Ramadhan: Perubahan Diri dan Tanggung Jawab Kita

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis–ayyadahul-Laahu Ta’aalaa binashrihil-‘Aziiz pada 26 Juni 2015 di Baitul Futuh Morden, London

“Assalaamu‘alaikum wa rahmatul-Laah”

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ
أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ
الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ
نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ
أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ
آمين

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Hendaklah Jemaat kita tidak membatasi/mencukupkan diri mereka hanya pada kata-kata saja karena hal demikian itu bukanlah tujuan kita yang sejati, melainkan penyucian diri dan perubahan diri adalah hal yang lebih penting dan merupakan tujuan diutusnya saya oleh Allah Ta’ala.”

Beliau as menginginkan terjadinya perubahan akhlak di dalam Jemaat ini. Dengan mengatakan agar tidak membatasi diri hanya pada perkataan (yaitu diskusi dan perdebatan) saja, beliau as bermaksud supaya kita tidak hanya membatasi diri hanya pada pembicaraan saja dan mengubah-ubah perkataan kita sesuai dengan kepentingan pribadi kita, melainkan hendaknya kita dapat menjaga tingkat akhlak yang baik dan tinggi. Beliau as menginginkan agar kita senantiasa mengadakan penyucian diri di dalam hidup kita untuk memenuhi syarat-syarat baiat. Para Ahmadi hendaknya ingat bahwa untuk memenuhi syarat-syarat baiat, kita harus senantiasa memperhatikan segala perintah Allah Ta’ala dan berusaha mengamalkannya.

Kita hendaknya senantiasa sadar untuk meraih keridhaan ilahi. Hal ini telah dijelaskan pada khutbah Jumat yang lalu bahwa untuk merasakan pengabulan doa, maka perintah فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي “Hendaklah mereka menjawab seruan-Ku” [Al-Baqarah, 2:187] agar senantiasa diamalkan dengan segala kapasitas yang dimiliki seseorang dan menghabiskan seluruh hidupnya sesuai dengan segala perintah ilahi. Kita hendaknya mengintrospeksi diri dalam suasana rohani di bulan Ramadhan ini untuk melihat berapa banyak perintah Allah Ta’ala ini telah menjadi bagian dari kehidupan kita atau sebaliknya, apakah kehidupan kita hanya berupa pernyataan lisan saja bahwa kami telah berjalan di atas perintah Allah Ta’ala.

Di dalam Al-Quran terdapat banyak perintah Ilahi yang hendaknya senantiasa diperhatikan sehingga kita dapat senantiasa berfikir untuk mengadakan perubahan di dalam diri kita. Pada hari ini, beberapa perintah ilahi dikemukakan dalam khutbah jumat yang memainkan peran dalam mensucikan diri seseorang dan juga dalam menciptakan kecintaan dan kedamaian di dalam masyarakat. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran: وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا Dan hamba-hamba Tuhan Yang Rahman ialah mereka yang berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri; dan apabila orang-orang jahil menegur mereka, mereka mengucapkan “Selamat.” [Al-Furqan, 25:64] Artinya, mereka tidak berjalan dengan kesombongan namun dengan kelembutan.

Ayat ini secara singkat menguraikan perubahan revolusioner terhadap akhlak dan rohani yang diciptakan oleh Hadhrat Rasulullah saw yang diamalkan oleh para sahabat beliau saw. Ini adalah saat ketika dunia terjatuh ke dalam jurang kegelapan moral dan pengaruh syaithan sedang merajalela. Dunia sedang berada dalam kekacauan karena egoisme, keakuan dan kejahatan. Ini adalah ketika manusia diajarkan akhlak dan kerendahan hati yang bermutu tinggi yang menghasilkan perwujudan dari ayat yang disebutkan di atas di dalam diri manusia. Pada hari ini, situasi dunia pun sama dan dengan mengutus seorang pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw, yakni Hadhrat Masih Mau’ud as, Allah Ta’ala menginginkan para hamba yang sama dengan yang telah Allah Ta’ala ciptakan di masa Hadhrat Rasulullah saw. Untuk alasan ini, kita perlu memperhatikan agar berjalan di muka bumi ini dengan penuh wibawa, dengan kelembutan dan merendahkan diri serta dengan menghilangkan kesombongan.

Para hamba sejati Allah Ta’ala perlu memperhatikan hal ini. Orang-orang yang seperti ini senantiasa menyebarluaskan kecintaan dan menjadi penjamin kedamaian di dalam masyarakat. Mereka menjawab segala hasutan dari orang-orang jahil dengan mengucapkan salam dan bahkan tidak hanya membalas dengan kebaikan, mereka juga mendoakan demi keamanan dan kedamaian orang-orang jahil tersebut. Menjawab segala hasutan demi Allah Ta’ala dengan cara yang seperti ini tatkala seseorang sedang memiliki kekuatan dan kekuasaan merupakan suatu akhlak yang luhur yang akan menjadikannya seorang hamba sejati Allah Ta’ala. Orang-orang yang mengikuti hal ini juga merasakan pengabulan atas doa-doa mereka dan menjadi kisah yang mengenainya Hadhrat Masih Mau’ud sabdakan sebagai mereka yang mensucikan dirinya, mencari kerajaan Ilahi dan mendirikannya di muka bumi.

Allah Ta’ala menghendaki agar kecintaan, kedamaian dan persaudaraan di kalangan manusia tersebar di seluruh dunia, manusia menjadi terbebas dari jeratan syaithan dan dunia ini menjadi seperti surga. Ini adalah alasan Allah Ta’ala mengutus para nabi dan Hadhrat Rasulullah saw merupakan yang paling sempurna di antara mereka dalam mengajarkan kepada manusia bagaimana menjadi hamba sejati Allah Ta’ala. Beliau saw mengajarkan bahwa jika surga dicari di dunia ini, maka pertama-tama dunia ini harus menjadi surga dan jadilah seperti mereka yang Allah Ta’ala telah firmankan di dalam Al-Quran, فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي “Maka masuklah dalam hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku” [Al-Fajr, 89:30-31]

Ramadhan membawa kabar suka bahwa selama bulan ini pintu-pintu surga akan terbuka sedangkan pintu-pintu neraka akan tertutup dan Allah Ta’ala senantiasa mendatangi para hamba-Nya. Memang, Allah Ta’ala dekat dengan hamba-Nya setiap saat. Namun maksudnya di sini adalah bahwa Dia senantiasa meninggikan ganjaran untuk kebaikan yang dilakukan di bulan ini. Setiap Ahmadi, yang merupakan seorang Muslim sejati, yang telah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as untuk menjadi hamba Allah Ta’ala, perlu meninggalkan segala kesombongan dan keakuan, mengakhiri keasingan dan menciptakan perbaikan dan menyebarkan kedamaian dengan kerendahan hati di rumah dan di masyarakat.

Hadhrat Rasulullah saw mengajarkan kita untuk mengamalkan kerendahan hati hingga mencapai suatu tingkatan dimana tidak ada satupun lagi yang ia banggakan. Tidak ada cara zahir untuk dapat mengukur hal ini. Setiap orang yang menyatakan dirinya memiliki keimanan perlu mengadakan introspeksi diri serta melihat apakah ia telah terbebas dari segala kebanggaan; kebanggaan atas garis keturunan, kebanggaan atas kekayaan, kebanggaan sebagai orang yang berpendidikan tinggi, kebanggaan atas kecakapannya dalam bidang akademik dan lain-lain.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda, يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ , وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ , أَلا لا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ ، وَلا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ , وَلا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ , وَلا أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ إِلا بِتَقْوَى اللَّهِ “Wahai manusia, sesungguhnya Tuhan kalian Satu, bapak kalian satu (Adam). Ketahuilah! tidak ada kelebihan seorang Arab di atas orang non-Arab dan tidak ada kelebihan seorang non-Arab pun di atas orang Arab. Tidak ada kelebihan seorang berkulit hitam di atas orang berkulit merah dan tidak ada kelebihan seorang berkulit merah atas mereka yang berkulit putih, kecuali dengan ketakwaan kepada Allah.” Aspek utamanya adalah ketakwaan dan seseorang yang bertakwa tidak akan menyimpan suatu kebanggaan di dalam hati. Sering kali seseorang dapat merasa begitu bangga terhadap kecakapan akademiknya sehingga ia menjadi jauh dari keimanan.

Ketika Allah Ta’ala memerintahkan Hadhrat Rasulullah saw untuk mengumumkan: أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ “Aku adalah pemimpin seluruh manusia” kemudian beliau menambahkan, وَلا فَخْرَ “Aku tidak memiliki suatu kebanggaan terhadap hal ini.” Ini merupakan tingkat kerendahan hati beliau setelah meraih keluhuran derajat yang tidak dapat diraih oleh seorang pun. Yang demikian itu adalah keinginan beliau saw untuk menjaga perdamaian dan persaudaraan di kalangan manusia sehingga tatkala seorang Yahudi berkata bahwa ia telah tersakiti oleh jawaban kasar seorang Muslim ketika ia mencoba membuktikan keunggulan Hadhrat Musa kepada seorang Muslim. Seorang Muslim itu kemudian berkata bahwa derajat Hadhrat Rasulullah saw lebih tinggi. Maka Hadhrat Rasulullah saw bersabda: لا تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى “Janganlah kalian melebihkan aku di atas Musa.”

Ini merupakan suatu teladan beberkat untuk memelihara kedamaian di dalam masyarakat dan merupakan jawaban bagi mereka yang menyampaikan tuduhan-tuduhan terhadap Hadhrat Rasulullah saw dan juga jawaban bagi mereka yang menciptakan kekejaman atas nama beliau saw.

Kita yang telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as berkewajiban untuk membantah segala tuduhan yang ditujukan kepada wujud beberkat ini. Untuk hal ini, kita harus menjadi perwujudan ajaran sejati dari seseorang yang kita telah terima. Memang, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman barangsiapa yang menjalankan kerendahan hati demi Aku” dan ia merendahkan telapak tangannya hingga menyentuh tanah, “maka Aku akan mengangkatnya” dan ia mengangkat telapak tangannya dengan sangat tinggi. Allah Ta’ala menganugerahkan ketinggian yang tak terbayangkan kepada mereka yang menjalankan kerendahan hati demi Allah Ta’ala, yang membenci kesombongan demi Allah Ta’ala dan yang mencabut kebencian dari masyarakat demi Allah Ta’ala untuk menciptakan perdamaian dan keamanan.

Kita perlu mengadakan introspeksi diri selama bulan Ramadhan dan mengakhiri pertikaian di dalam keluarga demi Allah Ta’ala dan menciptakan lingkungan yang damai. Pertikaian yang terjadi di antara saudara biasanya disebabkan karena ego maka hendaklah diakhiri. Kemudian berdoalah bagi para penentang agar segala gangguan dan kekacauan yang terjadi di dunia ini menjadi berakhir. Meskipun kita banyak berbicara tentang perdamaian namun kekacauan tetap saja terjadi jika kita juga terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, demi Allah Ta’ala, segeralah akhiri perbuatan tersebut.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Aku mengingatkan Jemaatku agar menjauhi sifat sombong karena takabur tidak disukai Allah Ta’ala….Ia yang tidak mendengarkan bicara saudaranya dengan santun dan memalingkan wajahnya, itu termasuk kesombongan.… Karena itu, upayakanlah selalu jangan sampai kalian bersikap sombong dalam segala hal agar kalian terpelihara dari kebinasaan dan agar kalian memperoleh keselamatan. Bersandarlah kepada Tuhan dan kasihilah Dia dengan sepenuh hati serta takutilah Dia dengan hati yang setakut-takutnya. Sucikan hati kalian dan sucikan niat, bersikaplah lemah lembut dan rendah hati serta jauhi kejahilan agar kalian mendapat rahmat. (Inti Pokok Ajaran Islam Vol II, hal. 355-357, Nuzulul Masih, Ruhani Khazain, vol. 18, hal. 402-403)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Ini bukanlah jalan Allah Ta’ala untuk menghinakan seseorang yang berpaling kepada-Nya dalam kerendahan hati dan memberikannya kematian yang tercela. Seseorang yang berpaling kepada Allah Ta’ala tidak pernah disia-siakan. Tidak akan ada satu contoh pun sejak awal dimana seseorang yang menjalin hubungan secara tulus dengan Allah Ta’ala namun kemudian mati dalam kegagalan. Allah Ta’ala menginginkan manusia tidak hanya sekedar berdoa untuk keinginan egonya saja namun adalah untuk berpaling kepada-Nya dalam kerendahan hati. Dia sendiri berfirman: مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “…. Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membuat baginya suatu jalan keluar dan Dia akan memberikan rezeki kepadanya dari mana tidak pernah ia sangka….” [Ath-Thalaq, 65:3-4]

Di sini, rezeki yang dimaksud bukanlah roti dan mentega namun juga berarti penghormatan, ilmu pengetahuan dll yang seorang manusia perlukan. Seseorang yang bahkan memiliki hubungan yang tipis dengan Allah Ta’ala pun tidak pernah disia-siakan.

Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda bahwa manusia merupakan wujud yang rendah hati namun karena amal-amal buruk menjadikan dirinya tinggi dan berkuasa serta menumbuhkan kesombongan dan keangkuhan. Manusia tidak akan bisa mendapatkan tempat di jalan Allah Ta’ala jika ia tidak menganggap dirinya paling rendah dari semuanya. Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan contoh Kabir (seorang penyair sufi India pada abad ke 15) yang menulis bahwa ia senang terlahir di dalam sebuah rumah yang sederhana dan berbeda dari yang lain. Ia menambahkan bahwa jika ia terlahir sebagai golongan priyayi (bangsawan), maka ia tidak akan bisa menemukan Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa manusia hendaknya selalu memperhatikan kerendahan hatinya. Tidak peduli sekalipun ia merupakan seorang bangsawan namun ketika ia mengintrospeksi dirinya, ia pasti akan menemukan bahwa dari beberapa aspek ia merupakan seseorang yang paling tidak cakap dan rendah di seluruh alam. Beliau as juga bersabda bahwa jika manusia tidak menunjukan sikap hormat kepada orang miskin dan kepada seorang wanita tua yang tak berdaya namun hanya menunjukan rasa hormatnya kepada seseorang yang memiliki kehormatan yang tinggi saja serta tidak menghindari setiap jenis kesombongan dan keangkuhan maka ia tidak akan pernah masuk ke dalam kerajaan ilahi.

Kita hendaknya melewati hari-hari dalam bulan Ramadhan ini untuk menciptakan perubahan suci dan meraih pengabulan doa dan hendaknya kita senantiasa merenungkan perkara-perkara ini. Hendaknya kita berpaling kepada Allah Ta’ala, mencari pertolongan-Nya untuk menghilangkan segala macam kebanggaan dan kesombongan yang mungkin bersemayam di dalam diri dan yang menjadi penghambat dalam menumbuhkan kerendahan hati dan yang memainkan peranan di dalam menyebarkan ketidaknyamanan dan perselisihan. Dengan demikian, kedamaian dan keserasian dapat tersebar dan tidak ada seorang pun yang merasakan kegelisahan karena diri kita.
Allah Ta’ala memerintahkan:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (النساء: 37)

“Dan, sembahlah Allah Ta’ala dan janganlah kalian mempersekutukan sesuatu dengan-Nya; dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat, handai taulan, orang musafir dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya, Allah Ta’ala tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri.” [An-Nisa, 4:37]

Di sini, setelah menarik perhatian untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan menghindari perbuatan syirik terhadap-Nya, Allah Ta’ala telah menarik perhatian kepada perkara-perkara lainnya. Demikian pula, Ramadhan juga menarik perhatian ke arah hak-hak masyarakat dan seseorang dapat menjalankannya selama bulan ini secara terus menerus. Jika hak-hak ini tidak diindahkan maka ibadah semata tidak dapat mencapai tujuan Ramadhan. Memang, menyembah Allah Ta’ala merupakan tujuan yang hendaknya diamalkan di bulan ini dan terus-menerus dijalankan pada bulan-bulan lainnya. Demikian pula, hendaklah hak-hak manusia senantiasa diperhatikan pada bulan ini dan juga terus diperhatikan pada bulan-bulan selanjutnya.

Selama Ramadhan, kedermawanan Hadhrat Rasulullah saw terhadap orang-orang yang membutuhkan senantiasa meningkat secara intensif seperti angin kencang. Kedermawanan beliau saw selama bulan-bulan selanjutnya juga tidak ada bandingannya; oleh karena itu, menyamakan intensitas kedermawanan beliau saw selama bulan Ramadhan dengan angin yang kencang adalah karena tidak ada analogi/permisalan lain yang tepat untuk hal ini.

Setelah berbicara tentang beribadah kepada Allah Ta’ala, ayat yang disebutkan di atas membahas tentang seorang ‘abid dan hamba sejati Allah Ta’ala yang Maha Pemurah dan menarik perhatian mereka kepada huququl ‘ibad. Jika kedua hak tersebut yakni huququllah dan huququl ‘ibad tidak dipenuhi, maka seseorang tidak dapat menjadi seorang mukmin sejati melainkan menjadi seorang yang sombong. Memenuhi kedua hak ini bukanlah sesuatu yang luhur namun merupakan kewajiban setiap mukmin sejati dan memenuhi kedua hak ini semata akan membawa seseorang merasakan pengabulan doa-doanya. Ini merupakan hak para orang tua, para kerabat, orang-orang yang membutuhkan, tetangga, musafir, kenalan lainnya dan mereka yang berada di bawah tanggungan kalian. Dengan demikian, satu ayat ini menarik perhatian dan memerintahkan terhadap hak-hak seluruh manusia. Di suatu tempat, Al-Quran juga menyebutkan hak-hak para orang tua. Ini merupakan tugas dari anak-anak mereka dan bukanlah sebuah sebuah kebaikan. Ada juga hak-hak para kerabat; jika suami dan istri memenuhi hak-hak saudara-saudara ipar mereka sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan untuk memenuhi hak-hak kerabat dekat, maka berbagai macam pertikaian dan pertentangan akan teratasi. Perhatian khusus hendaknya juga diberikan terhadap perkara ini selama hari-hari di bulan Ramadhan.

Kepedulian terhadap anak-anak yatim dan menjadikan mereka berguna di masyarakat merupakan kewajiban yang penting. Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa seseorang yang merawat anak-anak yatim akan menemaniku di surga. Jemaat telah mendirikan sebuah sistem untuk merawat anak-anak yatim. Kemudian ada hak-hak orang-orang yang membutuhkan, maka penuhilah segala kebutuhan mereka dan Jemaat sendiri memiliki dana yang terpisah dan khusus untuk hal itu. Mereka yang mampu hendaklah memberikan sumbangan untuk dana ini. Kemudian ada juga hak-hak kerabat dan tetangga; tetangga yang tinggal di sekitar kita, tetangga yang memiliki ikatan dengan kita, tetangga yang tidak dikenal baik dan tetangga yang tidak berhubungan baik dengan kita. Dengan demikian, ini merupakan ajaran untuk menciptakan perdamaian dan kedamaian. Kemudian ada pula hak-hak teman dekat, sahabat dan musafir. Di dalam kata-kata ini termasuk hak-hak suami dan istri dan juga mencakup hak-hak teman, kolega dan rekan kerja. Perhatian hendaknya juga ditarik kepada hak-hak mereka yang berada dibawah tanggungan kita dan kemudian dinyatakan bahwa barangsiapa yang tidak mengamalkan hal ini berarti ia adalah orang yang sombong dan tidak disenangi Allah Ta’ala. Dengan demikian, ini merupakan ajaran Islam yang indah bagi setiap segi masyarakat.

Selama Ramadhan, Allah Ta’ala memberikan karunia kepada mereka yang memenuhi huququllah dan huququl ‘ibad. Kita hendaknya memberikan perhatian penuh terhadap masalah ini. Suasana spesial Ramadhan menarik perhatian kita untuk beribadah dan untuk melaksanakan kegiatan rohani lainnya dan hendaklah kita memperoleh manfaat sebanyak mungkin dari kegiatan tersebut.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Jika kalian ingin agar Allah Ta’ala di surga ridha atas kalian maka hendaklah kalian satu sama lain menjadi satu seperti dua orang saudara kandung. Bersikap baiklah kepada bawahan kalian, istri-istri kalian dan saudara-saudara kalian yang membutuhkan sehingga kebaikan tersebut nantinya juga diperlihatkan kepada kalian di surga. Jika kalian benar-benar telah menjadi milik-Nya, maka Dia juga akan menjadi milik kalian.”

Beliau bersabda di suatu tempat bahwa seseorang yang ingin memiliki umur yang panjang maka sebarkanlah amal-amal shaleh dan jadilah orang yang bermanfaat bagi makhluk-Nya.

Semoga Allah Ta’ala memungkinkan kita untuk beribadah kepada-Nya serta memenuhi huququl ‘ibad dan semoga kita semua benar-benar menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala Yang Rahman.

Dua shalat jenazah ghaib diumumkan. Yang pertama adalah Hadayat Bibi Sahiba, istri seorang Darwaisy Qadian yang meninggal pada tanggal 4 Juni 2015 setelah menderita sakit. Beliau merupakan seorang Musiah. Yang kedua adalah Maulwi Muhammad Ahmad Saqib Sahib yang meninggal pada tanggal 18 Mei 2015 pada umur 98 tahun. Beliau mulai mewakafkan dirinya pada tahun 1939 dan terus mengkhidmati Jemaat dalam posisi yang berbeda-beda. Beliau merupakan seorang Musi.

Penerjemah: Hafizurrahman