Hadhrat Ammar putra Yasir, seorang Sahabat Nabi saw yang bermartabat luhur dan pengorban jiwa. Penyebutan kisah menyegarkan keimanan mengenai pengorbanan beliau.

Beliau termasuk yang banyak mendapatkan kesulitan dan kesusahan serta ditimpa kezaliman karena agama

Meskipun dalam keadaan lemah, tidak mau kehilangan momentum pengkhidmatan agama.

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Aamiin.

 

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 22 Juni 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Hadhrat Ammar Bin Yasir radhiyAllahu ta’ala ‘anhu adalah seorang sahabat Hadhrat Rasulullah (saw) yang awalin dan terdepan dalam pengorbanan. Ayah beliau bernama Hadhrat Yasir adalah keturunan Qahtani (Arab yang lebih tua dibanding Arab Musta’ribah yang keturunan Nabi Isma’il). Yaman adalah negeri asal beliau. Hadhrat Yasir datang ke Makkah bersama dengan kedua saudaranya yang bernama Haris dan malik untuk mencari seorang saudaranya. Haris dan Yasir kemudian kembali ke Yaman, namun Hadhrat Yasir memilih untuk menetap di Makkah dan menjalin hubungan persahabatan dengan Abu Huzaifah Makhzumi. Abu Huzaifah menikahkan Hadhrat Yasir dengan hamba sahayanya bernama Sumayyah yang dari mereka terlahir Hadhrat Ammar. Hadhrat Ammar dan Hadhrat Yasir tinggal dengan Abu Huzaifah sampai beliau wafat. Ketika Islam datang, maka Hadhrat Yasir, Hadhrat Sumayyah, Hadhrat Ammar dan saudara beliau Hadhrat Abdullah Bin Yasir beriman masuk Islam.

Hadhrat Ammar Bin Yasir Ra meriwayatkan, “Saya berjumpa dengan Shuhaib Bin Sinaan di pintu Darul Arqam [rumah Arqam, tempat berkumpul umat Islam awal saat di Makkah]. Saat itu Hadhrat Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam (saw) tengah berada di Darul Arqam. Saya bertanya kepada Suhaib, ‘Untuk tujuan apa anda ke sini?’

Lalu Suhaib balik bertanya, ‘Kalau anda?’

Saya menjawab, ‘Saya berkeinginan untuk bertemu dengan Hadhrat Rasulullah (saw) dan mendengarkan sabdanya.’

Suhaib mengatakan, ‘Tujuan saya pun sama seperti itu.’”

Hadhrat Ammar mengatakan, “Kami hadir ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw) dan Hadhrat Rasulullah (saw) menjelaskan perihal Islam kepada kami lalu kami baiat. Kami berada di sana sampai sore setelah itu kami keluar dari Darul Arqam secara sembunyi-sembunyi.”

Ketika Hadhrat Ammar dan Hadhrat Yasir baiat, saat itu lebih dari 30 orang yang telah baiat lebih dulu.

Terdapat satu riwayat dalam Sahih Bukhari bahwa Hadhrat Ammar Bin Yasir Ra mengatakan, رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَمَا مَعَهُ إِلَّا خَمْسَةُ أَعْبُدٍ، وَامْرَأَتَانِ، وَأَبُو بَكْرٍ “Saat itu saya melihat Hadhrat Rasulullah (saw) saw hanya ditemani oleh 5 orang hamba sahaya, dua wanita dan Hadhrat Abu Bakar Siddiq.”[1]

Berkenaan dengan para sahabat pada masa awal ini Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ta’ala ‘anhu menjelaskan, “Dari antara para pembesar Makkah pun, banyak juga yang telah diberikan taufik oleh Allah Ta’ala untuk mengkhidmati Islam dan banyak juga dari kalangan miskin yang telah mengemban pengkhidmatan yang luar biasa kepada Islam. Sebagaimana Hadhrat Ali, Hadhrat Hamzah, Hadhrat Umar dan Hadhrat Utsman radhiyAllahu ta’ala ‘anhum termasuk dari kalangan pembesar. Sebaliknya dari itu, Hadhrat Zaid, Hadhrat Bilal, Hadhrat Samurah, Hadhrat Khabbab, Hadhrat Suhaib, Hadhrat Amir, Hadhrat Ammar dan Abu Faqihah radhiyAllahu ta’ala ‘anhum termasuk sahabah yang  berasal dari kalangan yang rendah dalam pandangn masyarakat. Seolah telah dipilih orang-orang untuk mengkhidmati Al-Quran dari kalangan pembesar dan dari kalangan orang miskin.

Beliau Ra bersabda: “Hadhrat Sumayyah adalah seorang hamba sahaya wanita, beliau sering dianiaya oleh Abu Jahal supaya keluar dari Islam. Namun karena keimanan beliau tidak goyah sedikitpun, maka suatu hari Abu Jahal marah lalu mensyahidkan beliau dengan menusukkan tombak pada kemaluan beliau. Hadhrat Ammar yang adalah putra Hadhrat Sumayyah biasa disiksa dengan dijemur terlentang diatas pasir yang panas.”

Urwah Bin Zubair meriwayatkan dan tertulis dalam sejarah bahwa Hadhrat Ammar Bin Yasir Ra tergolong mustadh’afin (golongan yang dianggap rakyat kecil dan ditindas) yang selalu disiksa supaya mau keluar dari Islam.

Muhammad Bin Umar mengatakan bahwa orang-orang lemah dan tak berdaya yang diceritakan dalam Al-Quran Karim adalah mereka yang tidak mempunyai kabilah di Makkah (mereka asalnya pendatang) dan tidak juga mereka mempunyai kekuatan dan pelindung. Orang-orang Quraisy biasa menyiksa mereka di bawah terik panas siang hari supaya mereka mau keluar dari Islam.

Demikian pula Umar Bin Al-Hakam meriwayatkan bahwa Hadhrat Ammar Bin Yasir Ra, Hadhrat Suhaib dan Hadhrat Abu Fukaihah selalu dianiaya sedemikian rupa sampai-sampai terpaksa keluar dari mulut mereka perkataan yang bertentangan dengan hati mereka. Namun begitu kejamnya siksaan yang ditimpakan oleh musuh sehingga membuat mereka mengatakan hal tersebut.

Diriwayatkan oleh Muhammad Bin Ka’ab al-Qurthubi bahwa seseorang mengatakan kepada saya, “Saya melihat Hadhrat Ammar Bin Yasir Ra tengah memakai baju piyama Nampak di punggung beliau banyak bekas luka. Saya bertanya, ‘Bekas luka apa ini?’

Hadhrat Ammar menjawab, ‘Ini adalah bekas-bekas luka siksaan ketika di Makkah dahulu yang ditimpakan padaku dibawah terik matahari.’

Amru Bin Maimun meriwayatkan bahwa kaum musyrik telah membakar Hadhrat Ammar dengan api. Ketika itu Hadhrat Rasulullah (saw) lewat di dekat Hadhrat Ammar lalu sambil mengusap kepala Hadhrat Yasir bersabda, يَا نَارُ كُونِيْ بَرْداً وَسَلاَماً عَلَى عَمَّارٍ كَمَا كُنْتِ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ “Ya Naaru Kuunii bardan wa salaaman alaa Ammar kamaa kunti alaa Ibraahiim.” Artinya, “Wahai api, dinginlah engkau dan jadilah keselamatan bagi Ammar seperti perlakuan engkau juga dulu kepada Ibrahim.”[2]

Terdapat dalam riwayat juga yakni Hadhrat Utsman Bin Affan radhiyAllahu ta’ala ‘anhu meriwayatkan, “Saya beserta dengan Hadhrat Rasulullah (saw) saw tengah berjalan di lembah Makkah. Saat itu Hadhrat Rasulullah (saw) tengah memegang tangan saya. Kami datang menemui Ayahnya Ammar, Ammar dan ibunda beliau yang saat itu tengah disiksa. Ayahnya Ammar (Hadhrat Yasir) mengatakan, ‘Apakah akan selalu seperti ini?’

Beliau saw bersabda kepada Hadhrat Yasir, اصْبِرْ “Bersabarlah!” Lalu memanjatkan doa, اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِآلِ يَاسِرٍ ، وَقَدْ فَعَلْتُ “Ya Allah anugerahkanlah ampunan kepada keluarga Yasir dan aku yakin bahwa Engkau telah melakukannya.”[3] Artinya, Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada Hadhrat Rasulullah (saw) bahwa mereka telah diampuni disebabkan oleh kondisi penderitaan yang mereka alami ini.

Dalam riwayat lain Hadhrat Rasulullah (saw) tengah lewat di dekat keluarga Ammar yang mana mereka tengah dianiaya. Beliau bersabda: أَبْشِرُوا آلَ عَمَّارٍ، وَآلَ يَاسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ “Wahai keluarga Yasir! Wahai keluarga Ammar! Berbahagialah, karena pasti telah dijanjikan surga bagimu.” Dalam riwayat lain beliau Saw tengah lewat dekat keluarga Yasir.

Diriwayatkan oleh Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud, “Orang yang paling pertama menampakkan telah masuk Islam adalah tujuh orang. Hadhrat Rasulullah (saw), Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Ammar, ibu beliau Hadhrat Sumayyah, Hadhrat Suhaib, Hadhrat Bilal dan Hadhrat Miqdad. Allah Ta’ala melindungi Hadhrat Rasulullah (saw) dengan perantaraan paman beliau, Abu Talib, sedangkan Abu Bakar dengan perantaraan kaum beliau.”

Perihal jumlah yang disebutkan tadi yang mana terdapat dalam berbagai riwayat bisa saja keliru, karena sebelum itu disebutkan 30 orang telah menerima Islam ketika Hadhrat Ammat baiat. Namun, riwayat Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud ini adalah jumlah mereka yang masuk Islam hingga masa itu dan mungkin mereka lebih sering menampakannya kepada orang-orang dan sering menghadapi penganiayaan.

Diriwayatkan bahwa Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu mendapatkan perlindungan dengan perantaraan kaumnya. Selebihnya ditangkap oleh kaum musyrik lalu dipakaikan pakaian besi dan dijemur dibawah terik matahari. Diantara mereka, selain bilal selebihnya, sesuai dengan harapan orang-orang Quraisy. Bilal telah memfanakan dirinya bagi Allah, beliau disiksa disebabkan oleh kaumnya. Kaum Quraisy menyerahkan beliau kepada anak-anak dan mereka menyeretnya di gang-gang Makkah, namun beliau terus mengatakan, “أحد”، “أحد” ‘Ahad’ ‘Ahad’ –‘Yang Esa, Yang Esa’.

Orang-orang Musyrik menyiksa Hadhrat Ammar dengan memasukkan kepala beliau ke dalam air. Siksaan seperti itu juga yang masa ini diberikan di dunia ini kepada para musuhnya atau suatu negara kepada para narapidana. Namun siksaan yang diberikan pada zaman itu lebih keras dari ini. Dalam satu riwayat bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) menjumpai Hadhrat Ammar yang tengah menangis. Hadhrat Rasulullah (saw) mengelap air mata dari mata Hadhrat Ammar dan bersabda: “Orang kafir suka menyeret kamu lalu menenggelamkanmu kedalam air dan kamu mengatakan ini dan itu. Jika mereka mengatakan lagi hal-hal itu jawablah lagi seperti itu.”

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad radhiyAllahu ta’ala ‘anhu secara rinci menulis dalam Sirat Khataman Nabiyyiin dalam menjelaskan riwayat-riwayat juga, “Bani Makhzum yang mana Sumayyah pernah menjadi hamba sahaya mereka, sering menyiksa ketiganya, Ammar, ayahnya Yasir dan juga ibu beliau bernama Sumayyah sehingga jika kita membaca kisahnya, badan pun merinding dibuatnya. Suatu saat, ketika para pengikut Islam mendapat siksaan dan secara kebetulan Hadhrat Rasulullah (saw) saw menghampiri, beliau melihat kearah mereka dan bersabda dengan nada yang perih, ” صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ “ – Shabran yaa aala Yaasirin fainna mau’idakumul jannah – ‘Wahai keluarga Yasir! bersabarlah Janganlah melepaskan kesabaran, karena tempat kembali kalian adalah surga. Akibat penderitaan-penderitaan kalian itu, Tuhan tengah menyediakan surga untuk kalian.’”[4]

Pada akhirnya Yasir wafat dalam siksaan itu sedangkan paha wanita tua itu ditusuk tombak oleh Abu Jahal yang zalim dengan kejamnya sehingga membelah tubuh beliau dan menembus sampai ke kemaluan beliau sehingga wanita yang tidak berdosa itu menggelepar sampai wafat di tempat itu. Sekarang yang tersisa tinggal Ammar, beliau pun disiksa dengan kejamnya oleh mereka yang mengatakan, “Sebelum kamu mengingkari Muhammad Saw, kami akan terus menyiksamu.”

Karena sudah begitu menderita pada akhirnya Ammar secara terpaksa mengucapkan sesuatu perkataan yang tidak sesuai sehingga mereka melepaskannya. Namun setelah itu Ammar langsung datang ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw) sambil menangis keras. Beliau saw bertanya: “Apa yang terjadi, Ammar?”

Beliau mengatakan: “Wahai Rasulullah (saw)! Binasalah aku! Begitu kejamnya siksaan yang ditimpakan orang-orang zalim itu padaku sehingga aku terpaksa mengatakan sesuatu mengenai anda yang keliru.”

Nabi bertanya: “Bagaimana kondisi hatimu sendiri?”

Beliau menjawab: “Hatiku tetap beriman seperti semula dan tetap dalam kecintanku kepada Allah dan rasul-Nya.”

“Kalau begitu baiklah, Tuhan akan memaafkan kesalahan kamu ini.”

Hadhrat Masih Mau’ud alaihis salaam menulis beberapa catatan dalam buku beliau berjudul Cashma e Marifat perihal buku seorang Hindu bernama Parkash Dewaji, ‘Sawaneh Umri Muhammad’ (perjalanan hidup Hadhrat Rasulullah saw). Beliau juga menasihatkan kepada para Ahmadi untuk membeli buku yang ditulis oleh orang bukan Muslim tersebut dan membacanya. Beliau mengutip beberapa catatan dari buku itu yang beliau tuliskan dalam buku Cashma e Marifat sebagai kesimpulan, “Dia (Hadhrat Rasulullah saw) selalu bersabar atas setiap kezaliman yang menimpa dirinya sendiri bagaimanapun bentuknya. Namun ketika melihat musibah yang menimpa para sahabatnya, ia begitu larut dalam kesedihan. Orang-orang beriman yang miskin itu begitu dizalimi, ditangkap dan dibawa ke sahara lalu dijemur terlentang di bawah terik matahari dan diletakkan batu besar di atas dadanya, sehingga karena saking panasnya, lidah mereka terjulur keluar. Banyak sekali jiwa yang melayang karena siksaan itu.

Diantara orang-orang yang dizalimi itu salah satunya adalah Ammar – yang seharusnya menyebutnya Hadhrat Ammar – yang telah bersabar dan bertahan dari kezaliman mereka. Dia diikat dan dijemur terlentang diatas tanah berbatu lalu di dadanya diletakkan batu besar dan diperintah untuk mengeluarkan cacian atas Muhammad (saw). Begitu juga ayah beliau yang sudah sepuh mendapatkan siksaan yang kejam. Ibunda beliau juga yang bernama Sumayyah, tidak tega untuk menyaksikan kezaliman atas mereka. Tidak juga ia memohon dengan memelas. Wanita yang beriman dan tidak berdosa yang mana suami dan putranya dizalimi di hadapan matanya sendiri, ia sendiri dizalimi dengan tidak punya malu yang tidak mungkin untuk diungkapkan. Pada akhirnya setelah menggelepar-gelepar wanita yang beriman itu pun wafat.”

Inilah kesimpulan yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) dari buku tulisan seorang Hindu berkenaan dengan riwayat Hadhrat Rasulullah (saw) dan para sahabat beliau.

Sufyan meriwayatkan dari ayahnya bahwa Hadhrat Ammar adalah orang pertama yang membuat masjid di rumah untuk beribadah. Ketika Hadhrat Ammar Bin Yasir hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau tinggal di rumah Hadhrat Mubasyir Bin Abdul Mundzir. Hadhrat Rasulullah (saw) mengikatkan tali persaudaraan antara Hadhrat Ammar Ra dengan Hadhrat Huzaifah Bin Al-Yaman Ra. Hadhrat Rasulullah (saw) menghadiahkan sebidang tanah untuk tempat tinggal Hadhrat Ammar. Atha bin Ribah mengatakan Abu Salamah dan Ummu Salamah hijrah ke Madinah dan karena Hadhrat Ammar Bin Yasir adalah sahabat mereka berdua, untuk itu beliau pun ikut pergi dengan mereka. Hadhrat Ammar Bin Yasir adalah saudara sesusuan Hadhrat Ummu Salamah.

Diriwayatkan oleh Ikrimah, “Abdullah Bin Abbas mengatakan kepada saya dan kepada putranya, Ali Bin Abdullah: ‘Pergilah kalian berdua kepada Abu Said al-Khudri (Sahabat Nabi saw) dan dengarlah Hadits Nabi saw darinya!’

“Kami datang kepada beliau, sedangkan kami dapati beliau sedang membetulkan dinding miliknya, beliau mengambil kain selendangnya dan duduk ihtiba` (sambil melipat kaki). Beliau menceritakan ketika membangun sebuah masjid mengangkat satu per satu batu bata, sedangkan Ammar Bin Yasir mengangkat batu dua dua. Nabi Saw lewat di dekat beliau lalu Hadhrat Rasulullah (saw) menghempaskan debu dari kepala beliau dan bersabda: وَيْحَ عَمَّارٍ، تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ، عَمَّارٌ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ ‘Waiha ‘Ammaar! Taqtuluhul fiatal baaghiyata. ‘Ammaaru yad’uuhum ilaLlahi wa yad’uunahu ilan naar.’ – ‘Kasihan ‘Ammar! Dia nantinya akan dibunuh oleh golongan pemberontak. Ammar menyeru mereka kepada Allah, namun mereka menyeru Ammar kepada api.’

Hadhrat Ammar selalu berdoa, أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ Aku berlindung kepada Allah dari fitnah.[5]

Abdullah Bin Abi Huzail meriwayatkan ketika Hadhrat Rasulullah (saw) membangun masjid, beliau memerintahkan semua orang mengangkat batu bata. Begitu juga Hadhrat Rasulullah (saw) dan Hadhrat Ammar. Hadhrat Ammar membacakan syair Nahnul Muslimuuna nabtanil Masaajida – “Kami umat Muslim yang membuat masjid-mesjid.” Hadhrat Rasulullah (saw) Saw bersabda: Al-masajid yakni seiring dengan itu beliau selalu mengulang-ulang kata itu.

Sebelum itu Hadhrat Ammar sakit. Sebagian orang mengatakan bahwa kali ini pasti Ammar akan wafat, karena terus bekerja keras padahal baru sembuh dari sakit dan masih sangat lemah. Mendengar ini Hadhrat Rasulullah (saw) menjatuhkan batu bata dari tangan Hadhrat Ammar dan mengatakan, “Beristirahatlah kamu.”

Meskipun dalam kondisi yang sangat lemah, mereka tidak ingin luput dari pengkhidmatan.

Hadhrat Ummi Salamah meriwayatkan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, اللَّهُمَّ إِنَّ الْخَيْرَ خَيْرَ الْآخِرَةْ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهَاجِرَةْ قَالَتْ : فَدَخَلَ عَمَّارٌ فَقَالَ : وَيْحَكَ أَوْ وَيْحَهُ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ  “… Alangkah kasihannya! Kelompok pemberontak akan membunuh Ammar.”[6]

Hadhrat Ammar Bin Yasir menyertai Hadhrat Rasulullah (saw) dalam peperangan Badar, Uhud, Khandaq dan seluruh Ghazwah (peperangan yang dipimpin Nabi). Beliau ikut serta juga dalam baiat Ridwan. Baiat Ridwan adalah baiat pada kesempatan perdamaian Hudaibiyah ketika Hadhrat Rasulullah (saw) saw mengutus Hadhrat Utsman ke Makkah sebagai duta untuk membicarakan sesuatu. Saat itu kaum kuffar menahan Hadhrat Utsman dan menyebarlah kabar di kalangan umat Muslim bahwa Hadhrat Utsman telah disyahidkan.

Saat itu Hadhrat Rasulullah (saw) mengumpulkan umat Muslim di bawah pohon ara dan bersabda: “Pada hari ini saya ingin mengambil janji dari kalian semua yakni tidak ada orang yang akan berpaling dari mempertaruhkan jiwanya dan tidak akan meninggalkan tempat ini.”

Berkenaan dengan pengumuman ini dikabarkan bahwa segera setelah itu para sahabat saling berlomba satu sama lain mengikrarkan janjinya. Ketika terjadi baiat, Hadhrat Rasulullah (saw) meletakkan tangan kirinya diatas tangan kanan beliau dan bersabda, “Tangan ini untuk Utsman, karena jika dia ada pasti akan ikut.”

Ternyata kabar tersebut tidak benar, Hadhrat Utsman datang. Namun saat itu Umat Muslim telah baiat dan berjanji, “Akan sampai mati tidak akan berbalik ke belakang. Pasti akan kami balas permainan nyawa yang dimainkan musuh jika mereka syahidkan (bunuh) seorang duta yang telah diutus kepada mereka yakni Hadhrat Utsman.”

Hadhrat Hakam Bin Utaibah meriwayatkan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) sampai di Medinah pada waktu antara pagi dan siang. Hadhrat Ammar mengatakan hendaknya dibuatkan tempat untuk Hadhrat Rasulullah (saw) saw supaya beliau dapat duduk beristirahat di bawah naungan dan shalat.

Lalu Hadhrat Ammar mengumpulkan batu dan meletakkan pondasi masjid Quba. Ia adalah masjid pertama yang dibangun dan ia dibuat oleh Hadhrat Ammar.

Hadhrat Abdullah ibnu Umar mengatakan, “Saya melihat Hadhrat Ammar pada perang Yamamah yang tengah berada di ketinggian dan menyeru umat Muslim, beliau sangat pemberani: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ ، أَمِنَ الْجَنَّةِ تَفِرُّونَ ؟ أَنَا عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ أَمِنَ الْجَنَّةِ تَفِرُّونَ ؟ أَنَا عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ هَلُمَّ إِلَيَّ ، وَأَنَا ‘Wahai umat Muslim! Apakah kalian berlari dari surga? Aku adalah Ammar Bin Yasir, datanglah padaku.’ Lalu Ibnu Umar mengatakan, أَنْظُرُ إِلَى أُذُنِهِ قَدْ قُطِعَتْ فَهِيَ تُذَبْذِبُ ، وَهُوَ يُقَاتِلُ أَشَدَّ الْقِتَالِ “Saya melihat satu telinga beliau telah terpotong dan bergerak-gerak, namun beliau tetap gigih bertarung.”[7]

Tariq Bin Syihab mengatakan berkenaan dengan telinga yang terpotong itu ada seorang dari Banu Tamim yang mengolok-olok atas terpotongnya telinga beliau. Hadhrat Ammar berkata padanya, “Kamu telah mencaci-maki telingaku yang terbaik yakni telinga yang menjadi korban di jalan Allah ta’ala ketika perang diolok-olok olehmu, ini adalah telinga terbaikku.”

Hadhrat Khalid Bin Walid meriwayatkan, “Saya telah berbincang dengan Ammar lalu saya berkata keras padanya. Ammar Bin Yasir pergi ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw) untuk mengeluhkan hal ini. Lalu saya pun pergi juga dan memang dia tengah melaporkanku kepada Hadhrat Rasulullah (saw) Saw. Saya pun bersikap keras padanya. Hadhrat Rasulullah (saw) duduk terdiam tidak berkata apapun. Hadhrat Ammar mulai menangis dan berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا تَرَاهُ‏؟‏  ‘Ya Rasulullah (saw) tuan tidak melihat keadaan Khalid? Hadhrat Rasulullah (saw) mengangkat kepala dan bersabda, مَنْ عَادَى عَمَّارًا عَادَاهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَبْغَضَ عَمَّارًا أَبْغَضَهُ اللَّهُ siapa yang memusuhi Ammar, maka Allah akan memusuhinya, dan orang yang membenci Ammar, maka Allah akan membenci orang itu.

Hadhrat Khalid Bin Walid mengatakan: فَخَرَجْتُ فَمَا كَانَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ رِضَى عَمَّارٍ فَلَقِيتُهُ فَرَضِيَ “Saat itu tidak ada yang lebih aku cintai di dunia ini selain dari keridhaan Hadhrat Ammar padaku. Saya menemui Ammar dan meminta maaf dan beliau ridha padaku.”[8]

Hal tersebut dijelaskan secara rinci dari Al-Ashtar yang meriwayatkan bahwa Hadhrat Khalid Bin Walid mengatakan, “Hadhrat Rasulullah (saw) saw mengutusku ke suatu Sariyah. Hadhrat Ammar Bin Yasir pun ikut serta denganku. Di tengah rencana tersebut kami pergi kepada orang-orang yang diantaranya ada satu keluarga yang sedang membincangkan Islam. Hadhrat Ammar mengatakan bahwa mereka adalah pemegang tauhid, namun saya tidak menaruh perhatian pada perkataannya dan memperlakukannya sama seperti kepada orang non Muslim juga.

Hadhrat Ammar mengancam saya akan menyampaikan hal ini kepada Hadhrat Rasulullah (saw) ketika mulaqat nanti. Lalu Hadhrat Ammar datang ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw) dan menceritakan semuanya. Ketika Hadhrat Ammar melihat bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) tidak membantunya yakni beliau Saw tetap terdiam, lalu Ammar pulang dalam keadaan sedih menangis.”

Hadhrat Khalid mengatakan, “Hadhrat Rasulullah (saw) memanggil saya dan bersabda: إِنَّهُ مَنْ يَبْغَضْ عَمَّارًا يَبْغَضْهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسُبَّ عَمَّارًا يَسُبَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يُحَقِّرْ عَمَّارًا يُحَقِّرْهُ اللَّهُ ‏ ‘Wahai Khalid jangan memaki Ammar! Karena siapa yang memaki Ammar, maka Allah akan memabalas caciannya dan barangsiap yang benci kepada Ammar, maka tuhanpun akan membencinya. Barangsiapa yang mengatakan bodoh kepada Ammar, maka Allah akan mengatakan hal yang sama padanya.’”[9]

Hadhrat Ali meriwayatkan, اسْتَأْذَنَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا عِنْدَهُ saya tengah terduduk di dekat Hadhrat Rasulullah (saw) dan Ammar Bin Yasir meminta izin untuk masuk. Hadhrat Rasulullah (saw) mengizinkannya. Ketika Ammar telah masuk, Nabi saw bersabda, مَرْحَبًا بِالطِّيبِ الْمُطَيَّبِ Selamat datang manusia yang suci. Inilah kemuliaan yang Hadhrat Rasulullah (saw) anugerahkan kepada beliau Ra.[10]

Hadhrat Aisyah meriwayatkan Hadhrat Rasulullah (saw) saw bersabda: مَا خُيِّرَ عَمَّارٌ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا اخْتَارَ أَرْشَدَهُمَا  jika diberikan wewenang kepada Ammar untuk memilih antara dua hal, maka dia akan memilih sesuatu yang didalamnya terdapat banyak petunjuk dan nasihat.

Hadhrat Amru Bin Sharjil meriwayatkan Hadhrat Rasulullah (saw) Saw bersabda: مُلِئَ عَمَّارٌ إِيمَانًا إِلَى مُشَاشِهِ “Keimanan telah mengalir kuat pada urat nadi Ammar Bin Yasir, yakni ia benar-benar larut di dalam keimanan.”

Hadhrat Ammar Bin Yasir tergolong kedalam orang-orang yang dilindungi oleh Allah ta’ala dari syaitan. Ibrahim meriwayatkan dari Alqamah, beliau mengatakan, “Ketika saya pergi ke Syria, orang-orang mengatakan kepada saya, ‘Abu Darda mengatakan, “Apakah diantara kalian ada orang yang diselamatkan oleh Tuhan dari syaitan? Sebagaimana nabi Saw sendiri telah bersabda berkenaan dengan Hadhrat Ammar.”’”

Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) bersiap-siap untuk menyerang Makkah, beliau merahasiakan rencana tersebut. Meskipun para sahabat tengah melakukan persiapan rencana itu, namun tidak diketahui oleh umum bahwa tujuannya akan ada penyerangan ke Makkah.

Pada saat itu, disebabkan oleh keluguan dan ketidaktahuannya, seorang sahabat Badri (pernah ikut perang Badar) Hatib Bin Abi Balta’ah mengirimkan surat secara diam-diam ke Makkah melalui seorang wanita yang datang dari Makkah yang mana di dalam surat tersebut terdapat informasi lengkap perihal persiapan untuk menyerang Makkah. Wanita tersebut berangkat dengan membawa surat tersebut. Allah Ta’ala mengabarkan hal tersebut kepada Hadhrat Rasulullah (saw), untuk itu beliau saw mengutus Hadhrat Ali bersama dengan dua tiga orang lainnya yang diantaranya Hadhrat Ammar Bin Yasir, untuk mengejar wanita itu dan mengambil kembali surat tersebut.

Dalam menceritakan kisah tersebut, Hadhrat Khalifatul Masih pertama menjelaskan, “Ada seorang wanita bernama Sarah penduduk Makkah, dibesarkan dalam keluarga Bani Hasyim. Wanita itu datang kepada Hadhrat Rasulullah (saw) di Madinah yang mana saat itu tengah dilakukan persiapan keberangkatan ke Makkah untuk Fath Makkah.

Hadhrat Rasulullah (saw) bertanya padanya, ‘Apakah Anda lari dari Makkah karena ingin masuk Islam?’

Dia menjawab: ‘Tidak! Saya tidak datang sebagai Muslim melainkan saat ini saya tengah membutuhkan bantuan. Dulu keluarga anda selalu mengurus saya, saya datang kemari untuk meminta bantuan harta.’

Hadhrat Rasulullah (saw) memerintahkan untuk memberinya bantuan lalu para sahabat memberikan wanita itu beberapa pakaian, uang dan lain-lain lalu wanita itu kembali ke Makkah. Ketika akan berangkat pulang, Hatib sahabat Badar memberikannya 10 dirham dan berpesan, ‘Saya akan menitip surat padamu, sampaikanlah surat tersebut pada penduduk Makkah.’

Lalu wanita itu menerimanya. Dalam surat tersebut Hatib mengabarkan kepada penduduk Makkah bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) berniat untuk menyerang Makkah, bersiap-siaplah kalian.

Baru saja wanita itu pergi dari Madinah, Hadhrat Rasulullah (saw) mendapatkan kabar dengan perantaraan wahyu Allah bahwa wanita itu membawa sepucuk surat. Lalu seketika itu juga Hadhrat Rasulullah (saw) mengutus Hadhrat Ali dengan Ammar dan beberapa orang lainnya untuk menangkap wanita itu dan mengambil suratnya dan jika tidak mau menyerahkan surat tersebut, maka ditindak saja. Walhasil, utusan tersebut berhasil menangkap wanita tersebut di tengah jalan, dia ingkar dan bersumpah tidak membawa surat. Lalu Hadhrat Ali menarik pedang beliau dan mengatakan, ‘Tidak mungkin kabar ini dusta, kami mendapatkan kabar ini melalui wahyu Ilahi, pasti surat itu ada padamu.’

Karena takut melihat pedang, akhirnya dia mengeluarkan surat itu dari rambutnya.

Ketika diketahui bahwa surat itu dari Hatib, maka Hatib dipanggil. Hadhrat Rasulullah (saw) menginterogasinya, ‘Apa yang telah kamu lakukan ini?’

Dia menjawab, ‘Demi Tuhan, semenjak beriman saya tidak pernah kafir, tidak pernah goyah dan berubah, masalahnya adalah, kabilah saya di Makkah tidak ada yang menolong dan mengabari, tujuan surat ini adalah semata mata ingin supaya kaum kuffar jangan menganiaya kabilah saya.’

Hadhrat Umar mengusulkan supaya Hatib dibunuh namun Hadhrat Rasulullah (saw) saw melarangnya dan bersabda Allah Ta’ala telah menyatakan keridhaannya atas para sahabat Badar. Dia berfirman, ‘Lakukanlah apa yang kalian kehendaki. Aku telah memaafkan kalian.’ Kesalahan ini dilakukan karena ketidaktahuannya bukan didasari niat untuk merugikan umat Muslim.”

Hadhrat Umar pernah menetapkan Hadhrat Ammar Bin Yasir sebagai gubernur Kufah. Beliau mengirimkan pesan melalui surat kepada penduduk Kufah yang menyatakan, أَمَّا بَعْدُ ، فَإِنِّي بَعَثْتُ إِلَيْكُمْ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ أَمِيرًا ، وَابْنَ مَسْعُودٍ مُعَلِّمًا وَوَزِيرًا ، وَقَدْ جَعَلْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ عَلَى بَيْتِ مَالِكُمْ ، وَإِنَّهُمَا لَمِنَ النُّجَبَاءِ مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ ، فَاسْمَعُوا لَهُمَا وَأَطِيعُوا ، وَاقْتَدُوا بِهِمَا ، وَقَدْ آثَرْتُكُمْ بِابْنِ أُمِّ عَبْدٍ عَلَى نَفْسِي ، وَبَعَثْتُ عُثْمَانَ بْنَ حُنَيْفٍ عَلَى السَّوَادِ ، وَرَزَقْتُهُمْ كُلَّ يَوْمٍ شَاةً ، فَاجْعَلْ شَطْرَهَا وَبْطَنْهَا لِعَمَّارٍ وَالشَّطْرَ الْبَاقِي بَيْنَ هَؤُلاءِ الثَّلاثَةِ “Amma ba’du! Saya kirimkan Ammar Bin Yasir sebagai Amir, Abdullah Ibnu mas’ud sebagai Mu’allim dan menteri. Pengaturan Baitul Maal pun diserahkan kepada Ibnu mas’ud. Beliau berdua adalah termasuk diantara para sahabat terkemuka Hadhrat Rasulullah (saw) yang ikut perang Badar, untuk itu taatilah dan ikuti keduanya. Saya lebih mengutamakan kalian diatas diri saya sendiri dengan mengirimkan Ibn Ummi Abdin (Abdullah Bin Mas’ud). Saya telah mengutus Utsman bin Hanif ke daerah Assawad, Iraq (dijuluki sawad karena hijaunya).”[11]

Disebabkan adanya keluhan dari penduduk Kufah, Hadhrat Umar memberhentikan Hadhrat Ammar Bin Yasir. Suatu ketika Hadhrat Umar pernah bertanya kepada beliau, “Apakah pemberhentian ini telah membuat anda kecewa?”

Hadhrat Ammar menjawab: “Karena Hudhur bertanya, saya sampaikan bahwa ketika Hudhur menetapkan saya sebagai Gubernur pun saya sedih, namun sudah ditetapkan, karena itu saya taat. Pada saat ini pun saya kecewa ketika diberhentikan.”

Memang ada perasaan kecewa, namun beliau tidak menyatakan keluhan apa-apa dan taat sepenuhnya. Bahkan, ketika diberhentikan pun dan Hadhrat Umar bertanya langsung, beliau mengungkapkan isi hatinya secara jujur.

Ketika orang-orang munafiq dan pembangkang membuat kerusuhan di Madinah menentang Hadhrat Khalifah Utsman, sayangnya disebabkan karena keluguannya, Hadhrat Ammar Bin Yasir pun termakan tipu daya mereka. Meskipun demikian, secara tindakan, beliau tidak menyertai mereka dalam hal apapun. Berkenaan dengan ini, Hadhrat Khalifatul Masih Tsani menjelaskan: “Hanya tiga orang penduduk Madinah yang bersama golongan pemberontak pada waktu itu. Pertama, Muhammad bin Abu Bakr, putra Hadhrat Khalifah Abu Bakr. Menurut para ahli sejarah mereka menghormatinya disebabkan oleh ayahnya.

Timbul pemikiran di benaknya, “Saya orang terpandang”, padahal secara duniawi tidak memiliki posisi apa-apa. Dia tidak pernah bergaul dengan Hadhrat Rasulullah (saw), tidak juga di kemudian hari mendapatkan pendidikan agama. Muhammad Bin Abu Bakr lahir pada waktu Hujjatul Wida. Ketika Rasul wafat, ia masih bayi. Pada usia 4 tahun ayah beliau Hadhrat Abu Bakr Ra wafat sehingga tidak mendapatkan tarbiyat dari wujud yang luar biasa itu.

Kedua, Muhammad Bin Abi Huzaifah, bukan dari kalangan sahabat. Ayahnya wafat pada peperangan Yamamah lalu Hadhrat Utsman mengambil tanggung jawab untuk mendidiknya, sejak kecil dibesarkan oleh beliau. Setelah Hadhrat Utsman menjadi Khalifah, dia meminta jabatan kepada Hadhrat Utsman, namun beliau menolaknya. Lalu, ia meminta izin kepada Hadhrat Utsman untuk pergi bekerja di luar. Beliau mengizinkan dan dia pergi ke Mesir. Di sana bersama sama dengan kawan-kawan Abdullah Bin Saba, ia mulai menghasut orang-orang untuk menentang Hadhrat Utsman. Ketika sekumpulan orang-orang Mesir menyerang Madinah, dia pun ikut dengan mereka. Namun setelah ikut sampai jauh, ia kembali lagi. Ketika kerusuhan itu dia tidak ada di Madinah.

Orang ketiga adalah Ammar Bin Yasir yang termasuk sahabat Rasul. Penyebab terhasutnya beliau oleh tipu daya kaum pemberontak dijelaskan oleh Hadhrat Muslih Mauud bahwa beliau tidak memahami ilmu dan urusan politik. Ketika Hadhrat Utsman mengutusnya ke Mesir untuk memberikan laporan perihal kepemimpinan gubernur di sana, maka Abdullah Bin Saba menjemputnya dan menghasutnya supaya menentang gubernur Mesir.[12] Karena yang menjabat gubernur pada masa dahulunya sebelum baiatnya adalah seorang penentang keras Rasululullah saw dan ia baiat setelah fatah Makkah, untuk itu beliau cepat sekali terhasut oleh Abdullah Bin Saba dan kawan-kawannya.

(Gubernur Mesir tersebut pernah menentang Hadhrat Rasulullah (saw), di sisi lain karena kecintaan Ammar kepada Hadhrat Rasulullah (saw) sangat besar, sehingga beliau mudah terhasut oleh para penentang gubernur dan Hadhrat Utsman itu. Beliau mungkin beranggapan bahwa sebelum ini pun gubernur ini pernah menentang, mungkin tidak dengan sepenuh hati masuk Islam hingga sekarang sehingga membuatnya berperilaku salah.)

Dengann demikian, para penentang Khilafat berhasil menghasut Hadhrat Ammar untuk menentang gubernur (zaman itu disebut Wali atau Amir), perlahan-lahan mereka pun menghasut beliau untuk menentang Hadhrat Utsman. Namun pada prakteknya Hadhrat Ammar Bin Yasir tidak ikut dalam kekisruhan. Ketika terjadi penyerangan terhadap Madinah, beliau ada di Madinah, namun beliau duduk saja terdiam di rumahnya. Beliau tidak ikut bergabung untuk melawan para perusuh itu tetapi beliau pun tidak ikut serta dalam menciptakan kekisruhan.”[13]

Kelemahan beliau saat itu adalah, meskipun saat itu tengah berada di Madinah, namun beliau tidak menghentikan pemberontakan itu. Beliau tidak ikut membantu [para Sahabat dan Tabi’in lainnya] dalam melawan para perusuh. Namun beliau tidak bergabung dengan para perusuh dalam tindakan fitnah apa pun. Untuk itu dari sisi ini beliau sama sekali terbebas dari perbuatan buruk para perusuh itu.

Pada masa kekhalifahan Hadhrat Ali, Hadhrat Ammar Bin Yasir selalu menyertai Hadhrat Ali. Beliau ikut serta bersama Hadhrat Ali pada peperangan Jamal dan Siffin. Abu Abdur Rahman As Sulami mengatakan bahwa pada perang Siffin kami beserta dengan Hadhrat Ali. Saya melihat Hadhrat Ammar Bin Yasir yakni kemanapun beliau pergi atau mengarah, para sahabat Hadhrat Rasulullah (saw) saw [lainnya yang masih ada dan ikut dengan Hadhrat Ali] mengikuti di belakang beliau seolah-olah beliau Ra berperang sebagai panji tanda bagi mereka.

Abdullah Bin Salamah meriwayatkan, “Pada perang Siffin saya melihat Hadhrat Ammar Bin Yasir.” Perang Siffin adalah peperangan yang terjadi antara Hadhrat Ali dengan gubernur Syam (Suriah dan sekitarnya), Amir Muawiyah.

“Saya melihat beliau Ra sudah tua. Beliau berperawakan tinggi, kulit berwarna gandum, dan di tangannya terdapat tombak. Tangan beliau gemetaran.”

Hadhrat Ammar mengatakan, وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، لَقَدْ قَاتَلْتُ بِهَذِهِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، وَهَذِهِ الرَّابِعَةُ ثُمَّ قَالَ : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ ضَرَبُونَا حَتَّى يَبْلُغُوا بِنَا سَعَفَاتِ هَجَرَ لَعَرَفْتُ أَنَّا عَلَى الْحَقِّ وَهُمْ عَلَى الْبَاطِلِ Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, aku berperang tiga kali menggunakan tombak ini bersama Hadhrat Rasulullah (saw) dan ini adalah yang keempat. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya mereka terus menggempur dan memukul mundur kita sampai pada ranting kurma Hijr, aku tetap akan berkeyakinan kita berada diatas kebenaran dan mereka keliru.[14]

Abul Bakhtari meriwayatkan bahwa ketika perang Shiffin, Hadhrat Ammar Bin Yasir mengatakan, “Bawalah susu untukku, karena Hadhrat Rasulullah (saw) saw dulu pernah bersabda kepadaku, آخِرُ زَادِكَ مِنَ الدُّنْيَا ضَيْحٌ مِنْ لَبَنٍ ‘Minuman terakhir yang akan kamu minum adalah susu.’”[15] Lalu dibawakanlah susu dan beliau minum kemudian beliau tampil ke medan, berperang dan akhirnya syahid.

Dalam satu riwayat lain, أَنَّ عَمَّارَ بْنَ يَاسِرٍ ، أُتِيَ بِشَرْبَةٍ مِنْ لَبَنٍ ، فَضَحِكَ ketika susu dibawa kepada Hadhrat Ammar, beliau tertawa. Lalu beliau ditanya, مَا يُضْحِكُكَ “Apa yang membuat Anda tertawa?” Beliau berkata, إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : آخِرُ شَرَابٍ أَشْرَبُهُ حِينَ أَمُوتُ هَذَا “Hadhrat Rasulullah (saw) telah mengatakan padaku yakni minuman terakhir kamu adalah susu.”[16] Beliau bahagia karena pada hari itu akan syahid dalam keadaan tersebut.

Ketika perang Siffin Hadhrat Ammar Bin Yasir mengatakan, ‏”‏ الْجَنَّةُ تَحْتَ الْأَبَارِقَةِ، الْيَوْمَ أَلْقَى الْأَحِبَّةَ مُحَمَّدًا وَحِزْبَهُ، يَا هَاشِمُ أَعْوَرُ، وَلَا خَيْرَ فِي أَعْوَرَ لَا يَغْشَى الْبَأْسَ “Surga berada di bawah kilauan pedang dan orang yang kehausan akan pergi menuju sumber mata air, pada hari ini aku akan menemui para kekasihku, hari ini aku akan berjumpa dengan Hadhrat Rasulullah (saw) dan jemaat beliau.”[17]

Abdurrahman bin Abzi meriwayatkan dari ayahnya ketika pergi menuju perang Siffin, pada pojok sungai Furat (Efrat, sekitar Irak), Hadhrat Ammar Bin Yasir berkata: “Ya Allah seandainya aku tahu bahwa Engkau lebih menyukai aku melemparkan diri sendiri dari gunung ini, maka pasti akan aku lakukan demikian. Dan seandainya aku tahu bahwa Engkau ridha jika aku membuat bara api besar di sini lalu melompatkan diri kedalamnya maka pasti akan aku lakukan demikian. Ya Allah! seandainya aku tahu Engkau lebih menyukai aku melompat ke dalam air dan menenggelamkan diri sendiri, maka pasti akan aku lakukan demikian. Aku berperang hanya demi ridha Engkau semata. Aku ingin janganlah Engkau membiarkan aku gagal dan hanya Ridha Engkau-lah yang aku harapkan.”

Abu Ghadiyah al-Muzni lah yang mensyahidkan Hadhrat Ammar Bin Yasir, dia telah menombak beliau yang menyebabkan beliau terjatuh lalu ada seorang lagi yang menyerang Hadhrat Ammar dan memenggal kepala beliau. Lalu keduanya bertengkar dan pergi menghadap Muawiyah [sambil membawa potongan kepalanya]. Keduanya saling mengaku bahwa salah satu dari merekalah yang telah membunuh beliau.

Hadhrat Amru Bin Ash adalah sahabat Nabi saw. Saat itu dikarenakan kesalahan pemahaman maka beliau bergabung dengan kelompok Muawiyah. Namun, di dalam diri beliau masih terdapat kebaikan yang tampak dari penuturannya ketika peristiwa pertengkaran itu. Beliau mengatakan, “Demi Tuhan, keduanya hanya berselisih perihal api.” Artinya, mereka yang telah mensyahidkan Hadhrat Ammar dan berselisih mengenai siapa yang telah membunuhnya. Sebenarnya tengah berselisih mengenai api.

Hadhrat Muawiyah mendengar perkataan Hadhrat Amru, ketika kedua orang itu pulang, Muawiyah mengatakan kepada Hadhrat Amr, “Saya tidak pernah melihat seperti yang Anda lakukan itu. Orang-orang rela mengorbankan jiwanya demi kita sedangkan Anda mengatakan kepada mereka berdua telah berselisih mengenai api.”

Hadhrat Amr mengatakan, وَاللَّهِ إِنْ يَخْتَصِمَانِ إِلَّا فِي النَّارِ ، فَقَالَ عَمْرٌو : هُوَ وَاللَّهِ ذَاكَ ، وَاللَّهِ إِنَّكَ لَتَعْلَمُهُ ، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي مُتُّ قَبْلَ هَذَا بِعِشْرِينَ سَنَةً “Demi Tuhan, demikianlah adanya. Demi Tuhan, Anda pun mengenalnya. Saya ingin seandainya saya sudah mati 20 tahun sebelum dia (Hadhrat Ammar Bin Yasir).”[18] Artinya, sehingga tidak mengalami kejadian ini yakni kita [Muslim] saling berperang seperti ini.

Hadhrat Ammar wafat pada masa kekhalifahan Hadhrat Ali yakni ketika perang Siffin pada bulan Safar 37 Hijriah pada usia 94 tahun. Sebagian orang berpendapat beliau saat itu pada usia 93 tahun atau 91 tahun. Beliau di makamkan di Siffin.

Yahya Bin Abis meriwayatkan bahwa pada hari ketika Hadhrat Ammar Bin Yasir Ra disyahidkan, beliau mengatakan kuburkanlah jasad saya dalam pakaian saya, karena saya akan menjadi pemohon. Hadhrat Ali memakamkan beliau dalam pakaiannya sendiri.

Abu Ishak mengatakan bahwa Hadhrat Ali memimpin shalat jenazah Hadhrat Ammar Bin Yasir Ra dan Hadhrat Hashim bin Utbah. Jasad Hadhrat Ammar beliau letakkan di dekat beliau dan Hashim didepannya lalu beliau menyalatkan sekaligus dengan 5, 6 atau 7 takbir.

Demikianlah para sahabat yang telah berperang demi membela kebenaran. Mereka mengorbankan jiwa demi jalan kebenaran. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat mereka. Sebetulnya masih ada peristiwa-peristiwa dan riwayat-riwayat lainnya mengenai beliau, insya Allah di lain waktu akan saya sampaikan.

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُعِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi Syahid

Editor                          : Dildaar Ahmad Dartono

Referensi                     : www.alislam.org dan islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

Dalam metode penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim, bismillahirrahmaanirrahiim yang terletak pada permulaan setiap Surah sebagai ayat pertama sesuai dengan standar penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim yang digunakan oleh Jemaat Ahmadiyah. Metode ini digunakan karena di dalam Hadits disebutkan bahwa setiap Surah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. selalu dimulai dengan wahyu bismillahirrahmaanirrahiim (H. R. Abu Daud, Al-Hakim), kecuali pada permulaan Surah at-Taubah.

[1] Shahih al-Bukhari, Kitab Fadhailish Shahabah (كتاب فضائل الصحابة), bab (باب قول النبي صلى الله عليه وسلم لو كنت متخذا خليلا)

[2] Thabaqat ibn Sa’d ابن سعد في الطبقات الكبرى (249/3)

[3] Musnad Ahmad ibn Hanbal (مسند أحمد بن حنبل), Musnad 10 orang yang dikabarkan masuk surga (مُسْنَدُ الْعَشَرَةِ الْمُبَشَّرِينَ بِالْجَنَّةِ), Musnad para Khalifah rasyidin (مُسْنَدُ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ), Musnad Utsman ibn Affan (مُسْنَدُ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ).

[4] Syi’bil Iman (cabang-cabang iman), oleh al-Baihaqi, cabang XVI (ke-16)

[5] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Shalat (كتاب الصلاة), bab Tolong menolong dalam membangun masjid (باب التَّعَاوُنِ فِي بِنَاءِ الْمَسْجِدِ), no. 447.

[6] Musnad Abi Ya’la

[7] Asadul Ghabah.

[8] Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitab Ma’rifatush Shahabah. المستدرك على الصحيحين – ج 3 – الهجرة – معرفة الصحابة

[9] Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitab Ma’rifatush Shahabah. المستدرك على الصحيحين – ج 3 – 4316 – 6551 – الهجرة – معرفة الصحابة

[10] Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitab Ma’rifatush Shahabah. المستدرك على الصحيحين – ج 3 – الهجرة – معرفة الصحابة

[11] Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitab Ma’rifatush Shahabah. المستدرك على الصحيحين – ج 3 – الهجرة – معرفة الصحابة

[12] Abdullah ibn Saba’ ialah seorang Yahudi yang lalu menyatakan masuk Islam pada masa Khalifah Utsman. Ia melakukan perjalanan ke berbagai wilayah Muslim, mengumpulkan orang-orang di pihaknya dan menjatuhkan kedudukan para Amir dengan menjelek-jelekannya lalu mengorganisir lewat surat-menyurat guna memberontak ke Madinah, ibu kota saat itu. Ia adalah tokoh pemberontak yang berada di balik pembunuhan Khalifah Utsman.

[13] Khilafat Rashidah

[14] Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitab Ma’rifatush Shahabah. المستدرك على الصحيحين – ج 3 – الهجرة – معرفة الصحابة

[15] Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitab Ma’rifatush Shahabah. المستدرك على الصحيحين – ج 3 – الهجرة – معرفة الصحابة

[16] Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitab Ma’rifatush Shahabah. المستدرك على الصحيحين – ج 3 – الهجرة – معرفة الصحابة

[17] Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitab Ma’rifatush Shahabah. المستدرك على الصحيحين – ج 3 – الهجرة – معرفة الصحابة

[18] Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitab Ma’rifatush Shahabah. المستدرك على الصحيحين – ج 3 – الهجرة – معرفة الصحابة