Keunggulan Al-Quran berdasar Al-Fatihah

“Untuk diketahui secara umum, kami akan mengemukakan karakteristik apa saja yang menjadikan suatu tulisan atau khutbah menjadi suatu karya tanpa banding dan berasal dari Allah swt. Kemudian kami akan memilih salah satu Surah dalam Kitab Suci Al-Quran, lalu membuktikan bahwa Surah itu memiliki kesempurnaan secara lengkap semua karakteristik unggulan dimaksud. Jika kemudian masih ada orang yang menolak sifat-sifat tanpa banding demikian maka bebannya terletak di bahu yang bersangkutan untuk memberikan karya lain sebagai padanannya.”

“Kalau bentuk suatu tulisan atau khutbah sepenuhnya menyerupai sesuatu yang datang dari Allah swt  dan merupakan hasil karya-Nya, dengan pengertian bahwa karya itu bersifat komprehensif dengan ciri-ciri keajaiban internal atau pun eksternal sebagaimana buatan Tuhan lainnya, maka bisa dikatakan kalau tulisan atau khutbah tersebut memang merupakan suatu hal yang tidak mungkin ditiru atau disetarakan dengan karya manusia lainnya. Bila kita mengakui suatu hal sebagai tanpa tara dan berasal dari Tuhan maka segala sesuatu yang berbagi sifat-sifat ketiadaan tara seperti itu dengan sendirinya menjadi tanpa tara juga.”

 Bunga mawar, keajaiban ciptaan Tuhan

“Sekarang mari kita pilih salah satu hasil ciptaan Allah swt yang halus dan indah yaitu bunga mawar, lalu kita akan bahas keajaiban internal dan eksternalnya yang menjadikan bunga ini sebagai suatu ciptaan tanpa padanan. Kemudian kami akan membuktikan bahwa keindahan dan keunggulan Surah Al-Fatihah tidak saja menyamai keindahan bunga mawar, bahkan melampauinya. Alasan mengapa aku memilih ilustrasi ini ialah karena dalam salah satu kasyaf aku melihat Surah Al-Fatihah dituliskan pada selembar kertas dengan sangat indah dan menarik hati, dan aku melihat kertas itu bertabur mawar merah halus yang tidak terbilang banyaknya. Ketika aku mentilawatkan ayat-ayat dari Surah itu, bunga-bunga mawar itu terbang ke udara dengan mengeluarkan suara yang indah. Bunga-bunga mawar itu amat besar, halus, segar, harum dan indah dimana ketika bunga-bunga itu melayang ke atas maka hati dan kepalaku terasa diharumkan sehingga aku merasa luluh dan menjauh dari dunia beserta isinya.”

“Berdasarkan kasyaf tersebut aku menyimpulkan bahwa mawar ada kaitan keruhanian dengan Surah Al-Fatihah sehingga aku memilihnya sebagai bahan ilustrasi. Di awal aku akan mengemukakan sebaga ilustrasi tentang keajaiban internal dan eksternal yang ditemukan di dalam bunga mawar untuk kemudian dibandingkan dengan keindahan keajaiban internal dan eksternal dari Surah Al-Fatihah sehingga sifat-sifat bunga mawar yang tidak mungkin ditiru itu nyatanya ada dalam Surah Al-Fatihah dalam kadar yang lebih tinggi.”

“Dengan cara demikian aku juga telah memenuhi indikasi yang disampaikan kepadaku dalam kasyaf tersebut. Haruslah diakui tanpa diragukan lagi bahwa bunga mawar seperti juga ciptaan Tuhan lainnya, memiliki sifat-sifat yang tidak mungkin ditiru. Sifat-sifat tersebut ada dua macam. Pertama, adalah sifat yang dimanifestasikan oleh penampakannya. Warna bunga ini amat menarik dan harumnya menyenangkan hati, sedangkan kuntumnya itu halus, segar, cantik dan bersih. Kedua, adalah sifat-sifat internal yang dibekali oleh Tuhan sebagai sifat yang inheren. Sifat-sifat tersebut adalah kemampuannya untuk menyenangkan dan menguatkan hati, merangSang kalbu, bisa menjadi laksatif (pencahar), menguatkan lambung, ginjal, urat-urat darah, rahim, paru-paru dan hati serta sangat menolong bagi orang yang sedang koma atau mengalami kelayuan jantung, disamping kegunaan bagi penyakit-penyakit fisik lainnya. Berdasarkan kedua bentuk sifat itu maka diyakini bahwa bunga mawar bersifat amat sempurna sehingga tidak mungkin bagi manusia menciptakan padanannya yang sama menarik dalam warna dan keharuman atau halus dan cantik serta memiliki semua sifat-sifat bunga mawar. Kenyataan demikian diperoleh melalui pembuktian secara praktek dimana tidak ada filosof atau dokter yang mampu meramu obat ataupun resep yang bisa menghasilkan bunga dengan tampilan dan sifat-sifat bunga mawar.”

Sifat surah Al-Fatihah dibanding bunga mawar

“Unsur-unsur ketiadaan tara demikian ditemukan juga dalam Surah Al-Fatihah meskipun Surah ini merupakan bagian kecil dari Al-Quran. Pertama, perhatikanlah bentuk eksternalnya, lalu lihat cara pengucapannya yang indah, kemudian ungkapan, urutan dan sifat-sifat lainnya yang cantik yang merupakan persyaratan keindahan suatu komposisi. Semua itu mengemuka di dalam Surah Al-Fatihah sebagai suatu manifestasi tiada tara yang bersih dari kekasaran dan keliaran cara pengungkapan. Pengungkapan setiap kalimatnya amat jelas, setiap bentuk ekspresi sesuai dengan tempatnya, dan semua bentuk sifat yang menonjolkan keindahan komposisinya ada di dalam Surah itu. Elokuensi yang paling tinggi yang mungkin dibayangkan manusia ada terdapat di dalamnya secara sempurna berikut segala hal yang diperlukan untuk menjelaskan maknanya. Dengan segala sifat indah demikian, Surah ini dipenuhi keharuman kebenaran tanpa ada sezarah pun kedustaan di dalamnya. Keindahannya tidak sama dengan karya para penyair yang cenderung berbau kedustaan dan bualan kosong. Berbeda dengan syair-syair demikian, Surah ini penuh dengan keharuman halus dari apa yang namanya kebenaran. Keharuman tersebut diikuti dengan keindahan pengungkapan, kepantasan dan kehalusan dalam pengucapan, sebagaimana keharuman bunga mawar yang diikuti dengan keindahan warna dan kejernihannya. Semuanya itu menggambarkan sifat-sifat eksternalnya.”

“Dari sudut pandang sifat-sifat internalnya, Surah Fatihah merupakan obat penawar bagi penyakit-penyakit keruhanian yang parah, serta memberikan pedoman guna kesempurnaan kekuatan intelektual dan tindakan. Surah ini akan memperbaiki kekacauan serta mengemukakan wawasan-wawasan akbar dan mutiara-mutiara hikmah yang tersembunyi dari mata para pemikir dan ahli filosofi. Hati seorang pencari kebenaran akan menjadi kuat dengan membacanya dan ia akan disembuhkan dari segala penyakit karena keraguan, kesalahan dan kecurigaan. Isi Surah ini mengemukakan kebenaran tingkat tinggi dan realitas indah yang diperlukan bagi kesempurnaan kalbu. Jelas kiranya bahwa semua keagungan demikian tidak mungkin diungkapkan seluruhnya dalam hasil karya tulisan atau khutbah manusia biasa.”

“Kemustahilan membuat padanan demikian itu bukanlah semata-mata basa-basi saja tetapi merupakan suatu hal yang nyata. Allah Yang Maha Agung telah memanifestasikan kesempurnaan sifat-sifat internal dan eksternal Kitab ini dengan mengemukakan dalam kata-kata yang indah segala mutiara hikmah dan wawasan luhur menurut kebutuhan dan sejalan dengan persyaratan kebenaran. Dia telah menampakkan kedua bentuk sifat-sifat tersebut pada tingkat kesempurnaannya yang paling tinggi. Pertama, Kitab ini mengemukakan wawasan luhur yang tanda-tandanya telah menghilang dari ajaran agamaagama terdahulu tetapi juga belum pernah ditampilkan oleh para pemikir dan filosof. Bukannya tanpa guna untuk mengemukakan sifat-sifat tersebut karena pada waktu diturunkannya memang amat dibutuhkan guna perbaikan kondisi manusia pada zaman bersangkutan, karena kalau tidak maka manusia akan menghadapi malapetaka kehancuran.”

“Sifat-sifat ini dikemukakan tanpa cacat cela dan sempurna dengan sendirinya. Dengan cara demikian maka keraguan yang menghantui pikiran seorang penganut akan kemungkinan adanya kedustaan telah ditenangkan. Bagaimana mengemukakan semua kebenaran dan mutiara hikmah demikian dengan cara yang indah, merupakan suatu hasil karya yang jelas berada di luar kemampuan manusia. Manusia itu sesungguhnya tidak berdaya apa-apa dalam hal mengemukakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebenaran luhur dengan cara yang indah sambil tetap berpegang pada kejujuran dan ketepatan perkataan. Sebagai contoh, adalah mustahil bagi seorang pemilik toko yang kebetulan juga seorang penyair yang baik, untuk berbicara dengan berbagai macam pelanggan secara fasih dengan kata-kata yang indah tetapi sambil tetap membatasi dirinya pada hal-hal yang dianggap pantas setiap saat. Ketika ia harusnya cukup dengan kata-kata yang sedikit maka ia akan menahan dirinya berbicara banyak, sedangkan apabila ada yang harus dijelaskan lengkap ia harus berbicara panjang lebar. Dalam pembicaraan dengan para pelanggannya ia harus mengunakan metoda yang sesuai guna mendukung pandangannya.”

“Atau contoh lainnya adalah tentang seorang hakim pengadilan yang bertugas untuk mencatat secara akurat semua pernyataan dari pihak-pihak yang bertikai dan para saksi, serta menyusun pertanyaan dan mencatat jawabannya atas segala hal yang berkaitan dengan perkara yang sedang disidangkan. Ia harus menata argumentasi hukum secara akurat sesuai dengan undangundang dan mengemukakan fakta-fakta dalam urutannya yang benar berikut pandangannya sendiri disertai argumentasi yang mendukung.”

“Mustahil baginya untuk melakukan semua hal itu pada tingkat kefasihan yang tidak mungkin dilampaui oleh orang lain karena selalu ada saja orang yang lebih baik dari dirinya. Yang namanya karangan manusia itu meskipun kalis dari maksud penyombongan diri atau hal-hal yang tidak relevan, masih saja tidak akan bisa membebaskan diri sepenuhnya dari kedustaan dan omong kosong. Kalau mereka mencoba menyajikannya secara sempurna, hasilnya akan cacat laiknya sebuah lukisan yang bermaksud menyempurnakan bentuk hidung akan melupakan kesempurnaan telinga, atau berusaha menyempurnakan telinga maka yang dikorbankan adalah kesempurnaan mata. Jika yang bersangkutan berniat berpegang pada kebenaran, ia harus mengorbankan kefasihan. Adapun bila mengarah kepada kefasihan maka muncul kedustaan dan omong kosong yang menumpuk seperti kulit sebuah bawang yang hanya merupakan lembaran tipis tanpa substansi.”

“Karena itu pikiran waras menyatakan bahwa adalah suatu hal yang mustahil untuk mengemukakan suatu permasalahan secara fasih dengan kata berbunga tetapi tetap berpegang pada kebenaran dan persyaratan kondisi saat itu. Dengan demikian mudah memahami bahwa untuk mengemukakan suatu wawasan yang luhur sesuai persyaratan kebenaran dengan bahasa yang fasih dan indah adalah suatu pekerjaan bersifat supra natural yang berada di luar kemampuan manusia. Kerja demikian sama mustahilnya dengan menciptakan sebuah bunga yang sifat-sifatnya secara internal maupun eksternal mirip sekali dengan bunga mawar. Pengalaman menyatakan dan alam juga menentukan bahwa mengenai permasalahan umum adalah mustahil bagi seseorang untuk mengemukakan sesuatu yang perlu dan benar, apakah itu berkaitan dengan masalah jual beli atau pun prosedur hukum, untuk melakukannya secara sempurna dengan menggunakan bahasa yang tepat dan dengan tingkat kefasihan tertinggi.”

“Dengan demikian bagaimana mungkin manusia mengemukakan dalam bentuk karya tertulis secara benar dan akurat semua wawasan dan kebenaran yang luhur segala hal yang berkaitan dengan kebenaran Ilahi tanpa meninggalkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna perbaikan zaman, sebagai argumentasi yang konklusif dan sebagai penangkal bantahan mereka yang melawan, tetapi juga sambil juga tetap memperhatikan semua persyaratan ketentuan debat dan diskusi serta merangkum seluruh argumentasi dan bukti-bukti kebenaran suatu ajaran? Apa lagi jika ditambah lagi bahwa keindahan komposisinya haruslah tanpa banding dengan kefasihan pengungkapan yang tanpa tara.”

“Semua sifat-sifat ini dapat ditemui dalam Surah Al-Fatihah dan Al-Quran yang nyatanya setara atau lebih tinggi dari sifat-sifat tanpa tanding dari bunga mawar tersebut. Ada lagi sebuah sifat luhur di dalam Surah Al-Fatihah dan Kitab Suci Al-Quran yang bersifat khusus, dimana jika manusia membacanya secara tekun dan tulus maka hal itu akan mensucikan hatinya, menepis kabut kegelapan dari kalbunya, mengembangkan daya fikir yang bersangkutan serta membawa para pencari kebenaran kepada Tuhan. Sifat itu mendzahirkan Nur dan pengaruh atas dirinya sebagaimana yang ditemukan hanya pada mereka yang dekat dengan Allah Yang Maha Luhur dan hal itu tidak mungkin diperoleh dengan cara lainnya. Dalam buku ini kami telah menyampaikan bukti-bukti tentang efek keruhanian demikian dan jika ada pencari kebenaran yang menginginkan maka kami bisa memuaskannya disamping memberikan bukti-bukti yang baru.”

Sifat internal dan eksternal surah Al-Fatihah

“Perlu pula diingat bahwa karakteristik Kitab Suci Al-Quran sebagai suatu yang tanpa tanding dan tanpa banding tidak hanya didukung oleh argumentasi saja tetapi juga dikonfirmasi oleh pengalaman jangka panjang. Selama 1300 tahun sudah Al-Quran mengemukakan sifat-sifatnya sebagai tantangan bagi seluruh dunia bahwa dalam sifat-sifat internal dan eksternalnya Kitab ini adalah tanpa tanding dimana tidak ada manusia yang mampu membuat kitab lain yang sejenis, namun nyatanya tidak ada seorang pun manusia yang sanggup memenuhi walaupun hanya misalnya satu Surah kecil seperti Al-Fatihah.”

“Mukjizat apa lagi yang lebih jelas yang menunjukkan bahwa Firman Tuhan ini sepenuhnya berada di luar batas kemampuan manusia, baik berdasarkan argumentasi atau pun pengalaman jangka panjang yang telah membuktikan sifat keagungannya. Bila masih ada manusia yang tidak puas dengan kedua macam pembuktian tersebut dan lebih mengagulkan pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya, atau menganggap bahwa masih ada penulis lain yang mampu mencipta tulisan seperti Al-Quran, maka kami sekarang akan mengemukakan contoh sebagaimana yang telah kami janjikan yaitu memberikan contoh dari kebenaran dan mutiara hikmah yang terkandung dalam Surah Al-Fatihah. Orang itu silakan mengajukan karangannya sendiri untuk menandingi sifat-sifat internal dan eksternal dari Surah Al-Fatihah.” (Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 394- 403, London, 1984).

 ***

“Sebagaimana juga dengan Kitab Suci Al-Quran maka Surah Al-Fatihah mengandung dua sifat yang tidak ada tandingannya yaitu sifat internal dan sifat eksternal. Sebagaimana berulangkali telah dikemukakan, sifat eksternalnya berkaitan dengan teksnya yang indah, cemerlang, halus dan fasih dimana pernyataan dan urutannya sedemikian cantik sehingga tidak mungkin ditandingi oleh komposisi macam apa pun. Kalau penyair dan pengarang seluruh dunia mencoba mengemukakan subyek-subyek dari Surah itu dalam bahasa mereka sendiri dengan kualitas yang sama atau melebihi Al-Fatihah, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya sebagaimana yang dilakukan Al-Quran yang telah mencanangkan ketiadaan-tara dirinya kepada seluruh dunia selama lebih dari 1300 tahun tanpa ada yang berani menimpali. Bungkamnya para lawan selama berabad-abad demikian merupakan bukti ketiadaan tara Kitab Suci Al-Quran.”

“Sekarang kami akan mengulang tentang sifat-sifat internal dari Surah Al- Fatihah agar dimengerti oleh mereka yang berfikir. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Bijaksana telah membekali bunga mawar dengan berbagai macam kemaslahatan bagi tubuh manusia seperti untuk penguatan jantung, kemampuan fisik dan jiwa manusia serta menolong untuk beberapa jenis penyakit. Begitu jugalah Allah Yang Maha Agung telah menempatkan di dalam Surah Al-Fatihah sebagaimana juga di dalam seluruh Kitab Suci Al-Quran, sarana penyembuhan bagi penyakit ruhani dan obat bagi penyakit-penyakit dalam, yang tidak akan ditemukan di mana pun, karena Surah ini berisi kebenaran-kebenaran yang telah menghilang dari dunia.”

 “Sesungguhnya Surah tersebut merupakan hujan rahmat yang turun dari langit untuk menyelamatkan jiwa mereka yang haus. Kehidupan keruhanian dunia ini bergantung kepada turunnya dari langit air yang memberi kehidupan dimana setiap tetesnya merupakan obat bagi beberapa penyakit. Kondisi dunia selama berabad-abad menunjukkan bahwa dunia tidak mampu mengobati penyakit-penyakit ini dengan kemampuannya sendiri tanpa bantuan turunnya Nur tersebut. Dunia nyatanya tidak kuasa menghilangkan kegelapan masa tanpa cahaya langit yang akan mencerahkan dunia dengan berkas sinar kebenaran dan menjadikan mereka yang buta melihat kembali dan mereka yang awam menjadi mengerti.”

“Nur samawi tersebut tidak saja telah mengemukakan kembali wawasan murni yang telah menghilang dari dunia, tetapi juga telah mengisi pikiran manusia dengan intan permata kebenaran dan kebijaksanaan, menarik manusia kepada keindahan wujudnya serta membawa manusia kepada tingkat keadaan pengetahuan dan perilaku luhur. Kedua bentuk sifat yang ditemukan di dalam Al-Fatihah dan di dalam Al-Quran tersebut merupakan argumentasi cemerlang tentang ketiadaan-tara Firman Tuhan sebagaimana juga manusia mengakui keindahan sifat-sifat bunga mawar. Bahkan sifat-sifat Al-Quran itu demikian luar biasa dan berada di luar kemampuan nalar manusia dan tidak ditemukan pada bunga mawar. Keakbaran, keagungan dan ketiada-taraan sifat-sifat itu hanya bisa dihargai jika dipertimbangkan bersama secara kolektif.”

“Pertama, perhatikanlah bagaimana kata-kata dalam Surah itu demikian fasih, merdu, suci, menarik hati dengan rona yang cantik sehingga jika ada manusia yang berpikiran untuk mengarang sesuatu yang serupa dimana teksnya harus sedemikian komprehensif merangkum keseluruhan pengertian maka mustahil ia akan mampu melakukannya. Perhatikan juga bagaimana komprehensifnya pokok pandangan dalam ayat-ayat itu berisikan kebenaran-kebenaran dan mutiara hikmah yang luhur dimana tidak ada satu kata atau huruf pun yang kosong dari kebijaksanaan. Kemudian perhatikan pula bagaimana kebenaran yang dikemukakan tersebut merupakan hal yang amat dibutuhkan manusia di setiap zaman. Selain itu camkan bagaimana kebenaran yang diungkapkannya merupakan suatu hal yang tidak ada taranya dan bukan merupakan hasil temuan para pemikir atau filosof dalam perenungan atau pengamatan mereka. Kebenaran yang ditampilkan merupakan berkat yang baru dimana sebelum turunnya Surah ini, manusia di masa bersangkutan tidak mengetahuinya sama sekali. Lihatlah juga bagaimana ayat-ayat tersebut mengandung berkat samawi yang jika diikuti maka seorang pencari kebenaran akan dapat menciptakan hubungan dengan Allah swt serta menumbuhkan kecintaan kepada-Nya sehingga Nur yang mulai muncul bersinar dari dirinya menjadi sama dengan keadaan pada hamba-hamba Allah swt. Rangkumlah keseluruhan sifat ini secara kolektif maka penalaran yang waras tanpa ragu-ragu lagi akan menyatakan bahwa tidak mungkin bagi manusia untuk menghasilkan karangan yang dapat menampung semua sifat-sifat sempurna seperti ini.”

“Kita akan tercengang jika merenungi keseluruhan keluhuran yang bersifat terbuka maupun yang tersembunyi dan seorang yang bijak akan meyakini bahwa semua itu berada di luar kemampuan penalaran dan imajinasi manusia untuk dapat menghasilkan kombinasi seperti itu. Bunga mawar saja tidak akan menjadikan orang tercengang demikian. Kitab Suci Al-Quran memiliki kekhususan demikian dimana sifat-sifatnya yang tiada tara menjadi jelas dengan sendirinya. Kalau saja para lawan mau membuka hati dan melihat bahwa tidak ada satu huruf pun yang salah tempat atau tidak sejalan dengan kebijakan dan kepantasan serta menyadari bahwa tidak ada satu pun frasa yang tidak dibutuhkan bagi perbaikan manusia maka hatinya akan gentar dengan sendirinya. Apalagi melihat tingkat kefasihan komposisi yang amat sempurna sehingga tidak mungkin mengganti satu saja bait kalimatnya dengan bikinan manusia. Seorang awam yang tidak pernah memperhatikan hal-hal seperti itu, bisa saja akan mengatakan apa buktinya bahwa semua sifat-sifat ini dapat ditemukan di dalam Surah Al-Fatihah dan di dalam Al-Quran.”

“Keagungan tiada tara dari Al-Quran ini dibuktikan jika manusia memperhatikan kalimat-kalimatnya yang demikian fasih tanpa banding, kebenaran-kebenaran dan mutiara-mutiara hikmah yang demikian luhur, pengaruh luar biasa dari ayat-ayat tersebut yang tidak mungkin disamai oleh perkataan manusia serta memperhatikan bahwa sifat-sifat suci ini diwahyukan dengan tujuan yang jelas pada saat dibutuhkan. Mereka yang karena bernasib sial karena tidak memperoleh karunia berupa keimanan Islam, nyatanya juga terkagum oleh komposisi yang demikian luar biasa tersebut sehingga dalam kerancuan jalan pikiran, mereka menganggapnya sebagai sihir belaka.”

“Seorang yang jujur akan menemukan argumentasi yang menguatkan ketiadaan tara Kitab Suci Al-Quran, kenyataan bahwa meskipun sudah 1300 tahun lamanya Kitab ini menantang para lawan untuk membuat padanannya serta menyebut mereka yang tetap saja menentang sebagai orang-orang yang jahat, kotor, terkutuk dan calon pengisi neraka, namun nyatanya para lawan tersebut pasrah mendapat penistaan dan julukan pendusta, jahat, durhaka, kafir serta kandidat neraka karena ketidak-mampuan mereka mencipta bahkan satu Surah singkat saja sebagai perbandingan. Mereka juga tidak mampu menemukan kesalahan dengan keunggulan, sifat-sifat, keagungan dan kebenaran yang dikemukakan oleh firman Allah swt. Mereka masih tetap ditantang bahwa selama mereka tidak meninggalkan agama dan kekurangan keimanan mereka, sepatutnya mereka mencoba membuat satu saja padanan Surah dari Al-Quran dengan kata-kata yang berisi semua sifat-sifat internal dan eksternal tersebut seperti yang terdapat di dalam al-Quran.”  (Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 403-410, London, 1984).


 

Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 423-433, ISBN 185372-765-2
(Visited 50 times, 1 visits today)