Keberkatan Doa

 

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 21 November 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Dalam khotbah Jumat hari ini saya hendak menyampaikan pemaparan mengenai peristiwa-peristiwa tentang terkabulkannya doa berdasarkan pada sebagian sabda-sabda dan tulisan-tulisan yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Itu tentang beberapa peristiwa. Di dalamnya disebutkan mengenai tanda-tanda dan pertolongan Ilahi dalam mendukung beliau. Beliau as. juga menyebutkan nasehat, “Allah Ta’ala telah mengutusku di zaman ini. Dia benar-benar telah mengirim utusan-Nya.” Dengarlah perkataannya karena didapati berkat di dalamnya. Dan kemajuan Jemaat ini adalah salah satu taqdir diantara taqdir-taqdir-Nya dan kemanusiaan mendapatkan baqanya (keabadiannya) dengan mengimani hal ini.

Di satu tempat beliau as. bersabda menanggapi satu surat dari Nawab Ali Muhammad Khan Sahib, seorang Nawab (Kepala Daerah) Ludhiana sebagai berikut: “Suatu ketika almarhum Nawab Ali Muhammad Khan sahib menulis surat permohonan doa kepada saya guna meringankan beberapa kesulitan keuangan yang dihadapinya, ‘Tuan doakanlah saya supaya diberikan kemudahan’ (beberapa bisnisnya menghadapi masalah). Ketika saya berdoa, datanglah wahyu kepada saya bahwa kesulitan-kesulitan tersebut akan dihapuskan. Saya memberitahukannya melalui surat dengan menyebutkan kabar tersebut. Beberapa hari kemudian penyebab kesulitannya itu dihapuskan sehingga beliau menjadi sedemikian yakin dalam kepercayaannya. (keyakinan beliau kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. bertambah kuat).

Begitupun juga, di kesempatan lain, beliau pernah mengirim surat kepada saya perihal urusan pribadinya. Baru saja ia memasukkan suratnya ke dalam kantor pos surat, waktu itu juga saya mendapat ilham, beliau akan mengirim sebuah surat mengenai perkara pribadinya. Kemudian, pada saat itu juga spontan saya menulis surat kepadanya yang isinya, ‘Anda  akan mengirim surat kepada saya perihal urusan pribadi Anda.’ Surat itu sampai kepadanya di hari kedua. Ketika surat saya diterimanya, beliau pun tercengang membacanya, sebab bagaimana bisa berita yang tidak diketahui siapapun selain oleh beliau dapat sampai kepada saya. Menurutnya tidak ada yang tahu perkara rahasia pribadinya selain dirinya sendiri (beliau pikir, mengenai perkaranya itu) tidak diketahui siapapun juga. Setelah itu, tingkat keimanan beliau sedemikian rupa bertambah tidak terhingga, hal mana beliau fana dalam hal kecintaan dan kepercayaannya. Beliau menulis pengalaman-pengalamannya itu di sebuah buku kecil dan selalu membawa serta buku tersebut.

(Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda), “Ketika saya pergi ke Patiala – seperti telah saya sampaikan tadi – lalu saya berjumpa dengan Tuan Wazir (Tn. Menteri level Wilayah atau negara bagian) Sayyid Muhammad Hasan. Kebetulan dalam percakapannya, Tn. Wazir dan Tn. Nawab sedikit menyinggung mengenai beberapa tanda-tanda (mukjizat)ku. Waktu itulah Almarhum Tuan Nawab mengeluarkan dari sakunya sebuah buku kecil lalu memberikannya kepada Tuan Wazir seraya berkata, ‘Penyebab keimanan saya bertambah kuat adalah karena dua buah kabar ghaib yang terdapat dalam buku ini.’

Beberapa waktu kemudian, satu hari sebelum kewafatannya, saya pergi membesuknya ke rumahnya di Ludhiana. Dikarenakan penyakit wasir, beliau nampak lemah dan banyak sekali mengeluarkan darah. Dalam keadaan demikian beliau bangun dari duduknya, pergi ke kamarnya dan datang lagi sembari membawa buku kecilnya itu. Beliau berkata, “Saya menyimpannya sebagai kesayangan jiwa saya. Saya mendapat ketenangan setelah melihatnya. Diperlihatkannya kepada saya tulisan kedua nubuatan (kabar ghaib) itu. Beliau wafat setelah lewat tengah malam atau di waktu malam hampir lalu. Saya yakin, hingga kini buku itu (yang beliau tulis di dalamnya tentang dua tanda tersebut) masih ada di dalam perpustakaannya.”[2]

Kemudian beliau as. bersabda di satu tempat, “Beberapa tahun yang lalu Saith Abdur Rahman, seorang niagawan Madras yang adalah termasuk orang mukhlis awal Jemaat, datang ke Qadian. Dalam perniagaannya didapati suatu kesulitan. Beliau memohon doa supaya dibukakan dari kesulitan. Ketika saya berdoa, datanglah ilham ini [dalam bahasa Urdu yang maknanya], ‘Maha Berkuasa Tuhan, Yang memperbaiki kerusakan, Yang menghancurkan hal yang baik. Tak ada satu pun yang dapat meliputi rahasia-Nya’.

Dengan perantaraan surat saya sampaikan jawabannya. Dia akan menyelesaikan kesulitan namun beberapa saat kemudian perniagaan yang sudah dibangun itu akan runtuh. Setelah beberapa hari berlalu, Allah Ta’ala mulai memberikan kemajuan pada perniagaannya (pekerjaannya mulai baik dan kemudahan-kemudahan sudah dimulai) setelah timbul penyebab-penyebab ghaib seperti ini dimana mulai kesuksesan perniagaannya. (telah diperoleh harta yang demikian banyaknya) Namun, beberapa saat kemudian perniagaan yang telah dibangun tersebut runtuh.”[3] Sesuai dengan ilham tersebut, pertama, perniagaannya mendapat kemajuan dan beberapa saat kemudian perlahan-lahan mulai timbul keburukan di dalamnya dan setelah itu runtuh.

Selanjutnya, di satu kesempatan beliau as. bersabda mengenai diri beliau sendiri, “Saya memiliki dua penyakit jangka panjang. Pertama adalah sakit kepala yang hebat. saya menderita penyakit tersebut dan juga merasakan pusing tujuh keliling (pening kepala yang terasa sangat sakit). Penyakit ini telah saya derita selama hampir dua puluh lima tahun. Para tabib mengatakan gejala yang seperti itu menyebabkan epilepsi. Memang kakak laki-laki saya, Mirza Ghulam Qadir, selama hampir dua bulan terkena gejala penyakit ini dan membawanya kepada kematian. Selanjutnya saya terus-menerus berdoa supaya terjaga dari penyakit itu. Saya pernah mendapat sebuah kasyaf dimana saya bertarung dengan makhluk kegelapan berukuran domba yang menyerang saya. Hal itu menyiratkan di dalam hati saya bahwa makhluk tersebut adalah epilepsi. Oleh karena itu dengan sekuat tenaga saya pukul dadanya dengan tangan kanan saya dan berkata, ‘Pergilah yang jauh, tidak ada bagian engkau padaku.’

Singkatnya, Allah Ta’ala Yang lebih mengetahui perihal mana setelah itu gejala penyakit yang sangat membahayakan tersebut lenyap dan rasa sakit itu benar-benar lenyap. Hanya kadang-kadang saja saya merasakan sakit kepala supaya nubuatan tentang Masih Mau’ud tidak hilang.” (Disebutkan dalam nubuatan atau pengkabaran oleh Hadits Nabi saw bahwa Isa nanti akan datang dengan memakai dua kain selimut berwarna kuning. Maknanya adalah dua penyakit. Pertama, penyakit yang sedang dibicarakan ini, yaitu sakit kepala).

Beliau bersabda: “Penyakit yang kedua adalah diabetes yang telah menetap padaku sejak hampir 20 tahun. Sebagaimana sebelumnya telah saya sampaikan tanda ini perihal mana sampai sekarang setiap hari saya buang air kecil sampai 20 kali [sebagai akibat penyakit tersebut]. Dari hasil tes air seni didapati gula. Satu hari saya berpikir dokter berpendapat diabetes dapat mengakibatkan memburuknya penglihatan (kerusakan mata) atau dapat berkembang menjadi radang di bawah kulit (infeksi). Maka, pada saat itu saya menerima ilham (yang berkaitan dengan penyakit mata) diselamatkan dari salah satu kondisi tersebut. “نزلت الرحمة على ثلاث، العينِ وعلى الأُخريَيْنِ.” ‘Nazalatir rahmatu ‘ala tsalaats, al-‘aini wa ‘alal ukhrayain.’ – “Akan turun rahmat pada tiga bagian: mata, dan dua bagian tubuh.” Ketika terlintas penyakit kanker dalam pikiran saya, turunlah ilham ini, “السلام عليكم” ‘as-salaamu ‘alaikum’ – ‘Semoga keselamatan beserta kamu.’ Maka, saya telah melewati satu usia yang panjang hal mana saya telah terjaga dari hal-hal yang membahayakan itu.”[4]

Disini dibahas mengenai penyakit diabetes atau penyakit gula. Beberapa hari yang lalu seorang Arab Ahmadi menulis surat dan bertanya, ketika Hadhrat Masih Mau’ud as. sakit gula, mengapa beliau berpuasa demikian banyaknya. Yang sedang dibahas di kutipan ini adalah penyakit Hadhrat Masih Mau’ud as. yang disampaikan pada tahun 1907. Sedangkan beliau pernah berpuasa (yang demikian banyak selama beberapa bulan itu) sebelum pendakwaan beliau ketika masih muda. Bahkan beliau bersabda, “Puasa yang saya kerjakan terus menerus itu, saya lakukan ketika saya masih berusia muda. Setelah berusia 40 tahun dengan sendirinya manusia mulai lemah. Tidak dapat berpuasa sebanyak itu. Dan keadaan saya sekarang adalah seperti ini, saya sudah tidak lagi seperti dulu. Dimana kalau waktu itu saya mau, maka saya dapat berpuasa sampai 4 tahun lamanya.’”[5] Singkatnya, mengenai penyakit gula dan peristiwa yang sedang disampaikan tersebut terjadinya setelah itu. Peristiwa beliau berpuasa terus-menerus selama 6 bulan terjadi ketika beliau masih muda.

 Beliau as menulis mengenai sahabatnya di satu tempat. Hadhrat Maulana Abdul Karim Sahib, ceritanya sudah disinggung dalam khotbah Jumat yang lalu. Rujukannya dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bahwa ketika beliau ra wafat, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra sangat berduka. Pendek kata, beliau ra memiliki kedudukan yang sangat agung. Ketika beliau ra sakit, Hadhrat Masih Mau’ud as banyak berdoa dan terus-menerus berdoa.

Beliau as bersabda seraya menyebut sebuah ilham, sebagai berikut: “Tahun yang lalu, tepatnya 11 Oktober 1905, teman kami yang mukhlis, almarhum Maulwi Abdul Karim, wafat akibat penyakit kanker. Saya banyak sekali berdoa untuknya tapi tidak ada satu ilham pun yang memberikan ketenangan untuknya. Bahkan, berkali-kali turun ilham ini, ‘Kafan sudah dilipat’; ‘Berusia 47 tahun”إنا لله وإنا إليه راجعون. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’; إن المنايا لا تطيش سهامها ‘Innal manaayaa laa tathiisyu sihaamuhaa’ – ‘Panah kematian tidak dapat salah’. Ketika didoakan lagi untuknya, datanglah ilham ini, “يا أيها الناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم. ” ‘Yaa ayyuhan naasu’ buduu rabbakumulladzii khalaqakum.’ – ‘Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu. Artinya, ‘Hanya kepada-Nyalah kamu sandarkan pekerjaanmu dan bertawakkallah pada-Nya.’; تؤثرون الحياة الدنيا” ‘Tu’tsiruunal hayaatad dunya.’ –‘Apakah kamu mengandalkan pada kehidupan dunia?’

Di dalamnya terdapat satu isyarat bahwa tidak ada seorang pun yang harus dianggap penting. Itu artinya, kalau kematiannya akan dianggap sebagai sesuatu yang menyusahkan maka itu adalah syirik dan kalau kehidupannya dianggap suatu derajat yang sangat tinggi, ini pun merupakan satu penyembahan. Setelah itu saya diam dan paham kewafatannya sudah pasti.

Selanjutnya pada hari Rabu 11 Oktober 1905 di waktu Ashar, beliau (Hadhrat Maulana Abdul Karim ra.) meninggalkan dunia yang fana ini. Jeritan doa yang saya panjatkan untuknya dalam doa saya tidak Tuhan lupakan. Dia ingin supaya yang telah hilang itu diganti. Oleh karenanya, sebagai tandanya adalah Saith Abdur Rahman. Walaupun Allah Ta’ala telah mengambil Abdul Karim dari kami, sebagai gantinya Dia menganugerahkan pada kami Abdul Rahman. فالحمد لله على ذلك Fal hamdulillaahi ‘alaa dzaalika – ‘maka segala puji bagi Allah atas hal ini.’”

Bersabda lagi, “Banyak sekali pengalaman saya (ratusan kali pengalaman saya) perihal mana demikian Pengasih dan Penyayangnya Tuhan, yakni ketika doa hamba-Nya ditolak, sebagai gantinya, dikabulkan-Nya doa lainnya yang serupa….” Ini adalah ruhnya doa, falsafahnya doa. Sebagaimana sebagian orang berkata, “Doa-doa kami tidak dikabulkan”, seperti itu juga pada sebagian waktu, doa nabi-nabi juga tidak dikabulkan. Hal ini adalah sesuai dengan tuntutan taqdir Allah Ta’ala. Tetapi, sebagai ganti doa yang ditolak itu Dia kabulkan doa yang lainnya.

Selanjutnya bersabda, “Satu doa yang tidak Dia kabulkan, padanya ada sesuatu hikmah yaitu Dia kabulkan doa lainnya yang semisalnya sebagai gantinya sebagaimana firman-Nya, مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير ‘Maa nansakh min aayatin au nunsihaa na-ti bikhairim minha au mitsliha alam ta’lam annAllaha ‘ala kulli syai-in Qadiir.’ Artinya, ‘Ayat (tanda) manapun yang Kami mansukhkan atau Kami biarkan terlupa, Kami datangkan yang lebih baik darinya atau yang semisalnya. Apakah kamu tidak mengetahui Allah berkuasa atas segala sesuatu?’”[6]

Ayat ini dipergunakan oleh ghair Ahmadi, bahwa sebagian ayat al-Quran al-Karim telah dimansukhkan (dibatalkan). Padahal ayat tersebut memiliki arti yang sangat luas. Bermacam-macam. Beliau as dalam hal ini juga mengesahkan (membenarkan) makna itu, yaitu apabila suatu ayat (tanda) dilupakan, akan ada satu atau beberapa ayat lainnya sebagai pengganti. Kalau satu tanda sudah habis, akan ada tanda lainnya. Atau penjelasannya demikian juga yaitu karena syariat yang lama dimansukhkan, sebagai gantinya Allah Ta’ala memberikan syariat a-Qur’an al-Karim yang abadi.

Kemudian sebagai bukti kebenaran nubuatan al-Qur’an al-Karim, satu diantaranya adalah mengenai alat transportasi (pengangkutan) yang baru. Beliau as bersabda mengenai hal ini, “Merupakan sebuah tanda khusus kedatangan Masih Mau’ud yaitu akan ditemukan suatu bentuk transportasi yang baru. وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ  ‘Wa idzal ‘isyaaru ‘uththilat.’ — at Takwir ayat 5) Artinya, ‘Dan ketika di hari Akhir Zaman nanti unta-unta sebagai mode transportasi akan ditinggalkan.’ Hal seperti ini pun terdapat dalam hadits Muslim.[7] “وليتركن القلاص فلا يُسعى عليها” ‘walayutrakannal qilaashu falaa yus’aa ‘alaihaa’ – ‘Pada zaman itu unta-unta akan ditinggalkan dan siapapun tidak akan menggunakannya sebagai sarana transportasi.’ Orang-orang biasa menggunakan transportasi dengan menaiki unta di musim haji dalam perjalanan dari Makkah Mu’azzimah ke Madinah Munawwarah, tapi tak lama lagi akan diganti dengan kereta api. Akan terbukti kebenaran ini.”[8]

 Orang-orang mengatakan, bahwa di sana (di Saudi Arabia) tidak ada kereta api. Namun sebuah mega proyek kereta api sedang dibangun dan diharapkan selesai pada tahun 2015. Sedang dibangun rel-rel kereta api antara Mekkah dan Madinah dan ini adalah kereta super cepat. Perkataan yang diucapkan seorang Nabi itu akan disempurnakan oleh Allah Ta’ala, walaupun dalam penyempurnaannya membutuhkan waktu. Namun, penggunaan unta-unta sebagai mode transportasi walau bagaimanapun sudah puluhan tahun ditinggalkan karena di wilayah itu dipergunakan bus, mobil dan kendaraan bermotor lainnya. Tetapi, demikian pula penggunaan kereta api sebagaimana telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Pekerjaan sedang berlangsung dan kereta api juga akan segera mulai dipergunakan.

Kemudian, ada seorang musuh Islam yang disebabkan keburukan ucapannya, beliau as berdoa supaya Allah Ta’ala mencengkramnya. Setelah berdoa dan menerima berita dari Allah Ta’ala, beliau mengumumkan kabar Ilahi perihal balasan dan akhir hidupnya. Beliau as bersabda mengenai hal ini, “Ada nubuatan berkenaan dengan Deputi Abdullah Atham yang telah sempurna dengan sangat jelas. Pada dasarnya ini adalah dua buah nubuatan. Pertama, ia akan mati dalam 15 bulan lagi. Kedua, kalau ia berhenti dari perbuatannya (berhenti mengucapkan hal itu) ia tidak akan mati dalam 15 bulan itu.

Seperti yang telah saya tulis, dasar dari nubuatan kematian itu adalah dikarenakan Atham dalam bukunya, ‘Andrunah Bible telah menamai Nabi kita saw  adalah Dajjal. والعياذ بالله (Naudzu billaah). Adalah hal yang benar bahwa dalam nubuatan tersebut, telah ditetapkan 15 bulan untuk kematian Atham. Tetapi ada juga syaratnya, yang perkataannya itu adalah ‘jika ia tidak kembali kepada kebenaran’. Atham telah menarik ucapannya yang semula hal mana ia dengan sangat merendahkan diri keluar dari ucapannya. Di majlis pertemuan, sembari meletakkan kedua tangannya pada kedua telinganya, ia menyatakan menyesal atas apa yang telah diucapkannya.

Saksinya bukan satu atau dua orang melainkan ada antara 60 hingga 70 orang. Hampir setengah dari saksi tersebut adalah orang-orang Kristen dan hampir setengahnya lagi adalah orang-orang Islam. Aku pikir, sekitar 50 orang sampai sekarang mungkin masih hidup. Yaitu mereka yang menyaksikan Abdullah Atham merasa menyesal atas kelancangannya mengatakan “الدجال” Dajjal terhadap Rasulullah saw. Sampai matinya ia tidak mengucapkan perkataan ini lagi. Kini hendaknya direnungkan, betapa buruk kelakuannya, betapa kurang ajar dan betapa tidak memiliki keimanan mereka, yaitu walaupun ia (Atham) telah benar-benar kembali kepada kebenaran, yang telah disaksikan oleh 60 atau 70 orang tersebut, kemudian mereka mengatakan Abdullah Atham menyangkal sudah menyesal.

Dasar utama murka Ilahi adalah ada pada perkataan Dajjal. (yakni dasar utama seluruhnya kemurkaan Allah Ta’ala itu adalah perkataan Dajjal yang ia tujukan kepada Nabi saw dan karena itu kemurkaan Allah Ta’ala turun padanya) dan adanya nubuatan ini dikarenakan hal-hal tersebut. Syarat dalam nubuatan ialah perkataan ini, yaitu ‘kembali pada kebenaran’ [mencabut tuduhan atau perkataan terhadap Nabi saw]. Nubuatan tersebut tidak mengatakan Atham akan diampuni apabila ia menjadi seorang Muslim. Apabila ia dengan merendahkan diri kembali kepada yang benar maka Tuhan juga dengan rahmat-Nya akan kembali kepadanya. Tidak ada ilham Ilahi, ‘Kalau Atham tidak menjadi seorang Muslim maka ia tidak akan selamat dari kebinasaan.’

“Karena, seluruh orang Kristen berada dalam kebersamaan mengingkari Islam. Tuhan tidak memaksa seseorang untuk masuk Islam. Nubuatan seperti ini benar-benar berada di luar konteksnya dan tidak masuk akal,  yaitu, ‘Si Fulan kalau tidak menerima Islam maka diberi kesempatan sampai sekian waktu lalu akan mati.’ Dunia dipenuhi oleh orang-orang yang mengingkari Islam. Seperti telah saya tulis berulang kali, bahwa sekedar mengkafirkan (menolak) Islam, seseorang tidak akan diazab, melainkan dosa-dosanya akan dihakimi pada Hari Kiamat (di akhirat). Kemudian apakah ada suatu kekhususan bagi Atham yaitu disebabkan mengingkari Islam kemudian dinubuatkan akan kematiannya dan hal ini tidak diberikan pada orang selainnya?

Melainkan, [hal yang sebenarnya ialah] sebab nubuatannya itu karena ia telah mempergunakan perkataan Dajjal ditujukan pada wujud suci Hadhrat Muhammad saw. Tetapi, pernyataannya (Atham) bahwa ia mencabut perkataan tersebut disaksikan oleh 60 atau 70 orang, diantara mereka itu terdapat orang-orang yang mulia dan terhormat, di majelis pertemuan yang sama. Ketika ia kembali pada perkataan yang benar (bertobat), dan bahkan bukan hanya itu, dikarenakan ia terus menangis (menyesal), maka ia pantas menerima kerahiman (belas kasihan) Allah Ta’ala, namun, itu hanya sebatas ini yaitu kematiannya tertunda beberapa bulan terakhir dan walau bagaimanapun ia mati dalam masa kehidupanku.

Dikarenakan kematiannya itu, kebohongannya di dalam perdebatan yang berlangsung dalam corak Mubahalah, menjadi terbukti. Apakah hingga kini nubuatan itu tidak sempurna? Tidak demikian, melainkan, itu sudah sempurna. Itu sempurna dengan sangat cemerlang. Laknat Tuhan atas orang-orang seperti ini yang tidak berhenti dari menentang tanda-tanda yang demikian jelas. (yakni ketika segala sesuatunya telah sempurna, tidak juga mau berhenti dari menentang). Kalau mereka ingin, aku dapat memberikan 50 orang saksi yang menyatakan Atham telah kembali kepada yang benar. Dan mengapa sebabnya mereka tidak mau bersumpah padahal semua orang Kristen bersumpah dan Hadhrat Masih sendiri telah bersumpah. Kita tidak perlu memperdebatkan lebih panjang lagi perihal ini. Sekarang Atham sudah tidak ada. Ia mati setelah melalui masa lebih dari 11 tahun.”[9]Inilah sabda beliau as dalam buku Haqiqatul Wahyi.

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as menerangkan bahwa berkat-berkat al-Quran al-Karim sangat jauh diatas kekuatan manusia untuk membuatnya sendiri, dengan memperlihatkan tanda-tanda pada orang-orang yang beriman dimana dengannya mereka akan memperoleh makrifat keyakinan. Kemudian dari berkat-berkat tersebut lahir mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda keajaiban yang besar.[10] Beliau bersabda, “Aku tidak menerangkan berkat-berkat Quran Karim sebagai kisah belaka. (berkat-berkat Qur’an Karim itu bukan cerita-cerita belaka) Melainkan, aku ketengahkan mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan kepada diriku sendiri. Mukjizat itu mendekati 100.000 bahkan lebih dari 100.000. Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Syarif, ‘Orang yang mengikuti kalam-Ku itu, ia tidak hanya beriman kepada mukjizat kitab itu, bahkan kepadanya juga akan diperlihatkan mukjizat-mukjizat.’ Maka, berdasarkan pengalaman pribadiku, aku sendiri telah mendapatkannya karena pengaruh kalam Tuhan yang berada diatas kekuatan manusia dan ini hanya pekerjaan Tuhan.

Gempa-gempa yang terjadi di dunia dan wabah tha’un yang melanda dunia. — (di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as. sedang terjadi wabah tha’un yang hebat) — itu adalah diantara mukjizat-mukjizat yang diperlihatkan kepadaku. Telah kukabarkan sebagai nubuatan nama dan tanda peristiwa mengerikan itu 25 tahun sebelumnya di dalam kitabku Barahin Ahmadiyah yang telah dicetak dan dipublikasikan. Musibah ini akan datang, maka sekarang semua musibah ini telah datang. Dan sekarang tidak berhenti bahkan musibah-musibah yang akan datang lebih banyak dari pada yang kini terjadi.” Sekarang banyak sekali musibah-musibah berdatangan. Beliau bersabda lagi, “Sebagian adalah wabah yang baru, yang sebelumnya kapan pun tidak ada di negeri ini. Itu adalah wabah yang menakutkan dan juga menggelisahkan. Sejenis wabah tha’un yang keras dan menakutkan juga sedang lahir yang akan muncul di negeri ini dan negeri-negeri lainnya dan akan menimbulkan kegelisahan.”

Jadi, ini adalah tempat yang sangat menakutkan, tanda-tanda ini tidak akan tertutup. Beliau bersabda lagi, “Mungkin tahun ini atau tahun yang akan datang akan datang gempa bumi lagi yang sangat dasyat dan menakutkan.” — amal perbuatan manusia di dunia sepertinya tambah jauh dari Tuhan dan tidak hanya jauh dari Tuhan bahkan sedang berlaku aniaya – “Kemudian yang memanggil kembali musibah-musibah itu adalah amal perbuatan manusia itu sendiri yang cepat mengerjakannya.”

Mudah-mudahan Allah berlaku Rahim pada kita dan orang-orang Ahmadi memperoleh taufik untuk berdoa dan kita diberikan taufik untuk berbuat benar dalam amal perbuatan kita. Beliau bersabda, “Tidak diketahui bagian negara yang mana atau mungkin semua wilyah negara pada umumnya. Kalau orang-orang di dunia takut pada Tuhan maka musibah ini dapat ditangguhkan karena Tuhan adalah Raja seluruh langit dan bumi. Dia dapat terus menjalankan hukuman-Nya dan dapat juga menangguhkannya.

Tetapi, pada lahiriahnya sudah tidak ada harapan lagi supaya manusia takut pada Tuhan karena hati mereka telah begitu keras melampaui batas. Aku menyadari sedikitpun tidak ada harapan lagi. Akibat aku menyampaikan nubuatan-nubuatan sebelum waktu terjadinya, tidak ada harapan lain kecuali aku akan diperolok-olok dan akan dicaci-maki dan mereka akan menuduh tuduhan buruk kepadaku karena menyebarkan kegelisahan di tengah orang-orang.”[11]

 Hal yang terjadi ini bukan saja di luar dunia Islam bahkan keadaan orang Muslim pun demikian. Sebagian warga negara-negara Muslim, khususnya, pun sedang menjauhi Tuhan. Sebagaimana yang telah beliau as sabdakan bahwa orang yang mengajak mereka agar berjalan pada jalan yang benar akan ditertawakan, diperolok-olokan dan dikatakan kepadanya, “Orang ini sedang berusaha menyebarkan kerusakan atau kegelisahan.” Bahkan, beberapa hari yang lalu diterima berita seorang alim besar (namanya tersebut saya lupa) di Pakistan berkata, “Ada orang yang mengatakan Imam Mahdi sudah datang atau harus datang. Itu tidak benar. Tidak ada yang sedang atau akan datang. Ia tidak akan lahir. Tidak juga sudah lahir dan juga tidak akan dilahirkan.” Bahkan orang itu berkata dalam bentuk berolok- olok, “Kalau ia sudah dilahirkan, di mana pun ia, semoga Allah Ta’ala cepat menghabisinya karena kita tidak sanggup menghadapi kerusakan dan fitnah-fitnah.” Inilah pemikiran mereka sekarang.

Kemudian, untuk menyelamatkan orang-orang Muslim dari kejahilan, untuk dapat mendengar suara Allah Ta’ala dan menjadikan keadaan mereka sesuai dengan ridha-Nya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Pada masa ini telah datang perubahan (kemunduran) terhadap nama Islam. Telah dipenuhi dengan kerusakan akhlak.” — yakni penuh dengan keburukan akhlak — “dan keikhlasan yang disebut dalam ayat مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ mukhlisiina lahud diin – ‘supaya beribadah kepada Allah dengan tulus dalam ketaatan kepada-Nya’, telah diangkat ke langit.” – artinya, tiada keikhlasan yang tertinggal.

Bersabda, “Sifat shiddiq, peduli, ikhlas, cinta dengan Allah Ta’ala dan bertawakkal kepada-Nya sudah hilang. Allah Ta’ala sekarang menginginkan supaya menghidupkan kekuatannya (Islam) dari awal baru. Tuhan itu yang sejak azali senantiasa يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ‘Yuhyil ardha ba’da mautiha’ – ‘Yang akan terus-menerus menghidupkan bumi setelah kematiannya.’ (Surah Al-Hadid:18) Dia menginginkannya. Untuk itu telah Dia buat beberapa jalan. Di satu segi, Dia kirim utusan-Nya yang memanggil mereka dengan perkataan lembut, dan memberikan petunjuk pada manusia.” -mengabarkan mengenai kedatangannya- “Di segi lainnya, manusia diberikan kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan sains berkembang.” — yakni pintu ilmu pengetahuan dan kecerdasan tambah dibuka. Ilmu-ilmu sains diberikan kemajuan.

Beliau bersabda, “Di satu segi lainnya, untuk menyempurnakan hujjah ini tanda-tanda langit dibukakan.” — banyak sekali tanda-tanda langit di zaman beliau, ada topan, gerhana bulan dan matahari, gempa bumi juga dizahirkan, lalu bersabda, — “Kemudian, dari segi lainnya lagi, tanda-tanda kemarahannya juga terus berlangsung diantaranya tha’un (pes) juga satu tanda dan sedang berkembang dengan kerasnya.” — peristiwa yang telah terjadi di zaman ini mungkin kapanpun tidak pernah dilihat oleh mereka yang telah berlalu — “Dan banyak sekali orang- yang mengambil manfaat dari tanda-tanda dan ayat-ayat itu. Tidak ada hari tanpa adanya orang-orang yang baiat dengan perantaraan surat-surat atau mereka datang sendiri.

Memang benar, walaupun di dunia ini penuh dengan kefasikan, keburukan, kenakalan, kemegahan, kebebasan dan kesombongan, tapi yang sudah bergabung kedalam Jemaat ini ialah yang keluar dari orang-orang berkeadaan itu.” — mereka datang dari orang-orang yang fasik, nakal buruk dan lain-lainnya itu – “Yang dari itu dapat diketahui terdapat juga orang baik di kalangan itu.” — orang yang berfitrat baik juga ada diantara mereka dimana tidak seperti ini yaitu semuanya telah rusak. Bersabda lagi, “Allah Ta’ala mengeluarkan orang-orang itu dan memberikan pemahaman kepada mereka dan sedikit dariantara mereka yang menjadi sasaran tha’un. Dengan demikian akan ada balasan di dunia dan semua hujjah akan disempurnakan.”[12]

Singkatnya, beliau as bersabda bahwa para cendekia dan orang-orang yang berfitrat baik sedang berdatangan kepada Jemaat karena terkesan dengan ajaran ini yang menajamkan kecerdasan intelektual mereka akibatnya mereka dapat memahami ajaran ini. Mereka memahami pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as. kemudian menerimanya. Setiap wilayah dan setiap tingkatan di setiap negara didapati orang-orang seperti ini yang dengan karunia Allah Ta’ala dalam jumlah ribuan bahkan ratusan ribu sedang memasuki Jemaat ini. Kemudian di satu tempat beliau bersabda, “Ingatlah! Contoh mukjizat-mukjizat dan nubuatan-nubuatan yang telah lahir dan sedang lahir melalui tanganku, demikian hebatnya sehingga sekali-kali kalian tidak akan dapat menampilkannya dari sudut kualitas, situasi dan bukti. Walau bagaimana berusaha mencarinya sekalipun hingga kalian mati”.[13] Bahkan kini kesaksian perbuatan Allah Ta’ala juga sudah menjadi suatu tanda-tanda seperti ini yang setiap harinya terus bertambah jelas dan setiap hari kita menyaksikannya.

Seorang muallaf (orang yang baru masuk Islam) dengan sangat berani meminta tanda pada Hadhrat Masih Mau’ud as. katanya, “Katakan pada saya kalau ada suatu tanda, katakanlah tanda tuan sebagai utusan-Nya?” Beliau as. bersabda, “Apa pun yang Allah Ta’ala masukkan kedalam hati setiap utusan-Nya, itu tidak dapat dikerjakan oleh para penentang. Karena, hal itu adalah dari Allah Ta’ala. Ini adalah hal yang sangat benar, ketika seseorang dikirim sebagai utusan-Nya maka Dia nampakkan tanda-tanda yang di luar kebiasaan untuk mendukungnya.

Oleh karena itu, di tempat ini juga Dia banyak sekali mengeluarkan tanda untuk mendukungku, yang telah dilihat ratusan ribu orang. Mereka menjadi saksinya. Namun, aku yakin dengan sempurna pada Tuhan kita bahwa Dia tidak bergantung pada tanda-tanda itu.” — yakni tidak cukup ini saja – “Di masa mendatang rangkaian tanda ini tidak ditutup. Waktu demi waktu apabila Dia ingin, Dia nyatakan tanda-Nya. Bagi yang menuntut kebenaran, tanda-tanda itu tidaklah sedikit. Tetapi kalau hati seseorang tidak memberi kesaksian padanya (tidak yakin), aku  dapat memberikan perhatian padanya.” (Tanda-tanda yang telah muncul tidak sedikit, namun jika seseorang yang berniat baik dan betul-betul mencari kebenaran tidak menerimanya) aku  dapat memberikan perhatian padanya.” (seseorang harus memahaminya dengan hati yang benar dan dengan niat yang jujur mengakui tanda yang diinginkannya bila ia muncul maka kami dapat memberikan untuk itu dan akan berdoa) “dan aku  yakin kepada Allah Ta’ala bahwa Dia akan menyatakan suatu tanda-Nya.

Tetapi kalau hal ini (kejujuran) tidak ada dan tidak menghormati tanda-tanda Allah Ta’ala yang sebelumnya, dan semuanya itu dianggap tidak cukup, maka tidak timbul semangat memberikan perhatian untuk berdoa bagi adanya penampakan tanda, yaitu memberikan perhatian kepadanya dan diberikan semangat untuk menuju kepada Allah Ta’ala.” (Maksudnya kalau tidak menghargai tanda, tidak berusaha untuk memahaminya maka tidak akan terllihat tanda untuknya dan tidak akan ada suatu doa untuk kemunculan tanda. Kemudian akibatnya bagi engkau adalah buruk. Beliau as bersabda bahwa kalau dianggap tidak cukup maka tidak timbul semangat untuk memberikan perhatian (berdoa). Untuk keluarnya (diperlihatkannya) tanda adalah penting memberikan perhatian dan bersemangat, dan memunculkan di dalam hatinya antusiasme dari Allah untuk fokus pada hal itu.) Itu semua akan lahir kalau pencari kebenaran itu tulus dan jujur.” Artinya, kalau permintaannya benar, dengan niat menerima maka tanda akan lahir, bukan untuk menguji.

Kemudian bersabda, “Hendaknya hal ini diingat, bahwa tanda itu adalah untuk orang-orang berakal (cerdas). Bukannya untuk orang-orang itu yang tidak memiliki bagian dari intelektual. Orang-orang seperti ini tidak dapat mengambil manfaat dari tanda-tanda. Adapun Hidayah (petunjuk) hanya tergantung dari karunia Allah Ta’ala. Kalau taufik dari Allah Ta’ala tidak masuk, dan Dia tidak menganugerahkan karunia-Nya maka walaupun seseorang melihat ribuan tanda, ia tidak dapat mengambil faedah darinya. Maka selama tidak diketahui apa yang ia ambil manfaatnya dari tanda-tanda yang lalu, kemudian apa yang kita harapkan dari tanda-tanda yang akan datang?”

Bersabda lagi, “Penampakan tanda-tanda bukan berada pada wewenang kami. Tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) bukan hasil dari tipuan kelicikan. Ini hanyalah ketetapan dan kehendak Allah Ta’ala. Kalau Dia ingin, Dia dapat menyatakannya. Dan kepada siapa yang Dia inginkan dapat memberikan faedahnya. Pada waktu ini ada tuntutan terhadap kita untuk penampilan tanda, inilah jawaban mengenainya yang Allah Ta’ala masukan ke dalam hatiku, bahwa permintaan seperti ini ialah seperti yang dilakukan oleh Abu Jahal dan beberapa semisalnya.” Artinya, pertanyaan dan tuntutan seperti itu adalah seperti halnya yang dilakukan oleh Abu Jahal dan seperti juga orang-orang lainnya. “Faedah apakah yang telah diperoleh mereka? Apakah ada orang yang dapat mengatakan bahwa di tangan Muhammad saw tidak ada tanda yang dikeluarkan? Kalau seseorang mempunyai ‘itikad demikian maka ia kafir.” Di tangan beliau saw telah keluar tanda-tanda yang tidak terhingga banyaknya tetapi Abu Jahal dan lain-lainnya sedikitpun tidak mengambil faedah darinya. Bersabda. “Demikian pula di sinipun tanda-tanda telah lahir yang bagi pencari kebenaran dalam segala segi sudah cukup, akan tetapi kalau tidak ingin mengambil faedah maka ia masuk dalam kerusakan dan apakah yang diharapkan untuk masa yang akan datang?” — Yakni pertama ia tidak melihat tanda-tanda kemudian keinginannya terus bertambah dan apakah yang akan didapati dari keinginannya itu? — “Ia tidak menghormati tanda-tanda Allah Ta’ala dan ia sendiri menertawakan Allah Ta’ala.”[14]

Beliau berulang kali tak terhitung banyaknya bersabda, “Orang-orang bukan Ahmadi yang datang ke Qadian, mereka bukan orang yang sekeyakinan, kedatangan mereka adalah satu tanda, yaitu bagaimana caranya mereka dapat datang.”[15]

Kemudian beliau juga bersabda, “Banyaknya tak terhingga tanda-tanda langit dan bumi yang telah aku sampaikan.” Perhatian dunia yang sedang terjadi dewasa ini dimana mereka mendengarkan amanat Jemaat ini juga merupakan satu tanda dari beberapa tanda. Yaitu dari media, apa pun sebab dan alasannya. Pendek kata tanda-tanda itu untuk para intelektual hal mana muncul pada setiap hari dan sedang berlangsung.

Kemudian di satu tempat beliau bersabda, “Hal ini patut diingat, yaitu Allah Tala’a tidak akan meninggalkan silsilah (Jemaat)-Nya tanpa menyediakan bukti-bukti kebenarannya. Dia sendiri berfirman yang tertulis dalam buku ‘Barahin Ahmadiyyah’, ‘Seorang Juru-Peringat sudah datang ke dunia namun dunia tidak menerimanya, akan tetapi Tuhan akan menerimanya dan dengan serangan dasyat akan menampakkan kebenarannya.’

Itu artinya, siapapun yang mendustakan dan berupaya mengingkari, ditakdirkan akan dihinakan dan dipermalukan. Mengapa orang-orang yang tidak paham itu tidak berpikir bahwa jika misi ini dibuat-buat oleh manusia, misi ini sudah berakhir sejak lama. Hal demikian karena Allah Ta’ala pasti akan bermusuh dengan para muftari (pendusta yang mengatasnamakan-Nya). Mereka pun tidak berpikir seorang pembohong sama sekali tidak mungkin memiliki ketabahan dan keteguhan seperti ini. Orang-orang yang tuna ilmu itu pun tidak menyadari bahwa hanya kata-kata seseorang yang mendapat dukungan dari Yang Ghaib (Allah Ta’ala) sajalah yang secara tepat dan benar membuat pembicaraannya bisa begitu penuh makna, penuh keindahan dan kehebatan. Dialah satu-satunya yang memiliki keberanian sendirian menghadapi dunia.

Tunggulah dengan penuh keyakinan, hari-hari itu pasti akan datang, ketika wajah para pendusta menghitam, sedangkan wajah orang-orang benar begitu putih cemerlang. Siapakah itu yang disebut sahabat? Adalah dia yang menerimaku sebelum menyaksikan tanda-tanda tersebut sama sekali, dan dia mengorbankan dirinya sendiri, hartanya serta kehormatannya, dan seolah-olah ia telah melihat ribuan tanda. Mereka adalah milikku dan juga Jemaatku, yaitu yang mendapatiku sendirian, namun menolongku, mendapatiku bersedih, namun menyertaiku dalam kesedihanku. Mereka bersikap sopan santun seolah-olah seperti orang yang lama mengenalku padahal mereka bukan dari kalangan orang yang mengenalku. Semoga Allah merahmati mereka. Jika seseorang beriman setelah hakekat terbuka dengan jelas dan setelah melihat tanda, maka ada apa antara aqu dan dia? Apa ganjaran baginya? Apa kedudukannya dihadapan Allah?

Sesungguhnya orang-orang takkan bisa disebut menerimaku hingga mereka melihatku dengan wawasan yang mendalam dan memperhatikan kata-kataku dengan firasat dan pendalaman terhadap peri keadaanku. Mereka menyimak kata-kataku dan berkaca dengannya dan di dalamnya. Kemudian, Allah sedemikian banyak melapangkan hati mereka dengan petunjuk- petunjuk ini dan menjadikan mereka bersamaku. Orang yang bersama-sama denganku adalah orang yang menanggalkan keinginannya demi keinginanku dan yang menjadikanku sebagai hakam (hakim, pertimbangan) dengan meninggalkan dirinya dan pembawaannya. Dia menapaki jalanku. Dia hilang dalam ketaatan padaku. Dia keluar dari beban keakuannya.”

Aku berkata dengan penuh keprihatinan, mereka yang berusaha menuntut tanda-tanda yang cemerlang tersebut tidak layak meraih gelar terpuji atau kedudukan terhormat. Sesuatu yang diraih oleh mereka yang mengenali rahasia tersembunyi. Para hamba yang berlindung dibawah jubah Tuhan, merekalah yang berbau harum mewangi. (yaitu mereka yang sejak masa awal mengenali beliau sebagai utusan Allah) Apakah keistimewaan seorang manusia yang menyaksikan kemegahan, keagungan dan kebesaran seorang Pangeran lalu ia mengucap salam hormat kepadanya? Pemilik keistimewaan ialah orang yang mendapatinya kala ia sedang bertampang miskin lalu mengenalinya, menghormatinya. Namun, bukanlah dalam upayaku untuk menerbitkan ketajaman akal ini kepada siapapun, melainkan, hanya Dialah yang menganugerahkannya kepada yang dikehendaki-Nya. Siapa saja yang dicintai-Nya, dikaruniai oleh-Nya firasat keimanan. Orang-orang yang mendapatkan petunjuk mendapatkan hal ini. Dengan hal ini pula bertambahlah bengkok hati siapa yang telah bengkok sebelumnya. Kini, telah kuketahui, aku telah menulis dengan cukup memadai perihal tanda-tanda. Allah Maha Mengetahui kebenarannya bahwa Dia menerbitkan daripada-Nya mendekati 3.000 perkara atau lebih yang berada di luar kemampuan manusia untuk membuatnya dan di masa mendatang pintunya takkan tertutup.”[16]

                Semoga Allah Ta’ala memberikan akal kepada orang-orang dunia ini yaitu memberikan mereka pemahaman terhadap tanda-tanda itu dan bukan hanya menuntut tanda-tanda berdasarkan kehendak akal dan keinginan mereka sendiri, bahkan, semoga mereka memahami pentingnya kondisi dan suara zaman yang terjadi sekarang ini untuk lahirnya utusan Allah Ta’ala. Untuk mendengarnya dan berusaha memahaminya. Mereka beriman kepada utusan Allah Ta’ala setelah mencarinya, sehingga kekacauan di dunia ini bisa berakhir.

Saya juga hendak menshalatkan Jenazah ghaib bagi Mukarram Tn. Ghulam Qadir, putra Tn. Abdul Ghaffar, seorang Darweisy Qadian yang wafat pada 12 Nopember 2014 dalam usia 90 tahun, sesuai ketetapan Allah. إنا لله وإنا إليه راجعون Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Beliau termasuk dalam 313 Darweisy permulaan dan terdaftar di nomor 189 dalam Tarikh Ahmadiyah. Beliau lahir bulan April 1925 di Syaadiwaal, Gujrat. Pendidikan awalnya dimulai di sana. Bertugas dalam ketentaraan. Setelah bekerja 4 tahun, beliau masuk gerakan penjagaan Markaz menaati seruan dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra . Beliau datang ke Qadian sejak muda untuk mewakafkan dirinya pada 1947.

Beliau sangat gemar dalam bertabligh khususnya pada orang Sikh. Dalam kekhususan ini, beliau banyak mengumpulkan buku-buku dan referensi langka. Beliau bermimpi, bahwa usianya akan mencapai sekitar 90 tahun. Almarhum juga seorang mushi. Beliau merupakan seorang Musi dan meninggalkan seorang istri, tiga putra dan lima putri. Seorang putrinya adalah istri dari Mukarram Tn. Zafrullah Pontoh, seorang Murabbi Silsilah (Muballigh Jemaat) di Indonesia. Putranya menulis, “Saat menjadi Darwisy, sekalipun mendapatkan tunjangan yang sederhana beliau bekerja keras pada suatu pekerjaan lain dan mengirim sebagian gajinya sebagai dana bantuan kepada ibundanya yang janda dan 3 saudarinya karena beliau adalah putra sulung.”

Tn. Kalim Ahmad Thahir, muballigh kita berkata, “Pada tahun 1997 di bulan Ramadhan saya pergi ke Qadian. Saya mendapatkan kesempatan untuk ‘itikaf. Beliau bersama saya. Dalam percakapan disebut tentang minuman Kasymiry Cae, saya menyukainya. Setelah itu cae setiap hari datang dari rumahnya. Selalu thermosnya diserahkan pada saya.” Beberapa waktu setelahnya, muballigh ini mendapat kecelakaan yang terjadi saat  ia kembali dari Qadian ke Rabwah. Beliau berkata, “Di hari-hari itu almarhum datang ke Rabwah, ia mengunjungi saya dengan bersemangat dan menanyakan kesehatan saya dan menangis. Beliau mendoakan dengan penuh haru. Walaupun dalam keadaan lemah dan sakit, penglihatannya juga lemah, almarhum tetap pergi shalat ke masjid Mubarak sampai akhir hayatnya, ‘Di sini saya mendapat ketenangan,’ katanya.” Semoga Allah mengangkat derajatnya.

Selain itu, ada dua darwis lainnya yang wafat beberapa bulan yang lalu. Shalat jenazah ghaibnya sudah dishalatkan sebelumnya tapi tidak ada dzikr khair mengenang kebaikannya. Saya hari ini hendak menyampaikan dzikr khairnya. Dimohon dari saudara-saudara untuk mendokan bagi beliau dan anak keturunannya. Para Darwisy ini telah banyak berkorban. Dalam jangka waktu yang lama hidup dalam kemiskinan. Hidup dalam keadaan yang sangat sederhana. Menjalani hidupnya di Qadian dengan sangat sederhana dan menjalankan kewajibannya menjaga syiar-syiar Allah.

Salah seorang diantara yang wafat adalah Tn. Mirza Mubarak Iqbal, putra Tn. Mirza Adam Beg. Beliau wafat pada 11 Juni 2014. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Kakeknya (dari pihak bapak) adalah Hadhrat Mirza Rasul Beg, seorang sahabi. Kakek (dari pihak ibu) adalah Hadhrat Mirza Riyadh Beg, juga adalah seorang sahabi. Beliau pun termasuk dari 313 Darwisy permulaan. Beliau mendapat taufik berkhidmat dalam waktu yang lama di Syafa Khanah (tempat penyembuhan, klinik) Qadian sebagai dokter gigi. Setelah itu beliau berkhidmat menjadi pegawai kantor. Orang yang shaleh, suka beribadah, mukhlis. Aktif dalam pengorbanan harta. Sangat pemberani dan perenang yang baik. Juga seorang musi. Selain seorang istri, beliau meninggalkan empat orang putri dan seorang putra.

Kemudian Tn. Chaudhri Manzoor Ahmad Cheema yang wafat pada 26 Juli 2014 dalam usia 94 tahun, Inna lillaahi wa innaa ilaihi Raaji’uun. Beliau putra sulung Chaudri Nur Ali Cheema, sahabi Hadhrat Masih Mau’ud as. Saat Hadhrat Mushlih Mau’ud ra membuat sebuah gerakan bagi Jemaat untuk menjaga Markaz, beliau menjawab seruan itu dengan menyerahkan dirinya sendiri untuk berkhidmat itu. Sebelum itu beliau anggota pasukan Britania (Inggris). Beliau memperoleh kebaikan dengan menjadi Darwisy. Meskipun berusia tua, beliau rajin datang ke masjid untuk shalat. Beliau seorang mukhlis, berpenampilan gembira, pemilik hati yang hidup, bersahabat dan pengasih. Juga seorang musi. Selain seorang istri yang telah berumur, beliau meninggalkan seorang putri dan dua orang putra. (Mln. Yusuf Awwab & Mln. Abdul Wahab)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Haqiqatul Wahyi Ruhani Khazain Jilid 22, hal. 257-258

[3] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain Jild 22, hal. 259-260

[4] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain Jild 22 hal.376-377

[5] Malfuzaat Jild 4 hal. 257 edisi th 1985, cetakan London

[6] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain Jilid 22, hal. 339340

[7] Shahih Muslim, Kitab al-Iman, bab Nuzul Isa ibn Maryam haakiman bi syari’ati Nabiyyina Muhammadin shallAllahu ‘alaihi wa sallam (bab tentang turunnya Isa putra Maryam sebagai hakim dengan syariat Nabi kita, Muhammad saw.) Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: «وَاللَّهِ لَيَنْزِلَنَّ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَادِلًا فَلَيَكْسِرَنَّ الصَّلِيبَ، وَلَيَقْتُلَنَّ الْخِنْزِيرَ، وَلَيَضَعَنَّ الْجِزْيَةَ، وَلَتُتْرَكَنَّ الْقِلَاصُ فَلَا يُسْعَى عَلَيْهَا، وَلَتَذْهَبَنَّ الشَّحْنَاءُ وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ، وَلَيَدْعُوَنَّ إِلَى الْمَالِ فَلَا يَقْبَلُهُ أَحَدٌ» ‘Wallaahi! Layanzilanna bnu Maryama hakaman ‘aadilan falyaksirannash shaliiba, walayaqtulannal khinziira, walayadha’annal jizyata, walatutrakannal qilaashu falaa yus’aa ‘alaiiha, walatadzhabannasy syahnaa-u wat tabaaghudhu wat tahaasudu, walayad’uwanna ilal maali falaa yaqbaluhu ahad.’ – “Sungguh, demi Allah! Ibnu Maryam akan turun sebagai hakim yg adil, lalu dia mematahkan salib, membunuh babi, menghapuskan jizyah, unta-unta muda akan ditinggalkan dan takkan dibebani diatasnya, tak berusaha mendapatkannya, hilanglah permusuhan, saling melakukan kebencian dan hasad, dan ia akan mengajak untuk menerima harta namun tak ada seorang pun yang menerimanya.”

[8] Haqiqatul wahyi, Ruhani Khazain Jilid 22, hal. 205-206

[9] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain Jilid 22 hal. 221 s.d 223

[10] Casmah Marifat, Ruhani Khazain Jild 23, hal. 402

[11] Casmah Marifah, Ruhani Khazain Jild 23 hal. 403

[12] Malfuzaat, Jild 6. Hal. 352 s.d 354 edisi 1985, Inggris

[13] Nuzulul Masih, Ruhani Khazain, Jild 18 hal. 426

[14] Malfuzat Jilid 6 hal.445-446 Edisi 1985 terbitan Inggris

[15] Malfuzaat Jilid 10 hal. 218 – 219 Edisi 1985. Inggris

[16] Ainah Kamalaat-e-Islam, Ruhani Khazain