Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

19 Desember 2003 di Dgadugu,Burkinapasu Afrika Barat

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ    At-taubah 119

Terjemah ayat : Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah pada Allah dan jadilah kamu bersama-sama  orang-orang yang benar.

          Para nabi datang ke dunia untuk menunjukkan jalan yang lurus pada makhluk/ummat manusia yang telah rusak, yakni ummat manusia  yang  telah jauh dari Tuhan. Allah membangkitkan mereka supaya dapat menyampaikan manusia  pada Tuhan dan jalan lurus ini tidak akan dapat diraih tampa tegak  pada kebenaran. Oleh karena itulah semua nabi terus mengajarkan kebenaran dan sambil tegak pada kebenaran dengan  penuh keberanian  mereka  terus  menyeru  pada Tuhan yang Esa. Dan tatkala Allah telah memutuskan bahwa telah tiba saatnya untuk menyempurnakan  agama, karena kini tingkat perkembangan kecerdasan  otak manusia telah mencapai tingkat  kedewasaan/kematangan,maka Allah membangkitkan di dunia dalam bentuk sosok  manusia yang paling jujur Hadhrat Muhammad saw khatamul-anbiya semulia-mulia nabi  saw., yang   dalam segenap perkara, mulai dari perkara  yang paling besar sampai pada hal  yang sekecil-kecilnya   terus menekankan pada kita untuk senantiasa tegak  pada kebenaran dan terus mengamalkannya. Dan Allah berfirman bahwa hai orang-orang yang beriman, kini  kalian telah beriman,  tingkatkanlah keyakinan pada keimanan itu dan   bertakwalah kepada Allah. Setiap saat seyogianya senantiasa ada rasa takut pada-Nya,dan jadilah  orang yang senantiasa menyeru pada kebaikan, dan jadilah  orang yang senantiasa menunjukkan pada kebaikan, dan menjadi orang yang senantiasa berkata benar dan berkata jujur dan caranya yang paling mudah  adalah jadilah kamu bersama-sama orang yang saleh, senantiasalah kalian  bersama orang-orang  yang benar. Dan kini di dunia tidak ada seorang yang berkata  benar lebih dari  Junjungan kita Muhammad saw yang mengajarkan kebenaran,  ketulusan dan kejujuran sampai  sedemikian dalam dan sedemikian lembutnya. Oleh karena itu,janganlah meninggalkan  nabi mulia itu dan amalkanlah ajaran   nabi yang benar yang setelah  dapat dari Allah lalu  dia memberikannya padamu. Dan kemudian kita orang-orang  ahmadi merupakan orang-orang yang tambah lebih beruntung lagi, untuk kita seberapapun kita bersyukur pada Tuhan ,seberapapun kita memuji-Nya itu masih kurang, sebab Dia telah menganugerahkan  taufik pada kita pada zaman ini untuk mengimani dakwa pecinta sejati Hadhrat Khatamulanbiya, Hadhrat Masih Zaman  Hadhrat Imam mahdi a.s. yang sesuai dengan nubuatan beliau. Yang telah memberitahukan dan menunjukkan pada kita point-point yang sehalus-halusnya dengan sedemikian  jelas  dan menasehatkan secara terinci pada kita bagaimana memahami secara  terang dan jelas ajaran yang benar itu. Beliau dengan jelas bersabda bahwa sebagaimana di dalam Al-Quran terdapat perintah akan kebenaran dan ketulusan, itu tidak terdapat dalam kitab manapun.

Beliau bersabda: Seberapa terdapat penekanan di dalam Al-Quran  untuk kedawaman/keteguhan  dalam kebenaran/kejujuran saya sama sekali tidak dapat meyakini bahwa di dalam Injil terdapat bagian sepersepuluhnya penegasan  seperti itu. Kemudian dalam kaitan ini beliau juga memberikan tantangan pada orang-orang Kristen  bahwa saya menyampaikan tantangan  bahwa jika kalian dapat membukakan dari Injil ajaran kebenaran dan kejujuran  pada saya dengan jelas sebagaimana terdapat dalam Al-Quran,  maka saya akan memberikan pada kalian uang dalam jumlah besar sebagai hadiah.

Kemudian beliau bersadba:

“ Di dalam Al-Quran drug gui, yakni berdusta dinyatakan  sama dengan menyekutukan Tuhan. Sebagaimana Allah berfirman:

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Al-Haj 30 Yakni, hindarilah kekotoran berhala dan kekotoran dusta dan kemudian di suatu tempat berfirman:

 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

An-Nisa’ 134

Hai orang-orang yang beriman jadilah kamu sebagai orang-orang yang benar-benar penegak keadilan dan kebenaran dan berilah kesaksian yang benar karena Allah kendatipun merugikan terhadap dirimu sendiri atau ibu bapakmu menderita kerugian karena kesaksian-kesaksian itu. Nurul –Quran no.2 hal 17-18

           Maka  sesudah  penegasan yang  sedemikian rupa ini  betapa besarnya tanggung jawab yang dibebankan di atas pundak kita untuk bagaimana  kita dapat menjabarkan  akhlak mulia itu pada diri kita dan kita dapat menjadikan itu sebagai milik kita. Yakni,selimut dan tikar kita/tidur dan bangun kita, dalam setiap kondisi, dalam setiap ungkapan   yang keluar dari mulut kita itu merupakan kebenaran.

           Kini dari segi hadis saya ingin terangkan.

 Hadhrat Abu Bakar menerangkan bahwa Rasulullah saw bersabda:  Apakah saya  beritahukan pada kalian dosa yang paling besar. Kami menjawab: ya Hudhur ! Beritahukanlah pada kami. Jangalah menyekutukan Allah ( merupakan sebuah  dosa dari dosa-dosa yang paling besar) tidak membangkang  pada kedua orang tua, beliau duduk sambil bersandarkan bantal,  karena sedemikian  semangat beliau lalu duduk sambil bersabda: Camkanlah, dosa besar ketiga  adalah berdusta dan memberikan kesaksian palsu. Beliau sedemikian banyak/berkali-kali  mengulangi itu sehingga kami menghendaki  kiranya Hudhur  sudi menjadi  diam. Bukhari kitabuladab  bab uququlwalidain

           Maka dari hadis itu dapat diperkirakan bahwa betapa bencinya Hudhur pada kebohongan . Dan segenap ajaran beliau adalah sesuai dengan perintah- perintah Tuhan. Nah, dalam kenyataannya   sebagaimana Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Syirik dan dusta  merupakan sebuah barang/benda. Manusia sendiri banyak membuat berhala di dalam dirinya. Dan banyak sekali berhala dusta yang mereka  buat.

           Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:  Kondisi dunia dewasa ini sudah menjadi sangat kritis. Dari sisi mana dan dari nuansa mana kalian memonitornya kalian akan melihat saksi palsu yang dibuat. Menggelar  sidang kasus palsu bukanlah ada apa-apanya,dibuat surat –surat keterangan  palsu( yakni,dibuat surat-surat keterangan  palsu,yang digelarpun sidang palsu,pemeriksaan pengadilanpun palsu,saksi-saksi pun  palsu, segala sesuatunya palsu). Ada suatu perkara yang akan diterangkan  maka sisi yang benar akan dikesampingkan lalu akan bicara. Kini jika menanyakan pada  orang-orang  yang menganggap Jemaat tidak perlu   bahwa apakah tadinya  agama itu memang demikian (Mereka yang menganggap bahwa Ahmadiyah tidak perlu,jika ada yang menanyakan pada mereka ) bahwa apakah inikah agama   yang Rasulullah saw bawa ?  Allah telah memfirmankan bahwa  dusta itu merupakan  kekotoran maka karena itu  hindarilah ituفَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ .  Bersama penyembahan berhala  dusta  Dia satukan. Sebagaimana manusia yang dungu  meninggalkan Allah lalu dia menundukkan wajahnya di hadapan batu, seperti itu  pula sesudah meninggalkan  kebenaran dan kejujuran  untuk tujuannya dia menciptakan dusta  sebagai berhala. Oleh sebab itulah Allah menyatukan (dusta) itu dengan penyembahan berhala dan memberikan pertalian dengan itu  itu sebagaimana seorang penyembah berhala ingin mendapat selamat dari berhala demikian pula ( Yakni,dia menyangka bahwa  berhala akan  menyelamatkannya  dari permasaalahannya) Demikian pula orang yang berdusta juga membuat berhala dari dirinya sendiri. Dan dia menyangka  bahwa dengan perantaraan berhala itu  akan didapatkan  keselamatan. Bagaimana kerusakan  itu menimpa. Jika dikatakan bahwa kenapa kamu menjadi  penyembah berhala, tinggalkanlah kekotoran itu. Maka mereka akan mengatakan bagaimana kami dapat meninggalkannya, tampa itu  kami sama sekali tidak akan cukup. Lebih dari itu apa lagi kemalangan yang akan terjadi pabila  dusta dianggap sebagai  pijakan/sandaran, tetapi saya meyakinkan  pada kalian bahwa pada akhirnya  kebenaranlah  yang akan menang.  Kebaikan  dan kemenangan  adalah milik-Nya. Malfuzhat jilid no. 349-350

          Mereka menyangka  bahwa berhala-berhala yang telah mereka buat dalam hati mereka dengan perantaraan itulah keselamatan akan diraih  dan berhala inipun mempunyai beberapa ragam coraknya, di berbagai negara-negara, berbagai macam orang telah membuat   di dalam hati mereka masing-massing. Di berbagai mata pencaharian terdapat   kurangnya kebenaran/kejujuran dan nampak banyaknya kebohongan. Maka ini merupakan berhala seperti ini   yang mereka tegakkan dalam hati mereka. Dan pabila kalian tanyakan maka mereka mengatakan, sebagaimana yang Hudhur juga tengah sabdakan, bahwa tampa itu pekerjaan ini tidak bisa  berjalan , yakni jika kebohongan tidak dilakukan. Misalnya, mata pencaharian selaku  pengacara merupakan mata pencaharian yang sangat layak dihormati, jika itu dilakukan dengan cara yang benar, atau itu digunakan. Tetapi sejumlah  pengacara sudah merupakan adat kebiasaan mereka bahwa jika kasusnya sederhana sekalipun, maka itu pun mereka sugukan dalam cara  yang sedemikian rupa sehingga akibat di dalamnya  dicampuri  kebohongan ,maka terkadang orang yang mewakilkan itu yang  menuai kerugian, mereka mengakibatkannya  rugi. Disini di negara-negara Eropa juga kini orang-orang ahmadi datang, kasus suaka terkadang merupakan  kasus yang sangat sedehana dan jika itu diselesaikan dengan cara yang  lurus  maka itu bisa   jadi  menjadi terselesaikan juga, tetapi terkadang kasus seperti itu mereka jadikan sebagai kasus  benang kusut sehingga kasus yang bagus /mudah itu menjadi rusak. Kemudian (Para pengacara) itu tidak berbicara dengan lurus pada klien /orang yang dibela,   mereka tidak membertahukan  kondisi /situasi yang  sebenarnya, dan sesudah berlalu sedemikian lama  kasusnya  ditanyakan maka ternyata  diketahui  bahwa  kasusnya sama sekali ternyata tidak jalan /tidak  diajukan kepengadilan. Demikian pula di negeri-negeri  kita juga,di negara-negara  dunia ketiga juga, sejumlah orang-orang yang buta huruf para pengacara membuat mereka pusing /membodohi mereka. Di pengadilan sama sekali kasusnya tidak  diajukan,tetapi terus saja mereka mengambil uang sidang dari kliennya. Kemudian mereka terus memberikan kesaksian-kesaksian palsu demi untuk menyelamatkan si pelaku ( si pembuat  kesalahan )  dan  dari mana mereka terus mengambil uang bayaran sidang mereka terus memutar balik kata-kata sambil melakukan kedustaan,  mereka kesana kemari  memberikan keterangan yang salah. Jadi ini semuanya  merupakan hal-hal yang menurut  pandangan orang-orang seperti itu jika tidak dilakukan pembicaraan seperti itu, misalnya, seperti itulah juga yang pengacara lakukan  bahwa jika tidak dibuat alasan-alasan  dan tidak dilakukan penipuan  maka rezeki mereka  akan habis dan sama sekali tidak akan ada lagi pendapatan. Andaikata  dengan demikian mudah kasusnya menjadi selesai. Nah, seolah-olah keterangan yang salah  ini dan kebohongan sudah menjadi mata pencaharian mereka. Sebagaimana Allah berfirman bahwa Saya-lah pemberi  rezeki kamu. Oleh karena itu  para pengacara  ahmadi seyogianya bersih dari hal-hal  seperti itu.

 Saya teringat sebuah misal, di Faisalabad tatkala kami ada disana maka para khuddam biasa pergi ke luar untuk melakukan khidmat khalq,   pergi ke kampung-kampung berjumpa dengan orang-orang dan jika ada pekerjaan –pekerjaan  mereka, maka itu yang dikerjakan, keperluan-keperluan mereka dipenuhi.  Jika mereka  adalah para petani, maka  apa –apa keperluan-keperluan  mereka itu seyogianya diperhatikan. Maka untuk tujuan seperti itu kami pergi dalam bentuk  kelompok /robongan. Kami duduk dengan  seorang petani. Dalam perbincangan,  dia dapat mengatahui bahwa kami adalah orang-orang Ahmadi. Meskipun pada umumnya penzahiran ini tidak dilakukan kecuali jika ada sendiri orang yang bertanya. Dia mulai mengisahkan bahwa di Faisalabad ada seorang pengacara Ahmadi  bernama Syekh Muhammad Ahmad  Sahib Mazhar,merupakan sosok  yang sangat saleh dan sangat jujur. Dia tidak pernah memberikan  keterangan yang salah dan tidak pernah mengambil/menangani  kasus  palsu, tetapi ( dia berkata dalam bahasa punjabi) ada suatu  kekurangan di dalam dirinya karena  dia adalah seorang mirzai/Ahmadi. Jadi nenjadi seorang Ahmadi mirzai,menurutnya, merupakan sebuah aib dan mereka tidak dapat mencari/menemukan   aib/kekurangannya. Nah, ini jelas  merupakan kurang akalnya dia  atau sebagaimana para mulla memberitahukan padanya seperti itulah dia telah menyebutkannya, tetapi atas hal itu teringat akan apa yang  Abu Jahal ungkapkan,yang  dia telah katakan pada Rasulullah saw

 انا لا نكذبك بل نكذب ما جئت به – inna laa nukadzdzibuka bal nukadzdzibu  maa ji’ta bihi.    Yakni, kami tidak menyatakan engkau pembohong ,engkau, kan orang jujur, seorang yang senantiasa berkata benar, tetapi kami mendustakan ajaran  yang engkau bawa.  Jami’ tirmidzi kitabuttafsir ,tafsir suratul-an’am.

           Oleh karena itu, pada zaman inipun, hanya  dengan mengamalkan contoh Rasulullah saw ,  hanya pengikut beliau yang sejatilah pada zaman ini yang dapat memperlihatkan contoh ini. Hanya orang-orang yang ikut bergabung dalam pengikut Hadhrat Masih Mauud a.s. lah yang dapat memperlihatkan contoh seperti ini,yakni  kepada mereka yang  ini dikatakan pengikut beliau jangan  ada yang berani mengangkat telunjuk/menunjuk pada mereka (mengkeritik)  bahwa orang ini adalah pendusta, (terkait dengan) mengatakan dusta pada ajaran   jelas dari sejak dahulu merupakan sunnah orang-orang yang ingkar.

Kemudian para dokter, membuatkan  laporan pengobatan yang salah. Timbul sejumlah kasus-kasus  persidangan karena mereka.    Maka siapapun yang melakukan pengkhianatan  dengan  matapencahariannya, itu sesudah menjadikan kebohongan sebagai miliknyalah dia  akan lakukan. Khianat itulah dusta, apa lagi ?

           Kemudian para guru. Sejumlah guru yang akibat kebohongan telah merusak nama baik mata pencaharian yang mulia ini. Dengan mengambil  sogokan,dengan mengambil uang, mereka memberikan nilai palsu. Bahkan ada sejumlah  guru  yang masuk  bekerja dengan ijazah palsu, dan di sejumlah negara sama sekali tidak ada kualifikasinya. Jadi ini merupakan keburukan-keburukan  yang mengerikan yang ada dalam masyarakat dan di Pakistan dllnya yang merupakan negara dunia ketiga  ini bukanlah hal yang terselubung,semua hal ini dimuat dalam surat-surat kabar. Maka, apabila masyarakat berdiri tegak pada kedustaan maka nilai-nilai luhur itu akan terus menjadi hilang. Dan dalam  waktu yang sama segenap masyarakat sama sekali menjadi tidak berperasaan dan dia sama sekali akan  menjadi orang yang jauh dari Tuhan. Maka setiap ahmadi dalam masyarakt ini seyogianya menjaga diri dari hal-hal seperti itu.  Seyogianya menciptakan perasaan ini dalam diri kita juga, dan di dalam diri generasi muda/keturunan kita sendiri juga bahwa sebagai orang  ahmadi kalian harus tetap teguh pada kebenaran dan berjihad melawan kebohongan. Seberapapun banyaknya kerugian disini jangan kiranya menghiraukanya. Oleh karena itu, setiap Ahmadi, baik dia  sebagai pagawai maupun terkait dengan suatu mata pencaharian  atau  dia melakukan suatu bisnis berjanjilah bahwa saya tidak akan bersandar pada janji-janji palsu. Kini dalam bisnis , sejumlah mereka yang bergerak dalam bisnis terkadang untuk menjual barang-barangnnya mereka bersandar pada kebohongan. Mungkin  untuk sementara  nampak padanya terdapat faedah baginya,  namun pada hakekatnya jalan kedustaan membawa kepada syirik.  Jadi pada zaman ini setiap ahmadi seyogianya melangkah dengan penuh waspada/hati-hati. Sebab sesudah mendakwakan baiat di tangan Masih Mauud a.s , sesudah berjanji akan jijik pada kebohongan, maksud  melakukan tampa  hati-hati ialah  kami  menyangka ini bahwa  mungkin dengan berdusta kami  dapat menipu Allah,naudzubillah. Oleh karena itu merupakan kedudukan/hal yang harus ditakuti ,  perlu sangat hati-hati.

           Hadhrat Hasan bin Ali meriwayatkan bahwa saya benar-benar ingat akan sabda Rasulullah saw  bahwa tinggalkan hal-hal yang meragukan. Pilihlah/milikilah  keyakinan yang bebas dari keraguan,sebab  kebenaran yang memberikan keyakinan merupakan faktor  ketenteraman sementara dusta  merupakan faktor  keresahan dan kebingungan   Bukhari Kitabulbuyu’ bab tafsirushubuhaat  tirmidzi abwabulqiyamah

          Kini, terkadang orang-orang mengatakan bahwa kami tidak berdusta tetapi perkataan / perkara  sedemikian rupa dia persulit  sehingga itu jelas merupakan kebohongan. Dalam kaitan inilah bersabda: Bicarakanlah  hal yang bebas dari keraguan/ hal yang meyakinkan dan tinggalkanlah hal-hal yang meragukan.

Kemudian sebuah hadis yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a: Di dalam hati seorang hamba tidak mungkin pernah berkumpul/menyatu iman dan kekufuran dan tidak pula kebenaran dan kedustaan dapat menyatu dan tidak pula kejujuran dan khianat dapat menyatu. Musnad Ahmad Ahmad bin Hanbal jilid 2 hal 349 Cetakan Bairut

 Kemudian sebuah hadis yang  inipun bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a.bahwa  beliau saw bersabda: Tanda ini cukup  bagi seseorang untuk menjadi dusta pabila dia memperdengarkan pada orang-orang  setiap apa yang di dengar. Muslim babunnaha anil hadis bikulli ma smia’

 Nah, sejumlah orang-orang memiliki  kebiasaan hanya untuk senang-senang  pembicaraan dari seseorang dia sampaikan kesini,dari sini kesana.   Nah,kita  sesuai dengan hadis  seyogianya terus mengintrospeksi diri kita sendiri, jangan-jangan kita karena  ketidaktahuan/lugu, secara tidak sadar atau dengan tidak  sengaja menyuruh orang  menyetempelkan label  dusta ini pada diri kita.

Kemudian sebuah hadis yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:  Barangsiapa yang mengatakan pada seorang anak kecil  ( Kini, untuk ibu-ibu dan bapak-bapak adalah sangat penting,perlu didengar)  Barangsiapa yang mengatakan pada seorang anak kecil bahwa, marilah saya memberikan sesuatu padamu dan kemudian dia tidak memberikan apa-apa,   maka ini terhitung bohong. Musnad Ahmad Ahmad bin Hanbal jilid 2 hal 452  Cetakan Bairut

Maksudnya, bahwa kalau demikian akan hilang rasa benar dan dusta pada diri anak-anak,sangat penting  untuk tarbiat mereka.  Dan kitapun harus memberikan tarbiat/pendidikan  pada generasi muda kita yang akan datang dan ini merupakan tanggung jawab yang sangat besar. Kemudian di  setiap kampung dan di setiap kota terdapat anak-anak waqfi now dalam jumlah besar, tarbiat mereka juga meskipun dilakukan juga dalam lingkungan rumah  juga, tetapi dalam lingkungan masyarakat ahmadi juga mereka  harus diberikan tarbiat. Maka oleh karena itu dari sejak kanak-kanak lah  dalam diri  anak-anak perlu menanamkan kecintaan pada kebenaran dan membenci kebohongan dan untuk itu  senantiasa setiap saat, setiap orang  seyogianya sangat perlu sekali bersikap hati-hati.

Kemudian bersumber dari Hadhrat Abdullah bin Amir  bahwa pada suatu hari Rasulullah saw hadir di rumah kami, maka ibu saya memanggil saya  bahwa marilah kemari saya memberikan sesuatu padamu. Maka Rasululah saw bersabda:   Maka beliau bersabda apa yang ingin engkau berikan padanya ?  Beliau menjawab  bahwa saya ingin memberikannya kurma padanya. Mendengar ini Rasulullah saw bersabda, jika engkau tidak memberikan sesuatu padanya maka dusta akan dicatat   sebagai  beban tanggung jawabmu. /kamu dinyatakan berdusta (Sunan Abi Daud ) Nah, coba perhatikanlah ini  betapa kerasnya peringatan.

 Kemudian Hadhrat Fatimah meriwayatkan dari Hadhrat Asma’  bahwa seorang perempuan bertanya pada nabi saw : Ya Rasulullah ! saya mempunyai seorang madu/ istri suami  saya. Jika untuknya secara bohong  saya menzahirkan bahwa suami kita memberikan ini ini kepada saya, padahal suami  saya tidak memberikan itu kepada saya ( itu hanya untuk  mengganggunya,untuk membuatnya marah ) maka apakah  saya berdosa ? Rasulullah saw bersabda,barang-barang  yang tidak didapatkan lalu kita zahirkan kita mendapatkannya secara dusta adalah seperti orang yang mengenakan  pakaian yang bohong-bohongan/ dusta. Muslim kitabuz-ziinah Jadi inipun  merupakan  dosa juga. Dalam masyarakat pun terkadang setelah terjadi unsur persaingan maka timbul  keterangan-keterangan yang palsu.  Terkadang untuk menunjukkan seseorang itu rendah mereka memasyhurkan bahwa pimpinan kami/boss kami  mempunyai ikatan yang erat dengan kami maka tampa sebab orang-orang  seperti itu   mulai menjadi marah. Kemudian dalam hal kekeluargaan hanya untuk mengganggu, selain itu juga, dizahirkan seperti itu pula  yang dari mana orang yang lain mulai menjadi marah. Meskipun ini juga merupakan hal yang tidak disukai.  Seseorang jika ada ikatan-ikatan dengan seseorang maka  siapapun tidak perlu marah dan dengki. Tetapi ini merupakan ungkapan  secara palsu  yang  termasuk dalam katagori  dusta.

Kemudian bersumber dari Abdullah bin Al-‘As r.a.  bahwa Rasululah saw bersabda:  Ada empat perkara  yang jika itu ada  pada seseorang maka dia adalah seorang yang murni/ benar-benar munafik.  Dan barangsiapa  yang dari (empat) itu satu  yang ada di dalam dirinya ,maka terdapat sebagian  kemunafikan atau sifat munafik didalam dirinya sehingga dia  meninggalkan itu.  Dan selain itu apa   ?  Hal pertama adalah:Apabila dia berbicara maka dia  berdusta, yakni dari kata-katanya ada nampak kebohongan. Kedua, apabila dia telah menyepakati suatu  perjanjian  bersama maka  dia menjadi orang yang melanggar perjanjian itu. Ketiga, pabila berjanji maka dia tidak memenuhi janjinya. Dan keempat,pabila dia bertengkar maka dia akan mencaci melampaui batas. Muslim Kitabuliman bab hishaalul-munafik

Kini,  hadis itu pabila tambah kita renungkan, maka semua hal-hal itu berhubungan dengan dusta/bohong. Hal pertama jelas adalah adat kebiasaan berdusta pada setiap keadaan. Sejumlah orang terkadang tidak dengan terus terang berdusta,dengan sedemikian rupa memutar kata-katanya  kemudian seperti itu dia menyampaikannya pada orang berikutnya sehingga orang yang mendengar ada saja maksud  yang dia tarik dari itu. Dan terkadang  hal-hal/perkataan  yang diputar-putar seperti itu  dapat menjadi  faktor  timbulnya perpecahan  diantara dua   hati/orang. Terjadi perkelahian dan jika nizam Jemaat atau keluarga bersatu berupaya untuk mendamaikannya  maka setelah diteliti dapat diketahui bahwa   perkara/perkataan/kasus itu sendiri yang  salah. Kasus sama sekali tidak seperti itu yang sesudah menisbahkannya/mengkaitkan kepada orang lalu dibicarakan.  Dan tatkala ditanyakan pada orang yang berbicara  (sumbernya) bahwa kamu dengan menyampaikan pembicaraan seperti itu kamu telah menciptakan keretakan diantara kedua belah pihak, kamu telah menciptakan perkelahian, maka dengan tenang dia memberikan jawaban bahwa saya sama sekali tidak menyatakan seperti itu.Maksud saya jelasnya  ini. Nah, orang-orang yang menjadi lincah nakal/berbelit  seperti itu dan hanya untuk bersenang- senang  dia  memerankan  bii jamalu (?) Baik dia dengan cara terus terang berbohong  atau dengan cara bohong terselubung   Rasul Tuhan saw telah mengkatagorikannya  munafik. Sebab untuk orang terdapat perintah untuk perkataan yang lurus /jujur. Bicaralah perkataan yang jelas, bersih dan lurus, dapat dimengerti, jangan ada timbul  keraguan macam apapun dan jangan pernah  akibat perkataan itu  akibat perkataan ini timbul keretakan  dalam kalbu-kalbu manusia.

Kemudian adat/ karakter yang ke dua adalah kemunafikan bahwa apabila dia menyepakati perjanjian maka dia  menjadi pelanggar/orang yang melanggar perjanjian itu  dan dia melanggar perjanjian itu. Inilah  amal Rasulullah saw yang mana sehingga,  kasihan orang Islam yang tidak  berdaya(sejumlah sahabah),tidak bisa berbuat apa-apa, orang-orang Islam yang digilas    dalam mesin penggilingan kezaliman kapan saja mereka datang dari  Mekah ke Madinah maka karena  adanya  perjanjian dengan orang Mekah     bahwa orang-orang Islam seperti itu  akan dikembalikan, maka meskipun kondisi mereka  yang sedemikian memprihatinkan dengan memaksakan/menguatkan  hati beliau,  Rasulullah saw senantiasa menyuruh mereka kembali. Nah, inilah merupakan contoh mulia di hadapan kita. Dewasa ini banyak pemerintahan-pemerintahan besar yang mengadakan perjanjian dan kemudian  begitu saja dengan mudah mereka melanggarnya. Khususnya, pabila (negara-negara besar) mengadakan  perjanjian kesepakatan dengan pemerintahan- pemerintahan negara-negara Islam atau timbul soal perjanjian dengan  negara-negera miskin, maka tidak ada yang menanyakan/seolah-olah tidak pernah ada apa-apa dan keberatan itu dilontarkan pada Islam bahwa Islam itu begini dan begitu. Walhasil amal-amal mereka bersama dengan mereka. Tetapi kepada orang-orang Islam pun ini meerupakan  nasehat  bahwa jika kalian menyalahi janji maka di dalam diri kalian terdapat benih kemunafikan, oleh karena itu fikirkanlah dan hilangkanlah  keburukan itu dari dalam diri kalian.

 Kini saya ingin memberikan misal  perjanjian seputar  lingkungan rumah  dan sebatas seputar kekeluargaan. Hubungan ikatan  pernikahan juga berperan sebagai sebuah  ikatan perjanjian diantara laki dan permpuan. Kepada perempuan terdapat sebuah perintah  bahwa atas asas  perjanjian itu kepadamu ditetapkan    kewajiban-kewajiban  yang harus dipenuhi. Misalnya, memperhatikan keperluan-keperluan suami,merawat anak-anak dan menjalankan pelaksanaan urusan-urusan rumah tangga dll. Demikiazn pula laki-laki juga memiliki  tanggung jawab-tanggung jawab memperhatikan nafkah istri dan anak-anaknya. Berbagai tanggung  jawab pemenuhan berbagai keperluannya berada di pudaknya. Dan kedua orang tua bersatu memberikan pendidikan baik pada anak-anak merupakan tanggung jawab yang  berada pada  pundak kedua orang tua . Maka seberapa banyak suami istri sambil mengitaati  perjanjian itu diantara mereka , mereka  memperhatikan  hak-hak satu dengan yang lain, sebanyak itulah akan terus tegak  lingkungan masyarakat yang cantik dan indah.

Akan tetapi terkadang sangat disesalkan bahwa  setelah mendengar dan melihat disini di Eropa, jodoh  anak-anak perempuan yang tinggal di barat/Eropa jika di Pakistan atau  di Hindustan  entah dimanapun itu ada (jodohnya) dll. Maka anak perempuan dengan menggunakan sponsor dia menyuruh memanggil   anak laki-laki ,pernikahan berjalan dengan mulus dan menggembirakan,anak-anak pun mereka peroleh. Dan setelah surat-surat  yang laki-laki  lengkap ?  (laki-laki berkata )Kini  tidak ada yang dapat mengeluarkan saya dari sini, maka dengan cara yang tidak benar dia mulai mengganggu/menyakiti anak -anak permpuan(istrinya). Maka seperti itulah mereka menjadi orang-orang yang melanggar suatu ikatan  suci dan  suatu perjanjian. Dan kebanyakan dasarnya  hanya alasan semata, merupakan hal-hal yang berasaskan pada kedustaan,di dalamnya sama sekali tidak ada apa-apa, tuduhan-tuduhan yang dilontarkan. Jadi orang-orang seperti itupun termasuk dalam kelompok orang-orang  munafik. Dan orang-orang ahmadi diantara kita setiap orang sangat perlu hati-hati dalam hal ini.

 Kemudian sifat /perangai  ketiga adalah ingkar janji. Inipun merupakan suatu corak kebohongan juga. Dan dalam masyarakat dewasa ini mulai dari jajaran pemerintahan-pemerintahan sampai pada kalangan  bawah di setiap tempat nampak terlihat pemandangan- pemandangan itu. Dan kebanyakan serupa itu kondisinya bahwa apabila ada yang berjanji  maka mulai dari awal niatnya itu tidak benar dan dengan amal/perbuatan yang sesudahnya menjadi terbukti bahwa memang benar mulai dari awal sekali niatnya itu tidak benar. Sebab dari permulaannya inilah yang mereka fikirkan bahwa kini berjanjilah,apa faedah yang dapat di ambil dari itu ambillah faedahnya,  berdustalah tidak ada apa-apa. Dan kapan tiba  saatnya untuk memenuhi janji maka nanti kemudian kita akan lihat,  kita akan ingkari itu, maka sedikit saja  kita akan berkata dusta. Maka orang-orang seperti itupun seyogianya terus mengintrospeksi diri mereka bahwa  ingkar janji  yang mereka anggap barang biasa,bahkan Rasulullah saw telah mendirikan  orang seperti ini  pada barisan  orang-orang yang munafik dan orang-orang munafik adalah lebih berdosa dari orang-orang kafir.

Kemudian sifat ketiga adalah kapan dia berkelahi maka  dia   akan mencacimaki dan yang paling banyak memahami  itu adalah orang-orang ahmadi.  Kalian cermatilah para penentang Jemaat caci makian dan kata-kata kasar /kotor yang  mereka gunakan,  itu karena mereka adalah orang yang berdusta. Jika mereka benar, maka mereka akan bicara dengan hujjah dan argumentasi,dan  akan bicara dengan   sopan santun. Jadi pabila pada orang-orang dusta  tidak lagi ada argumentasi   maka mereka mulai menggunakan pukulan dan mengambil tindakan menggunakan caci makian. Dan orang seperti itu sesuai dengan definisi itu adalah merupakan orang yang munafik juga. Dan jika kita tambah lebih membukanya, maka akan banyak lagi perkara-perkara kemunafikan orang-orang seperti   akan mulai menjadi  zahir/jelas. Nah inilah hal-hal terkait dengan orang lain. Amal mereka bersama mereka, kasus/ urusaan mereka adalah bersama Tuhan. Allah sendiri yang akan menghukum  mereka, tetapi orang-orang ahmadi pun perlu senantiasa hati-hati dan terus mengintrospeksi diri. Terkadang diantara suami istri,  saudara dengan saudara,diantara sesama anggauta keluarga dan diantara para kerabat, dalam lingkungan masyarakat sendiri dan dalam tingkatan bisnis terjadi ketidak harmonisan. Benar atau salah  ini merupakan hal   terpisah, tetapi pihak  manapun juga tidak tepat pabila ketidak harmonisan itu kita besar-besarkan  sedemikian rupa sehingga sampai pada situasi saling  mencaci maki.(perang mulut) Nah,  inilah yang Hadhrat Masih Mauud a.s. ajarkan pada kita bahwa jika timbul kondisi seperti itu  dahuluilah olehmu untuk berdamai. Ulurkanlah tanganmu ke depan untuk berdamai, kendatipun  berada di pihak yang benar bersikaplah seperti orang yang salah. Jangan-jangan nanti dengan mencaci maki  label munafik ditempelkan   pada  kalian sendiri. Semoga Allah melindungi dan menjaga orang-orang ahmadi dari itu. Sebagaimana sebelumnya saya telah katakan bahwa  caci makian senatiasa hanya dilakukan oleh orang yang pendusta.

 Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:

Hindarilah kebohongan sebab ini juga merupakan penyakit yang menghancurkan keruhanian, kemudian syirik pada zatnya merupakan kebohongan yang paling besar. Sebab, kekuatan-kekuatan  yang Allah tidak berikan pada siapapun, berkenaan dengan itu seorang  musyrik katakan  bahwa itu (kekuatan-kekuatan ) ada di barang-barang anu.( Mereka meminta pada berhala-berhala,  benda  berhala yang  telah dibuat. Maksudnya adalah bahwa di dalam hati mereka  terdapat  keyakinan bahwa kekuatan-kekuatan itu   ada  dalam  berhala-berhala fulan-fulan) Dan seperti  itu dia memukulkan  kekotoran dusta pada mulutnya. Pada hakekatnya ialah  dari antara   tanda-tanda jemaat-jemaat  para nabi satu tanda yang sangat besar adalah  kejujuran/ketulusan. Dan ini merupakan tanda /alamat yang pada zatnya  sangat penting. Namun sangat disesalkan banyak sekali orang –orang di dunia yang tidak  mengerti nilai-nilai  luhur kejujuran. Secara khusus pada zaman ini  penyakit ini lebih banyak didapatkan. Sebab zaman ini  merupakan zaman dusta dan kemunafikan  dan arti peradaban   yang  difahami adalah  bahwa orang yang berbicara  sedemikian rupa  memperhatikan perasaan orang lain sehingga jika dia terpaksa harus menyembunyikan  kebenaran sekalipun dia tidak akan  takut. Tetapi meskipun derasnya arus  gelombang zaman,  merupakan kewajiban setiap orang  bahwa hadapilah keburukan itu dengan segenap kekuatan yang ada. Dan untuk menginjak-injak /melumatkan itu  jangan samasekali ada menutup-nutupi,sebab orang berbicara dusta  berupaya menipu orang lain  dan tipuan  merupakan barang  yang dengan itu orang-orang ditimpa  kerugian. Jadi orang berdusta tidak  hanya sekedar pelaku dosa moral dan akhlak semata,  bahkan merupakan musuh ummat manusia dan  yang juga akan  menghancurkannya dan untuk menghapuskan janji itu  merupakan kewajiban setiap orang muslim yang sejati dan mukhlis. Rasulullah saw sambil  menyebut tanda-tanda orang  munafik bersabda bahwa salah satu tandanya adalah: Apabila  dia berbicara maka dia berbicara dusta. Dan berkaitan dengan orang-orang munafik di dalam Al-Quran Allah berfirman bahwa dia akan diletakkan di dalam neraka yang paling berat/terendah. Seolah-olah Allah akan menghukum orang-orang munafik lebih berat ketimbang  orang-orang kafir. Karena  akibat orang kafir hanya orang kafir itulah yang  akan rugi, akan tetapi akibat orang-orang munafik orang-orang Islam pun mendapat kerugian. Kaum yang tidak dapat menghilangkan kebohongan dari masyarakatnya dan meskipun demikian dia menganggap bahwa dia akan meraih  kemajuan dan kemuliaan. Pandangannya ini sedemikian rupa aibnya /kurangnya sebagaimana angan-angan   anak-anak kecil  bahwa dia akan sampai  ke bulan  atau akan pergi sampai ke bintang.

Kemudian beliau bersabda: Jika kebenaran merupakan sebuah benda yang tampa itu wibawa suatu kaum tidak dapat tegak berdiri. Maka orang yang memperlihatkan contoh kebenaran dan kejujuran mereka memajukan  kaumnya  dan mereka yang tidak dapat memperlihatkan contoh seperti itu merupakan orang-orang yang mematahkan leher kaumnya. Tafsir Kabir juiid 5  hal. 41-43

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s. bersabda:

Tegaklah dalam keadilan dan kebenaran dan seyogianya setiap  kesaksian adalah  untuk Tuhan-mu dan janganlah berdusta meskipun dengan  berbicara benar jiwamu sendiri akan menghadapi bahaya atau dari itu ibu bapakmu akan mengalami kerugian dan kerabatmu seperti  anak-anak dll akan ditimpa kerugian. Filsafat Ajaran Islam    hal 53

Kemudian bersabda:

“Dalam kebenaran itu terdapat keberanian dan rasa tidak gentar. Orang yang pembohong adalah orang yang  penakut. Orang yang kehidupannya tidak bersih dan terlibat dalam dosa-dosa yang kotor dia akan senantiasa diselimuti rasa  takut dan dia tidak  dapat melakukan perlawanan. Seperti seorang  yang tulus dia tidak dapat menzahirkan kebenarannya dengan penuh keberanian dan tampa ada rasa takut dan dia tidak akan dapat memberikan argumentasi akan kesuciannya. Perhatikanlah dengan cermat dalam urusan-urusan  dunia,siapakah   yang sedikit saja Tuhan memberikan padanya sedikit kemudahan dan kemakmuran dalam hidup kemudian tidak ada yang benci padanya ?  Pasti akan ada orang yang benci pada orang yang memiliki kelebihan harta dan itu senantiasa melekat dengannya. Demikian pulalah kondisinya  urusan agama juga. Syaitan juga merupakan musuh  perbaikan atau  ketertiban. Jadi manusia seyogianya membiarkan bersih hisabnya/perhitungannya  dan jadikanlah urusannya senantiasa lurus dengan Tuhan.    Jadikanlah Tuhan itu redha dan jangalah takut pada siapaun dan janganlah menghiraukan siapapun. Hindarilah perkara-perkara yang akibatnya manusia sendiri menjadi sasaran  azab, tetapi semua ini tidak mungkin terealisai tampa dukungan  Allah dan karunia-Nya. Hanya upaya manusia tidak ada yang dapat terjadi selama karunia Tuhan tidak ikut termasuk di dalamnya

 وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا (An-Nisa’29)  Manusia tidak berdaya , penuh dengan kesalahan-kesalahan,  terkepung dari empat penjuru dengan kesulitan-kesulitan. Jadi,seyogianya  berdoalah semoga Allah menganugerahi taufik untuk mengerjakan kebaikan. Dan menjadikan sebagai waris dari dukungan –dukungan-Nya dan  menjadi waris berkat-berkat  karunia-Nya. Malfuzhat jilid 5  cetakan baru hal 543

Kemudian beliau bersabda:  Shiddiq merupakan timbangan/ bab mubalaghah, yakni yang sama sekali telah fana dalam ketulusan dan kejujuran dan berdisplin secara sempurna , dan menjadi orang yang tulus dan pecinta  sejati. Ini merupakan sebuah kedudukan yang  apabila seorang telah sampai padanya maka dia merupakan kumpulan  segenap kebenaran dan ketulusan /kejujuran dan dia  menjadi orang yang menarik itu  kepadanya  sebagaimana seorang yang siddiq menyerap kesempurnaan –kesempurnaan kebenanran padanya ……..Falsafah peraihan  kesempurnaan  seorang yang siddiq (seorang yang tulus) adalah bahwa apabila dia  melihat ketidak berdayaan dan kelemahan dirinya, sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya dia mengatakan إِيَّاكَ نَعْبُدُ  –iyyakanakbudu dan mulai berlaku tulus dan meninggalkan kebohongan dan  berlari jauh dari segenap kebohongan dan kekotoran yang berkait dengan kebohongan  dan dia berjajnji bahwa  saya/dia tidak akan berdusta,saya tidak akan memberikan kesaksian yang palsu ,dan saya tidak akan berkata dusta dalam corak  dikuasai  gejolak hawa nafsu, tidak secara sia-sia dan tidak  untuk meraih keuntungan  dan tidak untuk menjauhkan keburukan.

 Menurut pandangan sejumlah  orang bahwa demi atas asas kebaikan  dalam beberapa  peluang boleh berdusta. Dengan berkata perkataan salah yang itu/fulan,    dapat terjadi kebaikan dalam ikatan-ikatan/hubungan-hubungan dan karena untuk menjauhkan keburukan setelah melakukan kesalahan saya tengah menempuh cara/jalan dusta. Atau tercipta situasi yang sedemikian rupa dimana berdusta telah menjadi boleh. Beliau bersabda bahwa dalam situasi/kondisi apapun berdusta tidak benar. Bersabda ,yakni  berjanjilah bahwa dalam corak  apapun saya tidak akan berdusta. “Dan apabila dia berjanji sampai batas  itu maka seolah-olah dia mengamalkan suatu yang khas pada إِيَّاكَ نَعْبُدُ  iyyakana’budu dan amalnya  itu  merupakan ibadah yang sangat tinggi. Kelanjutan   إِيَّاكَ نَعْبُدُ   adalah وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ  ataukah ini keluar dari mulutnya atau tidak keluar dari mulutnya, tetapi Allah yang merupakan tempat permulaan segenap  karunia dan merupakan sumber kebenaran dan kejujuraan ” (   yang dari mana makrifat Allah  dan  karunia-karunia keluar  dan yang menunjukkan  kebenaran dan ketulusan ) Allah pasti akan menolongnnya dan Dia akan membukakan padanya hakekat-hakekat (sesuatu ) dan jalan-jalan/peraturan-peraturan luhur  kebenaran . Misalnya,sebagaimana ini merupakan  peraturan bahwa pedagang yang berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan /caraa-cara yang ada dengan baik dan tidak membiarkan hilang kejujuran dan ketulusan dari tangannya  maka jika  dia berniaga dengan satu sen sekalipun maka Allah sebagai gantinya akan memberikan ratusan ribu padanya.

Dan demikian pula apabila manusia mencintai kebenaran dan kejujuran dan menjadikan kebenaran /ketulusan sebagai kebiasaan/ciri khasnya,  maka inilah kejujuran dan ketulusan akan menarik kebenaran  yang agung itu  yang hanya nampak pada Allah. Al-quran   merupakan  penjelmaan kebenaran yang utuh  dan bentuk penjelmaan kebenaran atau kejujuran adalah zat yang beberkah  Muhammad saw dan demikian pula rasul dan utusan Tuhan merupakan sosok yang benar/jujur dan tulus . Jadi apabila dia sampai pada kebenaran/ketulusan baru matanya akan  terbuka dan dia meraih  basyirat/ ketajaman pemahaman yang khas yang dari itu  makrifat-makrifat  Al-Quran mulai terbuka padanya. Saya sama sekali tidak pernah siap untuk menerima bahwa seorang yang tidak mencintai kebenaran/ kejujuran dan tidak menjadikan ketulusan menjadi ciri khasnya lalu  dia  dapat juga memahami makrifat-makrifat Al-Quran, itu dia tidak akan dapatkan  karena kalbunya sama sekali tidak ada keselarasan dengan itu ,karena ini merupakan sumber mata air  kebenaran/kejujuran dan hanya dia yang cinta pada kejujuranlah yang dapat minum dari itu. Malfuzhar jilid awal.hal 365-366

Kemudian bersabda:

Saya telah mencermati  bahwa di dalam Al-Quran terdapat  beberapa ribu perintah yang  tidak ditaati. Dalam hal-hal  kecil dilakukan tindakan/sikap penentangan   sehingga dilihat  sejumlah pemilik toko pun berdusta dan sejumlah orang yang melakukan  kebaikan  pun berdusta, padahal Allah telah mensejajarkan itu dengan kekotoran, namun lihatlah bahwa banyak sekali orang –orang sesudah mewarnai/membumbu-bumbui ucapannya mereka  tidak berhenti  menerangkan keadaan-keadaan/kondisi-kondisi  dan itu mereka tidak anggap merupakan sebuah  dosa. Mereka berdusta sebagai bahan tertawa. Manusia tidak  dikatakan siddik /jujur selama dia tidak menghindar dari segenap corak kebohongan ( Yakni selama tidak menghindar dari segenap kebohongan )

Kemudian beliau bersabda:

  “Allah oleh karena inilah telah mengirim saya supaya ( Kita sebagai orang ahmadi yang mengimani  Hadhrat Masih Mauud a.s )   Allah mengirim saya supaya tercipta  ketakwaan  dan supaya terlahir keimanan sejati yang dapat menjauhkan dari dosa. Allah tidak menginginkan tex bahkan Allah menghendaki  ketakwaan sejati.” Malfuzhat jilid 5 hal 120-121

Semoga Allah menjadikan setiap dari antara  kita orang yang mampu menegakkan standar tinggi kebenaran/kejujuran  dan menjadikan kita terbebas dari kebohongan dan membencinya. Setiap  Ahmadi kemanapun pergi jangan ada yang berani menunjuk /mengisyarahkan padanya bahwa ini adalah pendusta, bahkan setiap orang seyogianya berkata  bahwa jika ingin melihat penjelmaan  kebenaran yang utuh  maka lihatlah  orang ahmadi yang sedang berjalan ini. Jika ingin melihat kebenaran di suatu kaum,di dunia ini , dalam kondisi era dewasa ini,  maka lihatlah orang-orang ahmadi itu  Maka, setiap ahmadi,baik dia sebagai  penduduk Amerika atau sebagai penduduk Eropa, setiap orang yang melihat mereka berkata berkaitan dengan orang-orang Ahmadi   bahwa kebenaran merupakan sisi mereka yang menonjol dan merupakan  ciri khas mereka. Semoga Allah menjadikan kita tegak pada akhlak itu dan   menganugerahi kita taufik untuk mengamalkan akhlak mulia  itu .

Qamaruddin Shahisd