Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz  [1]

Tanggal 30 Aman 1391 HS/Maret 2012

Di Mesjid Baitul Futuh, Morden-London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Dalam Khotbah Jum’at yang lalu para anggota Jemaat telah saya ingatkan mengenai kewajiban bagi seorang Ahmadi untuk memenuhi janji-janji yang tercantum didalam syarat-syarat baiat. Di dalam khotbah itu sudah diterangkan dengan jelas semua syarat [baiat] dengan berbagai kutipan nasehat-nasehat Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam. Dengan mempelajari syarat-syarat [baiat] tersebut dan membaca, mendengar serta merenungkan buku-buku dan malfuuzhaat (sabda-sabda) Hadhrat Masih Mau’ud as kita mengetahui bahwa beliau as menghendaki agar kita mengadakan perubahan revolusioner (mendasar dan besar) didalam diri kita dengan menerapkan ajaran Islam yang hakiki pada diri kita dan meluruskan serta memperbaiki itikad (kepercayaan) dan amal perbuatan kita. Sebab, tanpa melakukan itu, maksud dan tujuan agung kebangkitan beliau as yang sangat diperlukan oleh dunia zaman sekarang tidak akan dapat dicapai yang dengan itu qurb (kedekatan dengan) Allah Ta’ala dapat dihasilkan.

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Dengan perantaraan silsilah (mata rantai Jemaat) ini Allah Ta’ala menghendaki dan Dia telah menampakkannya kepada saya bahwa ketakwaan sudah sangat berkurang. Banyak orang yang secara terang-terangan terlibat didalam perbuatan-perbuatan yang tidak bermalu dan mereka terbenam dalam kehidupan penuh kefasikan dan dosa dan banyak diantara mereka yang mencampurkan perkara-perkara buruk didalam amal perbuatan mereka. Namun demikian, mereka tidak menyadari bahwa jika sedikit saja racun tertuang kedalam makanan mereka maka semua makanan itu tercemar oleh racun itu. Banyak orang yang terlibat dalam dosa-dosa kecil atau perbuatan riya (pamer) dan lain sebagainya yang cabang-cabangnya sangat halus.”

“Sekalipun setiap orang menganggap bahwa secara lahiriah mereka adalah orang-orang beragama namun mereka terlibat dalam ujub, riya, maksiat yang kecil-kecil yang hanya nampak melalui kebijaksanaan mikroskopik.”

Bersabda, “Sekarang Allah Ta’ala menghendaki agar contoh kehidupan yang suci bersih dan kehidupan orang bertakwa diperlihatkan kepada dunia. Untuk maksud inilah Tuhan telah mendirikan Silsilah ini. Dia menginginkan penyucian dan mendirikan sebuah Jemaat suci itu adalah tujuan-Nya.” [2]

Jadi, Allah Ta’ala yang telah mendirikan Jemaat ini maka Dia ingin menyucikan orang-orang yang masuk kedalamnya agar berdiri Jemaat suci dan Hadhrat Masih  Mau’ud as menghendaki agar setiap orang dari kita memasang mikroskop. Dengannya kita memeriksa diri sendiri. Kita mengadakan muhasabah (penilaian atau perhitungan) tentang diri sendiri. Di mana dilakukan perbaikan terhadap kepercayaan yang salah disana kesalahan-kesalahan amal perbuatan yang sekecil apapun dapat diperbaiki. Menyaksikan sepenuhnya amal perbuatan masing-masing. Dengan kebijaksanaan mikroskopik inilah dapat diperlihatkan kesalahan-kesalahan itu kepada kita dalam bentuk yang besar. Sebab mikroskop adalah alat pembesar untuk melihat benda sekecil apapun menjadi nampak lebih besar.

Maka untuk melihat dosa-dosa kita; untuk melihat kesalahan-kesalahan kita untuk melihat kelemahan-kelemahan kita terpaksa (mau tak mau) harus menggunakan mikroskop yang dengannya kita dapat memeriksa dan mengoreksi keadaan diri pribadi kita. Dengan cara berpikir demikian kita harus memeriksa keadaan diri pribadi kita. Maka penda’waan kita pribadi [pernyataan dan pengakuan sebagai Ahmadi] dan Jemaat yang didirikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bukanlah hal kecil dan sederhana. Bukanlah penda’waan kita itu kecil atau tidak berarti dan bukan pula Jemaat Ahmadiyah ini sebuah Jemaat kecil dan tak berarti. Allah Ta’ala dengan mensucikan orang-orang Jemaat ini ingin mendirikan sebuah Jemaat yang suci bersih. Untuk maksud itu Dia telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Masih Mau’ud dan Mahdi Mau’ud. Setiap orang Ahmadi harus selalu memperhatikan bahwa contoh kehidupan yang berketakwaan dan sucilah yang dapat membangkitkan revolusi dalam kehidupan kita. Perubahan secara revolusioner, perbaikan itikad sangat erat kaitan dan pengaruhnya terhadap perbaikan amal. Hanya saja perbaikan dengan itikad tidak dapat mendatangkan faedah apabila tidak disertai dengan perbaikan amal perbuatan. Jika setiap orang Ahmadi tidak memikirkan amal perbuatannya, akidah apa yang harus kita pegang dan amal perbuatan apa yang harus kita perhatikan sepenuhnya, sebagaimana kutipan dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah saya bacakan, kita lihat bahwa kebaikan yang sekecil-kecilnyapun harus diperhatikan dan harus diamalkan. Itulah yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

Kemudian beliau as menjelaskan lebih lanjut mengenai mutu hakekat akidah dan amal kepada Jemaat di satu tempat beliau as telah mengingatkan kita,

“Intisari madzhab (keyakinan, agama) kita (Apakah akidah kita? Akidah juga harus jelas dan bersama akidah itu amal perbuatan kita harus jelas.) Intisari akidah kita adalah dengan penuh yakin kita percaya “لا إله إلا الله، محمد رسول الله” ’laa ilaaha illallahu muhammad rasulullah’ – “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.” Itikad kita di kehidupan dunia ini sampai kita dengan karunia dan taufik Baarii Ta’ala (Tuhan) akan meninggalkan dunia sementara ini tiada lain adalah Hadhrat Sayyidina wa Maulana Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa sallam adalah Khatamun Nabiyyin dan Khairul Mursalin yang melalui tangan beliau penyempurnaan agama telah terjadi dan nikmat sudah mencapai martabat yang atmaam (cukup, mencukupi). Dengan perantaraannya setelah mendapat jalan lurus manusia dapat sampai kepada Allah Ta’ala. Dengan keyakinan yang teguh kami beriman bahwa Alquranul Karim adalah Khatamul Kutub Samawi (yang khatam/paling sempurna dari kitab-kitab Langit) dan satu titikpun, undang-undangnya, hukum-hukumnya, perintah-perintahnya tidak bisa lebih dan tidak bisa pula kurang dari itu. Sekarang tidak dapat turun lagi wahyu atau ilham dari Allah Ta’ala yang dapat merubah hukum-hukum Furqan (Qur’an) atau memansukhkan atau merubah sesuatu hukumnya. Jika ada seorang yang mengira tidak seperti itu maka menurut pandangan kami ia keluar Jemaat Mu’miniin (Jemaat orang-orang beriman), mulhid (atheis) dan kafir. Dan kami juga beriman bahwa derajat paling rendah sekalipun dari shirathal mustaqim (jalan yang lurus) tidak dapat diperoleh oleh manusia tanpa mengikuti Nabi kita Muhammad saw, demikian juga derajat paling luhur (tinggi) dari shirathal mustaqim tidak akan dapat diraih tanpa mengikuti Imamur Rusul (pemimpin para rasul, Nabi Muhammad saw). Tidak ada martabat luhur dan sempurna dan tidak ada kedudukan terhormat dan qurb dapat kita peroleh tanpa mengikuti jejak Nabi saw secara murni dan kamil (sempurna). Apapun yang kami peroleh tiada lain dengan mengikuti secara patuh dan dengan cara bernaung kepada beliau. Kami juga percaya bahwa orang-orang yang jujur dan orang-orang yang kamil mendapat kedudukan kamil dan luhur setelah bergaul erat dan sangat intim dengan Hadhrat Rasulullah saw. Derajat kesempurnaan mereka juga dengan kesempurnaan kami jika dapat diraih hanya sebagai bayangan dari beliau saw. Dan diantarnya ada bagian dari keistimewaan itu yang sekarang tidak dapat kita hasilkan. Kebanyakan orang-orang di zaman Rasulullah saw memperoleh keistimewaan yang tidak dapat diraih oleh orang-orang di zaman sekarang.” [3]

Kemudian beliau as bersabda, ”Rukun Islam yang lima adalah akidah kita. Kita mengikuti ajaran Alqur’an sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Seperti yang telah diucapkan oleh (Hadhrat Umar) Faruqi radhiyallahu ‘anhu lidah kita juga berkata “حسبنا كتاب الله” ‘Hasbuna kitabullah’ – “Cukuplah bagi kita Kitab Allah” Seperti Hadhrat Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata di waktu terjadi pertentangan dan perbedaan pendapat muncul mengenai Hadis dan Alqur’an (yakni terjadi pertentangan diantara keduanya), ‘Kita mengutamakan Alqur’an.’ (memilih Alqur’an diatas Hadits) Khususnya dalam kisah-kisah (riwayat-riwayat) yang secara ittifaaq (kesepakatan) tidak patut tertolak. Kami beriman kepada hal ini bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Allah Ta’ala dan Sayyidina Hadhrat Muhammad Mushthafa saw adalah Rasul-Nya dan Khatamul Anbiya. Kami beriman bahwa malaikat-malaikat adalah haq (benar adanya), Hari Kebangkitan adalah haq, Hari Hisab (penghitungan dan pertanggungjawaban amal) adalah haq, jannah (surga) adalah haq, jahannam (neraka) adalah haq. Kami beriman kepada apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam Alqur’anul Karim dan apapun yang Nabi Kita saw sabdakan semua sesuai dengan yang tersebut diatas adalah benar. Kami beriman bahwa siapa pun yang mengurangi atau menambah di dalam hukum-hukum syariat Islam sekalipun sebesar zarrah atau meninggalkan kewajiban-kewajiban atau membuat sesuatu hal sebagai alternatif (yakni dengan kehendak sendiri, dimana perlu ia merubah, halal dan haram dia atur atau dia putuskan sendiri) maka dia adalah orang tidak beriman dan keluar dari Islam. Kami menasehati Jemaat kami supaya beriman dengan hati yang sesungguhnya pada kalimah thayyibah “لا إله إلا الله، محمد رسول الله” ‘Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah’ dan mati diatas kalimah itu. Kami beriman kepada semua nabi dan beriman kepada semua kitab yang kebenarannya terbukti dari Alquranul Karim. Kami memandang wajib [mengamalkan] shaum (puasa), shalat, zakat dan haji dan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya; memandang semua kewajiban itu sebagai kewajiban dan memandang semua larangan yang telah ditetapkan sebagai larangan yang harus dijauhi. Pendeknya, semua hal yang i’tiqaadi (secara kepercayaan) dan ’amalii (secara amalan) para salafush shaalihiin (orang-orang saleh abad-abad pertama setelah Hijrah) telah ijma’ (sepakat, setuju) dan semua hal yang Ahlus Sunnah secara ijma’ telah menyebutnya Islam; menerima semua hal itu adalah suatu kewajiban. Kami hadapkan langit dan bumi sebagai saksi bahwa itulah mazhab kami.” [4]

Selanjutnya, sambil menyatakan itikad bahwa selain Zat Allah Ta’ala setiap benda adalah fana (hancur-lebur) Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dengan jelas bahwa Hadhrat Isa ‘alaihis salaam adalah seorang manusia, nabi Allah, dan dilihat dari segi itu setelah mencapai satu usia, telah wafat. Ya, Allah Ta’ala telah menyelamatkan beliau dari kematian diatas kayu salib. Setelah Allah Ta’ala menyembuhkan luka-luka salib beliau pergi berhijrah dan wafat di Kasymir. Walhasil, mengenai akidah wafat Nabi Isa as beliau as bersabda,

”Saya mengetahui dengan keyakinan dan keimanan bahwa Nabi Isa as sudah wafat, memasuki kematian dan saya sangat meyakini atas kematiannya. Mengapa harus tidak yakin? Sedangkan Tuhanku didalam Kitab-Nya yang Agung didalam Alqur’anul Karim telah menggabungkan beliau as dalam jemaat mutawaffiyun (golongan yang sudah wafat) dan di seluruh isi Al Qur’an tidak terdapat satu kali pun yang  menyebutkan mengenai kehidupan beliau as yang di luar kebiasaan dan akan datang lagi ke dunia melainkan setelah mengatakan beliau sudah wafat lalu diam. Oleh karena itu, kepercayaan masih hidupnya beliau as dengan unsur-unsur jasad kasar kemudian akan datang kembali ke dunia menurut pemahaman saya bukan hanya bertentangan dengan ilham-Nya sendiri bahkan anggapan masih hidupnya Al-Masih itu menurut saya itu adalah batil dan sia-sia dipandang dari segi nash-nash bayyinah qath’iyah yaqiniyyah Alqur’anul Karim.” [5]  Yakni berdasarkan ayat-ayat Alqur’an yang qath’i, jelas dan meyakinkan saya percaya bahwa Isa as sudah wafat dan saya menganggap bathil dan sia-sia mempercayai Isa as masih hidup.

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa dari segi keyakinan antara kalian (orang-orang Ahmadi) dengan orang-orang Muslim lainnya tidak ada perbedaan apa pun. Mereka menerima (mengimani) arkaanul islaam (Rukun Islam), kalian juga demikian. Mengenai Rukun Iman sebagaimana setiap orang Ahmadi menyatakan diri mempercayainya demikian juga orang-orang [Muslim] lainnya menyatakan mempercayainya. Bahkan, setelah kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as, segolongan orang sudah mulai menerima telah wafatnya Nabi Isa as. Pendapat mengenai ‘Khuuni Mahdi’ (Mahdi penumpah darah), yakni sekelompok orang-orang Muslim percaya bahwa apabila Imam Mahdi datang maka dia akan membunuh orang-orang yang tidak beriman kemudian melakukan reformasi (perbaikan) juga telah berubah. Dua Jum’at yang lalu saya menjelaskan beberapa kisah tentang para shahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Dari antara beliau-beliau itu ada seorang bertanya kepada Maulwi Muhammad Hussen Batalvi, “Tuan Maulwi sudah menolak kedatangan Imam Mahdi yang menumpahkan darah dan kepada orang-orang tuan mengatakan bahwa Tuan Maulwi tidak percaya mengenainya. Namun ketika Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Mahdi penumpah darah tidak akan datang, mengapa Tuan Maulwi menyatakan keberatan?” Maka dia berkata, “Pergilah engkau jika mau baiat kepada Tuan Mirza baiatlah! Jangan berpikir banyak tentang dulu pendapat saya seperti itu.” Orang-orang itu [para ulama] apabila berdiri untuk menentang Hadhrat Masih Mau’ud as maka mereka akan berkata bahwa Mahdi penumpah darah juga akan datang dan Masih juga akan datang padahal banyak dari antara mereka yang sebenarnya sudah merubah pandangan mereka.

Dengan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as tercipta pembetulan di dalam beberapa keyakinan di kalangan kaum Muslim. Bahkan 76 tahun sebelum ini Hadhrat Mushlih Mau’ud (Khalifatul Masih ats-Tsaani) ra telah menyampaikan bukan hanya satu khotbah tetapi beberapa khotbah secara beruntun dengan tajuk ‘perbaikan itikad dan amal’. Di dalamnya beliau ra bersabda bahwa di antara sepuluh orang cendekiawan di Hindustan mungkin satu orang pun tidak ada yang mengatakan bahwa Isa as masih hidup. [6]

Demikian juga sejauh mana tentang mansuukhnya ayat-ayat suci Alqur’anul Karim kini umumnya tidak diperbicangkan lagi mengenai naasikh-mansukh; tidak dibahas dengan gencar seperti di masa-masa sebelumnya. [7]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra juga telah membuktikan bahwa setelah kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud as, beberapa akidah yang mulanya dipegang secara teguh oleh kebanyakan orang Muslim sekarang mereka sudah mulai mengingkarinya; mereka tidak memegang teguh, atau mereka menerima; atau mereka diam tidak menanggapinya. [8]

Sekarang banyak ulama dan cendekiawan termasuk juga dari Arab mulai berkata menentang gerakan jihad dan pandangan jihad mereka yang menyukai kekerasan. Bahkan, mengenai jihad mereka mulai berkata bahwa jihad sekarang ini yang dilakukan adalah salah. Jadi perubahan akidah tentang Jihad itu yang mulanya dianggap sebagai itikad utama, setelah penda’waan Hadhrat Masih Mau’ud a.s dan para cendekiawan yang juga para pembesar dunia yang mempunyai kaitan dengan itikad itu mulai mengatakan contohnya mengenai jihad dan yang lain-lain bahwa itu adalah salah. Perubahan ini timbul di kalangan mereka setelah kebangkitan beliau as dan setelah beliau as jelaskan dengan betul tentang jihad itu. Biar mereka itu menerima Ahmadiyah atau tidak. Hal ini juga sebagai bukti hal ini bahwa mengenai pertanyaan-pertanyaan soal akidah-akidah Jemaat Ahmadiyah bahwa sekelompok besar dari kalangan ghair (non Ahmadi) pun terpaksa menerimanya. Sekarang pembahasan terpusat kepada masalah kedudukan Hadhrat Masih Mau’ud as apakah beliau sebagai Nabi atau bukan? Hal ini juga insya Allah Ta’ala pada suatu hari akan terjawab. Demikian juga terhadap pendirian Jemaat secara umum, mengenai ta’lim dan juga mengenai akidah-akidah mereka tidak mau mengerti dan mereka berusaha membantahnya. Padahal mereka tidak memiliki dalil apapun. Apabila terjadi diskusi mengenai akidah dengan kita mereka tidak dapat menjawabnya, maka akhirnya mereka marah dan melakukan kekerasan dan menyerang kita secara fisik sampai membunuh orang kita. Hal itu sedang dilakukan oleh sebagian besar golongan Muslim menentang Jemaat Ahmadiyah khususnya di negara Pakistan bahkan sekarang terjadi di beberapa tempat di India juga. Dan itulah sebagai bukti bahwa untuk menunjukkan kesalahan akidah kita mereka tidak memiliki dalil (argumentasi, alasan) apapun baik qur’aani daliil (dalil berdasarkan Alqur’an) maupun ’aqlii daliil (dalil akal). Apabila mereka merasa terkalahkan dan terpojokkan maka mulailah mereka melakukan serangan secara fisik.

Maka dari segi akidah-akidah dan dari segi dalil-dalil mereka tidak dapat melawan kita orang-orang Ahmadi. Orang-orang Ahmadi yang merasa lemah kurang ilmu pengetahuan harus berusaha keras memperkuat diri dengan ilmu dan dalil-dalil. Sekarang melalui siaran MTA juga banyak program seperti Rahe Huda dan lain-lain sengaja disusun agar sebanyak mungkin anggota Jemaat belajar dari padanya agar tidak menjadi korban rendah diri dan merasa serba kekurangan. Bagaimanapun dengan karunia Allah mayoritas anggota Jemaat illa masyaa Allah memiliki pengertian dan akidah yang kuat. Jika ada yang lemah juga maka ingatlah bahwa akidah yang telah dikemukakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as kepada kita itulah Islam sejati. Orang-orang ghair Ahmadi tidak mempunyai kemampuan untuk membantahnya. Maka barangsiapa yang merasa dirinya lemah harus berusaha memperkuat dirinya. Tidak perlu menunjukkan suatu kelemahan apapun kepada orang lain. Dari segi akidah dan ilmu, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyediakan karya-karya tulis yang sarat dengan dalil-dalil yang sangat kuat dan tangguh bagi kita. Demikian juga beliau telah banyak sekali mengingatkan kita terhadap perkara-perkara amal saleh.

Sejauh mana yang menyangkut dengan akidah dan literatur ilmu pengetahuan yang kesan pengaruhnya seperti telah saya katakan sangat memberi kesan terhadap orang-orang ghair yang walaupun mereka tidak menjadi Ahmadi juga. Akan tetapi hanya perbaikan di bidang akidah saja tidak cukup. Hadhrat Masih Mau’ud as datang untuk mengadakan perbaikan di bidang amal juga. Selama perbaikan terhadap amal-amal kita belum dilakukan maka reformasi terhadap akidah tidak akan membawa manfaat apapun. Sebab, amal perbuatanlah yang membuat orang-orang ghair tertarik masuk Jemaat, mendengarkan kata-kata kita atau sekurang-kurangnya mereka diam (tidak membantah). Sesungguhnya amal saleh dan perubahan-perubahan suci pada diri kita merupakan ‘khamusy tabligh’ (silent tabligh atau tabligh tak bersuara). Banyak orang yang sudah dekat sekali dengan Jemaat dan siap untuk baiat kemudian menjauh sebabnya tiada lain karena amal perbuatan seorang Ahmadi yang tidak baik telah menyebabkannya tergelincir.

Maka di zaman sekarang ini kita semakin menjauh dari zaman Hadhrat Masih Mau’ud as. Sangat perlu sekali bagi kita untuk menjaga akidah beserta amal-amal kita dan hal itu sangat perlu sekali. Dalam segi akidah kita yakin selalu menang akan tetapi jika tidak ada amal nyata sesuai dengan akidah atau tidak beramal sesuai dengan ajaran yang telah diberikan dan ia tidak berusaha untuk menerapkan pada diri sendiri maka lambat laun selangkah demi selangkah akan tinggal nama saja. Sebagaimana kita lihat keadaan mayoritas orang-orang Muslim yang terlibat dalam perbuatan yang salah. Jika mengerjakan shalat juga mereka hanya sekedar mengerjakan saja. Bahkan sebagian besar dari mereka tidak ingat kewajiban shalat. Berkata dusta sudah biasa, perbuatan yang memalukan juga tanpa segan dan ragu berlaku dimana-mana secara terbuka. Beberapa hari yang lalu seorang teman ghair Jemaat datang berjumpa. Ia berkata, “Saya tidak mengerti mengapa pelaku kekerasan dan mengaku dirinya orang Islam di berbagai tempat melakukan penyerangan mengatasnamakan membela Islam dan mereka ingin menerapkan sistim Islam. Mereka menyerang sekolah-sekolah, menyakiti anak-anak dan perempuan yang tidak bersalah. Akan tetapi ketika saya pergi ke Pakistan dan pergi ke Islamabad di sana saya lihat di tepi jalan raya berdiri sebuah pabrik minuman keras yang disebut Brewery. Namun kenapa orang-orang garis keras itu tidak melakukan penyerangan terhadap pabrik itu. Padahal ia jelas terbuka.” Demikian pula ia berkata, “Melalui saluran TV juga terdapat tayangan program orang-orang telanjang [tidak berpakaian dengan sopan sesuai ajaran Islam] dan tak bermalu di Pakistan dan juga di saluran TV Muslim tetapi tidak ada orang yang berani melakukan suatu protes atau mereka tidak melakukan penyerangan terhadap mereka.” Walhasil itulah keadaan amal perbuatan para pelaku kekerasan. Sedangkan Hadhrat Rasulullah saw mengirimkan laknat baik terhadap pembuat minuman keras ataupun penyimpannya, penjualnya, pelayan pemberi minuman dan kepada peminumnya. [9]

Jadi mereka itu sudah kebal menerima laknat, bergelimang dalam minuman keras. Akan tetapi sebaliknya mereka tidak dapat tahan mendengar orang-orang Ahmadi membaca kalimah syahadat.

Bagaimanapun, kita juga di sini tinggal didalam lingkungan masyarakat seperti itu dan tekanan serta kesan dari lingkungan masyarakat ini juga sangat keras terhadap kita. Kita semua harus berhati-hati sekali. Sambil memahami maksud dan tujuan kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud as kita harus menaruh perhatian khusus terhadap amal perbuatan kita. Barulah kita dapat memenuhi tuntutan perlunya penjagaan terhadap diri kita. Khususnya orang-orang tua harus menjaga dan mengawasi para pemuda dan anak-anak mereka. Anak-anak muda sendiri harus berhati-hati menjaga diri dari barang terlarang itu. Zaman sekarang musuh-musuh langsung masuk kedalam rumah-rumah sambil menyebarkan akhlak yang buruk dan berusaha merusak amal perbuatan setiap orang. Sebagaimana telah saya katakan bahwa melalui siaran TV mereka berusaha merusak akhlaqiyyat dan amal-amal saleh manusia. Selain itu internet dan juga benda-benda lainnya. Jika kita tidak bangkit dan bersatu padu melakukan jihad menanggulangi masalah ini, maka untuk perbaikan amal dan untuk menyelamatkan diri dari padanya tidak ada jalan lain kecuali kita memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Kita harus berseru kepada Tuhan barulah kita akan selamat, tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Saya meyakini Tuhan.” Bahkan kita harus menciptakan hubungan yang erat dengan Tuhan. Supaya kita selamat dari serangan-serangan setan yang sudah masuk kedalam kamar-kamar rumah kita. Sebab selain dengan cara itu tidak ada jalan lain lagi untuk menyelamatkan diri kita.

Konon, ada seorang murid yang belajar dari seorang suci. Ketika ia sudah belajar dan siap mau pulang maka orang suci itu bertanya kepada murid tersebut, “Di tempat mana kamu akan kembali apakah di sana ada setan juga?” Dengan heran murid itu menjawab, “Di tempat mana tidak ada setan? Di setiap tempat ada setan.” Orang suci itu berkata, “Apa yang telah kamu belajar dan pelajari tentang agama dan tentang akhlaqiyyat apabila kamu mulai mengamalkannya dan setanpun akan mulai menyerang kamu maka apa yang akan kamu lakukan?” Jawab murid itu, “Akan saya lawan dia.” Beliau berkata lagi, “Baiklah. Jika kamu lengah dan setan menyerang lagi apa yang akan kamu lakukan?” Dia jawab, “Akan saya lawan lagi.” Pendeknya setelah dua tiga kali ditanya dan jawabannya seperti itu. Maka dikatakan kepadanya, “Jika kamu pergi ke rumah teman kamu dan di pintu rumahnya itu ada seekor anjing duduk di situ lalu ia menggonggong  dan menyerang mau menggigit kamu, apa yang akan kamu lakukan?” Dia menjawab, “Akan saya gebrak dia dan saya usir dari situ.” “Jika dia menyerang lagi?” “Akan saya lakukan seperti itu lagi.” “Jika kamu lakukan terus-menerus seperti itu maka kamu tidak akan bisa sampai jumpa dengan teman kamu itu. Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?” Dia menjawab, “Akhirnya akan saya panggil teman saya itu supaya anjingnya itu dipegang.” Orang suci itu selanjutnya berkata, “Setan juga seperti anjing. Setan adalah anjing kepunyaan Tuhan. Agar selamat dari serangan setan kamu juga harus mengetuk pintu-Nya dan memanggil-Nya.” [10]

Kita jangan mengira bahwa kita sudah memiliki banyak ilmu pengetahuan agama dan sudah mengenal banyak akhlaqiyyat dan sudah tahu kebaikan-kebaikan, sudah lancar mengerjakan shalat. Jika tetap mempunyai anggapan demikian dan setan pun akan terus melakukan serangan-serangan maka kita tidak akan bisa berbuat apa-apa.

Adalah penting memohon pertolongan secara khusus kepada Allah Ta’ala. Kita harus beribadah kepada-Nya dengan hati yang bersih dan ikhlas. Barulah saat itu dapat selamat dari bahaya serangan-serangan setan. Untuk dapat menciptakan hubungan erat dengan Allah Ta’ala dan untuk meraih qurb-Nya tidak cukup hanya dengan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan memperbaiki iman saja. Untuk itu harus berseru kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepada-Nya. Sebagaimana telah saya katakan, harus menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala dengan hati bersih dan ikhlas sambil merundukkan kepala di hadapan-Nya. Dimana perhatian sepenuhnya dipusatkan kepada-Nya. Berupaya secara amalan, giat membaca istighfar dan bertaubat dengan tekun, disana yang paling utama dan penting adalah shalat. Didalam Alquranul Karim Allah Ta’ala berkali-kali mengingatkan kita untuk mendirikan shalat. Hadhrat Rasulullah saw juga menjelaskan bahwa shalat adalah mi’raj bagi orang-orang mukmin. [11] yakni keadaan orang mukmin sangat dekat dengan Allah Ta’ala dan dia bercakap-cakap dengan-Nya. Maka jika ingin selamat dari serangan setan dan ingin selamat dari bahaya keburukan-keburukan zaman dan dari perkara-perkara maksiat maka jagalah shalat-shalat dengan sebaik-baiknya. Tanda-tanda kemenangan orang-orang mukmin yang telah diberitahukan Allah Ta’ala ialah menjaga shalat-shalat mereka. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman, اِنَّ الصَّلٰوۃَ  تَنۡہٰی عَنِ الۡفَحۡشَآءِ  وَ الۡمُنۡکَرِ ‘innash shalaata tanhaa ‘anil fahsyaa-i wal mungkar’ – “Sesungguhnya shalat mencegah manusia dari perbuatan keji dan munkar.” (Al Ankabut, 29:46)  Dengan yakin shalat mencegah manusia dari perbuatan keji dan perbuatan munkar. Yakni shalat yang dikerjakan dengan ikhlas demi meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Jadi, untuk menyelamatkan diri dari serangan setan sarana yang paling besar untuk berseru meminta pertolongan kepada Tuhan adalah shalat. Pada zaman sekarang masyarakat tenggelam dalam perkara-perkara laghwiyyat (hal-hal sia-sia menghabiskan waktu tiada guna) sehingga mereka harus diarahkan untuk banyak menaruh perhatian ke arah itu [shalat]. Anak-anak harus dijaga sebaik-baiknya supaya mereka rajin menunaikan shalat. Sebelum menyuruh anak-anak muda dan anak-anak kecil, orang-orang dewasa harus melakukan muhasabah, harus memeriksa diri pribadi sendiri. Apabila Allah Ta’ala berfirman وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ ’wa yuqimuunash shalaata’ maksudnya shalat harus dilaksanakan secara berjamaah, arahkanlah perhatian kepada itu. Saya melihat bersamaan dengan datangnya musim panas (summer) waktu shalat (di London UK) berubah menjadi mundur dan malam menjadi lebih pendek maka di waktu fajar (shalat shubuh) mulai berkurang yang hadir. Beberapa hari yang lalu ketika waktu shalat belum mundur sepenuhnya dan pukul lima mulai waktu untuk fajr ki namaaz (shalat shubuh) maka yang hadir untuk shalat shubuh mulai berkurang. Sekarang waktu shalat sudah bertambah satu jam kedepan yang hadirpun untuk shalat sudah mulai bertambah baik dan jumlah yang hadir pada Hari Jum’at juga sudah mulai membaik. Sekarang waktu akan mundur lagi maka untuk itu bagi yang dewasa juga harus menaruh perhatian. Jika disebabkan mundurnya waktu mulai timbul kemalasan maka hal ini tidak betul oleh karena itu saya sedang mengingatkan bersamaan dengan mundurnya waktu jangan membuat berkurangnya jumlah yang hadir untuk shalat shubuh. Khususnya para pengurus jangan menunjukkan kemalasan dalam mengikuti shalat berjamaah. Disebabkan perasaan mengantuk orang-orang menjadi malas. Jika jumlah yang hadir selalu dipertahankan dan para pengurus dari setiap level (tingkatan) mulai banyak yang hadir di Mesjid maka keramaian Mesjid akan bertambah semarak. Dan tentu akan membawa kesan baik terhadap anak-anak dan juga terhadap para remaja dan akan menimbulkan perhatian mereka terhadap shalat. Harus diingat selalu bahwa martabat seseorang bukan dinilai karena jabatan (kepengurusan). Di hadapan dunia memang karena jabatan atau pangkat. Akan tetapi tujuan utama kita adalah meraih kecintaan Allah Ta’ala. Dan hal itu dapat dihasilkan dengan shalat sebagaimana Rasulullah saw bersabda, الصلاة معراج المؤمن “Shalat adalah mi’raj (alat naik) orang beriman.” Mi’raj inilah yang harus dihasilkan oleh setiap orang mukmin.

Jadi, lebih dahulu para anggota pengurus harus mengoreksi diri mereka kemudian mengingatkan orang-orang dibawah asuhan seperti anak-anak, para pemuda dan orang-orang-orang lain juga. Kesuksesan (keberhasilan) kita akan  terletak pada sempurnanya shalat didirikan setiap waktu. Jika tidak demikian, hanya dengan meyakini Nabi Isa sudah wafat, atau karena percaya tidak ada ayat Alqur’an yang mansukh; atau percaya bahwa semua Nabi adalah ma’shum (terjaga dari dosa, dilindungi oleh Allah dari melakukan keburukan akhlak dan rohani) atau percaya bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as adalah benar Masih dan Mahdi yang kedatangannya telah dinubuatkan maka kesuksesan kita bukan dengan hal itu. Kejayaan kita terletak pada keadaan amal saleh  kita apabila sudah sesuai dengan ajaran yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada kita. Yang paling utama dan paling penting adalah menciptakan hubungan erat dengan Allah Ta’ala melalui shalat. Jika tidak, pengakuan kita bahwa kita tidak melakukan syirik adalah tidak benar. Syirik telah dilakukan apabila shalat tidak dijaga atau ditinggalkan. Allah Ta’ala memerintahkan, “Dirikanlah shalat! Mari datang untuk menunaikan shalat.” Jika shalat tidak dijaga maka artinya ada sesuatu hal yang menjadi pengganti shalat itu dan ia dianggap lebih penting dari shalat. Itulah syirik khafi (syirik yang tersembunyi ) namanya.

Kemudian lagi, amal saleh yang telah diingatkan Allah Ta’ala kepada kita untuk mengamalkannya adalah menunaikan kewajiban terhadap sesama yang lain. Disebabkan terlalu sibuk dalam urusan duniawi manusia menjadi lupa menunaikan kewajiban terhadap sesamanya. Sangat memalukan dan menyedihkan sekali ketika saya menerima surat-surat dari luar Jemaat yang mengatakan, “Si Fulan sebagai anggota Jemaat Ahmadiyah telah menipu saya. Hak saya telah diambil.” Masalah begini seperti telah saya sampaikan dapat menghambat laju pertablighan Jemaat; bahkan, membuat orang Ahmadi baru tergelincir. Beberapa hari yang lalu seorang Ahmadi Arab telah menulis surat kepada saya bahwa dia meninggalkan Jemaat sebabnya ia melihat perilaku beberapa orang Ahmadi yang sangat mengecewakan. Akan tetapi dari segi akidah ia tetap yakin bahwa da’wa Hadhrat Masih Mau’ud as adalah benar. Maka, dimana terdapat kesalahan mereka seperti ini dengan melihat kesalahan orang-orang Ahmadi mereka menjauh dari Jemaat dan memutuskan hubungan dengan nizam Jemaat, di sana juga orang-orang Ahmadi itu harus merenungkan; banyak pengurus juga [harus merenungkan] alangkah besarnya dosa mereka yang menjadi penyebab seseorang tergelincir [menjauhi Jemaat, menjauh dari kebenaran].

Sekarang secara khusus saya ingin mengingatkan kearah suatu hal bahwa dengan karunia Allah anggota Jemaat memang berlomba-lomba dalam menyerahkan pengorbanan. Akan tetapi ada sebuah faktor pengorbanan harta yang harus mendapat perhatian sepenuhnya yaitu Zakat. Terutama perempuan-perempuan yang memiliki macam-macam perhiasan. Demikian juga orang-orang yang mempunyai uang dan mengendap didalam tabungan mereka lebih dari satu tahun. Ada juga orang-orang Ahmadi yang tidak menaruh perhatian terhadap Zakat padahal ia harus menaruh perhatian sepenuhnya. Namun pasti ada juga sejumlah Ahmadi yang sangat cermat menghitung-hitung uang candah ataupun Zakatnya walaupun satu paisa (rupiah) pasti ia bayar. Akan tetapi ada juga orang Ahmadi yang karena menganggap dirinya sudah banyak membayar candah dia tidak membayar Zakat, sebabnya ia tidak mengetahui betapa pentingnya Zakat itu; atau Sekretaris Maal tidak memberi ingat kepada mereka yang akibatnya mereka tidak menyadari akan pentingnya zakat. Maka hal itu sangat perlu untuk diperhatikan.

Kemudian tentang mengadakan perubahan dalam amal perbuatan termasuk  dalam setiap keburukan yang menurut perintah Alqur’an harus dicegah dan setiap kebaikan yang menurut Alqur’an harus berusaha mengamalkannya. Maka kita harus memperhatikan petunjuk dan nasehat-nasehat dari Hadhrat Masih Mau’ud as yaitu dari 700 macam perintah yang terkandung dalam Alqur’an satu pun perintah jangan diabaikan. [12]

Maka kita harus selalu giat dalam usaha untuk menghindari dosa sekalipun nampaknya kecil. Pada permulaan ketika saya membaca kutipan dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud as saya jumpai sabda beliau untuk mengingatkan kita, “Apabila sudah terlibat melakukan dosa kecil jangan menganggap dosa itu kecil atau menganggapnya bukan dosa sekalipun dosa yang diperbuatnya itu tidak nampak kepada orang lain. Sekarang gunakanlah alat mikroskop (mikroskop spiritual) untuk melihatnya maka ia akan jelas terlihat. Kemudian melalui alat itu adakan pemeriksaan terhadap dirinya sendiri. Maka barulah akan tahu bahwa hal itu adalah sebuah dosa.” Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan contoh riya (perbuatan baik untuk pamer). Hal seperti itu tidak akan nampak terhadap banyak orang. Jika manusia mengadakan introspeksi (pemeriksaan) kedalam dirinya sendiri maka ia akan tahu bahwa pekerjaan yang sedang dilakukannya apakah karena Allah Ta’ala atau hanya untuk pamer saja kepada dunia? Jika manusia tahu, “Setiap perbuatan saya harus saya lakukan atau akan saya lakukan hanya untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala.” Jika betul demikian maka iapun akan menerima ganjaran dari Allah Ta’ala dan ia selalu berusaha untuk melakukan amal-amal baik. Barulah dia akan terus mengadakan peninjauan, “Saya akan mencari kesempatan perbuatan baik sebanyak-banyaknya dan melaksanakannya.” Tatkala ini akan terjadi maka selanjutnya tidak akan muncul riya dan juga perbuatan keburukan lainnya.

Demikian pula, dalam Alquranul Karim juga terdapat perintah untuk berlaku baik terhadap keluarga. Diantara mereka yang pertama harus diperlakukan dengan baik adalah ibu bapa dan isteri serta anak-anak. Sehubungan dengan ini saya ingin mengingatkan bahwa di zaman sekarang kaum laki-laki dan kaum perempuan keduanya kurang berlaku sabar atau kurang berlaku toleran. Padahal Allah Ta’ala sangat menegaskan agar orang-orang mukmin harus bersabar dan toleran. Disebabkan kekurangan itu jumlah pasangan keluarga yang bercerai semakin meningkat. Mereka yang sudah mempunyai anak-anak tidak menyadari bagaimana pengaruhnya terhadap anak-anak mereka. Maka hal ini menunjukkan kurangnya ketakwaan dan lemahnya amal saleh didalam diri kedua belah pihak.

Harus menjadi bahan pemikiran bagi setiap Ahmadi bahwa kebenaran diri kita yang sesungguhnya baru akan nampak jelas kepada orang lain apabila kita berlaku benar dan jujur didalam setiap urusan. Jika didalam urusan-urusan pribadi kita, dalam urusan yang mendatangkan faedah bagi diri sendiri, kita berlaku selfishness (egois, mementingkan diri sendiri, tidak peduli orang lain), maka setelah baiat janji untuk memperbaiki diri dalam amal perbuatan sehari-hari pun tidak akan dapat dipenuhi. Alqur’an telah mengajarkan, demi kebenaran dan demi keadilan jika kalian harus memberi kesaksian sekalipun menentang diri kalian sendiri atau menentang kedua ibu bapak kalian atau menentang keluarga dekat kalian, kalian harus memberi kesaksian yang adil. Akan tetapi apabila praktiknya bertentangan dengan itu maka revolusi (perubahan besar) apa yang akan kita bawa? Saya sering mengemukakan perintah Alqur’anul Karim ini kepada orang lain apabila terjadi perbincangan masalah penegakan keadilan dan tanpa ragu saya menyatakan bahwa hanya Jemaat Ahmadiyahlah yang berjalan secara benar diatas ajaran Islam yang sebenaranya. Namun demikian, jika orang ghair melihat atau mengalami perlakuan dari orang-orang Ahmadi berbeda dengan itu maka kesan apa kiranya yang akan dia peroleh dari kita? Orang Ahmadi seperti itu akan menjadi penghambat terhadap jalannya tabligh Jemaat. Maka, untuk memeriksa keadaan diri sendiri sangat diperlukan sekali. Harus mengadakan perhitungan terhadap diri sendiri. Karena tidak terhitung banyaknya perintah Tuhan seperti itu didalam Alqur’anul Karim. Perbaikan terhadap diri sendiri baru akan sempurna apabila kita memeriksa keadaan diri sendiri dari setiap segi dan setiap masalah, periksa apa keburukan kita. Apabila perbuatan kita sudah diperbaiki barulah kita bisa memahami bahwa kita telah berusaha menunaikan hak perjanjian baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika tidak, hanya dengan beriman kepada beliau as dan meyakini penda’waan beliau as kita baru telah memenuhi sebagian iman terhadap beliau dan satu bagian lagi yang sangat penting sekali ditinggalkan.

Jadi, sebagaimana telah saya katakan bahwa setiap kebaikan betapapun kecilnya perlu sekali diamalkan. Manusia tidak mengetahui apa kebaikan kecil dan apa kebaikan yang besar itu bagi dirinya. Terbukti dari hadits-hadits bahwa suatu kebaikan mungkin kecil bagi seseorang namun bagi orang lain ia besar atau nilainya berlainan. Misalnya seorang Shahabat ra bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya  Rasulallah! Apakah kebaikan yang besar itu [amal yang afdhal, paling utama]? Maka Rasulullah saw menjawab, “Jihad fi sabilillah adalah kebaikan besar!” [13]

Kemudian Shahabat yang lain pada suatu waktu bertanya kepada Rasulullah saw, “Apa  kebaikan yang besar itu?” Beliau saw menjawab, “Mengkhidmati ibu-bapak!” [14]

Kemudian Shahabat yang ketiga di lain waktu bertanya, “Ya Rasulallah! Apakah kebaikan besar itu?” Jawab beliau, “Mengerjakan shalat tahajjud.” [15]

Jadi, beliau saw memberi perhatian kepada orang-orang untuk berbuat kebaikan secara berbeda-beda. Maka kebaikan yang besar-besar itu tidak mungkin tiga atau lebih dari tiga macam dan sesuai dengan kelemahan mereka masing-masing, beliau saw telah memberi ingat untuk melakukan perkara-perkara yang berbeda-beda. Kebaikan yang besar harusnya hanya ada satu saja. Jadi, dalam pandangan Hadhrat Rasulullah saw perbuatan atau kebaikan yang paling besar adalah yang di dalamnya terdapat kelemahan [perbuatan atau kebaikan yang karena kelemahan atau kekurangannya ia tidak dapat atau sangat berat untuk melakukannya, red.] Jika seseorang yang tidak mengkhidmati kedua orang tua atau tidak memenuhi hak-hak istri dan anak-anaknya maka baginya mengkhidmati agama bukan kebaikan yang besar. Mungkin saja ia berkhidmat kepada agama itu mempunyai maksud lain demi faedah dirinya pribadi atau untuk pamer belaka. Maka orang yang berlaku tidak patut terhadap keluarganya dan ia menjadi anggota pengurus didalam Jemaat ia harus memenuhi hak-hak kewajiban terhadap ibu bapak dan anak istrinya agar memperoleh ganjaran dari pengkhidmatannya terhadap agama. Jika seseorang sangat baik dalam membayar candah-candah akan tetapi ia malas menunaikan shalat dan malas mengerjakan nafal-nafal maka untuk dia kebaikan yang paling besar adalah menunaikan shalat dan shalat-shalat nafal. Demikian juga banyak sekali kebaikan-kebaikan yang bagi seseorang biasa saja namun bagi orang lain nilainya besar. Sebenarnya tidak ada daftar kebaikan kecil atau kebaikan besar. Contoh permisalan yang dikemukakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as ialah tentang riya. Di sini maksudnya tiada lain bahwa secara lahiriah riya itu dosa kecil tetapi ia bisa juga menjadi dosa besar. Misalnya, menunaikan shalat menghasilkan ganjaran sangat besar karena shalat adalah sarana untuk meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala dan juga shalat adalah mi’raj bagi agama. Akan tetapi menunaikan shalat karena untuk diperlihatkan kepada orang-orang (riya) tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Demikian juga seorang insan yang rajin mengerjakan shalat akan tetapi jika ia merampas hak-hak orang lain maka shalatnya itu bukan kebaikan baginya. Lebih baik baginya untuk memenuhi hak-hak orang lain barulah kemudian ia mendapat ganjaran dari pelaksanaan shalatnya. Saya telah membaca kutipan-kutipan Hadhrat Masih Mau’ud as dimana beliau menerangkan mengenai arkaanul Islam (rukun-rukun Islam). Puasa juga satu rukun Islam. Di bulan Ramadhan orang-orang Muslim banyak yang mengerjakan ibadah puasa. Akan tetapi banyak sekali orang-orang berpuasa yang berkata dusta, menipu, mencaci-maki, ghibat dan lain-lain. Hadhrat Rasulullah saw bersabda, orang berpuasa jika melakukan perbuatan buruk seperti itu maka di sisi Allah puasanya bukanlah puasa. [16] Jadi, ganjaran puasanya hilang. Utamanya adalah semua amal saleh itu harus dikerjakan sesuai dengan perintah Allah Ta’ala.

Maka setiap langkah didalam menjalani kehidupan manusia harus teliti sekali. Dimana secara murni ridha Allah diutamakan, dimana akidah juga harus diperkuat disana amal perbuatan juga harus diperbaiki sehingga nampak kepada dunia apakah perbedaan antara orang Ahmadi dengan selainnya? Maka kita harus menaruh perhatian bagaimana usaha untuk menghindarkan diri dari semua bentuk keburukan. Berusaha melakukan semua jenis kebaikan agar secara amaliah terdapat perubahan suci didalam diri pribadi kita. Agar menjadi contoh bagi anak-anak. Menjadi teladan bagi para pemuda kita. Menjadi teladan bagi isteri dan anak-anak di rumah. Menjadi contoh bagi kerabat kerja. Dalam melakukan setiap amal perbuatan baik besar maupun kecil hasilkanlah standar yang dapat menghapus setiap benih keburukan yang terdapat didalam diri kita masing-masing sehingga habis sampai ke akar-akarnya. Jika setiap anggota Jemaat tidak berusaha untuk memperbaiki diri masing-masing maka suatu jenis keburukan apapun setiap waktu akan muncul didalam Jemaat. Bila saja ada kesempatan ia akan mulai tumbuh dan berkembang biak. Setiap orang Ahmadi harus berusaha untuk membuang setiap akar keburukan yang melekat pada diri masing-masing. Dengan menghapuskan setiap jenis keburukan barulah Jemaat akan menjadi gambaran ishlah (perbaikan) sejati. Tentu Allah Ta’ala akan segera memperlihatkan pemandangan kemenangan dan kejayaan kepada kita dan barulah doa-doa kita juga Akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Insya Allah. Kemudian kita akan dapat meraih qurb (kedekatan dengan) Allah Ta’ala. Untuk itu semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua.

Alihbahasa oleh Mln. Hasan Basri, Shd

Dua Hadits Mengenai Mengutamakan Alqur’an

عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا حُضِرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي الْبَيْتِ رِجَالٌ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلُمُّوا أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدَهُ». فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ غَلَبَهُ الْوَجَعُ وَعِنْدَكُمُ الْقُرْآنُ، حَسْبُنَا كِتَابُ اللَّهِ. فَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْبَيْتِ وَاخْتَصَمُوا، فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ قَرِّبُوا يَكْتُبُ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدَهُ. وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ غَيْرَ ذَلِكَ، فَلَمَّا أَكْثَرُوا اللَّغْوَ وَالاِخْتِلاَفَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «قُومُوا».

            Dari az-Zuhri dari ‘Ubaidullah ibn ‘Abdullah ibn ‘Utbah dari ‘Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Rasulullah saw dalam keadaan sakit dan di rumah itu ada beberapa laki-laki. Nabi saw bersabda, ‘Marilah! Aku tuliskan bagi kalian pesan tertulis yang setelahnya kalian tidak tersesat.” Seorang dari antara mereka berkata, ‘Sesungguhnya Rasulullah saw dalam keadaan sakit berat dan pada kalian ada Alqur’an. Cukuplah bagi kita Kitab Allah.’ Ahlul Bait (penghuni rumah tempat nabi saw berbaring, masih keluarga Nabi saw) berbeda pendapat dan berdebat, dari antara mereka ada yang berkata, ‘Bawakanlah (alat tulis) agar beliau tuliskan (diktekan) pesan tertulis yang membuat kalian tidak tersesat sesudahnya.’ Dari antara mereka ada yang tidak berpendapat demikian. Ketika perbedaan pendapat menjadi tajam, Rasulullah saw bersabda, ‘Berdirilah (pergilah) kalian!’   [17]

            Penjelasan: Terjadi berbagai spekulasi (menebak-nebak) mengenai apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Nabi saw; juga mengenai apa maksud salah seorang yang hadir (dalam riwayat diketahui ialah Hadhrat Umar ra) yang mengingatkan telah adanya Alqur’an pada umat Islam dan hal itu telah cukup sebagai pedoman.

            Golongan Syi’ah berpendapat pernyataan Hadhrat Umar ra adalah dalam rangka menghalangi niat Nabi saw menuliskan wasiat mengenai kepemimpinan (imamah) dan khilafah Hadhrat Ali ra, menantu Nabi saw atas kaum Muslimin. Tuduhan (sangkaan) pihak Syi’ah adalah masih menebak-nebak hal ghaib (karena itu urusan hati) mengingat selain Allah Ta’ala siapa juga yang mengetahui apa sebenarnya yang ada di benak pikiran Nabi saw dan Hadhrat Umar ra serta para sahabat waktu itu. Hal kedua, tidak terbukti bahwa para sahabat sudah berpikir atau menyangka bahwa beberapa hari setelah itu Nabi saw wafat. Artinya, mereka menyangka itu sakit berat biasa yang akan sembuh setelahnya.

            Namun demikian, banyak indikasi yang menunjukkan bahwa Hadhrat Rasulullah saw sedang mengarahkan perhatian orang-orang kepada Alquran itu sendiri hal mana juga dikatakan oleh Hadhrat Umar r.a. (artinya justru Umar menyampaikan apa yang akan dipesankan Nabi saw bukan menghalangi pesan beliau saw) dengan mengatakan, ‘Hasbunaa kitaabulloh’. “Bagi kita Kitab Allah memadai” Indikasi yang kuat dan beralasan ini disampaikan oleh Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani dalam ’Khilaafat Rasyidah’ yaitu: 1. Nabi saw diam setelah pernyataan Hadhrat Umar ra dan tidak mengulangi kedua kalinya permintaan didatangkannya alat tulis padahal beliau saw mampu melakukannya karena ada keluarga beliau di rumah itu; 2. Nabi saw tidak mempertanyakan alasan atau membantah perkataan Hadhrat Umar ra; 3. Setelah mendengar pernyataan Hadhrat Umar ra dan tidak adanya bantahan dari sahabat lainnya hal mana merupakan sebuah komitmen terbatas di kalangan sahabat yang hadir sehingga membuat Nabi saw merasa tidak perlu mendiktekan sebuah wasiat tersendiri; 4. Peristiwa diatas justru membuktikan dekatnya pemikiran Hadhrat Umar ra dengan Nabi saw; 5. Bila perspektif Syiah diikuti (yaitu wasiat Nabi saw untuk imamah dan khilafat Ali) justru ini malah menodai kesucian Hadhrat Ali ra dan keluarga dekat beliau yang seolah-olah sudah tahu dan mengharap kematian Nabi saw cepat datang serta menginginkan sebuah wasiat mengenai kedudukan di tengah-tengah umat Islam. [18] Atas persangkaan keji terhadap para sahabat itu kita ucapkan Na’udzu billaahi min dzaalik. Hadhrat Masih Mau’ud as menulis dalam Sirrul Khilaafah, “Demikianlah keadaan mereka (Syiah), mereka sangat berani dalam kedustaan dan gegabah dalam membesar-besarkan isu-isu tersebut. Aku sering kali mendengar kecaman-kecaman orang-orang Syiah kepada para Sahabat, Alqur’an, orang-orang suci, para arif billah dan  juga kecaman terhadap ummul mu’minīn (para Istri Nabi saw.)”

            Beliau as juga bersabda, “Derajat Hadhrat Umar ra ini mulia di kalangan para sahabat. Sehingga beberapa kali ayat-ayat Quran Syarif turun sesuai dengan cetusan pikiran beliau ketika itu… Hadits ketiga meriwayatkan,إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِي أُمَّتِي هَذِهِ مِنْهُمْ فَإِنَّهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ “Sesungguhnya di dalam kaum terdahulu terdapat para Muhaddats (penerima kalam Ilahi), maka bila ada Muhaddats diantara umatku ini, tentulah Umar putra al-Khaththab orangnya.”[19]

            Tambahan lagi, sebulan dua bulan dan beberapa hari mmenjelang kewafatan beliau saw pesan penting yang sering kali disampaikan kepada para sahabat ialah berpegang teguh kepada Alquran hal mana bisa dibaca dalam riwayat-riwayat Hadits.

Menjelang kewafatannya, Hadhrat Umar ra menegur sahabatnya yang menangisinya dengan sabda Nabi saw, “Sesungguhnya mayat itu disiksa disebabkan sebagian tangis keluarganya terhadap mayat tersebut”. Atas hal itu, Siti ‘Aisyah memberikan pendapatnya, itu bertentangan dengan Alqur’an, Surah Al-An’am; 6:165 “Dan orang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain.”

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا مَاتَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَتْ رَحِمَ اللَّهُ عُمَرَ، وَاللَّهِ مَا حَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَيُعَذِّبُ الْمُؤْمِنَ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ. وَلَكِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ لَيَزِيدُ الْكَافِرَ عَذَابًا بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ».وَقَالَتْ: حَسْبُكُمُ الْقُرْآنُ {وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى}.قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عِنْدَ ذَلِكَ وَاللَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى. قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ وَاللَّهِ مَا قَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا شَيْئًا

Tatkala Umar radhiyallahu ‘anhu wafat, [Abdullah] ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Saya menyebut-nyebutkannya (hadits yang diceritakan Umar itu) kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa maka beliau (Aisyah) berkata, “Semoga Allah merahmati Umar. Tidak, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengatakan bahwa Allah menyiksa orang mukmin karena tangisan seseorang. Yang sebenarnya, beliau bersabda seperti ini; ‘Sesungguhnya Allah menambah siksaan terhadap orang kafir, karena tangisan keluarganya atasnya.'” Abdullah berkata; Selanjutnya Aisyah berkata; ‘Hasbukumul Qur’aan’ – Cukuplah bagi kalian Alqur’an, “Dan orang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain.” Ibnu Abbas berkata, “Kalau demikian Allah membuat kamu tertawa dan menangis.” Ibnu Mulaikah berkata, “Demi Allah, [Abdullah] putra Umar tidak berkata apa-apa (tidak membantah mendengar penjelasan ‘Aisyah itu).”[20]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Berkaitan dengan Kitab dan Sunah sebagai pegangan, aku meyakini bahwa Kitab Allah berada di atas segalanya. Jika kandungan suatu Hadits tidak bertentangan dengan Kitab Allah maka Hadits tersebut dianggap sebagai otoritatif, namun kami tidak bisa menerima penafsiran suatu Hadits yang bertentangan dengan ayat-ayat Al-Quran. Sepanjang memungkinkan kami akan mencoba menafsirkan suatu Hadits sejalan dengan ayat-ayat dalam Kitab Allah, namun jika ternyata ada Hadits yang bertentangan dan tidak bisa diartikan lain, maka kami akan menolaknya segera…Berdasarkan ayat-ayat tersebut (Surah Al-A’raf, 7:186) maka seorang beriman harus menerima Kitab Allah tanpa syarat, sedangkan menerima Hadits dengan persyaratan. Inilah sikap diriku.” [21]

Catatan: Sejalan dengan sabda diatas, telah ada pula upaya dari ulama Islam untuk ‘mendamaikan’ dua pertentangan diatas dengan takwil (penjelasan) hadits sesuai dengan ayat Alqur’an).

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan yang Perkasa

[2] Mafuuzhaat jilid 3 halaman 83, Edisi 2003, Terbitan Rabwah.

[3] Izaalah Auham, Ruhani Khazain jilid 3 halaman 169-170

[4] Ayyamush Shulh, Ruhani Khazain jilid 3 halaman 323

[5] Asmaani Faishlah, Ruhani Khazain jilid 4 halaman 315

[6] Dikutip dari Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 17 halaman 317, 22 Mei 1936

[7] Ibid.

[8] Op. cit., halaman 329, 29 Mei 1936

[9] Sunan Abi Dawud, Kitaabul Asyribah, Baabul ‘Inab Ya’shuru lil Khamr, 3674

ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَشَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ».

[10] Dikutip dari Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 17 halaman 330-331, 22 Mei 1936

[11] Tafsir Ruhul Bayaan oleh Syaikh Isma’il Haqqi Parwezi jilid 8 halaman 109 Tafsir Surah, Terbitan Beirut, 2003

[12] Kisyti Nuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazain, jilid 19 halaman 26-28

[13] Shahih Muslim, Kitabul Iman, Baab Bayaan Kaunil Iimaan billaahi Ta’aala afdhalil a’maal, 248

[14] Shahih al-Bukhari, Kitaab MawaaqiitishShalaah, Bab Fadlishshalah liwaqtihaaسَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ يَقُولُ: حَدَّثَنَا صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا». قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ». قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ».

[15] Shahih Muslim, Kitabush Shiyaam, Baab Fadhli Shaumil Muharram

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَرْفَعُهُ قَالَ سُئِلَ أَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ وَأَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ: «أَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ الصَّلاَةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ وَأَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ».

[16] Shahih al-Bukhari, Kitaabush Shaum, bab man lam yada’ qaulaz zuur

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

Dari Abu Hurairah ra berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata kotor dan amalannya maka dalam  pandangan Allah tidak ada kegunaan bahwa dia meninggalkan makan minumnya (berpuasa).’”

[17] Shahihul Bukhori, Kitab al-Maghazi, bab mardhin-Nabiyyi wa wafatihi

[18] Anwarul ‘Uluum (kumpulan karya tulis Hudhur II ra) jilid 15, Khilaafat Rasyidah (pidato pada 28-29 Desember 1949) di Jalsah Salanah Qadian, halaman 36-38.

[19] Izaalah Auham, Ruhani Khazaain jilid 3 halaman 219. Hadits diriwayatkan dalam Muslim dan juga Bukhari.

[20] Shahih al-Bukhari, Kitabul Janaaiz, qaulun nabiyyi saw ‘yu’adzdzabul mayyitu bi ba’dhi bukaai ahlihi ‘alaihi dan Shahih Muslim, Kitab al-Janaaiz

[21] Al-Haqq Mubahasah Ludhiana, Qadian, 1903; Ruhani Khazain,j. VI, h. 11, 1984)

(Visited 88 times, 1 visits today)