Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 29 Agustus 2014 di Hadiqatul Mahdi, London, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

Pada petang hari ini Jalsah Salanah Jemaat Britania, Insya Allah akan dimulai dan Jumat ini juga adalah salah satu bagian dari padanya. Sebagaimana telah saya jelaskan dalam Khotbah sebelumnya, para tamu yang datang untuk menghadiri Jalsah membawa sebuah niat yang baik dan memang harus datang dengan maksud yang baik. Tujuannya adalah untuk meraih pengetahuan hakikat agama yang sejati. Belajar ilmu agama, meningkatkan iman dan keruhanian. Jalsah Salanah menciptakan sebuah lingkungan tempat bergaul orang-orang mukhlis baik laki-laki dengan laki-laki maupun perempuan dengan perempuan, karena itu setiap orang terkesan untuk meningkatkan standar iman dan ketaqwaan mereka lebih baik dari sebelumnya.

Kita sebagai orang-orang Ahmadi telah berjanji untuk mendahulukan kepentingan agama dari pada kepentingan pribadi, dan Jalsah Salanah menyediakan sarana dan prasarana untuk mengenal bagaimana cara yang paling baik untuk menyempurnakan janji itu dalam peri kehidupan kita sebaik mungkin. Jalsah Salanah juga memberi peluang kepada kita untuk meningkatkan semangat berzikir kepada Allah Ta’ala dan juga untuk mendorong perhatian kita lebih cermat dari sebelumnya terhadap pelaksanaan huququLlah dan huququl ‘ibaad (hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak hamba-hamba-Nya). Selama Jalsah kita harus berusaha menaruh perhatian penuh terhadap ibadah kepada Allah Ta’ala sambil berusaha untuk meningkatkan mutunya. Mutu atau standar ibadah itu telah Allah Ta’ala jelaskan dengan firman-Nya di dalam Al Qur’anul Karim, وما خلقتُ الجن والإنس إلا ليعبدون artinya: “Tidaklah Kami ciptakan Jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat : 57).

Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ”Jadi, intisari ayat ini menjelaskan bahwa suatu keharusan untuk menjadi tujuan hakiki bagi manusia adalah untuk beribadah kepada Tuhan, untuk ma’rifat Tuhan dan menjadi milik Tuhan.”[2]

Pendeknya, setiap peserta yang datang menghadiri Jalsah Salanah harus bertujuan semata-mata untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Jika tidak demikian, tujuan menempuh perjalanan jauh dengan susah payah ini dan dengan membelanjakan banyak biaya, tidak dapat dicapai. Jadi, alangkah besarnya tanggung jawab para peserta Jalsah Salanah itu. Dengan menyempurnakan maksud dan tujuannya itu pentingnya Jalsah akan dirasakan meningkat. Itulah sebabnya para panitia dan para petugas telah menyerahkan diri mereka untuk melakukan pekerjaan baik dan untuk mengkhidmati para tamu yang datang untuk menghadiri Jalsah Salana. Dari segi itu para panitia dan para petugas mendapat ganjaran dua kali lipat ganda, di samping mengkhidmati para tamu, mereka juga dapat mengambil faedah mendengarkan program Jalsah serta dapat kesempatan bergaul dengan para tamu dari berbagai tempat.

Maka, patut diingat bahwa selama tiga hari Jalsah merupakan peluang emas yang sangat baik bagi para pelaksana tugas dan para panitia untuk menerapkan secara amaliah maksud dan tujuan Jalsah yang telah diuraikan diatas agar iman kita semakin bertambah maju. Maka, berusahalah untuk mengambil faedah sebesar mungkin dari padanya. Untuk itu ambillah bagian sedapat mungkin dengan penuh perhatian dan kemampuan yang dimiliki. Kita harus ingat selalu terhadap maksud dan tujuan Jalsah yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as Beliau ingin sekali menegakkan sebuah contoh teladan dari maksud dan tujuan Jalsah yang patut ditiru oleh dunia dengan menempatkan para pengikut beliau di dalam suasana suci murni yang bernuansa keruhanian itu. Yang kemudian lambat-laun dunia pun akan mengikutinya. Beliau as bersabda, “Hati para pengikutku yang sejati tunduk sepenuhnya terhadap alam Akhirat.”[3] Itu artinya, para pengikut sejati selalu berpikir untuk meraih ganjaran yang paling tinggi yaitu ‘ridha Allah Ta’ala.’

Hal itu bukanlah perkara kecil. Manusia tidak dapat meraih kedudukan itu dengan hanya mengandalkan usaha pribadinya. Untuk itu penting sekali manusia harus berusaha keras secara individu ditunjang dengan doa sebanyak mungkin dipanjatkan kepada Allah Ta’ala, memohon pertolongan kepada-Nya agar dapat mencapai puncak tujuannya.

“Ya Allah! Berbagai macam masalah dunia timbul dan banyak sekali hambatan menghadang di hadapanku. Dengan karunia Engkau, bimbinglah daku ke jalan lurus yang Engkau ridhai. Penuhilah kalbu-ku dengan perasaan takut yang dimiliki oleh para kekasih dan pencinta Engkau. Jangan-jangan suatu amal-ku menjadi penyebab Engkau marah kepadaku. Supaya setiap langkah-ku membawaku ke jalan kebaikan yang telah Engkau perintahkan untuk mengamalkannya. Pikiranku mengeluarkan setiap perkara yang dibenci dari benak-ku yang telah Engkau cegah melakukannya. Agar aku menjadi orang bertaqwa yang memenuhi hak-hak sesama makhluk Engkau, dan agar perhatian-ku setiap waktu tercurah untuk melaksanakan hak-hak Engkau. Supaya aku dapat mencapai target yang telah Engkau tetapkan sebagai tujuan kehidupan-ku, yakni ibadah; agar aku dapat mencapai maksud dan tujuan ibadah yang Engkau kehendaki dari hamba-hamba Engkau; agar aku menjadi teladan dalam penampilan akhlaq fadillah yang membuat manusia merasa bangga untuk menirunya.”

Allah Ta’ala telah berlaku baik sekali kepada kita, di mana Dia telah memberi tahu jalan untuk mencapai standar itu di dalam Al-Qur’an, disana Dia telah memberi tahu juga jenis akhlaq fadillah yang kaitannya dengan huququl ‘ibaad. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyatakan penting bagi para peserta Jalsah Salanah untuk meraih dan mengungkapkan akhlaq fadillah juga.

Di suatu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Aku berkata dengan sebenar-benarnya, iman seseorang sekali-kali tidak akan sempurna selama ia tidak mendahulukan kenyamanan saudaranya dibanding kenyamanan diri pribadinya.”[4]

Hal itu bukanlah pekerjaan mudah. Meraih standar ini bukanlah perkara biasa. Banyak orang yang memperhatikan kenyamanan orang lain, tetapi dari segi fenomenanya jika dia berlaku demikian tanpa mengorbankan kesenangan atau kenyamanan pribadinya, bisa saja terjadi. Tetapi, sangat jarang kita saksikan orang yang mengutamakan kesenangan orang lain di atas kesenangan dirinya pribadi. Memang banyak orang yang menaruh perhatian terhadap kesenangan orang lain namun sedikit sekali orang yang mendahulukan kesenangan orang lain di atas kesenangan dirinya pribadi. Standar pengorbanan seperti itu susah sekali bagi setiap orang.

Bahkan, sehubungan dengan kenyamanan orang lain, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Selama manusia tidak menganggap kesusahan orang lain sebagai kesusahan dirinya sendiri, dia tidak bisa menjadi mu’min sejati. Jika saudara saya jatuh sakit terlibat dalam kesusahan, sedangkan dengan tenang dan nyaman saya tidur, keadaan saya sangat tercela. Menjadi kewajiban saya, sedapat mungkin saya harus berusaha menciptakan sarana untuk membuat dia tenang dan tenteram. Jika seorang saudara rohaniah berkata kasar kepada saya, maka dengan perasan sesal, terpaksa saya sengaja akan bersikap keras pula kepadanya. Memang tugas saya adalah menunjukkan kesabaran, tetapi sambil menangis saya akan berdoa pula untuknya sebab rohani orang ini sedang sakit, semoga Allah Ta’ala menyembuhkannya agar ia menjadi baik.”[5]

Jadi, ini juga sebuah mutu akhlaq tentang mana Allah Ta’ala perintahkan di dalam Al-Qur’anul Karim “رحماء بينهم” “Orang mu’min selalu berkasih sayang sesama mereka.” Karena kasih sayang satu sama lain itu, mereka pun merasakan kesusahan orang lain. Karena perasaan susah itu merasuk kedalam hati mereka, mereka pun berusaha untuk menolong dan mendoakannya juga.

Ringkasnya, kita perlu mengadakan pemeriksaan terhadap diri kita, sampai dimana usaha kita untuk meraih standar seperti itu. Jika kita mulai berusaha melakukannya, pertengkaran besar ataupun kecil yang kerap terjadi diantara kita, akan segera berakhir. Kesombongan pribadi timbul dari padanya, kedengkian dan kemarahan berkobar di sana apabila Taqwa sudah tidak dikenal, dan rasa takut kepada Allah Ta’ala tidak ada, dan apabila kepentingan pribadi didahulukan di atas kepentingan orang lain. Maka, menciptakan Taqwa adalah kewajiban setiap orang mu’min dan kewajiban setiap orang yang menamakan diri murid Hadhrat Masih Mau’ud as dan juga kewajiban setiap orang yang mengikuti Jalsah Salana. Sebab, jika ingin menjadi pewaris doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as dan meraih berkat-berkat menghadiri Jalsah Salana, semua perselisihan dan pertengkaran harus ditinggalkan.

Beruntunglah nasib kita, sebab kita selalu mendapat bimbingan dan panduan berupa nasihat-nasihat dari Hadhrat Masih Ma’ud as sehingga kita dapat mengetahui hakikat Islam dan Taqwa. Kita bukan seperti orang-orang Muslim lainnya yang terkecoh yang tidak mengetahui pasti siapa pimpinan yang harus diikuti dan siapa yang tidak harus diikuti. Dengan memimpin ke jalan yang keliru, orang-orang yang menamakan diri atau disebut sebagai pemimpin dan pembesar agama menghasut untuk memotong leher orang-orang yang tidak berdosa. Kita harus banyak-banyak memanjatkan doa bagi orang-orang Muslim yang terpedaya agar Allah Ta’ala memberi akal kepada mereka dan supaya mereka tidak menjadi penyebab kemurkaan Allah Ta’ala disebabkan gerak-gerik dan perilaku mereka yang buruk. Agar mereka tidak menjadi perusak nama baik Islam dan nama baik Baginda Nabi Muhammad saw disebabkan pemikiran mereka yang salah tentang Islam kemudian mereka kemukakan kepada dunia.

Padahal Hadhrat Nabi Muhammad saw bersabda, “Muslim hakiki adalah orang-orang yang membuat orang lain merasa aman dan terpelihara dari tangan dan dari mulut mereka, tanpa kecuali.”[6]

Secara jelas dan gamblang Hadhrat Masih Mau’ud as juga menjelaskan, “Mu’min hakiki adalah orang yang bukan hanya orang-orang Muslim sendiri bahkan ghair Muslim pun merasa aman dan selamat dari padanya.”

Di beberapa ayat Al-Qur’an Allah Ta’ala menjelaskan akhlaq-akhlaq yang tinggi, yang ingin saya kemukakan beberapa diantaranya sebagai berikut. Pertama, mengapa kita harus memiliki akhlaq yang tinggi. Firman-Nya;

كُنْتُمْ خَيْرَأُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Artinya : “Kamu adalah Jemaat yang paling baik, telah diciptakan untuk faedah manusia. Kamu mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah manusia dari keburukan.” (Ali Imran; 3 : 111). Tanda seorang Mu’min atau tanda setiap pribadi Muslim adalah, mengajak manusia kepada kebaikan dan mencegah manusia dari keburukan. Memberi faedah kepada orang lain dan menghindarkan manusia dari kerugian.

Sangat disayangkan, mengapa orang-orang Muslim di dunia tidak memahami ajaran Islam yang indah ini dan tidak berusaha menunaikan kewajiban mereka. Mereka lebih cenderung melakukan pembunuhan terhadap manusia tidak berdosa atas nama Islam, dari pada mengemukakan wajah Islam sejati dan indah kepada dunia. Mereka itu telah mengingkari Hadhrat Masih Mau’ud as. Oleh sebab itu mereka tidak akan dapat memberi bimbingan yang benar kepada siapapun dan tidak pula dapat menjadi pembimbing diantara mereka sendiri selama mereka tidak percaya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Sekarang ini, pekerjaan memenuhi tugas kewajiban menjadikan khaira ummah (umat yang terbaik) telah dipercayakan kepada Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as. Tanggung jawab ini harus betul-betul kita pahami. Sebagai keistimewaan orang-orang Mu’min bahwa mereka harus menaruh perhatian penuh terhadap orang-orang miskin. Mereka harus menjadi orang-orang yang tanpa pamrih membelanjakan harta mereka demi menolong orang-orang lemah di lingkungan masyarakat mereka. Hal itu bukan semata-mata karena ihsan, melainkan mereka menganggapnya sebagai tanggung jawab yang telah ditetapkan kepada mereka.

Pada kesempatan ini saya ingin menjelaskan mengenai hal ini bahwa semua sudah menyaksikan keburukan-keburukan orang-orang Muslim dan sudah terkenal sekali kemana-mana. Jika mereka mempunyai suatu keistimewaan, tidak ada yang menaruh perhatian sedikit pun terhadap keistimewaan mereka itu. Beberapa hari yang lalu orang-orang bukan Islam mengadakan suatu penelitian (survey), siapakah yang paling banyak memberi sedekah atau derma di dunia ini? Mereka melihat kenyataan bahwa di seluruh dunia, orang-orang yang percaya kepada Tuhan, penganut suatu agama, lebih banyak bersedekah dan derma dibandingkan dengan orang-orang yang tidak beragama dan tidak percaya kepada Tuhan. Dari antara golongan-golongan agama, golongan Muslim yang lebih banyak memberi sedekah dan derma di dunia ini. Itulah kebaikan orang-orang Muslim karena ada perintah untuk itu dari Allah Ta’ala. Semoga mereka itu juga menjadi pelaku amal-amal kebaikan yang lain-lainnya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman bahwa penuhilah lebih dahulu keinginan orang lain dari pada keinginan-keinginan diri sendiri. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Salah satu tujuan Jalsah Salanah adalah apabila jumlah manusia yang berkumpul sudah tidak terhitung lagi banyaknya, untuk itu pasti Jemaat akan menghadapi banyak sekali keperluan-keperluan. Maka, pada kesempatan seperti itu kewajiban seorang Ahmadi sejati adalah mengorbankan keperluan-keperluan diri pribadinya bagi keperluan dan kesenangan orang lain, bersamaan dengan itu menunjukkan contoh kecintaan dan pengorbanan bagi yang lain. Dalam hal itu bukan hanya berupa pengorbanan bahkan kecintaan dan kasih sayang juga harus ditunjukkan sebagai contoh.”[7]

Selain itu, Allah Ta’ala sangat menyukai sifat ‘aajizi (merendahkan diri). Sebab itu orang mu’min dianjurkan agar merendahkan diri. Banyak sekali masalah timbul di kalangan masyarakat, sebabnya adalah, apabila banyak sekali manusia berkumpul di satu tempat, sifat takabbur pun akan muncul dan menjadi penghalang bagi solusi masalah-masalah yang dihadapi itu. Setiap Ahmadi harus berusaha secara khusus untuk berlaku merendahkan diri. Sebab, Allah Ta’ala secara khusus menghargai Hadhrat Masih Mau’ud as karena sifat beliau ini, sebagaimana firman-Nya,  ’Teri ‘aajizaanah rahen tujhe pasand aai’, “Aku merasa senang terhadap sikap kamu yang merendahkan diri.”[8] Jadi, jika kita telah mengakui sebagai pengikut beliau, kita harus menerapkan sifat merendahkan diri itu pada diri kita.

Begitu juga mengenai prasangka baik, kejujuran, dan kebenaran. Dalam segala situasi menyatakan kebenaran dengan jujur sangat diperlukan. Bahkan, Allah Ta’ala berfirman bahwa, standar kejujuran dan keadilan itu harus dimiliki sedemikian rupa, sehingga jika suatu perkara menentang diri sendiri pun harus jujur dan adil. Ingatlah! Bagaimanapun situsinya, kebenaran itu jangan dibiarkan terlepas dari tangan. Pemaaf, sabar adalah kebaikan-kebaikan yang harus kita miliki dan amalkan. Waktu pengamalannya yang tepat adalah di kala manusia sedang ramai berkumpul dalam satu tempat, pada waktu itu timbul berbagai macam masalah, sehingga perangai atau akhlaq manusia mungkin berobah dalam menghadapinya. Hadhrat Masih Mau’ud as sesuai dengan ajaran Qura’an Karim secara khusus telah menegaskan para pengikut beliau untuk memiliki sifat-sifat baik itu. Kemudian kita dianjurkan untuk memiliki sifat adil dan ihsan.

Standar adil dan ihsan yang telah ditegakkan di dalam Al-Qur’an, tidak terdapat contohnya di dalam kitab apapun. Karena itu, di waktu permusuhan dengan musuh juga tidak menghalangi kita untuk berbuat adil dan ihsan kepada mereka. Itulah standar ajaran yang dimiliki oleh Islam secara khas dan kita telah diperintah untuk memiliki standar seperti itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Banyak sekali manusia datang untuk menghadiri Jalsah. Pada waktu itu kita harus menunjukkan akhlaq fadillah yang sejati di hadapan mereka. Pelaksanaan akhlaq fadillah baru akan diketahui apabila kita sedang berada di tengah-tengah orang ramai berkumpul. Di waktu itu kita akan menjadi orang-orang yang menampilkan ajaran Islam yang indah. Itulah contoh yang bisa menjadi sarana tabligh juga. Menunjukkan contoh akhlaq fadillah itulah merupakan keistimewaan para Ahmadi. Banyak sekali orang-orang cenderung kepada Jemaat setelah menyaksikan teladan yang tinggi dan indah itu. Diantara para hadirin juga tentu banyak sekali yang telah menjadi sumber inspirasi bagi orang lain untuk mengenal kemudian menjadi anggota Jemaat Ahmadiyah.

Sebagaimana diterima laporan dari berbagai Negara di dunia yang mengatakan bahwa banyaknya orang yang ikut menghadiri Jalsah Salanah di negara-negara itu. mereka mengetahui ajaran Islam yang sejati, setelah menyaksikan teladan yang baik dan mengesankan di Jalsah Salana. Mereka berkata, “Berkat hubungan dengan orang-orang Ahmadi, kami jadi tahu ajaran Islam yang sebenarnya. Kami menyaksikan keadaan Jalsah sangat menakjubkan, bagaimana pertemuan yang dihadiri ribuan orang ini bisa berjalan dengan aman dan tenteram serta diliputi rasa penuh persaudaraan.”

Begitu juga beberapa pemimpin agama atau pembesar suatu bangsa dari beberapa negara Afrika yang sebelumnya menentang Jemaat, setelah dibawa menghadiri Jalsah, natijahnya bukan saja mereka meninggalkan penentangan dan kebencian yang dilakukan sebelumnya bahkan dengan karunia Allah Ta’ala mereka Baiat masuk Jemaat Ahmadiyah. Ringkasnya, Jalsah ini berkesan juga buat orang yang menentang.

Dua bulan yang lalu Jalsah Salanah di Jerman telah diselenggarakan. Sepasang suami-istri non-Muslim dari negara tetangga yang sebelumnya antipati terhadap Islam atau minimal mempunyai kesan buruk tentang Islam ikut menghadiri Jalsah Salanah Jerman. Mereka kenal beberapa Ahmadi. Mereka berkata, “Kami ingin melihat-lihat, para Ahmadi yang menyatakan bahwa Islam adalah agama keselamatan dan penuh kedamaian. Setelah melihatnya ternyata ada kebenaran dari hal itu.” Tujuan mereka awalnya ialah untuk mengajukan kritikan menentang Islam. Tetapi, setelah menyaksikan suasana Jalsah bahkan mulaqat juga dengan saya, keadaan mereka sungguh terbalik menjadi sangat simpati terhadap Islam dan Jemaat Ahmadiyah, akhirnya dengan karunia Allah Ta’ala mereka pun telah Baiat masuk Jemaat Ahmadiyah. Banyak juga diantara mereka yang ikut Baiat di kala sedang dilakukan Baiat massal dan berkata, “Pemandangan suasana Baiat telah membuat sikap kami tanpa disengaja, tanpa dibuat-buat dan tanpa diinginkan sebelumnya juga, kami ikut langsung menyatakan diri Baiat.”

Jika teladan kita berlainan, atau kebanyakan contoh diantara kita berbeda-beda, maka pemandangan indah di waktu Baiat tidak akan mengesankan mereka. Atau pemandangan suatu kebaikan yang sifatnya sementara yang dibuat-buat tidak akan menciptakan kesan yang dapat menarik hati mausia. Maka setiap orang yang menghadiri Jalsah, sesungguhnya mereka sedang melakukan tabligh secara diam-diam.

Di dalam Khotbah Jumat yang lalu saya telah mengingatkan hal yang sama kepada para panitia Jalsah, bahwa Tabligh secara diam-diam terjadi melalui perilaku dan pengkhidmatan yang sedang mereka lakukan. Tetapi, bukan hanya para panitia, melainkan setiap orang yang menghadiri Jalsah adalah Muballigh, yang memberi kesan kepada orang lain. Karenanya, telah menjadi kewajiban setiap orang yang menghadiri Jalsah, baik itu laki-laki, perempuan, anak-anak maupun orang tua untuk menunjukkan perilaku dan teladan yang dapat menarik perhatian orang lain. Perilaku serta contoh tersebut bukan untuk sementara, melainkan setiap waktu harus berusaha untuk menciptakan perubahan pada diri pribadi masing-masing, sehingga menjadi Muslim yang sejati. Jadi, setiap kita harus menciptakan perasaan penting dan kesadaran tanggung jawab pada diri kita supaya kita dapat meraih berkat hakiki Jalsah.

Untuk mengungkapkan akhlaq yang tinggi, orang-orang Muslim telah ditekankan untuk menyebarkan pentingnya mengucapkan ‘Assalamualaikum’ kepada sesama yang lain. Nabi Muhammad saw bersabda: “تَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ.” Taqraus salaama ‘ala man ‘arafta wa man lam ta‘rif. – “Ucapkanlah salam kepada orang yang engkau kenal maupun tidak engkau kenal.”[9] Betapa indahnya perintah ini, jika intisarinya dipahami, kemudian diamalkan, maka kekacauan dan kerusuhan yang sekarang sedang melanda dunia dapat segera dihapuskan. Sebab, jika manusia banyak memanjatkan doa keselamatan bagi yang lain, tidak mungkin timbul di dalam hati kedengkian, permusuhan, kebencian atau perasaan takabbur. Dengan syarat doa itu keluar dari lubuk hati yang bersih. Jika tidak ada keburukan-keburukan itu, maka tidak akan timbul alasan berkobarnya kerusuhan di dalam lingkungan masyarakat.

Maka ruang lingkup amanat keselamatan ini sedapat mungkin harus diperluas. Amanat keselamatan ini bukan hanya bagi orang-orang yang sepaham dan orang-orang yang dikenal saja melainkan bagi semua lapisan masyarakat. Terhadap para peserta Jalsah Salanah juga harus diterapkan peraturan, bahwa mereka harus berusaha untuk menyebarkan ucapan salam seluas-luasnya di lingkungan Jalsah ini, sehingga seluruh lingkungan memperoleh keselamatan dan agar kita menjadi para peraih karunia dan keselamatan yang sesungguhnya dari Allah Ta’ala.

Saya ingin mengingatkan beberapa perkara tentang intizami (pengaturan) Jalsah ini, sekalipun sebelumnya telah mengingatkannya. Namun kini saya ingin mengulanginya lagi, khususnya kaum laki-laki yang membawa anak-anak umur 8-9 tahun, sedangkan anak-anak dibawah umur itu biasanya bersama ibu mereka. Anak-anak berumur 8-9 tahun tidak termasuk anak kecil yang bisa dibiarkan keluar-masuk Tenda. Anak-anak seperti itu juga kadang-kadang tidak menghiraukan suasana Jalsah. Anak umur diatas 7 tahun harus diajak shalat, jika mereka tidak sadar atau tidak mengerti, mereka harus diberi tahu apa tujuan mereka datang ke tempat Jalsah. Mereka sejak dini harus dinasihati, jika di waktu masih kecil tidak diberi training, setelah menjadi besar pun mereka tidak akan dapat mempertahankan kesucian dan disiplin Jalsah Salana. Selanjutnya, ini pun bisa juga terjadi, para bapak pergi keluar meninggalkan Tenda dengan alasan menemani anak-anaknya, kemudian muncullah keluhan bahwa anak-anak mereka bermain-main dan hilir-mudik kesana-kemari dan menimbulkan satu kesan yang salah tentang Jalsah.

Begitu juga ada keluhan bahwa kaum perempuan, bukan mengikuti atau mendengarkan program-program Jalsah, melainkan pergi keluar kemudian berbincang-bincang dengan teman-teman lainnya di sana. Seharusnya mereka juga mendengarkan pidato-pidato Jalsah. Sebab, materi pidato-pidato para penceramah dapat membantu meningkatkan ilmu pengetahuan dan kerohanian. Setiap penceramah Ahmadi tidak menerangkan suatu perkara di luar ajaran Al-Qur’an, Hadits-Hadits sabda Baginda Nabi Muhammad saw dan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as dan itu adalah perkara yang sangat diperlukan pada waktu sekarang ini. Pahamilah pentingnya perkara tersebut dan hadirin Jalsah harus masuk dan duduk di dalam tenda mendengarkan pidato-pidato agar dapat meraih faedah Jalsah yang sebenarnya. Janganlah memilih-milih dari antara penceramah, ceramah siapa yang mau didengar dan ceramah siapa yang tidak mau didengar, atau pidato ini sudah pernah didengar. Semua pendapat itu tidak benar. Semua ceramah harus didengar. Karena para penceramah telah membuat persiapan, sebab itu semua ceramah mengandung banyak ilmu pengetahuan dan menjadi sumber banyak berkat. Jika datang untuk menghadiri Jalsah, maka semua program Jalsah harus dihadiri seluruhnya secara sempurna.

 Dari Tenda khusus yang disediakan bagi para ibu yang membawa anak-anak kecil diterima komplain (pengaduan), bahwa anak-anak kurang sekali menimbulkan suara-suara bising, namun sebaliknya perempuan-perempuan yang membawa anak-anak mereka kedalam Tenda itu yang banyak berbincang-bincang satu sama lain menimbulkan suara bising sehingga mengganggu ketertiban. Oleh sebab itu perhatian harus ditujukan kearah itu, baik para petugas Lajna maupun perempuan-perempuan yang bersangkutan. Jika perempuan-perempuan senyap tidak membuat kebisingan hanya kebisingan dibuat oleh anak-anak, tidak terlalu banyak mengganggu, sedikit banyak orang-orang yang duduk di situ dapat mendengar suara orang berpidato. Jadi, semua orang di sekitar itu harus menaruh perhatian khusus kearah itu.

Saya ingin mengingatkan kembali para panitia dan para petugas, agar mereka melaksanakan tugas-tugas mereka dengan penuh tanggung jawab, jangan menganggap remeh terhadap sesuatu hal atau sesuatu pekerjaan. Para petugas keamanan juga harus berlaku cermat dan tangkas. Harus menghadapi suatu perkara dengan pandangan tajam. Jangan menganggap ringan terhadap suatu masalah yang timbul. Selain para panitia Keamanan, para panitia seksi-seksi lain juga harus berjaga-jaga mengawasi semua kawasan masing-masing dengan cermat. Semua petugas, semua peserta Jalsah, dan setiap Ahmadi, merupakan pengawas bagi keamanan. Mereka harus mengawasi lingkungan masing-masing dan jika melihat sesuatu yang mencurigakan harus segera melaporkannya kepada Ketua Penyelenggara.

Di waktu puncak kesibukan, di mana semua kafilah sedang berduyun-duyun masuk ke dalam tempat Jalsah atau keluar meninggalkan Jalsah Gah, di sana para Petugas Keamanan harus menunjukkan kesabaran dan penertiban yang patut dicontoh. Di waktu ramai tersebut, seksi keamanan harus waspada penuh perhatian dari segi pengamanan. Berbagai peristiwa bisa jadi terjadi dalam kondisi demikian, karenanya, mereka harus senantiasa cermat dan  hati-hati.

Semua peserta Jalsah, harus dapat menerima setiap arahan dari para petugas manapun datangnya, tanpa menghiraukan ia itu petugas yang masih seorang anak maupun dewasa, jika ia sedang menunaikan tugasnya, ia harus dianggap penting dan mematuhi arahannya. Semua petunjuk sudah dicantumkan di dalam lembaran program Jalsah. Harus dibaca dan harus diamalkan juga.

Kemudian ada juga keluhan lain yang sering diangkat dan saat ini sebelum, bukan setelah usai Jalsah, saya hendak menyebutkan  hal yang sangat penting ini, yaitu mengenai penggunaan access card Jalsah, yang harus dijaga sendiri dan dipergunakan sendiri oleh pemegangnya secara benar. Tidak boleh diberikan atau dipinjamkan kepada orang lain. Setiap orang yang mempunyai access card untuk masuk ke tempat yang telah ditetapkan harus digunakan sesuai dengan petunjuk. Tidak boleh ditukar atau dipinjamkan. Siapa yang punya, dialah yang dapat menggunakannya.

Yang terutama, kita harus berdoa semoga Allah Ta’ala memberkati Jalsah ini dalam segala segi dan semoga kita menjadi para pewaris dari berkat-berkatnya. [Amin! Alihbahasa Hasan Basri]

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Islami Ushul ki Filasafi, Ruhani Khazain 10, h. 414

[3] Syahadatul Qur’an, Ruhani Khazain 6, h. 394

[4] Syahadatul Qur’an, Ruhani Khazain 6, h. 395

[5] Syahadatul Qur’an, Ruhani Khazain 6, h. 396

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang keimanan, no. 9

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

[7] Syahadatul Qur’aan, Ruhani Khazain jilid 6, 393-394.

[8] Tadzkirah, 595, edisi ceharam, Rabwah.

[9] al-Bukhari, Kitab al-Iman, bab tentang penyebaran salam, no. 08.