Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 13 Maret 2009/Aman 1388 HS

Di Baitul Futuh London, U.K.

 

Tanggal 12 Rabi’ul Awwal adalah hari kelahiran Hadhrat Nabi Muhammadsaw. Pada hari itu sebagian dari orang-orang mukmin merayakannya dengan penuh semangat dan meriah. Di Pakistan dan beberapa negara, orang muslim merayakannya dengan cara meriah sekali. Banyak orang di antara para penentang melemparkan kritikan terhadap Jama’at di antaranya ada yang mengatakan: “Mengapa orang-orang Ahmadi tidak menganggap penting merayakan hari kelahiran Nabi Muhammadsaw ini?”

Pada hari ini saya akan memberikan penjelasan sehubungan dengan pertanyaan atau kritikan tersebut. Dan akan saya jelaskan bagaimana sabda Hadhrat Masih Mau’uda.s. tentang ini sehingga akan jelas bahwa orang-orang Ahmadiyah yang tahu, pasti menghargai pentingnya hari kelahiran Nabi Muhammadsaw itu. Namun sebelum menjelaskan sabda Hadhrat Masih Mau’uda.s. tentang ini saya akan menjelaskan dahulu sejak kapan Miladun Nabi ini mulai dirayakan dan siapa yang memulainya? Dan bagaimana sejarahnya? Di antara kelompok orang-orang Muslim juga banyak yang tidak sependapat dengan perayaan Miladun Nabi ini.

Abad Islam yang terkenal paling baik adalah permulaan berdirinya Agama Islam sampai tiga abad berikutnya, yang disebut sebagai tiga abad terbaik. Di dalam abad-abad itu terdapat orang-orang yang sangat mencintai Hadhrat Rasulullahsaw. Kecintaan mereka terhadap Hadhrat Rasulullahsaw sangat tinggi derajatnya. Beliau-beliau itu mengetahui banyak sekali sunnah-sunnah Rasulullahsaw. Dan beliau-beliau itu sangat patuh sekali melaksanakan syariat Agama Islam. Sekali pun demikian pada zaman beliau-beliau itu yakni zaman para sahabat dan juga pada zaman para tabi’in yakni orang-orang yang berjumpa dan bergaul dengan para sahabat, tidak terdapat riwayat adanya perayaan atau peringatan Miladun Nabi. Padahal, sebagaimana telah saya katakan, bahwa beliau-beliau itu sangat mencintai dan sangat mematuhi sunnah-sunnah Hadhrat Rasulullahsaw.

Dikatakan bahwa orang yang memulai menganjurkan untuk memperingati atau merayakan Miladun Nabi itu adalah Abdullah Muhammad Bin Muhammad Abdul Ghada. Yang para pengikutnya disebut Fathimi. Mereka menisbahkan diri berasal dari keturunan Hadhrat Alir.a.. Dan mereka termasuk dalam kelompok madzhab Bathini. Madzhab Bathini ini percaya bahwa sebagian dari pada Syariat itu ada yang zahir atau tampak dan sebagian lagi tidak tampak atau tersembunyi. Menurut mereka dengan cara menipu, memukul atau membunuh para penentang juga diperbolehkan. Banyak lagi hal-hal yang menyimpang yang menunjukkan banyak sekali bid’ah-bid’ah yang terdapat di dalam ajaran madzhab mereka itu yang dinisbahkan kepada kitab mereka.

     Jadi, orang-orang pertama yang melakukan perayaan Miladun Nabi adalah orang-orang yang tergabung di dalam madzhab Bathini ini. Dan cara yang mereka lakukan itu benar-benar bid’ah yang telah dibawa masuk ke dalam ajaran Islam yang sejati. Madzhab ini terdapat di dalam pemerintahan Mesir (Egypt) pada tahun 362 Hijriah. Selain dari memperingati Miladun Nabi, mereka membuat peringatan atau perayaan lainnya lagi, misalnya yaumi asyura, miladun Nabi, milad yakni hari kelahiran Hadhrat Ali, milad, hari kelahiran Hadhrat Hasan, milad Hadhrat Husain, milad Hadhrat Fathimah Az Zahra. Mereka merayakan hari pertama dan hari pertengahan bulan Rajab, merayakan hari pertama dan pertengahan bulan Sya’ban, malam khataman Qur’an dan perayaan bermacam-macam di dalam bulan Ramadhan, banyak sekali perayaan-perayaan yang mereka lakukan, yang telah menjadikannya bid’ah-bid’ah di dalam Islam.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa di antara orang-orang Islam ada juga beberapa golongan atau kelompok Islam yang tidak sepaham dengan melakukan perayaan miladun nabi ini. Banyak firqah atau golongan yang sama-sekali tidak melakuan perayaan Miladun Nabi. Dan mereka menyatakan “bid’ah” terhadap perayaan Miladun Nabi ini. Ada pula kelompok lain di dalam Islam yang melakukannya secara berlebih-lebihan. Bagaimanapun kita akan tengok sabda Imam Zaman sekarang ini yang telah diutus oleh Allah Swt sebagai Hakaman Adalan, bagaimana pendapat dan nasihat beliau tentang Miladun Nabi ini. Seseorang telah bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’uda.s. tentang Miladun Nabi, di dalam jawabannya beliau bersabda: “Mengenang dan membicarakan tentang wujud Hadhrat Rasulullahsaw adalah pekerjaan yang sangat baik sekali. Bahkan menurut riwayat hadits, mengenang dan membicarakan tentang para Nabi atau para wali Allah [maka] rahmat Tuhan turun kepada mereka dan bahkan Allah Swt Sendiri menganjurkan untuk mengenang dan menyebut-nyebut para nabi-Nya. Akan tetapi jika membicarakan nabi itu disertai bid’ah-bid’ah yang menyelubungi Tauhid Ilahi, maka tidak diperbolehkan. Tempatkanlah keagungan Tuhan bersama Tuhan dan keagungan Nabi bersama Nabi. Para Maulvi (ulama) zaman sekarang lebih banyak menggunakan kata-kata berbau bid’ah dan bid’ah-bid’ah itu bertentangan dengan kehendak Allah Swt. Jika memperingatinya tidak disertai dengan bid’ah namun hanya dengan nasihat atau ceramah, jika di dalam acara itu diterangkan mengenai kebangkitan Rasulullahsaw, mengenai kelahiran beliau atau mengenai wafat beliausaw maka hal itu akan mendapat ganjaran dari Allah Swt. Kita tidak merasa perlu untuk menyusun sebuah peraturan atau sebuah kitab tentang itu.”

Perayaan miladun nabi itu jika berkaitan dengan sirat atau riwayat kemuliaan Rasulullahsaw tentu baik sekali, namun pada masa sekarang ini khususnya di Pakistan maupun di Hindustan, peringatan miladun nabi itu sudah menyimpang dari maksud semula yang menjelaskan sirat atau riwayat Nabi Muhammadsaw, melainkan sudah campur-baur dengan cerita politik. Atau perayaan itu digunakan untuk melemparkan tuduhan-tuduhan satu golongan kepada golongan lain. Perayaan apa pun yang dilakukan di Pakistan, mula-mula menceritakan sedikit sirat atau kehidupan Nabi kemudian disambung dengan caci maki yang berlebihan dan kata-kata nonsens serta kotor terhadap wujud suci Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s.. Dan mereka membuat nama beliau jadi sasaran perolokan dan penghinaan.

Beberapa hari yang lalu para Maulvi Ghair Ahmadi mengadakan jalsah miladun Nabi di kota Rabwah dan melakukan pawai keliling kota Rabwah. Tujuan jalsah miladun nabi mereka hanya untuk mencaci maki Ahmadiyah dan menunjukkan rasa benci dan dengki, menanam benih permusuhan terhadap Jama’at Ahmadiyah. Jalsah atau pertemuan mereka atas nama miladun nabi seperti itu tidak ada faedahnya sama sekali. Wujud Hadhrat Rasulullahsaw sungguh berberkat sekali. Beliau datang ke dunia sebagai Rahmatul-lil‘âlamîn. Musuh-musuh pun dido’akan oleh beliau sambil menangis di hadapan Allah Swt. Hadhrat Aisyahr.a. meriwayatkan, katanya: “Pada suatu malam saya bangun ikut sembahyang Tahajjud bersama Rasulullahsaw. Pada waktu itu beliau terus-menerus berdo’a sambil menangis memohon kepada Allah Swt: Wahai Allah! Maafkanlah kaumku ini dan berilah taufik kepada mereka untuk menggunakan akal mereka!!”

Namun, apa yang dilakukan oleh para Mullah pada zaman sekarang di waktu mereka merayakan miladun nabi? Mereka dengan menyebut orang-orang Ahmadi ini sebagai Qadiani, mencaci-maki orang-orang Ahmadi dengan bahasa yang sangat kotor dan keji. Mereka melemparkan tuduhan-tuduhan palsu yang sama sekali tidak berdasar terhadap orang-orang Ahmadi. Sedangkan contoh teladan Hadhrat Rasulullahsaw telah terbukti demikian indahnya. Ketika di suatu medan perang, seorang sahabat tengah mengejar untuk membunuh seorang musuh, kemudian ketika musuh itu sudah terpojok, serentak ia membaca Kalimah Syahadat. Akan tetapi sahabat itu langsung membunuhnya juga. Ketika peristiwa itu dilaporkannya kepada Hadhrat Rasulullahsaw, beliausaw dengan nada tidak senang dan marah bertanya kepada sahabat itu: “Apakah sudah engkau belah dadanya bahwa dia mengucapkan kalimah syahadah itu karena takut pada pedang engkau?” Sahabat itu sangat menyesal sekali atas kesalahannya itu, sambil berkata: “Aduhai!! Alangkah baiknya jika aku ini baru beriman pada hari ini!!” Akan tetapi apa yang tengah dilakukan oleh para mullah (ulama) sekarang ini?? Keadaannya sangat terbalik!! Bagaimanapun mereka sudah terbiasa dengan perbuatan yang salah itu.

Sekarang saya ingin mengemukakan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Di antaranya beliau bersabda: “Semata-mata memperingati kehidupan suci Rasulullahsaw adalah amal perbuatan yang sangat baik. Dengan amalan itu kecintaan terhadap beliau tambah meningkat. Dan dengannya timbul satu daya tarik dan semangat untuk mentaati perintah-perintah beliausaw. Di dalam Kitab Suci Al-Qur’an banyak terdapat perintah untuk mengingat riwayat para Anbiya, misalnya, Allah Swt berfirman:

وَاذْكُرْ فِي اْلكِتَابِ اِبْرَاهِيْمَ

Wadzkur fil-kitâbi Ibrôhîm

Artinya: Dan ingatlah di dalam kitab tentang Ibrahim

Akan tetapi di dalam memperingati para Anbiya itu, sekarang kerap kali dicampuri dengan bid’ah-bid’ah maka hal itu menjadi haram. Ingatlah! Tujuan utama Islam adalah menegakkan Tauhid. Pada zaman sekarang bisa dilihat bagaimana banyaknya bid’ah-bid’ah dilakukan di dalam panggung-panggung perayaan Miladun Nabi. Ilmu pengetahuan yang baik tentang miladun nabi itu sudah dicemari dan dirusak oleh bid’ah-bid’ah, sehingga perayaan itu menjadi haram. Padahal mengingat wujud suci Hadhrat Rasulullahsaw menjadi penyebab turunnya rahmat dari Allah Swt. Namun mereka melakukannya di luar batas syariat yang disertai bid’ah-bid’ah sehingga bertentangan dengan kehendak Allah Swt.”

Kami sendiri tidak sependapat jika beliaua.s. harus membuat asas syariat baru. Karena itulah yang sedang terjadi sekarang di kalangan para Mullah. Setiap orang sesuai dengan kemauannya sendiri hendak menjadikannya sebagai syariat. Seolah-olah ia sendiri membuat syariat. Di dalam masalah miladun nabi itu telah dilakukan perayaan-perayaan secara kacau-balau. Disebabkan kejahilan dan kebodohan, banyak pula orang mengatakan bahwa mengingat Hadhrat Rasulullahsaw sendiri adalah pekerjaan haram. Na’udzubillâhi min dzalik!! Mereka itu telah membuktikan kebodohan sendiri. Menyatakan haram terhadap berceramah atau bercerita tentang riwayat hidup Hadhrat Rasulullahsaw adalah sangat dungu dan bodoh sekali. Padahal patuh taat yang sesungguhnya kepada beliau menjadi sarana atau menjadi penyebab yang mendasar bagi orang yang akan menjadi kekasih Allah Swt. Timbulnya semangat untuk patuh taat kepada beliau disebabkan seringnya mengingat dan mendengar kisah tentang beliau. Orang yang mencintai kekasihnya selalu mengingatnya dan sering menyebut-nyebut namanya. Memang ada kelompok orang-orang Islam yang pada acara Miladun Nabi sedang berlangsung, mereka berdiri semua. Yang sedang duduk di lantai pun serentak berdiri semuanya kerana menganggap pada waktu itu Hadhrat Rasulullahsaw pun sedang hadir bersama mereka. Inilah cara yang biasa mereka lakukan juga. Sudah menjadi kebiasaan apabila mereka sedang merayakan miladun Nabi mereka berdiri semua. Seorang Mullah sedang berceramah dan para hadirin sedang duduk di lantai, lalu penceramah mengatakan Hadhrat Rasulullahsaw sudah datang di tengah-tengah mereka. Tiba-tiba semua orang yang sedang duduk itu serempak berdiri. Mereka yang menganggap Hadhrat Rasulullahsaw datang hadir di tengah-tengah mereka adalah perbuatan yang sangat berani. Mereka sungguh berani mengatakan demikian. Padahal majelis perayaan seperti itu dihadiri oleh orang-orang yang suka meninggalkan sembahyang juga. Bagaimana keadaan orang-orang duduk di sana, di antara mereka itu banyak juga yang tidak menunaikan sembahyang. Banyak di antara mereka setahun hanya dua kali mengerjakan sembahyang yaitu pada hari Id saja dan mereka hanya rajin menghadiri acara-acara perayaan Miladun Nabi seperti itu. Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Banyak sekali yang hadir di dalam acara-acara seperti itu orang-orang yang biasa meninggalkan shalat, bahkan mereka pemakan uang renten (bunga uang/riba) dan suka meminum-minuman keras. Apa hubungannya Majelis-majelis semacam itu dengan wujud suci Hadhrat Rasulullahsaw? Orang-orang seperti itu berkumpul di dalam acara-acara itu hanya untuk show atau untuk mempertunjukkan diri saja. Pikiran semacam itu betul-betul sia-sia. Di antara mereka banyak orang-orang Wahabi yang tidak memberi tempat bagi keagungan Hadhrat Rasulullahsaw di dalam hati mereka. Sebetulnya mereka itu bukan orang-orang beragama. Padahal wujud para Anbiya adalah laksana hujan yang menurunkan air sejuk, mereka itu wujud-wujud cahaya yang cemerlang. Mereka adalah wujud kumpulan segala kemuliaan. Wujud mereka merupakan blessing atau berkat bagi dunia. Orang yang menganggap wujud-wujud beliau itu serupa dengan diri mereka sendiri, mereka telah berbuat zalim. Sesungguhnya menjalin kecintaan dengan para Wali dan para Anbiya meningkatkan kekuatan iman kita.”

Terdapat riwayat di dalam hadits bahwa Hadhrat Rasulullahsaw bersabda: “Surga adalah kedudukan yang sangat luhur. Dan saya akan berada di dalamnya.” Seorang sahabat yang sangat mencintai beliau mendengar sabda beliau itu langsung menangis lalu berkata: “Ya Rasulullah, saya sangat mencintai Hudhur!!” Beliausaw bersabda: “Engkau akan tinggal bersama-sama dengan aku!” Maksud beliausaw adalah barangsiapa yang mencintai beliau, dia pasti akan tinggal bersama beliau di dalam surga. Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Golongan lain yang berikhtiar melakukan bid’ah-bid’ah yang berbau kemusyrikan, di dalam diri mereka tidak ada suatu [nilai] ruhaniyat. Orang-orang yang menyembah kuburan, di dalam diri mereka tidak ada keruhanian. Sesungguhnya perayaan yang di dalamnya menceritakan tentang riwayat hidup Hadhrat Rasulullahsaw, menurut pendapat saya, seperti orang-orang Wahabi mengatakan: “tidak haram” patut diikuti. Orang-orang yang merayakan Miladun Nabi sambil melakukan perkara-perkara bid’ah adalah haram.” Ada juga seseorang telah menulis surat menanyakan masalah Miladun Nabi ini kepada Hadhrat Masih Mau’uda.s. dan beliau menuliskan jawabannya sebagai berikut: “Menurut pendapat saya jika di dalamnya tidak terdapat suatu perbuatan bid’ah, melakukan jalsah miladun Nabi, pidato atau ceramah menceritakan sirat Hadhrat Rasulullahsaw dan nazam atau qasidah memuji Hadhrat Rasulullahsaw, majlis seperti itu sangat baik dan majelis seperti itu perlu sering diadakan.”

Dari sabda-sabda beliaua.s. tersebut dapat diketahui bagaimana Hadhrat Masih Mau’uda.s. sangat mencintai Hadhrat Rasulullahsaw, beliau menghendaki supaya Majelis-majelis perayaan Siratun Nabi sering diselenggarakan untuk menguraikan kemuliaan atau riwayat hidup beliau yang sangat agung itu. Allah Swt berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ

– Qul in kuntum tuhibbûnalLôha fattabi’ûnî yuhbibkumulLôh -Artinya: Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencintai kalian. (Ali Imran : 32).

Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Pernahkah Hadhrat Rasulullahsaw membaca Al-Qur’an semata-mata demi mendapatkan sepotong roti dari para sahabat? Para Mullah zaman sekarang ini mengadakan majelis-majelis miladun nabi atau acara-acara lainnya lalu melakukan perkara-perkara bid’ah disusul dengan kesibukan membagi-bagi roti atau makanan. Dan karena acara dimulai dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, maka mereka menganggap roti atau makanan itu sebagai tabaruk, banyak mengandung barkat. Padahal Allah Swt berfirman: “Jika kalian cinta kepada Allah Swt, maka ikutilah jejak langkah Hadhrat Rasulullahsaw.” Jika memang mereka ingin mengikuti jejak langkah Hadhrat Rasulullahsaw, apakah mereka bisa membuktikan bahwa beliau pernah membaca Al-Qur’an demi mendapatkan roti atau makanan?? Jika beliau pernah membaca Al-Qur’an semata-mata untuk tujuan mendapatkan sepotong roti atau sesuap makanan, maka kita akan melakukannya beribu-ribu kali lipat ganda banyaknya. Memang Hadhrat Rasulullahsaw pada suatu peristiwa pernah mendengar seorang sahabat membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu dan beliau pun menangis ketika sampai kepada ayat ini:

 

فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍۭ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰؤُلاَءِ شَهِيْدًا

— Fakayfa idzâ ji-nâ min kulli ummatim bisyahîdiw wa ji-nâ bika ‘alâ hâ-ulâ-i syahîdâ —

Artinya: Maka, bagaimana keadaan mereka ketika Kami akan mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini. (An Nisa : 42)

Hadhrat Rasulullahs.a.w. senang sekali mendengar sahabat membaca Al-Qur’an. Namun ketika pembacaan Qur’an itu sampai kepada ayat tersebut, Rasulullahsaw pun menangis. Namun tangisan beliau itu menunjukkan betapa beliau merendahkan diri dan sangat mencintai Allah Swt, beliau merasa bagaimana Dia telah memberi kedudukan tinggi di sisi-Nya. Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: ”Ketika beliau menangis mendengar ayat itu dan bersabda: “Cukup, cukup, saya tidak mampu mendengar ayat ini selanjutnya!” Beliau berpikir bagaimana akan menjadi saksi di alam akhirat nanti.” Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: Kami sendiri menghendaki agar ada seorang hafiz yang bisa membaca Qur’an dengan suara merdu, kami ingin mendengarnya.” Seperti itulah maksud mengikuti langkah Hadhrat Rasulullahsaw itu. Beliaua.s. bersabda lagi: “Apa yang Hadhrat Rasulullahsaw telah tunjukkan teladan di dalam setiap pekerjaan, itulah yang harus kita ikuti. Untuk membuktikan seseorang benar-benar mukmin sejati cukuplah dengan membuktikan dengan nyata apakah Rasulullah telah melakukan hal demikian atau tidak? Jika tidak, apakah beliau telah menyuruh untuk melakukannya? Hadhrat Ibrahima.s. adalah datuk moyang beliau dan beliaua.s. patut dijunjung dan dihormati. Apa sebabnya beliau tidak menyuruh mengadakan peringatan maulid datuk (kakek) moyang beliau, yaitu Nabi Ibrahima.s.? Rasulullahsaw tidak pernah merayakan hari kelahiran Nabi Ibrahima.s.. Pendeknya pada hari maulud (kelahiran) Nabi Muhammadsaw, mengadakan peringatan atau perayaan atau mengadakan jalsah milad atau maulud tidak dilarang, dengan syarat di dalamnya tidak boleh dilakukan suatu perbuatan bid’ah. Di dalam perayaan itu semata-mata diceritakan berbagai aspek dari sirat atau riwayat hidup Hadhrat Rasulullahsaw, tidak hanya setahun sekali menguraikan sirat atau riwayat hidup beliausaw itu bahkan sepanjang tahun kita boleh bahkan harus mengadakan jalsah siratun Nabi. Dan seperti itulah yang dilakukan oleh Jama’at Ahmadiyah. Jema’at Ahmadiyah di seluruh dunia selalu mengadakan Jalsah Siratun Nabi pada setiap kesempatan, tidak terikat oleh waktu yang tertentu. Akan tetapi jika secara khusus mengadakan Jalsah Siratun Nabi pada waktu yang ditetapkan, lalu mengadakan jalsah atau pertemuan untuk menguraikan kisah atau riwayat Hadhrat Rasulullahsaw mengenai akhlaq fadillah beliau dan sebagainya, jika diadakan di seluruh negara atau di seluruh dunia tidak dilarang. Akan tetapi di dalamnya tidak boleh ada perbuatan bid’ah. Berdasarkan pandangan Hadhrat Masih Mau’uda.s. itulah saya sekarang akan menjelaskan beberapa segi dari Sirat Hadhrat Rasulullahsaw. Supaya beberapa bagian dari sirat beliausaw itu bisa kita jadikan bahagian dari kehidupan kita sehari-hari. Barulah sesuai dengan firman-Nya, kita akan dapat memperoleh kecintaan Allah Swt. Dan barulah dosa-dosa kita akan diampuni oleh Allah Swt. Dan do’a-do’a kita juga mencapai tingkat ke-maqbul-an di sisi-Nya. Banyak orang bertanya apakah kita boleh menjadikan Hadhrat Nabi Muhammadsaw sebagai wasilah (perantara) untuk memanjatkan do’a kepada Allah Swt? Mengikuti sunnah-sunnah beliau dan mencintai beliau sepenuhnya merupakan wasilah untuk memanjatkan do’a kepada Allah Swt agar do’a kita memperoleh ke-maqbul-an disisi-Nya. Di dalam do’a setelah mendengar adzan juga kita diajarkan untuk menjadikan beliau wasilah (perantara) bagi kita.

Sebagian dari ayat yang saya bacakan tadi yang dikutip dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. selengkapnya ayat itu berbunyi sebagai berikut:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِىْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

— Qul in kuntum tuhibbûnalLôha fattabi’ûnî yuhbibkumulLôhu wa Yaghfir lakum dzunûbakum, wal-Lôhu Ghofûrur-Rôhîm —

Artinya: Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencitai kalian dan akan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Maka bisa kita lihat sunnah apakah yang beliau lakukan, yang harus kita ikuti? Apa yang beliau lakukan di hadapan para sahabah beliau sehingga riwayatnya telah disampaikan kepada kita? Orang-orang dunia melakukan tuduhan terhadap Hadhrat Rasulullahsaw bahwa beliau, na’udzu billah, telah menguasai sebagian daerah demi menunjukkan keagungan dan kekuasaan beliau dan beliau telah menjadikannya sebagian dari kekuasaan pemerintahan beliau. Kemudian terhadap isteri-isteri suci beliau telah dilontarkan bermacam-macam keburukan. Begitu kotornya tuduhan yang dilontarkan para penentang Islam terhadap beliau-beliau itu sehingga lidah tidak kuasa membacanya. Bahkan di Amerika telah ditulis sebuah buku yang telah ditanggapi oleh seseorang bahwa orang-orang Kristen telah menulis buku yang isinya betul-betul ngawur (sembarangan) dan sangat menusuk perasaan sehingga kita tidak sampai hati membacanya. Semua tuduhan yang dikenakan terhadap Hadhrat Rasulullahsaw itu bukanlah perkara baru. Tuduhan itu selalu dilontarkan terhadap wujud suci beliausaw. Ketika beliau mulai mendakwakan diri sebagai Utusan Allah Swt atas perintah-Nya, di saat itu para kuffar Mekkah menganggap beliau telah mendakwakan diri demi kepentingan duniawi beliau. Dan melalui paman beliau, orang-orang Makkah telah mengirimkan pesan katanya: Janganlah Muhammad mencaci-maki sembahan kami dan janganlah beliau menablighkan sesuatu ajaran agama kepada kami. Sebagai gantinya kami siap memberikan kedudukan kepada beliau sebagai pemimpin kami. Kekuasaan dan kebesaran yang ada pada kami akan siap diserahkan kepada beliau. Kami siap memberikan harta kekayaan. Jika beliau memerlukan seorang wanita paling cantik pun, kami siap menyediakannya. Maka jawaban yang beliau berikan adalah: “Seandainya orang-orang ini meletakkan mata hari di atas telapak tangan kananku dan meletakkan bulan di atas telapak tangan kiriku, maka aku tidak akan berhenti menjalankan tugas aku. Aku diutus oleh Allah Swt supaya aku membeberkan segala macam keburukan mereka dan aku hendak memberikan petunjuk agar mereka melangkah di atas jalan yang lurus. Jika untuk itu semua aku harus mengorbankan nyawaku, maka dengan senang hati akan aku serahkan seluruh jiwa ragaku. Kehidupanku telah diwaqafkan di jalan Tuhan ini. Rasa takut mati tidak bisa menghalangi aku dari jalan ini. Dan tidak ada sesuatu keinginan yang bisa menghalangi aku dari jalan Tuhan ini.”

Orang-orang duniawi selalu menganggap sebagai perkara dunia terhadap tugas suci yang Allah Swt serahkan kepada beliau. Oleh sebab itu orang-orang kuffar Mekkah telah menawarkan perkara-perkara dunia serupa itu. Dan beliau telah menolak segala macam tawaran orang-orang kuffar itu dan telah menjelaskannya bahwa beliau sama sekali tidak mengharapkan kekayaan atau kepangkatan duniawi betapapun tinggi dan mulianya kedudukan itu menurut pandangan mereka. Beliau bersabda: “Aku telah diutus oleh Dzat Yang memiliki Langit dan Bumi ini.” Beliau sebagai Nabi terakhir yang akan mengibarkan bendera di atas seluruh permukaan bumi. Dan pengumuman beliau tentang itu Allah Swt telah menurunkan ayat ini:

قُلْ اِنَّ صَلاَ تِىْ وَنُسُكِىْ وَ مَحْيَاىَ وَمَمَاتِىْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْن

— Qul inna sholâtî wa nusukî wa mahyâya wa mamâtî lilLâhi Robbil-‘âlamîn —

Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya shalatku dan pengurbananku dan kehidupanku dan kematianku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam. (Al-An’âm : 163). Demikianlah kedudukan kecintaan beliau terhadap Allah Swt dari ujung rambut kepala sampai ujung jari kaki beliau. Beliau tidak memerlukan kebesaran dan kepangkatan atau kekayaan dunia. Beliau memerlukan kerajaan Allah Swt Yang Tunggal di atas dunia. Dan untuk itulah beliau menanggung setiap kesusahan dan kesulitan. Beliau mengumumkan kepada dunia: “Jika kalian menghendaki kehidupan yang kekal abadi, maka ikutilah aku dan hasilkanlah kedudukan shalat kalian seperti yang telah aku perlihatkan contohnya bagi kalian. Terbenam di dalam ibadah-lah terletak jaminan sesungguhnya bagi kehidupan manusia. Dan sebelum kematian yang sesungguhnya lewatilah kematian melalui pengurbanan yang contohnya paling baik telah aku tegakkan bagi kalian. Oleh sebab itu apabila kematian yang sesungguhnya telah terjadi maka kehidupan yang kekal abadi akan segera dimulai. Yang akan menjadi sarana bagi manusia untuk meraih keridhaan Allah Swt.”

Maka kedudukan shalat dan pengurbanan yang sangat luhur itu telah diraih oleh Hadhrat Rasulullahsaw sehingga beliau telah menciptakan pandangan baru yang jelas bagi tujuan kehidupan dan kematian manusia. Dan Allah Swt telah mengumumkan melalui beliausaw bahwa, mengapa kalian telah menawarkan segala kenikmatan dunia kepadaku? Dan mengapa kalian telah mengancam aku dengan kezaliman dunia?? Semua pekerjaan dan amalan-amalan-ku hanya untuk Allah Swt. Barangsiapa yang telah menyerahkan segala miliknya kepada Allah Swt, baginya baik kehidupan dunia ini maupun kematian itu tidak ada nilainya. Sebagaimana telah saya katakan bahwa Hadhrat Rasulullahsaw telah mengajarkan kepada kita semua bahwa seperti itulah contoh yang aku lakukan. Kalian juga dengan mengamalkan perintah    فَاتَّبِعُوْنِىْ …– fattabi’ûnî — ikutilah aku, harus melangkah ke arah jalan ini.

Pada zaman sekarang ini juga, di beberapa negara di dunia sedang dilakukan usaha menakut-nakuti dengan berbagai macam ancaman terhadap Jama’at Hadhrat Asyiq Shadiq yakni Jama’at Ahmadiyah ini. Seperti di Pakistan setiap hari ada saja kejadian, demikian juga di Hindustan di daerah mayoritas Muslim, orang-orang Ahmadi khususnya para mubayi’in baru tengah diperlakukan dengan kejam dan dizalimi di luar batas peri kemanusiaan. Sehingga di negara-negara Eropa juga, seperti di Bulgaria telah diterima laporan beberapa hari yang lalu, bahwa sekarang di sana para Ahmadi juga telah diperlakukan dengan zalim. Di sana karena perintah mufti, tujuh [atau] delapan orang Ahmadi baru telah ditangkap polisi dan mereka telah diperlakukan dengan kekerasan di luar peri kemanusiaan. Namun dengan karunia Allah Swt, keimanan semua orang Ahmadi baru itu tetap kuat dan teguh. Maka setiap orang Ahmadi di mana pun berada harus selalu ingat bahwa tidak ada satu jenis kesusahan atau penganiayaan-pun yang tidak dialami oleh Hadhrat Rasulullahsaw dan oleh para sahabah beliau rodhial-Lôhu Ta’âlâ ’anhum. Kita ini satu perpuluhan seratuspun (seperseratuspun) tidak mengalami kesusahan dan kesengsaraan dari yang dialami oleh beliausaw dan para sahabat beliaur.a. Jika kita paham kepada asas ini bahwa segenap ibadah kita dan pengurbanan kita diserahkan kepada Allah Swt dan kita tetap di atas pendirian bahwa kehidupan kita dan kematian kita semata-mata hanya untuk Allah Swt, maka di mana kita secara perorangan akan menjadi pewaris kehidupan kekal abadi di sana setiap orang Ahmadi di dunia ini juga akan mendapat sarana untuk memberi kehidupan kepada ribuan orang yang telah mengalami kematian ruhani. Maka yang paling utama bagi kita adalah menekan diri masing-masing untuk meningkatkan do’a sebanyak-banyaknya kepada Allah Swt dan setiap orang Ahmadi harus menjadi penggerak manusia di dunia untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan teladan yang telah ditegakkan oleh Hadhrat Rasulullahsaw. Jika kehidupan kita sudah berada di atas jalan yang benar dan kita beramal sesuai dengan teladan Hadhrat Rasulullahsaw, barulah kita akan mampu menyediakan sarana kehidupan ruhani kepada dunia sesuai dengan teladan Hadhrat Rasulullahsaw. Kita harus meningkatkan standar ibadah kita sesuai uswah hasanah yang ditinggalkan Hadhrat Rasulullahsaw bagi kita.

Bagaimanakah mutu ibadah Rasulullahsaw, inilah riwayat dari Hadhrat Siti Aisyahr.a. katanya: “Saya pernah bertanya kepada beliau: Siapakah kekasih Tuan yang sebenarnya?” Pada suatu hari saya mendapat giliran Rasulullahsaw tinggal bersama saya. Pada suatu malam ketika saya bangun, Rasulullahsaw tidak ada di tempat tidur. Saya dengan rasa khawatir keluar rumah, tampaklah Rasulullahsaw sedang bersujud beribadah kepada Allah Swt dan beliau sedang berdo’a seperti ini: “Hai Tuhanku!! Ruhku dan hatiku sedang bersujud kepada Engkau!!” Demikianlah pernyataan cinta sejati kepada Allah Swt. Dan itulah jawaban bagi orang-orang yang melontarkan tuduhan kepada Hadhrat Rasulullahsaw. Kemudian bagaimana kecintaan Rasulullahsaw terhadap Allah Swt sekalipun dalam keadaan tidur, beliau bersabda:

  يَنَامُ عَيْنَيْنيْ وَلاَ تَنَامُ قَلْبِيْYanâmu ‘aynaynî wa lâ tanâmu qolbî — Artinya: “Kedua mataku sudah tertidur namun hatiku tetap bangun.” Hati beliau bangun apa artinya? Tiada lain maksudnya berzikir kepada Allah Swt. Setiap badan beliau bergilir mengingatkan beliau kepada Allah Swt. Do’a-do’a beliausaw dalam berbagai kesempatan telah memberi contoh secara amaliah kepada kita. Hal itu membuktikan bahwa setiap gerak-gerik beliau selalu ingat kepada Allah Swt. Maka demikianlah gambaran yang telah diberikan oleh beliausaw kepada kita bahwa setiap amal perbuatan dan gerak-gerik orang mukmin bisa menjadi ibadah, jika semua hal itu dilakukan kerana Allah Swt dan karena mengingat Allah Swt. Dengan niat bahwa amalan-amalan itu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Misalnya pada suatu hari Hadhrat Rasulullahsaw pergi ke rumah seorang abid, sahabat yang sangat patuh beribadah, sahabah itu baru selesai membuat sebuah rumah baru. Beliausaw melihat sebuah jendela atau tingkap di rumahnya. Baliau tahu mengapa dia membuat sebuah jendela. Demi tujuan tarbiyat beliausaw bertanya kepada sahabah itu: “Untuk apa engkau telah membuat jendela ini?” Dijawab oleh sahabat itu: “Untuk udara dan cahaya masuk, ya Rasulullah!” Beliau bersabda: “Bagus sekali. Namun jika engkau membuat jendela atau tingkap ini dengan niat agar bisa mendengar suara azan dengan jelas, maka engkau akan mendapat ganjaran juga dari Allah Swt di samping angin dan cahaya memang akan masuk juga!”

Terdapat di dalam sebuah riwayat lagi Rasulullahsaw bersabda: “Jika seorang suami karena Allah Swt menyuapi isterinya dengan makanan maka ia juga akan mendapat pahala dari Allah Swt.” Maksudnya bukan hanya sekedar menyuapi isteri sesuap nasi atau makanan, namun maksudnya ialah memberikan segala keperluan kepada isteri dan anak-anaknya. Karana kewajiban seorang lelaki adalah menyediakan segala keperluan rumah tangganya. Dan jika dia berbuat demikian itu dengan niat demi meraih keridhaan Allah Swt, suami memenuhi segala keperluan isterinya karena segala-galanya telah berada di bawah tanggung jawabnya, dan anak-anaknya juga menjadi tanggung jawabnya, maka memenuhi kewajiban itu semua menjadi pahala bagi sang suami. Dan hal itu termasuk ibadah juga. Pada zaman sekarang sering terjadi pertengkaran dan kericuhan dalam rumah tangga disebabkan perkara kecil-kecil saja. Maka jika setiap orang Ahmadi berpikiran dan berprilaku seperti di atas, tentu mereka akan terhindar dari keburukan berupa pertengkaran dan kericuhan seperti itu. Isteri akan menjalankan kewajibannya, bahwa ia akan menjaga rumah tangga dan memelihara anak-anaknya serta mengkhidmati suaminya sebagaimana mestinya, jika ia pikir apa yang dilakukannya itu semata-mata demi Allah Swt, tentu hal itu akan menjadi pahala baginya. Jadi, Hadhrat Rasulullahsaw telah member-tahukan kepada kedua belah pihak suami dan isteri, jika kalian beramal seperti itu maka semua perlakuan kalian berdua akan menjadi ibadah dan kalian berdua akan mendapat pahala dari Allah Swt. Itulah perkara-perkara yang harus selalu diingat oleh setiap orang yang telah berkeluarga. Dan perkara kecil-kecil seperti itulah yang bisa menjadi sarana untuk menciptakan kehidupan laksana surga di tengah-tengah keluarga.

Mengenai indahnya kedudukan ibadah Hadhrat Rasulullahsaw, terdapat riwayat dari Hadhrat Aisyahr.a., katanya, pada suatu malam saya melihat Hadhrat Rasulullahsaw sedang sujud di waktu sembahyang Tahajjud dan beliau sedang memanjatkan do’a begini: “Wahai Allah! Jiwa ragaku tengah bersujud kepada Engkau. Hatiku beriman kepada Engkau. Wahai Tuhanku! Kedua tanganku tengah menggapai di hadapan Engkau! Kezaliman apa pun terhadap diriku yang aku perbuat dengan kedua tanganku ini, semua tampak di hadapan Engkau. Wahai Tuhan Yang ‘Azhim! Daripada Engkau diharapkan perkara yang agung! Maafkanlah semua dosa besar-ku!! Setelah selesai shalat tahajjud, Hadhrat Rasulullah bersabda kepada-ku: “Hai Aisyah! Malaikat Jibril telah mengajar aku memanjatkan do’a seperti itu. Dan engkau juga sering-seringlah membaca do’a itu!!”

Tengoklah melalui hamba yang kamil ini, Allah Swt telah mengumumkan bahwa: “Sesungguhnya shalatku dan pengurbananku dan kehidupanku dan kematianku hanyalah  untuk Allah, Tuhan semesta Alam. (Al-An’âm : 163) Tidak ada suatu pekerjaan untuk kepentingan diriku sendiri. Atau kukerjakan menurut kehendak diriku. Atau dikerjakan atas nama diri pribadi-ku. Melainkan setiap amalan-ku dan setiap urusan-ku semata-mata untuk keridhaan Allah Swt. Bagaimana hamba Allah yang kamil ini menyatakan dirinya sebagai hamba-Nya yang sungguh-sungguh kamil. Dengan sangat merendahkan diri dan dengan rasa takut, beliau memanjatkan do’a kepada Khaliq-nya katanya, “Hai Allah! Aku telah aniaya terhadap diriku, maka ampunilah dosa-dosaku! Sebetulnya beliau telah menegakkan contoh dan teladan bagi kita semua. Bahwa manusia tidak boleh merasa sombong atas suatu kebaikan yang telah dilakukannya. Bahkan sambil merendahkan diri dia harus tunduk di hadapan Tuhan dengan rasa syukur atas kebaikan yang telah dia lakukannya itu. Kemudian mohonlah kasih sayang dari pada-Nya.

Ada satu segi lain lagi tentang sirat beliausaw yang kaitannya dengan keadilan dan musawat (persamaan hak). Beliau bersabda: “Pada zaman dahulu ada satu kaum sebelum kalian telah binasa disebabkan apabila ada salah seorang dari pembesar mereka berbuat kesalahan atau pelanggaran ia dibiarkan (tidak dikenai hukuman). Namun apabila ada seorang yang lemah dan miskin terlibat dalam suatu kesalahan atau pelanggaran, maka terhadapnya dikenakan sangsi atau hukuman. Hal seperti ini tidak boleh terjadi di dalam umatku!” Akan tetapi jika kita perhatikan keadaan zaman sekarang akan seringkali tampak terjadi perlakuan tidak adil di tengah-tengah masyarakat, bahkan di tengah-tengah masyarakat Muslim juga sering terjadi. Pada suatu waktu di zaman Rasulullahsaw, ada seorang perempuan terkenal dalam sebuah Kabilah dan dia dari keluarga baik-baik dan kedudukannya di tengah-masyarakat juga baik, namanya juga Fathimah, ia telah mencuri. Hadhrat Rasulullahsaw telah mengenakan hukuman terhadapnya. Seorang sahabat telah berusaha untuk menyelamatkan, supaya ia jangan dikenai hukuman, akhirnya tidak ada seorang pun yang berani menghadap Rasulullahsaw. Maka mereka telah menyuruh Hadhrat Usamah untuk menyampaikan pesan pembelaan mereka kepada Hadhrat Rasulullahsaw. Ketika Rasulullahsaw mengetahui pesan pembelaan itu, maka muka Rasulullahsaw pun berubah karena timbul rasa marah. Dan bersabda: “Apakah kalian berbicara tentang perempuan itu? Dengarlah! Jika anakku Fathimah berbuat dosa (mencuri) seperti itu, pasti aku menghukumnya seperti ini juga.” Itulah contoh keadilan yang beliau tunjukkan.

Pada suatu waktu Abu Dzar Ghiffarir.a. meriwayatkan, katanya: Saya pergi kepada Rasulullahsaw memberi dukungan atau rekomendasi bagi dua orang lelaki, dengan harapan kedua orang ini akan diberi tugas untuk memungut dan mengelola harta zakat. Maka Hadhrat Rasulullahsaw bersabda: “Hai Abu Dzar! Seseorang yang meminta sesuatu kedudukan di dalam pengkhidmatan agama, kami tidak akan memberinya kedudukan itu. Jika Tuhan sendiri memberi kedudukan itu kepadanya, maka Dia akan memberi taufiq dan menolongnya juga untuk menjalankan tugasnya, jika seseorang ditunjuk untuk melakukan pengkhidmatan tanpa diminta, maka Allah Swt memberi taufiq dan menolongnya untuk menjalankan tugasnya bahkan Allah Swt memberkati pekerjaannya itu. Apabila orang itu sendiri meminta kedudukan atau meminta pekerjaan itu, maka di dalam pekerjaannya akan timbul keburukan. Kepada orang seperti itu Tuhan akan berfirman: Biarlah ia sendiri telah meminta tugas itu dan menganggap dirinya pandai untuk pekerjaan itu, maka semua tanggung jawabnya akan dia pikul sendiri.”

Jadi, ingatlah menginginkan kedudukan termasuk kehendak atau ambisi pribadi yang tidak disukai oleh Allah Swt, yaitu manusia telah menyatakan banyak keinginan pribadinya. Pada zaman sekarang di dalam Jama’at juga di mana pendidikan dan tarbiyat sangat kurang diberikan terhadap anggota, mereka menginginkan kedudukan di dalam Jema’at. Dan kadangkala disebabkan mereka tuna ilmu pengetahuan, apabila terjadi pemilihan anggota pengurus mereka memberi dan mengambil suara juga. Namun sekarang Jama’at sudah banyak mendapat kemajuan dan banyak yang sudah mengetahui peraturan di dalam Jama’at kecuali yang baru-baru masuk ke dalam Jama’at. Sebab dikeluarkannya peraturan Jama’at yang ketat di dalam pemilihan agar hasilnya sesuai dengan sabda Rasulullahsaw: “Kalian jangan menginginkan kedudukan (di dalam Islam).” Memberi suara bagi diri sendiri maksudnya ia mengaku pakar di dalam kedudukan (jawatan) itu dan tidak ada orang lain yang lebih pakar dari pada dirinya. Oleh sebab itu pilihlah saya untuk kedudukan itu. Demikianlah apabila pemilihan tengah berlangsung, banyak orang yang berbuat seperti itu. Jika seseorang tidak memberikan suaranya disebabkan terpaksa oleh peraturan Jama’at, maka dia tidak akan menggunakan suaranya. Seseorang yang tidak menggunakan suaranya juga dapat dipahami bahwa ia menganggap dirinya pakar, sekalipun ia tidak bisa memilih disebabkan peraturan Jama’at telah membatasinya. Akan tetapi ada juga orang yang menganggap tidak ada orang lain yang mempunyai kepakaran seperti yang dia miliki, namun ia sendiri tidak menggunakan suaranya atau ia tidak ikut memilih. Orang-orang Ahmadi harus menghindarkan diri dari perbuatan demikian, sebab itu tarbiyat sangat perlu untuk Jama’at. Jika seseorang mempunyai kebolehan (kemampuan) tentang sesuatu maka kebolehannya itu bisa dikemukakan kepada para anggota pengurus. Tanpa menyandang kedudukan apa pun di dalam Amilah, ia bisa juga berkhidmat kepada Jama’at. Jika memang ia bermaksud untuk meraih keridhaan Allah Swt, maka kedudukan sebagai anggota pengurus bukan perkara yang sangat penting untuk itu.

Jadi, setiap orang Ahmadi baik yang sudah lama berada di dalam Jama’at maupun para anggota Jama’at yang baru masuk dan juga anak-anak muda kita harus memperhatikan masalah tersebut. Saya lihat kadang-kadang ada anggota-anggota Jama’at lama juga kerana menganggap diri mereka sudah banyak berpengalaman menghendaki kedudukan di dalam Jama’at. Perkara tersebut di atas harus menjadi perhatian sepenuhnya bagi mereka itu. Urusan keanggotaan pengurus harus di luar keinginan diri pribadi, dengan sungguh-sungguh jangan mempunyai keinginan untuk mendapat kedudukan. Para pemimpin harus selalu ingat kepada sabda Hadhrat Rasulullahsaw yaitu: “Pemimpin adalah khadim (pelayan) bangsa.” Pada suatu waktu Hadhrat Rasulullahsaw bersabda kepada Hadhrat Abu Bakarr.a.: “Pangkat atau kedudukan adalah sebuah amanat dan manusia sungguh lemah. Jika tidak menunaikan hak amanat tentu akan ditanya pertanggungan jawabnya. Maka amanat ini (khidmat ini) harus dilaksanakan dengan kemampuan (kepakaran) sepenuhnya sambil merendahkan diri.”  Jadi pertama yang harus diingat yaitu, pemimpin adalah khadim bangsa. Jalankanlah tugas pengkhimatan itu sambil banyak-banyak memohon do’a kepada Allah Swt, supaya Dia memberikan bimbingan setiap saat dan setiap menjalankan tugas pengkhidmatan itu. Maka barulah petugas itu akan mampu menjalankan kewajiban pengkhidmatannya dengan sebaik-baiknya. Kadangkala beberapa orang datang kepada saya dan memberitahukan kedudukan mereka sebagai anggota pengurus. Maka saya katakan kepada mereka bahwa ini bukan kedudukan melainkan pengkhidmatan. Jika seseorang memahami arti pengkhidmatan itu betul-betul, barulah ia akan mampu menjalankan pengkhidmatan itu dengan sebaik-baiknya.

Beberapa contoh yang telah saya uraikan di atas tentang pengkhidmatan, keadilan dan tentang persamaan di  dalam beberapa hukum atau peraturan, dan tentang kesederhanaan dapat kita saksikan di dalam setiap segi kehidupan Hadhrat Rasulullahsaw. Apabila beliau sedang dalam perjalanan bersama para sahabat sedangkan binatang tunggangan sangat kurang, dan jumlah penumpang dibagi-bagi kepada para pemilik binatang tunggangan untuk diangkut, maka beliau berikan kendaraan tunggangan beliau itu kepada sahabat yang berkhidmat bersama beliau atau kepada peserta yang sangat lemah dan muda dari segi umur dan beliau sendiri berjalan kaki di sampingnya. Demikianlah contoh keadilan dan musawat yang telah beliau tegakkan. Kemudian tengoklah apa yang telah difirmankan Tuhan sebagai berikut:

وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاَنُ قَوْمٍ عَلى اَلاَّ تَعْدِلُوْا اِعْدِلُوْا هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

–Wa lâ tajrimannakum syana-ânu qowmin ‘alâ allâ ta’dilû, i’tadilû, huwa aqrobu lit-taqwa–

Artinya: Dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kalian bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada Taqwa. (Al-Maidah : 9). Demikianlah firman Allah Swt. Dalam hal ini Hadhrat Rasulullahsaw telah menunjukkan contoh yang sangat agung, ketika diperoleh kemenangan atas kubu orang-orang Yahudi yang sangat masyhur di Khaibar. Kawasan tanah mereka yang jatuh ke tangan Islam dibagikan kepada para mujahidin yang ikut serta di dalam peperangan itu. Tanah yang dibagikan itu adalah kawasan yang sangat subur sekali, terdiri dari kebun-kebun kurma yang sangat bagus. Ketika sudah sampai musim panen kurma dan sampai kepada pembagian hasil buah-buahannya sesuai dengan peraturan pembagiannya, Hadhrat Abdullah Bin Suhail telah telah pergi bersama anak paman beliau bernama Maisah untuk membagikannya. Sampai di sana mereka berpisah untuk beberapa waktu lamanya. Ketika Hadhrat Abdullah Bin Suhail pergi dari sana ke suatu tempat dan menyendiri beliau telah dibunuh oleh seseorang tak dikanal. Mayat beliau dibuang ke dalam sebuah lubang. Kejadian itu sungguh jelas kemungkinan pembunuh beliau itu orang Yahudi. Hadhrat Abdullah Bin Suhail orang sangat baik dan terkenal di kalangan para sahabah, tidak mungkin orang Islam yang telah membunuh beliau. Besar sekali kemungkinan orang Yahudilah yang telah membunuh beliau itu. Bagaimanapun masalah itu sampai kepada Nabi Muhammadsaw. Tuduhan pembunuhan ditujukan terhadap orang-orang Yahudi dan memang betul demikian. Hadhrat Rasulullahsaw telah bertanya kepada Muhisah, saudara sepupu Abdullah Bin Suhail: Apakah engkau berani bersumpah bahwa orang-orang Yahudi yang telah membunuh? Beliau jawab: “Saya tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri. Karena saya tidak melihat dengan mata kepala saya sendiri, saya tidak berani bersumpah.” Maka Hadhrat Rasulullahsaw bersabda: “Sekarang akan diambil sumpah dari orang-orang Yahudi, apakah mereka yang telah membunuh Abdullah Bin Suhail itu? Orang-orang Yahudi menyatakan diri bersih, tidak membunuhnya. Maka Muhisah berkata kepada Hadhrat Rasulullahsaw: “Apa buktinya kita percaya kepada perkataan orang-orang Yahudi ini, mereka berani mengucapkan sumpah palsu walaupun seratus kali?” Akan tetapi oleh karena keadilan yang dituntut, maka jika orang-orang Yahudi telah bersumpah, biarkan mereka bersumpah.” Segala biaya kematian Abdullah Bin Suhail akhirnya dipenuhi dari Baitul Mal. Demikianlah keadilan yang beliau tegakkan. Baliau tidak meninggalkan keadilan di dalam sisi kehidupan bagaimanapun. Jika ditinjau dari sisi apa pun, maka akan tampak contoh yang sangat baik (uswah hasanah) Hadhrat Rasulullahsaw.

Keadilan yang telah saya beri contoh di dalam kehidupan Hadhrat Rasulullahsaw begitu tinggi jauh berbeda dengan keadilan masa sekarang yang kita saksikan setiap hari yang dilakukan oleh mereka yang berpakaian jubah sangat seram, mereka mengadakan majelis-majelis besar miladun Nabi. Di dalam majelis Miladun Nabi itu selain dari pada menghina dan mencaci-maki orang-orang Ahmadi dengan nada keras dan kotor, tidak ada acara lain lagi di dalam perayaan miladun nabi mereka itu. Mereka mengagungkan khataman nubuwwat dengan kata-kata yang muluk-muluk keluar dari mulut mereka, dan dengan mulut mereka itu juga mereka menghina Hadhrat Masih Mau’uda.s. dengan kata-kata tidak wajar dan biadab. Kemudian bandingkanlah bagaimana caranya sahabahr.a. itu yang telah memberi tarbiyyat. Sekalipun mereka menjadi saksi dan menyaksikan keadaan pada waktu itu akan tetapi oleh karena tidak melihat dengan mata kepala sendiri beliau tidak berani bersumpah. Akan tetapi pada zaman sekarang orang-ini, orang-orang yang mengenakan jubah besar-besar dan seram itu, mendakwakan diri pembela Islam sambil menyatakan sumpah mengajukan orang-orang Ahmadiyah ke meja pengadilan. Mereka pergi ke kantor polisi memberi kesaksian palsu di hadapan mereka, pernyataan yang sangat keji dilakukan oleh mereka, sambil mengeluarkan kata-kata busuk dari mulut mereka. Hati mereka kosong dari rasa takut terhadap Tuhan. Jika orang-orang ini menapak di atas jalan uswah hasanah Hadhrat Rasulullahsaw, pasti mereka akan merasa takut terhadap Tuhan. Muhisah yang mengatakan tentang sumpah orang-orang Yahudi katanya, “Apa buktinya kita percaya kepada orang-orang Yahudi, mereka akan bersumpah seratus kali”, sekarang tengoklah perkataan itu betul-betul tepat jika dinisbahkan kepada orang-orang berjubah seram ini.

Semoga Alah Swt mengasihani orang-orang muslim yang bersih hati, yang juga telah menjadi mainan orang-orang yang menamakan diri para Ulama berjubah itu. Dan mereka telah bersepadu dengan orang-orang yang menamakan diri Ulama itu karena permainan lidah mereka yang telah memukau pikiran mereka. Allah Swt telah melarang bahwa orang-orang muslim tidak boleh menumpahkan darah sesama muslim lainnya. Sedangkan pada zaman sekarang, orang-orang ini menumpahkan darah orang-orang muslim lain dengan cara yang sangat kejam seperti menyembelih seekor binatang yang tidak berharga. Hadhrat Rasulullah telah memberi nasihat terakhir pada kesempatan Hajjatul Wada (Hajji terakhir), beliau bersabda: “Bagi kalian untuk menjaga kehormatan darah sesama muslim dan menjaga harta benda mereka wajib seperti wajibnya kalian menjaga kehormatan hari dan bulan yang mulia ini.” Sabda beliau itu telah meletakkan tanggung jawab seseorang terhadap yang lain. Atau menjaga darah dan harta sesama orang muslim. Sekarang apa yang tengah terjadi, di Pakistan hampir setiap hari terjadi, seorang yang menamakan diri muslim merampok harta orang Islam lainnya, harta orang-orang Ahmadi dirampok atas nama Islam. Padahal Hadhrat Rasulullahsaw telah bersabda bahwa setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimah syahadah adalah orang muslim.

Semoga Allah Swt mengasihani orang-orang muslim ini dan semoga Dia memberi taufiq kepada mereka untuk menjadi orang-orang yang benar berjalan di atas uswah hasanah Hadhrat Rahmatul lil Alamin, Rasulullahsaw supaya mereka menjadi pewaris kasih sayang Allah Swt. Semoga Allah Swt memberi taufiq kepada kita semua untuk menjalani kehidupan sesuai dengan uswah hasanah Hadhrat Rasulullahsaw. Amin!!!

Alihbahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

(Visited 104 times, 1 visits today)