Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 30 Nubuwwah 1391 HS/November 2012

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Pada saat ini saya hendak menyampaikan mengenai berbagai peristiwa dari para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud, yang di dalamnya terlihat keyakinan para sahabat kepada beliau dan peristiwa-peristiwanya. Kemudian, satu-dua peristiwa pengaruh kitab-kitab Hadhrat Masih Mau’ud a.s. atas para sahabat, kebenaran yang zahir kepada mereka setelah membacanya. Demikian pula bagaimana Allah Ta’ala telah memberikan petunjuk melalui mimpi-mimpi. Peristiwa-peristiwa tersebut, satu-satu. Karena peristiwa tersebut panjang-panjang, saya hanya mengambil satu-dua [beberapa saja].

Hadhrat Sheikh Zainul Abidin Shahib r.a. dan

“Resep Berbahaya” yang Menyembuhkan

Hadhrat Sheikh Zainul Abidin Shahib r.a. menerangkan: “Suatu kali istri adikku sakit keras. Kami berpikir bahwa, ‘Sekarang tidak ada jalan lain kecuali pergi ke Qadian.’ Yakni membawanya ke sana. Di sana ada Hadhrat Khalifatul Awwal, seorang ahli [ketabiban], kami akan berobat kepada beliau, atau meminta rekomendasi untuk itu pada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sekaligus meminta doa.”

Pendeknya, beliau berkata, “Kami pergi, ibu juga menyertai, dan adik juga. Di jalan kami…” — (karena ditulis tangan, maka tidak bisa dibaca dengan baik. Ringkasnya tertulis bahwa) —  “… memberitahunya, yakni memberitahu perempuan  yang sakit itu, bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mungkin akan berkata, ‘Maulwi Nuruddin Shahib akan mengobati anda.’ Tapi katakanlah [kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.], ‘Saya menginginkan pengobatan dari Tuan. Saya sekali-kali tidak akan berobat kepada Maulwi Shahib.’”

Selanjutnya beliau berkata: “Ketika kami sampai di Qadian, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, ‘Maulwi Shahib akan mengobati anda.’ Tapi perempuan  itu berkata, ‘Tuan saya tidak siap berobat kepada Maulwi Shahib, mohon Tuan sendiri yang mengobati.’ Hudhur a.s. menulis sebuah obat dan mengambil 3 botol madu dari rumah lalu memberikannya dan bersabda, ‘Besok saya akan pergi ke Ludhiana, anda mulailah pengobatan ini. Penyakit ini berbahaya, karena itu beritahukan [perkembangannya] kepada saya melalui surat atau secara langsung.’”

Beliau berkata: “Kami membawa resep tersebut dan memperlihatkannya kepada Hadhrat Maulana Nuruddin. Beliau berkata, ‘Resep ini sangat berbahaya untuk orang yang sakit ini. Jika saya memberikan resep ini kepada seseorang yang sakit seperti ini, maka dia akan mati dalam satu menit. Tapi ini adalah resep Hudhur, jadi perempuan ini pasti akan sehat.’

Jadi kami menggunakan resep tersebut dan dalam dua-tiga hari saja perempuan tersebut sembuh.”[2]

Ini juga adalah keyakinan sempurna Hadhrat Khalifah Awwal, karena itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Seandainya aku menemukan orang lain seperti Nuruddin, maka akan terjadi revolusi.” Tapi ini juga [menunjukkan] keimanan orang desa tersebut, “Kami akan menggunakan resep itu sebagaimana adanya, dan darinya akan mendapat kesembuhan, dan Allah Ta’ala menganugerahkan kesembuhan.”

Hadhrat Muhammad Sharif Shahib Kashmiri r.a. dan

Mukjizat Keimanan dan Istigfar

Hadhrat Muhammad Sharif Shahib Kashmiri radhiyallaahu ta’aala ‘anhu menerangkan: “Mia Jamaluddin Shahib Sikhwani, saudara Maulwi Imamuddin Shahib Sikhwani, menyampaikan kepada Hudhur, Hudhur (Hadhrat Masih Mau’ud a.s.) sedang duduk di lantai atas masjid, ‘Hudhur, ini saudara kami Muhammad Syarif, dan di daerahnya serangan penyakit tha’un (pes) sedang mewabah sangat hebat….” — Yakni daerah darimana dia datang. – “…Berdoalah untuknya.’

Maka Hudhur a.s. bersabda kepada saya, ‘Bagaimana terjadinya tha’un itu?’ Saya menyampaikan, ‘Pertama tikus mati.’ Beliau mulai bersabda, ‘Ini adalah satu peringatan dari Tuhan.’ Lalu saya berkata, “Hudhur! Jika keluar bisul merah, maka yang sakit itu selamat. Jika bisul putih maka tidak akan selamat.’

Hudhur bersabda, ‘Apa anda sering pergi ke sana?’ Saya berkata, ‘ Tuan  bertanya apakah saya sering pergi?’ Beliau bersabda, ‘Menghindar itu baik. Dalam kondisi biasa jangan suka pergi ke sana. Tapi orang yang telah beriman, tidak ada bahaya baginya. Dia tidak akan mati oleh tha’un.’ Saya berkata, ‘Istri saya mati karena tha’un.’ Hudhur bersabda, ‘Saya tahu kalau dia tidak beriman sepenuhnya kepada saya. Kalau dia beriman dia tidak akan mati karena penyakit ini.’”

Beliau berkata: “Saya sadar bahwa dia (istri saya) tidak baiat. Kemudian Hudhur bersabda, ‘Anda teruslah membaca istighfar.’ Semua keluarga kami jatuh sakit. Saya menulis kepada Hudhur maka Hudhur bersabda, ‘Bacalah istighfar.’ Kami membacanya dan dengan karunia Allah Ta’ala semuanya sembuh.”[3]

Kesembuhan Penyakit Mata oleh Usapan

Ujung Pagri (Sorban) Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Mia Muhammad Syarif Kasymiri Shahib juga berkata, “Jamaluddin Shahib Sikhwani anak Mia Shiddiq Shahib memberitahu saya bahwa, ‘Saya berpikir bahwa jika ada ilham “raja-raja akan mencari berkat dari pakaian” yakni ilham kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. “Raja-raja akan mencari berkat dari pakaian engkau” lalu apakah kepada kami tidak [dijanjikan] mendapatkan berkat [serupa].’

Mata beliau [Jamaluddin Shahib] banyak mengeluarkan air. Beliau mengusapkan ujung pagri (sorban) Hudhur ke mata beliau, ketika beliau mendapat kesempatan, maka mata beliau pun sembuh.”

Beliau [Muhammad Syarif] berkata, “Mata saya juga sakit bengkak. Saya juga mengusapkan ujung pagri [Hudhur] pada mata dan mata saya sembuh.”[4]

Hadhrat Mia Muhammad Din Shahib dan

Pengaruh Baik  Buku “Barahin-i-Ahmadiyyah”

 

Sekarang, ini adalah satu peristiwa pengaruh kitab-kitab Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Bahkan, di sini ada dua kejadian.

Hadhrat Mia Muhammad Din Shahib anak Mia Nuruddin Shahib  — beliau sedang menjelaskan mengenai diri beliau, melanjutkan cerita sebelumnya — berkata: “Sebelumnya saya telah menerangkan bahwa pengaruh buruk ceramah-ceramah Arya, Brahmo, dan golongan atheis [tidak mempercayai adanya Tuhan] telah menghancurkan diriku dan banyak orang sepertiku. Yakni menjauhkan kami dari Tuhan, menjauhkan dari Islam, dan dibawah pengaruh-pengaruh tersebut saya menjalani hidup yang tidak berarti. Sampai saya mendapat kesempatan membaca Barahin Ahmadiyah, maka saya mulai membacanya.

Ini juga karunia Allah Ta’ala, bahwa Dia telah memberikan taufik untuk membaca kitab tersebut. Banyak sekali orang yang tidak mendapat taufik ini dan bertabiat keras. Tapi pendeknya Allah Ta’ala telah memberi karunia. “

Selanjutnya beliau berkata, “Saya mendapatkan Barahin Ahmadiyah, dan mulai membacanya. Saya terus membaca, ketika saya membaca mengenai bukti Wujud Sang Pencipta, hal. 90 footnote no. 2 dan sampai pada hal. 149 footnote no. 11, bersamaan dengan itu keatheisan saya lenyap….”

(Ini adalah Ruhani Khazain jilid pertama hal 78, dan untuk footnote 2 saya pikir beliau disini salah menulisnya, sebab dalam bahasa Urdu hitungan awal juga dituliskan. Ini bukan footnote nomer 2 tapi 4. Begitu juga Ruhani Khazain jilid awal, pokok bahasan ini terdapat pada halaman 153, yang dimulai dari footnote 11, 4-5 halaman setelahnya. setelah membacanya maka masalah Wujud Allah Ta’ala menjadi jelas.)

Pendeknya, beliau berkata, “Saya sampai di sana, maka bersamaan dengan itu keatheisan saya lenyap dan mata saya terbuka, seperti orang yang tidur atau mati lalu terbangun dan hidup. Waktu itu musim dingin, tanggal 19 Januari 1893. Waktu sudah tengah malam ketika saya sampai pada bagian hendaknya ada  dan  memang ada  …”

(Di sini sedang diterangkan mengenai keberadaan Wujud Allah Ta’ala) – “Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, ‘…Dari setiap benda yang berwujud, pasti timbul pemikiran bahwa mestinya  (seharusnya) ada yang menciptakannya dan  memang ada yang menciptakannya.’

Ini adalah dua hal yang juga Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kemukakan tentang bukti adanya Wujud Allah Ta’ala. Jadi hal ini sebenarnya yang menciptakan keyakinan sempurna mengenai keberadaan Wujud Allah Ta’ala. Pendeknya, topik ini sangat mendalam, penjelasannya tidak bisa diberikan saat ini. Bacalah yang tertulis dalam Barahin Ahmadiyah.)

Malam Hari  Masih Kafir, Pagi Harinya Telah Beriman

Pendeknya, beliau berkata, “Waktu sudah tengah malam ketika saya membaca kitab ini. Sampai pada bagian ‘mestinya (seharusnya) ada’ dan ‘memang ada’. Maka ketika membacanya bersamaan dengan itu timbul perhatian ke arah taubat dan saya bertaubat.

Sebuah kendi baru penuh terisi air terletak di halaman. Yakni kendi baru air dingin terletak di halaman. Itu adalah bulan Januari, betapa dinginnya air di kendi, bayangkanlah. Di dekat saya ada bangku kecil saya membersihkan laca (tahband)[5] dengan air dingin. tahband saya, saya cuci dengan air dingin. Pelayan saya yang bernama Mangtu sedang tidur. Ketika saya mencuci dia terbangun. Dia bertanya kepadaku, ‘Apa yang terjadi? Apa yang terjadi? Berikan tahband itu kepada saya, saya akan mencucinya.’

Tapi waktu itu saya dalam keadaan telah minum anggur [sebelum membaca Barahin Ahmadiyah, ia adalah seorang atheis yang juga meminum minuman keras. Ketika mendapat hidayah pencerahan saat membaca buku itu, ia masih dalam kondisi mabuk, red.] minum yang sedemikian rupa sehingga kemabukannya tidak mengizinkanku untuk berbicara dengan siapapun. Akhirnya setelah berusaha keras, Mangtu diam.

Saya mengenakan celana basah tersebut dan mulai mengerjakan shalat. Mangtu terus melihat. Saya begitu fana dalam shalat, shalat saya begitu panjang sehingga Mangtu, pembantu tersebut, tertidur karena lelah, dan saya terus sibuk dalam shalat.

Jadi, Barahin Ahmadiyah telah mengajarkan saya mengerjakan shalat ini, sehingga setelah itu hingga sekarang saya tidak pernah meninggalkan shalat.

Saya menyampaikan gambaran yang tidak sempurna di atas untuk menerangkan mukjizat Hadhrat Masih Mau’ud ini. Yakni, gambaran panjang dan indah ini saya sampaikan untuk menjelaskan mukjizat ini, bahwa betapa Barahin Ahmadiyah telah menciptakan revolusi dalam diri saya.”

Beliau berkata lagi: “Di umur yang masih muda dalam keadaan tidak bertuhan, (yakni itu adalah masa muda saya, dan saya juga belum menikah) Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengambil (mengembalikan)  iman yang mungkin telah terbang lebih tinggi dari bintang Tsurayya dan memasukkannya ke dalam hati saya. Dan menjadikan saya pembuktian dari “musalman ra musalman baz kardan” (Orang muslim yang hanya nama telah menjadi muslim sejati, pent.).

Malam yang saya masuki dalam keadaan kafir, saya memasuki paginya dalam keadaan Islam karena membaca Barahin Ahmadiyah. Ketika saya memasuki pagi dengan keimanan Islam, saya bukan lagi Muhammad Din yang kemarin. Secara alami, sifat malu dalam diriku bagus. Secara fitrati dalam diri saya ada sifat malu, tapi karena bergaul dengan orang-orang bebas, menjadi tipis. (yakni hilang karena bergaul dengan orang yang salah) Allah Ta’ala dengan karunia dan kasih sayang-Nya, karena berkat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah mengembalikan sifat malu tersebut. Saya waktu itu sedang menikmati penjelasan ayat berikut.’ Di sini tertulis surat Al-Hujurat ayat 7, tapi ini adalah ayat 8, 9.

وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ * فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

 

“Tetapi Allah Ta’ala telah membuat kamu mencintai keimanan dan menjadikannya indah dalam hatimu, dan menciptakan kebencian terhadap kekufuran, perbuatan buruk, dan kedurhakaan.  Mereka inilah yang mendapat petunjuk. Ini adalah sebagai karunia dan nikmat yang besar dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

Selanjutnya beliau berkata: “Bersama dengan keimanan, keagungan dan kecintaan kepada Al-Quran juga ditanamkan dalam hatiku. Seolah-olah kegemaran dan pemikiran untuk memperoleh ilmu syariat yang merupakan akar keimanan melekat dalam diri saya. Setelah itu tahun 1893-1894 saya sekali menyelesaikan membaca Barahin Ahmadiyah, yang saya baca setelah shalat tahajud. Lalu membaca Ainah Kamalati Islam yang merupakan tafsir ‘Tauzihi Maram’.

Hadhrat Qiblah Munsyi Mirza Jalaluddin Shahib pensiunan guru, penduduk Bolani no 12, kecamatan Khariya, Distrik Gurdasypur, mengambil cuti selama dua bulan lalu datang ke Bolani dari kamp Sialkot. di Bolani saya seorang Panitera. Setelah bertanya-tanya kepada beliau saya mengirim surat baiat yang jawabannya saya terima pada Oktober 1894. Di dalamnya tertulis bahwa baiat secara lahiriah juga penting. Saya melakukan baiat kepada Hadhrat Shahib pada 5 Juni 1895 di ambang pintu balkon, atap mesjid Mubarak.”[6]

 

Hadhrat Mia Muhammad Din Shahib Mendapat Jawabannya Sebelum Bertanya

Hadhrat Mia Muhammad Din Shahib anak Mia Nuruddin Shahib berkata: “Terlintas dalam hati saya bahwa saya tidak tahu apa-apa soal agama, dan para maulwi (ulama) akan mengganggu saya. Apa yang harus saya lakukan, dan saya juga malu untuk bertanya. Untuk bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. atau seseorang lainnya juga malu. Beliau yakni Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memberikan jawabannya tanpa saya tanya.”

Selanjutnya beliau berkata: “Yakni jawaban pertanyaan saya. Ketika itu beliau (Hadhrat Masih Mau’ud a.s.) berbaring ke sebelah kiri, di atap mesjid Mubarak di dalam mihrab. Kepala beliau ke arah Utara. Saya duduk di belakang punggung beliau menghadap ke timur memijati beliau. Saya malu untuk bertanya. Tapi pendeknya, saya duduk, sambil memijit terpikir dalam hati saya.”

Beliau berkata lagi: “Maka ketika berbaring Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menghadap ke arah saya dan bersabda dengan nada tinggi dan suara yang penuh ru’ub (wibawa) sehingga saya gemetar. Beliau bersabda, ‘Orang yang membaca kitab-kitabku tidak akan pernah kalah.’“[7]

Jadi khazanah ini hari ini juga ada pada kita, kita hendaknya berusaha memperolehnya, membacanya. Sekarang banyak sekali kitab dengan karunia Allah Ta’ala– yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

 

Hadhrat Chaudry Fatah Muhammad Shahib dan

Lenyapnya Wabah Tha’un dari Kampung

 

Hadhrat Chaudry Fatah Muhammad Shahib dalam sebuah riwayat menerangkan: “Salah seorang saudara saya, Nawab Din Shahib, mendapat mimpi bahwa Hudhur [a.s.] meminta uang 8 ana[8] dari saya. Kemudian saya dan Nawab Din berdua memberikan uang tersebut. Ketika mimpi tersebut disampaikan maka Hudhur bersabda, ‘Hasil dari mimpi tersebut kalian akan mempelajari ilmu.’

Maka ketika Maulwi Sikandar Ali datang ke desa kami, saya dan Nawab Din, bahkan banyak sekali orang lain yang belajar Al-Quran dari beliau, dan juga belajar beberapa kitab berbahasa Urdu. Sabda Hudhur menjadi sempurna.”

Kemudian beliau berkata: “Di desa kami ada sebuah pohon lada, yang kami jual kepada Mirza Nizamudin Shahib. Waktu itu di desa kami ada wabah tha’un (pes), kami memberikan uang hasil penjualan pohon tersebut kepada Hadhrat Shahib sebagai nazar, dan Hudhur menyimpang dari jalan datang ke kampung kami di samping mesjid lalu berdoa. Maka penyakit kami hilang, yakni penyakit yang ada di desa.”[9]

Hadhrat Fazl Din Shahib r.a. dan

Mimpi-mimpi yang Dialami Sebelum Baiat

 

Hadhrat Fazl Din Shahib r.a. ketika menceritakan mengenai baiat beliau menerangkan: “Saya sebelumnya adalah seorang free thinker (berpikir bebas). Beberapa tahun berlalu dalam pikiran bebas. Setelah itu pelan-pelan karena beruntung bergaul dengan beberapa teman, saya menjadi murid keluarga Naqsyabandi. Karena teman saya juga murid keluarga Naqsyabandi, dan mursyid (guru spiritual) kami tinggal di desa kami juga.

Keluarga ini menyatakan diri sebagai orang yang menjalankan syariat, dan mengaitkan silsilah [rangkaian asal keturunan] bertemu hingga Hadhrat Abu Bakr Siddiq r.a.. Karena itu sejak awal baiat [dalam tarekat Naqsyabandiyah tersebut] sangat menekankan masalah shalat dan puasa kepada saya, dan juga sangat menekankan masalah shalat tahajud, dan memerintahkan supaya jangan pernah meninggalkan shalat tahajud. Bersamaan dengan itu juga memerintahkan, ‘Mimpi yang datang, jangan menceritakannya pada siapapun.’ Pada masa itu saya banyak mendapat mimpi dan saya tidak memberitahukannya pada siapapun.

Saya bekerja dalam bidang arsitektur. Karena tidak mendapatkan pekerjaan, maka dengan seizin mursyid saya, saya bersama istri pergi ke Amritsar dan mulai tinggal di rumah kontrakan. Di sana saya bekerja. Dua tahun kemudian, setelah shalat tahajud saya sibuk membaca wadzhifah.[10]

Dalam keadaan membaca wadzifah saya mengantuk dan saya berbaring di tempat shalat. Saya melihat dalam mimpi satu pasukan malaikat dalam bentuk manusia turun dari langit kemudian duduk membentuk lingkaran agak jauh dariku. Kemudian seorang perwira yang berpangkat jenderal datang dan duduk di sampingku. Setelah dia duduk, sebuah singgasana emas turun dari langit dan singgasana itu diletakkan di tengah lingkaran tersebut, dan semua tentara berdiri dengan takzim.  Ketika saya lihat di singgasana emas itu duduk dua orang suci yang serupa. Sosok yang bercahaya. Dari segala sisinya memancar nur.

Maka saya bertanya kepada perwira yang duduk di samping saya, ‘Siapa orang suci ini?’ dia berkata, ‘Orang suci yang ada di singgasana sebelah kanan beliau adalah kekasih Tuhan, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan yang di sebelah kiri beliau adalah kekasih Muhammad s.a.w., Ibnu Maryam.’ Saya berkata: ‘Ibnu Maryam kan nama Hadhrat Isa ‘alahis salaam, nabi Bani Israil?’ Dia menjawab, “Ini bukan (Ibnu Maryam) yang itu. Beliau sudah wafat. Ini adalah Ibnu Maryam yang paling dicintai Muhammad s.a.w.’

Setelah itu Rasul Karim s.a.w. dengan mulut beberkat beliau bersabda dan kepada perwira tersebut bersabda, ‘Katakan pada orang-orang dengan lantang [suara keras] bahwa ketika Ibnu Maryam kami ini datang, mereka harus mengikutinya, dan yang tidak mengikutinya dia bukan dariku.’

Ketika itu istri saya membangunkan saya dan berkata, ‘Sudah adzan Subuh, biasanya anda tidak pernah tidur kecuali setelah tahajud. Bangunlah dan pergi ke mesjid untuk shalat.’ Waktu itu saya memprotes istri saya, ‘Kenapa kamu membangunkan saya?’

 

Ta’bir Mimpi Menurut Mursyid dan Meminta Tanda Kebenaran

 

Keesokan harinya saya pergi ke desa dan menceritakan semua kejadian mimpi saya kepada mursyid saya. Dia berkata, ‘Selamat, kamu mendapat kesempatan dikunjungi Rasul Karim s.a.w.’ Kemudian berkata, ‘Sekarang kita akan berada di daerah lain, dan sebentar lagi Ibnu Maryam akan turun.

Yakni penjelasan dari mimpi tersebut begini, di daerah lain sebentar lagi Ibnu Maryam akan turun. Bahkan zaman ini adalah zaman Masih Mau’ud. Beruntunglah mereka yang mendapatinya.’ Jawab mursyid tersebut.”

Beliau berkata: “Setelah itu saya bekerja sebagai arsitek di departemen irigasi. Dengan perantaraan seorang terhormat, dan saya bekerja di situ dengan perantaraan seorang klerk. Selama bekerja di situ saya banyak mendapat mimpi, dan karena dilarang…” —  yakni, pir dan mursyid tersebut melarang untuk menceritakan mimpi-mimpinya – “…jadi karena dilarang, saya tidak memberitahukannya kepada siapapun. Saya bekerja selama 15-20 tahun. Setelah itu saya keluar dari pekerjaan tersebut, pulang ke kampung dan tinggal di rumah saya.

Seorang keluarga kami, Maulwi Muhammad Ciragh Shahib, yang juga merupakan ustadz kami, dan beliau adalah seorang ahli hadist tulen (orang yang sangat mengutamakan hadist). Ketika saya keluar dari pekerjaan dan pulang, saya mendapati beliau mengikuti thariqat Ahmadiyah.

Beliau menjadi Ahmadi dan mulai berbincang-bincang dengan saya mengenai silsilah [jemaah] Hadhrat Shahib, tapi saya tidak memperlihatkan ketertarikan sebab saya adalah pengikut paham faqir (tarekat sufi) dan menganggap bahwa faqirlah pemilik syariat yang benar. Karena  itu saya tidak memberikan jawaban kepada Maulwi Shahib, dan mengelak dengan berkata, ‘Ya, sekarang ini orang-orang seperti ini membuka bisnis, dan menipu makhluk Tuhan.’

Karena itu saya berniat bertanya kepada mursyid saya apakah pendakwaan Hadhrat Shahib [a.s.] ini adalah dari sisi Allah atau dusta? Ketika saya pergi ke rumahnya dan bertanya pada putra Pir Shahib [sang Mursyid], ‘Di mana Hadhrat [yang mulia]?’ Dia menjawab sambil menangis, ‘Beliau sudah meninggal dua bulan sebelumnya, dan kami lupa memberitahukan kewafatannya kepada anda, maafkan kami.’”

Beliau selanjutnya berkata: “Saya sangat terkejut dan sedih. Saya pulang ke rumah sambil menangis.

Suatu hari Maulwi Shahib (Maulwi Muhammad Ciragh Shahib) berkata lagi pada saya, ‘Engkau adalah orang yang terpelajar, bisa baca tulis. Hendaknya melihat buku-buku Hadhrat Shahib. Yakni hendaknya melihat tulisan-tulisan, kitab-kitab Hadhrat Masih Mau’ud a.s. waktu itu beliau memberi saya sebuah kitab agung bernama ’Jalsah Madzahib Mahutsu’ [Konferensi Besar Agama-Agama, di dalamnya terdapat ‘Filsafat Ajaran Islam’, Red.] untuk dibaca. Saya menyelesaikan membaca seluruhnya. Kemudian beliau memberi saya keempat jilid Barahin Ahmadiyah.

Ketika saya telah selesai membaca semuanya, bersamaan dengan itu dalam hati saya tercetus bahwa setelah Muhammad Rasulullah s.a.w. tidak ada orang yang mampu seperti ini dan tidak pula ada yang menerbitkan kitab seperti ini, yang mendakwakan Islam sebagai datang dari Tuhan atas semua agama lainnya.”

Beliau berkata: “Setelah itu hati saya merasa bimbang. Dalam hati saya timbul hal ini, yakni jika orang ini, yang telah mengemukakan hal seperti ini ke hadapan dunia, adalah benar. Maka jika saya baiat, saya melakukan baiat yang benar. Dan jika, Na’uudzubillaah, pendakwaannya dusta maka saya akan baiat pada seorang pendusta. Pikiran ini begitu kuat merasuk hati sehingga sampai dua bulan tetap terhalang. Meskipun Maulwi Shahib menjelaskan tapi hati tidak menerimanya.

Suatu hari pada tanggal 1 bulan Ramadhan yang beberkat saya berdoa dengan sangat khusyuk dan merendahkan diri, ‘Wahai Pencipta langit dan bumi! Demi Muhammad s.a.w., jika orang ini yakni Mirza Shahib benar dan Engkaulah yang mengutus dan menurunkannya untuk memperbaiki dunia, maka dengan kekuasaan Engkau perlihatkanlah tanda kepadaku secara lahiriah atau dengan mimpi. Jika Engkau tidak memperlihatkan tanda kepadaku, maka Engkau tidak akan punya Hujjah (dalil) lagi atasku pada hari Kiamat. Sebab aku tidak punya kekuatan untuk membedakan kebenaran dengan kedustaan.’

Jawaban Permohonan Melalui  Mimpi

 

Ketika 15 Ramadhan lewat, setelah tahajud saya berbaring di tempat shalat. Maka saya melihat dalam mimpi, saya bersama seorang laki-laki pergi ke kota. Di jalan kami melihat sebuah kebun yang keempat sisinya berdinding setinggi kurang lebih 3 kaki. (keempat dindingnya setinggi 3 kaki).

Ketika pergi ke dekat dinding itu kami melihat kebun tersebut seperti contoh surga, dan mengalir sungai tapi airnya kering, nampak mengalir kecil-kecil. Dan nampak istana yang megah. Kami berniat masuk ke kebun dan berjalan-jalan. Karena itu kami ingin masuk dengan melompati dinding. Kami berusaha keras tapi tidak bisa melompati dinding ke dalam. Kemudian kami bertekad..” — beliau sedang menyampaikan mimpi beliau, mimpi yang sangat panjang) – “… bahwa kami harus masuk ke dalam. Ayo sekarang kita cari tahu pintunya. Kemudian kami mengelilingi ketiga sisi kebun, yakni selatan, barat, dan utara.

Di ketiga sisi tersebut kami tidak menemukan pintu. Kemudian kami berkata, ‘Kita berjalan ke sisi timur, mungkin di sisi itu kita menemukan pintu.’ Ketika pergi ke sisi timur nampak oleh kami seorang suci duduk di bawah naungan pohon. Orang suci itu memanggil kami dengan isyarat tangannya bahwa, ‘Kemarilah, kami akan memperlihatkan kepada kalian pintunya, dan jika tidak datang pada kami maka sepanjang umur kalian tidak akan menemukan pintu kebunnya.’

Ketika kami sampai ke sisinya, seketika itu saya teringat mimpi yang saya lihat lama ketika di Amritsar bahwa, ‘Saya melihat orang suci ini dalam mimpi di singgasana bersama Rasul Musthafa s.a.w.’ (orang kedua yang saya lihat dalam mimpi yang lain itu, adalah orang suci ini.) Maka saya bertanya, ‘Tuan, anda siapa?’ Maka beliau bersabda dengan mulut beberkat beliau, ‘Saya Ibnu Maryam, dan lihat itu pintu kebun, pergilah jalan-jalan.’ Lalu kami berdua masuk ke dalam kebun dan berjalan-jalan.

Tiba-tiba saya merasa haus dan saya berkata pada teman saya, ‘Kita merasa haus tapi air sungai rendah sekali. Tangan tidak sampai, apa yang harus kita lakukan?’ kami merasa lelah dan capek lalu duduk di bawah sebuah pohon. Tidak berapa lama ada seorang anak berusia sepuluh tahunan keluar dari sebuah istana. Di tangannya ada sebuah piala berbentuk lonjong oval, yang di dalamnya ada isinya. Dia meletakkannya di tanganku dan berkata, ‘Ayo, minumlah ini!’ karena saya merasa haus saya mengambil piala dari tangannya dan meminum sekitar setengahnya dan memberikan sisanya kepada teman saya yang kelelahan.

Anak itu merampas piala itu dari tangannya dan memberikannya kepadaku dan berkata, ‘Ini adalah bagian engkau, dia tidak punya bagian di dalamnya…’” — Yakni orang kedua yang bersama beliau dalam mimpi, dia tidak punya bagian – “Karena itu teman saya merasa sangat malu dan mulai berkata, ‘Ayo, sudah lama. Kita masih harus pergi jauh.’ Jadi kami segera pergi ke pintu.

Teman saya segera keluar dari pintu dan saya masih di dalam ketika anak Maulwi Shahib datang membangunkanku dan mulai berkata, ‘Kenapa hari ini setelah tahajud anda tidur, bukannya membaca Al-Quran.’ Saya marah kepadanya dan berkata, ‘Saya sedang melihat mimpi yang penting. Kamu telah berbuat buruk membangunkan saya.’ Dia menjawab, ‘Hamba Allah! Sudah adzan Subuh dan Maulwi Shahib tentu sedang menunggu jemaah di mesjid. Mari shalat.’”

Selanjutnya beliau berkata: “Karena itu kami berdua pergi ke mesjid dan setelah wudhu shalat berjamaah bersama Maulwi Shahib (Maulwi Muhammad Ciragh Shahib). Setelah selesai shalat saya menerangkan kepada Maulwi Shahib semua keadaan mimpi saya, begitu juga doa yang saya panjatkan pada Tuhan, serta semua keadaan yang Tuhan beritahukan kepada saya dalam mimpi. Saya juga menerangkan bahwa selain kedua mimpi tersebut, seumur hidup saya saya belum pernah melihat Hadhrat Mirza Shahib, maupun [desa] Qadian Syarif.

Ta’bir Mimpi Menurut Maulwi Muhammad Ciragh Shahib dan Mengenali “Orang Suci” Dalam Mimpi

Maka Maulwi Shahib mentakbirkan mimpi yang saya terangkan tersebut sebagai berikut: ‘Kebun, sungai kering, istana, dan lain-lain yang anda lihat, maknanya adalah kebun syariat, dan sungai-sungai adalah para ulama zaman yang sudah menjadi kering, sekarang tidak ada lagi ilmu pada mereka. Syariat yang benar tidak ada pada mereka. Istana-istana dan rumah-rumah adalah amal, dan piala juga berarti amal yang di dalamnya ada cacat, berbentuk lonjong yakni tidak lurus. Sisi timur yang di dalam mimpi adalah isyarat yakni Qadian ada di sebelah timur desa kami, atau berarti hadist tentang الشرق arah timur, yakni Masih akan turun di timur.’ Beliau juga mengutip hadist tersebut bahwa kalau mau pahamilah. ‘Orang suci yang penampilannya anda terangkan adalah حضرة المرزا غلام أحمد المسيح الموعود والمهدي المسعود Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Masih Mau’ud dan Mahdi Mas’ud. Dari isyarat tangan diketahui bahwa selama tidak masuk dalam Jemaat kami, selama itu anda tidak akan mendapatkan jalan kepada syariat Islam dan surga. Anda telah meminta Tanda. Yakni Tuhan Yang Karim telah memperlihatkan Tanda kepada anda.’”

Kemudian beliau berkata lagi: “Kami akan pergi ke Qadian pada hari Jumat, anda juga pergilah bersama kami. Jika sesuai dengan mimpi anda, orang suci tersebut adalah Mirza Shahib maka berimanlah, kalau tidak maka tidak ada paksaan. Pendeknya pada hari Kamis kami berangkat ke Qadian. Ketika kami sampai ke Qadian saya demam parah. Maulwi Shahib menyampaikan pada Hadhrat Shahib, ‘Anak kami yang datang ke sini mencari kebenaran, dia berpuasa, dan dia terkena demam.’

Hadhrat Shahib menengok saya dan bersabda, ‘Maulwi Shahib! Kenapa anda membiarkannya berpuasa ketika melakukan safar [perjalanan]? Jika di jalan terkena demam atau penyakit lain apa yang akan anda lakukan. Ini bertentangan dengan kehendak Al-Quran. Baiklah kami akan mengirimkan obat. Insya Allah akan sembuh.’ Obat datang, saya tidak tahu, mungkin Hamid Ali yang membawanya. Saya meminum obatnya dan saya benar-benar sembuh dari demam. Waktu itu saya tidak bisa mengenali Hadhrat Shahib dengan baik disebabkan tidak sadar karena demam.

Keesokan harinya hari Jumat. Setelah wudhu kami segera pergi lebih dulu untuk mendapat tempat di depan, dan mendapat tempat di shaf (jajaran) awal….”– beliau mendapat tempat di saf pertama —  “Pertama Maulwi Abdul Karim, kemudian Maulwi Shahib Hadhrat Khalifah Awwal datang. Setelah itu Hadhrat Mirza Shahib datang, dan begitu melihat, saya langsung mengenali beliau. Inilah orang suci dalam mimpi saya dan saya juga berkata pada Maulwi Shahib saya (Maulwi Muhammad Ciragh Shahib) bahwa, ‘Inilah orang suci Ibnu Maryam yang dua kali saya lihat dalam mimpi.’

Sekarang Maulwi Shahib menjadi tenang dan berpikir bahwa ‘sekarang orang ini akan baiat sendiri.’ Ketika kami pergi ke Qadian, kami berempat. Pertama saya, kedua Maulwi Shahib, ketiga orang yang ada dalam mimpi bersama saya, keempat seseorang bernama Kumhar yang datang untuk baiat.

Tidak Jadi Melakukan Baiat

Pendeknya Maulwi Abdul Karim menyampaikan khotbah Jumat dan kemungkinan besar beliau juga yang mengimami shalat Jumat. Setelah shalat Jumat diumumkan bahwa yang ingin baiat silakan datang dan baiat. Jadi hari itu banyak sekali orang yang maju untuk baiat, di antaranya teman kami yang keempat, Kumhar juga.

Ketika saya maju untuk baiat, teman saya, yang juga ada di dalam mimpi bersama saya, menghalangi saya untuk baiat dan menimbulkan keragu-raguan dalam hati saya, ‘Engkau terus membaca kitab-kitab Mirza Shahib, karenanya pikiran-pikiran itu mewujud dan nampak dalam mimpi engkau, tidak lebih. Semua mimpi engkau salah.’ Dia menimbulkan keragu-raguan. Dia berkata, ‘semua ini tipuan’ dan saya berpikiran lemah.” — Yakni beliau berkata, ‘Saya berpikiran lemah, yakni mengikuti perkataannya, karena itu dia menghentikan saya untuk baiat.’

“Karena itu keesokan harinya pagi-pagi kami berangkat dari Qadian ke desa kami. Ketika kami sudah melewati Batala, di jalan menuju Ali Wal, sampai di dekat desa Maule Wali, Maulwi Shahib lalu bertanya padaku, ‘Apakah engkau sudah baiat?’ Saya jawab, ‘Tidak.’ Beliau berkata, ‘Kenapa tidak baiat? Padahal semuanya sudah sempurna sesuai dengan mimpi engkau, lalu kenapa engkau tidak baiat?’

Saya menjawab: ‘Orang ini menghalangi saya dan berkata, “Engkau terus melihat kitab-kitab Mirza Shahib. Pikiran-pikiran itulah yang mewujud dan muncul di hadapan engkau dalam mimpi. Hanya itu, tidak ada yang lain.”’ Begitu mendengar hal ini Maulwi Shahib sangat marah kepadaku dan orang itu, yang merupakan sepupunya, dan mulai berkata kepadaku, ‘Cukup, sekarang tidak ada lagi hubungan guru-murid maupun keluarga antara saya dengan kalian!’ Demikianlah waktu shalat Ashar kami sampai ke desa. Setelah itu saya tinggal di desa selama 4-5 hari, tapi Maulwi Shahib tetap marah pada kami.

Tanda dan Hujjah telah Terjadi Sesuai Permohonan

Kebetulan datang kepada saya surat dari Babu Jan Muhammad dari distrik Bhanbadi yang  isinya bahwa, ‘Saya pindah ke Kothi Harcwal, pekerjaan saya banyak sekali dan saya mendengar bahwa engkau sudah keluar dari pekerjaan. Karena itu begitu menerima surat ini anda harus datang ke distrik Bhanbadi atau Kothi Harcwal. Kebetulan hati saya sedang sedih.’

Sehari setelah menerima surat, saya sampai ke Kothi Harcwal (sungai Harcwal, yakni Bangla) lewat Qadian, dan Babu Shahib menyambut saya dengan sopan dan ramah. Keesokan harinya saya diberi pekerjaan dan saya sibuk.

Tetapi pada hari ketiga saya mendapat mimpi yang ketiga yakni, dalam mimpi Hadhrat Mirza Shahib Masih Mau’ud a.s. datang dan duduk di samping saya. Saya berdiri lalu menundukkan kepala untuk mencium kaki sebagai tanda penghormatan, yang merupakan kebiasaan di antara para Gadinasyin.[11]

Tetapi Hadhat Shahib mencegah dengan tangan beberkat beliau dan bersabda, ‘Ini adalah syirik.’ [menunjukan tanda sembah kepada manusia yang hanya layak untuk Tuhan. Red.] Lalu beliau bersabda, ‘Lihat Mia Fazl Din! Engkau telah meminta tanda kepada Tuhan melalui doa, “Jika kepadaku tidak diberikan tanda secara dzahir atau dengan perantaraan mimpi maka pada hari kiamat Ya Allah, Engkau tidak akan punya Hujjah atasku.” Lalu kenapa kamu tidak beriman kepada Masih Mau’ud? Jadi sekarang engkau sudah mendapat tanda dan Hujjah sudah tegak atas engkau.’

Setelah bersabda seperti ini beliau pergi dan saya tersadar dari mimpi dan mulai menangis. Saya menangis tersedu-sedu sehingga kerah baju saya basah kuyup. Waktu itu juga saya berlari kearah Qadian dengan bertelanjang kaki tanpa memberitahu Babu Shahib. (mengenakan sepatu pun tidak).

Seseorang yang melihat saya lari pergi dan berkata pada Babu Shahib, “Tuan arsitek kabur ke desanya.” Waktu itu juga Babu Shahib mengejar saya dengan mengendarai kuda, dan menangkap saya di jembatan sungai Harcwal dan mulai berkata, ‘Ada apa dengan anda, ingin kabur ke desa tanpa izin, apa-apaan ini?’ Saya berkata: ‘Lepaskan saya, saya ingin pergi ke Qadian, bukan pulang ke desa saya.’

Begitu mendengar nama Qadian dia murka, karena dia juga penentang dan sampai sekarang juga masih penentang. Pendeknya beliau tidak melepaskan saya. Saya berkeras dan berkata dengan merendah: ‘Babu Shahib! Biarkan saya pergi, kalau tidak saya akan mati di sini. Sebab ini di luar kekuasaan saya. Wujud lain yang perkasa membawaku dengan paksa, dan saya berjanji setelah tiga hari saya akan kembali.’ Jadi dia melepaskan saya, dan saya berkata dalam hati bahwa Mirza Shahib benar sebab beliau memberitahu hal yang ada dalam hati saya bahwa, ‘Hujjah sudah tegak atas engkau.’

Jadi saya datang di Qadian, dan berhenti di tempat yang sekarang ada kantor Book Depo, dulu di belakangnya ada percetakan, di samping sumur. Di sana Mirza Ismail bekerja di percetakan. Saya berkata kepadanya, ‘Saya ingin bertemu Mirza Shahib’. Dia berkata, ‘Beliau datang ke mesjid Mubarak pada waktu Dzuhur. Di sana beliau akan bertemu engkau.’

Hari itu beliau tidak datang pada waktu Dzuhur dan beliau datang pada waktu Ashar. Saya mendapat kehormatan untuk berbicara dan menyampaikan, ‘Hudhur, saya ingin baiat’. Hudhur bersabda, ‘Baiat akan diambil setelah 3 hari.’ Demikianlah saya tinggal sampai tiga hari. Dan pada hari ketiga saya, Mir Qasim Ali Shahib –  editor Faruq, dan orang ketiga yang saya tidak tahu namanya, mungkin Maulwi Sarwar Syah Shahib, kami bertiga baiat dan masuk dalam Jemaat Aliyah Ahmadiyah.’”[12]

Jadi demikianlah Allah membaiatkan orang-orang. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Banyak sekali pekerjaan tabligh kita yang dilakukan oleh malaikat.”

Semoga Allah senantiasa meninggikan derajat semua sahabat tersebut dan menganugerahkan taufik pada keturunan-keturunan mereka untuk menegakkan kebaikan nenek-moyang mereka.

 

Para Syuhada: (1) Mukaram-o-Muhtaram

Chaudry Nusrat Mahmud Shahib

 

Sekarang saya juga ingin menerangkan tentang seorang syahid, dan Insya Allah setelah shalat Jumat saya juga akan mengimami shalat jenazah beliau. Yakni, Mukaram-o-Muhtaram Chaudry Nusrat Mahmud Shahib putra Mukaram Chaudry Mandzur Ahmad Shahib Gondal.

Gambaran keluarga beliau adalah sebagai berikut. Ahmadiyah masuk kedalam keluarga beliau melalui Chaudry Inayatullah Shahib yang merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s., saudara sepupu Mukaram Chaudry Ikhlas Ahmad Shahib, kakek syahid almarhum. Setelah itu dengan usaha beliau, Chaudry Ikhlas Ahmad Shahib baiat pada masa Khalifah Awal.

Keluarga beliau memiliki hubungan dengan Bahlulpur distrik Sialkot. Chaudry Nusrat Shahib tinggal di Mandhi Bahaudin untuk waktu yang sangat lama sekitar 30 tahun, dan pada tahun 2008 beliau bersama istri dan putri paling kecil pergi ke Long Island, New York, Amerika. Di sana beliau tinggal di kota.

Nushrat Mahmud Shahib lahir distrik Bahlul Pur, Sialkot pada 6 Maret 1949. Beliau menamatkan pendidikan di Murree Chollege Sialkot. Kemudian bekerja di Syah Taj Syogar Mil Mandhi Bahaudin. beliau bekerja di sana sebagai manajer sekitar 35 tahun. Kemudian sebagaimana saya katakan beliau pindah ke Amerika.

 

(2) Sa’ad Faruq Shahib, Sang Menantu yang Syahid Tiga Hari Setelah Pernikahannya

Pada bulan September beliau datang dari Amerika ke Pakistan dalam rangka pernikahan putri beliau yang terkecil, Syaizah Mahmudah Shahibah. 15 Oktober 2012 Syaizah Mahmudah Shahibah menikah dengan Sa’ad Faruq Shahib syahid, yang disyahidkan 3 hari setelah pernikahannya, yang merupakan putra Faruq Ahmad Shahib Kahlon, dan pada 19 Oktober, pada hari Jumat Sa’ad Faruq Shahib syahid.

Sebagaimana telah saya katakan mengenai jenazah Sa’ad Faruq. Saudara ipar beliau, Muhtaram Faruq Ahmad Kahlu Shahib dan beberapa anggota keluarga lainnya, mereka pulang setelah melaksanakan shalat Jumat di Baitul Hamd, kotamadya, ketika orang-orang tidak dikenal menembaki beliau. Sa’ad Faruq Shahib yang ada di sepeda motor, syahid pada waktu itu. Dua-tiga minggu sebelumnya jenazah beliau telah dishalatkan. Dua orang lainnya terluka.

Chaudry Nushrat Mahmud Shahib terkena satu peluru di leher, dan dua peluru mengenai dada beliau. Beliau segera dibawa ke rumah sakit. Sebelum sampai di sana Abbasi syahid. Beliau kemudian dipindahkan ke rumah sakit Aga Khan. Beliau dirawat selama sekitar 38 hari. Akhirnya beliau tidak mampu menahan luka tersebut (dan luka beliau juga semakin parah), pada tanggal 27 November, hari selasa pukul 11 malam beliau menemui Sang Malik Hakiki dan mendapatkan derajat syahid. Innaa lillaahi innaa ilaihi raaji’uun.

Chaudry Nusrat Mahmud Shahib

Seorang Ayah yang Santun Anak-anaknya

 

Syahid almarhum, dengan karunia Allah adalah seorang mushi, dan beliau sangat gemar mengkhidmati agama. Sewaktu tinggal di Mandi Bahaudin beliau mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai sekretaris Rishta Natha, sekretaris Da’wat Ilallah, dan kepengurusan lainnya. Pada tahun 2008, setelah pindah ke Amerika, beliau mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai Sekretaris Tarbiyat di Long Island, New York, Amerika.

Almarhum seorang yang sangat mukhlis dan jujur. Di tempat beliau bekerja, beliau juga pernah mendapat Honesty Award (Penghargaan Kejujuran). Beliau memiliki hubungan yang mendalam dengan Khilafat. Beliau sangat banyak ikut serta dalam semua perjanjian. Jika beliau tidak bisa ikut serta sendiri dalam program da’wat Ilallah, beliau selalu memberikan kendaraannya bagi yang lain untuk pergi, supaya ikut mendapat pahala.

Putra beliau Kasyif Ahmad Danisy menulis mengenai beliau, “Saya mendapati ayah seorang yang sangat murah hati dan berkasih sayang. Dari saya kecil sampai muda beliau sangat memperhatikan anak-anak. Beliau selalu berusaha memberikan pendidikan dan tarbiyat akhlak yang luhur. Bahasa beliau sangat luhur dan nadanya selalu lembut. Beliau tidak pernah mengatakan ‘tum’ (kamu) ketika berbicara dengan anak-anak, bahkan beliau selalu mengatakan ‘aap‘ (tuan, anda, untuk strata lebih tinggi sebagai penghormatan).”

Putra beliau berkata, “Beliau sangat memuji kesenangan saya dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan Jemaat, dan mengajarkan untuk menjalin hubungan yang kuat dengan Khilafat Ahmadiyah. Ketika datang ke rumah, yang paling pertama beliau bertanya kepada anak-anak mengenai shalat. Jika tidak mengerjakan karena suatu sebab, maka beliau langsung memerintahkan untuk melaksanakannya.

Waktu kami kanak-kanak, beliau selalu membawa kami shalat berjamaah. Ketika sedang bekerja, dalam perjalanan, di manapun beliau berada, beliau selalu mementingkan shalat. Beliau tidak berbicara dengan [nada] sangat berlebih-lebihan pada seseorang. Selalu mengajarkan tentang akhlak. Karena sikap beliau yang lembut dan ramah setiap orang cepat menjadi akrab dengan beliau.”

Istri almarhum saat ini tinggal di Amerika. Beliau juga datang ke sini. Tapi setelah itu beliau sakit maka beliau pergi. Beliau juga sedang berobat Di sana. Doakanlah untuk beliau semoga Allah juga menganugerahkan kesembuhan kepada beliau.

Putra beliau Kasyif Ahmad Shahib Danisy tinggal di Kanada. Dan Di sana mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai Naib Sadr Khuddamul Ahmadiyah Kanada. Almarhum punya tiga putri. Putri yang paling kecil adalah janda Sa’ad Faruq syahid.

Komentar Muhammad Munir Syams Shahib

Mengenai Almarhum

Muhammad Munir Syams Shahib menerangkan (beliau menjadi Murabbi/Muballigh di Mandi Bahaudin selama kira-kira 11 tahun), berkata, “Saya mendapat taufik untuk bekerja bersama beliau sebagai murabbi di distrik tersebut. Beliau adalah Kepala Departemen di cabang Syogarmil, Za’im Ansharullah di sana, Sekretaris Ristha Natha, Pengawas Komite Baitul-Dzikir Guest House, juga rumah Murabbi. Beliau mengerjakan shalat berjamaah lima waktu. Setelah makan di rumah lalu pergi ke kantor. Waktu shalat Dzuhur juga beliau shalat lebih dulu lalu pergi ke kantor. Beliau dawam shalat tahajud.”

Murabbi berkata, “Rumah Murabbi menyatu dengan mesjid.” Murabbi Shahib berkata, ”Seringkali setiap saya merasa ingin beribadah sendiri, saya berusaha. Tapi setiap saya berusaha pergi dan mengerjakan shalat nafal sebelum fajar [Shubuh] di mesjid, saya selalu mendapati Nushrat Mahmud Shahib sudah ada di sana, sedang berdoa kepada Tuhan dengan penuh kepedihan.

Beliau membuat budget (anggaran) dengan benar sesuai dengan pendapatan beliau, membayar chandah pada waktunya. Banyak memberi sedekah. beliau memperhatikan orang-orang miskin, yang memerlukan dan uzur. Begitu juga beliau sangat menyukai kebersihan. Selain memperhatikan kebersihan pribadi beliau juga sangat memperhatikan kebersihan Guest House dan lain-lainnya.”

Selanjutnya murabbi Shahib berkata, “Jika pergi bersama-sama beliau tidak pernah membicarakan masalah duniawi. Beliau selalu berbicara mengenai da’wat ilallah dan Jemaat. Beliau selalu memenuhi bensin mobil beliau untuk pekerjaan Jemaat, [mobil beliau untuk urusan] pernikahan perempuan-perempuan yang miskin. Jika ada orang miskin yang memerlukan kendaraan untuk bepergian, beliau selalu memberikannya.”

Murabbi berkata lagi, “Saya tidak pernah melihat beliau marah. Ada seorang ghair Ahmadi karyawan beliau, dia memberitahu, ‘Saya telah bekerja dengan Nushrat Shahib selama 25 tahun. Dalam kehidupannya beliau belum pernah mengancam saya dan belum pernah marah.’

Beliau selalu mendengar khotbah secara langsung, dan ketika pulang beliau menjelaskannya bahwa, ‘Hari ini (Hudhur) menyampaikan hal ini dan memerintahkan hal-hal ini.’ Setiap hari ‘Id, beliau pasti memberikan pakaian baru dan hadiah ‘Id pada orang-orang yang bekerja di bawah beliau. Beliau selalu mengajarkan untuk mengutamakan agama daripada dunia.

Begitu juga jika dalam suatu kesempatan harus pergi ke suatu tempat, maka pertama beliau mengantar Murabbi Shahib [Muballigh] beserta keluarga terlebih dahulu, baru kemudian menjemput keluarga beliau sendiri, dan beliau pasti mengundang orang-orang miskin dalam undangan perjamuan.”

Semoga Allah Ta’ala senantiasa meninggikan derajat beliau dan memberikan taufik kepada anak-anak beliau untuk melanjutkan kebaikan beliau.

Semoga Allah juga melindungi setiap Ahmadi di Pakistan dari semua kejahatan para musuh Ahmadiyah dan memberikan karunia-Nya yang khas. Dan segera memperlihatkan pemandangan kemenangan dan pertolongan kepada mereka. Sebagaimana telah saya katakan, hendaknya banyak-banyak berdoa pada hari-hari ini.

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammads.a.w. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan pertolongan-Nya yang Perkasa

[2] Register riwayat sahabat Ghair matbu’ah jilid 11 hal 69-70, Riwayat Hadhrat Syaikh Zainul Abidin sahib ra.)

[3] Register Riwayat Sahabat Ghair Matbu’ah, jilid 12 hal 115-116, Riwayat Hadhrat Mia Muhammad Syarif sahib Kasymiri

[4] Register Riwayat Sahabat Ghair Matbu’ah jilid 12 hal 118-119, Riwayat Hadhrat Mia Muhammad Syarif sahib Kasymiri

[5] pakaian bawahan untuk laki-laki khas India

[6] Register riwayat sahabat Ghair Matbu’ah jilid 7 hal. 46-47, Riwayat Hadhrat Mia Muhammad Din sahib.

[7] Register Riwayat Sahabat Ghair Matbu’ah jilid 7 hal. 49, Riwayat Hadhrat Mia Muhammad Din sahib.

[8] Mata uang India

[9] Register Riwayat Sahabat Ghair Matbu’ah jilid 1 hal. 56-57, Riwayat Hadhrat Chaudry Fatah Muhammad sahib.

[10] Bacaan-bacaan dzikir

[11] Keturunan para pir, darwisy, dan faqir.

[12] Register Riwayat Sahabat Ghair Matbua’a, jilid 7 hal. 16-22, Riwayat Hadhrat Fazl Din sahib.