Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 15 Mei 2009/Hijrah 1388 HS

Di Baitul Futuh, London, U.K.

 

Pada Khutbah Jum’at yang lalu saya tengah menjelaskan beberapa perkara dan hukum-hukum di dalam Alqur’an berkenan dengan sifat Tuhan, Al-Wâsi’. Pada khutbah hari ini juga akan saya lanjutkan perkara ini. Dalam kelanjutan perkara ini beberapa ayat suci Alqur’an akan saya jelaskan yang berkaitan dengan peri kehidupan kita sehari-hari, berkenaan dengan akhlak dan juga martabat kerohanian. Dikarenakan sangat luasnya ruang lingkup pengetahuan-Nya, Allah Swt menguasai setiap ilmu dan amal perbuatan kita. Allah Swt setelah menjelaskan perkara-perkara dan hukum-hukum-Nya, [Dia] membimbing kita ke arah jalan untuk meraih banyak sekali karunia dan berkat dari pada-Nya dan juga kita akan mampu meraih keridhaan-Nya. Allah Swt juga telah memberikan bimbingan [mengenai] masalah kekeluargaan kepada kita. Dia juga memberikan bimbingan kepada kita, bagaimana cara hidup bermasyarakat. Dia juga memberikan bimbingan kepada kita berkenaan dengan kehidupan kerohanian kita. Dia juga memberi bimbingan kepada kita untuk menyesuaikan akhlak dan kerohanian kita dengan kehendak-Nya. Pendeknya Allah Swt secara sempurna menguasai setiap segi dari kehidupan manusia dan berkaitan dengan itu semua, Dia memberikan bimbingan kepada semua hamba-Nya. Dan Allah Swt telah memerintahkan manusia untuk memiliki sifat-sifat-Nya. Oleh sebab itu, Allah Swt telah memerintahkan manusia untuk memperluas usaha-usaha guna meraih martabat rohani yang tinggi melalui sifat-sifat-Nya, sehingga manusia bisa meraih kedudukan yang sangat dekat dengan Allah Swt. Namun di samping itu Allah Swt telah mengingatkan manusia bahwa; Aku mengetahui betul kemampuan kalian, oleh sebab itu pekerjaan apa pun yang telah Aku serahkan kepada kalian tidak akan melebihi kemampuan dan kekuatan kalian. Dan kekuatan atau kemampuan manusia tidak semuanya sama. Jika kemampuan dan kekuatan mereka itu tidak sama, maka perintah Allah Swt itu akan diberikan kepada manusia sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Akan tetapi usaha membatasi kekuatan sendiri bukanlah pekerjaan manusia. Hanya Tuhanlah yang tahu pasti tentang kemampuan dan kekuatan setiap manusia. Oleh sebab itu manusia tidak bisa mengatakan bahwa hukum-hukum apa pun yang Allah Swt telah turunkan tidak sesuai dengan kemampuan mereka. Allah Swt telah menanamkan kekuatan-kekuatan tersembunyi di dalam fitrat manusia. Kewajiban setiap manusia lah untuk menampilkannya dan menggerakkannya serta memodifikasinya.

Apa yang difirmankan oleh Allah Swt di hadapan kita tentang Nabi Besar Muhammadsaw sebagai uswah hasanah (teladan sempurna) bagi kita semua, maka untuk mengikuti jalan uswah hasanah Insan Kamil itu sangat ditegaskan kepada kita semua. Allah Swt telah menciptakan hanya seorang Insan Kamil saja, yaitu Hadhrat Muhammad Musthofasaw. Kemampuan dan keterampilan beliau sangat luas yang tidak ada batasnya. Jika kita merenungkan salah satu sisi saja dari kehidupan beliau, maka akan tampak keadaannya begitu agung bagi kita. Dan kita telah diperintah oleh Allah Swt untuk mengikuti uswah hasanah pribadi Rasulullah saw itu. Berusahalah keras, bahkan berusahalah sekuat tenaga kalian untuk mengikuti uswah hasanah Rasulullah saw itu.

     Pada permulaan khutbah ini, saya telah mengatakan bahwa Allah Swt telah memberikan bimbingan kepada kita mengenai masalah hak dan kewajiban di dalam perkawinan. Beberapa ayat Alqur’an akan saya sampaikan di dalam khutbah hari ini. Sebelum mengemukakan hal itu semua, saya terlebih dahulu akan menerangkan uswah hasanah Hadhrat Rasulullah saw. Bagaimana perlakuan beliau terhadap keluarga dan bagaimana tingginya martabat teladan yang beliau tunjukkan kepada kita. Pada suatu waktu beliau bersabda:  خَيْرُكُنْ خَيْرُكُمْ  ِلاَهْلِهِ وَاَنَا خَيْرُكُمْ ِلاَهْلِيْ —Khoyrukum khoyrukum li-ahlihi wa ana khoyrukum li-ahlî — Artinya: Sebaik-baik orang dari antara kalian adalah orang yang berlaku baik terhadap keluarganya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian semua dalam perlakuan terhadap keluargaku. Setelah itu beliau memberi nasihat kepada kita: ”Apabila kalian melihat kelemahan pada isteri kalian atau merasa tidak senang melihat perbuatan atau kebiasaannya, maka ketahuilah tentu banyak sekali hal-hal lain yang baik pada isteri kalian yang kalian senangi. Maka dengan mengutamakan perkara yang baiknya itu, kalian harus mengambil jalan untuk berlaku sabar dan tabah menghadapi mereka. Untuk itu kalian harus menunjukkan perangai yang lembut penuh kasih-sayang kepada mereka.”

Nasihat tersebut merupakan perintah bagi kedua belah pihak, bagi suami maupun isteri. Dan semua isteri Hazrat Rasulullah saw menjadi saksi bahwa beliau selalu berlaku sangat baik, ramah dan lembut terhadap mereka itu. Apabila beliau mau pergi safar atau perjalanan jauh, beliau mengundi isteri-isteri beliau semua, siapa yang akan menyertai beliau di dalam perjalanan itu. Nama siapa yang keluar dalam undian itu, maka beliau membawa isteri beliau itu menemani safar atau perjalanan beliau. Apabila ada isteri beliau jatuh sakit, beliau pergi menengoknya. Beliau menjaga perasaan isteri-isteri beliau. Namun demikian beliau memanjatkan do’a seperti ini: “Ya Allah! Engkau tahu dan Engkau menyaksikan pembagian yang sama dan sesuai keadilan yang aku lakukan, wahai Tuhan! Aku tidak kuasa untuk mengawal hatiku. Jika perhatianku lebih banyak tercurah terhadap seseorang dari isteri-isteriku disebabkan oleh kelebihannya yang tertentu, maka maafkanlah daku!!”

Dalam menjelaskan hubungan beliau dengan Hadhrat Khadijah r.a., kepada Hadhrat Aisyah r.a., beliau saw bersabda: “Khadijah r.a. menjadi teman hidupku ketika aku masih seorang diri. Dia menjadi penolongku ketika aku tidak mempunyai seorang penolong pun. Dia telah menyerahkan semua hartanya kepadaku tanpa ragu dan tanpa merasa sayang sedikit pun. Melalui beliau, Allah Swt telah menganugerahkan beberapa orang anak dan dia telah memberi kesaksian atas dakwaku ketika dunia dengan keras mendustakan aku. Beliau mempunyai daya intelijensia yang sangat kuat untuk mengenal kebaikan dan daya intelijensianya yang kuat dan luas itu tetap tertanam di dalam kalbu beliau.”  Sekali pun isteri-isteri yang masih muda masih hidup bersama beliau dan selalu mendampingi dengan penuh kecintaan, namun beliau selalu menguraikan kecintaan kepada Hadhrat Khadijah r.a. itu di hadapan isteri-isteri beliau lainnya, sebab wahyu Allah Swt paling banyak turun di dalam bilik rumah beliau. Sehingga Hadhrat Aisyah pun berkata kepada beliau: “Isteri tuan yang lain juga masih ada, mengapa selalu bercerita tentang perempuan tua (Hadhrat Khadijah) itu saja?” Maka Hadhrat Rasulullah saw dengan penuh bijaksana telah menjelaskannya dengan baik, dan bersabda: “Janganlah kalian menunjukkan pandangan yang sempit! Bahkan timbulkanlah keberanian dan gairah semangat!! Itulah sebabnya aku telah menjelaskan tentang riwayat kebaikan, keikhlasan dan akhlak isteri yang pertama.”

     Pada zaman sekarang para orientalis dan para penentang yang telah melemparkan bermacam-macam tuduhan jahat dan tak berdasar yang sangat melampaui batas kepada Hazrat Rasulullah saw, apakah tidak tampak bagi mereka bagaimana indahnya uswah hasanah dan teladan Junjungan kita itu? Bagaimana indahnya beliau telah menunaikan hak-hak kaum keluarga beliau? Beliau telah memperlihatkan perlakuan yang adil dan merata secara zahir terhadap isteri-isteri beliau yang hidup bersama beliausaw, sekali pun hati beliau tanpa bisa dikendalikan selalu condong kepada isteri yang paling banyak melakukan segala macam pengurbanan di masa permulaan hidup beliau saw. Keikhlasan dan semangat pengurbanan isteri beliau itu selalu diceritakan kepada isteri-isteri beliau yang pada waktu itu masih hidup bersama beliau. Dan beliau bersabda kepada isteri-isteri beliau itu: Aku jelaskan demikian karena aku sangat menghargainya dan aku sangat bersyukur kepada Allah Swt atas pengurbanannya itu. Jika aku tidak berlaku demikian, maka aku akan dikira sebagai orang yang tidak tahu bersyukur kepada Allah Swt, Yang selalu memenuhi kehendak apa pun yang tersimpan di dalam hatiku. Dan Dia telah menganugerahkan nikmat-nikmat-Nya yang sangat luas kepadaku.

Perlakuan sangat baik dan indah dari Rasulullah saw terhadap isteri-isteri beliau disebabkan telah turun perintah Tuhan melalui beliau bahwa manusia harus memenuhi tuntutan keadilan. Jika beliau menyuruh orang-orang yang beriman agar melakukan perintah Allah Swt, maka terlebih dahulu beliau sendiri berusaha menegakkan contoh teladan yang baik untuk itu. Apabila Allah Swt telah memerintahkan manusia untuk mengawini perempuan lebih dari satu orang, maka Allah Swt juga telah menjelaskan beberapa syaratnya, sebab para penentang Islam telah melakukan tuduhan-tuduhan jahat terhadap Islam dan juga terhadap Hadhrat Rasulullah saw. Mereka menuduh bahwa dengan memberikan izin menikah lebih dari satu orang adalah perbuatan zalim terhadap kaum perempuan. Atau hal itu semata-mata untuk memberikan peluang kepada kaum lelaki untuk melepas keinginan nafsunya. Sehubungan dengan itu Allah Swt berfirman:

وَاِنْ خِفْتُمْ اَلاَّ تُقْسِطُوْا فِىْ الْيَتٰمٰى فَانكِحُوْا مَا طَابَ لَـكُمْ مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ‌‌ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلاَّ تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْذٰلِكَ اَدْنٰٓى اَلاَّ تَعُوْلُوْا

— Wa in khiftum allâ tuqsithû fil-yatâmâ fangkihû mâ thôba lakum-minan-nisâ-i matsnâ wa tsulâtsa wa rubâ’, fa-in khiftum allâ ta’dilû fa-wâhidatan aw-mâ malakat aymânukum, dzâlika adnâ allâ ta’ûlû —

 

Artinya: “Dan, jika kalian khawatir bahwa kalian tidak akan dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim, maka kawinilah perempuan-perempuan lainnya yang kamu sukai; dua, atau tiga, atau empat, akan tetapi jika kalian khawatir bahwa kalian tidak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang perempuan saja, atau kawinilah yang dimiliki tangan kananmu. Cara demikian itu lebih dekat untuk kalian supaya tidak berbuat aniaya (An-Nisâ’ : 4)

Di dalam ayat ini, Allah Swt pertama kali telah menjelaskan tentang kewajiban untuk melindungi anak yatim, bahwa apabila kalian mengawini anak-anak yatim maka janganlah melakukan kezaliman terhadap mereka, melainkan kalian kawinilah mereka sambil memenuhi kewajiban mereka sepenuhnya. Dan setelah mengawini mereka, kalian harus menjaga perasaan mereka. Jangan sekali-kali kalian menyangka bahwa tidak ada orang lain yang menegur kalian, sehingga ia bisa diperlakukan sekehendak hati kalian. Jika kalian merasa takut atau ragu-ragu bahwa kalian tidak bisa berlaku adil terhadap mereka, maka kawinlah dengan perempuan-perempuan yang merdeka. Diizinkan untuk menikahi dua atau tiga atau empat orang. Akan tetapi harus disertai dengan perlakuan yang adil. Jika kalian tidak akan dapat berlaku adil, maka janganlah kalian menikah lebih dari satu. Dalam hal ini Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah bersabda, “Mengawini anak-anak yatim yang sedang kalian pelihara tidak diharuskan kepada kalian, namun jika kalian mengira bahwa oleh karena anak-anak ini tidak mempunyai ahli waris dan jangan-jangan kalian berbuat aniaya terhadap diri mereka, maka kalian boleh mengawini satu, dua, tiga sampai empat orang perempuan, dengan syarat kalian berlaku adil, namun jika kalian tidak bisa berlaku adil terhadap mereka, maka cukuplah kalian hanya mengawini seorang saja, sekali pun kalian merasa perlu untuk melakukan hal itu.”

     Sekarang lihatlah bagaimana nasihat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Hakim Adil Zaman ini, sekali pun dirasakan perlu untuk melakukan poligami namun tujuan yang sangat diutamakan adalah demi menegakkan keadilan, keamanan dan ketentraman di kalangan masyarakat. Saya sering menerima keluhan dari berbagai tempat dengan mengatakan bahwa anak sudah banyak, tapi suami mau menikah lagi dengan mengemukakan banyak alasan. Perkara yang pertama harus diingat ialah jika diantara mereka keadilan tidak bisa ditegakkan, maka janganlah menikah lagi. Dalam menegakkan keadilan mengandung bermacam jenis hak yang harus dipenuhi. Jika pendapatan tidak memenuhi syarat untuk menutupi keperluan rumah tangga, maka dengan melakukan perkawinan kedua akan terjadi perampasan hak isteri dan hak anak-anak dari keluarga yang pertama. Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Jika keadaan mendesak disebabkan alasan yang wajar terpaksa harus melakukan perkawinan yang kedua, maka dalam hal demikian, perhatian suami terhadap isteri pertama harus dicurahkan lebih besar dari sebelumnya. Akan tetapi prakteknya yang tampak kepada kita, mereka betul-betul menutup mata, tidak menaruh perhatian terhadap anak-anak dan isteri pertama. Dan mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah Swt. Maka sangat diperlukan untuk mengadakan peninjauan terhadap diri sendiri, apakah tidak berlaku pelanggaran keadilan di dalam segi kelapangan financial (keuangan) dan dalam menunaikan hak-hak lainnya?” Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda lagi: “Menurut pendapat kita adalah lebih baik manusia jangan membuat dirinya terlibat di dalam suatu percobaan yang menyulitkan karena melakukan perkawinan kedua. Jadi hak-hak memenuhi kewajiban isteri merupakan tanggungjawab yang begitu besar sehingga jika tidak memenuhinya. Manusia terlibat atau bisa terlibat ke dalam kancah kesulitan,sehingga menjadi sebab turunnya kemarahan Tuhan kepadanya.

     Saya telah menjelaskan tentang do’a Hadhrat Rasulullah saw. sebagai berikut ini: “Ya Allah secara zahir aku berusaha berlaku adil terhadap setiap isteriku. Akan tetapi disebabkan kelebihan salah seorang isteriku kadang-kadang aku menzahirkannya di hadapan isteri-isteriku yang lain dan dalam hal itu aku tidak berdaya apa-apa. Oleh sebab itu maafkanlah aku!” Dan hal itu telah beliau lakukan sungguh sesuai dengan fitrat manusia. Dan Allah Swt Yang telah menciptakan manusia dan Dia juga telah memberikan izin untuk melakukan perkawinan lebih dari satu orang. Dia pasti mengetahui apa yang tersimpan di dalam lubuk hati hamba-hamba-Nya dan Dia mengetahui apa yang tersembunyi di dalam diri manusia. Dia mengetahui yang ghaib dan Dia telah menjelaskannya di dalam Kitab Suci Alqur’an, bahwa peristiwa seperti itu bisa saja terjadi disebabkan adanya beberapa hal kebaikan sehingga perhatian kalian lebih condong kepada seseorang. Dalam hal demikian bagaimana pun sangat penting untuk memperhatikan hak-haknya secara zahir agar dipenuhi secara sempurna. Allah Swt berfirman di dalam surah An-Nisa ayat 130 sebagai berikut:

وَلَنْ تَسْتَطِيْعُوْۤا اَنْ تَعْدِلُوْا بَيْنَ النِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْۚ فَلَا تَمِيْلُوْا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوْهَا كَالْمُعَلَّقَةِوَاِنْ تُصْلِحُوْا وَتَتَّقُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا

— Wa lan tastathî’û an ta’dilû baynan-nisâ-i walaw haroshtum falâ tamîlû kullal-mayli fatadzarû-hâ kal-mu’allaqoh, wa in tushlihû wa tattaqû fa-innal-Lôha Kâna Ghofûror-Rohîmâ —

 

Artinya: Dan kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri, betapa pun kalian menginginkannya. Maka, janganlah kalian mencondongkan seluruh kecondongan kepada seseorang sehingga kalian meninggalkan yang lain sebagai barang terkatung-katung. Dan, jika kalian saling memperbaiki diri dan berusaha menjadi orang bertakwa, maka sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Pengampun, Maha Penyayang.

     Di dalam perkara yang berada di luar kemampuan manusia untuk melaksanakannya, jika tidak mungkin untuk berlaku secara kamil atau sempurna, namun sedapat mungkin manusia harus berusaha berlaku adil sesuai dengan kemampuannya. Dan perlakuan adil secara zahir seperti yang telah saya jelaskan, termasuk dalam memberi makan-minum, pakaian, tempat tinggal dan mengatur waktu. Hanya menyediakan uang belanja saja namun tidak menyisihkan waktu untuk tinggal bersamanya, hal itu tidak bisa dibenarkan. Atau hanya menyediakan tempat tinggal saja, namun tidak memberikan uang keperluan rumah tangga sehingga terpaksa isteri meminta bantuan kepada orang lain, maka perlakuan seperti ini pun tidak betul. Jadi, memberi keperluan lahiriyah kepada sang isteri merupakan kewajiban laki-laki sepenuhnya. Terdapat di dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersabda: “Seorang yang mempunyai dua orang isteri dan ia memberi perhatian hanya kepada salah seorang isteri saja dari mereka, sedangkan yang kedua ditinggalkan tidak diberi perhatian terhadapnya, maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dalam keadaan badannya terpotong menjadi dua atau terpisah menjadi dua bagian.” Maka Allah Swt berfirman: “Orang bertakwa adalah orang yang memenuhi kedua hak zahiriyah kedua isterinya.” Dan janganlah meninggalkan isteri yang mana pun, sehingga dalam keadaan sebagai isteri, mereka terlepas dari hak-hak mereka. Janganlah ditinggalkan terpisah begitu saja dan jangan pula hak-haknya tidak dipenuhi secara betul. Bagi seorang mukmin tidak dibenarkan berbuat seperti itu. Maka kewajiban setiap orang mukmin untuk menjaga diri dari perbuatan demikian, yakni perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt dan berusahalah selalu untuk memperbiki diri.

     Banyak diterima keluhan dari perempuan-perempuan yang mengatakan bahwa mereka tidak diberi perhatian oleh suami mereka, sedangkan perhatian suaminya hanya ditujukan kepada isteri yang lain. Selain dari itu dengan memberi alasan tentang isteri yang lainnya, hanya memberi perhatian kepadanya saja, maka timbullah pertengkaran diantara mereka berdua sehingga suaminya mengancam dengan mengatakan: Saya tidak akan melepaskan engkau, tidak pula akan menalak engkau dan tidak pula akan menggauli engkau untuk selamanya. Jika terjadi mukadimah di Pengadilan, maka mukadimah itu diperpanjang di Pengadilan tanpa suatu alasan. Dibuat dan dicari-cari alasan supaya perkara menjadi tambah panjang. Kebanyakan suami tidak menjatuhkan talak kepada isterinya, supaya pihak isteri meminta khula sehingga dia terlepas dari membayar hak mahar (mas kawin). Semua masalah ini membawa manusia semakin jauh dari takwa. Allah Swt berfirman: “Perbaikilah diri kalian, jika kalian menjadi orang yang mengharapkan kasih sayang dan pengampunan dari Allah Swt, maka tunjukkanlah diri sebagai orang yang mempunyai rasa kasih sayang dan mempunyai sifat pengampun kepada orang lain dan berilah tempat tinggal kepada sang isteri dengan baik di rumah kalian. Jika kalian menginginkan mendapat kasih sayang Tuhan yang luas, maka perluaslah kasih sayang kalian terhadap orang lain, khususnya terhadap isteri kalian. Di dalam ayat berikutnya dari ayat yang telah saya tilawatkan dari surah Al Nisa ayat 131, Tuhan berfirman:  وَاِنْ يَّتَفَرَّقَا يُغْنِ اللّٰهُ كُلاًّ مِّنْ سَعَتِه وَكَانَ اللّٰهُ وٰسِعًا حَكِيْمًا‏Wa iy-yatafarroqô yughnil-Lâhu kullam-min sa’atih, wa Kânal-Lôhu Wâsi’an Hakîmâ — Artinya : “Jika kedua mereka itu bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dengan limpahan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas dan Maha Bijaksana”.

Di dalam ayat ini Allah Swt berfirman, jika tidak ada jalan lain lagi untuk berdamai diantara kalian berdua maka janganlah isteri itu dibiarkan terkatung-katung. Bebaskanlah dia dengan cara yang paling baik dan berilah segala hak-haknya (mas kawinnya, nafkah anak-anaknya dan sebagainya) kepada perempuan itu dengan cara yang sebaik-baiknya. Jika sang suami meninggalkan kewajiban-kewajbannya itu, maka sang isteri itu mempuanyai hak untuk menuntut khula melalui qadhi (pengadilan). Bagaimana pun Allah Swt berfirman, seorang mukmin lelaki dan seorang mukmin perempuan akan berada di atas jalan takwa apabila mereka berusaha sekuat tenaga untuk melakukannya demikian. Jika mereka berdua telah gugur di dalam usaha mereka itu, maka berpisahlah dengan cara yang baik dan terhormat. Dan berpisahlah sang suami dari isterinya setelah menunaikan kewajiban terhadap mantan isterinya itu dengan cara yang sebaik-baiknya. Dan kerana mereka sudah gagal menjalin kehidupan bersama dengan jalan takwa dan mereka sekarang tengah berpisah, maka Allah Swt berfirman, maka Tuhan dengan karunia dan rahmat-Nya yang sangat luas dan tak terhingga batasnya itu akan menyediakan barang-barang dan sarana-sarana yang lebih baik lagi bagi mereka. Dan Dia akan menganugerahkan barang-barang dan sarana-sarana demikian banyaknya dari sisi-Nya, sehingga mereka akan merasa lebih dari cukup. Sekali pun berpisahnya suami dan isteri dari segi Hadits Rasulullah saw,  adalah perbuatan yang sangat tidak disenangi oleh Allah Swt. Namun mereka telah gagal setelah berusaha keras untuk menjalani kehidupan dengan penuh takwa itu. Oleh sebab itu Allah Swt Yang mengetahui sampai ke dalam lubuk hati hamba-Nya, apabila mereka terpaksa memberi keputusan sambil menundukkan kepala di hadapan Allah Swt, maka Allah Swt Yang memiliki karunia dan rahmat yang maha luas itu pasti akan menyediakan sarana kehidupan yang sangat baik kepada mereka berdua. Oleh sebab Tuhan adalah Hakim juga dan dikarenakan keputusan yang diminta adalah dari Allah Swt Yang Maha Bijaksana tentu Dia akan menganugerahkan dengan penuh hikmah kepada hamba-Nya. Tentu mereka pun memperoleh kehidupan dengan bimbingan-Nya.

Di dalam ayat ini, Allah Swt telah menjelaskan dasar sebuah hukum, bahwa menentukan hubungan suami isteri tidak boleh terburu-buru disertai dengan perasaan emosional. Baik dari pihak kedua ibu-bapak maupun dari kedua pihak lelaki atau pun perempuan jangan kerana perasaan emosinal di dalam menentukan rencana untuk membina rumah tangga itu. Bahkan harus dipikir dahulu dengan matang dan dibantu dengan do’a kepada Allah Swt ketika mulai menjalin hubungan untuk membina rumah tangga itu, sebab Allah Swt Yang mengetahui dan menguasai setiap masalah. Mereka harus memohon pertolongan dari Allah Swt dengan memanjatkan do’a kepada-Nya. Apabila dengan karunia Allah Swt rumah tangga telah dibentuk atas dasar pertolongan-Nya, maka Dia menurunkan rahmat dan karunia-Nya yang berlimpah kepada kedua pasangan suami isteri itu. Allah membuat mereka hidup dengan berkecukupan dan Allah Swt memberikan kelapangan di dalam rezeki dan harta-benda mereka. Dan Dia menciptakan kebahagiaan dan ketenteraman di dalam rumah tangga mereka dan di dalam hubungan mereka sebagai suami isteri.

Saya telah menyinggung masalah talak bahwa banyak lelaki yang menggantung masalah talak terhadap isteri mereka dan berusaha membuat masalah itu menjadi panjang berlarut-larut. Padahal setelah menikah hidup bergaul bersama-sama dalam tempo yang cukup lama, kemudian lahirlah pula anak-anak, akhirnya mengapa harus timbul masalah talak. Apabila perempuan sudah dicerai, suami mempunyai kewajiban untuk memenuhi hak-hak mantan isterinya itu, selain dia harus memberikan perbelanjaan untuk anak-anaknya dia harus membayar atau melunasi hak mahar atau mas kawinnya. Akan tetapi Allah Swt berfirman bahwa kadang-kala timbul keadaan yang tidak bisa diatasi, misalnya rukhstanah belum dilaksanakan, hak mahar atau mas kawin juga belum ditentukan. Namun hak-hak si perempuan harus dipenuhi. Di dalam surah Al-Baqarah ayat 237 Allah Swt berfirman:

لاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَآءَ مَا لَمْ تَمَسُّوْهُنَّ اَوْ تَفْرِضُوْا لَهُنَّ فَرِيْضَةً ۖۚ وَّمَتِّعُوْهُنَّۚ عَلَى الْمُوْسِعِ قَدَرُهُ وَ عَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهُ ۚ مَتَاعًاۢ بِالْمَعْرُوْفِ‌‌ۚ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ

— Lâ junâha ‘alaykum in thollaqtumun-nisâ-a mâ lam tamassû-hunna aw tafridhû la-hunna farîdhoh, wa matti’û-hunn, ‘alal-mûsi’i qodaru-hû wa ‘alal-muqtiri qodaruh, matâ’am-bil-ma’rûf, haqqon ‘alal-muhsinîn.

 

Artinya: Tidak ada dosa atas kalian, jika kalian mencerai (menalak) perempuan-perempuan yang belum kalian sentuh atau kalian belum menentukan mas kawin bagi mereka. Akan tetapi, berikanlah kepada mereka, yang kaya menurut kadar kemampuannya, dan bagi yang berkekurangan menurut kadar kemampuannya, suatu pemberian dengan cara yang ma’ruf. Inilah kewajiban atas orang-orang yang berbuat ihsan atau kebaikan.

Di dalam ayat ini, Allah Swt berfirman, apabila lelaki tidak ingin melanjutkan hubungan keluarga apa pun sebab dan alasannya, maka menjadi tanggungjawab pihak suami untuk memutuskan hubungan keluarga itu dan ia harus berlaku sangat baik terhadap isterinya dan ia harus mengeluarkan semua biaya sesuai dengan kemampuannya. Jika Allah Swt telah menganugerahkan harta cukup banyak, maka Dia memerintahkan kepada pihak lelaki untuk menzahirkannya bahwa dia mempunyai harta cukup banyak. Jika dia tidak menzahirkannya sesuai dengan anugerah itu, maka Tuhan Yang telah memberi kelapangan harta itu kepadanya berkuasa penuh untuk menghentikan anugerah-Nya itu kepadanya. Dia telah menerima banyak anugerah berupa harta dari Tuhan, jika dia tidak berlaku adil dan tidak berlaku baik atau ihsan tentu Tuhan akan menarik kembali anugerah-Nya itu dan menggantinya dengan kesempitan kembali. Oleh sebab itu jika ingin mendapat bagian dari karunia Tuhan, maka dia harus menzahirkan anugerah-Nya itu kepada pihak perempuan dan berlaku baik atau ihsan kepadanya. Dan oleh sebab Allah Swt tidak mengenakan beban kepada seseorang melebihi kekuatan atau kemampuannya, maka Dia berfirman, jika keadaan miskin tidak mempunyai kekuatan untuk memberikan banyak kepada pihak perempuan yang dicerainya itu, maka dia boleh memberikan berapa saja kepadanya sesuai dengan kemampuannya. Allah Swt berfirman, jika kalian menjadi orang yang berlaku baik dan bertakwa, maka kalian berkewajiban untuk berlaku ihsan kepadanya. Sampai batas mana Hadhrat Rasulullah saw menjalankan peraturan dengan ketat sehubungan perkara tersebut dapat diketahui dari riwayat berikut ini.

Pada suatu ketika seorang Anshar (orang mukmin Madinah) mengawini seorang perempuan dan menceraikannya kembali sebelum melakukan pergaulan dengan isterinya itu. Mas kawin pun belum ditentukannya. Tatkala perkara ini sampai kepada Hazrat Rasulullahsaw, beliau bertanya kepada sahabat itu: “Apakah engkau telah memberikan sesuatu sebagai ihsan kepada perempuan itu?” Sahabat itu menjawab: Ya Rasulullah! Saya tidak mempunyai sesuatu untuk diberikan kepadanya. Maka Hadhrat Rasulullah saw bersabda kepadanya: “Apa yang terletak di atas kepala engkau berikanlah itu kepadanya!” Dari riwayat ini tampaklah kepada kita bagaimana Hadhrat Rasulullah saw sangat menaruh perhatian terhadap hak perempuan yang merupakan kewajiban pihak lelaki untuk memenuhinya. Macam perkara yang telah diuraikan di atas bahwa jika mas kawin belum ditentukan maka benda apa pun harus diberikan kepada perempuan sebagai perlakuan ihsan kepadanya. Maka dalam keadaan apabila maskawin telah ditetapkan sebelumnya, apa yang harus dilakukan selanjutnya? Maka hal seperti itu telah disebutkan dengan jelas di dalam ayat berikutnya itu yakni, bayarkanlah mas kawin itu separuh dari padanya. Demikianlah Alqur’an telah menetapkan hak-hak perempuan yang menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh pihak lelaki atau keluarga lelaki itu. Dan diberitahukan juga dengan jelas apa kewajiban pihak kaum lelaki dan tentang hubungan mereka serta tentang urusan menyusui anak-anak, telah dijelaskan peraturan-peraturannya. Selain itu telah diberitahukan juga dengan jelas tentang kewajiban-kewajiban pihak perempuan terhadap mengurus anak-anak dan juga terhadap suami mereka, merupakan kewajiban mereka untuk mengamalkannya. Dan Allah Swt telah menjelaskan semua hak dan kewajiban mereka yang dikenakan kepada kedua belah pihak baik kepada perempuan maupun kepada pihak lelaki. Dan semua kewajiban itu telah dikenakan kepada kalian yang harus dilaksanakan sesuai dengan kekuatan dan kemampuan kedua belah pihak, lelaki maupun perempuan. Laksanakanlah hal itu semua. Tentang hal itu terdapat keterangan yang sangat rinci yang tidak akan saya jelaskan pada waktu ini. Sampai saat ini telah saya jelaskan dua perkara dan saya anggap sudah cukup tentang semua yang saya ingin jelaskan. Pertama bagaimana uswah hasanah atau teladan yang sangat baik telah ditunjukkan oleh Hadhrat Rasulullah saw tentang hak-hak sang isteri. Dan demi meraih keridhaan Allah Swt, bagaimana beliau telah menegakkan standar atau mutu dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. Dan yang kedua bagaimana pentingnya mengingatkan setiap orang Ahmadi Muslim untuk melangkah di atas jalan yang telah ditegakkan oleh Hadhrat Rasulullah saw dalam memenuhi hak-hak kewajiban itu, khususnya yang Allah Swt telah menetapkannya di atas pundak kaum lelaki.

Sekarang saya ingin mengingatkan kepada sebuah perkara lagi. Memang dengan karunia Allah Swt, hal ini tidak biasa terjadi di kalangan orang-orang Jema’at. Namun sekarang sudah mulai terdengar bisikan-bisikan tentang itu. Allah Swt berfirman di dalam surah Al-An‘am ayat 153 sebagai berikut:

وَلاَ تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلاَّ بِالَّتِىْ هِىَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهۚ وَاَوْفُوْا الْكَيْلَ وَالْمِيْزَانَ بِالْقِسْطِۚ لاَ نُـكَلِّفُ نَفْسًا اِلاََّ وُسْعَهَاۚ وَاِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوْا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰى‌‌ۚ وَبِعَهْدِ اللّٰهِ اَوْفُوْا ذٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِه  لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَۙ

-Wa lâ taqrobû mâlal-yatîmi illâ bil-latî hiya ahsanu hattâ yablugho asyuddah, wa awful-kayla wal-mîzâna bil-qisth, lâ Nukallifu nafsan illâ wus’ahâ, wa idzâ qultum fa’dilû wa law kâna dzâ qurbâ, wa bi’ahdil-Lâhi awfû, dzâlikum washshô-kum bihî la’allakum tadzakkarûn-

 

Artinya: Dan janganlah kalian mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik sampai ia mencapai kedewasaannya. Dan penuhilah ukuran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memberi beban kepada suatu jiwa kecuali menurut kemampuannya. Dan apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil walaupun itu terhadap seorang kerabat, dan sempurnakanlah janji dengan Allah. Demikianlah Dia telah memerintahkan kepadamu mengenai hal itu supaya kalian mendapat nasihat.

     Di dalam ayat ini, Allah Swt menyebutkan lima perkara yang harus kita lakukan. Selain itu Allah Swt memberitahu bahwa Dia tidak memberi tanggung jawab kepada siapa pun yang berada di luar kemampuannya. Seperti telah saya katakan sebelumnya bahwa disebabkan Allah Swt mempunyai ilmu pengetahuan yang demikian luas dan tidak terbatas, Dia mengetahui sampai di mana kemampuan dan kepakaran hamba-hamba-Nya dan sampai di mana kemampuannya itu. Jadi Hukum-hukum yang telah Allah Swt berikan kepada kita semuanya berada di bawah jangkauan kekuatan kita di mana kita bisa melakukannya. Perkara-perkara yang disebutkan di dalam ayat tersebut, pertama adalah perintah supaya jangan mendekati harta anak-anak yatim, kecuali dengan cara yang sangat baik. Dan orang yang memegang harta anak-anak yatim adalah amin (orang yang terpercaya). Oleh karena itu harta yang dia pegang itu harus dipergunaka demi kebaikan hidup anak-anak yatim itu. Di dalam surat lain di dalam Alqur’an, Allah Swt berfirman: Harta anak-anak yatim harus dijaga dengan selamat. Dan harta itu harus dipergunakan untuk biaya pendidikan (ta’lim dan tarbiyyat) anak-anak yatim itu. Dan apabila tidak ada orang yang mempunyai kemampuan dan tidak bisa bertahan untuk membiayai anak-anak yatim itu, maka hendaklah ia menggunakan harta anak yatim itu dengan sangat hati-hati sekali. Jangan sampai mereka sudah mencapai umur dewasa harta mereka itu habis. Jadi, orang mukmin sejati adalah orang yang betul-betul menjaga harta anak yatim, dan menjaga kekayaan mereka sampai mereka itu menjadi dewasa, kemudian dia memenuhi hak-hak mereka secara benar. Dia harus bisa menjaga harta mereka itu dengan sungguh-sungguh seperti dia menjaga hartanya sendiri dengan sungguh-sungguh, dan seperti dia berpikir dengan cermat dan dengan hati-hati sekali sebelum ia menggunakan hartanya di dalam sebuah perniagaan dengan orang lain. Atau dia menginvestasikan hartanya dalam sebuah perniagaan atau sebuah perusahaan orang lain dengan sangat hati-hati sekali. Sebagaimana dia merasa sayang terhadap hartanya sendiri, maka seperti itulah dia harus sayang terhadap harta anak yatim juga. Tentang harta anak yatim juga terdapat perintah bahwa investasikanlah harta anak yatim itu seperti menginvestasikan harta sendiri. Supaya berkat kemajuan perniagaan itu, mereka pun mendapat faedah dari padanya atau harta mereka semakin bertambah banyak. Sehingga apabila mereka sudah meningkat dewasa mereka pun bisa menyaksikan perkembangan harta mereka itu semakin banyak. Dengan demikian walaupun mereka anak-anak yatim, namun sesudah dewasa mereka akan menjadi anggota masyarakat yang dihargai dan dihormati orang. Akan tetapi sering diterima keluhan atau pengaduan dari beberapa anggota Jama’at di mana terjadi perlakuan khianat terhadap harta anak-anak yatim dan juga terhadap hubungan kekeluargaan. Misalnya harta anak yatim disimpan dengan pamannya atau saudaranya terdekat, lalu paman atau saudaranya terdekat itu telah mengambil faedah secara tidak wajar terhadap harta mereka itu. Orang-orang seperti itu harus ingat betul bahwa dengan memakan harta orang lain seperti itu tidak akan menambah banyak hartanya sendiri. Dan jika siapa pun yang mengambil faedah dari harta orang lain dengan cara yang tidak benar seperti itu, maka dia akan menjadi sasaran peringatan Tuhan di mana Tuhan berfirman bahwa orang yang memakan harta anak-anak yatim akibatnya disebutkan di dalam Alqur’an seperti berikut:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَاْكُلُوْنَ اَمْوَالَ الْيَتٰمٰى ظُلْمًا اِنَّمَا يَاْكُلُوْنَ فِىْ بُطُوْنِهِمْ نَارًاوَسَيَصْلَوْنَ سَعِيْرًا

— Innal-ladzîna ya-kulûna amwâlal-yatâmâ zhulman innamâ ya-kulûna fî buthûnihim nârô, wa sa-yashlawna sa’îrô —

 

Sesungguhnya mereka yang memakan harta anak-anak yatim dengan aniaya, mereka sebenarnya tak lain hanya menelan api ke dalam perut mereka, dan mereka pasti akan terbakar di dalam api yang menyala-nyala (An-Nisâ : 11)

Dan orang yang membantu dalam perbuatan zalimnya itu, dia juga tidak akan terlepas dari ancaman Tuhan itu. Sebagaimana diterangkan di dalam banyak ayat yang lain.

فَاعْدِلُوْا وَلَوْ كَانَ ذَاْلقُرْبىَ

— Fa’dilû wa law kâna dzâ qurbâ —

 

Yakni : Berlakulah adil sekali pun terhadap kaum kerabat sendiri.

Jadi hal itu adalah perkara yang patut ditakuti agar harta anak-anak yatim juga harus dijaga betul dan jika ada yang tengah menggunakan harta mereka itu dengan cara yang tidak benar, maka Allah Swt tidak akan pernah menjadi penolongnya. Jadi penjagaan terhadap harta anak-anak yatim dan menyerahkan harta itu kepada mereka apabila mereka sudah menjadi dewasa Allah Swt berfirman: “Ukurlah dan timbanglah harta mereka itu dengan cara yang adil.” Yakni janganlah melakukan perniagaan dalam perkara itu. Sebab kehancuran yang pernah terjadi pada bangsa-bangsa pada umumnya, disebabkan karena perbuatan perniagaan secara khianat dan tipu muslihat. Cara-cara yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah saw apabila timbul suatu cacat di dalam barang-barang jualan mereka, sekali pun tidak tampak kepada si pembeli, mereka memberitahukan sendiri cacat yang terdapat di dalam barang-barang yang tengah dijual itu, supaya jangan terjadi penipuan kepada orang lain. Akhirnya Allah Swt berfirman, penuhilah janji yang telah pernah diucapkan. Utamanya adalah demi kebaikan masyarakat dan untuk menegakkan hak-hak mereka itu. Akan tetapi hal itu akan bisa dilaksanakan apabila dia paham betul bahwa Allah Swt adalah Dzat Yang ilmu-Nya sangat luas sekali. Dia tahu siapa dan sampai dimana keadaan janjinya itu. Apabila janjinya itu akan dipenuhi dengan menghadirkan Allah Swt sebagai saksi, barulah haququllah dan haququlibad bisa dipenuhi dengan cara yang benar. Apabila perkara ini kalian memahaminya, maka barulah kalian dianggap sudah berpegang kepada nasihat dari Allah Swt. Dan telah berusaha untuk mengamalkan hukum-hukum Allah Swt dengan penuh ketaatan. Dan tidak akan timbul di dalam hati bahwa pekerjaan ini berada di luar kemampuan saya. Bahkan harus berusaha dengan sesungguhnya bahwa apa pun perintah Allah Swt berada di dalam kemampuan kalian. Dan kita harus melakukannya. Apabila kita berpikir seperti itu dan berusaha untuk mengamalkannya, maka kita akan menjadi orang-orang yang mendapat bagian dari pada apa yang dijanjikan Allah Swt kepada kita. Allah Swt berfirman:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لاَ نُـكَلِّفُ نَفْسًا اِلاَّ وُسْعَهَاۤ اوُلـَئِكَ اَصْحٰبُ الْجَـنَّةِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْن

— Wal-ladzîna –âmanû wa ‘amilush-shôlihâti lâ Nukallifu nafsan illâ wus’ahâ,-ulâ-ika –ash-hâbul-jannah, hum fîhâ khôlidûn —

 

Artinya : Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Kami tidak membebankan seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, mereka inilah penghuni surga, mereka akan kekal didalamnya. (Al-A’raf : 43)

Semoga Allah Swt menjadikan kita semua orang-orang yang selalu tunduk di hadapan-Nya dan menjadi orang-orang yang selalu mengamalkan hukum-hukum-Nya yang telah memerintahkan kita untuk mengamalkannya sesuai dengan kemampuan dan kekuatan kita. Dia yang telah meletakkan perintah untuk beramal sesuai dengan kemampuan kita yang sangat terbatas. Akan tetapi dengan menyebutkan rahmat-Nya tanpa batas dan tanpa tepi telah memberi kabar gembira kepada kita bahwa Dia akan menyelimuti kita dengan cadar maghfirah-Nya. Maka kewajiban kita untuk terus meningkatkan iman dan usaha untuk melakukan amal saleh sebanyak-banyaknya.

Untuk itu semoga Allah Swt memberikan taufik kepada kita semua. Amin!!!

        Penerjemah: Mln. Hasan Basri