Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 25 Juli 2008/Wafaa 1387 HS

Di Hadiqatul Mahdi London, U.K..

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

 وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Pada hari ini, Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah United Kingdom (UK/Inggris) akan segera dimulai. Insya Allah, pada Jalsah tahun ini kita berkumpul di sini untuk mensyukuri genapnya seabad Khilafat Ahmadiyah dan untuk mensyukuri karunia-karunia, rahmat dan pertolongan-pertolongan yang turun dari Allah Ta’ala selama seratus tahun.

Jalsah ini merupakan sebuah Jalsah yang sangat penting. Jalsah ini dirasakan sangat penting oleh setiap orang tua, pemuda-pemudi, lelaki maupun perempuan.  Disebabkan pentingnya Jalsah kali ini dan mengingat akan melimpahnya jumlah para tamu yang akan hadir yang berasal dari dalam maupun luar negeri, Jema’at Ahmadiyah Britania/Inggris telah meningkatkan berbagai persiapan lebih luas lagi.  Dan saya harap persiapan-persiapan tahun ini secara keseluruhan akan jauh lebih baik, sekalipun terdapat kelemahan-kelemahan yang kecil yang pada umumnya biasa terjadi.

Dengan pengalaman yang sudah cukup lama yang dimiliki oleh para pegawai dan petugas relawan Jalsah, dengan karunia Allah Ta’ala telah membuat mereka menjadi sangat mahir dan trampil dalam menjalankan tugas mereka masing-masing.  Dan dalam hal itu jika dinilai oleh seorang Ahmadi yang memiliki nuansa keimanan yang tinggi, maka artinya terdapat ketekunan yang luar biasa di dalam pekerjaan yang dilakukan oleh para pegawai dan petugas relawan Jalsah Salanah.  

Jalsah pada tahun ini adalah Jalsah Yubilium Khilafat juga. Di dalam hati setiap petugas baik anak-anak, pemuda-pemudi dan orang-orang tua tertanam perasaan yang khas di waktu mereka menjalankan pengkhidmatan.  Dan dimana pun Jalsah sedang dilaksanakan pada tahun ini dan dimana pun saya telah mengunjungi mereka, perasaan cinta mereka ini nampak sekali kepada saya dari air muka mereka.  Baik pada Jalsa Salanah yang diselenggarkan di Ghana, Nigeria atau pada Jalsah Salanah di Bennin,yang merupakan sebuah Jemaat baru dan baru pertama pula mereka mengadakan Jalsah.  Begitu pun Jalsah Salanah yang diselenggarakan di Amerika dan Canada.

Tentang para Ahmadi di Amerika, saya ingin mengatakan sesuatu.  Saya tidak tahu mengapa para Ahmadi di negara-negara lain mengira bahwa Jalsah Salanah di Amerika tidak akan nampak begitu semangat dan begitu ramai seperti yang terlihat di negara lainnya.  Perkiraan mereka itu sering dikemukakan di dalam surat-surat yang datang dari mereka sampai sekarang.  Mungkin saja perkiraan mereka ini timbul disebabkan adanya kesan-kesan umum tentang Amerika. Yang memiliki kesan banyak kelemahan dikalangan para pemudanya. Sebab di sana terdapat banyak sekali anak-anak muda. Akan tetapi anggapan umum tentang para anggota Jemaat di sana adalah tidak benar. Pada umumnya keadaan masyarakat di sana sangat baik. Dan sejauh mana tentang keadaan orang-orang Ahmadi, mereka tidak memiliki suatu kekurangan atau kelemahan.  Dan hal itu dengan karunia Allah Ta’ala berkat mereka telah menggabungkan diri dengan Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Bagaimanapun pada saat ini akan saya uraikan tentang Jalsah Salanah yang diadakan di Britania.  Sebagaimana telah saya katakan bahwa dari segi persiapan-persiapan yang sifatnya sementara ini termasuk menghadapi peraturan-peraturan negara ini, demikian luas dan besarnya persiapan-persiapan yang dilakukan, tidak dapat dibandingkan dengan Jalsah Jemaat  dimana pun.

Dari segi jumlah peserta, semenjak diadakan Jalsah, biasanya Jalsah German dan Jalsah Britania selalu banyak pesertanya.  Dan pada tahun ini peserta Jalsah Salanah Ghana melonjak lebih banyak dari semua Jalsah yang pernah diadakan. Saya tidak menyebutkan Jalsah di Pakistan, karena Pemerintah di sana, yang menamakan diri sebagai pemerintah yang adil dan bebas beragama, sejak 24 tahun tidak memberi izin lagi kepada kita untuk mengadakan Jalash Salanah. Kami tidak mengerti mengapa Pemerintah Pakistan merasa takut terhadap orang-orang Jemaat yang mencintai kedamaian ini.

Dalam kesempatan Jalsah ini saya ingin menganjurkan kepada semua para anggota Jemaat khususnya hadirin Jalsah agar banyak-banyak memanjatkan do’a untuk negara Pakistan.  Pertama untuk negara secara keseluruhan yang sedang kacau ‑kita tidak tahu para penguasa pemerintahan di sana mau dibawa ke arah mana negara itu‑  dan apa pula yang dikehendaki oleh negara itu.  Di dalam pemilihan umum yang belum lama diadakan tahun ini, tidak ada seorang maulvi-pun yang mendapat kedudukan dalam pemerintah.  Masyarakat awam di sana sudah tidak suka kepada para mullah. Maka sesuai dengan fitrat para Mullah, mereka sekarang sedang melancarkan balas dendam di seluruh kawasan negara itu.

Mereka sedang berusaha menguras setiap potensi yang ada pada negara dengan melancarkan berbagai macam kerusuhan di seluruh wilayah negara Pakistan.  Sedangkan para pemimpin dan para ahli politik negara itu merasa takut dari para mullah yang sudah disingkirkan dan ditolak oleh masyarakat awam di dalam pilihan raya (pemilihan umum) tahun ini. Sehingga sekalipun perbuatan makar para mullah itu jelas nampak di hadapan mata kepala para pemimpin dan para penguasa negara namun mereka tidak berani mengambil tindakan apapun terhadap mereka itu.  Dan mereka bukan menumpas perbuatan makar dan tindakan pemberontakan yang dipimpin oleh para mullah yang sudah melampaui batas itu, namun sebaliknya para pemimpin itu menundukkan kepala dihadapan para mullah dan mulai bercakap-cakap dengan merendahkan diri di hadapan mereka itu, seakan-akan berada dibawah kekuasaan mereka.

Bagaimanapun keadaannya semoga Allah Ta’ala mengasihani negara kita itu.  Selain itu, saudara-saudara harus banyak memanjatkan do’a bagi saudara-saudara ruhani kita disana.  Acara apapun yang mau mereka adakan semoga dapat dilaksanakan dengan baik dan aman.  Semoga mereka dapat melaksanakan Jalsah dengan sangat gemilang.  Semoga Allah Ta’ala menghapuskan undang-undang zalim yang diberlakukan terhadap Jemaat di sana.  Semoga Allah swt memberi akal kepada para pemimpin di sana, yang tidak paham ke arah mana mereka sedang membawa negara ini dan apa akibatnya.

Pada hari-hari Jalsah ini orang-orang Ahmadi yang datang dari Pakistan harus banyak-banyak berdo’a untuk orang-orang Ahmadi di sana dan juga untuk negara Pakistan sendiri.

Pada khutbah Jum’ah yang lalu saya telah mengingatkan para pegawai dan para petugas relawan Jalsah, maksudnya bukan berarti bahwa mereka tidak melaksanakan kewajiban mereka dengan baik.  Dengan karunia Allah Ta’ala setiap pegawai dan petugas Jalsah menjalankan tugas mereka dengan penuh semangat dan kecintaan, seperti telah saya katakan sebelumnya.  Dan seperti telah saya katakan juga bahwa persiapan yang begitu besar dan luas dan begitu panjang waktu yang dipergunakan untuk itu tidak terdapat di negara manapun seperti yang mereka kerjakan di sini.  Jalsah di Jerman sekalipun dari segi jumlah peserta sama banyak dengan jumlah peserta Jalsah UK, namun di sana cukup banyak diperoleh kemudahan-kemudahan sedangkan di sini tidak dapat diperoleh seperti itu.

Pada tahun yang lalu Allah Ta’ala telah memberi satu pengalaman yang mengesankan bagi para pegawai Jalsah di sini, yakni disebabkan cuaca buruk, hujan telah membuat banyak persiapan-persiapan menjadi kalang-kabut.  Akan tetapi para pegawai dan para petugas Jalsah dalam keadaan yang sangat sulit itu telah mampu mengatasinya dengan baik dan penuh cermat.  Dalam menghadapi kesulitan di masing-masing bagian terpaksa diatasi oleh petugas masing-masing bagian pula, sehingga dapat diselesaikan dengan baik.

Keadaan cuaca pada tahun ini sangat baik sekali dibanding dengan keadaan cuaca tahun yang lalu.  Dan semoga terus baik selama Jalsah ini berlangsung. Berdo’alah terus untuk itu.  Memang segala sesuatu berada di bawah kekuasaan Allah Ta’ala.  Tanpa ada karunia dari pada-Nya kita tidak bisa memperoleh sesuatu.  Jika Dia berkehendak tentu semua ramalan cuaca akan ternyata benar.  Manusia hanya mengkira-kira berasaskan kepada suatu perkiraan tertentu kemudian mereka mengumumkan keadaan cuaca yang akan terjadi sesuai perkiraan mereka.

Akan tetapi dari keadaan cuaca buruk di tahun yang lalu dirasakan ada juga faedahnya bagi Jemaat, yaitu Khuddam sempat memperoleh pengalaman-pengalaman baru.  Khuddam yang sudah mempunyai kemahiran melaksanakan tugas di atas jalan-jalan yang bersih dan lancar, menjadi mahir dalam menghadapi suasana jalan yang berlumpur.  Sekarang, menurut pikiran saya jika ada sebuah kendaraan terperosok ke dalam lumpur, Khuddam akan mampu menarik atau mengeluarkannya dengan mudah berkat adanya pengalaman di tahun lalu.

Di samping itu sekarang saya ingin menasehati para tamu yang akan datang untuk menghadiri Jalsah, sedangkan para pegawai dan para petugas, dengan karunia Allah Ta’ala mampu bekerja dengan sangat cermat serta giat dan keadaan mereka akan bekerja tetap seperti itu, insya Allah Ta’ala.  Akan tetapi para tamu juga mempunyai beberapa tanggung jawab. Pertama-tama yang harus diingat adalah maksud menghadiri Jalsah Salanah ini semata-mata karena Allah Ta’ala.  Oleh sebab itu jangan lupa kepada maksud itu dan harus selalu tertanam di dalam pikiran mereka.  Dan di dalam hal itu yang paling penting lagi adalah tentang menunaikan sembahyang.  Dengan mendengarkan ceramah sambil duduk dengan baik dan tekun saja, belum mencapai maksud dan tujuan menghadiri Jalsah.  Bahkan setiap orang selama menghadiri Jalsah harus berusaha untuk mengadakan perobahan suci di dalam diri masing-masing.  Dan semua amal soleh  dan ibadah sembahyang yang dilakukan selama Jalsah harus menjadi bahagian tetap di dalam kehidupan sehari-hari orang-orang yang menghadiri Jalsah.

Ibadah sembahyang yang dilaksanakan sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa khusyu dan khudhu (sangat merendahkan diri).  Bahkan sembahyang-sembahyang itu selain harus dilaksankan dengan khusyu dan khudhu, harus pula dilaksanakan tepat pada waktunya.  Dan harus dibiasakan menunaikan sembahyang dengan berjamaah.  Pada umumnya disini bazaar/pasar dan toko-toko selalu ditutup di waktu-waktu sembahyang sedang dilaksanakan.  Selama Jalsah berlangsung dan juga selama waktu-waktu sembahyang semua toko dan pasar harus ditutup.  Oleh sebab itu para tamu yang sudah biasa datang dan juga para tamu yang baru pertama kali datang jangan mencoba untuk pergi ke bazaar atau ketempat-tempat berjualan.  Kadangkala terjadi secara diam-diam, tanpa alasan kuat bazaar-pun telah dibuka, yang semata-mata melanggar peraturan.  Dengan adanya perbuatan pelanggaran demikian bisa menimbulkan kesulitan terhadap petugas yang bersangkutan.

Selain itu selama hari-hari Jalsah pada umumnya diadakan juga sembahyang tahajjud berjamaah dan pada waktu itu selalu ramai orang-orang yang ikut sembahyang.  Dan di tempat-tempat tinggal para tamu yang terpisah juga harus diadakan sembahyang tahajjud bersama dengan teratur.  Di Islam Abad terdapat tempat penampungan para tamu, tentu di Baitul Futuh juga banyak para tamu.  Di kedua tempat itu juga harus diselenggarakan secara teratur, baik sembahyang fajar maupun sembahyang tahajjud secara berjama’ah.  Selain itu para tamu dalam jumlah besar yang tinggal di rumah-rumah. Jika mereka tinggal dekat dengan pusat atau masjid dan mudah untuk pergi ke sana, jika mereka sudah sampai ke rumah sebelum Maghrib atau Isya, di sana pun harus diusahakan untuk sembahyang Maghrib dan Isya secara berjama’ah.  Orang-orang

yang tinggal di London harus menepati waktu-waktu sembahyang itu dan mereka harus mengajak para tamu juga untuk menunaikan sembahyang bersama-sama. Jika tidak ada perhatian penuh terhadap ibadah sembahyang dan ibadah-ibadah lainnya, tentu maksud dan tujuan kedatangan mereka ke Jalsah tidak dapat terpenuhi.

Pidato atau ceramah-ceramah Jalsah tidak akan memberi faedah atau seseorang tidak akan dapat memetik faedah dengan sesungguhnya dari ceramah-ceramah yang disampaikan di waktu Jalsah jika ibadah sembahyang mereka tidak dilaksanakan dengan tekun dan penuh tanggaung jawab.  Jalsah ini adalah Jalsah Yubilium Khilafat, karena itu jumlah pengunjung sangat banyak sekali.  Dan Jalsah ini adalah Jalsah pertama yang diadakan di dalam tahun Yubilium Khilafat.  Dan banyak para peserta datang karena menganggap Jalsah ini sangat penting dan istimewa sekali yang berkaitan dengan Jalsah Jubilee Khilafat.

Maka apabila Allah Ta’ala menyebut nikmat Khilafat dan di dalam firman-Nya disebutkan bahwa perasaan takut orang-orang mukmin diganti dengan perasaan aman, dan orang-orang mukmin akan menunaikan ibadah.  Mereka beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan disebabkan mereka tidak menyekutukan Tuhan dengan sesuatu, maka dianugerahkanlah nikmat Khilafat ini kepada mereka.  Kemudian hal itu meningkatkan perhatian mereka untuk lebih tekun lagi menunaikan ibadah kepada-Nya.

Dan di dalam ayat pertama setelah ayat istikhlaf Allah Ta’ala berfirman :

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ

‑wa aqîmush-sholâta‑

Yakni : Dirikanlah shalat (An Nur ayat 57) Langkah pertama untuk tidak melakukan syirik adalah mendirikan sembahyang.  Mendirikan sembahyang itu apa artinya? Yaitu menunaikan sembahyang dengan berjamaah, menunaikan sembahyang dengan teratur dan tertib, dan menunaikan sembahyang tepat pada waktunya, menganggap ibadah sembahyang lebih utama dari pekerjaan lain, dan tidak menilai

amal perbuatan lain lebih tinggi dari menunaikan ibadah sembahyang.

Maka selama hari-hari Jalsah ini semua orang yang datang untuk Jalsah harus memberi perhatian yang utama kepada kewajiban ibadah sembahyang.  Bahkan di hari-hari Jalsah ini harus banyak memanjatkan do’a secara khusus dan usahakanlah agar kebiasaan menunaikan sembahyang di hari-hari Jalsah ini harus menjadi bagian kehidupan sehari-hari saudara-saudara semuanya.  Supaya saudara-saudara selalu menjadi orang-orang yang dapat meraih bagian dari berkat-berkat yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada kita semua dalam bentuk Lembaga Khilafat, yang menjadi sarana untuk meningkatkan kekuatan bagi setiap orang Ahmadi secara perorangan maupun bagi Jemaat secara keseluruhan, dengan syarat, semangat ibadah-ibadah kita tetap hidup.  Jadi jagalah ibadah sembahyang secara khusus pada hari-hari Jalsah ini. Sebab itulah asas tujuan hidup kita.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Setiap umat akan tetap berdiri secara lestari selama perhatian mereka tetap terpusat untuk beribadah kepada Allah Ta’ala”. Beliau bersabda : “Pondasi iman juga adalah shalat”. Maka Allah swt berfirman:

وَعَدَاللهُ الَّذِيْنَءَامَنُومِنْكُمْ

‑wa’adallohul-ladzîna âmanû minkum‑

Yakni Allah swt telah berjanji kepada orang-orang beriman dari antara kamu, yaitu :

لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِيْ لْاَرْضِ

‑layastakhlifannahum fil-ardh‑

Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah-khalfiah di muka bumi ini.”

Jadi untuk memperoleh nikmat ini dari Allah Ta’ala setiap orang Ahmadi harus meningkatkan iman mereka. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga telah bersabda : “Pondasi iman adalah shalat”.  Maka pondasi ini harus dipegang erat-erat. Bahkan akar (asas) ini harus ditanamkan di dalam hati dengan sekuat-kuatnya dan dalam keadaan bagaimanapun asas ini jangan mengalamai kerusakan.  Sebab jika manusia sudah malas untuk menunaikan sembahyang, menjadi tanda baginya bahwa imannya sudah lemah. Jika keadaan imannya sudah lemah tentu hubungannya dengan Khilafat-pun menjadi lemah juga.

Maka pada hari-hari Jalsah ini, sesuai dengan tujuan kita datang berkumpul di sini, sembahyang-sembahyang kita hendaklah dipelihara, agar sesuai dengan janji Allah Ta’ala sembahyang itu akan menjadi penjaga kita, sehingga timbullah kekuatan di dalam iman kita.  Dan setelah berhasil meraih kecintaan Tuhan, kita akan menjadi pewaris nikmat-nikmat-Nya yang telah Dia janjikan kepada orang-orang mu’min.

Tentang cara-cara memanjatkan do’a di dalam sembahyang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Sembahyang harus dilaksanakan dengan khusyu dan sangat merendahkan diri dihadapan Allah Ta’ala.  Dan di dalamnya harus banyak-banyak dipanjatkan do’a untuk kebaikan agama maupun dunia.” Selanjutnya beliau bersabda :

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

‑walladzînahum ‘alâ sholawâtihim yuhâfidzûn‑

Artinya : “Dan mereka yang memelihara dengan ketat sembahyang-nya dan tidak pernah meninggalkannya.”  Dan untuk itulah tujuan diciptakannya manusia, supaya belajar apa hakikat sembahyang itu.  Ingatlah selalu bahwa sembahyang adalah sarana untuk memecahkan berbagai macam kesulitan dan menjauhkan diri dari bermacam-macam musibah.  Akan tetapi sembahyang bukanlah seperti yang dilakukan oleh manusia sebagai adat kebiasaan, melainkan sembahyang dilakukan sedemikian rupa sehingga kalbu manusia menjadi luluh di hadapan Allah Ta’ala.  Dan dengan kecintaan yang sangat dalam ia menjatuhkan diri di hadapan singgasana Allah Ta’ala laksana air meleleh di hadapan-Nya.  Dan ia pun harus paham bahwa menjaga sembahyang bukan untuk kepentingan Allah Ta’ala.  Sesungguhnya Allah Ta’ala sama-sekali tidak memerlukan suatu faedah sembahyang kita.  Dia adalah Ghani ‘anil ‘alamian Dia tidak memerlukan sesuatu dari kita. Maksudnya tiada lain adalah manusia sendiri yang memerlukannya. Dan hal ini adalah suatu rahasia bagaimana manusia menginginkan kebaikan bagi dirinya. Dan itulah sebabnya ia memohon pertolongan dari Allah Ta’ala. Karena hal itu membuktikan bahwa adanya hubungan erat manusia dengan Tuhan menghasilkan kebaikan yang hakiki.

Bagi seorang yang sudah demikian kuat keadaannya, sekalipun dunia menjadi musuhnya dan kehancurkan membayang-bayanginya, maka hal itu semua tidak akan mendatangkan mudharat apapun kepadanya.  Dan demi melindungi orang demikian seandainya Allah Ta’ala harus menghancurkan ratusan ribu orang, maka Di akan lakukan demikian. Ingatlah..!!. Sembahyang adalah amalan yang karenanya manusia bisa mengerti tentang dunia dan tentang agama juga.  Selanjutnya beliau bersabda : “Sembahyang adalah amal ibadah yang dengannya manusia diselamatkkan dari perbuatan buruk dan perbuatan yang terkutuk.  Akan tetapi untuk mencapai sembahyang peringkat demikian bukan ikhtiar manusia dan cara demikian tidak dapat pula diperoleh tanpa pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala.  Dan selama manusia tidak menempatkan dirinya sibuk untuk berdo’a maka ia tidak akan bisa menimbulkan konsentrasi demikian khudhu dan khusyunya di dalam sembahyangnya.  Oleh sebab itu janganlah membiarkan kehidupan kalian walau sesaatpun baik di waktu siang maupun malam kosong dari permohonan do’a kepada-Nya.”

Jadi, kita sekarang sedang memperoleh banyak kesempatan untuk beribadah, baik di waktu siang maupun malam untuk beribadah kepada Allah Ta’ala.  Oleh karena itu kita harus menjaga sembahyang-sembahyang kita dengan baik sambil memohon pertolongan dari pada-Nya.  Dan lewatkanlah waktu siang dan malam untuk banyak berdo’a kepada Allah Ta’ala.  Semoga kita menjadi pemohon nikmat-nikmat dari Allah Ta’ala dan semoga sembahyang kita mampu mencegah kita dari perbuatan buruk.  Semoga pada hari-hari Jalsah ini kita mendapat taufiq untuk memanjatkan do’a-do’a yang mampu menarik keridhaan Allah Ta’ala dan menjadi orang-orang yang selalu mewarisi rahmat dan kasih-sayang-Nya.

Semoga Allah Ta’ala memberi hidayah dan pengertian kepada para penentang Jemaat Ahmadiyah.  Dan jika memang sesuai dengan pengetahuan Allah Ta’ala dan bukan merupakan takdir, maka semoga Allah Ta’ala selalu melindungi kita dari setiap kejahatan mereka itu.

Jadi, pada hari-hari Jalsah ini kita harus memberi perhatian yang khusus untuk menjalankan ibadah kepada Allah Ta’ala dengan sebaik-baiknya.  Sebab itulah maksud dan tujuan kita semua.

Setiap orang Ahmadi yang datang menghadiri Jalsah Salanah ini harus selalu mengingat tujuan utama datang menghadiri Jalsah ini.  Di dalam hari-hari Jalsah ini mengucapkan salam kepada orang lain harus dibiasakan.  Sebab hal itu adalah salah satu hukum mendasar dari sekian banyak hukum-hukum yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada kita.  Dan hal itu sebuah sarana untuk menjalin perasaan cinta satu sama lain. Dan para tamu yang datang juga harus ingat bahwa, sekalipun melayani para tamu adalah tanggungjawab tuan rumah sepenuhnya, akan tetapi ada beberapa kewajiban yang menjadi tanggung jawab para tamu juga.

Di dalam surah Al Ahzab terdapat ketentuan dari Allah Ta’ala melalui Hadhrat Rasulullah s.a.w yaitu asas hukum untuk para tamu.  Hukum ini harus diingat selalu oleh setiap orang ke mana pun dia pergi menjadi tamu seseorang di suatu tempat. Dan bagi para tamu yang datang menghadiri Jalsah ini, hukum itu harus selalu diingat secara istimewa. Sebab tamu Jalsah telah datang untuk maksud dan tujuan yang khusus.  Dan khususnya para tamu yang tinggal di sini berada di bawah tanggung-jawab pelayanan dan pengurusan Jemaat sepenuhnya.  Maka hukum-hukum itu harus dipatuhi dan ditaati sepenuhnya.

Terutama janganlah pergi kepada jamuan tanpa diundang.  Suri teladan Hadhrat Rasulullah s.a.w. ini selalu terpampang di dalam bayangan kita.

Ketika para tamu datang lebih banyak dari yang ditentukan, seorang telah datang ke tengah-tengah jamuan itu. Maka Rasulullah s.a.w. meminta izin kepada ahli bait/tuan rumah dan bersabda bahwa : “ Seorang tamu bertambah satu orang datang bersama-ku.  Jika engkau kehendaki akan aku bawa dia ke dalam, kalau tidak katakanlah terus terang kepada-ku tanpa takut dan ragu aku akan suruh dia pulang jika engkau tidak menghendakinya.”

 Jadi para tamu yang datang dari luar harus ingat, sekalipun mereka datang untuk Jalsah dan datang berdasarkan surat undangan, dan tanpa surat undangan tidak bisa datang. Akan tetapi perlu diingat bahwa tamu Jema’at diperbolehkan tinggal sampai waktu yang telah ditetapkan.  Namun jika setelah habis masanya banyak juga yang dengan keras kepala meminta diperpanjang masa tinggal mereka.  Maka hal demikian menjadi seperti tamu liar tanpa diundang yang bisa menimbulkan kesulitan.  Banyak yang menuliskan masa berlakunya tiket cukup lama.  Hal itu dijadikan alasan terpaksa harus tinggal agak lama.  Lalu selama waktu menunggu mereka-pun mulai bekerja di sini.  Jika memang terpaksa demikian maka uang hasil kerja itu harus dibelanjakan sebagaimana mestinya untuk memenuhi semua keperluan pribadi masing-masing.  Jangan menjadi beban bagi Jemaat. Apabila terpaksa harus tinggal lebih lama lagi, tentu akan menimbulkan masalah seperti yang telah terjadi pada tahun yang sudah lalu.  Pada tahun sebelumnya juga telah terjadi hal yang sama.  Tatkala mereka disuruh meninggalkan tempat tinggal mereka, maka timbullah macam-macam keberatan dan komplain kepada semua.

Menurut undang-undang, mereka tidak boleh bekerja, visa mereka untuk kunjungan sosial, oleh sebab itu kehadiran mereka menimbulkan beberapa masalah dan menimbulkan kesulitan bagi yang bersangkutan.  Kadangkala perkara beberapa orang seperti itu diketahui juga oleh jawatan pemerintah.  Oleh sebab itu kepada beberapa orang yang berbuat demikian, saya katakan kepada mereka, jika kalian ingin tinggal lebih lama lagi disini uruslah sendiri, jangan melibatkan Jema’at. Sebab orang-orang yang tinggal lama setelah Jalsah selesai, keadaan mereka seperti orang-orang yang telah tinggal lama di rumah seseorang sebagai tamu dan menyusahkan tuan rumah.

Selain itu satu hal lagi yang harus diingat oleh para tamu, bahwa untuk mengkhidmati mereka itu terpaksa datang ke sini beberapa orang petugas yang berpendidikan tinggi dan ada juga yang terpelajar biasa dan yang bekerja di berbagai urusan, mereka semua telah mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan mereka berkhidmat dengan penuh dedikasi. Pada umumnya mereka berkhidmat dengan hati terbuka dan senang dan mereka siap untuk melaksanakan pekerjaan apa pun. Saya sendiri selalu memberi penerangan dan dorongan kepada mereka satu atau dua kali sebelum berlangsung Jalsah Salanah. Saya menjelaskan bagaimana caranya supaya mereka melakukan pengkhidmatan dengan sebaik-baiknya terhadap para tamu Jalsah.  Akan tetapi, jika terpaksa terjadi keluar kata-kata yang kurang menyenangkan dari pihak mereka terhadap seseorang maka para tamu juga harus menunjukkan kesabaran menghadapi hal demikian.

Jika setiap orang dan setiap tamu yang datang untuk Jalsah mengetahui semua kewajiban mereka sendiri, maka tidak akan timbul perkara yang tidak disenangi.  Tahun yang lalu disebabkan turun hujan yang sangat deras dan terus-menerus timbul beberapa kesulitan dan beberapa kekurangan di dalam pelayanan.  Sehingga di antara para pegawai dan para petugas bagian transportasi dengan para tamu telah terjadi beberapa peristiwa kecil-kecil yang kurang menyenangkan.  Dan sekarang juga saya menerima beberapa keluhan yang ditimbulkan oleh beberapa orang tamu.  Misalnya, sesuai dengan peraturan lalu-lintas tidak boleh menghentikan kendaraan di depan pintu halaman rumah orang lain, yang dapat menimbulkan kesulitan bagi tetangga rumah itu.  Melalui TV juga sering diumumkan supaya jangan memarkir kendaraan seenaknya di depan pintu halaman rumah orang.  Seperti dilakukan di kota-kota kecil orang-orang biasa memarkir kendaraan di tepi jalan. Namun demikian para tamu yang datang dari negara-negara Eropa dengan kendaraan pribadi, mereka memarkir kendaraan tanpa menghiraukan peraturan dan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan kepada mereka. Dengan demikian mereka telah melakukan kesalahan. Padahal seharusnya mereka berpegang kepada peraturan, jika memang mereka datang untuk memperoleh berkat-berkat Jalsah Salanah.

Para pegawai atau para petugas kadangkala dengan melihat pelanggaran- pelanggaran yang telah dilakukan oleh tamu, suhu tabiat mereka menjadi naik, seakan-akan mau marah terhadap tamu yang melanggar aturan itu, namun mereka itu pun harus belajar mengendalikan emosi dan menekan perasaan dalam menghadapi peristiwa-peristiwa kecil seperti itu.

Di waktu makanan sedang dihidangkan, juga telah terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan.  Perempuan-perempuan dan anak-anak atau orang-orang sakit tidak bisa mengendalikan kesabaran.  Disebabkan waktu yang cukup panjang sudah menahan lapar mereka.  Hal itu menimbulkan kesulitan bagi mereka.  Mereka tidak bisa menahan lapar lagi untuk waktu lama, hal itu mungkin disebabkan oleh program acara yang cukup lama atau disebabkan lalu-lintas yang macet menghabiskan waktu yang cukup panjang dan mereka terpaksa menahan lapar.

Tentang ini sebelumnya sudah saya katakan kepada para petugas agar jangan terlalu ketat dalam memegang peraturan ini.  Untuk orang-orang yang merasa lapar seperti itu hendaknya dilayani sekalipun acara Jalsah sedang berjalan.  Sebab pada waktu itu took-toko juga tentu tutup.  Untuk orang-orang seperti itu hendaknya makanan selalu dipersiapkan.  Hal itu tidak melanggar peraturan.

Kemudian orang-orang yang mempunyai anak-anak dan orang-orang sakit hendaknya selalu siap membawa makanan kecil yang bisa disimpan di dalam tas atau kantong.  Supaya di mana perlu bisa langsung dimakan sehingga tidak akan menimbulkan perkara yang tidak diinginkan.  Dan di waktu menunggu transportasi yang cukup lama juga makanan itu bisa dikonsumsi untuk menahan lapar.

Sesungguhnya pada Jalsah sekarang ini persiapan-persiapan telah dilakukan dengan cukup cermat dan teliti. Mudah-mudahan tidak akan timbul hal-hal yang menyulitkan. Akan tetapi kita tidak bisa menolak kemungkinan-kemungkinan lain yang kiranya akan terjadi.  Khususnya di waktu acara sudah bubar orang-orang siap untuk pulang, pasti akan terjadi suasana yang sibuk dan besar kemungkinan akan terjadi beberapa kesulitan.

Petugas bagian transportasi harus betul-betul bijak dan cermat.  Dibantu oleh bagian tamu dalam menanggulangi suasana pada waktu itu dan menyediakan paket-paket makanan seperlunya untuk yang tidak sempat menyantap makanan sebelum berangkat.  Bis-bis pengangkut pun harus diatur dengan rapih dan selalu siap setiap saat untuk mengantar tamu ke tempat-tempat tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.  Sehubungan dengan makanan itu pada tahun yang lalu terjadi beberapa komplain/pengaduan, namun para tamu juga harus mengingatkan tentang itu, tuan rumah pun tentu akan memenuhi apa yang diperlukan oleh para tamu.  Para tamu juga harus ingat bahwa kita harus melangkah di atas jalan yang telah dicontohkan oleh Hadhrat Rasulullah saw atau pada zaman sekarang ini contoh itu telah diperlihatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kepada kita.  Bagaimana keadaan dan sifat para tamu Hadhrat Masih Mau’ud a.s.?

Sebagai contoh saya ingin menceritakannya pada saat ini.  Di dalam Khutbah Jum’ah yang lalu saya telah menjelaskan contoh sebagai tuan rumah.  Tetapi tamu beliau di waktu itu telah menyaksikan sendiri bagaimana corak dan sifat beliau a.s. yang luhur itu.

Hadhrat Syeikh Ya’kub Irfani menulis : Diwaktu terjadi Jang Mukaddas yakni di waktu terjadi perdebatan antara beliau dengan  orang-orang Kristiani.  Dari Kristiani Abdullah Atham hadir sebagai lawan.  Di waktu itu ada beberapa orang tamu. Saat terjadi perdebatan itu orang-orang telah berkumpul banyak sekali jumlahnya.  Pada suatu hari orang rumah telah terlupa menyediakan makanan untuk Hadhrat Masih Mau’ud a.s.  Beliau r.a. menulis : Saya telah menegaskan kepada isteri saya untuk menyediakan makanan untuk Huzur, akan tetapi disebabkan kesibukan pekerjaan lain, sehingga menyediakan makanan pun sudah terlupakan dan sampai larut malam makanan belum juga disediakan.  Setelah lama menunggu Hadhrat Masih  Mau’ud a.s. menanyakan makanan itu sehingga semua menjadi gelisah. Pasar dan warung-warung pun sudah tutup semuanya dan makanan tidak bisa diperoleh.  Sehingga Huzur memberitahukan keadaan sebenarnya pada waktu itu. Beliau bersabda : Apa perlunya gelisah seperti itu ? Tengoklah di dalam tempat makanan, apapun yang ada cukuplah itu”. Ketika dilihat, di dalam tray itu terdapat beberapa potongan roti bekas makan.  Beliau bersabda : “Cukuplah itu”. Beliau mengambil satu atau dua potong, cukuplah itu.  Nampaknya peristiwa itu sederhana dan tidak berarti.  Akan tetapi dari peristiwa itu nampak bagaimana luhurnya akhlak dan budi pekerti serta mu’jizat yang ditunjukkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s.  Sebetulnya pada waktu itu makanan bisa disediakan dan tentu akan merasa gembira jika seandainya sampai malampun sibuk menyediakan makanan untuk beliau, tidak ada kesusahan apa-apa.  Akan tetapi beliau a.s. tidak menghendaki demikian, beliau tidak mau memberi kesusahan kepada orang lain bukan pada waktunya. Beliau tidak menghiraukan mengapa sampai pada waktu itu makanan belum juga tersedia.  Dan tidak pula beliau menanyakan kepada siapa pun mengapa makanan belum siap dan beliau tidak menunjukkan rasa tidak senang kepada siapa pun.  Bahkan beliau dengan muka ceria dan senang telah menjauhkan perasaan gelisah dan perasaan cemas orang lain.

Jadi jika disebabkan lupa atau keadaan terpaksa lainnya pelayanan terhadap tamu terlepas atau terlambat jangan menunjukkan perangai kesal atau marah.  Dan ingatlah selalu kepada apa maksud dan tujuan kita datang ke Jalsah ini? Sekalipun telah datang dari jarak yang jauhnya ratusan atau ribuan mil, jika tidak diperhatikan kepada tujuan itu, tidak memperhatikan pentingnya meningkatkan keadaan akhlak dan ruhani sendiri, maka maksud dan tujuan datang menghadiri Jalsah tidak tercapai.

Di dalam sebuah khutbah, saya telah menceritakan ihwal lawatan ke Afrika, bahwa banyak orang-orang yang datang dari Ivory Coast dan Benin ke Nigeria yang tidak mendapatkan makanan.  Namun ketika para petugas meminta maaf kepada mereka atas kelalaian dan kelambatan itu, para tamu itu menjawab : “ Tidak ada alasan bagi anda untuk meminta maaf dari kami.  Untuk maksud apa kami datang ke sini, semuanya sudah terpenuhi.  Kami bersyukur sudah bisa ikut Jalsah dimana Khalifa-e-Waqt juga hadir dan sudah berjumpa dengan beliau.” Itulah keadaan orang-orang Jemaat baru di Afrika yang keadaan iman mereka semakin kuat dan meningkat.  Kadangkala di sini timbul keluhan kecil-kecil dari pihak kaum perempuan.  Oleh sebab itu semua tamu harus ingat betul, baik lelaki maupun perempuan, bahwa jika ada tanggung jawab dari pihak tuan rumah tentu ada juga tanggung jawab dari pihak tamu.  Tamu tidak hanya mempunyai hak-hak untuk dilayani saja.

Hadhrat Rasulullah saw memberi waktu kepada tuan rumah untuk melayani tamunya hanya terbatas sampai tiga hari. Setelah tiga hari merupakan ihsan atau kebajikan tuan rumah untuk melayani tamunya.  Seorang tamu Ahmadi yang datang sebagai tamu Jalsah Salanah, maksudnya bukan mengharapkan agar dia dilayani, melainkan belajar bagaimana caranya agar dengan itu hak-hak Allah Ta’ala dapat dipenuhi dan hak-hak hamba-hamba-Nya juga dapat dipenuhi.  Dan jika pengetahuan sudah dimiliki sebelumnya, menjadi pelaksana hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak sesama hamba-Nya, bukan hanya tahu tetapi sungguh-sungguh menjadi pelaksana hak-hak itu semua, tentu akan bisa meningkatkan kecemerlangan pahala dari berkat-berkat Jalsah baginya.  Lebih dari itu dirinya menjadi orang yang mewarisi barkat-berkat do’a yang dipanjatkan bersama di waktu Jalsah dan menjadi orang yang banyak meraih berkat-berkatnya lebih banyak dari sebelumnya.

Jangan lupa perhebatlah kegiatan berdo’a dan ibadah sembahyang di dalam hari-hari Jalsah ini.  Dan giatkanlah dalam menunaikan ibadah nawafil juga, baik tinggal di lingkungan Jalsah maupun di luar lingkungan Jalsah Salanah ini.  Perluaslah kebiasaan mengucapkan salam, ciptakanlah suasana kecintaan dan persahabatan satu sama lain, supaya menjadi orang-orang yang meraih banyak berkat do’a-do’a yang dipanjatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. khususnya bagi para peserta Jalsah Salanah.  Dan siapa pun yang mempunyai keinginan baik untuk meraih berkat-berkat itu dan berusaha keras untuk itu tentu dirinya akan meraih berkat-berkat do’a yang dipanjatkan di setiap negara diadakan Jalsah juga.

Jaminan kemajuan Jemaat Ahmadiyah telah diberikan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.  Dan do’a-do’a Hadhrat Masih Maud a.s. juga yang dipanjatkan untuk para pengikut beliau.  Allah Ta’ala telah memberi jaminan kemakbulannya.  Sesungguhnya di belakang do’a-do’a Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu sekarang sedang berjalan pemakbulan do’a-do’a yang telah dipanjatkan oleh Hadhrat Rasulullah saw untuk orang-orang yang telah masuk ke dalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini.  Jadi untuk menjadi orang-orang yang termasuk mendapat bagian dari berkat do’a-do’a, beliau a.s. itu sekarang tergantung kepada amal soleh kita sendiri.  Untuk itu semoga Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah memberi taufik kepada kita semua.

Sekarang saya ingin menjelaskan tentang kewajiban penting seksi Administrasi Jalsah Salanah ini.  Namun sebelumnya perlu diingat bahwa setiap orang harus menaruh perhatian terhadap suasana di sekitarnya masing-masing. Sebagaimana diketahui para pendatang untuk menghadiri Jalsah ini kian bertambah banyaknya, terutama Jalsah tahun ini. Mengawasi keadaan di lingkungan masing-masing sangat penting sekali.  Jika terlihat seraut wajah atau gerak-gerik orang yang mencurigakan harus segera melaporkan kepada petugas Administrasi bagian keamanan.  Perhatikanlah suasana orang-orang yang duduk mendengarkan acara-acara Jalsah, jika terlihat seseorang meninggalkan suatu barang bawaannya, harus segera menjadi perhatian.  Atau jika terlihat sebuah kantung atau tas tidak dikawal, maka harus segera melaporkan nya kepada petugas Administrasi bagian Keamanan.  Terutamanya petugas bagian keamanan harus memperhatikan hal itu sepenuhnya.

Perhatian istimewa harus diberikan di saat sedang berjalan acara Lajnah Immaillah.  Disaat itu diperlukan tindakan yang lebih teliti dan cermat.  Di waktu acara sedang berlangsung tidak boleh ada seorang perempuan yang duduk sambil menutupi mukanya dengan pardah.  Jika ada yang berbuat demikian maka petugas keamanan harus segera mendekatinya dan tengoklah keadaan mukanya.

Selain itu kebersihan juga harus diperhatikan.  Program dan petunjuk- petunjuk yang sudah di cetak, berupa selebaran harap dibaca dengan teliti dan diperhatikan betul-betul.  Pada umumnya petunjuk-petunjuk selalu diabaikan.  Hal itu sudah menjadi adat kebiasaan.  Mereka yang sering bepergian dengan pesawat, peragaan penerangan tentang penggunaan alat-alat menghadapi keadaan kecemasan (emergensi atau keadaan darurat) banyak penumpang yang tidak menghiraukan dan dianggapnya sebagai formalitas saja.  Padahal hal itu harus diperhatikan dan didengarkan dengan sebaik-baiknya.  Saya sendiri selalu membaca kartu-kartu petunjuk dan memperhatikan penerangan yang diberikan oleh para stewardess.  Sebagian penumpang mungkin ada yang tidak mau mendengarkan penerangan itu, padahal seharusnya diperhatikan betul dan juga dipahami sambil berdo’a untuk keselamatan dirinya dan seluruh penumpang yang berada bersamanya. Karena sesungguhnya detik-detik itu sangat baik untuk memanjatkan do’a kepada Allah Ta’ala demi keselamatan semua.

Baru-baru ini ada berita tentang beberapa keluarga pergi melancong ke Amerika dengan kapal laut.  Tiba-tiba terjadi musibah tabrakan di tengah laut.  Sebagian dari mereka menjadi korban dan sebagian lagi, yang betul-betul memperhatikan juru penerangan tentang bagaimana menggunakan life-vest (pelampung), mereka mampu menggunakan pelampung dan selamat semuanya, sedangkan yang tidak mau menghiraukan juru penerang itu mereka kalang-kabut tidak mampu menggunakan pelampung itu.  Semua alat-alat dan penerangan itu di mana pun juga dilakukan sesuai dengan keadaan perjalanan, demi faedah dan keselamatan kita sendiri dan tidak boleh diabaikan.

Maka apabila kita sudah datang ke tempat Jalsah, semua petunjuk dan instruksi yang telah diberikan harus diperhatikan dan diikuti dengan sebaik-baiknya.  Semua petunjuk yang dicantumkan dalam program harus diperhatikan dengan teliti dan ditaati dengan penuh kesedaran, terutama di bagian transportasi.  Mengucapkan salam kepada sesama atau kepada orang lain harus dibiasakan.  Harus teratur menunaikan sembahyang pada waktunya secara berjama’ah.  Semoga Allah Ta’ala melindungi semua peserta Jalsah, dan semoga Allah Ta’ala menurunkan berkat sebanyak-banyaknya kepada semua peserta Jalsah dan mampu memanjatkan do’a khusus dan semoga mampu bekerja sama sepenuhnya dengan para petugas Administrasi.  Akhirnya, semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk melaksanakan hal itu semua dengan sebaik-baiknya. Amin !!!

Alih Bahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri