بسم اللہ الرحمن الرحیم

Hazrat Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi’ah bin Abdu Syams radhiyAllahu ta’ala ‘anhu

Asal keturunan, Awalin dalam masuk Islam meski keluarga besarnya ialah penentang keras Islam; Hijrah ke Habasyah, sebuah negeri Kristen yang dipimpin raja yang adil; rumor atau kabar burung saat bermukim di Habasyah. Penjelasan muarrikh (sejarawan) Ahmadiyah, Hazrat Mirza Basyir Ahmad dalam buku Sirah Khataman Nabiyyin mengenai itu; peran dalam Sariyyah (ekspedisi); jawaban terhadap kritikan perang di bulan Haram (terlarang); peran dalam berbagai peperangan; ucapan bernada munafik dan kritikan terhadap Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang disesali olehnya sehingga mendambakan kesyahidan sebagai tanda menebus kesalahan.

Kewafatan Profesor Su’ud Ahmad Khan Sahib ad-Dehlawi, Vice Principal (wakil kepala sekolah) pertama Ahmadiyah Secondary School di Ghana dan pengajar di Jamiah Ahmadiyah. Peran-peran pengkhidmatan beliau lainnya. Disebutkannya nama ayahanda dan kakek Almarhum dalam daftar Sahabat dan beberapa buku Hazrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam. Dzikr Khair dan pengumuman shalat Jenazah untuk Almarhum.

 

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 01 Februari 2019 (Tabligh 1398 Hijriyah Syamsiyah/26 Jumadil Awwal 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden UK (Britania)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Sahabat peserta perang Badr yang akan saya sampaikan pada hari ini adalah Hazrat Abu Hudzaifah bin Utbah (أَبُو حُذَيْفَةَ بْنُ عُتْبَةَ بْنِ ربيعة بْنُ عَبْدِ شَمْسِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قصي). Julukan beliau Abu Hudzaifah. Diriwayatkan nama beliau adalah Hushaim (هُشَيْم), Hashim (هاشم) atau Qais (قيس) atau Hisl (حِسْل) atau Mihsyam (مِهشم). Ibunda beliau bernama Ummu Shafwan, nama aslinya Fatimah Binti Shafwan (فاطمة بِنْت صفوان بْن أمية بْن محرث الكناني). Beliau berpostur tubuh tinggi dan berparas tampan. Beliau baiat sebelum Rasulullah (saw) memasuki Darul Arqam dan termasuk Muslim zaman awal.

Berkenaan dengan beliau Hazrat Mirza Bashir Ahmad menulis, “Abu Hudzaifah Bin Utbah berasal dari Banu Umayyah [Banu Abdu Syams]. [1] Ayah beliau, Utbah Bin Rabiah termasuk pemuka Quraisy. Abu Hudzaifah syahid pada perang Yamamah yang terjadi pada masa kekhalifahan Abu Bakar berhadapan dengan Musailamah Kadzdzab. Hazrat Abu Hudzaifah ikut pada kedua hijrah ke Habsyah. Begitu juga istri beliau, Hazrat Sahlah Binti Suhail (سَهْلَةُ بِنْتُ سُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو) ikut serta hijrah dengan beliau.

Berkenaan dengan hijrah ke Habasyah telah dijelaskan pada kisah sahabat sebelumnya, bagaimana dan mengapa terjadi. Saat inipun secara singkat akan saya sampaikan. Referensi buku-buku sejarah dan hadits yang dirujuk oleh Hazrat Mirza Bashir Ahmad akan saya kutip sebagiannya atau lebih dipersingkat lagi.

Ketika penderitaan umat Muslim sudah sampai pada puncaknya dan Quraisy semakin menjadi-jadi dalam penganiayaan, Hazrat Rasulullah (saw) memerintahkan umat Muslim, لو خرجتُم إلى أرض الحبشة فانّ بِها ملِكاً لا يُظلَمُ عِندهُ أحد وهي أرضُ صِدق حتى يجعلَ اللّه لكُم فرجاً مما أنتُم فيهِ “Jika kalian keluar untuk hijrah ke Habsyah, niscaya kalian temui di sana seorang Raja adil dan menyukai keadilan. Dalam pemerintahannya tidak ada kezaliman kepada siapapun.”[2]

Negeri Habasyah dalam Bahasa Inggris disebut Etiophia dan/atau Abbesinia, dikatakan letaknya berada di sebelah timur laut benua Afrika. Dari sisi letak terletak tepat berhadapan dengan Arabia bagian selatan. Di tengah-tengah keduanya selain Laut Merah, tidak ada lagi. Pada masa itu di Habsyah berdiri sebuah pemerintahan Kristen yang kuat dan rajanya disebut dengan gelar Najasyi (Negus), bahkan sampai saat ini penguasanya disebut dengan nama tersebut.

Habasyah dan Arabia memiliki hubungan dagang. Negeri yang tengah dibahas ini yakni Habasyah, ibukotanya Axsum yang saat ini letaknya berdekatan dengan kota Adowa dan sampai saat ini didiami dan dianggap sebagai kota suci. Axsum pada saat itu merupakan pusat satu pemerintahan yang sangat tangguh. Najasyi yang memimpin saat itu bernama Ashamah yang merupakan seorang raja yang adil, bijak dan amat powerful (berkuasa).

Ringkasnya, ketika penderitaan umat Muslim sampai pada puncaknya, Hazrat Rasulullah (saw) bersabda kepada mereka bahwa bagi mereka yang mampu silahkan hijrah ke Habasyah. Mendengar sabda Rasulullah (saw) tersebut pada bulan Rajab 5 Nabawi (sekitar 615 Masehi) telah hijrah 11 pria dan 4 perempuan ke Habasyah. Diantara mereka terdapat sahabat yang terkenal, yaitu Utsman Bin Affan beserta istrinya Ruqayyah putri Rasulullah (saw), Abdur Rahman Bin Auf, Zubair Bin Al Awam, Abu Huzaifah bin Utbah, Utsman bin Maz’un, Mush’ab Bin Umair, Abu Salamah Bin Abdul Asad beserta istrinya, Hazrat Ummu Salamah.[3]

Merupakan hal aneh bahwa sebagian besar sahabat yang hijrah pada masa awal adalah orang-orang yang berasal dari kalangan pembesar (keluarga kaya dan terpandang) kabilah Quraisy sedangkan kalangan yang lemah jumlahnya kurang yang dengannya dapat diketahui dua hal. Pertama, umat Muslim dari kalangan pembesar pun tidak luput dari penganiayaan kaum Quraisy. Kedua, orang-orang lemah misalnya hamba sahaya dan lain-lain keadaannya sedemikian lemah dan tak berdaya, sehingga untuk hijrah pun mereka tidak mampu.

Ketika para Muhajirin ini berangkat ke arah selatan dan sampai di Syuaibah yang pada saat itu adalah sebuah pelabuhan Arab, dengan karunia Allah Ta’ala, mereka menemukan sebuah kapal dagang yang tengah siap untuk berangkat ke Habsyah. Lalu mereka menumpang kapal tersebut dan sampai dengan selamat di tujuan. Ketika kaum Quraisy mengetahui kabar hijrah tersebut, mereka sangat marah karena incaran mereka telah lepas lalu mereka membuntuti supaya jangan sampai mereka berhasil meninggalkan, namun mereka telah pergi. Atas hal itu mereka mengejar para Muhajirin, namun ketika pasukan Quraisy sampai di pantai, kapal laut telah berangkat. Akhirnya mereka kembali pulang dengan tangan kosong. Sesampainya di Habsyah, para Muhajirin dapat hidup dengan sangat damai dan bersyukur atas terlepasnya mereka dari kezaliman tangan Quraisy.[4]

Sebagaimana yang disampaikan oleh para ahli sejarah bahwa belum lama mereka tinggal di Habsyah, sampai kabar burung kepada mereka yang menyatakan bahwa seluruh Quraisy telah baiat masuk islam dan di Makkah telah tercipta kedamaian. Sebagai akibat dari kabar burung tersebut kebanyakan para Muhajirin tanpa pikir panjang kembali pulang ke Makkah.”

Berkenaan dengan kabar burung tersebut Hazrat Mirza Bashir Ahmad menjelaskan dengan merujuk pada berbagai sumber sejarah tentang bagaimana dan mengapa itu menyebar?

“Meskipun pada hakikatnya kabar tersebut sama sekali palsu dan tidak berdasar yang mana dihembuskan Kuffar Quraisy yang mungkin bertujuan untuk membuat para Muhajirin kembali ke Makkah dan menempatkan mereka dalam kesusahan. Bahkan jika direnungkan lebih dalam kisah kabar burung dan kembalinya para Muhajirin tampak tidak berdasar.

Namun – beliau menulis – jika hal itu dianggap benar, mungkin saja itu didasari oleh riwayat yang terkandung pada sebagian hadits. Sebagaimana terdapat dalam suatu riwayat hadits Bukhari bahwa suatu ketika Hazrat Rasulullah (saw) menilawatkan surat An najm di depan Kabah, pada saat itu juga terdapat banyak para pemuka Quraisy begitu juga umat Muslim. Ketika Rasulullah (saw) selesai membacakannya, beliau lalu bersujud dan diikuti oleh seluruh umat Muslim dan kaum kuffar yang ada di sana.[5]

Dalam Hadits-Hadits tidak dijelaskan alasan kenapa kaum kuffar melakukan itu, namun tampaknya ketika Rasulullah (saw) menilawatkan ayat Ilahi dengan suatu caa yang sangat syahdu menyentuh ke kedalaman hati mereka. Terlebih di dalam ayat-ayat tersebut tergambarkan tauhid Ilahi, kudrat dan keperkasaan-Nya dalam corak baligh dan fasih. Diingatkan pula akan ihsan-ihsan-Nya. Setelah itu, diperingatkan kepada bangsa Quraisy dengan firman yang penuh ru’b (wibawa) dan kemuliaan, jika mereka tidak menghentikan kejahatannya maka keadaan mereka akan seperti kaum-kaum terdahulu yang mendustakan Rasul-Rasul Tuhan. Pada akhirnya dalam ayat itu diperintahkan, ‘Marilah bersujud di hadapan Allah Ta’ala.’[6]

Setelah Nabi (saw) selesai menilawatkan ayat tersebut, beliau dan segenap umat Muslim langsung bersujud. Kalam Ilahi dan pemandangan tersebut sedemikian rupa berpengharuh secara luar biasa terhadap orang-orang Quraisy sehingga kaum Quraisy yang berada di sana secara spontan ikut bersujud bersama dengan umat Muslim.

Hal ini tidaklah mengherankan bahwa dalam keadaan seperti yang telah baru saja dijelaskan terkadang kalbu manusia terpesona dan secara spontan melakukan gerakan yang sama padahal hal tersebut bertentangan dengan prinsip dan akidah agamanya. Sebagaimana kita saksikan juga terkadang ketika terjadi bencana secara tiba-tiba dan dahsyat, seorang Atheis pun menyebut-nyebut nama Tuhan. Adapun bangsa Quraisy bukanlah Atheis. Mereka meyakini keberadaan Tuhan meskipun menyekutukannya dengan berhala.”

Pada masa ini pun kita saksikan ketika kita bertanya kepada orang Atheis, “Pada waktu kalian menghadapi suatu masalah, apakah di dalam pikiran kalian menyebut nama Tuhan ataukah tidak?” Mereka mengakui ingat akan Tuhan.

Hazrat Mirza Basyir Ahmad menulis, “Walhasil, ini merupakan pengaruh dari tilawat Surat Al Quran dan amal perbuatan umat Muslim yang bersujud sehingga para pemuka Quraisy ikut serta bersujud bersama umat Muslim. Walhasil, umat Muslim langsung bersujud yang mana hal itu telah berdampak seperti sihir yang membuat kaum Quraisy yang ada di sana pun langsung ikut bersujud.

Namun pengaruh seperti itu sifatnya sementara dan biasanya manusia lekas kembali kepada keadaannya yang semula. Sebagaimana mereka pun yang semula penyembah berhala kembali pada keadaan sebagai penyembah berhala. Bagaimana pun, ini merupakan peristiwa yang terbukti tercatat dalam Hadits-Hadits shahih. Jika memang kabar kepulangan Muhajirin Habsyah itu benar, nampaknya setelah peristiwa tadi, kaum Quraisy yang berusaha untuk memulangkan kembali Muhajirin habsyah karena Muhajirin Habsyah terlepas dari tangan mereka, memanfaatkan peristiwa tadi menyebarkan kabar burung Quraisy Makkah telah masuk Islam dan Makkah merupakan tempat yang aman bagi umat Muslim.

Ketika kabar burung tersebut sampai kepada Muhajirin Habsyah, tentunya mereka sangat gembira. Dalam kebahagiaannya itu tanpa berpikir panjang langsung memutuskan pulang ke Makkah. Namun ketika mereka sampai di Makkah, terbukalah hakikat sesungguhnya sehingga sebagian dari mereka hidup sembunyi-sembunyi. Sebagiannya datang ke Makkah dengan meminta perlindungan dari para tokoh Quraisy yang berpengaruh. Sebagiannya lagi kembali ke Habsyah. Jadi, jika dalam kabar baiatnya kaum Quraisy terdapat kebenaran, itu semata-mata dilatarbelakangi kisah sebagain tokoh Quraisy yang bersujud ketika Tilawat surat An-Najm, seperti yang telah diterangkan. وَاللَّهُ أَعْلَمُ Allah Ta’ala lebih mengetahui hakikat sesungguhnya.

Jika diantara Muhajirin Habsyah itu ada yang kembali pulang ke Makkah, lalu kebanyakan dari mereka kembali lagi ke Habsyah. Dikarenakan Quraisy semakin menjadi-jadi dalam penganiayaannya dan kezaliman mereka semakin meningkat hari demi hari, umat Muslim yang lainnya pun, atas perintah Rasulullah (saw), secara diam-diam melakukan hijrah ke Habsyah seketika mendapat kesempatan. Mata rantai hijrah ini terus meningkat sehingga jumlah Muhajirin menjadi 100 orang yang diantara mereka terdapat 18 wanita. Mereka yang masih bertahan di Makkah bersama dengan Rasulullah (saw) tinggal sedikit. Sebagian sejarawan menyebut hijrah tersebut dengan sebutan hijrah kedua ke Habsyah.”[7]

Pertama hijrah yang diawal tadi, kedua ditambah dengan Muslim lainnya yang menyusul berangkat. Demikian pula, ketika mendapatkan izin untuk hijrah ke Madinah, Hazrat Abu Hudzaifah dan Hazrat Salim (Salim maula Abi Hudzaifah, َسَالِمُ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ), seorang hamba sahaya yang dimerdekakan beliau, keduanya hijrah ke Madinah. Sebelumnya mereka telah melakukan hijrah ke Habsyah dan sudah kembali, lalu melakukan hijrah yang kedua ke Madinah, dimana beliau berdua tinggal dirumah Hazrat Abbad Bin Bisyr (عَبَّاد بن بِشْر). Hazrat Rasulullah (saw) menjalinkan persaudaraan antara Hazrat Abu Hudzaifah dengan Hazrat Abbad Bin Bisyr (عَبَّاد بن بِشْر).

Hazrat Abu Hudzaifah ikut serta juga dalam Sariyyah Hazrat Abdullah Bin Jahsy. Saya akan sampaikan kisah lengkap latar belakang Sariyah dengan Abdullah Bin Jahsy yang terdapat dalam buku Sirat Khataman Nabiyyiin, “Seorang pemuka Makkah bernama Kurz bin Jabir bin Fahri dengan membawa pasukan kuffar Quraisy menyerang secara tiba-tiba ke area peternakan Madinah yang berjarak hanya 3 mil dari kota dengan penuh kelicikan. Mereka mencuri unta dan lain-lain milik umat Muslim. Ketika Rasulullah (saw) mendapatkan kabar kejadian ini, beliau (saw) segera mengutus sebuah pasukan Muhajirin dibawah pimpinan Zaid Bin Haritsah untuk membuntuti mereka. Mereka berhasil mengikuti penyerang sampai kawasan Shafwan di dekat bukit Badr namun mereka berhasil lolos. Perang tersebut pun disebut dengan perang Badr Ula (pertama).

Serangan Kurz bin Jabir ini bukanlah sebuah aksi penjarahan kecil biasa melainkan tentunya mereka membawa rencana khusus dari pihak Quraisy terhadap umat Muslim. Bahkan mungkin sekali bahwa mereka berniat untuk menimpakan kerugian kepada diri Rasulullah (saw). Namun setelah melihat kesigapan umat Muslim, mereka pergi lagi dengan hanya mencuri unta-unta. Dari ini juga dapat diketahui bahwa Quraisy Makkah berniat untuk menyerang Madinah dan membunuh umat Muslim…

Serangan Kurz bin Jabir yang tiba-tiba itu tentunya secara alami menimbulkan kekhawatiran yang dalam bagi umat Islam. Karena ancaman para pemuka Quraisy ini sudah ada sejak sebelumnya yang menyatakan akan menyerang Madinah dan membunuh umat Muslim maka hal itu membuat umat Muslim sangat khawatir. Melihat marabahaya ini Hazrat Rasulullah (saw) berniat untuk mencari informasi dari dekat perihal gerak-gerik dan rencana kuffar Quraisy supaya dapat dilakukan tindakan pencegahan dan penjagaan jika ada rencana serangan tiba-tiba ke Madinah.

Dalam rangka tugas tersebut Hazrat Rasulullah (saw) mempersiapkan satu grup yang terdiri 8 orang Muhajirin. Rasulullah (saw) menggunakan strategi mengutus orang-orang yang berasal dari berbagai kabilah Quraisy supaya mendapatkan kemudahan dalam mencari informasi perihal rencana rahasia kuffar Quraisy. Rasulullah (saw) juga menetapkan sepupu jalur ibu bernama Abdullah bin Jahsy sebagai ketuanya. Di dalam pasukan tersebut ada juga Abu Hudzaifah bin Utbah supaya tujuan dikirimnya Sariyyah (grup ekspedisi) ini tidak diketahui umat Muslim sampai-sampai beliau pun tidak memberitahukan kepada komandan pasukannya perihal ditugaskan kemana dan untuk apa pasukan ini.

Untuk itu Rasulullah (saw) menitipkan surat yang tertutup rapat kepada ketua Sariyyahnya dan bersabda, ‘Di dalam surat ini tertulis petunjuk bagi kalian, ketika kalian sampai di suatu tempat yang jaraknya dua hari perjalanan dari Madinah, bukalah surat ini dan amalkanlah sesuai dengan petunjuk surat ini.’

Lalu Abdullah dan kawan kawannya berangkat sesuai dengan perintah Rasulullah (saw). Setelah menempuh perjalanan dua hari, Abdullah membuka surat petunjuk Rasulullah (saw) yang di dalamnya tertulis, ‘Pergilah kalian ke lembah Nakhlah yang berada diantara Makkah dan taif, di sana carilah informasi mengenai Quraisy lalu kabari kami.’

Karena tugas mencari informasi di tempat yang dekat dengan Makkah sangat beresiko, di bawah surat itu beliau juga menyuruh menuliskan, ‘Setelah mengetahui misi ini jika ada diantara kawanmu yang enggan untuk terus bergabung dalam grup ini dan ingin kembali pulang maka diizinkan untuk kembali lagi.’

Kemudian, Abdullah menyampaikan petunjuk Rasulullah (saw) kepada kawan-kawannya dan semuanya sepakat untuk mempersembahkan diri dengan senang hati dalam melaksanakan tugas ini. Grup tersebut lalu berangkat ke Nakhlah.

Di tengah jalan, unta Sa’d Bin Abi Waqas dan Utbah Bin Ghazwan hilang. Ketika melakukan pencarian mereka berdua tepisah hilang dan meskipun diupayakan untuk mencari kedua orang itu namun tidak ditemukan. Sehingga grup tersebut tinggal tersisa 6 orang. Lalu berangkatlah ke enam orang itu untuk melanjutkan misi. Grup kecil Muslim tadi akhirnya sampai di Nakhlah lalu mulai melakukan tugasnya untuk mencari informasi apa rencana kaum kuffar Makkah. Demi untuk merahasiakan misi itu, sebagian dari mereka bahkan mencukur habis rambutnya supaya orang melihatnya tidak merasa curiga dan menyangka mereka tengah melakukan umrah.

Namun belum lama mereka sampai di Nakhlah, tiba-tiba datanglah kafilah kecil Quraisy yang tengah melakukan perjalanan ke Makkah dari Thaif. Sehingga kedua grup itu saling berhadapan. Walhasil, kafilah itu mengetahui ini adalah grup Muslim. Mereka pun bersiap untuk bertempur dengan pasukan Muslim.

Pasukan Muslim lalu bermusyawarah apa yang harus dilakukan saat itu karena Rasulullah (saw) mengirim mereka untuk mencari informasi secara diam-diam. Sementara itu, di sisi lain pertempuran dengan Quraisy hampir terjadi, saling berhadapan. Terlebih ada perasaan khawatir, karena setelah diketahui keberadaan pasukan Muslim oleh kafilah tersebut, jangan sampai kabar ini akan semakin menyebar kemana-mana.

Ada juga kesulitan yakni sebagian pasukan Muslim berpikiran hari itu adalah hari terakhir bulan Rajab yang merupakan bulan haram. Berdasarkan tradisi kuno Arab di dalam bulan tersebut tidak boleh ada peperangan. Sedangkan sebagian sahabat beranggapan bulan Rajab telah berlalu, sudah memasuki bulan Syaban.

Berdasarkan riwayat lain bahwa pasukan itu dikirim pada bulan Jumadil Akhir. Mereka ragu saat itu adalah bulan Rajab. Namun di sisi lain, lembah Nakhlah pun posisinya terletak di perbatasan kawasan Haram. Jelaslah bahwa jika pada hari itu tidak diputuskan maka esok hari kafilah ini akan memasuki kawasan Haram.

Setelah mempertimbangkan semua itu keenam sahabat ini memutuskan untuk menyerang atau menawan kafilah tersebut atau membunuh. Akhirnya pasukan Muslim menyeru nama Allah lalu menyerang mereka yang mengakibatkan terbunuhnya seorang dari kalangan Kuffar yang bernama Amru Bin Al Hadhrami dan dua orang lainnya ditawan. Namun yang keempat melarikan diri dan pasukan Muslim tidak berhasil menangkapnya. Dengan demikian usulan untuk menyerang dan menawan itu telah berhasil. Setelah itu pasukan Muslim menguasai harta kafilah. Karena satu orang berhasil kabur sehingga kabar pertempuran itu akan segera menyebar di Makkah maka Abdulah Bin Jahsy dan kawan kawannya segera membawa tawanan dan harta rampasan itu dan kembali ke Madinah.

Para Orientalis (contohnya Margolius) juga melontarkan mengkritik atas peristiwa tersebut dengan menyatakan bahwa pasukan Muslim sengaja dikirim untuk menyerang kafilah yang mana ini jelas-jelas melanggar… Walhasil, Ketika Rasulullah (saw) mengetahui pasukan Muslim menyerang kafilah, beliau sangat murka. Sebagaimana dalam riwayat dikatakan bahwa ketika pasukan Muslim ini menghadap kepada Rasulullah (saw) dan beliau mengetahui seluruh kejadian, beliau sangat marah lalu bersabda, ‘Saya tidak mengizinkan kalian untuk berperang di bulan suci dan Rasulullah (saw) menolak untuk menerima harta rampasan.’

Atas hal itu Abdullah dan kawan kawannya merasa sangat menyesal dan beranggapa, ‘Saat ini kita telah binasa disebabkan oleh marahnya Tuhan dan Rasul-Nya.’

Mereka sangat ketakutan. Para sahabat lain pun marah dan mengatakan, ‘Kalian telah melakukan perbuatan yang tidak diperintahkan dan kalian juga telah bertempur pada bulan yang diharamkan padahal dalam misi tersebut kalian tidak diperintahkan untuk bertempur.’

Di sisi lain kaum Quraisy pun meributkan umat Muslim telah melanggar kesucian bulan Haram. Disebabkan yang terbunuh ialah Amru Bin Al-Hadhrami, seorang tokoh Quraisy dan juga sekutu Utbah Bin Rabiah yang merupakan pemuka Makkah maka hal itu telah membakar gejolak api amarah bangsa Quraisy sehingga mereka melakukan persiapan yang lebih lagi untuk melancarkan serangan ke Madinah. Walhasil, peristiwa tersebut telah menimbulkan kehebohan luar biasa diantara kaum Kuffar dan Muslim. Mereka mengatakan: Coba perhatikan, umat Muslim telah menyerang pada bulan yang diharamkan.

Hazrat Mirza Bashir Ahmad menulis dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin, “Pada akhirnya turunlah ayat Al Quran Berikut yang memberikan ketentraman kepada umat Muslim. يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلشَّهْرِ ٱلْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَكُفْرٌۢبِهِۦوَٱلْمَسْجِدِٱلْحَرَامِوَإِخْرَاجُأَهْلِهِۦمِنْهُأَكْبَرُعِندَٱللَّهِوَٱلْفِتْنَةُأَكْبَرُمِنَٱلْقَتْلِوَلَايَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ ٱسْتَطَٰعُوا۟ ‘Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah, “hai orang-orang Musyrikin, berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya sebagaimana yang kalian lakukan terhadap umat Muslim Makkah, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah pada bulan Haram itu di negeri itu lebih buruk daripada membunuh.

Wahai orang-orang Muslim! Mereka tidak henti-hentinya memusuhi kami dan memerangi kamu di berbagai waktu dan tempat. Mereka akan terus melakukan hal itu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.”’

Sebagaimana terbukti dari sejarah bahwa para pemuka Quraisy pun melancarkan propaganda berdarah (seruan menyerang) terhadap umat Muslim pada bulan Haram juga. Mereka melancarkan pada bulan-bulan yang diharamkan untuk berperang. Bahkan, pada bulan-bulan Haram mereka semakin gencar melakukan rencana-rencana jahat mereka dengan memanfaatkan perkumpulan dan perjalanan yang dilakukan pada bulan-bulan tersebut. Lebih jauh lagi, dengan tidak ada rasa malu sama sekali demi melampiaskan kepuasan palsu di hati mereka, mereka merubah-rubah (menyusun ulang) bulan-bulan Haram itu dan menyebutnya dengan Nas’i.”[8]

Mereka memperlakukan umat Muslim seperti itu bahkan sudah sampai pada puncaknya hingga tiba Fatah Makkah.

Hazrat Mirza Bashir Ahmad [dalam buku karya beliau] menggunakan istilah yaitu mereka telah melampaui batas-batas. Ketika dalam periode Sulh Hudaibiyah (perjanjian damai di Hudaibiyah), meskipun sudah dibuat perjanjian yang jelas tapi kaum kuffar Makkah dan sekutunya menyerang kabilah sekutu umat Muslim di kawasan terlarang. Dan kemudian, ketika pasukan Muslim berangkat untuk membantu kabilah sekutunya itu, mereka (kaum Kuffar Quraisy) pun menghalangi mereka dengan menghunuskan senjata di kawasan yang terlarang. Umat Muslim secara alami menemukan ketentraman dengan jawaban yang diturunkan Allah Ta’ala dalam Al Quran dan itu mendinginkan kuffar Quraisy juga.

Dalam masa itu ada dua orang utusan Quraisy yang datang Madinah untuk membebaskan dua kawannya yang ditawan pihak Muslim dari suatu kafilah. Namun karena Saad Bin Abi Waqas dan Utbah – yang mana mereka kehilangan unta pada peristiwa sebelumnya – masih belum kembali. Hazrat Rasulullah (saw) sangat khawatir berkenaan dengan kedua sahabat tersebut, yakni jika mereka berada di tangan kaum musyrik maka mereka tidak akan selamat. Karena alasan ini, Rasulullah (saw) menolak untuk memulangkan dua tawanan kuffar itu. Ketika utusan kaum Kuffar datang untuk menjemput kawannya itu, beliau bersabda, “Jika kedua orang sahabat saya itu kembali ke Madinah dengan selamat, maka akan saya lepaskan kawan kalian ini.”

Ketika kedua sahabat itu kembali, beliau melepaskan kedua tawanan itu dengan mengambil jaminan. Namun, salah seorang diantara kedua tawanan itu sangat terkesan dengan akhlak mulia Rasulullah (saw) dan kebenaran ajaran Islam sehingga meskipun telah dibebaskan ia tidak mau kembali lalu baiat kepada Rasulullah (saw). Pada akhirnya beliau syahid pada peristiwa Bir Maunah. Nama beliau adalah Hakam bin Kaisan.[9]

Jika memang umat Muslim membaiatkan orang dengan kejam dan cara paksa, maka tidak akan terjadi baiat seperti ini.

Berkenaan dengan Abu Hudzaifah diriwayatkan juga bahwa pada saat perang Badr, beliau maju untuk duel dengan ayahnya, karena ayah beliau bukan Muslim dan berperang membela Kuffar, namun Rasulullah (saw) melarangnya dan bersabda, “Tinggalkan ia, biarkan ada pasukan lain yang akan menghadapinya.”

Ayah, paman, saudara dan keponakan beliau terbunuh dalam perang Badr [memihak Kuffar Quraisy].[10] Namun, Hazrat Abu Hudzaifah memperlihatkan kesabaran. Beliau ridha diatas keridhaan Allah ta’ala dan bersyukur atas pertolongan Allah yang Dia berikan kepada Rasulullah (saw) yakni menganugerahkan kemenangan.

Berkenaan dengan peristiwa tersebut terdapat satu riwayat juga yakni ibnu Abbas meriwayatkan Hazrat Rasulullah (saw) bersabda pada saat perang Badr, إِنِّي قَدْ عَرَفْتُ أَنَّ رِجَالا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ وَغَيْرِهِمْ قَدْ أُخْرِجُوا كَرْهًا ، لا حَاجَةَ لَهُمْ بِقِتَالِنَا ، فَمَنْ لَقِيَ مِنْكُمْ أَحَدًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ فَلا يَقْتُلُهُ ، وَمَنْ لَقِيَ أَبَا الْبَخْتَرِيِّ بْن هِشَامِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ أَسَدٍ فَلا يَقْتُلُهُ ، وَمَنْ لَقِيَ الْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَلَّبِ ، عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلا يَقْتُلُهُ ، فَإِنَّهُ إِنَّمَا أُخْرِجَ مُسْتَكْرِهًا “…siapa diantara kalian berhadapan dengan Abbas, janganlah membunuhnya karena ia terpaksa ikut. Jadikanlah ia tawanan dan jangan membunuhnya.”

Ketika sabda ini sampai kepada mereka (umat Muslim), ada yang mengatakan kepada Rasulullah (saw), namun tidak di hadapan Rasulullah (saw), melainkan Hazrat Abu Hudzaifah berkata kepada seseorang, أَنَقْتُلُ آبَاءَنَا وَأَبْنَاءَنَا وَإِخْوَانَنَا وَعَشِيرَتَنَا ، وَنَتْرُكُ الْعَبَّاسَ ؟ وَاللَّهِ لَئِنْ لَقِيتُهُ لأَلْحِمَنَّهُ السَّيْفَ “Kita diperintahkan untuk membunuh ayah, saudara dan kerabat kita lantas kenapa tidak boleh membunuh Abbas. Kenapa bisa demikian? Demi Tuhan, saya pasti akan membunuhnya, jika berhadapan dengannya.”

Ketika hal tersebut diketahui oleh Rasulullah (saw), beliau bersabda kepada Hazrat Umar, يَا أَبَا حَفْصٍ “Wahai Abu Hafsh!” أَيُضْرَبُ وَجْهُ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالسَّيْفِ؟ “Pedang akan ditebaskan ke wajah paman Rasul Allah.”[11]

Hazrat Umar berkata, وَاللَّهِ إِنَّهُ لأَوَّلُ يَوْمٍ كَنَّانِي فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، بِأَبِي حَفْصٍ “Ini pertama kalinya Hazrat Rasulullah (saw) memberikan nama julukan Abu Hafs pada saya.”

Hazrat Umar berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ ، دَعْنِي فَلأَضْرِبَنَّ عُنُقَهُ بِالسَّيْفِ ، فَوَاللَّهِ لَقَدْ نَافَقَ “Wahai Rasulullah (saw)! Izinkan saya menebas lehernya dengan pedang. Demi Tuhan di dalam diri orang yang mengucapkan itu terdapat kemunafikan.” Rasulullah (saw) melarangnya untuk membunuhnya.

Namun Abu Hudzaifah mengatakan, مَا أَنَا بِآمِنٍ مِنْ تِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي قُلْتُ يَوْمَئِذٍ ، وَلا أَزَالُ مِنْهَا خَائِفًا إِلا أَنْ تُكَفِّرَهَا عَنِّي الشَّهَادَةُ “Saya menyadari telah mengatakan sesuatu yang keliru, saya tidak bisa tenang. saya telah mengatakan sesuatu yang menyebabkan saya tidak bisa hidup tenang, saya akan selalu khawatir, kecuali saya diselamatkan dari keburukan itu dengan mati syahid, syahid demi Islam. Dengan begitu baru saya akan yakin bahwa saya telah selamat dari apa yang telah saya katakan.”

Perwai mengatakan, فَقُتِلَ يَوْمَ الْيَمَامَةِ شَهِيدًا “Walhasil, beliau syahid ketika perang Yamamah.”[12]

Sesuatu terkeluar dari mulut dengan penuh gejolak namun kemudian ketakutan dan seumur hidup terus ketakutan sampai pada akhirnya beliau syahid.

Hazrat Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) memerintahkan untuk memasukkan mayat orang-orang Musyrik yang terbunuh kedalam sebuah lubang seperti sumur lalu dimasukkanlah semuanya. Rasulullah (saw) sambil berdiri di dekat sumur bersabda, يا أهلَ القَليبِ هل وجَدْتُم ما وعَد ربُّكم حقًّا ؟ فإنِّي وجَدْتُ ما وعَدني ربِّي حقًّا “Apakah kalian melihat pemenuhan janji yang disampaikan Tuhan kalian (yaitu berhala kalian) terbukti benar? Saya telah menyaksikan dengan yakin akan tergenapinya janji yang disampaikan oleh Tuhan saya kepada saya.”[13]

Jika makna kalimat Rabbukum (Tuhan kalian) ialah Allah maka artinya, “Dia akan menghukum kalian.”

Ringkasnya, Hazrat Rasulullah (saw) bersabda, “Telah kudapati tergenapinya janji yang Allah ta’ala sampaikan padaku bahwa Dia akan menghukum mereka dan mereka tidak akan mendapatkan kemenangan atasku.”

Lalu sahabat Rasulullah (saw) bertanya, يا رسولَ اللهِ تُكلِّمُ قومًا مَوْتى ؟ !  “Wahai Rasul Allah! Apakah tuan tengah berbicara kepada mayat-mayat itu?”

Beliau bersabda, لقد علِموا أنَّ ما وعَدْتُهم حقًّا  “Tentunya mereka telah mengetahui janji yang telah disampaikan oleh Tuhan kalian pada kalian telah tergenapi.”

فلمَّا رأى أبو حُذَيفةَ بنُ عُتبةَ بنِ ربيعةَ أباه يُسحَبُ إلى القَليبِ عرَف رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الكراهيةَ في وجهِه Ketika mayat-mayat itu dimasukkan kedalam lubang atas perintah Rasul, tampak raut kekecewaan di wajah Hazrat Abu Hudzaifah, karena mayat ayahnya pun dimasukkan juga ke sumur.

Rasulullah (saw) bersabda kepada beliau, كأنَّكَ كارهٌ لِما ترى  Wahai Abu Hudzaifah! Demi Tuhan. Tampaknya anda kecewa melihat perlakuan yang diberikan pada jenazah ayah anda.”

Hazrat Abu Hudzaifah menjawab, لا، والله ما شككت في أَبي ولا في مَصْرَعِهِ، ولكني كنت أَعرفُ مِن أَبي رأَيًا وحلمًا وفضلًا، فكنت أَرجو أَن يُقَرِّبَه ذلك إِلى الإِسلام، فلمّا رأَيت ما أَصابه ذكرتُ ما مات عليه من الكفر بعد الذي كنت أَرجو له، حَزَنَني ذلك.  “Wahai Rasul! Demi Allah! Tidak ada keraguan dalam diri saya mengenai Allah dan Rasul-Nya, namun ayah saya adalah seorang yang pandai menguasai diri, jujur dan selalu menyampaikan gagasan yang cemerlang. Beliau menganggap apa yang diyakininya benar namun tidak ada niatan buruk. Tadinya saya berharap Allah akan memberinya petunjuk untuk baiat sebelum kewafatannya, namun ketika saya lihat hal itu sudah tidak mungkin lagi sehingga akhirnya berakhir seperti ini. Inilah yang membuat saya sedih.”

 فدعا رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم لأَبي حذيفة بخير Atas hal itu Hazrat Rasulullah (saw) mendoakan untuk kebaikan bagi Abu Hudzaifah.[14]

Hazrat Abu Hudzaifah mendapatkan taufik untuk menyertai Rasulullah (saw) dalam seluruh peperangan, pada akhirnya beliau syahid dalam perang yamamah pada masa kekhalifahan Hazrat Abu Bakar Siddiq pada usia 53 atau 54 tahun.

Sekarang, saya akan menceritakan seorang khadim dan sesepuh jemaat kita, yang telah wafat beberapa hari yang lalu, yaitu Prof. Su’ud Ahmad Khan Sahib ad-Dehlawi (orang Delhi). Beliau wafat dengan takdir Tuhan pada tanggal 21 Januari. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Ayahanda beliau, Hazrat Muhammad Hasan Ihsan ad-Dehlawi termasuk diantara sahabat Hazrat Masih Mau’ud as.

Begitu juga, kakek beliau, Hazrat Mahmud Hasan Khan Sahib ad-Dehlawi al-Madrasi di Patiala merupakan sahabat Hazrat Masih Mau’ud as. Hazrat Masih Mau’ud as mencantumkan nama beliau pada urutan ke 301 dalam daftar 313 sahabat beliau, yaitu Maulwi Mahmud Hasan Khan Sahib (guru dan karyawan Patyala). Hazrat Masih Mau’ud as juga mencantumkan nama beliau di bawah judul ‘Daftar Pendapatan Candah untuk persiapan Guest House, sumur dan lain-lain’ dalam karangan nyata beliau ‘Siraje Munir,’ yaitu Maulwi Mahmud Hasan Khan Sahib Patyala.

Ayahanda Prof. Su’ud Khan Sahib, Hazrat Muhammad Hasan Ihsan Sahib ketika umur beliau baru 10 atau 12 tahun, beliau mendapat taufik untuk pergi ke Qadian pada kesempatan ‘khutbah ilhamiyah’ dan menyaksikan tanda agung tersebut dengan mata sendiri. Prof. Su’ud Khan Sahib mewakafkan diri pada bulan April 1945. Beliau lulus BA bahasa Farsi dari Aligarh.

Seraya menceritakan wakaf beliau beserta saudara-saudara beliau, Hazrat Mushlih Mau’ud ra bersabda dalam Khotbah Jumat tahun 1955, “Saya anggap Master Muhammad Hasan Ihsan Sahib telah memperlihatkan teladan yang patut dipuji. Beliau adalah guru biasa dan seorang yang tidak mampu. Beliau menahan lapar dan mengajar anak keturunan serta membuatnya lulus kemudian menyerahkan 4 anak dari 7 anak kepada jemaat. Keempatnya masih mengkhidmati agama. Hampir semuanya berkhidmat dengan keikhlasan wakaf yang sebenarnya.”

Hazrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Jika anak-anak ini tidak wakaf sekalipun, ketujuhnya bisa bekerja sama yang akan mengharumkan nama bapaknya dalam 10 atau 20 tahun. Mereka mengatakan, ‘Bapak kami merupakan orang yang sangat baik.’ Namun, ketika khotbah saya ini dicetak, ratusan ribu Ahmadi akan menyebut nama Muhammad Hasan Ihsan dan memuji serta mengatakan, ‘Lihatlah, betapa semangat Ahmadi ini, yang telah mengajari ketujuh anaknya dalam keadaan tidak mampu, kemudian menyerahkan 4 diantaranya kepada Jemaat, yakni diwakafkan.’ Lalu, anak-anak itu terbukti saleh, karena mereka telah menerima pengorbanan bapaknya dengan senang hati dan memutuskan sesuai keinginan beliau.”

Mulai bulan Juni 1946 sampai bulan Oktober 1949, beliau (Su’ud Khan Sahib) mengajar di Talimul Islam High School. Pada bulan Oktober 1949, beliau melaksanakan kewajiban mengajar sebagai dosen Bahasa Inggris di Jamiah Ahmadiyah untuk beberapa bulan. Hazrat Khalifatul Masih II ra mengirim beliau ke Ghana, Afrika Barat untuk mengkhidmati agama pada 1950. Beliau adalah Vice Principal (wakil kepala sekolah) pertama Ahmadiyah Secondary School di Ghana.

Beliau berangkat dari Karachi pada tanggal 30 April 1950 dan pada tanggal 30 Juni, beliau sampai di Komasi. Artinya, beliau sampai dalam dua bulan (Mei dan Juni). Beliau menempuh perjalanan ini. Sekarang, kita bisa sampai dalam waktu 5 atau 6 jam dan mulai mengajar di Ahmadiyah Secondry School Komasi dari 1 Juli, mengapa perjalanan beliau begitu lama?

Berkaitan dengan itu, keponakan beliau, Irfan Khan mengatakan secara tertulis bahwa beliau berangkat dari Rabwah ke Ghana pada penugasan pertama dan penderitaan pedih selama 3 bulan hampir menjadi 2 bulan, sehingga beliau sampai di Kumasi. Pada masa itu, perjalanan ditempuh dengan ganti-ganti kapal laut. Tidak menggunakan kapal udara, bahkan beliau pergi menggunakan kapal laut. Oleh karena itu, beliau berangkat dari Karachi menuju Eden. Beliau mendapat tiket tanpa makan dengan harga 160 rupee. Dari Eden sampai Ghana, beliau menempuh perjalanan hingga Nigeria selain kapal laut, yaitu bis, truk dan kapal udara. Untuk membeli tiket 55 Pound kapal udara Nigeria, beliau menjual boks besi dan barang-barang lain dan mengikat barang pribadi beliau dalam satu kain cadar.

Kemudian, rumah misi Nigeria memberi beliau tiket bis hingga Ghana. Beliau menempuh perjalanan menggunakan kapal udara untuk sampai di Nigeria. Beliau menjual barang sendiri. Pada tahun 1950, berangkat dari Nigeria hingga Ghana menggunakan bis. Mengenai keberangkatan 8 mubaligin Ahmadiyah ke Afrika Barat, Timur dan Holland pada tahun 1950, nama beliau paling atas dalam gerakan Ahmadiyah. Di sana tertulis: nomor 1, Su’ud Ahmad Khan Sahib berangkat dari Lahore 25… 1329 Hijriah menuju Ghana.

Atas instruksi Hazrat Mushlih Mau’ud ra, beliau datang ke Pakistan pada tahun 1958 dan lulus MA bidang sejarah dari Punjab University. Selama itu, ayahanda beliau bergelar MA bidang sejarah. Setelahnya, beliau lulus. Selama itu, ayahanda beliau, Muhtaram Muhammad Hasan Ihsan Sahib wafat pada bulan Agustus 1955. Ketika beliau berada di Ghana, ayahanda beliau wafat. Pada tahun 1961, beliau ditetapkan lagi ke Ghana. Beliau mendapat taufik untuk mengkhidmati agama hingga tahun 1968 sepenuhnya.

Dengan persetujuan Hazrat Khalfiatul Masih III rh, selama perjalanan Hudhur ke Eropa, di masjid Mubarak Rabwah diadakan majelis talqin amal setelah salat Magrib, yaitu pidato tarbiyat tiap hari 15 menit. Program tersebut dimulai sejak 7 Juli dan didengar dengan sangat antusias dan terjadi majelis ilmiah. Dalam majelis tersebut, ada pidato-pidato ulama jemaah, termasuk juga beliau. Pada kesempatan Jalsah Salanah, diatur penerjemahan pidato-pidato. Beliau mendapat kesempatan untuk menerjemahkan pidato-pidato Hazrat Khalifatul Masih III ra dalam bahasa Inggris dan beliau terus menjalankan tugas ini hingga Jalsah terakhir Rabwah.

Di antara murid-murid Prof. Su’ud Khan Sahib adalah Mukarram Abdul Wahab Adam Sahib Ghana dan Bike Addo Sahib yang tinggal di sini, termasuk juga. Setelah kembali ke Pakistan pada tahun 1968, Hazrat Khalifatul Masih III ra menyerahkan tugas mengajar kepada Mukarram Prof. Su’ud Ahmad Khan Sahib (orang Delhi) di Taklimul Islam College pada tahun 1969. Hazrat Khalifatul Masih IV rh menetapkan Prof. Su’ud Khan Sahib sebagai dosen bahasa Inggris selama setahun di Jamiah Ahmadiyah.

Ketika beliau ditetapkan di Jamiah Ahmadiyah, beliau mendapat taufik untuk berkhidmat di Taklimul Islam College sebagai Professor. Oleh sebab itu, pada tanggal 2 Maret 1987, beliau mulai tugas di Jamiah Ahmadiyah dan melaksanakan pengkhidmatan ini selama setahun.

Tentang Prof. Su’ud Khan Sahib, abang beliau (Mas’ud Khan Dehlawi Sahib, editor Al-Fadhal) yang telah wafat beberapa tahun silam, senantiasa mengatakan bahwa saudara kami, Su’ud Ahmad adalah mobile library (perpustakaan berjalan). Pengetahuan beliau luas sekali. Beliau adalah ilmuan.

Putri beliau, Rasyidah Sahibah menulis bahwa ayah saya sangat lembut, bertabiat rendah hati dan ilmuan luas ilmu. Beliau ahli ibadah, dawam salat Tahajjud. Beliau amat memuliakan tamu dan insan rendah hati. Apa yang mereka tulis memang benar adanya.

Keponakan beliau, Nafis Ahmad Atiq (seorang murabbi jemaat) mengatakan, “Beliau berkarakter rendah hati, mutaki, mutawakkil kepada Allah, insan yang baik dan sederhana. Kesetiaan dan gejolak pengkhidmatan beliau terhadap agama mengandung corak teladan bagi semua wakifin zindegi. Beliau (murabbi sahib) suatu kali mengatakan kepada saya, ‘Pakaian dan sarana lain hendaklah dipakai sesuai keperluan. Fashion, hidup mengada-ada dan kemegahan tidak sesuai bagi seorang wakif zindegi.’ Aspek rasa malu dalam kehidupan beliau juga sangat nampak.”

Murid Su’ud Khan Sahib, Aike Ilyasi Sahib (orang Ghana) menulis, “Su’ud Sahib dari tahun 1950 sampai 1955 sebagai asisten Principal atau Naib Principal awal di Taklimul Islam Secondry School Komasi dan Dr. S. P Ahmad Sahib principal pertamanya. Su’ud Sahib adalah seorang yang mahir dalam bidang bahasa Inggris, sejarah Inggris dan Eropa.” Beliau senantiasa mengajarkan ini kepada mereka.

Kemudian, kawan-kawan dari Ghana menulis, “Sejauh berkaitan dengan Grammar Inggris beliau, khususnya pembagian kalimat, saya tidak melihat yang seperti beliau. Beliau sangat berperan dalam memperbaiki bahasa saya.”

Mubasyir Ayyaz Sahib, Principal Jamiah Ahmadiyah Rabwah senior section menulis, “Prof. Su’ud Khan Sahib adalah tokoh yang sangat rendah hati dan alim jemaat yang terus mengajar di Jamiah Ahmadiyah selama kami menjadi mahasiswa dan senantiasa hadir di kelas tepat waktu hingga tahun terakhir Jamiah. Ketika beliau terus mengajar hingga periode berakhir, hingga menit terakhir, para mahasiswa berusaha untuk mengajak ngobrol supaya tidak belajar, tetapi alih-alih marah beliau tidak menghiraukan hal tersebut dengan cara yang sangat baik dan terus mengajar.”

Beliau (Mubasyir Ayyaz Sahib) menulis, “Saya mencatat satu hal. Hati beliau sangat menghormati para mahasiswa wakif zindegi dan bila harus mengingatkan seseorang dengan keras atas satu hal, beliau juga memperhatikan kehormatan dan wibawanya.”

Kemudian, beliau (Mubasyir Ayyaz Sahib) juga menulis bahwa pada masa awal MTA, ketika berbagai program direkam, beliau menugaskan Su’ud Khan Sahib untuk merekam program Siratun Nabi. Beliau sudah berusia tua, namun beliau menyiapkan semua program dengan banting tulang dan membagi soal-soal kepada kami. Semua soal beliau tulis sendiri. Kadang-kadang suasana bisa memanas bisa jadi perdebatan, tidak harus begini dan harus begini. Akan tetapi, beliau adalah seseorang yang lembut dan rendah hati sehingga tidak pernah dahi beliau mengkerut. Rasanya seolah-olah tidak ada hal pahit yang menyinggung beliau bila orang lain lakukan. Dengan senyuman ringan, dengan tenang, dari mana program terhenti, dari sana rekaman dimulai kembali.

Setelah wafat Prof. Su’ud Khan Sahib, tetangga yang tinggal di sekitar beliau, Fazal Ilahi Malik Sahib mengekspresikan hal yang membuat kita menangis. Beliau (Fazal Ilahi Malik Sahib) menceritakan, “Setiap orang tidak mendapati tetangga yang seperti ini. Beliau sangat sederhana dan seorang ilmuwan. Beliau meninggalkan seorang putri dan dua putra. Putra beliau, Sa’ad Su’ud Sahib sedang berkhidmat sebagai ketua di satu jemaat di UK.”

Semoga Allah Taala meninggikan derajat beliau. Hakikatnya, apapun yang ditulis tentang beliau, sebagaimana sebelumnya juga saya telah katakan bahwa kelebihan beliau sangat banyak. Beliau sangat mencintai dan menjalin ketaatan pada khilafat dan mempunyai standar yang luar biasa. Semoga Allah Taala senantiasa mengikatkan anak dan keturunan beliau dengan khilafat dan jemaat dan senantiasa meninggikan derajat beliau. Setelah salat, saya akan memimpin salat jenazah gaib beliau.

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Agus Mulyana; Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia). Rujukan komparasi pemeriksaan naskah: www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Banu Umayyah ialah keturunan Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay. Abdu Syams ialah saudara kembar Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay, kakek buyut Nabi Muhammad saw. Adik mereka ialah al-Muththalib dan Naufal.  Abdu Syams berputra Umayyah, Rabi’ah, Abdul Uzza, dan Habib. Abu Hudzaifah bin Utbah ialah cucu Rabi’ah bin Abdu Syams, adik Umayyah. Umayyah memiliki 10 putra. 1-4 bernama: Harb, Abu Harb, Sufyan dan Abu Sufyan yang kepada mereka dikatakan Anabis. 5-8 bernama: Ash, Abu al-Ash, Aish, Abu al-Aish, mereka dikenal sebagai A’yash. Harb, putra tertua Umayyah merupakan ayah Abu Sufyan dan kakek Muawiyah putra Abu Sufyan. Putra lain Umayyah, adalah Abu al-Ash, kakek Usman bin Affan dan Marwan bin Hakam, yang menurunkan raja-raja Banu Umayyah sepeninggal Muawiyah bin Yazid dan Yazid bin Muawiyah.

[2] Dimuat dalam Sirah an-Nabawiyah, Tarikh ath-Thabari dan Biharul Anwar. (السيرة النبوية: ج 1 ص 321، تاريخ الطبري: ج 2 ص 70، وبحار الأنوار: ج 18 ص 412 نقلاً عن مجمع البيان للطبرسي)

[3] Anggota rombongan lain yang tidak disebut namanya dalam rujukan diatas ialah istri Abu Hudzaifah, yaitu Sahlah (سهلة ابنة سهيل). Di Habasyah beliau melahirkan Muhammad ibn Abu Hudzaifah (محمد بن أبي حذيفة). Setelah syahidnya Abu Hudzaifah, Muhammad diasuh dan dinafkahi oleh Utsman bin Affan. Pada masa Khalifah Utsman, Muhammad juga mendapat peran dalam armada laut. Sayang sekali Muhammad bin Abu Hudzaifah ikut berperan melakukan penentangan dan provokasi terhadap Khalifah Utsman (rujukan Awal Mula Perpecahan dalam Umat Islam oleh Khalifatul Masih II ra). Muhammad bin Abu Hudzaifah dipenjara dan dieksekusi pada masa Muawiyah.

[4] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hazrat Mirza Basyir Ahmad, M.A., h. 146-147

[5] Shahih al-Bukhārī, Kitābut-Tafsīr, Sūratul-Qamar, Bābu Fasjudū lillāhi Wa‘budūhu, Ḥadīth No. 4862

[6] Surah an-Najm, 53 di ayat terakhir atau ke-63 jika dengan basmalah: فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ۩ () Maka bersujudlah kepada Allah yang telah menurunkan al-Qur’ân sebagai petunjuk bagi manusia. Dan menyembahlah hanya kepada-Nya.

[7] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hazrat Mirza Basyir Ahmad, M.A.

[8] Sirah Khataman Nabiyyin, karya Hazrat Mirza Bashir Ahmad, M.A.

[9] Sirah Khataman Nabiyyin karya Hazrat Mirza Bashir Ahmad.

[10] Ayah Abu Hudzaifah yaitu Utbah bin Rabi’ah, saudara Abu Hudzaifah yaitu al-Walid bin Utbah bin Rabi’ah dan pamannya, Syaibah bin Rabi’ah adalah tiga jagoan Quraisy yang menantang duel ke umat Muslim saat perang Badr. Yang menghadapi dan menewaskan mereka ialah Hamzah, Ali, Ubaidah bin al-Harits. Hindun binti Utbah ialah saudari Abu Hudzaifah, istri Abu Sufyan bin Harb, ibu Muawiyah bin Abu Sufyan.

[11] Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Hisyam (السيرة النبوية لابن هشا), (نَهْيُ النَّبِيِّ أَصْحَابَهُ عَنْ قَتْلِ نَاسٍ مِنْ الْمُشْرِكِينَ).

[12] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’d. Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري), dzikr waqa’ah Badr al-Kubra (ذكر وقعة بدر الكبرى).

[13] Di dalam riwayat lain bunyinya ialah يَا عُتْبَةُ، وَيَا شَيْبَةُ، وَيَا أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ، وَيَا أُبَا جَهْلٍ ـــ يُعَدِّد كُلَّ مَن في القَلِيب ـــ هَلْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَكُمْ رَبُّكُمْ حَقًّا؛ فَقَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقًّا

[14] Shahih ibn Hibban (صحيح ابن حبان), (كتاب إخباره صلى الله عليه وسلم عن مناقب الصحابة رجالهم ونسائهم بذكر أسمائهم رضوان الله عليهم أجمعين), (ذكر أبي حذيفة بن عتبة بن ربيعة رضوان الله عليه)