Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz)

03 Nopember 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan sejati, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (3:93)

Di ayat ini, Allah Ta’ala berbicara tentang bahasan yang tidak akan dipahami dengan baik kecuali oleh orang-orang beriman yang berkorban di jalan Allah. Para sahabat Rasulullah (saw) menampilkan keteladanan mereka nan tinggi, mengorbankan kehidupan, harta dan waktu mereka di jalan Allah (demi agama mereka). Mereka itulah yang memahami hakikat dan pentingnya al-birr (kebajikan). Dengan kata lain mereka memahami dan berupaya keras meraih tolok ukur tertinggi dalam kebaikan-kebaikan, ketakwaan, akhlak, pengorbanan harta dan meraih ridha Allah Ta’ala.

Diriwayatkan dalam Hadits ketika ayat لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ “Sekali-kali kamu tidak akan mencapai kebaikan yang sempurna, sebelum kamu membelanjakan sebagian dari apa yang kamu cintai” itu turun, seorang sahabat, Hadhrat Abu Talha ra, penduduk Madinah yang kaya dan memiliki hasil kebun banyak, ingin memberikan hasil kebunnya yang terbaik. Beliau ra sangat mencintai hasil kebunnya yang terletak dekat mesjid Nabawi. Hadhrat Rasulullah saw pun sering mengunjunginya. Ringkasnya, saat ayat tersebut turun, beliau hadir di depan Hadhrat Rasulullah saw dan mengajukan permohonan, إِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ “Harta terbaik dan paling saya sukai adalah kebun Bairuha. Itu saya berikan di jalan Allah Ta’ala.”

Seperti itulah standar keimanan para sahabat Rasulullah (saw). Hari ini, yang paling banyak memahami semua jenis pengorbanan ialah para pengikut dari pecinta sejati Rasulullah (saw). Mereka adalah para Ahmadi, yang benar-benar menunjukan contoh amalan tersebut dengan karunia Allah Ta’ala. Sekarang ini, ketika dunia berlomba-lomba untuk memperoleh kekayaan, banyak orang Ahmadi yang ketika memiliki uang, lalu diingatkan tentang pengorbanan harta maka mereka memberikan harta mereka. Semua ini adalah hasil dari pelatihan dan pendidikan akhlak yang berkelanjutan yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) tanamkan dalam diri kita.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menasihati kita di berbagai kesempatan dan berbagai cara. Suatu kali beliau as menerangkan tentang pengorbanan harta: “Manusia di dunia ini sangat mencintai harta kekayaan. Inilah sebabnya ada tertulis dalam Ilmu Ta’bir ar-Ru-ya (ilmu menjelaskan arti mimpi), jika seseorang melihat dalam mimpi ia mengeluarkan hatinya dan memberikannya kepada seseorang lain maka ini maksudnya ia memberikan kekayaan kepada orang lain. Inilah sebabnya Allah Ta’ala mengarahkan kita bahwa untuk meraih ketakwaan sejati dan keimanan kepada ayat berikut, لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ “Kamu tidak akan meraih kebajikan sejati selama kamu belum membelanjakan harta-bendamu yang sangat kamu cintai.” [QS. Ali Imran,3:93].

Sebab, simpati bagi makhluk Ilahi dan perlakuan baik kepada mereka melibatkan perlunya membelanjakan satu bagian besar dari kekayaannya untuk mereka. (Artinya, harta diperlukan demi memenuhi hak-hak sesama makhluk) Simpati kepada makhluk Allah dan kebajikan kepada mereka adalah bagian kedua dari keimanan. Tanpa melakukan itu, iman seseorang tidak sempurna dan tidak merasuk ke dalam hatinya. (Huquuqul ‘ibaad juga bagian dari keimanan. Tanpa itu tidak akan sempurna iman.)

Bagaimana seseorang dapat bermanfaat bagi yang lain tanpa memberikan pengorbanan kepada mereka. Untuk bermanfaat bagi orang lain dan simpati bagi mereka, pengorbanan adalah penting, dan dalam ayat لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ ini terdapat ajaran tentang iitsaar (pengorbanan) dan petunjuk kearah itu pun telah diberikan. Jadi, membelanjakan harta di jalan Allah menjadi ukuran kebahagiaan seseorang dan derajat ketakwaannya. (yaitu, tolok ukur dalam merenungkan ketakwaan seseorang) Derajat waqf Lillaahi (dedikasi kepada Allah) ini terlihat dalam kehidupan Abu Bakr ra ketika Nabi saw menyatakan perlunya pengorbanan semacam ini dan beliau ra membawa segala sesuatu yang ada di rumah beliau dan mempersembahkannya kepada beliau saw.”

Inilah standar tinggi yang ditegakkan oleh Hadhrat Abu Bakr ra, yang ditegakkan oleh Hadhrat Abu Umar ra sesuai caranya. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda bahwa Hadhrat Abu Bakr ra membawa seluruh benda yang ada di dalam rumahnya sementara Hadhrat Umar ra membawa setengah bagian dari harta benda yang ada di rumahnya. Demikian pula para Sahabat mempersembahkan pengorbanan sesuai kekuatan ukuran masing-masing.

Inilah semangat dan standar yang Hadhrat Masih Mau’ud as inginkan terjadi pada diri kita. Sebagaimana telah saya katakan, banyak para Ahmadi yang berupaya keras untuk meraih standar tertinggi dari pengorbanan. Ketika mereka membaca al-Quran, Hadits serta tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud (as), mereka memiliki keimanan yang kuat sehingga Allah Ta’ala memberkati jiwa dan harta orang-orang yang berkorban di jalan-Nya tersebut.

Allah Ta’ala juga berfirman bahwa ketika seseorang mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi Dia, maka Dia akan membalasnya dengan lebih banyak ganjaran. Malahan akan melipat gandakan tujuh ratus kali lipat bahkan lebih. Oleh karena itu, ketika para Ahmadi memberikan pengorbanan semacam itu, mereka pun sangat yakin bahwa Allah Ta’ala akan membalasnya dengan berlipat ganda, dan Dia juga akan memperlakukannya dengan cara yang sama.

Para Ahmadi mengorbankan harta mereka sesuai dengan petunjuk Rasulullah (saw) yang pernah bersabda, مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ ‘man tashaddaqa bi ‘adli tamratin min kasbin thayyibin wa laa yaqbaluLlahu illath thayyib wa innaLlaha yataqabbaluha bi yamiinihi tsumma yurabbiiha li shaahibiha kama yurabbi ahadukum faluwwahu hatta takuuna mitslal jabal.’ – “Siapa pun yang berkorban di jalan Allah Ta’ala meski dengan satu buah biji kurma dari penghasilannya yang sah, Dia tidak menerima kecuali yang baik-baik saja (perlu diingat Allah Ta’ala tidak menerima penghasilan yang tidak sah, yang didapat dari menipu. Dia hanya menerima penghasilan yang benar-benar bersih), Dia akan menerima kurma tersebut dengan tangan kanan-Nya [menerima dengan sambutan amat baik], kendati hartanya cuma kurma itu saja, Dia akan terus meningkatkan dan memperbesar hartanya sehingga hartanya menjadi sebesar gunung.”

Beliau saw bersabda, “Hal tersebut sama seperti kalian memelihara anak sapi (hewan ternak) hingga hewan tersebut menjadi seekor hewan yang besar.”

Kini, ketika kita membaca dan mendengar cerita-cerita tersebut dan juga petunjuk Rasulullah (saw), (kita harus ingat bahwa) semua itu bukanlah kisah-kisah yang usang. Bahkan pengalaman pribadi orang-orang yang berkorban semacam itu masih ada hingga sekarang. Maka dari itu, saya akan mempresentasikan beberapa kisah tersebut.

Kamerun yang merupakan sebuah Negara di Afrika, Missionary in charge di sana menyampaikan bahwa ada seorang Mu’allim, Tn. Abu Bakr yang mengatakan bahwa seorang Ahmadi bernama Abdullah yang sudah setahun terakhir menganggur (tidak bekerja), dihadapkan pada keadaan yang serba kesusahan dari sisi keuangan hingga kesulitan untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Pada suatu hari, dalam kondisi yang seperti itu, ia datang untuk shalat Jumat. Setelah shalat Jumat, salah satu pengurus Jemaat mengumumkan tentang perjanjian Tahrik Jadid.

Tn. Abdullah yang saat itu memiliki sepuluh ribu francs Kamerun (mata uang Kamerun) dalam sakunya, langsung ikut perjanjian tersebut dan menyerahkan seluruh uang yang ada di kantongnya. Beberapa hari kemudian, ia kembali ke pusat Jemaat dan mengatakan Allah Ta’ala telah menerima pengorbanan Tahrik Jadidnya. Kurang dari seminggu, sebuah perusahaan swasta memberinya pekerjaan dan menggajinya sebesar seratus ribu Francs, yang jumlahnya sepuluh kali lipat dari perjanjian Tahrik Jadidnya.

Ada seorang Mubayyin Baru, Tn. Daud, berasal dari Brazzaville-Kongo, yang juga merupakan sebuah Negara di Afrika. Mengingat kesusahan ekonomi yang dihadapinya, ia diminta untuk setidak-tidaknya bisa shalat Jumat di Masjid. Ia pun mulai dawam melaksanakan shalat Jumat. Pada suatu hari sehabis shalat Jumat dalam sebuah pertemuan secara pribadi, ia diberitahu tentang pentingnya pengorbanan harta, dan diminta untuk mengorbankan sedikit saja dari apa yang sudah diberikan Allah Ta’ala kepadanya. Sesuatu harta yang diberkan di jalan Allah, akan ditambahkan berlipat. Allah Ta’ala juga berjanji akan memberikan penghasilan yang suci. Membelanjakan sesuatu harta di jalan ALlah maka akan ditambahkan harta baginya. Demikian pula, kesulitan keuangan Anda akan berubah menjadi kelapangan.

Muballigh di sana melaporkan, “Saya memberikan uang kepadanya sebagai biaya transport pulang. Pada hari Jumat kemudian, ia datang dengan wajah yang nampak sangat gembira. Selesai shalat ia ditanya tentang hal tersebut. Ia menjawab. ‘Jumat lalu Anda menekankan untuk membayar candah, maka sebelum meninggalkan Masjid, saya pun memberikan seratus Francs untuk candah. Sesampainya di rumah, tetangga saya yang sudah beberapa bulan menyimpan beberapa kayu bakar di kebun saya tiba-tiba datang mengambil kayu tersebut, dan memberikan saya empat ribu francs saat hendak pergi. Saya gembira sekali, karena Allah Ta’ala secara bersamaan telah mengganjarnya empat puluh kali lipat dari candah yang sudah saya berikan.’”

Amir Jemaat Tanzania menuliskan bahwa salah Mubayyi’ baru, Tn. Abid mengatakan, “Saya sibuk bekerja sebagai tukang bangunan dan belum mendapat pekerjaan sejak 5 bulan. Keadaan ekonomi saya buruk. Keluarga dan anak-anak juga sedang sulit dan hidup begitu susah sekali. Suatu hari Muballigh lokal menyerukan untuk membayar candah. Saya amat cemas karena uang yang ada pada saya hanya cukup untuk makan anak-anak saja dalam sehari. Ketika Muballigh berkata bahwa Allah Ta’ala akan memberkahi harta yang dibelanjakan di jalan-Nya, saya memutuskan untuk memberikan sejumlah uang itu untuk candah. Inilah yang saya lakukan.

Setelah itu, saya mulai memikirkan apa yang akan saya makan. Saat saya memikirkan hal ini, seseorang datang membawa surat yang mengabarkan bahwa di tempat si Fulan tengah dibangun dan saya diminta dan ke sana segera untuk meratakan tanah dan pekerjaan lainnya. Bersamaan dengan itu, ia memberikan sejumlah uang sebagai upah di muka. Saya pun heran karena sejak 5 bulan telah menganggur namun segera setelah saya membayar candah, pintu-pintu rahmat pun dibuka oleh Allah. Setelah itu, keadaan ekonomi saya berubah dan tidak pernah saya kosong membayar candah.”

Allah Ta’ala juga memberi taufik para Mubayyi’ baru dalam pengalaman ini. Mali adalah negara lain di Afrika. Seseorang di sana berbaiat pada 4 tahun lalu. Namanya Lassina. Ia membayar candah sejumlah 500 Francsifa dari pemasukannya yang kecil. Sebelum saya bergabung dengan Jemaat dan membayar candah, usaha dagang saya tidak begitu bagus. Namun dengan berkat candah, Allah Ta’ala memberkati usaha dagang saya luar biasa. Sekarang saya telah bergabung dengan Nizham Washiyat juga dengan karunia Allah Ta’ala. Saya dulu membayar 500 Francsifa dalam perjanjian Tahrik Jadid. Namun, kini saya membayar 530.000 Francsifa tiap bulan. Kawan-kawan ghair saya menyangka kemajuan bisnis saya karena Jemaat-lah yang membayari saya.”

Seorang Mubayyi’ baru dari Prancis yaitu Tn. Hamzah berkata, “Setelah baiat, ketika saya tahu soal sistem pembayaran candah dalam Jemaat, keadaan ekonomi saya amat buruk. Beberapa Ahmadi mengabarkan bahwa ada keberkahan dalam pembayaran candah dan Allah Ta’ala akan melipatgandakan harta. Saya tidak punya banyak uang tapi ada 60 Euro saja. Saya ingin membayarkannya di jalan Allah. Biarlah terjadi apa yang terjadi. Beberapa hari kemudian, ketika saya mencari tahu rekening saya, Pemerintah mengirimi saya 600 Euro yang mana sebelumnya di luar benak saya karena tidak ada catatan sebelumnya pemerintah pernah memberi saya uang. Jumlah yang saya bayarkan untuk candah telah ALlah Ta’ala kembalikan berlipat ganda dalam hitungan yang di luar perkiraan saya.”

Amir Jemaat Tanzania melaporkan bahwa ada seorang bernama Ahmad Tsani di wilayah Dodoma. Ia ikut Nizham Al-Washiyat. Ia telah berjanji membayar 50.000 shilling untuk Tahrik Jadid dan telah sempurna ia bayarkan. Beberapa bulan lalu ia bermimpi saya (Hudhur atba) mengunjungi rumahnya dan bertanya, ‘Apakah engkau sedang bekerja mengeluarkan emas dari tanah?’ Ia menjawab, ‘Iya, Hudhur. Tapi, pekerjaan pada hari-hari ini tidak begitu bagus.’

Lalu, saya memandang ke arahnya dan bersamaan dengan itu terdengar suara, ‘Kamu harus menambah candah Tahrik Jadid.’ Tn. Tsani seorang yang giat bekerja dan ahli di bidang pengobatan di desanya. Allah Ta’ala memberkahi pekerjaan penyembuhannya. Sejak bulan lalu banyak orang sakit dari tempat jauh mendatanginya untuk berobat. Pemasukannya pun bertambah. Setelah mimpi tersebut, ia membayar 427.000 untuk Tahrik Jadid dalam satu bulan saja. Demikianlah, ia menjadi pembayar terbesar di wilayahnya.

Ada seorang pemuda mukhlis dari Bangalore, India. Ia menganggur (tidak bekerja). Dikarenakan menganggur, ia kesulitan membiayai pengeluaran rumah tangganya dalam sebulan. Muhashil Tahrik Jadid di wilayah itu berkata, “Saya mengunjungi rumahnya dan saat itu Sekretaris Mal lokal mengabari saya soal keadaan keuangan pemuda ini yang sulit. Saya pun berniat untuk diam dan tidak bicara apa-apa dengannya. Saya pun tidak akan menagih candahnya.

Pemuda itu berkata, ‘Apakah Anda ingin mengatakan sesuatu kepada saya?’ Saya menjawab, ‘Sebenarnya awalnya saya datang ingin mengingatkan Anda supaya melunasi 100.000 Rupee perjanjian Tahrik Jadid Anda namun itu ketika saya belum tahu kondisi keuangan Anda. Sekarang karena saya sudah tahu maka saya berniat untuk diam. Anda dapat menulis jumlah perjanjian baru dengan ukuran yang mudah sesuai kemampuan.’

Pemuda itu berkata, ‘Tulislah perjanjian saya sebanyak 100.000 Rupee. Saya yakin Allah Ta’ala akan memberikan kemampuan pada saya untuk melunasinya. Insya Allah.’ Merupakan karunia Allah bahwa ia menemukan pekerjaan yang bagus dan menjadi mungkin baginya membayar yang sudah ia janjikan dua tahun, yaitu tahun lalu dan tahun sekarang.”

Mubaligh dari Kepulauan Mayotte menulis bahwa Kepulauan Mayotte adalah sebuah Negara yang sangat miskin. Para penduduknya bersusah payah mencari nafkah dengan menjual sayur-mayur dan lain sebagainya. Di tempatnya ada seorang Ahmadi bernama Tn. Rabyoon, yang bekerja di bengkel motor dan paling besar candahnya. Ia berkata bahwa sungguh aneh karena berapapun banyaknya ia membayar candah, ia menerima dua kali lipat dari jumlah tersebut di akhir bulan.

Suatu hari istrinya bertanya, “Mengapa engkau membayar candah besar sekali?” Ia menjawab: “Karena Allah Ta’ala memberiku dua kali lipat sebagai balasannya, itulah sebabnya aku melakukan hal tersebut.” Lalu ia memberikan sejumlah uang candah di depan istrinya sambil berkata: “Lihat, bagaimana Allah Ta’ala benar-benar membalasnya dengan uang sejumlah ini kepadaku.” Hal itu terpenuhi karena ketika akhir bulan pemilik toko memberikan bonus kepada semua pekerja dan jumlah bonus yang diterimanya lebih besar dari jumlah candah yang dibayarkan. Dengan karunia Allah Ta’ala, orang ini terus unggul dalam pengorbanannya dari hari ke hari.”

Amir Jemaat Kanada menuliskan laporan, “Sekretaris Tahrik Jadid Lajnah Imaillah menyebutkan saat ia mengingatkan saudarinya perihal Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pada masa permulaan Tahrik Jadid, beliau as meminta Jemaat menyerahkan setengah atau seluruh gajinya untuk Tahrik Jadid. Lalu, saudarinya yang mendapat pekerjaan part time karena ingin memperoleh full time maka ia menyerahkan seluruh gajinya. Lalu, ketika ia memperoleh pekerjaan full time yang bergaji 5.000 dollar, ia persembahkan untuk Tahrik Jadid.” Demikianlah masih banyak contoh lain lagi.

Dengan karunia Allah, sejak berdirinya Jemaat hingga hari ini, orang-orang Ahmadi mengalami banyak sekali keistimewaan dan janji dari Allah Ta’ala. Saya telah menceritakan peristiwa-peristiwa yang dialami para Ahmadi yang lampau, yang sekarang dan juga para Mubayyin Baru. Pengorbanan yang dilakukan pada masa ini, khususnya pengorbanan harta merupakan suatu hal yang merupakan ciri khas dari Jemaat ini dibanding golongan-golongan lain.

Mayoritas Ahmadi menyadari bahwa masa sekarang merupakan masa penyempurnaan penyebaran Islam yang demi tujuan itu Allah Ta’ala mengutus Hadhrat Masih Mau’ud (as). Tanggungjawab ini masih berjalan melalui Jemaat ini, yang melaluinya diterbitkan al-Quran, diterjemahkan al-Quran ke berbagai bahasa, yang melaluinya pula buku-buku beliau (as) diterjemahkan dalam berbagai bahasa serta literatur-literatur Jemaat disiarkan, juga membangun Masjid-masjid dan rumah Misi, serta mendirikan Jamiah-Jamiah di Asia, di negara-negara Afrika, Eropa, Amerika Utara dan Indonesia, dimana Mubaligh yang merupakan lulusan dari Jamiah akan menyebarkan pesan Islam ini ke seluruh dunia. Kemudian ketika para Ahmadi mengetahui semua aktifitas dan program tersebut, maka mereka menyadari perlu ada pengorbanan harta untuk menyukseskan itu semua. Mereka pun memberikan pengorbanan dengan senang hati.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa simpati kepada sesama makhluk Allah ialah bagian dari keimanan. Demi menyatakan simpati tersebut, rumah sakit-rumah sakit dibangun. Begitu juga sekolah-sekolah. Dari segi itu ada Nizham yang luas juga demi menolong mereka yang berhak ditolong. Semua ini merupakan hasi ldari pengorbanan-pengorbanan orang-orang ikhlas yang beriman bahwa Allah Ta’ala mengganjar pengorbanan mereka di dunia ini dan di akhirat. Jika ada kelemahan kecil dalam pengorbanan harta maka jelas senantiasa bahwa sebabnya ialah para pengurus absen (kurang) dalam memberikan pengarahan kepada saudara/i Jemaat. Setiap kali pengarahan dan sistem mengingatkan digalakkan, tentu para anggota akan selalu menjawab seruan.

Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai pengarahan perhatian ke arah hal ini, “Suatu hal yang mungkin bahwa banyak anggota yang tidak diberi tahu bahwa Jemaat kita memerlukan candah (pengorbanan harta).” Ada banyak orang yang baiat sembari menangis keras bila mereka diberi tahu soal candah, segera mereka membayarnya. Namun, pengarahan perhatian itu suatu hal yang harus. Beliau as juga telah bersabda, “Saudara-saudara yang lemah dari segi harta,  hendaknya tetap diajak dalam pengorbanan harta. Hendaknya Anda sekalian satu dengan yang lain saling memotivasi.”

Sabda beliau as ini sudah benar-benar terjadi di zaman sekarang, dan saya telah mengatakan hal tersebut. Ketika saya menarik perhatian orang-orang Jemaat kepada perkara itu, maka perhatian pun tercurah kepadanya. Inilah sebabnya ketika saya mengatakan untuk meningkatkan jumlah pejanji Waqf-e-Jadid and Tahrik-e-Jadid, maka kini jumlah perjanjian tersebut meningkat. Setelah menarik perhatian mereka kearah pengorbanan tersebut, ketertarikan mereka dalam berkorban semakin tampak bahkan sampai pada anak-anak mereka.

Oleh karena itu, mubaligh kita di Nakuru, Kenya, menulis bahwa Ketua Jemaat saat ini, Tn. Abu Bakr Kibi merupakan seorang Ahmadi yang mukhlis. Ia seorang Sersan di Pasukan Pertahanan Kenya. Meski tinggal di barak dan jauh dari Masjid, ia senantiasa menempuh perjalanan panjang dengan ketiga putrinya guna melaksanakan sholat Jum’at. Beberapa hari kemudian, selepas sholat Jum’at, ia berkata kepada mubaligh bahwa anak perempuannya mendengarkan khotbah tentang perjanjian Tahrik-e-Jadid, dan pada bulan itu seorang tamu mengunjungi rumahnya.

Saat hendak pergi, sang tamu memberikan dua puluh lima Shillings kepada putri bungsunya yang saat itu baru berusia lima tahun. Ketika tamu itu pergi, sang gadis mendekatinya dan menyerahkan dua puluh Shillings tersebut kepadanya seraya mengatakan bahwa Uang itu untuk perjanjian Tahrik-e-Jadid atas namanya, dan lima Shillings sisanya akan dipakainya untuk kebutuhan pribadi.

Peristiwa pengorbanan harta yang menginspirasi keimanan di Liberia, sesuai laporan Muballigh Jemaat.

Jadi, contoh pengorbanan semacam itu menjadi ciri khas orang-orang Ahmadi, baik muda maupun tua yang tinggal di manapun di dunia ini. Pengorbanan yang dilakukan oleh anak-anak sebenarnya mengisyaratkan fitrat saleh mereka. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala memungkinkan Jemaat untuk terus menghasilkan anak-anak dan para orang tua yang menanamkan semangat dan gairat untuk mempersembahkan pengorbanan demi Allah Ta’ala dan terus memenuhi janji mereka yang telah mereka buat.

Sebagaimana telah diketahui, tahun baru untuk Tahrik-e-Jadid diumumkan pada bulan November dan hari ini saya akan mengumumkan tahun ke-84 Tahrik-e-Jadid dan juga menyampaikan beberapa jumlah angka-angka perjanjian tahun sebelumnya. Tahrik-e-Jadid yang ke-83 tahun telah berakhir, dan seperti yang saya sebutkan, Tahun ke-84 dimulai sejak 1 November. Menurut laporan yang disampaikan, hingga sekarang, Jemaat telah mengumpulkan jumlah total perjanjian tersebut sebesar 12.580.000 poundsterling, Alhamdullah, semua pujian adalah milik Allah. Dengan anugerah Allah Ta’ala, perngorbanan tersebut meningkat 1.543.000 pound dari total keseluruhan tahun lalu. Dari segi dana secara keseluruhan, jika kita menepikan Pakistan, maka Jerman adalah nomor satu.

Kita tahu bahwa saudara-saudara kita di Jerman mempersembahkan pengorbanan untuk program ‘Pembangungan 100 Masjid’ juga. Sub-sub Organisasi yaitu Majlis Khuddamul Ahmadiyah, AnsharuLlah dan Lajnah Imaillah memiku tanggungjawab sejumlah besar uang – mendekati 3 juta Euro – demi program ini. Para Ahmadi di Jerman bukanlah termasuk orang-orang yang amat kaya namun mereka amat bersemangat dalam pengorbanan dengan karunia Allah. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala memberkahi harta mereka dan menerima pengorbanan mereka.

Peringkat kedua ialah Britania (Inggris Raya), ketiga Amerika Serikat, keempat Kanada, kelima India, keenam Australia, ketujuh Indonesia, kedelapan adalah sebuah Jemaat dari Timur Tengah, kesembilan Jemaat lain dari Timur Tengah dan Ghana adalah kesepuluh.

Dalam hal penambahan jumlah candah pejanji per seorangan secara signifikan, peringkat pertama dan kedua ialah dua Jemaat di Timur Tengah; lalu Swis, lalu Britania. Namun, jumlah pejanji mereka lebih sedikit dari jumlah peserta Jalsah Salanah mereka. Ini artinya, pengurus kurang dalam hal mengarahkan perhatian para anggotanya. Jemaat Amerika di peringkat kelima, meskipun tidak seluruh anggota mereka ikut Jalsah mereka. Keenam, Australia lalu Jerman. Jumlah pejanji di Jerman mendekati jumlah peserta Jalsah mereka. Hal ini berarti Sekretaris Tahrik Jadid dan stafnya di Jerman telah berusaha keras dalam hal ini. Jemaat Swedia di peringkat kedelapan, lalu Norwegia lalu Kanada.

Dalam hal jumlah candah pejanji perseorangan dari keseluruhan negara-negara Afrika, pencapaian penambahan yang paling menonjol sebagai berikut: Ghana, Nigeria, Mali, Kamerun, Liberia dan Benin. Saya telah mengatakan beberapa tahun sebelumnya untuk menaruh fokus perhatian pada penambahan jumlah peserta (Perjanjian Tahrik Jadid), soal uang, walau bagaimanapun terkumpul.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan: ‘Hendaknya Chanda [sumbangan uang] harus diambil dari setiap orang Jemaat, bahkan jika itu hanya satu sen. Sebagaimana tetes-tetes air akhirnya menjadi aliran sungai, demikian pula bila satu-satu sen uang yang banyak bila dikumpulkan akan mencapai jumlah besar.”

Dengan demikian, telah ada tanggapan dan tindak lanjut atas pengarahan saya demi penambahan jumlah peserta Tahrik Jadid. Mereka bertambah di tahun ini dengan karunia Allah melebihi 1.600.000. Dua ratus ribu ialah penjanji baru. Negara-negara yang bertambah jumlah pejanjinya umumnya di Afrika, yaitu Nigeria, sejumlah 57.000 Ahmadi mengikuti Nizham Tahrik Jadid untuk pertama kalinya. Setelahnya, Kamerun, 23.000, lalu Benin, lalu Pantai Gading, Niger, Guinea Conakry, Mali, Guenea Bissau, Gambia dan Senegal serta Burkina Faso.

Negara-negara lain yang bertambah jumlah pembayar Tahrik Jadid ialah Indonesia peringkat pertama, lalu Jerman, Britania, India, Amerika dan Kanada. Jemaat-jemaat hendaknya menaruh perhatian atas hal ini selama masih ada kesempatan untuk menaikkan jumlah pejanjinya.

Berdasarkan administrasi keamiran (wilayah) ada sedikit perubahan di Pakistan. Oleh karena itu, daftar urut Jamaat lokal yang terkemuka dalam pengorbanan harta di Pakistan adalah sebagai berikut: Rabwah, Islamabad, Township di Lahore, Azizabad di Karachi, Delhi Gate di Lahore, Rawalpindi, Multan, Peshawar, Quetta dan Gujranwala.

Tingkatan wilayah di Pakistan, sebagai berikut: Sargodha, Faisalabad, Umerkot, Gujrat, Narowal, Hyderabad, Mirpur Khas, Bhawalpur, Okara, Toba Tek Singh dan Kotli Azad Kashmir.

Sepuluh besar Jemaat di Germany adalah sebagai berikut: Neuss, Rodernmark, Wein-garten, Nidda, Dornberg, Mehdi Abad, Heidelberg, Limburg, Kiel and Florsheim.

Berdasarkan tingkatan region (wilayah), posisi sepuluh besar sebagai berikut: Hamburg, Frankfurt, Morfelden, Gross-Gerau, Wiesbaden, Dietzenbach, Mannheim, Riedstadt, Darmstadt dan Offenbach.

Sepuluh besar Jemaat lokal di Inggris Raya, berdasarkan pejanji adalah sebagai berikut: Masjid Fazl, Worcester Park, Birmingham South, Bradford South, Putney, Glasgow, Islamabad, New Malden, Gillingham, Scunthorpe.

Berdasarkan regions untuk per kapita (per orang) dalam penerimaan candah adalah sebagai berikut: South West, North East, Islamabad, Midlands dan Scotland.

Peringkat Jemaat di USA adalah sebagai berikut: Silicon Valley, Oshkosh, Seattle, Detroit, York, Los Angeles, Silver Spring, Central Jersey, Chicago South, West Atlantis, Los Angeles Inland.

Posisi wilayah di Kanada berdasarkan besarnya perjanjian adalah sebagai berikut: Vaughn, Peace Village, Brampton, Vancouver and Mississauga.

Posisi wilayah Jemaat in India sebagai berikut [sesuai negara bagian]: Kerala, Karnataka, Jammu Kashmir, Telangana, Tamil Nadu, Odisha, Punjab, Bengal, Delhi dan Maharashtra.

Posisi sepuluh besar Jemaat lokal di India sebagai berikut: Calicut di Kerala, Kathaprem di Kerala, Qadian (di Punjab), Hyderabad, Calcutta, Bangalore, Kenal Town, Pingadi, Matutum and Kerwalai.

Posisi Jemaat di Australia sebagai berikut: Castle Hill, Melbourne, Berwick, Canberra, Marsden Park, Brisbane, Logan, Adelaide South, Compton, Melbourne Longwarry, Pezith, Melbourne East.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahi berkah yang berlimpah kepada penghasilan dan jiwa mereka.

Setelah ini saya ingin meluncurkan seruan [pengorbanan] baru, khususnya ditujukan bagi mereka yang tinggal di Inggris dan juga terbuka secara umum untuk semua Jemaat di seluruh dunia yang berkelapangan harta dan menyintai pengorbanan harta di jalan Allah; dan [seruan] ini untuk merehab (memperbaharui) sebagian dari Masjid Baitul Futuh [kompleks] yang terbakar sekitar dua tahun yang lalu.

Karena Khilafat hijrah ke sini sejak tahun 1984, anggota Jemaat dari seluruh dunia telah datang ke sini. Mereka ada yang tinggal di sini. Acara-acara pun diselenggarakan di sini – delegasi para Ahmadi secara umum banyak dari organisasi badan-badan dan Jemaat-Jemaat umumnya – , dan mereka diberi akomodasi. Di masa sebelumnya terdapat berbagai ruang dan kamar yang mana itu cukup bagi para tamu. Namun, setelah kebakaran itu, ruangan menjadi sempit dan tampak kesulitan-kesulitan. Rencana untuk pembangunan telah selesai dan proposalnya jauh lebih besar dari sebelumnya. Meski daerahnya hanya sedikit lebih besar, secara keseluruhan isi proposal tersebut agak signifikan.

Hadhrat Khalifatul Masih IV rha meminta pengumpulan dana untuk pembangunan Masjid ini. Awalnya beliau meminta 5 juta Pound. Kemudian, ketika sejumlah besar dana telah dibelanjarakan untuk bangunan-bangunan lain di sekitar Masjid dan pembangunan Masjid masih belum selesai, terpaksa beliau menyerukan lagi pengumpulan dana 5 juta pound lagi. Bahkan, setelah itu, masih ada pembelanjaan dan keperluan lainnya dan Jemaat memenuhinya. Pekerjaan pembangunan pun selesai.

Karena kebakaran yang terjadi sesuai taqdir Ilahi, sejumlah besar bagian Masjid pun menderita kesulitan. Rencana baru guna renovasi (pembangunan baru) yang diusulkan pun akan menghabiskan biaya mendekati 11 juta pound. Kurang lebih setengah dari jumlah tersebut telah diperoleh melalui perjanjian dan juga beberapa orang yang telah berjanji. Setengah lagi dari jumlah yang masih dibutuhkan, para Ahmadi untuk itu melakukan pengorbanan sebagaimana mereka selalu melakukannya.

Masjid Baitul Futuh termasuk salah satu dari 50 bangunan di Eropa dari segi disain, keindahan dan ukuran. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih IV rha mencanangkan program pembangunan Masjid ini, beliau bercita-cita agar Masjid ini menjadi Masjid terbesar di Eropa. Beliau rha bersabda, “Akan diperluas untuk 7 ribu atau 8 ribu orang jamaat.” Beliau rha bersabda, “Itu akan mencukupi keperluan kita.”

Namun ketika telah selesai pembangunan Masjid ini, 10 ribu Jamaah tercukupi di berbagai ruang berbeda. Tapi, keluasan itu pun dalam dua atau tiga tahun menjadi sempit lagi. Para pengurus terpaksa mengumumkan supaya para Ahmadi tidak shalat Id di sini. Maksudnya, shalat Id di jemaat lokal masing-masing. Meski demikian, para pengurus di sini juga terpaksa membangun kemah-kemah tambahan di lapangan seputar Masjid untuk Id.

Ringkasnya, ada keperluan untuk memperluas dan hendaknya mengajukan diri dan ikut serta dalam pembanganunan. Karena program ini ialah program Jemaat Britania, maka seperti saya katakan, merupakan tanggungjawab para Ahmadi di sini untuk berperan serta. Para Ahmadi berkelapangan harta yang menyintai pengorbanan harta di jalan Allah di luar Britania juga dapat ikut berperan serta.

Para organisasi badan-badan juga dan Jemaat-Jemaat besar dapat berperan serta dan itu karena tamu-tamu luar Britania datang ke sini di tiap tahun dan Jemaat Britania menjamu mereka. Jumlah para tamu tersebut menjadi ribuan sekarang.

Pada suatu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Pada masa pemerintahan Raja Dinasti Moghul yaitu Alamgir (Aurangzeb), Masjid kerajaan terbakar, orang-orang berhamburan dan memberi tahu raja tentang kebakaran itu. Mendengar hal ini, raja pun bersujud dan mengungkapkan rasa syukurnya. Para menterinya bingung dengan hal itu dan bertanya: “Yang Mulia! Bagaimana Anda bisa mengungkapkan rasa syukur saat Rumah Tuhan terbakar, padahal hal itutelah menyebabkan hati orang-orang Muslim terluka.”

Untuk ini raja menjawab: “Saya telah sejak lama merenungkan masjid yang agung ini dan bagaimana bangunan ini telah bermanfaat bagi ribuan orang sementara saya tidak ikut ambil bagian dalam pembangunannya dulu. Saya berpikir andai ada kesempatan bagi saya dan dengan itu saya dapat ikut serta dalam skema berharga dan mulia ini.

Namun, saya mengamati bangunan dari semua sudut dan mendapati semuanya lengkap, sempurna dan tanpa cacat dalam setiap aspek. Saya tidak tahu bagaimana saya bisa mendapatkan pahala dari Masjid ini. Jadi, hari ini, Tuhan Yang Maha Kuasa telah membuka jalan bagi saya untuk menerima berkah [dengan merehab dan memperbaiki Masjid tersebut]. Dan Tuhan Yang Maha Esa Maha Mendengar, Yang Mengetahui.” Jadi, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, orang-orang yang tidak dapat melakukan pengorbanan untuk tujuan tersebut, harus berusaha untuk ambil bagian saat ini. Mereka harus berusaha membayar uang perjanjian dalam waktu tiga tahun dan harus membayar sepertiga dari janji tersebut di tahun pertama.

Sekarang saya ingin menjelaskan rincian program baru ini. Bagian lantai atas ialah 4700 meter persegi. Di program baru itu menjadi 8700 meter persegi. Lantai ruangan Nashir juga ditinggikan. Akan ada ruangan Nur di tingkat dasar. Di tingkat pertama akan ada berbagai kantor. Di tingkat kedua dan ketiga akan ada kantor-kantor dan ruangan-ruangan untuk staf-staf dan para tamu dan kantor-kantor Dhiyafah…. Tempat parkir kendaraan akan diperluas. Jalan bagi kendaraan akan dipermudah dan ada tempat jalan terpisah bagi kaum laki-laki dan perempuan. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi taufik kepada Jemaat Britania untuk menyelesaikan rencana ini dan memberkahinya. [Aamiin]

Setelah shalat saya akan memimpin shalat jenazah ghaib atas nama Tn. Adil Hamood Nakhoozah dari Yaman. Beliau wafat pada 14 Oktober karena gagal jantung pada usia empat puluh tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Putra Almarhum, tn. Tariq menulis, “Ayah saya jarang shalat sebelum ia baiat. Setelahnya, ia tidak pernah terlewatkan shalatnya bukan hanya yang lima waktu bahkan mengajari saya pentingnya agama dan mengenalkan saya pada Jemaat Ahmadiyah. Ayah amat gemar shalat bersama kami secara berjamaah di waktu-waktu shalat dan membacakan pada kami buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau rajin menyimak MTA3 (MTA bahasa Arab). Beliau biasa menasehati orang-orang untuk bergabung dengan Jemaat. Ayah amat berubah kehidupannya setelah baiat dengan perubahan baik nan sempurna. Tidak pernah saya lihat ayah saya begitu girang dan gembiranya selain ketiga bergabung dengan Jemaat.”

Salah seorang kawan Almarhum, Tn. Ali Gharbani menulis, “Almarhum mengundang saya dan sebagian keluarganya kepada Ahmadiyah melalui penjelasan beliau dan menanyai kami hal-hal terkait Ahmadiyah. Kami meminta banyak penjelasan darinya misalnya tentang dajjal dan tanda-tandanya. Penjelasannya amat mengagumkan. Beliau selalu berkata, ‘Perkataan seperti ini tidak mungkin datang kecuali dari seseorang yang telah ALlah utus.’ Setelah itu, beliau membicarakan perihal kewafatan Isa ibn Maryam. Beliau ingin menegaskan dan berbahas mengenai Al-Qur’anul Karim. Suatu kali terlontar tuduhan kepada kami, namun pada waktu itu meskipun beliau belum baiat, beliau tampil dengan berani membela kami. (Kerabat beliau lainnya pun menulis bahwa kehidupan beliau berubah drastis setelah baiat).

Tiap kali menyampaikan perihal agama pasti disertai dengan rujuan ayat-ayat Al-Qur’an dan kutipan Hadits. Kami heran dan bertanya dari mana beliau mendapat dalil-dalil tersebut. Beliau menjawab, ‘Siapa yang beriman kepada Imam Mahdi dan Al-Masih Muhammadi maka ia belajar dari Nur yang bersinar dari Nur Muhammad al-Mushthafa.’”

Selain istrinya, almarhum meninggalkan satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Dengan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, sebagian besar anggota keluarganya adalah Ahmadi, semoga Allah meninggikan status almarhum, mengampuninya dosa-dosanya. Semoga Allah melindungi dan membantu istri dan anak-anaknya dan juga menyediakan segala kebutuhan mereka. Semoga Dia menjadikan mereka anak-anak yang saleh dan bertaqwa dan memungkinkan mereka mengikuti jejak ayah mereka.