Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 2 Sulh 1388 HS/Januari 2009

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Hari ini mungkin kita sedang melewati hari keempat dari bulan Muharram [1431] yang bersesuaian dengan tanggal 2 Januari 2009. Satu hal yang bersesuaian ialah hari ini adalah Jumat pertama di permulaan tahun Islami atau Qomariyah. Pada kalender tahun Hijri Syamsi juga hari ini adalah Jumat pertamanya. Dengan terjadinya Jumat pertama terkumpul bersama menurut kedua sistem kalender ini, semoga Allah Ta’ala mendatangkan banyak berkah yang tak terhingga bagi Jemaat Ahmadiyah.[2]

Dengan peristiwa seperti ini saya ingin menganjurkan para anggota Jemaat untuk banyak memanjatkan doa-doa kepada Allah Ta’ala sebagaimana terdapat penjelasan-penjelasan di dalam buku-buku Jemaat, seperti halnya terdapat juga dalam buku-buku karya tulis Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan saya juga dalam berbagai kesempatan telah berulang kali menyampaikan dalam khotbah-khotbah saya bahwa Hari Jumat mempunyai keterkaitan yang khusus dengan zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Pentingnya Melaksanakan Shalat Jumat

Akan tetapi, dari satu segi, pada zaman sekarang ketika disebabkan kesibukan masalah duniawi, orang-orang Muslim sudah tidak mempunyai minat akan betapa pentingnya hari Jumat ini. Oleh karena itu, secara khusus Allah Ta’ala telah mengingatkan orang-orang Muslim tentang ibadah kepada-Nya dan shalat Jumat secara khusus di dalam surah Al-Jumu’ah supaya mereka jangan terlibat hanya dalam urusan duniawi saja melainkan mereka harus selalu ingat bahwa segala sumber karunia terletak ditangan Allah Ta’ala. Oleh karena itu mereka harus memperhatikan pentingnya menunaikan shalat Jumat. Kemudian jika shalat sudah ditunaikan barulah diperkenankan sibuk lagi dalam urusan dunia mereka sambil mencari karunia Allah Ta’ala.

Pada awal surah itu Allah Ta’ala telah memberi kabar suka tentang kebangkitan Ghulam-e-Shadiq (pelayan hakiki)  Hadhrat Rasulullah s.a.w. dari kalangan akharin yang juga demi menyempurnakan maksud dan tujuan kebangkitan Hadhrat Rasulullah s.a.w., beliau a.s. memajukan misi beliau sa.w. dengan menyebarluaskan ajaran Al-Quranul Karim, melakukan tazkiyah-e-nafs (penyucian jiwa) dan mengajarkan pelajaran hikmah, supaya dunia bisa mengenal Tuhan mereka dan orang-orang Muslim juga menjadi umat wahidah (umat yang bersatu), dan bangsa-bangsa lain dari berbagai jenis kepercayaan yang mempunyai fitrat baik dan suci supaya berhimpun dibawah satu tangan agar menjadi orang-orang yang meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s.: Dua Macam Penyempurnaan

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan hal tersebut menjelaskan dalam sabdanya bahwa:

 “Salah satu dari tujuan diutusnya Hadhrat Rasulullah s.a.w. adalah takmil-e-din penyempurnaan agama  juga”.

Beliau a.s. bersabda: “Dalam penyempurnaan ini terdapat dua macam keistimewaan, pertama ialah takmil hidayat (penyempurnaan petunjuk) dan kedua, takmil isya’at hidayat (penyempurnaan penyebarluasan petunjuk).

Zaman takmil hidayat adalah zaman awal, yaitu di masa kehidupan Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan zaman takmil isya’at hidayat adalah zaman kedua beliau s.a.w., yaitu zaman apabila tiba waktu sempurnanya ayat (Qs Al Jumu’ah: 4) وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ‌ dan zaman itu adalah zaman sekarang yakni zaman saya yakni zaman Masih Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan). Itulah sebabnya Allah Ta’ala telah mempersatukan zaman takmil hidayat dan takmil isya’at hidayat sehingga menunjukkan suatu pertemuan yang sangat agung.”[3]

Maksud dari takmil hidayat adalah bersamaan dengan diutusnya Hadhrat Rasulullah s.a.w. semua nikmat Allah Ta’ala baik nikmat duniawi maupun nikmat rohaniah telah sampai kepada titik klimaksnya, dan setelah agama ini mencapai kesempurnaannya tidak diperlukan lagi kemunculan agama baru atau syariat baru.”

Bisa saja seseorang berkata bahwa nikmat-nikmat duniawi belum sampai kepada puncak tertingginya, melainkan setiap hari penemuan-penemuan baru selalu saja muncul. Atas hal ini maka hendaklah diketahui dengan jelas bahwa Nabi Muhammad s.a.w. adalah Nabi Sempurna yang telah diutus oleh Allah Ta’ala untuk semua umat manusia di dunia, dan beliau adalah Nabi Sempurna yang rentang zamannya terus berlangsung sampai Hari Kiamat, dan kitab yang telah diturunkan kepada beliau s.a.w. yaitu Al-Quran al-Karim merupakan Kitab Sempurna yang terkandung didalamnya tentang sejarah masa lalu dan juga membawa hukum-hukum baru serta dilihat dari segi duniawi penemuan-penemuan baru apapun yang telah ditemukan sesungguhnya telah dikabarkan dalam Al-Qur’an terlebih dahulu, dan apa saja ragam penemuan baru yang diperoleh semuanya terdapat isyarah dan bukti dukungannya dalam AlQuran al-Karim.

Bahkan jika para ahli sains Muslim merenungkannya, dan jika setelah merenungkannya kemudian menggunakan Al-Qur’an al-Karim sebagai referensi (rujukan) dalam penelitiannya, atau dengan menggunakan ilmu yang terdapat dalam Al-Quran Karim dalam corak sebuah khazanah maka akan menemukan banyak sekali petunjuk untuk riset terbaru yang terdapat dalam Al-Quranul Karim.

Seperti halnya Profesor Doktor Abdus Salam juga telah melakukan riset (penelitian)nya berdasarkan cahaya penjelasan Al-Quran, dan sesuai dengan apa yang telah saya katakan berulang kali sebelum ini, bahwa sesuai dengan hasil penelitian beliau dalam Kitab Suci Al-Qur’an terdapat sekitar 700 ayat yang erat kaitannya dengan sains/ilmu pengetahuan, atau ayat-ayat yang terdapat petunjuk mengenai sains. Maka hal ini sebagai hasil penelitian yang telah beliau lakukan.

Bisa saja seorang dan ahli sains Muslim Ahmadi lain yang menyelami samudera ilmu pengetahuan yang luas itu akan mendapatkan hasil penelitian sains yang lebih besar lagi. Jadi dari dalam Al-Quran al-Karim terdapat berbagai ilmu yang tidak akan habis diteliti hingga kematian seseorang.

Takmil Hidayah (Penyempurnaan Petunjuk)

Sehubungan dengan itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda bahwa takmil hidayah (penyempurnaan petunjuk) itu telah terjadi melalui Hadhrat Rasulullah s.a.w.. Tidak ada ilmu pengetahuan tentang agama, sains (ilmu pengetahuan) ataupun keruhanian yang tidak mencapai titik kesempurnaannya melalui Hadhrat Rasulullah s.a.w. atau melalui ajaran beliau s.a.w.. Akan tetapi pada zaman itu kebanyakan pengetahuan tentang benda-benda tertentu masih tersembunyi belum nampak ke permukaan. Oleh karena itu benda-benda itu masih di luar jangkauan pengetahuan orang-orang terdahulu.

Akan tetapi pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. hasil penemuan-penemuan baru dengan berbagai macam jenisnya yang khas di bidang teknologi menjadi sarana-sarana untuk penyempurnaan penyebarluasan petunjuk (takmil isya’at hidayat), dan dengan karunia Allah Ta’ala pada hari ini penemuan-penemuan baru yang sangat berfaedah bagi umat manusia itu membawa manfaat sangat besar bagi penyebarluasan agama yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam buku-buku beliau a.s. telah memberikan contoh penggunaan berbagai mesin cetak (untuk suratkabar) dan lain-lain. Pada zaman sekarang kita menyaksikan adanya satelit dan banyak lagi penemuan-penemuan baru lainnya. Maka di zaman Hadhrat Asyiq Shadiq (pecinta hakiki) Hadhrat Rasulullah s.a.w., Masih Zaman, ini banyak sekali penemuan hal baru yang nampak di hadapan kita, dan berkat pertolongannya penyiaran ajaran agama tengah dilaksanakan, atau kedudukan dan tingkat kesempurnaan ajaran Al-Quran dan Hadhrat Rasulullah s.a.w. nampak demikian jelas, sehingga menambah kekuatan hati dan iman setiap orang mu’min (beriman), dan semua fenomena itu telah meningkatkan hasrat perhatian kita untuk selalu membaca shalawat dan salam kepada Junjungan kita Hadhrat Rasulullah s.a.w..

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa baarik wa sallim inna-Ka hamiidum majiid.

 

Pertemuan Kalender Syamsiyah dan Kalender Hijriyah Di Hari Jumat Pertama Tahun Baru di Awal Abad Kedua Khilafat Ahmadiyah serta Anjuran Banyak Memanjatkan Doa

                Seperti telah saya katakan, Jumat ini adalah Jumat pertama menurut Kalender Hijriyah dan juga menurut Kalender Syamsiyah (Masehi), atau Hari Jumat ini adalah hari Jumat pertama untuk Kalender Qamariyah (perhitungan bulan) dan juga Jumat pertama untuk Kalender Syamsiyah (perhitungan matahari). Zaman (periode) Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memiliki keterkaitan kepentingan yang sangat khas dengan hari Jumat. Hari Jumat pertama di tahun baru yang terkumpul menurut kalender Islami dan kalender duniawi (Masehi) kali ini dengan selayaknya menggugah hati kita untuk memanjatkan doa sebanyak-banyaknya kepada Allah Ta’ala. Kalender Qamariyah dan kalender Syamsiyah kedua-duanya ini dibuat menurut nizam (sistem) ciptaan Allah Ta’ala [yaitu beredarnya bulan mengelilingi bumi dan beredarnya bumi mengelilingi matahari].

Sebagaimana telah saya katakan sedikit tadi mengenai ‘Kalender Islam dan Kalender Dunia’ maka nampak bahwa dunia umumnya menggunakan kalender Syamsiyah (Kalender Masehi) yang ada sejak zaman Yulius Kaisar (Julius Caesar) yang dikenal dengan nama kalender Greygorian. Sedangkan kalender Qamariyah telah digunakan sebagai penanggalan khas orang-orang Islam. Namun walaupun demikian kedua penanggalan ini telah diciptakan oleh nizam (sistem) yang dibuat Allah Ta’ala.

                Oleh karena itu, telah saya katakan bahwa kita sudah seharusnya banyak memanjatkan doa. Pada awal abad kedua Khilafat setelah masa kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yakni bertepatan dengan masa khilafat beliau a.s. kedua kalender ini telah ada, dan jika perhatian kita selalu tertuju kepada doa-doa sepenuhnya dan selalu berusaha melakukan amal-amal saleh sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya s.a.w., maka kemajuan diniyah (agama) maupun duniawi secara umum yang telah ditakdirkan bersama Hadhrat Rasulullah s.a.w., melalui jemaat yang setia bersama Khilafat Rasyidah Ghulam Shadiq beliau s.a.w. akan nampak dalam suasana baru yang sangat gemilang kepada dunia. Insya Allah!

                Pendek kata, dengan bersatunya tahun atau bulan kalender matahari (Syamsiyah, Masehi) dan bulan (Qamariyah) yang terjadi pada hari Jumat yang beberkat ini adalah juga dan bisa saja menjadi salah satu dari banyak tanda bersatunya Masih Muhammadi. Mungkin saja pertemuan atau kombinasi kedua hari itu sudah pernah terjadi berulang kali, namun kombinasi yang baru seperti ini terjadi baru pertama kali dan insya Allah hal ini merupakan isyarat kepada kemajuan baru yang akan diraih oleh Jemaat  Ahmadiyah.

                Pada zaman sekarang dimana dunia sedang tenggelam dalam berbagai permainan hiburan dan sedang berenang-renang di dalam air kotor dan berbau busuk. Setiap orang Ahmadi dan setiap Jemaat di tiap negara di dunia berkewajiban juga untuk berusaha menerapkan ajaran Al-Quran al-Karim pada diri masing-masing, lebih giat dari waktu-waktu sebelumnya. Harus berusaha lebih hebat dari sebelumnya untuk memperkenalkan ajaran suci ini kepada umat manusia pada umumnya yang ada di sekitar mereka, dan harus berusaha memandikan orang-orang yang telah berenang-renang dalam air kotor dengan air suci nan bersih dan harus berusaha membuktikan diri sebagai khaira umat (umat terbaik) kepada dunia.

Hal itu merupakan tanggung jawab yang sangat besar bagi orang-orang Ahmadi di masa kini. Hari ini, jika tanggung jawab itu tidak dilaksanakan dengan sesungguhnya maka kita tidak bisa dikatakan sebagai khaira umat (umat terbaik) dan tidak pula layak disebut sebagai hawari (murid/pengikut) hakiki Masih Muhammadi yang selalu meneriakkan slogan اللهِ اَنْصَارُ نَحْنُ (Kami penolong-penolong Allah), mengumumkan diri siap untuk menolong siapapun dan dalam keadaan bagaimanapun.

Isyarat Mendekatnya Kemenangan Islam Kedua Kali dan Pentingnya Banyak Berdoa dan Membaca Shalawat

 

Allah Ta’ala Yang Maha Perkasa dengan menunjukkan beberapa peristiwa yang dikatakan oleh warga dunia sebagai kejadian-kejadian biasa, namun sebetulnya merupakan bukti dukungan Allah Ta’ala terhadap Jemaat Ahmadiyah, jika pemerhati itu mempunyai mata untuk melihatnya. Sesungguhnya Allah Ta’ala sedang mengumumkan, sambil memberi isyarah berupa kejadian-kejadian itu bahwa pertolongan Allah Ta’ala kepada Jemaat ini benar-benar sudah dekat sekali dan kemenangan serta kejayaan sudah berada di ambang pintu.

Allah Ta’ala tidak hanya menguji melainkan setelah terjadi cobaan dan ujian itu pintu rahmat, dan karunia-Nya akan terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Namun syaratnya adalah kita harus bertahan dan sabar atas segala kesulitan dan kesusahan, dan kita harus menjadi orang-orang yang lebih merundukkan kepala di hadapan Allah Ta’ala. Lebih patuh dari sebelumnya dalam mengamalkan perintah-perintah-Nya, supaya kemenangan akan semakin dekat untuk turun.

Jadi, pada hari ini bertepatan dengan bulan Muharram dan hari Jumat pertama di tahun baru ini, saya anjurkan agar setiap anggota Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia, anak-anak, orang tua, lelaki, perempuan, tua, muda, dengan gejolak semangat baru dan rohaniah baru harus mengadakan perubahan suci pada diri masing-masing dan menunjukkan keindahan setiap amal-perbuatan masing-masing sehingga menggerakkan Tuhan Pemilik ‘Arasy untuk mengulurkan cinta kasih-Nya.

Munculkanlah kekhusyukan dalam berdoa sehingga Tuhan Langit dan Bumi, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Gagah Perkasa, Tuhan Pengabul doa-doa, mengabulkan doa-doa kita, mengibarkan bendera Hadhrat Rasulullah s.a.w. di setiap pelosok dunia dan memperlihatkan kepada kita kebangkitan sebuah revolusi yang agung di atas permukaan bumi yang bisa kita saksikan dalam kehidupan kita ini.

Berbicara mengenai pengabulan doa-doa dan saat masuknya bulan Muharram ini, saya ingin mengatakan bahwa pada hari-hari ini dan pada bulan ini harus banyak-banyak menaruh perhatian untuk membaca durood syarif (shalawat) sebanyak-banyaknya, karena itulah resep untuk pengabulan doa yang telah diberitahukan oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w. sendiri, dan Asyiq Shadiq (Pecinta hakiki) Hadhrat Rasulullah s.a.w. (yaitu Hadhrat Masih Mau’ud, Imam Mahdi a.s.) telah memberi keteladanan kepada kita secara amal perbuatan dan menjelaskan berkat-berkat dari shalawat dan salam kepada Nabi s.a.w., dan beliau a.s. pun telah menganjurkan kepada kita untuk memberikan perhatian secara khas dalam membaca shalawat.

            Akan tetapi harus selalu diingat mutu pelaksanaan shalawat itu harus berupaya ditingkatkan agar faedah dari membaca shalawat itu bisa benar-benar dirasakan. Pada waktu sedang mengirim shalawat kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. kitapun harus juga memahami ketinggian maqam (kedudukan) kerohanian Hadhrat Rasulullah s.a.w..

            Adapun hadits-hadits yang menceritakan pentingnya membaca shalawat, beberapa di antaranya akan saya kemukakan pada waktu ini. “Diriwayatkan oleh Abu Thalhah al-Anshari ra bahwa, Pada hari ini nampak kepada kami wajah Hadhrat Hadhrat s.a.w. sedang dalam keadaan gembira sekali. Beliau s.a.w. bersabda: “Ya betul! Allah Ta’ala telah mengirim seorang malaikat dan berkata kepada saya, bahwa: Seseorang di antara umat engkau yang membaca shalawat satu kali dengan sangat baik maka sebagai ganjarannya Allah Ta’ala menuliskan sepuluh macam kebaikan baginya.”   — (Dan di sini Hadhrat Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa dengan mengirim shalawat sekali dengan sangat baik) —  “Maka sepuluh macam keburukan atau dosanya juga akan diampuni.  Yakni akan dituliskan sepuluh kebaikan dan akan dimaafkan sepuluh macam dosa-dosanya dan ia akan ditingkatkan derajatnya sepuluh kali lebih tinggi, dan Allah Ta’ala akan menurunkan rahmat-Nya sesuai dengan yang dia mohonkan pada-Nya.” [4]

                Jadi kegembiraan Hadhrat Rasulullah s.a.w. disebabkan zahirnya rahmat dari Allah Ta’ala terhadap umat beliau s.aw.. Jadi tugas kita adalah harus maju untuk meraih rahmat itu. Kirimkanlah shalawat dengan penuh keikhlasan kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w.. Mohonlah pengampunan dosa masing-masing dan juga berusahalah memohon taufiq dan pertolongan dari Allah Ta’ala untuk melakukan amal-amal kebaikan di masa mendatang. Dengan rahmat Allah Ta’ala kita akan mampu memperbaiki keadaan duniawi dan akhirat kita masing-masing.

                Kemudian ada sebuah riwayat lagi yang diceritakan oleh Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq ra, bahwa Hadhrat Rasulullah s.a.w. bersabda: “Orang yang mengirim shalawat kepadaku maka aku akan memberi syafaat kepadanya pada hari Qiamat.”[5]

Yang Berhak menerima Syafaat Hadhrat Rasulullah S.a.w.

Demikianlah maqam yang diterima oleh orang-orang yang selalu mengirim shalawat kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. Martabat ditinggikan, dosa-dosa dimaafkan dan Hadhrat Rasulullah s.a.w. bersabda: “Aku akan memberi syafaat kepadanya.”

Akan tetapi, apakah orang yang akan diberi syafaat oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w. itu disebabkan ia selalu mengirim  shalawat kepada beliau s.a.w., sedangkan dalam hatinya menyimpan rasa benci atau dendam kepada orang Muslim lainnya? Apakah orang yang mempunyai perangai seperti itu akan bisa mendapat syafaat dari Hadhrat Rasulullah s.a.w.? Kemudian apakah ketika kita mengucapkan shalawat: مُحَمَّدٍ آلِ وَّعَلى مُحَمَّدٍ عَلى صَلِّ اَللَّهُمَّ dapat mempunyai kebencian atau dendam kesumat menentang terhadap aal beliau s.a.w. (keluarga beliau s.a.w.)? Dapat mempunyai kebencian atau dendam menentang para sahabat beliau s.a.w.?

Jika orang-orang Muslim memahami perkara ini tentu perkelahian, huru hara dan kedengkian antar sesama orang Muslim akan terkikis habis, sehingga untuk meraih syafaat dari Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan untuk meraih derajat rohaniah yang tinggi harus memenuhi hak-hak shalawat kepada beliau s.a.w. (kewajiban-kewajiban sebagai pendukung tujuan shalawat], dan untuk memenuhi hak-hak shalawat kepada beliau s.a.w. menuntut kepada kita supaya menghapuskan kebencian, permusuhan ataupun dendam diantara sesama kita. Ini semua disebabkan karena kita merupakan umat yang satu.

Apakah syafaat Hadhrat Rasulullah s.a.w. untuk orang-orang yang mulut mereka membaca shalawat sedangkan hati mereka penuh dengan perpecahan dan pertentangan [karena saling membenci]? Padahal Hadhrat Rasulullah s.a.w. datang untuk menjalin kasih sayang satu sama lain, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman mengenai para pengikut beliau: بَيْنَهُمْ رُحَمَآءُ ‘ruhamaa-u bainahum’ mereka saling mengasihi satu sama lain. Akan tetapi apakah keadaan orang-orang Muslim zaman sekarang sesuai dengan ayat tersebut mempunyai rasa kasih-sayang satu sama lain?

 

Bulan Muharram dan Saling Menyerang Internal Muslim

Ini adalah bulan Muharram, setiap tahun kita mendengar berita bahwa di suatu tempat terjadi peristiwa-peristiwa penyerangan terhadap orang-orang Syi’ah yang sedang melakukan ta’ziyah [acara memperingati perjalanan hidup atau kewafatan imam-imam yang seringkali menyebut sisi menyedihkannya, Red.]. Di tempat lain terjadi penyerangan terhadap acara memperingati imam mereka [seperti Husainiyah dan lain-lain].

Di Pakistan sebagian Mullah dan orang-orang yang dianggap ulama penyandang ilmu-ilmu agama, apabila mereka berdiri diatas mimbar masjid diharapkan untuk menyempurnakan [mengikuti] sunnah Aqa-o-Maula kita, Hadhrat Muhammad Mushthafa s.a.w. menyampaikan amanat mahabbat dan kecintaan kepada masyarakat dengan hati yang khauf (rasa takut karena memandang tingginya kedudukan mimbar ceramah atas nama Nabi itu), akan tetapi sebaliknya orang-orang yang berlebihan dalam hal kerakusan dan keserakahan ini menyiarkan pesan-pesan kebencian dan permusuhan dari atas mimbar Hadhrat Rasulullah s.a.w. itu.

Yang seharusnya mereka itu menjadi para duta penyebar kecintaan dan kedamaian, malah sebaliknya menjadi para agen penyebar kebencian dan permusuhan. Oleh sebab itulah Pemerintahan Pakistan telah mengumumkan dan dengan tegas pengmumumannya termuat dalam suratkabar-suratkabar bahwa Ulama fulan dilarang pergi ke tempat anu dan anu (di suatu tempat dimana mereka suka berbuat onar menciptakan kerusuhan). Mereka dilarang mengunjungi daerah-daerah itu untuk waktu tak terbatas supaya dalam hati masyarakat di sana tidak tercemari rasa kebencian terhadap satu sama lain.

Demikianlah keadaan orang-orang zaman sekarang di sana, yang di satu segi mereka merasa sedang memberikan ajaran Al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w., sedangkan di sisi lain mereka menanamkan benih-benih kebencian di dalam hati masyarakat. Bahkan mereka mendirikan kubu-kubu kebencian antara kelompok masyarakat satu dengan yang lainnya. Setiap tahun hal seperti itu menjadi adat kebiasaan amal mereka, sehingga terpaksa Pemerintah melancarkan larangan tegas terhadap mereka.

Kemudian terjadi pula kerusuhan di Karbala [Irak]. Orang-orang Syiah menyerang orang-orang ahlus Sunnah, dan sebaliknya orang-orang Sunni pun menyerang orang-orang Syiah. Untuk melerai mereka ini Pemerintah di sana terpaksa membentuk Komite Ulama supaya tidak terjadi kerusuhan di seluruh negeri.

Walaupun bulan Muharram ini berlalu dengan aman juga, namun tidak lama kemudian timbul juga kebencian di kedua belah pihak, timbul slogan-slogan yang membawa kebencian satu sama lain. Di sana setiap tahun bahkan sepanjang tahun terjadi kerusuhan-kerusuhan di berbagai tempat antara kedua kelompok Sunni dan Syiah ini. Padahal mereka ini secara lahiriah adalah orang-orang Muslim dan rajin membaca shalawat juga. Maka pikirkanlah apakah Hadhrat Rasulullah s.a.w. mengumumkan untuk memberi syafaat kepada orang-orang yang seperti mereka ini? Hal ini harus mendapat perhatian dari kaum Muslimin!

Dikarenakan keadaan mereka sudah seperti itu maka hendaknya kita berdoa [kepada Allah Ta’ala] dan hendaknya kita membaca shalawat untuk Hadhrat Rasulullah s.a.w. sebanyak-banyaknya supaya mereka memahami sepenuhnya amanah [pesan ajaran] Hadhrat Rasulullah s.a.w. yang sejati.

 

Kecintaan kepada Ahli Bait Rasulullah S.a.w. dan

Martabat Istimewa Sahabat Hadhrat Abu Bakr Shiddiq r.a.

 

Dengan menamakan diri sebagai umat Nabi Muhammad s.a.w. mereka harus memahami dengan betul hakikat membaca shalawat itu. Pada masa ini dunia Islam dalam situasi yang sangat berbahaya, umat Muslim harus menunjukkan bukti contoh persatuan dan kesatuan yang erat supaya pandangan para musuh dengan mata kotor terhadap Islam tidak akan mencederai mereka.

Ketika kita dalam membaca shalawat mengucapkan  رَسُولِ لِ آ  ‘Aal Rasul’ (keluarga Rasulullah) maka dalam kalbu kita mengingat mereka yang secara rohaniah dan jasmaniah mempunyai kaitan dengan Hadhrat Muhammad s.a.w. itu.[6]

Mereka yang mempunyai hubungan darah dengan Hadhrat Rasulullah s.a.w. [yaitu keturunan jasmaniah Nabi s.a.w.], yang juga memenuhi kewajiban-kewajiban rohaniah mereka kepada beliau s.a.w., sedemikian rupa memenuhi kewajiban-kewajiban mereka sehingga mereka memiliki standar-standar kerohanian yang mencapai batas puncak ketinggian. Maka di dalam hati orang-orang Muslim sejati tidak mungkin akan timbul pikiran tentang mereka berupa mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan hak-hak mereka itu. Bahkan, lebih dari itu, dalam pikiran mereka di waktu membaca shalawat juga, mereka seolah-olah tengah berdiri berhadapan dengan mereka itu (aal Rasul).

Demikian juga para sahabat Hadhrat Rasulullah s.a.w., tidak menghiraukan jiwa mereka sendiri melayang di kala sedang bertahan menyelamatkan jasmani beberkat Hadhrat Rasulullah s.a.w., mereka menghadangkan dada mereka di hadapan musuh laksana perisai demi menjaga keselamatan beliau s.a.w. dari bahaya serangan panah-panah musuh yang menghujani beliau s.a.w.

Salah seorang dari sahabah-sahabah beliau s.a.w. pada saat situasi sangat genting dari sergapan musuh ketika beliau berdua berada di dalam sebuah gua beliau s.a.w. bersabda kepada sahabat itu مَعَناَ اللهَ اِنَّ تَحْذَنْ لاَ (At Taubah:40) “Jangan khawatir, sesungguhnya Allah bersama kita.” Dan Allah Ta’ala telah mengabadikan peristiwa itu dalam Al-Quran al-Karim yang telah menyatakan bahwa Hadhrat Abu Bakar ra sebagai sahabat terbaik Hadhrat Rasulullah s.a.w. untuk selama-lamanya, dan demikian pula Allah Ta’ala telah menyertakannya (Hadhrat Abu Bakar r.a.) dalam karunia-karunia-Nya yang turun kepada Nabi s.a.w. dalam perjalanan hijrahnya.

Jadi melempar kata-kata yang tidak pantas atau tidak senonoh terhadap wujud sahabat yang mempunyai reputasi martabat tinggi tanpa cela bukanlah pekerjaan orang Muslim. Tentunya yang demikian itu bukan pekerjaan orang Muslim yang senantiasa mengirimkan shalawat kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w..

Aal (keluarga) beliau s.a.w. adalah mereka yang mempunyai hubungan darah yang juga menjalin hubungan rohaniah, sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, dan menegakkan [penghormatan atas] kedudukan beliau s.a.w. yang tinggi, selain mereka, mereka adalah juga termasuk keluarga beliau s.aw., yaitu para pengikut setia beliau s.a.w. yang bertalian secara rohaniah.

Para  Malaikat Berdebat Mencari dan Menentukan Siapa

 “Orang yang Akan Menghidupkan Agama”

Sekarang menjadi tugas kita dimana di masa ini di bumi ini telah berdiri dinding-dinding kebencian yang tinggi antara satu dengan yang lain. Dari antara mereka yang menamakan diri Muslim  menanamkan benih kebencian satu dengan yang lain. Oleh karena itulah, banyak-banyaklah membaca shalawat, banyak-banyaklah berdoa, dan disertai perasaan simpati hendaklah kita memanjatkan doa bagi umat Muhammadiyah (umat Islam) juga semoga Allah Ta’ala menjadikan mereka para pembaca shalawat sejati dengan memahami maknanya dalam corak hakiki dari shalawat itu. Supaya orang-orang Muslim menyaksikan sendiri dengan nyata pemandangan ayat  بَيْنَهُمْ  رُحَمَآءُ (mereka saling mengasihi satu sama lain). Mendoakan mereka juga merupakan kewajiban kita semua.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah memberikan penjelasan kepada kita mengenai berkat-berkat membaca shalawat dan mengenal pentingnya menjalin ikatan dengan para ahli bait (keluarga) Hadhrat Rasulullah s.a.w.. Perihal tersebut akan saya jelaskan disini dalam kata-kata beliau a.s. sendiri.  Di satu tempat beliau a.s. bersabda: “Pada suatu ketika turun ilham kepada saya yang artinya ialah bahwa para penduduk mala-ul a’la (para malaikat Allah Ta’ala) tengah berdebat, yakni keinginan dan semangat Ilahi untuk menghidupkan kembali agama sedang bergelora.”

Semangat Allah Ta’ala berkeinginan untuk menghidupkan kedua kalinya agama untuk itu Allah Ta’ala sedang dalam gelora.

Beliau bersabda: “Akan tetapi para malaikat Allah belum mengetahui siapa orangnya yang akan menghidupkan kembali Islam itu. Makanya mereka berselisih.” – akan tetapi belum bisa diketahui dengan pasti siapa orangnya yang akan ‘Muhyi’ (yang menghidupkan agama) untuk kedua kalinya.  —  ”Di tengah-tengah situasi demikian saya melihat di dalam kasyaf bahwa orang-orang sedang sibuk mencari siapa yang akan ‘Muhyi’ menghidupkan agama itu. Kemudian datanglah seseorang di hadapan saya dan sambil menunjuk saya ia berkata: اللهِ رَسُوْلَ يٌحِبُّ رَجُلٌ هَذَا ‘Haadza rajulun may yuhibbu Rasulallah’ – inilah orangnya yang menyintai Hadhrat Rasulullah s.a.w.!’  — Maksud dari pernyataan ini adalah syarat yang paling besar dan paling utama bagi kedudukan orang itu adalah mahabbat Rasul (kecintaan terhadap Rasulullah s.a.w.).”

Yakni syarat utama bagi orang yang akan menghidupkan adalah kecintaan. Orang yang menjadi muhyi [orang yang menghidupkan kembali, penyegar, pembaharu agama itu] adalah orang yang paling banyak kecintaannya kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. “Orang yang seperti itulah yang sangat berhak untuk menyandang tugas itu.” Syarat seperti ini terdapat dalam diri orang itu. Para malaikat tersebut berkata demikian sambil menunjuk Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Selanjutnya beliau a.s. bersabda: “Sedemikian rupa ilham sebelumnya yang mengandung perintah untuk mengirim shalawat kepada aali Rasul.“

Ilham yang telah disebut ini, ialah ilham sebelumnya, di sini tidak dibacakan, yaitu: النَّبِيّيْنَ وَخَاتَمَ آدمَ وُلْدِ سَيِّدِ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ عَلى صَلِّ ‘Shalli ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammadin sayyidi wuldi Adama wa khaataman nabiyyiin’  – “Bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, tuan segenap anak keturunan Adam dan Khatam para nabi.”

Kecintaan dan Shalawat kepada Aali Muhammad (Ahli Bait/Keluarga Rasul) Syarat Pewarisan Ilmu dan Ma’rifat

                Beliau a.s. bersabda: “Sedemikian rupa kandungan dalam hal mengirim shalawat ini terhadap Aali Rasul (keluarga Rasul). Ini juga sesuatu rahasia yang terkandung di dalamnya bahwa untuk meraih cahaya-cahaya Ilahi, kecintaan kepada ahli bait Rasul juga mempunyai kedudukan yang sangat agung, dan orang-orang yang termasuk dalam kelompok muqarrabiin Ahadiyat (orang-orang yang sangat dekat dengan Allah Yang Esa) memperoleh warisan peninggalan dari thayyibiin dan thahiriin (orang-orang baik, saleh dan suci), dan mereka menjadi ahli waris semua ilmu pengetahuan dan ma’rifat mereka [yaitu dari para thayyibin dan thahirin ini].

Sampai di sini saya ingat kepada sebuah kasyaf yang sangat jelas yaitu pada suatu ketika setelah shalat Maghrib dalam keadaan sadar penuh (bukan tidur) dan sedikit hilangnya fungsi indra mirip dalam kondisi sedikit terlalu bersuka-cita, nampak kepada saya sebuah pemandangan alam yang sangat ajaib. Mula-mula terdengar suara langkah cepat beberapa orang yang sedang datang ditandai dengan terdengarnya derap suara sepatu mereka yang semakin jelas.” Kondisi kasyaf ini seumpama keadaan beberapa manusia yang berdatangan dan terdengar derap sepatu mereka.

“Kemudian dalam satu waktu itu juga lima orang yang sangat agung, terhormat dan indah (tampan dan cantik) datang di hadapan saya, yaitu Janab Peyambar Khuda (Yang Mulia utusan Tuhan, yaitu Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadhrat Ali ra, Hadhrat Hasan r.a. dan Hadhrat Husein r.a. serta Hadhrat Fathimah az-Zahra radhiyallahu ‘anhum ajma’iin.

Kemudian salah seorang dari antara mereka, yaitu Hadhrat Fathimah Zahra radhiyallahu ‘anha dengan penuh kecintaan dan kelembutan seperti seorang ibu terhadap anaknya meletakkan kepala hamba yang lemah ini di atas paha beliau r.a.. Setelah itu beliau memberi sebuah kitab kepada saya sambil berkata, ‘Tafsir Al-Quran ini disusun oleh Ali (radhiyallahu ta’ala ‘anhu) dan kini Ali memberikan tafsir itu kepada engkau.’Alhamdulillah ‘alaa dzaalik!”[7]

Itulah sebuah kasyaf Hadhrat Masih Mau’ud a.s… Banyak orang ghair telah menyatakan keberatan atau kritikan yang berlebihan terhadap kasyaf ini bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. -na’uudzubillaah- telah melakukan penghinaan terhadap Hadhrat Fathimah Zahra r.a.. Sebetulnya kritikan itu sendiri menunjukkan kekotoran atau keburukan fitrat pengritik itu sendiri yang mengatakan bahwa na’uudzubillaah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah melakukan penghinaan terhadap Hadhrat Fatimah r.a.

Para Maulwi yang melemparkan tuduhan jahat itu tidak menjelaskan susunan kalimat-kalimat sepenuhnya kepada masyarakat awam. (Sedangkan masyarakat awam juga disebabkan kebodohan atau kejahilan mereka telah dijadikan buta oleh para Maulwi dengan menambah-nambah fakta yang diselewengkan sehingga mereka tidak mau mendengar atau tidak mau melihat bagaimana keadaan sesungguhnya peristiwa itu terjadi.)

Para Maulwi hanya menyebutkan sepotong kalimat yakni “Mirza Sahib telah meletakkan kepala beliau di atas paha Hadhrat Fatimah r.a..” Disebabkan hati mereka itu penuh dengan khayalan-khayalan jahat dan kotor, maka kotoran itu tidak mau keluar dari dalam hati mereka. Padahal Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa dengan kecintaan dan kasih sayang seperti seorang ibu terhadap anaknya, Hadhrat Fatimah Zahra r.a. telah meletakkan kepala hamba yang lemah ini diatas paha beliau r.a.

 Sekarang, apa artinya perkataan kasih sayang seorang ibu? Ibu yang penyayang, dengan mengucapkan perkataan kasih sayang seorang ibu bisakah timbul khayalan atau pikiran kotor? Khayalan atau pikiran kotor itu hanyalah timbul dari dalam benak para Maulwi yang mempunyai fitrat jahat dan kotor. Ini penting untuk diingatkan, untuk inilah saya memberikan penjelasan. Dalam semua kasyaf dan ilham yang disebutkan tadi perlu dipahami dengan jelas dalam martabat dan kedudukan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi itu, bahwa martabat itu diperoleh berkat shalawat yang beliau kirimkan dengan keasyikan (kecintaan) yang tak terperikan kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w..

Hal kedua, beliau a.s. sendiri bersabda bahwa beliau a.s. mendapatkan ilham ini  مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ عَلى صَلِّ اَللَّهُمَّ mengandung satu rahasia bahwa jika ingin meraih berkat-berkat dari nur-nur Hadhrat Rasulullah s.a.w. maka menyintai para ahli bait juga adalah suatu keharusan, dan untuk menjadi muqarrab Allah Ta’ala (orang yang oleh Allah Ta’ala dijadikan dekat dengan-Nya) juga sangat perlu memperoleh warisan peninggalan rohaniah orang-orang suci dan orang-orang yang disucikan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, satu keharusan bagi orang-orang yang ingin menjadi muqarrab Allah Ta’ala untuk mengikuti langkah-langkah kehidupan orang-orang suci dan orang-orang yang disucikan itu, dan Allah Ta’ala memberi mereka kedekatan dengan-Nya disebabkan mereka memelihara kecintaan kepada orang-orang yang dicintai oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w., sehingga Allah Ta’ala menganugerahi para pecinta itu kedekatan-Nya. Jadi, inilah tuntutan kecintaan sejati, yaitu mereka menyintai orang-orang yang dicintai oleh kekasih mereka. Dan jika orang-orang Muslim memahami tentang noktah (poin) tersebut tentu mereka tidak akan membangun dinding-dinding kebencian antara satu dengan lainnya.

Memang benar bahwa dinding-dinding kebencian yang didirikan oleh para mullah maksudnya untuk mempertahankan kepentingan pribadi mereka sendiri dan demi mempertahankan egoisme mereka sendiri. Dalam pendirian dinding kebencian itu mereka menggunakan nama-nama tokoh leluhur atau orang suci tertentu sebagai rujukan. Padahal orang-orang suci itu adalah orang yang sepanjang hidupnya menjadi teladan yang sangat baik dalam menampilkan بَيْنَهُمْ رُحَمَآءُ “mereka saling mengasihi satu sama lain.”

Jadi, perkara ini harus menjadi bahan renungan bagi masyarakat awam juga, sebelum mereka secara taqlid membabi-buta mengikuti seseorang [turut ambil bagian dalam aksi penyebaran fitnah sesuai anjuran pemimpinnya], sebaiknya mereka harus menggunakan akal terlebih dahulu untuk melihat keadaan yang sebenarnya.

 

Doa tentang Cinta yang Diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Diantara doa-doa yang telah diajarkan oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w. kepada kita untuk meraih kecintaan Allah Ta’ala, dalam doa itu dimohonkan kecintaan terhadap orang-orang yang menjadi kecintaan Allah Ta’ala. Hal itu menjadi sarana menambah maju kecintaan kepada Allah Ta’ala, sebagaimana tercantum dalam sebuah doa yang telah beliau s.a.w. ajarkan kepada kita sebagai berikut: عِنْدَكَ حُبَّهُ يَّنْفَعُنىْ مَنْ حُبَّ وَ حُبَّكَ ارْزُقْنِى اَللَّهُمَّ Allahummar zuqnii hubbaka wa hubba may yanfa’unii hubbuhu ‘indaka’ – “Wahai Allah, anugerahkanlah kecintaan Engkau kepada hamba dan anugerahkanlah hamba kecintaan orang-orang yang dalam pandangan Engkau mendatangkan kegunaan (manfaat, faedah) kepada hamba.”[8]

Kecintaan yang paling banyak bermanfaat ialah kecintaan Hadhrat Rasulullah s.a.w.. Kecintaan yang paling banyak mendatangkan faedah bagi kita adalah kecintaan kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. Kecintaan kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. inilah yang membawa kita dekat dengan Allah Ta’ala. Sesungguhnya melalui kecintaan orang-orang yang dicintai oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w.-lah yang juga membawa kita dekat dengan Allah Ta’ala. Dimana kewajiban kita adalah mengikuti setiap perintah dan amalan yang dilakukan oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w., maka ini pun termasuk keharusan bagi kita, yaitu kitapun harus menyintai mereka yang dicintai oleh beliau s.a.w.. Banyak sekali riwayat tak terhitung banyaknya yang dari riwayat itu kita menjadi tahu di satu segi Hadhrat Rasulullah s.a.w. menyintai keluarga jasmaniah dan rohaniah beliau, yakni beliau s.a.w. menyintai keluarga jasmaniah yang mempunyai hubungan keluarga rohaniah juga, dan lagi, di segi lain beliau s.a.w. menyintai keturunan rohaniah beliau — yaitu orang-orang yang mengimani beliau s.a.w. dan para sahabat, — beliau s.a.w. juga menyintai mereka.

Beliau akan merasa gembira jika umat beliau s.a.w. mengirim shalawat kepada beliau s.a.w. sebab Allah Ta’ala akan menurunkan rahmat kepada mereka. Bukan hanya para sahabat yang ada di waktu beliau s.a.w. hidup, melainkan semua manusia yang mengirim shalawat kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w. sampai Kiamat, sehingga beliau s.a.w. sangat gembira sekali kepada mereka, sebab Allah Ta’ala akan menurunkan rahmat kepada mereka. Kegembiraan akan sampai kepada beliau s.a.w. jika kita mengirimkannya dengan kecintaan yang sesungguhnya.

Jika orang-orang Muslim memahami asas ini maka tidak akan pernah terjadi kerusuhan di antara mereka. Tidak akan pernah terjadi penyerangan terhadap masjid-masjid orang lain. Tidak akan terjadi larangan terhadap para ulama di Pakistan dalam bulan Muharram ini untuk mendatangi tempat-tempat tertentu di negara Pakistan. Namun demikianlah tugas kita adalah mendoakan terus-menerus untuk kebaikan mereka itu. Orang-orang Muslim juga harus berpikir bahwa pada zaman dahulu pernah terjadi pergaulan yang sehat dan erat, saling menghormati, menyintai satu sama lain dengan lemah-lembut, namun sekarang dari berbagai kelompok, berbagai tingkatan masyarakat, berbagai macam keluarga timbul slogan-slogan kebencian yang tidak dapat diatasi. Siapakah yang mempengaruhi umat ini sehingga menjadi seperti ini?

Pembangkangan dan penyelewengan sudah terbiasa di kalangan mereka ini, sehingga mereka menerima hukuman dari Allah Ta’ala. Mereka harus berpikir berulang kali bagaimana caranya untuk memulihkan kembali wajah Islam yang sejati supaya diperlihatkan kepada dunia. Mereka harus mengintrospeksi kelemahan-kelemahan pribadi masing-masing.

Oleh karena itulah, saya ingin menganjurkan kepada setiap orang Ahmadi agar banyak membaca shalawat juga di dalam bulan Muharram ini. Banyak berdoa jugalah untuk umat Muslimin supaya terjaga dari berbagai perselisihan, fitnah dan berbagai kerusakan, dan tunjukkanlah (perlihatkanlah) kecintaan yang hakiki dan tak ada bandingannya terhadap keluarga besar Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan kepada para sahabat beliau s.a.w. serta kepada semua orang yang dicintai oleh Mahbub dan Aqa kita (Kekasih dan Majikan kita, Sayyidina Hadhrat Nabi Muhammad s.a.w.) 

Semua keturunan jasmaniah beliau s.a.w. yang juga memiliki hubungan rohaniah sangat erat dengan Hadhrat Rasulullah s.a.w., mereka semuanya benar-benar mempunyai hak sepenuhnya dan sangat berhak untuk kita cintai.

Martabat Hadhrat Imam Husein r.a. dan Para Sahabat Rasulullah s.a.w.

  Hadhrat Husein r.a. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tentang bersabda:

 “Imam Husain ra adalah thahir dan muthahhar (suci dan tersucikan) dan tanpa ragu beliau adalah salah seorang manusia terpilih yang Tuhan sendiri telah menyucikannya melalui tangan-Nya, dan Dia telah menjadikannya hamba pilihan-Nya yang Dia cintai, dan tanpa ragu beliau salah seorang pemimpin ahli surga, dan jika satu dzarrah (sangat sedikit) saja menyimpan rasa benci dalam hati kepadanya akan mengakibatkan hancurnya iman.

Ketakwaan, kecintaan kepada Tuhan, kesabaran, istiqamah (teguh pendirian) dan zuhd (kesederhanaan), serta ibadah dari Sang Imam ini bagi kita merupakan uswah hasanah (teladan yang baik), dan kita adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk orang ma’shum (suci lagi terjaga dari dosa) ini, yang dari padanya kita dapatkan [hidayah, petunjuk].

Rusaklah hati orang yang menjadi musuhnya, dan berjayalah hati yang menaruh kecintaan kepadanya serta menampakkannya dalam corak amal perbuatan.”(Majmu’ah Isytihaarat, jilid som, hal. 545)

 Jadi hendaknya kecintaan seperti itulah kepada Hadhrat Imam Husen ra yang harus diperhatikan dan dimiliki oleh setiap orang Ahmadi, sebagaimana telah diajarkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kepada kita.

Demikian juga kecintaan terhadap para sahabah ra harus tetap bersemayam di dalam hati kita. Kecintaan terhadap Hadhrat Abu Bakar ra, Hadhrat  Usman ra dan Hadhrat Umar ra juga tetap bersemayam dengan teguh di dalam hati sanubari kita semua. Tidak juga kita menyintai seseorang sahabat secara berlebihan kemudian yang lainnya kurang dicintai. Kita harus menyintai Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan orang-orang yang menyintai beliau s.a.w.

Pandangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tentang Sahabat Abu Bakar Shiddiq r.a. dan Umar bin Khaththab r.a.

Sambil menjelaskan martabat para sahabat Hadhrat Rasulullah s.a.w., Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Para sahabat yang dimuliakan telah menunjukkan kesetiaan dan ketulusan sejati di jalan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya s.a.w. sehingga mereka mendengar suara pujian dari Allah Ta’ala dengan firman-Nya: عَنْهُ وَرَضُوْا عَنْهُمْ اللهُ رَضِيَ ‘radhiyAllahu’anhum warodhuu ’anhu’ yakni Allah telah ridha kepada mereka dan mereka telah ridha kepada-Nya. Inilah yang telah diperoleh oleh para sahabat berupa derajat dan martabat yang sangat tinggi, yakni Allah Ta’ala telah ridha kepada mereka dan mereka telah ridha kepada-Nya. [9]

        Berkenaan dengan Hadhrat Abu Bakar Siddiq ra,  Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Beliau adalah Hadhrat Adam as kedua dan mazhar (bayangan/penampakan wujud) awwal dari Khairul Anam (Hadhrat Rasulullah s.a.w.), dan sekalipun beliau bukan seorang nabi, namun di dalam wujud beliau mempunyai daya kekuatan dan kemampuan nabi dan rasul.” Yakni beliau merupakan bayangan Hadhrat Rasulullah s.a.w.  Keindahannya nampak bagi orang yang menyaksikannya.

Kemudian berkenaan dengan Hadhrat Umar ra, beliau a.s. bersabda: “Tentang beliau terdapat dalam hadits yang mengatakan bahwa, ‘Setan lari disebabkan oleh bayangan Umar.’ Hadits yang lain menyebutkan, ‘Seandainya terdapat seorang nabi setelahku, maka ia adalah Umar.’ Hadits ketiga, ‘Sesungguhnya di dalam kaum terdahulu terdapat para Muhaddats (penerima kalam Ilahi), bila ada Muhaddats diantara umatku ini, tentulah Umar r.a.’”[10]

Bagi kita, semua orang yang menjadi kekasih Rasulullah s.a.w. menjadi kekasih kita juga. Semoga Allah Ta’ala juga memberi taufiq kepada Umat Muslim ini untuk menghapus segala macam perselisihan dan perpecahan. Pada masa ini tengah terjadi berbagai macam permusuhan yang sangat keras dari pihak luar. Kita semua harus bergabung menjadi satu kemudian penting menunduk taat di hadapan Allah Ta’ala.

Konfilk Israel vs Palestina, Keaniayaan Israel dan Bukan Masanya Perang atas nama agama

Pada saat ini tengah terjadi peperangan antara Israel dan Palestina, disebabkan tidak adanya bimbingan yang benar dan tepat sehingga orang-orang Palestina yang teraniaya tengah menghadapi banyak kehilangan dan kerugian. Mereka tengah membuat kerugian mereka sendiri, dan pada zaman ini bimbingan terhadap umat Islam diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yaitu janganlah berperang atas nama agama. Jika ada yang berperang atas nama agama mereka tidak akan mendapat kejayaan.

Peperangan yang tengah berlangsung ini keadaannya tidak seimbang. Akal juga menghendaki agar semua perkara diselesaikan melalui perundingan, supaya jiwa orang-orang tak berdosa dapat diselamatkan dan tidak menjadi sia-sia. Serangan-serangan Israel ditujukan ke arah orang-orang yang tak berdosa. Memang benar di antara sasaran mereka tepat kepada yang dituju namun banyak sekali jiwa orang tidak berdosa yang melayang tersia-siakan.

Di negeri ini (Inggris) juga melalui surat-surat kabar mulai ribut mempermasalahkan hal tersebut. Mereka mengatakan kepada Israel, “Untuk membalas kematian satu orang, anda telah membunuh seratus lima puluh orang.” Orang-orang yang akan dikenakan tindakan oleh Allah Ta’ala atau akibat apa yang akan mereka hadapi, bukan dengan peperangan, melainkan Allah Ta’ala dengan taqdir-Nya akan memberi keputusan sendiri.

 Bagaimana caranya, hanya Tuhan sajalah Yang lebih mengetahuinya. Demikianlah apa yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Quranul Karim. Jadi jika orang-orang Palestina hendak mempertahankan diri dan jika ada uluran pertolongan dari orang-orang Muslim maka caranya lakukanlah dengan menundukkan kepala di hadapan Allah Ta’ala, kemudian mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala melalui doa-doa. Tidak syak lagi Allah Ta’ala menangkap dan akan menangkap orang-orang zalim dan Dia tidak akan membiarkan mereka.

Akan tetapi orang-orang Muslim juga berkewajiban untuk mengenal seruan dari Imam Zaman sekarang ini. Di negeri ini bila saja saya mendapat kesempatan untuk berkata di hadapan orang-orang mazhab (kepercayaan) lain maka saya katakan bahwa jika keadilan diabaikan dan tuntutannya tidak dipenuhi sebaik-baiknya maka kalian akan terus-menerus terlibat dalam api peperangan yang sangat dahsyat dan menakutkan.

Hanya dengan melakukan kezaliman terhadap orang-orang yang tidak berdosa kalian tidak akan mendapatkan keselamatan, kekuatan kalian tidak akan memberi keselamatan. Maka saya katakan kepada mereka berusahalah untuk menyelamatkan kehancuran anak keturunan kalian dan tegakkanlah keadilan.

Doa-Doa dan Ucapan Selamat Tahun Baru

Semoga Allah Ta’ala menjadikan negara-negara besar adi kuasa menjadi bangsa-bangsa yang menegakkan keadilan, jika tidak, masalah perang ini bukan hanya masalah perang antara kedua negara namun akan melibatkan negara-negara besar sehingga menjadi perang global (perang dunia) yang sangat dahsyat dan mengerikan yang efek secara lahiriah sudah nampak sekali.

Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada setiap orang Ahmadi untuk banyak memanjatkan  doa-doa kepada Allah Ta’ala, untuk banyak membaca shalawat supaya bisa menjadi penyelamat dunia dari kehancurannya. Semoga manusia di dunia memahami hakekat dari masalah ini dan semoga selamat dari kehancuran.

Semoga tahun baru ini menjadi tahun turunnya rahmat dan  keberkatan  yang sebanyak-banyak di atas Jemaat Ahmadiyah sebagaimana berberkahnya tahun ini, dan dengan karunia Allah Ta’ala kita bisa menyaksikan kemenangan dan kejayaan yang akan dilimpahkan kepada Jemaat ini.

Semoga Allah Ta’ala dari segala segi tahun baru ini menurunkan berbagai keberkatan-Nya kepada setiap Ahmadi.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Hari Jumat saat Hudhur V atba khotbah diatas ialah tanggal 2 Januari 2009, bertepatan dengan 2 Sulh 1388 Hijriyah Syamsiyah, bertepatan dengan 4 Muharram 1431 Hijriyah Qamariyah. Januari, Sulh dan Muharram adalah bulan pertama dari 12 bulan dalam ketiga kalender diatas.

[3] Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam, jilid 4, halaman 389, tafsir Surat Al Jumu’ah.

[4] Jalaaul Afham, karya Hafidz Ibnu Qoyyim al-jauziyah rahmatullahi ‘alaihi, dari hadits Abu Thalhah Zaid bin Sahal al-Anshari, Musnad penduduk Madinah, Musnad Ahmad bin Hanbal. عَنْ أَبِي طَلْحَةَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا طَيِّبَ النَّفْسِ يُرَى فِي وَجْهِهِ الْبِشْرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَصْبَحْتَ الْيَوْمَ طَيِّبَ النَّفْسِ يُرَى فِي وَجْهِكَ الْبِشْرُ قَالَ أَجَلْ أَتَانِي آتٍ مِنْ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ فَقَالَ مَنْ صَلَّى عَلَيْكَ مِنْ أُمَّتِكَ صَلَاةً كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ وَمَحَا عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ وَرَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ وَرَدَّ عَلَيْهِ مِثْلَهَا

[5] Jalaaul Afham, Fadhl ash-shalaah ‘alaa Muhammadin khairil anaam, ibnu Syahiin

[6] Mereka yang memiliki ikatan jasmaniah dan rohaniah dengan Nabi Muhammad s.a.w. dalam konteks diatas berarti: 1. Jasmaniah; semua orang yang mengaku pengikut Nabi Muhammad s.a.w. kendati salah memahami ajaran beliau s.a.w., termasuk dalam hal ini mereka yang mengaku keturunan darah Nabi s.a.w..; 2. Rohaniah; semua pengikut Nabi Muhammad s.a.w. yang secara hakiki mengamalkan ajaran hakiki beliau s.a.w..

[7] Barahin Ahmadiyah – Ruhani Khazain, j. 1, h. 598-599. Haasyiah dar haasyiah no. 3.

[8] Sunan at-Tarmidzi, Abwaab ad-Da’waat (tentang doa-da) bab maa jaa fi ‘aqdit tasbiihi bil layyid.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْخَطْمِيِّ الأَنْصَارِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي دُعَائِهِ: «اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنِي حُبُّهُ عِنْدَكَ اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَنِي مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لِي فِيمَا تُحِبُّ اللَّهُمَّ وَمَا زَوَيْتَ عَنِّي مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ لِي فَرَاغًا فِيمَا تُحِبُّ».

[9] Malfudzaat, julud charm, hal. 465, Edisi Baru.

[10] Izaalah Auham, Ruhani Khazaain jilid 3 halaman 219.

Hadits ini, إن الشيطان يهرب من ظل عمر ‘innasy syaithaana yahrubu min zhilli ‘Umar’ – “Bahkan setan pun lari dari bayangan Hadhrat Umar.” Hadits, لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ Lau kaana ba’dii nabiyyun lakaana ‘Umara bn al-Khaththaab’ – “Jika ada lagi nabi sesudahku, itulah Umar, putra al-Khaththaab.” Hadits ketiga meriwayatkan,إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِي أُمَّتِي هَذِهِ مِنْهُمْ فَإِنَّهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ‘innahu qad kaana fiimaa madha qablakum minal umami muhaddatsuuna wa innahu in kaana fii umatii haadzihi minhum fa innahu ‘Umar ubnul Khaththaabi’

Hadits pertama tercantum dalam karya al-Haitsami yaitu Majma az-Zawaid, 9/51 dan Fadhail Shahabah karya al-Imam Ahmad; hadits ke-2 terdapat dalam Tirmidzi dalam Sunan-nya 5/619 no 3686, Ahmad dalam Fadhail Shahabah no 519 dan no 694; hadits ke-3 diriwayatkan dalam Muslim dan juga Bukhari.