Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

23 Juni 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Bulan Ramadhan yang diberkahi telah datang dan berlalu dengan cepat. Meskipun siang hari Ramadhan itu cukup lama dan suhu panas yang menyengat – terutama di waktu-waktu sekarang ini, bahkan di sini (UK atau Inggris Raya) tercatat mencapai suhu tertinggi – namun banyak orang – sekurang-kurangnya mereka yang pernah bertemu dengan saya mengungkapkan bahwa berpuasa dalam kesempatan ini tidak terasa, atau meskipun dengan cuaca yang begitu berat, mereka merasa relatif tidak berat (mudah). Tapi, hal ini saja tidak cukup dengan berpikiran melewati bulan Ramadhan itu dengan nyaman dan mudah atau tidak merasa berat. Jika puasa diselesaikan maka ini karunia Allah yang Dia turunkan atas kita sehingga kita lewati hari-hari ini dengan mudah. Janganlah kita merasa cukup dengan mengatakan, “Kami tidak merasa berat di hari-hari Ramadhan ini” atau “Kami hanya merasa haus dan lapar sedikit saja.” Melainkan, yang terpenting ialah kita harus mengevaluasi diri kita sendiri dan melihat apa sajakah yang telah kita raih selama hari-hari yang diberkati oleh Allah Ta’ala ini atau apakah kita telah meraih berkat itu atau tidak? Sama saja apakah melewati bulan Ramadhan itu dengan nyaman dan mudah atau merasa sedikit berat tidaklah dapat mencapai tujuan. Tercapainya tujuan ialah bila kita mengoreksi diri kita dan melihat apakah yang kita capai selama hari-hari Ramadhan ini.

Pada hari-hari Ramadhan ini, Allah Ta’ala turun dari langit ketujuh ke langit terendah di dunia. Allah Ta’ala pada hari-hari ini mendengarkan permohonan hamba-hamba-Nya dengan menjadi lebih dekat pada mereka. Pada hari-hari ini, Allah Ta’ala sendirilah yang menjadi ganjaran bagi mereka yang berpuasa. Pada hari-hari ini, Allah Ta’ala membelenggu Setan.

Kita harus memeriksa diri apa yang telah kita lakukan untuk mendapatkan manfaat dari rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala? Atau resolusi-resolusi apa yang telah kita buat? Janji-janji apa yang telah kita ikrarkan agar dapat mengikuti perintah-perintah Allah Ta’ala, untuk hidup berdasarkan ajaran-ajaran-Nya, dan untuk meninggalkan kelemahan-kelemahan sebelumnya dan seberapa besar kita membawa perubahan dalam diri kita sendiri?

Pemeriksaan diri sendiri inilah yang akan mengarahkan pandangan kita pada pentingnya meraih karunia-karunia Ilahi secara konstan dan berusaha menjadikan terjadinya perubahan kokoh dalam diri kita yang akan menyerap karunia-karunia Allah secara dawam. Jika kita rajin mendirikan shalat demi Ramadhan dan dalam bulan Ramadhan saja niscaya kita akan malas dalam shalat setelah Ramadhan selesai. Hal tersebut bukanlah mengamalkan perintah-perntah Allah Ta’ala. Jika kita menjaga Shalat Jumat hanya dalam bulan Ramadhan saja maka ini bukanlah ائتمارًا memenuhi perintah Allah. Jika kita berpendapat bahwa Tilawat Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan saja dan itu cukup dan tidak kita perhatikan lagi setelah itu maka perbuatan ini tidak sesuai dengan ridha Allah Ta’ala. Jika kita berdzikruLlah dan shalawat terhadap Nabi Muhammad saw dalam bulan Ramadhan saja dan seolah-olah itu terpaksa di bulan ini maka ini bukanlah yang diinginkan oleh Allah Ta’ala dari kita.

Pada kenyataannya, bulan Ramadhan datang kepada kita adalah seperti camp pelatihan. Ramadhan telah Allah tentukan atas kita sehingga kita bisa meningkatkan perbuatan-perbuatan baik yang telah kita lakukan. Setiap bulan Ramadhan baru yang berakhir harus dapat meningkatkan kita pada level-level tinggi dan baru dalam ibadah dan perbuatan-perbuatan baik supaya kita dapat meraih setelahnya tolok ukur-tolok ukur luhur yang baru tanpa putus. Sesungguhnya Allah menuntut kita agar dawam dalam kebaikan-kebaikan ini tanpa putus. Dia memerintahkan kita, أقيموا الصلاة Artinya, “Kalian harus menegakkanlah shalat dan menunaikannya dengan sebaik-baiknya!”

Allah Ta’ala memberi kita pesan dengan berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى “Jagalah shalat-shalat kalian dan terutama shalatul wustha (shalat yang di tengah-tengah).” (Surah Al-Baqarah, 239) Setiap Muslim mengetahui bahwa Allah Ta’ala mewajibkan shalat lima waktu kepada kita. Kita diperintahkan menjaga shalat-shalat lima waktu semuanya, terutama shalatul wustha. Allah Ta’ala mengetahui sifat-sifat manusia dan sehingga Dia menempatkan penekanan khusus pada shalat yang di tengah. Shalatul wustha artinya shalat yang paling penting, yaitu pada waktu yang untuk usaha pelaksanaannya signifikansi (keberartian, nilai penting) shalat tersebut meningkat. Setiap shalat yang difardhukan Allah Ta’ala maka kita memandangnya penting. Kenapa dalam hal ini memfokuskan pada pentingnya Shalatul wustha secara khusus, hai orang yang melihat?

Sebabnya adalah dalam waktu-waktu shalat tertentu, manusia akan cenderung lebih memilih keinginan-keinginan pribadinya atau mengutamakan manfaat-manfaat materi. Beberapa orang kesulitan untuk melaksanakan Shalat Subuh – sehingga bangun tidur dan untuk melaksanakan shalat Subuh pada waktunya lebih menambah baginya kedekatan dengan Allah. Baginya, shalat Shubuh menjadi shalat yang terpenting. Untuk beberapa orang yang lain, karena pekerjaan atau bisnis mereka, mereka kesulitan untuk melaksanakan Shalat Zhuhur atau Shalat Ashar sehingga pentingnya shalat-shalat tersebut menjadi meningkat. Baginya, Shalat Zhuhur atau Shalat Ashar menjadi shalat yang terpenting.

Ini berarti bahwa ketika seseorang bermujahadah untuk menyembah Allah, maka Dia memberikannya ganjaran istimewa atas usaha keras dan perjuangannya. Allah Ta’ala menghargai kebaikan-kebaikan tanpa batas, dan dengan demikian memberikan mereka yang berusaha di jalan-Nya ganjaran tidak terbatas. Ketika seorang hamba datang kepada Allah sembari menghancurkan berhala-berhala dunia dan patung-patung hawa nafsunya, Allah akan menganugerahinya karunia-karunia tidak terbatas.

Allah Ta’ala telah menarik perhatian kita pada shalat lewat berbagai tempat referensi dan ini tidak hanya terbatas pada bulan Ramadhan saja. Berkaitan dengan shalat, Shalat Jumat dan Ramadhan, Rasulullah saw telah memberikan instruksi yang mana harus selalu diingat oleh seorang mukmin dan mereka yang takut pada Allah Ta’ala.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ. ‘ash-shalawaatul khamsu wal jumu’atu ilal jumu’ati wa ramadhaanu ila ramadhaana mukaffaraatun maa bainahunna’ idza jtanabal kabaa-ir.’ – “Shalat fardhu yang lima, Jumat hingga Jumat berikutnya dan suatu Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya menjadi sarana penghapus dosa bagi seseorang selama ia senantiasa menghindari dosa-dosa besar.”

Selanjutnya, Nabi Muhammad saw menjelaskan pentingnya shalat Jumat. Maka, sebagaimana juga pentingnya shalat-shalat lima waktu dan pelaksanaannya tepat waktu yang jika seseorang melakukan itu maka Allah memaafkannya dengan karunia-Nya dosa-dosa kecil dan kekeliruan-kekeliruan orang itu bahkan jika seseorang melaksanakan shalat-shalat tersebut dengan memenuhi hak-haknya maka Allah Ta’ala sesuai janji-Nya akan memberikan taufiq kepada orang itu untuk menjauhi fahsya dan mungkar. Dengan demikian, shalat Jumat juga suatu kewajiban penting yang sepenting seperti shalat-shalat fardhu.

Disebabkan mendirikan shalat Jumat ini, Allah Ta’ala mengampuni seseorang atas apa yang telah ia lakukan berupa kesalahan, kelemahan dan dosa-dosa kecil dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.

Namun, seseorang tidak boleh menyimpulkan dari hal ini bahwa dalam periode itu mereka diizinkan untuk sengaja melakukan dosa-dosa kecil karena Allah Ta’ala akan mengampuni mereka untuk itu. Tidak demikian! Melainkan, hal itu berarti kesalahan-kesalahan yang dilakukan seseorang karena kelemahan-kelemahan manusiawi dan Allah Ta’ala mengampuni mereka dikarenakan keteraturan mereka dalam pelaksanaan shalat lima waktu, shalat Jumat, memperbanyak memohon maaf dan ampunan kepada Allah dalam doa-doanya dan juga janji tidak akan melakukan dosa yang sama lagi.

Berkaitan dengan pentingnya melakukan shalat Jumat secara kontinyu (dawam, berkelanjutan), Hadhrat Rasulullah saw bersabda: مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ مُتَوَالِيَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ ‘Man taraka tsalaatsa Juma’in mutawaaliyaatin min ghairi ‘udzrin thaba’aLlahu ‘ala qalbihi.’ – “Siapa yang secara sengaja meninggalkan Shalat Jumat tiga kali berturut-turut, maka Allah Ta’ala mengunci (menyegel) mata hatinya.” Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa hatinya akan menjadi hitam.

Kita semua harus memahami pentingnya Jumat. Hari ini ialah Jumat terakhir di bulan Ramadhan. Sebagian orang datang ke masjid karena Jumat itu terakhir dari Ramadhan dan berkata, “Kita harus ke masjid besar untuk Jumat.” Sebagian mereka berkata, “Karena ini Jumat terakhir, maka sekurang-kurangnya kita harus shalat Jumat.” Anggota Jemaat hendaknya ditekankan tentang pentingnya setiap Jumat. Siapa pun yang kurang perhatian, hendaknya menaruh perhatian setelah mendengarkan sabda Nabi Muhammad saw. Mungkin saja yang lemah dalam hal ini orangnya sedikit.

Allah Ta’ala tidak berfirman, “Datanglah pada Jumat-Jumat di bulan Ramadhan atau Jumat terakhirnya saja maka kalian akan berpahala”, melainkan Dia berfirman mengenai pentingnya seluruh Jumat, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ “Hai, orang-orang yang beriman! Apabila kalian dipanggil (shalat) untuk Shalat pada sebagian waktu dari hari Jumat maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Hal demikian adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Jadi, ini adalah sebuah perintah untuk semua orang yang beriman dan yang menyatakan keimanannya kepada Tuhan, yaitu harus membuat pengaturan khusus demi shalat Jumat dan meninggalkan semua urusan pekerjaan maupun usaha (bisnis). Tinggalkanlah setiap jenis pekerjaan, perdagangan dan segala yang membuat manfaat duniawi lalu pikirkanlah satu hal, yaitu melaksanakan shalat Jumat. Allah Ta’ala berfirman, “Jika kalian mengetahuinya, maka ketahuilah itu adalah kebaikan dan di dalamnya terdapat keberkatan bagi kalian. Dia akan memberkahi bisnis kalian.”

Sebagaimana sabda Nabi saw, “Siapa yang secara sengaja meninggalkan Shalat Jumat 3 kali berturut-turut, maka Allah Ta’ala mengunci (menyegel) mata hatinya.” Dengan melakukannya, keimanan orang itu tidak betul. Jika keimanan orang itu betul maka ia takkan meninggalkan Jumat demi manfaat duniawi.

Berkaitan dengan mereka yang melaksanakan Shalat Jumat tepat waktu dan secara teratur, Hadhrat Rasulullah saw bersabda: إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ باب مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ الْمَلاَئِكَةُ، يَكْتُبُونَ الأَوَّلَ فَالأَوَّلَ، فَإِذَا جَلَسَ الإِمَامُ طَوَوُا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ ‏‏‏ “Pada hari-hari Jumat, para malaikat berdiri di setiap pintu masjid. Mereka mendaftar nama-nama dari orang pertama yang memasuki masjid. Mereka terus menuliskan nama-nama orang yang masuk ke Masjid secara berurutan sampai Imam duduk – setelah membacakan Khotbah Jumat – hal mana setelah itu para malaikat itu akan menutup daftar tersebut dan terus sibuk dalam mendengarkan Dzikir Ilahi.”

Pada Hadits lainnya, Rasulullah saw bersabda: إِنَّ النَّاسَ يَجْلِسُونَ مِنَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى قَدْرِ رَوَاحِهِمْ إِلَى الْجُمُعَاتِ الأَوَّلَ وَالثَّانِيَ وَالثَّالِثَ “Pada hari Kiamat, orang-orang akan duduk di depan Allah Ta’ala dengan urutan sesuai dengan kehadiran mereka dalam ibadah Jumat-Jumat, pertama, kedua, ketiga.” Karena itu, mereka yang biasa datang terlambat ke Shalat Jumat tanpa alasan yang bisa dibenarkan, mereka juga harus memperhatikan hal ini. Mengenai hal ini, perintah Rasulullah saw sangat jelas.

Pada hari ini di sini (Baitul Futuh) karena Jumat terakhir pada bulan Ramadhan, banyak orang datang lebih awal. Padahal biasanya pada bulan-bulan lainnya, saat saya hadir di Masjid hanya setengah yang terisi dan setengahnya lagi kosong. Sedikit demi sedikit terisi hingga penuh ketika khotbah saya selesai atau menjelang itu. Pada Jumat-Jumat lainnya di luar Ramadhan pun hendaknya orang-orang dengan giat datang lebih awal untuk Jumatan. [bukan khusus di Jumat terakhir bulan Ramadhan – pent.]

Saya ingin menjelaskan sebuah keputusan perihal shalat Jumat bahwa ia adalah kewajiban bagi kaum laki-laki saja. Jika para wanita mampu pergi ke masjid untuk menghadiri Shalat Jumat, maka itu suatu hal yang baik demi meraih tambahan pahala. Tidak apa-apa bila mereka menghadiri Jumat. Tetapi, karena datangnya para ibu maka itu menarik anak-anak mereka yang masih kecil untuk datang ke Masjid maka ini yang perlu mendapat perhatian. Kewajiban menghadiri Jumat maka itu hanya khusus bagi kaum pria saja.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda: الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ. ‘Al-Jumu’atu haqqun waajibun ‘ala kulli Muslimin fi jama’atin illa arba’ata ‘abdun mamluukun au imra-atun au shabiyyun au mariidhun.’ – “Shalat Jumat merupakan kewajiban setiap Muslim dengan berjamaah kecuali bagi empat kelompok orang, yaitu para budak, kaum wanita, anak-anak dan mereka yang sedang sakit.”

Inilah empat kelompok orang yang tidak diwajibkan Jumat. Pada dasarnya, tidak ada budak (hamba sahaya) pada zaman modern ini [itu ada di zaman dahulu]. Namun, ada orang-orang yang bekerja di bawah pimpinan orang lain termasuk di negeri ini. Mereka dapat mengusahakan agar para majikan (atasan) mereka memberikan izin untuk melaksanakan shalat Jumat. Banyak yang melakukan hal itu dan mendapat izin. Jika terpaksa, dapat mencari 3 atau 4 Ahmadi terdekat dan menyelenggarakan Jumat di suatu tempat.

Tidak ada keharusan bagi kaum perempuan untuk shalat Jumat. Namun, saya katakan kepada para ibu untuk tidak membawa anak-anak kecil ke Masjid untuk Jumat sebab tangisan anak-anak mereka itu mengakibatkan terganggunya shalat orang lain. Sebab, mereka juga tidak dapat menyimak khotbah. Tapi, menghadiri Shalat Ied-lah yang menjadi kewajiban bagi tiap orang termasuk kaum wanita dan anak-anak. Oleh karena itu, wajib menghadirinya. Maka perlu tempat khusus untuk shalat bagi mereka yang membawa anak-anak kecil dan bisa juga wanita yang tidak sedang melakukan Shalat pada hari tersebut duduk di sana menyimak khotbah.

Sekarang hadir dalam jumlah yang banyak di Jumat kali ini. Saya tekankan, agar kaum laki-laki hendaknya menaruh perhatian pada menjaga pelaksanaan Jumat. Mengenai penghapusan dosa-dosa yang berlalu pada jarak interval antara dua bulan Ramadhan, Hadhrat Rasulullah saw bersabda: “Allah Ta’ala memaafkan dosa-dosa kecil kita diantara satu bulan Ramadhan ke bulan Ramadhan berikutnya.”

Namun, di sini, Rasulullah saw menjelaskan cara-cara untuk mendapatkan pengampunan tersebut dalam urutan berikut: Pertama, ada Shalat 5 waktu, kemudian Shalat Jumat, dan kemudian Ramadhan. [الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ. ‘ash-shalawaatul khamsu wal jumu’atu ilal jumu’ati wa ramadhaanu ila ramadhaana mukaffaraatun maa bainahunna’ idza jtanabal kabaa-ir.’ – “Shalat fardhu yang lima, Jumat hingga Jumat berikutnya dan suatu Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya menjadi sarana penghapus dosa bagi seseorang selama ia senantiasa menghindari dosa-dosa besar.”]

Hendaknya dengan memperhatikan urutan tersebut seseorang menghilangkan kesalahpahaman bahwa dengan beribadah di bulan Ramadhan saja akan menghapus dosa-dosa. Tidak demikian! Melainkan urutan ini menekankan penjagaan seseorang beriman yang shalat 5 waktu tiap hari akan membuatnya terlindungi dari dosa-dosa tersebut dan di hari ketujuh ia masuk ke dalam Jumat dengan itu mengusahakan meraih keberkatan Jumat. Selanjutnya, Shalat-shalat yang 5 waktu sehari dan Jumat-Jumat yang sepanjang tahun dia amalkan akan membuatnya memasuki bulan Ramadhan dan membuatnya meraih berkat-berkat Ramadhan. Shalat-shalat lima waktu ini akan bersaksi, ‘Wahai Tuhan! Hamba Engkau ini hadir di depan Engkau 5 kali tiap hari dalam shalat karena takut dan cinta kepada Engkau, demi menyelamatkan diri dari dosa-dosa besar.’

Kemudian setiap Jumat akan bersaksi ‘Hamba Engkau ini, dengan terhindar (tidak melakukan) dosa-dosa besar selama 7 hari, memasuki hari Jumat – yang mana Rasulullah saw tercinta bersabda bahwa hari Jumat mengandung waktu dimana shalat dan doa diterima dan dikabulkan – dan karena itu ia mempersembahkan dirinya di hadapan-Mu sementara dengan harap menunggu pengabulan doa.’

Bulan Ramadhan akan bersaksi mengatakan kepada Allah Ta’ala: ‘Oh Tuhan, hamba Engkau ini memasuki Ramadhan dengan memenuhi hak-hak Ramadhan, seiring menghindari dosa-dosa dan dengan melakukan amal-amal saleh, dengan harapan Engkau akan memberikannya rahmat dan keberkatan 10 hari rahmat (kasih sayang), 10 hari pengampunan dan 10 hari mendapatkan perlindungan dari api neraka.’

Allah Ta’ala Yang Maha Pengasih dan Maha Mulia akan menganugerahkan limpahan keberkatan terhadap orang itu, menutupi dengan selimut kasih sayang-Nya dan menyelamatkannya dari serangan setan. Beruntunglah seseorang diantara kita yang memperoleh naungan Ilahi dengan pemikiran tersebut seiring menunaikan hak-hak shalat-shalat mereka, Jumat-Jumat mereka dan puasa-puasa mereka di bulan Ramadhan lalu keluar dari bulan Ramadhan dengan kesucian di berbagai segi. Kesucian abadi yang menolong mereka guna melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya senantiasa.

Lebih lanjut lagi, perhatian khusus dikembangkan dalam bulan Ramadhan untuk membaca dan mendengarkan Al Quran. Banyak orang berusaha menyelesaikan pembacaannya sekurang-kurangnya sekali dalam periode yang sama. Namun, pembacaan Al-Qur’an dengan penuh perhatian di bulan Ramadhan harus diarahkan pada bagaimana membaca yang mudah dari Al-Qur’an setiap hari dan secara teratur.

Allah Ta’ala menarik perhatian kita pada waktu-waktu shalat yang berbeda dan menyebutkan kepentingannya: أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “…dan pembacaan Al Quran pada waktu Subuh. Sesungguhnya, pembacaan Quran pada waktu subuh diterima secara istimewa oleh Allah.” (Surah al-Isra, 17:79) Membaca Al-Qur’an tidak hanya khusus pada hari-hari tertentu saja melainkan Allah Ta’ala dengan menyebutkannya bersamaan dengan shalat-shalat, Dia juga jelaskan kepentingannya.

Ketika membaca Al Quran, adalah perlu untuk juga untuk mencari keterangan mengenai terjemahan Al-Quran sehingga ayat-ayat tersebut dapat dipahami. Hal ini akan membuat kita dapat memahami perintah-perintah Allah Ta’ala. Membaca Quran hendaknya secara teratur dilakukan. Khususnya penting pada hari dan masa ini ketika mereka yang memanggil diri mereka sendiri Muslim telah melupakan ajaran-ajaran Islam.

Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah mengarahkan atas hal ini, “Siapa yang memuliakan Al-Qur’an maka ia akan dimuliakan di Langit.” Siapakah orangnya yang tidak mau dimuliakan di Langit? Maka dari itu, keteraturan seseorang dalam membaca Al-Qur’an, mencari perintah-perintah di dalamnya dan mengamalkannya akan menjadikannya mendapat manfaat darinya.

Dengan demikian, Allah Ta’ala berfirman, “Jika kalian menginginkan kesuksesan dan keselamatan, kalian harus mengharumkan lidah kalian dengan dzikr terhadap Aku”, maka dari itu, berdzikr-lah kepada Allah setelah selesai shalat Jumat. Janganlah melupakannya dan dengan itu kalian akan sukses. Selalu ingat dan perhatikanlah pentingnya Al-Quran ini dan jangan pernah izinkan kelambanan dan kemalasan dalam membaca Quran menyelinap masuk. Begitu juga, perhatian pelaksanaan dzikrullah (mengingat Allah) di bulan Ramadhan hanya akan memberikan manfaat jika kalian mempertahankannya juga setelah Ramadhan. Begitu juga kebaikan dan akhlak luhur yang lain.

Kita, sebagai Ahmadi, beruntung bahwa Allah Ta’ala telah membuat kita berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah berulang kali membimbing kita di berbagai kesempatan dan dengan berbagai cara untuk meng-ishlaah kita, menunjuki kita ke jalan yang lurus dan mengarahkan perhatian pada Allah Ta’ala dan pelaksanaan hukum-hukum-Nya. Apa yang beliau as harapkan dari kita? Beliau bersabda berkali-kali, “Kalian yang telah berbaiat kepadaku harus terus-menerus berusaha untuk menciptakan perubahan suci dalam diri sendiri dengan perantaraan ibadah dan menunjukkan standar akhlak yang tertinggi.”

Pada satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Seseorang tidak layak mendapat pertolongan dan dukungan dari Allah Ta’ala kecuali dengan segala ketulusan dan kesucian di hatinya, menutup pintu segala jalan yang salah dan menghilangkan segenap hasrat yang tidak patut dan tidak suci serta memohon kepada Allah Ta’ala. Namun, jika kemudian membentangkan tangannya di hadapan Allah Ta’ala, jatuh dan memohon kepada-Nya, barulah ia dapat menarik pertolongan dan rahmat-Nya.”

“Dari langit Tuhan melihat menembus ke setiap bagian hati manusia. Jika ada bagian dari hati manusia yang mengandung kegelapan, syirik ataupun bid’ah yang berbahaya dan merugikan, maka doa-doa dan shalat orang yang demikian kepada Allah akan dilempar kembali ke wajahnya. Jika Allah mengamati bahwa hati seseorang suci dari segala hasrat dan kegelapan duniawi, maka Dia akan membuka pintu ampunan dan kasih sayang kepada-Nya, dan mengambil tanggung jawab untuk memelihara, membina dan melindunginya.”

Inilah standar yang harus kita peroleh secara abadi. Ibadah-ibadah kita seharusnya murni karena Allah Ta’ala saja. Hendaknya standar ibadah kita dijaga setelah Ramadhan ini supaya kita dinaungi oleh rahmat Allah Ta’ala di tiap langkah kita yang dibawah pemeliharaan-Nya, karunia demi karunia kita dapatkan. Selanjutnya, beliau as menjelaskan perihal tolok ukur-tolok ukur apa yang beliau harapkan dari kita setelah berbaiat kepada beliau as? Beliau as bersabda, “Mereka yang telah masuk ke dalam silsilah ini menjalin ikatan sebagai murid dengan saya maka tujuan dari itu ialah pencapaian derajat yang setinggi-tingginya dalam akhlak hasanah, jalan kebaikan dan ketakwaan serta tidak mendekati sesuatu tindakan merusak, jahat dan jalan yang buruk. Shalat lima waktu dengan taat. Tidak berbicara bohong. Tidak memakai bahasa yang demikian rupa menyakiti orang lain. Tidak menjalani jenis apa pun dari usaha yang buruk. Sedikit pun tidak mempunyai pemikiran untuk melakukan kenakalan, keaniayaan, kerusuhan dan fitnah. Mereka harus menjauhi tiap jenis maksiat, dosa dan tiap hal yang telah kami larang dalam hal hawa nafsu, perbuatan, perkataan dan tindakan yang tidak dibenarkan syariat. Mereka harus menjadi hamba-hamba Allah yang berhati suci, santun dan rendah hati.”

Tidak patut bertengkar dengan tiap orang. Oleh karena itu, biasakanlah di banyak waktu kalian untuk bersikap pemaaf. (Tidak perlu untuk menanggapi tiap kalimat dalam pertengkaran.) Bersikaplah sabar dan santun.”

Jadi, beliau memerintahkan berlanjutnya akhlak dan kebiasaan ini. Menghindari pertengkaran tidak hanya di bulan Ramadhan saja mengatakan ‘inni sha-imun’ (Saya sedang berpuasa) melainkan dengan menyerap manfaat dari Tarbiyat Ramadhan ia membiasakan diri menerapkan derajat akhlak luhur.

Selagi mengembangkan bahasan mengenai standar yang diharapkan dari kita, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Hati kalian haruslah bebas dari tipu daya, tangan kalian tidak boleh melakukan keaniayaan, mata kalian haruslah murni dari segala ketidaksucian. Selain dari petunjuk, bimbingan dan simpati bagi kemanusiaan, seseorang tidak boleh melabuhkan apapun dalam diri mereka.” (Inilah yang hendaknya dilakukan yaitu menapaki jalan yang benar dan bersikap simpatik. Hendaklah mereka menyelamatkan mata mereka dari kekotoran.)

Beliau bersabda, “Jika keadaan kalian sesuai dengan apa yang telah saya katakan tadi dan menerapkan pada diri kalian sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan, maka yakinlah Tuhan juga akan menjadi milik kalian. Tuhan akan tetap terjaga untuk kalian ketika kalian tertidur. Tuhan akan mengawasi musuh-musuh kalian dan menggagalkan rancangan dan rencana mereka, ketika kalian tidak tidak menyadari akan mereka.”

Karena itu, adalah vital (sangat penting) untuk sadar dan memperhatikan petunjuk dan arahan-arahan ini. Satu aspek yang Hadhrat Masih Mau;ud as ingatkan kepada kita secara terus menerus adalah jika kita tidak memperdulikan perintah-perintah ini, maka dengan hanya berbaiat saja tidaklah cukup. Setiap orang dapat mengevaluasi diri sampai mana sudah mengamalkan atau sedang mengamalkan.

Beliau as bersabda, “Maka, kamu tidak akan dapat diterima di hadirat Allah selama keadaan lahir dan keadaan batinmu tidak serupa. Seandainya kamu jadi orang besar, berbelas-kasihlah terhadap orang-orang kecil, dan janganlah menghina mereka. Seandainya kamu orang berilmu, berilah orang- orang yang tidak berpengetahuan nasihat, dan janganlah merendahkan mereka dengan menonjolkan kepandaianmu. (bukan menampakkan diri sebagai orang yang amat berilmu tapi dengan kerendahan hati) Andaikan kamu hartawan, maka berbaktilah kepada orang-orang miskin, dan janganlah takabur dengan menunjukkan sikap keaku-akuan.

Takutilah langkah-langkah yang dapat membawa kepada kebinasaan. (Jika Allah Ta’ala telah merahmati kalian dengan harta dan posisi yang berwenang, maka ia harus menggunakannya untuk menolong orang lain alih alih menunjukkan kesombongan.) Hendaklah takut kepada Tuhan, dan tempuhlah jalan ketakwaan. Janganlah menyembah makhluk. Berpasrah dirilah kepada Tuhanmu, dan berpalinglah dari dunia. Jadilah kepunyaan Dia sepenuhnya, dan jalanilah kehidupan bagi Dia semata-mata. Dan bencilah segala kenajisan dan dosa demi Dia, sebab Dia adalah wujud yang suci.”

Beliau as bersabda: “Biarkan setiap pagi bersaksi bahwa kalian telah menghabiskan malam dalam ketakwaan, dan biarkan setiap malam bersaksi bahwa kalian telah menghabiskan siang hari dengan takut kepada Allah. Janganlah takut akan kutukan dari dunia, karena mereka akan menghilang di depan matamu layaknya asap dan tidak bisa merubah siang menjadi malam.”

Kamu tidak dapat melindungi dirimu dengan sikap pura-pura (riya); sebab, Allah, Tuhanmu, dapat melihat sampai ke dasar lubuk hati manusia. Dapatkah kiranya kamu mempedayai (menipu) Tuhan? Maka buatlah dirimu lurus, bersih, dan suci; dan berdirilah dengan teguh, sebab apabila terdapat di dalam dirimu kegelapan walau sedikit saja, kegelapan itu akan menghalau semua cahaya nuranimu.

Dan, andaikan di sudut relung dadamu ada terselip keangkuhan, ria, meninggikan diri ataupun kemalasan, maka kamu tidak dianggap sesuatu yang layak diterima Tuhan. Jangan-jangan nanti oleh beberapa hal yang kamu sangka karya baktimu, malah kamu sebenarnya menipu dirimu sendiri, dan beranggapan bahwa segala apa yang seharusnya kamu kerjakan telah kamu laksanakan. [Hati-hatilah, jangan sampai sedikit pencapaian menipu kalian untuk berpikir bahwa kalian telah dengan cukup memenuhi tujuan kalian] Sebab, Tuhan menghendaki agar di dalam wujudmu terjadi revolusi yang dahsyat dan menyeluruh. (jika ingin menjadi orang beriman sejati maka harus terjadi revolusi hakiki) Dia menuntut dari dirimu suatu maut, yang sesudah maut itu kamu akan Dia hidupkan kembali.”

Beliau bersabda, “Segeralah berdamai antara satu sama lain, dan maafkanlah kesalahan saudaramu. Sebab, jahatlah orang yang tidak sudi berdamai dengan saudaranya. Ia akan diputuskan perhubungannya, sebab ia menanam benih perpecahan…

Alangkah malangnya orang yang tidak mempercayai apa-apa yang difirmankan Tuhan dan yang telah kusampaikan kepadamu. Sekiranya kamu ingin agar Tuhan ridha kepadamu di langit, maka segeralah bersatu-padu dan seakan-akan kamu sekalian antara satu dengan yang lain bagaikan saudara-saudara sekandung layaknya. Di antara kamu sekalian yang paling mulia adalah dia yang paling suka memaafkan kesalahan saudaranya; dan malanglah dia yang bersikeras kepala dan tidak bersedia memaafkan kesalahan orang lain; maka ia bukan dari golonganku.”

Beliau bersabda, “Setiap orang yang berkelakukan buruk tidak akan dapat memperoleh qurb-Nya (kedekatan pada-Nya). Setiap orang takabur tidak akan dapat memperoleh qurb-Nya, begitu juga orang zalim, orang khianat, dan setiap orang yang tidak mempunyai rasa hormat terhadap nama Tuhan.

Tak akan ada bencana timbul di atas permukaan bumi ini selama belum ada izin dari langit; dan tidak ada bencana hilang-Jenyap selama belum turun belas-kasih dari langit. Oleh karena itu akan bijaksanalah apabila kamu berpegang kuat-kuat pada akar, dan bukan pada dahan.

[Jadi, bijaklah kalian untuk memegang akarnya (Tuhan) alih alih memegang cabangnya (keduniawian)]

Ada pula bagimu sekalian suatu ajaran penting, yaitu, kamu hendaknya jangan meninggalkan Alquran sebagai benda yang dilupakan; sebab, justru di dalam Al-Qur’an-Iah terdapat kehidupanmu. (Jadikanlah ia sebagai pedoman) Siapa memuliakan Al-Qur’an ia akan memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa lebih mengutamakan Al-Qur’an dari segala Hadis dan dari segala ucapan lain, akan diutamakan di langit. Bagi umat manusia di atas permukaan bumi ini, kini tidak ada Kitab lain kecuali Al-Qur’an dan bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang rasul juru syafaat selain Muhammad Mustafa saw. Maka berusahalah untuk menaruh kecintaan yang setulus-tulusnya kepada Nabi agung itu, dan janganlah meninggikan seseorang selain beliau dalam segi apapun, agar di langit kamu dicatat di daftar orang-orang yang memperoleh keselamatan. Dan ingatlah, bahwa najat (keselamatan) bukan sesuatu yang akan tampak nanti sesudah mati, melainkan najat yang hakiki ialah yang memperlihatkan cahayanya di alam dunia ini juga.

Siapakah yang memperoleh keselamatan? Ialah dia yang berkeyakinan bahwa Tuhan benar-benar ada, dan bahwa Muhammad s.a.w. adalah juru syafaat yang menjadi penengah antara Tuhan dan seluruh makhluk; bahwa di bawah bentangan langit ini tidak ada rasul lain somartabat dengan beliau, dan tidak ada Kitab lain semartabat dengan Alquran; bahwa Tuhan tidak menghendaki siapa pun untuk hidup selama-lamanya; tetapi Nabi pilihan ini hidup untuk selama-lamanya.”

Setelah menyampaikan hal-hal itu, beliau as menegaskan lagi, “Setelah semua nasehat tersebut, saya katakan lagi bahwa janganlah berpikiran telah cukup baiat secara lahiriah. Baiat secara lahiriah tidak cukup. Tuhan melihat hati kalian.”

Oleh sebab itu, setiap diri kita harus melewati bulan Ramadhan dengan berjanji untuk selalu ingat petunjuk-petunjuk dari Allah Ta’ala dan Rasulullah saw – dan yang dijelaskan dengan terang oleh Hadhrat Masih Mau’ud as – dan kemudian berupaya keras untuk melaksanakan itu dalam hidup kita. Jika kita melakukan hal ini, maka hanya dengan demikian kita dapat mengatakan telah berjuang dan berusaha keras untuk melewati Ramadhan sesuai dengan perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah saw. Semoga Allah membuat kita dapat melakukannya.

Setelah Shalat Jumat, saya akan memimpin dua shalat jenazah gaib. Yang pertama adalah untuk Almarhumah Mukarramah Mushtaq Zuhra, istri Almarhum Tn. Caudri Zhuhur Ahmad Sahib Bajwa. Beliau wafat pada pukul 8.45 malam tanggal 12 Juni di Rabwah, di usia 91 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Nama ayahnya ialah Caudri Inayatullah, yang baiat di tangan Khalifah kedua pada umur 14 tahun. Pada 1944, Maulwi Ghulam Rasul Rajiki (Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as) menikahkannya dengan Caudri Zhuhur Ahmad Bajwa. Maulwi Ghulam Rasul Rajiki menyampaikan khotbah nikah yang lama yang diantaranya menyebutkan mengenai karunia-karunia Allah. Khotbah nikah beliau begitu lama dan pernikahan ini menjadikan Ahmadiyah tersebar begitu luas di kalangan kerabat beliau.

Allah Ta’ala merahmati Almarhumah dengan 3 putra dan 2 putri. Satu putra, Tn. Coudri Zahir Ahmad Bajwa di Amerika adalah seorang yang mewakafkan diri. Suami Almarhumah berkhidmat sebagai Muballigh Jemaat di Britania dan pulang ke Rabwah pada 1955 dan dipercaya sebagai Naib Ishlah-o-Irsyad lalu Nazhir Zira’ah, Nazhir Umur Amah dan sebagai Sekretaris Khas Khalifah ketiga rha hingga masa yang panjang. Selanjutnya, beliau bekerja sebagai Nazhir Ta’limul Qur’an. Beliau juga ketua Sadr Anjuman Ahmadiyah di Rabwah hingga wafat.

Almarhumah Mushtaq Zuhra menghabiskan waktunya dengan suaminya yang seorang Waqif dengan kesetiaan dan ketulusan. Almarhumah tidak pernah meminta permintaan-permintaan yang membuat suaminya menghadapi kesulitan. Tn. Caudri Zhuhur Ahmad Bajwa menikah dengan Almarhumah pada 1944. Almarhumah melahirkan seorang anak pada tahun 1945 dan ketika bayi mereka berumur satu bulan, suami Almarhumah dikirim ke London sebagai Muballigh.

Saat Partition (pemisahan India dan Pakistan pada 1947), Tn. Caudri Zhuhur Ahmad Sahib Bajwa tengah berada di London dan istrinya di India sehingga mengalami beberapa kesulitan. Antara tahun 1950 dan 1955, Almarhumah bersama dengan suaminya tinggal di sini, di Inggris. Pada masa itu, situasi dan kondisi Jemaat secara keuangan sangat lemah sehingga para Mubaligh harus melalui waktu-waktu yang sulit, namun mereka tidak pernah mengeluh dan bahkan menghadapinya dengan ketenangan dan ketentraman.

Setelah itu, mereka tinggal di rumah dinas Jemaat di Rabwah. Setelah itu, suami Almarhumah membangun sebuah rumah khusus di kompleks Darush Shadr Syumali di Rabwah untuk Almarhumah tinggal. Dikarenakan suami Almarhumah bertanggungjawab mengurus keluarganya maka sebagian mahasiswa dari keluarga, kerabat dan desanya yang belajar di Rabwah tinggal di rumah suami Almarhumah. Rumah tersebut tidak begitu besar namun memuat 15-20 orang. Almarhumah mengkhidmati mereka dengan kecintaan dan semangat.

Putra Almarhumah menulis, “Harinya dimulai dengan shalat Tahajjud. Lalu, menilawatkan Al-Qur’an dengan suara tinggi. Setelah itu, Almarhumah biasa pergi ke beberapa tempat peternakan yang hewan-hewan ternaknya dia pelihara untuk dibesarkan seperti kerbau dan lainnya. Kemudian orang-orang miskin datang untuk mengambil sejenis susu atau dadih susu dan mereka berdiri di antrian karena banyaknya jumlah mereka, dan Almarhumah memenuhi permintaan mereka.”

Dengan semua pekerjaan ini dia peduli dengan pekerjaan rumah dan hubungan sosial lainnya yang bisa menjadi teladan.

Putra Almarhumah menulis, “Almarhumah sangat mencintai Alquran. Beliau telah belajar untuk membaca Alquran dan menerjemahkan maknanya dari Sayyidah Maryam Shiddiqah, salah seorang istri Khalifatul Masih II ra (semoga Allah berkenan dengan beliau). Almarhumah berurusan dengan semua orang dengan moral tinggi, dan saya telah menyebutkan keramahtamahannya. Tidak banyak dana yang ada pada waktu Almarhumah tinggal di London. Belum ada koordinasi khusus untuk penyambutan para tamu, jadi Almarhumah belajar membuat cake (kue) dan lain-lainnya serta menyambut para tamu dengan hal-hal ini.

Tn. Hanif Mahmud, Naib Nazhir Ishlah-o-Irsyad yang mempunyai komunikasi dengan Almarhumah demi menuliskan riwayat hidup Almarhum suaminya, “Meskipun almarhumah termasuk keluarga kaya, namun ketika menikah dengan seseorang yang mewakafkan kehidupannya, beliau melewati hidupnya dengan kesederhanaan dan kerendahan hatinya. Beliau memiliki sejumlah besar pelayan di rumah orang tuanya, melakukan berbagai pekerjaan untuk keluarga. Setelah menikah, Almarhum melakukan semua pekerjaan itu sendiri.

Almarhumah menceritakan peristiwa saat tinggal di London dulu, ‘Kami tidak memiliki air hangat di musim dingin dan tidak ada pemanas untuk memanaskan rumah. Dana anggaran tidak memungkinkan untuk membeli batubara.’

Ini adalah kondisi yang sulit dan mereka harus melakukan semua pekerjaan mereka sesuai anggaran mereka. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu di tempat yang sangat dingin dan hanya bisa menjalankan pemanasan untuk waktu yang sangat singkat. Almarhumah sebagaimana Tn. Caudri Zhuhur Ahmad yang seorang konsisten dalam berprinsip dan melewati hidupnya di sini dengan kesederhanaan.

Kemudian Tn. Hanif Mahmud menulis, “Pada 1955 Tn. Coudri Zahir Ahmad Bajwa diberikan perintah untuk kembali dari London ke pusat Jemaat [di Rabwah, Pakistan]. Pada saat itu, istri beliau sangat sakit dan para dokter menyarankan untuk istirahat (bed rest) secara total. Namun ketika perintah tersebut datang ke Tn. Coudri Zahir Ahmad Bajwa, istri beliau mulai melakukan persiapan-persiapan untuk keberangkatan. Sebagian orang berkata, ‘Istri anda tengah sakit. Sebaiknya anda minta izin ke Khalifah II ra untuk sementara tinggal di sini sampai kondisinya lebih sehat.’ Namun, beliau menolak dan berkata, ‘Perintah itu datang kepada saya dan saya harus menaatinya. Saya harus pulang.’ Almarhumah istri beliau pun tidak mendebat dalam hal ini bahkan bersiap-siap untuk pulang bersama suaminya padahal di masa itu menempuh sebuah perjalanan bukanlah hal yang mudah.”

Semoga Allah melimpahkan ampunan pada Almarhumah dan meningkatkan derajatnya dan membuat anak anaknya meneruskan amalan-amalan baiknya. آمين.

Shalat Jenazah kedua adalah untuk Abduhu Bakr dari Mesir. Beliau wafat pada tanggal 12 Juni di usia 41 tahun karena serangan jantung. إنا لله وإنا إليه راجعون. Doktor Hatim Hilmi asy-Syafi’i menulis, “Almarhum baiat pada tahun 2011 dan adalah seorang pengajar Bahasa Arab dan Ilmu Agama, namun beliau meninggalkan pekerjaan beliau untuk mengabdikan diri beliau agar dapat melayani Jemaat. Ia tumbuh di Mesir selatan di lingkungan tertutup yang didominasi oleh fanatisme kesukuan dan kebodohan namun Almarhum cenderung bersifat tenang dan meninggalkan kekerasan. Sebelum baiat, Almarhum biasa merasa bingung dengan mitos-mitos yang memenuhi buku-buku warisan leluhur dan mengajukan pertanyaan yang dicampur dengan ketakutan apakah itu salah dalam agama. Disebabkan mendengarkan perkataan-perkataan para Syaikh, ia menyangka seolah-olah Islam mengajarkan hal yang salah. Na’udzu biLlaah. Almarhum seorang yang amat bingung di banyak kesempatan perihal kewafatan Nabi Isa, hakikat penyalibannya, kenaikannya dan lain sebagainya. Pada suatu hari seorang Kristen memberikannya alamat stasiun Kristen sehingga ia menegaskan diri bahwa Al-Masih lebih istimewa dibandingkan umat manusia lainnya dengan banyak keistimewaan yang tidak ada pada manusia lain. Saat berdialog dengan orang Kristen itu, ia menemukan stasiun televisi MTA. Allah Ta’ala yang ingin memberinya hidayah maka Dia menyediakan baginya hal itu.

Menceritakan tentang baiat beliau sendiri, Almarhum menyebutkan sebuah peristiwa: “Saya sedang menonton sebuah acara yang mana saya melihat Tn. Mustafa Tsabit. Beliau menyebutkan fakta Nabi Isa as tidak wafat di tiang salib, namun jatuh pingsan saat di tiang salib. Kemudian Nabi Isa as bermigrasi ke Timur dan wafat dengan alami. Pada waktu itu, saya sedang duduk bersandar ketika menonton TV. Mendengar hal ini, seketika saya duduk dengan tegak dan mendengarkan bahasan beliau dengan penuh perhatian.

Saya membuka perasaan saya untuk menerima perkataannya selanjutnya. Ini adalah salah satu episode program acara Al-Hiwarul-Mubasyar. Ketika penjelasan telah sempurna, saya berteriak lantang, ‘Allahu Akbar! kebenaran menjadi jelas bagi saya.’ Saya bahkan sempat tertegun dan melompat-lompat gembira. Pada jeda waktu istirahat di acara itu Ustadz Muhammad Syarif berkata, ‘Kita akan mendengarkan salah satu Qashidah Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud alaihis salam.’ Baiat Qashidah itu diantaranya ialah إني من الله العزيز الأكبر  seraya terpambang foto Hadhrat Masih Mau’ud as di layar kaca televisi.

Saya segera berdiri dan menekan tombol penguncian dan menganggapnya seperti wajah kekasih yang saya lihat di dalam mimpi sebelumnya tercetak di halaman bulan. Ini kesempatan-kesempatan yang luar biasa dan tiap kali saya ingin menceritakan kebahagiaan tersebut, saya tidak bisa. Saya selesaikan mengikuti program MTA itu dan juga acara lainnya. Saya masih saja terus menyimak MTA bahasa Arab dan dalam tiga hari Allah Ta’ala menghilangkan kesulitan-kesulitan di dalam akal dan hati saya untuk menerima kewafatan Al-Masih, keselamatannya dan hijrahnya.”

Setelah melakukan baiat, Almarhum dikucilkan (diboikot) oleh rekan-rekan kerjanya, orang-orang di desanya, teman-temannya dan saudara serta kerabatnya, dan semua orang yang mengenalnya menempatkannya dalam kesukaran. Namun beliau tidak pernah goyah dari kebenaran. Malahan, beliau menjadi lebih kuat dalam keimanan beliau dari hari ke hari dan terus dianugerahi tambahan kegigihan dan ketangguhan oleh Allah Ta’ala. Almarhum mewakafkan hidupnya sejak 4 tahun lalu untuk mengkhidmati Jemaat dan mengajar di satu sekolah. Beliau seorang yang rendah hati, tenang, setia dan taat sekali. Sebagai pengurus yang bertanggungjawab di bidang Mubayyi’in baru di negaranya, Allah Ta’ala telah menganugerahi beliau kesabaran, sikap sopan santun, berdebat dengan cara terbaik dan menenangkan orang lain. Beliau seorang pecinta Khilafat dengan kecintaan yang tulus.

Almarhum menikah dengan seorang wanita Ahmadi 5 tahun lalu dan mempunyai putri yang berusia 4 tahun yang bernama Zainab dan putra yang berusia 2 tahun yang bernama Muhammad. Dengan rahmat Allah Ta’ala, putra beliau termasuk Waqf-Nau. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati Almarhum serta meningkatkan derajat beliau. Semoga Dia mengurus secara penuh istri dan anak-anak beliau dan memberikan mereka kekuatan untuk meneruskan perbuatan-perbuatan baik beliau. Aamiin.

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono. Bantuan teks terjemahan dari Ratu Gumelar dan Rekaman suara terjemahan bahasa Indonesia oleh Mln. Mahmud Ahmad Wardi.

(Visited 164 times, 1 visits today)