• Jumat, 30 Desember, 2016

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyatakan semua Muslim harus memperhatikan teladan sempurna dari Nabi Islam (saw)

Konvensi Tahunan (Jalsah Salanah) ke 122 dari Jemaat Muslim Ahmadiyah di Qadian, India, ditutup dengan ceramah yang menggugah keimanan oleh Pemimpin Jemaat Muslim Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Huzur, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, pada 28 Desember 2016.

Ceramah tersebut berlangsung tepat 125 tahun setelah Jalsah Salanah pertama kali diadakan oleh Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Al Masih Yang dijanjikan, Huzur, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (as).

Huzur menyampaikan ceramah penutup melalui link satelit dari Masjid Baitul Futuh di London. Lebih dari 14.200 orang menghadiri Konvensi ini di Qadian, sementara lebih dari 5.200 berkumpul di London pada pidato di sesi penutupan .

Dalam ceramahnya, Huzur berbicara tentang teladan moral dan spiritual yang luar biasa ditetapkan oleh Pendiri Islam, Nabi Muhammad (saw) dan dampak yang tak tertandingi beliau terhadap para pengikutnya.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Nabi Muhammad (saw) membentuk Jemaat yang terdiri dari para pengikut yang tulus yang khas dalam ibadah mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Huzur melanjutkan:

“Nabi Muhammad (saw) bersabda,” Setiap nabi Allah memiliki keinginan, dan keinginan terkuat saya adalah ibadah malam (kepada Allah SWT) ‘. “

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan dampak dari teladan yang ditunjukkan oleh Nabi (saw) pada orang-orang di sekelilingnya.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Ibadah dan doa Nabi (saw) dilakukan dengan keinginan yang kuat agar para pengikutnya menjadi hamba-hamba hakiki dari Tuhan Yang Maha Esa dan hanya bersujud di hadapan-Nya. Ketika mereka mengikuti teladan Rasulullah, orang yang sebelumnya penyembah berhala, menjadi contoh terbaik ibadah yang tulus untuk semua orang dari semua masa yang akan datang. Tentunya, sebuah revolusi spiritual sejati telah terjadi di antara orang-orang ini. “

Huzur mengutip tulisan Masih Mauud as yang berbunyi:

“Ketika seseorang melihat transformasi yang dibawa oleh Nabi (saw) pada orang-orang Arab pada masa itu, dan menganalisis bagaimana mereka diangkat dari keadaan putus asa, maka dia tidak akan mampu mengendalikan air matanya. Hal itu merupakan reformasi rohani yang benar-benar megah, yang belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa lain. “

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan bahwa meskipun Rasulullah adalah insan yang paling dicintai Allah SWT, beliau saw memanifestasikan standar tertinggi kerendahan hati setiap saat.

Huzur mencontohkan kemenangan Mekah, kota di mana Nabi Muhammad (saw) dan para pengikutnya telah dianiaya selama bertahun-tahun dan diusir.

Ketika akhirnya Nabi Muhammad (saw) kembali dalam kemenangan, beliau dengan damai memasuki kota itu tanpa ada keinginan untuk membalas dendam dan menunjukkan teladan yang tak tertandingi dalam pengampunan dan kasih sayang.

Membandingkan teladan dari Nabi (saw) dengan pemimpin duniawi saat ini dan di masa lalu, Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Sepanjang sejarah kita telah menyaksikan bagaimana ketika banyak pemimpin duniawi mencapai kekuasaan mereka menjadi diktator atau tiran. Bahkan, bahkan ketika orang biasa mencapai keberhasilan atau kemenangan, dia sering mendongakkan lehernya dengan arogansi dan kebanggaan. Namun, teladan dari manusia yang sempurna, Nabi Islam (saw) adalah menunjukkan hanya kerendahan hati dan pengampunan pada saat kemenangan.”

Menyebutkan sifat rasa syukur dari Nabi Muhammad (saw), Huzur mengatakan bahwa Pendiri Islam (saw) akan selalu berpaling kepada Allah Yang Maha Kuasa dalam syukur. Kemudian, Rasulullah (saw) juga akan mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada orang-orang.

Contohnya, beliau saw tetap berterima kasih selamanya kepada istri pertamanya yang terhormat Hazrat Khadijah (ra) atas dukungan, cinta dan pengabdiannya selama pernikahan mereka yang diberkati.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Nabi Muhammad (saw) tidak pernah melupakan pengabdian istri dan menganggap hal itu sebagai suatu nikmat kepadanya dan tetap selalu berterima kasih padanya (istrinya).”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan bahwa umat Islam berkewajiban untuk mencontoh Nabi (saw) dan merupakan kewajiban pria Muslim untuk memperlakukan istri mereka dengan cinta, kebaikan dan berterimakasih kepada mereka.

Huzur juga mengutip teladan bagaimana Nabi Muhammad (saw) menyatakan terima kasih kepada raja Kristen Abyssinia, Raja Negus (Najasyi), yang memberi perlindungan kepada beberapa Muslim yang melarikan diri dari penganiayaan orang-orang Arab Mekah.

Nabi (saw) tetap berterima kasih selamanya kepada Raja Kristen dan menerima secara pribadi delegasi yang dikirim oleh Raja Negus untuk menyatakan rasa terimakasihnya.

Huzur menutup khutbahnya dengan berdoa agar umat Islam di seluruh dunia bisa bercermin dan menghormati nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi Suci Islam (saw).

Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Nabi Islam (saw) menetapkan standar tertinggi dari moralitas dan kebenaran dalam segala hal dan semoga Allah memberi taufik kepada kita semua, untuk tidak hanya mengaku mengikutinya, tetapi untuk sungguh-sungguh mengikuti teladan beliau (saw) yang berberkat.”

Sesi penutupan diakhiri dengan doa bersama yang dilanjutkan pembacaan syair oleh peserta jalsah di Qadian melalui link satelit.


Ahmadiyya Muslim Community
Press & Media Office

URL sumber: www.pressahmadiyya.com

(Visited 35 times, 1 visits today)