Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز – ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 10 Agustus 2018 (Zhuhur 1397 HQ/28 Dzul Qa’idah 1439 HQ) di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Alhamdulillah, seraya menebarkan berkat-berkatnya dan menampilkan karunia-karunia Allah Ta’ala, Jalsah Salanah (Pertemuan Tahunan) UK (Britania Raya) telah sampai pada penutupannya hari Ahad lalu. Tiga hari ini luar biasa keberkatannya. Persiapan Jalsah Salanah memang berlangsung hampir sepanjang tahun, tetapi dalam tiga atau empat bulan terakhir, khususnya panitia dan banyak sekali sukarelawan menjadi lebih sibuk untuk persiapan Jalsah. Jumlah sukarelawan bertambah cukup banyak secara signifikan dalam dua minggu sebelum Jalsah. Khususnya untuk menyediakan semua fasilitas di Hadiqatul Mahdi, para panitia bekerja dengan segenap kemampuannya. Di antara mereka terdapat banyak sekali jumlah khudam muda. Membangun sebuah kota sementara lengkap dengan semua fasilitas di tempat yang hampir seperti hutan itu bukanlah pekerjaan kecil dan kemudian yang melakukan ini juga bukan seratus persen profesional atas pekerjaan yang mereka lakukan.

Segala sesuatu yang kita capai dan hasil yang kita peroleh adalah karena karunia Allah yang Maha Tinggi. Hanya Allah-lah yang membuat usaha-usaha itu berhasil secara gemilang. Para tamu yang hadir juga mengungkapkan keheranan mereka dengan melihat semangat para panitia. Jumlah panitia yang bekerja meningkat berlipat ganda selama Jalsah itu sendiri dibandingkan sebelum Jalsah, yang meliputi pemuda, manula, anak-anak, pria dan wanita.

Bagi tamu non-Muslim, ini adalah pemandangan yang luar biasa tentang bagaimana kaum muda dan orang tua semuanya sibuk pada tugas-tugas mereka. Tugas yang mereka kerjakan memberikan kesan mendalam bagi tamu-tamu yang belum pernah mengalami hal tersebut. Cara orang-orang ini mengungkapkan perasaan mereka benar-benar luar biasa.

Selain mengomentari layanan yang diberikan oleh para panitia, mereka juga mengatakan bahwa Jalsah memiliki dampak khusus pada mereka dan telah mengubah hidup mereka. Meskipun mereka adalah non Muslim, di dalam diri mereka telah timbul suatu pengaruh dari ajaran Islam. Pengetahuan mereka mengenai Islam dan Jemaat menjadi bertambah. Bukan kesan negatif akan Islam, mereka justru dapat mengetahui keindahannya. Dengan demikian, di satu sisi, Jalsah adalah sarana untuk memperkuat iman dan meningkatkan persaudaraan di antara orang-orang kita sendiri dan di sisi lain berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan Islam yang sebenarnya kepada orang lain.

Dalam pidato di hari kedua, disampaikan secara ringkas mengenai hujan karunia Allah Ta’ala di sepanjang tahun. Diungkapkan juga rasa syukur atas karunia-karunia Allah Ta’ala yang tiada berhingga. Kita menyaksikan dengan kebersyukuran pada Allah Ta’ala tersebut, rasa syukur yang lebih besar atas hujan karunia Allah Ta’ala telah dimulai pada hari-hari Jalsah itu sendiri. Salah satu penampakannya adalah kesan-kesan yang disampaikan oleh para tamu ghair terkait Jalsah.

Sekarang saya akan menyampaikan secara singkat beberapa kesan yang menunjukkan bahwa betapa keberkatan-keberkatan Jalsah ini memberikan pengaruh mendalam pada orang lain juga.

Seorang tamu dari Benin, Valentine Hodhi, yang pernah delapan tahun menjadi menteri dan sekarang merupakan anggota Parlemen, ikut serta dalam Jalsah. Dia mengatakan, “Saya mendapat banyak hal dari Jalsah Salanah, yang bahkan tidak saya dapat dengan menghabiskan banyak uang. Saya memperoleh kesempatan untuk tinggal dalam suasana yang penuh ketenangan dan spiritualitas. Tidak ada perselisihan dan pertengkaran. Setiap orang sibuk untuk mengkhidmati yang lain. Anak-anak, orang dewasa, tua-muda, anak-anak perempuan, semuanya bekerja untuk kenyamanan orang lain dengan memperlihatkan akhlak yang luhur. Bagi saya, ini merupakan hal besar dan mengherankan. Begitu banyaknya orang berkumpul, tetapi tidak ada polisi, tidak ada tentara terlihat. Di setiap sudut yang nampak adalah para sukarelawan Jemaat Ahmadiyah.

Saya berpikir bagaimana bisa di zaman sekarang ini ada orang bekerja dengan tulus dan tanpa pamrih. Kemudian saya sampai pada suatu kesimpulan, bahwa semua ini hanya mungkin terjadi karena berdiri tegaknya Khilafat dalam Jemaat Ahmadiyah, yang telah memberikan tarbiyat kepada anak-anak, orang tua, pemuda, kaum peremupuan, semuanya, dan telah mulai mengajarkan pengaturan Jalsah ini kepada anak-anak semenjak kecil.

Saya dapat mengatakan bahwa Islam yang Jemaat Ahmadiyah tampilkan kepada dunia dan cara yang dilakukan untuk memberikan tarbiyat kepada para anggotanya, melalui cara itu dunia akan dengan cepat masuk ke dalam Islam Ahmadiyah dan Jemaat Ahmadiyah akan menjadi agama paling besar di dunia ini.”

(Ahmadiyah bukanlah sebuah agama, Islam-lah yang akan menjadi agama paling besar di dunia, yang akan tegak kembali dengan perantaraan Masih Mau’ud ‘alaihish shalatu was salaam).

“Dunia akan dapat menyaksikan gambaran pengamalan nyata dari ajaran yang diajarkan Jemaat Ahmadiyah dengan ikut serta dalam Jalsah di sini. Saya sedang bersiap kembali ke negara saya dengan membawa kenangan teramat indah dari Jalsah ini. Bagi saya, detik-detik ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata dan merupakan kenangan yang indah.”

Kemudian, seorang tamu dari Benin, Tn. Tchinwanu Pascal, yang berada di posisi tinggi dalam Perencanaan Pembangunan di kementerian Benin, mengatakan, “Saya telah melihat dan mengikuti banyak konferensi, tetapi saya tidak pernah melihat acara yang terorganisasi dan sukses seperti Jalsah Anda sebelum ini. Semua panitia yang bekerja dalam Jalsah ini mengetahui dengan baik tanggung jawab mereka dan menunaikan kewajiban-kewajiban mereka dengan cara sangat baik. menyediakan makan untuk 40.000 orang sangat mencengangkan, tetapi hal paling besar dan sulit dipercaya adalah, bahwa semua juru masak dan penyedia minuman adalah sukarelawan.

Jika seluruh dunia bekerja dengan semangat ini, saya dengan penuh keyakinan saya dapat mengatakan peperangan dan perselisihan di dunia ini akan berkahir, demikian pula masalah-masalah umat manusia. Saya tidak bisa berdiam diri tanpa memuji Jemaat Ahmadiyah. Anak-anaknya, pemudanya, orang-orang tuanya, kaum perempuannya, semuanya merupakan orang yang terorganisir dan bertata krama.

Joseph Pierre, perwakilan Presiden Haiti, telah datang dan mengatakan, “Pertemuan ini adalah pengalaman hebat dalam hidup saya, dan tidak akan pernah terlupakan. Sikap dan etiket para panitia telah membuka mata saya, dan seketika telah mengubah pandangan saya tentang Islam.”

Kemudian, hakim Mahkamah Agung dari Pantai Gading (Ivory Coast), yang juga Penasihat Dewan Perdamaian Nasional juga datang ke Jalsah. Beliau mengatakan, “Saya sendiri seorang Muslim. Sejak 20 tahun lalu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam program-program keagamaan berbagai golongan Islam, tetapi dalam 20 tahun tersebut saya tidak mendapatkan pengetahuan Islam seperti yang saya dapatkan dalam tiga hari di Jalsah. Perkembangan spiritual yang saya terima dalam tiga hari di Jalsah ini tidak ditemukan dalam dua puluh tahun terakhir. Ulama non-Ahmadi tidak ada apa-apanya, jika ingin mendapatkan ajaran sejati Islam, datanglah kepada Jemaat Ahmadiyah.

Dari cara para sukarelawan menjalankan tugas-tugasnya dapat diketahui bahwa orang-orang Ahmadi begitu mencintai Khilafat, dan karena kecintaan itu, mereka menaati Khalifahnya secara sempurna dan saling mencintai di antara mereka sendiri. Dalam kecintaan itu terdapat persatuan dan kesatuan. Inilah sebabnya mereka tengah mengkhidmati Islam dengan cara sebenarnya. Tidak ada golongan Muslim lain yang memiliki pemimpin dan persatuan serupa itu. Di masa yang akan datang saya pun akan hadir lagi dalam pertemuan rohani ini, dan saya juga akan membawa serta istri saya.”

Kemudian, seorang wartawan wanita dari Belize, Sahar Vasquez, mengatakan, “Ketika saya duduk dalam penerbangan dari Miami ke London, dalam pikiran saya banyak banyak ketakutan, kekhawatiran dan teror. Pikiran-pikiran tersebut bukan karena saya duduk dalam penerbangan selama tujuh jam, tetapi karena saya merasa bahwa saya akan menghabiskan tiga hari ke depan di tengah-tengah orang-orang Muslim.

Beberapa Muslim bertanggung jawab atas insiden terorisme terburuk di seluruh dunia. Saya menyadari bahwa sekarang saya tidak dapat kembali. Pesawat telah terbang, jadi saya harus menghadapi hal ini. Saya berdoa agar saya tidak menjadi korban serangan teroris. Jelas, saya tidak mengalami serangan apa pun, bahkan kenyataannya saya di sini diperlakukan seperti seorang putri. Kesan-kesan dari Jalsah ini merupakan yang terbaik dalam kehidupan saya.

Saya telah bertemu banyak orang tetapi saya belum pernah bertemu orang-orang yang penuh simpati seperti orang-orang Ahmadi. Saya menemukan kelompok yang unggul dan luar biasa, saya memiliki kesempatan untuk mengamati standar kerendahan hati dan cinta kasih yang tertinggi. Setiap hari saya sangat tercengang, saya bangga bahwa saya akan pergi dengan banyak teman dan kenangan dari sini. Itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan

Kemudian, Walikota Belize, dari negara Belize, Bernard Joseph mengatakan, “Pengalaman pertama saya mengikuti Jalsah Salanah pada tahun ini sangat menyenangkan dan menawan. Dalam tiga hari ini saya terkesan dengan cinta kemanusiaan dan cinta persaudaraan. Saya berasal dari negara di mana kami menghadapi banyak masalah sosial.

Saya pikir sebagai Walikota Kota Belize, untuk menyingkirkan semua masalah sosial ini, kita harus mendapatkan bimbingan dari komunitas lokal Ahmadiyah Belize. Saya sedang bersiap untuk kembali dari sini dengan membawa kenangan-kenangan yang sangat indah dan juga relasi yang terbangun selama tiga hari ini.

Pengaturan tempat menginap, makanan, perjalanan, dan yang lainnya sangat berkualitas. Para driver mobil, orang-orang yang berdiri di airport (Bandar Udara) untuk mengucapkan selamat datang, anak-anak yang menyediakan minuman selama Jalsah Salanah berlangsung, panitia parkir, juru masak, dan semua panitia yang mendapatkan taufik untuk berkhidmat, mereka semua telah menjadikan Jalsah ini penuh kenangan.”

Kemudian seorang profesor dari Italia adalah, Justo Lacunza Balda, yang adalah seorang imam misionaris Katolik dan juga penasehat Paus terdahulu berkata, “Secara khusus, saya telah mencatat 3 hal dalam Jalsah ini. Yang pertama, merupakan satu hal yang menjakjubkan melihat berbagai bangsa bertemu satu sama lain dengan penuh kecintaan dan tanpa ada dinding pemisah, pemandangan seperti itu tidak nampak di tempat manapun di dunia. Kedua, saya telah melihat ketentraman di Jalsah ini. Tidak ada kecemasan. Hal ketiga, pidato-pidato Khalifah mengandung pesan yang sangat jelas di dalamnya, dan itu memiliki banyak pelajaran praktis bagi kami.”

Kemudian, ada seorang tamu dari Filipina bernana Elena Lopes, saat ini bekerja untuk Arab News. tahun lalu ikut serta dalam Jalsah sebagai wartawan Manila Bulletin. Tahun ini dia hadir lagi dengan biaya sendiri. Dia mengatakan, “Ini adalah pengalaman kedua saya mengikuti Jalsah Salanah. Saya harus mengatakan bahwa dalam keduanya, pengaturan Jalsah Salanah dan hal-hal lainnya telah membuat saya begitu terpesona.

Demikian pula, saya menyaksikan kondisi keimanan orang-orang dan secara khusus melihat bagaimana orang-orang dari berbagai suku bangsa dengan berbagai macam warna kulit hadir di lingkungan Jalsah Salanah, berbaur, dan sama sekali tidak ada dinding pembeda di antara orang-orang dari berbagai suku bangsa dan warna kulit. Inilah kecintaan satu sama lain dan persaudaraan yang memberikan warna amalan nyata dalam pesan anda, ini lebih berkesan dan meninggalkan kesan lebih lama dari ceramah manapun.

Saya yakin bahwa para peserta Jalsah akan pulang ke negara masing-masing dengan membawa serta atmosfir cinta dan kesetaraan ini. Dan semua negara yang ikut serta dalam Jalsah ini akan mendapat faedah dari atmosfir ini. Menurut saya, sebanyak-banyaknya orang hendaknya melewati beberapa hari dalam atmosfir Jalsah bersama dengan orang-orang Ahmadi, agar sebanyak mungkin orang dapat mengetahui seperti apa sebenarnya yang disebut dengan cinta dan persaudaraan itu, dan betapa eloknya wajah hakiki Islam.”

Termasuk dalam delegasi dari Jepang ialah seorang perempuan, Yokiko Kondo mengatakan perihal pidato saya di Gah kaum perempuan, “Dari pidato yang disampaikan untuk kaum perempuan, dapat diketahui bahwa nasehat-nasehat Khalifah-e-Waqt, Imam Jemaat Ahmadiyah merupakan sebuah perlindungan yang dengan berlindung di naungannya Ahmadiyah tengah mengalami kemajuan. Dewasa ini terdapat kecenderungan untuk menjauh dari agama, tetapi kita bertanya-tanya, kekuatan manakah yang telah menegakkan semangat dan gelora dalam diri para anggota Jemaat Ahmadiyah untuk mengkhidmati agama? Pertanyaan ini berputar dalam benak kita.

Namun, hanya dengan mengikuti Jalsah di hari pertama dan ikut serta dalam doa serta setelah mendengar nasehat-nasehat Imam Jemaat Ahmadiyah saya telah menjadi yakin bahwa yang tengah menciptakan perbedaan signifikan antara Jemaat Ahmadiyah dengan seluruh dunia adalah kekuatan doa. Dalam Jalsah kita berulang kali mendapatkan kesempatan untuk berdoa. Setelah berdoa, kita merasakan bahwa hati kita pun menjadi lembut, dan ruh kita mendapat penyegaran.

Selama Jalsah udara panas, tetapi kita tidak melihat ada orang yang mengalami kebosanan karena ekstrimnya udara. Wajah para panitia selalu menampilkan senyuman. Pengaturan selama makan dan minum patut dicontoh. Ketika saya mengetahui bahwa mulai dari anak-anak yang menyajikan minuman sampai ke sukarelawan yang membersihkan kamar mandi melakukan pengkhidmatan dengan penuh suka cita, maka saya pun menjadi iri melihatnya. Saya berdoa mudah-mudahan Tuhan meridhai orang-orang yang tengah mengorbankan kenyamanannya sendiri demi ketentraman orang lain ini.”

Ada seorang mubaayi’ baru dari Guadeloupe bernama Patrice Mayeko. Ia mengatakan, “Selama hidup saya, saya tidak pernah melihat acara seperti ini. Dimulainya program-program Jalsah yang tepat waktu membuat saya terkesan. Pidato-pidato dalam berbagai topic sesuai dengan waktu, pidato-pidato ini memberikan manfaat bagi saya secara khusus. Seluruh pengaturan dalam Jalsah ini ibarat sebuah mesin yang berjalan dimana setiap komponennya berada pada tempatnya masing-masing. Dan semua panitia mengoperasikan mesin dengan cara terbaik. Setiap panitia mengetahui tugasnya masing-masing dan terlihat sangat mahir.

Semua pameran yang diselenggarakan dalam Jalsah sangat bermanfaat. Khususnya MakhzaneTashawir dan Review of Religions, telah membuat saya sangat terkesan. Saya sangat menyukai pameran-pameran ini. Pameran-pameran ini telah menambah banyak pengetahuan saya tentang sejarah Ahmadiyah. Setelah ikut serta dalam Jalsah ini, rasa syukur saya kepada Allah Ta’ala yang telah menganugerahkan taufik kepada saya untuk bergabung dengan Jemaat penuh berkat ini semakin bertambah.”

Beliau juga memberikan isyarat terhadap sebuah kekurangan, beliau mengatakan, “Terlepas dari semua kebaikan Jalsah Salanah yang beberkat ini, berdasarkan pemahaman saya yang lemah, saya merasa program-program dalam bahasa Prancis sangatlah kurang dibandingkan dengan bahasa Inggris.”

Para petugas pembuat program berbahasa Prancis harus mencatat hal ini, yakni apakah acara dibuat dalam bahasa Prancis, atau disediakan terjemahan [Bahasa Prancis] dari acara-acara yang sedang berlangsung. Ini pun merupakan karunia Allah Ta’ala, kita juga jadi bisa mengetahui kelemahan-kelemahan kita.

Salah satu tamu yang datang dari Jepang bernama Yoshida, yang adalah Kepala Bikkhu Buddha. Dia telah menyatakan pandangannya tentang baiat internasional, mengatakan, “Melihat acara baiat, timbul kesadaran bahwa kita mempunyai satu Tuhan, jika kita tunduk di hadapan-Nya, maka hati kita memperoleh ketenangan dan menjadi bersih dari dosa-dosa. Lantas jika semua orang ingin menjadi satu kesatuan setelah mengkakhiri perbedaan-perbedaan, maka mereka akan dapat melakukannya. Setelah mengikuti acara baiat internasional, serta merta air mata mengalir, dan kita jatuh bersujud dan kita merasa bahwa dosa-dosa kami benar-benar telah hilang sirna.”

Kemudian, seorang professor dari Indonesia, Profesor Muhammad mengatakan, “Penyelenggaraan Jalsah Salanah merupakan sebuah program yang mencengangkan. Dalam Jalsah ini, orang-orang dari berbagai negara datang dan rasanya seperti seluruh dunia bersatu dan dijadikan satu umat. Cara berkhidmat yang dilakukan oleh para sukarelawan di sini, tidak dijumpai contohnya dalam organisasi lain. Ini adalah satu bukti kuat bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah Jemaat yang melakukan pengkhidmatan dalam setiap bidang. Setiap jenis orang bertemu selama Jalsah tersebut. Ada sebagian tokoh terkemuka. Di setiap jurusan pemandangan persaudaraan Islami nampak sangat kentara, dan di mana-mana ada pesan perdamaian dan keamanan.

Sejauh menyangkut pelayanan terhadap tamu, rasanya tidak dapat diungkap dengan kata-kata. Mereka memperlakukan kami dengan penuh sukacita, sehingga kami merasa bahwa kami sedang tinggal di rumah kami sendiri. Pidato-pidato Jalsah Salanah amat mudah dipahami oleh siapapun. Saya menyarankan bahwa Jalsah yang besar seperti itu harus diadakan di Indonesia, di mana Khalifah hadir, itu akan menjadi kebanggaan bagi kami.”

Jika ingin melakukan itu, hendaklah Anda membuat orang-orang di negara Anda dapat menerima. Di sana penentangan terhadap Ahmadiyah tengah meningkat.

Kemudian seorang wanita Muslim tamu dari Indonesia yang juga pemimpin sebuah organisasi mengatakan, “Saya telah membaca beberapa buku Jemaat Ahmadiyah dan saya telah cukup mengenal Jemaat Ahmadiyah. Namun saat mengikuti Jalsah Salanah dan mendengar pidato-pidato Khalifah dengan telinga saya sendiri, saya sangat terkesan.

Benar-benar orang-orang Jemaat Ahmadiyah ialah orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya. Setelah menyaksikan pemandangan bagaimana semua orang mendengarkan nasehat-nasehat Khalifah-e-waqt dengan penuh perhatian, akal menjadi tercengang. Orang-orang mengatakan Jemaat Ahmadiyah adalah kufur, sesat dan menyesatkan, tetapi kenyataannya justru inilah Muslim sejati yang disiplin dalam shalat. Mereka juga menunaikan huququllah dan huququl ‘ibad dengan cara sangat baik, menghormati satu sama lain, selalu mengucapkan assalamu’alaikum setiap memulai pembicaraan, mengikuti setiap acara sesuai aturan dan penuh ketaatan dan setiap sukarelawan menunaikan tanggung jawab masing-masing dengan semangat ta’awanuu ‘alal birri wat taqwaa. Saya sangat terkesan menyaksikan semua pemandangan ini. Saya mengatakan rasanya ini semua merupakan hasil keberkatan-keberkatan Imam Zaman dan Khilafat.”

Seorang schoolar (cendekiawan) bukan Ahmadi dari Indonesia, yang juga kepala bidang filsafat di salah satu universitas, mengatakan, “Untuk pertama kalinya saya melihat pertemuan seperti itu, dalam segala hal dan dalam setiap aspek, hal-hal rohani dipantau mendalam. Saya pikir Jalsah hari ini adalah acara emas. Karena saya melihat banyak orang dari seluruh dunia berkumpul di dekat Khalifah. Sebagai seorang Indonesia saya menghargai upaya Khalifatul Masih yang mana membuat banyak orang dari seluruh dunia telah berkumpul bersama-sama di satu tempat seperti melihat pemandangan persaudaraan untuk orang di seluruh dunia.”

Sebenarnya, Khilafat sedang melanjutkan tugas yang untuk itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) diutus. Semoga Allah memberikan taufik padanya untuk menerima Imam Zaman dan Mahdi.

Kemudian dia mengatakan, “Inilah Islam yang benar dan inilah persaudaraan sejati. Jemaat Ahmadiyah adalah satu-satunya organisasi global yang tidak dijumpai contoh semisalnya di mana pun. Motto Ahmadiyah sangat baik yang mana setiap hati dapat memegangnya dengan baik. Ajaran Islam diuraikan dengan cara yang amat baik dalam setiap pidato Khalifah, berdasarkan sudut pandang Al-Qur’an, Hadits-Hadits dan Sunnah Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam). Meskipun Jalsah Salanah hanya tiga hari, tetapi dari segi keberkatan, tiga hari ini begitu melimpah keberkatannya. Kami sangat berterima kasih untuk itu.”

Gubernur sebuah propinsi di Guinea Conakry, Ibu Saring Becamara ikut serta. Dia mengatakan, “Sebelum ini saya tidak pernah melihat program yang lebih baik dan terorganisir seperti ini. Orang-orang beragam warna kulit dari seluruh negara ikut serta, mereka menampilkan contoh keislaman terbaik. Penampakkan kasih sayang dan kecintaan yang luar biasa. Tidak sebatas kata-kata, bahkan nampak secara amalan dan dapat dirasakan. Setiap hal yang diperlukan senantiasa tersedia setiap saat. Saya mendapat kesempatan mendengarkan seluruh pidato dan saya merasa bahwa pidato-pidato itu telah disiapkan sesuai benar dengan apa yang dibutuhkan di masa sekarang ini.

Secara khusus pidato-pidato Imam Jemaat Ahmadiyah, itu adalah pidato yang luar biasa. Jika kita mengamalkan petunjuk-petunjuk untuk tuan rumah dan para tamu, yang disampaikan dalam khotbah Jum’at , maka seluruh permasalahan kita yang timbul tanpa sebab, akan terpecahkan dengan cinta dan kasih sayang. Dalam tiga hari ini saya memandang Jemaat Ahmadiyah adalah sebuah Jemaat terorganisir dan berjalan berdasarkan petunjuk seorang Imam. Inilah ajaran indah Islam, yang dengan mengamalkannya hari ini kita telah menjadi sebuah jamaah. Saya mohon doa semoga Allah Ta’ala menegakkan kedamian di negara kami dan Islam yang sejati bisa mewujud.”

Seorang wartawan saluran TV Honduras, Manolo Jose Escoto mengatakan, “Ketika saya mendapatkan undangan untuk menghadiri pertemuan orang-orang Islam, timbul pandangan buruk dan negatif tentang umat Muslim karena ketidaktahuan saya mengenai umat Muslim. Namun, saya sangat ingin menyatakan bahwa alasan negatif ini adalah karena kekurangan ilmu. Ada ribuan orang seperti saya yang tidak mengetahui ajaran Islam yang sebenarnya.

Kini, karena Jemaat Ahmadiyah saya telah belajar banyak hal tentang Islam. Dengan tinggal di lingkungan Jalsah Salanah saya menjadi paham bahwa sebelum memberikan pendapat fanatik mengenai orang-orang, adalah perlu untuk terlebih dahulu mengentahuinya secara pribadi. Pesan utama Jalsah Salanah adalah pesan kedamaian yang perlu disampaikan kepada orang-orang dari setiap lapisan. Saya juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan orang yang penuh simpati dan memberikan penghormatan, yang telah membuka hati mereka untuk seluruh tamu.”

Seorang wartawan perempuan dari Guatemala, Galadys Ramirez mengatakan, “Dengan mengikuti Jalsah Salanah Jemaat Britania saya merasakan kegembiraan yang luar biasa. Saya mendapatkan kesempatan untuk melihat Jemaat Muslim Ahmadiyah dari dekat. Banyak sekali kesalahpahaman tentang Islam menjadi hilang. Saya menjadi tau ajaran Islam yang sebenarnya. Hati saya dipenuhi dengan kegembiraan karena para peserta Jalsah telah memperlakukan saya dengan penuh kecintaan dan penghormatan. Sebagai seorang perempuan, sesaat pun saya tidak merasa sedang jauh dari rumah. Saya telah melihat contoh pengamalan dari persaudaraan dan kecintaan satu sama lain.

Setelah bertemu dengan orang-orang dari berbagai Negara, saya merasakan setiap orang saling mencintai dan berempati satu sama lain. Meskipun berbicara dengan bahasa berbeda, tetapi contoh yang mreka perlihatkan dalam bentuk amalan telah menyingkirkan perbedaan bahasa. Saya sangat terkesan dengan lingkungan masyarakat islam yang penuh damai ini dan saya yakin bahwa para anggota Jemaat Ahmadiyah dengan sebanar-benarnya sedang menegakkan contoh pengamalan kedamaian dan keselamatan.”

Seorang fotografer salah satu saluran Televisi di sana hadir di Jalsah. Dia mengatakan, “Pengalaman yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari panitia sampai ke officer, semua bersikap dengan penuh cinta dan kasih sayang, serta gelora semangat yang baik. Pengaturan-pengaturan dan pidato-pidato dalam Jalsah telah mengilapkan (menyemir) diri saya.

Melalui amal perbuatan, Anda semua telah memberitahukan kepada saya siapakah yang merupakan Muslim hakiki. Saya mengenal Jemaat pada tahun 2015, tetapi setelah datang ke sini saya merasa bahwa saya sedang tinggal di rumah saya sendiri. Sebagai manusia, merupakan kewajiban setiap orang untuk memperlakukan orang lain dengan penghargaan dan penghormatan, serta membantu orang yang membutuhkan. Saya mendapatkan pelajaran dari Jalsah ini bahwa jika kita bekerja bersama-sama dengan saling membantu, kecintaan dan persaudaraan, maka kita dapat melakukan pekerjaan yang besar.

Seorang mubayi’ah baru dari Mexico bernama Elizabeth Parera mengatakan, “Saya baru satu tahun menjadi Ahmadi dan saya sedang belajar tentang Islam. Islam adalah agama yang di negara kami tidak dipandang dengan baik. Penyebabnya adalah media. Saya mengetahui bahwa Islam adalah agama yang damai. Orang-orang di rumah saya melarang saya untuk datang ke sini, tetapi setelah sampai di sini mendapati hal yang berkebalikan dengan itu. Saya sangat terkesan melihat semangat dan sikap para sukarelawan mulai dari penyambutan di airport sampai 3 hari pelaksanaan Jalsah.

Kini, tidak ada sedikitpun keraguan di dalam hati saya mengenai nizam persaudaraan dan kekeluargaan Jemaat. Konsep-konsep yang tergambar dalam hati dan saya bawa ini akan saya terapkan setelah saya pulang ke Meksiko, saya juga akan menyampaikan pesan-pesan Jemaat Ahmadiyah kepada orang-orang.

Seorang mubayi’ah baru dari Mexico, yang bernama Laura Brito Soberanis, mengatakan, “Terkadang para panitia sukarelawan tidak memahami perkataan saya, tetapi setelah saya datang ke sini saya menjadi tahu perbedaan bahasa tidak bisa menjadi penghalang dalam hubungan antara para Ahmadi. Kasih sayang Allah Ta’ala telah menjadikan kita satu (telah menyatukan kita). Saya merasa seperti sedang bersama dengan keluarga saya sendiri.

Setelah menyimak khotbah-khotbah Khalifah-e-Waqt, saya menginstrospeksi diri saya, apa saja kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri saya. Kini saya yakin berada di tempat yang benar dan Allah Ta’ala telah memperlihatkan jalan petunjuk kepada saya. Saya benar-benar bahagia, disamping keimanan saya telah menguat, keluarga saya juga mengetahui tentang Islam dan keimanan mereka pun menjadi kuat.

Kemudian Tn. Muhammad Mbohou Azize dari Kamerun, mengatakan: “Tahun lalu pun saya ikut dalam Jalsah. Kali ini, semua departemen telah mengalami kemajuan dibandingkan tahun lalu. Pengaturan transportasi dan tempat penginapan sangat baik. Pengaturan makan pun sangatlah baik. Penyediaan makan untuk sebegitu banyaknya orang diselesaikan dalam dua jam. Tidak ada pertengkaran dan perselisihan. Setiap orang datang ke Jalsah Gah tepat waktu, dan medengarkan acara. Ini adalah perkara khusus yang tidak dijumpai dalam acara-acara duniawi.

Jemaat yang memiliki orang-orang siap berkorban serupa itu selalunya mengalami kemajuan. Dari segi pekerjaan, saya ini seorang jurnalis. Saya mengikuti meeting dengan staff MTA, dan di situpun saya nyaman. Setiap barang yang kami butuhkan telah tersedia. Barang-barang yang tidak tersedia bahkan di lembaga-lembaga privat (swasta) atau pemerintahan.

Saya mendapatkan gambaran tentang bagaimana pesan-pesan Jemaat sampai kepada orang-orang bukan Ahmadi dari kesan-kesan para tamu bukan Ahmadi tersebut. Semuanya memuji ajaran cinta dan kasih sayang Jemaat. Pidato yang disampaikan Khalifah-e-Waqt kepada kaum perempuan sangatlah penting untuk tarbiyat anak-keturunan kita. Bagaimana seharusnya penggunaan media sosial? Semua hal ini adalah keperluan utama saat ini. Jika kita tidak menyelamatkan keturunan kita dari lingkungan serupa itu, maka mereka kan sangat menjauh dari kemanusiaan dan dari Islam. Kita harus memiliki ajaran itu.

Penafsiran kata ‘Fahsya’ (kekejian dosa) yang disampaikan di bagian akhir tafsir sangat memberi kesan. Setelah mendengarkan artinya, terasa bahwa kita terjatuh dalam semua keburukan itu. Dan ada beberapa orang yang disebut shaleh, tetapi amal perbuatan mereka tidak shaleh. Jika kita memahami penafsiran Khalifah-e-Waqt tersebut dan mengamalkannya, kita dapat menyediakan lingkungan yang suci dan bersih bagi keturunan kita yang baru. Penafsiran kata ‘Fahsya’ tersebut membuat saya tertegun.

Ini adalah poin terbaik yang akan saya jadikan sebagai bagian dari kehidupan saya. Saya juga melihat berbagai pameran. Dari situ saya menjadi tahu mengenai sejarah Jemaat. Bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, selalunya mengalami kemajuan. Review of Religion sejak seabad lalu sedang menyampaikan pesan, yang telah dimulai oleh Jemaat Ahmadiyah. Saya sendiri pun secara rutin membacanya, banyak sekali artikel bermutu di dalamnya. Begitu juga pengkhidmatan yang dilakukan Humanity First, tidak ada contoh semisalnya.”

Dalam delegasi dari Iceland (Islandia) ada seorang tamu perempuan, Ibu Emelita Ordonez, mengatakan: “Ilmu saya banyak bertambah dan saya mulai memahami Jemaat Ahmadiyah dengan cara terbaik. Saya bertemu dengan orang-orang dari seluruh dunia dan berbincang dengan mereka, itu sangat menarik. Di setiap jurusan saya merasakan kedamaian, kecintaan, dan persaudaraan. Pidato-pidato Jalsah sangat menggugah keimanan.

Saya sangat menikmati pameran-pameran, meskipun ketika melihat foto-foto para syuhada, hati saya merasa sedih juga, karena kezaliman ini dilakukan hanya semata-mata untuk alasan perbedaan keyakinan. Acara baiat pada hari ketiga meninggalkan kesan yang luar biasa. Masih banyak lagi hal dan kesan yang mustahil dapat diungkapkan dengan kata-kata.”

Ada juga seorang wartawan dari Macedonia, Bpk. Tony Ajtovski, mengatakan, “Hal yang paling berkesan saat Jalsah adalah pidato-pidato Khalifah-e-Waqt, terutama pidato beliau mengenai tarbiyat anak, bahwa hendaklah memberikan perhatian pada tarbiyat anak dan pengawasan mereka, secara khusus beliau menyinggung mengenai penggunaan mobile phone, bagaimana benda ini terbukti memberikan kerugian pada kesatuan atau kebersamaan keluarga.

Ini adalah sebuah pesan global, karena setiap keluarga di dunia menghadapi masalah yang sama dengan masalah ini. Jika sebuah keluarga tidak lagi bersatu sebagai keluarga dan setiap anggota keluarga tidak memiliki ikatan satu sama lain, maka keluarga itu menjadi tercerai-berai. Dan karena tercerai-berainya keluarga, maka seluruh masyarakat dan persatuan menjadi tercerai-berai juga dan tidak ada lagi jaminan untuk masa depan yang baik.”

Bpk. Jorge Carino berasal dari Filipina, pemandu acara Morning Show di saluran TV terkemuka ABSCBN, mengatakan, “Ini adalah pertama kalinya dalam hidup saya dimana saya menyaksikan orang-orang dari berbagai negara, berbagai suku bangsa dan warna kulit, berkumpul di satu tempat dalam jumlah yang sangat banyak. Semua orang, dari negara mana pun, apakah mereka saling mengenal ataupun tidak, mereka saling melihat satu sama lain dengan penuh senyuman, saling mengucapkan salam, dan di ata semua itu, tujuan dari berkumpulnya mereka adalah semata-mata untuk menyebarkan nilai-nilai kecintaan dan kemanusiaan.

Sebagai seorang wartawan saya telah mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan banyak sekali acara, tetapi bagaimana cara pengaturan dan penyelenggaraan Jalsah Salanah UK, dengan penuh ketentaraman, toleransi, keteraturan, saya tidak pernah melihat yang semisal dengan itu sebelumnya. Bagaimana cara para sukarelawan mengormati kami dengan penuh kecintaan dan memperhatikan setiap kebutuhan kami, itu member kesan mendalam dalam hati saya.

Pengaturan lalu lintas, ataupun para penyedia minuman untuk menghilangkan panas, anak-anak kecil dengan penuh kesungguhan menunaikan tanggung jawab ini. Saya amat bahagia karena saya telah mengikuti Jalsah ini, Jalsah ini telah membuka kepala saya jauh daripada sebelumnya. Dan memberikan satu sudut pandang baru bagi saya. Dari segi ini, Jalsah merupakan batu pondasi di dalam hati saya. Karenanya saya telah mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan sebuah budaya dan peradaban baru, yang sangat berbeda dengan kebudayaan di Philipina. ”

Tamu Yunani, Ibu Marcia MATNZ mengatakan, “Sungguh tidak mungkin untuk mengungkapkan pengalaman ini dengan kata-kata, yakni mendaat kesempatan untuk menjadi bagian dari 38.000 orang yang berdoa untuk kedamaian. Pengalaman mendapatkan kasih sayang dan kecintaan dari semua orang dalam kesempatan Jalsah sungguh sangat mengesankan. dan telah meningkatkan harapan saya tentang bagaimana umat manusia memiliki kekuatan untuk memasuki toleransi dan penerimaan satu sama lain di era baru perdamaian. Yang karenanya, langkah yang unggul ini mungkin nampak dalam kemajuan kemanusiaan kita.

Kemudian perwakilan dari orang-orang asli (indigenous) dari Kanada, yang disebut sebagai “First Nation” (suku asli) ikut serta juga. Mereka memakai mahkota yang besar di kepala mereka sesuai dengan tradisi mereka. Mereka adalah orang-orang dari beberapa suku. Kepala dari 3 suku dan seorang ketua pemuda hadir. Pemimpin pemuda bernama Max Fineday mengatakan, “Kami sangat terkesan oleh pengkhidmatan yang dilakukan secara sukarelawan oleh para khadim dalam Jalsah Salanah. Segera setelah kami pulang, kami akan membuat program antara pemuda First Nation dan Pemuda Ahmadiyah. Saya tidak pernah melihat yang serupa dengan para pemuda Ahmadi dalam hal keteraturan dan ketertiban, dan saya tidak pernah melihat contoh serupa seperti kemahiran mereka dalam melakukan tugas.

Kemudian, seorang kepala suku, Roger Redman mengatakan, “Saya sangat terbiasa merokok dan kami biasa memakai tembakau, bahkan di suku kami adalah demikian, merokok dan menggunakan tembakau merupakan salah satu rukun agama di antara orang-orang First Nation dan memiliki akidah bahwa penggunaan tembako adalah unsur khusus untuk kemajuan dalam kerohanian. Tetapi ketika Khalifah-e-Waqt menyampaikan kepada anggota Jemaat pada saat Jalsah bahwa hendaklah merokok itu dihindari, maka saya juga berjanji dan menyatakan akan menghindari tembakau selama Jalsah.” Dan orang ini pun tetap berpegang pada janjinya ini.

Alhasil, hal inipun menjadi pelajaran bagi para Ahmadi. Salah seorang di antaranya mengatakan kepada saya bahwa dalam penerbangan panjang yang mencapai 10 atau 12 jam pun ada tulisan “no smoking area” (area dilarang merokok). Selama penerbangan itu mereka tidak bisa merokok dan mereka bersabar, maka jika mereka melakukan itu dalam Jalsah ini tentu akan mendapat pahala juga.

Kemudian, ia mengatakan, “Kesan yang saya dapatkan setelah mendengar Khotbah Khalifah-e-Waqt adalah, jika ajaran Islam adalah untuk mencintai, menyebarkan kedamaian, dan bersimpati pada kemanusiaan seperti yang Anda sampaikan dalam khotbah Anda, maka tentu saya akan sangat senang untuk menjadi seorang Ahmadi.” Kemudian Kepala Suku tersebut juga mengatakan bahwa sebelum malakukan janji seperti itu ia akan meminta saran dari tetua-tetuanya. Karena orang-orang ini juga menjaga kelestarian tradisi mereka.

Kemudian seorang kepala First Nation, Lee Crowchild, mengatakan: “Penghormatan dan kecintaan yang kami dapat dalam Jalsah ini, mirip dengan ajaran lama kami ratusan tahun lalu. Sebagai contoh, dahulu kami hidup dengan kasih sayang dan persaudaraan satu sama lain. Semua keperluan kami dipenuhi. Orang-orang Amerika memiliki satu pandangan tentang kaum Muslimin dan satu pandangan lagi dari orang Kanada. Tetapi sangat disesalkan bahwa sebagaian orang kita juga tidak memiliki pandangan positif berkenaan dengan kaum Muslimin. Tetapi sekarang saya mengerti bahwa kita adalah musuh diri kita sendiri. saya telah melihat di dalam Jemaat Ahmadiyah, orang-orang ini tidak berselisih satu sama lain, tidak pula saling membicarakan satu sama lain, dan tidak mengatakan sesutu yang saling menentang satu sama lain.”

Jadi, inilah contoh luhur tiap orang yang tengah membuat mereka terkesan.

Dalam delegasi dari Spanyol ikut serta juga Emilo Lopez, mengatakan, “Ini kali pertama saya mengikuti Jalsah. Saya memiliki hubungan yang dekat dengan Jemaat Ahmadiyah. Jalsah sangat menarik dan ada pesan-pesan toleransi, penghormatan, dan kedamaian. Begitu juga, pesan mengenai agama lain dan penghargaan terhadap manusia, ini pun merupakan pesan yang unik. Contoh dari orang-orang Ahmadi ini dapat memberikan kehidupan. Anda penghargaan dan keikhlasan ini dimiliki juga oleh setiap orang.”

Kemudian seorang delegasi dari Spanyol yang bekerja di surat kabar Qurtubih (Cordova), mengatakan, “Contoh akhlak seluruh peserta Jalsah dan menjelaskan kebaikan Anda sekalian merupakan poin kunci (key point) bagi saya.”

Seorang tamu lain dari Spanyol mengatakan, “Dengan ikut serta dalam Jalsah, saya menjadi yakin sepenuhnya bahwa Islam hakiki amat jauh bahkan tidak ada hubungan dengan terorisme.”

Seorang perempuan non-Ahmadi dari Jamaica, Ouida Nesbeth ikut serta. Ia adalah seorang akuntan, perempuan yang berpendidikan. Ia mengatakan, “Saya menjalin hubungan dengan Jemaat Ahmadiyah sejak 5 tahun yang lalu. Selama masa itu, hubungan dan pengenalan saya dengan Jemaat sudah cukup, tetapi setelah ikut serta dalam Jalsah ini, pengetahuan saya semakin bertambah luas dan keraguan apapun yang ada dalam benak telah terobati. Saya sangat senang dengan adanya pemisahan antara kaum laki-laki dan perempuan.”

(dari satu sisi ada keberatan, tetapi kaum perempuan merasa senang dengan hal ini), karena hal itu perhatian orang tidak terbagi. Ia sendiri mengakui bahwa ketika laki-laki dan perempuan menyatu, maka pandangan kaum laki-laki menjadi tidak baik. Ia mengatakan, “Kaum perempuan dan laki-laki dipisah, karenanya perhatian orang-orang tidak terpecah dan orang memberikan perhatian lebih besar pada Islam dan ibadah.”

Alhasil, kaum perempuan Ahmadi pun, yang pada waktu tertentu masuk ke dalam kompleksitas serupa itu, hendaklah mereka juga memikirkan komentar mereka.

Profesor Raffaela (seorang perempuan) dari Italia, Direktur Studi Senior, mengatakan, “Pada saat acara baiat, kondisi keimanan orang-orang Ahmadi dapat dirasakan juga oleh ghair Ahmadi. Saya telah mempelajari ilmu psikologi dan saya mengetahui ilmu tentang cara perilaku orang. Orang-orang ini begitu sungguh-sungguh dalam pendakwaan keimanan mereka. Setelah melihat orang-orang Ahmadi, saya telah menjadi yakin bahwa standar keimanan Anda semua sangat tinggi.”

Ketika ia mengetahui jumlah orang yang baiat sepanjang tahun ini sebanyak lebih dari 600.000, maka ia pun mengatakan, “Syukurlah, orang-orang ini telah bergabung dalam Jemaat.”

Seorang tamu perempuan dari Italia, yang merupakan seorang orientalis ikut serta. Ia Juga seorang jurnalis majalah Vatikan, mengatakan, “Setelah datang dalam Jalsah, saya mendapat gambaran tentang pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Jemaat. Kami harus mengabarkan perihal sebuah jamaah Islam di dunia yang sangat terorganisir dan penuh dengan damai. Jemaat Ahmadiyah sedang berusaha untuk memecahka permasalahan-permasalahan di antaran kaum Muslimin. Seluruh dunia harus mengetahui projek-projek, program-program, dan pengkhidmatan-pengkhidmatan Anda semua.

Pembantu Rektor Universitas Belarus, Rusia Mr. Sergei Strasky mengatakan, “Saya sebagai salah seorang ahli agama Islam dan telah banyak menyerap informasi mengenai Islam, bagi saya menghadiri pertemuan ini adalah amat berharga dan sebuah pengalaman yang amat berfaedah. Kebenaran yang saya ketahui karena Jalsah ini adalah Islam merupakan agama internasional. Kata-kata ini seringkali terdengar di telinga tetapi tidak setiap orang yakin akan hal itu. Banyak sekali kekurangtahuan tentang Islam. Terdapat banyak sekali kesalahpahaman dan banyak sekali gambaran rumit mengenai Islam yang membuat orang-orang tidak yakin bahwa Islam adalah agama Internasional.

Tetapi, atmosfir Jalsah Salanah ini telah meruntuhkan semua dinding keragu-raguan dan syakwasangka itu. Ini merupakan pengalaman pertama saya hadir dalam acara berkualitas seperti ini, dimana untuk pertama kalinya saya berada dalam lingkungan orang Islam sebegitu dekatnya dan dapat mengkaji Islam dengan penuh perhatian. Banyak sekali hal-hal yang sangat menarik dalam Jalsah Salanah ini. Perwakilan dari setiap negara ada di sini dengan baju kebangsaan masing-masing. Pengaturan-pengaturan Jalsah pun membuat orang terheran-heran. Untuk mengatur pertemuan yang dihadiri oleh 200 orang saja sudah sulit, tetapi bagaimana orang Ahmadi mengatur 38.000 orang sungguh merupakan perkara yang mengherankan. Saya sangat ingin berterima kasih kepada seluruh sukarelawan yang telah melakuka pengaturan terbaik untuk Jalsah ini.”

Saya juga ingin menyebutkan sekali lagi kira-kira 140 Khuddam datang dari Kanada untuk membantu melakukan pekerjaan akhir. Mereka telah memenuhi tugas ini dengan sangat baik. Terima kasih untuk mereka. Selain dari mereka, saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang dari Inggris yang membantu pada bagian akhirnya.

Selain itu, Departemen Tabligh Jemaat Inggris memiliki kesempatan untuk mengadakan seminar dan sesi tanya jawab, serta lima pameran: pameran Al-Quran, ajaran-ajaran indah dari Al-Qur’an disorot dengan menampilkan berbagai jenis Al-Qur’an, kompetisi pidato tentang kehidupan dan karakter Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (saw). Ini adalah tanggapan terhadap kampanye kebencian yang diprakarsai oleh politikus Belanda (Geert) Wilders. Banyak orang non-Ahmadi dan non-Muslim Eropa ikut serta dalam kontes ini.

Seorang perempuan bernama Katherine Mary Rohan yang beragama Kristen mengatakan, “Sebagai seorang perempuan, saya tertarik pada satu hal yakni bagaimana pandangan Muhammad (saw) tentang kaum perempuan. Beliau datang pada masa dimana di eropa diliputi dengan chaos. Pada masa seperti itu beliau telah mengumumkan, ‘Kami akan memperlakukan kaum perempuan kami dengan baik’. Suatu kali seseorang bertanya kepada Muhammad saw, ‘Siapakah yang paling layak untuk mendapatkan penghormatan dalam kehidupan ini?’ atas hal litu beliau menjawab, ‘Ibumu’. Lalu orang itu mengatakan, ‘Kemudian siapa?’ maka beliau (saw) mejawab lagi, ‘Ibumu’. Kemudian untuk ketiga kalinya, atas pertanyaan yan sama beliau menjawab, ‘Ibumu’. Hal ini membuat saya sangat terkesan.”[1]

Begitu juga ada seorang tamu departemen Tabligh bernama Lenint Gomilain mengatakan, “Tahun ini, untuk pertama kalinya saya mendapatkan kesempatan untuk ikut Jalsah. Menurut saya, jika orang-orang yang kurang memiliki ilmu mengenai Allah Ta’ala ikut dalam Jalsah Salanah, maka setelah penutupan Jalsah ia akan pulang dengan membawa saamudera ilmu berkenaan dengan Dzat Allah Ta’ala.”

Siaran tentang Jalsah Salanah melalui berbagai cara adalah sebagai berikut: Situs web Alislam dikunjungi sebanyak 862.000 kali dan jumlah video yang ditonton adalah 218.000. Jumlah outlet media online dan cetak yang mencakup Jalsah sejumlah 53. Di radio Jalsah disiarkan di 20 laporan berita. Empat laporan berita diliput di televisi. Jumlah total laporan adalah 77 yang melalui sarana itu pesan Jalsah mencapai jangkauan lebih dari 26 juta orang.

Di antara saluran televisi dan media terkenal yang meliput Jalsah termasuk: BBC TV, ITV, BBC Arabic service, The Economist, The Express, The Independent, the Huffington Post, Herald, LBC, Capital Radio, Alton Herald dan London Live. Selain dari ini, 19 stasiun radio BBC regional (tingkat wilayah) memberikan waktu tayang kepada perwakilan kita, yang menyediakan jangkauan untuk area yang luas. Jurnalis hadir dari seluruh dunia dan setelah mereka kembali ke negara mereka, mereka juga meliput Jalsah melalui media cetak dan media elektronik, serta melalui film dokumenter.

Seorang Jurnalis agensi berita dari Jepang mengatakan, “Saya sangat terkesan atas suasana Jalsah yang aman tentram. Semua wajah tampak bahagia. Namun, saya tidak memahami kenapa sejumlah peserta baiat internasional menangis. Kemudian, saya diberitahu bahwa para Ahmadi amat bahagia dan tangisan mereka ialah sebagai ekspresi syukur kepada Allah atas semua nikmat yang mereka terima dari-Nya dan atas semua karunia yang banyak. Mereka berdoa demi mengekalkan keamanan dan perdamaian dunia.”

Berbicara tentang Jalsah Gah (aula acara) kaum ibu, seorang wartawan wanita berkata: “Saya memiliki kesempatan untuk menghadiri Jalsah tahun lalu, namun, saya tidak dapat mengunjungi bagian wanita, tetapi tahun ini saya berhasil melihatnya. Saya harus mengakui bahwa wanita (Ahmadi) Anda lebih berpendidikan dan menarik daripada kaum prianya. Mereka memiliki kebebasan penuh dan tampak sangat tulus kepada komunitas mereka. Pengalaman ini telah mengubah perspektif saya sepenuhnya.”

Jalsah ditayangkan di seluruh benua Afrika dan tahun ini, 15 saluran televisi menyiarkan Jalsah termasuk; Ghana, Nigeria, Sierra Leone, Gambia, Rwanda, Burkina Faso, Benin, Uganda, Mali, Kongo-Brazzaville dan untuk pertama kalinya saluran Televisi Burundi menyiarkan Jalsah juga. Setiap wartawan menulis cerita untuk saluran masing-masing. Secara total, di seluruh benua Afrika, cakupan Jalsah mencapai 50 juta orang. Dalam hal ini ratusan orang telah mengirimkan komentar mereka yang menunjukkan bahwa mereka telah menyaksikan liputannya.

Ringkasnya, sangat banyak rincian ekspresi orang-orang dan media juga. Demikian pula, orang-orang berkomentar kesan luar biasa terhadap departemen lain termasuk di pameran foto, Review of Religions (Tinjauan Agama-Agama), Arsip, pameran Al-Hakam dan melalui orang-orang ini dapat belajar tentang sejarah Jemaat. Administrasi Jalsah dan pameran semua diselenggarakan oleh sukarelawan.

Seperti yang jelas dari ungkapan perasaan orang-orang yang menghadiri Jalsah, semua relawan melakukan tabligh diam-diam. Anak-anak, wanita dan pria juga. Kali ini, para peserta Jalsah baik ibu-ibu maupun bapak-bapak menyatakan berkenaan dengan para panitia perempuan dan juga laki-laki bahwa mereka melihat akhlak baik dan semangat berkhidmat yang luar biasa dari para panitia.

Karena itu, setelah mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, semua peserta Jalsah harus berterima kasih kepada semua panitia dan juga harus berdoa untuk mereka. Semoga Allah memungkinkan mereka untuk berkhidmat di masa depan juga

Saya juga berterima kasih kepada seluruh panitia baik laki-laki maupun perempuan. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepada mereka dan menganugerahkan taufik untuk melakukan pengkhidmatan lebih baik dari pada sebelumnya, dan senantiasa menjadi orang-orang yang membantu Khilafat Ahmadiyah.

Semua panitia pun harus mengucapkan syukur kepada Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala telah memberikan taufik kepada mereka untuk berkhidmat. Tanpa karunia Allah Ta’ala, mereka tidak akan mungkin untuk melaksanakan tugas ini. Semoga Allah memberikan taufik kepada semuanya untuk dapat meningkatkan kerendahan hati dan semoga mereka terlindungi dari segala bentuk kesombongan yang dapat muncul dari aktifitas melakukan pengkhidmatan yang telah mereka lakukan dan pujian yang telah mereka terima.

[1] Sahih Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Ahaqqunnasa bihusnin, hadis no. 5971.