Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Esensi Bersyukur Kepada Allah

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
di Masjid Nusrat Jahan, Copenhagen, Denmark
, 6 Mei 2016

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

 

Sekitar 11 tahun yang lalu saya mengadakan kunjungan kemari (Denmark). Waktu berlalu begitu cepat. Pada waktu itu mereka yang dulunya masih anak-anak, sekarang sudah jadi para pemuda pemudi dan mungkin saja sebagian dari anak-anak muda 11 tahun lalu itu sudah menjadi orang tua pada saat ini. Allah Ta’ala telah mengaruniai banyak rahmat dan berkat bagi Jemaat di sini secara fisik dan kasat mata. Saat ini mereka sudah memiliki kantor, aula yang besar dan perpustakaan yang berdampingan dengan masjid. Rumah misi yang ada di sana telah diperluas dan sekarang terdiri dari akomodasi untuk muballigh dan guest house (ruang tamu) yang dekat dengan aula. Semua ini adalah atas karunia Allah Ta’ala. Jika keluarga Ahmadi telah bertumbuh, kekayaan mereka juga tumbuh, dan anggota Jemaat pun telah bertambah dan berkembang dalam artian fisik, maka tentu saja hal ini membuat semua orang dari kita bersyukur kepada Allah. Bagaimana menunaikan hak syukur ini dan memenuhi tuntutannya? Kita yang telah menerima Imam Zaman meyakini bahwa kita telah menerima seseorang yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw akan mengambil kembali iman dari Bintang Tsurayya (Pleiades).[1]

Jika kita telah beriman kepada Imam Zaman ini maka kita juga harus membuat pemikiran-pemikiran kita sesuai dengan pemikiran orang-orang yang beriman. Kita tidak boleh merasa sudah senang mengaku beriman hanya dengan mengucap kalimat syukur di bibir saja ‘Alhamdulillah [sudah mengimani Imam Mahdi]’. Kita harus bercermin diri dan melihat secara benar apakah kita telah melaksanakan perintah-perintah Tuhan dalam amalan-amalan kita? Apakah kita menghabiskan hidup kita seperti layaknya orang beriman sejati sebagaimana yang telah dijelaskan secara rinci oleh Allah dan Rasul-Nya saw? Hal mana itu juga yang telah dibukakan khazanahnya kepada kita di masa kini oleh Hadhrat Masih Mau’ud as?

Selama kunjungan saya ke Denmark sebelas tahun yang lalu, saya telah mengingatkan pada Ahmadi di sini tentang hal-hal itu. Saya juga sering mengingatkan banyak orang secara umum, dan juga sekarang dengan fasilitas dan berkat dari Allah Ta’ala berupa stasiun televisi Ahmadiyah, kata-kata saya sekarang ini menjangkau setiap Ahmadi (di dunia) bagi mereka yang ingin mendengarkannya. Singkatnya, telah saya katakan bahwa Allah Ta’ala telah memberi taufik kepada Anda sekalian atau para bapak dan kakek Anda sekalian untuk menerima Ahmadiyah – yang merupakan suatu anugerah dan karunia yang istimewa. Tak ragu lagi bahwa Dia mengaruniai kalian dengan karunia-Nya berupa kebaikan. Hal yang sangat penting supaya dapat meneruskan karunia ini dan kita berkembang dalam kebaikan dan meningkatkan keadaan kita agar lebih baik dari sebelumnya. Kita harus ingat jika kita gagal melakukan hal ini, jika kita berhenti dalam jalur langkah kita atau tidak mempedulikan perkara-perkara keagamaan, lalu terus seperti itu maka kita akan menjadi orang yang bertanggungjawab menjauhkan generasi kita selanjutnya dari agama.  Dengan demikian akan membuat mereka mahrum (kehilangan) rahmat dan berkat istimewa Allah Ta’ala yang mana tentang hal itu telah dinubuatkan oleh Rasulullah saw. Yaitu, pengutusan Hadhrat Masih Mau’ud as (Imam Mahdi) dan keimanan kepadanya. Jika generasi kita selanjutnya menjadi jauh dari Ahmadiyah, maka mereka juga akan kehilangan rahmat dan berkah dari doa-doa para pendahulu mereka, yaitu para bapak dan kakek yang telah menerima Ahmadiyah.

Allah Ta’ala telah menegaskan untuk memberikan pahala kepada mereka yang berbuat kebaikan. Usaha murni seseorang dalam kebaikan karena Allah dan mencari ridha-Nya menjadikan anak-anak mereka pun akan mendapatkan manfaat dari pahala ini. Namun Allah Ta’ala juga berfirman bahwa seseorang juga harus membetulkan amalan-amalan mereka. Para pendahulu kita telah meninggalkan dunia ini dengan harapan bahwa keluarga mereka akan memenuhi janji Bai’at. Banyak orang dari para Ahmadi di Denmark harus melihat lagi apakah mereka sudah memenuhi janji Bai’at dengan semangat yang demikian. Diperlukan untuk bercermin diri apakah janji Bai’at benar-benar telah dilaksanakan atau menjadi Ahmadi hanya atas dasar mengikuti begitu saja/taqlid pada kepercayaan para bapak kita keturunan ataupun kita duduk dalam Jemaat karena hubungan kekerabatan dan sosial belaka?

Sementara itu, mereka yang telah menerima Ahmadiyah secara pribadi harus bercermin diri apakah mereka telah mencoba untuk mengembangkan iman mereka, ataukah Bai’at mereka dalam menerima Ahmadiyah hanya bersifat sementara dan mereka hanya diam di tempat saja seperti ketika mereka mulai! Mereka yang sudah bermigrasi ke negara-negara maju haruslah melihat kembali apakah kesuksesan secara ekonomi dan materi telah membawa mereka jauh dari iman!

Dengan karunia Allah Ta’ala, orang-orang yang datang ke Denmark ini telah menerima Ahmadiyah. Mereka berasal dari Kosovo dan negara-negara Eropa Timur lainnya. Renungkanlah bahwa adalah berkat karunia Allah Ta’ala sehingga mereka beriman kepada seorang pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw. Pendek kata, setiap Ahmadi, baik keturunan maupun mubayyi’in baru, baik yang hijrah ke sini maupun merupakan warga asli Denmark, semuanya perlu merenungkan bahwa mereka harus berupaya untuk mengamalkan ajaran Islam sejati agar mereka dapat memenuhi kewajiban baiat mereka terhadap pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw.

Singkatnya, semua Ahmadi, baik yang terlahir sebagai Ahmadi (Jemaat keturunan) maupun Mubayyi’in yang baru menerima Ahmadiyah kemudian, mereka yang merupakan penduduk asli Denmark maupun yang bermigrasi ke Denmark, semuanya harus bercermin bahwa mereka perlu untuk berusaha dan melaksanakan ajaran-ajaran Islam sejati sehingga mereka dapat memenuhi kewajiban dari Bai’at kepada abdi sejati Rasulullah saw. Mereka yang terlahir sebagai Ahmadi, mereka yang sudah menjadi Ahmadi selama bertahun-tahun ataupun yang Mubayyi’in baru, setiap Ahmadi baik pria maupun wanita perlu bercermin diri apakah mereka telah memenuhi kewajiban Bai’at atau setidaknya berusaha untuk memenuhinya. Apakah mereka berusaha untuk membayar hutang tanggung jawab yang diharapkan dari kita oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, ataukah mereka berusaha untuk membentuk kondisi mereka sesuai dengan keinginan mereka? Dan apakah mereka membesarkan anak-anak mereka dengan cara yang menanamkan kepada mereka bahwa iman lebih utama dan lebih didahulukan dari perkara-perkara dunia semenjak awal/sejak dini, atau apakah amalan-amalan kita merupakan panutan bagi anak-anak kita seduai dengan ajaran-ajaran Islam? Apakah dalam penyembahan kita kepada Allah Ta’ala, setiap tindakan kita sudah sesuai dengan ajaran-ajaran Allah Ta’ala dan Rasul-Nya?

Setiap orang dapat menemukan jawabannya dengan bercermin diri dengan merenungkan hal-hal ini agar dapat mengenali keadaan mereka sebaik-baiknya. Dan Hadhrat Masih Mau’ud as telah membimbing kita tentang perkara-perkara ini supaya memahaminya dengan sangat mendalam dan kita dapat menetapkan batasan sejauh mana koreksi diri kita itu. Saya hendak menjelaskan pada hari ini sebagian dari tema itu yang mana Hadhrat Masih Mau’ud as inginkan kita mengamalkannya.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menasehati Jemaat dengan penuh keperihan,

“Jemaat kita haruslah mengambil dan menerapkan ketakwaan dan kebajikan di zaman yang penuh pergolakan ini dimana terdapat banyak sekali bimbingan dan arahan yang keliru serta kurangnya perhatian terhadap hal ini. Perintah Allah Ta’ala tidak dimuliakan dan segala tugas dan nasehatnya diabaikan begitu saja. Orang-orang terlalu terpikat dunia dan segalanya itu hanyalah urusan dunia belaka. Sedikit saja kerugian jasmani yang diderita menjadikan mereka meninggalkan keimanannya.

Hal ini dapat dilihat dari berbagai perkara di pengadilan dan dalam urusan pembagian harta warisan. Ketamakan mereka menjadi dasar untuk memperoleh keuntungan dan banyak orang yang menunjukan kelemahan iman mereka tatkala berhadapan dengan hawa nafsu mereka. Ketika keimanan mereka sedang lemah maka mereka tidak berani melakukan dosa. Akan tetapi tatkala kelemahan itu hilang dan ada kesempatan untuk berbuat dosa, maka mereka langsung melakukannya. Kalian akan melihat dimana-mana ketakwaan sejati itu telah hilang dan keimanan sejati itu tidak ada lagi tersisa. Namun demikian, karena Allah Ta’ala tidak ingin untuk menyia-nyiakan bibit ketakwaan dan keimanan sejati, maka kapanpun Dia melihat suatu ladang mendekati kehancurannya, maka Dia akan mempersiapkan suatu ladang yang baru! Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ () “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” [Al-Hijr, 15:10]

Al-Quran masih dalam kondisi aslinya dan banyak sekali bagian hadits yang masih ada dan begitu pula keberkatannya. Namun keimanan di dalam kalbu serta pengamalannya sama sekali tidak ada. Allah Ta’ala telah mengutusku untuk menghidupkan kembali hal-hal tersebut. Ketika Allah melihat bahwa ladang ini telah kosong, maka gejolak ketuhanan­Nya sama sekali tidak menyukai ladang ini tetap kosong dan orang-orang masih tetap saja jauh seperti itu. Oleh karena itu, Allah Ta’ala menghendaki untuk menciptakan suatu kaum baru yang terdiri dari orang-orang yang hidup. Untuk itu, kami akan menghimbau supaya kehidupan ketakwaan itu bisa diraih.”[2]

Jika direnungkan maka hal itu bukan hanya gambaran dari orang-orang yang ada pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as, namun kita juga melihatnya pada hari ini. Betapa banyaknya orang di antara kita yang menjalankan firman Allah Ta’ala dalam kehidupan sehari-hari dan meninggalkan apa yang menjadi larangan-Nya. Lalu bagaimana keadaan kita yang telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as! Allah Ta’ala senantiasa bersabda bahwa Dia menciptakan manusia dan Jin untuk beribadah kepada-Nya, lalu apakah kita senantiasa mengorbankan segala urusan duniawi demi kepentingan ibadah kepada-Nya atau malahan sebaliknya, yakni, kita senantiasa mengorbankan ibadah kita kepada Allah Ta’ala demi kepentingan urusan duniawi? Ada juga orang-orang yang mendirikan shalat mereka tepat waktu karena ingin cepat-cepat melepaskan beban ‘shalat’ dari pundak mereka seolah-olah shalat itu hanyalah suatu tradisi belaka. Kondisi ini tidak hanya terdapat di dalam diri orang-orang non Ahmadi melainkan juga terdapat di dalam diri orang-orang yang telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Allah Ta’ala senantiasa berfirman agar memperlakukan orang lain dengan perlakuan yang baik. Namun demikian, alih-alih bersikap baik, masih banyak orang yang ingin menguasai hak orang lain. Ada juga orang-orang yang tidak bisa tahan terhadap kerugian jasmani namun bisa tahan terhadap kerugian rohani. Ada banyak orang di antara kita yang tidak dapat mengontrol emosi mereka dan terbakar amarah hanya karena masalah-masalah sepele. Kita senantiasa menyebut kurang akal terhadap orang-orang yang bersikap demikian namun sungguh disesalkan jika orang yang seperti itu juga ada di kalangan kita sendiri. Dengan demikian, introspeksilah diri kalian sendiri terhadap berbagai perkara tersebut dan perhatikanlah selalu sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as sebagaimana yang Allah Ta’ala inginkan yakni untuk menciptakan suatu kaum yang baru yang terdiri dari orang-orang yang hidup. Oleh sebab itu, kita harus memberikan perhatian terhadap sabda-sabda beliau as.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Ketika seseorang berupaya untuk mencari jalan Allah Ta’ala hanya karena dorongan rasa takut kepada-Nya dan kemudian memanjatkan doa agar memperoleh keteguhan hati dalam hal ini, maka sejalan dengan hukum-Nya, yakni: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ () 

“Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami, sesungguhnya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala beserta orang-orang yang berbuat kebaikan.” [Al-Ankabut, 29:70] Maka Allah Ta’ala sendirilah yang senantiasa menggenggam tangan orang itu seraya menunjukan padanya jalan tersebut dan senantiasa menganugerahkan kepadanya ketentraman batin. Jika batin seseorang penuh dengan kejahatan, lidahnya pun berat untuk memanjatkan doa, ia pun senantiasa menyekutukan Allah Ta’ala dan ikut dalam praktik bidah maka bagaimana doa dan usaha pencariannya itu akan membuahkan hasil! Seseorang itu tidak layak memperoleh bantuan dan pertolongan Allah Ta’ala sebelum ia sendiri yang mencari-Nya dengan kesucian dan ketulusan hati, seraya menutup segala jalan dan harapan lainnya. Ketika ia menyerahkan dirinya sepenuhnya di singgasana Allah Ta’ala, lalu berdoa hanya kepada-Nya, maka barulah ia akan menarik pertolongan dan karunia-Nya. Allah Ta’ala senantiasa melihat ke dalam relung hati manusia dan jika ada suatu niat buruk, sikap syirik, ataupun bidah di dalamnya, maka segala doa dan ibadah orang itu akan dilemparkan kembali kepadanya. Jika Allah Ta’ala melihat bahwa hati orang itu terbebas dari segala jenis hawa nafsu dan niat buruk, maka Dia senantiasa membukakan pintu karunia-Nya baginya dan seraya melindunginya di bawah sayap-Nya, Dia sendiri yang akan bertanggung jawab untuk memeliharanya.

Selanjutnya beliau as bersabda menjelaskan bahwa tujuan akhir yang perlu direnungkan perihal pendirian Jemaat ini ialah menegakkan ketakwaan,

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menginginkan dari Jemaat ini berupa ketakwaan. Tampak pada saya ketakwaan telah sedikit. Sebagian orang terlibat dalam perbuatan-perbuatan keji di depan publik. Mereka hidup dalam kefasikan dan dosa … Mereka tidak menyadari bahwa bila setitik racun kecil terdapat pada makanan yang baik akan menjadikan semuanya beracun. (banyak orang meraih kebaikan-kebaikan tapi pada waktu yang sama terlibat dalam perbuatan-perbuatan buruk yang memakan kebaikan mereka) Sebagian orang yang lain terlibat dalam dosa-dosa kecil yang urat cabangnya halus yang contohnya ialah riya. Maka dari itu, Allah menghendaki untuk memperlihatkan kepada dunia keteladanan yang hidup dalam hal takwa dan kesucian; dan untuk tujuan akhir ini Dia telah mendirikan Jemaat ini. Dia menghendaki penyucian diri dan bermaksud mendirikan sebuah Jemaat nan suci. (Artinya, Dia menginginkan untuk memperlihatkan teladan ketakwaan dan kesucian, dan kita harus mengoreksi diri kita sendiri apakah kita telah meningkat dalam derajat ini sehingga menjadi teladan bagi orang lain dalam hal ketakwaan dan kesucian. Kita dapat mempelajari keadaan kita dan mengoreksi diri kita.)

Selanjutnya beliau menjelaskan derajat yang hendak orang Jemaat maju ke arahnya,

“Allah Ta’ala telah menegakkan Jemaat ini dengan tangan-Nya sendiri. Meski demikian, kita lihat banyak orang yang terbelit hawa nafsu bergabung kedalam Jemaat ini (Artinya, Allah Ta’ala menciptakan Jemaat ini bertujuan untuk mendirikan Jemaat orang bertakwa dan memperbaiki diri mereka sendiri, dan bersamaan dengan itu/kendati demikian, sebagian yang masuk Jemaat terdapat ketamakan guna meraih kepentingan-kepentingan pribadi tertentu dan tidak mengerti penghiasan diri dengan kebaikan dan takwa). Jika kepentingan mereka terpenuhi, bagus, jika tidak, maka tidak tersisa lagi keimanan dan ketakwaan mereka! (berbalik menjadi acuh tak acuh terhadap agama dan keimanan)

Sementara itu, berkebalikan dengan keadaan tersebut, jika kehidupan para Sahabat Nabi Muhammad saw diteliti dengan seksama, maka kita tidak akan menemukan kisah demikian. Mereka tidak pernah berlaku seperti itu. Bai’at kepadaku adalah baiat pertobatan semata. (Artinya, ketika kita berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, kita berjanji setia untuk bertaubat dari dosa-dosa yang lalu seraya memohon kepada Allah Ta’ala agar memberi kita taufik dalam kebaikan-kebaikan di masa mendatang) namun Bai’at para Sahabat mensyaratkan mereka untuk memenggal kepala mereka sendiri. (Pada masa itu jihad ialah dengan pedang. Tiap orang dari mereka tiap saat harus senantiasa siap [karena serangan para musuh ialah dengan pedang. Mereka siap menjadikan nyawa atau jiwa mereka dalam bahaya. -penerjemah])

Di satu segi, mereka berbaiat dan pada segi lainnya mereka harus siap-sedia untuk mengosongkan diri dari segala harta kepunyaan, kemuliaan, kehormatan dan kehidupan seperti layaknya mereka tidak memiliki apapun. Demikian pula, mereka memutuskan dan melenyapkan harapan dan aspirasi duniawi mereka. Pada mereka telah luntur soal kehormatan, kejayaan, kemuliaan dan kemegahan. Mereka tidak memandang untuk mendapatkan itu semua sedikit pun. Mereka tidak mempedulikan diri mereka sendiri, kehormatan mereka. Mereka tidak mengharap-harap kebesaran atau jabatan/kedudukan yang luar biasa. Tidak ada tekad bulat mereka selain bersiap siaga mempersembahkan pengorbanan dengan harta, waktu dan kehormatan demi agama.”

Kita juga berjanji setia hari ini dengan janji serupa. Bersamaan dengan itu, ada juga sebagian dari pejabat dalam Jemaat yang telah meraih kedudukan berpikiran dengan jabatannya itu menampakkan sedikit dari kebesaran dan keagungan mereka meskipun dalam lingkup yang terbatas. [hanya dalam Jemaat saja, wilayah maupun nasional] Setiap kali meraih suatu kedudukan, wajib bagi mereka untuk bersyukur kepada Allah dan suatu keharusan bagi mereka untuk menciptakan di dalam diri mereka gejolak perasaan pengkhidmatan terhadap agama lebih banyak dari waktu sebelumnya. Tetapi, sayang sekali, mereka tidak memperhatikan hal ini, malahan mulai membanggakan diri atas jabatan mereka. Semua pemangku jabatan dalam Jemaat hendaknya memperhatikan hal ini.

“Siapakah yang berpikiran para Shahabat Nabi Muhammad saw telah membayangkan akan menjadi penguasa atau pemenang/penakluk atas negara lain. (Siapakah dari para Shahabat yang dapat berpikiran tentang itu dengan melihat kondisi negeri Arab saat itu?) Mereka bahkan tidak pernah membayangkan hal-hal ini. Malahan, mereka dulunya biasa menjauhkan diri mereka sendiri dari segala jenis cita-cita. Mereka senantiasa siap sedia untuk menanggung segala rasa sakit, setiap kesulitan dan kedukaan dengan suka hati berada di jalan Allah Yang Maha Perkasa.” (Mereka tidak mengharap-harap/mencita-citakan kebesaran, keagungan dan jabatan. Tidak pula kehormatan dan kemuliaan. Melainkan, mereka ini mempersembahkan pengorbanan. Pada hal itulah mereka menemukan kenikmatan dan kelezatan)

Sedemikian rupa sehingga mereka siap untuk memberikan hidup dan nyawa mereka sendiri. Secara pribadi, mereka sudah tetap terputus dari segala hal duniawi. Namun, meskipun demikian, adalah hal yang berbeda bahwa Allah SWT memberkati mereka, Ia menganugerahi ganjaran berlipat ganda bagi mereka yang mengorbankan segalanya di jalan Tuhan.”[3]

“Sesungguhnya orang yang memperlihatkan perubahan pada akhlaknya dan menjadi manusia yang berbeda sepenuhnya maka seolah-olah ia memperlihatkan Karamah (kekeramatan).” (Jika seseorang menunjukkan perbedaan besar dalam perilaku dan sikapnya kepada tetangganya setelah masuk Jemaat sehingga tetangganya berpikiran ia bukan orang biasa, hal ini bagaikan ia menunjukkan keajaiban dan mu’jizat. Dan hal ini berakibat kekaguman pada tetangganya.)

Hadhrat Masih Mau’ud as selanjutnya bersabda,

“Dan hal ini berpengaruh baik pada tetangganya.” (Akhlak mulia orang itu berpengaruh besar pada tetangganya.) Ada kritik kepada Jemaat kita bahwa para anggota Jemaat mengumpat dan tenggelam dalam amarah.” (Terjadi di sini juga para penentang mengkritik kita, “Kemukakanlah capaian-capaian perubahan kalian setelah bergabung dengan Ahmadiyah. Padahal, selama ini kalian masih terlibat dalam kebohongan, mengada-ada, berprasangka buruk dan amarah.”)

Apakah hal itu tidak menimbulkan rasa malu bagi anggota Jemaatku hal mana mereka datang pada Jemaat ini dengan berpikiran baik bahwa Jemaat ini adalah Jemaat orang-orang saleh.” (Saat ini para Ahmadi berbicara bahwa mereka telah bergabung dengan Jemaat yang merupakan Jemaat orang-orang saleh, atau seseorang yang telah bergabung dengan Jemaat memandang ajaran Jemaat adalah baik)

“Permisalannya, seorang putra yang baik, saleh dan bertakwa akan mengharumkan nama ayahnya dengan semua kebaikannya. Seseorang yang berbaiat laksana seorang putra. (beliau as berdalil demikian) Sebagaimana para istri nan suci dari Hadhrat Rasulullah saw dikenal sebagai أمهات المؤمنين ummahaatul Mu’miniin (Para ibu orang-orang beriman, bentuk tunggalnya Ummul Mu’miniin). Seolah-olah Rasulullah juga sebagai Abul Mu’miniin (Bapak atas orang-orang beriman).” (Itu artinya, jika para istri beliau saw adalah  ummahaatul Mu’miniin, maka secara otomatis beliau saw adalah أب المؤمنين Abul Mu’miniin (Bapak atas orang-orang beriman). Seorang Ayah biologis/jasmani memang secara fisik menyebabkan seorang anak lahir ke dunia, namun Ayah ruhani menyebabkan seseorang terangkat menuju surga dan membimbingnya pada Maqam Yang sesungguhnya.” (yaitu Allah)

Beliau as melanjutkan,

“Apakah ada orang yang menginginkan seorang putra yang menyebabkan ayahnya terkenal dengan nama buruk? Yaitu yang mana putra tersebut biasa mengunjungi para wanita yang berperilaku buruk dan tak bermoral. Ia bermain judi. Ia juga meminum minuman keras atau melakukan tindakan-tindakan memalukan yang menyebabkan aib bagi ayahnya? (Bukan hanya seorang ayah Muslim dan saleh yang tidak menginginkannya, bahkan ayah non Muslim pun banyak yang tidak menginginkannya). Saya tahu tidak ada seorangpun yang menginginkan hal ini. Namun, ketika sang putra yang pemboros melakukan hal ini, maka gunjingan orang tidak dapat dihentikan, dan orang akan mengaitkan sang putra yang demikian dengan ayah yang demikian. Oleh karena itu, si anak yang pemboros tersebut menyebabkan nama buruk bagi ayahnya.

Demikian juga ketika seseorang bergabung ke dalam Jemaat ini dan tidak memikirkan keagungan dan kehormatan Jemaat ini dan bertindak sebaliknya, maka ia akan ditindak dengan cengkeraman hukuman Tuhan. Sebab, ia tidak hanya menyebabkan keruntuhan dirinya sendiri, namun dengan memberikan contoh salah kepada orang-orang selain Jemaat, ia juga menjadikan mereka luput dari jalan dan bimbingan yang benar.”

“Maka dari itu, carilah pertolongan dari Tuhan Yang Maha Perkasa dengan segala keluatan yang kalian miliki dan lenyapkanlah kelemahan kalian dengan segala kekuatan dan keberanian yang dikaruniakan kepada kalian. Ketika kalian merasa tidak berdaya, angkatlah tangan kalian untuk berdoa dengan ketulusan dan keyakinan. Sebab, tangan yang terangkat berdoa dengan kerendahan hati, merendahkan diri, penuh kejujuran dan keyakinan tidak akan kembali dengan hampa.  (Artinya, teruslah berupaya bersungguh-sungguh dan bekerja keras, jika belum berhasil usaha kalian, janganlah menyangka tidak bisa apa-apa sekarang melainkan teruslah berdoa. Perbanyaklah berdoa hingga tiada akhir. Tetapi, angkatlah tangan kalian di hadirat Ilahi dengan jujur dan teruslah memeriksa dan memperbaiki diri kalian sendiri! Lihatlah! Apakah yang kalian katakan itu benar dan apakah yang kalian minta dalam doa itu sesuatu yang tepat! Sebab, hal itu mendorong seseorang untuk mengusahakan kebaikan dan ketika tangannya diangkat untuk berdoa sebagai akibatnya dan itu membuat seseorang berendah hati di singgasana Allah, maka Allah takkan menanggapinya dengan sia-sia melainkan menurunkan karunia-Nya.)

Saya katakan berdasarkan pengalaman bahwa ribuan doa saya telah diterima/dikabulkan dan terus diterima. Termasuk sebuah kepastian bahwa orang yang tidak menemukan di dalam dirinya kasih sayang bagi sesama manusia maka ia berjiwa kikir. (Artinya, jika seseorang tidak memiliki rasa simpati bagi kawannya dan manusia umumnya maka di dalam hatinya terdapat kebakhilan).

Dan, jika saya telah menemukan sebuah cara yang baik, maka tugas saya untuk menyampaikannya lagi dan lagi kepada orang-orang. (Artinya, kita telah menemukan jalan kebaikan yaitu kita telah menerima Ahmadiyah, dan saat sekarang perlu bagi kita untuk mengumumkan kepada orang-orang dengan segenap kemampuan kita dan kita berkata kepada mereka, ‘Marilah kemari mencari tahu apa jalan-jalan untuk memperindah duniawi dan ukhrawi kalian!’

Saya tidak peduli apakah mereka akan mengamalkan seruan saya atau tidak.” (Tugas kita adalah bertabligh. Tanggungjawab kita adalah mengadakan perbaikan. Maka dari itu, hendaknya tidak hirau apakah mereka menerima perkataan kalian atau tidak, mengamalkannya atau tidak. Lalu beliau as mengutip salah satu bait syair Persia)

Aku akan tetap menyeru dan member nasehat, sama saja apakah mereka mendengarku ataukah tidak[4]

Maka dari itu, kita wajib menunaikan hak tabligh dan dakwah dengan member contoh luhur dari amal perbuatan kita. Hal ini wajib bagi setiap Ahmadi. Kita harus memperhatikannya sungguh-sungguh. Akan ada suatu masa ketika orang-orang mendengarkan perkataan kita. Tetapi, seperti yang telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa kita harus tetap terus bertabligh meski satu pun tidak ada yang mendengarkan kita. Dalam hal itu kita harus memberikan contoh keteladanan luhur dengan amal perbuatan kita sebagaimana beliau as telah sabdakan. Dalam hal ini orang-orang akan menaruh perhatian atas kita.

Kemudian, beliau as menasehati kita agar memperbaiki kondisi kita,

“Mengenai wahyu dan ilham yang saya terima tentang wabah tha’uun yang akan terjadi, dikatakan “إني أحافظ كل من في الدار” ‘Setiap orang yang berada di dalam rumah engkau akan diselamatkan’ lalu diikuti dengan sebuah kalimat ilham bahasa Arab “إلا الذين علوا من استكبار” kecuali orang-orang yang sombong.’”

Artinya, mereka yang menganggap diri mereka besar. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan kalimat ini bahwa mereka itu adalah yang tidak menaati dengan ketaatan yang sempurna. Dimaklumi bahwa mereka yang mengimani beliau adalah mereka yang taat.

Mengomentari mengenai bagian tentang kesombongan, beliau berkata hal tersebut benar-benar sangat dilarang dengan keras. Karenanya, penting sekali untuk membaca buku beliau yang berjudul Bahtera Nuh lagi dan lagi, dan mempelajari dan mengamalkan Al Quran. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi.

Kalian akan memperoleh segala caci-maki yang bisa bangsa kalian lancarkan terhadap kalian. Namun demikian, betapa berat dan sulitnya kondisi ini jika setelah memperoleh segala caci-maki, hubungan kalian dengan Allah Ta’ala masih tidak jelas dan kalian tidak berada di bawah karunia dan keberkatan-Nya. Betapa riuhnya para wartawan menentang kita dan bagaimana mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan suasana demikian. Akan tetapi hendaknya mereka tahu bahwa pekerjaan Allah Ta’ala ini penuh dengan keberkatan. Walaupun demikian, adalah penting untuk mengadakan perubahan dan perbaikan di dalam diri kita untuk bisa ikut ambil bagian dalam keberkatan ini demi kebaikan diri kita. Oleh sebab itu, lihatlah kondisi keimanan kalian serta amalan kalian. Apakah kalian telah cukup membersihkan diri kalian agar Allah Ta’ala turun ke dalam hati kalian dan memberikan perlindungan dan pertolongan bagi kalian.[5]

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis bahwa kerendahan hati bekerja seperti benih keimanan. Terlebih lagi, ketika seseorang meninggalkan hal-hal vulgar (ketidakbermaluan), maka tunas kecil keimanan keluar dari hatinya. Kemudian, ketika seseorang memberikan harta bendanya sebagai Zakat, maka pohon keimanan akan tumbuh cabang cabangnya yang akan sangat menguatkannya. Dengan meninggalkan kehendak dan kecenderungan hawa nafsu dan keegoisan diri, maka cabang cabang pohon keimanan ini akan semakin teguh dan kuat. Dan dengan menjaga segala aspek dari janji dan kepercayaan Bai’at, maka pohon keimanan tersebut berdiri pada batang yang kuat dan kokoh. Ketika pohon keimanan tersebut berbuah, maka ia telah mengalami manfaat dari kekuatan ruhani yang lain yang dilakukan oleh orang tersebut – karena tanpa kekuatan ini, maka pohon tersebut tidak akan dapat berbuah atau berbunga.[6]

Selanjutnya, kita pohon iman telah kuat sampai batas ini maka turunlah atasnya karunia-karunia Allah Ta’ala, dan Dia menjadikannya berbuah dan meraih aliran karunia Ilahi. Maka dari itu, mau tak mau kita pun harus menumbuhkan kerendahan hati di dalam diri kita sebab dengan cara itu kita bisa memenuhi hak pengorbanan dengan jiwa dan menambahkan iman dan menjauhi hal sia-sia yang menyelimuti masyarakat. Hal sia-sia itu terdapat di setiap rumah dalam bentuk di dalam televisi dan internet. Termasuk hal yang penting sekali untuk menjauhi hal sia-sia tersebut guna meningkatkan iman kita. Jika itu telah dilakukan kita pasti mampu menjadikan pepohonan kita berbuah dengan karunia Allah sebagaimana kita juga dapat memperelok dunia dan akhirat bagi kita dan keturunan kita mendatang.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai masa depan cerah Jemaat,

“Zaman ini adalah masa peperangan ruhani. Perangnya adalah dengan Syaitan yang menyerang benteng Islam dengan segala persenjataan dan kelicikan serta rencana busuknya dan ingin mengalahkan Islam. Namun Allah Yang Maha Perkasa telah mendirikan gerakan Jemaat ini untuk mengalahkan Syaitan selama-lamanya dalam perang terakhirnya. Terberkatilah mereka yang menyadari hal ini… Segera akan datang waktu tatkala Allah Yang Maha Perkasa akan menerangi kebenaran gerakan Jemaat ini lebih benderang dari cahaya mentari. Masa itu adalah masa menerima keimanan bukanlah menjadi penyebab pahala besar ruhaniah.

Saat ini siapa pun yang menerimaku harus bertempur dalam peperangan besar melawan dirinya sendiri. Ia akan tahu bahwa pada waktu-waktu tertentu ia harus meninggalkan keluarganya dan berbagai usaha akan dilakukan untuk menghambat dan menghalagi urusan duniawinya dan ia akan disiksa secara verbal. Ia akan menghadapi kutukan dan cacian, namun akan diberikan ganjaran dari Allah Yang Maha Perkasa untuk segala hal ini.

Namun ketika era lain akan datang dan dunia akan ‘dipaksa’ untuk cenderung pada gerakan Jemaat ini laksana air terjun yang jatuh dari gunung tinggi dan ketika tidak ditemukan adanya orang yang menyangkal Jemaat. Apa harganya penegasan janji Bai’at dalam masa yang demikian? Menerima keimanan bukanlah hal yang merupakan keberanian pada masa yang seperti itu… “

“Ketika Hadhrat Abu Bakr ra meninggalkan kepemimpinan Makkah (yaitu kemungkinan beliau menjadi pemimpin Makkah), Allah Yang Maha Perkasa menganugerahi beliau sebagai Raja dunia berkat mengimani Hadhrat Rasulullah saw. Selanjutnya kita lihat Hadhrat Umar ra juga mengambil dan melakukan kerendahan hati dan menerima Rasulullah saw dengan sikap membenarkan sebuah ungkapan “ألقينا القارب في النهر فليحدث ما يحدث” ‘Kami telah naik ke perahu di sungai. Apa yang akan terjadi, terjadilah’ (pasrah). Apakah Allah Yang Maha Perkasa mengurangi ganjaran baik dan pahala bagi beliau?! Jika manusia melakukan usaha meskipun sekecil mungkin demi Tuhan, ia tidak akan meninggalkan dunia ini sampai ia mendapat ganjarannya. Persyaratannya adalah melakukan upaya dan berusaha. (Artinya ia harus beramal terlebih dahulu dan berjalan, barulah Allah memuliakannya) Hadis meriwayatkan bahwa ketika manusia berjalan menuju Tuhan, maka Tukan akan mendatanginya dengan berlari.”

“Tuntutan iman adalah meyakini sesuatu yang dari beberapa segi tidak terlihat (masih tersembunyi). Seseorang yang dapat melihat bulan sabit (yaitu pada awal atau tiga awal malam) dianggap sebagai orang yang bermata elang/tajam. Namun seseorang yang berteriak karena ia dapat melihat bulan Purnama akan dianggap gila.

Kita berdoa semoga kita dapat menjadi orang yang membuktikan iman mereka. Semoga kita meraih ridha Allah Ta’ala dengan menaati perintah-perintah-Nya dan memenuhi hak-hak Bai’at kita kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Semoga kita menunjukkan kepada dunia jalan menuju kebenaran melalui amal dan perilaku kita dan semoga kita sungguh sungguh bersyukur atas pertolongan dan kebaikan Allah Ta’ala kepada kita. (آمين)

[1] Di dalam Shahih Al-Bukhari, kitab At-Tafsiir; Tafsiir Surah Al-Jumu’ah di bawah ayat: wa aakhariina minhum lammaa yalhaquu bihim terdapat hadits: lau kaanal iimaanu ‘inda ats-tsurayyaa lanaalahu rijaalun au rajulun min haaulaa’i

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُورَةُ الْجُمُعَةِ {وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ} قَالَ قُلْتُ مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يُرَاجِعْهُ حَتَّى سَأَلَ ثَلَاثًا وَفِينَا سَلْمَانُ الْفَارِسِيُّ وَضَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ ثُمَّ قَالَ لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ أَوْ رَجُلٌ مِنْ هَؤُلَاءِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ أَخْبَرَنِي ثَوْرٌ عَنْ أَبِي الْغَيْثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ هَؤُلَاءِ

[2] (mengutip dari malfuzhat, Vol. 4, hal 395 – 396)

[3] (dikutip dari Malfuzhat, Vol 5, hal 296 – 398)

[4] (Dikutip dari Malfuzhat, Vol. 1, hal 146 – 147

[5] (Dikutip dari Malfuzhat, Vol. 4, hal 69 – 70)

(الحكم، مجلد6، رقم 39، صفحة 8-9، عدد: 31/10/1902م).

[6] (Barahin Ahmadiyya Bagian V, catatan kaki hal 209).

(Visited 90 times, 1 visits today)