pengetahuan yang hebat terjadi saat itu. Selama pertemuan-pertemuan tersebut, kasih sayang dan rasa hormat yang dalam terhadap Khilafat terpancar jelas dari matanya. Ketika ia diterima di Jamiah, saya merasa bahwa ia mungkin lebih tertarik pada olah raga dan dia akan memiliki tingkat pengabdian yang sama seperti umumnya Ahmadi seusianya. Namun anak muda ini membuktikan bahwa apa yang saya sangkakan dan nilai terhadapnya ternyata salah. Dia sangat aktif dalam pelajaran-pelajaran. Ia juga tertarik pada olahraga. Namun, ia memiliki pengabdian dan dedikasi yang sangat tinggi terhadap Jemaat. Ada semangat besar untuk menjadi ‘pedang yang ditempa’ bagi Khilafat dan agama. Dan dia benar-benar membuktikan diri sebagai ‘pedang’ bagi Jemaat seperti yang digambarkan oleh teman-temannya dan sesama siswa di Jamiah.

Beberapa karakteristik menonjol yang tampak jelas tentang anak muda tersebut dari berbagai tulisan yang diketengahkan kepada saya oleh teman-temannya, siswa-siswa jamiah dan juga keluarganya yaitu ia Tawadhu’ (rendah hati), memiliki sikap yang baik, ghirah (rasa hormat dan juga pengabdian yang luar biasa) bagi agama dan menyintai Khilafat, bersikap baik terhadap tamu dan yang termasuk sifatnya yang paling cemerlang ialah menjaga dan menghormati perasaan orang lain. Orang yang dipuji oleh setiap orang, orang emikian menurut sabda Nabi Muhammad saw, termasuk yang surga adalah wajib baginya. Anak muda ini, yang memiliki dedikasi luar biasa untuk agamanya, berolah raga agar dapat tetap sehat sehingga mampu melayani Jemaat sebaik-baiknya. Semua orang yang menuliskan kepada saya tentang keutamaan dan keistimewaannya, yang mereka ungkapkan adalah sebagian dari kualitas-kualitas dan karakter-karakternya yang baik.

Tn. Raza Salim putra Tn. Zafar Salim (yang bekerja di kantor Sekretariat kita) meninggal dunia ketika sedang mendaki gunung di Italia pada tanggal 10 September 2016. إنا لله وإنا إليه راجعون . Ia lahir pada tanggal 27 September 1993 di Guildford, Inggris. Ayahnya menazarkan almarhum untuk mengkhidmati Jemaat dengan mendaftarkannya menjadi anggota Waqf-e-Nou. Di keluarganya, Ahmadiyah datang melalui kakeknya yaitu Tuan Allahdin, seorang yang tinggal di desa dekat Qadian dan beliau masuk Jemaat (berbaiat) di tangan Khalifatul Masih II ra Raza Salim diterima di Jamiah pada 2012. Ia calon muballigh pertama di keluarganya. Dia baru saja menyelesaikan tahun ketiga Jamiah dan baru akan memulai tahun keempatnya. Ia seorang Musi dan telah mengisi formulir Wasiat yang sedang diproses. Saya telah menulis kepada departemen terkait bahwa wasiatnya telah saya terima. Selain dari orang tuanya, keluarganya termasuk 2 saudara laki-laki dan 2 saudara perempuan.

Tn. Hafiz I’jaz Ahmad, seorang dosen di Jamiah dan bertanggung jawab atas departemen pendakian gunung (yang juga menemani mereka), menuliskan rincian dari peristiwa tersebut, “Kami telah tinggal sedikit lagi jarak perjalanan yang harus kami tempuh ke arah puncak gunung pada satu hari sebelum terjadi peristiwa itu, kami menghabiskan malam di sebuah pondok yang terletak di lereng gunung (bawah puncaknya) kira-kira 500 meter. Artinya, kami telah berjalan menuruni puncak gunung ke arah lebih rendah melewati jalur yang sangat sulit. Ada 10 orang pendaki lainnya yang bersama kami. Kami mulai perjalanan menuruni gunung pada jam 8 pagi ketika cuacanya sedang bagus. Kami sedang berjalan berbaris ketika tiba-tiba kaki Raza tergelincir atau terantuk batu dan tidak dapat menjaga keseimbangannya. Dia jatuh begitu cepat ke arah depan dengan kepala terlebih dahulu. Meskipun memakai helm, namun kepalanya terluka parah karena terjatuh ke lereng gunung. Para dokter mengatakan bahwa ia telah kehilangan kesadarannya karena jatuhnya kepalanya terlebih dahulu yang berakibat ia terluka.

Tn. Hafiz I’jaz berkata, “Saya dan seorang siswa yang lain yaitu Tn. Humayyun berusaha untuk menangkapnya (walaupun tangannya sempat menyentuh tubuh Raza), namun sangat disayangkan bahwa kami tidak bisa menangkapnya. Raza jatuh ke dalam parit yang dalam. Siswa-siswa lainnya berusaha untuk menyelamatkannya dengan turun ke dalam parit tersebut, namun saya tidak mengizinkan mereka karena itu sangat berbahaya. (mungkin akan mengakibatkan kehilangan yang lebih banyak, memakan korban lebih banyak).

Saya mencoba membantu siswa-siswa pendaki lainnya kembali ke tempat lebih tinggi lagi karena mereka mengalami shock (goncangan kesedihan) akibat kejadian tiba-tiba tersebut sehingga tidak mampu untuk berjalan kaki lagi. Sebelumnya, mereka telah turun ke tempat yang lebih rendah. Layanan darurat dan pihak ambulans pemerintah langsung kami hubungi lewat telepon genggam setelah kecelakaan itu. helikopter penyelamat datang ke lokasi dalam 20 menit. Almarhum Raza ada tepat di depan mata kami. Kami menginformasikan kepada para penyelamat lokasi tepat jatuhnya. Sebagian mereka turun dengan helikopter ke tempat yang kami tunjuk. Namun, mereka tidak memberitahu kami tentang kematian Raza sampai seluruh grup kami mencapai helipad (landasan turun-naik helikopter).

Dalam satu jam semua siswa dipindahkan ke kota terdekat. Cuaca saat kami mendaki ketika itu sangat cerah dan jalur yang kami ambil dinamakan ‘jalur normal ke puncak’. Tn. Muhammad Salim, ayah Raza datang ke tempat itu setelah kejadian. Dia mengabarkan kepada saya bahwa orang-orang setempat di sana memberitahukannya bahwa jalur tersebut adalah jalur normal. Semua orang baik muda ataupun tua juga mendaki lewat jalur itu. Seorang tua datang kepada Ayah Raza dan mengatakan bahwa ia berjalan ke sana setiap hari. Orang tua itu berkata bahwa umumnya setiap orang menggunakan jalur itu. Ketika orang-orang di sana tahu kejadian tersebut mereka mengatakan tidak ada yang berbahaya di jalur itu, namun, dari satu segi memang kejadian tersebut adalah ketetapan Allah.”

Saya telah menyebutkan keseluruhan peristiwa tersebut karena beberapa orang melalui telepon genggam dan aplikasi whatsapp mengirimkan banyak pesan dan komentar yang sangat salah menyebutkan bahwa Raza pergi sendirian, cuacanya tidak cocok untuk mendaki, atau peralatan mendaki mereka tidak mencukupi, pakaiannya tidak tepat dan sebagainya. Padahal berita dari media cetak lokal menyebutkan Raza memiliki semua peralatan yang diperlukan dan juga membawa segala yang penting untuk pendakian.

Semua orang yang memberikan komentar-komentar buruk harus bertindak bijaksana dan menggunakan akal mereka kala berkomentar. Alih alih demikian, selayaknya mereka menunjukkan dan menyampaikan simpatinya. Tidak ada kesalahan pada pengurus atau orang lain dan kejadian tersebut murni adalah kehendak dan ketetapan Allah, sebegitulah usia yang diberikan Sang Pencipta kepada Raza. Apapun sebab di balik itu. Apakah itu tergelincir atau terbentur kepalanya. Ketetapan Allah itulah yang bekerja. Demikianlah batas yang Allah tetapkan dalam kehidupan almarhum. Siswa-siswa lain yang bersama Raza sangat shock (terguncang) dan terkejut. Semoga Allah memberikan mereka kenyamanan dan keberanian agar mereka bisa kembali ke kehidupan normal mereka. Kenangan-kenangan akan Raza pasti tidak dapat dilupakan. Ia akan tetap berlanjut di kalangan kawan-kawannya. Namun kejadian ini seharusnya tidak menciptakan rasa takut dan putus asa dalam hati para siswa Jamiah Ahmadiyah.

Tn. Salim Zafar, ayahanda almarhum menulis, “Raza adalah anak yang sangat saya sayangi, sangat lembut dan memiliki kepribadian dan sifat-sifat yang sangat baik. Saya ingat diantaranya dia sangat jujur dan tidak akan menutupi jika melakukan kesalahan hanya karena takut atau tidak mau dimarahi. Ia akan menerima kesalahannya. Ia sangat penuh kasih dan peduli kepada anak-anak termasuk anak-anak saudarinya. Jika saudarinya akan memarahi keponakannya, dia akan mulai menangis karena sifatnya sensitif dan berkata bahwa seseorang tidak dapat mendidik anak dengan memukuli mereka.”

Telah saya sampaikan tadi bagaimana almarhum menyebutkan Mulaqat dengan saya. Ayahnya berkata juga bahwa dia melalui telepon kepada orang tuanya sangat senang menyebutkan tentang pertemuannya dengan saya dan akan mengikutsertakan mereka dalam kebahagiaannya. Sebelum pertemuan dengan saya, dia akan selalu memotong kuku-kuku jarinya karna takut kalau berjabat tangan, kukunya akan bisa menyakiti saya. Betapa banyak orang yang akan benar-benar berpikir sangat dalam dan sangat peduli akan hal seperti itu. Dia akan sangat merasa senang memberikan sesuatu miliknya kepada orang lain. Semenjak ia masih kecil, setiap kali ia mendapat permen, dia akan membagikannya diantara teman-temannya.

Ada siswa-siswa Jamiah yang asalnya dari luar London. Mereka tidak bisa pulang ke rumahnya masing-masing di tiap akhir pekan [libur mingguan]. Almarhum akan selalu membawa ke rumahnya dan menawarkan mereka makan. Ia mengatakan kepada ibunya atau saudarinya tentang jumlah temannya yang datang dan soal menyediakan makanan bagi mereka. Jika ada makanan yang disiapkan [di rumah] untuknya supaya dibawa ke asramanya, dia tidak akan mau memakan makanan tersebut sampai makanan tersebut cukup untuk semua teman sekamarnya. Dia akan berkata, “Saya tidak bisa memakan makanan itu dengan diam-diam di kamar asrama” untuk menyembunyikannya dari teman-temannya. Terkadang, dia juga membawa pakaian teman-temannya ke rumahnya untuk dicuci.

Dia memiliki hubungan yang amat erat dan penuh kasih sayang dengan saudara-saudara dan saudari-saudari kandungnya dan akan mengerjakan pekerjaan mereka sampai selesai dengan penuh tanggung jawab. Dia tidak akan menghabiskan uang yang didapatnya untuk dirinya sendiri, namun akan murah hati untuk memberikan bagi orang lain. Dia telah mengisi formulir Washiyat dan seperti telah saya katakan, pengajuan washiyatnya telah saya terima. Dia memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as dan para Khalifah dan tidak akan pernah bisa tahan mendengar satu kata yang melawan mereka. Juga, ia tidak akan tinggal diam jika ada kata-kata buruk yang diucapkan tentang Hadhrat Masih Mau’ud as ataupun salah seorang dari para Khalifahnya. Jika ia mendengar ada komentar yang tidak baik menentang Khilafat, wajahnya akan berubah merah. Keluarganya berkata, “Dia adalah anak muda yang sabar dan kami yang akan harus memperhatikan dan mengurus kebutuhannya karena ia belum pernah meminta sesuatu untuk keperluannya.”

Dia akan selalu menolong teman-teman siswanya dan terutama orang orang yang datang dari luar Britania dalam bidang bahasa Inggris. Banyak siswa-siswa senior telah menulis kepada saya, “Raza menolong kami mempersiapkan diri menghadapi ujian-ujian Bahasa Inggris yaitu ia mengajari kami.” Amarah bukanlah bagian dari kepribadiannya dan ia akan selalu ditemukan sedang tersenyum. Dia akan bercanda (yang wajar) dengan candaan yang thayyib (baik) dan orang-orang menyukai candaannya. Dia sangat menjaga shalatnya. Ayahnya telah mewakafkannya sebelum kelahirannya dan setelah almarhum lulus sekolah menengah, ia sendiri yang mewakafkan dirinya. Dia selalu bicara jujur. Ayahnya berkata, “Sejak ia belum lahir, saya selalu ingin agar ia mengkhidmati Jemaat dalam posisi menjadi seorang Mubaligh.”

Saat ayahnya menyebutkan hal itu kepada saya (Hudhur V atba) secara pribadi saya mengatakan kepadanya, “Anak ini sudah menjadi Murabbi bahkan sebelum menyelesaikan pendidikannya di Jamiah Ahmadiyah.” Akan kalian ketahui dari peristiwa-peristiwa yang hendak saya tuturkan nanti betapa gemarnya almarhum dalam Tarbiyat dan Tabligh. Ia telah melakukan pendakian itu untuk menjaga kesehatannya sehingga dari segi ini hendaknya menamakan perjalanannya sebagai perjalanan bersifat agama. Semoga Allah meninggikan derajat-derajatnya dan menjadikannya dekat dengan-Nya. (Aamiin)

Ayahnya berkata, “Satu kali pernah ia pergi ke Manchester selama beberapa hari untuk program Waqf-e-Arzhi. Dan ketika pada hari ia kembali, seseorang memberikannya sebuah amplop. Setelah membuka amplop tersebut, ia menemukan bahwa ada uang di dalamnya. Ia mengembalikannya kepada orang tersebut dan berkata, ‘Paman, kami tidak boleh menerima ini.’ Orang yang memberikan amplop itu mengirim surat kepada saya (ayah almarhum) dan menuliskan di dalamnya, ‘Telah datang kepada kami seorang anak muda mahasiswa Jamiah Ahmadiyah Inggris. Tindakan-tindakannya mengejutkan kami. Ia telah bekerja keras menyelesaikan pekerjaannya namun ketika saya berikan sesuatu dia menolak. Jika yang lulus dari Jamiah Ahmadiyah Inggris dan menjadi Muballigh ialah para pemuda yang demikian, Jemaat pastinya akan mengalami peningkatan ruhani.’”

Ibunya berkata, “Anak saya taat kepada orang tuanya dan Jemaat. Pastinya ada hubungan cinta kasih antara setiap ibu pada setiap anaknya, namun caranya unik dan langka kepada saya. Dia akan peduli, mendengarkan saya. Ia berbicara dengan layak pada setiap hal, sangat penuh kasih sayang dan penuh rasa hormat baik kepada anak-anak maupun orang yang sudah tua. Saat di rumah, ia akan membantu saya dengan berbagai tugas rumah tangga, dan akan bertanya kepada saya dari waktu ke waktu apakah saya sudah lelah melakukan pekerjaan rumah tersebut. Dia tidak pernah bisa melihat saya khawatir dan berkata “Saya tidak ingin melihat airmata ibu.”

Setiap kali dia pulang ke rumah dari Jamiah (libur akhir minggu), dia akan menanyakan dengan penuh perhatian tentang setiap orang dan juga tentang hal-hal rutin mingguan yang telah dilakukan. Ketika ia masih kecil, ia akan lari ke Islamabad segera setelah pulang dari sekolah ketika mengetahui Hadhrat Khalifatul Masih IV رحمه الله telah datang ke sana. Dia akan berkata, “Saya harus bertemu Hudhur dan berjalan-jalan menyertai beliau.”

Dr. Nusrat Jahan dari Rabwah, Pakistan berada di sini beberapa hari ini dan tengah menderita sebuah penyakit. Semoga Allah memberkati beliau dengan kesehatan dan kesembuhan. Beliau tengah menjalani perawatan penyembuhan di sini. Beliau memiliki hubungan famili dengan keluarga Raza. Raza biasanya berkata, “Saya berdoa banyak untuk beliau semoga Allah memberikan beliau kesehatan.” Semoga Allah mendengar doa almarhum Raza untuk beliau. Dr. Nusrat Jahan menulis, “Saya bermimpi pada Jumat malam banyak orang yang datang ke rumah saya dan banyak foto yang diambil lewat kamera. Saya menjadi takut dan bangun dengan terkejut. Saya berkata kepada suami saya, ‘Saya melihat mimpi yang membuat saya takut, jadi tolong berikan sedekah ketika pergi ke kantor. Tapi kami menerima berita sedih tentang wafatnya Raza sebelum itu.’”

Ibu Raza berkata: “Kapanpun saya membelikannya pakaian apapun, ia akan memakainya dengan senang dan akan menghargainya dengan memujinya. Ia sangat dikenal dengan keramahtamahannya. Jika seseorang pernah mengundangnya untuk makan siang atau makan malam sekali saja, ia tidak akan pernah melupakan mereka. Jika mereka yang pernah mengundang makan itu datang ke Islamabad, ia akan mengundang mereka ke rumahnya dan mengatakan pada saya untuk menyiapkan makanan bagi mereka.”

“Sebelum pergi dalam perjalanan pendakian ini, ia mengajarkan saya bagaimana menulis dalam Bahasa Urdu di mobile phone sehingga saya tidak akan bergantung kepada anak-anak saya yang lain untuk penulisan pesan di telepon genggam baik mengirim maupun menjawab. Kini saya bisa langsung mengirimkan SMS kepadanya dan ia akan bisa langsung menjawab SMS dari saya tersebut. Raza berusaha sebaik-baiknya untuk berlaku sesuai dengan setiap nasihat saya kepadanya dan akan berkata hal yang sama kepada teman-temannya. Ia menjaga hubungannya dengan Khilafat. Ia berusaha sekuatnya mengamalkan hal terkecil dari perintah Nizham Jemaat. Suatu kali ia pernah berkata kepada saya, ‘Ibu, saya ingin menjadi Muballigh yang hebat, menyebarkan pesan Jemaat kepada setiap orang dan membantu orang-orang memasuki Jemaat ini sehingga ibu akan bangga kepadaku.’”

Saudari Raza, Rafi’ah berkata, “Almarhum saudara laki-laki yang sangat disayangi. Meskipun masih muda, namun ia memiliki pemikiran yang dalam dan mulia. Walaupun masih muda, ia biasa merawat dan mengurus orang-orang dan akan bercakap-cakap dengan mereka dalam topik yang sesuai dengan usia mereka masing-masing. Ia tidak pernah menyakiti perasaan siapapun. Ia akan mendengarkan perkataan setiap orang dengan tenang dan akan menjawabnya dengan penuh rasa hormat. Pada waktu dulu ketika pemugaran bangunan atau aula tengah dibangun milik لجنة إماء الله Lajnah Imaillah dan para pekerja dan sukarelawan berdatangan ke Islamabad untuk mengerjakannya, maka almarhum akan mengurus mereka. Ia akan menyediakan mereka teh dan juga makanan lain. Ia akan selalu melayani mereka. Orang-orang biasa berkata bahwa: “Hanya anak muda inilah yang melayani kami di sini. Tidak ada selainnya.”

Tn. Asad Salim, saudara laki-lakinya berkata, “Almarhum seorang yang sifatnya sederhana. Ia akan berkata hal benar dengan sederhana. Baru-baru ini kami memberikannya sebuah kejutan dengan membelikan sebuah mobil baru. Hal pertama yang ditanyakannya ialah harga mobil tersebut lalu berkata, ‘Saya harus hidup sederhana karena status saya sebagai Murabbi (Muballigh) Jemaat. Hendaknya tidak menggunakan atau membeli barang-barang yang mahal.’”

Saudarinya, Ny. Amatul Hafiz berkata bahwa salah satu sifat Raza ialah ia tidak akan mau mendengar sesuatu pembicaraan buruk mengenai seseorang. Ia memiliki kemampuan merubah pemikiran negatif seseorang menjadi pemikiran-pemikiran yang baik. Dia biasa berkata: “Kita harus menghargai dan berkonsentrasi kepada sifat-sifat baik orang lain. Dan bukannya berbicara tentang sifat atau sikap negatif mereka, kita harus berdoa untuk mereka.”

Salah satu contoh sifat sederhana Raza adalah Ibunya biasa membawakannya pakaian baru setiap Idul Fitri dan hal ini akan membuat Raza khawatir itu akan memberikan gambaran tentang dirinya yang materialistik (duniawi) dan riya’. Jadi ia akan selalu memakai pakaian lama seperti jaket di atas pakaian baru tersebut.

Tn. Ata-ul Qudus, seorang guru Jamiah berkata: “Saya mengenal Raza sejak masih kecil. Ketika ia bergabung ke Jamiah, saya sedang berada di kelas Syahid. Meski saya tidak menghabiskan waktu lebih banyak dengannya di Jamiah, namun kami sering bersama selama acara-acara Jemaat yang lain, Tarbiyat Khuddam dan Jalsah Salanah.”

Sadr Khuddamul Ahmadiyah juga mengabarkan kepada saya bahwa almarhum biasa bekerja banyak pada Ijtima Khuddamul Ahmadiyah dan akan terlibat dalam sesi-sesi tanya jawab.

Tn. Ata-ul Qudus berkata, “Almarhum kebanyakan bertugas di departemen Hygiene (kesehatan atau yang berfokus pada kebersihan). Ia tidak akan pernah mempertanyakan mengapa ia diminta untuk bekerja dalam departemen ini. Alih-alih demikian, ia akan melaksanakan tugas-tugasnya dengan penuh pengabdian, tanggung jawab, dan rasa hormat.” Tn. Qudus berkata, “Almarhum Raza adalah seorang murid yang memiliki tingkat intelegensia luar biasa. Ia akan duduk di baris pertama attentively (dengan penuh perhatian). Ia bicara dengan wajah penuh senyum. Saya bahkan tidak pernah ingat apakah ia pernah menunjukkan rasa marah. Ia akan selalu menjangkau untuk menolong orang lain. Ia suka melihat pertandingan Kriket namun akan selalu mengabarkan dan meminta izin kepada gurunya sebelum pergi untuk mencari tahu skor pertandingan tersebut.”

Selama pendakian ini, kami menghabiskan sebuah malam di sebuah pondok yang kamar mandinya tidak memiliki kunci. Kami semua memintanya untuk berdiri berjaga di luar kamar mandi ketika ada orang di dalamnya. Dan ia melaksanakan tugasnya dengan senang hati. Ia juga menawarkan diri untuk melakukan tugas tersebut jika ada orang yang memakai kamar mandi di malam hari. Setelah pendakian tersebut, ia ingin pergi ke Kroasia dengan teman sekelasnya, Tn. Zhafir. Selama pendakian tersebut, Tn. Zhafir terluka matanya, sehingga Raza menunjukkan kekhawatiran dan kepedulian yang luar biasa. Ia mengatakan kepada teman sekelasnya bahwa setelah pendakian ini selesai, kita akan pergi ke rumah sakit dan memeriksakan matanya إن شاء الله تعالى. Tn. Zhafir mengatakan, “Raza seorang pengabdi Ahmadiyah yang sangat berdedikasi. Sifatnya pekerja keras, konsisten, penuh rasa hormat dan berakhlak ketika bergaul.”

Tn. Zhahir Khan, yang juga merupakan guru Jamiah menulis, “Saya berkesempatan mengajar di kelas Raza sejak dua tahun. Saya lihat salah satu sifatnya yang membedakannya dari yang lain ialah apapun pekerjaan yang diberikan kepadanya, ia akan melakukannya dengan rajin, kerja keras dan tanggungjawab yang sepenuhnya. Jika teman-temannya yang lain meninggalkan pekerjaan tersebut, ia akan tetap melakukannya sendiri sampai selesai.

Sifat eloknya yang lain ialah Raza Salim tidak akan pernah menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu (penting). Pertanyaan-pertanyaannya akan seputar kritik dunia Barat terhadap Islam dan Ahmadiyah. Ia akan berkata bahwa ia bertanya demikian karena pertanyaan ini telah muncul dalam diskusinya bersama beberapa Non Muslim atau Non Ahmadi. Allah telah memberkatinya dan khususnya menanamkan keinginan untuk membela Islam dan Ahmadiyah terhadap segala kritik. Saya pernah menawarkan Raza untuk menumpang di kendaraan saya dua kali dan ia menjatuhkan USB-nya di dalam mobil. Perangkat memori-nya selalu berisi versi audio (rekaman pembacaan) buku-buku Hadhrat masih Mau’ud as dan tidak pernah berisi hal-hal yang tidak relevan (laghau, sia-sia).”

Tn. Sayyid Masyhud, seorang guru juga di Jamiah mengatakan, “Almarhum Raza adalah bagian dari grup Ta’lim Tarbiyat. Selain dari pelajaran-pelajaran yang diberikan, Raza juga ambil bagian dalam aktivitas-aktivitas ekstra kurikuler seperti perlombaan ilmiah dan olahraga. Dibanding siswa lainnya, pengetahuan yang dimiliki Raza menonjol. Selama tahun lalu, ia mengingat lebih dari 500 bait syair untuk ambil bagian dalam perlombaan menghapal bait-bait syair. Keistimewaannya ialah ia tidak hanya menghapal bait-bait syair-syair tersebut, namun juga akan paham arti sebenarnya dari syair-syair tersebut dengan meminta bantuan dari para guru.”

Almarhum Raza Salim sangat menyukai tabligh. Tahun lalu ia dikirim ke kota Wolver Hamptom untuk Waqf-e-Arzhi. Bersama para anggota Jemaat setempat, ia membagikan literatur atau pamflet [informasi tentang Jemaat]. Ia juga ikut mendirikan stan informasi. Selama waktu ini, kami betemu seorang pria Nasrani aktif bangsa Inggris. Raza memberitahukannya mengenai Ahmadiyah dan perjalanan Yesus as ke Kashmir. Orang tersebut mendengarkan dengan penuh ketertarikan dan dibawa untuk tur di dalam masjid. Ia pun menjalin kontak dengan orang itu secara teratur. Selain itu, almarhum juga senantiasa siap sedia di Jemaat lokalnya (Islamabad) dan di Jamiah Ahmadiyah untuk pekerjaan penyebaran pamflet Tabligh dan mendirikan stan Tabligh.”

Almarhum juga ikut serta di sebuah grup siswa Jamiah untuk dikirim pergi ke Spanyol tahun lalu. Saya mengatakan pada mereka agar membagikan 50.000 pamflet tentang Jemaat. Dengan karunia Allah, jumlah itu bertambah hingga 50.500.

Tn. Mansur Zhia, seorang instruktur di Jamiah menulis, “Raza adalah seorang murid yang bersifat kalem (tenang). Saya tidak pernah melihat tanda-tanda amarah di wajahnya kecuali pada saat-saat seseorang mengkritik [berbicara secara tidak benar] terhadap Khilafat atau tentang akidah-akidah Jemaat Ahmadiyah. Inilah gambaran fakta bahwa hatinya begitu terasuki penuh cinta untuk Khilafat. Contoh hubungan eratnya dengan Khilafat ialah ia mengetahui banyak hal dari Khotbah-khotbah Jumat dan akan secara aktif berpartisipasi dalam diskusi di ruang kelasnya. Ia gemar bertabligh. Ini hal yang dikatakan semua temannya kepada saya. Kebiasaannya ialah di media sosial, ia bertabligh tentang Jemaat kepada kawan-kawan non Ahmadi dan akan mempersiapkan jawaban-jawaban atas semua tuduhan dengan sangat bersemangat dengan petunjuk dari para pengajarnya.”

Teman sekelasnya yaitu Safir Ahmad menulis, “Saya berasal dari Belgia. Raza mengetahui saya tidak pulang ke rumah pada akhir pekan [jTidak bisa pulang tiap libur mingguan]. Karena itu, ia selalu membawa saya ke rumahnya untuk makan. Ia selalu menuntun saya belajar untuk menghadapi ujian Bahasa Inggris karena saya lemah di mata pelajaran tersebut.”

Seorang teman siswanya yang lain, Tn. Syahzeb Athhar mengatakan, “Raza seorang yang bersifat lembut dan selalu bertemu orang lain dengan wajah ceria dan bahagia. Dia selalu siap untuk menolong orang lain. Suatu ketika dalam Waqf-e-Arzhi, kita mendirikan stan Tabligh Jemaat di sebuah pasar. Datanglah dua orang Kristen. Raza berkomunikasi secara efektif menyampaikan pesan Ahmadiyah kepada mereka yang datang untuk mendapatkan informasi. Ia memiliki pengetahuan beragam dan berwawasan luas. Ia bersemangat untuk bertabligh. Ia bukan orang yang berbicara dengan emosi seperti orang marah. Ia biasa mengatur perkumpulan teman-temannya yang lain dalam aktivitas-aktivitas rekreasi.

Saya ingat satu peristiwa pada bulan Agustus 2014 selama kami mendirikan stan tabligh, sekelompok orang dari Britain First! (Dahulukan Britania!) datang ke stan kami dan mulai bertanya kepada Raza dengan gaya sangat marah dan tidak menyenangkan. Namun demikian, Raza menjawab mereka dengan sangat sabar dan beretika sehingga mereka sangat terkesan dan berhasil diyakinkan bahwa Ahmadiyah Muslim bukanlah termasuk kaum ekstrimis.”

Tn. Zhafir, kawannya di Jamiah berkata, “Suatu hari ketika waktu bebas kami di Jamiah, Raza berdiri dan memegang spidol. Ia berseru bahwa kita membuang-buang waktu bebas kita dan kita harus merencanakan untuk membuat waktu yang produktif. Demikianlah, kami telah merencanakan untuk mengajak para siswa mempelajari mata pelajaran yang diberikan para guru selama waktu bebas.”

Siswa ini adalah yang matanya menderita sakit sebagaimana telah saya sebut. Ia berkata, “Dalam pendakian-pendakian sebelumnya, kapan saja saya tergelincir di gunung, Raza akan sangat khawatir dan mengatakan pada saya untuk berjalan dengan konsentrasi penuh. Tahun lalu, dalam salah satu pendakian, saya menderita sakit karena ketinggian atau yang istilahnya altitude sickness. Raza selalu bertanya tentang kondisi saya dan menghibur saya. Namun tidak ada yang tahu apa yang tertulis dalam takdir. Pada tiap weekend (akhir pekan), ia biasanya mempelajari tuduhan-tuduhan yang menentang Jemaat dan akan mencari jawaban-jawabannya dari para gurunya.”[3]

Demikian pula, Tn. Hafizh Taha, seorang siswa Jamiah mengatakan, “Raza seorang pengorban untuk Khilafat dan mencintai Khilafat dengan segenap hatinya. Raza tidak akan diam jika ada penentangan terhadap Khilafat dan Nizham Jemaat. Suatu kali seseorang yang telah jauh dari Jemaat mengoceh tak keruan hingga berbicara tidak pantas pada kedudukan Khilafat. Raza mengatakan, ‘Saya mampu mendengar apapun yang kau katakan, namun saya selamanya tak tahan mendengarkan komentar menentang Khilafat.’”

Tn. Danial, seorang siswa Jamiah juga mengatakan, “Setelah perjalanan pendakian tahun lalu, kami semua mengambil pelajaran mendaki dari Tuan Hafiz Ijaz untuk pendakian tahun ini dan Raza senang sekali. Kami semua membuat video dari handphone kami dan bermaksud mengirimkannya kepada teman-teman kami. Raza selalu berusaha sebisa mungkin membuat kami senang. Dia akan berusaha sebisa mungkin tidak membuang-buang waktu. Setiap minggu ia akan membaca sebuah buku baru dan berusaha untuk tidak absen sholat Tahajud. Ia akan meminta teman-temannya dengan sangat ketat untuk membangunkannya sholat Tahajud jika tidak bangun pada waktunya. Selain dari pelajaran-pelajaran di Jamiah, ia sangat berhasrat mempelajari ilmu-ilmu duniawi. Ia memiliki pengetahuan umum yang hebat, sangat gemar akan syair, menghapal banyak bait syair dan ikut lomba menghapal bait-bait syair.”

Ringkasnya, orang-orang telah menulis kepada saya banyak peristiwa yang merefleksikan sifat dan ciri-ciri ini. Semoga Allah memuliakan jiwanya, dan semoga ia diberikan tempat diantara mereka yang dikasihi-Nya. (Aamiin) Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, anak muda ini sudah menjadi Murabbi teladan dan Dai teladan meskipun ia belum lulus dari Jamiah. Ia memiliki cinta kasih yang khusus, rasa hormat dan penghargaan untuk Nizam Khilafat. Semoga Allah merahmati semua siswa Jamiah di seluruh dunia agar terdepan dan bertambah dalam ketulusan dan kesetiaan serta menunaikan tugas-tugas mereka secara semestinya. (Aamiin)

Teman-teman Raza seharusnya tidak hanya menyebutkan mengenai sifat-sifat Raza yang baik; namun persyaratan dari pertemanan yang baik adalah mereka harus menghiasi diri dengan sifat dan ciri yang sama dan menggunakan segala kekuatan mereka untuk pelayanan agama. Semoga Allah menyediakan bagi saya dan juga Khalifah-Khalifah di masa depan dengan سُلْطَانًا نَصِيرًا para penolong yang demikian berdedikasi. (Aamiin)

Semoga Allah menganugerahi kedamaian di hati orang tua Raza dan saudara-saudaranya. (Aamiin) Semoga mereka selalu berada dalam kesabaran yang telah mereka tunjukkan secara teguh dan ridha pada kehendak Allah. (Aamiin) Semoga mereka menjadi penerima karunia-karunia Allah. Semoga Allah melindungi mereka dari kehilangan-kehilangan dan juga dari situasi-situasi sulit di masa depan. (Aamiin)

Setelah sholat Jumat, saya hendak memimpin sholat Jenazah untuk Raza Salim. إن شاء الله Jenazahnya ada di sini. Saya akan mengimami shalat jenazah di luar masjid sedangkan Anda sekalian tetap mengatur shaf di dalam ruangan masjid.

[1] Surah an-Nahl, 16:71, وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰ أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ “Dan Allah telah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, diantara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang tua renta, sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.”

[2] Dalam Bahasa Arab, lafalnya ialah Ridha Salim. Lafal Persia dan Urdu ialah Reza atau Raza.

[3] Altitude sickness atau penyakit ketinggian adalah kondisi tidak normal yang terjadi pada tubuh ketika Anda berada di tempat dengan ketinggian tinggi.