Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 25 Juli 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

Sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini sangat cepat sekali berlalu. Di dalam sepuluh hari terakhir ini perhatian orang-orang Muslim tertuju kepada dua perkara, atau mereka menganggap dua perkara itu sangat penting sekali; pertama لیلتہ قدر Lailatul Qadr, kedua الودع جمعتہ Jumu’atul Wida atau Jumu’ah pelepasan, Jumu’ah terakhir bulan Ramadhan. Lailatul Qadr mempunyai kedudukan murni dan jelas yang dapat dibuktikan dari riwayat Hadhrat Rasulullah saw dan dijelaskan di dalam Hadis bahkan di dalam Al-Qur’an juga terdapat penjelasannya. Tetapi, Jumu’atul Wida adalah rekayasa orang-orang Muslim atau para Ulama Islam yang penjelasannya tidak benar. Saya akan menerangkan kedua perkara itu dengan mengambil sumber dari Khotbah Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II r.a.

Berkenaan dengan terjadinya Lailatul Qadr terdapat sejumlah riwayat hadits yang menjelaskan tanggal turunnya yang berbeda-beda. Di antaranya ada yang memberitahukan terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan. Ada yang mengatakan pada malam tanggal 23 Ramadhan dan ada juga yang mengatakan pada malam tanggal 27 Ramadhan. Namun pada umumnya dikatakan bahwa Lailatul Qadar ini harus dicari pada malam-malam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Pendek kata, Lailatul Qadr adalah perkara yang pasti dan kepastiannya juga telah dijelaskan oleh Hadhrat Rasulullah saw, bahkan beliau telah diberi tahu oleh Allah Ta’ala ketentuan tanggal turunnya yang pasti. Di dalam Lailatul Qadr Allah Ta’ala memperlihatkan kepada orang mu’min sejati pengabulan do’anya secara khas dan pada umumnya pada malam itu do’a-do’a didengar dan dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Tetapi, dari Riwayat Hadis diketahui bahwa disebabkan kesalahan dua orang muslim Hadhrat Rasulullah saw menjadi lupa tanggal turunnya yang telah ditetapkan itu. Mengetahui waktu tepat terjadinya Lailatul Qadr itu bukan perkara kecil. Dan secara naluri (qudrati), telah tercetus keinginan di dalam kalbu Hadhrat Rasulullah saw bahwa malam tertentu yang telah Allah Ta’ala beritahukan itu, agar diberitahukan pula kepada para pengikut beliau.

Terdapat riwayat di dalam Hadis bahwa ketika malam tertentu itu telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala kepada beliau saw, dengan rasa gembira beliau pergi dari rumah untuk memberitahukannya kepada para pengikut beliau agar mereka mendapat banyak faedah dari padanya. Namun di perjalanan beliau menjumpai dua orang Muslim sedang bertengkar atau berkelahi dengan sengit sekali. Kemudian beliau pun sibuk melerai mereka yang sedang berkelahi itu, akibatnya tanggal atau malam yang telah ditetapkan itu hilang dari ingatan beliau. Nampaknya Hadhrat Rasulullah saw cukup lama menggunakan waktu untuk melerai kedua orang yang sedang berkelahi itu. Namun ketika menyadari bahwa beliau datang untuk memberitahukan tanggal dan malam turunnya Lailatul Qadr itu, beliau sudah betul-betul lupa.[2]

Hadhrat Muslih Mau’ud, Khalifatul Masih II r.a. menulis, “Dari Hadis dapat diketahui bahwa beliau saw bukan lupa, melainkan Allah Ta’ala sendiri telah mencabut-nya kembali dari ingatan beliau saw.”

Maka, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Disebabkan perkelahian itu Allah Ta’ala telah mencabut-nya kembali dari ingatan saya. Oleh karena itu sekarang tidak dapat lagi ditetapkan waktunya, melainkan carilah di dalam sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan dalam malam-malam ganjil, bukan pada malam-malam yang genap.”

Dari hal itu dapat diketahui bahwa point yang dijelaskan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. itu sangat penting sekali. Jadi, malam yang telah ditetapkan mengenai Lailatul Qadr itu, sekarang kemana perginya? Ia berkaitan erat dengan persatuan dan kesatuan suatu Bangsa atau Kaum. Jadi, point ini sangat penting sekali. Orang-orang Ahmadi ketika mendengar hal ini berkata, “Seandainya tidak terjadi perkelahian dua orang Muslim itu, tentu tanggal-tanggal yang telah ditetapkan itu dapat diketahui.” Tetapi, perhatian manusia sangat kurang terhadap hal itu. Malam-malam atau tanggal yang disebut Lailatul Qadr itu erat sekali kaitannya dengan persatuan dan kesatuan Bangsa atau Kaum. Dan apabila persatuan di dalam suatu Bangsa atau Kaum telah hilang lenyap, maka Lailatul Qadr juga dirampas kembali dari mereka.

Sekarang dengan rasa prihatin kita mengatakan bahwa kebanyakan negara-negara Muslim bernasib malang, mereka sudah tidak bersatu lagi. Rakyat berperang melawan rakyat. Rakyat juga sedang kacau berperang melawan Pemerintah. Dan Pemerintah juga sedang melakukan kezaliman. Seolah-olah persatuan dan kesatuan Bangsa sudah tidak ada lagi, bahkan kezaliman pun sedang memanas di mana-mana. Bahkan kezaliman juga sedang dikerahkan. Maka, sebagai dampak dari hilangnya persatuan dan kesatuan itu, orang-orang Non Muslim semakin berani untuk melakukan tindakan menyerang sekehendak hati mereka. Dan itulah sebabnya Israil juga terus-menerus sedang melakukan pembunuhan secara kejam terhadap orang-orang Muslim Palestina yang tidak berdosa. Jika terdapat persatuan dan kesatuan di kalangan orang-orang Muslim dan melangkah diatas jalan yang telah diberitahu oleh Allah Ta’ala, maka Negara-negara Muslim yang begitu kuat, kezaliman tidak akan terjadi seperti itu. Perang juga mempunyai peraturan tertentu. Orang-orang Palestina tidak mempunyai kekuatan melawan Israel.

Jika memang betul Hamas juga melakukan kezaliman, maka Negara-negara Muslim lain harus berusaha menghentikannya. Gambaran kezaliman yang dilakukan oleh kedua belah pihak itu adalah, seperti satu pihak melakukan kezaliman menggunakan tongkat pemukul sedangkan pihak lawannya melakukan kezaliman menggunakan senjata meriam. Karena baru-baru ini Negara Turki pun secara resmi telah menyatakan berkabung atas situasi di Palestina, maka dengan itu orang-orang Muslim menganggap bahwa kewajiban mereka telah terpenuhi. Begitu juga Western Power (kekuatan Barat) tidak melakukan sesuatu langkah tindakan apapun. Apa yang harus mereka lakukan adalah, mereka harus menekan dengan keras kedua belah pihak untuk menghentikan pertempuran. Kita hanya dapat memanjatkan do’a untuk mereka, semoga Allah Ta’ala menyelamatkan orang-orang mazlum dan ma’sum dari kejahatan pihak orang-orang zalim dan biadab agar keamanan dapat ditegakkan di sana. Begitu juga keadaan di dalam Negara-negara Muslim lainnya sedang berlaku kezaliman kelompok satu dengan kelompok lain dan kekacauan semakin terus meningkat.

Kita do’akan semoga Allah Ta’ala memberi akal kepada mereka. Semoga orang-orang pengucap dua Kalimah Syahadat yang saling bunuh dengan orang-orang pengucap kalimah syahadah yang sama, berdamai dan bersatu kembali. Tanpa melakukan demikian, hak-hak ibadah-ibadah mereka tidak dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan tidak pula keinginan untuk meraih Lailatul Qadar dapat tercapai. Sebab apabila persatuan dan kesatuan suatu Kaum tidak terjamin dan sudah hilang sirna maka Lailatul Qadar-pun dirampas dari mereka, yang tinggal hanya-lah keadaan malam yang pekat, gelap-gulita menyelimuti mereka. Kemajuan pun terhenti oleh berbagai macam kendala.

Makna Lailatul Qadar adalah waktu dimana gambaran nasib manusia diperlihatkan dan diputuskan bagaimana keadaan nasibnya menjelang tahun yang akan datang, sampai dimana dan sejauh mana akan memperoleh kemajuan serta faedah-faedah apa yang akan dia peroleh, bahkan kerugian apa kiranya akan dia hadapi. Keputusan tentang kemajuan manusia senantiasa ditetapkan pada malam hari atau pada masa kegelapan terjadi.

Hadhrat Muslih Mau’ud, Khalifatul Masih II r.a. telah menjelaskan hubungan kemajuan rohaniah manusia dengan kemajuan jasmani-nya dan bersabda, “Dapat diketahui dari Al-Qur’anul Karim bahwa kemajuan jasmani manusia juga berjalan secara bertahap di dalam berbagai masa kegelapan. Kejadiannya di dalam rahim sang ibu semenjak sebelum kelahiran-nya juga berjalan dalam proses berbagai macam tahap kegelapan di dalam kandungan sang ibu itu. Seperti itulah keputusan proses kemajuan jasmani manusia. Jika di dalam masa proses itu tidak dijaga dan dipelihara dengan baik maka bayi akan lemah sekali. Sudah dipastikan bahwa keadaan jasmani sang ibu sangat berpengaruh terhadap keadaan sang bayi. Begitu juga jenis makanan yang disantap oleh sang ibu memberi kesan kepada kesehatan sang anak atau bayi di dalam kandungan. Keadaan akhlaqi sang anak juga tidak akan baik, jika keadaan lingkungan tidak baik. Sehingga anak seorang ibu yang dirundung ketakutan tidak mampu melakukan suatu pekerjaan duniawi yang besar. Bahkan kadangkala disebabkan adanya perasaan takut dari luar menyebabkan kelahiran seorang anak yang berotak lemah. Selama sang ibu mengandung makanan yang baik dan sehat serta lingkungan yang baik juga memberi kesan baik terhadap kesehatan sang anak yang akan lahir. Itulah sebabnya selama perempuan mengandung Islam tidak menghendaki-nya melakukan ibadah puasa. Bahkan ia dilarang melakukannya. Hal itu akan menyebabkan kesehatan sang bayi akan lahir dalam keadaan lemah. Dan itulah juga sebabnya bahwa Syari’at Islam tidak menyukai putusan talaq (cerai) dilakukan dalam keadaan perempuan sedang hamil. Sebab kesedihan dan kerancuan pikiran sang ibu akan berdampak buruk terhadap kesehatan sang bayi yang akan lahir. Dan itulah juga sebabnya bahwa Islam melarang menikahi perempuan yang sedang mengandung sebab desakan syahwat yang keras akan memberi kesan tidak baik terhadap mental sang bayi yang akan lahir.

Islam telah mengajar do’a kepada kedua suami isteri untuk terhindar dari pengaruh khayalan buruk yang akan memberi kesan terhadap sang anak yang akan lahir. Do’a itu harus dipanjatkan oleh kedua suami isteri agar di selamatkan dari pengaruh buruk syetan yang masuk melalui aliran darah kedua pasangan suami isteri itu, agar anak-anak yang akan lahir suci-bersih dari pengaruh syetan.

Karenanya, demi pemeliharaan anak-anak, syariat Islam telah mengajar secara khas sepanjang perkembangan sang bayi di dalam kegelapan kandungan sang ibu. Penjagaan dengan cermat terus berlangsung selama proses dalam kegelapan di dalam kandungan sang ibu masih berjalan terus. Begitu juga di hari-hari sang ibu masih menyusui anaknya, pemeliharaan seperti itu harus mendapat perhatian penuh. Sebab pada hari-hari itu sang anak belum mempunyai perhatian terhadap dunia, melainkan perhatian sepenuhnya tercurah terhadap ibunya. Di hari-hari menyusui itu sang ibu juga dilarang melakukan puasa, agar jangan menimbulkan pengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan kesehatan jasmani sang anak. Jadi, sebagaimana proses perkembangan jasmani manusia berlangsung di dalam kegelapan, begitu juga proses perkebangan ruhani berlangsung pada malam hari. Kemajuan rohaniah setiap Bangsa diraih sesuai dengan permulaan pengorbanan Bangsa itu. Dan standar kekalnya atau dirgahayunya kemajuan Bangsa itu merupakan Lailatul Qadr baginya. Dan standar kemajuannya juga adalah Lailatul Qadr baginya. Karena itu Hadhrat Rasulullah saw bersabda: “Seberapa banyak seseorang dicintai oleh Allah Ta’ala sebanyak itu pula ujian atau cobaan ditimpakan kepadanya.”

Maka, kita juga harus ingat bahwa sebagaimana kebanyakan Jemaat sedang banyak menghadapi ujian atau cobaan, sesungguhnya itulah Lailatul Qadr bagi Jemaat kita. Disebabkan cobaan ini Lailatul Qadr hakiki juga, untuk mencarinya dilakukan dengan keras sekali, do’a-do’a harus dipanjatkan lebih keras dari sebelumnya, manusia harus lebih banyak bersujud di hadapan Allah Ta’ala. Apabila sedang menghadapi kesulitan, semua yang dihadapinya itu adalah sebagai training bagi tarbiyyat dan kemajuan ruhani manusia. Akan tetapi jika kita mensia-siakan standar persatuan dan kesatuan, maka faedah dari Lailatul Qadr itu tidak akan dapat diperoleh. Jika kita tidak menganggap pengorbanan sebagai beban, jika kita berpegang teguh kepada persatuan demi meraih ridha Allah Ta’ala maka kita akan menyaksikan banyak lagi peluang kemajuan.

Pendek kata, kita harus menempatkan pokok masalah ini selalu di hadapan kita, bahwa apabila cobaan dan ujian ini telah dilampui dengan penuh sukses maka keputusan mengenai kemajuan kita juga akan sangat luar biasa. Keputusan ada di tangan Allah Ta’ala, Dia Yang mendengar do’a-do’a kita dan Lailatul Qadr juga Tuhanlah Yang akan memperlihatkannya. Maka sangat penting sekali bagi kita untuk menta’ati semua perkara yang menjadi sumber untuk meraih Lailatul Qadr itu. Maka terbitnya fajar setelah malam Taqdir itu juga sangat luar biasa dan akan nampak bersamaan dengan kemenangan yang luar biasa pula. Jadi untuk meraih kemenangan Lailatul Qadr itu kita harus selalu ingat terhadap semua kaidah itu.

Lailatul Qadr juga adalah nama peristiwa pengorbanan yang maqbul di sisi Allah Ta’ala dan tidak ada yang lebih besar dari pada sesuatu yang maqbul di sisi Allah Ta’ala. Kita harus berusaha untuk melakukan pengorbanan-pengorbanan yang maqbul di sisi Allah Ta’ala. Misalnya di dalam Perang Badar selain dari orang-orang kuffar orang-orang Muslim juga ada yang mati. Akan tetapi kematian orang-orang kuffar bukanlah Lailatul Qadr bagi mereka. Sedangkan syahidnya orang-orang Muslim adalah Lailatul Qadr, sebab pengorbanan mereka dinyatakan maqbul oleh Allah Ta’ala. Perlu diingat bahwa suatu kesulitan, cobaan atau kemalangan yang tidak dinyatakan berharga oleh Allah Ta’ala bukanlah Lailatul Qadr, melainkan hukuman atau azab. Akan tetapi suatu kesulitan atau cobaan yang dinyatakan berharga oleh Allah Ta’ala adalah Lailatul Qadr. Misalnya musibah, kezaliman atau penganiayaan yang telah diputuskan oleh Allah Ta’ala untuk dijatuhkan, adalah Lailatul Qadr. Allah Ta’ala telah menetapkan waktu-waktu tertentu bagi manusia, siapa yang melakukan pengorbanan di waktu itu selalu maqbul di sisi Allah Ta’ala.

Jemaat Ahmadiyah sering sekali menyaksikan pengalaman seperti itu dan akan terus-menerus menyaksikannya. Di beberapa negara permusuhan terhadap Jemaat Ahmadiyah sangat keras. Perlawanan yang sangat keras itu memberi kabar suka tentang terbitnya fajar, dimana sebagai natijah dari Lailatul Qadr itu akan lahir anak-anak Ahmadi di setiap Negara bahkan di setiap kota di seluruh dunia dan Jemaat-Jemaat baru akan berdiri setiap waktu. Maka untuk meraih lebih banyak lagi berkat dari Lailatul Qadr setiap orang Ahmadi harus berjanji untuk meningkatkan persatuan dan keharmonian lebih kuat dari sebelumnya. Dan jika terdapat kelemahan di dalamnya kita harus segera memperbaikinya dan menjadi contoh manifestasi dari firman Tuhan (رحماء بينهم) saling kasih sayang sesama mereka, hingga memperoleh Lailatul Qadr hakiki.

Maka di dalam bulan Ramadhan ini kita harus berusaha untuk menghapuskan perselisihan dan pertengkaran perorangan agar kita secara perorangan pula dapat meni’mati manfa’at dan berkat-berkat dari Lailatul Qadr. kita-pun dapat memperoleh bagian dari padanya supaya buah dan kesuksesan serta kemajuan-kemajuan maupun ni’mat-ni’mat dari Lailatul Qadr yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala terhadap Jemaat. Kita harus ingat bahwa dengan semakin meningkatnya berkat-berkat dari Allah Ta’ala turun kepada Jemaat, musuh-musuh Jemaat-pun semakin meningkatkan usaha mereka untuk melakukan penghadangan dengan berbagai macam kesulitan, cobaan dan ujian terhadap kita. Kita juga jangan mengira bahwa perlawanan ini terbatas hanya terhadap beberapa Negara saja. Api iri-hati dan kedengkian untuk menghadang dan menghalangi kemajuan Jemaat akan mereka lakukan sekuat tenaga mereka dan akan mereka kobarkan di setiap tempat di dunia. Akan tetapi kabar suka tentang Lailatul Qadr memberitahukan bahwa kita akan selamat dari kesan-kesan kejahatan mereka dan akan menyaksikan pengabulan do’a-do’a kita bagi kemajuan dan kejayaan Jemaat.

Maka selama kita terus berusaha merobah keadaan diri kita disesuaikan dengan ridha Allah Ta’ala kita akan terus mendapat Lailatul Qadr. Orang-orang mu’min bermaksud dan berkeinginan untuk menyaksikan kemajuan Jemaat sampai ke puncaknya yang tertinggi, yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala. Dengan menisbahkan diri telah bergabung dengan Hadhrat Masih Mau’ud as kita harus berusaha menerapkan cara-cara yang telah diajarkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as kepada kita demi mendapat bagian dari kemajuan dan kemenangan yang telah dijanjikan oleh Tuhan. Cara-cara itu telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dengan dua macam cara sebagai tujuan kedatangan beliau. Yakni pertama, membawa manusia dekat dengan Tuhan-nya dan kedua, membuat manusia memenuhi hak-hak sesama yang lain. Dua jenis tugas inilah yang telah menjadi tugas kewajiban kita semua. Kita harus meningkatkan standar lebih tinggi dalam beribadah kepada Allah Ta’ala dan menghapus semua jenis pertentangan dan permusuhan satu sama lain, demi memenuhi hak-hak sesama manusia. Tidak mungkin tujuan ini dapat dicapai jika pertengkaran dan permusuhan satu sama lain masih tetap berlaku.

Jika kita berusaha keras untuk memenuhi hal itu, maka kita akan paham dengan sesungguhnya arti Lailatul Qadr itu bahkan akan dapat meraihnya juga. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Lailatul Qadr adalah masa penyucian diri manusia.”[3] Jadi, untuk menyucikan kehidupan diri masing-masing kita harus mencari Lailatul Qadr seperti itu. Apabila kita sudah berhasil menyucikan diri maka itulah Lailatul Qadr bagi kita.

Perkara kedua adalah Jumu’atul Wida. Tentang ini banyak pendapat yang aneh-aneh. Dengan karunia Allah Ta’ala kita telah memperoleh taufiq untuk beriman kepada Imam Zaman yang telah membersihkan kita dari pendapat-pendapat aneh semacam itu. Dan sebagai orang Ahmadi kita harus bersih dari pendapat seperti itu, jika tidak, maka tidak ada faedahnya kita menjadi orang-orang Ahmadi. Banyak sekali orang-orang Ghair Ahmadi yang menganggap bahwa dengan mengikuti sembahyang Jumu’ah terakhir bulan Ramadhan, semua salat yang telah ditinggalkan dengan sengaja pun dimaafkan dan manusia menjadi bersih dari dosa dan semua kewajiban dianggap telah dilaksanakan. Artinya, dalam pandangan mereka, jika pada hari Jumat terakhir ini, setelah mendengar Khotbah dan setelah selesai menunaikan salat Jumu’ah dua raka’at, seolah-olah manusia menjadi bersih dari segala macam keburukan dan dosa. Semua berkat dan karunia Allah Ta’ala dihimpun dengan hanya menunaikan sembahyang Jumu’ah terakhir bulan Ramadhan. Dalam pikiran mereka Ketuhanan Allah Ta’ala, na’udzubillah, bergantung kepada salat empat kali sujud dan mereka telah berbuat ihsan kepada Allah Ta’ala, dengan hanya empat kali sujud itu mereka telah menegakkan Ketuhanan Allah Ta’ala, na’udzu billah! Terhadap orang-orang demikian salat Jumu’ah maupun ibadah Ramadhan tidak memberi faedah sedikitpun dan tidak berfaedah pula kedatangan Lailatul Qadr bagi-mereka.

Harus selalu diingat bahwa perintah-perintah Allah Ta’ala itu berfungsi sebagai ihsan bagi kita. Dengan mengamalkannya kita memperoleh faedah dari padanya. Perintah Allah Ta’ala bukanlah beban bagi kita, tidak boleh mencari-cari alasan untuk menghindarinya. Manusia biasanya mencari-cari alasan untuk menghindari hukuman atau penganiayaan. Orang berakal tidak mencari-cari alasan untuk menghindari sesuatu yang mendatangkan faedah baginya. Siapakah gerangan yang tidak ingin memiliki anak keturunan, yang tidak ingin sembuh dari penyakitnya, atau yang tidak ingin memiliki ilmu pengetahuan bagi dirinya atau bagi anak-anaknya, yang tidak ingin saudara-saudaranya mendapat ketenteraman dan kesenangan dan yang tidak ingin agar anak-anaknya terhormat dan mulia? Siapapun tidak ada yang tidak mau! Alasan selalu dicari-cari untuk perkara yang tidak disenangi. Manusia mencari-cari alasan untuk menghindarkan diri dari kesulitan-kesulitan. Maka, jika kita mencari-cari alasan untuk menghindarkan diri dari perintah Allah Ta’ala, berarti kita menganggapnya beban, na’udzubillah! Padahal perintah-perintah Allah Ta’ala dan hidayah-Nya semata-mata demi kebaikan kita.

Kita harus menaruh perhatian serius terhadap perintah-perintah Allah Ta’ala, baik perintah mengenai ibadah maupun mengenai perintah-perintah lainnya, seluruhnya untuk faedah dan kebaikan kita. Menganggap beban terhadap perintah apapun membuat manusia menjadi hampa dari berkat dan rahmat Allah Ta’ala. Ingatlah! Tuhan-lah Yang memberi kehidupan dan Yang Menciptakan kita ke dunia. Dia pula Yang telah menetapkan maksud dan tujuan penciptaan kita ke dunia. Firman-Nya, (وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون) “Tidaklah Kami ciptakan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Az Zariyat: 57). Jika maksud dari penciptaan manusia dan jin itu untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, maka tidak ada kaitannya dengan sesuatu yang khusus atau dengan Jumu’ah yang khusus. Melainkan setiap salat dan setiap Jumu’ah adalah wajib, kecuali salat-salat nafal yang dilakukan sesuai kemampuan masing-masing demi meraih qurb Allah Ta’ala. Karena ibadah adalah tujuan utama diciptakannya kita kedunia, maka kita dengan sekuat tenaga harus mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala demi kebaikan kita sendiri. Tanpa ibadah kita-pun Ketuhanan Allah Ta’ala tetap berdiri. Akan tetapi jika kita menunaikan kewajiban ibadah kepada-Nya maka kita akan menjadi pewaris karunia-Nya beserta ni’mat-ni’mat-Nya.

Ingatlah! Iman kita akan dikatakan murni apabila kita mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala. Seorang mu’min yang mukhlis mempunyai hubungan persahabatan sangat erat dengan Allah Ta’ala dan ingatlah bahwa hubungan persahabatan itu harus timbal balik dengan-Nya. Persahabatan itu demikian rupa mutunya sehingga saling menghargai pendapat dan pandangan satu sama lain dengan ikhlas dan setia. Satu pihak tidak dapat memaksakan kehendaknya sendiri agar diterima oleh pihak yang lain di luar peraturan. Maka, dengan cara ini dapat diperoleh petunjuk bagi terkabulnya do’a. Jika kita mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala dengan ikhlas, maka Dia akan mendengar dan mengabulkan do’a-do’a kita. Jika persahabatan itu betul-betul ikhlas dan murni satu sama lain maka sahabat yang satu tidak akan menghendaki sahabatnya yang lain mendapat keburukan. Dalam persahabatan orang-orang dunia pun sahabat yang satu tidak akan menghendaki sahabatnya yang lain mendapat keburukan. Maka Allah Ta’ala Yang sangat menghargai kesetiaan lebih dari semua yang lain, tidak mungkin akan menghendaki hamba-Nya mendapat keburukan. Jadi, natijah dari iman yang murni dan ikhlas itu manusia akan menerima rahmat dan berkat dari pada Allah Ta’ala.

Seorang sahabat duniawi yang setia dan jujur jika perlakuannya terlihat akan mendatangkan kerugian kepada kita, namun disebabkan kejujuran dan kesetiaannya itu kita yakin niat sahabat itu tidak akan mendatangkan keburukan atau kerugian kepada kita, melainkan niatnya memberi faedah kepada kita. Maka, bagaimana tentang Allah Ta’ala dapat dibayangkan memberi kesusahan kepada kita? Tetapi, bila hukum-hukum-Nya tidak diamalkan, pasti itu akan dianggapnya beban yang menyusahkan. Dan jika gambarannya seperti itu maka persahabatan kita dengan Allah Ta’ala tidak betul atau Allah Ta’ala tidak mempunyai sifat Kasih Sayang, Tidak Adil atau Zalim, na’udzubillah! Walhasil, hal itu tidak betul, salah dan dusta. Sesungguhnya Allah Ta’ala adalah Zat Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Sesungguhnya, persahabatan kita-lah yang tidak betul dengan-Nya, kita mempunyai kelemahan, kita tidak mampu membuat diri kita layak menerima kasih-sayang-Nya. Untuk membuat diri kita layak menerima kasih-sayang Tuhan, kita harus menaruh perhatian penuh terhadap keadaan diri kita, harus meningkatkan kekuatan iman kita, kita harus mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala dan harus memahami bahwa hukum-hukum atau perintah-perintah Allah Ta’ala itu adalah rahmat dan karunia bagi kita. Jika kita memahami perintah-perintah Allah Ta’ala itu adalah rahmat dan karunia maka itu semua harus diamalkan. Bahkan, setelah mengamalkannya dan menanamkannya dalam kalbu, iman kita menjadi bertambah kuat

Perintah Allah Ta’ala bukan seperti perintah atau hukum pemerintahan yang dianggap oleh manusia sebagai beban. Atau di Negara-negara sedang berkembang Pemerintah mengeluarkan undang-undangnya sendiri yang menimbulkan kesulitan terhadap rakyat. Masyarakat tidak ingin didatangi oleh pimpinan pemerintah mereka, bahkan kebanyakan masyarakat menolak didatangi agar mereka terhidar dari suatu tindakan pemimpin yang merugikan mereka. Tetapi, hukum-hukum Allah Ta’ala tidak seperti hukum-hukum pemerintah yang sifatnya aniaya, melainkan ia sebagai rahmat bagi manusia dan jika tidak diamalkan akan menyebabkan kehancuran.

Setiap perintah Allah Ta’ala mendatangkan rahmat bagi manusia yang tidak terhitung banyaknya. Misalnya salat. Jadwal Salat bukan ditetapkan agar manusia segera melaksanakannya kemudian bebas dari beban salat. Atau keluar dari rumah untuk segera menunaikan salat cepat-cepat supaya kemudian bebas dari padanya. Begitu juga Puasa bulan Ramadhan, kita bukan hanya sekedar melaksanakannya begitu saja. Bukan melaksanakan seperti orang-orang sedang memikul beban, kemudian berusaha bebas dari padanya. Begitu juga ibadah lainnya, bukan dilaksanakan begitu saja. Bukan karena melihat orang-orang di sekitar melakukannya sehingga kita pun cepat-cepat turut melakukannya, kemudian bebas. Melainkan, orang mu’min sejati selalu berusaha untuk tetap mematuhi dan mengamalkannya. Orang mu’min sejati sekali saja menunaikan salat dengan tulus hati dan ikhlas merasakan kesan lezat yang sangat dalam dan menyenangkan sehingga tidak dapat terlepas dari dalam hatinya bahkan menghendaki untuk menunaikan yang berikutnya lagi. Salat tidak berakhir dengan mengucapkan salam kemudian selesai meninggalkan tempat. Salam diucapkan karena mengikuti perintah Allah Ta’ala. Begitu juga Ramadhan tidak bisa terlepas dari hati orang mu’min.

Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II r.a. bersabda: “Tentang puasa terdapat pribahasa dalam Bahasa Urdu di Negeri kita yakni Rozah rekhaa Sangat indah sekali makna peribahasa ini, artinya we keep fast, kita menyimpan puasa di dalam hati kita. Sebab kesan dan pesan atau berkat dan rahmat dari puasa yang sudah berlalu itu tidak lepas dari dalam hati kita. Karena itu kita tidak membiarkan puasa itu terlepas dari dalam hati kita, kita simpan baik-baik sehingga membuat kita selalu menjadi pewaris karunia Allah Ta’ala.

Terbukti dari Hadis, jika seorang mu’min melakukan suatu kesalahan, amal baiknya tampil menjadi perisai untuk menjaganya dan menyelamatkannya dari kebinasaan. Karenanya, harus diingat betul bahwa setiap kebaikan tidak boleh lepas, bahkan ia harus tetap ada dan dijaga jangan hilang dari kita. Sebab faedah dapat diambil dari sesuatu hal yang tetap terpelihara secara kekal.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: (والباقيات الصالحات) “Amal saleh yang tetap kekal.” (Al Kahfi; 18:47). Jadi, Ramadhan yang di dalamnya kita melakukan ibadah dan amal-amal baik, dia akan tetap terpelihara. Ramadhan akan pergi meninggalkan kita, namun amal-amal baik yang kita lakukan selama bulan itu berkat dan semangatnya tidak akan kita biarkan pergi. Orang-orang mu’min harus membuat setiap amal baik menjadi “Amal saleh yang tetap kekal” Hari akan berlalu namun semangat Ramadhan tidak akan kita biarkan berlalu. Ramadhan juga adalah sebuah ibadah, dan kesan ibadah senantiasa bersemayam di dalam hati orang-orang mu’min sejati. Maka, seperti orang mu’min hakiki kita juga harus menempatkan Ramadhan di dalam hati kita.

Baginda Nabi saw bersabda, “Apabila seorang hamba melakukan suatu amal saleh maka pada hatinya membekas tanda putih. Apabila ia melakukan kebaikan lagi maka tanda putih itu bertambah lagi. Sehingga apabila ia terus menerus melakukan amal baik, maka seluruh hatinya akan menjadi putih.

Sebaliknya setiap kali seorang hamba melakukan keburukan maka pada hatinya membekas tanda hitam. Apabila ia terus-menerus melakukan keburukan maka keadaan seluruh hatinya menjadi hitam-kelam semuanya.”[4]

Maka, kita harus berusaha keras untuk menanamkan amal-amal saleh di dalam hati kita. Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di dalam bulan Ramadhan hendaknya tetap tinggal di dalam kalbu kita untuk selama-lamanya. Dengan perantaraan Ramadhan kebaikan-kebaikan yang Allah Ta’ala ingin menciptakannya, tiada lain adalah membuat hati penuh dengan amal-amal kebaikan.

Ramadhan tidak hanya membawa 29 atau 30 hari. Siang dan malam seperti itu selalu datang di dalam bulan-bulan lainnya juga. Namun bagi kita bulan Ramadhan membawa ibadah-ibadah dan amal-amal baik lainnya juga. Kita selalu di-ingatkan untuk mengamalkannya. Kita harus menghimpun semua kesan amal ibadah dan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan selama Ramadhan itu di dalam hati kita. Apa yang tersimpan di dalam hati tidak dapat dirampas oleh orang lain, kecuali dia sendiri membuangnya. Maka menjadi kewajiban setiap orang mu’min untuk menghargai anugerah ni’mat Allah Ta’ala ini.

Ingtlah selalu bahwa Jumat terakhir ini telah datang bukan untuk melepas Ramadhan pergi atau untuk membiarkannya pergi. Melainkan, ia datang untuk memelihara dan menyimpannya di dalam kalbu untuk selama-lamanya.

Baginda Nabi saw menyatakan Jumat adalah sebuah Id (Hari Raya) bagi orang-orang Muslim. [5] Hadis memberitahu bahwa di waktu hari Jumat ada satu waktu tertentu jika seorang berdo’a di waktu itu akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala. Kita harus mengambil faedah dari padanya.[6]

Kita datang ke Masjid di Jumat terakhir bulan Ramadhan bukan untuk menyatakan gembira kepada Allah Ta’ala bahwa kita sudah bebas dan terlepas dari kewajiban bulan Ramadhan. Hal itu bukan tradisi orang-orang Ahmadi. Kita datang ke Masjid pada Jumu’ah terakhir untuk beribadah dan berdo’a dalam bulan Ramadhan yang berberkat ini, bahwa sekalipun Ramadhan ini akan pergi setelah beberapa hari kemudian, tetapi wahai Tuhan, tanamkanlah di dalam hati kami hakikat Ramadhan, berkat dan kesan ibadah-ibadah serta amal-amal baik yang dilakukan selama Ramadhan, jangan dibiarkan terlepas dari dalam lubuk hati kami. Jika cara ini kita lakukan, kita akan menggunakan hari ini dengan sangat beberkat. Namun alangkah malangnya nasib kita, jika kita lupa atau melupakan kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan selama Ramadhan.

Di dunia, tidaklah merasa gembira jika ibu bapak berpisah dengan anak, jika seorang berpisah dengan kawan-kawannya atau jika seorang saudara harus berpisah dengan saudaranya yang lain. Orang akan selalu merasa gembira apabila berpisah dengan musuhnya. Oleh karena itu, orang mu’min sejati tidak merasa gembira berpisah dengan Ramadhan. Tidak ada orang yang gembira berpisah dengan berkat dari Allah Ta’ala. Siapa gerangan yang merasa gembira berpisah dengan berkat dari Tuhan? Malanglah nasib orang yang merasa gembira berpisah dengan berkat Allah swt. Pada hari ini setiap orang Ahmadi harus berdo’a semoga Allah Ta’ala untuk selamanya menghubungkan kita dengan hari ini dan hendaknya Ramadhan tidak berpisah dari hati kita walaupun hanya untuk sementara.

Kita harus senantiasa merenungkan apakah Ramadhan itu. Allah Ta’ala menyampaikan kepada kita tentang hakikat Ramadhan ini hal mana telah saya tilawatkan ayatnya di awal khotbah, {شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ} Artinya, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (Al-Baqarah; 2:186). Hari-hari penuh berkat yang di dalamnya turun Al-Qur’an, itu namanya Ramadhan. Apabila Al-Qur’an telah berhenti turun, maka hari-hari itu bukan beberkat lagi, melainkan sebaliknya menjadi hari yang nahas. Jadi, merupakan kewajiban orang-orang mu’min sejati untuk menaruh perhatian sepenuhnya terhadap membaca dan mempelajari Al-Qur’an selama bulan Ramadhan. Hendaknya ia dijadikan bagian dari kehidupan sepanjang tahun. Al-Qur’an harus dibaca sepanjang tahun dengan penuh perhatian, dan berusaha untuk mengamalkan hukum-hukumnya sepanjang tahun. Maksud diturunkannya Al-Qur’an tidak akan sempurna jika kita tidak mengamalkan ajarannya dan tidak menjadikannya bagian dari kehidupan kita. Kita harus menurunkan Al-Qur’an kedalam hati kemudian memelihara dan menjaganya dengan baik, agar kita dapat meraih berkat dari padanya dalam setiap langkah kehidupan kita.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita agar kedua perkara yang telah saya terangkan selalu menjadi perhatian kita sepenuhnya dan kita memahami sepenuhnya hakikat kedua perkara tersebut. Semoga Lailatul Qadr terus-menerus membawa kita ke puncak tertinggi keberhasilan-keberhasilan kita dan semoga kita meraih pemahaman yang hakiki atas Lailatul Qadr tersebut. Semoga Jumu’atul wida itu, yang sebenarnya Jumat terakhir bulan Ramadhan, tidak membuat berkat-berkat Ramadhan terlepas dari kita melainkan menjadi bagian dari kehidupan kita. Semoga kita terus-menerus mampu menyempurnakan tujuan diturunkannya Al-Qur’anul Karim.

Sebagaimana telah saya katakan juga mengenai keadaan orang-orang Muslim Palestina, secara khusus sebutkanlah mereka dalam doa-doa Anda sekalian. Semoga Allah Ta’ala segera menciptakan kemudahan-kemudahan bagi mereka dan mengeluarkan mereka dari setiap kesulitan.

Setelah shalat Jumat, saya hendak mengimami shalat jenazah ghaib bagi Tn. Naimullah Khan yang telah wafat pada 21 Juli 2014 pada umur 61 tahun dari Kirgistan. إنا لله وإنا إليه راجعون Beliau telah banyak mendapat taufik berkhidmat dalam berdirinya Jemaat-Jemaat di negara-negara Asia Tengah, khususnya di Kirgistan dan beliau mendapat taufik sebagai Naib Sadr (Wakil Presiden) Jemaat Kirgistan. Dulunya, beliau pindah ke kawasan itu dengan tujuan bisnis ketika Hadhrat Khalifatul Masih lV r.h. telah menasihatkan para Ahmadi untuk pindah ke bagian wilayah itu. Namun, beliau pun berkarya untuk agama juga. Bahkan, beliau mengutamakan pekerjaan Jemaat dibanding pekerjaannya sendiri.

Kendati pun tanpa bantuan, beliau telah berkhidmat kepada Jemaat hingga akhir hayat. Beliau sangat displin dalam shalat, bertahajjud, juga seorang pendoa, banyak berderma, berkorban harta untuk candah-candah yang wajib dan candah gerakan pengorbanan, memerhatikan orang miskin, dan juga insan yang mukhlis. Beliau sangat menghormati dan memperhatikan keadaan dan kesejahteraan para Muballigh Jemaat di sana dan memikirkan kesulitan mereka. Beliau sangat memerhatikan tamu Markaz.

Seluruh Muballigh yang pernah dan sedang mengkhidmati Jemaat di sana menyatakan bahwa beliau itu mempunyai semangat luar biasa dalam mencintai dan mengkhidmati Jemaat. Beliau berperan besar dalam pembelian bangunan untuk Rumah Misi Jemaat di sana. Beliau seorang mushi. Beliau memiliki dua istri, satu orang Pakistan dan satu lagi orang Rusia. Dari 2 putri dan 4 putra beliau, dua diantaranya lahir dari istri Rusia beliau. Istri beliau yang Rusia asal Kirgistan menulis surat kepada saya, memuji akhlak dan keistimewaan almarhum. Semoga Allah Ta’ala menyelimuti ruh beliau dengan cadar rahmat dan kasih sayang-Nya dan semoga Dia menjadi pemelihara dan Penolong bagi semua anggota keluarga yang ditinggalkan. [Aamiin!] Alihbahasa Hasan Basri

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih al-Bukhari, 2023

َدَّثَنَا أَنَسٌ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالْتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالْخَامِسَةِ

Ubadah ibnush-Shamit berkata, “Nabi keluar untuk memberitahukan kepada kami mengenai waktu tibanya Lailatul Qadar. Kemudian ada dua orang lelaki dari kaum muslimin yang berdebat. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepadamu tentang waktu datangnya Lailatul Qadar, tiba-tiba si Fulan dan si Fulan berbantah-bantahan. Lalu, diangkatlah pengetahuan tentang waktu Lailatul Qadar itu, namun hal itu lebih baik untukmu. Maka dari itu, carilah dia (Lailatul Qadar) pada malam kesembilan, ketujuh, dan kelima.’ (Dalam satu riwayat: Carilah ia pada malam ketujuh, kesembilan, dan kelima).”

[3] Al-Hakam, jilid 5, h. 32, 31 Agustus 1901, Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as jilid ceharam (IV, tafsir surah al-Qadr), h. 673, terbitan Rabwah

[4] Sunan at-Tirmidzi

تُـعْـرَضُ الْـفِـتَـنُ عَلَـى الْـقُـلُـوْبِ كَالْـحَصِيْـرِ عُـوْدًا عُوْدًا ، فَـأَيُّ قَـلْبٍ أُشْرِبَـهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَـلْبٍ أَنْـكَـرَهَا نُـكِتَ فِـيْـهِ نُـكْتَـةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّىٰ تَصِيْـرَ عَلَـىٰ قَـلْبَيْـنِ : عَلَـىٰ أَبْـيَـضَ مِثْـلِ الصَّفَا ، فَـلَا تَـضُرُّهُ فِـتْـنَـةٌ مَـا دَامَتِ السَّمٰـوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُـرْبَادًّا ، كَالْكُوْزِ مُـجَخِّـيًا : لَا يَعْرِفُ مَعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْـكِرُ مُنْكَـرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ.

Fitnah-fitnah menempel dalam lubuk hati manusia sedikit demi sedikit bagaikan tenunan sehelai tikar. Hati yang menerimanya, niscaya timbul bercak (noktah) hitam, sedangkan hati yang mengingkarinya (menolak fitnah tersebut), niscaya akan tetap putih (cemerlang). Sehingga hati menjadi dua : yaitu hati yang putih seperti batu yang halus lagi licin, tidak ada fitnah yang membahayakannya selama langit dan bumi masih ada. Adapun hati yang terkena bercak (noktah) hitam, maka (sedikit demi sedikit) akan menjadi hitam legam bagaikan belanga yang tertelungkup (terbalik), tidak lagi mengenal yang ma’ruf (kebaikan) dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali ia mengikuti apa yang dicintai oleh hawa nafsunya.”

عن أبي هريرة Y عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال إن العبد إذا أخطأ خطيئة نكتت في قلبه نكتة سوداء فإذا هو نزع واستغفر وتاب سقل قلبه وإن عاد زيد فيها حتى تعلو قلبه وهو الران الذي ذكر الله { كلا بل ران على قلوبهم ما كانوا يكسبون }

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”

[5] Sunan ibni Maajah, jilid tsani, abwaab iqamatish shalaati wa sunnah fiiha, bab maa jaa-a fiz ziinati yaumil jumu’ati, nomor hadits 1098.

“Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk umat slam. Barangsiapa yang mendatangi (shalat) Jum’at maka hendaklah mandi (besar), kalau mempunyai wewangian hendaknya dia pakai dan pergunakan siwak.”عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ ، جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ.

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jumu’ah, bab as-saa’atillati fi yaumil jumu’ah, hadits 935, “Rasulullah saw menyebutkan tentang hari Jumat kemudian beliau bersabda: ‘Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta’. Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut” عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا