7 September 2016

Masjid Salam diresmikan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad.

masjid-salam-jerman

Jemaat Muslim Ahmadiyah dengan suka cita mengumumkan bahwa Pemimpin Jemaat Muslim Ahmadiyah di seluruh dunia, Khalifatul Masih V, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad meresmikan Masjid Salam (Masjid Perdamaian) di kota Iserlohn, Jerman pada 6 September 2016.

masjid salam jerman 2

Begitu tiba, beliau langsung meresmikan masjid ini dengan membuka tirai plakat peringatan masjid dan memanjatkan doa syukur kepada Allah Ta’ala.

Hudhur kemudian memimpin shalat Zuhur dan Isya di masjid baru ini dan dilanjutkan dengan penanaman sebuah pohon di pekarangan masjid sebagai tanda peristiwa penting ini.

Menyusul setelahnya, diadakan sebuah resepsi khusus yang dihadiri sekitar 40 pejabat dan tamu sebagai bagian dari peresmian Masjid. Berbagai pejabat hadir, termasuk Walikota Iserlohn.

peresmian masjid ahmadiyah

Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Jerman, Abdullah Wagishauser, memberikan sambutan, yang kemudian diikuti oleh kesan-pesan dari para tamu.

Walikota Iserlohn Peter Paul Ahrens mengatakan:

“Masjid ini dinamai ‘Salam’ yang berarti Masjid Perdamaian dan memang demikianlah cara hidup Muslim Ahmadi yang tinggal di daerah ini. Saya juga sangat menghargai Jemaat Muslim Ahmadiyah yang membuka pintu-pintu masjid mereka bagi semua orang.”

Anggota Komisi Thomas Gemke berkata:

“Saya ucapkan selamat bagi Anda pada kesempatan ini atas pembukaan Masjid Salam di Iserlohn. Jemaat Muslim Ahmadiyah senantiasa terus menunjukkan komitmennya untuk mewujudkan perdamaian di negeri ini.”

masjid-salam-jerman-4

Pidato utama kemudian disampaikan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad. Beliau menjelaskan berbagai permasalahan menurut kaca mata ajaran-ajaran Islam.

Berkenaan dengan bagaimana ucapan ‘salam’ dalam Umat Islam bisa menjadi sarana terciptanya kedamaian di masyarakat, Hudhur menyampaikan:

“Saat seorang Muslim menyapa orang lain, baik terhadap Muslim atupun non-Muslim, ia akan ucapkan salam perdamaian kepadanya. Apabila seorang Muslim memahami hikmah mengucapkan salam ini, maka menjadi tidak mungkin baginya untuk berupaya menciptakan kerugian bagi siapapun, baik terhadap muslim ataupun non-Muslim.”

Hudhur mengatakan bahwa Muslim Ahmadi senantiasa mengabdi setia kepada bangsanya dimana ia tinggal sesuai dengan ajaran agamanya, yakni Islam, di saat agama Islam digambarkan secara umum sebagai agama garis keras dan umat Islam dicap sebagai warga yang tidak setia.

penanaman pohon

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Ada banyak Muslim Ahmadi yang bekerja di angkatan darat Jerman dan di kantor-kantor lainnya. Contohnya, banyak Muslim Ahmadi yang ikut dalam berbagi proyek penelitian. Mereka tengah mengabdi bagi negaranya dan bekerja demi kemajuan dan kebaikan bangsanya dengan cara yang terbaik. Namun demikian, ini bukanlah ihsan mereka terhadap negara mereka karena pengabdian terhadap negara merupakan bagian penting dalam keimanan. Oleh sebab itu, pengabdian ini merupakan tugas dan tanggung jawab mereka terhadap agama. Setiap Muslim Ahmadi yang menetap di Jerman, dimanapun berada, harus menjadi seorang warga negara yang setia dan secara tulus mengabdi kepada negara.”

khalifah ahmadiyah meresmikan masjid di jerman

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Dalam sebuah syair, pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah menuliskan bahwa mengkhidmati manusia merupakan salah satu tujuan utama kedatangannya. Pada dasarnya, ini merupakan ajaran Al-Quran dan Hadhrat Rasulullah saw. Oleh sebab itu, terlepas dari agama dan keyakinannya, mengkhidmati orang lain merupakan tugas dan tujuan pokok dari Jemaat Muslim Ahmadiyah.”

Hudhur mengatakan bahwa masjid baru ini akan terbukti menjadi simbol perdamaian dan keamanan serta menjadi sarana terciptanya perdamaian bagi masyarakat dan lingkungan setempat.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad Aba mengatakan:

“Islam telah menegakkan dan menetapkan hak-hak tetangga. Cakupan dari apa yang disebut tetangga, menurut ajaran Islam, sungguh sangat luas, termasuk rekan kerja, teman seperjalanan, kenalan, serta yang tempat tinggalnya dekat dengan kalian. Jadi, pada hakikatnya semua orang di kota ini adalah tetangga kalian. Oleh sebab itu, merupakan tugas para Muslim Ahmadi setempat untuk mengkhidmati dan peduli terhadap semua anggota masyarakat.”

masjid ahmadiyah salam

masjid-salam-jerman-8

Hudhur mengatakan bahwa tidak mementingkan diri sendiri merupakan komponen utama dalam membangun perdamaian. Beliau melanjutkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk mengedepankan hak-hak orang lain di atas hak-hak pribadi.

khalifah ahmadiyah berdoa

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad kembali menyampaikan:

“Belum lama ini seseorang bertanya kepada saya bagaimana kita bisa menegakkan perdamaian dalam masyarakat dan apa definisi damai itu sendiri. Saya menjawab bahwa menurut saya definisi dari perdamaian adalah berupaya untuk memenuhi hak-hak orang lain, bukannya menuntut atau meminta haknya sendiri. Jika semua orang memenuhi hak-hak orang lain, barulah konflik dan perselisihan menjadi tidak mungkin terjadi. Tentu, inilah corak masyarakat yang Muslim Ahmadi kehendaki dan perjuangkan.”

Berkenaan dengan gelombang pengungsi yang secara mendadak masuk ke Jerman pada tahun lalu, Hudhur mengatakan bahwa negara yang bertindak sebagai tuan rumah dan juga para pengungsi hendaknya saling menghormati satu sama lain.

Hudhur mengatakan bahwa para imigran harus berusaha berbaur dan memberikan kontribusi bagi masyarakat setempat. Beliau mengatakan bahwa mempelajari bahasa Jerman sangatlah penting, kemudian memerintahkan agar para imam Muslim Ahmadi menyampaikan khutbah dalam bahasa setempat.

tamu ahmadiyah

Hudhur menjelaskan bahwa kebanyakan para Muslim Ahmadi yang menetap di Jerman telah mempelajari bahasa Jerman dan bahwa para generasi muda Muslim Ahmadi yang tinggal di negara ini juga telah mampu menggunakan bahasa setempat seperti bahasa ibu mereka sendiri.

Pada kesempatan sebelumnya, salah seorang tamu mengatakan bahwa umat Islam tidak ingin menjabat tangan lawan jenis.

Dalam pidatonya, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menjawab langsung komentar-komentar tersebut.

Hudhur menegaskan bahwa perkara menjabat tangan bukanlah sesuatu yang menghalangi terciptanya suatu keutuhan. Di dalam masyarakat yang memegang prinsip kebebasan hendaknya juga memiliki hak untuk menyapa orang lain sesuai dengan kebiasaan dan keyakinan mereka. Beliau mengatakan bahwa seorang wanita tidak seharusnya dipaksa menjabat tangan laki-laki dan begitu pula sebaliknya.

Hudhur menyampaikan bahwa ini merupakan bagian dari keimanan di dalam Islam dan akan menjadi benar-benar keliru bila menganggap hal ini sebagai bentuk ketidakadilan. Hudhur memperlihatkan bahwa Islam sejak awal telah menegakkan hak-hak kaum wanita daripada di Dunia Barat.

Hudhur juga menyebutkan ketimpangan standar ganda dalam hal-hal yang tersebut. Beliau menyebutkan ada pula orang-orang Yahudi yang tidak mau menjabat tangan lawan jenisnya namun tak ada seorang pun yang berani mengkritisi mereka karena takut disebut anti-bangsa Semit.

Beliau menuturkan bahwa keutuhan tidak terbatas pada jabatan tangan atau hal-hal remeh temeh lainnya, melainkan dibatasi oleh keinginan untuk mengkhidmati bangsanya dan untuk bekerja demi kemajuannya serta menjadi warga yang cinta damai dan taat hukum.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menutup pidato beliau:

“Karena masjid ini telah didirikan, maka saya ingin dan berharap agar para Muslim Ahmadi setempat menyampaikan pesan Islam yang hakiki. Dimana mereka akan penuhi kewajiban untuk beribadah, di sana mereka juga akan penuhi hak-hak tetangga mereka. Khidmatilah para tetangga lebih dari sebelumnya dan penuhilah hak-hak kaum pria dan wanita di daerah ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan mereka taufik untuk dapat mengamalkannya.”

masjid-salam-jerman-11

Acara resmi ini ditutup dengan doa khusyu yang dipimpin Hudhur yang kemudian dilanjutkan dengan acara makan malam.

22 Deer Park Road, London, SW19 3TL UK
Tel/Fax: (44) 020 8544 7678 Email: media@pressahmadiyya.com


Ahmadiyya Muslim Community
Press & Media Office

URL sumberpressahmadiyya.com

 

(Visited 29 times, 1 visits today)