Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz pada 25 Desember 2015 di Baitul Futuh, London

“Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullah”

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ، آمين

Sekarang adalah hari-hari Jalsah Salanah Qadian. Jalsah tahun ini akan dimulai besok. Sementara itu, Jalsa Salanah di Autralia dan Pesisir Barat Amerika Serikat sudah dimulai. Jalsah Salanah Qadian memiliki makna yang khas karena berlangsung di kampung halaman Hadhrat Masih Mau’ud as dan di sinilah Jalsah Salanah pertama kali dimulai.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah berbicara mengenai Jalsah Salanah yang diadakan di masa Hadhrat Masih Mau’ud as dalam berbagai khutbah beliau dan juga mengenai beberapa wahyu Hadhrat Masih Mau’ud as.
Hadhrat Mushlih Mau’ud ra ingat ketika masih kecil, ada sekitar 200-250 orang duduk di atas sebuah karpet di sebuah ruangan yang dikelilingi dinding. Hadhrat

Masih Mau’ud as juga duduk di atas karpet tersebut. Saat itu bulan Desember dan setiap orang berkumpul untuk menghadiri Jalsah Salanah. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra ingat bahwa karpet tersebut dipindahkan 3 kali dan karena masih kecil, beliau tidak yakin alasan kenapa karpet itu dipindahkan kurang lebih 3 kali. Apakah mereka dilarang menghamparkan karpet tersebut di suatu tempat atau apakah ada alasan lainnya. Beliau berkata bahwa orang-orang yang hadir pada Jalsah saat ini tidak dapat menggambarkan situasi pada hari-hari tersebut.

Qadian melewati masa terjadinya partisi India (pembagian negara India dan Pakistan, 1947) ketika setiap orang Qadian hijrah ke Pakistan dan hanya beberapa orang saja yang tinggal di sana. Sekarang, Qadian semakin maju. Hari ini, orang-orang di Rabwah-Pakistan merasa gelisah tetapi hendaknya diingat bahwa waktu telah berubah. Insya Allah, akan tiba saatnya ketika kebahagiaan di Rabwah pun akan kembali. [Pemerintah Pakistan melarang Jemaat Ahmadiyah menyelenggarakan Jalsah Salanah sejak tahun 1980-an. penerjemah] Apa yang diperlukan ialah senantiasa fokus untuk berdoa. Allah Ta’ala berfirman: وَلا تَهِنُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الأعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ () Dan janganlah kamu lesu dan jangan pula bersedih dan kamu pasti unggul, jika kamu orang-orang mukmin. [Ali Imran, 3:140]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa 200-an orang yang duduk di atas karpet yang dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat lain tersebut, telah berkumpul di sana karena Islam berada dalam kondisi yang sangat lemah pada saat itu sedangkan orang-orang yang berada di dalam kegelapan sedang melakukan upaya terbaik mereka untuk memadamkan nur Islam dan Hadhrat Muhammad saw ini.

Orang-orang ini (para Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as yang menghadiri Jalsah) hanyalah sebagian kecil dari populasi dunia. Sebagian besarnya bukanlah orang-orang kaya. Bahkan sangat sedikit sekali dari antara mereka yang mengenyam pendidikan sekolah menengah sesuai dengan tolok ukur standar di India. Mereka telah berkumpul untuk menegakan bendera Hadhrat Rasulullah saw. Mereka lebih memilih binasa daripada membiarkan bendera ini jatuh ke tanah.

Orang-orang yang berjumlah 200-an ini telah datang untuk memberikan pengorbanan dalam menghadapi umat manusia yang sangat besar sebagaimana para sahabat di dalam perang Badr telah bersumpah kepada Hadhrat Rasulullah saw bahwa meskipun jumlah mereka sangat sedikit melawan para musuh yang sangat besar dan kuat, mereka memastikan bahwa para musuh harus terlebih dahulu melangkahi mayat mereka jika ingin menyentuh Hadhrat Rasulullah saw.

Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda bahwa diriwayatkan ketika Hadhrat Yusuf as dibawa [oleh sebuah kafilah] ke Mesir untuk dijual di pasar, ada seorang wanita tua dengan dua kantong kapas hendak membeli Hadhrat Yusuf as. Para saudara beliau as telah menjualnya dengan harga yang murah kepada sebuah kafilah [rombongan dagang yang nantinya mengambil beliau dari sumur/perigi]. [ Perjanjian Lama, Kejadian 37; 24-28]

Wanita tua tersebut beranggapan dapat membeli Hadhrat Yusuf as dengan dua kantong kapas adalah mungkin karena pada saat itu kapas merupakan barang langka yang hanya terdapat di Mesir dan tidak terdapat di tempat asal kafilah tersebut. Ini bukanlah hal yang berlebihan bahwa harga kapas pada saat itu cukup tinggi. Wanita tua tersebut mengira dapat membeli Hadhrat Yusuf as dengan nilai kapas tersebut tetapi orang-orang yang berkumpul pada saat itu menganggap kapas tersebut tidak berharga.

Demikian pula, orang-orang di sekitar tempat Hadhrat Masih Mau’ud as [yang memusuhi] berkumpul di sebuah tempat dan menganggap 200-an orang yang hadir pada Jalsah tersebut sangat kecil seperti halnya [anggapan terhadap] wanita tua tadi yang membawa dua kantong kapas. Tetapi, kisah mereka (para Sahabat yang menghadiri Jalsah) lebih khas dibandingkan dengan kisah dijualnya Hadhrat Yusuf as di pasar. Contoh kecintaan mereka tampak lebih jelas perihal mana seseorang kehilangan pemikiran mereka dan kecintaan tersebut membawa mereka untuk memberikan pengorbanan yang di luar dugaan.

Ada sejumlah 200 sampai dengan 250 orang yang berkumpul pada Jalsah di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as tersebut. Hati mereka memohon kepada Tuhan pemilik segala langit. Memang, banyak di antara mereka yang masih memiliki orang tua yang masih hidup atau mereka adalah para orang tua itu sendiri. Tetapi, dunia mengejek dan mengabaikan mereka. Mereka menjadi seperti anak-anak yatim yang hak-haknya telah dirampas demi niat dan tujuan mereka. Seraya berkata di hadapan para Ahmadi pada masa beliau ra, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda kemudian, sesuai dengan janji Ilahi bahwa tangisan para anak-anak yatim senantiasa menggetarkan langit, situasi tersebut diciptakan ada di hadapan mereka.

Sesungguhnya, pada hari ini perkembangan dan kemajuan jauh lebih besar. Tempat pelaksanaan Jalsah di Qadian lebih besar dari sebelumnya dan acara Jalsah diterjemahkan kedalam 7 hingga 8 bahasa secara langsung. Orang-orang dari berbagai bangsa telah berkumpul di sana, termasuk mereka yang berasal dari Pakistan yang mahrum (kehilangan) untuk mengamalkan keimanan mereka secara terbuka di negara mereka sendiri.

Orang-orang yang berkumpul di Qadian pada hari ini hendaknya menanamkan ketulusan dan keyakinan yang sama sebagaimana yang dimiliki oleh 200-an peserta Jalsah pada masa awal. Demikian pula, Jalsah sedang berlangsung di Australia dan Pesisir Barat Amerika Serikat. Jemaat telah tumbuh di negara-negara ini namun jika mereka ingin mengingkatkan kualitas diri mereka, maka mereka perlu memperkuat kerohanian mereka. Penyemaian bibit oleh 200-an peserta pada saat tersebut telah menjadikan Jemaat seperti ini pada hari ini. Dengan demikian, merupakan tanggung jawab kita untuk memperkuat keimanan dan kemudian menjadi penerima janji kemenangan dari Allah Ta’ala.

Jumlah anggota dan sarana-prasarana kita masih kecil dibandingkan dengan populasi dunia tetapi kita harus melakukan tugas yang sama yang dilakukan oleh para pendahulu kita. Tujuan kita sangat besar. Mereka yang berkumpul di Qadian hendaknya banyak berdoa untuk hal ini. Sebuah wahyu Hadhrat Masih Mau’ud as adalah: Akan datang berbagai orang kepadamu dari tempat-tempat yang jauh. Akan datang berbagai hadiah bagimu dari tempat-tempat yang jauh. Allah akan memberi pertolongan kepada engkau dari Diri-Nya sendiri. Rencana luar biasa akan dibuat untuk menerima para tamu. Begitu banyak orang yang akan datang kepada engkau sehingga jalan yang mereka lalui akan semakin dalam karena perjalanan yang terlalu banyak.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra lebih lanjut bersabda bahwa beliau masih kecil ketika wahyu tersebut pertama kali diterima namun beliau ingat kondisi Qadian yang sederhana dan tidak dikenal pada saat itu. Ada tumpukan-tumpukan sampah di berbagai tempat dan bahkan tepung pun tidak tersedia meskipun dalam jumlah yang sedikit di Qadian. Orang-orang menggiling gandum untuk keperluan mereka sendiri. Jika beliau ra memerlukan sesuatu, Hadhrat Masih Mau’ud as harus meminta seseorang untuk pergi ke Lahore atau Amritsar untuk memperolehnya.

Tidak ada seorang pun yang mengunjungi Qadian dan jangankan orang-orang dari luar kota, tetangga beliau sendiri tidak mengenal beliau as. Bahkan orang-orang hanya mengenal saudara laki-laki beliau dan mengira bahwa ayah beliau hanya memiliki seorang anak laki-laki. Pada saat seperti itulah Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa Dia akan memberikan kehormatan kepada beliau as, bahkan kehormatan akan datang kepada beliau.

Pada Jalsah Salanah Hadhrat Masih Mau’ud as yang terakhir, 700 orang hadir dan terjadi begitu banyak kesalahan dalam pengaturan sehingga para peserta tidak memperoleh makanan hingga pukul 3 pagi. Peristiwa ini terjadi pada saat Hadhrat Masih Mau’ud as memperoleh wahyu: Wahai nabi, berilah makan mereka yang lapar dan yang kesulitan.

Diketahui pada pagi hari bahwa orang-orang berdiri di Langgar Khana hingga jam 3 pagi dan tidak diberi makanan. Hadhrat Masih Mau’ud as perintahkan untuk memasak kemudian memberi makan orang-orang.

Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as pergi berjalan-jalan, 700 orang ini mengerumuni beliau as. Mereka mungkin telah pernah melihat suatu pemandangan seperti itu [kerumunan orang ramai] di tempat-tempat pertunjukan tetapi tidak pernah melihatnya dalam suasana kerohanian. Ada banyak tekanan dan dorongan. Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri terdorong-dorong sehingga sepatu beliau terlepas setelah berjalan beberapa langkah dan seseorang pun menolong memasangkannya kembali.

Diantara 700 orang tersebut ada 2 orang petani. Seseorang bertanya kepada yang lain apakah ia telah bersalaman dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Ia menjawab bahwa sekarang bukanlah saat untuk bersalaman karena ia tidak mungkin dapat mendekati Hadhrat Masih Mau’ud as. Yang pertama berkata kapan lagi ia memperoleh kesempatan untuk bersalaman dengan Hadhrat Masih Mau’ud as? Ia katakan kepada temannya untuk pergi bersalaman dengan beliau as meskipun jika tubuhnya harus terpotong-potong karena berdesak-desakan. Sungguh saat itu adalah ketika berbagai masalah muncul dalam penyediaan makanan bagi 700 orang dan sulit untuk bersalaman dengan beliau as.

Pada hari ini, pertolongan Allah Ta’ala bersama Jemaat ini dan ribuan orang dari berbagai negara telah berkumpul di Qadian untuk menghadiri Jalsah. Berbagai keperluan untuk penyediaan makanan bagi orang-orang dari berbagai daerah di dunia dipersiapkan dan keramah-tamahan dalam penerimaan tamu sedang diperlihatkan. Hal ini juga ditunjukan di berbagai negara lainnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as biasa bersabda bahwa Jemaat telah berkembang dengan sangat cepat dan hal ini menunjukan bahwa tugas beliau as telah selesai. Beliau sering mengulang-ulang bahwa tugas yang untuk itu beliau as diutus oleh Allah Ta’ala telah selesai. Begitu banyak orang telah menerima beliau as sehingga tugas beliau telah terpenuhi.

Berbagai hal tentu telah berubah secara luar biasa dan sekarang ribuan orang berkumpul dari seluruh dunia untuk kegiatan-kegiatan Jemaat. Ini semua merupakan tanda-tanda menakjubkan yang menunjukan pertolongan Allah Ta’ala. Permusuhan juga senantiasa meningkat seiring dengan kemajuan demikian tetapi segala sesuatu yang berada pada takdir Ilahi senantiasa akan terjadi.

Tidak diragukan lagi, kemajuan tersebut begitu membahagiakan namun juga menarik perhatian kita terhadap tanggung jawab yang kita emban. Jemaat didirikan lebih dari di 200 negara dan senantiasa terus mengalami kemajuan.

Permusuhan terhadap kita pada awalnya hanya terbatas di anak benua saja (India) tapi sekarang sedang menyebar ke berbagai negara lainnya. Dua hari yang lalu, dua orang Ahmadi disyahidkan di Kirgistan. Pada hari ini sebelum shalat Jumat, terjadi pengeboman di salah satu mesjid di Bangladesh dimana beberapa Ahmadi juga terluka. Semoga luka yang mereka alami bukan menjadi ancaman bagi kehidupan mereka dan semoga mereka cepat memperoleh kesembuhan. Para penentang kita yang terlahir akibat kebencian terus meningkat/bertambah dan akan terus meningkat sebagaimana halnya kemajuan kita yang juga terus meningkat.

Wahyu Hadhrat Masih Mau’ud as yang lain memiliki makna ganda (dua makna). Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa kita tidak dapat menafsirkannya dengan suatu cara tertentu dan tidak pula kita mengetahui kapan (bilakah) dan bagaimana wahyu tersebut akan tergenapi. Wahyu tersebut berbunyi: لنگر اُٹھا دو ‘Langgar utha do’ “Angkatlah Langgar ini!” [Langgar dalam bahasa urdu berarti dapur umum dan juga jangkar] Jika kata langgar disini dipahami sebagai jangkar, maka wahyu tersebut berarti penyebaran dan perluasan pesan Ilahi ke setiap tempat.[ Jangkar, sebuah benda berat yang diikatkan dengan tali kuat atau rantai pada sebuah kapal guna ditambatkan ke dasar laut bila ingin berhenti. Mengangkat jangkar berarti bersiap-siap bagi sebuah kapal untuk berangkat dan berlayar.] Akan tetapi, jika dipahami sebagai mengangkat Langgar Khanah/Dapur umum, maka akan berarti jumlah para tamu telah menjadi begitu banyak sehingga tidak mungkin untuk mengelola Langgar Khana dan orang-orang akan diminta untuk mengelola makanan dan akomodasinya sendiri.

Kita tidak dapat menentukan dengan pasti antara dua makna ini dan tidak pula kita dapat menentukan saat penggenapannya. Selama masih mungkin bagi manusia untuk mengakomodir para tamu, maka perintahnya adalah: ‘Perluaslah tempat tinggal engkau’ [wassi’ makaanaka!’] dan sediakanlah akomodasi bagi para tamu. Oleh karena itu, paling tidak di Qadian dan dimana pun Jemaat berada, hendaknya disediakan akomodasi baik yang sementara dan juga yang permanen.

Dengan karunia Allah Ta’ala, sejalan dengan wahyu: ‘Perluaslah tempat tinggal engkau’, Qadian sedang diperluas dalam skala besar. Wisma-wisma baru bagi para tamu dan tempat-tempat lainnya sedang dibangun dan para tamu disediakan fasilitas dan kenyamanan yang terbaik. Tentu, segala fasilitas ini tidak dapat dianggap seperti rumah dan para tamu hendaknya memahami hal ini dan senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala serta fokus terhadap tujuan utama mereka menghadiri Jalsah.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as berkeinginan semua Ahmadi yang dapat menghadiri Jalsah, hendaklah pergi ke tempat Jalsah sehingga mereka dapat mendengarkan ceramah atau memberikan ceramah tentang Allah Ta’ala.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra juga menyebutkan bahwa fasilitas perjalanan di India tidaklah sama seperti di Eropa dan beliau bersabda bahwa Jemaat tidak memiliki orang-orang kaya. Beliau berharap bahwa jika orang-orang kaya masuk Jemaat, mereka dapat menghadiri Jalsan Qadian dari tempat-tempat yang jauh.

Beliau juga bersabda bahwa orang-orang sukses seperti itu cenderung malas untuk datang ke Qadian dan hal ini berdampak negatif terhadap orang-orang di sekitar mereka. Beliau bersabda bahwa kaum pria yang membawa keluarga mereka ke Jalsah telah menegakan Ahmadiyah dengan kokoh di dalam keluarga mereka dan anak-anak mereka senantiasa menjadi tertarik dengan Jemaat. Mereka yang tidak mengunjungi Qadian selama hari-hari Jalsa berarti tidak hanya melanggar perintah Hadhrat Masih Mau’ud as tetapi juga menghilangkan keturunan mereka (dari Jemaat).

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa jika tiba suatu saat ketika Jemaat kita memiliki orang-orang yang kaya di Amerika yang dapat melakukan perjalanan selain berangkat untuk beribadah haji [ke Makkah], mereka hendaknya juga mengunjungi Qadian sekali atau dua kali di masa hidup mereka. Beliau bersabda bahwa beliau yakin, pasti akan tiba saat ketika orang-orang dari tempat yang jauh akan berpergian ke Qadian.

Hadhrat Masih Mau’ud as melihat di dalam mimpi bahwa beliau as sedang berenang di udara. Beliau as bersabda bahwa Hadhrat Isa as berjalan di air sedangkan beliau as telah berenang di udara dan karunia Allah Ta’ala yang turun kepada diri beliau as lebih banyak daripada kepada Hadhrat Isa as. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda berkenaan dengan hal ini bahwa beliau ra yakin suatu saat akan tiba ketika berita selama hari-hari Jalsah akan tersiar sehingga begitu banyak pesawat udara dengan para penumpang yang merupakan peserta Jalsah akan berdatangan dari berbagai negara. Beliau bersabda bahwa hal ini mungkin akan menjadi sesuatu hal yang menakjubkan (mengherankan) di mata dunia namun tidak bagi Allah Ta’ala.

Kita sudah melihat penggenapan hal ini dan tidak lama lagi akan dicapai bahwa suatu hari akan ada banyak penerbangan yang disewa untuk menghadiri Jalsah Qadian.

Adalah kehendak Allah Ta’ala untuk menjadikan Qadian sebagai pusat agama setelah Mekkah dan Madinah. Sungguh, Mekkah dan Madinah adalah tempat-tempat yang memiliki hubungan dengan wujud Hadhrat Rasulullah saw. Beliau saw merupakan pendiri Islam dan guru serta pembimbing Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan demikian, kedua tempat tersebut memiliki keistimewaan di atas/melebihi Qadian.

Namun, setelah dua tempat tersebut, Allah Ta’ala telah menjadikan Qadian sebagai pusat hidayat/petunjuk/bimbingan. Selain menjadi tempat-tempat yang penuh berkat, Mekkah dan Madinah biasa menjadi pusat pertablighan yang merupakan suatu hal yang telah dilupakan oleh orang-orang di sekitarnya. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa beliau yakin ketika Ahmadiyah tersebar hingga ke tanah Arab, kota-kota suci ini akan kembali kepada kemuliaannya yang sejati.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra memberikan nasehat bahwa segala hal yang membawa kebahagiaan juga memiliki corak penderitaan, seperti halnya bunga yang disertai dengan duri. Kemajuan membawa kecemburuan dan kemakmuran diikuti dengan kemunduran. Ada kekuatan yang saling berlawanan di atas jalan untuk meraih segala hal yang baik.

Pada kenyataannya seseorang tidak layak memperoleh kesuksesan sebelum ia mengalami penderitaan dan kesulitan. Inilah sebab mengapa Jemaat para Nabi Allah harus menanggung kesulitan atau semacamnya. Beberapa ujian juga menjadi begitu luar biasa sehingga mereka yang memiliki keimanan yang lemah akan keluar sedangkan yang lain juga tersandung ketika dihadapkan pada kesulitan-kesulitan kecil.

Sebagai contoh, seseorang mengunjungi Qadian dari Peshawar semasa Hadhrat Masih Mau’ud as. Adalah kebiasaan Hadhrat Masih Mau’ud as untuk tetap berada di mesjid setelah shalat maghrib dan mengadakan majelis. Sungguh, suatu semangat yang khas telah dibangkitkan dengan adanya seorang nabiullah sehingga orang-orang akan bergegas untuk duduk sedekat mungkin dengannya. Pada majelis seperti inilah pengujung dari Peshawar tersebut mulai melaksanakan shalat sunnah kemudian memperpanjang shalatnya sehingga orang-orang harus duduk dan menunggunya sampai selesai. Akan tetapi ketika beberapa orang mulai sedikit demi sedikit mendekati Hadhrat Masih Mau’ud as, yang lain juga mulai ikut mendekati beliau as. Dalam situasi demikian, sikut seseorang mengenai pengunjung tersebut. Ia sangat kesal dan berkata bahwa nabi dan al-masih seperti apa beliau ini bahwa orang-orang saling dorong di dalam majelisnya. Dan ia keluar karena masalah sepele ini dan kemudian pergi. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa mereka yang mengunjungi Qadian hendaknya tidak juga tersandung jika mereka merasakan ketidaknyamanan, dan hendaknya pula tidak digelisahkan oleh beragam orang yang berkumpul di Jalsah.

Keramah-tamahan dalam penerimaan tamu diperlihatkan pada saat Jalsah akan tetapi mungkin terdapat sedikit kekurangan. Para peserta Jalsah hendaknya melupakan kekurangan tersebut dan tidak menjadikannya sebagai batu sandungan bagi kerohanian mereka. Semoga Jalsah Qadian dan Jalsah-Jalsah lainnya diberikan keberkatan dan semoga semua peserta Jalsah menjadi penerima doa Hadhrat Masih Mau’ud as dan semoga mereka sendiri juga senantiasa berdoa!

Shalat jenazah ghaib diumumkan bagi Yunus Abdul Jalil dari Kirgistan yang dishahidkan pada tanggal 22 Desember. Dua penyerang menembaknya ketika sedang berdiri di luar rumah bersama tetangganya.

Penerjemah: Hafizurrahman;
Editor: Dildaar Ahmad