10 Oktober 2019

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyerukan penghormatan dan toleransi antara pemeluk agama dan keyakinan yang berbeda

pemimpin ahmadiyah pidato unesco
  • Huzur menekankan pentingnya pendidikan untuk anak perempuan
  • Khalifah mengatakan akses pada pendidikan merupakan kunci menuju perdamaian dunia
  • Huzur menyampaikan bahwa Al-Qur’an telah mengilhami umat Islam untuk meraih kemajuan intelektual dan pengetahuan
  • Huzur mengatakan bahwa tidak ada kontradiksi antara sains dan agama

Pemimpin Dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidato utama yang bersejarah pada 8 Oktober 2019 di Markas Besar United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation (UNESCO) di Paris.

Acara ini dihadiri lebih dari 80 pejabat tinggi dan tamu, seperti diplomat, politisi, akademisi dan perwakilan lembaga-lembaga pemikir (think-thank), serta para pebisnis dan berbagai profesi lainnya.

Selama pidatonya, Pemimpin Jamaah Ahmadiyah memuji tujuan dasar UNESCO, yang meliputi pengembangan perdamaian jangka panjang, mempromosikan supremasi hukum, perlindungan hak asasi manusia, menjaga warisan budaya berbagai kelompok dan komunitas dan berupaya memastikan masa depan kemakmuran dunia.

Kemudian Huzur mengatakan bahwa lebih dari 1400 tahun yang lalu, Islam telah memerintahkan umat Islam untuk mewujudkan tujuan yang sama ini demi kepentingan perdamaian dan kesejahteraan umat manusia.

Huzur menekankan pentingnya pendidikan di seluruh masyarakat. Beliau menyatakan bahwa akses kepada pendidikan merupakan sarana penentu bagi perdamaian dan stabilitas, dan Islam juga menekankan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan dan mereka diberi kesempatan yang sama seperti anak laki-laki.

Lebih lanjut, Huzur membantah tuduhan bahwa Islam adalah agama yang tidak mendorong kemajuan intelektual. Sebaliknya, sejak awal Islam telah menekankan bahwa manusia harus terus berusaha mendorong batas-batas pengetahuan manusia dan tidak ada kontradiksi antara sains dan agama.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berbicara tentang pentingnya pendidikan untuk membangun perdamaian, dan menjelaskan bagaimana ajaran Islam telah meletakkan dasar bagi masyarakat yang unggul.

Ajaran-ajaran seperti itu telah memotivasi dan mengilhami generasi para cendikiawan dan filsuf Muslim yang terdepan membawa kemajuan intelektual umat manusia sepanjang Abad Pertengahan. Dan di era modern saat ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah berupaya memanfaatkan sejarah intelektual yang kaya itu dengan menggalakkan pengajaran dan meningkatkan pengetahuan manusia.

Di awal, Huzur memuji prinsip-prinsip pendirian UNESCO, Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Tujuan berdirinya UNESCO sangat bagus dan patut dipuji. Di antara tujuannya adalah mendorong perdamaian dan saling menghormati, mendukung supremasi hukum, hak asasi manusia, dan pendidikan di seluruh dunia. UNESCO juga mengadvokasi kebebasan pers dan melindungi berbagai budaya dan warisan. Tujuan lain adalah memberantas kemiskinan dan memajukan pertumbuhan dan pembangunan global yang berkelanjutan dan memastikan bahwa umat manusia meninggalkan warisan positif, sehingga generasi masa depan dapat memperoleh manfaat.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Anda mungkin terkejut mengetahui bahwa ajaran Islam juga menuntut umat Islam untuk berupaya memenuhi tujuan yang sama ini dan terus berjuang untuk kemajuan umat manusia.”

Huzur mengatakan bahwa Al-Qur’an telah menyatakan bahwa Allah yang Maha Kuasa adalah ‘Penguasa Seluruh Alam’ (Robbul ‘Aalamiin), karenanya umat Islam meyakini bahwa Allah adalah Sang Pencipta dan Pemelihara bagi semua umat manusia, tanpa memandang kepercayaan atau warna kulit.

Sehingga hal ini menjadi suatu kewajiban rohani di pundak umat Islam untuk melayani umat manusia tanpa membedakan latar belakang agama, sosial atau etnis mereka.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan:

“Surah pertama Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah Ta’ala adalah ‘Tuhan seluruh alam’. Ayat ini merupakan inti keyakinan Islam di mana umat Islam diajarkan bahwa Allah Ta’ala bukan hanya Tuhan dan Pemelihara untuk mereka saja tapi Dia adalah Pemelihara dan Penyedia bagi semua umat manusia. Dia Maha Pengasih dan Penyayang sehingga Dia tidak memandang kasta, keyakinan atau warna kulit. Allah Yang Maha Kuasa memenuhi kebutuhan semua makhluk ciptaan-Nya.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Atas dasar ini, Muslim hakiki yakin dengan kuat bahwa semua manusia terlahir sama dan tanpa membeda-bedakan keyakinan, nilai-nilai saling menghormati dan toleransi harus tertanam kuat dalam masyarakat.”

Huzur mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan manifestasi sempurna ajaran Islam. Setelah hijrahnya beliau ke Madinah, dan di bawah kepemimpinannya, berkembanglah sebuah masyarakat multikultural yang menjadi contoh bagi umat manusia.

Dalam menjelaskan alasan hijrahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan peristiwa yang terjadi sesudahnya, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan:

“Setelah beliau membawa misi Islam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sabahat beliau menjadi sasaran perlakuan brutal dan tidak manusiawi oleh kafir Mekkah, tetapi mereka menanggung semua itu dengan sabar dan menahan diri. Sampai akhirnya setelah bertahun-tahun menderita penganiayaan tanpa henti, mereka berhijrah ke kota Madinah di mana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membuat suatu perjanjian perdamaian antara pendatang Muslim, kaum Yahudi dan anggota masyarakat lainnya.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Dalam ketentuannya, kelompok-kelompok yang berbeda berjanji untuk hidup damai, memenuhi hak-hak satu sama lain dan membantu mengembangkan semangat saling membantu, toleransi dan kerjasama. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam terpilih sebagai pemimpin pemerintahan, dan di bawah kepemimpinannya perjanjian tersebut terbukti menjadi piagam hak asasi manusia dan pemerintahan yang luar biasa dengan terciptanya perdamaian antara komunitas yang berbeda.”

Kemudian, Huzur dengan teliti mengalanisis dan membahas karakteristik kunci dan pencapaian-pencapaian pemerintahan Madinah yang pertama itu.

Huzur mengatakan bahwa sistem pemerintahan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar didukung oleh sistem hukum, ketertiban dan keadilan yang tidak memihak, di mana semua orang sama di bawah hukum pemerintah.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan:

“Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam membuat sebuah peradilan yang adil untuk penyelesaian sengketa. Beliau menjelaskan bahwa tidak akan ada satu hukum khusus untuk orang kaya dan satu hukum lagi khusus untuk yang miskin dan lemah. Sebaliknya, dalam konsep revolusioner ini, semua masyarakat diperlakukan sama menurut hukum negara.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membuat berbagai program dan perencanaan yang dirancang untuk memastikan kemajuan dan stabilitas masyarakat. Termasuk di dalamnya membangun sistem pendidikan, sistem perpajakan yang diatur untuk meningkatkan standar orang-orang miskin, sistem kesehatan masyarakat yang berfokus pada sanitasi dan edukasi masyarakat tentang kesehatan, sistem transportasi, etika bisnis dan etika keuangan yang mengarah pada kemajuan sosial yang luar biasa.

unesco islam

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan:

“Selama abad ke 7, di bawah pemerintahan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, terdapat kemajuan yang menakjubkan di Madinah dalam hal memajukan hak-hak individu dan kolektif. Tentu saja, ini adalah pertama kalinya di antara bangsa Arab terdapat sebuah masyarakat yang tertib dan beradab. Dalam berbagai hal, ini merupakan model masyarakat madani– dalam hal infrastruktur, pelayanan dan yang lebih penting, dalam hal persatuan dan toleransi yang ditampilkan dalam masyarakat yang multikultural.”

Huzur menyatakan ‘kesedihan yang mendalam’ atas upaya bersama yang dilakukan di dunia saat ini untuk memfitnah dan mencemarkan nama baik Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah dicap sebagai pemimpin perang – padahal semua itu jauh dari kebenaran. Kenyataannya adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menghabiskan seluruh hidup beliau untuk memperjuangkan hak-hak semua orang, dan beliau menetapkan suatu piagam hak asasi manusia yang berkelanjutan berdasarkan ajaran Islam.”

Huzur mengecam setiap orang yang suka menyerang atau mengejek suatu agama dan para utusan Allah.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Dalam pandangan saya, dan sungguh disesalkan, bahwa prinsip saling menghormati, yang merupakan sarana untuk membangun cinta dan persatuan, telah dikorbankan di dunia saat ini atas nama kebebasan dan bahkan atas nama ‘hiburan’. Bahkan para pendiri agama juga tidak luput dari ejekan dan penghinaan, sehingga ejekan mereka menyebabkan kesedihan dan penderitaan bagi jutaan pengikut mereka di seluruh dunia.”

Sangat berbeda dengan apa yang sering digambarkan oleh para penentang Islam, Huzur menjelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan contoh kasih sayang dan kemanusiaan. Beliau selalu berusaha memperhatikan anggota masyarakat yang lemah dan membuat banyak perencanaan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad juga menyampaikan tentang upaya tak mengenal lelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberantas perbudakan. Pada masa perbudakan merajalela dan dianggap sebagai praktik yang umum di masyarakat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berusaha membebaskan orang-orang yang terbelenggu oleh rantai perbudakan dan kerja paksa.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berulang kali menganjurkan untuk membebaskan budak dan memerintahkan bahwa kalaupun belum bisa langsung dibebaskan maka paling tidak mereka harus memberikan makanan dan pakaian kepada mereka sebagaimana mereka makan dan berpakaian untuk diri mereka sendiri.”

Huzur mengatakan bahwa tuduhan lain yang sering diajukan adalah Islam gagal dalam melindungi hak-hak wanita atau mendukung diskriminasi antara jenis kelamin. Namun, semua itu sepenuhnya keliru dan tidak adil. Sejak awal, Islam menentukan hak yang sama bagi wanita dan mengajarkan bahwa mendidik anak perempuan merupakan hal yang sangat penting dan menjadi sebuah tuntutan agama bagi seluruh Muslim.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Sejak awal Islam telah menetapkan hak-hak wanita dan anak-anak perempuan. Di masa ketika wanita dan anak perempuan sering didiskriminasi dan dipandang rendah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan pengikutnya untuk memastikan bahwa anak perempuan harus dididik dan dihormati. Bahkan beliau bersabda bahwa jika seseorang memiliki tiga anak perempuan dan dididik dan ditarbiyati dengan baik, mareka akan masuk surga.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Berdasarkan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, anak-anak perempuan Muslim Ahmadi di seluruh dunia dididik dan unggul dalam berbagai bidang. Mereka menjadi dokter, guru, arsitek dan profesi lain yang mana mereka dapat melayani umat manusia.”

Menjawab tuduhan bahwa Islam adalah agama yang mempromosikan kekerasan atau mengizinkan kekerasan atas nama agama, Huzur menjelaskan bahwa peperangan yang terjadi pada periode awal Islam bersifat defensif dan diperjuangkan sebagai usaha terakhir untuk melindungi hak-hak umat Islam dan non Muslim.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan:

“Hal yang sebenarnya adalah, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, izin yang diberikan kepada umat Islam untuk melawan adalah untuk mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan berkeyakinan dan kebebasan hati nurani bagi semua umat manusia. Al-Qur’an menjelaskan jika saja umat Islam tidak membela diri melawan tentara Mekkah, maka tidak akan ada gereja, sinagog, kuil, masjid atau tempat-tempat ibadah lainnya yang aman, karena penentang Islam bertekad untuk melenyapkan semua agama.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Sesungguhnya, kalaupun umat Islam awal terlibat dalam peperangan, maka peperangan itu selalu bersifat defensif dan berjuang untuk membangun perdamaian jangka panjang dan melindungi hak-hak semua orang untuk hidup dengan penuh kebebasan. Jika hari ini terdapat umat Islam yang menerapkan siasat ekstrimis atau mengajarkan kekerasan maka sesungguhnya mereka telah meninggalkan ajaran Islam atau sama sekali tidak mengetahui.”

Dalam pidato terhormat di UNESCO tersebut, Huzur membantah sebuah anggapan bahwa Islam adalah ‘agama kuno dan terbelakang’ yang tidak mendukung kemajuan intelektual. Huzur menegaskan bahwa klaim seperti itu sebagai “stereotip dangkal yang didasarkan pada fiksi bukan fakta”.

Huzur menyajikan berbagai contoh sejarah yang menggambarkan kontribusi umat Islam untuk pencerahan intelektual.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan:

“Hal yang benar adalah Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengilhami karya-karya intelektual Muslim, para filsuf dan para penemu di Abad Pertengahan. Tentu saja, jika kita melihat ke belakang lebih dari satu abad, kita melihat bagaimana para ilmuwan dan penemu Muslim memainkan peran penting dalam memajukan pengetahuan dan teknologi yang telah mengubah dunia dan terus dimanfaatkan sampai sekarang.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyebutkan kontribusi inovatif di bidang kedokteran, teknologi, kimia, fisika, etika, filsafat, matematika dan yang lainnya.

Pada zaman ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah telah mengambil peran untuk mengembangkan pendidikan dan melanjutkannya perkembangan intelektual.

Huzur menyebutkan kontribusi nyata pada ilmu pengetahuan dan sains manusia oleh Prof. Dr. Abdus Salam dan bagaimana ia mendapatkan inspirasi dari agamanya.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

Alhamdulillah, peraih Penghargaan Nobel pertama adalah seorang Muslim Ahmadi, Profesor Dr Abdus Salam, seorang ahli fisika yang terkenal yang memenangkan Hadiah Nobel untuk Fisika pada tahun 1979. Sepanjang hidupnya, Profesor Salam mengemukakan bagaimana Islam, dan Al-Qur’an khususnya, adalah inspirasi dan penuntun di belakang karyanya.”

Kemudian, Huzur berbicara tentang upaya kemanusiaan dari Jamaah Muslim Ahmadiyah yang berusaha meringankan penderitaan umat manusia. Beliau juga menyampaikan bahwa memutus siklus kemiskinan yang menimpa masyarakat di negara-negara yang memiliki ekonomi lemah merupakan cara untuk membangun perdamaian di dunia.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad berkata:

“Di daerah terpencil dan miskin di Afrika, kami telah mendirikan sekolah dasar dan menengah dan kami juga memiliki rumah sakit serta klinik. Kami juga telah menyediakan air bersih di desa-desa terpencil, yang artinya anak-anak dapat bebas ke sekolah, bukannya menghabiskan hari-hari mereka di perjalanan yang bermil-mil untuk mengumpulkan air guna memenuhi keperluan keluarga mereka.

Kami juga mendirikan proyek pembangunan desa-desa percontohan, yang meliputi aula bagi masyarakat, akses air bersih, infrastruktur energi surya dan berbagai fasilitas lainnya.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Upaya kami untuk memberantas kemiskinan dan kemelaratan itu didasari oleh rasa kemanusiaan, tetapi kami juga menganggap hal ini sebagai kunci untuk mewujudkan perdamaian di dunia yang berkelanjutan.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad lebih lanjut mengatakan:

“Jika masyarakat memiliki makanan untuk dimakan, air untuk diminum, tempat tinggal, sekolah dan kesehatan untuk anak-anak, maka mereka akan dapat hidup dengan damai dan terhindar dari cengkeraman keputusasaan dan dendam yang dapat mengarahkan orang-orang ke arah ekstremisme. Semua itu adalah hak-hak mendasar manusia. Sebelum kita dapat membantu orang-orang lepas dari kemiskinan dan kemelaratan maka kita tidak akan melihat perdamaian sejati di dunia.”

Sebagai penutup, Huzur menyerukan perubahan dalam prioritas umat manusia.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menegaskan:

“Pada akhirnya, saya berdoa dengan sepenuh hati semoga umat manusia meninggalkan keserakahan dan melupakan pemenuhan kepentingan pribadi semata, sebaliknya mereka berfokus untuk meringankan kepedihan dan kesusahan dari orang-orang yang menderita di dunia. Aamiin.”

Sebelum pidato utama, beberapa pembicara terkemuka naik ke atas panggung dan berbicara mengenai kekaguman mereka terhadap Jamaah Muslim Ahmadiyah dan upaya untuk menyebarkan pesan Islam yang damai ke seluruh dunia.

Duta Besar Oumar Keïta, Delegasi dari Mali untuk UNESCO, mengatakan:

“Khalifah yang terhormat (Hazrat Mirza Masroor Ahmad), kami kagum pada kontribusi yang anda buat di Mali seperti pembangunan masjid dan sekolah, rumah sakit dan berbagai proyek yang telah dibuat melalui Humanity First… Yang Mulia, saya mengucapkan selamat pada anda untuk pesan perdamaian yang anda sampaikan, pesan-pesan itu telah mengkonsilidasikan masyarakat kami di Mali dan sejalan dengan cita-cita UNESCO.”

Penasihat Agama Kementeriaan Luar Negeri, Jean Christophe Auge berkata:

“Saya sangat bahagia menyambut kedatangan Yang Mulia Khalifah (Hazrat Mirza Masroor Ahmad) pada hari ini… Kami tidak asing lagi dengan apa yang Khalifah dan Jamaah Muslim Ahmadiyah berikan untuk negara ini dan seluruh dunia. Saya ingin memberi penghormatan atas kunjungan Yang Mulia ke negara ini dan saya berharap anda mendapat kesuksesan untuk kunjungan ini.”

Direktur Dewan Penasihat Agama untuk Kementerian Dalam Negeri Prancis, Clément Rouchouse berkata:

“Saya merasa senang berada di sini pada hari ini untuk memberi penghormatan atas kunjungan Khalifah dari Jamaah Muslim Ahmadiyah ke Prancis. Saya ingin mengucapkan selamat datang ke Prancis, negara yang memiliki tradisi menyambut berbagai agama menurut prinsip sekularisme.”

Walikota Eaubonne, Tn Guillaume Dublineau, mengatakan:

“Terlepas dari perbedaan warna kulit, budaya dan bahasa, kita semua mengupayakan prinsip yang sama, di manapun kita tinggal, dan di kota manapun kita berada.

Kami memiliki cita-cita untuk hidup dengan kedamaian dan keadilan, toleransi dan berbagi nilai-nilai kami. Saya ingin memuji Jamaah Muslim Ahmadiyah, karena ini adalah komunitas yang membawa cinta dan kehangatan, dan juga persahabatan serta persaudaraan.”

Presiden Memorial NATO, Willy Breton juga berbicara dan memuji Jamaah Muslim Ahmadiyah dalam upaya yang terus menerus untuk mewujudkan perdamaian.

Sementara itu, pengenalan tentang Jamaah Muslim Ahmadiyah dan Imam Mahdi as. disampaikan oleh Sekretaris Umur Kharijiyyah Nasional Jamaah Muslim Ahmadiyah Prancis, Asif Arif.

Acara ditutup dengan doa oleh Huzur.

Setelah itu para tamu dapat bertemu secara pribadi dengan Huzur, Hazrat Mirza Masroor Ahmad.

Mereka semua memberikan penghargaan terhadap pidato utama dan merenungkan berbagai poin yang disampaikan oleh Huzur dalam membela Islam dan bagaimana mewujudkan perdamaian dan stabilitas dunia.

Sumber: Alislam
Penerjemah: Lisnawati Ibrahim