Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 18 April 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ o الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ oملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ o اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُo

 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَo صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْ عَمْتَ عَلَيْهِمْ, غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَo

Di dalam Khotbah hari ini saya hendak membacakan beberapa kutipan dari tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud عليه الصلاة والسلام alaihish shalaatu was salaam berkaitan dengan penjelasan-penjelasan mengenai Allah Ta’ala, keperkasaan-Nya dan bahwa Dia Yang Memiliki seluruh kekuasaan, Yang Maha Esa Tanpa Sekutu, dan Dia-lah Pencipta segala makhluk. Segala sesuatu adalah fana kecuali Dia. Beliau menjelaskan bahwa satu-satunya sarana untuk dapat sampai kepada Tuhan Sekalian Alam hanyalah Hadhrat Muhammad Rasulullah saw. Kini hanya melalui perantaraan beliau-lah manusia dapat sampai kepada Tuhan.

Beliau menjelaskan, tidak ada yang serupa dan sebanding dengan Allah Ta’ala dalam hal husn (keindahan) dan ihsaan (kebaikan). Untuk dapat menyaksikan segala kudrat Allah Ta’ala, manusia harus tunduk dengan hati yang murni dan ibadah dengan ikhlas kepada-Nya. Jika manusia berbuat demikian maka Allah Ta’ala akan berlari merangkulnya kemudian melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepadanya. Dengan penuh ghairah dan keperihan hati, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Ikatlah hubungan seperti itu dengan Allah Ta’ala agar dapat menjalani kehidupan yang layak diterima-Nya di dunia dan di akhirat nanti.”

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan mengenai siapa itu Allah Ta’ala, apa saja sifat-sifat Tuhan itu, Pemilik segala alam semesta seluruhnya dan yang agama Islam menyeru kepada-Nya, ”Allah Ta’ala adalah nuur (cahaya) Langit dan Bumi. Setiap nur yang nampak di setiap ketinggian dan di setiap kerendahan, apakah di dalam ruh-ruh atau di dalam jasad-jasad, apakah itu dzaati (menetap dalam zat, pribadi) ataupun ghair pribadi (sementara), apakah zhahiri (lahiriah) ataupun bathini (batiniah), apakah di dalam pikiran atau di luar pikiran, semuanya adalah anugerah karunia-Nya.” (Pendeknya, setiap nur sumbernya adalah dari Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala sendiri adalah Nuur yang nampak dalam setiap benda. Sebagian dalam bentuk keindahan lahiriah dan sebagian dalam bentuk keindahan batiniah. Sebagian ada dalam pikiran manusia dan sebagian di luar pemikiran manusia. Semua keindahan yang terdapat pada setiap sesuatu ialah disebabkan oleh Nuur dari Allah.)

“Hal ini menunjukkan, luasnya karunia Hadhrat Rabbul ‘Alamin meliputi semua benda. Tiada suatu benda pun yang kosong dari percikan karunia-Nya.”[2] Segala sesuatu di alam semesta ini dan setiap keindahan di tiap sesuatu di alam semesta ini; apa saja, dimana saja dan kapan saja sesuatu yang nampak baik dan indah, dan juga bermanfaat bagi manusia; semua itu ialah disebabkan oleh faidh (karunia) secara umum dari Allah Ta’ala semata dan tidak ada sesuatu pun yang bebas dari karunia-Nya.

“Dialah Tuhan sumber segala Karunia, sumber utama segala Cahaya dan sumber semua mata air Rahmat. Zat Hakiki-Nya sumber penegak sekalian alam dan sumber pelindung bagi semua yang tinggi dan yang rendah. Dia-lah, Yang telah mengeluarkan segala sesuatu dari kegelapan yang tiada wujud dan menganugerahkan jubah wujud terhadap segala sesuatu. Tidak ada wujud lain kecuali Wujud-Nya. Tidak ada wujud lain yang kekal atau yang selamanya tidak menerima Karunia-Nya. Langit dan bumi, manusia dan hewan, batu-batuan dan pepohonan, ruhani dan jasmani semua telah terwujud melalui Karunia-Nya.”[3]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengulas lebih lanjut mengenai bahwa Allah Ta’ala itu “وحده لا شريك له” ‘Wahdahu laa syarika lahu’ Maha Tunggal tanpa Serikat, “Syirakat (pertemanan atau persekutuan), dari segi akal, terdiri dari empat macam. Pertama; boleh jadi persekutuan dalam hal jumlah, kedua; dalam hal martabat, ketiga; dalam hal keturunan, keempat; karena amal perbuatan dan kesan pengaruhnya. Sebab itu, dalam Surah Al Ikhlas telah dijelaskan bahwa Allah Ta’ala bersih dari keempat macam syirakat itu. Dengan jelas dan terang benderang, Dia berfirman bahwa أحدٌ ‘Ahad’ Tunggal (Satu) dalam hal jumlah. Bukan dua atau tiga [dan seterusnya]. Dia adalah “الصمد” ash-Shamad artinya, Dia adalah Esa, Satu-satunya saja dalam hal martabat-Nya sebagai Waajibul Wujuud (Wujud Yang Harus Ada) dan Tidak Memerlukan kepada yang lainnya. Semua apapun dan siapapun selain-Nya ialah mumkinul wujuud dan haalikudz dzaat (fana atau rusak), memerlukan-Nya di tiap waktu dan tempat.” Karena kalimat-kalimat selanjutnya dalam kutipan ini sulit, maka akan saya jelaskan nanti secara ringkas. “Dia adalah لم يلِدْ ‘lam yalid’ Dia tidak beranak yang dapat menjadi sekutu atau teman-Nya karena ia anak-Nya. Dia adalah لَمْ يولَد ‘lam yuulad’ Dia tidak berbapak sehingga ia dapat menjadi sekutu dalam kekuasaan-Nya karena ia bapak-Nya. Dan Dia adalah لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا ‘lam yakul lahu kufuwan ahad’ tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya yang menjadi sekutu di dalam pekerjaan-Nya. Dengan demikian telah dijelaskan bahwa Allah Ta’ala adalah bebas dan suci bersih dari empat macam sekutu itu dan Dia adalah Tunggal tanpa sekutu.”[4]

Dalam hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan, menurut akal, syirakat (persekutuan) ada 4 macam, yaitu, pertama: dalam hal jumlah, seseorang menyekutukan Allah dengan satu, dua, tiga, empat atau lima wujud dan seterusnya yang dianggap sama dengan-Nya. Kedua, menyekutukan-Nya dalam hal martabat atau kedudukan dan derajat. Ketiga, menyekutukan-Nya dengan nasab (garis keturunan) dan keluarga. Keempat, menyekutukan-Nya dalam hal kekuatan atau kemampuan untuk melakukan suatu pekerjaan dan menegakkan kesan atau pengaruhnya.

Allah Ta’ala suci-bersih dari keempat macam syirik itu, sebagaimana dalam Surah (Al-Ikhlas) itu, Dia menjelaskan dengan gamblang bahwa Dia adalah Ahad (Tunggal). Dari segi jumlah Dia hanya satu, bukan dua, tiga atau empat. Dia adalah “الصمد” Ash-Shamad, Dia-lah Yang diperlukan setiap waktu oleh semua makhluk. Jika manusia memerlukan sesuatu, kepada Dia-lah harapan ditujukan. Dan memang Dia-lah Yang berhak harus dituju. Tidak ada wujud lain serupa dengan Dia. Tidak ada yang sama dengan Dia Yang mampu menyediakan segala keperluan makhluk. Apakah sebabnya tidak ada wujud yang seperti-Nya, yang dapat memenuhi semua keperluan? Beliau as menjelaskan sebabnya, yaitu, selain Dia, setiap sesuatu adalah fana, tidak kekal, pada suatu waktu akan lenyap. Artinya, setiap wujud adalah makhluk ciptaan, akan mengalami kemusnahan, sedangkan Tuhan sejak azali (dahulu) kekal, dan akan abadi (kekal selama-lamanya).[5] Jadi, disebabkan ciptaan dan mengalami kemusnahan, semua makhluk sifatnya sementara, hanya untuk beberapa waktu tertentu. Disebabkan sifatnya sementara itu, makhluk tidak dapat menyediakan segala keperluannya sendiri atau pun bagi yang lain. Maka, makhluk yang tidak mampu menyediakan semua keperluannya, dia sendiri memerlukan satu Tuhan, Yang Telah ada sejak azali dan akan abadi (Kekal untuk selama-lamanya). Tuhan Yang telah menyatakan, “Akulah Allah, Yang telah menyediakan semua barang keperluan untuk mengayomi semua makhluk.” Dia-lah Tuhan Yang kepada-Nya semua makhluk bergantung. Memang harus kepada-Nya-lah bergantung. Demikianlah makna penjelasan atas “الصمد” Ash-Shamad dengan rinci.

Selanjutnya (ketiga), mengenai keturunan atau keluarga, Allah Ta’ala berfirman لم يلِدْ yakni, tidak mempunyai suatu anak. لَمْ يولَد yakni, tidak mempunyai suatu bapak. Maka, Tuhan adalah suci-bersih dari keturunan atau keluarga. Oleh sebab itu tidak ada yang bisa menjadi sekutu bagi-Nya. Keempat, Allah Ta’ala berfirman: لَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا artinya, “Tidak ada yang dapat menyamai dalam pekerjaan-Nya.” Maka, apabila tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang dapat menyamai pekerjaannya dan tidak ada pula yang mampu membawa hasil dan kesan seperti yang Tuhan lakukan. Manusia duniawi, pada umumnya melihat hasil pekerjaan mereka dengan bangga berkata, “Aku telah berhasil mengerjakan ini dan itu.” Sebenarnya untuk mencapai hasil tersebut tidak terletak pada kemampuan dirinya sendiri. Melainkan, dibawah undang-undang alam semesta manusia memperoleh hasil sesuai dengan kerja-kerasnya. Tuhan sebagai Rabb juga, Rahman dan Rahim juga. Sebenarnya manusia menerima hasil karyanya itu sebagai karunia dari Rabbubiyyat dan Rahmaniyyat Tuhan. Maka, alangkah malangnya nasib manusia yang tidak berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, padahal Dia telah berlaku Ihsan kepadanya, malah sebaliknya kebanyakan manusia semakin menjauh dari pada Tuhan Rabb sekalian ‘Alam.

Di dalam ‘Lecture Lahore’, beliau as memberi penjelasan tentang kemuliaan Tuhan, Pemilik segala kekuatan, ”Di dalam Alqur’anul Karim Allah Ta’ala berfirman tentang keagungan-Nya: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (Al-Ikhlas:2-5). ‘Katakanlah! Tuhan kalian adalah Allah, Yang Maha Esa, Yang dalam zat-Nya dan sifat-Nya Wahid. Tidak ada zat lain seperti Zat-Nya yang Kekal Abadi dan tidak pula ada sifat suatu benda yang serupa dengan sifat-Nya.’ Untuk ilmu manusia, diperlukan seorang muallim, yakni untuk menghasilkan ilmu pengetahuan diperlukan orang yang mengajarkan ilmu itu kepada manusia dan ilmunya pun terbatas. Ilmu apapun yang dihasilkannya sifatnya terbatas. Tetapi, ilmu Allah Ta’ala tidak memerlukan mu’allim (pengajar) dan ilmu-Nya tidak terbatas. Yang segala sesuatu bergantung kepada-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Pendengaran manusia memerlukan udara, tanpa udara manusia tidak dapat mendengar, dan terbatas. Namun pendengaran Tuhan dengan kekuatan Zat-Nya sendiri dan tidak terbatas, tidak diperlukan bantuan udara. Penglihatan manusia memerlukan matahari atau suatu cahaya dan terbatas dapat melihat hanya sampai batas jarak tertentu. Namun, penglihatan Allah Ta’ala melalui cahaya Zat-Nya sendiri dan tidak terbatas. Begitu juga kekuatan manusia menciptakan sesuatu memerlukan suatu benda madiah (materi) dan untuk itu memerlukan waktu dan juga terbatas. Tetapi, kekuatan Allah Ta’ala untuk menciptakan sesuatu tidak memerlukan suatu benda madiah, tidak memerlukan waktu dan tidak pula terbatas. Sebab, semua sifat-Nya tidak ada tara bandingannya. Sebagaimana Wujud-Nya tidak ada yang menyerupainya, sifat-Nya juga tidak ada yang menyerupainya. Jika salah satu sifat-Nya lemah, tentu semua sifat-Nya juga lemah. Karena itu, Wahdaaniyyat-Nya (Keesaan-Nya) tidak akan bisa tegak, selama Dia bukan Satu-Satunya, tidak ada yang serupa dan menyerupai-Nya dalam sifat-sifat-Nya, begitu juga dalam Dzaat-Nya sendiri.”

Beliau as bersabda: “Selanjutnya maksud dari ayat tersebut di atas adalah, Tuhan bukan anak seseorang, tidak ada pula seseorang menjadi anak-Nya. Sebab Dia adalah Ghani, yakni Mandiri, Dia tidak memerlukan bapak maupun anak. Itulah Tauhid yang telah diajarkan oleh Alqur’an, sebagai dasar iman.”[6]

Dalam menjelaskan dalil akal tentang ke-Esaan Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Setelah itu Al-Qur’anul Karim mengemukakan sebuah dalil tentang ke-Esaan Allah Ta’ala dan tanpa sekutu, firman-Nya: لَو كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللهُ لَفَسَدَتَا ‘sekiranya di dalam kedua langit dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, pasti binasalah kedua-duanya.’ (Al-Anbiya:23). Kemudian firman-Nya lagi: وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَهٍ.. إلخ Yakni: Tiada tuhan lain beserta Dia (Al Mu’min : 92) Yakni, jika sekiranya di dalam langit dan bumi keduanya ada tuhan-tuhan selain Allah, yang memiliki sifat-sifat sempurna, pasti binasalah kedua-duanya. Sebab, pasti kedua pihak itu akan berselisih satu sama lain, sehingga disebabkan perselisihan itu alam semesta akan terlibat kedalam kekacauan. Dan lagi, jika masing-masing mempunyai penciptanya sendiri, maka setiap pencipta menghendaki kesejahteraan makhluknya sendiri dan demi kesenangannya, dia akan menganggap patut untuk menghancurkan yang lain. Maka, hal itu juga akan menjadi penyebab binasanya alam semesta.”[7]

Itulah dalil-dalil tentang Wujud Tuhan yang kami tuliskan sebagai contoh. “Hendaklah diketahui bahwa Al-Qur’anul Karim menghimbau kita kepada Tuhan yang sifat-sifat-Nya ialah,

: ]هُوَ اللهُ الَّذِي لا إلَهَ إلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ[ (الحشر: 23)،

]مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ[ (الفاتحة: 4)،]الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبّارُ الْمُتَكَبِّرُ[ (الحشر: 24)، ]هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ[ (الحشر: 25)، ]عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ[ (البقرة: 149)، ]رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ[ (الفاتحة: 3-5)، ]أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إذَا دَعَانِ[ (البقرة: 187)، ]هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ[ (آل عمران: 3)، ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ[ (سورة الإخلاص)

هُوَ اللهُ الَّذِي لا إلَهَ إلا هُوَ artinya, Dia Allah, Yang Maha Esa, dan tiada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang patut disembah dan ditaati kecuali Dia (Al Hasyr:23) Ditegaskan demikian, sebab, andaikan Dia bukan sesuatu yang tanpa sekutu [ada yang menyamai-Nya], mungkin saja kekuatan-Nya dapat ditaklukkan oleh kekuatan musuh-Nya. Dalam keadaan demikian posisi Ketuhanan akan selalu berada dalam ancaman bahaya. Firman-Nya ini, “Selain Dia, tidak ada yang patut disembah,” artinya Dia adalah Tuhan Yang Maha Sempurna, yang sifat-sifat, kelebihan-kelebihan serta kesempurnaan-kesempurnaan-Nya demikian tinggi dan agung, sehingga jika kita ingin memilih satu tuhan dari segala wujud yang ada berdasarkan sifat-sifatnya yang sempurna atau kita di dalam hati membayangkan sifat-sifat Tuhan yang paling indah dan tinggi, maka Dialah yang paling tinggi, tidak ada yang mengunggulinya. Dia-lah Tuhan – yang di dalam penyembahan-Nya – menyekutukan sesuatu yang lebih rendah merupakan perbuatan zalim.” (Jika manusia merenungkan, maka akan didapatinya bahwa Allah adalah pemilik sifat-sifat yang luhur secara mutlak dan tidak mungkin menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.)

“Kemudian Dia berfirman: “عَالِمُ الْغَيْبِ” ‘Aalimul Ghaib. Yakni, Hanya Dia-lah Yang mengetahui Dzaat-Nya (Diri-Nya) sendiri. Tidak ada yang dapat menguasai dan mengerti sepenuhnya Dzaat-Nya. Kita dapat menyaksikan matahari, bulan, bintang dan semua makhluk seluruhnya. Tetapi, kita tidak dapat menyaksikan seluruh Dzaat Tuhan. Yakni, kita dapat melihat semua benda namun tidak dapat melihat Tuhan dalam bentuk jasmani. Firman-Nya lagi: “والشهادةِ” wasy Syahadah, Yakni tidak ada suatu benda pun tersembunyi dari penglihatan-Nya. Tidaklah layak apabila Dia dikatakan sebagai Tuhan lalu Dia tidak memilki pengetahuan tentang benda-benda. Dia memiliki penglihatan atas dzarrah (partikel-partikel) alam ini, sedangkan manusia tidak memilikinya. Dia mengetahui kapan Dia akan menghancurkan tatanan alam ini dan akan mendatangkan kiamat. Dan selain-Nya tidak ada yang mengetahui kapan hal itu akan terjadi. Jadi, Dia itulah Tuhan Yang mengetahui semua waktu tersebut.

Firman-Nya: “هُوَ الرَّحْمَنُ” ‘Huwar Rahmaanu’ – ‘Dia Maha Pemurah.’ Yaitu, sebelum ada wujud makhluk-makhluk hidup dan usaha-usaha mereka — semata-mata murni karena karunia-Nya, bukan karena suatu maksud tertentu dan bukan sebagai balasan bagi suatu perbuatan — Dia telah menyediakan sarana-sarana keperluan bagi mereka (setiap makhluk). Contohnya, Dia telah menciptakan matahari, bumi, dan segala benda lainnya sebelum ada wujud serta perbuatan-perbuatan kita. Di dalam Kitab Ilahi anugerah demikian itu dinamakan “الرحمانية” Rahmaaniyyat, dan karena pekerjaan-Nya itulah Allah Ta’ala disebut “الرحمن” Ar-Rahmaan. Firman-Nya: “الرّحِيمُ” (Ar-Rahiim). Artinya, Allah Ta’ala memberi ganjaran yang paling baik terhadap amal baik dan Dia tidak menyia-nyiakan usaha keras siapapun. Karena perbuatan-Nya ini, Dia disebut “الرحيم” sedangkan dari segi sifat-Nya disebut “الرحيمية” Rahimiyyat. Dia berfirman: “مالِكِ يومِ الدينِ” – “Pemilik Hari Pembalasan.” (Al Fatihah, 1:4) Yakni ganjaran setiap orang terletak di tangan Tuhan. Tidak ada suatu petugas yang diserahi pekerjaan untuk mengurus Pemerintahan-Nya, di langit maupun di bumi sedangkan Dia sendiri tidak campur-tangan, kemudian Dia duduk santai sendirian, tidak melakukan suatu apapun, semua diserahkan kepada petugas untuk memberi ganjaran atau hukuman kepada setiap orang, di alam dunia ataupun di Hari Kemudian.” (Dia tidak memerlukan penolong. Semua ganjaran atau pembalasan setiap orang di bawah kekuasaan-Nya sendiri.)

Kemudian berfirman: “المَلِكُ القُدّوسُ” ‘al-Malikul Quddus’ Artinya: Maha Berdaulat, Yang Maha Suci (Al Hasyr:24) Yakni Dia adalah Raja, Yang tidak mempunyai suatu aib atau noda apapun. Adalah jelas, bahwa Kerajaan manusia tidak lepas dari keaiban. (Sedikit banyak mesti ada kelemahan-kelemahan padanya.) Misalnya, seandainya semua rakyat beramai-ramai hijrah dari Negara mereka ke negara lain, maka kedaulatan Raja di Negara itu akan habis. Atau, andaikata semua rakyatnya ditimpa kelaparan, maka dari manakah akan diperoleh upeti atau Anggaran Belanja bagi Negara itu? (Dari mana orang yang biasa memberi pajak bisa membayar pajak kepada negara?) Jika rakyat mulai bangkit membantah raja dan mempersoalkan, ‘Apa kelebihan engkau sehingga engkau jadi Raja atas kami?’, kekuasaan apa yang dapat dibuktikan oleh Raja kepada mereka?” (Jika rakyat mulai menentang Raja, bagaimana tindakan yang akan diambilnya? Seperti kejadian yang sekarang kita saksikan di berbagai Negara. Berapa banyak kerusuhan sedang terjadi. Rakyat sedang berperang menentang Pemerintah mereka sendiri.) “Ingatlah, bahwa Kerajaan Allah Ta’ala tidak demikian keadaannya. Dengan serempak dapat Dia hancurkan seluruh negeri, kemudian Dia ciptakan makhluk-makhluk. Sekiranya Dia bukan Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Kuasa maka tatanan kerajaan-Nya tidak akan dapat berjalan kecuali dengan menggunakan cara-cara keaniayaan. Sebab satu kali Dia memberikan pengampunan dan keselamatan kepada dunia maka dari mana Dia akan dapat mendatangkan dunia yang lain? Apakah orang-orang yang sudah mendapat keselamatan itu harus ditangkapi untuk diturunkan lagi ke dunia dan dengan cara aniaya Dia menarik ampunan dan keselamatan yang telah dilimpahkan-Nya? Jika demikian pasti terdapat cela pada sifat Ketuhanan-Nya dan Dia pun tidak ubahnya seperti raja-raja dunia mempunyai noda. Raja-raja membuat undang-undang bagi dunia lalu murka pada baik hal-hal penting maupun hal-hal kecil, dan jika untuk kepentingan pribadi mereka tidak melihat cara lain kecuali berbuat aniaya maka mereka akan menganggap perbuatan aniaya itu halal bagaikan [minum] ASI ibunya.” (Bila tanpa kezaliman tak ada cara lain yang harus dilakukan, dengan menganggap halal, kezaliman itu dilakukan dengan senang hati seperti seorang anak meminum air susu ibunya. Lihatlah! Kini bagaimana kezaliman sedang dilakukan oleh banyak pemimpin bangsa di dunia.)

“Misalnya, undang-undang kerajaan mengizinkan agar sebuah perahu bersama penumpang-penumpangnya dibiarkan tenggelam untuk menyelamatkan sebuah kapal. Akan tetapi ketidak-berdayaan seperti itu tidak berlaku pada Tuhan. Jadi, seandainya Tuhan bukan Penguasa penuh dan bukan Pencipta dari sesuatu yang tidak ada maka Dia akan bertindak seperti raja-raja lemah yang menggunakan keaniayaan untuk menegakkan kekuasaan, atau berlaku adil tetapi melepaskan sifat Ketuhanan-Nya. Justru bahtera Tuhan berserta segala kudrat-Nya melaju dengan anggun di atas keadilan sejati.”

“Kemudian firman-Nya: “السَّلامُ” ‘as-Salaam’ ‘Dia-lah Tuhan Yang terpelihara dari segala ‘aib, musibah dan kesulitan.’ Justru Dia-lah Pemberi keselamatan. Maksudnya pun jelas, sebab seandainya Dia sendiri tertimpa musibah-musibah, dipukuli orang-orang dan rencana-rencana-Nya tidak berjaya maka dengan melihat contoh buruk itu bagaimana mungkin manusia akan merasa tenang hatinya bahwa tuhan yang semacam itulah yang akan melepaskan mereka dari musibah-musibah? Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman tentang sembahan-sembahan palsu, إنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ وَإنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ * مَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ إنَّ اللهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (الحج: 74-75) “Mereka yang kamu anggap sebagai Tuhan, keadaannya adalah demikian; jika mereka semua bersatu lalu ingin menciptakan seekor lalat, sampai kapan-pun mereka tidak akan dapat menciptakannya, walaupun mereka saling membantu. Bahkan jika lalat itu merampas sesuatu milik mereka, mereka tidak kuasa untuk mengambilnya kembali dari lalat itu.”

Dan, firman-Nya: “ضَعُفَ الطَّالِبُ والمطْلوبُ” Orang-orang yang menyembah mereka, akalnya lemah dan yang disembah pun kekuatannya tidak berdaya. Apakah Tuhan itu demikian? Tuhan adalah Dia Yang lebih Perkasa dari segala yang perkasa dan Unggul atas semuanya; tidak ada yang dapat menangkap-Nya maupun memukul-Nya. Orang-orang yang terlibat dalam kesalahan-kesalahan serupa itu tidaklah mengenal nilai Tuhan dan tidak tahu Tuhan itu seharusnya yang bagaimana (Al Haj: 74-75)

Kemudian firman-Nya: “المؤْمِنُ” Tuhan adalah Sang Pemberi keamanan dan yang menegakkan dalil-dalil tentang kesempurnaan-Nya dan Tauhid-Nya. Hal ini mengisyarahkan bahwa orang yang beriman kepada Tuhan sejati tidak akan malu di hadapan orang ramai (banyak), dan tidak pula akan malu di hadapan Tuhan. Sebab ia memiliki dalil-dalil yang kuat. Akan tetapi orang yang percaya kepada tuhan palsu berada dalam kesulitan besar. Dia bukan mengemukakan dalil-dalil, justeru dia menjadikan seluruh perkara sia-sia itu sebagai rahasia supaya jangan sampai ditertawakan orang dan dia ingin menyembunyikan kekeliruan-kekeliruan yang telah terbukti benar kenyataannya.

Dia berfirman, “الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ” Dia adalah Pelindung bagi semua. Penjaga bagi semua dan Pembetul kembali yang terlanjur rusak dan Dia sungguh Mandiri (Al Hasyr:24)

Kemudian firman-Nya lagi: “الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى” Yakni, Tuhan Pencipta badan dan juga Pencipta Ruh. Pencipta rupa bayi di dalam rahim. Semua nama-nama yang indah yang dapat dibayangkan, Dia-lah Pemiliknya. (Al Hasyr: 25)

Firman-Nya lagi sebagai berikut: “يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ” Yakni, Semua penghuni Langit juga menyanjung kesucian-Nya, begitu juga penghuni Bumi menyanjung-Nya. Di dalam ayat ini mengisyarahkan bahwa, di dalam badan-badan angkasa luar juga terdapat penduduk dan mereka juga patuh menaati hukum-hukum Tuhan. (Al Hasyr:25)

Firman-Nya lagi: “عَلَى كُل شَيْءٍ قَدِيرٌ” Tuhan adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu(Al Baqarah:21) Ini merupakan ketenteraman bagi para penyembah, sebab jika Tuhan itu lemah dan tidak kuasa, maka apalah yang dapat diharapkan dari tuhan seperti itu?

Dan firman-Nya; “رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرحْمَنِ الرحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدينِ” Yakni, Dia-lah Tuhan Pemelihara sekalian alam, Maha Pemurah, Maha Penyayang, Dia sendirilah Pemilik Hari Pembalasan. Wewenang itu tidak diserahkan-Nya kepada siapapun .(Al Fatihah:2-4)

“أُجِيبُ دَعْوَةَ الداعِ إذَا دَعَانِ” “Dia mendengar dan menjawab seruan setiap penyeru-Nya, mengabulkan doa-doa.” (Al Baqarah: 187).

Kemudian berfirman lagi: “هُوَ الْحَيُّ الْقَيّومُ” Yakni: Dia-lah Yang Hidup selama-lamanya dan Sumber segala kehidupan serta Tumpuan segala wujud (Al-Baqarah: 256). Hal ini dikatakan demikian sebab seandainya Dia tidak kekal abadi, maka berkenaan dengan hidup-Nya pun akan tetap diragukan, bahwa jangan-jangan Dia sudah mati sebelum kita.

Dan kemudian difirmankan bahwa: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ * اللهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ Dialah Tuhan Yang Esa; bukan anak siapapun dan tidak pula ada anak-Nya tidak ada yang menyamai-Nya dan tidak ada yang sejenis dengan-Nya. (Al Ikhlas: 2-5)[8]

Selanjutnya, beliau as bersabda, ”Ketahuilah! Tujuan hakiki semua perintah agama Islam adalah menjelaskan keindahan sejati yang terkandung di dalam lafadz Islam “الإسلام”. Demi tujuan ini Al-Qur’anul Karim mengandung ajaran-ajaran yang mengimbau manusia untuk mencintai Allah Ta’ala. Menunjukkan keindahan-Nya kepada kita dan mengingatkan kita kepada kebaikan-kebaikan-Nya. Sebab, kecintaan itu kadang-kadang timbul karena ingat kepada keindahannya langsung tertanam di dalam lubuk hati atau karena ingat kepada kebaikan-kebaikannya. Maka tersirat di dalam Al-Qur’an bahwa dari semua segi keagungan atau kemuliaan-Nya, Tuhan adalah Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak mempunyai suatu kekurangan atau kelemahan.

Dia adalah sumber segala jenis sifat yang sempurna. Dia adalah manifestasi (penampakan) segala Kekuatan Suci. Dia adalah Pencipta segala makhluk dan Sumber mata air segala Karunia. Dia adalah Maalik (Yang Mempunyai) Hari Pembalasan dan semua perkara akan kembali kepada-Nya. (Dia Pencipta segala sesuatu. Dari-Nyalah muncul seluruh karunia, dan kepada-Nyalah kembali segala amal dan perbuatan). Dia dekat sekalipun jauh, dan jauh sekalipun Dia dekat dengan kita. Dia Paling tinggi, namun tidak dapat dikatakan dibawah-Nya ada wujud lain.” (artinya, Dia sangat dekat.) “Dia paling tersembunyi dari semua benda, namun tidak dapat dikatakan ada yang lebih cemerlang dari Dia. Dia adalah Hidup mandiri pada Zat-Nya. Setiap benda atau makhluk hidup karena-Nya.” (al-Hayyu artinya, Dia Maha Hidup dengan Sendirinya bukan karena yang lain, dan Dia menjadi Sebab kehidupan yang lainnya) “Dia berdiri sendiri dan segala sesuatu berdiri karena-Nya. Dia menjunjung segala sesuatu, namun tidak ada suatu yang menjunjung-Nya.” (segala sesuatu kokoh karena-Nya) “Tidak ada suatu makhluk tercipta dengan sendirinya tanpa Dia atau hidup tanpa Dia. Dia meliputi segala sesuatu, tetapi, kita tidak mampu mengetahui bagaimana batasnya itu. Dia adalah Nur bagi segala sesuatu yang ada langit dan di bumi. Setiap nur-Nya memancarkan cahaya melalui tangan-Nya dan merupakan pantulan nur dari Zat-Nya. Dia adalah Pengayom semua alam. Tidak ada suatu ruh yang tidak memperoleh pengayoman dari pada-Nya dan datang dengan sendirinya. Tidak ada ruh yang mempunyai kekuatan yang tidak diperoleh dari pada-Nya dan datang dengan sendirinya.

Sebenarnya, Rahmat-Nya terdiri dari dua macam. Pertama, yang lahiriah dan kekal sejak dahulu di luar hasil karya siapa pun selain-Nya, misalnya langit dan bumi, matahari dan bulan serta bintang, air dan api atau udara serta semua zarrah alam semesta yang diciptakan untuk kesenangan kita. Begitu juga semua barang yang kita perlukan telah diciptakan sebelum kita sendiri lahir ke dunia. Tanpa suatu kerja apapun dari kita. Siapa yang berani berkata bahwa matahari telah tercipta hasil kerja seseorang. Atau bumi telah dibuat karena hasil kerja baik seseorang? Pendeknya hal itu semua adalah Rahmat yang telah tersedia sebelum manusia lahir ke dunia, bukan hasil karya seseorang. Rahmat kedua adalah, yang berkaitan dengan amal.”[9] Jika seseorang berbuat amal baik, maka ia akan menerima ganjarannya yang baik.

Untuk sampai kepada Tuhan hanya ada satu jalan pada zaman ini. Jalan itu adalah Dzat (pribadi) Hadhrat Rasulullah saw. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Ruh kita dan semua partikel wujud kita bersujud di hadapan Allah Ta’ala Yang Maha Perkasa, Maha Benar dan Maha Sempurna. Yang dari Tangan-Nya setiap ruh dan setiap zarrah makhluk bersama semua kekuatannya telah zhahir (menjadi ada) dan melalui Wujud-Nya setiap wujud telah berdiri tegak. Benda apapun tidak berada di luar pengetahuan-Nya, diluar Pengawasan-Nya atau di luar penciptaan-Nya.

Ribuan salam, berkat dan rahmat semoga turun kepada Nabi Suci Muhammad Mushthafa shallAllahu ‘alaihi wa sallam yang dengan perantaraan beliau saw kita telah mendapatkan Tuhan Yang Hidup, Yang telah membuktikan penampakan Wujud-Nya sendiri melalui Kalam-Nya dan dengan menunjukkan Tanda-Nya yang luar biasa telah menampilkan wajah-Nya yang cemerlang yang memiliki kekuatan yang kekal dan sempurna. Maka kita telah mendapatkan seorang Rasul yang telah mempertemukan kita dengan Tuhan. Yakni Tuhan Yang telah menciptakan setiap makhluk dengan kekuatan-Nya yang Sempurna.

Alangkah agungnya kekuatan dimiliki-Nya. Tanpa-Nya tidak ada suatu benda apapun yang bisa terwujud. Tanpa dukungan-Nya tiada suatu benda apapun yang bisa berdiri. Dia Tuhan kita Yang Benar, memiliki berkat-berkat dan kekuatan-kekuatan yang tidak terhitung banyaknya dan memiliki keindahan dan kebaikan yang itdak terhitung banyaknya. Tidak ada Tuhan lain kecuali Dia.”[10]

Mengenai manusia yang tidak percaya kepada Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ”Dzat Tuhan, Ghaibul-Ghaib, Waraa-ul Waraa dan sangat tersembunyi Yang tidak dapat diketahui hanya melalui kekuatan akal-akal insaniyat. (itu artinya, Dia Dzat Yang Tersembunyi, tidak mungkin menemukan-Nya hanya dengan akal-akal kemanusiaan saja, seperti kaum Ateis mengatakan, ‘Kami tidak bisa mencapai Allah dengan akal.’) Dan tidak ada dalil-dalil akal untuk membuktikan kepastian wujud-Nya, sebab jalannya kekuatan akal dan usaha hanya sejauh memikirkan Pencipta Alam semesta ini perlu ada.

Tetapi, adalah hal yang berbeda antara kesadaran bahwa sesuatu itu ‘perlu ada’ dan mencapai derajat meyakinkan yang pasti bahwa wujud Tuhan itu – yang telah diakui perlu adanya – hakikatnya memang benar-benar Dia ada. Dikarenakan cara kerja akal itu lemah, tidak sempurna dan juga diragukan, maka setiap filsafat yang hanya menggunakan akal semata tidak dapat mengenal Wujud Tuhan secara pasti. Bahkan, kebanyakan orang yang berusaha mengenal Tuhan hanya menggunakan akal belaka, akhirnya menjadi mulhid dan dahriyyat (ateis, tidak bertuhan) dan perenungan mereka tentang penciptaan langit dan bumi sedikitpun tidak dapat memberi faedah apapun.” (Banyak pemikir dan peneliti alam semesta, ahli tentang bumi dan saintis yang juga ateis seperti dapat kt lihat di zaman modern ini, maka mereka tidak mendapatkan manfaat sedikit pun dari akal mereka sendiri)

“Mereka menertawakan serta mencemoohkan orang-orang suci milik Tuhan.” (Sebagai akibatnya, mereka juga memperolok-olok orang-orang yang berdzikir kepada Allah, orang-orang yang datang dari Allah dan mempunyai hubungan erat dengan-Nya) “Salah satu argumentasi mereka adalah, ‘Di dunia terdapat ribuan benda atau barang yang tidak memberi faedah apapun kepada kami dan menurut penelitian akal kami penciptaan seperti itu tidak membuktikan adanya wujud pencipta. Melainkan adanya wujud-wujud itu semata-mata sia-sia dan secara bathil.’ Disesalkan dan sangat disesalkan! Orang-orang yang tuna ilmu itu sungguh tidak mengerti bahwa tiadanya ilmu tentang suatu hal bukan berarti wujud yang tidak diketahuinya itu tidak ada. Di zaman sekarang ini ada ratusan ribu manusia seperti itu yang menganggap diri mereka sebagai pakar filsafat berakal nomor wahid. Mereka menentang sekali adanya Wujud Allah Ta’ala. Sekarang jelaslah, jika mereka mendapat dalil akal yang kuat untuk membuktikan adanya wujud Tuhan, tentu mereka tidak akan menolak adanya Wujud Allah Ta’ala. Seandainya mereka telah menemukan suatu dalil akal yang meyakinkan mengenai Wujud Allah Ta’ala, tentu mereka tidak menolak sambil mencemoohkan dan menertawakan Wujud Allah Ta’ala dengan cara yang sangat memalukan dan cemoohan keras.

Tidak akan ada orang yang duduk diatas perahu filsafat yang dapat terlepas dari hembusan angin topan keraguan, melainkan pasti tenggelam di dalamnya. (Artinya, bila seseorang berkata-kata filosofis saja atau berpandangan secara lahiriah atas ilmu-ilmu sains atau memandang terpisah jauh dari kerohanian, tentu akan timbul keraguan-keraguan atas eksistensi Tuhan dan dia tidak akan mampu selamat dari hal itu, dan itu semua juga tidak akan membersihkan hatinya)

Sekali-kali mereka tidak akan memperoleh minuman syarbat Tauhid Ilahi yang murni. Sekarang pikirkanlah! Betapa batil dan berbau menusuk hidung pendapat ini, bahwa beriman kepada Tauhid Ilahi dapat diperoleh tanpa melalui perantaraan Hadhrat Muhammad saw, dan manusia memperoleh najaat tanpa melalui perantaraan beliau saw. Wahai yang kurang dalam pemahaman! Bagaimana bisa memperoleh keyakinan tentang Tauhid Ilahi jika tidak yakin secara sempurna terhadap wujud Tuhan? Maka, yakinlah, bahwa beriman terhadap Tauhid Ilahi dapat diperoleh hanya melalui perantaraan seorang Nabi. Sebagaimana Nabi kita Hadhrat Muhammad saw meyakinkan ribuan orang Arab tidak bertuhan dan para musyrik pemuja berhala terhadap wujud Tuhan Yang Mahakuasa dengan jalan menunjukkan Tanda-tanda samawi kepada mereka. Sampai sekarang, para pengikut sejati dan setia Hadhrat Rasulullah saw menunjukkan Tanda-tanda itu kepada para ateis, orang-orang tidak bertuhan. Hal sesungguhnya adalah, selama manusia tidak menyaksikan kekuatan-kekuatan yang hidup dari Tuhan Yang Hidup, setan tidak mau keluar dari dalam lubuk hatinya. Tidak pula Tauhid Sejati dapat masuk ke dalam lubuk hatinya. Bahkan, tidak pula percaya sepenuhnya tentang adanya Wujud Tuhan. Tauhid Suci dan Sempurna ini hanya dapat diraih melalui sarana Hadhrat Rasulullah saw.”[11]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dengan penuh kepedihan dan membakar semangat mengenai keyakinan akan wujud (keberadaan) Tuhan, keyakinan yang sedemikian rupa mengarahkan manusia agar senantiasa berpaling kepada Tuhan: ”Dalam wujud Tuhan kita terdapat keajaiban-keajaiban yang tak terhingga banyaknya. Akan tetapi hanya merekalah yang menjadi kepunyaan Dia berkat ketulusan serta kesetiaan mereka, dapat melihat keajaiban-keajaiban itu. Dia tidak menampakkan keajaiban-keajaiban itu kepada orang yang tidak mempercayai kekuasaan-Nya dan tidak setia kepada-Nya dengan hati yang sesuguhnya. Sungguh malang orang yang hingga kini tidak mengetahui bahwasanya ia mempunyai satu Tuhan Yang berkuasa atas tiap sesuatu!

Sesungguhnya firdaus (surga) kita adalah Tuhan kita. Pada Zat-Nya terletak segala kelezatan yang selezat-lezatnya; sebab, kami melihatnya dan segala keindah-permaian terdapat pada Wujud-Nya. Harta ini patut dimiliki walaupun harus dengan mempertaruhkan jiwa dahulu. Ratna mutu manikam ini patut dibeli sekalipun harus meniadakan segala wujud kita. Wahai, orang-orang yang mahrum! Bergegaslah lari menuju sumber mata air ini agar dilepaskan-Nya dahagamu. Inilah sumber mata air kehidupan yang bakal menyelamatkan kamu. Apakah gerangan yang harus kuperbuat dan bagaimanakah harus kusampaikan berita ini kepada setiap kalbu manusia? Dengan genderang bagaimana coraknya harus kucanangkan di lorong-lorong supaya orang-orang dapat mendengar bahwa Tuhan itu ada? Dengan obat apakah harus kusembuhkan telinga-telinga orang supaya terbuka untuk mendengarnya?” (Kisyti Nuh)

Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua, dalam mengikuti Imam zaman ini, pencinta sejati Hadhrat Rasulullah saw untuk menyampaikan amanat Tuhan Yang Hidup ini kepada dunia dan semoga kita mampu membuat mereka yakin terhadap Tuhan Yang Hidup, Yang sampai sekarang masih mendengar dan menunjukkan Tanda-tanda-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya. Semoga kita juga memperoleh taufiq untuk selalu menjalin hubungan erat dengan Tuhan Yang Hidup dan mengamalkan ajaran-ajaran-Nya, menunaikan hak ibadah kepada-Nya. Semoga kita memperoleh taufiq dari Allah Ta’ala untuk memahami betul-betul sifat-sifat-Nya agar kita dan semua anak keturunan dari anak keturunan kita juga selalu menjadi pewaris ni’mat-ni’mat-Nya. Semoga kita semua selalu mendapat perlindungan dan keselamatan-Nya. [aamiin]

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Barahin-e-Ahmadiyya, Ruhani Khaza’in, jilid 1, pp. 191, footnote no. 11

[3] Barahin-e-Ahmadiyya, Ruhani Khaza’in, jilid 1, pp. 191-192, footnote no. 11

[4] Barahin-e-Ahmadiyya, Ruhani Khaza’in, jilid 1, Hal. 518, foot note 3

[5] Azali artinya sama dengan baqa, yaitu “tidak bermula dengan masa dan tidak berakhir dengan waktu” ada sejak dahulu tanpa permulaan. Dia berbeda dengan makhluk yang bermula.

[6] Lecture Lahore, Ruhani Khaza’in, jld. 20/152-155

[7] Barahin-e-Ahmadiyya, Ruhani Khaza’in, Jld I, Hal. 518, sub-footnote 3

[8] Filsafat Ajaran Islam Hal.74-80

[9] Lecture Lahore, Ruhani Khaza’in, Jilid 20, Halaman 152-153

[10] Nasim-e-Da‘wat, Ruhani Khaza’in, Jld.19, Hal. 363

[11] Haqiqat-ul-Wahi, Ruhani Khaza’in, Jld. 22, Hal. 120-121