Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad

Khalifatul Masih Ar-Rabbi ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

10 Mei 2002

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Di dalam dua khutbah yang lalu, topik sifat الكبير-al-kabiyr danاكبر-akbar yang tengah berjalan, bahasannya dalam khutbah ini akan merupakan bagian terakhir.

الكبير فى صفة الله تعالى. العظيم, الجليل, المتكبر الذىتكبرعن ظلم عباده-alkabiyr fiy shifatillahi ta’aala, al-’azhiym, al-jaliyl, al-mutakabbir alladziy takabbara ‘an zhulmi ‘ibaadihi-Al-Kabir termasuk dalam sifat-sifat Allah,yakni عظيم-‘azhiym-Maha agung dan متكبر-mutakabbir- Yang sangat tinggi [tidak mungkin] ada [sifat] aniaya terhadap hamba-Nya.والكبرياءعظمةالله-wal-kibriyaau’ ‘azmatullah-maksud alkibriyaau’ ialah keagungan Allah. الكبيراخص الصغير-al-kabiyr akhshu-shagiyr-kata al-kabiyr – besar adalah lawan shagiyr -kecil. Kata اكبر-akbar-yang paling besar adalah termasuk dalam nama-nama [sifat] Tuhan. Ini adalah isim تفضيل-tafdhil dari kata كبير-kabiyr [yakni, yang menyatakan terbesar]. Tertulis dalam Taajul’urus: كبر-kabbara-dia telah mengatakan الله اكبر-Allah akbar-Allah Maha besar. Allamah Azhari berkata: Berkenaan dengan:

الله اكبر –allaahu akbar ada dua perkataan/pengertian. Pertama,maksud الله اكبر -allaahu-akbar-ialah الله كبير-allaahu kabiyrun -Allah itu besar Sebagaimana di tempat lain Allah sendiri berfirman:هو اهون عليه-hua ahwanu ‘alaihi-Disini maksudهواهون عليه-huwa ahwanu ‘alaihi adalah هين عليه-hayyinun ‘alaihi-mudah untuk-Nya. Perkataan/pendapat kedua, sesudah kalimahالله اكبر-allaahu akbar ada kata yang dihilangkan dan kalimah semula sebenarnya adalah الله اكبر كبير-allaahu akbar kabiyrin-yakni, Allah Maha besar dari setiap yang besar.

Penulis Lisanul arab berkata; Berkenaan dengan الله اكبر-Allaahu akbar dikatakan:الله اكبر من كل شئ اى اعظم –allaahu akbaru min kulli syain ai a‘azhamu-yakni, Allah besar dari segala sesuatu dan yang [Maha]paling agung. Dan dikatakan pula bahwa maksudnya adalah,tidak ada yang bisa mencapai kebesaran dan keagungan-Nya.

Ayat. Surah Nisa’ayat 35:

 الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا­

Laki-laki merupakan pelindung bagi perempuan-perempuan,karena Allah telah melebihkan sebagian mereka diatas sebagian yang lain dan disebabkan mereka menafkahkan harta benda mereka padanya. Maka perempuan-perempuan saleh ialah yang taat dan menjaga rahasia suami mereka dengan perlindungan Allah. Dan mengenai perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan kedurhakaan mereka, maka sebelumnya nasehatilah mereka,dan jauhkan diri dari mereka dari tempat tidur mereka,dan berilah hukuman jasmani pada mereka /pukullah mereka. Kemudian jika mereka taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi Maha besar.

Kemudian surah Ra’d 9-10:

اللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنْثَى وَمَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِمِقْدَار.عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ -Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan dan apa yang kurang sempurna dalam kandungan rahim/ gugur dan apa yang diperkembangkan dan segala sesuatunya mempunyai utkuran yang tepat disisi-Nya. Dia yang mengetahui segala yang tersembunyi dan yang nampak;Maha besar dan Maha luhur.

Surah Bani Israil ayat 43-44:

قُلْ لَوْ كَانَ مَعَهُ ءَالِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذًا لَابْتَغَوْا إِلَى ذِي الْعَرْشِ سَبِيلًا. سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا.- Katakanlah,”Jika sekiranya ada disisi-Nya tuhan-tuhan lain ,sebagaimana mereka katakan ,maka tentulah dengan pertolongannya orang-orang musyrik mereka pasti telah mencari jalan kepada Zat yang mempunyai arasy.” Maha suci Dia, dan Maha luhur,dari apa yang mereka katakan.

Surah Al-haj:63:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ-Demikian itu disebabkan sungguhnya Allah-lah Zat yang Hak ,dan sesungguhnya apa yang mereka seru selain Dia,adalah yang batil. Dan sesungguhnya Allah Maha tinggi Maha besar.

Surah Luqman 30-31

 أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَأَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ.ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ-Tidakkah engkau merenungkan bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang,dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia telah menetapkan matahari dan bulan untuk berbakti;tiap-tiap daripadanya beredar terus sampai masa yang telah ditetapkan,dan ingatlah sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Hal yang demikian itu karena Allah-lah Zat yang Mahabenar dan sesungguhnya apa yang mereka seru selain Dia adalah batil,dan sesungguhnya Allah-lah Zat Maha yang tinggi Mahabesar.

Kemudian surah Saba’ ayat 24:

            وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ –Dan tidak ada gunanya syafaat disisi-Nya kecuali yang telah Dia izinkan kepadanya sehingga bila ketakutan telah dijauhkan dari hati mereka,maka mereka akan bertanya kepada orang yang menyefaaat mereka,.”Apakah yang telah difirmankan Tuhanmu ? Mereka itu akan menjawab”kebenaran” yang telah Dia katakan.Dan Dia Maha luhur Mahabesar.

Surah Al-Mu’min 12-13:

            قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ.ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِير -Mereka akan berkata ,”Hai Tuhan kami,Engkau telah menyebabkan kami mati dua kali,dan Engkau telah menghidupkan kami dua kali,maka kini kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah suatu jalan keluar.Yang demikian itu disebabkan apabila hanya Allah yang diseru maka kamu mengingkarinya. Tetapi ketika sekutu-kutu diadakan terhadap Dia,maka kamu beriman. Maka keputusan hanya terletak di tangan Allah.Yang Maha tinggi dan Maha besar.

Hadhrat Haiat bin Himar meriwayatkan bahwa Rasulullah saw menyampaikan ceramah kepada kami bahwa Allah telah mewahyukan kepada saya: Berlaku rendah hatilah sehingga kamu tidak bangga pada siapapun.

Hadhrat Anas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw mempunyai seekor unta betina yang bernama Usbah. Dia tidak pernah membiapapun unta manapun untuk mendahuluinya,selalu terdepan larinya. Pada suatu ketika datang seorang pemuda kampung/badui. Unta betinanya paling kencang larinya .Orang-orang Islam sangat sedih akan hal itu bahwa unta seorang badui menyalip unta betina Rasulullah saw. Rasulullah saw memahami kesedihan/kekecewaan orang-orang lalu bersabda: Sudah merupakan sunnah Tuhan bahwa apa yang tinggi di dunia pada akhirnya untuk mematahkan kecongkakannya Allah mengalahkannya. Jadi, Rasulullah saw tentu tidak memiliki rasa congkak,tetapi merupakan kerendahan hati beliau sehingga beliau bersabda; Bahwa pandangan saya yang beranggapan unta betina saya paling kencang larinya , Allah telah menjadikannya terkalahkan, yang karenanya kecongkakan orang-orang menjadi rontok. Bukannya Rasulullah saw,bahkan ketabburan orang-orang menjadi rontok.

Diriwayatkan dari Hadhrat Ibni Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw melakukan tawaf Baitullah di atas unta. Apabila beliau sampai di Rukun Yamani maka apapun di tangan beliau maka dengan itu beliau mengisyarahkan ke arah Rukun sambil bersabda: الله اكبر-allaahu akbar-Allah Maha besar.

Tirmidziy Kitabul-adhaahi. Hadhrat Jabir r.a. bin Abdullah meriwayatkan bahwa saya bersama nabi saw melaksanakan shalat Idul-adhha di tempat shalat Idul-adhha. Ketika beliau telah selesai menyampaikan khutbah maka beliau turun dari mimbar.Seekor domba dibawakan kepada beliau lalu Rasulullah saw menyembelih domba itu dengan tangan beliau sendiri . Ketika menyembelih beliau mengucapkan kata-kata ini

هذانى وعمالم يضح عن امتى بسم الله والله اكبر –bismillahi wallaahu akbar haadzaa-niy wa ‘ammallaam yudhih ‘an ummatiy- Yakni, dengan nama Allah, dan Allah yang Maha besar,pengorbanan ini dari saya dan dari setiap orang dari ummatku yang tidak pernah melakukan pengorbanan.

Ini merupakan kebaikan Rasulullah saw sampai hari kiamat pada semua [orang dari ummat beliau] yang tidak bisa melakukan pengorbanan.

Hadhrat Abu Musa Asy’ari meriwayatkan bahwa tatkala kami dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah saw, maka kapan saja kami mendaki suatu ketinggian, kami mengatakanوالله اكبر لااله الا الله – laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar dengan suara membahana. Maka Rasulullah saw bersabda: Hai orang-orang, tahanlah emosi kalian karena kalian tidak memanggil wujud yang tuli dan yang gaib. Sesungguhnya Tuhan itu bersama kalian dan sesungguhnya Dia dekat dan Maha mendengar. Nama-Nya penuh berkah dan Maha Agung.

Hadhrat Anas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pada waktu subuh menyerang kawasan Khaibar. Pada waktu itu penduduk Khaibar telah keluar dari benteng sambil memikul pacul dan peralatan bertani di pundak mereka. Tatkala mereka melihat Rasulullah saw ,maka mereka berkata bahwa ini adalah Muhammad dan lasykarnya. Sembari mengatakan kata-kata ini mereka berlindung di benteng. Maka Rasulullah saw sambil mengangkat tangan beliau bersabda: الله اكبر خربت خيبر-allaahu akbar kharibat khaibar-Allah Maha Agung, Khaibar telah takluk. Sesungguhnya kami apabila masuk di kawasan suatu kaum yang telah diperingatkan pada mereka ,maka subuh mereka menjadi sangat buruk sekali.

Hadhrat Allaamh Fakhriuddin Razi dalam menafsirkan ayat : الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرُاِ-menulis:

Di dalam firman Tuhan إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرُا dimana disebutkan tentang ketinggian/keluhuran, itu bukanlah ketinggian dari segi arah. Dan كبريائ-kibriayai-kebesaran atau keagungan Allah bukanlah kebesaran atau agung dari segi jasmaniah,bahkan dari segi kesempurnaan kekuasaan-Nya dan dari segi penjabaran dan segi dapat melaksanakan keinginan-Nya dalam setiap kemungkinan Maha luhur dan Maha besar. Dan di tempat ini Allah dengan sangat indah menyebut dua sifat-sifat-Nya. Dan sebab-sebab keterangan/firman Tuhan ini adalah sbb:

Pertama,maksud Tuhan membawa/menggunakan sifat ini disini adalah untuk memperingatkan para suami supaya jangan menganiaya istri-istri. Kemudian maksudnya ialah , jika mereka itu lemah untuk menghindar dari kezalimanmu dan tidak berdaya berlaku adil [membayar hak-hak]terhadapmu,[maka kamu harus ingat ] bahwa Allah swt adalah Unggul, Perkasa dan Maha Besar . Yakni, Dia berkuasa mejadikan kamu berlaku adil pada hak-hak perempuan-perempuan itu. Dan menjadikan kamu memberikan hak-hak mereka sepenuhnya.Kekuatan kamu padanya[menguasai mereka] dan kelebihan derajatmu jangan melalaikan kamu.[menunuaikan hak-hak mereka]

Kedua, apabila dia tengah mengitaatimu, maka karena kekuatan yang kamu miliki janganlah kamu menganiaya mereka. Karena keagungan Allah lebih tinggi dari kamu dan Dia Mahabesar dari segala sesuatu dan Dia kuat dari segala sesuatu, yakni Dia mampu membebankan pada seseorang,tetapi Dia melakukan itu dengan hak/kebenaran.

Ketiga, Allah meskipun ketinggian martabat dan keagungan-Nya, Dia hanya membebankan kamu pada perkara-perkara yang kamu mampu untuk itu. Maka kamupun janganlah memaksa perempuan-perempuan itu untuk mencintai kamu karena dia tidak memiliki kemampuan untuk itu. -Yakni, cinta-jelasnya- tidaklah ada pada wewenang manusia. Oleh karena itu, memaksa wanita untuk mencintai bahwa ini merupakan keterpaksaan, tidak-lah mungkin. Cinta adalah urusan hati.- Allah disebabkan ketinggian martabah-Nya apabila seorang berdosa bertaubah, maka Dia tidak menuntutnya,bahkan memaafkannya. Maka apabila ada perempuan yang berhenti dari ketidak itaatannya, maka sangat baik kamu mengakui taubahnya [kembalinya] dan berhenti menyakitinya..

Keempat, Allah meskipun keluhuran dan keagungan-Nya, dalam urusan hamba-hamba-Nya menganggap cukup apa yang nampak secara lahiriah, tidak membuka rahasianya. Kamupun hendaknya puas dengan keadaan zahir permpuan-perempuan itu dan beban cinta/kasih sayang yang ada di dalam hatinya kamu jangan mengungkit-ungkitnya.

Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:

Dari pihak perempuan-perempuan mana nampak gejala-gejala ketidak selarasan maka kamu pun nasehatilah mereka dan pisahlah tempat tidur dengan mereka. Dan pukullah, yakni,sesuai kondisi yang terjadi. Jadi,jika mereka menjadi itaat padamu, maka kamupun janganlah menyebut –nyebut nama talak dan janganlah berlaku takabbur karena keagungan hanya diakui untuk Tuhan. Yakni, di dalam hatimu jangan mengatakan. bahwa ini apa perlunya saya,saya bisa nikah lagi. Dan sikapilah dengan penuh bijaksana dan bersikap rendah hatilah karena Allah mencintai orang yang merendahkan diri.

Hadhrat Allamah Fakhruddin Razi berkenaan dengan:

 ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِير

surah Al-Haj ayat 63 dalam menafsirkan ini menulis :Apa kaitan ayat وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِير dengan topik yang lalu ? Kemudian beliau memberikan jawaban sbb:

 لْعَلِيُّ اَ –al-‘aliyyu artinya القاهر-al-qaahiru dan المقتدر-al-muqtadiru yakni, wujud yang unggul, memiliki kekuasan sedemikian rupa yang tidak bisa dikalahkan. Dengan membawa sifat ini Allah mengingatkan pada kita untuk meninggalkan semua sembahan –sembahan yang batil yang disembah karena harapan keuntungan dan dapat terhindar dari kerugian karena Dia-lah Yang kuasa pada untung dan rugi. Maksud sifat كبير-kabiyr -besar adalah yang agung dalam kekuasaan dan keunggulan/kemenangan. Dan sifat inipun menampilkan mafhum kesempurnaan kekuasaan.

Allamah Fakhruddin Razi dalam menafsirkan ayat surah Luqman : ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِير-beliau menulis: Bahwasanya maksud ayat وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِير-adalah, Dia memiliki keunggulan atas semua . Dan maksud firman-Nya  َ هُوَ الْعَلِيُّ adalah, Dia Mahatinggi di dalam sifat-Nya. Dan maksud firman Tuhan الْكَبِير –alkabiyr-Dia besar [Maha besar]dalam Zat-Nya.Dan hal ini menafikan hal [pemikiran] bahwa tubuh-Nya berada di suatu tempat. Karena jika kita memetik arti serupa itu, maka niscaya tubuh-Nya akan ada batasnya dan akan menjadi mungkin menetapkan wujud yang lebih besar dari Dia Jadi,dengan demikian suatu wujud yang telah diakui/imani akan dinyatakan kecil. Akan tetapi, Allah merupakan wujud yang مطلقا كبير-muthlaqan kabiyr- besar-Nya mutlak,yakni, seberapapun Dia bisa dibayangkan, dari itu pun Dia lebih besar.

Allamah Fakhruddin Razi dalam menafsirkan ayat surah Saba’ayat 24:

 وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ-beliau menulis:

Di dalam kalimah وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ, menunjukkan bahwa Zat-Nya dan sifat-Nya memiliki keunggulan di atas semua yang sempurna. Dan hal ini membatalkan keberadaan wujud-Nya secara jasmani dan membatilkan keberadaan wujudnya di suatu tempat tertentu.Dan jika wujud-Nya dalam bentuk jasmaniah maka akan memiliki suatu jumlah tertentu dan kemudian menetapkan sesuatu yang besar dari setiap jumlah merupakan hal yang mungkin terjadi. Dan benda itu secara keterikatan akan lebih besar dari yang lain dan yang lainnya, yakni secara perbandingan, sementara Tuhan adalah besar-Nya mutlak.

Dalam Luqas bab 18 tercatum sabda Hadhrat Masih Nasiri : Alangkah sulit masuknya orang-orang kaya di dalam kerajaan Allah [surga], lebih mudah keluarnya/masuknya sekor unta melewati lubang jarum. Nah, bukanlah maksudnya bahwa orang kaya itu pasti akan menjadi penghuni neraka,tetapi maksudnya hanya, orang kaya yang menyobongkan kekayaannya, dialah yang tidak akan bisa masuk ke dalam surga Namun, orang yang meskipun memiliki kekayaan yang banyak dia merendahkan diri dan mempunyai rasa solidaritas dengan orang-orang miskin,maka dia bukanlah orang yang diingkari akan masuk surga.

Hadhrat Khalifatul Masih 1: Keangkuhan merupakan seuatu yang sangat buruk. Pada suatu kali seorang raja Himayun menginspeksi tentaranya. Ketika melihat tentara yang sedemikian banyaknya, dia berkata: Sedemikian banyak jumlahnya tentara, dalam menghacurkannya pun Tuhan akan memakan waktu cukup lama Syekh Sahib yang berdiri di dekatnya segera berpisah sambil berkata,jelas ini merupakan orang yang tidak ada iman. Akhirnya, tiba zaman kehinaan orang-orang Himayun yang mana tempat untuk menyembunyikan kepala pun tidak mereka peroleh. Lalu dia lari ke Iran. Inilah balasan kalimah angkuh yang diucapkan.

Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Kalbu-kalbu yang dianugerahkan kepada hamba-hamba yang khas itu adalah dalam corak rasa rendah hati. Dan hati syaitan telah tercampuri dengan keangkuhan. Coba perhatikanlah nabi kita Muhammad saw ketika beliau menaklukkan Mekah, maka sedemikian rupa beliau menundukkan kepala dan bersujud sebagaimana dalam masa-masa sulit dan masa derita beliau menundukkan kepala dan bersujud, yakni ketika di Mekah inilah beliau ditentang dan disakiti dengan berbagai macam cara. Ketika beliau melihat bahwa dalam kondisi bagaimana saya pergi dari sini dan dalam kondisi bagaimana kini saya kembali kesini,maka hati beliau penuh dengan syukur kepada Tuhan.dan beliau bersujud,yakni, beliau bersujud di atas pelana atau sekedup unta beliau..

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s. bersabda:Manusia yang merupakan makhluk yang lemah kadang-kadang akibat buruk dari amal-amalnya dia menganggap dirinya besar dan timbul kesombongan dan keangkuhan di dalam dirinya. Manusia selama belum menganggap dirinya paling kecil di jalan Tuhan dia tidak bisa memperoleh kebebasan. Betapa tepatnya ungkapan seorang Kabiyr :Bhala huwa ham nic bhale har ko kiya salam dekho thee gar unce milta kaha Begwan- Yakni bersyukur kepada Tuhan bahwa kita lahir di rumah orang kecil dan jika kita lahir di marga yang tinggi, maka kita tidak akan bisa bertemu dengan Tuhan. Ketika orang-orang saling membanggakan pada zat/marga mereka yang tinggi ,maka Kabiyr dengan melihat zatnya yang bafinda/ rendah dia bersyukur -Bafinda disebut untuk seorang penenun . Kabiyr adalah seorang penenun-. Jadi dia bersyukur bahwa zat saya dianggap kecil/rendah.. Jadi, manusia setiap saat hendaknya melihat dirinya bahwa betapa saya tidak ada artinya. Apa artinya wujud saya. Setiap manusia betapapun tinggi marga/keturunannya,tetapi apabila dia akan melihat dirinya bahwa dalam setiap hal dia pasti dalam suatu sisi,dengan syarat dia memiliki mata maka dibandingkan seluruh makhluk dia pasti akan mengetahui dirinya tidak ada artinya. Manusia selama tidak bersikap akhlak terpuji kepada seorang tua yang tidak berdaya sebagaimana perlakuan lemah lembut dia terhadap seorang yang tinggi marganya, maka hendaknya perlakukan seperti itu atau selama tidak menghindarkan dirinya dari sifat sombong dan angkuh, maka sama sekali dan mutlak tidak akan bisa masuk di kerajaan Tuhan.

Ada suatu peristiwa Hadhrat Masih Mauud a.s. bahwa beliau tengah pergi dan seorang juru catat tanah /agraria juga bersama beliau. Maka seorang perempuan yang sangat tua, lugu menahan beliau di jalan. Juru catat itu dengan sangat angkuh memalingkan muka,yakni, siapa ini yang mencegat jalan kita ini. Hadhrat Masih Mauud a.s. disitulah berdiri dan mulai mendengar setiap perkataan orang miskin itu dengan penuh perhatian sehingga ucapannya selesai dan pegawai agraria itu terpaksa duduk berhenti di luar. Namun, merupakan kerendahan hati Hadhrat Masih Mauud a.s.bahwa sampai sedemikian tua dan miskinnya seseorang perempuan pun beliau dengar. Hadhrat Masih Mauud a.s. bersadba: Hendaknya orang yang tinggi marganya jangan mentertawakan marga yang kecil/rendah dan jangan ada yang mengatakan bahwa kelurga saya besar/mulia. Allah berfirman: Ketika kamu datang kepada-Ku,Saya tidak akan menanyakan padamu, kaum kamu itu apa ? Bahkan, pertanyaannya adalah amal kamu itu apa ? Begitu juga Tuhan saya berfirman : Hai Fatimah r.a,Tuhan tidak akan menanyakan akan zat mu.Jika kamu mengerjakan pekerjaan buruk, maka Tuhan tidak akan memaafkan kamu karena kamu anak seorang rasul.

Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:Pemerintahan dan kekayaan juga merupakan sebuah hijab. Jika kepada seorang yang kaya raya ada orang miskin mengucapkan assalaamu’alaikum,maka menujukan [salam itu] padanya dan mengucapkan wa ‘alaikum salam merupakan hal yang memalukan untuknya . Dan terfikir olehnya bahwa orang yang hina seperti ini kapan layak menujukan pembicaraan pada kami. Oleh karena itu, di dalam hadis tertulis bahwa orang yang miskin lima ratus tahun lebih dahulu masuk surga. Kami tidak mengetahui apa arti hadis ini.- Dan ini merupakan hal yang sangat penting bahwa lima ratus tahun lebih dahulu pergi/masuk tidak dapat dimengerti apa maksudnya. Dan Hadhrat Masih Mauud a.s.dengan jelas menulis bahwa arti hadis ini tidak bisa dimengerti, tetapi pada kata-kata hadis ini kita beriman.. Dan ada satu pembahasan juga bahwa pensucian jiwa orang-orang miskin Tuhan sendiri yang melakukannya.

Hadhrat Masih Mauud a.s. menambahkan : Pada hak-hak Allah juga para hartawan menemuai kesulitan. Arogansi dan egoisme menjadikan mereka luput/mahrum. Misalnya, pada waktu shalat berdiri di dekat orang yang miskin untuknya merupakan suatu aib. Mereka tidak bisa mengajaknya duduk di dekatnya. Yang karenannya mereka menjadi luput dari hak-hak Allah. Karena Mesjid-mesjid pada dasarnya merupakan rumah orang-orang miskin dan pergi di dalamnya mereka anggap bertentangan dengan kemuliaan mereka. Dan dengan demikian mereka tidak bisa mengambil bagian yang khas-khas dalam haqqul’ibaad-hak-hak makhluk.Orang miskin selalu siap untuk setiap pengkhidmatan. Mereka bisa memijit kaki, membawa air, mencuci kain sehingga jika mereka mempunyai kesempatasn untuk membersihkan kotoran sekalipun, itu mereka tidak akan tolak.Akan tatapi, para hartawan menganggap pekerjaan yang seperti itu sebagai yang tidak layak. Dan dengan cara demikian dari itupun mereka menjadi luput. Walhasil, kekayaan juga dapat menahan manusia meraih banyak kebaikan-kebaikan. Inilah sebabnya apa yang tertera dalam hadis bahwa orang miskin 500 tahusn lebih duluan akan masuk surga.

Kemudian Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:Di dalam diri para hartawan banyak bagian takabbur yang melekat pada mereka. Yang karenanya mereka tidak bisa melakukan ibadah dan tidak pula bagian kedua, yaitu pengkhidmatan makhluk bisa mereka laksanakan. Kondisi pengkhidmatan terhadap makhluk sedemikian lemah sehingga jika ada orang yang miskin mengucapkan salam padanya, maka itu dianggap suatu keburukan. Dan begitu juga kondisi perempuan-perempuan. Kalau ada perempuan yang kecil[ rendah marganya] maka hendaknya kepada yang besar menyampaikan salam,yakni ke dua penggalan ini merupakan syareat,[timbal balik] yakni,حقوق الله– haqquwqullah- hak-hak Allah dan hak-hak manusia.Lihatlah kepada Rasulullah saw, berapa banyak umur yang beliau lewati dalam pengkhidmatan dan lihatlah kondisi Hadhrat Ali,betapa banyak tambalan yang beliau tempelkan sehingga tidak ada tempat yang tersisa .Hadhrat Abu Bakar Siddik r.a.selalu memberikan makan makanan manis/lezat pada seorang perempuan tua yang beliau telah jadikan sebagai kebiasaan beliau.Dan begitu juga halnya yang lain hendaknya mengkhidmati makhluknya.Walhasil, kasih sayang pada ummat manusia dan mempunyai rasa solidaritas merupakan ibadah yang sangat besar. Dan untuk memperoleh keridhaan Ilahi ini merupakan sarana yang sangat luar biasa. Namun,saya melihat pada aspek ini sangat banyak kelemahan dan orang lain diangggap hina dan dicemohkan. Memelihara mereka dan membantu mereka dalam suatu musibah dan kesulitan merupakan hal yang besar. Orang-orang yang tidak bersikap baik kepada orang-orang miskin, bahkan menganggap mereka hina, dikhawatirkan bahwa dia sendiri akan terjerat dalam musibah itu. Barangsiapa yang telah dianugerahi karunia,maka sebagai tanda terima kasihnya hendaknya berlaku baik kepada makhluknya. Janganlah takabbur pada anugerah-anugerah Ilahi dan janganlah menginjak-injak orang-orang yang miskin seperti orang yang berperangai buas.

Kamudian Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Kamu tidak akan dirterima disisi-Nya selama lahir dan batinmu tidak sama Yang besar hendaknya mengasihi yang kecil bukan malah menghinakannya. Dan jika dia seorang yang berilmu hendaknya menasihatkan padas yang tidak berilmu dan bukan sebaliknya pamer diri dan menghinanya.Dan sebagai seorang hartawan khidmatilah yang miskin bukan dengan egois berlaku takbbur padanya. Takutlah pada jalan kehancuran,.takutlah selalu pada Tuhan dan bertakwalah.Betapa malang nasibnya orang yang tidak mempercayai hal yang telah keluar dari firman Tuhan yang telah saya terangkan. Jika kamu menghendaki bahwa Tuhan yang di langit redha kepadamu maka bersatulah bagaikan dua bersaudara dari perut seorang ibu. Orang yang lebih mulia diantara ialah yang lebih banyak memaafkan dosa saudaranya.Dan sangat malang sekali orang yang yang keras kepala dan tidak memaafkan.

Ilham Hadhrat Masih Mauud a.s. 3 Desember 1896: Sebagaimana Jalsah agama-agama yang akan digelar di Lahore 26-27-28 Desember.1896, di dalam itu sebuah artikel hamba yang lemah ini, yang berkenaan dengan kesempurnaan-kesempurnaan dan mu’jizat-mu’jizat Al-Quran akan dibacakan. Ini merupakan artikel yang lebih hebat dari kemampuan manusia dan merupakan sebuah tanda dari antara tanda-tanda Ilahi dan khas ditulis dengan dukungan-Nya.

Dan ketika Tuhan Yang Maha mengetahui berkenaan dengan ilham berfirman bahwa ini merupakan artikel yang akan unggul di atas semua artikel yang ada. Dan di dalamnya terdapat nur kebenaran,hikmat dan makrifat dan dengan syarat kaum-kaum yang lain hadir mendengarkan mulai dari awal sampai akhir,maka mereka akan menjadi malu.Dan mereka sama sekali tidak akan mampu untuk memperlihatkan dari kitab mereka kesempurnaan ini,baik yang Kristen maupun Sanatahan Dharem atau yang lainnya.Karena Tuhan telah menghendaki bahwa pada hari itu manifestasi kitab-Nya yakni, Al-Quran akan menjadi zahir. Berkenaan dengan itu, di dalam alam kasyaf,saya melihat bahwa di atas istana saya dipukulkan suatu tangan dari gaib dan karena sentuhan tangan itu keluar memancar seberkas sinar yang menyebar ke sekelilingnya dan sinarnya menerpa ke dua tangan saya. Baru orang yang berdiri di dekat saya berbicara dengan suara yang lantang :الله اكبر خربت خيبر-allaahu akbar kharibat khaibar.Ta’birnya ialah bahwa maksud istana itu adalah hati saya yang merupakan tempat turun dan masuknya nur-nur dan nur itu adalah makrifat-ma’rifat Al-Quran. Dan maksud khaibar adalah agama-agama yang rusak yang di dalamnya telah terkontaminasi syirik dan kebatilan.,yang telah mendudukkan seorang manusia pada kedudukan Tuhan atau sifat-sifat Tuhan telah dijatuhkan dari tempatnya yang sempurna.

Jadi, saya telah diberitahukan bahwa setelah tersebarnya artikel ini secara menyeluruh akan terbuka hijab kedustaan agama-agama palsu dan kebenaran Al-Quran hari demi hari akan terus tersebar hingga menyempurnakan ruang lingkupnya. Kemudian dari kondisi kasyaf ini dialihkan pada ilham. Turun ilham kepada saya ان الله معك ان الله يقوم اينما قمت -innaallaah ma’aka innaallaah yaquwmu ainama qumta.Allah beserta engkau Tuhan berdiri/berada dimana engkau berdiri/berada.Ini merupakan bahasa kiasan dukungan Ilahi.

Kemudian ilham Hadhrat Masih Mauud a.s. tanggal 27 Mei 1905:

عبد القادر رضي الله عنه. ارى رضوانه. والله اكبر –abdulqadir radhiallaahu ‘anhu araa ridhwaanahu alllaahu akbar.-Berkenaan dengan wahyu pertama bersabda:Allah untuk saya tidak lama lagi akan menzahirkan kekuasaan-kekuasaan-Nya. Untuk itu Dia telah memberikan nama Abdulqadir kepada saya. Kata رضوان-ridhwan menunjukkan bahwa ada sebuah amal/pekerjaan yang tidak lama lagi akan zahir dari Tuhan,yang karenanya akan terbukti,dan akan menjadi terang di dunia bahwa Tuhan ridha pada saya. Di dunia juga apabila raja redha kepada seseorang maka secara peraktik juga ada sedikit tanda zahir dari keredhaannya itu;artinya, saya melihat amal-amal yang menzahirkan keridhaan-Nya.

Bagi orang –orang mu;min keridhaan Allah merupakan hal yang sangat menarik. Ada di dalam sebuah hadis bahwa apabila orang-orang mu’min akan dimasukkan di dalam surga maka akan ditanyakan pada mereka: Kini mintalah apa yang engkau ingin pinta. Maka mereka akan berkata : Hai Tuhan redhalah kepada kami.Maka akan dapat jawaban bahwa jika saya tidak redha pada engkau maka bagaimana Saya memasukkan engkau ke dalam surga.

Qamaruddin Syahid