Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad

Khalifatul Masih II – Muslih Mau’ud

Oleh Moulvi Bashir Ahmad Dehlavi

mirza basyiruddin mahmud ahmad khalifatul masih II

Rasulullah saw telah memberikan kabar suka tentang munculnya putera Mahdi yang dijanjikan, yang suci dan saleh, pada saat Islam berada pada tahap kemunduran dan kemalangan. Beliau saw telah bernubuat bahwa ia akan datang dengan sebuah misi untuk menghidupkan kembali dan memperkuat akidah Islam, dan melaluinya, Islam akan kembali muncul ke permukaan bumi. Rasulullah saw menyebut Putra Rohani yang suci ini sebagai Muslih Mau’ud, dan beliau bersabda tentang beliau:

Yatazawwaju-wa-yuuladu-lahu

Almasih yang dijanjikan akan menikah dan akan memiliki anak. Ini merupakan indikasi bahwa penikahan ini bersifat khusus dan melaluinya, Allah mengenugerahi keturunan yang akan membantu dan bekerjasama dalam menjalankan misinya.

Dalam konteks nubuatan Rasulullah saw ini, beberapa pengikut beliau yang suci  juga telah mengabarkan bahwa setelah Masih Mau’ud menyelesaikan pengabdiannya, salah satu puteranya akan dianugerahi ke kemuliaan dan keagungan yang khusus dan ia akan mendapatkan tampuk Khilafat. Hazrat Ni’matullah Shah Wali, seorang sufi Muslim terkenal memberi nubuatan dalam syairnya yang terkenal bahwa yang akan datang adalah Mahdi Mau’ud dan juga Masih Mau’ud. Ia juga menyebutkan bahwa sosok yang Dijanjikan ini akan bernama Ahmad, dan saat masa pengabdian beliau berakhir, satu dari puteranya akan menjadi penerus rohani sejati dan akan melaksanakan misinya. Di dalam Talmud, kitab umat Yahudi, disebutkan – kemunculan dua Almasih, dan yang terakhir akan lebih besar dari yang pertama, dan setelah dia, putera atau cucunya akan menjadi penerusnya.

Dan ketika masa Masih Mau’ud telah tiba dan lahirnya Putera yang dijanjikan, Allah mengungkapkan kepada Masih Mau’ud rincian lebih lanjut tentang nubuatan ini dengan sebuah kabar gembira berupa kekuasaan, kemajuan dan pencapaiannya.

Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) mendapatkan pendidikan di sekolah dasar District dan kemudian di sekolah lanjutan Talimul Islam saat pertama kali beroperasi di tahun 1898. Meskipun begitu, dalam masa menjadi siswa ia tidak pernah tertarik dengan pengetahuan buku umum, alhasil beliau tidak lulus dalam Ujian Masuk Pemerintah. Ini adalah akhir dari pendidikan formalnya, yang tidak hanya kebetulan, tetapi menjadi keajaiban besar dari takdir Ilahi. Peristiwa selanjutnya memberi bukti bahwa Allah taala sendiri yang mengajar beliau. Sehingga dunia menyaksikan bahwa beliau tidak hanya memiliki ilmu zahiriah dan batin namun wawasannya tentang hikmah begitu luas dan mendalam, sehingga cendikiawan yang terpelajar, yang dibekali dengan berbagai pengetahuan duniawi yang menyerang Islam, dia akan dibuat seperti seorang akademis pemula belaka. Jadi pemenuhuan wahyu ini menjadi nyata, “Ia akan dipenuhi dengan ilmu ilmu zahiriah dan Bathiniah.”

Selama masa hidup Masih Mau’ud, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad telah memiliki keinginan kuat untuk ibadah, oleh karena saat masa-masa akhir Hazrat Masih Mau’ud meminta kaum muda untuk tampil ke muka dalam mengkhidmati Islam, Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad menawarkan diri beliau dan segera terbentuk Anjuman Tashheezul Azhaan, dan di bawah pengawasan beliau, dimulai sebuah majalah dengan nama yang sama, dimana penyebaran agama mulai dijalankan. Pada saat kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud usia beliau baru 19 tahun, tetapi di umur itu, beliau dengan sangat meyakinkan menjawab kritikan melalui pena agung beliau. Pada tanggal 26 Mei 1908, Hadhrat Masih Mau’ud meninggal di Lahore. Pada saat itu, Sang Putera yang Dijanjikan ini berdiri di samping tempat pembaringan Masih Mau’ud dan mengatakan:

“Seandainya semua orang meninggalkan engkau dan tinggal saya sendiri, saya akan berdiri di samping engkau dan akan menghadapi semua penentangan dan serangan terhadap dakwah engkau.”

Beliau memenuhi tekad beliau itu dengan baik, dan sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah menggubris permusuhan atau kebencian orang lain, dan beliau selalu berusaha keras untuk memajukan Islam dan Ahmadiyah.

Pada tahun 1911, dengan izin Hazrat Maulana Hakim Nuruddin, Khalifatul Masih I, beliau mendirikan Anjuman Ansarullah, yang anggotanya diminta untuk menyumbangkan sebagian waktu mereka untuk mengkhidmati agama, tabligh Islam dan Ahmadiyah, menyebarkan kerukunan, cinta dan persaudaraan universal. Hal ini terbukti berhasil dalam menimbulkan semangat dan ghairat yang besar dalam pekerjaan dakwah dan tarbiyat.

Pada bulan September 1912, Beliau berangkat ke Mesir, kemudian ke Mekkah dan melakukan ibadah haji dan selama disana beliau tetap aktif dalam mendakwahkan Islam dan Ahmadiyah.

Pada bulan Juni 1913, beliau memulai menerbitkan Al-Fazl, sebuah surat kabar milik Jemaat, yang berisi tentang berita nasional, edukatif, infomatif, sejarah, khotbah dan artikel yang mencerahkan. Dalam waktu yang sangat singkat, surat kabar ini meraih popularitasnya tidak hanya di kalangan internal tetapi juga ekternal. Setelah kewafatan Hazrat Khalifatul Masih I ra, surat kabar ini menjadi organ utama Jemaat.

Pada tanggal 27 Mei 1908, saat kewafatan Masih Mau’ud dan terpilihnya Maulana Hakim Nuruddin sebagai khalifah pertama Ahmadiyah, orang pertama yang berbaiat adalah Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad. Hazrat Khlifatul Masih I sangat senang dengan beliau dan biasa mendatangi beliau dengan penuh cinta dan penghormatan.  Selama sakit beliau menunjuk beliau sebagai imam shalat dan sering dalam pidato dan khutbah nya beliau memuji semangat ketaatan, pengkhidmatan dan kemampuan intelektualnya. Terkadang, beliau menyiratkan bahwa ia akan menjadi penerus setelah beliau.

Pada hari Jumat, 13 Maret  1914, Hazrat Khalifatul Masih I (ra) meninggal dunia. Dan pada tanggal 14 Maret 1914, pada saat shalat ashar, di Masjid Noor Qadian, para Ahmadi berkumpul, dimana Hazrat Nawab Muhammad Ali Khan, seorang sahabi dan menantu Masih Mau’ud, membacakan “wasiyat” Hazrat Khalifatul Masih I dan meminta orang-orang melakukan sesuai petunjuk dan memulai memilih seseorang sebagai penggantinya. Maulana Syed Ahsan Amrohvi mengusulkan nama Hazrat Sahibzada Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad. Ia awalnya ragu-ragu dan menolak, namun karena kegigihan orang tersebut, ia menyadari bahwa itu adalah keputusan Allah dan menerima baiat orang-orang Ahmadi, dan dengan demikian beliau menjadi Khalifah kedua Masih Mau’ud.

Masa keemasan kekhilafahan Basyiruddin Mahmud Ahmad dan Prestasinya yang Luar biasa

Dari tanggal 14 Maret 1914 sampai tanggal 7 November 1965, masa sekitar lima puluh dua tahun, beliau memimpin Jemaat, dengan  mengambil langkah besar yang beberapa diantaranya dapat disebutkan disini:

Penyebaran Islam

Salah satu pencapaian terpenting beliau adalah pendirian sistem tabligh dan dakwah Islam yang kuat di dalam dan luar negeri. Setelah beliau menjabat Khalifah, beliau mengumumkan bahwa tugas pertamanya adalah penyebaran Islam.

Berdasarkan perintah beliau tanggal 12 April 1914, perwakilan dari seluruh penjuru negeri diundang menghadiri Majelis Syuro untuk membahas tentang penyebaran Islam. Dalam kesempatan ini beliau mengungkapkan keinginan beliau bahwa dintara mereka harus ada sekelompok laki-laki yang mengerti berbagai bahasa sehingga mereka dapat dengan mudah menyebarkan Islam ke seluruh dunia. Beliau menekankan:

“Saya ingin melihat kebenaran Ahmadiyah bersinar di segala penjuru dunia. Ini tidaklah sulit bagi Tuhan kita untuk mewujudkannya.”

Untuk memenuhi tujuan ini, beliau mendirikan Nazarat Da’wat Tabligh pada tahun 1919, dan Madrasah Ahmadiyya sebagai basis utama dan dilakukan upaya perkembangannya dengan menjadikannya dari hanya kelas seminari menjadi universitas. Semua upaya ini bertujuan untuk mempersiapkan para mubaligh yang terpelajar. Beliau membuka berbagai pusat dakwah di luar negeri untuk penyebaran Islam. Di 46 negara Islam pusat Ahmadiyah telah berdiri dengan kokoh sampai beliau meninggal dunia. Dan di dalamnya terdapat para anggota jemaat yang aktif dan tulus sampai sekarang.

Pengetahuan Alquran

Allah telah menganugerahi beliau ilmu rohani yang  mendalam dan pemahaman tentang Alquran, hal ini menggenapi nubuatan bahwa melalui beliau kejayaan Islam dan keagungan Alquran akan nampak dengan meyakinkan. Beliau mengatakan bahwa terdapat ratusan ribu realitas hakiki Alquran yang Allah sampaikan kepadanya karena karunia-Nya yang istimewa melalui Ilham dan wahyu. (Tafsir Kabir, vol 6, hal 483)

Beliau juga mengatakan bahwa beliau dianugerahi dengan ilmu Alquran yang tinggi, yang jika seseorang dengan latar ilmu apapun atau dari agama manapun, mengkritik Alquran, dengan karunia Allah beliau dapat membungkam dan memberi jawaban yang memuaskannya melalui Alquran itu sendiri. Beliau meluangkan banyak waktu untuk menantang orang lain dalam menulis tafsir tentang Alquran. Meskipun beliau bukan seorang nabi, namun tidak ada yang siap menerima tantangannya. Itulah pernyataannya bahwa beliau akan menafsirkan perspektif baru dari Alquran.

Dalam sebuah pertemuan umum di Delhi pada tahun 1944, beliau menyatakan diri sebagai “Muslih Mau’ud”(Reformer yang Dijanjikan) dan beliau kembali menyampaikan tantangannya tentang tafsir kebenaran dan hikmah Alquran:

“Saya umumkan sekali lagi bahwa jika ribuan ulama berkumpul dan berlomba dengan saya dalam menulis tafsir Al-Quran, maka dunia akan menerima dan mengakui tafsir saya yang istimewa dalam kebenaran hikmah Ilahi secara mendalam.”

Penafsiran baru dari ilmu Alquran yang ditulis dalam Tafsir Kabir beliau, merupakan bukti kebenaran dan validitas pernyataan beliau diatas. Waktu memperlihatkan keunggulan dari pengetahuan Alquran beliau. Maulvi Zafar Ali Khan, Editor Harian Zamindar, Lahore, seorang pemimpin Muslim terkenal, seorang penulis dan juga penentang keras Ahmadiyah, saat berbicara pada kelompoknya ia mengakui:

“Dengarkan baik-baik, Anda dan para pembantu kalian tidak akan pernah dapat bersaing dengan Mirza Mahmud sampai akhir hayatnya. Mirza Mahmud memiliki Alquran pada dirinya, dan pengetahuan yang mendalam tentang Alquran, Apa yang kalian dapatkan? … Anda tidak pernah membaca Alquran walaupun dalam mimpi.. “[Ek Khofnak Saazish, by Moulvi Mazher Ali Azhar, pg. 196]

Pada saat kewafatannya, dalam sebuah ucapan belasungkawa yang ditulis dalam Sidq-e-Jadid, Lucknow disebutkan:

“Semoga Allah memberikan ganjaran atas upaya Imam Ahmadiyah dalam mencetak Alquran dan tafsirnya di seluruh dunia dan juga upaya penyebaran Islam di seluruh penjuru bumi dan sebagai pengganti semua hal ini, mari kita lupakan hal-hal lain. Corak kearifan dimana beliau menafsirkan kebenaran dan hikmah Alquran secara rinci, sangatlah istimewa.”  [Sidq-e-Jadid Lucknow, Vol. 51, Nov. 18th 1965]

Terjemahan dan Penerbitan Alquran ke Berbagai Bahasa

Ini juga merupakan salah satu pencapaian besarnya, dapat mengupayakan penerjemahan Alquran dalam berbagai bahasa penting di dunia, sehingga mereka yang tidak mengetahui bahasa Arab dapat menikmati kemuliaan dan kebijaksanaan Kitab Ilahi ini berdasarkan bahasa mereka masing-masing. Karya beliau ini kemudian dilanjutkan oleh Khalifah Ketiga dan Khalifah Keempat. Pertama kali dibuat terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris, kemudian tafsir Alquran. Selama Khalifah beliau terjemahan dalam 14 bahasa lainnya sedang berlangsung.

Pembangunan Masjid di Luar Negeri

Tujuan utama Ahmadiyah adalah menyebaran ajaran Rasulullah saw. Dan dengan mengamalkannya maka akan mengarahkan manusia pada ketinggian rohani dan kesucian. Untuk mencapai hal ini, dimanapun Ahmadiyah berdiri, pusat dakwah dan juga Masjid dibangun. Masjid juga berfungsi sebagai pusat akademis untuk pengetahuan agama dan pelatihan. Selama Khalifah beliau, banyak masjid dibangun di luar negeri.

Tarbiyat Akhlak

Seiring dengan pekerjaan dakwah, beliau telah melakukan banyak hal untuk memberikan tarbiyat akhlak kepada anggota Jemaat. Beberapa prestasi dalam hal ini adalah

  • “Beliau memperkuat Sistem Khilafat diatas pondasi yang kokoh; beliau menyatakan, “Khilafat adalah sumber dan menara cahaya Ilahi. Jadi berpegang teguhlah pada Khilafat.” Sekali lagi beliau menyatakan:

“Para sahabatku, nasihat terakhir saya adalah bahwa semua berkat terletak pada Khilafat. Kenabian adalah sumbernya, dan setelahnya Khilafat menyebarkan kebajikannya di seluruh dunia. Berpegang teguhlah pada Khilafat yang sejati dan sampaikanlah keberkatannya di dunia ini. Allah akan mengasihi kalian dan akan memberkati kalian di dunia dan akhirat.”

  • Untuk mengkonsolidasikan dan mengatur jemaat, beliau mendirikan Anjuman Pusat dan regional, dan supaya berfungsi dengan baik, beberapa Nazarat penting didirikan di bawah naungan Sadr Anjuman Ahmadiyya Qadian.
    • Nazarat Dawato Tabligh
    • Nazarat Ta’lim
    • Nazarat Umur Aammah
    • Nazarat Bait-ul-Mal and
    • Nazarat Ulia berada diatas semuanya yang mengawasi, membimbing dan mengarahkan semua bagian Jemaat.

Untuk memastikan mereka dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab penting di masa depan, dibentuk juga badan yang terpisah dalam Jemaat.

    • Organisasi Ansaarullah untuk pria di atas usia 40 tahun.
    • Organisasi Khuddam-ul-Ahmadiyya untuk pemuda di bawah 40 tahun.
    • Organisasi Atfal-ul-Ahmadiyah untuk anak laki-laki di bawah 15 tahun.
    • Organisasi Lajna Imaullah untuk wanita.
    • Organisasi Nasirat-ul-Ahmadiyya untuk anak perempuan.

Melalui semua badan ini, peningkatan akhlak dan pelatihan organisasi dalan diberikan dengan landasan yang kuat.

Hijrah dari India

Pada tahun 1947, ketika negara India terbagi, para Ahmadi hijrah ke Pakistan bersama dengan umat Islam lainnya. Untuk menjaga kesatuan, integritas dan kekompakan mereka, dibangun sebuah kota besar Rabwah, yang di dalamnya perkantoran, sekolah, universitas dan berbagai departeman dibentuk dan diorganisasikan kembali. Semua kebutuhan hidup juga tersedia. Hazrat Muslih Mau’ud sendiri berbicara tentang Rabwah:

“Saya takjub, kekuatan seperti apa yang telah membawa dan membuat kalian bertahan di tempat yang pemerintah sendiri gagal menempatinya. Menyaksikan Rabwah orang akan diingatkan akan masa-masa ketika Allah meletakkan kembali pondasi Mekkah melalui Hazrat Ibrahim as dan putera beliau Hazrat Ismail as. [Al-Fazal Nov. 26th 1961]

Seruan Pengorbanan

Hazrat Muslih Mau’ud mencanangkan, mengatur dan mengkonsolidasikan sistem keuangan Ahmadiyah dengan landasan yang kuat dengan memulai berbagai skema dan seruan untuk menyumbangkan dan menghorbankan harta. Beberapa diantaranya adalah:

  • Pada tanggal 12 April 1914, beliau meminta pengorbanan harta untuk Anjuman Taraqqi Islam yang bertujuan mengirimkan para mubaligh ke semua kota di India dalam menyebarkan Islam. Untuk keperluan itu beliau memperkirakan biaya sebesar 12.000 rupee setahun. Para anggota Jemaat menyambut seruan itu dengan ikhlas.
  • Rencana penyelesaian Minaratul Masih – pada bulan November 1914, Hazrat Khalifatul Masih II meminta sumbangan harta untuk penyelesaian Minaratul Masih. Alhasil, menara selesai dibangun pada bulan Desember 1916. (Al Fazl, 28 Desember 1916)
  • Seruan penggalangan dana kepada kaum ibu untuk keperluan tabligh – Pada bulan Desember 1916, beliau meminta organisasi wanita Ahmadi untuk melakukan penggalangan dana, karena sampai saat ini yang menanggung biaya adalah bapak-bapak sekitar 8.000 – 10.000 Rupees sebulan untuk memenuhi berbagai keperluan agama. Walaupun pengeluaran untuk tabligh tersebut terpenuhi. Tetapi karena pertablighan ke luar negeri meningkat, maka dibutuhkan dana sekitar 500 rupees per bulan. [Supplement Al Fazl, December 16th, 1916]. Dengan karunia Allah para wanita menanggapi seruan tersebut dan mereka dengan mudah mengambil tanggung jawab mereka untuk memenuhi pengeluaran tambahan tersebut.
  • Seruan pengorbanan untuk pembangunan Masjid London – pada tanggal 7 Februari 1920, beliau meminta Jemaat untuk berkontribusi dalam pembangunan masjid di London, dan para Ahmadi menyambut seruan itu dengan penuh semangat dan ketulusan. [Taarikhe Ahmadiyyat, Vol. 5, pg. 258]
  • Seruan untuk penerbitan buku A Present to the Prince of Wales – Pangeran Wales yang kemudian menjadi Raja Edward VIII, datang mengunjungi India pada bulan Desember 1921. Hazrat Muslih Mau’ud ra mengusulkan untuk memberikan hadiah yang cocok untuk Pangeran. Setelah seruan ini, Huzur menulis sebuah buku “A present to the Prince of Wales”, dimana beliau menyampaikan ajaran Islam kepada Pangeran. Dari sistem pengorbanan ‘satu orang satu Anna’ oleh 20.000 anggota Jemaat, buku tersebut dicetak. Pada tanggal 27 Februari 1922, sebuah perwakilan Ahmadiyah memberikan buku yang bertatakan Baki Perak kepada Pengeran.
  • Partisipasi untuk Konferensi Wembley London – Huzur bersama dengan beberapa Khuddam berangkat ke Inggris untuk ikut dalam Konferensi Wembley. Semua biaya ditanggung Jemaat. (al Fazl 16 Juli 1925)

Tahrik Jadid

Melalui gerakan penting ini, banyak pusat dakwah Ahmadiyah berdiri di seluruh dunia. Pada tahun 1934, Majelis Ahrar, dengan persekongkolan yang kuat, mengirim beberapa relawan mereka untuk menciptakan kegaduhan dengan mengadakan konferensi di Qadian. Dengan lantang mereka mengumumkan bahwa mereka akan membinasakan Qadian. Pemerintah juga mendukung kelompok ini. Tampaknya semua kekuatan telah bergabung untuk melawan Ahmadiyah. Tetapi, pondasi Jemaat suci ini diletakkan oleh Allah taala sendiri. Menghadapi angin penentangan yang kuat dan sengit ini, Allah sendiri yang menyediakan perlindungan untuk tanaman Ahmadiyah yang lembut ini. Dengan terungkapnya niat jahat Majelis Ahrar, Allah, melalui hamba pilihan-Nya, memprakarsai gerakan Tahrik Jadid yang luar biasa, yang tidak hanya menjadikan upaya penentang sia-sia, dalam waktu singkat kebenaran Ahmadiyah menjadi nyata dan bendera Supremasi Rohaninya berkibar dengan kuat dan tinggi. Gerakan ini didasarkan pada 27 tuntutan dan berisi kententuan yang lengkap dan menyeluruh, dimana setiap anggota Jemaat yakin bahwa untuk menegakkan tauhid Ilahi, dan mengembalikan martabat Rasulullah saw, dan untuk membuktikan kebenaran Islam dan membangun masyarakat yang benar, seseorang harus terlebih dahulu mewujudkan perubahan nyata dalam kehidupan dan tingkah lakunya sendiri.

Hazrat Muslih Mau’ud ra pada awalnya meminta 27.500 Rupe dari anggota Jemaat. Hanya dalam waktu satu setengah bulan Jemaat menghasilkan uang tunai sebesar 29.712 rupe. Dan pada tahun pertama terkumpul sebesar 103.000 rupe, tahun kedua 110.000 rupe dan pada tahun ketiga 140.000 rupe. Awalnya gerakan ini bersifat opsional dan hanya berlaku tiga tahun. Kemudian diperpanjang sampai tujuh tahun dan dilanjutkan sepuluh tahun. Setelah melewati masa sepuluh tahun, gerakan ini diperluas lagi oleh huzur sampai 19 tahun. Dan pada tahun 1953, ketika menginjak tahun ke 19, Huzur menjadikan gerakan ini secara permanen. Melalui gerakan ini upaya pertablighan diperluas ke luar negeri.

Waqf Jadid

Demikian pula Gerakan Waqfi Jadid diinisiasi untuk memajukan kegiatan pertablighan dan tarbiyat Jemaat di seluruh  kota, dan desa di India dan Pakistan dengan mengirim mubaligh dimana-mana. Skema ini diperkenalkan pada tanggal 27 September 1957.

Perjalanan ke Luar Negeri

Meskipun Hadhrat Khalifatul Masih II ra bertambah sibuk memikul tanggung jawab sebagai Khalifah, namun beliau telah mengunjungi Eropa dua kali. Pertama pada tahun 1924, untuk ikut dalam Konferensi Wembley bersama 12 sahabat lainnya, beliau melakukan perjalanan ke Damaskus, Palestina dan Mesir, beliau berhenti sebentar di masing-masing tempat ini, Huzur sampai di Inggris melewati Italia dan Perancis. Beliau bertemu Mussolini di Italia. Saat tiba di London, kehadiran beliau banyak diliput oleh media. Foto-foto beliau juga  banyak dimunculkan, orang-orang Inggris menyambut Huzur dengan kehangatan dan semangat yang luar biasa. Pada tanggal 23 september 1924, Chaudry Muhammad Zafrullah Khan membacakan artikel Huzur di konferensi tersebut, yang diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Ahmadiyyat the True Islam“. Pada akhir pembacaan aula bergema dengan tepuk tangan dan penghormatan. Ketua memuji keberhasilan artikel tersebut.

Selama berada di Inggris, Huzur meletakkan batu pertama Masjid Ahmadiyah pada tanggal 19 Oktober 1924. Pada kesempatan ini, selain elit Inggris, warga negara terkemuka seperti menteri, duta besar, diplomat dan pejabat lainnya dari Jepang, Suriah, Cekoslowakia, Ethiopia , Mesir, Amerika, Italia, Australia dan Hongaria turut berpartisipasi. Setelah perjalanan 4 bulan, Huzur pulang dengan kesuksesan yang luar biasa.

Perjalanan kedua yang dilakukan Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad adalah pada Minggu pertama bulan April 1955. Dalam perjalanan ini beliau melewati Damaskus dan Lebanon, Huzur mengunjungi Jenewa dan dari sana beliau melalui Zurich, Hamburd dan Den Haag sampai menuju London. Perjalanan ini tujuannya untuk pengobatan penyakit beliau setelah seorang melakukan upaya pembunuhan terhadapnya. Tetapi, walaupun dalam kondisi sakit, Huzur meresmikan beberapa Pusat Ahmadiyah di Eropa. Kemanapun beliau pergi, beliau bertemu dengan orang-orang secara individu dan berkelompok. Di Damaskus beliau menyampaikan Khutbah Jumat dalam bahasa Arab dan di negara-negara Eropa dalam bahasa Inggris. Selama berada di London, Huzur mengadakan sebuah konferensi bersejarah tentang upaya pertablighan di seluruh negara. Acara ini diadakan pada tanggal 22, 23, dan 24 Juli 1955. Dalam konferensi tersebut Huzur menekankan pentingnya memperluas kegiatan tabligh Islam, publikasi dan penerjamah Alquran, pembangunan masjid, pendirian sekolah dan seminari untuk melatih para mubaligh baru. Huzur sendiri menghadiri semua kegiatan. Perjalanan ini diperpanjang selama enam bulan.

Dalam rentang 52 tahun kekhalifahan beliau, berbagai prestasi patut disematkan kepada beliau. Beliau membimbing umat Islam dalam politik, terutama selama Gerakan Kongres non-Kerjasama (Non-Co-operation Movement of the Congress), beliau mencurahkan perhatiannya terhadap kelompok yang tetap dan Harijan dan melawan gerakan “Suddhi” di Malkana. Selama konferensi Simon Commission dan Round Table beliau memberi sumbangsih melalui tulisan dan pidato yang berharga.

Untuk membangun perdamaian, saling pengertian dan niat baik di masyarakat, beliau meletakkan dasar bagi “Hari Pendiri Agama” yang dilakukan secara teratur, para pembicara dari berbagai agama diundang untuk berbicara tentang ajaran agama dan pendiri mereka masing-masing dalam satu majelis.

Di tahun pertama khilafah, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menulis sebuah buku “Haqiqatun Nubuwwat, dimana beliau menulis:

“Orang-orang bodoh yang menyalahkan kita bahwa dengan beriman kepada Masih Mau’ud sebagai Nabi, kita dianggap telah menghina Rasulullah saw. Apakah mereka mengetahui keadaan hati seseorang? Bagaimana mereka dapat memahami kecintaan yang agung, kasih sayang yang dalam dan penghormatan tinggi yang kita miliki untuk Nabi saw. Dan apakah mereka memahami, bagaimana kecintaan kepada Nabi saw telah menembus ke hatiku. Dia adalah hidupku, hatiku dan keinginanku. Menjadi hambanya adalah kehormatan bagiku dan alas kaki beliau lebih berharga bagiku daripada tahta kerajaan. Menguasai Tujuh Kontinen tidak ada apa-apanya dibanding dengan menyapu di rumah beliau. Dia adalah kekasih Allah – mengapa saya tidak mencintainya? Dia adalah menyatu dengan Tuhan, jadi mengapa saya tidak mencari kedekatan kepadanya? Kondisi diriku sama dengan semangat syair Hazrat Masih Mau’ud as:

“Setelah Allah, aku mabuk cinta dengan Muhammad, jika ini adalah kekufuran, maka demi Allah, aku adalah orang yang paling kafir.”

Kecintaan kepada Rasulullah saw inilah yang mendorongku untuk menyudahi perdebatan pada Bab Kenabian. Ini adalah penghinaan dan pelecehan terhadap Rasulullah saw.

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang mukmin, ucapkanlah shalawat untuknya dan mintalah selalu doa keselamatan baginya.” (QS 33: 57)

Sumber: Alislam.org