Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

23 Juni 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Bulan Ramadhan yang dirahmati telah datang dan telah berlalu tanpa terasa. Meskipun hari hari dengan jam-jam yang panjang dan suhu panas yang menyengat – terutama di waktu waktu sekarang ini, bahkan di sini (UK atau Inggris Raya) tercatat mencapai suhu tertinggi – dan sebagian besar orang atau sedikitnya mereka yang pernah bertemu dengan saya, mengungkapkan bahwa dengan berpuasa yang sedemikian, atau meskipun dengan cuaca yang begitu berat, mereka merasa relatif tidak berat (mudah). Namun, hal ini saja tidak cukup. Dengan berpikiran melewati bulan Ramadhan itu mudah atau berat tidaklah dapat mencapai tujuan hidup kita. Yang terpenting ialah kita harus mengevaluasi diri kita sendiri dan melihat apa saja yang telah kita raih selama hari-hari yang diberkati oleh Allah Ta’ala ini.

Pada hari-hari [Ramadhan] ini, Allah Ta’ala turun dari langit ketujuh ke langit terendah di dunia.[1] Allah Ta’ala pada hari hari ini mendengarkan permohonan hamba hamba-Nya dengan menjadi lebih dekat pada mereka. Pada hari-hari ini, Allah Ta’ala sendirilah yang menjadi ganjaran bagi mereka yang berpuasa.[2] Pada hari-hari ini, Allah Ta’ala membelenggu Setan.[3]

Apa yang telah kita lakukan untuk mendapatkan manfaat dari rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala? Atau resolusi-resolusi apa yang telah kita buat? Janji janji apa yang telah kita ikrarkan agar dapat mengikuti perintah-perintah Allah Ta’ala, untuk hidup berdasarkan ajaran ajaran-Nya, dan untuk meninggalkan kelemahan-kelemahan sebelumnya dan seberapa besar kita membawa perubahan dalam diri kita sendiri?

Pada kenyataannya, bulan Ramadhan datang kepada kita adalah seperti camp pelatihan. Ramadhan telah ditentukan sehingga kita bisa meningkatkan perbuatan-perbuatan baik yang telah dilakukan. Setiap bulan Ramadhan yang berakhir harus dapat meningkatkan kita pada level baru dalam ibadah dan perbuatan perbuatan baik. Lantas, kita harus menjadi mereka yang menegakkan standar ibadah yang baru dan tinggi dan perbuatan perbuatan baik.
Allah berfirman, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى “Jagalah shalat-shalat kalian dan terutama shalatul wustha (shalat yang di tengah-tengah).” (Surah Al-Baqarah, 239) Allah Ta’ala mengetahui sifat-sifat manusia dan sehingga Dia menempatkan penekanan khusus pada shalat yang di tengah. Salat-ul-Wusta berarti shalat di tengah atau shalat yang paling penting, yaitu di waktu yang demikian rupa sehingga signifikansi (keberartian, nilai penting) shalat tersebut meningkat. Sebabnya adalah dalam waktu-waktu shalat tertentu, manusia akan cenderung lebih memilih pekerjaan pribadinya atau pemenuhan hasrat-hasrat keduniawiannya. Beberapa orang kesulitan untuk melaksanakan Shalat Subuh – sehingga bangun untuk melaksanakan shalat Subuh adalah penting baginya. Untuk beberapa orang yang lain, karena pekerjaan atau bisnis mereka, mereka kesulitan untuk melaksanakan Shalat Zuhur atau Shalat Ashar sehingga pentingnya shalat-shalat tersebut menjadi meningkat.

Allah Ta’ala telah menarik perhatian kita pada shalat lewat berbagai referensi dan ini tidak hanya terbatas pada bulan Ramadhan saja. Berkaitan dengan shalat, Shalat Jumat dan Ramadhan, Rasulullah saw telah memberikan instruksi yang mana harus selalu diingat oleh seorang mukmin dan mereka yang takut pada Allah Ta’ala. Hadhrat Rasulullah saw bersabda, الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ. ‘ash-shalawaatul khamsu wal jumu’atu ilal jumu’ati wa ramadhaanu ila ramadhaana mukaffaraatun maa bainahunna’ idza jtanabal kabaa-ir.’ – “Shalat fardhu yang lima, Jumat hingga Jumat berikutnya dan suatu Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya menjadi sarana penghapus dosa bagi seseorang selama ia senantiasa menghindari dosa-dosa besar.”[4]

Namun, seseorang tidak boleh menyimpulkan dari hal ini bahwa mereka diizinkan untuk melakukan dosa-dosa kecil dan Allah Ta’ala akan mengampuni mereka untuk itu. Melainkan, hal itu berarti kesalahan-kesalahan yang dilakukan karena kelemahan-kelemahan manusiawi.. namun dengan pelaksanaan shalat 5 waktu, pelaksanaan Shalat Jumat, penyesalan dan pertobatan akan dosa-dosa dan juga janji tidak akan melakukan dosa yang sama lagi, maka Allah Ta’ala mengampuni mereka.

Berkaitan dengan pentingnya melakukan shalat Jumat secara kontinyu (dawam, berkelanjutan), Hadhrat Rasulullah saw bersabda: مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ مُتَوَالِيَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ ‘Man taraka tsalaatsa Juma’in mutawaaliyaatin min ghairi ‘udzrin thaba’aLlahu ‘ala qalbihi.’ – “Siapa yang secara sengaja meninggalkan Shalat Jumat 3 kali berturut-turut, maka Allah Ta’ala mengunci (menyegel) mata hatinya.”[5] Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa hatinya akan menjadi hitam.

Kita harus memahami pentingnya Jumat. Hari ini ialah Jumat terakhir di bulan Ramadhan. Sebagian orang datang ke masjid untuk itu dan berkata, “Kita harus ke masjid besar untuk Jumat.” Sebagian mereka berkata, “Karena ini Jumat terakhir, maka kita harus datang ke Masjid.” Anggota Jemaat hendaknya ditekankan tentang pentingnya setiap Jumat. Siapa pun yang kurang perhatian, hendaknya menaruh perhatian setelah mendengarkan sabda Nabi Muhammad saw.

Allah Ta’ala tidak berfirman, “Datanglah pada Jumat terakhir bulan Ramadhan maka kalian akan berpahala”, melainkan Dia berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ () “Hai, orang-orang yang beriman! Apabila kalian dipanggil (shalat) untuk Shalat pada sebagian waktu dari hari Jumat maka bersegeralah untuk mengingat Allah dan tinggalkanlah jual-beli. Hal demikian adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” Jadi, ini adalah sebuah perintah untuk semua orang yang beriman dan yang menyatakan keimananannya kepada Tuhan – dimana ia harus membuat pengaturan khusus demi shalat Jumat dan harus meninggalkan semua urusan pekerjaan maupun usaha (bisnis). Tinggalkanlah segala yang membuat manfaat duniawi. Pikirkanlah satu hal, yaitu melaksanakan shalat Jumat. Di dalamnya terdapat keberkatan termasuk bagi bisnis kalian. Sebagaimana sabda Nabi saw,  “Siapa yang secara sengaja meninggalkan Shalat Jumat 3 kali berturut-turut, maka Allah Ta’ala mengunci (menyegel) mata hatinya.” Dengan melakukannya, keimanan orang itu tidak betul. Jika keimanan orang itu betul maka ia takkan meninggalkan Jumat demi manfaat duniawi.

Berkaitan dengan mereka yang melaksanakan Shalat Jumat tepat waktu dan secara teratur, Rasulullah saw bersabda: إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ باب مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ الْمَلاَئِكَةُ، يَكْتُبُونَ الأَوَّلَ فَالأَوَّلَ، فَإِذَا جَلَسَ الإِمَامُ طَوَوُا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ ‏‏‏ “Pada hari-hari Jumat, para malaikat berdiri di setiap pintu masjid. Mereka mendaftar nama-nama dari orang pertama yang memasuki masjid. Mereka terus menuliskan nama-nama orang yang masuk ke Masjid secara berurutan sampai Imam duduk – setelah membacakan Khotbah Jumat – hal mana setelah itu para malaikat itu akan menutup daftar tersebut dan terus sibuk dalam mendengarkan Dzikir Ilahi.”[6]

Pada Hadits lainnya, Rasulullah saw bersabda: إِنَّ النَّاسَ يَجْلِسُونَ مِنَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى قَدْرِ رَوَاحِهِمْ إِلَى الْجُمُعَاتِ الأَوَّلَ وَالثَّانِيَ وَالثَّالِثَ “Pada hari Kiamat, orang-orang akan duduk di depan Allah Ta’ala dengan urutan sesuai dengan kehadiran mereka dalam ibadah Jumat-Jumat, pertama, kedua, ketiga.”[7] Karena itu, mereka yang biasa datang terlambat ke Shalat Jumat, mereka juga harus memperhatikan hal ini. Mengenai hal ini, perintah Rasulullah saw sangat jelas. Pada hari ini karena Jumat terakhir pada bulan Ramadhan, banyak orang datang lebih awal. Padahal biasanya hanya setengah yang terisi dan sedikit demi sedikit terisi hingga ke menit-menit terakhir saya khotbah. Pada hari lainnya pun hendaknya orang-orang dengan giat datang lebih awal untuk Jumat. [bukan khusus di Jumat terakhir bulan Ramadhan – pent.]

Shalat Jumat adalah kewajiban bagi kaum laki-laki saja. Jika para wanita pergi ke masjid untuk menghadiri Shalat Jumat, maka itu merupakan suatu hal yang baik. Tetapi, karena datangnya para ibu maka itu menarik anak-anak mereka yang masih kecil untuk datang ke Masjid. Jika diwajibkan menghadiri Jumat maka itu hanya bagi kaum pria saja. Hadhrat Rasulullah saw bersabda: الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوْ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ. ‘Al-Jumu’atu haqqun waajibun ‘ala kulli Muslimin fi jama’atin illa arba’ata ‘abdun mamluukun au imra-atun au shabiyyun au mariidhun.’ – “Shalat Jumat merupakan kewajiban setiap Muslim dengan berjamaah kecuali bagi empat kelompok orang, yaitu para budak, kaum wanita, anak-anak dan mereka yang sedang sakit.”[8]

Inilah empat kelompok orang yang tidak diwajibkan Jumat. Pada dasarnya, tidak ada budak (hamba sahaya) pada zaman modern ini melainkan itu ada di zaman dahulu. Namun, ada orang-orang yang bekerja di bawah pimpinan orang lain termasuk di negeri ini. Para pekerja (karyawan) dapat mengusahakan agar para majikan (atasan) mereka memberikan izin untuk melaksanakan shalat Jumat. Banyak yang melakukan hal itu dan mendapat izin. Jika terpaksa, dapat mencari 3 atau 4 Ahmadi terdekat dan menyelenggarakan Jumat di suatu tempat. Tidak ada keharusan bagi kaum perempuan untuk shalat Jumat. Bagi kaum ibu yang biasa datang dengan anak-anak kecil untuk Jumat, saya katakan lebih baik tidak datang ke Masjid untuk Jumat sebab tangisan anak-anak mereka itu mengakibatkan terganggunya shalat orang lain dan jalannya khotbah. Iya, memang, hanya menghadiri Shalat Ied-lah yang menjadi kewajiban bagi tiap orang termasuk kaum wanita bahkan bagi yang tidak sedang melakukan Shalat pada hari tersebut maka mereka tidak shalat Ied tetapi menyimak khotbahnya.

Sekarang hadir dalam jumlah yang banyak di Jumat kali ini. Saya tekankan, agar kaum laki-laki hendaknya menaruh perhatian pada menjaga pelaksanaan Jumat.

Mengenai pengampunan dosa-dosa yang berlalu pada jarak interval antara dua bulan Ramadhan, Hadhrat Rasulullah saw bersabda: Allah Ta’ala memaafkan dosa-dosa kecil kita diantara satu bulan Ramadhan ke bulan Ramadhan berikutnya. Namun, di sini, Rasulullah saw menjelaskan cara-cara untuk mendapatkan pengampunan tersebut dalam urutan berikut: Pertama, ada Shalat 5 waktu, kemudian Shalat Jumat, dan kemudian Ramadhan. [الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ. ‘ash-shalawaatul khamsu wal jumu’atu ilal jumu’ati wa ramadhaanu ila ramadhaana mukaffaraatun maa bainahunna’ idza jtanabal kabaa-ir.’ – “Shalat fardhu yang lima, Jumat hingga Jumat berikutnya dan suatu Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya menjadi sarana penghapus dosa bagi seseorang selama ia senantiasa menghindari dosa-dosa besar.”[9]]

Hendaknya seseorang menghilangkan kesalahpahaman terkait hal ini dengan memperhatikan urutan tersebut. Urutan ini menekankan seseorang yang shalat 5 waktu sehari akan membawa dirinya sendiri lebih dekat pada Allah Ta’ala. Shalat-shalat yang 5 waktu sehari dan Jumat-Jumat yang sepanjang tahun dia amalkan dan setelah memasuki bulan Ramadhan, shalat-shalat ini akan bersaksi, ‘Wahai Tuhan! Hamba Engkau ini hadir di depan Engkau 5 kali sehari dalam shalat karena takut dan cinta kepada Engkau, demi menyelamatkan diri dari dosa-dosa besar.’

Kemudian setiap Jumat akan bersaksi ‘Hamba Engkau ini, dengan terhindar (tidak melakukan) dosa-dosa besar selama 7 hari, memasuki hari Jumat – yang mana Rasulullah saw tercinta bersabda bahwa hari Jumat mengandung waktu dimana shalat dan doa diterima dan dikabulkan – dan karena itu ia mempersembahkan dirinya di hadapan-Mu sementara menunggu pengabulan doa.’

Bulan Ramadhan akan bersaksi mengatakan kepada Allah Ta’ala: “Oh Tuhan, hamba Engkau ini memasuki Ramadhan dengan memenuhi hak-hak Ramadhan, seiring menghindari dosa-dosa dan dengan melakukan amal-amal saleh, dengan harapan bahwa Engkau akan memberikannya rahmat dan keberkatan 10 hari rahmat (kasih sayang), 10 hari pengampunan dan 10 hari mendapatkan perlindungan dari api neraka”.

Allah Ta’ala Yang Maha Pengasih dan Penyayang akan menganugerahkan limpahan keberkatan terhadap orang itu, menutupi dengan selimut kasih sayang-Nya dan menyelamatkannya dari serangan setan. Beruntunglah seseorang diantara kita yang dengan pemikiran tersebut melaksanakan shalat 5 waktu, shalat Jumat dan menunaikan ibadah di bulan Ramadhan. Ia melewati bulan Ramadhan dengan kesucian di berbagai segi. Kesucian yang abadi dan melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya dengan abadi.

Lebih lanjut lagi, perhatian khusus dikembangkan dalam bulan Ramadhan untuk membaca dan mendengarkan Al Quran. Dimana Allah Ta’ala menarik perhatian kita pada pentingnya shalat dan waktu waktu shalat yang berbda, dimana Dia juga berfirman: أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا “…dan pembacaan Al Quran pada waktu Subuh. Sesungguhnya, pembacaan Quran pada waktu subuh diterima secara istimewa oleh Allah.” (Surah al-Isra, 17:79)

Ketika membaca Al Quran, adalah perlu untuk juga untuk mencari keterangan mengenai terjemahan Al-Quran sehingga ayat-ayat tersebut dapat dipahami. Hal ini akan membuat kita dapat memahami perintah-perintah Allah Ta’ala. Membaca Quran hendaknya secara teratur dilakukan. Khususnya penting pada hari dan masa ini ketika mereka yang memanggil diri mereka sendiri Muslim telah melupakan ajaran-ajaran Islam. Selalu ingat dan perhatikan pentingnya Al Quran ini dan jangan pernah izinkan kelambanan dan kemalasan dalam membaca Quran menyelinap masuk. Begitu juga, perhatian hendaknya kalian bangun terhadap pelaksanaan dzikrullah (mengingat Allah) yang mana itu hanya akan memberikan dirinya manfaat ketika kalian mempertahankan amal perbuatan ini juga setelah Ramadhan. Begitu juga kebaikan dan akhlak luhur yang lain haruslah diambil dan dilakukan.

Kita, sebagai Ahmadi, beruntung bahwa Allah Ta’ala telah membuat kita berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud as telah berulang kali di berbagai kesempatan dan dengan berbagai cara berupaya untuk meng-ishlaah kita, memandu kita kepada jalan Allah Ta’ala dan memberi petunjuk pada pelaksanaan hukum-hukum Ilahi. Apa yang beliau as harapkan dari kita? Beliau bersabda, “Kalian yang telah berbaiat kepadaku harus terus-menerus berusaha untuk menciptakan perubahan suci dalam diri sendiri dengan perantaraan ibadah dan menunjukkan standar akhlak yang tertinggi.”

Pada satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Seseorang tidak layak mendapat pertolongan dan dukungan dari Allah Ta’ala kecuali dengan segala ketulusan dan kesucian di hatinya, menutup pintu segala jalan yang salah dan menghilangkan segenap hasrat yang tidak patut dan tidak suci serta memohon kepada Allah Ta’ala. Namun, jika kemudian membentangkan tangannya di hadapan Allah Ta’ala, jatuh dan memohon kepada-Nya, barulah ia dapat menarik rahmat-Nya.”

“…Dari surga, Allah Ta’ala melihat menembus setiap bagian hati manusia. Jika ada bagian dari hati manusia yang mengandung kegelapan, syirik ataupun bid’ah yang berbahaya dan merugikan, maka doa-doa dan shalat orang yang demikian kepada Allah akan dilempar kembali ke wajahnya. Jika Allah mengamati bahwa hati seseorang suci dari segala hasrat dan kegelapan duniawi, maka Dia akan membuka pintu ampunan dan kasih sayang kepada-Nya, dan mengambil tanggung jawab untuk memelihara, membina dan melindunginya.” Inilah standard yang harus kita peroleh secara abadi. Hendaknya standard ibadah kita dijaga setelah Ramadhan ini supaya kita dinaungi oleh rahmat Allah Ta’ala.

Selagi mengembangkan bahasan mengenai standard yang diharapkan dari kita, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Hati kalian haruslah bebas dari tipu daya, tangan kalian tidak boleh melakukan kejahatan, mata kalian haruslah murni dari segala kekotoran. Selain dari petunjuk, bimbingan dan simpati bagi kemanusiaan, seseorang tidak boleh melabuhkan apapun dalam diri mereka.”

“Jika kalian menerapkan diri kalian sendiri sesuai dengan apa yang difirmankan Tuhan, maka yakinlah bahwa Tuhan juga akan menjadi milik kalian. Allah Ta’ala akan tetap terjaga untuk kalian ketika kalian tertidur. Allah Ta’ala akan mengawasi musuh-musuh kalian dan menggagalkan rancangan dan rencana mereka, ketika kalian tidak menghiraukan mereka.”

Karena itu, adalah vital (sangat penting) untuk sadar dan memperhatikan petunjuk dan arahan-arahan ini. Satu aspek yang Hadhrat Masih Mau;ud as ingatkan kepada kita secara terus menerus adalah jika kita tidak memperdulikan perintah-perintah ini, maka dengan hanya berbai’at saja tidaklah cukup.

Setiap orang dapat mengevaluasi diri sampai mana sudah mengamalkan atau sedang mengamalkan.

Beliau as bersabda, “Maka, kamu tidak akan dapat diterima di hadirat Allah selama keadaan lahir dan keadaan batinmu tidak serupa. Seandainya kamu jadi orang besar, berbelas-kasihlah terhadap orang-orang kecil, dan janganlah menghina mereka. Seandainya kamu orang berilmu, berilah orang- orang yang tidak berpengetahuan nasihat, dan janganlah merendahkan mereka dengan menonjolkan kepandaianmu. (bukan menampakkan diri sebagai orang yang amat berilmu tapi dengan kerendahan hati) Andaikan kamu hartawan, maka berbaktilah kepada orang-orang miskin, dan janganlah takabur dengan menunjukkan sikap keaku-akuan. Takutilah langkah-langkah yang dapat membawa kepada kebinasaan. (Jika Allah Ta’ala telah merahmati kalian dengan harta dan posisi yang berwenang, maka ia harus menggunakannya untuk menolong orang lain alih alih menunjukkan kesombongan.) Hendaklah takut kepada Tuhan, dan tempuhlah jalan ketakwaan. Janganlah menyembah makhluk. Berpasrah dirilah kepada Tuhanmu, dan berpalinglah dari dunia. Jadilah kepunyaan Dia sepenuhnya, dan jalanilah kehidupan bagi Dia semata-mata. Dan bencilah segala kenajisan dan dosa demi Dia, sebab Dia adalah wujud yang suci.”

Beliau as bersabda: “Biarkan setiap pagi bersaksi bahwa kalian telah menghabiskan malam dalam ketakwaan, dan biarkan setiap malam bersaksi bahwa kalian telah menghabiskan siang hari dengan takut kepada Allah. Janganlah takut akan kutukan dari dunia, karena mereka akan menghilang di depan matamu layaknya asap dan tidak bisa merubah siang menjadi malam.”

Kamu tidak dapat melindungi dirimu dengan sikap pura-pura (ria); sebab, Allah, Tuhanmu, dapat melihat sampai ke dasar lubuk hati manusia. Dapatkah kiranya kamu mempedayai (menipu) Tuhan? Maka buatlah dirimu lurus, bersih, dan suci; dan berdirilah dengan teguh, sebab apabila terdapat di dalam dirimu kegelapan walau sedikit saja, kegelapan itu akan menghalau semua cahaya nuranimu.

Dan, andaikan di sudut relung dadamu ada terselip keangkuhan, ria, meninggikan diri ataupun kemalasan, maka kamu tidak dianggap sesuatu yang layak diterima Tuhan.  Jangan-jangan nanti oleh beberapa hal yang kamu sangka karya baktimu, malah kamu sebenarnya menipu dirimu sendiri, dan beranggapan bahwa segala apa yang seharusnya kamu kerjakan telah kamu laksanakan. [Hati-hatilah, jangan sampai sedikit pencapaian menipu kalian untuk berpikir bahwa kalian telah dengan cukup memenuhi tujuan kalian] Sebab, Tuhan menghendaki agar di dalam wujudmu terjadi revolusi yang dahsyat dan menyeluruh. (jika ingin menjadi orang beriman sejati maka harus terjadi revolusi hakiki) Dia menuntut dari dirimu suatu maut, yang sesudah maut itu kamu akan Dia hidupkan kembali.”

Beliau bersabda, “Segeralah berdamai antara satu sama lain, dan maafkanlah kesalahan saudaramu. Sebab, jahatlah orang yang tidak sudi berdamai dengan saudaranya. Ia akan diputuskan perhubungannya, sebab ia menanam benih perpecahan…

Alangkah malangnya orang yang tidak mempercayai apa-apa yang difirmankan Tuhan dan yang telah kusampaikan kepadamu. Sekiranya kamu ingin agar Tuhan ridha kepadamu di langit, maka segeralah bersatu-padu dan seakan-akan kamu sekalian antara satu dengan yang lain bagaikan saudara-saudara sekandung layaknya. Di antara kamu sekalian yang paling mulia adalah dia yang paling suka memaafkan kesalahan saudaranya; dan malanglah dia yang bersikeras kepala dan tidak bersedia memaafkan kesalahan orang lain; maka ia bukan dari golonganku.”

Beliau bersabda, “Setiap orang yang berkelakukan buruk tidak akan dapat memperoleh qurb-Nya (kedekatan pada-Nya). Setiap orang takabur tidak akan dapat memperoleh qurub-Nya, begitu juga orang zalim, orang khianat, dan setiap orang yang tidak mempunyai rasa hormat terhadap nama Tuhan.

Tak akan ada bencana timbul di atas permukaan bumi ini selama belum ada izin dari langit; dan tidak ada bencana hilang-Jenyap selama belum turun belas-kasih dari langit. Oleh karena itu akan bijaksanalah apabila kamu berpegang kuat-kuat pada akar, dan bukan pada dahan.

[Jadi, bijaklah kalian untuk memegang akarnya (Tuhan) alih alih memegang cabangnya (keduniawian)]

Ada pula bagimu sekalian suatu ajaran penting, yaitu, kamu hendaknya jangan meninggalkan Alquran sebagai benda yang dilupakan; sebab, justru di dalam Alquran-Iah terdapat kehidupanmu. (Jadikanlah ia sebagai pedoman) Barangsiapa memuliakan Alquran ia akan memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa lebih mengutamakan AIquran dari segala Hadis dan dari segala ucapan lain, akan diutamakan di langit. Bagi umat manusia di atas permukaan bumi ini, kini tidak ada Kitab lain kecuali Akjuran dan bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang rasul juru syafaat selain Muhammad Mustafa s.a.w.. Maka berusahalah untuk menaruh kecintaan yang setulus-tulusnya kepada Nabi agung itu, dan janganlah meninggikan seseorang selain beliau dalam segi apapun, agar di langit kamu dicatat di daftar orang-orang yang memperoleh keselamatan. Dan ingatlah, bahwa najat (keselamatan) bukanlah sesuatu yang akan tampak nanti sesudah mati, melainkan najat yang hakiki ialah yang memperlihatkan cahayanya di alam dunia ini juga.

Siapakah yang memperoleh keselamatan? Ialah dia yang berkeyakinan bahwa Tuhan benar-benar ada, dan bahwa Muhammad s.a.w. adalah juru syafaat yang menjadi penengah antara Tuhan dan seluruh makhluk; bahwa di bawah bentangan langit ini tidak ada rasul lain somartabat dengan beliau, dan tidak ada Kitab lain semartabat dengan Alquran; bahwa Tuhan tidak menghendaki siapa pun untuk hidup selama-lamanya; akan tetapi Nabi pilihan ini hidup untuk selama-lamanya.”

Oleh sebab itu, setiap diri kita harus melewati bulan Ramadhan dengan berjanji untuk selalu ingat petunjuk-petunjuk dari Allah Ta’ala dan Rasulullah saw – yang dijelaskan dengan rinci oleh Hadhrat Masih Mau’ud as – dan kemudian berupaya keras untuk melaksanakan hal hal itu dalam hidup kita. Jika kita melakukan hal ini, maka hanya dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa kita telah berjuang dan berusaha keras untuk melewati Ramadhan sesuai dengan perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasulullah saw. Semoga Allah membuat kita dapat melakukannya.

Setelah Shalat Jumat, saya akan memimpin dua shalat jenazah gaib. Yang pertama adalah untuk Almarhumah Mukarramah Mushtaq Zuhra, istri dari Almarhum Tn. Chaudhary Zahoor Ahmad Sahib Bajwa. Beliau wafat pada pukul 8.45 malam tanggal 12 Juni di Rabwah, di usia 91 tahun. Innalillahi wainnailaihi rojiun… Allah Ta’ala merahmati Almarhumah dengan 3 putra dan 2 putri. Satu putra, yaitu Tn. Zaheer Bajwa di Amerika adalah seorang waqfi jaded. Tn. Coudhary Zahoor Bajwa melayani sebagai seorang Mubaligh di Inggris.

Almarhumah Mushtaq Zuhra menghabiskan waktunya dengan suaminya yang seorang waqfi jadid dengan cara yang luar biasa, dan beliau tidak pernah meminta permintaan-permintaan yang akan mendatangkan masalah kepada seorang waqfi jadid. Lantas antara tahun 1950 dan 1955, istri beliau, bersama dengan Tn. Zahoor Bajwa tinggal di sini, di Inggris. Pada masa itu, situasi dari para Mubaligh di dalam Jemaat adalah sedemikian, khususnya secara finansial, dimana mereka harus melalui waktu-waktu yang menantang, namun mereka tidak pernah mengeluh dan menghadapinya tanpa ada keluhan apapun.

Kemudian Tn. Hanif Mahmud menulis bahwa “pada tahun 1955 Tn. Chaudhary Zahoor Bajwa diberikan perintah untuk kembali dari London ke pusat Jemaat [di Rabwah, Pakistan]. Pada saat itu, istri beliau sangat sakit dan para dokter menyarankan untuk istirahat (bed rest) secara total. Namun ketika perintah tersebut datang, Tn. Chaudhary dan istri beliau mulai melakukan persiapan-persiapan untuk kembali. Istri berliau tidak mengeluh meskipun beliau sedang sakit dan juga dengan kenyataan bahwa bepergian (jauh) pada masa masa itu sungguhlah sulit. Semoga Allah melimpahkan ampunan pada Almarhumah dan meningkatkan derajatnya dan membuat anak anaknya meneruskan amalan-amalan baiknya.

Shalat Jenazah kedua adalah untuk Abdu Bakar dari Mesir. Beliau wafat pada tanggal 12 Juni di usia 41 tahun karena serangan jantung. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Beliau adalah seorang Professor Bahasa Arab dan Ilmu Agama, namun beliau meninggalkan pekerjaan beliau untuk mengabdikan diri beliau agar dapat melayani Jemaat.

Menceritakan tentang bai’at beliau sendiri, sang Almarhum menyebutkan sebuah peristiwa: “Saya sedang menonton sebuah acara dimana saya melihat Tn. Mustafa Thabit. Beliau menyebutkan fakta bahwa Nabi Isa as tidak wafat di tiang salib, namun jatuh pingsan. Kemudian Nabi Isa as bermigrasi ke Timur dan wafat dengan alami. Pada waktu itu, saya sedang duduk bersandar ketika saya menonton TV. Ketika saya mendengar hal ini, seketika saya duduk dengan tegak dan mendengarkan bahasan beliau dengan penuh perhatian.” (Ini adalah program acara Al-Hiwarul-Mubashar).

“Ketika kebenaran menjadi jelas bagi saya, saya berteriak lantang ‘Allahu Akbar’! dan 3 hari kemudian Allah Ta’ala memperjelas kepada saya misteri wafatnya Nabi Isa as, keselamatan beliau dari tiang salib dan migrasi beliau.”

Setelah melakukan bai’at, Almarhum dikucilkan (diboikot) oleh rekan-rekan kerjanya, orang-orang di desanya, teman-temannya dan saudara serta kerabatnya, dan semua orang yang mengenalnya menempatkannya dalam kesukaran dan penderitaan. Namun beliau tidak pernah goyah dari kebenaran. Malahan, beliau menjadi lebih kuat dalam keimanan beliau dari hari ke hari dan terus dianugerahi kegigihan dan ketangguhan.

Bersama dengan istri beliau yang menjanda, beliau meninggalkan putri yang berusia 4 tahun yang bernama Zainab dan putra yang berusia 2 tahun yang bernama Muhammad. Dengan rahmat Allah Ta’ala, putra beliau adalah bagian dari Waqf-Nau. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan merahmati Almarhum serta meningkatkan derajat beliau. Semoga Dia mengurus secara penuh istri dan anak anak beliau dan memberikan mereka kekuatan untuk meneruskan perbuatan-perbuatan baik beliau.

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono. Bantuan teks terjemahan dari Ratu Gumelar dan Rekaman suara terjemahan bahasa Indonesia oleh Mln. Mahmud Ahmad Wardi.

[1] Hadits riwayat Abdullah ibn Abbas, tercantum dalam Kitab ar-Radd ‘alal Jahmiyah h. 41 karya ad-Darimi; Ibni Abi Ashim dalam as-Sunnah 1/224, no. 513; Al-Albani dalam Takhrijus Sunnah. إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيُمْهِلُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ كُلَّ لَيْلَةٍ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الأَوَّلُ هَبَطَ إِلَى السَّمَاءِ ثُمّ قَالَ هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ هَلْ مِنْ تَائِبٍ يُتَابُ عَلَيْهِ

[2] Hadits Qudsi;  “كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أُجْزى بِهِ” – “Tiap-tiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa maka sesungguhnya Aku-lah (Allah) yang menjadi pahala baginya.”

[3] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang shaum (puasa) bab fi fadhli syahr Ramadhan, 682

“‏ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ. وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ ‏”‏ Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Jika datang malam pertama bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satupun dari pintu-pintunya yang terbuka; dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun dari pintu-pintunya yang tertutup, serta penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadlan’.”

[4] Shahih Muslim, Kitab ath-Thaharah, bab ash-Shalawaatul khams wal Jumu’ah ilal Jumu’ah wa ramadhan ilar ramadhan mukaffaraatun, 551 (صحيح مسلم، كتاب الطهارة)

[5] Abu Daud At-Thayalisi dalam Musnadnya 2548 Riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; 2. Disebutkan pula dalam Kitab karya Imam asy-Syaukani, yaitu Nailul Authar min ahaaditsil akhyaar komentar atas kitab muntaqal Akhyaar, mengutip kitab Ad-Dailami dalam Musnad Firdaus riwayat Anas bin Malik. Hadits serupa juga ada di Sunan at-Tirmidzi, abwaab al-Jumu’ah, bab ma ja-a fi tark al-Jumuah min ghairi ‘udzr (meninggalkan Jumat tanpa alasan yang dibenarkan), 500.

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab permulaan penciptaan, bab penyebutan malaikat, h. 3211.

[7] Sunan Ibni Majah, Kitab tentang Penegakan Shalat dan Sunnah, bab Tahjir ilal-Jumu’ah, hadits 1094

[8] Sunan Abi Daud, Kitab ash-Shalat, bab al-Jumu’ah lil mamluk wal mar’ah, 1067

[9] Shahih Muslim, Kitab ath-Thaharah, bab ash-Shalawaatul khams wal Jumu’ah ilal Jumu’ah wa ramadhan ilar ramadhan mukaffaraatun, 551 (صحيح مسلم، كتاب الطهارة)

(Visited 140 times, 1 visits today)