Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-Khaamis,

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu Ta’ala bi nashrihil ‘aziiz, aba)

19 April 2013

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (آل عمران: 103)

“Hai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan ketakwaan yang seharusnya; dan janganlah maut mendatangi kalian kecuali kalian dalam keadaan menyerahkan diri.” (Ali Imron, 3 : 103)

Ayat Al-Qur’an ini menjelaskan keadaan seorang mukmin sejati; seorang mukmin sejati yang memenuhi semua tuntutan ketakwaan. Ringkasan tuntutan ini digambarkan oleh Al-Qur’an Karim sebagai menyadari semua hak Tuhan dan hak umat manusia. Berusaha dan mempraktekkan segala macam kebaikan, berusaha dan memenuhi semua perintah Tuhan, menerima semua nubuatan Tuhan dan Rasul-Nya ,dan berusaha serta mempraktekkannya. Tidak cukup seseorang menghitung dirinya sebagai orang beriman hanya dengan menyebut dirinya seorang Muslim. Ini adalah sebuah proses yang berkelanjutan untuk mengikuti perintah Tuhan dan teladan beberkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Hanya orang yang mematuhi semua ini yang bisa disebut mukmin sejati.

Kaum dari agama terdahulu keluar dari ketaatan karena mereka tidak menjalankan perintah yang diberikan kepada mereka, dan jika kita juga tidak mengikuti ketakwaan dan tidak menyadari perintah Tuhan dan kewajiban-kewajiban kita, kita juga akan mendapat hukuman dan maut akan mendatangi kita dalam kondisi tidak menjalankan amal-amal baik.

Seorang mukmin sejati hendaknya juga punya rasa takut kepada Tuhan dan selalu awas terhadap apa yang akan membuatnya taat kepada Tuhan. Untuk itu, meskipun jika seseorang harus menanggung kerugian duniawi, dia hendaknya tidak peduli. Orangtua, teman, keluarga, para ulama atau pemimpin lainnya, hendaknya tidak satupun menjauhkan seseorang dari mengikuti perintah Tuhan. Setiap orang dari kita akan bertanggungjawab sendiri dihadapan Tuhan. Tidak ada keluarga atau teman, pemimpin spiritual baik sejati maupun palsu dapat memikul beban orang lain. Intisari Islam sejati adalah merenungkan tanda-tanda Tuhan, menerima ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, melindungi diri dari melakukan penindasan dan mempraktekkan Islam dengan memahami ruhnya yang sejati.

Tuhan telah menyatakan bahwa ibadah dan pengorbanan orang yang jauh dari ketakwaan tidak diterima oleh Tuhan, bahkan ini menjadi sumber kehancuran mereka. Sementara orang-orang yang menjalankan perintah-perintah Tuhan dan melakukan apapun untuk membuat Tuhan ridha, Tuhan menjadi musuh bagi musuh mereka dan teman bagi teman-teman mereka. Apapun yang mereka lakukan untuk membuat Tuhan ridha, diberkahi oleh Tuhan. Beruntunglah orang-orang Muslim yang selalu berusaha keras bahwa kapanpun kematian mendatangi mereka, mereka dalam kondisi sebagai Muslim sejati.

Setelah diberi taufik untuk menerima pecinta sejati Rasulullah saw, para Ahmadi juga hendaknya berusaha menyesuaikan diri dengan apa yang membuat Tuhan ridha, kemudian mempertahankan kondisi itu. Ini adalah tanggung jawab besar kita dan kita mesti terus bekerja untuk itu. Bagaimanapun, Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa seperti jelas dari kata-kata beliau, sasaran yang beliau maksudkan adalah jemaat Muslim yang lebih luas, itulah kenapa beliau menyebutkan pengaruh pemimpin agama (ulama) sebelumnya. Sebagian dari jemaat Muslim yang lebih luas menonton MTA, dan karena itu menerima pesan Jemaat Ahmadiyah. Hadhrat Khalifatul Masih menerima surat-surat dari orang-orang diular Jemaat yang menonton MTA atau yang telah mempelajari tentang Ahmadiyah. Salah satu surat terbaru semacam itu menyebutkan bahwa setelah mendengarkan ceramah Hadhrat Khalifatul Masih dan memperhatikan kondisi dunia, orang itu yakin bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah benar. Dia mengirimkan harapan terbaiknya untuk kita tapi mengatakan bahwa dia tidak punya kekuatan untuk menentang masyarakat dan para maulwi. Untuk itu dia mungkin dianggap pengecut, tapi dia tidak bisa bergabung dengan Jemaat. Dikatakan juga oleh orang lain dari antara non-Ahmadi bahwa hukuman Tuhan mesti ditakuti jika Jemaat ini terbukti sebagai Jemaat yang benar.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa orang-orang semacam ini hendaknya ingat bahwa Tuhan memerintahkan untuk mengikuti ketakwaan. Jemaat Ahmadiyah jelas benar, kesaksian praktis bahwa Jemaat ini bertahan 124 tahun sudah cukup mengenai hal ini. Kenyataan bahwa meskipun Pemerintah yang terorganisir mendukung penganiayaan, fatwa bersama para maulwi yang mendorong orang-orang untuk melakukan kekejian, menculik dan membunuh sera membakar rumah-rumah para Ahmadi, memecat mereka dari pekerjaan, menghalangi anak-anak mereka mencari pendidikan, para Ahmadi bukan hanya teguh dalam keyakinan mereka tapi selalu siap untuk pengorbanan yang lebih besar mesti menjadi bukti yang cukup tentang kebenaran Ahmadiyah. Disamping itu, Jemaat selalu maju, karena Tuhan adalah: ‘ni’mal maula wa ni’man nashir’(sebaik-baik pelindung, dan sebaik-baik penolong).

Organisasi-organisasi yang dibentuk atas nama Islam, yang melakukan kegiatan jihad tidak melakukan apapun kecuali memburukkan nama Islam. Tuhan menyatakan bahwa Dia menganugerahkan kemenangan kepada orang-orang yang melakukan jihad untuk-Nya. Tetapai, kesuksesan apa yang telah dicapai para ekstrimis ini? Orang Muslim membunuh orang Muslim. Untuk tujuan ini mereka mendapatkan senjata dari orang lain. Di Syria berbagai faksi/kelompok bertarung satu sama lain dan mereka meminta dunia Barat menyediakan senjata untuk mereka untuk menggulingkan pemerintah. Pemberontak Muslim dan pemerintah Muslim menggunakan senjata ini satu sama lain. Keduanya tidak punya ketakwaan; sungguh, inilah orang-orang yang jauh dari agama.

Amir Timur adalah raja Muslim (1336-1405) yang bangkit dari awal yang hina sampai memerintah wilayah yang sangat luas. Dia berkata bahwa kapanpun dia memulai ekspedisi peperangan, dia mencari tahu apakah raja Muslim memberikan hak-hak rakyatnya atau tidak, apakah mereka teguh dalam keyakinan mereka atau tidak.  Bila dia menemukan kondisi sebaliknya, dia menaklukkan raja tersebut dan menegakkan sebuah sistem di negeri tersebut yang berdasarkan Islam. Dia berkata kesuksesannya adalah dengan pertolongan Tuhan. Banyak kebijakan Amir Timur yang didasarkan pada keadilan, dan inilah kenapa dia sukses. Meskipun dia juga melakukan beberapa kekejian, tapi nampak bahwa dialah yang terbaik dibandingkan para pemimpin lain pada masa itu. Dengan mengakui kelemahannya, dia berkata bahwa pemerintahannya didasarkan pada keadilan, kebijaksanaan dan kecerdasan, dan dia memperhatikan rakyatnya, begitu juga orang-orang dari negeri yang dia taklukkan. Dan semua ini merupakan 9/10 dari kesuksesannya, dan hanya 1/10 tindakannya yang menggunakan pedang/kekuatan.

Para pemimpin dewasa ini hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri dan hanya peduli pada kursi kekuasaan mereka. Para pemimpin agama juga melibatkan diri dalam perebutan kekuatan, dan sebagian menjalankan organisasi teroris atau menolong mereka. Anak-anak diberikan pendidikan militansi di madrasah-madrasah, dan semua ini digunakan melawan umat Muslim. Orang Muslim haus pada darah orang Muslim lainnya. Islam adalah agama cinta dan perdamaian, yang katanya sendiri berarti aman, perlindungan dan menghilangkan kesedihan. Dewasa ini, orang-orang ini telah begitu memburukkan namanya, sehingga organisasi-organisasi Muslim adalah yang pertama dicurigai jika ada suatu tindakan terorisme terjadi di dunia.

Setelah ledakan baru-baru ini di Amerika Serikat pada acara Marathon (di Boston), kelompok anti-Islam langsung berkata bahwa ini adalah tindakan umat Muslim. Mereka tidak menyebutkan suatu organisasi tapi menyatakan umat Muslim bersalah secara umum. Alhamdulillah organisasi-organisasi ini mengingkari punya hubungan dengan kekejian ini, dan pernyataan ini sebenarnya sudah cukup. Tetapi, karena mereka sudah jauh dari ketakwaan, mereka menambahkan bahwa meskipun mereka tidak punya kaitan dengan itu, mereka memuji dan mendukungnya. Apa yang diperoleh dengan menyerang orang-orang tak berdaya ini? Di satu sisi mereka menyatakan bahwa tidak ada yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari mereka, dan di sisi lain tindakan yang bertentangan dengan teladan beberkat beliau dilakukan. Sungguh, seseorang akan menjunjung tinggi apa yang didukung oleh kekasihnya, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan untuk tidak melukai orang-orang tak berdosa, anak-anak, wannita, dan orangtua, bahkan ketika berperang. Dan Al-Qur’an secara detail menyebutkan untuk melindungi orang-orang dari agama lain. Janganlah membunuh orang dalam kondisi tidak ada perang dan menyebabkan banyak orang lain menderita menjadi cacat. Sebuah surat kabar menulis bahwa semua ini hanya punya satu pemecahan dan itu adalah membunuh semua orang Muslim. Orang lain berani mengemukakan pandangan serupa itu karena orang Muslim memacu mereka [berpikir seperti itu].

Di sini, di Barat kekejian semacam itu jarang terjadi, dan setelah itu [kalau pun terjadi] seseorang harus mendengarkan kecaman, tapi kegelisahan menyebar luas di hampir 70% negara-negara Muslim, dan di sana ini adalah kejadian sehari-hari. Baik di Pakistan, Afghanistan, Mesir, Syria, Libya, Algeria, Sudan, atau Somalia. Orang Muslim membunuh orang Muslim dimana-mana, dan ini dilakukan atas nama agama. Jika kekejaman mesti dilakukan setidaknya jangan dilakukan atas nama agama, dan pembunuhan serta penganiayaan ini hendaknya jangan disebut jihad. Di negara-negara Muslim dimana jarang terdapat ekstrimis, ada kekurangan parah keadilan sosial. Orang miskin semakin miskin dan orang kaya semakin kaya. Di Saudi Arabia yang memiliki kekayaan minyak sangat besar, orang-orang kurang mampu, janda, dan yatim piatu, sangat mengharapkan makan dua kali (sehari). Atas nama Islam wanita tidak diizinkan bekerja tapi pemerintah juga tidak memperhatikan mereka. Jika ada makanan yang diberikan, itu tidak cukup untuk memberi makan keluarga. Sementara itu, bahkan dinding-dinding istana raja dilapisi emas tapi rakyat kelaparan. Semua ini diperlihatkan dalam sebuah televisi dokumenter.

Ada kegelisahan serupa di negara-negara Muslim lainnya, dimana negara tidak memberikan keadilan sosial dan melakukan kekejian, dan masyarakat juga tidak melakukan tanggungjawabnya, dan ketika mendapat kesempatan juga menjadi keji. Semua ini jauh dari ketakwaan. Dikatakan bahwa ajaran Islam sudah komplit, dan memang. Tapi mereka dengan keliru mengatakan bahwa sekarang tidak diperlukan seorang mujadid, Masih, atau nabi. Sungguh ini dinubuatkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa orang seperti ini akan datang untuk memperbaiki dunia. Dan kondisi yang terjadi di dunia meneriakkan bahwa umat Muslim telah melupakan ajaran mereka. Mesjid-mesjid ada tapi telah dijadikan arena politik. Sungguh, Al-Qur’an ada, tapi itu hanya disimpan sebagai hiasan, dan para ulama menulis tafsir sesuai keinginan mereka, dan dengan demikian membimbing umat ke jalan yang salah. Salah kalau mengatakan tidak perlu datang seseorang, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa ‘akan diperlukan’. Sungguh, diperlukan seseorang datang dari Tuhan untuk memperbaiki umat Muslim dan menangkis gambaran negatif tentang Islam, dan membawa dunia kebawah bendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ketika Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang akan datang itu seorang nabi, siapa yang punya hak untuk membuat penafsiran sendiri dan menganiaya orang yang mengikutinya? Keadaan dunia menjadi saksi bahwa meskipun meskipun Al-Qur’an Karim terjaga dalam bentuk aslinya, kondisi agama, keruhanian, dan moral umat Muslim telah merosot dan ketakwaan berkurang. Kebanyakan umat Muslim menjalani kehidupan mereka di luar perintah Tuhan. Seseorang sungguh diperlukan dalam kondisi semacam ini untuk memahami intisari Islam dan menyebarkannya diantara umat Muslim, dan kita para Ahmadi mengatakan bahwa orang itu dikirim oleh Tuhan pada abad ke-14 mengikuti kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Dengan karunia dan pertolongan Tuhan, beliau menguraikan khazanah ruhani Al-Qur’an Karim dalam buku-buku beliau dan memberikan perbedaan yang jelas antara kebenaran dan kebatilan. Beliau membuktikan keunggulan Islam diatas semua agama lainnya di dunia dan dengan demikian menantang musuh-musuh Islam. Dengan karunia dan pertolongan Tuhan, beliau berusia panjang, dan beliau wafat dengan meninggalkan di belakang beliau sistem penerus yang abadi (khilafat). Dukungan bumi dan langit yang beliau terima terus terjadi nampak dalam bentuk bencana-bencana alam. Apakah gempa bumi-gempa bumi, banjir, kehinaan umat Muslim di dunia tidak cukup untuk membuka mata orang-orang Pakistan dan orang-orang Muslim lainnya? Gempa bumi baru-baru ini dirasakan di banyak negara, termasuk Indonesia. Umat Muslim perlu merenungkan takdir Tuhan yang sedang berlangsung, mereka perlu bertaubat dan beristighfar. Daripada merasa terintimidasi oleh para ulama yang hanya nama, orang Muslim mesti diinsyafkan atas tipu daya mereka. Dapatkah mereka mengutip satu kejadian pun dari kehidupan beberkat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sesuai dengan apa yang mereka ajarkan dewasa ini? Yang harus umat Muslim lakukan adalah berhati-hati terhadap kematian mereka dan membayar hak-hak Tuhan dan hak manusia.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam bersabda mengenai hal ini: ‘Aku berharap, cara umat Muslim memuja dunia daripada Tuhan, dan mengaitkan semua harapan, cita-cita dan urusan mereka pada dunia, dihancurkan berkeping-keping. Dan keagungan serta kemahakuasaan Allah Ta’ala ditanamkan dalam hati mereka, dan pohon keimanan memberikan buah yang segar. Meskipun bentuk pohon yang keluar pada saat itu, bukanlah pohon yang sebenarnya, sebab mengenai pohon yang sebenarnya dinyatakan:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ * تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا (إبراهيم: 26)

‘Tidakkah kamu melihat Allah memberikan permisalan perkataan yang baik? Itu seperti pohon yang baik, yang akarnya kokoh dan cabangnya mencapai langit. Pohon itu memberikan buahnya sepanjang waktu dengan perintah Tuhannya…’ (14: 25-26)

Allah disini telah memberi kiasan pohon suci untuk keimanan yang sempurna, yang memiliki akar yang kuar dan cabangnya mencapai dan yang memberikan buahnya sepanjang waktu dengan perintah Tuhannya. ‘…yang akarnya kuat…’ menunjukkan bahwa dasar keimanannya mesti kuat dan benar, dan mesti mencapai tingkat keyakinan yang sempurna dan mesti memberikan buahnya sepanjang waktu. Hendaknya jangan seperti pohon yang kering. Tetapi, katakan apakah seperti ini keadaannya sekarang? Banyak orang yang hanya berkata apa perlunya (keimanan)? Betapa bodohnya orang sakit yang mengatakan apa perlunya dokter? Jika dia berpikir bahwa dia tidak memerlukan seorang dokter dan tidak merasakan perlunya dokter, hasil apa yang bisa diperoleh kecuali kematian? Sekarang ini, tentu saja umat Muslim telah menerima Islam, tapi tidak dalam keadaan iman sejati, dan itu terjadi ketika nur menyertai keimanan.

Pendeknya, ini adalah masalah yang untuk itu aku diutus. Karena itu, jangan terburu-buru menuduhku pendusta. Sebaliknya, takuilah pada Allah Ta’ala dan bertaubatlah karena mereka yang bertaubat adalah bijaksana. Tanda berupa wabah sangat berbahaya dan Allah Ta’ala telah mewahyukan kepadaku mengenai itu: “إن الله لا يغيّر ما بقوم حتى يغيّروا ما بأنفسهم.” ‘…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada dalam hati mereka…’ (13: 12) ini adalah firman Allah Ta’ala dan terkutuklah orang yang mengumpat Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menyatakan bahwa kehendak-Nya akan berubah ketika hati berubah. Jadi, takutlah kepada Allah Ta’ala dan takutlah kepada kemurkaan-Nya. Tidak ada yang bisa bertanggungjawab atas orang lainn. Kebanyakan orang bahkan tidak bisa tetap setia dalam kasus pengadilan biasa, kepercayaan apa yang bisa kamu harapkan di akherat, yang mengenainya dinyatakan: يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (عبس: 35) ‘Pada hari ketika seseorang lari dari saudaranya’ (80:35).[1]

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam juga bersabda: “Lihat, sebagaimana seseorang yang menyatakan beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan Kitab-Nya tapi tidak menjalankan detail perintahnya, seperti shalat, puasa, haji, zakat, takwa dan kesalehan, dan meninggalkan perintah yang telah diberikan mengenai mensucikan diri, meninggalkan keburukan dan mencapai kebaikan dll, tidak pantas disebut Muslim dan tidak bisa dianggap benar-benar dihiasi pakaian keimanan. Begitu juga, seseorang yang tidak menerima Masih Mau’ud atau tidak memikirkan perlunya menerimanya juga tidak memahami hakekat Islam dan tujuan kenabian. Dia tidak bisa disebut seorang Muslim sejati, dan taat sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala telah memberikan perintah di dalam Al-Qur’an melalui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu juga kedatangan khalifah terakhir di akhir zaman juga dinubuatkan dengan sangat kuat. Orang yang tidak menerimanya dan berbalik melawannya telah disebut fasik. Perbedaan kata-kata Al-Qur’an dan hadist (yang bukan perbedaan tapi lebih merupakan penjelasan kata-kata Al-Qur’an) hanyalah bahwa Al-Qur’an menggunakan kata khalifah sementara hadist telah menyebut khalifah terakhir tersebut dengan pangkat Masih Mau’ud. Muslim macam apakah yang mengatakan bahwa dia tidak perlu menerima orang yang mengenainya Al-Qur’an telah menjanjikannya dan dengan demikian telah memberikan suatu keagungan pada kedatangannya.“[2]

Hadhrat Masih Mau’ud as. menulis: “Hai orang-orang yang bebal (lalai tidak mau mengerti), dengan apa aku membandingkan kalian! Kalian seperti orang malang yang di dekat rumahnya ada orang pemurah yang telah mengolah kebun  dengan segala macam pohon buah-buahan dan telah membuat sebuah aliran air bersih di dalamnya, dan telah menumbuhkan pohon-pohon besar yang teduh di kebun, yang memberikan naungan pada ribuan orang dari panas. Orang pemurah itu mengundang orang-orang yang terbakar di panas terik dan tidak ada naungan; juga tidak ada buah, air, supaya mereka bisa duduk di keteduhan, makan buah dan minum air. Tetapi, orang yang malang menolak undangan tersebut dan mati karena panas yang sangat, lapar dan kehausan. Inilah kenapa Tuhan menyatakan bahwa Dia akan mendatangkan orang lain yang akan duduk dalam keteduhan pohon yang dingin, makan buah dan minum air yang segar.

Sebagai permisalan Allah telah menyatakan dalam Al-Qur’an Karim bahwa Dzulkarnain mendapati sebuah bangsa terbakar oleh panas… dan bangsa ini tidak menginginkan bantuan apapun dari Dzulkarnain, akibatnya mereka tetap dalam masalah. Dzulkarnain mendapati bangsa lain yang meminta pertolongan darinya melawan musuh. Sebuah dinding dibangun untuk mereka dan mereka selamat dari musuh. Aku mengatakan dengan sesungguhnya bahwa menurut nubuatan Al-Qur’an Karim aku adalah Dzulkarnain yang mengalami zaman setiap bangsa. Dan bangsa yang terbakar dalam panas adalah orang-orang Muslim yang belum menerimaku. Orang Kristen (seperti) mereka yang duduk di lumpur dan kegelapan yang bahkan tidak memandang untuk melihat matahari.

Dan orang-orang yang untuk mereka dibangun dinding adalah Jemaatku. Aku berkata dengan sesungguhnya bahwa hanya merekalah yang keimanannya akan diselamatkan dari serangan musuh-musuh. Setiap dasar yang lemah akan dimakan oleh syirik atau atheisme. Tapi Jemaat ini akan bertahan lama dan setan tidak akan mengalahkan mereka dan kelompok setan tidak akan mengendalikan mereka. Dalil mereka akan lebih tajam dari pedang dan lebih menembus daripada tombak, dan mereka akan terus menang atas setiap agama sampai hari Kiamat. Malang sekali orang-orang tuna ilmu itu yang tidak mengenaliku! Betapa gelap dan buramnya mata yang tidak bisa melihat cahaya kebenaran. Mereka tidak bisa melihatku karena prasangka telah menggelapkan mata mereka; hatinya rusak dan matanya tertutup. Seandainya mereka berusaha mencari dengan jujur dan membersihkan hati mereka dari kebencian, berpuasa pada siang hari dan bangun diwaktu malam untuk berdoa dalam shalat dan menangis dan memohon, tentu Allah yang karim akan menjadikan jelas bagi mereka siapakah aku. Yang diperlukan adalah takut kepada Tuhan, yang tidak memerlukan apapun.”[3]

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam lebih jauh menulis: “Hai manusia, jangan memandang rendah Tuhan dan tanda-tanda-Nya dan mohonlah ampunan dari-Nya atas dosa-dosa kalian dan tunjukkanlah kerendahan hati di hadapan-Nya karena takut atas dosa-dosa kalian. Apakah kalian telah melupakan akhir orang-orang yang mendustakan sebelum kalian …Jika kalian punya rasa takut, datanglah dalam perlindungan Allah Ta’ala dari prasangka buruk. Bangkitlah satu demi satu dan jauhilah orang-orang yang punya permusuhan dan khawatirlah, bahwa, tidakkah kalian diberi bukti yang diberikan kepada orang-orang yang ingkar dihadapan kalian, dan tidakkah tanda-tanda dikirimkan kepada kalian? Tidakkah kalian menjadi rendah dan malang dengan merendahkan Tuhan… Jadi, demi Mun’im hakiki Yang menganugerahkan kehormatan kepadaku dan membuktikan kebenaranku, dan menganugerahiku keturunan dan menghancurkan musuh-musuhku… dan memperlihatkan tanda berupa kata dan perbuatan bagi orang-orang yang bisa melihat. Allah Ta’ala memperlihatkan gerhana matahari dan bulan dalam bulan Ramadhan kepada kalian…Hai manusia, aku telah datang kepada kalian dari Allah yang Maha Perkasa. Adakah dari kalian yang takut pada keagungan dan kebesaran (Tuhan). Atau apakah kalian akan mati dalam kelalaian? Kalian melakukan makar sampai batasnya dan menghabiskan banyak waktu dalam merencakan seperti pemburu. Apakah kalian mendapatkan sesuatu kecuali kegagalan dan apakah kalian mendapatkan apa yang kalian cari, selain menyia-nyiakan iman. Jadi, anak-anak Muslim takutlah kepada Tuhan. Tidakkah kalian melihat bagaimana Tuhan telah menyempurnakan kata-kataku dan telah memperlihatkan banyak sekali ampunan-Nya kepadaku? Ada apa dengan kalian sehingga kalian tidak berpaling pada tanda-tanda Ilahi dan melemparkan panah kemarahan padaku? Tidakkah kalian meliaht kedustaan kesombongan kalian, dan tidakkah kesalahan kecurigaan kalian telah jelas kepada kalian?… jangan membuat-buat kedustaan setelah diuji dan tahanlah lidah kalian. Jika kalian benar, bertobatlah seperti orang yang malu dan takut pada akhir buruknya. Tuhan mencintai orang-orang yang bertobat.“ [4]

Hadhrat Khalifatul Masih berdoa semoga Tuhan membukakan hati umat Muslim dan semoga mereka memahami ketetapan Tuhan supaya mereka selamat dari zaman yang kacau yang sedang mereka alami. Semoga mereka memahami tanda-tanda bencana alam dan menghentikan kekejian dan penganiayaan. Semoga Allah juga memberi taufik kepada kita untuk mengikuti ketakwaan dan perkataan kita sesuai dengan perbuatan kita, dan terus memperingatkan dunia dari kehancuran!

Selanjutnya Hadhrat Khalifatul Masih mengumumkan bahwa beliau akan mengimami shalat Jenazah gaib dua orang Ahmadi yang baru-baru ini meninggal: Chaudry Mahfuzur Rahman sahib yang wafat pada 6 April dalam usia 93 tahun. Sadr Ansharullah kita sekarang (UK) Chaudry Wasim sahib adalah putra tertua beliau.

Qaisira Begum sahiba wafat pada 13 April dalam usia 70 tahun. Beliau adalah menantu Hadhrat Khalifatul Masih II ra. beliau adalah wanita yang sangat sopan dan memiliki ikatan yang sangat kuat dengan khilafat. Beliau menolong orang yang memerlukan dan mereka yang tidak mampu. Semoga Allah meninggikan derajat para almarhum.

Penerjemahan oleh: Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

Editor: Mln. Dildaar Ahmad Dartono

[1] Malfuzat, vol. 8, hal. 261-262

[2] Malfuzat, vol. 10, hal. 261-262

[3] Barahin Ahmadiyah bag. V, Ruhani Khazain vol. 21, hal. 313-315.

[4] Hujjatullah, Ruhani Khazain vol. 12, hal. 192-193.