Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis–ayyadahul-Laahu Ta’aalaa binashrihil-‘Aziiz pada 29 Januari 2016 di Baitul Futuh Morden, London

“Assalaamu‘alaikum wa rahmatul-Laah”

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ
أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ
الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ
نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ
أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ
آمين

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam bersabda, “Allah Ta’ala itu tersembunyi namun Dia dapat diketahui melalui Qudrat-Nya, dan Dia dapat dikenali keberadaan-Nya melalui doa. Setiap manusia, termasuk para raja dan kaisar, senantiasa menghadapi masa-masa sulit yang menjadikannya jatuh tak berdaya dan membuatnya tidak tahu apa yang hendak dilakukan pada saat seperti itu. Selama masa-masa seperti itu, berbagai macam kesulitan dapat diatasi melalui doa.”

Hadhrat Masih Mau’ud as di berbagai tempat dan dalam konteks yang beragam telah menjelaskan mengenai pentingnya doa. Para sahabat beliau as sedemikian rupa memperoleh pengetahuan yang mendalam perihal ini. Iman dan keyakinan mereka atas doa ialah disebabkan pergaulan erat mereka dengan beliau as sampai-sampai itu memberikan kesan dan pengaruh yang besar bagi orang-orang selain Ahmadi. Demikian pula orang-orang dari pengikut agama lain yang menjalin persahabatan dengan para Ahmadi juga mengakui bahwa doa-doa mereka ini banyak yang terkabul.

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ta’ala ‘anhu bersabda, “Suatu kali diperdengarkan suatu peristiwa kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang membuat beliau as tertawa. Peristiwa tersebut adalah berkenaan dengan Munshi Aroora Khan Sahib yang dengan sangat teratur mengunjungi Qadian di masa-masa awal. Namun karena sibuk dengan urusan kantor, beliau kemudian tidak dapat mengambil cuti seperti sebelumnya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Saya saat itu masih kecil tapi ingat pada saat Munshi datang ke Qadian lalu menyapa orang-orang dengan hangat seperti seorang saudara yang telah bertahun-tahun tidak berjumpa karena lama terpisah. Munshi Sahib bekerja di perkantoran seorang hakim. Suatu kali beliau meminta izin cuti agar dapat berkunjung ke Qadian namun sang hakim menolak karena saat itu di kantor sangat sibuk dengan pekerjaan.

Munshi Sahib berkata kepadanya, ‘Baiklah, lanjutkanlah pekerjaan kalian. Tn berkata bahwa pekerjaan banyak maka teruskanlah bekerja agar tidak memberikanku izin. Namun, jika saya tidak diberikan izin pergi maka sejak hari ini saya akan terus selamanya memanjatkan doa agar pekerjaan yang Anda inginkan tidak selesai-selesai.’ Sang Hakim kemudian terus mengalami kerugian yang membuatnya ketakutan. Walhasil, sebagai pengaruh ketakutannya itu setiap hari Sabtu ia akan meminta karyawannya untuk bekerja dengan cepat agar Munshi Sahib tidak ketinggalan kereta. Kemudian ia juga menawarkan cuti kepada Munshi Sahib. Demikianlah pengaruh dari kesungguhan doa Munshi Sahib yang membuat gentar pihak lain, dalam hal ini Hakim itu.

Mereka itulah (Para Sahabat) orang-orang yang memberikan kesan dan pengaruh pada orang-orang lain dengan kesalehan dan doa-doa mereka. Inilah yang hendaknya senantiasa kita jadikan pertimbangan sebagai tolok ukur di hari-hari ini dan kita perkuat hubungan dengan Allah Ta’ala lebih erat lagi senantiasa.

Saya hendak jelaskan sebagian peristiwa dan riwayat hidup ‘alaihish shalaatu was salaam yang diriwayatkan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, dan itu sangat penting bagi pendidikan kita dan memajukan kerohanian kita. Di dunia ini terdapat orang-orang yang dalam hal tabiat dan ketajaman indra yang berbeda-beda. Ada yang begitu sangat peka dibanding orang-orang lainnya. dalam merasakan suhu panas atau dingin pada berbagai kondisi atau mereka berbeda dalam hal ketajaman indra penciuman mereka.

Ini adalah bagian dari diri manusia yang dapat memunculkan perbedaan-perbedaan tersebut dan kebanyakan mereka dapat merasakan hal ini baik panas ataupun dingin, bau ataupun wangi. Orang yang tidak dapat merasakan hal ini tidak bisa membuktikan apakah sesuatu hal tersebut dapat memberikan dampak. Terkadang, bagi orang yang sudah biasa hidup di tempat yang dingin akan merasa biasa saja jika harus berada di tempat yang bagi orang lain akan membuat mereka menggigil kedinginan. Hal ini bukan berarti suhu yang dingin tersebut tidak berdampak bagi mereka, namun adalah karena mereka telah terbiasa hidup di daerah dingin.

Dia shalat secara lahiriah mematuk-matukkan tubuhnya dan balik pulang tanpa membekaskan dalam shalat mereka sekecil saja. Penegasan indra kerohanian seseorang takkan diterima kecuali kesaksian mereka yang pada diri mereka terdapat indra yang lebih banyak dan berkesan lebih banyak, dan orang-orang yang beribadah dan ibadahnya berbekas akan tampak pada diri mereka.

Terdapat perbedaan-perbedaan besar dalam hal indra pada manusia, dan ini juga dasar yang lazim bagi alam rohaniah juga, dapat Anda lihat shalat misalnya yang bagi sebagian orang berpengaruh sangat besar dan pada sebagian orang lainnya berpengaruh lebih kecil. Menjadi suatu keharusan untuk memperbanyak terus jumlah orang dalam Jemaat yang mempunyai indra yang menerima pengaruh dan kesan kerohanian, lalu mengabarkan kepada orang-orang lainnya perihal mutu, faedah dan sifat shalat yang hakiki dan ibadah hakiki, dan apakah itu indra yang harus dimunculkan guna tujuan itu.

Berkenaan dengan perbedaan kepekaan ini, Hadhrat Masih Mau’ud as meriwayatkan bahwa beberapa orang kota berkumpul untuk membicarakan biji-bijian yang panas. Mereka berkata bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memakan sebanyak 230 gr biji-bijian ini tanpa jatuh sakit. Salah seorang dari mereka mulai angkat bicara dan berkata bahwa jika seseorang bisa memakan 230 gr biji-bijian ini, ia akan memberinya 5 rupee. Seorang petani yang bermuka masam sedang lewat pada saat itu. Dan ketika mendengar orang-orang tersebut, ia menjadi heran bagaimana seseorang dapat dibayar untuk memakan sesuatu yang sangat lezat. Ia bertanya kepada mereka, apakah saya harus memakan biji-bijian ini dengan tanamannya? Ia bertanya demikian karena ia tidak percaya bahwa ada hadiah yang akan diberikan karena hanya memakan biji-bijian ini dan bukan tanamannya. Di satu sisi, orang-orang berfikir tidak mungkin untuk memakan 230 gr biji-bijian ini tetapi sebaliknya ada seseorang yang siap untuk memakannya bersama dengan tanamannya. Prinsip yang sama senantiasa berlaku dalam dunia kerohanian. Doa-doa memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap beberapa orang dibandingkan dengan yang lainnya karena mereka memiliki pandangan kerohanian yang lebih besar.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menjelaskan bahasan ini dari sudut pandang lain tetapi dari hal itu beliau ra juga menjelaskan bahwa pada saat Hadhrat Masih Mau’ud as datang, para ulama besar yang mempunyai fitrat mulia mendapatkan kehormatan berbaiat kepada beliau as juga.

Hadhrat Khalifatul Masih Awwal meriwayatkan, “Ada seorang sepuh yang juga merupakan ulama besar dalam hal sharf dan nahwu (tata bahasa Arab). Beliau terkenal dalam keilmuannya yang mendalam di seluruh India. Ia terbiasa berpenampilan sangat sederhana sehingga bisa saja dengan mudahnya orang menganggapnya sebagai seorang tukang atau pekerja yang baru pulang dari kebun. Namanya Maulwi Khan Malik. Beliau mengunjungi Qadian dan setelah mendengarkan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau kemudian menerimanya. Lalu ketika beliau pergi ke Lahore untuk pulang ke rumahnya, di perjalanan beliau ingin mengunjungi Maulwi Ghulam Ahmad. Saat itu Maulwi Ghulam Ahmad yang seorang Alim terkenal sedang menyampaikan ceramah di masjid milik kerajaan. Warga Lahore membuatnya jadi hartawan. Ratusan murid belajar pada beliau. Namun dulunya pernah menjadi murid Maulwi Khan Malik. Maulwi Khan Malik sampainya di masjid kerajaan. Para murid Maulwi Ghulam Ahmad tidak mengetahui kedudukan mulia Maulwi Khan Malik. Mereka memandang penampilan lahiriahnya dan menganggapnya hanya orang biasa umumnya.

Maulwi Ghulam Ahmad bertanya, ‘Anda dari mana?’ ‘Saya telah pulang dari Qadian.’ Maulwi Ghulam Ahmad merasa heran dan bertanya, ‘Dari Qadian?’ Maulwi Khan Malik menjawab, ‘Iya, dari Qadian.’ Maulwi Ghulam Ahmad bertanya, ‘Untuk apa Anda ke sana?’ ‘Saya ke sana untuk bergabung mengikut Tn. Mirza.’ Maulwi Ghulam Ahmad bertanya, ‘Anda sendiri seorang ulama besar, lalu kualitas apa yang Anda lihat di dalam dirinya sehingga mau menjadi muridnya?’ Maulwi Khan Malik berkata, ‘Lupakanlah soal itu! Perhatikanlah urusan engkau sendiri karena masih banyak hal yang belum engkau pahami meski telah banyak berceramah.’ Perkataan ini membuat para muridnya marah karena Maulwi Ghulam Ahmad termasuk ulama terkenal [dan itu dianggap mereka menghina beliau]. Mereka berkata kepada Maulwi Khan Malik, ‘Apa yang kaukatakan wahai Syaikh tua!’ Namun Maulwi Ghulam Ahmad menenangkan dan melarang mereka seraya berkata, ‘Diamlah kalian semua! Apa yang dikatakan Maulwi Khan Malik adalah benar.’”

Maka terdapat contoh orang-orang yang berfitrat baik yang bergabung baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan juga contoh orang yang tidak terdapat sekecil saja permusuhan dan tidak sombong dengan ilmu mereka.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra juga menceritakan peristiwa lainnya, “Seorang Arab datang mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud as. Karena terkadang orang-orang yang datang kepada beliau as itu meminta sesuatu dari beliau as maka ketika orang Arab itu hendak kembali, Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan beliau sesuatu untuk biaya perjalanan, namun beliau menolak dan berkata, ‘Saya telah datang ke Qadian karena telah mendengar pendakwaan Tuan sebagai orang yang diutus oleh Allah dan bukan karena untuk memperoleh sesuatu.’

Ini merupakan kondisi yang baru karena sebelumnya tidak ada seorang pun dari daerah itu yang datang mengunjungi Qadian hingga sekarang yang tidak suka meminta-minta (hingga zaman beliau as). Beliau as lalu meminta orang tersebut untuk tinggal beberapa hari lagi dan orang itu pun menerimanya. Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as menunjuk sebagian sahabat beliau untuk menablighi orang itu. Namun demikian, beberapa hari bersamanya, tabligh tersebut tidak berpengaruh terhadap dirinya. Akhirnya, para Muballigh yang ditugaskan berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Beliau merupakan seseorang yang sangat berghairat, sungguh tidak sama dengan mereka yang suka meminta-minta dan beliau sedang mencari kebenaran. (Sebagaimana kita dapati hal seperti kegemaran dan tekad luar biasa, dengan karunia Allah, pada banyak saudara-saudara kita bangsa Arab yang bergabung dengan Ahmadiyah). Atas hal itu, kami meminta Tuan memanjatkan doa baginya. Karena dia tidak paham masalah selama ditablighi.’ Hadhrat Masih Mau’ud as mendoakan orang Arab itu dan mengabarkan bahwa ia akan diberi petunjuk. Termasuk keajaiban Qudrat Allah Ta’ala bahwa pada malam itu juga doa itu berpengaruh sehingga pada pagi harinya orang tersebut baiat. Lalu ia pulang.

Kemudian, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Saya mendengar berita bahwa ketika orang tersebut naik haji beliau giat bertabligh perihal Ahmadiyah kepada para kafilah (rombongan) Haji. Beberapa orang dari kafilah memukulinya sedemikian rupa hingga dia mau pingsan namun hal itu tidak menghalanginya dan ia terus bertabligh lagi ke kafilah lain.” Dan, atas dia maka hati-hati manusia takkan terasa lapang kecuali setelah Allah Ta’ala melapangkannya dan setelah itu muncullah atas diri seseorang berupa antusiasme ideal (semangat yang semestinya) yang dengan keberadaannya tidak mencemaskan kesusahan apa pun atau tidak peduli dengan berbagai kesulitan yang dihadapinya kemudian.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan, “Orang pertama (kalangan awal) yang masuk Islam pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as dari kalangan bangsa berbahasa Inggris, juga dari Amerika (the earliest prominent Anglo-American Muslim convert) ialah orang yang bernama Tn. Alexander Russel Webb. Beliau bekerja sebagai Konsul Amerika Serikat di Philipina. Ketika selebaran pengumuman Hadhrat Masih Mau’ud as ramai diberitakan di Eropa dan Amerika, muncullah dalam diri beliau simpati mengakui Islam, mulailah beliau mengadakan menulis surat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Hal itu membawanya untuk menerima Islam. Beliau kemudian mewakafkan hidupnya untuk menyebarkan Islam. Setelah itu, beliau mengunjungi India dan ingin bertemu dengan Hadhrat Masih Mau’ud as namun para Maulwi (dari kota-kota besar seperti Lahore dan lainnya) menghalanginya seraya berkata, ‘Jika Anda ingin bertemu dengan Tn. Mirza, maka umat Islam lainnya tidak akan memberikan dukungan sumbangan bagi Anda untuk bertabligh menyebarkan Islam dan juga takkan menerima anda sebagai bagian dari kaum Muslimin.’

Beliau diperdaya oleh rencana mereka lalu meninggalkan India tanpa bertemu dengan Hadhrat Masih Mau’ud as tetapi pada akhirnya merasa kecewa juga karena ia tidak memperoleh dukungan dan pertolongan umat Islam. Beliau menulis surat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as sebelum kewafatan beliau as dan berkata di dalamnya, ‘Saya telah banyak menderita dan mengalami kesulitan karena tidak mengikuti nasehat Tuan. Tuan (Hadhrat Masih Mau’ud as) berkata kepada saya bahwa umat Islam tidak tertarik untuk mengkhidmati agama namun saya tidak mendengarkan Tuan dan sebagai akibatnya saya tidak dapat berjumpa dengan Tuan.’ Meski demikian, orang itu tetap sebagai orang Muslim sampai akhir hayatnya dan tetap ada perhubungan yang tulus dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Demikianlah seorang Muslim awal di Amerika.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Pada saat ini saya lihat Jemaat sedang mengalami kemajuan yang lebih besar di Amerika dibandingkan di Eropa. Tidak diragukan lagi Ahmadiyah pasti tersebar di sebagian negara Eropa juga dan itu terletak di bagian barat dunia namun terlihat tanda-tanda bahwa kemajuan Jemaat di Amerika lebih luas lagi.”

Semoga Allah memberi taufik kepada Jemaat Amerika untuk mencari orang lain seperti beliau (Tn. Alexander Russel Webb) – dari kalangan yang berfitrat saleh – dan berusaha keras dan bersungguh-sungguh mengumpulkan mereka di bawah bendera Nabi Muhammad saw dan hendaknya berdiri bersama untuk itu dengan usaha yang kompak, intensif dan kuat, hal mana itu guna menjadikan harapan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjadi kenyataan. Tak diragukan lagi ada suatu masa ketika banyak orang di Amerika yang masuk Ahmadiyah dan mereka menempel erat dengan Ahmadiyah tapi banyak pula dari mereka yang tidak mampu membuat anak keturunan mereka berpegang teguh dengan Ahmadiyah, entah karena kecenderungan duniawi, atau karena sedikitnya perhubungan dengan Jemaat, atau mungkin karena sebab-sebab lainnya juga. Ringkasnya, hendaknya Jemaat Amerika berupaya sungguh-sungguh dalam hal ini.

Bagaimanakah jalinan komunikasi antara Hadhrat Masih Mau’ud as dan anak-anak, bagaimana beliau as menaruh perhatian untuk mendidik mereka? Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda mengenai hal itu, “Cara yang benar tarbiyat bagi anak-anak hendaknya diberikan saat santai contohnya ketika mereka sedang bermain. Bagi anak-anak kecil, tarbiyat juga bisa diberikan melalui kisah-kisah. Sedangkan untuk kaum dewasa ialah dengan nasehat-nasehat. Penceritaan kisah-kisah ialah guna mengarahkan dan menajamkan perhatiannya. Kisah-kisah ini tidak harus hanya yang berbentuk dongeng hasil karangan khayalan pikiran manusia belaka. Sewaktu kecil, Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menceritakan kepada kami hikayat dan kisah-kisah nyata (memang betul-betul terjadi), seperti Hadhrat Yusuf as, Nuh as dan Musa as dan bagi beliau sebagai seorang anak kecil, riwayat-riwayat ini merupakan kumpulan kisah.

Hadhrat Masih Mau’ud as juga menceritakan kisah-kisah dari buku 1001 malam, misalnya mengenai kisah orang yang iri dengki dan yang dijadikan sasaran kedengkian dan iri hatinya. Bisa saja terdapat beberapa kisah yang mengandung pesan moral di dalamnya, sama saja baik itu dongeng khayali maupun kisah nyata.

Demikianlah kami mendapatkan pengajaran dari beliau as banyak hal mengenai idiom (ungkapan) dan peribahasa atau perumpamaan. Sarana ideal pengajaran pada masa kanak-kanak ialah dengan penceritaan kisah-kisah. Tidak salah lagi bahwa sebagian dongeng-dongeng itu tidak penting, tidak punya makna dan buruk, tetapi terdapat banyak sekali kisah-kisah yang bermanfaat bagi pengajaran akhlak dan pemberian pelajaran dan hikmah yang agung bagi anak-anak. Lakukanlah pengajaran kepada anak-anak dengan cara ini di masa kanak-kanak mereka, tetapi ketika anak-anak sudah tumbuh sedikit (remaja), pemberian tarbiyat kepada mereka bisa melalui permainan dan olahraga. (Sebagian orang tua datang kepada saya (Hudhur) anak-anaknya bermain yang bersifat olahraga terlalu lama bukannya bermain game atau televisi, jika itu terjadi mereka memanggilnya pulang.) Sesungguhnya pengajaran yang diberikan kepada anak-anak yang berasal dari buku itu diberikan pada mereka melalui permainan yang bersifat praktek tapi masa pengajaran dengan dongeng-dongeng ialah bagi anak-anak dibawah umur remaja yang sudah suka dengan kegiatan olahraga atletik.

Para ayah/bapak hendaknya juga memberikan waktunya bagi anak-anak mereka. Jika para ayah menaruh perhatian pada tarbiyat anak dan membuat jalinan persahabatan dengan anak-anak dan memberikan pendidikan yang benar serta terikat dengan jiwa mereka maka mau tak mau akan hilanglah berbagai masalah tarbiyat yang dikeluhkan oleh para bapak dan para ibu.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Tujuan penceritaan kisah-kisah kepada para anak di masa kanak-kanak mereka ialah supaya mereka tidak membuat keributan dan kerusuhan yang selanjutnya dapat mengganggu waktu orangtuanya. Tapi, sebagai tambahan guna mencapai tujuan itu dengan kisah-kisah bermanfaat yang berguna bagi masa depan anak-anak tersebut tentu itu hal yang brilian.” Anak-anak tidak menyadari betapa beratnya pekerjaan orang tua mereka sehingga dengan menceritakan kisah-kisah tersebut senantiasa membuat mereka tenang ketika asyik mendengarkannya lalu tertidur.

Pada masa ini dalam rangka mencegah anak mengganggu orangtua, maka orang tua mereka memberikan mainan gadget, ipad atau mendudukkan mereka di depan computer dan televise. Jika pada benda elektronik tersebut ada kisah-kisah yang bermanfaat maka itu bagus tapi kebanyakan itu membuang banyak waktu mereka. Anak-anak kecil hendaknya dicegah terlalu lama di depan televisi karena hal-hal pertama yang mereka lihat akan berpengaruh dalam jangka panjang, kedua, para dokter juga berkata bahwa itu dapat mempengaruhi pemikiran si anak dibawah dua tahun karena ia hanya secara sempit memandang sesuatu, di sisi lain timbul pula pemikiran buruk/jahat.

Adapun perihal persahabatan hendaknya itu tidak menjadikan penyebab kehancuran dan kerusakan. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyampaikan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menceritakan sebuah kisah/dongeng lama mengenai seorang laki-laki yang bersahabat dengan seekor beruang. Pria itu memelihara seekor beruang dan mereka menjadi sahabat yang baik. Beruang itu biasa mengunjungi orang tersebut dan duduk bersamanya.

Hikayat/dongeng ini dibuat/dikarang dimaksudkan untuk mengungkapkan suatu kebenaran. Tak ragu lagi bahwa manusia memelihara binatang dan menuliskan dongeng-dongeng. Tetapi, kisah apapun yang Hadhrat Masih Mau’ud as sampaikan senantiasa dalam rangka menjelaskan suatu kebenaran atau mengandung suatu pesan moral di dalamnya. Saya jelaskan hal ini supaya nanti tidak ada yang mengkritik, “Alangkah sangat tololnya orang-orang itu yang percaya binatang beruang bisa mengunjungi manusia dan duduk-duduk bersamanya.” Maka termasuk dari nilai hikayat-hikayat seperti ini ialah menyampaikan pelajaran kepada orang-orang. Binatang-binatang dalam hikayat tersebut dimaksudkan pada manusia yang bersifat serupa binatang tersebut. Artinya, orang-orang yang bersifat seperti sifat mereka dan bertindak mirip dengan mereka. Sebagai contoh, di dalam dongeng-dongeng lama terdapat pertukaran antara lantai ubin keramik seorang raja dan lantai ubin keramik seekor singa, para menteri raja dan para ketua kaum hewan, dan sang raja yang menjelaskan kisah itu membacanya dengan rasa senang.

Suatu hari, ibu dari pria tersebut [dalam dongeng yang disebut sebelumnya] sakit. Ia duduk menemani ibunya seraya mengusir lalat yang menghinggapi ibunya. Sementara itu, ia harus pergi ke suatu tempat. Oleh karena itu, ia lalu meminta temannya, si beruang, untuk duduk di samping ibunya untuk mengusir lalat yang datang. Sang beruang pun mulai mengusir lalat dari ibu temannya namun lalat tersebut tetap saja datang lagi. Beruang tersebut berfikir bahwa lalat ini sangat mengganggu ibu temannya ini. Karena manusia dan hewan itu berbeda dan beruang ini tidak dapat menggerak-gerakkan tangannya seperti manusia maka beruang tadi pun memutuskan untuk mengambil suatu cara lain yang ia ketahui. Ia mengambil batu yang besar lalu memukul lalat tersebut. Akan tetapi pada prosesnya, batu tersebut juga mengenai ibu temannya ini. Pesan moral dari kisah ini adalah bahwa beberapa orang yang kurang akal senantiasa menjalin ikatan persahabatan, tetapi tidak tahu bagaimana cara menjaga ikatan tersebut. Mereka mungkin melakukan sesuatu dengan niat baik bagi temannya namun berakhir dengan mendatangkan kerugian.

Perumpamaan ini, yaitu sebagian orang yang sangat bodoh bersahabat dengan orang lain namun mereka tidak tahu pokok-pokok persahabatan, dan di sebagian besar waktu mereka tulus murni dalam pertemanannya tapi sebenarnya tengah menghancurkan temannya. Jika mereka benar-benar tulus tentu takkan membawanya kearah kekafiran dan bahkan jika mereka menemukan temannya kepada kekafiran tentu ia mencegah mereka. Betapa indahnya Hadhrat Rasulullah saw menggambarkan bentuk persahabatan yang baik dengan bersabda, انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا ‘Unshur akhaaka zhaaliman au mazhluuman.’ “Tolonglah saudara kalian yang menganiaya atau yang teraniaya!” Para Sahabat bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ ‘Yaa Rasul Allah! Haadza nanshuruhu mazhluuman fakaifa nanshuruhu zhaaliman?’ – “Wahai Rasul Allah! Perihal menolong orang yang dianiaya, kami paham, namun apakah itu menolong orang yang menganiaya?” Beliau saw bersabda, تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ ‘Tahjuzuhu au tamna’uhu minazh zhulmi fa-inna dzaalika.’ – “Ketika seseorang menghentikan saudaranya yang aniaya dari berbuat zalim, hal ini berarti ia telah menolongnya.”

Maksudnya bukanlah dalam setiap keadaan senantiasa mendukung kawan guna menyenangkannya melainkan persahabatan sejati berarti seseorang bahkan mungkin pada suatu waktu harus menentang temannya agar dapat memberikan manfaat baginya. Jika kalian tidak melakukan hal itu berarti kalian tengah menghancurkannya atau membuatnya buruk dengan jalan lain. Kebanyakan manusia tidak paham perkara ini.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Ada dua orang saling berdebat. Seorang sahabat dari salah satu diantaranya ikut campur dalam perdebatan tersebut untuk memperlihatkan dukungannya sebagai seorang teman yang baik. Sementara itu, karena fitrat baiknya, orang yang telah berdebat tadi menjadi akur dengan orang yang ia debat namun sahabat salah satu dari mereka yang telah ikut campur dalam perdebatan tersebut akhirnya meninggalkan keyakinannya. Persahabatan dapat bermanfaat dan membawa seseorang dekat dengan Allah Ta’ala, namun persahabatan juga dalam banyak kejadian dapat membawa pada kehancuran dan kerusakan, dan juga dapat membuat kehancuran bagi diri sendiri. Memberikan dukungan kepada sahabat hendaknya dengan menggunakan akal sehat serta dapat mengontrol emosinya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Hadhrat Masih Mau’ud as biasa meriwayatkan kepada kami kisah berikut ini. Ada seseorang yang bersahabat dengan seekor beruang namun istri orang itu selalu saja mengejeknya karena hal ini. Suatu hari, istrinya mengejeknya dengan sangat keras sehingga terdengar oleh temannya, si beruang. Beruang tersebut memberikan sebuah pedang kepada sahabatnya dan memintanya untuk memenggal kepala istrinya. Pria tersebut menolak namun beruang tersebut tetap saja memaksanya sehingga pada akhirnya pria tersebut menyerang beruang tersebut. Beruang tersebut berdarah dan lari ke dalam hutan. Beruang tersebut kembali satu tahun kemudian dan meminta sahabatnya ini untuk melihat apakah lukanya tersebut masih menyisakan bekas. Pria itu mengeceknya lalu menjawab tidak. Beruang tersebut berkata, ‘Saya menemukan tanaman herbal di hutan yang kemudian saya gunakan untuk mengobati luka saya tetapi luka yang tersisa karena ejekan istri engkau tersebut masih ada. Terkadang sakit di dalam hati lebih besar dari pada sakit gigi, pedang lidah membuat luka yang selamanya tidak hilang.’”

Maka dari itu, hendaknya setiap orang memperhatikan hal ini agar menjaga kedamaian dan keamanan di dalam masyarakat. Kita harus menjaga perasaan orang lain. Hendaknya peluru dari lidah tidak menembakkan ke sasaran tanpa sebab sehingga membuat luka berdarah senantiasa. Inilah pelajaran yang harus diingat dan diambil oleh setiap Ahmadi.

Termasuk kewajiban setiap Ahmadi untuk menjaga imannya setelah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. terkadang, hal-hal sepele mengarahkan pada kesia-siaan iman sebagaimana dalam kisah seseorang yang menyia-nyiakan imannya karena membantu sahabatnya lalu berbalik punggung. Dan, pada kali lainnya, seseorang mengucapkan sesuatu yang menentang kehendak Allah hingga ia membuang imannya, oleh karena itulah, hendaknya kita terus memeriksa keadaan diri kita sendiri.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as berkali-kali meriwayatkan sebuah kisah berkenaan dengan Hadhrat Musa as. Ketika Hadhrat Musa as meninggalkan Mesir, beliau bertemu dengan suku Amalik yang memusuhi kaum Bani Israil (suku bangsa Nabi Musa as). Raja dari suku tersebut terancam mengalami kekalahan. Oleh sebab itu ia meminta seorang suci agar memanjatkan doa yang buruk terhadap Hadhrat Musa as. Orang suci tersebut pun berdoa dan Allah Ta’ala menyingkapkan bahwa Hadhrat Musa as merupakan seorang Nabiullah dan segala doa yang buruk yang dipanjatkan terhadapnya tidak akan terkabul. Orang suci tersebut meminta agar pesan ini disampaikan kepada sang raja. Raja tersebut kemudian menggunakan tipu Mushlihat yang sama seperti yang Syaithan gunakan untuk membujuk Adam dan memberikan banyak perhiasan bagi istri orang suci tersebut. Namun orang suci tersebut menjawab bahwa ia tidak dapat memanjatkan doa yang buruk terhadap Hadhrat Musa as karena beliau as merupakan kekasih Allah Ta’ala. Ia berkata bahwa ia telah diberitahu demikian oleh Allah Ta’ala.

Akan tetapi, istrinya terus memaksa agar ia berdoa saja yang buruk sebagaimana yang diinginkannya. Mereka membawa orang suci tersebut ke suatu tempat untuk memanjatkan doa yang buruk terhadap Hadhrat Musa as namun ia berkata bahwa hatinya tidak terbuka untuk hal tersebut. Oleh sebab itu, ia pun dibawa ke beberapa tempat lainnya. Pada akhirnya, orang suci tersebut kehilangan keimanannya karena ia memanjatkan doa yang buruk bagi Hadhrat Musa as. Dampak buruk setelahnya adalah kemudian timbul suatu kekacauan di kalangan umat Hadhrat Musa as karena lemahnya kerohanian mereka dan keimanan seorang suci tersebut menjadi hilang serta kedudukannya sebagai orang suci pun telah berakhir. Kisah ini menggambarkan bahwa sebagaimana seekor burung merpati terbang dari tangan seseorang, keimanan pun pergi meninggalkan hati orang suci tersebut. Meningkatkan kerohanian dan keimanan membutuhkan kerja keras namun itu semua dapat hilang karena perkara kecil!

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda menarik perhatian kearah dzikruLlah secara tindakan berasal dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, “Beliau as biasa mengatakan suatu peribahasa dalam bahasa Farsi, “دسْت با كار ودل بايار” ‘Dast ba kaar wa dil ba Yaar’ ‘Hendaknya seseorang mungkin sibuk bekerja dengan tangan, namun pada waktu yang sama hatinya harus penuh dengan dzikir kepada sang kekasih (Allah Ta’ala).’ Permisalan mengenai itu terkenal sebuah riwayat bahwa suatu kali seseorang bertanya kepada seorang suci berapa kali hendaknya ia mengingat Allah Ta’ala. Orang suci tersebut menjawab, ‘Apakah engkau mau menghitung berapa kali engkau mengingat Kekasih engkau?’ Dzikir yang sejati adalah yang tidak menghitung-hitungnya.

Tetapi, keistimewaan khas dalam berdzikir pada saat-saat tertentu saja ialah meninggalkan segala hal lainnya yang kemudian menjadikan saat-saat tersebut khusus hanya untuk kekasih-Nya saja, Allah Ta’ala. Karena dua situasi ini adalah penting yakni berdzikir pada saat-saat yang telah ditentukan dan juga di setiap saat, maka cara yang benar adalah mengingat Allah Ta’ala pada corak tertentu juga. Adapun orang-orang yang asyik bekerja pada masa modern ini (workaholic) tidak mengerti hal ini. Namun, mereka harus mengkhususkan suatu waktu dalam setiap keadaan dan mengingat Allah Ta’ala pada saat ketika berdiri dan duduk tanpa batasan dan penentuan dan mengingat kurnia dan anugerah dari-Nya secara berulang-ulang. Hendaknya tujuan yang diharapkan bagi setiap Ahmadi adalah mendengarkan segala perkara agama dengan penuh perhatian dan berupaya untuk memahami, menghapalkannya serta mengamalkannya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as memulai memberikan serangkaian ceramah bagi para wanita guna tarbiyat bagi mereka dan itu selama beberapa hari Suatu hari beliau as memutuskan untuk menguji mereka sejauh mana pemahaman mereka atas perkataan beliau as. Beliau as lalu bertanya kepada seorang wanita yang datang dari luar Qadian untuk menghadiri majelis tersebut, ‘Saya telah menyampaikan ceramah selama 8 hari terakhir ini. Sampaikanlah pada saya apa yang telah saya sampaikan dalam majelis tersebut.’ Wanita tersebut menjawab, ‘Tuan telah berbicara mengenai Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Tidak ada hal lain.’ Hadhrat Masih Mau’ud as kecewa dengan jawaban itu sehingga beliau menghentikan rangkaian ceramah tersebut lalu beliau as bersabda, ‘Ada banyak kelalaian di kalangan kaum wanita kita. Tampaknya mereka sangat memerlukan pendidikan dasar dan tidak punya kemampuan untuk menyimak perkara kerohanian yang lebih halus.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Inilah juga keadaan kaum laki-laki kita. Pun, kukatakan bahwa inilah juga keadaan kebanyakan kaum laki-laki pada masa ini. Sebaliknya dari itu di beberapa tempat, sampai-sampai kaum wanita lebih berilmu dibanding kaum laki-laki. Tatkala kaum wanita mengingatkan kaum laki-laki, ‘Ini perkara agama. Wajib kita amalkan’ Saya mendapatkan pengaduan dan keluhan bahwa kaum bapak berkata, ‘Agama mengajarkan terlalu banyak. Adapun kami ingin lakukan yang kami sukai.’ Ketahuilah, jika seseorang menampakkan kekerasan hati (sikap keras kepala) yang demikian itu maka akan terjadi degradasi (kemerosotan) pada diri seseorang secara berkelanjutan dan akhirnya itu menjadikannya menjauh dari agama.” Pendeknya, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Perhatikanlah! Perbandingkan hal itu dengan para sahabat Rasulullah saw! Bagaimana mereka senantiasa mendengarkan beliau saw siang dan malam dan kemudian bersiap sedia segera mengamalkan sabda-sabda beliau saw. Mereka menyimak dan menerima baik segala yang beliau saw sabdakan baik perkara kecil ataupun besar dan kemudian mereka tidak hanya menyebarkannya di dunia saja bahkan juga mengamalkannya.”

“Membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as dan mengambil manfaat darinya merupakan salah satu kewajiban utama anggota Jemaat. Namun demikian, ingatlah baik-baik! Buku-buku ini hendaknya tidak dibaca sebatas karena kesenangan dan kegemaran semata, melainkan demi mengamalkannya dan mengambil manfaat sebanyak-banyaknya darinya. Jika kalian membaca Al-Quran hanya sebatas kesenangan saja maka kalian tidak akan meraih apapun darinya. Tetapi, jika kalian mengagungkan Allah Ta’ala dengan mengucapkan Subhanallah satu kali saja seraya merenungkan sifat-sifat-Nya dan mencintai-Nya, maka hal tersebut akan membawa kalian pada suatu perjalanan rohani yang sangat banyak.

Hadhrat Masih Mau’ud as suatu kali bersabda dalam sebuah majelis, ‘Menyatakan kesucian Allah Ta’ala (bertasbih, Subhanallah) dan mengembangkannya pada banyak kesempatan senantiasa membawa kita pada perjalanan rohani.’ Saya tidak berada dalam majelis tersebut namun seorang anak muda yang Saya kenal ada di sana. Anak muda tersebut mendatangi saya dan mengungkapkan kebingungannya atas apa yang ia dengar dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Meskipun saya masih remaja pada saat itu (sekitar umur 17-18 tahun), namun saya sudah merasakan pengalaman rohani tersebut sehingga saya meyakinkan anak muda itu bahwa hal demikian senantiasa terjadi. Anak muda tersebut bertanya bagaimana caranya. Saya menjawab, ‘Dengan berkali-kali mengucapkan Subhanallah dan mengucapkannya dari kedalaman hati, saya telah merasakan perjalanan rohani.’ Anak muda tersebut sembari mengucapkan “لا حول ولا قوة إلا بالله” malah menertawakannya. Alasan dibaliknya adalah bahwa ia tidak pernah mengucapkan Subhanallah dengan penuh perhatian atau tidak pernah merenungkan artinya. Jika demikian, tentu takkan dapat apa-apa meski mengucapkannya sepanjang hari. Berdasarkan pengalaman saya pribadi, saya mengetahui bahwa terjadi berkali-kali setiap saya mengucapkan Subhanallah saya telah menjadi pribadi yang berbeda dari sebelumnya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Perhatikanlah bagaimana Hadhrat Rasulullah saw telah menjelaskan hal ini dengan cara yang luar biasa. Meski hingga waktu itu saya belum membacanya di Shahih al-Bukhari, namun berdasarkan pengalaman saya, itu shahih adanya. Nabi saw bersabda, كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ‘Ada dua ucapan yang sangat dicintai oleh Allah Ta’ala. Ucapan itu sangat ringan di lidah..’ (artinya sangat mudah mengucapkannya. Tidak sulit) ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ namun ketika segala amalan akan ditimbang pada Hari Pembalasan, maka ucapan ini adalah yang paling berat.’ Timbangan siapapun yang memiliki ucapan ini akan menjadi berat. ‘Ucapan tersebut ialah سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ Subhanallahi wa bihamdihi , subhanallahil ‘adzim.’ Saya membiasakan diri banyak mengucapkan kedua kalimat ini dan saya ingat pada suatu kali kesempatan kalimat itu membawa ruhku pada perjalanan kerohanian yang sangat jauh.”

Aspek utamanya ialah hendaknya merenungkan segala perintah Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh dan berupaya untuk mengamalkannya. Pada hakikatnya, seseorang akan merasakan pengaruh Tasbih dan Tahmid (pernyataan kesucian dan pengagungan Allah Ta’ala), jika ia melakukannya dengan ketulusan hati. Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua agar dapat memperoleh pengalaman ini, sehingga tertanam kekuatan untuk beramal dan itu menjadikan kita dapat meraih keridhaan Allah Ta’ala serta mengagungkan-Nya sehingga jiwa kita senantiasa naik dan meraih Qurb Ilahi.

Penerjemah: Hafizurrahman, editor: Dildaar Ahmad Dartono

(Visited 32 times, 2 visits today)