Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 17 Hijrah 1392 HS/Mei 2013 di Masjid Baitur Rahman, Vancouver, Kanada. Setelah azan, beliau naik mimbar mengucap ‘Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah kemudian

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Terjemahan dari ayat ini adalah, “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan hari kemudian, dan tetap mendirikan shalat, dan membayar zakat, serta ia tidak takut kecuali kepada Allah Ta’ala maka mudah-mudahan mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah [9]: 18)

Hari ini dengan karunia Allah Ta’ala di satu Provinsi di Kanada ini – British Columbia – Jemaat Ahmadiyah telah mendapatkan taufik untuk membangun masjidnya. Meskipun diantara saudara-saudara ada beberapa keluarga yang telah sejak 40 tahun lebih tinggal di sini atau bahkan mungkin 50 tahun – dan bagaimana pun juga 25 atau 30 tahun terakhir jumlah orang-orang yang tinggal di sini telah cukup banyak – akan tetapi baru sekaranglah taufik untuk mendirikan masjid itu saudara-saudara dapatkan.

Pentingnya Keberadaan Masjid

Meskipun sebelumnya telah berdiri sebuah pusat (markaz), sebuah hall untuk melaksanakan shalat dan rumah misi, dan mungkin hal inilah yang menyebabkan kurangnya perhatian Saudara-saudara untuk membangun sebuah masjid yang sebenarnya – meskipun dari segi keperluan untuk tarbiyat dan tempat berkumpul bagi para anggota jemaat sampai suatu batas tertentu telah terpenuhi —  akan tetapi masjid memiliki kepentingan dan urgensinya tersendiri. Menara, kubah, dan arsitektur masjid itu sendiri memiliki pengaruh yang khas bagi para anggota Jemaat, lingkungan sekitar maupun para ghair Ahmadi. Dengan adanya masjid, terbuka jalan-jalan baru untuk memperkenalkan Islam dan tercipta jaringan-jaringan baru untuk pertablighan. Inilah alasannya mengapa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah dengan sedemikian rupa mengarahkan perhatian kita ke arah hal pembangunan masjid ini, ketika di suatu tempat Jemaat ini telah bersatu, maka di sana akan muncul peluang-peluang dalam hal pertablighan. Memang beliau pun bersabda bahwa tidak masalah jika masjid itu sederhana atau pun kecil, tapi penting supaya masjid itu dibangun.[2]

Oleh karena itu mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa mengapa kita membangun masjid yang begitu besar? Karena saat ini tuntutan untuk mendirikan masjid dari banyak Jemaat terus meningkat, dan sebagian diantaranya tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk membangunnya sendiri, jadi markaz nasional harus membantu mereka. Jadi mungkin ada pemikiran bahwa jika dibangun masjid yang lebih kecil, maka dengan jumlah uang yang sama maka akan lebih banyak masjid bisa dibangun. Akan tetapi jika kita memperhatikan prinsip dasar maka mungkin pertanyaan seperti itu tidak akan muncul, dan prinsip itu adalah: Innama al-a’maalu bi al-niyyaat, bahwa ganjaran perbuatan apa pun didasarkan pada niat-niatnya.

Makna “Memperluas tempat tinggal”

Vancouver adalah kota terbesar di British Columbia. Jumlah Ahmadi di Provinsi ini pun saya rasa di kota inilah yang paling banyak. Dan saya rasa berdasarkan jumlah Ahmadi yang tinggal di sini pun ini bukanlah sebuah masjid yang besar. Dan kemudian jalan-jalan pertablighan yang Allah Ta’ala dengan karunia-Nya telah bukakan kepada kita, hal ini juga menuntut kita supaya tempat kita pun hendaknya luas. Perluasan tempat-tempat milik kita juga adalah penting, karena ini berdasarkan ilham Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang mana Allah Ta’ala berfirman kepada beliau : “وسِّع مكانَك” wassi’ makaanaka, yakni “perluaslah tempat tinggal engkau.”[3]

Perluasan tempat yang dimaksudkan di sini bukan hanya untuk menampung para tamu saja, bukan juga dikarenakan adanya kunjungan orang-orang dan adanya Jalsah, akan tetapi adalah penting juga untuk terus memperluas masjid kita. Ini adalah merupakan ilham, dan perluasan masjid-masjid juga termasuk dalam konteks ilham ini. Di zaman ini Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah dipanggil oleh Allah Ta’ala sebagai Ibrahim.[4]

Melalui Hadhrat Ibrahim a.s., Ka’bah telah dibangun. Pondasi dari Rumah Allah yang pertama ini telah direkontruksi kembali untuk menegakkan Tauhid dan sesuai dengan janji Allah Ta’ala melalui Hadhrat Masih Mau’ud a.s. lah dunia akan mengetahui dan terus mengetahui – sungguh tidak ada keraguan mengenai hal ini – bahwa kebangkitan Islam untuk yang kedua kalinya adalah terjadi melalui perantaraan beliau, dan di zaman ini dari segi rohani melalui  Hadhrat Masih Mau’ud a.s. lah tujuan dari pembangunan Ka’bah ini akan terpenuhi dan dunia akan mengetahuinya.

Tujuan dari pembangunan masjid adalah supaya orang-orang bisa berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan Yang Satu, dari segi ini pun hendaknya kita perlu memberikan perhatian terhadap pembangunan masjid. Jadi, sebagaimana yang telah saya katakan bahwa sesuai dengan sabda Hadhrat Rasulullah s.a.w. hal yang pokok adalah niat, yang dengan berlandaskan padanya amalan-amalan dikerjakan. Dan niat kita adalah untuk menegakkan Tauhid ilahi, menyebar luaskan pesan-Nya, membawa sebanyak mungkin orang-orang ke bawah naungan bendera ke-Esa-an Tuhan, menciptakan revolusi ruhani terhadap kondisi diri kita sendiri dan anak keturunan kita, dan sambil menciptakan revolusi ini kita hendaknya menjadikan diri kita sendiri dan anak keturunan kita tunduk di hadapan Tuhan. Kita harus menggunakan segala upaya untuk menegakkan shalat-shalat kita dan mengisi masjid untuk tujuan ini dengan cara sedemikian rupa sehingga masjid-masjid itu mulai tampak terlalu kecil.

Jadi, ketika niat seperti ini ada, maka masjid-masjid yang tampaknya besar, tidaklah akan terlihat untuk pamer, akan tetapi untuk meraih ridha Allah Ta’ala —  dan saya yakin bahwa saudara-saudara yang tinggal di sini, yang akan memakmurkan masjid ini – jika menunaikan hak masjid dengan niat seperti ini, maka ketika Saudara-saudara berhasil menyebarkan pesan-pesan Islam-Ahmadiyah, Saudara-saudara juga secara bersamaan akan maju secara rohaniah, dan dengan menghubungkan anak-anak saudara-saudara dengan Tuhan Yang Esa. Saudara-saudara akan menjadi orang-orang yang meningkatkan kehidupan mereka di dunia dan akhirat. Saudara-saudara juga akan meraih ridha Allah Ta’ala dan melihat karunia Allah Ta’ala menghujani Saudara-saudara. Dan ketika Allah Ta’ala telah menghujani orang dengan karunia-Nya, ketika niatnya murni untuk meraih ridha-Nya, maka di setiap kota Allah Ta’ala akan mengaruniakan kemampuan kepada orang-orang untuk membangun beberapa masjid.

Jadi, kini niat-niat Saudara-saudara hendaknya adalah, “Kami tidak akan menunggu 30 atau 40 tahun untuk membangun masjid berikutnya, akan tetapi akan melangkah membuat masjid ini dan banyak masjid serupa lainnya yang  dibangun dengan maksud menjadikannya terlalu kecil karena menampung semua jamaah. Kami akan memakmurkan masjid ini, memenuhi tuntutan beribadah kepada Allah Ta’ala, dan menjadikan seluruh segi kehidupan kami sesuai dengan perintah-Nya, sehingga meningkatnya kebutuhan untuk memperluas masjid itu akan menjadi sarana untuk menarik lebih banyak lagi karunia Allah Ta’ala.”

Keutamaan Pembangunan Mesjid

Ringkasnya, jika kita meresmikan masjid ini dengan niat seperti itu, maka jelas kita telah membuat upaya untuk menebus karena membangun masjid ini untuk waktu yang lama, dan daerah-daerah di mana belum ada masjid yang dibangun, dengan peresmian masjid ini, juga akan timbul perhatian terhadap tugas penting ini dan ini juga akan berfungsi untuk menebus waktu lama yang Saudara-saudara perlukan untuk membangun masjid ini.

Hendaknya selalu diingat, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, bahwa masjid memiliki kepentingan dan signifikansi tersendiri, dan pusat, rumah misi atau hall tidak dapat mencapai ketinggian yang diperoleh masjid. Ya, memang benar bahwa hall atau pusat memungkinkan Jemaat untuk memiliki tempat untuk berkumpul, tetapi hubungan keruhanian yang diperoleh seseorang dengan berada di masjid dan emosi yang ditimbulkan oleh sebuah masjid, itu tidak dapat terwujud tanpa sebuah masjid yang layak. Ini adalah bagian dari sifat dasar manusia.

Jadi di mana saja tanah telah dibeli, buatlah masjid yang layak daripada membuat hall (ruang pertemuan serbaguna). Saya mendengar tentang sebuah tempat di Kanada di mana mereka memiliki beberapa tanah dan mereka telah memutuskan untuk membangun sebuah hall dengan uang yang mereka punya, tapi saya bersyukur kepada Allah Ta’ala, karena mereka telah mengubah keputusan mereka ketika diminta untuk menimbang masalah itu lagi. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik untuk dapat membangun masjid kepada Jemaat-Jemaat di berbagai tempat yang sedang mempertimbangkan untuk membuat masjid.

Memang benar bahwa begitu masjid dibangun maka jalan baru terbuka untuk menyampaikan pesan Islam-Ahmadiyah. Pada akhir Maret saya meresmikan masjid di Valencia, Spanyol dan sekarang laporan sampai kepada saya bahwa orang-orang non-Muslim bertanya tentang Islam dan juga orang-orang Muslim ghair Ahmadi datang untuk mengerjakan shalat dan memperoleh pengetahuan tentang Jemaat. Insya-Allah, dari antara mereka, ada orang-orang yang berfitrat baik, yang akan diberikan taufik untuk menerima pesan Islam-Ahmadiyah dan masuk ke dalam Jemaat ini.

 

Tugas Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam

Dari antara tugas yang Allah Ta’ala telah tetapkan untuk Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pertama adalah memberitahukan tentang ajaran Islam yang sebenarnya kepada kaum Muslimin dan mereka dikumpulkan ke dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w., dan dan syariat yang beliau bawa itu supaya dikembangkan. Allah Ta’ala, telah memerintahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. melalui wahyu, “…Kumpulkanlah semua umat Islam di muka bumi ini ‘alaa diinin waahidin, yakni pada satu agama yang benar.”

Dalam menjelaskan wahyu ini Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Bahwa perintah untuk mengumpulkan semua umat Islam yang hidup di muka bumi ini adalah perintah khusus.” Kemudian, mengutip contoh dari Hadhrat Ibrahim as., Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyatakan bahwa, “Allah Ta’ala telah memerintahkan api untuk menjadi dingin dan sarana keamanan bagi beliau dan demikianlah yang terjadi, jadi perintah ini saya pahami merupakan jenis yang sama. Allah Ta’ala menghendaki agar umat Islam yang hidup di bumi ini harus dikumpulkan pada satu agama yang benar dan ini memang akan terjadi dan mereka pasti akan dikumpulkan. Tapi ini tidak berarti bahwa dalam hal ini benar-benar tidak akan ada penentangan sama sekali, penentangan akan tetap ada, akan tetapi itu akan sedemikian rupa sehingga tidak akan layak untuk disebutkan atau diindahkan.”[5]

Jadi sekarang, jalan kepada petunjuk bagi semuanya, baik Muslim maupun non-Muslim, hanyalah melalui Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Di negeri ini, dan di kota ini, ratusan ribu umat Islam tinggal dan tentu saja masjid ini akan menarik perhatian mereka dan juga pembangunan masjid ini akan menarik komentar positif dan negatif dari Muslim maupun non-Muslim. Hal ini akan membawa banyak peluang baru untuk menyampaikan pesan-pesan Islam Ahmadiyah dan anda harus mempersiapkan diri untuk ini juga. Ringkasnya, pembangunan masjid ini akan terus meningkatkan tanggung jawab Saudara-saudara.

Menyiapkan Kualitas Moral dan Pengetahuan Agama

Jelas ketika Saudara-saudara akan mempersiapkan diri untuk menyampaikan pesan-pesan Islam-Ahmadiyah, Saudara-saudara harus meningkatkan kualitas moral Saudara-saudara serta meningkatkan pengetahuan Saudara-saudara tentang hal yang berkaitan dengan agama, dan ini sangat penting. Jika Saudara-saudara tidak melakukanya maka karena tidak adanya kesesuaian antara kata-kata dan perbuatan tidak seorang pun akan mau mendekati Saudara-saudara. Dengan dibangunnya masjid, hal ini akan membukakan pintu-pintu keberkatan  secara perseorangan, yang akan terus meningkatkan keyakinan orang-orang yang beriman. Dan adapun berkat yang ditarik secara umum oleh seluruh Jemaat dengan pembangun masjid ini adalah Allah Ta’ala dengan karunia-Nya menurunkan keberkatan-keberkatan yang membuat manusia menjadi takjub.

Allah telah membahas masalah masjid di beberapa tempat dalam Al-Quran. Al-Quran membahas topik kemuliaan dan kehormatan masjid. Al-Quran juga telah menyampaikan topik mengenai tujuan masjid dan telah menjelaskan dengan gamblang karakteristik orang-orang yang meramaikan (memakmurkan) masjid Allah. Saat ini, ayat Al-Quran yang telah saya bacakan di depan Saudara-saudara, di dalamnya membahas tentang orang-orang yang meramaikan masjid.

Hal pertama yang dikemukakan adalah bahwa mereka yang memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah. Tapi hanya mengatakan bahwa kita beriman pada Allah Ta’ala tidaklah cukup. Iman yang disebutkan di sini juga memiliki beberapa standar yang Allah Ta’ala telah tetapkan. Allah Ta’ala berfirman bahwa jika Saudara-saudara menegakkan standar keimanan tersebut, barulah Saudara-saudara akan dihitung termasuk diantara mereka yang sempurna keimanannya, jika tidak demikian maka iman Saudara-saudara tidak akan sempurna.

Misalnya, Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran (QS. 49:15), “قالت الأعراب آمنا” “qaalatil a’raabu aamanna,” yang berarti, “orang-orang Arab padang pasir berkata, ‘Kami telah beriman’ – yakni, orang-orang yang pada kenyataannya tidak berperadaban dan berpendidikan itu, atau berderajat rendah, yang oleh karenanya mereka tidak memperoleh kemajuan dalam hal ajaran Islam dan perhubungan dengan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala menjawab kepada mereka, قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا ‘Qul lam lam tu’minuu wa Laakin quuluu aslamna, “yang berarti,” Katakanlah, “Kalian  belum beriman, tapi katakanlah, ‘Kami telah menerima Islam.’ (QS.49:15). Yakni, Allah memerintahkan kepada Rasulullah s.a.w. untuk memberitahu mereka supaya tidak mengatakan bahwa mereka telah beriman tetapi mengatakan bahwa mereka telah patuh secara lahiriah, dan ini bisa karena berbagai alasan.

“Keindahan yang Baru” dan Arti “Orang Beriman”

Jadi membaca syahadat, kemudian membuat kemajuan dalam kondisi keyakinan seseorang, dan mengembangkan hubungan yang lebih kuat dengan Allah dan memberikan perhatian pada ibadahnya, selalu siap untuk melakukan segala macam pengorbanan untuk meraih ridha Allah, dan membuat pengorbanan seperti itu, menjalankan semua perintah-Nya, ini adalah hal sebenarnya yang harus dilakukan seseorang setelah menerima Islam, dan yang harus ada dalam diri seorang mu’min, seorang mu’min sejati. Ini harus ada dalam diri orang yang telah menerima Imam Zaman dan telah menjadi seorang Ahmadi. Dengan kata lain seorang Ahmadi di setiap harinya harus menunjukkan keindahan yang baru dalam hal kemajuan ruhaninya.

Seseorang harus merasakan kemajuan ruhaniah  itu dalam dirinya. Mengenai hal ini Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Mu’min (orang beriman) adalah orang-orang yang tindakannya menjadi saksi atas keimanan mereka. Iman mereka tertulis di hati mereka, dan mereka menjadikan meraih ridha Allah hal yang paling penting dan menetapkan hal ini sebagai prioritas tertinggi atas semua hal-hal lain, dan demi Dia, mereka menapaki jalan halus dan jalan sempit ketakwaan. Mereka menjadi benar-benar larut dalam kecintaan kepadaNya, dan setiap berhala yang menghambat jalan mereka, entah itu kemerosotan moral atau kelemahan atau kelalaian lainnya, mereka menjauhkan diri dari semua hal semacam ini.”[6]

Jadi inilah standar yang kita harus berusaha untuk mencapainya, dan ketika kita telah mencapai standar-standar ini barulah kita berhak disebut sebagai orang yang telah beriman pada Allah Ta’ala. Definisi yang telah dibuat oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini, bahwa manusia harus menapaki jalan halus ketakwaan, ini adalah jalan yang mengharuskan kita melaksanakan kewajiban kepada Allah Ta’ala dan makhluk-Nya dan menundukkan setiap bagian tubuh kita terhadap perintah-perintah Allah Ta’ala. Sementara Saudara-saudara mencegah setiap bagian tubuh dari melakukan perbuatan-perbuatan yang salah atau jahat, Saudara-saudara juga harus memastikan untuk menjaga pikiran Saudara-saudara benar-benar murni dan terbebas dari segala macam kekotoran.

“Hati Terikat kepada Mesjid” dan Tugas-tugas “Duniawi”

Jika Saudara-saudara melakukan hal ini, maka dalam beribadah, dalam shalat, perhatian Saudara-saudara akan tetap fokus (konsentrasi) pada Allah Ta’ala, dan kemudian juga Saudara-saudara akan sukses dalam menegakkan shalat. Jika pikiran Saudara-saudara terjerat pada dunia dan kesenangannya maka Saudara-saudara tidak dapat mempertahankan fokus Saudara-saudara kepada Allah Ta’ala dalam shalat-shalat Saudara-saudara. Orang semacam ini mungkin tampak mengerjakan shalat, tetapi pikirannya mengembara di tempat lain.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa mereka yang tetap benar-benar larut (fana) dalam kecintaan kepada Allah adalah mu’min sejati. Nabi Muhammad s.a.w.  telah menggambarkan ini sebagai satu ciri mu’min, bahwa dari satu shalat sampai shalat berikutnya hatinya terus terikat dengan masjid. Orang semacam ini menunggu dari satu waktu shalat ke waktu berikutnya datang sehingga ia bisa kembali ke masjid.[7]

Tugas-tugas duniawi juga penting bagi setiap insan dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah membuat ini sangat jelas bagi kita dan telah memberitahu kita, ‘orang yang tidak menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dengan sebaik-baiknya, juga akan dimintai pertanggungjawaban.’[8]

Tidak peduli apa jenis pekerjaan itu, apakah itu bisnis, atau karyawan, pertanian atau yang lain, apa pun itu. Yang harus diingat adalah bahwa bahkan ketika menjalankan tugas tersebut, ia harus mengingat Allah sepanjang waktu,  dan jika ia mengingat Allah maka orang semacam ini akan merasakan bahwa tugas-tugas duniawi ini juga sedang dilakukan dan dilaksanakan dengan perintah Allah,  dan dengan demikian dia akan berusaha dan melaksanakan tugasnya dengan penuh kesetiaan dan kejujuran, dan orang semacam ini akan berusaha serta tidak mengambil bentuk keuntungan yang tidak benar atau melanggar hukum dari situasi seperti itu. Kegiatan duniawi orang tersebut kemudian juga termasuk sebagai bagian dari kegiatan keagamaan atau keruhanian, karena orang semacam ini selalu memikirkan untuk meraih ridha Allah Ta’ala dan selalu mengingat nama-Nya.

Contoh-contoh luhur yang para Sahabat telah tegakkan bagi kita bukan hanya supaya kita dapat menikmati dengan mendengar tindakan dan teladan mereka. Tujuan mereka bukan untuk dipuji karena teladan amalan luhur mereka. Mereka tidak membutuhkan kekaguman atau pujian kita, Allah Ta’ala sendiri telah memuji mereka dan memberi mereka pengakuan-Nya sendiri bahwa Allah Dia ridha kepada mereka.

Jadi hendaknya diingat bahwa orang yang Allah Ta’ala ridha kepadanya, orang seperti ini tidak membutuhkan seorang pun untuk menyanjung dan memuji mereka, melainkan teladan mereka menjamin bahwa jika Saudara-saudara mengikuti jejak mereka dan mengikuti teladan mereka dan mengerjakan semua tugas-tugas duniawi Saudara-saudara — dengan mengingat bahwa tujuan Saudara-saudara hanya untuk membuat Allah Ta’ala ridha — maka Allah juga akan menempatkan Saudara-saudara di antara orang-orang yang berjalan di sepanjang jalur yang menuju pada ridha-Nya. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa jika Saudara-saudara ingin mencapai derajat tinggi keimanan, maka Saudara-saudara juga harus berusaha mencapai ketinggian akhlak, dan cara Saudara-saudara bisa menilai tingkat moral yang tinggi adalah dengan melihat bagaimana Saudara-saudara memenuhi hak-hak makhluk.[9]

Jadi hanya sekedar mengerjakan shalat, dan menjalankan tugas-tugas Saudara-saudara kepada Tuhan dalam pikiran Saudara-saudara sendiri tidak cukup dalam meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala, melainkan juga penting bagi seorang mu’min memberikan hak-hak masyarakat dimana ia tinggal. Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa Saudara-saudara juga harus menjaga diri terhadap kemalasan dan kelesuan karena ini juga menjauhkan orang dari Allah Ta’ala.[10]

Sebagian besar ketika Saudara-saudara bertanya pada orang-orang yang memiliki kesulitan mengerjakan shalat lima waktu — dan saya banyak bertanya pada orang-orang seperti itu — Saudara-saudara mendapati mereka berkata bahwa mereka merasa malas dan tidak memberikan perhatian yang sepantasnya.

Kemalasan ini membuat seseorang juga lalai terhadap kecintaan kepada Tuhan. Kecerobohan ini, kelalaian ini, perlahan tapi pasti menjauhkan seseorang dari agama dan dia juga kehilangan rasa takut terhadap Hari Kiamat dan rasa takut datangnya Hari Penghisaban dan harus hadir di hadapan Tuhan. Inilah sebabnya mengapa Allah telah menyebutkan iman kepada akhirat sebagai salah satu karakteristik dari orang-orang yang meramaikan (memakmurkan) masjid, yakni mereka yang datang ke masjid secara teratur. Inilah sebabnya mengapa kita diajarkan bahwa di akhirat nanti kita akan mendapatkan pahala dari hal yang kita lakukan di dunia ini.

Ibadah-ibadah yang dilakukan murni demi meraih ridha Allah Ta’ala, dan beriman kepada Allah di dunia ini dan menjadikan dirinya termasuk di antara orang-orang yang mendapatkan petunjuk, ini semua akan menghasilkan buahnya di akhirat dengan membuatnya mewarisi surga. Kemudian dikatakan bahwa orang-orang yang datang ke masjid secara teratur dan mengerjakan shalat lima waktu, juga memberikan pengorbanan harta, mereka membelanjakan hartanya di jalan Allah untuk mencari ridha-Nya.

Dengan karunia Allah Ta’ala, Jemaat Ahmadiyah memiliki semangat yang luar biasa dalam memberikan pengorbanan harta di jalan Allah. Setidaknya ada satu kelompok yang memberikan pengorbanan yang luar biasa. Dalam pembangunan masjid ini ada anggota yang telah mengorbankan ratusan ribu dolar. Ketika berkaitan dengan pembangunan masjid, bahkan Muslim non-Ahmadi juga membuat pengorbanan besar, tetapi ciri khas Ahmadi adalah bahwa ia memberikan pengorbanan secara teratur untuk membayar chandah, serta berpartisipasi dalam skema atau proyek khusus apapun yang disampaikan kepada mereka.

Inilah sebabnya mengapa pengorbanan mereka memiliki kedudukan yang sangat penting dan berharga, terutama di dunia materialistis saat ini dan terlebih lagi karena kondisi ekonomi saat ini. Semoga Allah terus memberkati pribadi dan harta benda semua orang yang memberikan pengorbanan tersebut. Tetapi hendaknya diingat, hanya dengan mengerjakan satu amalan saja tidaklah cukup untuk menjadikan Saudara-saudara bisa mencapai ketakwaan yang tinggi atau menjadikan iman Saudara-saudara sempurna. Memang bagi mu’min, seorang mu’min sejati, perlu bahwa ia menjalankan keduanya, kewajibannya kepada Allah dan makhluk Tuhan.

Kewajiban Terhadap Masjid, Takut dan Cinta dalam Ibadah

Di tempat lain, Al-Quran telah banyak menunjukkan sifat dan karakteristik dari orang-orang yang beriman, beberapa akan saya sebutkan secara ringkas, karena hanya dengan menjalankan hal ini seseorang bisa pantas disebut sebagai orang yang telah dibimbing ke jalan yang lurus dan disebut orang yang telah menjalankan kewajibannya kepada masjid. Allah Ta’ala, berfirman: والذين آمنوا أشدّ حبًّا لله Wal ladziina aamanuu asyaddu hubbal-lillaahi orang-orang mu’min, mereka paling mencintai Allah. (Surah Al-Baqarah [2]:166)

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa, “Titik klimaks dari cinta adalah ibadah dan inilah mengapa kata ‘mahabbat’ atau cinta, sejatinya adalah khusus untuk Allah saja.” Kemudian beliau bersabda bahwa, “Ibadah terdiri dari dua bagian: Satu, ia takut kepada Allah sebagaimana Allah harus ditakuti. Jadi rasa takut sejati kepada Allah membawa manusia kepada sumber mata air kesucian dan jiwanya meleleh dan mengalir ke arah Tuhan dan di dalam dirinya timbul corak penghambaan yang hakiki.” Jadi ini adalah salah satu bagian yang ada hubungannya dengan rasa takut yang menyebabkan hatinya meleleh dan sebagai akibatnya seseorang sujud di hadapan Allah dan berusaha menjalankan kewajiban menyembah Tuhan dan ia berusaha menjadi hamba sejati Allah. Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Bagian lain dari ibadah adalah bahwa manusia harus mencintai Allah sebagaimana Allah mesti dicintai. Inilah sebabnya dikatakan, والذين آمنوا أشدّ حبًّا لله ‘walladziina aamanuu asyaddu hubbal- lillaah’ (QS.2:166). Ia menganggap semua kecintaan duniawi bersifat fana (tidak kekal) dan menyatakan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan cinta sejatinya.

Ini adalah dua haq (kewajiban) yang Allah tuntut dari manusia berkaitan dengan diri-Nya. Untuk menunaikan kedua jenis hak ini, meskipun nampaknya setiap ibadah memiliki corak tersendiri, namun Islam telah mengatur dua jenis ibadah. Ketakutan dan kecintaan adalah dua hal yang tampaknya tidak mungkin bersama-sama. Bagaimana bisa seseorang yang takut pada si fulan juga mencintainya. Tetapi takut kepada Allah Ta’ala dan kecintaan kepada-Nya memiliki warna yang sama sekali berbeda. Sejauh mana seseorang maju dalam takut kepada Allah, sejauh itu pula cintanya kepada Allah juga meningkat; dan juga sejauh mana ia maju dalam cintanya kepada Allah sejauh itu pula takutnya kepada-Nya akan meningkat dan rasa takut ini akan menguasainya dan mencegahnya dari melakukan setiap perbuatan jahat dengan membuatnya membenci hal-hal itu dan semakin membawanya pada kesucian.”

Jadi ini adalah kedudukan yang harus diraih oleh seorang mu’min. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. melanjutkan dan menjelaskan kecintaan ini dan bersabda bahwa untuk mengembangkan rasa takut orang perlu melaksanakan shalat, dan untuk mengembangkan cinta orang perlu melakukan ibadah Haji. Tapi itu topik lain yang panjang.Bagaimana pun ini adalah kedudukan yang harus diraih oleh seorang mu’min sejati, sehingga rasa takut kepada Allah akan menjadi sarana untuk meraih kecintaan-Nya, dan ketika seseorang meraih tahap atau kedudukan ini maka manusia menjadi ‘aabid, yakni seorang hamba sejati dan menjadi orang yang dapat disebut menjalankan kewajiban terhadap masjid. Dan ini adalah kedudukan yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ingin lihat berkembang pada setiap orang yang telah menerima beliau.

Jadi dengan dibangunnya masjid ini kita perlu mengintrospeksi diri kita sendiri, dan menentukan sejauh mana kita menjalankan kewajiban menyembah Tuhan; dan menentukan sejauh mana kita memenuhi tuntutan bahwa kita mencintai Allah; dan melihat sejauh mana kita memenuhi kewajiban dan tugas kita masing-masing kepada orang lain, karena hak-hak ibadah tidak dapat dipenuhi tanpa ketakwaan, dan kita tidak dapat memperoleh ketakwaan sampai kita memenuhi dan menjalankan semua perintah Allah Ta’ala. Allah dalam Al-Quran Karim telah menurunkan banyak sekali perintah untuk perbaikan diri kita, yang mana merupakan kewajiban bagi seorang mu’min untuk melaksanakannya, barulah kemudian dia bisa disebut orang yang mendapat petunjuk.

Makna Kata ‘Asaa (Boleh Jadi)

Saya akan menjelaskan sebagian dari perintah-perintah itu, tapi sebelumnya saya ingin menjelaskan satu hal dalam ayat yang saya tilawatkan di awal khotbah. Ada dikatakan bahwa, فعسى أولئك أن يكونوا من المهتدين Fa ‘asaa ulaaika an yakuunuu minal muhtadiin yang berarti, “.. Maka boleh jadi merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang  yang mendapat petunjuk.” (QS.9:19)

Ini tidak berarti bahwa jika mereka melakukan hal-hal ini kemudian bisa saja mereka akan termasuk diantara orang-orang yang mendapat petunjuk. Bukan ini artinya, bahwa jika mereka melakukan hal-hal ini dengan niat baik maka bisa jadi mereka dapat dianggap telah mencapai tujuan mereka dll. Bukan ini masalahnya, orang yang tahu idiom Arab tahu bahwa kata (عسى) ‘asaa’ [mungkin, dapat saja, bisa jadi] ketika digunakan untuk Tuhan, itu berarti bahwa bagi orang-orang yang kuat dalam iman mereka, ikut serta dalam zakat dan pengorbanan harta lainnya demi meraih ridha Allah Ta’ala, mereka tidak takut kepada sesuatu pun di dunia ini selain kepada Allah Ta’ala, maka dia tentu (pasti) dalam pandangan Allah Ta’ala mendapat petunjuk, dan datangnya orang itu ke masjid dan shalat-shalatnya dan tindakannya menjalankan perintah-perintah Allah Ta’ala akan terus menyebabkan keimanan dan tingkat ketakwaan mereka terus meningkat.

Jadi beruntunglah orang-orang diantara kita yang dalam pandangan Allah Ta’ala termasuk diantara orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan terus menerus meraih kemajuan dalam hal kedekatan dengan-Nya. Saya juga akan menjelaskan berkenaan dengan beberapa tanggung jawab yang Allah Ta’ala telah embankan kepada kita, atau dengan kata lain perkara-perkara yang Allah Ta’ala telah perintahkan kepada kita.

Tanggungjawab “Umat Terbaik” dan  “Ucapan yang Santun”

Allah Ta’ala berfirman: كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ (Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin naasi ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billaahi) Yakni “Kalian adalah Jemaat terbaik yang diciptakan untuk kebaikan umat manusia, kalian memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah daripada keburukan, serta beriman kepada Allah Ta’ala. (Ali-Imran, [3]:111). Jadi di dalam ayat ini dijelaskan mengenai kelebihan-kelebihan yang dimiliki seorang Muslim sejati, yakni mencegah kemungkaran dan memberikan nasihat kepada kebaikan. Dan tugas ini tidak bisa dilaksanakan selama di dalam diri seseorang tidak ada kesesuaian antara perkataan dan perbuatannya. Jika amalan kita bertentangan dengan perkataan kita, maka jangankan terhadap orang lain, terhadap orang-orang di kalangan kita sendiri pun perkataan kita tidak akan ada pengaruhnya.

Sebagaimana yang telah saya katakan bahwa dengan berdirinya masjid ini juga akan terbuka jalan-jalan pertablighan. Akan tetapi apabila amalan kita tidak sesuai dengan apa yang difirmankan Allah Ta’ala maka kita bukanlah umat yang terbaik, tidak pula keimanan kita terhadap Allah Ta’ala itu benar, shalat-shalat kita pun tidak akan bermanfaat, pengorbanan-pengorbanan harta kita juga tidak akan diterima di sisi Allah Ta’ala, pendakwaan kita bahwa kita adalah orang-orang yang takut terhadap Allah Ta’ala pun tidaklah benar. Jadi, menjadikan amalan-amalan kita sesuai dengan perintah-perintah Allah Ta’ala adalah kewajiban kita yang pertama dan yang paling penting. Salah satu perintah Allah Ta’ala adalah: وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا ‘wa quuluu linnaasi husnaa’ Yakni, “berbicaralah kepada orang lain dengan lemah lembut dan santun” (Al-Baqarah [2]:84).

Pengamalan dari perintah ini yang paling utama tentunya hendaknya dilaksanakan di kalangan kita sendiri. Khususnya para pengurus hendaknya memberikan perhatian terhadap hal ini. Sebelum bertabligh ke luar, hendaknya kita memenuhi masjid-masjid kita dengan orang-orang yang seperti ini, yaitu para ‘ibaad al-shaalihiin, “yakni hamba-hamba-Nya yang shaleh”, yang menunaikan kewajiban beribadahnya semata-mata demi Allah Ta’ala. Akan tetapi terkadang terdengar keluhan bahwa sebagian pengurus memiliki sikap seperti ini, atau sebagian orang yang dalam pengakuannya menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang memiliki derajat ketakwaan tinggi, dan dia berbicara kepada orang lain dengan cara yang mengakibatkan orang lain terluka perasaannya, dan dengan demikian membuat mereka menjauh dari Jemaat. Orang-orang seperti ini alih-alih membuat masjid menjadi ramai, justru malah membuatnya menjadi kosong.

Jadi untuk menjadi khaira ummah (umat yang terbaik) yang pertama harus dilakukan adalah memperbaiki diri sendiri. Kemudian sebagaimana halnya yang biasa terjadi bahwa dengan adanya masjid-masjid maka jalan-jalan baru bagi pertablighan akan terbuka, di  sini pun (Vancouver) Insya Allah Ta’ala jalan-jalan pertablighan itu akan terbuka. Tanamkan dan perkuatlah kesan kepada orang-orang yang datang untuk melihat masjid dan para penduduk yang ada di lingkungan sekitar bahwa setiap amalan dan program yang dilaksanakan para Ahmadi adalah untuk kebaikan orang lain. Inilah kesan yang harus ditegakkan oleh seorang Ahmadi di dunia ini.

Ini adalah ajaran Islam dan Al-Quran al-Karim bahwa alih-alih untuk meraih keuntungan kita sendiri, malah kita harus memikirkan bagaimana caranya supaya dapat memberikan manfaat bagi yang lain, dan bukan hanya memikirkannya, bahkan mewujudkannya dalam bentuk amalan nyata, dan dengan dibangunnya masjid ini usaha-usaha tersebut hendaknya terus ditingkatkan. Allah Ta’ala dengan karunia-Nya telah membukakan jalan-jalan pertablighan. Terkadang kontak dan koneksi yang menakjubkan – yang tidak bisa didapat dengan usaha sendiri pun – bisa terjalin dan di sini juga Saudara-saudara akan melihat bahwa kontak dan koneksi (rabtah) seperti ini akan terjalin. Jadi kita harus memikat hati orang-orang yang merupakan koneksi kita tersebut dengan perkataan dan amalan kita yang mencerminkan keindahan ajaran Islam. sebagaimana yang telah saya katakan, bahwa untuk meraih ridha Allah Ta’ala Saudara-saudara harus senantiasa meningkatkan hubungan kecintaan dan kasih sayang satu sama lain. Kita harus memberikan perhatian khusus terhadap hal ini, karena ini pun sangat penting untuk pertablighan dan juga untuk memperkokoh Jemaat ini. Hal ini juga penting untuk meraih ridha Allah Ta’ala.

Semoga dengan berdirinya masjid ini Allah Ta’ala juga memperkuat Jemaat ini secara intern. Semoga kita menjadi orang-orang yang mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala dan juga termasuk diantara mereka yang memakmurkan masjid. Hati Saudara-saudara sekalian hendaknya senantiasa terikat dengan masjid sebagaimana yang diharapkan oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w. dari seorang mu’min. Semoga masjid ini menjadi masjid yang menarik karunia Allah Ta’ala dan semoga semua orang yang datang ke sini turut mendapatkannya, dan semoga dengan berdirinya masjid ini pintu-pintu baru pertablighan terus dibukakan.

Data Faktual Masjid

Sekarang saya ingin menyampaikan beberapa data yang berkaitan dengan masjid ini. Ini mungkin tidak terlalu menarik bagi masyarakat lokal tetapi orang-orang di seluruh dunia yang sedang menonton saya, saya yakin mereka ingin mendengarnya. Pengumuman pembangunan masjid ini dilakukan pada tahun 1997 oleh Hadhrat Khalifatul Masih IV ra. dan beliau juga menamakannya pada waktu itu Masjid Baitur Rahman.

Masjid ini terletak di tanah seluas sekitar 3,75 hektar dan memiliki gedung seluas 33.419 kaki persegi (±3104 m2). Masjid ini memiliki dua lantai dan sebuah kubah setinggi 47 kaki (±14,3 m), dan menara setinggi 76 kaki (23,1 m). Saat ini ruang laki-laki dan perempuan digabungkan dan luas gabungannya 6.800 kaki persegi (±632 m2) dan di ruang gabungan ini total 1.132 orang bisa mengerjakan shalat. Ada tempat parkir yang luas yang dapat menampung 140 mobil. Ada juga ruang serba-guna di mana 1.050 orang bisa mengerjakan shalat – jadi totalnya lebih dari 2.000 orang bisa shalat di masjid ini.

Ada juga perpustakaan, tabligh outreach centre, dapur, area pelayanan rumah duka [pelayanan kematian], empat ruang kelas, sejumlah kantor, ruang rapat, tempat tinggal mubaligh, dan guest house. Mereka telah menuliskan beberapa kaligrafi yang sangat indah di dalam masjid. Total biaya proyek, termasuk beberapa biaya tambahan yang penting, sebanyak pada C $ 8,5 juta.

Semoga Allah memberkati masjid ini untuk saudara-saudara semua dalam segala hal.

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam

Akhirnya saya ingin membacakan kutipan singkat dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Beliau bersabda: “Keindahan sejati masjid tidak dalam bentuk bangunannya tetapi sebenarnya keindahannya itu adalah pada jamaah yang mengerjakan shalat di dalamnya dengan penuh keikhlasan. Jika tidak demikian maka semua masjid ini menjadi sunyi senyap. Masjid Rasul Karim s.a.w. kecil dan atapnya terbuat dari pelepah kurma dan air bocor ke lantai ketika hujan turun. Keindahan masjid adalah pada para jamaahnya (orang-orang yang salat di dalamnya). Pada masa Nabi s.a.w. beberapa orang berpikiran duniawi membuat masjid, yang dirubuhkan atas perintah Allah. Nama masjid tersebut adalah “مسجد ضِرار” Masjid Dhirar, yakni masjid yang merugikan manusia. Masjid ini diratakan dengan tanah. Perintah yang berkaitan dengan masjid adalah bahwa masjid harus dibangun untuk tujuan ketakwaan.”

Jadi ini harus diingat oleh setiap Ahmadi.  Hadhrat Masih Mau’ud a.s. selanjutnya bersabda: “Jemaat harus memiliki masjid sendiri di mana harus ada Imam dari Jemaat kita sendiri yang akan menasihati dan membimbing orang-orang dan para anggota Jemaat semuanya harus berkumpul untuk mengerjakan shalat masjid ini. Ada berkat besar dalam Jemaat serta persatuan dan banyak kekacauan timbul dari perpecahan. Dan ini adalah saat ketika persatuan dan kebersamaan perlu dimajukan dan perbedaan-perbedaan kecil yang menyebabkan perpecahan hendaknya diabaikan.”

Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk membentuk hidup kita sesuai dengan instruksi tersebut. Amin.

Penerjemah : Muhammad Hasyim

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Malfudhat, Jilid IV, Hal. 93, Edisi 2003, Rabwah

[3]Tadzkirah, Hal. 246, Edisi IV, Rabwah

[4] Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain, Jilid. 1, Hal. 666

[5] Tadzkirah, Hal. 490, Edisi IV, Rabwah

[6] Majmu’ah Isytihaaraat, Jilid. 2, Hal. 653-654, Isytihaar No. 270, judul “Tabligh al-Haq”, Rabwah

[7] Sunan An-Nasai, Kitab al-Thaharat, Bab al-fadhlu li dzalik, Hadits no. 143

[8] Malfudhat, Jilid awal, Hal. 118, Edisi 2003, Rabwah

[9] Malfudhat, Jilid. IV, Hal. 216, Edisi 2003, Rabwah

[10]Majmu’ah Isytihaaraat, Jilid. II, Hal. 654, Isytihaar no. 270, dengan judul “Tabligh al-Haq”, Rabwah