Imam Mahdi dan Nabiyullah

هُوَ الَّذي بَعَثَ فِي الأُمِّيّينَ رَسولًا مِنهُم يَتلو عَلَيهِم آياتِهِ وَيُزَكّيهِم وَيُعَلِّمُهُمُ الكِتابَ وَالحِكمَةَ وَإِن كانوا مِن قَبلُ لَفي ضَلالٍ مُبينٍ ۞ وَآخَرينَ مِنهُم لَمّا يَلحَقوا بِهِم ۚ وَهُوَ العَزيزُ الحَكيمُ

“Dia-lah yang telah membangkitkan di tengah-tengah bangsa yang buta hurup seorang rasul dari antara mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata; dan Dia akan membangkitkannya di tengah-tengah suatu golongan lain dari antara mereka, yang belum pernah bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. [QS. Al-Jumu’ah, 62:3-4]

Zaman Kerusakan Akhlak & Rohani

 

Ada suatu nubuatan dalam Al-Quran bahwa akan datang suatu zaman yang manusia tidak pantas disebut sebagai manusia (QS.Ad-Dahr, 76:2) [1] karena hanya fisik mereka saja yang berwujud manusia, sedang hati mereka menyerupai hati syaitan [2], sehingga akhlak dan rohani mereka mengalami kerusakan total, pandangan hidup dan tingkah laku mereka telah melanggar ajaran Allah swt dan tidak berprikemanusiaan, sehingga derajat mereka direndahkan (QS, At-Tin, 95: 6), bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi, sebab mereka tidak mengindahkan ajaran Allah swt yang diberikan kepada mereka. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak mereka gunakan untuk memahami kebenaran; mereka diberi mata, tetapi tidak mereka gunakan untuk melihat kebenaran; mereka diberi telinga, tetapi tidak mereka gunakan untuk mendengar kebenaran (QS 7: 180). Diantara mereka itu ada yang diibaratkan seperti kera yang hina (QS 7: 167), anjing kehausan yang suka menjulurkan lidahnya (QS 7: 177) dan babi (QS 5: 61). Kerusakan akhlak dan rohani manusia seperti ini tidak hanya menimpa umat yang mengaku beragama Yahudi dan Nasrani saja, tetapi juga menimpa umat yang mengaku beragama Islam.

Hal yang menyedihkan dan mengerikan ini pernah juga dinubuatkan Nabi Muhammad saw dalam Hadits:

“Sungguh umat ini akan menjadi kaum kera dan babi.” [3]

Zaman yang sangat mengerikan ini mulai berlangsung sejak abad ke 4 Hijriyah dan titik terendahnya pada abad 13 Hijriyah (QS 32: 6) atau abad 19 Masehi. Kerusakan akhlak dan rohani manusia ini dimulai dari bangsa-bangsa Eropa Barat dan Timur yang dalam kitab suci Al-Quran disebut Ya’juj wa Ma’juj (QS 18: 95; QS 21: 97). Kemudian secara berangsur-angsur umat Islam mengikuti jejak mereka, setelah mereka meninggalkan hidayah Al-Quran (QS 25:31) dan melupakan Allah swt lalu mereka dilupakan oleh Allah swt (QS 9: 67), sehingga genaplah nubuat Rasulullahsaw yang menyatakan bahwa umatku akan meniru Bani Israil hingga kedua umat itu bagaikan sepasang terompah. [4]

Nubuat Datangnya Imam Mahdi as

 

Apabila umat manusia sudah mengalami kerusakan akhlak dan rohani yang sedemikian parah dan menyedihkan, maka Allah swt akan mendatangkan seorang laki-laki dari umat Muhammad, Rasulullahsaw untuk mengajak dan memimpin mereka kembali kepada ajaran Islam (QS 36: 21), yang dulu pernah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullahsaw (QS 62: 3-4). Beliau as adalah seorang pria, yang dari pihak ibu keturunan dari Fathimah, Putri Nabi Muhammad saw [5] dan dari pihak ayah keturunan kaum Salman Al-Farisi sahabat Rasulullah saw [6], yang menurut beliau akan muncul dari timur Damsyik. [7]

Beliau menggunakan nama “Ahmad”, salah satu dari nama Rasulullah saw [8], sebab pada hakikatnya beliau dibangkitkan di dunia akhir zaman ini hanya semata-mata untuk menampakkan kembali wujud Rasulullah saw. Oleh karena itu, ajaran beliau adalah ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad saw, seorang pria yang ditakdirkan menjadi mazhar (penampakkan) Nabi Muhammad saw ini diberi gelar Imam Mahdi [9]dan gelar Nabiyullah Isa as [10] . Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw menyatakan dengan tegas dan jelas: “Bahwa tidak ada Mahdi kecuali Isa.” [11]

Pesan Nabi Muhammad saw kepada Kaum Muslimin agar berbai’at kepada Imam Mahdi as

 

Yang Mulia Rasulullahsaw berpesan kepada kaum muslimin apabila Imam Mahdi atau Nabiyullah Isa as sudah datang, maka orang yang telah mengetahuinya wajib bai’at kepada beliau, Rasulullah saw bersabda:

فَاِذَ رَاَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَاِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِىِّ

“Maka apabila kamu sekalian mengetahuinya (Imam Mahdi), maka berbai’atlah kamu kepadanya, meskipun kamu merangkak di atas salju, karena ia Khalifatullah, Al-Mahdi. [12]

Beliau ‘alaihissalam adalah wakil Allah swt di dunia ini untuk meneruskan kepemimpinan Rasulullah saw di akhir zaman, agar umat Islam bersatu kembali dalam satu Jamaah yang dipimpin oleh seorang Imam yang telah dijanjikan, yaitu Khalifah bagi orang-orang mukmin yang beramal shaleh (QS 24: 56). Adapun figur Imam Mahdi atau Nabiyullah Isa as yang dijanjikan dalam Al-Quran dan Hadits Rasulullah saw itu tidak lain adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as dari Qadian sebagaimana pengakuan beliau ‘alaihis-salam:

فَأَنَا ذَالِكَ النُّوْرُ وَالْمُجَدِّدُ الْمَأْمُوْرُ وَالْعَبْدُ الْمَنْصُوْرُ وَالْمَهْدِيُّ الْمَعْهُوْدُ وَالْمَسِيْحُ الْمَوْعُوْدُ

“Maka, akulah cahaya itu, Mujaddid yang mendapat perintah, seorang hamba yang ditolong, Al-Mahdi yang dijanjikan dan Al-Masih yang dijanjikan.” [13]

Persatuan & Persaudaraan Umat Islam

 

Ketika Imam Mahdi dibangkitkan, kaum Muslimin telah pecah menjadi berpuluh-puluh firqah, yang dalam suatu Hadits Rasulullah saw dinyatakan 73 firqah [14], demikian pula umat beragama selain Islam juga terpecah menjadi tujuh puluh lebih. Pendek kata, umat manusia pada saat itu terkotak-kotak dalam agama, firqah, kebangsaan, kasta, ekonomi dan lain sebagainya yang memicu kepada permusuhan, penindasan dan peperangan yang hanya mengakibatkan kesengsaraan hidup mereka sendiri, bagaikan neraka diturunkan ke dunia ini. Semua ini disebabkan oleh ulah manusia yang melanggar ajaran Agama yang telah disampaikan para Nabi mereka, teristimewa melanggar ajaran Agama Islam yang telah disampaikan Rasulullah saw, baik karena sengaja atau terpaksa yang disebabkan oleh rasa takut dan ketidak pahaman mereka sendiri.

Maka dari itu datangnya Imam Mahdi as adalah suatu rahmat Allah swt yang paling besar di akhir zaman ini, karena beliau diutus ke dunia ini untuk membawa dan menghidangkan nikmat-nikmat rohani serta contoh akhlak yang mulia dan sopan-santun yang dapat menghidup-suburkan iman dan amal shaleh, serta mampu mempersatukan umat manusia, sehingga mereka berdiri tegak di atas tauhid (Al-Istifta’, hal. 45). Sebab persatuan dan persaudaraan umat manusia yang sebenarnya hanya dapat diwujudkan melalui para Nabi (QS 24: 56), dan para Khalifah penggantinya (QS 24:56), maka dari itu para Nabi oleh Allah swt diberi gelar Imam-imam Mahdi (QS 21: 74).

Nama Jamaah Imam Mahdi ‘alaihis-salaam

 

Jamaah kaum Muslimin yang telah didirikan oleh Imam Mahdi as zaman akhir ini diberi nama Jamaah Islam Ahmadiyah. Kata “Jamaah” diambil dari nubuatan Rasulullah saw yang menyatakan akan ada Jamaah yang selamat disaat umat Islam terpecah menjadi 73 firqah [15] dan Ahmadiyah diambil dari nama atau sifat Rasulullahsaw yang di nubuatkan Nabi Isa as dalam Al-Quran surah Ash-Shaf (QS 61: 7). Perintah mengambil bai’at pada awal bulan Desember 1888 M, bertepatan dengan tahun 1305 Hijriyah sebagai awal berdirinya kembali KHILAFAT ISLAM. Tahun berdirinya khilafat ini telah diisyaratkan oleh jumlah nilai-huruf yang terdapat pada kalimat لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ. (QS 24 : 56) artinya: Sungguh Ia (Allah swt) akan menjadikan mereka khalifah. Secara rinci kalimat itu terdiri dari huruf-huruf yang nilainya menurut Kamus Al-Munjid, halaman 1, adalah sebagai berikut:

ل=30؛ ي=10؛ س=60 ؛ ت=400 ؛ خ=600 ؛ ل=30 ؛ ف=80 ؛ ن=50 ؛ ه=5 ؛ م=40

Jumlah nilai huruf dalam kalimat di atas ada 1305. Jumlah ini sesuai dengan jumlah angka tahun 1305 Hijrah, yaitu tahun turunnya wahyu yang menyuruh Imam Mahdi as agar menyelenggarakan penerimaan bai’at. Tahun ini bertepatan dengan tahun 1888 Masehi. Maka blanko pernyataan bai’at beliau tulis pada tanggal 12 Januari 1889 Masehi dan bai’at pertama beliau selenggarakan pada tanggal 23 Maret 1889 di kota Ludiana, India. Maka sejak saat itulah Jamaah Islam Ahmadiyah dinyatakan telah berdiri, sebagai khilafat Islam di zaman akhir ini.

Alasan Bai’at Pertama Diselenggarakan Di Ludhiana

 

Rasulullah saw bersabda bahwa Isa mencari Dajjal hingga ia menemuinya di Babu Ludd ² (Shahih Muslim, 52/2138). Ludhi adalah berasal dari bahasa Hindi, Ludhiyanah, artinya pintu atau jalan terobosan dan pintu/jalan ini digunakan missi Kristen untuk mendapatkan kemenangan bagi misi mereka.

Kisah singkat berdirinya kota tersebut adalah sebagai berikut: Pada hari Kamis bulan November 1834 M, seorang pendeta J.S. Lorey tiba di kota itu dan ia mendirikan markas pertama Missionaris Kristen di Punjab yang waktu itu belum ada seorang pun yang beragama Kristen. Kemudian pada bulan Desember 1835, pendeta John Newton dan James Wilson bersama istri mereka tiba di kota itu, lalu mereka mendirikan Gereja Kristen yang pertama di Punjab 1837 M;[16] dan dari sinilah penyebaran misi Kristen dikomando.

Maka dari itu Imam Mahdi atau Nabiyullah Isa as dari umat Islam ini memilih kota tersebut untuk dijadikan tempat penyelenggaraan bai’at yang pertama sebagai awal berdirinya Jamaah Islam Ahmadiyah. Sebab Rasulullah saw menubuatkan bahwa Nabiyullah Isa as akan datang dan mencari Dajjal, lalu ia ‘membunuhnya’ di “Babu Ludd”. (Shahih Muslim, 52/2138).

Sektab PB JAI, Cet. 1. 2017

 

JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA

Badan Hukum Penetapan Menteri Kehakiman RI No.JA 5/23 Tanggal 13-3-1953

Jl. Balikpapan I/10 Jakarta 10130

Telp.(021) 6321631, 68737052, Fax. (021) 6321640

[1] Penulisan nomor ayat Al-Quran dalam brosur ini berdasarkan Hadits Nabi Besar Muhammadsaw. riwayat sahabat, Ibnu Abbasra yang menunjukkan bahwa setiap Basmalah pada tiap awal surah adalah ayat pertama dari surah itu.

كَنَا لاَ يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتّٰى يَنْزِلَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Nabi Muhammadsaw. tidak mengetahui pemisahan antara surah itu sehingga bismillaahirrahmaanirrahiim turun kepada beliausaw..” [HR. Abu Daud, “Kitab Shalat” dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”]

[2] Kanzul-Ummal, Juz XI/31413, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[3] Kanzul Ummal, Juz XIV/38739

[4] Hadits Riwayat Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” dan Ibnu Asakir-dari Ibnu Amir; dan Kanzul Ummal, Juz I/1060, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[5] Kanzul ummal, Juz XIV/38653, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[6] Kanzul Ummal, Juz XII/35125, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[7] Kanzul Ummal, Juz XIV/38852, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[8] Kanzul Ummal, Juz XIV/38655, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[9] Kanzul Ummal, Juz XIV/38808

[10] Shahih Muslim, “Bab Dajjal dan Sifat-sifatnya”

[11] HR Ibnu Majah dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”-dari Anasra.; dan Kanzul Ummal, Juz XIV/38656, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[12] Ibnu Majah dan Al-Hakim dalam “al-Mustadrak” – dari Tsauban ra dan Kanzul Ummal, Juz XIV, Hadits no. 38658, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[13] Al-Khutbah al-Ilhamiyah, hal. 50-51

[14] Kanzul Umal, Juz I/1060, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[15] Kanzul Ummal, Juz I/1061, (Kanzul Umal, Juz I/1060, ‘Allamah ‘Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[16] Majalah At-Taqwa, volume November 9, Issue 4, Agustus 1997, hal.34

(Visited 4 times, 1 visits today)