Intisari Khutbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz 

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

Tanggal 1  Oktober 2010

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Setelah diturunkannya Hadhrat Masih Mau’ud (as), maka dimulailah zaman baru penyebaran Islam, oleh karenanya sukses dan kemajuan dari Jamaat Ahmadiyyah sudah menjadi takdir. Banyak rintangan yang sudah muncul dan masih akan banyak lagi rintangan yang akan muncul disela-sela kemajuannya ini, sebagaimana yang dilakukan oleh para penghalang itu di setiap jalan Tuhan lainnya. Ketika api itu dinyalakan di jalan Jamaat Ahmadiyyah oleh musuh-musuh, Allah Maha Kuasa datang menolong dan memadamkan api tersebut, dan sebagai hasil dari melewati keadaan yang sulit ini, maka seorang Mu’min akan bertambah meningkat keimanannya.

Kitab Suci Alqur-aan sendiri memberikan kesaksian pada kenyataan bahwa kepada orang-orang Mu’min itu akan diberikan cobaan dan ujian, sebagaimana Allah Taala berfirman: “A hasiban naasu ay yutrakuu ay yaquuluu aamannaa wa hum laa yuflanuun? Wa laqad fatannal ladziina min qablihim fa la ya’lamannallaahul ladziina shadaquu wa la ya’lamannal kaadzibiin” – “Apakah manusia menyangka, bahwa mereka akan dibiarkan berkata, ‘Kami telah beriman’ dan mereka tidak akan diuji?  Dan sesungguhnya telah Kami uji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah pasti mengetahui akan mengetahui orang-orang yang berkata benar dan Dia pasti akan memisahkannya dari orang-orang yang dusta.” [Al ‘Ankabuut, 29:3-4] Sudah menjadi sunnah-Nya bahwa orang-orang beriman itu akan diuji dan hal yang sama sedang berlaku sekarang ini.

Ada Hukum Ilahi yang membedakan siapa yang benar dalam keimanannya dan siapa yang tidak. Ada berbagai macam ujian atau cobaan yang dihadapi, tetapi ujian ini semuanya harus menuaikan hasil memperkuat keimanan dari orang-orang Mukmin, tetapi bagi mereka yang sudah lemah di dalam keimanannya dan selalu mencari-cari kesempatan untuk melemparkan kritikan, mereka ini akan terus bertambah-tambah dalam keraguannya dan akhirnya keimanannya pun hilang, sampai-sampai mereka ini mulai mempertanyakan tentang kebenaran Jamaat di dalam beberapa perkara tertentu. Penganiayaan adalah satu bentuk dari cobaan yang bisa membawa kearah kelemahan iman bagi orang-orang yang memang sudah rapuh. Allah SWT. memberikan cobaan kepada orang-orang Mukmin agar lebih mendekat kepada Tuhan, dan jadi yang membuka jalan kemajuan bagi Jamaat. Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa jalan kemajuan itu terbuka bagi mereka yang sudah lulus dalam ujiannya. Beliau juga mengatakan bahwa Yang Mulia Rasulullah (saw) pada akhirnya memperoleh sukses kemenangan karena beliau telah dihadapkan pada ujian dan kesulitan di masa awal misi beliau saw. Semua Nabi-nabi dan para pengikutnya dihadapkan pada penganiayaan dan penindasan, tetapi kuncinya adalah tetap bersabar di dalam menghadapi kesengsaraan itu. Hanya dengan itulah maka kemenangan pun dijamin akan diperoleh. Tuhan aalah maha Kuasa dan memiliki segala macam sifat-sifat-Nya untuk menyempurnakan mereka. Kita haruslah selalu ingat bahwa Allah SWT. mengutus Hadhrat Masih Mau’ud (as) di zaman ini di mana Jamaat-nya ditakdirkan untuk berjaya. Penganiayaan dan penindasan bukanlah tandanya dari kegagalan, tetapi itulah tanda kesuksesan dan kemenangan.

Jika kita terus bertahan teguh di dalam membuat ikatan pribadi yang erat dengan Jamaat dan juga anak-anak kita, maka kita akan dapat meraih rahmat dari Allah SWT., yang telah menakdirkan keberkahan-keberkahan ini bagi Jamaat, dan InshaAllah, generasi kita yang mendatang ini akan dapat menyaksikan kemenangan ini. Huzur (aba) memberikan petunjuk bahwa walaupun semua dan setiap orang sudah ingat dan selalu mempertahankan tingkat ketakwaannya serta bagaimana untuk memperbaikinya, beliau mengatakan bahwa mereka di antara kita yang sudah berumur haruslah memperhatikan dan menjaga pendidikan keagamaan dan ahlak dari anak-anak yang muda-mudanya. Ini pun menjadi bagian dari taqwa dan juga bagian dari pemenuhan janji-janji bai’at kita. Juga haruslah diingat bahwa kemajuan dari Jamaat itu tidak berkaitan apakah kita menjaga agar anak-anak kita itu dekat dengan Jamaat atau tidak, tetapi sesungguhnya adalah untuk faedah manfaat dari anak-anak juga untuk tetap berhubungan dengan Jamaat. Ada janji Allah SWT. bahwa Dia akan menganugerahkan kemenangan kepada Jamaat, sehingga kesuksesan itu adalah jika kita semua tetap berhubungan erat dengan Jemaat ini. Walaupun jika kita lemah di dalam pembinaan ahlak moral dari anak-anak kita, sehingga mereka menjadi jauh dari Jamaat, kemajuan Jamaat itu tidak akan goyah. Jika orang-orang yang lemah ini pergi menjauh dari Jemaat, maka Allah SWT. akan mendatangkan orang-orang baru ke dalam Jamaat yang lebih bersemangat dan lebih berdedikasi lagi. Oleh karenanya, kami itu harus selalu ingat hal ini di dalam pikiran kita, dan tetap menjaga dan memperhatikan pendidikan moral dari anak-anak kita.

Di dalam perkara ini, maka sangatlah penting untuk memberikan contoh dalam praktek keseharian kita. Huzoor (aba) memberikan wejangannya kepada Ansharullah, dengan mengatakan bahwa orang-orang yang sudah mencapai umur 40 atau lebih haruslah menjadi dewasa atau dalam kondisi “a very mature age”, di mana mereka ini harus mulai bersiap-siap untuk menghadapi akhir hayatnya. Pada kenyataannya, siapa pun yang menginginkan untuk terus meningkatkan ke-Taqwa-nya haruslah tetap ingat akan hari akhirnya. Orang-orang Ahmadi secara umumnya berjanji untuk selalu meningkatkan dalam ke-Taqwaannya, oleh karena itu, terutamanya di zaman ini, orang haruslah selalu memperhatikan hal ini. Intisari dari syarat-syarat bai’at itu adalah untuk beriman dengan teguh pada Tuhan Yang Maha Esa, menjauhkan diri dari dusta, mengendalikan hawa nafsunya, tetap teguh dalam menegakkan Shalat lima waktu dan Tahajjud, terus sibuk melakukan istighfar dan berdzikir mengagungkan Allah, berbakti dan taat kepada Tuhan, tetap merendahkan diri, mengikuti semua perintah Alqur-aan, menjauhkan diri dari keangkuhan dan kesombongan, memberikan pengkhidmatan kepada kemanusiaan, patuh dan taat sepenuhnya kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), dst. Semua amalan-amalan ini akan dapat meninggikan tingkat ke-Taqwa-an orang, dan inilah standar minimum yang diharapkan dari orang-orang Ahmadi oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as). Dewasa ini dan di zaman ini, inilah tujuan dari diturunkannya Hadhrat Masih Mau’ud (as) yaitu untuk meningkatkan ke-Taqwa-an dari orang-orang. Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa Tuhan telah mengutus beliau untuk menegakkan Taqwa dari orang-orang dan untuk menegakkan keimanan kepada Tuhan sedemikian rupa sehingga mereka akan menghindarkan diri dari perbuatan dosa. Taqwa yang sedemikian itu mencerminkan keadaan hati seseorang dan yang akan menghasilkan kedekatannya kepada Allah, tetapi tidak untuk karena takut pada hukuman. Tingkatan keimanan dari orang Mukmin itu dijelaskan dalam ayat Alqur-aan: “Wa minan naasi may yattakhidzu min duunillaahi andaaday yuhibbuuahum ka hubbillaahi wal ladziina aamanuu asyaddu hubbal lillaahi wa lau yaral ladziina idz yaraunal ‘adzaaba annal quwwata lillaahi jamii’aw wa annallaaha syadiidul ‘adzaab” – “Dan di antara manusia ada yang mengambil sekutu-sekutu selain dari Allah, mencitainya seperti mencintai Allah. Tetapi orang-orang yang beriman itu lebih kuat kecintaannya kepada Allah. Dan sekiranya orang-orang yang aniaya dapat melihat ketika mereka akan menyaksikan azab, mereka akan mengetahui bahwa segala kekuatan itu kepunyaan Allah dan sesungguhnya azab Allah sangat keras” (2:166).

Bilamana seseorang itu menciptakan kecintaannya kepada Tuhan, ia maju dalam keimanannya dan ini akan menghasilkan kemajuan dalam taqwa-nya. Ini adalah tanggung-jawab dari Ansarullah dan Lajnah Imaillah untuk terus maju dalam ketaqwaaanya agar mereka dapat menjadi contoh bagi generasi mendatang, yang berkaitan langsung dengan kemajuan spiritual mereka. Pria dan wanita, kepada mereka sudah ditetapkan tugas-tugas mereka, sehingga pentinglah bagi mereka untuk memenuhi syarat-syarat dalam janji bai’at-nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Huzur (aba) kemudian memberikan penerangan atas semboyan “Nahnu Ansarullah” yakni: Kamilah penolong-penolong Allah, dan beliau memberikan penjelasan atas dua ayat-ayat Kitab Suci Alqur-aan di mana semboyan itu muncul. Yang pertama pada ayat berikut ini: “Fa lamma ahassa ‘iisaa minhumul kufra qalaa man anshaarii ilallaahi qaalal hawaariyyuuna nahnu anshaarullaahi aamaannaa billaahi wasy had bi anna muslimuun” – “Maka ketika Isa menyadari adanya kekufuran pada mereka, berkatalah ia,  ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku di jalan Allah?’ Berkata para hawari, ‘Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah. Dan, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang taat’.” (3:53) Ketika para murid pengikutnya menerima amanat tersebut, mereka juga membaca sebuah doa yang tersimpan di dalam ayat Alqur-aan ini: “Rabbanaa aamannaa bi maa anzalta wat  taba’narr rasuula fak tubnaa ma’asy syaahidiin” – “Ya Tuhan kami, kami beriman kepada yang apa telah Engkau turunkan dan kami mengikuti Rasul ini, maka catatlah kami bersama-sama orang-orang yang menjadi saksi.” (3:54) Huzur (aba) mengatakan bahwa taat kepada seorang Rasul berarti orang itu harus memenuhi janjinya yang diucapkan kepada Nabi itu, untuk mengamalkan ajarannya dan untuk memiliki keteguhan dalam keyakinannya akan kebenaran ajarannya.

Ayat kedua di mana semboyan ini muncul ada di dalam ayat Alqur-aan berikut: “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu kuunuu anshaarrallaahi ka maa qaala ‘iisabnu maryama lil hawaariyyiina man anshaarii ilallaahi qaalal hawaariiyyuunaa nahnu anshaarullaahi fa aamanat thaa-ifatum mim banii israa-iila wa kafarat thaa-ifatun fa ayyadnal ladziina aamanuu ‘alaa ‘aduw wihim fa ashbahuu zhahiriin” – “Hai orang-orang yangberiman! Jadilah kamu penolong Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam berkata kepada pengikut-pengikutnya, ‘Siapakah penolong-penolongku di jalan Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, ‘Kamilah penolong-penolong Allah’. Maka berimanlah segolongan dari Bani Israil, dan ingkarlah yang segolongan lagi, kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, maka mereka menjadi orang-orang yang menang”. (Ash-Shaf, 61:15) Huzoor (aba) mengatakan bahwa jelas dari ayat ini, kemenangan itu selalu akan dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman. Jadi ini sudah menjadi taqdir. Kepada orang-orang Muslim diberikan contoh dari murid para pengikut Nabi Isa, Jesus Kristus (as) dan diajak untuk menjadi para penolong Allah. Dengan secara itu pula, Al-Masih-nya dari  Ummat Yang Mulia Rasulullah saw. memberikan ajakan atau perintah kepada para pengikutnya,  bahwa mereka itu harus menjadi penolong Allah dan jangan menjadi orang-orang yang menolak pesan amanah. Huzur (aba) mengatakan bahwa sesungguhnya adalah karunia keberkahan Allah bahwa kita sudah termasuk di antara orang-orang yang sudah menerima pesan amanah, oleh karena itu, adalah diwajibkan kepada kita untuk mematuhi dan taat kepada wujud pengabdi sejati dan pengabdi setia Yang Mulia Rasulullah saw. agar kita dapat menyebarkan agamanya, agama Islam di dunia. Jika kita maju dan meningkat di dalam keimanan kita, maka sebagai hasilnya, anak-anak kita maju juga dalam keimanannya, dan selanjutnya kita akan dapat berharap bahwa kita akan terus mendapatkan Anshar yang baik, yang bagus. Kita harus terus ingat dan menjaga janji-janji bai’at kita, sehingga kita dapat menjadi Anshar yang terbaik. Para pengikut Nabi Isa a.s. terus menurun keimanannya selama bebeapa generasi dan kepercayaan mereka akan Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa menurun sampai pada tingkatan semuanya hilang lenyap di mana Nabi  Tuhan yang sederhana dan rendah hati ini diubah menjadi Tuhan Sendiri. Betapa pun, Hadhrat Masih Mau’ud (as) datang untuk menegakkan kembali Tauhid, Ke-Esaan Tuhan dan beliau mengatakan bahwa orang itu harus mengadakan perobahan revolusi dalam spiritual dirinya agar  menghidupkan kembali tujuan hakiki dari mahluk ciptaan-Nya, yaitu untuk beribadah menyembah Tuhan. Tuhan menurunkan wahyu Amanah-Nya kepada Yang Mulia Rasulullah saw., Amanah mana yang kemudian dihidupkan kembali oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) di zaman yang akhir ini, dan sekarang, kita harus membawakan Amanah ini ke seluruh penjuru dunia dan menanamkan kepada anak-anak kita semangat yang sama, sedemikian rupa sehingga penolong-penolong Allah itu jumlahnya semakin meningkat sampai Islam menjadi unggul dengan kemuliaan yang tinggi.

Huzur (aba) meminta perhatian pada syarat nomor satu dari bai’at yang mengatakan bahwa kita harus menjauhi Syirik (menyekutukan Tuhan dengan sesuatu). AL-Masih yang pertama dulu (as) tidak dapat menegakkan Ke-Esa-an Tuhan dan hanya dengan beberapa generasi saja yang berlalu setelahnya beliau a.s., dibawa pada melakukan Syirik (yaitu mereka mulai menjadi jauh dari konsep ke-Tuhan-an Yang Maha Esa). Ini dikarenakan mereka itu tidak dapat meng-implementasikan ajaran dari Nabi Isa Al-Masih di dalam kehidupan mereka; keimanan mereka menjadi lemah, hubungan mereka dengan Tuhan menurun, dan mata mereka berpaling pada peraihan duniawi. Para pengikut Al-Masih di zaman akhir ini, bagaimana pun juga janganlah sampai hubungan pribadi mereka dengan Tuhan itu menjadi lemah, atau membiarkan hubungan anak-anak mereka dengan Tuhan itu menjadi lemah, karena kalau begitu, nanti persis seperti halnya para pengikut Al-Masih yang pertama, generasi selanjutnya dari mereka itu juga hilang dengan membuat sekutu dengan Allah. Orang-orang Muslim yang non-Ahmadi sudah terperangkap dalam kegiatan yang buruk ini dengan mengunjungi dan menyembah  pada makam-makam dan kuburan wali-wali dan orang suci. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menghidupkan kembali ajaran-ajaran Islam yang asli dan memerintahkan kepada orang-orang Muslim untuk memenuhi kewajiban mereka terhadap sesama manusia dan untuk membuat kemajuan dalam ketakwaan dan menjalani kehidupan dengan ahlak moral yang suci.

Huzur (aba) kemudian meminta perhatian akan penegakan Shalat lima waktu sehari, yang ini pun merupakan salah satu dari persyaratan bai’at. Beliau mengatakan bahwa Tuhan telah mengajarkan kepada kita doa: ”Iyyaaka na’budu” –  “Hanya Engkau-lah kami sembah”. (1:5) yang menunjukkan pentingnya ibadah, tetapi pada waktu sama, Tuhan juga telah mengajarkan bagian lainnya dari do’a: “wa iyyaka nasta’iin” – “dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan” (1:5)  Ini dilakukan agar supaya orang membungkuk dan bersujud di hadapan Tuhan dan dengan merendahkan diri memohonkan pertolongan Tuhan di dalam melakukan kewajiban penting untuk menyembah kepada-Nya ini. Alqur-aan juga menasihatkan kepada orang-orang Muslim untuk menjaga Shalat mereka di dalam ayat berikut ini:  “Haafizhuu ‘alash shalawaati wash shalaatil wushaa wa quunuu lillaahi qaanitiin” – “Peliharalah semua Shalat dan khususnya Shalat tengah-tengah, dan berdirilah di hadapan Allah dengn patuh” (2:239)  Oleh karena itu, adalah tugas dari seorang yang beriman untuk memberikan perhatian yang khusus terhadap perintah ini, agar supaya kemajuan pribadi dalam keimanan mereka itu terus berjalan dan bahwa demikian juga dengan anak-anak mereka. Untu membuat anak-anak itu dawwam dalam melakukan shalat-shalat mereka, kebiasaan ini harus ditanamkan semenjak anak-anak itu masih kecil, bukannya nanti setelah mereka itu menjadi remaja, karena kalau begitu akan terlambat. Huzur (aba) juga menambahkan bahwa dalam beberapa kasus, orang lelaki di rumah itu dalam dalam shalat-shalatnya, tetapi sikapnya terhadap istri dan anak-anaknya begitu aggressive-nya, sehingga anggota-anggota keluarganya luput dari shalat-shalat. Shalat itu haruslah sedemikian sehingga akan meningkatkan orang dalam kebaikan dan kebajika. Huzur (aba) juga mengatakan bahwa kadang kala ada orang yang sudah setua 40 tahun atau lebih, yang tidak mengerjakan Shalat. Dalam hal demikian, bagaimana mereka dapat berharap bahwa anak-anak mereka akan dawwam di dalam mengerjakan Shalat, atau bahkan untuk tetap berada di lingkungan Jemaat. Jika mengamati kehidupan dari para Syuhada, aspek yang paling menonjol di dalam kehidupan mereka adalah bahwa mereka itu sangat sibuk menggunakan waktunya dalam ibadah dan berdzikir mengingat Tuhan, dan mereka itu sangat menjaga standard ibadahnya anak-anak mereka dan jalinan hubungan meeka dengan Jamaat.

Huzur (aba) kemudian menyebutkan tentang pentingnya melakukan Shalat nawafil daan Shalat-shalat Tahajjud. Ansharullah harus melakukan Shalat Tahajjud dalam jumlah yang lebih besar. Huzur (aba) mengatakan bahwa kita mengadakan usaha untuk memberikan pengorbanan-pengorbanan sedemikian di jalan Tuhan dan membuat segala usaha dan upaya untuk menyebarkan agama Islam. Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah mengatakan bahwa bersujud memohon dan berdoa adalah sarana untuk mentablighkan Islam, oleh karena itu, perhatian khusus harus diarahkan untuk bersujud dan berdoa dengan semangat kekhusuan yang lebih besar, dan perhatian juga harus diarahkan dalam membuat sujud doa dengan mantap dan terus menerus daripada dengan secara sporadic atau usaha yang sekali-sekali saja.

Huzur (aba) mengatakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga telah meminta perhatian kepada para pengikutnya untukmempelajai Alqur-aan, oleh karenanya, kita itu harus menjalin keterkaitan dengan Kitab Suci ini, dan bukan saja dengan membaca pada setiap hari tetapi juga harus berusaha mempelajari artinya dan memahaminya. Jika kita sudah mengadakan usaha untuk mengadakan perbaikan dalam mempelajari ilmu Alqur-aan ini, maka anak-anak kita juga akan bisa bangkit dengan semangat yang sama.

Huzur (aba) mengatakan bahwa syarat-syarat bai’at itu merupakan standar minimum yang ditetapkan bagi semua pengikut Jamaat dalam pandangan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Ansharullah harus berusaha untuk meraih standard yang lebih tinggi lagi. Lajnah Imaillah harus memiliki tanggung-jawab yang sama, jika tidak lebih tinggi; pendidikan ahlak dari anak-anak terletak di tangan mereka semenjak sejak anak ini dilahirkan. Jika ibunya mendapatkan pendidikan keagamaan, mereka berkesempatan untuk untuk membesarkan anak-anak mereka dengan kecendu\erungan spiritual. Setiap wanita harus bercita-cita tinggi untuk meriah standard yang tinggi dalam spiritualitas dan mulai sekarang, generasi yang berikut ini diharap akan menegakkan pertalian hubungan yang lebih mendalam dengan Tuhan. Huzur (aba) mengatakan bahwa Firman Tuhan itu tidak membeda-bedakan antara laki-laki dengan wanita; barang siapa yang mengikuti ajaran-Nya akan meraih kedekatan kepada Tuhan. Huzur (aba) juga meng-instruksikan bahwa kita itu jangan hanya berdoa untuk diri sendiri saja, tetapi kita pun harus berdoa dan mendoakan untuk yang lainnya juga dan berdoa bagi generasii yang akan datang. Semoga Allah Taala memberi taufik dan kemampuan kepada kita semua untuk dapat memenuhi janji bai’at kita dan menjadi pengikut setia yang taat dan patuh kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Huzur (aba) membacakan intisari dari tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang menekankan pentingnya sujud dan berdoa, yang merupakan senjata untuk melawan dosa dan segala keburukan.

PPSi – Mersela. Jakarta Barat,  4-10-2010

Catatan:  Paragraph awal dari Khutbah ini disampaikan oleh Hudhur aba. pada hari Jum’at 1 Oktober 2010 sekitar jam 12.10 – 12.15 Waktu GMT, bersamaan pada jam 19.10 – 12.15 WIB di Cisalada – Bogor.