Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

07 April 2017 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Penentangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as telah dimulai bahkan sebelum Jemaat Ahmadiyah didirikan dan beliau as belum mengambil Bai’at dari siapapun. Baik kaum Muslim lain maupun non Muslim sama-sama mengerahkan energi mereka untuk menentang beliau, dan hal ini berlanjut hingga sekarang. Sekarang ini, kaum Muslimlah yang menunjukkan penentangan yang lebih besar, namun Allah Ta’ala terus menganugerahi Jemaat untuk tumbuh dan berkembang dan sekarang berdiri di 209 negara di dunia.

Di negara-negara Islam yang mana terdapat orang-orang yang memperhatikan Jemaat lebih banyak, terdapat penentangan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah dipikirkan dengan matang. Hal ini menjadikan beberapa politisi, Ulama dan mereka yang berada di bawah pengaruh staf di departemen pemerintah bahkan hakim di pengadilan juga merupakan bagian dari penentangan ini.

 Seperti yang telah saya sebutkan di banyak Khotbah Jumat saya sebelumnya, para Ahmadi Algeria (Aljazair) saat ini sedang menjadi sasaran penindasan. Para Hakim dan aparat pemerintah lainnya di pemerintahan mengatakan, “Kami akan mengumumkan pelepasan kalian bila kalian mengumumkan Mirza Ghulam Ahmad ialah pendusta dalam pendakwaannya sebagai Masih Mau’ud dan kalian mengakuinya sebagai bukan Masih Mau’ud bahkan ia adalah seorang agen penyusup dari kekuatan anti Islam. Kekuatan itu yang mendukungnya terutama Inggris. Jika kalian tidak mau, bersiap-siaplah dipenjara dan membayar denda.”

Mereka yang teguh dalam iman mereka dan menolak tawaran itu akan dimasukkan ke penjara dan mereka diharuskan membayar denda berat yang tak mampu mereka bayar karena kebanyakan mereka ialah orang kurang mampu. Oleh karena itu kita semua harus ingat untuk mendoakan mereka [Ahmadi di Aljazair] yang tidak bersalah dan tertindas itu semoga Allah Ta’ala menguatkan langkah-langkah mereka dan menyelamatkan mereka dari kezaliman.

Begitu juga, kalian juga harus mengingat para Ahmadi Pakistan dalam doa-doa kalian. Di sana juga, terutama di wilayah Punjab, penganiayaan dengan skema yang sudah direncanakan dengan matang terhadap para Ahmadi sedang dilakukan.

Keadaan-keadaan terkini dan yang didasari oleh pertikaian dan korupsi yang terjadi di berbagai negara Muslim saat ini, dan saling berhubungan antara Negara Muslim dan lainnya menyediakan sebuah waktu jeda untuk merenung bagi orang yang bijak untuk memikirkan dan mencari siapakah yang Allah Ta’ala telah utus yang telah Dia tentukan akan datang di situasi-situasi terkini sesuai janji-Nya yang juga dikabarkan oleh Nabi Muhammad saw tentang kedatangan ghulam shadiq (pelayan sejati) beliau saw untuk menciptakan ishlaah (perbaikan) bagi umat beliau saw.

Harap diketahui bahwa tanda-tanda kedatangan Al-Masih yang dijanjikan yang telah dinubuatkan oleh Allah dan Rasul-Nya telah secara jelas terpenuhi dan terus terpenuhi. Maka dari itu, jalan ini sajalah satu-satunya yang dapat memulihkan kehormatan dan kehebatan kaum Muslim yang telah hilang.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ketahuilah dengan yakin, janji-janji Allah Ta’ala itu benar sepenuhnya. Sesuai janji-Nya, Dia telah mengutus seorang pemberi peringatan di dunia, namun dunia menolaknya dan tidak menerimanya, tetapi Allah menerimanya dan akan menampakkan kebenarannya dengan terang benderang dan sangat kuat. Saya katakan hal sebenarnya bahwa saya datang sebagai Masih Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan) sesuai janji Allah Ta’ala. Terimalah saya jika kamu mau; atau tolaklah saya jika kamu mau. Namun, penolakan kalian tidak mengubah apa-apa. Bahkan, Allah Ta’ala akan menggenapi apa-apa yang Dia kehendaki.”[1]

Beliau as kemudian bersabda, “Sudah terbukti dengan jelas bahwa Allah Ta’ala telah mengirimku ke dunia sebagai ma-muur (yang diutus-Nya) dan sebagai Al-Masih yang dijanjikan. Mereka yang menentangku sesungguhnya bukanlah menentangku, namun menentang Tuhan.”[2]

Dengan demikian, penentangan yang dilakukan terhadap Jemaat adalah perbuatan yang melawan kehendak Tuhan. Mereka sesungguhnya menentang Tuhan. Namun, penentangan demikian tidak merugikan Jemaat di masa lalu, dan mereka juga tidak akan pernah menghambat apapun di masa depan, Insya Allah. Sebab, pertolongan dan bantuan Tuhan selalu bersama Hadhrat Masih Mau’ud as dan Jemaat beliau as. Telah kita lihat sejak awal bahwa para musuh (pihak yang memusuhi) selalu saja telah gagal dan merugi, masih saja demikian dan akan selalu demikian, dengan izin Allah. Setiap kali para penentang menyalakan api permusuhan di satu tempat, Allah Ta’ala membukakan seratus tempat baru untuk bertabligh.

Di Algeria (Aljazair), mereka pikir dapat menghapuskan Ahmadiyah. Suratkabar-suratkabar dan media memberikan cakupan berita yang cukup berlimpah tentang hal ini dan materi-materi bohong yang dipublikasikan menentang Jemaat telah disebarluaskan. Memang benar, koran-koran memainkan peran yang menonjol dalam penentangan terhadap kita. Namun, bentuk penentangan (menggunakan media) ini juga sebenarnya menjadi sarana menguntungkan dalam menyebarluaskan dakwah Jemaat Ahmadiyah.

Pada saat ini, Jemaat di Aljazair bukanlah Jemaat yang lama namun Allah Ta’ala menyediakan sarana untuk penguatan iman para anggota di sana melalui penentangan yang mereka hadapi, dan Dia membukakan pintu-pintu baru untuk bertabligh di sana. Para Ahmadi di sana berkata, “Dulu kami gelisah bagaimana mungkin kami bisa menyampaikan pesan Jemaat di Negara kami.” Demikianlah gejolak perasaan mereka. Adapun sekarang Allah Ta’ala sendiri yang membukakan pintu-pintunya bagi mereka untuk bertabligh. Saudara-saudara kita itu mengatakan bahwa sebagian orang memandang dengan negatif terhadap keadaan saat ini – perlu diketahui kebanyakan orang di sana pengikut para Mullah (Ulama) – maka di sana banyak sekali yang menjadi tahu apa itu Jemaat Ahmadiyah dan apa itu dakwa Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka mulai sadar bahwa apapun tindakan yang sedang diambil terhadap para Ahmadi di sana adalah suatu kesalahan. Bahkan banyak dari mereka yang mencari tahu soal Jemaat dan mengumpulkan informasi tentang itu dengan senang hati secara pribadi.

Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda bahwa semua materi yang menentang kita dalam bentuk literatur dan buku-buku sebenarnya mendorong orang untuk membaca buku-buku kita dan menarik perhatian mereka pada membaca buku-buku kita ini.[3]

Lebih jauh, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa ini adalah waktu yang ditakdirkan bagi kedatangan beliau sesuai dengan firman dan perintah Allah, sehingga beliau dapat mengamankan dan menstabilkan bahtera Islam yang bergoyang goyang karena terombang ambing oleh ombak. Beliau as bersabda, “Tanda terbesar bagi seorang Nabi, Rasul dan Mujaddid yang benar ialah mereka datang tepat pada waktunya dan saat sepenuhnya diperlukan.” Lalu beliau as bersabda ditujukan kepada para penentang, “Hendaknya orang-orang bersumpah bukankah musim itu datang untuk menyempurnakan apa-apa yang telah disiapkan di langit?”[4]

Namun, para penentang juga mengetahui dengan baik bahwa keadaan umat Muslim sekarang menuntut kedatangan seorang Mushlih (pembaharu). Mereka menerbitkan soal ini di suratkabar-suratkabar dan berkata di berbagai pidato juga dan bersaksi bahwa pasti seseorang akan datang untuk memperbaiki keadaan umat Muslim. Namun mereka mengatakan hal itu, “Pembaharu itu harus bukan Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian.” Ringkasnya, mereka tidak menerima orang yang mendakwakan diri dari Allah Ta’ala bahkan menolak dan memusuhinya. Inilah yang dilakukan oleh para Ulama di tiap tempat, khususnya di Negara-negara Islam, sebagaimana telah saya katakan sebelumnya. Namun, kita lihat yang sebaliknya dari itu, Allah Ta’ala menolak kecuali menyebarkan dakwah beliau as di seluruh dunia dan ingin agar orang-orang menerimanya. Dan, Dia menetapkan itu dengan perbuatannya dalam corak itu tatkala ratusan ribu orang masuk ke dalam Jemaat tiap tahun meski terdapat penentangan.

Hal ini adalah dalil dukungan dan pertolongan Ilahi terhadap Jemaat dan Hadhrat Masih Mau’ud as. Ada banyak orang yang menuliskan kisah pribadi mereka tentang bagaimana mereka bergabung dengan Jemaat dan ketika membaca kisah kisah tersebut, seseorang tidak bisa tidak menjadi kagum dan takjub tentang bagaimana Allah Ta’ala menyediakan sarana untuk penerimaan (Jemaat dan Hadhrat Masih Mau’ud as) bagi semua orang yang bertabiat beruntung. Akan saya sampaikan beberapa kisahnya.

Kisah pertama yang hendak saya jelaskan adalah dari Algeria (Aljazair) yang tengah menghadapi penentangan. Orang yang menulis kisah tersebut mengatakan, “Lama sekali sebelum saya mengenal Jemaat, suatu malam saya melihat dalam mimpi saya bersama banyak orang yang berada di sebuan antrian panjang di sebuah ruangan yang sangat luas dan mempunyai atap sangat tinggi. Di sebuah sudut antrian terdapat dua orang dan tiap orang dari antrian menyalami salah satunya yang berdiri di sisi kanan dari kedua orang tersebut lalu mengarah ke pintu ruangan. Seolah-olah antrian tersebut ialah untuk menjabat tangan salah seorang dari dua orang itu. Saya melihat pemandangan ini dari jauh dan berkata dalam hati, ‘Mengapa orang-orang menjabat tangan salah seorang saja dengan hangat dan mengapa mereka tidak menjabat tangan keduanya?’

Ketika telah mendekat saya lihat salah satu dari dua orang tersebut berjanggut putih sedangkan orang yang ada di sebelah kanannya bertinggi sedang, warna kulitnya serupa dengan warna gandum dan rambut serta janggutnya berwarna hitam. Ketika telah sampai giliran saya, saya mengulurkan tangan saya ke orang pemilik janggut putih lalu ia membimbing saya ke orang yang memiliki janggut hitam dan berwarna kulit gandum dan berkata keapda saya, ‘Ucapkanlah salam kepada beliau. Jabatlah tangannya dengan hangat.’

Keadaannya hati saya mulai dipenuhi kecintaaan padanya. Orang itu melihat saya dan tersenyum. Senyumnya begitu kuat sehingga menyihir saya sampai saya tidak melupakan itu hingga sekarang.

Setelah saya diperkenalkan dengan Ahmadiyah dan mulai menonton MTA, dalam beberapa hari pertama saya ditunjukkan sebuah foto Hadhrat Masih Mau’ud as. Kemudian, saya pun mulai teguh menonton Khotbah Jumat Anda (Hudhur atba). Melihat Anda membuat saya teringat mimpi saya melihat dua orang sosok. Orang berjenggot putih yang saya lihat dalam mimpi adalah Anda sedangkan orang berjenggot hitam ialah Hadhrat Masih Mau’ud as yang mana orang-orang menjabat tangan beliau as. (Saya [Hudhur atba] pun dalam mimpi menunjukkan kepadanya agar menjabat tangan beliau as)

Setelah itu, saya segera menghubungi para Ahmadi melalui internet dan menanyakan beberapa hal lalu setelah saya menerima jawaban yang menentramkan, saya pun berbaiat.”

Lalu, ada kisah seorang lain yang dari kisah baiatnya bahwa Allah Ta’ala ingin membimbingnya ke dalam Jemaat Masih Mau’ud. Allah menyintai kebaikan padanya. Beliau dari Mesir. Namanya Tn. Abdul Hadi. Beliau menceritakan, “Saya kenal Ahmadiyah melalui memirsa MTA bahasa Arab (MTA 3).”

(Setiap kali menyaksikan MTA, ia takjub namum belum paham soal kenabian pendiri Jemaat dan keadaan beliau sebagai penerima wahyu dan ilham. Beliau masih meragukan kenabian Hadhrat Masih Mau’ud as)

Beliau berkata, “Saya mencoba mengontak ‘Al-Hiwar al-Mubasyar’ (Acara dialog langsung di MTA 3) namun saya tidak berhasil setiap kali kontak. Tujuan saya mengontak hanya ingin bertanya dengan jawaban ‘Iya’ atau ‘Tidak’. Pertanyaan saya ialah apakah pendiri Jemaat itu ma’shum (terjaga dari dosa) dan menerima wahyu seperti para Nabi lainnya?

Jika saya mendapat jawaban ‘Iya’ dari stasiun televisi ini maka akan saya hapus saluran ini dari daftar yang harus saya tonton. Hal demikian karena saat itu saya yakin sepenuhnya orang yang mendakwakan diri menerima wahyu berarti bohong. Namun, Allah Ta’ala menakdirkan saya gagal mengontak redaksi program itu. Akibatnya, saya tetap menonton MTA. Saya pun paham sedikit demi sedikit tentang masalah Khatamun nubuwwah juga sampai tidak tersisa sedikit pun jalan bagi saya kecuali berbaiat kepada Imam Zaman, Masih Mau’ud yang merupakan Mahdi yang ditunggu. Saya pun mengisi formulir baiat dan mengirimkannya ke Pusat.

Saya juga ingin menyampaikan hal ini kepada orang lain dan memilih teman-teman dekat saya yang saya berprasangka baik mereka akan mendengarkan kata-kata saya. Namun ketika saya sampaikan pesan Ahmadiyah kepada teman-teman saya tersebut, mereka justru bangkit amarahnya tidak sesuai harapan dan mulai mencaci-maki Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya meninggalkan teman-teman saya itu dan pulang ke rumah dengan langkah berat, penuh kesedihan dan gelisah. Sesampainya di rumah, saya melihat MTA dan sedang dibahas tentang ayat Surah Ali Imran ayat 185 berikut: فَإِن كَذَّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ جَاءُوا بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَالْكِتَابِ الْمُنِيرِ yang maknanya ialah Nabi-nabi terdahulu pun juga didustakan. Hal inilah yang kemudian membuat hati saya tenang.

Saya yakin itu bukan kebetulan melainkan pesan dari Allah Ta’ala bahwa para Rasul telah didustakan senantiasa dan diperolok-olokkan. Jika itu terjadi pada Hadhrat Masih Mau’ud as maka ini bukan hal baru namun seiring dengan apa-apa yang terjadi pada para Nabi, Allah Ta’ala menguatkan dan menolong mereka sehingga mereka menang di dunia. Ini adalah dalil yang jelas atas eksistensi Allah Ta’ala dan kebenaran para utusan-Nya. Dengan pemikiran ini kesedihan saya pun hilang dan timbullah perasaan syukur kepada Allah yang memberi saya taufik baiat kepada Imam Zaman dan tidak menjadikan saya orang yang ingkar kepada beliau as.

Perhatikanlah bagaimana Allah Ta’ala menyelamatkan seseorang yang berfitrah beruntung namun mereka yang belum beruntung belum terbagikan karunia Allah dan belum terkesan dengan pesan Ahmadiyah dan bukan hanya itu saja bahkan dikarenakan kekerasan hatinya membuat mereka termasuk bertindak nekat. Allah Ta’ala menyediakan orang yang baiat sarana-sarana ketentraman bagi orang itu dengan segera. Bukan hanya ketentraman saja bahkan menghapuskan kesedihan yang menimpanya.

Lalu ada kisah tentang seorang wanita yang diberi taufik oleh Allah Ta’ala untuk beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as karena fitratnya yang bersih padahal sebelumnya ia takut kepada orang-orang Ahmadi juga disebabkan pemikiran terorisme yang terjadi di kalangan umat Islam. Namun, meski demikian, Allah Ta’ala menyediakan sarana petunjuk untuknya. Wanita ini seorang Afrika yang tinggal di desa dekat kota Boke, sebuah kota besar di Negara Ghana. Wanita ini bernama Haja Ami Fadiga.

Beliau menceritakan, “Suatu kali Muballigh lokal Jemaat Ahmadiyah datang kepada kami, mengabari kami mengenai Jemaat dan mengundang kami Jalsah Salanah yang akan diselenggarakan di sana beberapa hari ke depan. Pesannya bagus tampaknya. Saya ingin menghadiri Jalsah dan mengisi mobil dengan bahan bakar penuh.” (Meski tinggal di kampung, ia termasuk orang kaya)

Disebabkan kenyataan adanya organisasi radikal di kalangan umat Islam yang melakukan amaliyah (aksi) terorisme pada hari-hari itu maka saya pun berpikiran Jemaat Ahmadiyah juga teroris dan tidak saya ketahui apa yang mungkin terjadi jika saya mewujudkan keinginan menghadiri Jalsah. Namun, saya berdoa: ‘Ya Allah, jika Jemaat ini benar maka datangkanlah lagi orang-orang itu ke kampung saya.’” Lalu, kehendak Allah bahwa tidak berapa lama tim Tabligh Jemaat datang ke kampung itu lagi untuk bertabligh.

Saat wanita tersebut melihat mereka seketika itu juga ia menangis gembira dan berkata, “Allah mengabulkan doa saya maka saya akan baiat. Saya ceritakan kepada mereka semua dan bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah.”

Bagi sebagian orang, Allah Ta’ala memberikan kebaikan-Nya kepada mereka maka melalui manfaat keuangan, sekaligus Dia juga memajukan keimanannya dan menganugerahinya taufik menerima utusan-Nya. Namun, [memperolah uang] ini bukanlah persyaratan [keimanan]. Sebagian orang menulis bahwa si Fulan berkata, “Jika saya memperoleh manfaat tertentu atau pekerjaan saya sukses maka saya akan menerima Ahmadiyah.”

Ketahuilah, masuk kedalam Jemaat ini bukan telah berbuat jasa baik kepada Allah Ta’ala dan tidak pula terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Sesungguhnya bergabungnya seseorang ke Jemaat ialah guna membuat baik kehidupan duniawinya dan akhiratnya. Maka dari itu, suatu keharusan untuk mendengarkan dakwah ilaLlah, memahaminya dan menerimanya. Ringkasnya, saat Allah Ta’ala ingin memberikan karunia-Nya kepada seseorang di suatu waktu, maka Dia menerima syaratnya juga dan membuatnya terjadi.

Tn. Amir Jemaat di Gambia menuliskan laporan, “Seorang wanita, Ny. Suntu, yang tinggal di sebuah desa di daerah Niabini menentang Jemaat dengan parah. Kapan saja kata Jemaat diucapkan di depannya, ia akan menjadi sangat marah dan akan menggunakan Bahasa yang sangat kuat menentang Jemaat. Ia akan mengatakan orang-orang Jemaat adalah kafir. Jemaat pasti akan masuk neraka. Dan bahkan siapapun yang masih menjalin ikatan dengan Jemaat juga akan ditakdirkan masuk neraka. Wanita tersebut adalah seorang petani dan memiliki lahan, namun tanamannya rusak terus dalam dua tahun terakhir, apakah karena hama atau binatang lain, namun ia tidak mengerti kenapa hal ini terjadi.

Seorang wanita Ahmadi berkata kepadanya, ‘Semenjak Anda mulai menentang Jemaat, tanaman Anda tidak tumbuh, karena itu, Anda harus berhenti menentang Jemaat dan masuk ke dalam Jemaat. Kemudian, Allah Ta’ala akan menurunkan karunia bagi tanaman Anda.’

Wanita tersebut mengerti dengan cepat dan setuju untuk bereksperimen dengan hal ini. Wanita tersebut, bersama dengan 8 anggota keluarganya menerima Ahmadiyah, dan melihat bahwa sejak masuk ke dalam Jemaat, Allah Ta’ala telah merahmatinya dengan berlimpah. Tidak hanya tanamannya mulai tumbuh dengan baik dan banyak, namun dia juga dapat berkomunikasi kembali dengan salah satu putranya yang telah kehilangan kontak bertahun-tahun dan telah tinggal di Italia, Sekarang, wanita tersebut mengatakan kepada semua orang untuk masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah karena di dalam Jemaat ini terdapat sarana-sarana bagi keselamatan seseorang.

Seorang mubaligh kita dari Benin menuliskan, “Pada tahun ini hujan turun dengan sangat deras secara ektrim selama musim hujan di kota Bassila. Dan sebagai akibatnya, salah satu dinding ruang misi terlihat akan ambruk. Hujan terus turun bahkan selama malam hari dan ada bahaya dinding kedua dari rumah misi tersebut juga mungkin akan ambruk. Saya benar-benar khawatir akan kehilangan rumah misi Jemaat dan karena itu saya berdoa: ‘Ya Allah, pulihkanlah kehilangan ini lewat pembaiatan-pembaiatan dan berkatilah kemajuan Jemaat.’ (pemikiran demikian hanya dapat terpikir oleh para muballigh kita) Saya bahkan belum menyelesaikan doanya karena ada bunyi telepon. Waktu itu menunjukkan jam 12 malam dan hujannya sangat lebat dan juga ada petir menyambar.

Saya mengangkat teleponnya dan ternyata telepon tersebut dari seorang pria bernama Mohammad dari desa Gucha dan ia berkata bahwa orang-orang dari desanya ingin melakukan Bai’at. Desa ini terletak 110 km dari rumah misi.” Muballigh tersebut berkata, “Hari berikutnya atau beberapa hari kemudian, saya pergi ke desa mereka dan 198 orang berbai’at dan masuk dalam Jemaat. Dan meskipun fakta bahwa mereka menghadapi penentangan ekstrim, mereka dengan kokoh dan kuat mengikat diri mereka dalam iman.”

Muballigh kita di Jerman menuliskan laporan, “Saya menjalin komunikasi dengan sebuah keluarga Suriah sejak setahun lalu. Keluarga ini juga menghadari Jalsah Salanah juga dan merasakan atmosfir Jalsah. Mereka sangat berkesan namun belum baiat. Mereka mengatakan datang ke Jerman lewat jalan Italia. Pengacara kita mengatakan bahwa status mereka sangat lemah dan mungkin akan dikembalikan ke Italia oleh pemerintah.

Mereka berkata, ‘Kami berharap berdasarkan hal itu, kami menerima pesan dari pengadilan soal kepulangan kami ke Italia. Namun, ketika kami pulang ke rumah, kami menemukan pesan dari pengadilan yang menuliskan keputusan hakim bahwa mereka tahu kami datang ke Jerman lewat Italia namun karena kami orang Suriah maka tidak diperlukan deportasi kami keluar Jerman ke tempat lain.’ Mereka berkata, ‘Ini hal yang sangat penting. Ini mukjizat yang kami dapat. Kami terbetik dalam benak pikiran bahwa ini sebagai keberkatan kehadiran kami di Jalsah. Saya mengabarkan pada istri saya bahwa saya telah melihat mukjizat sebagai kehadiran kami di Jalsah Salanah.’ Dikarenakan pandangan ini kuat di hati mereka bahwa itu dengan berkat Jemaat maka mereka memutuskan untuk berbaiat segera bergabung dengan Jemaat.”

Demikianlah, Allah Ta’ala memberi petunjuk manusia dengan cara-cara yang paling unik dan mengherankan. Meskipun saya telah banyak menceritakan banyak peristiwa yang terjadi di Afrika dan juga telah menyebutkan bertabligh di area-area tersebut adalah sangat sulit, namun beberapa orang berpikiran karena orang-orang di Afrika tidak begitu berpendidikan dan miskin sehingga mereka dengan mudah menerima Ahmadiyah.

Namun, pemikiran ini benar-benar salah sama sekali. Orang-orang yang dijuluki ‘para ulama’ dari orang-orang yang kurang berpendidikan ini telah menjerat mereka dalam berbagai jenis ritual dan bid’ah-bid’ah berbahaya dan merugikan untuk menjaga mata pencaharian mereka dan menegakkan ke-eksklusifan mereka. Mereka yang mengikuti para ‘ulama’ ini juga tidak ingin melepaskan diri dari mereka (para ‘ulama’) ini dan karena hal inilah Jemaat kita menghadapi penentangan. Ini telah saya sebutkan di beberapa kesempatan yang telah saya kisahkan juga tentang orang-orang di Afrika yang menentang Jemaat.

Oleh sebab itu, mengimani Ahmadiyah bukanlah sesuatu yang mudah bahkan termasuk juga di Afrika. Namun Allah Ta’ala terus menyediakan sarana-sarana bagi petunjuk mereka dan Dia juga mengungkapkan kepada para Mubaligh dan Mualim tentang bagaimana seharusnya jalan-jalan mereka bertabligh.

Seorang Muballigh kita di Pantai Gading menuliskan sebuah peristiwa: “Muballigh lokal kita pergi ke sebuah desa di San Pedro untuk bertabligh yang hasilnya ialah 15 orang berbaiat bersama Imam di kampong itu. Setelah itu mereka datang ke Jalsah Salanah di Pantai Gading untuk melihat Jemaat lebih dekat guna menambah keyakinan mereka. Mereka sangat senang menghadiri Jalsah dan bermaksud menyerahkan sebidang tanah untuk Jemaat.

Mereka dulunya mengikuti seorang Imam Besar yang berdiam di kota. Oleh karena itu mereka belum melaksanakan shalat Jumat karena Imam yang ada di kampung mereka masih dianggap Maulwi kecil (Imam kecil). Di kampungnya ada kebiasaan bahwa pada hari Jumat untuk mendatangkan Maulwi besar guna mengimami shalat Jumat maka warga harus menyembelihkan sapi atau domba lalu menyediakan hidangan ke Maulwi besar tadi. Tanpa itu maka tidak boleh shalat Jumat. Ada-ada saja bid’ah aneh yang mereka buat ini. Imam besar ini memakan berbagai hidangan dari berbagai wilayah. Jika hidangan itu ada maka ia akan datang untuk mengimami shalat Jumat.

Dikarenakan tradisi bid’ah ini, orang-orang pun menjadi terhalang melakukan kewajiban asasi seorang beriman yaitu melaksanakan shalat Jumat padahal tercantum dalam Hadits siapa yang tidak shalat Jumat tiga kali berturut-turut, hatinya tertimpa titik hitam.[5]

Bagaimanapun, syariat seperti ini khusus untuk para Maulwi itu. Ketika Imam kecil di kampung tersebut diberitahu bahwa ia tidak memerlukan hal-hal seperti itu untuk shalat Jumat maka ia pun kembali ke kampungnya dan berubah menerangkan kepada orang-orang bahwa mereka bisa melakuan shalat Jumat dan tidak halangan apa pun dalam hal itu. Tidak perlu lagi menyediakan seperangkat hidangan bagi Imam besar terlebih dahulu baru bisa melakukan shalat Jumat. Namun, orang-orang kampung yaitu yang belum baiat menentang pemikiran itu dan mereka tidak mengizinkan Imam itu untuk Shalat Jumat di Masjid mereka. Lalu sang imam mendirikan sebuah balai sederhana dari jerami untuk sementara waktu dan ia Shalat Jumat bersama beberapa Ahmadi. Namun, penentang berbuat rusuh dan menghancurkan balai tersebut.

Saya pun pergi bersama Muballigh lokal dan beberapa Ahmadi ke ketua kampung dan kami ceritakan semua hal itu. Ketua kampung memerintahkan bila para pengurus Masjid itu tidak mengizinkan para Ahmadi shalat di dalamnya maka mereka dapat shalat di tempat lain. Jika shalat didirikan di dua tempat berbeda maka orang-orang-lah yang akan menentukan masjid mana yang lebih baik shalatnya. Shalat Jumat telah mulai didirikan di kampung itu secara teratur berkat Ahmadiyah. Para Ahmadi teguh dalam iman mereka dengan kuat dan kokoh. Mereka shalat Jumat di tempat sendiri sekarang meski ada penentangan.

Allah Ta’ala memberi petunjuk banyak orang lewat mimpi-mimpi dan orang orang mengalami bentuk petunjuk ini di setiap bagian dunia. Seorang Muballigh di India menuliskan tentang sebuah peristiwa penerimaan Ahmadiyah oleh seseorang yang belum lama ini masuk Ahmadiyah (Mubayyin Baru) di Kannur Kerala, “Mubayyi’ baru ini tadinya mengalami kesulitan saat sebelum baiat. Seseorang memberitahunya bahwa membaca shalawat adalah sebuah solusi untuk menghapus kekhawatirannya dan ia harus membaca Shalawat banyak-banyak. Kemudian ia mulai untuk membaca sholawat. Suatu malam ia bermimpi melihat makam Rasulullah saw dan juga melihat sebuah kuburan kosong. Dalam keadaan ini, seseorang kemudian datang dan berkata, ‘Muhammad Rasulullah saw telah bersabda, “Saya akan bertemu anda dengan sangat segera.”’

Ia menceritakan mimpi ini kepada seorang Maulwi non-Ahmadi dan ia berkata, ‘Ini adalah sebuah mimpi yang sangat dirahmati. Anda akan mendapatkan status yang sangat mulia.’

Beberapa hari setelah mengalami mimpi ini, ia bertemu seorang Ahmadi ketika bepergian ke suatu tempat. Orang Ahmadi tersebut mengatakan kepadanya untuk mengunjungi Masjid Nur di daerahnya. Jadi, suatu hari, ia pergi ke masjid Nur di daerahnya dan mengikuti Shalat Jumat. Lewat Shalat dan Khotbah Jumat ini ia diperkenalkan mengenai Jemaat dan mulai membaca literatur-literatur Jemaat. Ia kemudian Baiat dan bergabung dengan Jemaat. Ia berkata, ‘Sudah jelas bukti makna mimpi bertemu dengan Rasulullah saw dengan sangat segera adalah saya akan bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah.’”

Mubaligh Jemaat dari Benin melaporkan: “Seorang Muballigh kita, Tn. Jibrail bertabligh melalui program-program penyiaran di radio lokal. Di salah satu programnya, suatu hari seorang perempuan menelpon, ‘Saya sedang bingung, dikarenakan saya seorang Muslim sedangkan keluarga saya Kristen. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan mereka bahwa orang-orang Islam juga sedang menunggu Almasih datang lagi untuk membimbing mereka dan mereka mendapat petunjuk melalui dia.’Lalu perempuan tersebut memohon agar Mualim bisa datang ke kampungnya untuk bertabligh. Akhirnya tim Tabligh datang ke sana beberapa waktu setelah Jalsah dan 227 orang telah baiat di desa itu bergabung dengan Jemaat.

Sejauh mana para Ulama berusaha menjauhkan orang-orang dari Jemaat dengan intimidasi dan ancaman namun Allah memberi taufik kepada orang-orang untuk menerima Ahmadiyah dampak dari usaha para Ulama ini. Ada sebuah peristiwa dalam corak ini dan saya hendak menyajikan satu contohnya.

Seorang dai Ahmadi di kota Mporokoso di wilayah utara Zambia menuliskan laporan, “Saya mendirikan sebuah cabang Jemaat di sini pada tahun lalu. Para ulama mengadakan sebuah Ijtima (perkumpulan) dan mengundang orang dari berbagai wilayah. Diantara mereka terdapat Tn. Muhammad Sa’id yang ada kontak dengan Jemaat kita dan belum pernah baiat. Ulama tersebut berpidato di Ijtima itu, ‘Kita tidak mampu melihat orang-orang Qadiani maju di berbagai keadaan. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mengikuti mereka di tiap tempat mereka pergi. Kita akan menakut-nakuti mereka dan mengancam mereka. Dan jika orang-orang tidak mau menjauhi Ahmadiyah dan kita terpaksa membunuh mereka maka kita pun akan membunuh mereka.’

Tn. Sa’id juga diberitahu supaya memutuskan hubungan dengan orang-orang Ahmadi segera. Mereka telah tahu ia punya kontak dengan orang-orang Ahmadi. Maka ia berkata, ‘Kalian mengancam saya. Baik. Dengar, saya akan baiat (masuk Jemaat).’ Selain itu, sejumlah 25 orang juga menyatakan baiat dari kalangan penduduk kota setelah Ijtima itu karena setelah diancam dan ditakut-takuti malahan menjadi jelas kebenaran bagi mereka. Baiat pula sejumlah lebih besar dari Ahmadi sebelumnya dan dengan itu jumlah Ahmadi bertambah di sana.”

Inilah yang juga terjadi di Aljazair. Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, orang-orang menjadi lebih banyak kenal tentang Jemaat dan penduduk di sana beranggapan di masa datang orang-orang akan menerima Ahmadiyah dalam jumlah yang banyak dan jangkauan yang luas. إن شاء الله Insya Allah.

Tn. Amir Jemaat Tanzania juga menulis sebuah peristiwa. Dia menyatakan: “Sebuah Jemaat lokal telah ada di Nyangamara sudah lama, namun hanya ada dua rumah tangga yang Ahmadi. Tahun ini (2016), dengan bantuan dari para anggota lokal Jemaat, upaya yang terpadu telah dibuat untuk bertabligh, yang mana mereka menjelaskan pentingnya Khilafat kepada semua tamu yang hadir. Sebagai konsekwensinya, banyak orang mendamba rindu untuk bertemu Khalifah. Mereka meminta seorang warga non Ahmadi yang memiliki antena parabola untuk menyetel MTA. Ketika mereka menyalakan TV-nya dan orang-orang berkesempatan untuk melihat Khalifatul Masih (atba), hal ini memuluskan jalan baru untuk menyebarkan pesan Jemaat.”

Ia menyatakan: “Bulan berikutnya (tahun laporannya, yaitu 2016), delegasi kami mengunjungi lagi desa tersebut, namun seorang pemuka agama di sana mulai menyebabkan keributan selama kunjungan tersebut sehingga kami takut programnya tidak akan berhasil. Namun, karena pertolongan Allah semata, setelah program tersebut berakhir dan sesi tanya-jawab telah selesai, banyak warga desa tersebut yang belum menerima Ahmadiyah berkata kepada si pemuka agama tersebut: “Jika para Ahmadi adalah kafir, maka kami juga adalah para Ahmadi, Anda dapat meninggalkan desa ini, karena para Ahmadi tidak akan pergi ke manapun.”

Demikianlah, karena tindakan-tindakan penentangan si pemuka agama tersebut, malah lebih banyak orang yang tertarik kepada Ahmadiyah. Sebagai hasilnya, kemarin, 38 orang telah beruntung menerima Ahmadiyah dan diantara mereka yang melakukan Bai’at, satu orang menyumbangkan sebidang lahan untuk pelayanan Jemaat. Seorang Mubayin Baru lainnya berkata bahwa karena rumahnya berukuran layak dan juga berdekatan dengan para anggota Jemaat lainnya, rumahnya dapat digunakan untuk sholat berjamaah sampai masjidnya dibangun. Sekarang, setiap hari para anggota Jemaat di desa tersebut berkumpul dan melaksanakan sholat mereka di rumahnya.”

Ada banyak kejadian seperti ini dimana usaha-usaha dibuat untuk menjauhkan orang-orang dari Ahmadiyah melalui permusuhan atau godaan. Namun, ini adalah pekerjaan Allah Ta’ala yang sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah sabdakan, “Kita membuat kemajuan setiap hari.” Banyak orang tahu sendiri tentang Ahmadiyah dan mengontak para Ahmadi. Dengan menyaksikan kejadian-kejadian demikian kita juga adalah saksi terpenuhinya sabda Hadhrat Masih Mau’ud as.

Beliau as bersabda, “Ketahuilah! Allah Ta’ala Sendiri yang menyelesaikan semuanya. Angin dingin berhembus dan rancangan-rancangan Allah Ta’ala terpenuhi dengan bertahap”. (Itu pasti akan terpenuhi. Tapi, setahap demi setahap kita lihat terpenuhi dan masih akan terpenuhi insya Allah. Orang-orang Muslim harus merenung apa yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bukannya menentang beliau as. Beliau as telah bersabda mengenai mereka.) “Sehingga walau pada tangan kami belum ada dalil satu pun maka bersamaan dengan itu suatu kewajiban bagi umat Muslim untuk memeriksa keadaan-keadaan zaman ini, berjalan bak orang tergila-gila di bumi dan mencari tahu serta merenung mengapa belum datang juga seorang Al-Masih penghancur salib hingga sekarang?” (artinya, termasuk kewajiban mereka untuk mencari Al-Masih bukannya memusuhinya sebab zaman menuntut pencarian ini)

Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut bersabda: “Jika para pemuka agama memikirkan kesejahteraan dan kepentingan orang-orang, mereka tidak akan pernah meneruskan untuk memperlakukan saya dengan cara yang telah mereka buat. Mereka harus merenungkan mengapa dengan sengaja mengeluarkan keputusan fatwa menentang saya. Namun, siapa yang dapat mencegah hal yang terjadi yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala? Sebenarnya mereka yang menentang kita itu ialah agen kita. Sebab, mereka menyampaikan ke timur dan ke barat mengenai urusan kita.”[6]

Tampak nyata dari beberapa peristiwa yang telah saya jelaskan diantaranya di Aljazair – sebagaimana juga di Pakistan – orang-orang lebih banyak mengenal Ahmadiyah dikarenakan adanya penentangan. Oleh karena itu, hendaknya tidak takut, baik itu di Aljazair maupun di Pakistan atau di Negara Islam lain mana pun juga. Pesan kita lebih banyak tersebar dibanding sebelumnya melalui para penentang itu dan pengenalan Ahmadiyah menjadi luas jangkauannya.

Para penentang atau para Ulama seharusnya merenungi sabda Hadhrat Masih Mau’ud as: “Ingatlah, jika kalian tidak menerima saya, maka kalian tidak akan pernah dianugerahi kesempatan untuk menerima orang lain yang dijanjikan selamanya. Saya menasehati kalian untuk jangan pernah membuang ketakwaan dari tangan kalian. Renungkanlah perkataan ini dengan rasa takut pada Allah. Pikirkanlah diam-diam secara sendiri dan berdoalah kepada Allah. Dia adalah Maha Pengabul doa-doa.”[7]

Jika kalian berdoa kepada-Nya dengan niat yang benar maka pasti Dia akan mendengar doa-doa kalian dan membimbing kalian. Semoga Allah memungkinkan orang-orang ini menjadi layak untuk menerima petunjuk yang disampaikan-Nya dan semoga Dia membuka hati mereka.

Setelah shalat Jumat, saya akan mengimami shalat jenazah untuk Tn. Haji Nuh Svend Hansen, seorang Ahmadi Denmark. Beliau wafat kemarin lusa. إنا لله وإنا إليه راجعون Almarhum lahir pada 28 Juni 1929 di Kopenhagen. Dulunya beliau anggota Gereja Lutheran. Beliau sangat dipengaruhi oleh filsuf dan pembaharu Denmark terkenal yang bernama Grundtvig. Beliau dari keluarga petani. Beliau lulus dari Universitas Teknologi Denmark dan mendapat gelar Magister di bidang Engineering Chemistry. Beliau lalu pindah ke Malaysia untuk bekerja.

Beliau menerima Islam pada tanggal 26 Januari 1956. Pada awalnya beliau menerima Islam karena seorang wanita yang akan dinikahinya. Namun, setelah mempelajari Islam secara seksama dan menyeluruh, semenjak itu beliau menerima ajaran Islam sepenuh hati dan mulai mengamalkannya. Pada tahun 1964, beliau melaksanakan ibadah haji untuk pertama kalinya ditemani istri beliau. Di sana beliau berdoa dengan ekstensif supaya Allah Ta’ala memaafkan kelemahan-kelemahan beliau dalam berhaji dan memberikan taufik berhaji untuk kedua kalian setelah kemajuan keruhanian beliau. Allah Ta’ala menerima doa beliau dengan memungkinkan beliau bergabung ke dalam Ahmadiyah.

Setelah berliau bergabung ke dalam Ahmadiyah, beliau melaksanakan ibadah Haji kembali, dan juga ibadah umroh beberapa kali. Pada 1965, beliau mengenal Jemaat Ahmadiyah. Saat Caudri Muhammad Zafrullah Khan mengunjungi Denmark untuk wakaf sementara, Almarhum menemani beliau. Beliau terkesan dengan Ahmadiyah dan belum baiat hingga mengajukan kepadanya beberapa pertanyaan. Almarhum pada 1969 mengunjungi Pakistan dan tinggal di kediaman Hadhrat Caudri Muhammad Zafrullah Khan. Di tengah-tengah kunjungan itu beliau juga mengunjungi Rabwah juga dan mendapat kehormatan mengunjungi Hadhrat Khalifah ke-3 rha. Hingga saat itu, Almarhum mendalami Ahmadiyah. Namun, beliau belum puas. Beliau juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada Hadhrat Khalifah selama mulaqat. Almarhum berkata, “Kebenaran Ahmadiyah itu telah jelas.” Dan saat beliau pulang ke rumah, beliau mengirim surat baiat kepada Hadhrat Khalifah ke-3 rha pada 7 April 1969.

Beliau mendapat kehormatan mengunjungi Qadian juga. Di sana, beliau menyampaikan salam dari Nabi Muhammad saw kepada Hadhrat Masih Mau’ud as saat berdiri di pekuburan beliau as. Dari tahun 1974 hingga 1988, beliau melayani Jemaat sebagai Sekretaris keuangan Jemaat Denmark. Beliau memperbaiki sistem di sana dalam hal itu. Pada 1985, Hadhrat Khalifah ke-4 rha menugasi beliau sebagai Amir Jemaat Denmark. Sebelum itu, beliau bertugas sebagai Naib Amir sejak 27 April 1983.

Tn. Hadhrat Caudri Muhammad Zafrullah Khan berkata mengenai Tn. Sven Hansen, “Istrinya seorang Muslimah Malaysia. Tiap orang dari kedua pasangan suami-istri ini bukan hanya sekedar Muslim secara resmi saja bahkan Mukhlish, menjaga shalat dan puasa. Jarang saya lihat orang Muslim asal dari Barat berpegang teguh pada perintah-perintah Islam sampai ke tingkat itu.”

Almarhum mendapat taufik memberikan saham jasa besar dalam pemeriksaan terjemahan Al-Qur’an ke bahasa Denmark dan menerbitkannya dalam edisi baru terrevisi dalam computer pada 1989. Beliau banyak membantu Ustadz Madsen dalam penerjemahan. Beliau menghadiri Jalsah Salanah UK tiap tahun di sini selama beliau sehat hingga sebelum dua tahun lalu.

Saat diselenggarakan Majlis Syura internasional di UK pada masa Hadhrat Khalifah keempat rha, beliau mendapat kehormatan menolong Khalifah dalam kesempatan itu. Beliau penulis di Majalah Jemaat di Negara-negara Skandinavia, ‘Active Islam’. Pada 1981, saat pertama kali terpilih sebagai Za’im Majlis Ansharullah di Denmark, beliau menjadi Za’im dan sibuk dalam tugas itu hingga 1986. Istrinya bukan hanya sekedar non Ahmadi, bahkan penentang keras juga. Namun, Almarhum tetap bersikap simpatik dan sayang kepadanya dan pada waktu yang sama, tidak kosong dalam pengkhidmatan Jemaat juga. Beliau rajin membayar candah dan juara dalam pengorbanan harta. Setiap kali tersedia baginya memberikan lebih dari jumlah yang harus disetorkan dalam rekening khusus. Setelah pensiun ketika beliau meninggalkan Denmark, beliau memberikan mobilnya ke Jemaat.

Dalam menghormati pengorbanan harta beliau, Hadhrat Khalifatul Masih IV (ra) satu kali menulis surat: “Pengorbanan harta yang dilakukan oleh Tn. Sven Hansen layak ditiru. Dengan rahmat Allah Ta’ala, sejak awal beliau seorang mukhlish, pengorban dan teladan dalam melakukan pengorbanan harta. Tidak pernah perlu diingatkan mengenai hal ini.

Semoga Allah memungkinkan para anggota Jemaat lain untuk menjadi sepertinya. Jika ini terjadi, maka tugas dari Sekretaris Maal hanyalah mencatat saja dan tidak akan pernah harus menghabiskan waktu untuk mangingatkan para anggota agar membayar candah. Semoga Allah memungkinkan hal ini terjadi.”

Sekarang setelah shalat Jumat, saya akan mengimami shalat jenazah gaib Almarhum. Semoga Allah mengangkat derajat Almarhum dan semoga istri dan anak-anak beliau dikaruniai kesempatan untuk bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah dan mengamalkan ajaran-ajarannya.

[1] Malfuzhat, jilid 1, halaman 206, edisi 1985, terbitan UK

[2] Malfuzhat, jilid 1, halaman 189-190, edisi 1985, terbitan UK

[3] Malfuzhat, jilid 1, halaman 398, edisi 1985, terbitan UK

[4] Malfuzhat, jilid 1, halaman 397, edisi 1985, terbitan UK

[5] Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, jilid 5, h. 339, Hadits Abil Ja’ad adh-Dhamiri, hadits 14951, terbitan Alamul Kutub, Beirut 1998. Hadhrat Rasulullah saw bersabda mengenai hal ini, مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ ، طَبَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى قَلْبِهِ “Mereka yang meninggalkan shalat Jumat selama tiga kali berturut-turut dengan
menganggap enteng dan tanpa ada halangan apa-apa maka Allah akan menutup dan menyegel hati mereka.

[6] Malfuzhat, jilid 1, h. 397, edisi 1985, terbitan UK.

[7] Malfuzhat, jilid 7, h. 176, edisi 1985, terbitan UK.