بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىعَلى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ  وَعَلىعَبْدِهِ الْمَسِيْحِ الْمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH

 HADZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.

Tanggal  01-Juni-2007 dari  Mesjid Baitul Futuh, London UK

وَاعْبُدُوْااللهَ وَلاَتُشْرِكُوْابه ِشَيْـئًاوَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاوَّبِذِىالْقُرْبىوَالْيَتمىوَالْمَسكِيْنِ

وَالْجَارِِذِالْقُربىوَالْجَارِالْجُنُبِ وَالصًّاحِبِ باِلْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيْلِ وَمَامَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ

اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوْرًا

 

Artinya : Dan sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya: dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim dan orang miskin dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat dan handai taulan dan orang musafir dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang sombong membanggakan diri. (Surah An Nisa ayat 37)

Setelah mengucapkan Syahadat, dan membaca surat Al-Fatihah, Huzur atba menilawatkan ayat 37 Surah An Nisa tersebut diatas, lalu beliau bersabda:

Didalam khutbah Jum’ah yang lalu telah dijelaskan tentang mengucapkan salaam dirumah-rumah dan menyebar luaskannya kepada yang lain. Berkat penyampaian amanat keselamatan Allah swt itu suasana kedamaian dirumah-rumah tangga menjadi mapan. Karena hadiah-hadiah keselamatan itulah kegelapan menjadi hilang sirna. Dengan karunia Allah swt sesuai dengan janji-Nya pintu Daarus-Salaam selalu terbuka, baik untuk yang mengucapkan salaam itu sendiri maupun untuk keluarganya sendiri yang diberi ucapan salaam itu. Ucapan salaam itu adalah pembuka pintu daarus-salaam.

            Sebagaimana telah saya katakan bahwa amanat keselamatan Islam ini adalah amanat keselamatan bagi kehidupan manusia secara individu dan juga bagi kehidupan manusia secara global. Di dalam khutbah itu sudah saya jelaskan juga bahwa menyampaikan amanat keselamatan yang sangat indah ini baik dikalangan rumah tangga sendiri maupun dikalangan rumah kaum kerabat atau rumah kawan-kawan adalah perintah dari Allah swt. Dan Allah swt telah memberitahukan bahwa dengan ucapan salaam itu suasana kedamaian dan keselamatan dapat ditegakkan dan kezaliman dapat dihindarkan.

            Didalam ayat 37 Surah An Nisa tersebut diatas, secara tidak langsung Allah swt dalam bentuk beberapa macam ihsan (kebaikan) telah menyebutkan perintah-perintah-Nya sebagai amanat kedamaian dan keselamatan bagi dunia. Dan amanat itu dapat sampai kepada setiap orang yang telah disebutkan didalam ayat tersebut. Dan jika seorang manusia, seorang mu’min melaksanakan perintah-perintah itu maka keselamatan dan kedamaian pasti dapat ditegakkan dikalangan masyarakat banyak. Didalam satu ayat ini petunjuk-petunjuk yang diberikan untuk menegakkan kecintaan, perdamaian dan keselamatan didalam masyarakat jumlahnya ada sebelas macam. Jika didalam masyarakat tertentu semua petunjuk itu diamalkan, pasti dapat tercipta suasana masyarakat yang sangat indah. Disebabkan harumnya angin keselamatan suasana masyarakat dan lingkungan disana akan bertambah semerbak kemana-mana.

            Hidayat pertama yang harus dilaksanakan adalah menunaikan ibadah kepada Tuhan. Jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Sebagaimana firman-Nya :

وَاعْبُدُوْااللهَ وَلاَتُشْرِكُوْابهِ شَيْئًا

 

Artinya : Dan sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya:

 

Seorang muslim baru dapat menyatakan dirinya muslim sejati, jika ia paham betul akan maksud daripada ajaran Islam yang sangat mendasar ini, untuk mana manusia telah diciptakan oleh Allah swt. Sebab tanpa memperoleh hasil daripada maksud ini, ruh sejati Islam tidak dapat tercipta. Dan sifat-sifat Tuhan tidak dapat dikenal dengan sebaik-baiknya. Disebabkan tidak mengenal Sifat Salaam Tuhan, seorang mu’min tidak akan berhasil mendapatkan barokah-barokahnya. Maka setiap mu’min harus selalu menaruh perhatian khusus kearah itu, supaya dengan mengenal hakikat keselamatan itu, ia sendiri dapat meraih berkah-berkahnya dan dapat pula menyebarkan kepada masyarakat sekitarnya. Apabila sudah memahami hakikatnya, dan hal itu sudah menjadi adat kebiasaan hidup sehari-hari, maka firman-Nya, tegakkanlah haq-haq kewajiban terhadap sesama manusia seperti telah dijelaskan didalam ayat itu, yakni jika saling berlaku baik antara sesama sudah terbiasa dilakukan, maka hal serupa itu dapat menjadi jaminan bagi keselamatan masyarakat banyak. Akhirnya petunjuk yang harus mendapat  perhatian didalam ayat itu merupakan amalan yang bersangkutan dengan hak-hak Allah swt, dan juga yang bersangkutan dengan hak-hak sesama manusia.

            Sekarang akan saya jelaskan satu persatu yang dapat memberi jaminan terhadap perdamaian, kecintaan dan keselamatan bersama didalam setiap tingkatan masyarakat.

Yang pertama adalah  اِحْسَانًا وَّبِالْوَالِدَيْنِ  

artinya : dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua. Hal ini menunjukan bahwa setelah perintah menunaikan ibadah kepada Tuhan, perintah berlaku baik terhadap orang tua mendapat tempat yang sangat penting, yaitu harus berusaha menjaga keselamatan kedua ibu dan bapak dari setiap keburukan, sebab mereka berdua selalu menjaga keselamatan anak-anak mereka dari setiap keburukan semenjak mereka masih kecil. Sepanjang kehidupan kedua orang tua menanggung kesulitan dan kesusahan menjaga keselamatan anak-anak mereka. Maka sekarang setelah anak-anak menjadi besar-besar mereka harus memenuhi hak-hak kewajiban terhadap kedua orang tua mereka. Ditempat lain Allah swt berfirman :

وَلاَ تَقُلْ لَهُمَا اُفٍّ

 

Artinya : dan (apabila kedua orang tua sudah berusia lanjut) janganlah engkau membantah kehendak orang tua dengan mengatakan kepada mereka “akh“ engkau harus menta’ati mereka.  (Surah Bani Israil ayat 24)

Ditempat lain lagi Allah swt berfirman :

وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَاكَمَا رَبَّينِىْ صَغِيْرًا

 

artinya : Dan katakanlah (panjatkanlah do’a untuk mereka) Ya Allah kasihanilah mereka berdua sebagaimana keduanya telah memeliharaku dengan kasih sayang ketika aku masih kecil ! ( Surah Bani Israil ayat 25)

 

Do’a itu diperintahkan kepada anak-anak supaya dalam hati mereka timbul pikiran dan perasaan kasih sayang terhadap kedua orang tua mereka.

            Didalam surah Al Ahqaf ayat 16 Allah swt berfirman :

وَوَصَّيْنَااْلاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا حَمَلَتْهُ اُمُّهُ كُرْهًاوَّوَضَعَتْهُ كُرْهًاوَحَمْلُهُ وَفِصلُهُ ثَلَثُوْنَشَهْرًا حَتّى اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهُ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِىْ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضـهُ وَاَصْلِحْ لِى فِيْ ذُرِّيَّتِى اِنِّى تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّى مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

 

Artinya; Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik terhadap orang tuanya. Ibunya telah mengandung dia dengan derita, dan melahirkan dia dengan derita sedangkan mengandungnya dan menyapihnya mengambil waktu tiga puluh bulan hingga apabila dia mencapai usia dewasanya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata : Hai Tuhan-ku limpahkanlah taufiq kepadaku supaya aku dapat bersyukur atas ni’mat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang tuaku dan supaya aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhoi. Dan tegakkanlah kesalehan ditengah-tengah keturunanku bagiku. Sesungguhnya aku senantiasa bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang patuh ta’at kepada Engkau.

 

            Yakni aku akan menjadi orang patuh-ta’at yang haqiqi, dan Islam  haqiqi akan akan masuk kedalam hatiku dan aku akan menjadi penyebar keselamatan apabila aku mengamalkan salah satu perintah itu, yaitu berbuat baik terhadap kedua orangtua, dan aku harus menjadi orang yang bersyukur atas ni’mat-ni’mat yang telah Allah swt karuniakan kepadaku, sambil mengenang dan mengingat semua kebaikan yang telah beliau-beliau lakukan kepadaku. Sesuai dengan do’a diatas : “Hai Tuhan-ku limpahkanlah taufiq kepadaku supaya aku dapat bersyukur atas ni’mat Engkau yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orang tuaku” dan aku akan terus berdo’a untuk keturunan yang akan datang juga supaya mereka menjadi orang-orang penyebar kedamaian dan keselamatan.

            Disini kedua orangtua harus ingat bahwa orangtua yang disebut didalam ayat tersebut diatas adalah orangtua yang anak-anak keturunannya selalu paling depan dalam beramal soleh dan menjadi pencinta kebaikan. Jadi orangtua harus memberi tarbiyyat terhadap anak-anak sambil memohon karunia dari Allah swt supaya mereka menjadi penyebar kedamaian dan keselamatan yang patuh ta’at. Jika tidak, akan menjadi seperti seorang ibu yang kupingnya telah digigit oleh anaknya, ketika anaknya itu telah diputuskan mau dihukum gantung. Ia menghampiri ibunya dan dgn pura-pura mau berbisik dikuping ibunya itu tiba-tiba ia menggigit kuping ibunya hingga menjerit kesakitan. Dan anak itu berkata kepada ibunya, wahai Ibu!! karena ibu tidak mendidik saya dengan baik, tidak memberitahu perbedaan antara kebaikan dan keburukan, perbedaan antara kekacauan dan kedamaian, saya mengambil barang kepunyaan orangpun dibiarkan, mencuri harta orang dibiarkan sehingga menjadi seorang perampok yang jahat, yang akhirnya saya diputuskan dihukum gantung. Jika Ibu mengajar saya apa artinya amal soleh, apa artinya dosa, apa artinya kedamaian dan apa artinya keselamatan, tentu saya tidak akan naik keatas tiang gantungan melainkan akan menjadi seorang penyebar kedamaian dan keselamatan dan mendo’akan Ibu supaya mendapat karunia dan kasih sayang dari Allah swt.

            Jadi, kedua orangtua harus memahami betul tanggung jawab masing-masing. Didalam ayat tersebut diatas Allah swt mengingatkan kedua belah pihak, pertama anak-anak dinasihatkan supaya berusaha memenuhi hak-hak kedua orangtua dan selalu memanjatkan do’a untuk mereka. Kedua, orangtua harus selalu memanjatkan do’a untuk mereka supaya mereka sentiasa berada diatas jalan kebaikan. Kebiasaan berdo’a ini baik pada orang tua maupun pada anak-anak, jika dilaksanakan sambil menunaikan hak-kewajiban terhadap manusia (hakukul-ibaad) dapat menjadikan mereka para penyebar keselamatan. Tidak hanya sampai disitu perintah Allah swt ini. Dia menyuruh agar kita juga menaruh perhatian kepada kaum kerabat dan harus berbuat kebaikan kepada mereka. Sebab budi pekerti dan perlakuan yang baik itu dapat menjamin terselenggaranya suasana aman dan damai dikalangan masyarakat, dikalangan kaum kerabat yang terdekat, dikalangan semua saudara baik dari pihak bapak maupun saudara-saudara dari pihak ibu. Wajiblah bagi kedua belah pihak untuk saling menunaikan kewajiban satu sama lain, saling harga-menghargai, saling hormat-menghormati satu sama lain. Dan semua pihak juga harus membangkitkan kesan dan  perasaan hati yang baik untuk semuanya. Pendeknya semua kewajiban untuk berbuat kebaikan terhadap sesama manusia baik terhadap mereka yang kalian tidak menyukainya ataupun yang kalian sendiri menyukainya, harus diperlakukan sama, walaupun memang keadaan tabiat manusia tidak semuanya sama. Jangan berlaku baik hanya kepada mereka yang dianggap mempunyai karakter atau tabi’at yang sama dengan kalian, melainkan harus kepada setiap orang tanpa pilih. Perintah berlaku baik ini bukan hanya kepada keluarga saja. Seorang suami harus berlaku baik kepada keluarga dari pihak isteri dan seorang isteri harus berlaku baik kepada keluarga pihak suami juga. Tujuan perlakuan baik itu hendaklah untuk menggalang penyampaian amanat keselamatan yang intinya adalah amanat keselamatan Tuhan. Sering terjadi pertengkaran diantara sesama keluarga dekat disebabkan lemahnya hubungan kekelurgaan dan hambarnya rasa hormat satu sama lain diantara mereka.

            Keluarga paling dekat kedua pasangan suami isteri adalah orangtua mereka. Maka dimana ada perintah untuk berlaku baik terhadap orangtua disana maksudnya perintah berlaku baik terhadap kedua orang tua suami isteri. Banyak peristiwa terjadi, sang suami berkata-kata buruk terhadap kedua orangtua pihak isteri. Sebaliknya isteripun berbuat keterlaluan melemparkan kata-kata buruk terhadap orangtua dan keluarga suami. Kejadian seperti itu tidak boleh terjadi dikalangan keluarga Ahmadi sebab Allah dan Rasul-Nya memberi perintah kepada setiap orang Ahmadi untuk menyampaikan amanat keselamatan kepada seluruh ummat manusia. Mereka telah beriman kepada Hadzrat Imam Zaman a.s. Beliau a.s. telah mengajar orang-orang Ahmadi untuk menegakkan akhlak yang baik dan luhur. Bahkan beliau telah memberi peringatan, jika hendak tinggal bersama Jemaatku kalian harus berpegang kepada akhlak yang luhur yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

            Kita semua harus berfikir, bahwa setelah beriman kepada Hadzrat Imam Zaman a.s. mengapa timbul gejolak perlawanan menyerang kita. Sebabnya mereka tidak setuju, mereka membantah kita beriman kepada orang yang telah menda’wakan diri sebagai Imam Mahdi dan Masih mau’ud adalah Nabi Allah. Setelah masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah banyak orang Ahmadi yang menghadapi bermacam-macam kesusahan dan kesulitan yang dibangkitkan oleh keluarga mereka yang belum masuk Jema’at. Hubungan keluarga diputuskan, orangtua mengancam anaknya dan mengusir dari rumahnya sambil berkata, mengapa kamu masuk Ahmadiyah?

            Dalam situasi demikian bagaimana caranya perlakuan seorang Ahmadi terhadap mereka. Setiap orang Ahmadi harus merasa bahwa setelah menyatakan diri pengikut orang yang telah disebut oleh Allah sebagai Putera Mahkota Keselamatan, bagaimana usaha untuk memperkuat diri menjadi penyampai amanat keselamatan itu kepada keluarga orangtua dan kaum kerabat sendiri. Dan setiap orang Ahmadi harus sadar diri, jangan sampai menodai nama baik Putera Mahkota Kedamaian dan keselamatan ini. Jika kita tidak mau dekat dengan keluarga dan anak-anak sendiri, tidak berlaku baik terhadap mereka, tidak mau mendo’akan mereka dan tidak mau meminta do’a dari mereka, bagaimana kita dapat berbuat baik, menjalin hubungan baik dan memikirkan nasib orang lain yang tidak punya hubungan keluarga dengan mereka?

            Banyak sekali keluhan atau complain telah diterima tentang pemegang jabatan (pengurus) dalam Jema’at. Mereka tidak berlaku baik dan adil terhadap anak isteri mereka. Sebelum ini juga sudah saya singgung bahwa demikian seringnya diterima keluhan tentang perlakuan buruk dan kejam itu sehingga menimbulkan kegelisahan. Apakah mereka tidak faham perubahan apa yang telah dibangkitkan oleh Hadzrat Masih Mau’ud a.s.? Banyak yang berkhidmat kepada Jema’at dengan menyebut atas nama Jema’at Hadzrat Masih Mau’ud .a.s dan dalam pengkhidmatannya berlomba-lomba satu sama lain, namun sampai dirumah, mereka berlaku tidak wajar dan kejam terhadap keluarga mereka sendiri. Semoga Allah swt mengasihani mereka dan memberi akal sehat kepada mereka. Akhirnya apabila perbuatan mereka sudah melampaui batas dan masalahnya sudah diketahui oleh Khalifa-e-waqt, mereka diberhentikan dari pengkhidmatannya itu. Setelah itu mereka membuat ribut diluar, mengapa kami telah diberhentikan dari penghidmatan. Sebagai pemegang jabatan (pengurus), mereka harus berpikir sebelum apa yang akan terjadi, bagaimana harus mengamalkan ajaran Al Quran yang telah diwajibkan mengamalkannya kepada mereka, bagaimana usaha yang harus dilakukan untuk menyampaikan amanat keselamatan dan sebagainya .

            Didalam Al Quran Allah swt memerintahkan untuk berlaku baik terhadap anak-anak yatim, karena kedudukan mereka ini sangat lemah didalam masyarakat. Dan Tuhan memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang-orang miskin juga, karena orang yatim dan miskin ini dua buah kelompok masyarakat yang paling lemah. Mereka tidak mempunyai penolong. Jika ada orang yang berbuat zalim kepada mereka, tidak ada pelindung yang membela mereka.

            Kelompok orang-orang sangat lemah ini kadang kala menjadi pemicu kerusuhan dikalangan masyarakat sebagai reaksi dari kezaliman yang dilakukan terhadap mereka. Mula-mula mereka melibatkan diri dalam keburukan yang kecil-kecil untuk membela hak-hak mereka. Mereka berkelahi membuat kerusuhan. Kemudian kelompok oposisi menggunakan tenaga mereka lalu meracuni benak mereka untuk menentang masyarakat banyak. Kelompok orang-orang putus asa ini, yang hak-haknya sudah ditolak kemudian diabaikan, mereka menganggap benar apa yang sedang mereka lakukan itu. Sehingga mereka berbuat sekehendak hati mereka. Orang-orang yang berlaku baik terhadap mereka telah dikira sebagai pelindung mereka, padahal orang-orang itu sedang memperalat mereka untuk kepentingan pribadi mereka.

            Dinegara-negara miskin, orang-orang yatim dan miskin seperti itu yang keluarga mereka sendiri tidak memperdulikan mereka atau memang tidak mampu mengayomi mereka karena derita kemiskinan, anak-anak gelandangan seperti itu yang tidak mencicipi pendidikan bahkan buta huruf dan jahil tidak mampu bekerja apapun. Mereka diperalat oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Demikian juga keluarga yang mempunyai anak banyak (كَثِيْرُ اْلعَيَّالِ)   tidak mampu menafkahi mereka semua. Anak-anak mereka diserahkan kepada Madrasah-madrasah, seperti yang sedang terjadi dinegara Pakistan. Madrasah-madrasah itu penuh dengan anak-anak keluarga miskin. Kelihatannya memang mereka diberikan pendidikan agama, namun suatu waktu dengan jumlah yang banyak mereka dipicu diperalat untuk membuat kerusuhan dan protes-protes atas nama agama, mereka siap untuk bunuh diri. Dengan konsep jihad yang palsu mereka dipaksa untuk berbuat macam-macam terror. Jika terhadap anak-anak miskin dan anak-anak yatim yang jumlahnya begitu  banyak diurus dan dibina serta diberi pendidikan dengan baik, tentu masyarakat akan terlepas dari banyak kejadian huru-hara atau kerusuhan seperti itu.

            Pada suatu hari kami berada di Bhera (Pakistan) dan ketika kami pergi kesawah-sawah untuk berburu, tiba-tiba anak-anak Madrasah datang menghampiri kami. Lalu kami tanya mereka, sedang belajar apa di Madrasah dan apa yang telah dipelajari disana. Mereka sedikit saja bercerita mengenai pelajaran, mereka dengan bangga mengatakan, kami setiap hari belajar internet, dilatih membuat senjata, membuat kartus (peluru ber-diameter 2cm, untuk senapan angin laras panjang dan besar). Demikianlah keadaan anak-anak Madrasah itu. Ibu bapak mereka mengirim kemadrasah untuk belajar agama, namun anak-anak orang miskin itu mendapat pendidikan yang lain, yang dikemudian hari dapat digunakan untuk melakukan kekerasan, digunakan secara tidak benar, digunakan untuk membuat kerusuhan dan huru-hara. Kasihan ibu-bapak mereka dirumah, yang mengharapkan anak-anak mereka untuk memahami agama supaya terpelihara dari keburukan. Akan tetapi merekapun tidak tahu anak-anak mereka itu ada dibawah tangan kekuasaan siapa. Demi tujuannya sendiri, orang-orang tertentu menggunakan anak-anak ini untuk mengadakan pertumpahan darah atas nama agama. Maka untuk mencegah kerusuhan seperti itu adalah tugas masyarakat atau tugas pemerintah untuk mengurus kelompok orang-orang seperti itu agar jangan dicampak kan seperti barang yang tidak berguna, bahkan harus dirangkul dengan baik-baik. Berilah curahan hati secara wajar jangan dibiarkan perasaan hati mereka terluka. Oleh karena mereka ini kelompok orang-orang sangat lemah, perasaan mereka sensitive dan mudah dipengaruhi.  Mereka harus diberi pengarahan yang bersifat membangun. Dan usaha itu tidak akan dapat berhasil selama mereka tidak diperlakukan dengan sangat baik. Jika didalam sebuah kelompok masyarakat terdapat orang-orang yang menggalang kepentingan kelompok orang-orang lemah seperti itu, maka keamanan dan keselamatan disana dapat terjamin. Dan para pengasuh anak-anak yatim serta para pendukung orang-orang miskin itu tentu akan mendapatkan kasih-sayang Tuhan.

Didalam sebuah riwayat, Rasulullah saw sambil mengacungkan kedua buah jari telunjuk dan jari tengah bersabda: Aku bersama orang-orang yang mengurus anak-anak yatim akan sangat dekat seperti dekatnya kedua jari ini. Didalam sebuah riwayat lagi beliau saw pernah bersabda, Rumah yang terbaik dari antara rumah-rumah orang mu’min adalah rumah yang didalamnya dipelihara orang-orang yatim. Didalam sebuah riwayat lagi beliau bersabda, Cukuplah bagi penyebab nasib malang seseorang, apabila dia memandang saudara muslimnya dengan pandangan hina. Kita harus kasihan terhadap orang-orang yang memandang fakir miskin dengan pandangan hina.

            Secara sambil lalu disini saya ingin mengatakan bahwa dengan karunia Allah swt Jema’at Ahmadiyah mempunyai sistim pengelolaan anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Di Pakistan juga telah dibentuk panitia dengan mengadakan peninjauan mengenai program pendidikan mereka dan tempat tinggal mereka. Dinegara-negara lain juga khususnya di negara-negara Afrika dengan karunia Allah swt telah dibentuk panitia, mudah-mudahan Allah swt mencukupi semua dana yang diperlukan. Untuk membantu anak-anak yatim ini telah dibuka Fund, supaya orang-orang Jema’at membantu menyediakan dana untuk itu. Supaya sebanyak mungkin keperluan anak-anak yatim dapat dipenuhi. Demikian juga dana untuk membiayai perkawinan gadis-gadis anak orang miskin (Februari tahun 2003) Hadzrat Khalifatul Masih lV r.h telah membuka fund yang diberi nama Mariam Syadi Fund. Mula-mula Mariam Syadi Fund mendapat perhatian yang sangat besar dari para anggota Jemaat sehingga banyak sekali perkawinan anak-anak orang miskin telah dibiayai oleh Fund ini. Sampai saat ini perhatian para anggota Jema’at terhadap Fund ini tetap tidak terhenti, namun sekarang dana untuk Mariam Syadi Fund yang diterima dari para anggota Jema’at tidak sebanyak pada masa permulaan. Para anggota Jema’at khususnya dari golongan yang berada harus menaruh banyak perhatian kepada Fund ini.

            Itulah perlakuan yang sangat baik terhadap orang-orang miskin dan orang-orang yatim, tentunya bagi orang-orang yang telah melakukan  kebaikan ini akan mendapat khabar yang menggembirakan tentang surga bagi mereka. Allah swt dan Rasul-Nya telah memberi khabar suka bahwa kepada mereka akan diberikan Darus-Salaam karena mereka telah berusaha memberi pertolongan kepada beberapa orang yang sangat memerlukan untuk menjalani kehidupan mereka dan  telah berusaha untuk menjauhkan kesusahan mereka.

            Didalam sebuah riwayat, Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa : Allah swt akan menempatkan mereka dibawah naungan rahmat-Nya dan memasukkannya kedalam surga, orang yang menyayangi orang-orang lemah tak berdaya, yang mencintai ibu bapaknya, dan berlaku baik terhadap pembantu dan pekerja dirumahnya.

            Selanjutnya untuk menciptakan suasana aman damai dan cinta-kasih satu sama lain didalam lingkungan masyarakat, Allah swt berfirman didalam Al Quranul Karim, didalam ayat tersebut diatas : berlaku baiklah kalian terhadap para tetangga! Bukan berlaku baik hanya terhadap tetangga yang sesanak-saudara saja, sehingga seratus persen dilakukan semata-mata demi keridhoan Allah swt, tetapi kepada tetangga yang bukan keluarga dekat juga harus berlaku sama baik seperti itu juga. Sebab berbuat baik terhadap sanak saudara sendiri biasanya dipengaruhi oleh perasaan suka dan tidak suka terhadap mereka itu. Hamba Allah swt sejati yang berusaha untuk meraih keridhoan-Nya baru dapat diketahui sesungguhnya jika ia selalu berbuat baik kepada orang lain juga. Harus berlaku baik terhadap para tetangga yang bukan keluarga juga. Menunaikan hak-hak para tetangga demikian ditegaskannya  oleh Allah swt dan demikian berulangkalinya diperingatkan oleh Rasulullah saw sehingga beliau bersabda, saya mengira barangkali tetangga akan dimasukkan kedalam ahli waris. Hal ini ditekankan untuk menanamkan perasaan demikian terhadap tetangga. Menaruh perhatian sdengan sungguh-sungguh, berlaku baik dan memenuhi keperluan-keperluan tetangga adalah perkara yang sangat penting. Sebab para tetangga itu tinggal berdekatan satu sama lain sehingga merupakan dinding keempat penjuru rumah. Jika para tetangga tidak saling berlaku baik satu sama lain, hal tersebut akan menjadi penyebab timbulnya kesusahan, jika disatu lorong ada sebuah keluarga yang tidak berlaku baik terhadap yang lain maka lorong itu akan menjadi sumber kekacauan bagi yang lain. Dilorong itu tidak akan tercium harumnya keselamatan. Begitu keluar dari rumah yang pertama nampak pada kita adalah rumah tetangga. Jika kita sampaikan ucapan keselamatan (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ) kepada mereka dengan perasaan hati yang dalam, mereka juga akan menjawab ucapan keselamatan kita sehingga merekapun akan menjadi bahan keselamatan juga bagi kita.

            Dinegara-negara Barat ini setiap orang terbenam dalam kemewahan dunia masing-masing. Hal itu sudah menjadi bagian daripada kehidupan mereka, baik dirumah mereka sendiri maupun dirumah saudara-saudara mereka. Mereka tidak ambil pusing, mereka tidak mempunyai pengertian pentingnya bertetangga seperti yang telah diajarkan Islam kepada kita. Itulah keunggulan agama Islam, selalu  memperingatkan orang-orang mu’min sampai kepada setiap amalan yang dianggap paling kecil sekalipun. Kemudian kepada mereka diberi kabar suka tentang surga sebagai ganjarannya. Supaya setiap mu’min selalu berusaha keras untuk menyebarkan setiap amanat keselamatan didalam lingkungan masyarakatnya.

            Apabila sambil menyampaikan amanat keselamatan kepada orang-orang itu, kita menjalin hubungan baik dengan mereka, sehingga mereka maklum bahwa kita menjalin hubungan dengan mereka dengan senang hati dan tanpa pamrih, menjalin hubungan untuk menaruh rasa simpati dengan mereka, merekapun merasa gembira dan merasa heran juga. Sebab mereka tidak terbiasa dengan cara begini. Dari pernyataan rasa gembira mereka dan dari pendapat mereka tentang perkara menyenangkan ini, dan meningkatkan hubungan dengan mereka sungguh tepat dengan suara fitrat bahwa manusia ingin berbuat baik kepada setiap orang. Kita dapat mengetahui dengan jelas bahwa mereka juga sangat senang bertetangga dengan kita dan merekapun sangat senang menjalin hubungan persaudaraan yang baik dengan kita. Banyak dari antara mereka yang sangat senang terhadap perilaku kita seperti ini.

            Semenjak saya mengingatkan Jemaat untuk menjalin hubungan dengan orang-orang barat ini khususnya untuk mempererat hubungan sebagai tetangga, banyak laporan yang menggembirakan telah diterima dari beberapa tempat. Mereka itulah yang pada mulanya merasa ketakutan bertetangga dengan orang-orang Asia atau dengan orang-orang asal Pakistan. Apabila hubungan dengan mereka kian ditingkatkan, hadiah-hadiah mulai dikirim kepada mereka pada kesempatan hari-hari Id dan hari ulang tahun keagamaan mereka, hubungan dengan mereka mulai berkembang dengan baik dan rasa takut mereka menjadi  hilang sirna. Dan mereka itulah yang pada mulanya menganggap Islam agama yang melakukan kekerasan dan pembuat kerusuhan dan kekacauan. Sekarang mereka sudah mulai tertarik dengan ajaran Islam. Para tetangga Masjid Fadhal London sudah pernah diundang beberapa kali untuk jamuan persahabatan, selain para anggota sendiri secara pribadi mengundang mereka kerumah masing-masing. Pada tahun ini juga telah diadakan sebuah jamuan persahabatan. Merekapun berdatangan dengan senangnya dan sayapun hadir. Dalam pertemuan itu sayapun telah menjelaskan kepada mereka ajaran Islam yang menyangkut dengan masalah hidup rukun dengan tetangga. Setelah mendengar penjelasan ini, merekapun  merasa heran dan menyatakan rasa gembira dan senang. Dan merekapun mengucapkan banyak terima kasih. Sampai sekarang saya sering menerima surat dan kartu pos yang isinya banyak mengagumi masalah yang telah dibahas mengenai hidup rukun dengan tetangga.

Jadi dengan perlakuan baik terhadap para tetangga yang menjamin keselamatan bersama, dapat membuka kesempatan yang sangat baik untuk bertabligh kepada mereka. Jika mereka itu tidak merasa tertarik terhadap agama, namun dengan tabligh itu sekurang-kurangnya anggapan buruk  tentang Islam yang telah meracuni pikiran mereka dapat dijauhkan. Jika kesan baik hidup bertetangga sudah meluas di dalam pikiran manusia maka hal itu dapat menjadi landasan bagi kedamaian dan keselamatan dunia. Dan kerusuhan akan lenyap dari muka bumi. Sebagaimana Hadzrat Masih mau’ud a.s bersabda, jangkauan areal tetangga dapat diperluas sampai 100 mil jauhnya. Jadi, apabila sekarang orang Ahmadi sudah tersebar sampai kepada 150 negara lebih, dan dibeberapa daerah terdapat banyak anggota dan didaerah lain hanya sedikit, jika setiap anggota Ahmadi menjadikan tetangga-tetangga disekitarnya sampai 100 mil jauhnya harum dengan wewangian keselamatan, maka sebagian besar dunia yang sudah diracuni opini buruk menuduh  Islam sebagai agama terroris dan zalim dapat dijauhkan semuanya.

Zaman sekarang selain orang-orang Ahmadi tidak ada orang lain yang mampu menyebarkan ajaran keselamatan Islam keseluruh dunia. Jika kita juga tidak menjalankan tugas kewajiban dengan sebaik-baiknya berarti kita tidak menepati janji yang telah kita ikrarkan kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s. Dan kita menunjukkan kemalasan dalam memenuhi janji  yang telah kita ikrarkan kepada Hadzrat Imam Zaman a.s.

Allah swt berfirman, hubungan persahabatan, kasih-sayang kalian yang membuktikan diri kalian sebagai muslim sejati, harus lebih luas dan diperluas lagi. Lebih jauh dan lebih luas hubungan kalian dengan masyarakat tentu jangkauan penyebaran  pesan kedamaian dan keselamatan akan menjadi lebih jauh dan lebih luas lagi. Sampai sejauh mana dapat diperluas? Diperluas dan dirangkul sampai lingkungan seluruh masyarakat. Pertama-tama lingkungan tetangga semuanya harus berada dibawah genggaman persahabatan. Firman-Nya, teman karib kalian yang selalu duduk bersama-sama dalam pertemuan-pertemuan, kerabat bekerja yang bekerja bersama-sama dikantor-kantor, kerabat kerja didalam bisnis, semua mengharapkan perlakuan ihsan dari kalian. Kemudian didalam meeting (pertemuan-pertemuan) didalam acara seminar dan sebagainya, dimanapun juga diperintahkan untuk berlaku cinta-kasih kepada sesama teman.

            Jika Islam telah memerintahkan untuk menjalin hubungan dengan masyarakat demikian luasnya, jika dipikir tidak ada lagi masyarakat dibagian dunia ini yang tertinggal, maka tidak ada peluang lagi bagi seseorang untuk memusuhi orang lain. Bahkan sebaliknya manusia dimana-mana ramai dengan lapang dada saling menyampaikan amanat keselamatan (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ) satu sama lain. Tidak ada lagi rasa permusuhan didalam hati seseorang.

            Seringkali terjadi pertengkaran didalam Jalsah ataupun didalam Ijtima, sekarang jalsah dan ijtima sudah dekat waktunya akan tiba. Jika setiap orang berpikir, sekarang saya tidak boleh memikirkan hal lain  kecuali untuk berbuat kebaikan kepada setiap orang, maka hal itu akan menjadi dasar keamanan dan keselamatan didalam masyarakat dan membuat hubungan satu sama lain menjadi sangat baik.

            Perlakuan baik yang paling besar terhadap masyarakat adalah menyampaikan amanat keselamatan kepada setiap orang. Sebagaimana telah ditekankan sebelumnya yaitu membiasakan ucapan salaam (اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ) ditengah-tengah masyarakat. Baik kepada keluarga sendiri maupun kepada orang lain, yang dikenal ataupun tidak dikenal. Ada perintah dari Allah swt, bahwa apabila seseorang mengucapkan salam kepadamu, jawablah salamnya itu dengan ucapan salam yang lebih baik kepadanya. Jika masyarakat Islam dan orang-orang Ahmadi menjawab ucapan salam sama seperti itu, maka pertengkaran dan kerusuhan atau perlakuan buruk didalam masyarakat tidak akan ada lagi. Seperti halnya Allah swt bertfirman, balaslah kebaikan dengan kebaikan lagi!  Tentang salaam juga diperintahkan untuk menjawabnya dengan ucapan yang lebih baik, tentang hadiah juga diperintahkan untuk membalasnya dengan hadiah yang lebih baik dari padanya, atau sekurang-kurangnya dibalas dengan hadiah serupa dengannya.

Pada suatu waktu seorang datang didalam sebuah Majlis. Orang itu mengucapkan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

kepada Rasulullah saw lalu duduk. Maka Rasulullah saw menjawabnya :

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمْ وَرَحْمَةُالله

ْ

Sesudah itu datanglah orang kedua dan mengucapkan :

وَرَحْمَةُاللهْ   اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

lalu beliau saw menjawab :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمْ وَرَحْمَةُاللهْ وَبَرَكَاتُهْ

Tidak lama kemudian datang orang ketiga dan mengucapkan salam :

السَّلاَمْ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُاللهْ وَبَرَكَاتُهْ

dan Rasulullah saw menjawab dengan mengucapkan وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمْ atau hanya menjawab dengan ucapan وَعَلَيْكُمُ saja. Seorang sahabat yang sedang duduk dekat Rasulullah saw bertanya kepada beliau, ya Rasulullah! Kepada yang lain Huzur menjawab dengan ucapan salam yang lebih baik dan lebih panjang, mengapa kepada orang ini hanya menjawab dengan ucapan وَعَلَيْكُمْ  saja? Beliau bersabda, seberapa baiknya mereka telah mengucapkan salam kepada saya, waktu itu  masih ada jawaban yang lebih baik dari padanya, maka saya jawab salam mereka dengan yang lebih baik dari padanya. Akan tetapi bagi yang ketiga ini tidak ada lagi jawaban yang lebih baik dari itu. Maka sesuai perintah Allah saya jawab sekurang-kurangnya serupa dengan ucapan itu.Oleh karena itu saya juga mengucapkan وَعَلَيْكُمْ (artinya, atas kamu juga seperti apa yang kamu ucapkan, pent). Demikianlah cara mengucapkan salaam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw kepada kita.

Tentang firman Tuhan :

وَالصَّاحِبِ باِلْجَنْبِ

(dan handai taulan) selain arti dalam kurung ini dapat juga berarti, orang yang sama-sama bekerja, baik bawahan maupun atasan, seperti telah saya jelaskan diatas. Kepada mereka juga harus mempunyai perasaan baik dan harus menyampaikan pesan keselamatan kepada mereka semua.

Sesudah itu Tuhan berfirman,

وَابْنِ السَّبِيْلِ

yakni berbuat baiklah kepada para musafir juga (orang dalam perjalanan jauh). Kepada orang yang dalam perjalanan untuk waktu singkat ini harus ada gambaran pada pikiran kalian untuk berbuat kebaikan kepadanya. Supaya hubungan singkat dan sementara dengannya itu jangan sampai meninggalkan kesan yang buruk. Itulah harapan-harapan Tuhan dari hamba-hamba-Nya. Jangan sampai perkara yang sekecil-kecilnyapun menjadi sebab timbulnya kerusuhan dan kekacauan.

            Firman-Nya lagi :

وَمَامَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ

artinya dan berbuat baiklah terhadap yang dimiliki oleh tangan kananmu. Maksudnya harus berbuat baiklah kepada semua bawahan dan semua pekerja kalian. Hadzrat Masih mau’ud a.s. bersabda, berbuat baiklah terhadap semua makhluk bernyawa yang berada dibawah kekuasan kalian. Itulah perintah Islam untuk menegakkan kehormatan kelompok orang-orang paling lemah dan para sahaya. Kalian jangan berbuat kekerasan dan aniaya terhadap orang-orang yang bekerja dibawah kalian dan terhadap para ghulam(sahaya) kalian. Juga dilarang memberi pekerjaan kepada mereka diluar kekuatan atau diluar kemampuan mereka. Jika ada pekerjaan yang sukar mereka harus dibantu. Itulah dasar peraturan Islam yang bisa menjadi sumber kedamaian dan keselamatan ditengah-tengah masyarakat. Itulah peraturan yang setiap waktu harus tertanam didalam pikiran agar dapat menimbulkan keinginan untuk berbuat baik dan menimbulkan kecintaan kepada orang lain. Dengan itu orang-orang bawahan akan rela dan siap berkorban demi majikan mereka. Sebaliknya jika para pekerja diberi pekerjaan yang berat diluar kemampuan mereka, hal tersebut akan dapat menimbulkan benih-benih kebencian terhadap majikan. Akhirnya bukan suasana kedamaian dan keselamatan yang timbul, malah gerakan kerusuhan yang meletus disana.

Didalam Akhir ayat ini Allah swt berfirman :

 

اِنَّ اللهَ لاَيُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالاً فَخُوْرًا

artinya : Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri.

Dalam perintah Allah swt terakhir diatas ini, Dia menyatakan rasa tidak suka kepada siapa saja yang tidak mengamalkan segala hal tersebut, dia adalah orang yang takabbur dan sombong, dia tidak bisa menjadi hamba-Nya yang sebenarnya dan karenanya tidak dapat mengabulkan utusan-Nya. Itulah yang tertulis didalam tarikh semua Nabi-nabi. Bahkan disebabkan takabbur itu syetanpun menyertainya dari belakang, sebab syetanpun menentang para Nabi karena takabbur dan sombong. Lihatlah zaman sekarang juga, disebabkan takabbur dan sombong mereka tidak mau beriman kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s. atau mereka menjadi para penghalang dijalan kebenaran ini. Dan takabbur pulalah yang telah menjadi penghambat untuk melaksanakan tanggung jawab terhadap hak-hak manusia (hakukul-ibaad). Allah swt telah menyatakan tidak suka terhadap mereka itu.

            Orang-orang takabbur yang Allah swt telah menyatakan tidak suka kepada mereka, sekalipun mereka beribu-ribu kali menda’wakan diri sebagai penyebar kedamaian, dan keselamatan, dan berusaha keras untuk itu, mereka tidak akan berhasil. Sebab mereka telah menolak seorang Imam yang telah diutus oleh Allah swt kepada mereka. Dan mereka akan hampa dari keselamatan yang datangnya hanya dari Allah swt. Sesungguhnya keselamatan itu semata-mata datangnya dari Allah swt. Jika berlaku takabbur terhadap kekasih Allah swt dan mengingkarinya, tentu akan luput dari keselamatan Allah swt.

            Jadi, kita semua sangat beruntung dengan taufiq-Nya telah mengenal seorang Imam yang telah Dia utus di zaman ini. Oleh sebab itu sambil merenungkan semua perkara tersebut diatas kita harus berusaha menjadi abid (hamba-hamba) yang haqiqi dan menjadi orang-orang yang benar-benar mengamalkan kebaikan-kebaikan itu. Kalau tidak, jangan-jangan kita termasuk dalam kelompok orang-orang yang tidak disukai Allah swt sehingga menjadi orang-orang yang luput dari ni’mat-ni’mat yang Allah swt turunkan bagi orang-orang mu’min dan luput dari khabar-khabar suka yang Allah swt berikan kepada hamba-hamba-Nya yang soleh. Maka sambil bersujud dihadapan Allah swt dan memohon pertolongan daripada-Nya, kita harus mengoreksi diri masing-masing, jika pada masa lampau banyak kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan, untuk itu mintalah rahmat dari pada Allah swt, karena Allah sangat Rahiim, sangat Penyayang. Firman-Nya : Jika kamu melakukan kesalahan, Aku adalah Pema’af bagimu. Kita harus menjadi orang-orang yang selalu memohon rahmat dari Allah swt supaya amanat keselamatan-Nya disampaikan-Nya kepada kita sehingga kita berada didalam selimut maghfiroh-Nya.

Hadzrat Masih Mau’ud a.s bersabda : Rupa orang mu’min sangat cantik. Jika pada tubuh yang cantik dipakaikan perhiasan, sekalipun yang sederhana maka ia akan nampak lebih cantik lagi. Jika ia berbuat amal buruk maka hilanglah kecantikannya, sehingga tidak ada artinya lagi.

 

            Jika didalam diri manusia lahir iman yang haqiqi, dia akan merasa kelezatan yang khas didalam melakukan amal perbuatannya. Dan kedua mata ma’rifatnya akan terbuka. Dia menunaikan sembahyang sesuai dengan perintah yang harus dikerjakan. Dia selalu sadar akan bahaya dosa. Dia membenci Majlis yang sia-sia dan kotor. Dan didalam hatinya bergejolak keinginan yang khas untuk menjaga  keagungan serta keperkasaan Allah swt dan Rasul-Nya. Iman seperti itu tidak gentar sekalipun harus menghadapi nasib seperti Nabi Isa a.s. digantung diatas palang salib. Dia semata-mata karena Allah, rela dilemparkan kedalam api seperti yang telah terjadi terhadap Nabi Ibrahim a.s. Apabila seluruh kesenangannya sudah diserahkan demi keridhoan Allah swt, maka Allah swt Yang عَلِيْمٌ بِذَاتِ الصُّدُوْرِ  (Aliimun bizaatish shuduur) Yang Maha Tahu akan lubuk-hati manusia, menjadi Pelindung dan Pembimbingnya. Dan menurunkannya dari atas palang salib. Dan Dia menyelamatkan secara utuh dari api yang berkobar. Akan tetapi yang dapat menyaksikan mukjizat-mukjizat ini adalah hanya orang-orang yang memiliki iman yang sempurna. Semoga Allah swt menjadikan iman kita semua kamil dan sempurna dan semoga Dia selalu menaruh pandangan kasih sayang-Nya kepada kita dan  memberi keselamatan kepada kita dari setiap bencana dan musibah, dan semoga dengan karunia-Nya setiap saat kita meyaksikan  kemurahan-Nya dan kasih-sayang-Nya. Amin !!

Alihbahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

Dipublikasikan oleh www.ahmadiyya.or.id