Karunia yang dilimpahkan kepada para pengikut Al-Quran dan berkat khusus yang mereka terima, amat sulit diungkapkan dalam kata-kata. Namun sebagian di antaranya adalah sedemikian akbarnya sehingga patutlah diuraikan secara rinci sebagai petunjuk bagi para pencari kebenaran.”

“Termasuk di dalamnya adalah pengetahuan dan wawasan yang dikaruniakan kepada para pengikut yang sempurna. Ketika seseorang mematuhi sepenuhnya petunjuk Al-Quran, mengikat dirinya secara total kepada perintah-perintahnya, mencamkan petunjuknya dengan kecintaan yang tulus dan sempurna serta tidak mengurangi sama sekali ketaatannya maka pengamatan dan perenungan kalbu yang bersangkutan akan memperoleh Nur dimana ia akan diberikan kesadaran akan mutiara-mutiara hikmah pengetahuan Ilahiah yang tersembunyi di dalam firman-firman Tuhan dan pengertian yang dalam akan turun ke kalbu mereka laiknya hujan yang lebat. Dalam Al-Quran, pengertian yang dalam ini diberi nama kebijakan sebagaimana diungkapkan dalam ayat:

يُؤتِي الحِكمَةَ مَن يَشاءُ ۚ وَمَن يُؤتَ الحِكمَةَ فَقَد أوتِيَ خَيرًا كَثيرًا ۗ ِ

 ‘Dia memberi kebijakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan barangsiapa diberi kebijakan maka sungguh ia telah diberi berlimpahlimpah kebajikan’ (QS.2 Al-Baqarah:270).

“Pengetahuan dan pemahaman yang disebut sebagai kebijakan tersebut bersifat amat komprehensif dengan segala hal yang baik, laiknya sebuah samudra luas yang dikaruniakan kepada para penganut firman Ilahi. Pengamatan dan perenungan mereka diberkati sedemikian rupa sehingga kebenaran luhur akan tercermin dalam jiwa mereka dan kebenaran sempurna akan dibukakan bagi mereka. Bantuan Ilahi akan memberikan segala sarana sehingga telaah yang mereka lakukan akan sempurna dan tidak mengandung kesalahan. Berkat ini semua maka pengetahuan, wawasan, argumentasi, bukti-bukti dan mutiara-mutiara ruhani yang mereka peroleh akan bersifat lengkap dan sempurna sehingga tidak bisa dipadani oleh orang-orang lain. Tidak dengan kemampuannya sendiri mereka itu bisa mencapai keluhuran batin demikian karena mereka ini selalu dibimbing oleh pemahaman tersembunyi dan dukungan Ilahi. Melalui kekuatan pemahaman tersebut mereka akan menemukan rahasiarahasia dan Nur dari Al-Quran yang tidak mungkin dicapai semata-mata dengan menggunakan logika manusia yang lemah.”

“Pengetahuan dan wawasan yang dikaruniakan kepada mereka serta mutiara-mutiara hikmah dan kesadaran yang dalam akan Wujud dan sifat-sifat Ilahi disamping pengetahuan tentang akhirat, semuanya itu bersifat rohaniah dan hal ini dalam pandangan orang-orang bijak dianggap bersifat lebih luhur dan lebih agung daripada mukjizat zahir. Dalam pandangan orang-orang bijak, nilai dan kedudukan seorang hamba Allah swt ditentukan oleh karunia luar biasa tersebut. Semuanya itu merupakan hiasan bagi keluhuran derajat mereka yang memperindah penampilan mereka. Sudah menjadi bagian dari fitrat manusia bahwa kekaguman akan pengetahuan dan wawasan yang benar paling besar pengaruhnya atas fitrat mereka serta kebenaran dan pemahaman menjadi lebih berharga baginya dibanding apa pun lainnya. Jika misalnya diperkirakan bahwa ada seorang saleh yang memperoleh kasyaf dan diberikan kesadaran akan hal-hal yang tersembunyi, mendisiplinkan dirinya secara ketat, tetapi yang bersangkutan tidak memahami pengetahuan Ilahiah sehingga ia tidak bisa membedakan antara kebenaran dengan kedustaan, terperangkap dalam cara berfikir dan akidah yang salah, cenderung lemah dan melakukan kesalahan dalam segala hal, maka dalam pandangan orang-orang waras, yang bersangkutan itu dianggap orang hina dan rendah.”

“Seseorang yang dianggap bodoh dalam pandangan mereka yang bijak serta tidak disukai karena selalu mengeluarkan kata-kata bodoh, tidak akan bisa dihormati oleh orang-orang bijak dan akan tampak sebagai manusia rendah, betapa pun yang bersangkutan terlihat saleh dan khusuk. Hal ini menunjukkan bahwa kemuliaan ruhani dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan wawasan Ilahiah merupakan karakteristik pokok dari seorang hamba Allah s.w.t. dan menjadi persyaratan bagi pengakuan keagungan keimanannya. Semua itu akan dikaruniakan secara sempurna kepada mereka yang mengikuti Al-Quran dengan sepenuh hati. Walaupun nyatanya mereka itu katakanlah tidak terpelajar berkaitan dengan ilmu-ilmu yang ada di dunia sekarang ini, mereka itu jauh melebihi yang lainnya dalam penguasaan mutiara-mutiara hikmah dan pengetahuan Ilahiah sehingga para lawan mereka akan terkagum mendengar khutbah atau membaca karya tulis mereka sehingga para lawan itu harus mengakui bahwa pengetahuan dan wawasan mereka adalah dari dunia lain yang diwarnai dengan pertolongan Tuhan. Salah satu bukti mengenai hal ini ialah jika ada yang menentang mereka itu lalu membandingkan khutbah mereka yang berkaitan dengan Ketuhanan dengan khutbah orang lainnya, ia akan terpaksa mengakui (jika ia memang adil dan jujur) bahwa khutbah mereka itulah yang benar adanya. Dengan berkembangnya telaah, akan muncul lebih banyak lagi mutiara-mutiara hikmah yang membuktikan secara gamblang kebenaran mereka. Kami sendiri siap memberikan bukti demikian kepada setiap pencari kebenaran.”

“Karunia lainnya adalah keadaan tanpa dosa yang juga merupakan bentuk lain penjagaan Ilahi. Karunia ini diberikan kepada para penganut sempurna Kitab Suci Al-Quran sebagai suatu berkat yang luar biasa. Yang dimaksud keadaan tanpa dosa ialah pengertian bahwa mereka itu dipelihara dari kebiasaan-kebiasaan, fikiran, akhlak dan kelakuan buruk yang berkaitan dengan hubungan antar manusia sehari-hari. Kalau mereka misalnya terpeleset maka rahmat Tuhan akan segera memperbaiki keadaan mereka.”

“Kedudukan tanpa dosa demikian sesungguhnya amat peka dan sepenuhnya berseberangan dengan tuntutan batin yang mengajak kepada dosa. Perolehan kondisi demikian hanya mungkin berkat perhatian Tuhan yang khas. Sebagai contoh, jika orang kebanyakan diminta untuk secara mutlak tidak berdusta tentang urusan, bicara, profesi dan jabatan, maka hal itu akan menjadi suatu yang mustahil baginya. Meski pun ia berusaha dengan segala upaya, namun ia akan menghadapi berbagai kendala, sehingga pada akhirnya ia menjadikan prinsip pandangan hidupnya bahwa dalam masalah dunia adalah suatu hal yang mustahil untuk menghindari kedustaan.

“Adapun mereka yang beruntung karena mengikuti petunjuk Al-Quran dengan sepenuh hasrat dan kecintaan, tidak saja akan mudah bagi mereka untuk menghindari berbicara dusta bahkan juga mereka diberi kekuatan untuk meninggalkan segala hal yang tidak berguna. Allah Yang Maha Agung dengan rahmat-Nya yang sempurna akan memeliharakan mereka dari segala keadaan yang akan merugikan karena mereka itu adalah Nur dunia dan dalam keselamatan mereka terletak keselamatan dunia, jika mereka celaka maka celaka jugalah dunia ini. Atas dasar pertimbangan demikian maka mereka mendapat pemeliharaan dalam fikiran, pengetahuan, pemahaman, kemarahan, nafsu, ketakutan, ketamakan, kemiskinan, kekayaan, kegembiraan dan kesedihan, kesulitan dan keselesaan, dari tindakan yang sia-sia dan fikiran kotor, dari pengetahuan yang salah dan perilaku tidak layak, pokoknya dalam segala segi kehidupan sebagai manusia. Mereka sendiri tidak akan mempertahankan apa pun yang tidak patut karena Tuhan sendirilah yang menjadi penjaga mereka. Jika Dia melihat ada ranting kering di pohon mereka yang suci maka Dia sendiri yang akan memangkasnya dengan Tangan yang rahim. Pertolongan Ilahi selalu mengawasi mereka setiap saat. Karunia perlindungan ini bukannya tanpa bukti. Seorang yang arif bisa memuaskan keinginan tahunya dengan cara bersahabat dengan mereka meski untuk waktu yang tidak terlalu lama.”

“Mata air suci ini tidak tersedia bagi sembarang orang selain bagi mereka. Adapun mereka sendiri menikmatinya dengan kesenangan dan kegembiraan. Nur pemahaman telah membantu mereka sedemikian rupa sehingga walaupun tidak memiliki sumber daya atau sarana apa pun, hidup mereka tetap saja diisi kegembiraan dan mereka merasa kaya raya seolah-olah mempunyai harta karun berlimpah. Penampilan mereka memperlihatkan kesemarakan kekayaan dan kepastian laku orang kaya. Dalam keadaan sulit, mereka beriman sepenuhnya kepada Tuhan mereka dengan hati yang gembira dan kepastian yang sempurna. Mereka terbiasa berkurban sedangkan mengkhidmati orang lain menjadi kebiasaan sehari-hari mereka. Meski pun seluruh dunia ini mengaku menjadi keluarganya, mereka tidak akan merasa kesulitan. Mereka selalu bersyukur kepada Allah Yang Maha Perkasa yang menutupi kekurangan mereka di segala bidang dan setiap saat.”

“Mereka akan diselamatkan Tuhan sebelum bencana datang menimpa mereka karena Tuhan menjadi pelindung mereka dalam segala hal sebagaimana difirmankan:

وَهُوَ يَتَوَلَّى الصّالِحينَ

‘Dia melindungi orang-orang saleh’ (QS.7 Al-Araf:197).

“Manusia lainnya dibiarkan menghadapi cobaan dunia, karena perlakuan istimewa yang diberikan kepada mereka ini tidak ada diberikan kepada yang lainnya. Karakteristik demikian bisa disaksikan dengan cara bersahabat dengan mereka.”

“Karunia lainnya adalah kasih Allah s.w.t. secara langsung kepada para penganut Kitab Suci Al-Quran. Kecintaan kepada Allah sedemikian merasuk dalam kalbu sehingga menjadi inti kehidupan mereka. Kecintaan luar biasa kepada Wujud Ilahi meruap dari hati mereka dan kasih serta hasrat menguasai diri mereka sedemikian rupa yang membuat mereka menjadi sama sekali berbeda dari manusia umumnya. Kasih kepada Allah s.w.t. marak dalam kalbu mereka sehingga pada kondisi khusus bisa juga terlihat oleh orang-orang yang mendampingi mereka. Mustahil bagi mereka menyembunyikan kecintaan demikian, sama mustahilnya dengan pencinta duniawi menyembunyikan kasih kepada apa yang dicintainya. Kecintaan yang meresapi cara bicara, cara memandang, mata mereka, penampilan dan fitrat terlihat dari ujung kaki sampai ke ujung rambut di kepala dan tidak bisa disembunyikan. Apa pun yang mereka kerjakan, orang akan melihat ciri-cirinya. Ciri utama dari ketulusan mereka adalah mereka itu lebih memilih yang Maha Terkasih dibanding apa pun dan ketika mereka mengalami kesulitan, mereka memandangnya sebagai karunia dari kecintaan mereka yang berlebih, sedangkan siksaan dunia bagi mereka menjadi minuman nikmat.”

“Tidak ada pedang setajam apa pun mampu memisahkan mereka dari Wujud yang dikasihi dan tidak ada bencana sebesar apa pun yang akan bisa membuat mereka melupakan Dia. Mereka menganggap kecintaan kepada Allah s.w.t. sebagai pokok kehidupan mereka dan menemukan kegembiraan mereka di dalamnya. Mereka melihat eksistensi kecintaan demikian sebagai eksistensi diri mereka sendiri dan sebagai tujuan dari hidup mereka. Mereka hanya menyukai Dia dan menemukan keselesaan dalam Dia. Di dunia ini mereka hanya memiliki Dia dan sepenuhnya menjadi milik-Nya. Mereka hidup dan mati hanya untuk Dia. Meskipun mereka ada di dunia namun sebenarnya mereka berada di luar dunia. Mereka tidak memperdulikan kedudukan, nama, harkat atau pun kesenangan. Mereka meninggalkan semuanya demi Dia dan menyerahkan segalanya untuk menemukan Dia. Mereka terbakar dalam api yang tidak kelihatan dan tidak bisa menjelaskan kenapa mereka terbalut api seperti itu. Mereka menutup telinga dan membisu terhadap segala peringatan serta siap menderita segala kesulitan dan mudharat, bahkan menemukan kegembiraan hidup di dalamnya.”

“Karunia lainnya adalah akhlak mulia seperti kedermawanan, keberanian, pengurbanan, keteguhan tekad, sifat pengasih, kesabaran, kerendahan hati dan keakraban persahabatan. Semua sifat-sifat demikian mereka perlihatkan dengan cara terbaik dan berkat mengikuti Al-Quran, mereka akan tetap memperlihatkan sifat-sifat demikian sampai akhir hayat mereka tanpa ada yang bisa mencegah mereka menonjolkan sifat-sifat itu. Adalah suatu kenyataan bahwa setiap sifat mulia, baik yang berkaitan dengan intelektual, akhlak atau pun perilaku, yang dimanifestasikan manusia, sesungguhnya bukanlah karena kekuatan dirinya sendiri. Manifestasi demikian hanya bisa muncul karena berkat rahmat Allah s.w.t. Karena para penganut Al-Quran itu adalah mereka yang menerima rahmat Ilahi lebih dari orang-orang lainnya maka Allah Yang Maha Kuasa berkat rahmat-Nya yang tidak berkeputusan akan mengaruniakan semua akhlak mulia kepada mereka.”

“Dengan kata lain, tidak ada seorang pun bisa dikatakan benar-benar baik kecuali Allah s.w.t. saja dan semua akhlak mulia serta kebaikan berpusat pada Wujud-Nya. Seberapa tinggi derajat seseorang meninggalkan kepentingan dunia dan dirinya untuk mendekati Tuhan, sebanyak itu pula sifat-sifat Ilahi yang akan tercermin di dalam dirinya. Dengan demikian sifat-sifat mulia dan adab seorang manusia ditentukan oleh kedekatannya kepada Tuhan karena atas kadar dirinya sendiri, sesosok mahluk tidak ada artinya sama sekali.”

“Karena itu refleksi dari sifat-sifat akhlak Ilahi akan tercermin di dalam hati mereka yang mengikuti Al-Quran secara sempurna. Pengalaman menunjukkan bahwa perilaku suci, hasrat keruhanian serta luapan kecintaan yang dimanifestasikan mereka dalam bentuk akhlak mulia tidak ada padanannya di mana pun di dunia. Setiap orang bisa saja mengaku-aku atau membual tentang dirinya sendiri, namun hanya para penganut Al-Quran saja yang bisa melewati dengan selamat cobaan pintu pengalaman yang sempit. Sifat-sifat mulia yang ditunjukkan oleh orang lain sesungguhnya bersifat artifisial dengan cara menyembunyikan kekurangan diri dan penyakit batinnya. Orang-orang seperti ini hanya bisa mengemukakan tampilan palsu dan realitasnya segera nyata jika ada cobaan sedikit saja. Mereka hanya berpura-pura memiliki akhlak mulia agar tatanan kehidupan mereka tidak terganggu, karena jika mereka mengikuti kelemahan kalbunya maka kehidupan mereka akan terganggu.”

“Walaupun mereka itu ada memang membawa benih sifat-sifat yang baik sejalan dengan kapasitas alamiah mereka, namun benih itu terkungkung oleh semak duri nafsu ego mereka. Sifat-sifat demikian tidak dimanifestasikan demi Tuhan mereka karena tercampur dengan keinginan-keinginan pribadi sehingga tidak mungkin mencapai kesempurnaan. Benih seperti itu bisa berkembang penuh secara sempurna hanya pada orang-orang yang mengabdikan dirinya kepada Tuhan semata dimana kalbunya dipenuhi Allah Yang Maha Agung dengan sifat-sifat-Nya yang suci. Dia menjadikan akhlak mulia sebagai dambaan bagi mereka sebagaimana juga yang berlaku pada Wujud-Nya. Melalui pengabdian, mereka akan mencapai derajat tinggi dimana mereka akan tersalut dengan sifat-sifat Ilahi sehingga mereka itu menjadi sarana di tangan Allah Yang Maha Perkasa untuk memanifestasikan sifat-sifat-Nya sendiri. Dia melihat bagaimana mereka lapar dan haus, maka Dia yang Maha Esa lalu memberikan mereka minum dari mata air suci milik-Nya.”

“Karunia akbar lainnya yang diberikan kepada para pengikut Al-Quran yang sempurna adalah keadaan penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Meski pun mereka memiliki kelebihan-kelebihan, tetapi mereka tetap memperhatikan segala kekurangan diri mereka dan di hadapan keagungan Allah Yang Maha Perkasa, mereka menghabiskan waktu dengan merendahkan diri mereka. Mereka menyadari diri mereka sebagai orang yang hina, miskin dan papa, penuh dengan cacat cela dan kesalahan. Mereka selalu takut dan menganggap kemuliaan yang diberikan kepada mereka hanyalah Nur yang bersifat sementara laiknya sinar matahari yang terpantul di dinding yang bisa lenyap setiap saat seperti baju pinjaman yang ditarik kembali oleh pemiliknya. Bagi mereka, semua kebaikan dan kemuliaan hanya ada pada Tuhan dan menganggap Wujud-Nya yang sempurna sebagai mata air semua hal yang baik. Dengan memperhatikan sifat-sifat Ilahi maka hati mereka dipenuhi keyakinan bahwa mereka sesungguhnya bukan apa-apa sehingga mereka lalu meninggalkan eksistensi mereka sendiri, beserta segala nafsu dan keinginan mereka. Gelora ombak samudera keagungan Ilahi menyelimuti hati mereka sedemikian rupa sehingga mereka menjadi fana sama sekali dari segala hal, lalu mereka dibersihkan dan disucikan dari keraguan sekecil apa pun atas Ke-Esaan Tuhan.

Karunia lain lagi bagi mereka adalah pemahaman dan pengenalan mereka akan Tuhan menjadi lengkap dan sempurna melalui penerimaan kasyaf dan pengetahuan batin, wahyu yang nyata, kesempatan berbicara dengan Tuhan serta pengalaman supra-natural lainnya sedemikian rupa sehingga di antara mereka dengan dunia berikutnya hanya ada sehelai tabir tembus pandang melaui mana mereka dapat menyaksikan kehidupan lain tersebut saat masih di dunia ini. Orang-orang lain tidak mungkin bisa mencapai tingkatan ini karena kitab-kitab mereka penuh dengan kegelapan yang menjadi ratusan tabir yang menutupi mata mereka dan menjadikan penyakit batin mereka berkembang sampai saatnya ajal mereka. Bahkan para filosof yang sekarang ini dianut oleh golongan Brahmo Samaj serta mereka yang agamanya berdasarkan logika, sesungguhnya berkekurangan dalam cara kehidupan mereka. Kekurangan mereka antara lain tercermin dari pemahaman mereka yang tidak bisa mencapai penalaran dan perkiraan yang jelas. Bisa dipastikan bahwa mereka yang pemahamannya terbatas hanya pada hal-hal yang bisa dilihat mata saja yang sebenarnya cenderung banyak salahnya, mereka ini berada pada posisi intelektual yang amat rendah dibanding orang-orang yang telah mencapai tingkat pemahaman yang jelas.”

“Lebih jauh dari tingkatan observasi dan perenungan, ada tingkatan lain yang bersifat nyata dengan sendirinya. Kaum Brahmo Samaj menyangkal eksistensi tingkatan nyata dengan sendirinya itu, namun mereka mengakui jika hal itu memang ada secara eksternal maka jelas hal itu akan bersifat lebih akbar dan lebih sempurna dimana semua kekurangan dari observasi dan perenungan manusia akan bisa dipenuhi. Setiap orang dapat memahami bahwa suatu hal yang dianggap sebagai nyata dengan sendirinya bersifat tingkatan yang lebih luhur dan sempurna dibanding tingkat perenungan saja. Sebagai contoh, jika melalui observasi tentang penciptaan alam, seorang yang bijak dan bersih hatinya akan mengambil kesimpulan bahwa semua ini sepatutnya ada sosok Pencipta-nya, sedangkan mereka para penganut Al-Quran melihat bahwa dengan pemahaman Ilahi yang terang dan jelas itu sendiri sudah menjadi argumentasi kuat yang mendukung eksistensi Wujud-Nya karena mahluk-Nya itu telah menerima wahyu dan sebelum sesuatu diungkapkan, mereka itu sudah menyadarinya dan Tuhan mengabulkan permohonan mereka. Tuhan berbicara dengan mereka dan kehidupan di akhirat dibukakan bagi mereka melalui kashaf serta mereka mendapat kejelasan sempurna tentang imbalan dan penghukuman serta berbagai rahasia kehidupan akhirat lainnya.”

“Tidak diragukan lagi bahwa semua hal tersebut telah menjadikan keyakinan mencapai taraf yang paling sempurna dan lengkap dimana mereka telah dibawa dari keadaan ruang lingkup pandangan yang sempit ke puncak menara kesadaran. Berbicara dengan Tuhan merupakan tahap tertinggi dari tingkat-tingkat kesadaran karena hanya melalui itulah maka manusia menemukan hal-hal yang tersembunyi, mendapat pencerahan tentang berkat-berkat yang dikaruniakan Allahs.w.t. kepada hamba-hamba-Nya yang lemah, memperoleh kenikmatan dari pembicaraan yang berberkat dengan Tuhan serta mengetahui keridhoan Allahs.w.t.. Dengan semuanya itu maka ia akan mendapatkan kekuatan akbar untuk melawan daya tarik jahat dunia ini. Ia dikaruniai dengan daya tahan dan keteguhan hati. Bersamaan dengan itu ia diberikan pengetahuan dan pemahaman tingkat tinggi serta mutiara-mutiara hikmah keruhanian yang tidak mungkin diperoleh tanpa bimbingan Ilahi secara khusus.”

“Kalau ada yang bertanya, bagaimana mungkin semua hal yang katanya didapat dengan cara mematuhi Al-Quran tersebut, memang benar ada di dalam agama Islam maka jawabannya adalah bahwa pengetahuan demikian bisa didapat dengan cara mengakrabi mereka yang telah mendapatkan pengalaman demikian. Kami sudah beberapa kali mengutarakan hal ini dan akan mengulanginya bahwa harta karun akbar ini bisa ditemukan di dalam Islam dan tidak terdapat pada agama lainnya. Kami bersedia memberikan bukti-bukti kepada para pencari kebenaran. Jika ada yang diilhami dengan itikad baik untuk meneliti secara sabar dan keteguhan hati maka semua hal tersebut akan dibukakan kepadanya setara dengan kapasitas dan kemampuan dirinya, asalkan ia mau bersahabat dengan kami.” (Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 532-545, London, 1984).

***

“Melalui Kitab Suci Al-Quran manusia bisa sepenuhnya mematuhi Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Dengan mematuhi Kitab ini manusia akan memperoleh tanda-tanda keselamatan bahkan di dunia ini juga. Hanya Kitab inilah yang dengan cara eksplisit atau pun implisit (tersembunyi) dapat menyempurnakan jiwa yang kotor dan membebaskannya dari keraguan dan kecurigaan. Cara eksplisit dalam Kitab ini mencakup pernyataan-pernyataan yang bersifat komprehensif tentang kebenaran dan mutiara-mutiara hikmah dimana melalui argumentasi yang masuk akal akan menghapuskan semua keraguan yang telah menghalangi manusia mencapai Tuhan-nya serta memelihara mereka dari keterlibatan dalam ratusan firkah atau sekte serta akidah-akidah palsu yang sekarang ini mencekam hati manusia yang tersesat. Keseluruhan Nur ajaran benar yang sempurna yang dibutuhkan untuk mengusir kegelapan di masa ini, bersinar gemilang dari Kitab ini laiknya matahari dimana tersedia di dalamnya segala ramuan pengobat batin yang sakit dan tampilan dari semua wawasan sejati. Semua pengetahuan Ke-Ilahian telah terangkum di dalamnya tanpa ada yang disisakan untuk diwahyukan lagi di masa depan.”

“Adapun yang dimaksud dengan cara implisit adalah jika manusia mengikuti petunjuk Kitab ini secara benar maka setelah pensucian batinnya dari kekotoran yang melekat, ia akan memiliki hubungan dengan Tuhan dimana Nur keridhoan-Nya akan mulai turun ke atas dirinya. Ia itu akan ditingkari sedemikian rupa dengan rahmat Tuhan sehingga ketika ia memohon kepada- Nya di saat kesulitan, Allahs.w.t. akan bersegera menanggapinya dengan kasih dan berkat-Nya yang sempurna. Terkadang ia mendoa seribu kali di saat ia dikepung kesulitan dan kesedihan, seribu kali juga ia mendapat jawaban Tuhan-nya dalam kata-kata yang halus dan berberkat. Wahyu akan turun ke atas dirinya seperti hujan dan hatinya penuh dengan kasih kepada Allah s.w.t. laiknya bejana kristal yang berisi parfum yang halus harumnya. Ia akan dikaruniai dengan kesenangan dan hasrat yang akan menariknya keluar dari keadaan suram tersebut dan ia akan mendapat kehidupan baru dengan semilir angin sejuk dari Tuhan-nya yang sejuk dan menyegarkan. Sebelum ajalnya datang, ia diberkati Tuhan untuk menyaksikan apa yang menjadi dambaan orang lain dalam kehidupan setelah dunia ini. Semua karunia demikian tidak harus merupakan hasil dari kehidupan monastik (seperti biarawan) tetapi merupakan karunia karena telah mengikuti petunjuk Al-Quran dimana setiap pencari kebenaran bisa memperolehnya. Guna mencapai keadaan seperti itu, syaratnya adalah kecintaan yang sempurna kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Seseorang yang mencintai beliau akan mendapat berkat dari Nur-nur tersebut setara dengan kapasitas masing-masing.”

“Guna menyaksikan kebenaran dari pernyataan kami ini dengan mata kepalanya sendiri, tidak ada lagi cara lain yang lebih baik bagi pencari kebenaran selain menganut agama Islam melalui seseorang yang memiliki wawasan dan pemahaman serta dengan cara mengikuti firman Allah s.w.t. dan mengembangkan kecintaan kepada Yang Mulia Rasulullah s.a.w. Bila yang bersangkutan datang kepada kami dengan hati yang tulus untuk mencapai tujuan tersebut maka kami selalu bersedia, dengan mengharapkan berkat rahmat dan karunia Allah s.w.t., untuk menunjukkan jalan yang lurus kepadanya setara dengan kapasitas dirinya dan adanya karunia Allah s.w.t. Perlu dimaklumi bahwa keselamatan yang sempurna itu sama dengan kesehatan yang baik. Sebagaimana kesehatan yang baik merupakan persyaratan dari tanda-tanda seorang yang sehat dan tidak ada penyakit yang menggerogoti kesehatan itu, begitu juga dengan keselamatan yang sempurna yang memanifestasikan adanya tanda-tanda keselamatan. Segala sesuatu yang dinyatakan sebagai eksis, tentunya harus bisa menunjukkan tanda-tanda dan pengaruh dan kondisi dari eksistensi demikian, karena tanpa tanda-tanda tersebut tidak mungkin menetapkan eksistensinya. Sebagaimana telah kami kemukakan berulang-kali, persyaratan dari keselamatan adalah menarik diri sepenuhnya ke arah Tuhan dan keluhuran kasih kepada-Nya yang dilakukan secara sempurna sehingga melalui keakraban, perhatian dan doa-doa darinya, orang lain bisa menyerap faedahnya setara dengan kapasitas dirinya. Pribadi yang bersangkutan memiliki wawasan yang demikian cerahnya sehingga berkat-berkat yang diberikannya terlihat nyata bagi para pencari kebenaran. Ia itu memiliki sifat-sifat khusus dan diberkati dengan kesempatan berbicara dengan Tuhan-nya sebagai tanda dari seorang yang dekat kepada-Nya.”

“Janganlah ada kiranya yang sampai terbujuk oleh ramalan-ramalan penujum dan ahli perbintangan karena orang-orang seperti itu tidak mempunyai hubungan dengan Nur dan berkat dari para hamba Allah s.w.t.. Kami telah menuliskan sebelumnya bahwa kemampuan sarana manusia tidak akan mampu dengan kekuatannya sendiri mendapatkan nubuatan dan janji-janji berberkat yang menjadi tanda kebenaran, pertolongan dan keagungan Ilahi. Allah s.w.t. mengaruniakan fitrat demikian hanya kepada hamba-hamba Allahs.w.t. dimana penampilan, keakraban, perhatian dan doa-doa darinya menjadi obat penawar bagi orang lain dengan syarat orang tersebut memiliki kemampuan memadai. Orang-orang seperti itu tidak saja dikenali melalui nubuatan-nubuatannya tetapi juga dari perbendaharaan pengetahuan, keimanannya yang sempurna, ketulusannya yang luhur, keteguhan hatinya, kecintaannya kepada Tuhan, hasrat suci mereka, kerendahan hati, kesucian batinnya, cara mereka mengabaikan kecintaan kepada dunia, berkat mereka yang tak terhitung laiknya turun hujan, tanda mereka memperoleh bantuan Tuhan, tekad hati yang tiada taranya, kesetiaan yang tinggi, ketakwaan dan kesucian yang tanpa banding serta kejembaran fikirannya.”

“Nubuatan tidak menjadi tujuan utama orang-orang seperti itu. Tujuan daripada nubuatan mereka adalah untuk menyatakan di muka tentang rahmat yang akan turun ke atas diri mereka serta orang-orang yang terkait dengan mereka sehingga orang-orang lain akan menyadari bahwa mereka itu memang mendapat perhatian khusus dari Allah s.w.t. Komunikasi yang mereka terima dari Tuhan dimaksudkan sebagai bukti konklusif akan kebenaran diri mereka dan bahwa mereka berasal dari Tuhan. Orang-orang yang memperoleh banyak berkat suci demikian adalah orang-orang yang menurut kaidah kebijakan Ilahi yang abadi sebagai orang-orang yang akidahnya murni dan suci, memiliki keimanan yang sempurna, mempunyai hubungan yang dekat dengan Allah s.w.t. serta telah menarik diri sepenuhnya dari dunia beserta isinya.”

“Fitrat mereka itu cenderung mendekat kepada Nur Ilahi dan iman yang benar. Adalah suatu kebodohan yang keterlaluan untuk membandingkan fitrat mereka yang begitu luhur dan penuh berkat dengan para penujum atau ahli perbintangan karena mereka itu tidak memiliki hubungan dengan orang-orang dunia kelas rendahan demikian. Mereka itu sendiri adalah Nur Surgawi yang bagaikan matahari dan rembulan dimana Nur abadi dari kebijakan Ilahi telah menjadikan mereka sebagai terang dunia. Tuhan telah menciptakan obat bagi penyakit-penyakit fisik melalui penyediaan sarana penawar bagi berbagai macam penyakit dan gangguan dengan cara menanamkan karakteristik khusus pada obat tersebut dimana seseorang yang belum melewati tahap bisa diobati lalu menggunakannya dengan benar, maka Sang Maha Penyembuh akan memberikan kesembuhan dan kekuatan kepada si pasien setara dengan kapasitas diri dan kemampuannya. Serupa dengan itu Allah Yang Maha Kuasa telah membekali ruh suci kepada mereka yang diridhoi dengan karakteristik bahwa perhatian, keakraban dan doa-doa mereka bisa menjadi obat bagi penyakit ruhani. Jiwa mereka menjadi wadah penerima berbagai bentuk rahmat melalui kashaf dan kesempatan berbicara dengan Tuhan dimana rahmat itu menjadi pengaruh yang sangat besar sebagai petunjuk bagi umat manusia. Dengan kata lain, para hamba Allah demikian menjadi rahmat bagi mahluk Tuhan lainnya.”

“Sebagaimana di dunia ini sudah menjadi hukum alam tentang sebab dan akibat bahwa seorang yang haus bisa menghilangkan dahaganya dengan cara minum air, dan yang lapar meredam keroncongan perutnya dengan cara makan, begitu pula menurut kaidah Ilahi bahwa Nabi-nabi dan para pengikutnya yang sempurna akan menjadi penawar dari penyakit-penyakit, kelaparan dan kehausan ruhaniah. Hati umat mendapatkan kepuasan dengan keakraban kepada mereka sehingga kekurangan-kekurangan manusiawi di diri mereka menjadi berkurang, kegelapan ego menjadi cerah, hasrat kecintaan Ilahi jadi meluap dan rahmat surgawi menjadi nyata. Tanpa adanya orangorang yang berberkat seperti itu, semua hal di atas tidak akan dapat dicapai karena antara lain melalui hal demikian itulah mereka jadi dikenali.” (Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 345-356, London, 1984).


Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 408-422, ISBN 185372-765-2
(Visited 44 times, 1 visits today)