Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 18 Juli 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

 قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ * وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنْصَرُونَ[ (الزمر: 54-55)

Terjemahan dari ayat tersebut adalah sebagai berikut, yakni :

“Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhan-mu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepadamu; kemudian kamu tidak akan ditolong.” (Al-Zumar: 54-55)

Di berbagai ayat dalam Al-Quran Karim Allah Ta’ala telah memberikan pengharapan kepada umat manusia bahwasanya Dia Maha Pengampun dan Maha Pengasih terhadap para hamba-Nya. Di ayat pertama yang saya tilawatkan tadi dibahas mengenai tema ini dan di dalamnya terdapat sebuah pesan yang indah mengenai cara untuk menarik rahmat Allah Ta’ala dan mengambil faedah dari karunia dan ampunan-Nya bagi setiap orang yang merasa takut terhadap hukuman Allah Ta’ala disebabkan dosa-dosa mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku! Janganlah kalian berputus asa dari rahmat-Ku, Aku Maha Berdaulat dan Maha Kuasa untuk mengampuni dosa kalian dan melindungi kalian dalam naungan rahmat-Ku.”

Inilah pesan yang sangat indah untuk membangkitkan harapan-harapan dan menghapuskan keputus-asaan. Ini adalah pesan yang menyerukan kepada umat manusia bahwa berputus asa adalah dosa. Inilah pesan yang menyelamatkan kita dari kelemahan-kelemahan dan menjauhkan kita dari kegagalan-kegagalan hidup, karena perasaan-perasaan putus asa inilah yang terkadang memicu manusia untuk melakukan dosa dan menjadi penyebab timbulnya kegagalan-kegagalan dalam kehidupan. Tetapi, barangsiapa yang berlindung di bawah naungan rahmat Allah Ta’ala, maka rasa putus asa dan kegagalan-kegagalan akan menjauh darinya. Inilah pesan yang memperlihatkan kepada kita jalan-jalan untuk mencintai-Nya dan beramal berdasarkan perintah-perintah-Nya, sehingga kita menjadi orang-orang yang meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala dan senantiasa mendapatkan faedah dari rahmat dan karunia-Nya.

Singkatnya, pesan ini adalah jalan yang terang bagi semua orang yang tersesat. Pesan ini adalah pesan kehidupan bagi semua orang yang mati rohaninya. Pesan ini adalah kabar suka mengenai kebebasan bagi-bagi orang-orang yang terperangkap dalam cengkeraman syaitan. Tuhan kita Maha Pengasih, Dia melihat kepada kita dengan pandangan penuh kasih sayang, Dia berkali-kali berfirman kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya, لا تَيْئَسُوا مِنْ رَوْحِ اللهِ إِنَّهُ “Dan janganlah kamu berputus asa akan rahmat Allah.” (Yusuf: 88) Karena, لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ “Sebenarnya tiada yang putus asa akan rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir.” (Yusuf: 88)

Pendeknya, jika kalian mendakwakan keimanan kalian, hendaknya kalian senantiasa mengharapkan rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Disebabkan oleh kelemahan-kelemahan manusiawi, kalian telah terjerumus ke dalam beberapa jenis keburukan, tetapi kalian tidaklah termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sesat, karena hanya orang-orang yang putus asa akan rahmat Allah Ta’ala-lah yang berada dalam kesesatan, yaitu mereka yang tidak yakin terhadap Allah Ta’ala dan tidak memiliki keyakinan terhadap sifat rahmaniyyat Allah Ta’ala. Berputus asa adalah cara dan sikap orang-orang yang sesat. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلا الضَّالُّونَ “Dan siapakah gerangan yang akan putus asa tentang rahmat dari Tuhan-Nya, kecuali yang tersesat?” (Al-Hijr: 57) Singkatnya, untuk menenangkan dan menentramkan hati orang-orang yang gelisah disebabkan oleh hal-hal yang mengkhawatirkan dan kondisi diri mereka sendiri , sungguh tidak mungkin ada suatu pesan lain yang lebih indah dari ini.

Kemudian Tuhan kita berfirman untuk menentramkan hati kita bahwa kita tidak akan secara terburu-buru diberikan hukuman oleh-Nya dikarenakan perbuatan-perbuatan buruk kita, bahkan dikatakan, رَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ “Tuhan engkau Maha Pengampun, Pemilik Rahmat.” (Al-Kahfi: 59) Karena كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَة “Tuhan-mu telah menetapkan atas diri-Nya memberi rahmat.” (Al-An’aam: 55) Dia memaafkan dosa-dosa yang kita lakukan karena ketidaktahuan kita. Karena itu berikanlah perhatian terhadap perbaikan diri kita. Jika perbaikan diri itu kita lakukan dengan merenungkan rahmat-Nya, maka Dia adalah al-Ghafuur al-Rahiim, yakni Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Tidak hanya Maha Pengampun dan Maha Penyayang, bahkan Dia berfirman, وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (Al-A’raaf: 157) Tidak terbatas hanya pada orang-orang mukmin saja, rahmat ini juga sampai kepada orang-orang kafir, sedangkan bagi orang-orang mukmin ini adalah merupakan suatu keniscayaan. Dia dapat mengampuni semua jenis dosa dan Dia sedang terus melakukannya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia adalah Maalik (Pemilik, Raja). Dia tidak membutuhkan suatu syarat atau ketentuan apapun untuk memberikan ampunan. Akan tetapi apakah kasih sayang dan rahmat Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu tidak menuntut supaya kita hendaknya berjalan berdasarkan firman-Nya, beramal sesuai dengan perintah-Nya, meningkatkan kecintaan kepada-Nya, lebih mendekatkan diri kepada-Nya, serta berusaha sesuai dengan kemampuan kita untuk menghapus dan mengakhiri segala macam dosa dan kelemahan-kelemahan kita.

Semua penjelasan yang telah saya sampaikan dengan referensi dari Al-Quran Karim dan hadis-hadis Hadhrat Rasulullah Saw yang telah sampai kepada kita tadi, ini semua memberikan penjelasan kepada kita bahwa tidak ada seorang pun yang tidak bisa melakukan perbaikan diri. Tidak mungkin ada seseorang yang tidak bisa dilakukan ishlah (perbaikan) atas dirinya. Setiap orang bisa melakukan perbaikan diri. Setiap orang bisa meraih rahmat Allah Ta’ala yang lebih dari sekedar rahmat-Nya yang tersebar dan berlaku secara umum untuk semua orang, dengan syarat dia berusaha untuk mengadakan perubahan suci di dalam hatinya dan amalan-amalannya.

Beberapa waktu yang lalu di Denmark ada seorang wanita yang menulis sebuah artikel di sebuah surat kabar. Ia menulis, bahwa di dalam Al-Quran berulang kali disebutkan mengenai hukuman dan azab, sedangkan kata-kata yang lemah-lembut dan penuh cinta tidak pernah digunakan di dalamnya, atau hanya digunakan di satu-dua tempat saja. Ia mengatakan bahwa keimanan seorang manusia kepada Tuhan itu dikarenakan kehendaknya sendiri, kebebasannya dan kecintaannya kepada Tuhan, prinsip ini bagaimanapun tidak bisa berlaku bagi orang-orang Islam. Ia menjelaskan secara keliru beberapa ayat Al-Quran tanpa memperhatikan siyaaq dan sabaaq-nya (konteks ayat sebelum dan sesudahnya), ia menarik kesimpulan sendiri dan berusaha untuk membuktikan bahwa Tuhan Islam sangat cepat dan keras dalam menghukum. Jemaat kita di sana (Denmark) telah memberikan jawaban atas artikel ini, namun beberapa kutipan yang telah saya sampaikan tadi di satu sisi memberikan pesan pengharapan kepada orang-orang beriman dan di sisi lain memberikan jawaban kepada para penulis semacam ini dan para musuh-musuh Islam yang menisbatkan hal-hal dusta terhadap Islam serta memiliki kebencian kepada Islam dan Al-Quran.

Allah Ta’ala adalah Maalik (Maha Berdaulat) dan memberikan ampunan. Ini adalah sifat yang menaungi semua sifat lainnya. Dia juga memaafkan dan mengasihi. Hal ini juga merupakan kasih saying-Nya, bahwa Dia tidak menyegerakan menghukum manusia dikarenakan perbuatan-perbuatan yang melampaui batas dan keaniayaan-keaniayaan yang mereka lakukan. Ya, tentu saja dikarenakan mereka terjerumus ke dalam keaniayaan-keaniayaan dan perbuatan-perbuatan dosa yang melampaui batas dan dikarenakan mereka bersikukuh dalam perbuatan-perbuatan buruk tersebut maka Allah Ta’ala berfirman bahwa mereka akan mendapatkan hukuman. Ketika seseorang terus menerus melakukan dosa dan kezaliman, serta tidak pernah merasa jera darinya, maka ia akan mendapatkan hukuman, ini merupakan peraturan qudrat, bahkan peraturan dunia. Akan tetapi kemudian lagi-lagi Allah Ta’ala begitu Maha Pemurahnya, sehingga akan tiba suatu masa di mana neraka akan menjadi kosong. Rahmat Allah Ta’ala begitu luas dan tidak terbatas.

Di dalam ayat-ayat tersebut Allah Ta’ala setelah menjelaskan mengenai rahmat dan ampunan-Nya selanjutnya Dia berfirman bahwa, “Jika kalian tidak mengambil faedah dari rahmat dan ampunan-Ku, maka bagi kalian ada hukuman atas dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan aniaya yang kalian lakukan, akan tetapi inilah rahmat dan ampunan-Ku yang berulang kali mengingatkan kepada kalian untuk menyelamatkan diri darinya. Sebelumnya peliharalah diri kalian supaya jangan ada azab yang mengepung kalian. Janganlah kalian masuk ke dalam cengkeraman-Ku dikarenakan perbuatan-perbuatan aniaya yang melampaui batas.” Singkatnya berusahalah untuk menyelamatkan diri. Saat ini, orang-orang yang berkeberatan atas hal tersebut, mengenai mereka tidak ada lagi yang bisa dikatakan selain, akal mereka telah buta dan dipenuhi oleh kebencian serta permusuhan. Peraturan yang dibuat di negara-negara mereka menghendaki supaya tindak kejahatan dan kriminalitas diberikan hukuman, akan tetapi berkenaan dengan orang-orang yang melanggar peraturan Allah Ta’ala dan melakukan tindakan-tindakan aniaya mereka mengatakan, mengapa Tuhan menyatakan bahwa Dia akan memberikan hukuman dan menurunkan azab?

Tuhan Islam begitu Maha Pengampunnya. Penjelasannya terdapat di dalam riwayat berikut ini: Hadhrat Abu Sa’id ra meriwayatkan bahwa Nabi Karim Saw bersabda, “Ada seseorang yang berasal dari Bani Israil yang telah melakukan sembilan puluh sembilan pembunuhan.” Permisalan ini diberikan dengan tujuan untuk menjelaskan berkenaan dengan rahmat Allah Ta’ala bahwasanya Dia selalu berlaku seperti itu (yakni memperlakukan hamba-Nya dengan penuh kasih sayang dan ampunan).

Beliau saw bersabda, “Ia telah melakukan 99 pembunuhan. Kemudian ia melakukan perjalanan untuk mencari penjelasan tentang taubat. Ia mendatangi seorang rahib dan bertanya, apakah sekarang dia masih bisa bertaubat? Rahib itu menjawab, ‘Tidak, sekarang tidak ada lagi jalan untuk melakukan pertaubatan.’ Lantas ia membunuh rahib tersebut. Dia terus menerus bertanya mengenai apakah taubatnya bisa diterima ataukah tidak. Ada seseorang yang menyuruhnya untuk pergi ke suatu perkampungan. Ketika dalam perjalanan menuju ke kampung tersebut ia meninggal dunia dalam posisi sedang menghadap ke arah perkampungan yang ia tuju. Malaikat rahmat dan azab pun datang. Mereka mulai berselisih berkenaan dengannya. Lalu Allah Ta’ala memerintahkan kepada kampung yang menjadi tempat tujuannya itu supaya mendekat kepadanya, dan memerintahkan kepada kampung dari mana orang tersebut berangkat supaya menjauh darinya. Kemudian Dia memerintahkan kepada para malaikat untuk mengukur jarak di antara kedua perkampungan itu. Maka diketahuilah bahwa orang itu lebih dekat satu jengkal kepada perkampungan yang menjadi tempat tujuannya untuk pengampunan dosanya. Dikarenakan hal tersebut Allah Ta’ala lantas mengampuninya.”[2]

Walhasil, inilah Tuhan Islam yang lebih menyukai memberikan ampunan daripada menurunkan azab. Rahmat-Nya sangatlah luas.

Kemudian terdapat juga satu hadis lain yaitu, Hadhrat Abu Dzar ra meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda, “Wahai Bani Adam! Engkau tidak berdoa kepada-Ku dan menggantungkan harapan kepada-Ku. Padahal, aku akan mengampuni kesalahan-kesalahan engkau dengan syarat engkau tidak berbuat syirik. Sekalipun kesalahan-kesalahan engkau sebesar bumi, Aku akan tetap menemui engkau dengan ampunan-Ku sebesar bumi. Dan jika engkau melakukan kesalahan-kesalahan engkau setinggi langit, lalu memohon ampunan-Ku, maka Aku akan mengampuni engkau dan tidak akan peduli sedikit pun terhadap banyaknya kesalahan-kesalahan itu.”[3]

Inilah Allah Ta’ala, Tuhan Islam yang Maha Pengampun. Begitu besar ihsan Allah Ta’ala kepada kita orang-orang mukmin, yang salah satunya adalah bahwa, setiap tahun pintu-pintu ampunan-Nya lebih dibukakan pada bulan Ramadhan.

Berkenaan dengan rahmat dan ampunan Allah Ta’ala di bulan Ramadhan, terdapat sebuah riwayat sebagai berikut: Nadhar Bin Syaiban berkata, “Aku berkata kepada Abu Salamah bin Abdurrahman, beritahukanlah kepadaku suatu hal yang engkau dengar dari ayah engkau dan beliau mendengarnya secara langsung dari Hadhrat Rasulullah Saw berkenaan dengan bulan Ramadhan.” Abu Salamah bin Abdurrahman berkata, “Baiklah, ayahku pernah menjelaskan kepadaku bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, ‘Allah Ta’ala telah mewajibkan puasa Ramadhan bagi kalian dan aku telah meneruskannya kepada kalian supaya puasa Ramadhan itu ditegakkan. Jadi barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan dengan niat untuk meraih pahala, maka ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti layaknya ketika ibunya melahirkannya. Ia menjadi seperti bayi yang baru lahir.’”[4]

Pendek kata, bukanlah urusan kita mengenai bagaimana Tuhan Islam itu nampak kepada orang-orang jahil. Kita sungguh mengetahui Tuhan kita lebih Pengampun dan Penyayang terhadap kita dibanding orang tua kita sendiri. Dia-lah Tuhan yang berlari menghampiri kita untuk mengampuni dosa hamba-hamba-Nya.

Berkenaan dengan Ramadhan ada juga satu hadis lain yang di dalamnya menerangkan mengenai keberkatan-keberkatan Ramadhan. Salman ra meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw berbicara kepada kami di hari terakhir bulan Sya’ban: “Wahai manusia! Suatu bulan yang agung dan berberkat akan segera meliputimu. Di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah Ta’ala telah mewajibkan puasa di bulan itu dan menetapkan amalan-amalan yang menghidupkan malam-malamnya sebagai nafal. وهو شهر أوله رحمة، وأوسطه مغفرة، وآخره عتق من النار Inilah suatu bulan yang sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari pertengahannya adalah sarana ampunan dan sepuluh hari terakhirnya adalah sarana keselamatan dari jahanam. Barangsiapa yang di bulan itu memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka Allah Ta’ala dengan cawanku akan memberikannya suatu minuman yang membuatnya sebelum masuk ke dalam surga tidak akan pernah merasa haus.”[5]

Artinya, ini adalah suatu maghfirah (ampunan) yang mana jika puasa itu dikerjakan dengan menunaikan hak-hak ramadhan, melaksanakan ibadah-ibadah nafal dan beribadah kepada Allah Ta’ala, maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni, dan akan timbul kekuatan untuk tidak melakukan dosa di masa datang.

Walhasil, Allah Ta’ala secara bertahap terus menciptakan sarana-sarana yang membawa kita ke dalam surga. Kita saat ini sedang menjalani Ramadhan dan sepuluh hari kedua pun akan segera berakhir. Besok lusa akan mulai memasuki sepuluh hari terakhir, dan sepuluh hari ini sebagaimana juga dikatakan di dalam hadis-hadis dari segi ini pun membawa keberkatan, yaitu di dalamnya terdapat suatu malam yang merupakan lailatul qadar, dan merupakan sarana luar biasa untuk pengabulan doa serta untuk melihat penampakkan Tuhan yang lebih dekat lagi bagi hamba-hamba-Nya. Karenanya, kita harus memberikan perhatian khusus terhadap doa-doa dan ibadah-ibadah kita di dalam sepuluh hari terakhir ini. segala sesuatu yang kita raih di dalamnya pun secara khusus sangat perlu untuk dijadikan bagian dalam kehidupan kita.

Untuk dapat terus meraih karunia dari ampunan dan rahmat-Nya, di hari-hari itu kita perlu secara khusus mengintropeksi diri kita sendiri, menunaikan hak bulan Ramadhan dan khususnya hak sepuluh hari terakhir tersebut. Untuk dapat menjauhkan keburukan-keburukan di dalam diri kita, untuk dapat terhindar dari dosa-dosa di masa yang akan datang dan untuk meraih keselamatan sejati dari jahanam diperlukan suatu usaha keras. Harus ada suatu usaha keras untuk setiap pekerjaan yang dilakukan. Tidaklah mungkin ada suatu pekerjaan yang dilakukan tanpa adanya suatu usaha. Ini merupakan kaidah umum, dan seorang mukmin yang hakiki dituntut supaya ia jangan mengabaikan khabar suka-khabar suka dan pesan-pesan yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala, juga amanat-amanat penuh pengharapan dari Hadhrat Rasulullah saw. Bahkan hendaknya ketika kita mendengarnya, saat itu juga di dalam hati kita muncul suatu gejolak semangat untuk menjadi bagian darinya, dan gejolak semangat ini pun baru akan memberikan faedah ketika untuk meraihnya diwujudkan pula dalam bentuk amalan, dan bentuk amalan yang akan membuahkan hasil serta membawa kita kepada kesuksesan itu adalah yang dilakukan sesuai dengan kaidah dan cara yang dibuat untuk meraih tujuan tersebut.

Walhasil, memang rahmat Allah Ta’ala itu luas, memang di bulan Ramadhan terdapat ganjaran yang berlipat ganda bagi kebaikan-kebaikan, dan memang Ramadhan merupakan sarana untuk meraih rahmat dan ampunan serta menjauhkan diri dari jahanam, namun yang bisa mengambil faedah yang hakiki dari semua hal itu hanyalah mereka yang berusaha untuk meraihnya dengan penuh dedikasi.

Singkatnya, berbahagialah bagi siapapun di antara kita yang menjadikan Ramadhan ini sebagai sarana untuk meraih rahmat dan ampunan, serta menyelamatkan diri dari jahanam. Mereka menghapus kekurangan-kekurangan mereka dan selalu terhindar dari dosa-dosa. Ramadhan ini menjadi tonggak bagi kita yang senantiasa menjauhkan kita dari keburukan-keburukan dan selalu membimbing kita pada kebaikan. Di dalam hati kita timbul rasa benci kepada keburukan-keburukan yang tidak akan menggelincirkan kita kepada keburukan-keburukan tersebut untuk kedua kalinya. Perhatian kita tertuju kepada taubat yang hakiki dan taubat yang senantiasa menjadi sarana untuk meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala.

Bagaimana caranya untuk meraih hal-hal tersebut, dan bagaimana taubat yang senantiasa menjauhkan diri dari dosa-dosa itu bisa diraih, mengenai hal ini Hadhrat Masih Mau’ud As bersabda, “Pada dasarnya taubat adalah sesuatu yang sangat mendorong dan memotivasi untuk dapat meraih akhlak.” (Jika ingin memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur, serta ingin mendapatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala, maka hanya taubatlah yang akan berguna untuk meraihnya. Dikarenakan taubat ini manusia meraih kemajuan. Taubat inilah yang juga menjadi penolong. Beliau as bersabda) “Dan taubat ini membuat insan menjadi sempurna. Artinya, siapa yang ingin merubah akhlak buruknya, penting baginya untuk bertaubat dengan kesuungguhan hati dan tekad yang kuat. Ingatlah bahwa taubat memiliki 4 syarat.” (Hanya dengan bertaubat saja tidaklah cukup) “Tanpa menyempurnakan syarat-syarat itu, taubat yang hakiki – yang disebut taubat al-nasuuha – tidak bisa diraih.”

Apakah syarat-syarat taubat itu? Beliau as bersabda, “Dari ketiga syarat itu yang pertama adalah yang dalam bahasa Arab disebut dengan istilah iqlaa’. Yakni menjauhkan pikiran-pikiran dan khayalan-khayalan kotor yang mendorong untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk. Pada dasarnya khayalan-khayalan memberikan pengaruh yang sangat besar, karena sebelum terwujud dalam bentuk amalan setiap perbuatan memiliki bentuk khayalan. Karena itu, syarat pertama untuk melakukan taubat adalah hendaknya meninggalkan pikiran-pikiran buruk dan khayalan-khayalan kotor tersebut.

Misalnya jika seseorang menjalin hubungan terlarang dengan seorang wanita, maka untuk bertaubat hal pertama yang harus ia lakukan ialah menganggap buruk rupa fisik wanita itu dan mengingat di dalam benak semua perilakunya yang buruk dan keji. Karena sebagaimana yang baru saja saya jelaskan bahwa khayalan-khayalan dan pemikiran-pemikiran itu sangat besar pengaruhnya. Saya telah membaca kisah-kisah para sufi, dikatakan bahwa dalam penggambaran dan pengkhayalan di dalam hati ini mereka telah sampai pada suatu keadaan di mana mereka melihat manusia itu dalam bentuk monyet atau babi. Singkatnya, apa yang digambarkan seseorang dalam pikirannya, maka seperti itu pulalah corak yang akan muncul dalam bentuk amalan. Jadi barangsiapa yang menganggap khayalan-khayalan buruk itu sebagai suatu sumber kelezatan, maka hal itu akan merusak dirinya. Ini adalah syarat yang pertama.

Syarat yang kedua adalah penyesalan, yakni merasa malu dan menyesal. Setiap manusia di dalam dirinya memiliki suatu potensi yang memperingatkan dia terhadap setiap keburukan, namun orang-orang yang malang malah meninggalkan potensi ini sebagai suatu yang sia-sia dan tidak berguna. Jadi nyatakanlah penyesalan atas perbuatan dosa dan keburukan yang dilakukan, serta pahamilah bahwa itu hanyalah kelezatan yang sementara dan hanya bertahan beberapa hari saja, kemudian juga renungkanlah, bahwa memang kelezatan dan kesenangan itu berkurang setiap saat, sehingga di usia yang sudah renta, ketika kekuatan dan tenaga telah menjadi lemah dan berkurang, pada akhirnya semua kelezatan itu sirna di masa kehidupan ini juga, lalu apa yang didapat dengan melakukan semua itu? Sungguh sangat beruntung manusia yang kembali menuju taubat dan di dalam dirinya timbul iqlaa’, yakni menghapuskan pikiran-pikiran kotor dan khayalan-khayalan yang sia-sia. Ketika kotoran dan kenajisan ini telah sirna, maka akan timbul penyesalan dan rasa malu terhadap apa yang ia lakukan.

Syarat yang ketiga adalah tekad, yakni membulatkan tekad bahwa di masa yang akan datang tidak akan kembali melakukan keburukan-keburukan. Ketika hal ini dilakukan secara berkesinambungan, Allah Ta’ala akan menganugerahkan taufik untuk taubat yang hakiki sehingga semua keburukan itu benar-benar hilang sirna dari dalam dirinya, lalu akhlak yang baik nan terpuji akan menggantikannya, inilah kemenangan akhlak. Menganugerahkan kemampuan dan kekuatan adalah wewenang Allah Ta’ala, karena Dia adalah Pemilik segala kekuatan dan kemampuan. Sebagaimana Dia berfirman, اَنَّ الۡقُوَّۃَ لِلّٰہِ جَمِیۡعًا ۙ “…seluruh kekuatan hanyalah milik Allah.” (Al-Baqarah, 2 : 166) dan manusia adalah dha’iif al- bunyaan, yakni makhluk yang lemah. Hakikatnya ialah (خُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا) ‘Khuliqal insaanu dha’iifaa.’ “manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (Al-Nisa: 29) Walhasil, untuk mendapatkan kekuatan dari Allah Ta’ala semua syarat tadi harus disempurnakan, tinggalkanlah kemalasan, lalu setelah benar-benar siap berdoalah kepada Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan mengadakan perubahan pada akhlak kita.[6]

Inilah petunjuk dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Hendaknya diingat bahwa ada sebagian orang yang mengatakan bahwa, “Kami telah berdoa kepada Allah Ta’ala supaya terhindar dari suatu keburukan, tetapi keburukan tersebut tidak pernah hilang. Allah Ta’ala tidak mendengar doa-doa kami.” Sebagian orang tua merasa khawatir karena muncul perilaku-perilaku yang salah dan kebiasaan-kebiasaan yang buruk dalam diri anak mereka dan mengatakan, “Kami telah berusaha, berdoa pun sudah dilakukan, namun tidak didengar.” Hal ini adalah salah dan keliru. Berkenaan dengan hal ini saya kembali memberikan pemahaman yang sederhana kepada mereka bahwa untuk pengabulan doa-doa pun ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Hanya dalam beberapa hari saja memanjatkan doa lalu mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mendengar doanya, ini seolah-olah menudingkan kelemahan dan ketidak mampuannya kepada Allah Ta’ala.

Walhasil, dengan kutipan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as tersebut saya ingin menjelaskan mengenai bagaimana hendaknya untuk berhenti dari melakukan suatu keburukan serta bagaimana caranya untuk dapat meraih taubat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa untuk bertaubat dan terhindar dari keburukan-keburukan ada beberapa perkara yang penting, amalan-amalan dan cara-cara yang harus ditempuh. Dengan melaksanakannya barulah akan didapatkan hasil, dan doa untuk terhindar dari keburukan-keburukan pun baru dapat terkabul apabila diambil pula langkah-langkah dalam bentuk amalan nyata. Hanya melulu berdoa dan tidak melakukan amalan nyata, lantas mengatakan bahwa Tuhan tidak mengabulkan doanya, dan hal ini mungkin dikarenakan kehendak-Nya supaya ia tetap bergelimang dosa, ini adalah suatu kekeliruan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, Jika ingin memperbaiki amalan-amalan buruk dan akhlak, ada tiga hal yang pertama-tama harus dilakukan oleh manusia, kemudian berdoalah, maka doa ini akan membantu dan keburukan-keburukan pun menjadi lenyap.

Dan untuk taubat yang hakiki – sebagaimana yang telah saya bacakan dalam kutipan tadi – Beliau as bersabda, pertama hendaknya bersihkanlah terlebih dahulu pikiran kita dari khayalan-khayalan buruk dan kotor. Ketika gambaran kenikmatan dari suatu keburukan terlintas di pikiran, maka manusia akan melakukan keburukan itu. Jika di dalam pikirannya tidak muncul khayalan mengenai kenikmatan dari suatu keburukan, maka sekali-kali ia tidak akan melakukan keburukan itu. Pada awalnya muncul khayalan mengenai kenikmatan keburukan itu, kemudian ia merasakannya, lantas menjadi cenderung dan tertarik terhadap keburukan tersebut. Walhasil, pertama-tama langkah amalan nyata yang harus ditempuh oleh seorang insan untuk terhindar dari keburukan-keburukan adalah hendaknya ia membersihkan pikirannya dari khayalan-khayalan kotor atau lamunan mengenai suatu kesenangan sesaat.

Beliau as memberikan permisalan berikut ini, yakni misalnya ada seseorang yang menjalin hubungan terlarang dengan seorang wanita, kemudian terjalinlah persahabatan, maka bukannya menanamkan dalam benak gambaran keanggunan wanita tersebut, justru tanamkanlah gambaran yang seburuk-buruknya dari dirinya. Bukannya memperhatikan keindahan dan kelebihan apa yang terdapat pada diri wanita tersebut, munculkanlah gambaran terburuk darinya di dalam benak kita. Utamakanlah untuk melihat sifat-sifat buruknya, lalu buatlah gambaran suatu bentuk yang sangat dibenci dan tidak disukai, barulah kita dapat terhindar dari keburukan-keburukan itu.

Kemudian syarat yang kedua, adalah sadarkanlah fitrat baik yang ada di dalam diri kita dan renungkanlah, kedalam keburukan-keburukan apa saja kita telah terjerumus, ciptakanlah rasa malu dan menyesal atas keadaan diri kita, jika kita telah mencapai kondisi ini kita akan bisa selamat dari keburukan.

Kemudian beliau as bersabda, yang ketiga adalah tekad yang teguh dan kuat untuk tidak mendekati lagi keburukan. Ketika kita setiap saat senantiasa berusaha untuk tetap teguh dengan niat kita ini, Allah Ta’ala akan memberikan taufik untuk melakukan taubat yang hakiki dan doa-doa yang dipanjatkan untuk terhindar dari dosa-dosa pun akan didengar. Sebelum doa-doa dikabulkan diperlukan amalan nyata.

Tidaklah seperti ini, yaitu berdoa dari pagi hingga petang, sedangkan dari malam hingga pagi dilumuri dengan perbuatan-perbuatan yang salah beserta keburukan-keburukan, atau hanya sewaktu-waktu saja berdoa kepada Allah Ta’ala supaya diselamatkan dari keburukan. Perilaku semacam ini mencerminkan ketidakseriusan dalam berdoa. Fitrat baik yang tersembunyi dalam dirinya memperingatkan betapa keadaannya telah tenggelam dalam keburukan-keburukan, dengan kesadaran yang sementara itu timbul perhatian untuk berdoa, dan ketika gambaran keburukan itu nampak, maka kehendaknya mendorong ia untuk menghilangkan kesadarannya yang sementara itu, lalu ia diliputi oleh penyesalan. Keadaan seperti ini tidaklah menyelamatkannya dari keburukan-keburukan secara berkesinambungan, tidak pula membuatnya menunaikan hal-hal yang wajib dilakukan ketika memanjatkan doa, bahkan ia bermain-main dengan doa dan berusaha untuk mengikat Allah Ta’ala dengan permintaan-permintaannya, padahal Allah Ta’ala tidak terikat kepada seorang hamba pun.

Untuk orang-orang seperti ini hendaknya diingat bahwa jika ingin mendapatkan faedah yang hakiki dari ampunan Allah Ta’ala, ingin menjadi pewaris dari nikmat-nikmatnya, ingin melihat pengabulan dari doa-doanya, maka ia pun perlu memperhatikan keadaan dirinya pribadi. Sebagaimana yang telah saya katakan bahwa Allah Ta’ala begitu Maha Pemurahnya terhadap para hamba-Nya, sehingga setiap saat Dia senantiasa siap untuk menaungi hamba-Nya dalam naungan rahmat-Nya. Kita dituntut untuk melaksanakan perintah-perintah Allah Ta’ala dan meraih ampunan serta rahmat-Nya. Kita harus meraih rahmat yang diraih oleh orang-orang mukmin hakiki yang mendapatkan kasih sayang-Nya. Meskipun rahmat-Nya itu sangatlah luas, kita harus menghindari hal-hal yang menjadi penyebab dijatuhkannya hukuman kepada kita. Taubat kita haruslah taubat yang hakiki, dan harus menjadi manusia yang senantiasa bersujud kepada-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Bersihkanlah amal-amal kalian, senantiasa berzikirlah kepada Allah Ta’ala dan jangan pernah lalai. Sebagaimana buruan yang melarikan diri, ketika ia lengah maka ia akan tertangkap oleh sang pemburu, demikian juga orang-orang yang lalai dari berzikir kepada Allah Ta’ala, ia akan menjadi mangsa dari syaitan. Senantiasa hidupkanlah taubat dan jangan pernah biarkan ia mati, karena anggota tubuh yang digunakan fungsinya, itulah yang berguna, sedangkan yang dibiarkan sia-sia akan selamanya menjadi sesuatu yang tidak berguna. Oleh karena itu hidupkanlah taubat supaya tidak menjadi sia-sia. Jika kalian tidak melakukan taubat yang hakiki maka hal itu adalah bagaikan benih yang ditanam di atas batu, sedangkan taubat yang hakiki adalah bagaikan benih yang ditanam diatas tanah yang subur dan pada waktunya akan membuahkan hasil. Pada masa sekarang ini banyak sekali kesulitan dalam melaksanakan taubat yang hakiki.”

Karena hasrat akan dunia berserta kelezatannya nampak di hadapan kita.

Beliau as bersabda, “Senjata kita untuk meraih kemenangan adalah istighfar, taubat, memahami ilmu-ilmu agama, mengagungkan Allah Ta’ala dan menunaikan shalat lima waktu. Shalat adalah kunci pengabulan doa. Ketika melaksanakan shalat, berdoalah di dalamnya dan jangan pernah lalai. Hindarkanlah diri kalian dari keburukan-keburukan baik itu yang berhubungan dengan hak-hak Allah Ta’ala (huquuqullah) maupun hak-hak para hamba-Nya (huquuq al-‘ibaad).[7]

Semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang melakukan taubat yang hakiki dan senantiasa menjadi pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang berhasil meraih semua keberkatan Ramadhan.

Setelah shalat Jumat ini akan dilaksanakan tiga shalat jenazah ghaib. Jenazah pertama adalah Mukaram Muhammad Imtiyaz Ahmad Sahib ibnu Musytaq Ahmad Sahib Tahir, yang bertempat tinggal di Nawabsyah. Beliau disyahidkan pada tanggal 14 Juli. Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Beliau berumur kurang lebih 39 tahun. Diriwayatkan bahwa pada pukul 15.30 beberapa pengendara sepeda motor yang tidak dikenal mendatangi toko beliau dan menembak beliau hingga syahid. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Menurut laporan, Muhammad Imtiyaz Ahmad Sahib sedang berdiri di luar tokonya yang berlokasi di Pasar Kota Nawabsyah. Datanglah dua pengendara sepeda motor yang tidak dikenal dan menembaki beliau lalu melarikan diri. Akibatnya beliau terkena tiga tembakan. Dua peluru mengenai kepala beliau, yang satu mengenai mengenai kepala beliau bagian kanan dan satu lagi menembus di bawah telinga kiri beliau. Sedangkan peluru yang ketiga mengenai tangan beliau. Beliau syahid pada saat itu juga. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Dikarenakan kebencian berlatar belakang agama, sampai saat ini di Nawabsyah telah terjadi sembilan pensyahidan. Kurang lebih satu atau dua tahun yang lalu di kota ini terjadi banyak pensyahidan. Sebelum kejadian tersebut seorang pemilik toko terdekat memberitahukan kepada beliau bahwa beberapa orang penentang sedang merencanakan makar terhadap beliau. Namun sehati-hati apa pun tetap saja ada kalanya harus keluar dari toko, lalu musuh-musuh pun mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan rencana jahat mereka.

Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga almarhum pada tahun 1935 melalui kakek beliau yang bernama Mukaram Sith Muhammad Din Sahib dari Amritsar, yang bai’at dengan perantaraan Ni’matullah Khan Sahib dari Wazir Abad. Pada tahun 1947 beliau pindah dari Amritsar India ke Nawabsyah Pakistan. Pada tahun 1975 Almarhum lahir. Kemudian beliau mendapatkan gelar F.Sc. setelah itu beliau ikut serta dalam bisnis ayah beliau.

Beliau cukup banyak mengkhidmati Jemaat. Pada saat disyahidkan beliau menjabat sebagai Ketua Jemaat Halqah Mahmud Hall. Beliau juga Sekretaris Tahrik Jadid, Sekretaris Ishlah-o-Irsyad dan Qaid Khudamul Ahmadiyah di kota Nawabsyah. Beliau juga Nazim Ishlah-o-Irsyad dan Tahrik Jadid wilayah. Beliau juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Waqfi Jadid, Sekretaris Dhiafat dan Sekretaris Da’wat Ilallah sebelumnya. Beliau senantiasa siap untuk berkhidmat di Jemaat setiap waktu.

Pekerjaan dan tanggung jawab apapun yang diserahkan kepadanya, beliau selalu melaksanakannya dengan senang hati, tidak pernah menolak. Beliau sangat sopan dan baik dalam menjamu tamu. Beliau sangat memperhatikan tamu-tamu dari pusat. Beliau berfitrat sederhana, memiliki hubungan kecintaan dan ketaatan yang sangat tinggi dengan khalifah, serta memiliki semangat yang sangat luar biasa dalam hal keitaatan. Senantiasa menegakkan shalat lima waktu dan tahajud. Bertabi’at lemah lembut dan selalu berbicara dengan penuh kelembutan. Beliau juga memiliki sifat selalu memaafkan.

Pada hari pensyahidan yang adalah dalam rangkaian bulan Ramadhan, beliau menyiapkan sendiri paket makanan untuk para mustahiq secara pribadi, dan sampai zuhur beliau telah membagi-bagikannya kurang lebih ke tujuh rumah. Ketika beliau pulang ke Toko, maka di sanalah para penyerang yang malang itu itu menyerang dan mensyahidkan beliau. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah seorang musi. Sith Muhammad Yusuf Sahib Syahid yang merupakan Amir Distrik Nawabsyah sebelumnya adalah keponakan beliau. Ayahanda beliau Musytaq Ahmad Syahib pun masih hidup. Diantara orang-orang yang ditinggalkan antara lain istri beliau Nabilah Imtiyaz Sahibah, tiga orang anak beliau, diantaranya Jazib Umar yang berusia 10 tahun, Abdul Basith berusia 9 tahun dan Muhammad Abdullah yang berusia 7 bulan.

Jenazah yang kedua adalah Mukaram Nasir Ahmad Anjum, seorang waqifin zindegi. Beliau adalah dosen di Jamiah Ahmadiyah Rabwah. Pada tahun 1981 beliau menyelesaikan ujian matric. Setelah itu beliau mewaqafkan diri dan datang untuk belajar di Jamiah. Beliau mendapatkan gelar BA ketika masih di Jamiah. Setelah lulus dari Jamiah beliau mendapatkan gelar MA. Beliau pun dikursuskan bahasa Rusia oleh Jemaat. Pada tahun 1988 beliau mendapatkan gelar Syahid, lalu terjun ke lapangan pengkhidmatan dan pernah bertugas di banyak Jemaat.

Pada tahun 1990 beliau dipanggil ke Rabwah untuk mengambil takhashshush (spesialisasi, pengkajian pendalaman secara khusus) di bidang perbandingan agama, dan pada masa takhashshush itu juga beliau mulai mengajar sebagai dosen di Jamiah Ahmadiyah dan pada tanggal 18 Juli 1999 secara resmi beliau ditetapkan sebagai dosen perbandingan agama, dan beliau melaksanakan tanggung jawab ini dengan baik hingga akhir hayat beliau. Setelah lulus dari Jamiah masa pengkhidmatan beliau kurang lebih 26 tahun. Dan dengan karunia Allah Ta’ala, meskipun beliau termasuk mubaligh muda, beliau adalah seorang ulama, dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah seorang yang ahli dalam bidang perbandingan agama dan sangat berilmu.

Selain mengajar di Jamiah beliau pun mendapatkan taufik untuk berkhidmat di kelompok-kelompok Jemaat. Beliau termasuk salah seorang anggota dewan qadha awalin yang ditetapkan oleh Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ rh dan ini tetap berlangsung hingga akhir hayat beliau. Beliau juga termasuk anggota dewan ifta dan komite peneliti. Beliau melakukan pengkhidmatan dalam berbagai jabatan di Khudamul Ahmadiyah. Ada satu kelebihan beliau yang diceritakan oleh anggota keluarga beliau, yakni beliau tidak bisa menolerir suatu bentuk pelanggaran terhadap nizam sekecil apa pun. Jika ada salah seorang putra beliau membicarakan hal-hal yang tidak baik berkenaan dengan pengurus maka beliau menasihatinya, dan jika ada seseorang yang berbicara menentang suatu keputusan Jemaat, beliau pun menasihatinya dengan penuh hikmah. Beliau pun mendapatkan karunia untuk ikut serta di Jalsah UK dan pada tahun 2010 beliau menyampaikan pidato di sini. Beliau memiliki hubungan yang luar biasa dengan khilafat dan seorang pengkhidmat sejati. Beliau sangat gemar bertabligh. Beliau di setiap tempat mendatangi pertemuan-pertemuan dan sangat ahli dalam medan pertablighan, orang-orang terpelajar pun mengakui kehebatan dalil-dalil beliau.

Putri beliau Khadijah Mahim menulis, “Beliau sangat mencintai Hadhrat Masih Mau’ud as dan sangat menekankan untuk membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau menyusun kamus buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as dan memiliki harapan supaya khazanah yang sangat berharga ini bisa sampai kepada khalayak. Beliau menyusun kamus yang berisi kata-kata yang sulit dipahami supaya orang-orang bisa mengambil manfaat dari buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Pekerjaan ini baru saja beliau mulai.”

Mubasyir Iyaz Sahib menulis, “Beliau pun seorang orator yang hebat. Beliau ikut serta dalam program ‘Raahe-Hudaa(Jalan Petunjuk) dan program-program lainnya di MTA, serta memberikan jawaban-jawaban dengan argumentasi yang sangat baik. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan ampunan kepada beliau dan meninggikan derajat beliau. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan lebih banyak lagi ulama-ulama yang tidak hanya berilmu, tapi juga beramal seperti beliau ini.

Jenazah yang ketiga adalah Mukaram Sahibzadah Mirza Anwar Ahmad Sahib yang merupakan putra dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan Hadhrat Ummu Nasir. Beliau wafat pada hari minggu yang lalu. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Beliau menamatkan matric pada tahun 1944. Kemudian atas keinginan Hadhrat Muslih Mau’ud ra, beliau melanjutkan ke Institut Pertanian. Kemudian pada masa-masa awal daarul dhiafat (Rumah untuk para tamu) beliau diserahi tugas untuk mengelola gedung semi permanen yang terletak di depan mesjid mubarak. Pembangunan daarul dhiafat yang ada sekarang ini pun dimulai pada masa beliau. Hingga tahun 1982 atau 1983 beliau berkhidmat sebagai pimpinan langgar khanah, kemudian mendapatkan taufik untuk menjadi Naib Nadzir Umur Ammah. Lalu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pun menyerahkan pengurusan dan pemeliharaan tanah-tanahnya kepada beliau.

Beliau menikah dengan Sabihah Begum Sahibah, putri Mirza Rasyid Ahmad Sahib ibnu Hadhrat Mirza Sultan Ahmad Sahib. Beliau memiliki tiga orang putri dan satu orang putra. Pernikahan beliau ini termasuk salah satu pernikahan yang terakhir di antara pernikahan-pernikahan putra-putra Hadhrat Amma Jaan yang dihadiri langsung oleh beliau.

Dokter Nuri Sahib menulis bahwa ia berkesempatan untuk merawat beliau selama satu bulan terakhir. Beliau adalah wujud yang sangat menghormati tamu dan penuh kasih sayang. Beliau sangat dikenal sebagai seseorang yang sangat baik dalam menjamu tamu. Ada satu lagi sifat beliau yang sangat masyhur yakni memiliki rasa tenggang rasa yang sangat tinggi. Beliau biasa bercanda dengan orang-orang di dalam majlis-majlis beliau tidak pernah timbul keresahan di dalam majlis-majlis itu yang disebabkan oleh gurauan beliau.

Dokter Nuri Sahib menulis bahwa beliau sering datang ke Tahir Heart untuk membantu pasien-pasien yang kurang mampu, dan setelah memberikan sejumlah uang kepada Dokter Nuri Sahib lalu beliau pergi. Ibu Dokter Nuri Sahib mempunyai seorang saudara laki-laki yang memiliki kedekatan yang khas dengan beliau. Sebagaimana persaudaraan pada umumnya, akan tetapi ini lebih dari itu. Beliau sering datang ke rumah Dokter Nuri Sahib dan terus mempererat tali persaudaraan itu. Setelah kedekatan dengan Khilafat, beliau pun memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Dokter Nuri Sahib. Kedekatan hubungan itu pun nampak dengan seringnya beliau menelepon ke rumah Dokter Nuri Sahib.

Semoga Allah Ta’ala mengampuni beliau dan meninggikan derajat beliau, dan semoga anak keturunan beliau diberikan taufik untuk tetap menjalin ikatan kesetiaan yang erat dengan khilafat. Istri beliau juga sedang sakit, semoga Allah Ta’ala juga memberikan kasih sayang dan karunia-Nya kepada beliau. [Aamiin] Seperti yang telah saya katakan shalat jenazah akan dilaksanakan setelah selesai shalat Jumat. (Mln. Hashim Muhammad)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih Al-Bukhari, Kitaab ahaadits al-anbiyaa, bab 52/54, hadis no. 3470

[3] Musnad Ahmad Bin Hanbal, Jilid VII, hal. 208, Musnad Abu Dzar Al-Ghifaari, Hadis no. 21837, ‘Aalam Al-Kutub, Beirut, 1998

“عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَن النَّبِيِّ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي فَإِنِّي سَأَغْفِرُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيكَ وَلَوْ لَقِيتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا لَلَقِيتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً وَلَوْ عَمِلْتَ مِن الْخَطَايَا حَتَّى تَبْلُغَ عَنَانَ السَّمَاءِ مَا لَمْ تُشْرِكْ بِي شَيْئًا ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي لَغَفَرْتُ لَكَ ثُمَّ لَا أُبَالِي.”

[4]Sunan Al-Nasaa’i, Kitaab al-Shiyaam, Baab Dzikr Ikhtilaaf Yahyaa Bin Abi Katsir wa Al-Nadhar Bin Syaiban fiihi, hadis no. 2210,

 حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ شَيْبَانَ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدِّثْنِي بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ أَبِيكَ سَمِعَهُ أَبُوكَ مِنْ رَسُولِ اللهِ… فِي شَهْرِ رَمَضَانَ قَالَ نَعَمْ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r: إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ عَلَيْكُمْ وَسَنَنْتُ لَكُمْ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.

[5] Syi’b al-iimaan lil Baihaqi, Jilid V, hal. 223, Kitaab ash-shiyaam baab fadhaail syahru ramadhaan, hadis no. 3608,

 “عن سلمان قال: خطبنا رسول الله في آخر يوم من شعبان فقال: أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم، شهر مبارك، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر، جعل الله صيامه فريضة، وقيام ليله تطوعا… وهو شهر أوله رحمة، وأوسطه مغفرة، وآخره عتق من النار…. ومن أشبع صائما سقاه الله من حوضي شربة لا يظمأ حتى يدخل الجنة.

[6] Malfuzat, Jilid I, hal. 138-140, Edisi 1984, Cetakan London

[7] Malfuzat, Jilid V, hal. 303, Edisi 1984, Cetakan London