Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 11 April 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

Dalam Khutbah hari ini saya akan menceritakan sebuah Tanda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang terjadi pada tanggal yang sama dengan hari ini 11 April, tahun 1900. Tanda ini adalah berupa sebuah Khutbah yang disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam Bahasa Arab. Yang telah berlaku dengan pertolongan Allah Ta’ala secara khusus kepada beliau. Sebuah tanda pertolongan Tuhan berupa Ilham di waktu Khutbah, yang kemudian diberi nama Khutbah Ilhamiyah. Khutbah Ilhamiyah ini disaksikan dan didengar oleh 200 orang lebih yang hadir.

Saya-pun menaruh perhatian khusus untuk menyampaikan Khutbah pada hari ini yang bertepatan dengan hari kejadian peristiwa Tanda yang Agung ini pada tanggal yang sama yaitu 11 April tahun 1900. Tentu banyak orang yang sudah tahu tentang nama Khutbah Ilhamiyah ini, dan sudah diterbitkan berupa sebuah buku, akan tetapi banyak orang belum tahu tarikh, latar belakang dan kandungan dari Khutbah itu. Bahkan saya merasa hairan juga, ketika diketahui banyak juga orang Ahmadi yang tidak tahu apa itu Khutbah Ilhamiyah dan bagaimana terjadinya peristiwa bersejarah tentang Khutbah Ilhamiyah ini. Setiap orang Ahmadi harus ingat betul bahwa Tanda ini telah diperlihatkan oleh Allah Ta’ala sebagai Tanda dukungan Allah Ta’ala terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang dapat memperkuat iman kita. Allah Ta’ala telah menyediakan sarana ampuh untuk menutup mulut para penentang Jemaat. Dan Dia telah menyediakan dalil bagi kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan sungguh salah satu Tanda dari Tanda-tanda beliau a.s. yang sangat agung sekali yang telah menutup mulut musuh-musuh besar beliau a.s.

Sekarang saya akan menceritakan latar belakang dan tarikh serta kesan-kesan orang-orang Ahmadi yang telah melihat dan mendengar langsung Khutbah beliau a.s. dan bagaimana tanggapan orang-orang ghair Ahmadi tentang itu. Begitu juga saya akan menjelaskan ringkasan serta hakikat Khutbah Ilhamiyah ini serta keagungannya, akan diketahui setelah membacanya. Tetapi akan saya bacakan juga sedikit gambaran tentang keagungannya dan martabat tinggi Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Latar belakang Khutbah Ilhamiyah yang telah dimuat di dalam surat-surat Kabar adalah begini: Bertepatan dengan Hari Arafah di Mekkah, yakni di waktu pagi sehari sebelum Iedul Adha, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memberi tahu kepada Hadhrat Maulana Nuruddin r.a. melalui sepucuk surat: Saya mau menghabiskan waktu hari ini dan sebagian waktu malam nanti untuk berdo’a kepada Allah Ta’ala bagi saya sendiri dan semua sahabat-sahabat saya. Oleh sebab itu tulislah nama kawan-kawan yang ada di sini beserta alamat tinggal mereka kemudian berikanlah kepada saya, agar saya ingat mereka di waktu memanjatkan do’a.

Sesuai dengan perintah Hudhur a.s. sebuah daftar nama-nama dibuat oleh Maulana Nuruddin Sahib kemudian diserahkan kepada Hudhur a.s. Setelah itu datang lagi kawan-kawan dari luar dengan keinginan keras untuk berjumpa dan memohon do’a kepada Hudhur a.s. dan mulai menulis nama-nama mereka diatas secarik kertas kemudian mengirimkannya kepada Hudhur a.s. Dari dalam diterima pesan dari beliau, supaya tidak mengirimkan lagi nama-nama siapapun.

Di waktu Maghrib dan Isya, Hudhur Aqdas a.s. datang untuk solat. Selesai solat Hudhur Aqdas a.a. bersabda: Karena saya telah berjanji kepada Allah Ta’ala bahwa hari ini dan sebagian dari waktu malam saya akan berdo’a, maka sekarang saya akan pergi supaya tidak terjadi pelanggaran janji dengan Allah Ta’ala. Hudhur Aqdas a.s. pergi kemudian sibuk di dalam berdo’a.

Pagi hari berikutnya, hari Ied Maulwi Abdul Karim Sahib r.a. pergi kedalam berjumpa dengan Hudhur Aqdas a.s. memohon secara khusus agar Hudhur Aqdas a.s. menyampaikan sebuah pidato. Hudhur Aqdas a.s. bersabda: Tuhan telah menyuruh ! Lalu bersabda lagi: Semalam saya menerima Ilham: کچھ عربی میں بولو ‘kuch Arabi me bolo!’ ‘Bercakap-lah beberapa kalimat di dalam Bahasa Arab di hadapan para hadirin.’

Ketika Hadhrat Aqdas a.s. sudah siap untuk menyampaikan Khutbah di dalam Bahasa Arab, beliau menyuruh Maulana Nurud Din Sahib dan Maulwi Abdul Karim Sahib agar duduk berdekatan dengan beliau untuk menulis Khutbah yang akan beliau a.s. sampaikan itu. Tatkala kedua beliau itu sudah siap, maka Hudhur Aqdas a.s. mulai Khutbah dengan mengucapkan: یا عباد اللہ Yakni; Hai hamba-hamba Allah! Di waktu Khutbah Hudhur Aqdas bersabda kepada kedua orang Maulana itu: “Tulislah sekarang, semua perkataan ini nanti mungkin akan hilang. Tulislah baik-baik, jika ada yang tidak difahami tanyakanlah langsung.”

Ketika Hadhrat Aqdas a.s. duduk setelah menyampaikan Khutbah, maka atas permintaan semua hadhirin Hadhrat Maulana Abdul Karim Sahib r.a. berdiri untuk memperdengarkan terjemah Khutbah tersebut ke dalam Bahasa Urdu. Sebelum Maulana Sahib memulai membacakan terjemah Khutbah itu Hudhur Aqdas a.s. bersabda; ”Khutbah ini dinyatakan sebagai Tanda terkabulnya do’a-do’a yang saya panjatkan kemarin siang hari bertepatan dengan Hari Arafat dan malam Hari Iedul Adha. Jika saya menyampaikan Khutbah di dalam Bahasa Arab secara mendadak, maka semua do’a saya dianggap sudah terkabul. Alhamdulillah! Sesuai dengan janji Allah Ta’ala do’a-do’a saya itu sudah terkabul.”

Baru saja terjemah Khutbah itu dibacakan beberapa kalimah oleh Hadhrat Maulana Abdul Karim Sahib r.a. tiba-tiba dengan penuh ghairah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersujud. Maka semua yang hadir-pun turut bersujud bersama-sama Hudhur Aqdas a.s. Setelah bangkit dari sujud, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: Baru saja saya melihat tulisan berwarna merah di dalam Bahasa Arab berbunyi: مبارک (Mubarak!) Itulah Tanda pengabulan Khutbah itu!”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis di dalam Kitab beliau, Nuzulul Masih sebagai berikut: ”Di waktu pagi Hari Iedul Adha saya menerima Ilham ini کچھ عربی میں بولو ‘kuch Arabi me bolo!’ yakni bercakaplah beberapa kalimah di dalam Bahasa Arab! Maka saya beritahu Ilham ini kepada banyak kawan-kawan. Sebelum itu saya tidak pernah berpidato di dalam Bahasa Arab. Akan tetapi pada hari itu saya berdiri untuk pertama kali menyampaikan Khutbah di dalam bahasa Arab. Maka Allah Ta’ala telah membuat sebuah pidato yang sangat jelas dan fasih sekali di dalam Bahasa Arab yang Dia salurkan melalui lidah saya dan sangat berbobot dengan makna yang sangat indah sekali. Dan Khutbah itu sudah dibukukan dan diberi nama Khutbah Ilhamiyah. Dan Khutbah ini terdiri dari banyak sekali bagiannya. Yang disampaikan sambil berdiri dalam satu waktu secara mendadak. Dan Allah Ta’ala telah memberi nama ‘Tanda’ di dalam Ilham-Nya kepada saya. Sebab seluruh pidato secara mendadak itu telah berlaku semata-mata dibawah pengaruh kekuatan-Nya. Sekali-kali saya tidak percaya dengan yakin bahwa seorang ilmuwan, orator Bahasa Arab, dapat berdiri menyampaikan pidato secara mendadak yang fasih dan berbobot seperti itu. Pidato atau Khutbah ini telah disaksikan dan didengar oleh tidak kurang dari 150 orang hadirin. [2]

Di dalam Buku Haqiqatul Wahi beliau menulis agak rinci sebagai berikut: “Pada 11 April, 1900, pada hari Ied-ul-Adha, pada waktu subuh saya menerima Ilham, کچھ عربی میں بولو ‘kuch Arabi me bolo!’ yakni, Hari ini bercakaplah sedikit di dalam Bahasa Arab. Engkau diberi kekuatan.” Kemudian diterima Ilham ini juga کلام افصحت من لدن رب کریم ‘kalamun ufsihat mil ladun Rabbin Kariim’ yakni, kalam (pidato) ini, telah diberi kefasihan oleh Rabb Karim. Maka pada waktu itu juga Ilham ini diberitahukan kepada Maulavi ‘Abdul Karim Sahib, Maulavi Hakim Nuruddin Sahib, Shaikh Rahmatullah Sahib, Mufti Muhammad Sadiq Sahib, Maulavi Muhammad ‘Ali Sahib M.A., Master ‘Abdul Rahman Sahib, Master Sher ‘Ali Sahib B.A., Hafiz ‘Abdul ‘Ali, dan kepada banyak lagi kawan-kawan lainnya. Maka setelah Salat Ied, saya berdiri untuk menyampaikan Khutbah Ied di dalam Bahasa Arab. Dan Allah Ta’ala tahu bahwa saya telah diberi kekuatan Ghaib oleh-Nya. Dan keluarlah dari mulut saya sebuah pidato secara mendadak di dalam Bahasa Arab yang sangat fasih dan berbobot, betul-betul diluar kemampuan saya sendiri.

Saya tidak dapat membayangkan bahwa pidato panjang yang terdiri dari berbagai jenis bagian dengan kefasihan dan bobot luar biasa, tanpa Ilham khas Allah Ta’ala seorangpun di dunia ini tidak akan dapat menyampaikannya, secara mendadak tanpa persiapan sebelumnya berupa tulisan sebuah naskah. Pidato di dalam Bahasa Arab itu yang telah diberi nama Khutbah Ilhamiyah, telah diperdengarkan di hadapan hadirin hampir mencapai 200 orang jumlahnya. Subhanallah! Seolah-olah pada waktu itu sebuah mata air dari ‘alam ghaib sedang memancar.

Saya tidak tahu apakah pada waktu itu mulut saya berbicara atau Malaikat sedang berbicara melalui lidah saya. Sebab saya tahu pasti bahwa di dalam kalam itu sedikitpun tidak ada usaha saya. Dengan sendirinya kalimat demi kalimat terus-menerus keluar dari mulut saya. Dan setiap kalimat merupakan sebuah Tanda Ilahi bagi saya. Maka semua kalimat-kalimat itu sudah terwujud yang diberi nama Khutbah Ilhamiyah. Dengan membaca buku ini akan diketahui, apakah itu kekuatan manusia, menyampaikan pidato yang begitu panjang secara mendadak tanpa persiapan sebelumnya di dalam Bahasa Arab. Ini semata-mata mu’jizat sebuah ilmu yang telah diperlihatkan oleh Allah Ta’ala dan tidak akan ada seorangpun yang dapat menandinginya. Bahkan tantangan ini masih tetap berlaku sampai sekarang. [3]

Di dalam Tarikh Ahmadiyya terdapat beberapa macam tulisan menanggapi Khutbah tersebut, sebab Khutbah itu sebagai Tanda berupa Ilmu yang sangat dahsyat, oleh sebab itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menganjurkan kepada para Khuddam beliau untuk menghapalkannya. Sesuai dengan perintah beliau itu, Sufi Ghulam Muhammad Sahib, Hadhrat Mir Muhammad Ismail Sahib, Mufti Muhammad Sadiq Sahib, Maulwi Muhammad Ali Sahib dan beberapa orang lainnya lagi telah menghafalkannya diluar kepala. Bahkan Maulwi Muhammad Ali Sahib telah memperdengarkannya secara lisan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di bagian atas Masjid Mubarak antara waktu Maghrib dan Isya.

Hadhrat Maulwi Abdul Karim Sahib yang memiliki kecintaan dan kemampuan menguasai Bahasa Arab secara luar biasa, telah kecanduan oleh Khutbah itu sehingga sering sekali beliau memperdengarkannya kepada orang ramai. Beliau sangat terpukau oleh banyak kalimat yang sangat menakjubkan. Dapat dianggap sebagai fenomena alami bagi Maulana Abdul Karim Sahib, seorang pakar dan pencinta Bahasa Arab, yang telah membuat beliau tergila-gila oleh daya tarik kata-kata Mu’jizat Khutbah Ilhamiyyah itu.

Tetapi, telah terjadi hal yang sangat menakjubkan bahwa anak-anak juga sangat tertarik sekali mendengar pidato itu. Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. bersabda: ”Hari itu juga, di waktu pidato itu diucapkan, sebelum matahari terbenam, anak-anak kecil dibawah umur 12 tahun juga mengulang-ulang beberapa kalimat Khutbah Ilhamiyah itu di lorong-lorong Qadian. Hal itu sungguh merupakan perkara yang luar biasa.”

Khutbah itu telah dicetak pada bulan Agustus 1901. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah mengusahakan seorang Katib (juru tulis) untuk menulisnya dan beliau sendiri menerjemahkannya kedalam Bahasa Urdu dan Farsi dan memberi ‘irab-nya (baris-barisnya) juga beliau sendiri yang membuatnya. Khutbah itu terdiri dari 38 halaman yang berupa sebuah buku yang merupakan bagian pertama dan bagian selanjutnya telah ditulis kemudian oleh Hadhrat Aqdas a.s. sendiri. Seluruh bagian dari buku itu diberi nama Khutbah Ilhamiyah. Ketika buku itu telah dicetak, para Cendekiawan besar Bahasa Arab sangat heran dan kagum membaca kefasihan tanpa tanding dan kandungan arti serta ilmu pengetahuan yang sangat dalam. Sesungguhnya itulah Tanda Masih Muhammadi yang tidak ada tandingannya selain Kitab Suci Al Qur’an.

Terdapat dua buah mimpi di dalam sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan Khutbah ini. Pada tanggal 19 April tahun 1900 Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menulis tentang mimpi Miyan Abdullah Sannouri. Di dalam mimpi itu Miyan Abdullah Sannouri berkata bahwa Munshi Ghulam Qadir marhum dari Sannour sudah datang di sini (Qadian). Miyan Abdullah Sannouri bertanya tentang keadaan sebuah ijtima (pertemuan). Katanya, terdengar suara gemuruh di atas langit. Mimpi ini serupa dengan mimpi Sayyed Amir ‘Ali Shah Sahib. Ketika Khutbah Ied sedang dibacakan beliau telah melihat Hadhrat Muhammad saw, Hadhrat Musa a.s. dan Hadhrat Isa a.s. dan Hadhrat Hidir juga hadir mendengarkan Khutbah itu. Pemandangan itu beliau lihat dalam keadaan kasyaf ketika sedang mendengarkan Khutbah itu. (Tadhkirah, hal. 256-257 cetakan 2009)

Kesan-kesan para Sahabah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berkenaan dengan Khutbah Ilhamiyyah itu sebagai berikut:

Hafiz Abdul Ali Saheb mengatakan, saya hadir di waktu Khutbah Ilhamiyya sedang disampaikan. Pada waktu itu suara Hudhur a.s. sudah berobah. Seorang dari Distrik Sialkot Sayyid Mulhim, seorang Ahmadi yang sering menerima Ilham, duduk dekat saya. Beliau berkata: Malaikat juga hadir untuk mendengarkan Khutbah ini.

Hadhrat Mirza Afzal Baig Saheb mengatakan, Hadhrat Aqdas a.s. sambil berdiri menyampaikan Khutbah di Masjid Aqsa dalam Bahasa Arab. Hudhur mengulangi setiap perkataan tiga kali dan Hadhrat Maulvi Nuruddin Sahib dan Maulwi Abdul Karim Sahib keduanya menulis Khutbah itu dan kadang-kadang menanyakan kepada Hudhur Aqdas, apakah kalimat itu ditulis dengan س atau ث dan ع atau الف. Kemudian Hudhur Aqdas membetulkannya. Kemudian setelah Khutbah selesai Hudhur Aqdas a.s. bersabda kepada Maulwi Abdul Karim Sahib: ”Terjemahkanlah Khutbah ini kemudian bacakan kepada hadirin.” Sesuai perintah itu Maulwi Abdul Karim Sahib menterjemahkannya (kedalam Bahasa Urdu) kemudian membacakannya. Kemudian Hadhrat Aqdas a.s. melakukan sujud syukur dan diikuti oleh semua hadirin.

Hadhrat Maulwi Sher Ali Sahib melaporkan, “Hadhrat Aqdas menyampaikan Khutbah Ied yaitu Khutbah Ilhamiyah. Sehari sebelum Ied di waktu pagi beliau mengirim pesan kepada Maulwi Nuruddin Sahib untuk membuatkan daftar nama-nama semua orang yang ada di sini agar beliau mendo’akan mereka. Sesuai pesan Hadhrat Aqdas a.s. daftar nama-nama itu dibuat, kemudian dikirimkan kepada beliau. Dengan pintu rumah tertutup Hadhrat Aqdas a.s. mulai memanjatkan do’a. Beberapa orang yang datang belakangan ditulis nama-nama mereka kemudian dikirim melalui pintu tertutup.

Pada hari Iedul Adha Hadhrat Masih Mau’ud a.s. keluar dan ketika baru sampai di atas anak-tangga Masjid Mubarak beliau bersabda: ”Semalam saya menerima Ilham dengan perintah agar saya menyampaikan Khutbah beberapa kalimat di dalam Bahasa Arab.”

Karena itu, beliau mengirim pesan kepada Maulwi Nuruddin Sahib dan Maulwi Abdul Karim Sahib untuk datang sambil membawa kertas, kalam (pena) dan tinta. Sebab telah diterima Ilham untuk menyampaikan Khutbah beberapa Kalimat di dalam Bahasa Arab. Salat Ied dipimpin oleh Maulvi Abdul Karim Sahib. Dan Khutbah disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam Bahasa Urdu. Setelah Khutbah permulaan di dalam Bahasa Urdu, kemudian beliau mulailah Khutbah di dalam Bahasa Arab.

Pada waktu itu keadaan beliau sangat khas sekali. Mata terpejam, setiap permulaan kalimat beliau ucapkan dengan suara keras. Kemudian lambat laun suara beliau semakin lembut. Di hadapan sebelah kanan beliau kedua Maulvi Sahib sedang menulis apa yang beliau ucapkan. Apabila salah seorang tidak jelas mendengar ucapan beliau, bertanya kepada beliau, dan beliau-pun menjelaskannya. Dan beliau bersabda: Jika ada kalimat yang tidak terdengar dengan jelas harus ditanyakan sekarang juga, sebab mungkin saja kemudian sayapun tidak ingat lagi. Dan bersabda: “Selama kalimat-kalimat terus diilhamkan dari atas, saya akan terus bercakap, dan apabila sudah berhenti, maka selesailah sudah.”

Kemudian beliau mengusahakan secara khusus agar Khutbah itu ditulis berupa sebuah buku dan beliau sendiri telah menterjemahkan-nya kedalam Bahasa Urdu dan Farsi. Dan beliau telah menganjurkan juga agar orang-orang Jemaat menghafalkannya, seperti menghafalkan Al Qur’anul Majid. Maka demi melaksanakan perintah itu Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq and Maulwi Muhammad Ali Sahib telah menghafalkannya, kemudian memperdengarkannya juga kepada Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud a.s. di Masjid Mubarak. Setelah itu saudara saya Hafiz Abdul Hayy bertanya tentang itu kepada Hadhrat Maulvi Nuruddin Sahib. Maka Maulvi Sahib dalam menjawabnya berkata: ”Kami tahu bahwa kejadian itu di luar kekuatan Hadhrat Aqdas a.s.”

Maksudnya, itu semata-mata Kalam Allah Ta’ala bukan Kalam Hadhrat Aqdas a.s. sendiri.

Hadhrat Mian Ameer ud Din menceritakan bahwa, setelah membacakan Khutbah Ilhamiyyah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. keluar, di jalan beliau bersabda: ”Ketika saya sedang mengucapkan sebuah kalimat, saya tidak tahu kalimat berikutnya apa yang akan diucapkan. Tulisan kalimat-kalimat itu terpampang dimuka saya, dan sayapun membacanya. Hudhur Aqdas a.s. membacanya perlahan-lahan sekali dan tidak terburu-buru.

Hadhrat Maulawi Abdullah Sahib Batalwi menulis katanya, Sayyid Abdul Hayyi Sahib dari Arabia tinggal di Qadian dengan tujuan untuk mengadakan penyelidikan dalam waktu yang cukup lama, dan kemudian beliau Bai’at kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Beliau menceritakan kepada saya bagaimana kisah beliau telah Bai’at. Beliau berkata, ‘Setelah saya membaca Buku-buku karya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. hati saya langsung mengakui dengan sangat yakin bahwa tidak akan ada orang yang mampu menulis buku-buku seperti itu tanpa mendapat pertolongan dari Allah Ta’ala. Namun saya tidak bisa percaya Buku-buku itu hasil tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sekalipun Hadhrat Maulawi Nurud Din Sahib dan beberapa Ulama besar lainnya dalam Jemaat meyakinkan saya bahkan memberi kesaksian. Namun beliau-beliau itu tidak dapat menjauhkan keraguan saya.

Saya mulai mengumpulkan bukti-bukti apakah betul ini tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud sendiri tanpa bantuan siapapun dari luar? Maka saya mencoba menulis beberapa pucuk surat kepada Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud a.s. di dalam Bahasa Arab. Dan jawaban surat-surat saya itu diterima dari beliau di dalam Bahasa Arab. Saya perhatikan betul bunyi surat-surat beliau itu, kemudian saya perbandingkan dengan tulisan di dalam buku-buku beliau dalam Bahasa Arab, maka nampaklah kedua kalam itu serupa keadaannya, tidak ada perbedaan. Namun demikian, sedikit banyak nampak ada perbedaan kepada saya. Jawabannya adalah, tulisan (kalam) biasa Hadhrat Aqdas yang terdapat dalam jawaban surat-surat, di dalamnya tidak mempunyai kesan mu’jizat atau dukungan Ilahi. Oleh karena buku-buku yang ditulis di dalam Bahasa Arab didukung sepenuhnya oleh perintah Ilahi secara khusus, maka bentuknya sangat berbeda dan unik, dan memang harus demikian keadaannya. Jika tidak, hasil kemampuan biasa dengan hasil yang didukungan oleh perintah Allah Ta’ala tidak akan nampak ada perbedaan.

Walhasil, saya tetap tinggal di Qadian untuk menghasilkan penyelidikan demi mendapatkan bukti yang meyakinkan tentang dukungan Ilahi yang dimaksud. Maka tibalah waktu turunnya Khutbah Ilhamiyyah, dan saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan mendengarnya dengan telinga saya sendiri, bagaimana jelas, berbobot dan luar biasa fasihnya Khutbah Ilhamiyya itu sedang diucapkan di hadapan semua hadirin tanpa pertolongan siapapun. Oleh sebab itu setelah mendengar langsung Khutbah Ilhamiyyah ini dengan lapang dada dan penuh keyakinan saya segera menyatakan Bai’at.’”

Seorang anggota Jemaat, Haji Abdul Karim Sahib pergi ke Mesir untuk bekerja sebagai tentara. Mungkin peristiwa itu sebelum tahun 1940. Di sana beliau mulai bertabligh, dan seorang kawan bernama Ali Hasan Sahib Bai’at masuk Jemaat. Haji Abdul Karim Sahib ditemani olehnya menemui teman-teman orang Mesir dan bertabligh kepada mereka. Salah seorang diantara mereka seorang clerk, pegawai Departemen Telegraph. Mereka bertukar pikiran beberapa hari lamanya tentang berbagai masalah. Ia telah merasa yakin atas penjelasan-penjelasan itu namun tidak bersedia menerima Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Nabi Ummati. Haji Sahib memberinya buku Khutbah Ilhamiyah untuk dibaca dan tidak menjumpainya selama beberapa hari lamanya.

Pada suatu hari Haji Sahib menerima sepucuk surat, mengundang beliau untuk makan bersama. Ketika berjumpa dengannya, Haji Sahib diminta untuk menuliskan surat Bai’at untuknya. Ketika ditanya apakah sudah memahami tentang bahasan Khatamun Nabiyyin? Teman itu berkata; Saya telah mengundang makan malam seorang profesor besar Universitas Al Azhar (universitas tua dan terkenal di Kairo, Mesir) dan saya memberitahukan kepadanya, ‘Beberapa orang India telah bertabligh kepada saya mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. sudah wafat dan Isa a.s. yang akan datang orangnya dari umat Nabi Muhammad saw yang akan datang sebagai Masih dan Mahdi, dan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani telah mendawakan sebagai Isa yang dijanjikan akan datang itu. Saya setuju dengan semua argumentasi ini, tetapi mereka mengatakan bahwa Mirza Sahib adalah seorang Nabi Ummati dan inilah perkara yang saya tidak bersedia menerimanya. Oleh karena anda sebagai seorang Ulama besar, beritahulah saya apakah pendirian saya ini betul atau tidak.’

Profesor Al Azhar itu dalam jawabannya berkata: ‘Saya sudah membaca beberapa buah Buku Mirza Sahib dan sudah bertemu juga dengan beberapa Ahmadi dan telah bertukar pikiran dengan mereka. Jika seandainya seribu orang Nabi datang seperti da’wa kenabian Mirza Sahib, kedudukan Khatamun Nabiyyin tetap tidak terpengaruh. (Profesor itu sudah mengakui kebenaran da’wa Hadhrat Aqdas a.s.)

Teman itu mengatakan, ‘Saya akan masuk Jama’at Ahmadiyya atas dasar pendirian ini dan Anda sebagai Ulama akan bertanggung jawab terhadap pendapat ini di Hari Akhirat nanti.’

Ulama Al Azhar itu berkata: ‘Jawaban saya hanya untuk di sini saja, jika anda bertanya kepada saya di hadapan orang ramai (umum) maka saya akan berkata bahwa Nabi Ummati tidak bisa datang. Jika sungguh-sungguh engkau mau masuk Jemaat Ahmadiyya dibawah tanggung jawab saya, silahkan, masuklah engkau. Sejauh mana hubungannya dengan diri pribadi saya, ada beberapa penghalang di hadapan saya. Halangan terbesar jika saya masuk Ahmadiyya, saya akan dipecat dari pekerjaan saya sebagai Professor University Al-Azhar.’

(Pengaruh dunia sudah menguasai dirinya). Segera setelah mendengar penjelasan dari Ulama Al Azhar itu ia memutuskan untuk masuk Jemaat Ahmadiyya dan mulailah menela’ah Buku Khutbah Ilhamiyah dan ia tidak tidur sebelum membaca buku itu sampai tamat.

‘Pada suatu malam saya (yaitu Ali Hasan, orang Mesir tadi) dalam mimpi melihat Hadhrat Ahmad, Masih Mau’ud a.s. sedang pergi ke suatu tempat beserta sebuah Jemaat yang besar. Saya bertanya: “Hudhur, siapakah orang-orang ramai ini dan Hudhur sedang membawa mereka kemana?” Beliau a.s. bersabda: “Ini semua para wali Allah swt dari umat Muhammad saw yang lahir jauh sebelum saya, dan saya sedang membawa mereka untuk bertemu dengan Hadhrat Rasulullah saw. Saya adalah Khatamul Auliya, setelah saya tidak ada seorang walipun kecuali dari anggota Jemaat saya. Tidak ada lagi Nabi setelah Hadhrat Muhammad Rasulullah saw, kecuali seorang Nabi Ummati seperti saya.”

Setelah saya bangun tidur, maka masalah Khatamun Nubuwwah sudah terpecahkan semuanya dan saya sangat gembira.’”

Haji Abdul Karim berkata, “Pada waktu itu juga saya tulis surat Bai’at yang dimintanya itu, kemudian saya kirimkan ke Qadian.”

Seorang tokoh besar, Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi, Ulama terkenal dan sahabat kental Hadhrat Sayyid Waliullah Shah Sahib (seorang keturunan Arab Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as). Beliau menjalin hubungan dengan Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi berkenaan dengan literatur dan ilmu pengetahuan agama dan Bahasa Arab. Pertama kali bertemu dengan beliau pada tahun 1916. Suatu ketika Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi Sahib berkata kepada Hadhrat Sayyid Waliullah Shah Sahib: “Mari kita berfoto berdua dan kita jalin hubungan erat sambil meletakkan tangan kita di atas Al-Qur’an.”

Berkat persahabatan inilah, ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. mengunjungi Damaskus (Suriah), Allama Al-Magribi Sahib datang berjumpa dengan beliau dan mengajukan banyak sekali pertanyaan kepada beliau r.a. dan ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. menjawab pertanyaan-pertanyan-nya itu, karena merasa dirinya Allama besar dan keras kepala, berkata: “Kami orang Arab dan sangat tahu Bahasa Arab, kami sangat faham Al Qur’anul Karim. Siapa yang dapat memahami AL Qur’an lebih baik dari kami.”

Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. bersabda: “Kalian, orang-orang Arab juga seperti orang lain memerlukan Kamus. Allah Ta’ala telah mengajar Al Qur’an dan memberi pemahamannya kepada kami. Bahasa kami, sekalipun kami bercakap-cakap dalam Bahasa Urdu dan kami tidak mendapat banyak kesempatan untuk bercakap-cakap dalam Bahasa Arab, namun kami lebih fasih dan lebih berbobot dari pada kalian…, dan sebagainya dan sebagainya.”

Dalam Bahasa Arab yang sangat fasih, Hudhur II r.a. berdiskusi dengan Allama Abdul Qadir Al-Maghribi itu dengan ghairah dan semangat sekali. Seorang Sayyid Sahib yang sedang duduk berdekatan dengan Hudhur r.a. sambil memandang muka Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi Sahib berkata: “Memang betul Bahasa orang-orang ini lebih fasih dari kita.” Mendengar perkataannya itu, maka Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi Sahib bersikap lemah lembut dan mulailah berdiskusi dengan penuh hormat dan adab sekali.

Di waktu berbincang-bincang itu Abdul Qadir Al Maghribi Sahib juga berkata; Di dalam Buku-buku Hadhrat Sahib (Masih Mau’ud a.s) juga terdapat kesalahan-kesalahan. Maka atas perkataannya itu Hadhrat Khalifatul Masih II r.a, menjawab: ‘Jika anda mempunyai kekuatan tulislah semua kesalahan-kesalahannya itu atau jawablah semua tantangan Buku-buku beliau itu kemudian sebarkanlah kepada masyarakat. Namun ingatlah! Sekali-kali anda tidak akan dapat melakukannya. Jika anda mulai mengangkat pena untuk menjawabnya, maka semua kekuatan anda akan dirampas oleh Allah Ta’ala. Cobalah, kemudian anda tengok apa hasilnya!’ Mendengar tantangan itu mulailah ia memohon agar jangan menyebarkan amanat Ahmadiyya di Arab, Syria dan Mesir, sebab akan menimbulkan banyak perselisihan paham sedangkan di sekitar kawasan Negara-negara ini sudah banyak timbul perselisihan faham, orang-orang Wahabi telah menimbulkan banyak sekali pertengkaran dan masalah yang menyusahkan kami. Bertablighlah tuan di Negara-negara Eropah, America dan Africa dan di Negara-negara Kristen lainnya dan kirimlah kesana para Muballigh. Sambil merapatkan kedua belah telapak tangan dan menciumnya, berulang kali memohon dengan hormat dan karena Allah, janganlah sekali-kali menablighkan akidah-akidah Hadhrat Masih Mau’ud di kawasan Negara-negara Arab ini, dan jangan pula mengirim Muballigh.

Kemudian dia berkata: “Kami sudah tahu beliau itu (yaitu Hadhrat Masih Mau’ud as) orang baik dan mempunyai ghairah tinggi untuk mengkhidmati Islam, akan tetapi kami tidak dapat menerima da’wa beliau sebagai Nabi dan Rasul. Himpunlah manusia hanya kepada Kalimah Toyyibah, “لا إله إلا الله” la ilaha illallah Muhammad Rasulullah.”

Walhasil semua pertanyaan dan perkara-perkara yang telah diajukannya telah dijawab oleh Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. dengan cara yang sangat terhormat dan berwibawa. Beliau bersabda, ‘jika semua program ini kami yang membuatnya, tentu sudah kami tinggalkan. Akan tetapi semua itu Program Allah Ta’ala, sedikit pun tidak ada campur tangan kami atau campur tangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Itu semua perintah Allah Ta’ala, kami akan menyebarkan amanat ini sampai dimanapun juga, dan pasti kami akan menyebarkannya.”

Masih berkaitan dengan kisah Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi Sahib, Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. telah mengirim Maulana Jalalud Din Shams Sahib ke Syria (sebagai Muballigh jemaat).

Dalam menceritakan kisah di zaman itu, Hadhrat Sayyid Zainul Abideen Waliullah Shah Sahib menulis, “Pada suatu hari saya dan Maulana Jalaluddin Shams Sahib sedang bercakap-cakap tentang Jemaat Ahmadiyya bersama beberapa orang teman. Saat itu Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi Sahib juga datang dan duduk mendengarkan percakapan kami. Dalam percakapan itu Sheikh Abdul Qadir Al-Maghribi menceritakan kisah pertemuan beliau dengan Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. dan mengulangi saran dan permohonan yang diajukan kepada Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. dengan nada yang sangat merendahkan diri, ‘Jangan melakukan tabligh di sini,’ dan sambil senda gurau berkata: ‘Ilham-ilham Bahasa Arab pun tidak betul.’ Yakni Ilham-ilham Hadhrat Masih Mau’ud di dalam Bahasa Arab tidak betul susunan kata-katanya.

Lalu, saya berikan kepadanya Buku Khutbah Ilhamiyah untuk dibaca. Kemudian diminta agar dia menunjukkan di mana kesalahannya. Mulailah dia membacanya dengan suara keras, kemudian tentang satu atau dua kalimat berkata, ‘Ini bukan lafadz Bahasa Arab.’ Kemudian Maulana Jalaluddin Syam Sahib mengambil dari lemari, dan membuka Kamus Bahasa Arab, “تاج العروس” Taajul ‘Uruus yang ada pada waktu itu. Kemudian lafadz itu dikeluarkan dan ditunjukkan kepada Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi itu. Semua yang hadir merasa heran dan saya mengambil kesempatan baik itu dan berkata kepada Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi itu: ‘Anda dikenal sebagai Adiib dan ‘Aliim (Sastrawan dan Ulama Besar) Bahasa Arab, namun anda tidak tahu Bahasa Arab lebih dari murid saya.’

Saat itu Maulana Jalaluddin Shams Sahib, sedang belajar Bahasa Inggris dari saya, sebab itulah saya sebut ia murid saya. Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi itu menjadi sangat marah kemudian bangkit dari tempat duduk dan pergi sambil berkata; ‘Besok akan saya lihat apa yang akan terjadi kepada kalian disini.’ Teman-teman yang sedang duduk di waktu itu sangat terkesan oleh perkataan saya.

Hari berikutnya pagi-pagi sekali Shams Sahib berkata kepada saya, ‘Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. berpesan agar jangan membuat hati Sheikh Abdul Qadir Al-Maghribi tersinggung, harus dijalin terus hubungan baik dengan beliau.’

Tetapi, saya telah membuatnya marah. Saya katakan, ‘Jangan risau nanti saya perbaiki lagi hubungan dengan beliau.’

Pagi-pagi kami berdua pergi ke rumah Sheikh Abdul Qadir Al Maghribi Sahib. Ketika kami mengetuk pintu, maka Sheikh Abdul Qadir Sahib-pun keluar. Begitu berjumpa, langsung memeluk dan mencium saya dan berkata: ‘Saya minta maaf, saya sendiri berniat untuk datang ke rumah anda. Mari masuk dan minumlah teh! Saya mau memberi tahu bagaimana saya menghabiskan waktu tadi malam.’

Kami pun masuk kedalam rumah dan beliau menunjukkan risalah AlHaqaiq ‘anil Ahmadiyyah (Hakekat-hakekat mengenai Ahmadiyah, risalah berbahasa Arab ini hasil karya Hadhrat Shah Walullah Sahib) dan berkata, ‘Risalah ini ada di tangan saya dan saya bertekad untuk membantah Risalah ini. Saya kumpulkan semua Buku-buku Hadis yang ada pada saya dan disimpan di atas meja. Setelah salat Isya, mulailah saya menulis untuk membuat bantahan terhadap Risalah ini. Saya baca Risalah, lalu saya mulai menyusun untuk membantah, namun hasilnya saya robek-robek, sebab saya merasa kurang sesuai dan terlalu berlebih-lebihan. Lalu saya mencoba menyusun lagi namun tidak berhasil, akhirnya saya batalkan dan saya robek-robek lagi kertas itu, demikianlah berjalan sampai larut malam. Istri saya berkata: “Sedang apa ini? Mengapa tidak mau tidur?”

Akhirnya terdengar suara azan subuh, sedikitpun saya tidak dapat menulis sesuatu. Apapun yang saya tulis selalu gagal dan merasa salah.

Setelah itu, ia berkata kepada saya (Shah Sahib): ‘Saya berjanji dari sekarang anda tidak akan mendengar lagi perkataan saya yang menentang Jemaat anda. Semua pendapat anda betul-betul Islami dan bertablighlah anda dengan bebas di sini. Siapapun yang bertanya kepada saya tentang Jemaat anda akan saya jawab dengan sebaik-baiknya untuk mendukung pendirian anda semua. Akan tetapi, saya tidak akan masuk kedalam Jemaat anda.’ Akhirnya beliau-pun selalu memuji Jemaat Ahmadiyya.”

Sekarang saya (Hudhur Anwar V atba) hendak membacakan beberapa kutipan ringkas dari Khutbah Ilhamiyah, dari mana akan diketahui bagaimana keagungannya. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

“أيها الناس.. إني أنا المسيح المحمدي، وإني أنا أحمَدُ المهدي، وإن ربي معي إلى يوم لَحْدي من يومِ مهدي. وإني أُعطيتُ ضِرامًا أكّالاً، وماءً زُلالاً، وأنا كوكبٌ يمانيّ، ووابلٌ روحانيّ. إيذائي سِنانٌ مذرَّب، ودعائي دواءٌ مجرَّب. أُرِي قومًا جلالا، وقومًا آخرين جمالا، وبِيَدِي حربةٌ أُبيدُ بها عاداتِ الظلم والذنوب، وفي الأخرى شربةٌ أُعيدُ بها حياةَ القلوب.”

‘Ayyuhan naas! .. inni anal Masihul Muhammadi, wa inni ana Ahmadul Mahdi, wa inna Rabbi ma’i ilaa yaumi lahdii min yaumi mahdii. Wa inni u’thiitu dhiraaman akkaalan, wa maa-an zulaalan, wa ana kaukabuy yamaaniyy, wa waabilur ruuhaaniyy. Iidzaa-ii sinaanum mudzarrabun, wa du’aa-ii dawaa-un mujarrabun. Urii qauman jalaalan, wa qauman aakhariina jamaalan, wa bi yadii hurbatun ubiidu bihaa ‘aadaatizh zhulma wadz dzunuuba, wa fil ukhraa syurbatun u’iidu bihaa hayaatal quluub.’

“Hai manusia ! Aku ini adalah al-Masih al-Muhammadi dan aku adalah Ahmad al-Mahdi. Dan Rabb-ku betul-betul bersama-ku, semenjak umur kanak-kanak sampai lanjut usia. Aku diberi sebongkah api yang siap akan menelan, dan air yang sejuk dan segar. Dan aku adalah bintang Yamani dan air hujan ruhani. Memberi kesusahan kepada-ku, balasannya tombak yang tajam. Do’aku adalah obat yang mujarab. Aku memperlihatkan kegagahan-ku kepada suatu Kaum, dan kepada kaum yang akhir (yang lain) kuperlihatkan kehalusan budi-ku. Di tangan-ku ada senjata, dngan itu aku menghancurkan kezaliman dan perbuatan dosa. Ditangan-ku sebelah lagi ada minuman syarbat, dengan itu aku hidupkan kembali hati manusia. (Khutbah Ilhamiyyah Hal. 61-62)

Selanjutnya beliau bersabda lagi :

“أيها الناس، قُوموا للهِ زُرافاتٍ وفُرادى فُرادى، ثم اتّقوا اللهَ وفَكِّروا كالذي ما بخل وما عادى، أليس هذا الوقت وقتَ رحمِ الله على العباد، ووقتَ دفعِ الشرّ وتدارُكِ عَطَشِ الأكباد بالعِهاد؟ أليس سيلُ الشرِّ قد بلَغ انتهاءَه، وذيلُ الجهلِ طوَّل أرجاءَه، وفسَد المُلك كله وشكَر إبليسُ جهلاءَه؟ فاشكروا اللهَ الذي تَذكَّرَكم وتذكَّرَ دينَكم وما أضاعَه، وعصَم حَرْثَكم وزرعكم ولُعاعَه، وأنزلَ المطر وأكمل أبضاعَه، وبعَث مسيحَه لدفع الضير، ومهديَّه لإفاضة الخير، وأدخلَكم في زمانِ إمامكم بعد زمان الغير.”

‘Ayyuhan naas! Quumuu liLlaahi zuraafaatin wa furaadii furaadi, tsummat taquLlaha wa fakkiruu kal ladzii maa bakhira wa maa ‘aada, a laisa haadzal waqtu waqta rahmiLlaahi ‘alal ‘ibaad, wa waqta daf’isy syarri wa tadaaruki ‘athusyal akbaadi bil ‘ihaad? A laisa sailusy syarri qad balugha intihaa-ahu, wa dzailul jahli thawwala arjaa-ahu, wa fasadal mulku kulluhu wa syakara ibliisu juhalaa-ahu? fasykuruLlah alladzii tadzakkarakum wa tadzakkara diinakum wa maa adhaa’ah, wa ‘ashama hartsakum wa zar’akum wa lu’aa’ah, wa anzalal mathara wa akmala abdhaa’ah, wa ba’atsa masiihahu li daf’idh dhair, wa mahdiyyahu li-ifaadhatil khair, wa adkhalakum fii zamaani imaamikum ba’da zamaanil ghair.’

“Hai Manusia! Karena Allah, kalian semua atau sendiri-sendiri, takutlah kepada Tuhan dan pikirlah tentang orang ini (saya ini0, yang tidak bakhil dan tidak pula bermusuh. Apakah ini bukan zaman-nya agar Allah menaruh belas kasih terhadap manusia? Apakah zaman-nya belum tiba agar keburukan-keburukan dimusnahkan? Dan jiwa yang kering kehausan disirami dengan hujan ruhani? Apakah banjir keburukan belum sampai ke puncak ketinggiannya? Dan tidakkah kejahilan telah merebak melampaui batas? Dan tidakkah negara sudah menjadi kacau dan Syaitan mengucapkan syukur kepada orang-orang jahil? Maka, bersyukurlah kalian kepada Tuhan Yang telah ingat kepada kalian. Dan ingat kepada Agama kalian, menyelamatkan-nya dari kehancuran. Dan menyelamatkan semua tumbuhan dan pertanian yang kalian tanam dari mara bahaya, dan menurunkan air hujan yang membuat semua bahan perbekalan kalian berbuah dengan sempurna. Dan Dia telah mengutus Masih-Nya untuk menjauhkan segala kesusahan dan hambatan. Dan Dia telah mengutus Mahdi-Nya demi mendatangkan kebaikan dan keuntungan. Dan telah memasukkan kalian kedalam zaman Imam kalian setelah berlalu zaman tanpa Imam. (Khutbah Ilhamiyyah, Hal. 66-67)

Selanjutnya beliau bersabda:

“وإني على مقام الختم من الولاية، كما كان سيدي المصطفى على مقام الختم من النبوة. وإنه خاتم الأنبياء، وأنا خاتم الأولياء، لا وليَّ بعدي، إلا الذي هو مني وعلى عهدي. وإني أُرسلتُ من ربي بكل قوة وبركة وعزة، وإن قدمي هذه على منارةٍ خُتِمَ عليها كلُّ رفعة. فاتقوا الله أيها الفتيان، واعرفوني وأطيعوني ولا تموتوا بالعصيان. وقد قرُب الزمان، وحان أن تُسأل كلُّ نفس وتُدانُ.”

‘Wa inni ‘alaa maqaamil khatmi minal walaayah, kamaa kaana sayyidil Mushthafa ‘alaa maqaamil khatmi minan nubuwwah. Wa innahu khaatamul anbiyaa-i, wa ana khaatamul awliyaa-i, laa waliyya ba’dii, illalladzii huwa minnii wa ‘alaa ‘ahdii. Wa inni ursiltu min Rabbi bi kulli quwwatin wa barkatin wa ‘izzatin, wa inna qadamii haadzihi ‘alaa manaaratin khutima ‘alaihaa kullu rif’atin. fattaquLlaha ayyhual fityaan, wa’rifuuni wa athii’uunii wa laa tamuutu bil ‘ishyaan. Wa qad qarubaz zamaanu, wa haana an tus-alu kullu nafsin wa tudaan.’

“Dan sesungguhnya aku berada dalam kedudukan sebagai khatm (penghulu, pengesah) dalam walaayah (kewalian) seperti halnya tuanku, al-Mushthafa (Hadhrat Nabi Muhammad saw) berada dalam kedudukan sebagai khatm dalam nubuwwah (kenabian). Dan sesungguhnya beliau adalah Khaatamul Anbiya sedangkan aku adalah Khaatamul Awliya. Setelah aku tidak akan ada Wali, melainkan dia yang dari golongan-ku dan berpegang janji teguh padaku. Aku telah diutus oleh Tuhan-ku dengan semua kekuatan, keberkatan dan dengan kehormatan. Dan langkah-ku ini berada di atas menara yang tinggi yang telah sampai batas puncak ketinggiannya. Maka takutlah kepada Tuhan, hai para pemuda! Dan percayalah pada-ku, dan ta’atlah pada-ku dan janganlah mati dalam keadaan durhaka. Dan zaman sudah dekat sekali dan waktu-pun sudah suntuk, setiap jiwa akan ditanyai pertanggungan jawabnya tentang apa yang telah dia lakukan dan akan diberi pembalasan. (Khutbah Ilhamiyyah, Hal. 69-71)

Itulah Tanda yang sangat agung, kalam yang sangat agung dan sebuah seruan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang Allah Ta’ala berikan kepada beliau melalui Ilham pada tanggal 11 April 1900. Tanda ini berjalan terus menunjukkan keagungannya dengan cemerlang sampai sekarang. Dan sampai sekarang tidak ada orang besar paling ‘alim dan ahli (pakar) Bahasa manapun sekalipun dari Arabia yang mampu menandinginya. Bagaimana bisa ditandingi, sebab itu semua adalah kalam Allah Ta’ala yang telah diucapkan melalui lidah Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Semoga Allah Ta’ala memberi akal dan keberanian kepada dunia khususnya kepada orang-orang Muslim Arab untuk mengenal amanat orang yang telah diutus oleh Allah Ta’ala di zaman ini dan semoga mereka menjadi para penolong Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pencinta sejati Hadhrat Rasulullah saw untuk menghimpun seluruh Ummat Islam menjadi satu Ummat. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita juga untuk melaksanakan semua kewajiban kita.

Setelah salat Jum’ah saya akan memimpin salat dua orang jenazah ghaib. Pertama, Mukarramah Hanifa Sahiba isteri Chouhdry Ahmad Bashir Sahib Bhatti dari Distrik Shekhupura, Lahore wafat tanggal 3 April 2014 pada umur 84 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Pada tahun 1953 melalui sebuah mimpi beliau Bai’at dan masuk Jemaat Ahmadiyya. Di waktu Jalsa Salana Rabwah beliau berjumpa dengan Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. dan memberitahukan: ‘Orang yang berkata kepada saya untuk Bai’at di dalam mimpi adalah Hudhur.’ Dintara semua saudara-saudara beliau, hanya beliau sendiri yang menjadi Ahmadi. Beliau patuh menunaikan salat fardhu, setiap malam rajin menunaikan salat tahajjud dan banyak memanjatkan do’a. Berperangai lemah lembut, merendahkan diri dan berhati baik. Hubungan dengan Jemaat sangat erat dan ikhlas serta sangat setia. Beliau menaruh sangat hormat kepada para anggota pengurus Jemaat. Beliau meninggalkan seorang suami, dua orang puteri dan lima orang putera. Salah seorang putera beliau Muhammad Afdzal Bhatti dikirim ke Jamia Ahmadiyya Rabwah untuk menjadi Muballigh. Dan sekarang beliau sedang giat melakukan pengkhidmatan terhadap Jemaat sebagai Muballigh. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat marhumah dan semoga Allah Ta’ala memberi kesabaran dan ketabahan kepada semua putera-puteri beliau yang ditinggalkan. [Aamiin]

Jenazah kedua Sayyid Mahmood Ahmad Shah Sahib dari Karachi. Wafat pada tanggal 29 Maret 2014. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

 [Aamiin]

 Alih bahasa Hasan Basri

Editor: Dildaar Ahmad

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Nuzulul Masih, Ruhani Khaza’in, Jld 18, hal.588, Tadhkirah, hal 455, edisi th 2009

[3] Haqiqat-ul-Wahi, Ruhani Khaza’in, Jld 22, hal.375-376 – Essence of Islam, jld V, hal.159-160