بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 05 Syahadat 1392 HS/April 2013

Di Masjid Baitur Rahman, Valencia, Spanyol

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ * وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Ayat-ayat tersebut di atas adalah merupakan Quran surat Ali Imran dan Al-Nahl. Dua ayat pertama adalah surat Ali Imran, yang terjemahannya adalah sebagai berikut: “Dan berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah dan janganlah tercerai-berai; dan ingatlah nikmat Allah yang telah dia anugerahkan kepada kalian ketika kalian dulu bermusuhan dan Dia menyatukan hati kalian dengan kecintaan, sehingga dengan karunia-Nya kalian menjadi seperti saudara; dan kalian ada di tepi jurang api dan Dia menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian firman-Nya supaya kalian mendapat petunjuk. Dan hendaknya ada dari antara kalian segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, dan memerintahkan keadilan dan dan melarang keburukan. Dan mereka inilah orang-orang yang akan beruntung.“ (Surah Ali Imron, 3 : 104-105)

Adapun ayat dari surat Al-Nahl terjemahannya adalah: “Serulah ke jalan Tuhan engkau dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik. Sungguh, Tuhan engkau Maha Mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya; dan Dia mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.“ (surah An-Nahl, 16 : 126)

 

Pembahasan Lanjutan Soal Masjid dan Fungsinya

Pada Jumat yang lalu dengan karunia Allah Ta’ala mesjid kedua di Spanyol telah diresmikan. Seluruh anggota Jemaat merasa sangat gembira, bahkan saat ini pun masih bergembira. Pada khotbah yang lalu saya telah menyampaikan beberapa hal berkenaan dengan hal ini kepada anda. Sekarang saya ingin menarik perhatian lebih lanjut kepada beberapa hal berkenaan dengan hal itu. Sebagaimana kita melihat setiap di berbagai belahan dunia dan Hadhrat Masih Mau’ud ’alaihish shalaatu was salaam pun bersabda:

            “Pada saat ini Jemaat kita sangat membutuhkan mesjid-mesjid. Ini adalah rumah Tuhan. Di suatu desa atau kota yang mana di sana mesjid kita telah didirikan, maka pahamilah bahwa pondasi bagi kemajuan Jemaat telah diletakkan di sana. Jika ada suatu desa atau kota yang penduduk Muslimnya sedikit atau bahkan tidak ada, dan ingin memajukan Islam di sana, maka hendaknya dibangun sebuah mesjid. Kemudian Tuhanlah sendiri yang akan menarik umat Islam kepadanya. Akan tetapi syaratnya ialah mesjid itu dibangun dengan ketulusan niat dan semata-mata didirikan demi Tuhan. Asalkan tidak ada unsur kepentingan pribadi dan keburukan, maka Allah Ta’ala akan memberkatinya.“ [2]

Kutipan ini telah berulang kali saya sampaikan sebelumnya, akan tetapi poin-poin yang dijelaskan di dalamnya sedemikian rupa pentingnya, sehingga setiap Ahmadi perlu berulang kali merenungkannya. Aspek pertama yang disebutkan adalah bahwa sebuah mesjid adalah rumah Tuhan. Hal-hal yang patut mendapatkan perhatian kita berkenaan dengan rumah Tuhan, kita perlu memberikan penekanan kepada hal-hal tersebut. Jika terdapat keyakinan bahwa Tuhan itu ada – dan dengan karunia Allah Ta’ala Setiap Ahmadi memiliki keyakinan terhadap hal itu – maka akan timbul perhatian terhadap kehormatan rumah itu dan untuk meramaikannya. Ketika timbul perhatian untuk meramaikannya semata-mata demi Tuhan, maka bersamaan dengan ibadah, akan timbul pula perhatian terhadap pemenuhan hak hamba-hamba-Nya. Akan timbul pula perhatian untuk tinggal bersama-sama dan saling mencintai satu sama lain.

Sambil menarik perhatian ke arah hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda berkenaan dengan mesjid:

“Hendaknya orang-orang Jemaat semuanya berkumpul dan melaksanakan shalat berjamaah di mesjid ini. Terdapat banyak keberkatan dalam shalat berjamaah dan bersatu-padu. Bercerai-berai menimbulkan perselisihan, sementara sekarang inilah saatnya untuk benar-benar meningkatkan persatuan dan kesatu-paduan. Masalah-masalah sepele yang menimbulkan perselisihan hendaknya diabaikan.”[3]

Rumah Tuhan dan Salat Berjamaah di dalamnya

Walhasil, aspek pertama yang harus diingat berkenaan dengan rumah Tuhan adalah bahwa ini adalah rumah Tuhan dan setiap Ahmadi yang tinggal di area ini (Valencia) harus memenuhi hak dari mesjid ini dengan cara melaksanakan shalat berjamaah di dalamnya, dan kemudian pemenuhan hak ibadah berjamaah ini akan membimbing kita untuk tinggal bersama-sama dengan rukun, saling mengasihi dan menyayangi.

Beliau bersabda: “Saat ini hendaknya kita benar-benar meningkatkan persatuan dan kesatu-paduan”, hal ini beliau sampaikan kurang lebih 108 tahun yang lalu, pada saat itu tarbiyat yang diberikan kepada mereka dan juga standar ketakwaan mereka sangatlah tinggi dibandingkan sekarang ini. Mereka punya rasa takut yang lebih besar kepada Tuhan, mereka begitu sangat memperhatikan shalat, bahkan orang-orang yang menerima Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah orang-orang yang memiliki hubungan yang khas dengan Allah Ta’ala Akan tetapi merupakan tugas seorang Nabi untuk menjelaskan kepada para pengikutnya detail-detail halus ketakwaan dan membimbing mereka untuk mencapai standar yang tinggi. Oleh karena itu beliau membukakan segala macam kemungkinan untuk mencapai standar tinggi ketakwaan itu kepada para pengikut beliau dan menasihatkan bahwa hal ini perlu mendapatkan banyak perhatian. Beliau a.s. menyadari bahwa ini adalah masa-masa awal. Jika di masa itu standar ketakwaan tidak tinggi, maka tidak akan ada contoh bagi orang-orang di masa selanjutnya, yang dengan melihatnya mereka akan berusaha untuk meraih standar tinggi ketakwaan itu.

Rangkaian peristiwa-peristiwa berkaitan dengan para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang telah saya mulai penyampaiannya (dalam khotbah Jumat), di dalamnya banyak sekali hal-hal yang terlewatkan, karena tidak semua kejadian para sahabat diceritakan dan yang diceritakan pun sangatlah sedikit dan singkat. Meskipun demikian, kisah-kisah tersebut menggambarkan standar yang sangat tinggi sehingga orang tertarik untuk berdoa bagi para sahabat tersebut, dan diantara anak keturunan para sahabat itu mungkin ada pula yang tinggal di sini di Spanyol. Mereka hendaknya secara khusus berdoa untuk para leluhur mereka dan mengikuti suri teladan mereka. Sungguh banyak pekerjaan yang harus dilakukan di negara ini. Reputasi yang telah hilang berabad-abad ini harus dikembalikan lagi. Kepada para penduduk di sini harus dijelaskan mengenai keindahan dan keistimewaan Islam dan mereka harus dibawa ke bawah naungan bendera Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk mencapai itu, suatu hal yang paling penting adalah memenuhi hak ibadah kepada Allah Ta’ala, memohon pertolongan-Nya dan diikuti dengan kegiatan tabligh yang dilakukan sebagai Jemaat yang bersatu.

Jadi, bukan hanya di zaman Hadhrat Masih Mau’ud a.s. saja persatuan dan kesatu-paduan ini harus ditingkatkan, bahkan pada hari ini pun – ketika kita berdiri menyampaikan sebuah pendakwaan yang besar, yakni akan membawa negeri ini ke bawah naungan bendera Islam – maka hal pertama yang harus dilakukan adalah meningkatkan persatuan dan kesatu-paduan di kalangan intern kita sendiri dan menanamkan standar yang tinggi itu di dalam diri kita. Jika seluruh pengurus dan anggota tidak bersatu padu, maka mereka tidak bisa memenuhi hak mesjid dan rumah Tuhan itu.

Seperti juga telah saya katakan sebelumnya bahwa keindahan sebuah mesjid akan nampak ketika keindahan ruh orang-orang yang datang ke mesjid tampak, dan ketika dalam perkataan dan perbuatan setiap Ahmadi – disamping ibadah mereka – nampak kecintaan dan kasih sayang satu sama lain. Al-Quran al-Karim telah mengetengahkan hal ini ke hadapan kita. Ayat yang saya tilawatkan di awal tadi terjemahannya sudah anda simak. Allah Ta’ala berfirman bahwa ciptakanlah kecintaan dan kasih sayang diantara kalian. Ini adalah merupakan karunia Tuhan bahwa Dia telah mempersatukan kalian. Jadi, setiap mukmin yang sejati hendaknya merenungkan setiap perintah dan petunjuk Allah Ta’ala Tidaklah saya terkecualikan dari perintah itu, tidak pula anda, tidak juga seorang pengurus, tidak juga seorang Muballigh atau Murabbi, tidak pula seorang anggota Jemaat, baik itu laki-laki maupun perempuan.

Selama kita berpegang teguh kepada tali Allah, selama kita mengamalkan ajaran al-Quran al-Karim, selama kita mengingat karunia Allah Ta’ala ini – yakni Dia telah menganugerahkan taufik kepada kita untuk menjadi Ahmadi dan tetap berada di dalam Jemaat Ahmadiyah ini – dan kita menunaikan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak rumah-Nya, selama kita berpegang teguh kepada sabda-sabda Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan sang khadim sejati beliau serta imam zaman ini, selama kita membayarkan hak-hak dari nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepada kita dan mensyukuri nikmat-nikmat dan karunia-karunia-Nya itu, selama setiap kita – yang mengikat janji baiat dengan khilafat – tidak hanya mendengarkan perkataan khalifah, bahkan berusaha untuk mengamalkannya, maka kita berhak untuk dikatakan sebagai orang-orang yang menghargai nikmat-nikmat Allah Ta’ala.

Jadi, hendaknya selalu diingat, bahwa al-Quran al-Karim, Hadhrat Rasulullah s.a.w., Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan khilafat Ahmadiyah, semuanya adalah merupakan tali Allah. Jika seorang Ahmadi mengabaikan satu saja rangkaian saja dari tali ini, maka dia akan semakin mendekat ke jurang api. Jadi, setiap Ahmadi hendaknya berpegang tegang kepada tali Allah, mengingat nikmat-nikmat-Nya dan mensyukurinya, maka dengan hal ini akan mengambil bentuknya yang hakiki, yakni akan membimbing pada berubahnya kata-kata menjadi tindakan. Kecintaan satu sama lain, kesatu-paduan, dan persaudaraan akan membuat para Ahmadi benar-benar mendapat petunjuk dan termasuk diantara orang-orang yang menyelamatkan dirinya dari jurang api. Seorang Ahmadi sejati adalah yang menghindarkan dirinya dari segala bentuk perselisihan. Ketika setiap Ahmadi menghindarkan diri dari segala macam keegoisan dan saling mencintai satu sama lain untuk meraih ridha Ilahi, maka ia telah menjadi seorang Ahmadi yang hakiki.

Maka berbahagialah mereka yang berpemikiran seperti ini, menyesuaikan perkataan dan perbuatannya dengan prinsip seperti ini. Ketika standar seperti ini telah diraih, maka selanjutnya kita akan dapat berdakwah dan menyeru kepada orang-orang, bahwa ‘Ao logo yehi nur-e-Khuda, paoge‘ – “Wahai manusia, disinilah kalian akan mendapatkan cahaya Ilahi.”[4]

Dewasa ini, sebagian besar umat manusia telah jauh dari agama, khususnya banyak orang di negara-negara Barat yang mengingkari adanya wujud Tuhan. Akan tetapi Spanyol adalah merupakan sebuah negara di mana pada saat sekarang pun terdapat sekelompok orang yang condong kepada agama dalam jumlah yang cukup banyak. Di sini dua hari yang lalu, dalam sebuah resepsi bersama orang-orang Spanyol, duduk bersama saya Ketua parlemen Valencia. Beliau menyampaikan keprihatinannya kepada saya bahwa dewasa ini orang-orang telah jauh dari agama, kita harus berusaha untuk menarik orang-orang itu kepada agama. Orang-orang yang selevel dengan dia yang saya temui di Barat sampai sejauh ini pada umumnya telah jauh dari agama dan cenderung kepada dunia. Tetapi di sini,berdasarkan hal ini saya melihat bahwa ada kecenderungan terhadap agama. Jika ada orang-orang yang beragama, maka keprihatinan seperti ini pun akan timbul dalam pemikiran mereka.

Tuhan telah menyatakan dengan jelas bahwa agama yang hakiki adalah Islam. Oleh karena itu tidak ada agama lain yang bisa mendekatkan manusia kepada Tuhan; tidak ada agama lain yang memiliki kemampuan untuk melakukannya. Sekarang ini hanya Islamlah satu-satunya agama yang memiliki kemampuan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan. Dan yang bertanggung jawab untuk menyebarkan Islam dan telah diberikan karunia kepada mereka untuk berpegang kepada tali Allah, adalah para Ahmadi. Walhasil, jika perkataan dan perbuatan kita saling bertentangan, jika kita masih berselisih dalam hal-hal yang sepele – perselisihan yang akan merugikan bagi persatuan kita, perselisihan yang menghalangi kita dari menunaikan tanggung jawab-tanggung jawab kita, dan yang mencegah kita dari meraih hasil-hasil yang terbaik – maka sudah tentu kita akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Tuhan.

Sebagaimana yang telah saya sampaikan pada khotbah sebelumnya bahwa ribuan orang Spanyol yang berabad-abad yang lalu pada dasarnya adalah Islam, ribuan diantaranya telah kembali kepada Islam, dan hal ini sedang berlangsung. Akan tetapi mereka masih belum mengetahui Islam yang hakiki, maka kitalah yang harus menjelaskan kepada mereka Islam yang hakiki tersebut. Di Eropa dan negara-negara Barat lainnya banyak penduduk setempat yang mereka telah menjadi Muslim dalam pengembaraan spiritual mereka, akan tetapi para pemimpin Islam dan para ulama tidak membimbing mereka kearah kedudukan rohani yang mereka cari itu, kemudian orang-orang ini mencari lebih jauh dan akhirnya menerima Ahmadiyah. Maka hal ini hendaknya menjadi perhatian para Ahmadi bahwa para mubayi’in baru mendapatkan ketentraman rohani dalam pangkuan Ahmadiyah. Dan untuk itu kita para Ahmadi yang lama hendaknya perlu memeriksa diri kita sendiri mengenai hal ini. Jika para Ahmadi lama, khususnya yang berasal dari Pakistan tidak memenuhi tanggung jawab mereka maka mereka bisa memalingkan para pencari kebenaran ini dan memainkan peranannya dalam menjauhkan mereka dari agama.

Jadi setiap Ahmadi hendaknya memahami tanggung jawab mereka. Di dalam resepsi yang saya sebutkan tadi, saya menyampaikan pidato singkat berkenaan dengan ajaran-ajaran Islam dari berbagai segi. Seorang wanita – yang saya rasa dia adalah orang Spanyol – setelah makan siang datang menemui saya. Dia mengenakan kerudung dan lainnya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Muslim. Saya berkata kepadanya bahwa dia nampak seperti orang Spanyol. Dia menjelaskan bahwa dia telah berbaiat ke sebuah sekte Muslim tertentu, dan dia pun mengatakan kepada saya bahwa saya telah memberikan penjelasan tentang ajaran Islam dengan corak yang sangat indah dan dia sangat senang akan hal tersebut. Dan ketika saya berkata kepadanya bahwa dia seperti orang Spanyol maka seorang putra Maulwi Karam Ilahi Sahib Zafar – yang adalah Muballigh terdahulu di sana – berkata bahwa dia memang orang Spanyol dan sekarang telah masuk Islam. Beliau menggunakan kata “masuk Islam” dalam hal ini. Maka wanita itu segera menjawab, “Saya tidak ‘masuk Islam’ seperti itu, justru saya kembali kepada agama saya, agama nenek moyang saya.”

Jadi, di sini banyak sekali orang-orang yang mencari agama nenek moyang mereka dan asal-usul mereka. Kita perlu bekerja keras di daerah semacam ini dan diantara orang-orang seperti ini. Akan tetapi berulang kali telah saya katakan bahwa jika kita menginginkan ada keberkatan dalam pekerjaan ini kita harus membentuk keadaan diri kita sesuai dengan perintah-perintah Tuhan. Hanya kitalah yang dapat menghilangkan rasa hausnya pencarian Islam yang hakiki. Hanya seorang Ahmadi lah yang bisa melakukannya.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Ingatlah, pondasi bagi kemajuan Islam terletak pada pembangunan mesjid.” Maka bersamaan dengan itu disyaratkan pula bahwa mendirikan mesjid itu haruslah dengan niat yang tulus, barulah akan timbul faedah di dalamnya. Jadi dalam membangun dan meramaikan mesjid, hanya ketulusanlah yang berfaedah, bukan kepandaian, kecerdasan atau pun pengetahuan, meskipun hal-hal ini bekerja bergandengan, akan tetapi keikhlasan lah yang merupakan hal yang utama dan sangat mendasar. Ketika pikiran terbebas dari tujuan-tujuan untuk kemanfaatan pribadi dan keegoisan, maka keberkatan mesjid Basharat di Pedroabad ini akan nampak kepada kita dan kita pun akan menyaksikan berbagai macam hasil yang baik dari pembangunan mesjid Baitur Rahman, Valencia ini.

Seperti yang telah saya katakan bahwa dalam resepsi yang diadakan pada saat pembukaan mesjid ini, yang merupakan acara terbesar pertama yang diadakan oleh Jemaat Ahmadiyah Spanyol, yang di dalamnya selain dari para tetangga, hadir pula kalangan intelektual, pejabat pemerintah dan para politisi. Orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat telah hadir di resepsi ini pulang dengan membawa kesan yang sangat baik. Kebanyakan dari mereka berkata bahwa ini pertama kalinya mereka mendengar ajaran Islam yang sangat indah. Sebagian mereka mengaku sangat emosional (terharu dan terbawa perasaan) mendengar penjelasan ini, bahkan beberapa diantaranya ada juga para pengingkar adanya Tuhan, yakni atheis, mereka mengatakan bahwa mereka sangat mendapat banyak pengetahuan mengenai agama, bahkan Dr. Mansur Sahib mengatakan bahwa salah seorang teman Dokter beliau merasa begitu emosional saat acara ini.

Walhasil, jika di masa sekarang ini ada yang bisa menjelaskan mengenai keindahan agama dan keyakinan akan adanya wujud Tuhan maka itu adalah Jemaat Ahmadiyah. Mereka adalah orang-orang yang telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Mereka adalah orang-orang yang bergabung ke dalam Jemaatnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Mereka adalah orang-orang yang Allah Ta’ala telah mudahkan untuk berpegang teguh kepada tali Allah. Anda setelah ini akan melihat liputan dari acara resepsi ini dalam berbagai program di MTA dan akan dicetak juga dalam bentuk laporan. MTA juga telah melakukan wawancara dengan banyak orang yang hadir dalam resepsi tersebutyang mana mereka mengungkapkan kesan-kesan mereka berkenaan dengan mesjid ini dan juga Islam secara umum.

Diantaranya ada seorang juru bicara parlemen Valencia. Beliau pergi ke suatu tempat, mungkin Madrid. Orang-orang yang tinggal di sini tentu tahu betapa jauhnya dari sini. Jika menggunakan kereta pun membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Karena nampaknya kedatangannya akan terlambat, maka salah satu stafnya mengatakan bahwa beliau tidak bisa datang. Akan tetapi beliau telah sampai di stasiun Valencia satu jam sebelum acara dimulai dan menyuruh sopirnya supaya langsung menuju mesjid. Beliau telah meninggalkan suatu tugas dinasnya. Beliau memberitahukan kepada saya bahwa pada hari tersebut ada pertemuan dengan menteri luar negeri, beliau sampai tengah hari harus berada di sana, baru setelah itu bisa datang ke sini. Akan tetapi beliau telah menghargai pentingnya acara ini dan langsung menuju ke sini. Pada awalnya beliau berencana untuk duduk di sini selama setengah jam dan kemudian pergi. Akan tetapi ternyata beliau hadir cukup lama, mendengarkan pembicaraan-pembicaraan dengan sangat antusias, beliau sendiri pun menyampaikan sepatah-dua patah kata dan mengatakan bahwa ajaran Islam yang anda jelaskan tadi itu sangat begitu indah. Demikian juga beberapa tamu lainnya hadir di sini, para politikus, pengacara, dokter, anggota parlemen, mereka semua terkesan baik.

Seperti yang telah saya katakan bahwa ini adalah even pertama yang diselenggarakan oleh Jemaat Spanyol dalam skala yang sebesar ini. Kurang lebih 108 orang Spanyol datang ke sini. Para tetangga yang pada awalnya menentang pendirian mesjid di sini, beberapa diantara mereka pun datang. Keraguan-keraguan yang ada di benak sebagian mereka – yang mana pada saat itu pun mereka ungkapkan – setelah mendengar pidato saya keraguan-keraguan itu  pun menjadi hilang. Saya juga telah memulai penyampaian pidato saya dengan topik mengenai pentingnya hak-hak tetangga dalam Islam.  Walhasil, setelah berdirinya mesjid ini, maka mata dunia akan tertuju ke sini. Sekarang hal ini sudah terjadi, dan setelah peresmian akan nampak lebih banyak lagi berita mengenai mesjid ini di surat kabar-surat kabar. Kita harus memainkan peranan kita. Kita harus memahami tanggungjawab kita.

Pembahasan Ayat-Ayat Al-Quran yang Ditilawatkan

Diantara ayat-ayat yang saya tilawatkan tadi adalah surat Ali Imran, yang pada ayat pertamanya menekankan kepada kesatu-paduan dan persatuan, sehingga bisa tetap tegak di atas petunjuk dan terhindar dari kesesatan, serta ikut mengambil bagian dari karunia-karunia Allah Ta’ala. Sedangkan di dalam ayat yang kedua Allah Ta’ala berfirman bahwa hendaknya diantara kalian ada suatu Jemaat yang yad’uuna ilal Khair, menyeru kepada kebaikan.

Jadi, ini adalah suatu golongan yang menyeru dan memberikan nasihat kepada kebaikan dan melarang keburukan, dan dalam hal ini terutama adalah para Muballigh dan Murabbi. Merekalah yang paling utama dibicarakan dalam konteks ayat ini, karena Khalifah-e-Waqt telah mengirimkan anda sekalian para Murabbi ke sini dan ke berbagai belahan dunia lainnya sebagai dutanya [representatif Khalifah] untuk memberikan tarbiyat dan bertabligh. Khalifah-e-Waqt telah mengirim anda sekalian para Murabbi ke tempat ini dan juga ke berbagai tempat lainnya di dunia sebagai dutanya untuk memberikan tarbiyat dan bertabligh. Anda adalah para penasihat yang memberikan wejangan-wejangan dan menyampaikan kepada dunia bahwa jika ingin meraih keselamatan maka berpegang teguhlah pada tali Allah. Jika ingin menghiasi kehidupan dunia dan akhirat maka sebarkanlah kecintaan, kasih sayang dan persaudaraan. Jika para Murabbi dan Muballigh sendiri tidak memiliki standar yang tinggi dalam hal ini, maka bagaimana mungkin dapat memberikan nasihat kepada dunia. Tugas para Murabbi adalah selain memberikan tarbiyat kepada anggota Jemaat, juga bertabligh.

Walhasil untuk kedua tugas ini adalah sangat penting untuk memiliki dan memperlihatkan semangat yang tinggi. Mereka harus memiliki standar kesabaran yang tinggi, standar ketaatan yang tinggi, dan menekankan hal ini kepada para anggota Jemaat.  Perkataan mereka harus sesuai dengan perbuatan mereka. Sebagaimana telah saya katakan, para Murabbi adalah duta Khalifah-e-Waqt untuk kemajuan agama dan kerohanian Jemaat ini. Jadi, mereka harus berusaha untuk memenuhi tanggung jawab ini. Akan datang masa-masa sulit selama masa tugas mereka. Akan dijumpai tingkah laku dan sikap sebagian orang dan pengurus yang menggelisahkan, terkadang kesabaran diuji sampai pada batasnya.

Pada akhirnya, manusia tetaplah manusia, akan tetapi hendaknya segeralah berdoa dan beristighfar, dan renungkanlah hal ini, bahwa, “Kami telah telah mewaqafkan hidup kami semata-mata demi Tuhan. Kami telah berjanji untuk menegakkan standar tarbiyat yang tinggi bagi Jemaat ini, dan membawa dunia yang tersesat ini ke bawah naungan bendera Hadhrat Rasulullah s.a.w.” Ketika pemikiran seperti ini timbul, maka tidak ada suatu apa pun yang bisa menyingkirkan anda dari usaha untuk meraih maksud-maksud anda tersebut. “العزة لله” Al-‘izzatu lillah (segala kemuliaan, kehormatan adalah milik Allah), hal ini harus setiap saat anda kedepankan. Janji untuk mewaqafkan diri yang telah anda ikrarkan, akan selalu anda utamakan. Hanya keagungan dan kebesaran Allah Ta’ala lah yang akan selalu anda utamakan, bukan kepentingan, kehormatan atau kemasyhuran pribadi. Maka sikap toleransi anda terhadap sikap pengurus yang salah akan menjadikan anda sebagai penerima ridha Ilahi, karena setiap saat anda bersikap dan beramal atas dasar “ya’muruuna bil ma’ruf”, mengajak kepada kebaikan.

Jadi, tugas dari seorang Murabbi tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri dari perselisihan dan menjauhkan dirinya dari jurang api, bahkan juga menyelamatkan dunia dari perpecahan dan menjauhkannya dari jurang api, dan seperti yang telah saya katakan, hal ini tidak bisa dilakukan tanpa pengorbanan.

Kemudian golongan kedua yang dibicarakan dalam ayat ini adalah para pengurus Jemaat yang mana mereka mempersembahkan dirinya untuk berkhidmat kepada Jemaat. Kepada mereka juga telah diberikan sebuah amanah dan orang-orang yang tidak menjalankan amanat mereka dapat masuk ke dalam cengkeraman Allah Ta’ala. Allah Ta’ala dengan jelas berfirman dalam al-Quran al-Karim bahwa kalian akan dimintai pertanggung jawaban. Amanat itu baru dapat dijalankan ketika tercipta kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Sebuah jabatan tidak cukup dengan hanya memegang jabatan itu saja, melainkan juga harus memperlihatkan semangat tinggi pengkhidmatan, dan memperlihatkan teladan keikhlasan dan ketulusan, begitu juga membuat yang lain mengikuti tindakan mereka. Hendaknya kita selalu merenungkan sabda Rasulullah saw, “سيد القوم خادمهم.” sayyidul qaumi khaadimuhum, yakni seorang pemimpin adalah khadim bagi kaumnya.[5]

Para pengurus juga hendaknya membuat para anggota Jemaat mengikuti teladan mereka. Jika perkataan mereka sendiri tidak berkesesuaian dengan amalan mereka, maka bagaimana bisa mereka mereka memberikan nasihat kepada orang lain. Yang lain akan mengatakan hal ini kepada mereka, bahwa mereka perlu memperbaiki keburukan-keburukan mereka, membersihkan perkataan mereka, memperbaiki akhlak mereka, memperbaiki keadaan rohani mereka, memperbaiki shalat-shalat mereka, berlaku adil dalam urusan-urusan duniawi mereka, meningkatkan standar kejujuran mereka, dan untuk menyampaikan pesan Jemaat ini kepada dunia pertama-tama hendaknya timbul kelemah lembutan di dalam diri mereka. Ini semua merupakan tanggung jawab para pengurus. Hormatilah para Murabbi yang merupakan representasi Khalifah-e-Waqt untuk memberikan tarbiyat keagamaan. Ini juga merupakan tanggung jawab paling besar para pengurus, bahwa hendaknya mereka menghormati para Murabbi.

Singkatnya, hendaknya mereka berusaha untuk menjadikan kondisi lahir dan batin mereka supaya sesuai dengan ajaran Islam, barulah mereka bisa mengatakan bahwa mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Jadi dari segi ini para pengurus Jemaat dari setiap level, hendaknya mengintrospeksi diri mereka sendiri, khususnya para Ketua dan Amir Jemaat di manapun mereka berada, jika tidak maka mereka ini akan menjadi penyebab terciptanya perpecahan di dalam Jemaat. Penghormatan kepada Muballigh dan Murabbi hendaknya pertama-tama datang dari Ketua Jemaat dan Amir Jemaat. Sementara para Murabbi hendaknya tidak menganggap sebagai hak mereka untuk dihormati. Melainkan, hendaknya ini harus membuat mereka lebih rendah hati dan menimbulkan perhatian supaya lebih memperbaiki diri lagi.

Jika setiap lapisan dari Jemaat telah mencapai standar ini maka kita akan melihat insya Allah Ta’ala permasalahan-permasalahan tarbiyat di dalam Jemaat ini dapat terselesaikan dan menjadi lebih baik lagi. Kita pun akan melihat kemenangan-kemenangan yang luar biasa di medan pertablighan. Persatuan, penghormatan dan kesatu-paduan akan memberkahi setiap tugas kita. Perlu juga saya jelaskan bahwa sikap dan perlakuan para pengurus antara satu sama lain hendaknya juga sangat baik, yakni mencapai standar yang tinggi. Ini juga sangatlah penting untuk memberikan keberkatan kepada setiap pekerjaan-pekerjaan kita. Jika terjadi perpecahan, perselisihan antara satu sama lain terus meningkat, timbul persoalan-persoalan kehormatan dan keegoisan dan kurangnya kesabaran, maka akan timbul berbagai macam akibat yang negatif.

Hadhrat Khalifatul Masih Awwal radhiyallahu ta’ala ‘anhu dalam menafsirkan sebuah ayat menceritakan sebuah kejadian berikut ini. Ada seseorang yang mengadu kepada seorang terhormat bahwa temannya, seorang yang kaya raya telah mencaci makinya. Lalu orang terhormat tersebut memanggil orang (yang kaya itu, yang adalah temannya), dan mencaci-makinya habis-habisan dan ia mendengarkannya dengan tenang. Setelah itu orang terhormat tersebut bertanya kepadanya mengapa dia mencaci maki orang tersebut. Orang kaya itu menjawab bahwa dia lah yang pertama mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan kepadanya dan dia tidak bisa bersabar akan hal itu, oleh karena itu saya mencaci makinya. Maka orang yang terhormat itu berkata kepadanya bahwa, “aku menghinamu dan kamu hanya mendengarkannya dengan diam. Ini berarti bahwa di dalam dirimu bukannya tidak ada kesabaran. Kamu memiliki kesabaran sehingga kamu mampu mendengarkan cacianku dengan diam. Kamu mencaci makinya dan berkata berlebihan kepadanya hanya karena status sosial dia lebih rendah darimu atau kamu memandangnya rendah. Dan jika kamu memperlihatkan kesabaran. Seharusnya kamu bisa memperlihatkan kesabaran seperti yang kamu lakukan di hadapanku.”[6]

Jadi inilah standar kesabaran yang harus kita perlihatkan. Sebagaimana kita bersabar di hadapan orang yang lebih tinggi kedudukannya dan lebih kuat dibanding kita, seperti itu juga kesabaran yang harus kita perlihatkan di hadapan mereka yang lebih lemah atau memiliki kedudukan yang sama dengan kita, maka dengan itu kita dapat mengakhiri segala macam fitnah dan kekacauan. Kita memberikan nasihat kepada dunia dan menjelaskan mengenai keindahan ajaran Islam, akan tetapi ketika telah tiba waktunya, kebanyakan dari kita malah melepaskan kesabaran dan toleransi. Jika kita berhasil meraih standar kesabaran ini, lapangan pertablighan pun akan terus terbuka bagi kita.

Tanggungjawab Semuanya, Bukan Hanya Pengurus dan Muballigh

 

Para anggota Jemaat janganlah menganggap bahwa ini hanya tanggung jawab  orang-orang yang telah mewaqafkan diri mereka dan para pengurus saja. Meningkatkan kecintaan dan kasih sayang satu sama lain, menjaga kesatu-paduan dan keharmonisan, tetap berpegang teguh pada tali Allah, mendengarkan dan mengamalkan apa yang disampaikan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, meningkatkan standar ketakwaan sesuai dengan ajaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s., dan tunduk kepada apa yang dikatakan oleh Khalifah-e-Waqt adalah tanggung jawab setiap Ahmadi. Hal-hal inilah yang dapat menjaga persatuan di dalam Jemaat. Menghormati para pengurus dan menaati mereka dalam perkara-perkara keJemaatan adalah merupakan kewajiban setiap anggota Jemaat. Adalah tanggung jawab setiap Ahmadi untuk memperlihatkan ketinggian moral di rumah dan di luar rumah, maka dengan hal ini lah kita akan terhindar dari kejatuhan ke jurang api. Allah Ta’ala tidak hanya berfirman bahwa tabligh adalah merupakan tugas para Muballigh dan sebagian orang yang telah mempersembahkan dirinya untuk da’wat ilallah saja. Memang Allah Ta’ala dalam ayat tadi menyinggung suatu golongan, akan tetapi berkenaan dengan da’wat ilallah ini merupakan suatu perintah umum. Jika Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita untuk menaati segala perintah Rasulullah s.a.w. dan berjalan mengikuti suri teladan beliau, maka perintahnya dalam hal tugas untuk bertabligh pun harus kita taati.

Ayat ketiga yang saya tilawatkan tadi adalah surat An-Nahl, di dalamnya Allah Ta’ala berfirman mengenai hal ini juga dan menyatakan hal ini (bertabligh) sebagai tanggung jawab kita bersama. Ini merupakan tanggung jawab semua orang, setiap Murabbi, setiap pengurus, setiap anggota Jemaat baik laki-laki maupun perempuan untuk menyeru kepada jalan Tuhan. Kemudian dijelaskan pula mengenai metode untuk bertabligh tersebut, yakni serulah ke jalan Tuhan dengan hikmah.

Sekarang, karena perkenalan anda melalui mesjid baru di Valencia telah meluas ke seluruh dunia, orang-orang tengah memberikan perhatian kepada anda sekalian. Dengan berdirinya mesjid ini jalan-jalan tabligh baru menjadi terbuka. Surat-surat kabar juga mulai memberikan liputan. Maka Allah Ta’ala berfirman bahwa sambil mengambil faedah dari situasi ini, tunaikanlah kewajiban untuk bertabligh dengan hikmah.

 

Berbagai Macam Makna Kata ‘Hikmah’

Berkenaan dengan tabligh, Allah Ta’ala telah menggunakan kata “hikmah”, hal ini mengandung banyak sekali arti. Kita menunjukan jalan kepada berbagai macam orang dan dalam berbagai macam keadaan, bagaimana hendaknya kita menjalin hubungan dengan orang-orang dari berbagai macam kalangan tersebut. Pertama, sangat penting untuk memperoleh pengetahuan agama. Hal ini bisa didapatkan dengan membaca al-Quran al-Karim dan tafsirnya. Perkuatlah dalil-dali kita dengan hal ini. Kemudian perkuatlah dalil-dalil kita dengan penjelasan-penjelasan dari Rasulullah s.a.w. dalam hadits-hadits. Selain terhadap Islam, terdapat juga keberatan-keberatan terhadap pribadi Rasulullah saw, maka pelajari jugalah dalil-dalil yang kuat berkenaan dengan hal ini dan berusahalah untuk menggali lebih jauh lagi.

Hikmah juga berarti adil. Di dalam diskusi hendaknya jangan mengemukakan hal-hal atau dalil-dalil yang berdasarkan atas hal-hal yang besifat keberatan (tuduhan, makian) terhadap pihak lain [yang diajak bicara]. Alih-alih (bukannya) seperti itu, seorang Muslim  hendaknya pada setiap kesempatan berlaku adil sesuai dengan tuntutan ajaran Islam. Ada sebagian perkara yang apabila dikemukakan, alih-alih memberikan kesan yang baik malah justru memberikan kesan yang keliru. Alih-alih bersikap adil, malah mengandung kezaliman. Kita melihat para ghair Ahmadi, ketika mereka kalah argumentasi dari segi kelimuan, mereka langsung mengeluarkan kata-kata zalim dan caci-maki yang daripada menunjukkan hikmah kalam Tuhan, justru menampakkan kekotoran mereka. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah dengan sedemikian rupa membentengi kita dengan ilmu kalam beliau, sehingga pada saat bertabligh tidak ada suatu pun perkataan kita yang bisa menampakkan ketidakadilan dan kezaliman.

Oleh karena itu, supaya dapat bertabligh dengan hikmah adalah sangat penting untuk menelaah tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Dan ini tidak hanya membantu kita dalam pertablighan, bahkan ini juga memberikan peranan dalam hal tarbiyat bagi setiap Ahmadi.

Hikmah juga berarti kelemahlembutan dan bersikap persuasif. Sabar juga termasuk dalam konteks ini. Kelemahlembutan dan kesabaran adalah merupakan hal yang penting dalam pertablighan. Banyak mubayi’in baru bertanya mengenai bagaimana mereka bisa bertabligh kepada kerabat-kerabat mereka. Sebagian kerabat membuat hati mereka sakit dan timbul kerisauan di hati mereka, khususnya ketika mereka menjelaskan mengenai Ahmadiyah kepada orang-orang yang mereka kasihi, daripada mendengarkan mereka malah marah dan berbicara kasar. Maka dalam situasi demikian tugas para Ahmadi adalah memperlihatkan kesabaran. Ini adalah hikmah dan ini sangat penting. Banyak sekali orang yang dengan hikmah hati mereka menjadi lembut. Dengan kesabaran dan kelembutan maka hasilnya akan menjadi lembut. Beberapa orang menuliskan kisah mereka, “Kami bersabar sedemikian rupa sehingga meskipun hati kami terluka akan tetapi kami terus bersabar, dan kesabaran kami membuahkan hasil, kerabat kami sekarang telah berbaiat dan bergabung ke dalam Jemaat ini.”

Lafadz “hikmah” yang terdapat di dalam al-Quran al-Karim juga, menurut Lughat berarti sesuatu yang menghentikan manusia dari kebodohan. Yakni, mereka yang bertabligh hendaknya menyampaikan hal-hal yang mencegah orang lain dari membicarakan hal-hal yang penuh kebodohan. Berbicaralah sesuai dengan karakter (kadar pemahaman) mereka. Janganlah membicarakan hal-hal yang dapat membawa mereka lebih jauh kepada kebodohan. Memang, ada segolongan ulama atau sekelompok orang yang hati mereka telah menjadi keras dan takdir Allah Ta’ala telah menetapkan kematian jahiliah bagi mereka, akan tetapi apabila kita berbicara dengan hikmah kepada mereka, dengan memahami masing-masing karakter dan tingkat keilmuan mereka, maka hati mereka akan mulai menjadi lembut, atau jika tidak bisa menerima sekurang-kurangnya pasti mereka akan diam. Bahkan, orang-orang yang tidak percaya terhadap Tuhan dan para penentang agama sekalipun hati mereka akan menjadi lembut dan berhenti mengajukan keberatan-keberatan yang keliru dan jahil.

Misalnya pada saat resepsi, orang-orang yang hadir pada kesempatan tersebut banyak diantara mereka yang tidak beragama. Diantaranya ada satu pasangan suami-istri – yang mana mereka adalah dokter – ketika mendengarkan penjelasan-penjelasan saya yang berdasarkan pada al-Quran dan hadits, mereka berkata bahwa wacana-wacana keagamaan ini membuat hati kami ingin untuk terus mendengarkan. Mereka juga bertemu dengan saya. Walhasil, ajaran Islam adalah merupakan ajaran yang penuh hikmah, jika disampaikan ke hadapan dunia sesuai dengan situasi dan kondisinya, maka akan sangat berkesan di dalam hati.

Sekali lagi saya katakan bahwa medan pertablighan yang terbuka ini, dan juga pengenalan mengenai Jemaat yang telah dilakukan di sini, anda sekalian harus menindaklanjutinya, dan ini merupakan tugas anda sekalian untuk menindak lanjutinya.

Kemudian hikmah juga menghendaki supaya tidak ada suatu perkataan pun yang salah dan berbicara dengan jelas. Islam memberikan suatu ajaran yang begitu indah dan benar. Islam adalah agama yang indah dan benar, sehingga untuk menjelaskannya tidak memerlukan suatu penjelasan yang bersifat ambigu [samar-samar, tidak jelas]. Kita tidaklah seperti para ulama yang mengatakan bahwa untuk memenuhi tuntutan hikmah itu jika perlu untuk mengatakan suatu kebohongan, maka lakukanlah. Hal ini tertulis di dalam kitab-kitab tafsir mereka. Hikmah macam apa yang di dalamnya terdapat kebohongan? Di mana terdapat kebohongan, maka keadilan, kejujuran dan rasa aman akan hilang. Dan ketika aspek-aspek ini telah hilang, maka akan timbul fitnah dan kekacauan. Dewasa ini hal seperti itu kita lihat terjadi di Pakistan dan negara-negara Islam lainnya. Dan ketika fitnah dan kekacauan itu terjadi, maka di sana tidak ada lagi Islam.

Jadi, jika ada yang bisa menjelaskan dan meyebarluaskan ajaran Islam yang hakiki, maka merekalah para Ahmadi yang setiap perkataan mereka sarat [penuh] dengan kebenaran, keadilan dan ilmu. Ini merupakan suatu tanggung jawab yang besar bagi para Ahmadi yang harus kita laksanakan. Allah Ta’ala berfirman bahwa demikian juga penuhilah tuntutan hikmah, yakni tingkatkanlah taraf keilmuan kalian, tingkatlah standar kesabaran kalian, tingkatkanlah standar keadilan kalian, perlihatkanlah hal ini dalam kehidupan sehari-hari kalian, tanamkanlah kemampuan untuk mengenal karakter orang, karena tabligh tidak bisa dilakukan tanpa hal itu. Mengenal karakter orang juga adalah merupakan sebuah resep yang penting dalam bertabligh. Maka nasihat yang kamu berikan akan begitu luhurnya, dan pesan tabligh yang kamu sampaikan akan sarat dengan hikmah. Semua ini akan membuat kalian bisa memberikan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik). Arti dari mau’izhah hasanah adalah perkataan yang membuat hati menjadi lembut.

Jadi, hal-hal yang memenuhi tuntutan hikmah inilah yang bisa melembutkan hati manusia. Di sini tinggal berbagai etnis (suku bangsa) dan untuk itu hendaknya harus dipikirkan berbagai macam metode, yakni bagaimanakah metode yang terbaik untuk melakukan tabligh kepada mereka. Allah Ta’ala telah memberikan petunjuk berkenaan dengan hal ini, jaadilhum billati hiya ahsan, yakni bertablighlah dengan hikmah dan dalil yang terbaik, nasihatmu akan menyentuh hati orang-orang, sehingga hati mereka menjadi lembut. Tugas setiap Ahmadi adalah melakukan tabligh, sisanya Allah Ta’ala sendiri lah yang akan memberikan hasil, karena memberikan petunjuk adalah merupakan wewenang Allah Ta’ala Akan tetapi untuk tugas ini – seperti yang telah saya katakan di awal – yang paling penting adalah merubah keadaan kita sendiri, barulah dalil-dalil itu akan berpengaruh.

            Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Pada suatu kesempatan memberikan bimbingan mengenai bagaimana caranya memberikan nasihat. Beliau bersabda:

“Ketika memberikan nasihat itu diperlukan, maka berikanlah nasihat. Satu hal yang harus diperhatikan, ketika nasihat dilakukan dengan suatu cara, ini bisa menjadikan seseorang menjadi musuh kalian, dan ketika dilakukan dengan cara lain bisa menjadikannya teman kalian. Maka lakukanlah sesuai dengan perintah al-Quran,jaadilhum billati hiya ahsan”, yakni berdebatlah dengan cara yang terbaik. Cara inilah yang Allah sebut sebagai hikmah.”[7]

            Walhasil, berbicara dengan hikmah juga penting untuk urusan-urusan diantara kita, begitu juga untuk tabligh dan tarbiyat. Hal ini juga penting untuk menyeru dunia kepada Allah Ta’ala Allah Ta’ala dengan karunia-Nya telah membukakan jalan-jalan pertablighan. Tugas para anggota Jemaat adalah memanfaatkan jalan-jalan pertablighan itu dan turun ke medan pertablighan dengan bersatu padu layaknya sebuah lasykar. Ini semua tergantung kepada anda sekalian, sejauh mana anda melaksanakan tugas ini. Surat-surat kabar telah memuat berita berkenaan dengan mesjid ini, bahwa kita telah mengembalikan Islam ke sini. Akan tetapi bukan sekedar berita-berita itu saja yang menjadi tujuan kita, berita-berita serupa juga telah disiarkan di dalam surat-surat kabar berkaitan dengan Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Raabi’ rh. pada saat peresmian mesjid Basyarat di Pedroabad. Akan tetapi renungkanlah, apakah dalam jangka waktu tiga puluh tahun ini kita telah menghasilkan sesuatu? Jadi sebuah kaum yang mencapai kemajuan tidak gembira hanya dengan liputan media. Sebuah kaum yang mencapai tujuannya tidak lantas menjadi puas hanya dengan ungkapan perasaan simpati teman-teman di dalam resepsi atau para tamu di dalam majlis-majlis.

 

Demi Bendera Hadhrat Rasulullah s.a.w., Bersatu dan Mengabaikan Perselisihan dan Hal-Hal Sepele

 

            Mereka terus mengintropeksi diri mereka, membuat program-program yang baru dan bersatu-padu untuk menjalankan program-program itu dengan sebuah tekad yang baru. Mereka tidak merasa puas selama belum bisa meraih tujuan mereka. Hal-hal yang kecil (seperti halnya pemberitaan di media tadi) tidak berarti apa-apa dalam pandangan mereka. Dalam benak mereka tidak tersimpan rasa ingin tahu, “Apa yang Amir Jemaat atau Ketua Jemaat katakan tentang saya?” Orang-orang yang berkemajuan mengatakan kepada orang-orang yang menyampaikan masalah (sepele) ini kepada mereka, “Saya menganggapnya tidak penting. Saya telah berbaiat kepada Imam Zaman ini dan ingin menyempurnakannya dengan mengutamakan agama di atas dunia. Masalah-masalah seperti itu akan mengacaukan pemikiran saya dan akan membuat saya lupa akan tujuan saya. Hal ini, yakni pertikaian di kalangan kita sendiri ini akan menjadi rintangan bagi usaha kita dalam membawa teman-teman sebangsa kita ke bawah naungan bendera Rasulullah s.a.w. dan akan menyebabkan kita berbicara tentang perpecahan, dan dengan demikian akan menghancurkan dunia begitu juga akhirat saya. Maka, jika Anda bersimpati terhadap saya, jika Anda merasa bersimpati terhadap Jemaat ini, maka janganlah membicarakan hal seperti itu kepada saya, bahkan hal-hal seperti itu yang anda dengar hendaknya jangan disampaikan kepada siapa pun selain saya, karena itu termasuk namimah (gosip).”

            Jika pemikiran seperti ini dimiliki oleh setiap Ahmadi, baik itu Muballigh, pengurus maupun anggota, maka insya Allah Ta’ala jalan menuju sebuah perubahan revolusioner akan terbuka. Jadi, setiap lapisan, baik itu Khadim, Anshar maupun anggota Lajnah hendaknya bertekad bahwa mereka akan mengakhiri segala bentuk perselisihan demi mengagungkan Islam dan akan mencabut segala bentuk amarah dan pertikaian sampai ke akar-akarnya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufiknya kepada kita.

            Pada Jumat yang lalu saya telah menyinggung berkenaan mesjid ini dari segi kapasitas, secara teknis memang sebanyak itu, akan tetapi jika ditambah dengan kapasitas berbagai gedung yang ada di dalam lingkungan mesjid, maka dapat menampung kurang lebih 600 orang. Singkatnya, semoga Allah Ta’ala menjadikan mesjid ini penuh keberkahan dari setiap segi.

 

Terjemahan khotbah 05 April 2013 bersumber dari teks Urdu penuh: http://www.alislam.org/urdu/sermon/FST20130405-UR.pdf