Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 28 Tabuk 1391 HS/September 2012

Di Masjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Jum’at yang lalu ketika saya baru keluar dari mobil dan hendak masuk ke masjid ini untuk memimpin shalat Jum’at, saya melihat sejumlah besar perwakilan media telah berdiri di depan. Atas pertanyaan saya, Amir Sahib  (tuan Amir, pemimpin Jemaat di suatu negara) mengatakan, “Orang-orang Islam sedang menunjukkan reaksi terhadap film mengenai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[2], yang sangat melukai hati, yang dibuat di Amerika.  Mereka (perwakilan media) datang untuk melihat reaksi orang-orang Ahmadi mengenai film itu.” Saya menjawab, “Baiklah! Saya akan menjelaskan kepada mereka bahwa di tempat manapun saya menyampaikan khotbah mengenai tema itu, maka itulah yang akan menjadi reaksi dari orang-orang Ahmadi.”

Ini pun merupakan kerja Allah Ta’ala bahwa Dia telah menarik dan membawa sejumlah besar perwakilan media ke sini dan juga Dia telah memasukkan ke dalam hati saya [pikiran] untuk memberikan uraian dengan tema itu. Sebelumnya, saya berniat ingin menguraikan hal yang lain, tetapi sehari sebelumnya perhatian saya beralih, saya harus berbicara mengenai tema ini.

Bagaimanapun juga ini merupakan pekerjaan Allah Ta’ala. Dia melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Keadaan-keadaan setelahnya juga membuktikan bahwa terdapat pula dukungan Allah Ta’ala untuk berbicara mengenai tema ini. Beberapa perkara secara ringkas dapat disampaikan dalam waktu yang singkat.  Namun, apapun yang diuraikan, khulasah (kesimpulan)nya dan pesan yang ingin disampaikan, telah Allah Ta’ala sampaikan secara luas kepada orang lain selain Jemaat Ahmadiyah.

Wawancara dengan Wartawan Berbagai Media Cetak dan Elektronik

Setelah Shalat Jum’at, ketika saya keluar dari mesjid, Amir sahib mengatakan bahwa orang-orang media ingin berbicara secara langsung dua tiga menit dengan saya, serta ingin mengajukan pertanyaan. Saya katakan kepada beliau bahwa saya telah menguraikan semuanya dalam khotbah. Saya juga tadi melihat bahwa orang-orang media berdiri di atas, mengambil gambar dengan kamera, merekam juga, dan mendengar pula terjemahannya. Pesannya toh telah mereka dapatkan. Lalu, apa selebihnya yang mereka ingin dapatkan?

Namun, karena setelah beliau mengatakan hal ini kepada mereka, mereka tetap juga duduk di ruangan dalam dan [berharap] saya akan datang, maka karena hal itu saya mengatakan kepada mereka, “Baiklah, kita lihat nanti. Jika demi kemuliaan dan kehormatan Rasulullah s.a.w. kami harus menjelaskan hal lainnya, maka kami akan melakukannya. Jika dengan interview (wawancara) ini dari segi kedudukan beliau (Rasulullah s.a.w.) dan dari segi ajaran Islam ada pesan lebih baik yang bisa sampai kepada dunia, hal ini adalah baik. Maka saya akan menemui [orang-orang media].

Ketika saya masuk ke dalam ruangan, ternyata selain perwakilan dari surat kabar ada juga perwakilan dari chanel-chanel televisi, yang di dalamnya ada News Nigth yang berada dibawah pengaturan BBC, begitu juga perwakilan dari BBC, ada juga wakil dari TV Nasional Selandia Baru, TV Perancis, dan banyak lagi perwakilan-perwakilan lain yang ikut serta.

Perwakilan dari Selandia Baru yang duduk di sebelah kanan saya memperoleh  kesempatan pertama untuk bertanya. Ia mengajukan pertanyaan, “Apakah pesan yang Anda ingin sampaikan?” Saya mengatakan kepadanya, “Anda sekalian telah mendengar pesan itu.” Mereka mendengarkan rekaman khotbah, dan mendengar pula terjemahannya. Saya telah menjelaskan mengenai kedudukan dan martabat Rasulullah s.a.w.. Beliau memiliki kedudukan sangat tinggi dan uswah (teladan) beliau s.a.w. layak diikuti oleh setiap orang Islam.

Reaksi sedih dan marah kaum Muslimin, dari  satu segi  adalah baik, memang seharusnya, meskipun pengungkapannya di beberapa tempat ditampilkan dengan cara yang salah. Pandangan orang-orang duniawi tidak akan dapat sampai pada kedudukan Nabi S.a.w. di dalam hati kita. Karena itulah mereka tidak dapat merasakan sedalam apa dan sejauh mana kita merasakan kesedihan akibat hal itu. Gerakan-gerakan seperti itu akan menghancurkan keamanan dunia.

Penyebaran Ajaran Islam yang Hakiki

Salah seorang perwakilan dari Selandia Baru menekankan pada hal ini, “Ada mengatakan dengan kata-kata yang sangat keras bahwa orang-orang ini  akan masuk ke dalam neraka. Ini adalah kata-kata yang sangat keras dan Anda juga telah termasuk ke dalam orang-orang itu.“ [kalimat kedua] Tidak ada dalam kata-katanya, tapi dari nada pembicaraannya tujuannya terasa, karena ia berkali-kali mengulang pertanyaan itu.

Saya mengatakan kepadanya, “Orang-orang yang mengatakan perkataan demikian kepada orang yang dicintai Tuhan, berusaha untuk memperolok-oloknya, serta terus-menerus berbuat demikian, dan setelah dinasihati dengan segala cara tidak juga jera, serta terus saja menjadikannya sasaran perolok-olokan dan tertawaan, maka suatu takdir Allah Ta’alapun bekerja, dan azab pun bisa datang, Allah Ta’ala juga akan mencengkram orang-orang seperti itu.“ Wartawan tadi terdiam dan pergi. Tetapi nampak diapun merasa sedikit khawatir karena perkataan itu, dan dihinggapi rasa takut juga.

Berita-berita yang dikirimkannya ke Saluran TV Nasional Selandia Baru, berita itu disiarkan. Begitulah, untuk pertamakalinya ada berita mengenai Jemaat disiarkan di TV Nasional di sana. Jemaat di sanapun merasa senang karena di sana telah diperkenalkan berkenaan dengan khotbah saya, juga mengenai interview (wawancara) saya.

Kata-kata penterjemah khotbah ke dalam bahasa Inggris pun, yakni kata-kata, “Orang-orang ini akan masuk ke dalam neraka.“ Kalimat ini pun mereka perdengarkan dalam siaran berita mereka, dan telah direkam. Tapi dalam diri mereka ada kesopanan, yang kadang tidak terdapat pada perwakilan wartawan non-muslim lainnya atau tidak mereka perlihatkan. Allah Ta’ala telah memasukkan ke dalam hatinya [pikiran] untuk menghilangkan reaksi negatif yang dapat timbul dari kalimat tersebut kalau tanpa disertai dengan melihat siyaq sabaq  (koherensi), mereka menayangkan interview (wawancara) saya dengan TV dan diperlihatkan dalam kata-kata saya, di sana dia telah mengulangi perkataan yang saya sendiri terus sampaikan, bahwa kami tidak menyukai demonstrasi dengan kekerasan dan pengrusakan, dan kalian tidak akan pernah melihat seorang Ahmadi yang menjadi bagian dari reaksi keras dan merugikan.

Pembaca berita setelah memperlihatkan jawaban saya ini kemudian lebih lanjut dia mengulas bahwa Ahmadiyah adalah jamaah minoritas dari jamaah-jamaah dalam Islam dan mereka mendapat perlakuan yang tidak baik dari kaum muslimin. Kita lihat, pesan yang disampaikan oleh khalifah mereka apakah suara dan pesannya memberi pengaruh kepada orang-orang Islam lain selain orang Islam Ahmadiyah atau tidak?

Di sana, ia pun memperlihatkan protes kaum muslim lainnya yang merugikan, memperlihatkan para mullah yang sedang keluar dengan arak-arakan dan meneriakan yel-yel. Tetapi  sebagaimana telah saya katakan, melalui itu pesan Islam yang hakiki telah sampai ke Selandia Baru, dan melalui satelit telah sampai juga di negara-negara di sekitarnya, serta melalui website-websitenya telah pula sampai ke berbagai belahan dunia. Seandainya kita berusaha pun, pengenalan Ahmadiyah dan pesan Islam yang hakiki tidak akan tersampaikan sampai sebegitu rupa.

Kewajiban Jemaat Selandia Baru dan Reaksi Imam Jemaat Ahmadiyah yang Sangat Wajar

Saat ini, hendaklah Jemaat Selandia Baru berusaha keras untuk menyampaikan program pengenalan Ahmadiyah ke setiap bagian negara tersebut. Begitu pun negara-negara di sekitar Selandia Baru, mungkin mereka telah mendengar, Jemaat Selandia Baru pun haruslah membuat program yang besar untuk menyampaikan ke negara mereka, ajaran Islam yang hakiki berkenaan dengan sirat (perjalanan hidup) Rasulullah S.a.w..

Salah seorang perwakilan/wartawan dari Newsnight chanel TV yang ada di New Zealand (Selandia Baru) mengatakan bahwa dia telah melihat film itu, di dalamnya tidak terdapat hal yang harus sebegitu diributkannya, sehingga orang-orang Islam mesti memperlihatkan reaksi seperti itu, dan saya memberikan khotbah yang sangat rinci atas hal itu serta di beberapa tempat saya bereaksi dengan kata-kata yang keras. Ini kan hanya lelucon ringan saja.

 Innaa lillaahi, inilah standar akhlak orang-orang itu, saya mengatakan kepadanya, “Saya tidak  mengetahui bagaimana Anda sekalian memandang, apa standar Anda sekalian? Anda tidak mengerti akan kedudukan Hadhrat Rasulullah S.a.w. dalam pandangan dan dalam hati kaum muslimin, juga kecintaan yang terdapat di dalam hati kaum muslimin terhdap Rasulullah s.a.w..“ Saya mengatakan kepadanya, “Saya tidak melihat film itu, tetapi setelah mendengar satu dua hal yang dikatakan oleh orang yang melihat film itu kepada saya, hal itu tidak dapat ditolerasi, dan Anda mengatakan bahwa hal itu bukanlah apa-apa. Setelah mendengar hal ini, saya tidak memiliki keberanian untuk melihat film itu. Dengan hanya mendengar hal yang diterangkan di dalamnya saja, darah menjadi mendidih.“

Saya mengatakan kepadanya, “Jika ada orang yang mencaci-maki ayah Anda, menjelek-jelekkannya, mengatakan hal-hal yang sia-sia tiada berguna, maka apakah reaksi Anda berkenaan dengan itu? Apakah Anda akan mengatakan, ’ya‘ atau tidak? Kedudukan Hadhrat shalallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pandangan seorang Islam lebih  tinggi lagi dari itu. Tidak ada orang yang dapat sampai pada tempat itu.

Kemudian ia memulai lagi membicarakan film itu, maka saya katakan kepadanya bahwa saya telah katakan kepada dia, “Jika ada orang yang menentang ayah Anda, maka apa yang akan Anda katakan?“ Dia tidak memberikan jawaban ya atau tidak, tapi ia jadi terdiam atas pertanyaan itu. Jurnalis itu mungkin tidak memberikan kabar mengenai hal ini kepada media. Tetapi mengenai ucapan saya—Jika ada orang yang mencaci maki ayah Anda maka Anda akan berreaksi atau tidak?—media-media yang lain mengangkatnya di banyak tempat, mereka juga memasukkannya dalam website.

Ciri Istimewa Pandangan Jemaat Ahmadiyah

Bagaimanapun juga, sebuah surat kabar Pakistan berbahasa Inggris dan orang-orang yang memberikan berbagai macam pandangan di internet dan pada beberapa website surat kabar mengenai khotbah dan pertemuan dengan pers, telah sangat menyingkapkan pengenalan mengenai Jemaat Ahmadiyah kepada dunia, karena kebanyakannya menulis itu dengan kalimat-kalimat pujian yang sangat besar.

Tetapi ada juga pandangan-pandangan di internet yang menyatakan bahwa hal istimewa apa yang telah dikatakan oleh Mirza Masroor Ahmad? Apa yang dikatakan dikatakannya juga dikatakan oleh setiap orang yang bijak. Tetapi seorang Ahmadi menulis kepada saya, bahwa dia telah mendengar seluruh pandangan, melihat semua surat kabar, melihat juga semua penuturan para ulama dan para pemimpin. Mereka mengatakan banyak hal, namun seorangpun tidak ada yang memberikan perhatian untuk mengirimkan shalawat kepada Hadhrat Muhammad s.a.w.. Jadi perhatian ke arah ini hanya diberikan oleh Jemaat Ahmadiyah, bahwa salah satu reaksi yang harus dilakukan atas film itu adalah hendaknya sebanyak mungkin mengirimkan shalawat kepada beliau S.a.w..

Sebagian juga menulis bahwa orang-orang yang kalian katakan sebagai kafir itulah yang memperlihatkan reaksi yang Islami. Publikasinya sangat baik. Dengan demikian, hadirlah di hadapan dunia sebuah reaksi yang hakiki dari Muslim yang hakiki. Duniapun menjadi tahu ajaran hakiki Islam yang dikemukakan oleh Jemaat Ahmadiyah. Seluruh dunia dan dunia Islam memperoleh pesan bahwa reaksi yang benar dari seorang muslim hakiki itu apa, dan harus seperti apa.

Kewajiban Semua Jemaat dan Setiap Ahmadi dan

Petunjuk Hadhrat Khalifatul Masih al-Khaamis Atba. 

Seperti yang telah saya katakan, ini merupakan karunia dan dukungan Allah Ta’ala, bahwasannya telah ada ulasan pemberitaan seperti demikian, jika tidak, seandainyapun kita melakukan usaha kita sendiri, maka pengenalan Islam hakiki yang dikemukakan Jemaat Ahmadiyah  tidak akan diketahui oleh dunia, atau kita tidak akan bisa menyampaikannya secara luas.  Sekarang ini, meningkatkan hal itu, dan mengambil faedah dari pemberitaan tersebut merupakan tugas bagi setiap Jemaat dan setiap Ahmadi di manapun.

Sejauh pertanyaan mengenai tatacara dan petunjuk dari pusat untuk berusaha mengenai hal itu, saya telah menginstruksikan untuk menyebarkan khotbah tersebut. Jadi bisa saja petunjuk dan cara-cara yang diinstruksikan pusat kepada Jemaat-jemaat atau dari Jemaat-jemaat kepada anggota akan sampai dalam beberapa hari dan sedikit memakan waktu.

Namun semua Ahmadi yang sedang mendengarkan perkataan saya, hendaknya mereka menunjukkan keindahan ajaran Islam kepada dunia melalui amalan mereka mulai dari momentum yang telah Allah Ta’ala berikan ini, salah satunya seperti yang telah saya sampaikan dalam khotbah yang lalu. Bersama dengan itu, seperti yang telah saya katakan mengenai kantor pusat dan Jemaat-jemaat (lokal) juga, dengan penuh perhatian terjemahkanlah khotbah itu ke dalam bahasa masing-masing dan terbitkanlah secara luas.

Sebutkanlah juga mengenai [pemberitaan] pers, dan sampaikanlah pengenalan mengenai Islam kepada setiap orang yang berakal. Secara singkat itulah khotbah saya. Kemudian, di dalamnya hendaklah juga ditulis, bahwa jika ingin melihat berbagai segi keindahan sirat (perjalanan hidup) Hadhrat Rasulullah S.a.w., maka kami juga menyediakan literatur yang ditulis berdasarkan kenyataan dan sejarah bagi Anda sekalian, kami juga menyediakan dan dapat menyediakan buku-buku juga, begitu juga dengan website kami. Beritahukan juga kepada mereka bahwa ada juga berbagai Jemaat lokal-Jemaat lokal kami. Beritahukan mengenai website pusat dimana literatur-literatur ini ada.

Seperti yang telah saya katakan, mengenai itu sebelumnya pun saya sedang dan telah memberikan petunjuk. Beberapa orang juga memberikan sarannya agar publikasi pengenalan Jemaat di dunia yang bersumber dari khotbah dan tanya jawab dengan media tersebut, melalui sarana itu harus ada upaya sekuat tenaga untuk membuat segi-segi keindahan sirat (perjalanan hidup) Hadhrat Rasulullah S.a.w. menjadi terang benderang, dan hendaknya memanfaatkan publikasi tersebut.

Penyebarluasan Buku mengenai Biografi Rasulullah s.a.w.

Buku-buku Jemaat mengenai sirat (perjalanan hidup, biografi) Hadhrat Rasulullah s.a.w. hendaklah diletakkan di perpustakaan-perpustakaan di wilayah Anda. Contohnya di Eropa, di Inggris, dan di negara-negara yang berbahasa Inggris. Kemudian untuk kalangan tertentu harus menyediakan buku-buku itu secara gratis, maka itupun bisa dilakukan.

Secara khusus buku-buku yang sudah ada  terjemah Inggrisnya atau terjemahan dalam bahasa lain, seperti telah saya katakan, hendaklah buku-buku tersebut disebarkan dalam jumlah banyak.  Contohnya buku Hadhrat Khalifatul Masih Tsani, “Life of Muhammad” (Riwayat Hidup Rasulullah S.a.w.) yang sudah diterbitkan di Inggris. Begitu juga beberapa bagian dari buku Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, “Sirat Khaataman Nabiyyiin”, sudah ada terjemahannya dalam bahasa Inggris. Hendaklah Wakalat Tashnif menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku yang lainnya.

Bagaimanapun, seperti yang telah saya katakan, buku “Life of Muhammad” (Riwayat Hidup Rasulullah s.a.w.) yang merupakan buku Hadhrat Khalifatul Masih Tsani, ini adalah sebuah buku ringkas yang di dalamnya keseluruhan segi sirat (perjalanan hidup) Rasulullah s.a.w. secara ringkas telah tercakup.

Sebenarnya buku ini merupakan bagian dari “Debacah Tafsir al-Quran” (Pengantar untuk Mempelajari Tafsir Al-Quran). Beberapa bagian yang di dalamnya diuraikan mengenai tarikh (sejarah) dan sirat (perjalanan hidup), kurang lebih merupakan keseluruhan dari bagian buku Debacah yang berkaitan dengan tarikh (sejarah) dan sirat (perjalanan hidup).

Dengan membaca semua bagian yang berkaitan dengan diri Hadhrat Rasulullah s.a.w., maka keseluruhan segi kehidupan Rasulullah s.a.w. menjadi terang benderang dan tampil ke muka. Buku ini harus disebarkan dalam skala luas. Wakilul Isya’at dan Tashnif harus melaporkan kepada saya, ke dalam bahasa-bahasa apa saja buku itu sudah diterjemahkan. Jika tidak ada tidak ada dalam stock (persediaan), maka harus segera diterbitkan.

Saya pikir terjemahan Jerman juga ada dan mungkin juga dalam bahasa Prancis. Bagaimanapun, ini harus dilaporkan. Kita harus menampilkan segi-segi indah dari sirat (perjalanan hidup) Rasulullah S.a.w. ke hadapan dunia. Ini merupakan tugas kita,  dan bagaimanapun kita harus melakukannya dengan upaya yang keras.

Saat ini, hanya Jemaat Ahmadiyahlah yang dapat melakukan tugas ini dengan kecintaan. Oleh karena itu, berusaha keraslah untuk meningkatkan segala macam program lebih dari sebelumnya. Hendaknya ada seminar-seminar dan pertemuan yang di dalamnya orang-orang ghair (bukan Jemaat) diundang dalam jumlah yang sebanyak-banyaknya.

Sebagaimana telah saya katakan, Khotbah Jum’at saya yang lalu harus diterjemahkan ke dalam setiap bahasa, dibuat dalam bentuk pamflet kecil dan dibagi-bagikan sebagai sebuah pekerjaan penting, sedemikian rupa sebagaimana sebelumnya telah dilakukan [kampanye damai] Life Lighting untuk keamanan. Pekerjaan ini janganlah memakan waktu terlalu lama. Pekerjaan ini bisa dan hendaknya dilakukan dalam waktu satu minggu sampai sepuluh hari.

Di negara-negara besar pekerjaan publikasi ini bisa dengan sangat mudah dilakukan. Orang-orang ini belum juga jera dengan perbuatan-perbuatannya, dan tidak akan jera. Setelah menyaksikan reaksi yang pada umumnya diperlihatkan oleh orang-orang Islam, terasa bahwa orang-orang ini justru lebih memenuhi hati kita dengan perasaan terluka. Mereka terus-menerus menyebarkan gerakan-gerakan kotor mereka dari satu negara ke negara yang lain.

Dua hari sebelum inipun, sebuah surat kabar di Spanyol membuat sebuah karikatur dan menerbitkannya serta mengatakan bahwa ini adalah candaan, yang merupakan jawaban atas reaksi orang-orang Islam. Karena itu, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menutup mulut orang-orang itu atau sekurang-kurangnya  untuk menjelaskan kepada orang-orang yang baik dan terpelajar bahwa cara-cara yang salah ini sedang menghancurkan keamanan dunia, agar sejauh mana mungkin, kita bisa memberitahukan kepada dunia mengenai hakikat dari cara-cara zalim mereka (orang-orang Islam yang reaksinya salah).

 Buku “Tuhfah Qaishiriyah” (Hadiah untuk Sang Ratu) dan

Pembuatan Pamflet Pesan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Di UK (Inggris Raya) ini dan di negara-negara commonwealth (persemakmuran, eks jajahan Inggris) beberapa hari lalu telah diadakan perayaan Diamond Jubilee Ratu. Hampir sepanjang tahun kesemarakan dibuat dan terjadi serta berlangsung terus perbincangan tentang perayaan ini. Sekarangpun ada perhatian ke arah ini, ketika dirayakan diamond Jubilee Ratu Victoria, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis dan mengirimkan sebuah buku berjudul “Tuhfah Qaishiriyah” kepada Ratu, yang di dalamnya ketika ada pujian terhadap pemerintahan adil sang Ratu maka beliaupun menyampaikan pesan Islam. Serta menarik perhatian ke arah penegakkan keamanan di dunia dan hubungan satu sama lain di antara berbagai macam agama, serta kemuliaan dan penghormatan kepada tokoh-tokoh suci agama dan para nabi.

Beliau juga menjelaskan secara terinci mengenai bagaimana seharusnya cara yang dilakukan untuk menegakkan keamanan. Saat ini, ketika diperingati Diamond Jubilee ratu Elizabeth, terjemahan buku “Tuhfah Qaishiriyah” telah dicetak dengan jilid yang cantik dan dikirimkan kepada ratu. Departemen yang berkaitan dengan Ratu, yang kepadanya kitab ini dikirimkan sebagai hadiah, bersama dengan surat saya juga, datang juga balasan ucapan terima kasih kepada saya dari Departemen itu. Buku tersebut juga disimpan dalam koleksi buku-buku Ratu dan Ratu akan membacanya. Apakah Ratu membacanya atau tidak, kita telah berusaha untuk melaksanakan tanggung jawab kita.

Saat ini, kondisi ketidakamanan di dunia adalah sama seperti zaman dahulu. Bahkan dalam beberapa segi sedang bertambah buruk. Orang-orang ini menyerang Islam, menyerang pribadi Rasulullah s.a.w., dan terus-menerus mencaci-maki beliau, dan terus meningkat. Oleh karena itu  sangat penting juga untuk mempublikasikan pesan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam tersebut. Karenanya bagian yang memuat pesan perdamaian dan penghormatan terhadap agama-agama, juga keharusan untuk mengadakan konferensi dan bagaimana cara mengadakannya, kesemua bagian ini disatukan dan dicetak dalam bentuk pamflet serta penting untuk membagikannya baik di sini maupun di seluruh dunia. Ini pun harus dikerjakan dengan segera. Pesan ini akan menjadi dua atau tiga halaman, atau paling banyak akan menjadi empat sampai lima halaman.

Tuhan Tidak akan Membiarkan Nabi Palsu dan

Bagian Isi Buku “Tuhfah Qaishiriyah”

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihi salam sambil membahas tentang para nabi, di dalamnya beliau juga memberikan contoh ini, yakni jika seseorang membuat suatu hukum palsu dengan mengatasnamakan pemerintahan, lalu ia menebarkannya serta membuktikan bahwa dirinya adalah pekerja pemerintahan atau berusaha untuk membuktikannya, maka pasti pemerintah melaksanakan fungsi tugasnya dan melakukan proses permusuhan terhadap orang atau kelompok semacam itu. Lalu bagaimana mungkin Tuhan akan tetap mendiamkan hal-hal salah yang dinisbahkan kepada-Nya dan membiarkannya?[3]

Oleh karena itu, para nabi pun ketika mereka mendakwakan diri membawa pesan dari Tuhan, dan Jemaatnya pun terus berkembang, maka hal itu membuktikan bahwa Jemaat itu dan orang-orang itu berasal dari Tuhan. Jadi, kita harus menghormati orang-orang yang datang dari Tuhan agar perdamaian dunia tetap tegak.

Berkenaan dengan itu, saat ini saya akan mengemukakan suatu bagian dari buku tersebut, yang di dalamnya beliau bersabda mengenai bagaimana seharusnya perdamaian dunia itu dan kedudukan para nabi. Beliau bersabda: “Maka, asas mendasar ini termasuk ke dalam sunnah Allah Ta’ala semejak dahulu.” (yakni, asas yang sama dianut oleh pemerintahan-pemerintahan duniawi yang tidak akan tinggal diam jika suatu hal diatasnamakan kepada mereka, padahal mereka tidak mengatakannya, lalu bagaimana Allah Ta’ala akan tinggal diam).

Bersabda, “Maka  hukum ini termasuk ke dalam sunah Allah Ta’ala semejak dahulu, yakni Dia tidak akan memberikan tangguh kepada orang yang mendakwakan kenabian palsu, melainkan orang seperti itu akan cepat dicengkram, dan hukumannya akan sampai. Dari segi kaidah ini, kita hendaknya melihat semua orang itu dengan pandangan yang hormat dan menganggap benar mereka yang telah mendakwakan kenabian pada suatu zaman. Lalu pendakwaan itu berakar kuat, dan agamanya menyebar di dunia, mendapatkan keteguhan dan berlangsung dalam waktu yang panjang.

Jika Mendapati Kesalahan Dalam Kitab-Kitab Agama…

Jika kita mendapati kesalahan di dalam kitab-kitab mereka, atau melihat para pengikut mereka terperangkap dalam perbuatan yang buruk, maka janganlah hendaknya kita menisbahkan segala noda kesalahan itu kepada para pendiri agama tersebut. Karena sangatlah mungkin terjadi perubahan di dalam kitab, mungkin juga masuk ijtihad (pendapat) yang salah dalam tafsir.

Namun  sama sekali tidak mungkin ada orang yang secara terang-terangan mendustakan Tuhan dan mengatakan bahwa, “Aku adalah nabi-Nya”, kemudian mengemukakan kalamnya, dan mengatakan bahwa, “Ini adalah  kalam (firman) Tuhan”, padahal ia bukan nabi-Nya dan kalamnyapun bukan kalam Tuhan, lalu kemudian Tuhan memberi tangguh kepadanya seperti kepada orang-orang yang benar.” (Yakni telah terjadi hal serupa ini, dan Tuhan memberikan tangguh seperti kepada orang-orang yang benar). “Dan seperti kepada orang-orang yang benar, Dia menyebarluaskan penerimaan kepadanya.”

Beliau bersabda, “Oleh karena itu, asas ini sangatlah benar dan sangatlah beberkat, dan orang yang menanamkan pondasi perdamaian, kami menetapkan bahwa semua nabi-nabi yang agamanya berakar kokoh dan berlangsung dalam masa yang lama, serta ratusan ribu orang masuk ke dalam agamanya itu   sebagai nabi yang benar.

Asas ini merupakan asas yang sangat baik. Dan jika seluruh dunia mengikuti asas ini maka ribuan kerusakan dan penghinaan terhadap agama yang menimbulkan pertentangan dengan kedamaian secara umum akan terangkat (hilang).

Pondasi Timbulnya Fitnah dan Dosa Penghinaan

Adalah jelas, seseorang yang menganggap  pengikut suatu agama sebagai pengikut seseorang — yang dalam pengetahuannya — merupakan pendusta dan pemalsu, maka dengan pikiran itu ia telah menanamkan banyak sekali pondasi fitnah dan tentulah ia menjadi pelaku dosa penghinaan.

Ia berbicara dengan kata-kata yang tidak sopan terhadap kemuliaan nabi itu dan kata-katanya mengantarkan pada batas kekasaran serta menimbulkan kerusakan dalam kedamaian dan keharmonisan secara umum. Padahal pemikirannya ini sangatlah keliru. Dan karena perkataan-perkataannya yang tidak sopan maka dalam pandangan Tuhan dia adalah seorang yang aniaya.

Tuhan Yang Maha Rahiim (Penyayang) dan Kariim (Mulia) sama sekali tidak senang untuk tanpa hak mengangkat [derajat] seorang pendusta yang memasukkan orang ke dalam tipuan setelah menanamkan akar agamanya. Tidak pula Dia memperkenankan bahwa seseorang, kendatipun ia adalah pemalsu dan pendusta lalu dalam pandangan dunia ia menjadi sama kedudukannya dengan nabi-nabi yang benar.

Jadi, asas ini sangatlah indah, dan meletakkan dasar keamanan dan kedamaian, serta membantu keadaan-keadaan akhlak, yakni kita menganggap semua nabi yang datang ke dunia ini sebagai nabi yang benar.  Baik ia muncul di kalangan Hindu, atau Farsi, Cina, atau negeri manapun. Allah Ta’ala menanamkan kemuliaan dan keagungan mereka di dalam hati jutaan orang. Tuhan menegakkan akar agamanya dan sampai beberapa abad agama tersebut tetap berdiri.

Inilah asas yang telah Al-Quran ajarkan kepada kita. Dalam sudut pandang asas ini, kita menghormati semua pendiri agama-agama apakah mereka pendiri agama Hindu, Persia, agama orang Tionghoa, Yahudi atau agama Kristen. Sayangnya, musuh kita tidak bisa memperlakukan kita dengan cara ini, dan mereka tidak ingat hukum Allah Ta’ala yang suci dan tidak pernah berubah ini, bahwa Dia tidak akan memberikan berkat dan kemuliaan kepada seorang nabi palsu seperti yang diberikan kepada nabi benar.

Jangan Menyalahkan Nabi-Nabi Pendiri Agama,

Jika Mendapati Kesalahan dalam Penganut Agama

Agama dari seorang nabi palsu tidak akan kokoh berakar dan tidak berlangsung lama seperti halnya agama dari seorang nabi yang benar. Oleh karena itu penganut akidah yang menetapkan nabi-nabi dari bangsa-bangsa lain sebagai pendusta, dan terus menerus memburuk-burukannya, maka selalunya ia menjadi musuh bagi keamanan dan perdamaian.

Jika kita berkeberatan atas ajaran suatu agama, maka janganlah hendaknya kita menyerang kemuliaan nabi dari agama tersebut. Dan janganlah pula mengingatnya dengan kata-kata yang buruk, melainkan hendaknya hanya berkeberatan pada aturan berperilaku bangsa tersebut sekarang ini.”

(Yakni, jika kesalahan-kesalahan itu terdapat dalam bangsa tersebut, maka berkeberatanlah atas kesalahan-kesalahan kaum tersebut, bukannya kepada para nabi). Beliau selanjutnya bersabda, “Yakinlah, nabi-nabi yang dari Allah Ta’ala mendapatkan kemuliaan dalam jutaan umat manusia dan penerimaan terhadapnya berlangsung sampai ratusan tahun, ini merupakan dalil yang kuat bahwa ia berasal dari Allah Ta’ala, sebab jika ia tiada diterima oleh Tuhan, maka tidak akan mendapatkan kemuliaan sedemikian rupa.

Memberikan kemuliaan pada seorang pemalsu, dan menyebarkan agamanya kepada di antara jutaan orang, serta menjaga agama palsunya dalam kurun masa yang panjang bukanlah merupakan adat kebiasaan Tuhan. Maka dari itu agama yang menyebar luas, serta tertanam dan memperoleh kemuliaan dan berlangsung dalam masa yang panjang, dari segi asal mulanya, agama itu sama sekali tidak mungkin agama yang palsu. Oleh karena itu, jika dalam ajarannya ditemukan keberatan, boleh jadi penyebabnya adalah….“

(Beliau menjelaskan tiga penyebabnya, yakni jika pada masa sekarang ini dalam agama tersebut ada terdapat keberatan, maka sebabnya ada tiga),

Beliau bersabda, “…Boleh jadi sebabnya adalah, yang pertama petunjuk-petunjuk nabi tersebut diubah-ubah”, (yakni, nabi telah memberikan petunjuk-petunjuk, itu kemudian diubah-ubah, yang kedua),

Atau boleh jadi sebabnya adalah karena terjadi kesalahan dalam menafsirkan petunjuk-petunjuknya”, (ditafsirkan dalam corak yang salah, dan yang ketiga)

Atau bisa juga terjadi, bahwa dalam mengajukan keberatan kita juga tidak berdiri di atas kebenaran” (karena tidak memahami suatu permasalahan, lalu mengajukan keberatan.

Sebagaimana timbul pada masa sekarang ini. Mereka mengajukan keberatan kepada pribadi Hadhrat shalallaahu ‘alaihi wa sallam, padahal tidaklah mereka membaca sejarah, tidak pula membaca peristiwa-peristiwa, tak pula memahami Al-Quran. Beliau bersabda), “Oleh karena itu, terlihat bahwa karena kurangnya pemahaman, beberapa orang pendeta mengajukan keberatan terhadap beberapa hal dalam Quran Syarif, yang di dalam Taurat hal itu mereka yakini sebagai hal yang benar dan merupakan ajaran Tuhan. Jadi, keberatan seperti demikian itu terjadi karena kekeliruan dan ketergesa-gesaan mereka sendiri.”

Kemudian beliau bersabda, “Kesimpulannya adalah, kesejahteraan dunia, keamanan dan kedamaian, serta ketakwaan dan rasa takut terhadap Tuhan terdapat dalam asas ini, yakni sama sekali janganlah kita menetapkan sebagai pendusta  nabi-nabi yang mengenai kebenarannya telah terbangun pendapat jutaan umat manusia dalam rentang masa ratusan tahun, dan pertolongan Tuhan menyertainya sejak dulu. Saya yakin, bahwa seorang pencari kebenaran, baik di Asia ataupun di Eropa, ia akan menyukai asas ini dan akan menyebut ah, lalu mengatakan, sayang sekali, kenapa asas kita tidak seperti demikian.”

Pesan Khusus kepada Ratu Victoria

Beliau menulis kepada Ratu, “Dengan tujuan inilah saya mengemukakan asas ini ke hadapan yang mulia Ratu India dan Inggris” (pada waktu itu pemerintahan Ratu mencakup India juga) “karena hanya satu asas inilah yang akan menyebarkan kedamaian di dunia, yakni asas kita. Islam dapat berbangga karena asas yang elok nan menawan hati ini secara istimewa ada padanya.

Apakah kita setuju, jika kita menghilangkan kemuliaan orang-orang suci yang karunia Tuhan telah menjadikan dunia sebagai pengikutnya, dan selama beratus-ratus tahun kerajaan-kerajaan menundukkan kepala di hadapan mereka?

Apakah kita setuju jikalau kita berburuk sangka kepada Tuhan bahwa Dia menganugerahkan kemuliaan kepada para pendusta dan hendak menipu dunia dengan menampakkan tanda-tanda samawi guna mendukung agamanya? Jika Tuhan menipu kita, maka mengapa kita bisa membedakan antara yang benar dan yang palsu?”

Beliau bersabda, “Ini merupakan masalah yang sangat penting, yakni kemuliaan, wibawa dan penerimaan serta keagungan seorang nabi palsu tidak akan sedemikian rupa menyebar seperti halnya seorang yang benar. Dalam rencana-rencana para pendusta tidak akan timbul keramaian seperti timbul pada pekerjaan seorang benar.

Oleh karena itulah, tanda pertama bagi orang yang benar adalah rangkaian pertolongan kekal Tuhan selalu menyertainya, dan Tuhan menanamkan tunas agamanya di dalam hati jutaan orang serta mengaruniakan umur yang panjang. Jadi, dalam agama seorang nabi yang di dalamnya kita menjumpai tanda-tanda ini, maka sembari mengingat akan maut dan hari penghisaban kita, janganlah hendaknya kita menghina pemimpin-pemimpin suci seperti demikian, melainkan agungkan dan cintailah dengan keagungan dan cinta yang sebenarnya. Pendek kata, inilah asas pertama yang Tuhan ajarkan kepada kita yang melaluinya kita telah menjadi pewaris suatu bagian akhlak yang besar.”[4]

Islam Agama Terbesar Kedua di Dunia dan Pentingnya

Mempublikasikan Pesan Hadhrat Mmasih Mau’ud a.s.

Beliau a.s. juga bersabda, “Hendaklah ada konferensi-konferensi dimana orang-orang dari agama yang berbeda-beda menjelaskan mengenai keindahan-keindahan agamanya masing-masing.” [5]

Jika dilihat saat ini, dalam corak amalan maka Islam adalah agama pertama di dunia, dan dari segi jumlah merupakan agama besar kedua di dunia. Oleh karena itu, agama-agama lain di dunia hendaklah menghormati kaum Muslimin dan hendaklah mereka berusaha untuk melaksanakan hak kemuliaan dan penghormatan Hadhrat Rasulullah  S.a.w., sebab jika tidak  maka akan timbul kerusakan dan ketidakdamaian di dunia.

Jadi, ketika kita menghormati dan memuliakan agama-agama di dunia, memandang para nabinya sebagai utusan Tuhan, maka ini semata-mata karena ajaran  menawan yang telah Al-Quranul Karim berikan dan yang telah Rasulullah S.a.w. ajarkan kepada kita. Meskipun para penentang Islam menggunakan kata-kata serangan terhadap Hadhrat Rasulullah S.a.w., juga membuat gambar-gambar karikatur yang tidak sopan, tetapi sebagai balasannya kita tidak meneriakkan kata-kata keliru terhadap para nabi dan orang-orang suci dari suatu agama, atau tidak menghinanya.

Meskipun demikian, kaum Muslimin tetap saja dijadikan sebagai sasaran, bahwa orang Islam adalah pembuat kerusakan. Orang-orang inilah yang pertama-tama melakukan gerakan-gerakan yang menghancurkan kedamaian, mereka berusaha menyulut emosi, dan ketika emosi tersulut, maka mereka mengatakan, “Lihat, orang-orang Islamlah yang menyukai kekerasan, karena itu lakukanlah segala cara untuk menentangnya.”

Sebagaimana telah saya jelaskan dalam khotbah yang lalu, keberanian para penentang Islam untuk melakukan semua ini adalah karena orang-orang Islam tidak bersatu. Tetapi kita, Muslim Ahmadi, yang telah Allah Ta’ala persatukan di tangan Masih Mau’ud dan Mahdi Mau’ud, merupakan tugas kita untuk menunjukkan jalan hidayah (petunjuk) kepada dunia, memberitahukan jalan kedamaian dan keselamatan.

Publikasikanlah dengan luas pesan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihi shalatu wa salaam yang telah saya bacakan, agar dunia dapat mengetahui ajaran Islam yang hakiki. Orang-orang dunia tidak mengetahui seperti apa kedudukan Hadhrat Rasulullah S.a.w. dalam hati kita dan hati seorang Muslim hakiki? Betapa eloknya ajaran serta uswah hasanah (suri tauladan baik) beliau S.a.w. dan kecantikan apa saja yang terkandung di dalamnya?

Qasidah (Syair) Kecintaan Hasan bin Tsabit r.a. dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w.

Seorang Muslim hakiki sedemikian rupa mencintai dan mengasihi beliau s.a.w., memperkirakannya pun  orang-orang ini tidaklah sanggup. Yang menunjukkan gelora kecintaan dan kasihnya kepada beliau s.a.w. semenjak 14 abad yang lalu hingga kini bukan hanya Hasan bin Tsabit dengan syairnya saja,

كنتَ السوادَ لناظري

‘Kuntas sawaada li naazhirii.’ – “Wahai Muhammad s.a.w., engkau dahulu adalah biji mataku,

فعَمِي عليّ الناظرُ

‘Fa’amiya ‘alayyan naazhiru.’ – (Kini setelah kewafatan engkau) mataku menjadi buta.

من شاء بعدك فليمتْ

‘Man syaa-a ba’daka falyamut.’ – “Sekarang setelah kematian engkau, aku tak peduli siapa pun yang mati, 

فعليك كنتُ أحاذرُ

‘Fa’alaika kuntu uhaadziru.’ (namun yang) aku takutkan hanyalah kewafatan engkau.[6]

Syair ini Hadhrat Hasan r.a. bin Tsabit lantunkan pada saat kewafatan Rasulullah S.a.w.. Tetap pada zaman ini pun, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menciptakan di dalam diri kita kecintaan dan kasih terhadap Nabi S.a.w., suatu kecintaan yang begitu mendalam.

Beliau telah menggelorakan kecintaan itu di dalam hati kita. Sambil menarik kepada gambaran kecintaan tersebut, beliau bersabda pada suatu tempat, yaitu sebuah qashidah Arab yang sangat panjang, beberapa bait syairnya sebagai berikut :

 قوم رأوك وأمةٌ قد أُخبرتْ 

‘Qaumun ra-auka wa ummatun qad ukhbirat.’ – “Suatu kaum telah melihat engkau dan suatu umat telah pula diberi kabar”

مِن ذلك البدر الذي أصباني

‘Min dzaalikal badril ladzii ashbaanii.’ – “Tentang bulan purnama yang telah memikat hatiku!”

يبكون مِن ذكر الجمال صبابةً

‘Yabkuuna min dzikril jamaali shabaabatan.’ – “Dengan mengenang keelokanmu; mereka menangis karena cintanya.”

وتألـمًا من لــوعة الهجـرانِ

‘Wa ta-alluman min lau’atil hijraani.’ – “Dan merasa sedih dan pilu karena terpisah jauh.”

وأرى القلوب لدى الحناجر كربةً  

‘Wa aral quluuba ladal hanaajira kurbatan.’ – “Kulihat hati mereka remuk gelisah”

وأرى الغروب تسيلها العينانِ

‘Wa aral ghuruuba tusiiluhal ‘ainaani.’ – “Air mata berderai berlinang basah”

Bait penutupan Qasidah mengatakan:

جمسي يطير إليك مِن شوقٍ علا  

‘Jismii yathiiru ilaika min syauqin ‘alaa’ – “Jasadku ingin terbang kepadamu, karena teramat rindunya.” 

يا ليتَ كانت قوةُ الطيرانِ

‘Yaa laita kaanat quwwatuth thairaani’ – “Wahai, sayanglah aku tak berdaya untuk terbang!”[7]

Pendek kata, kita diajarkan kecintaan dan kasih terhadap Rasulullah S.a.w.. Orang-orang duniawi yang materialis itu mengatakan, “Apa bedanya? Ini kan hanya lelucon kering.” Ketika akhlak mengalami kemerosotan sampai batas itu, yakni  bukannya standar akhlak mencapai ketinggian (derajat) melainkan mulai menyentuh pada kerendahan, maka saat itulah perdamaian dunia mengalami kehancuran.

Akan tetapi sebagaimana telah saya katakan, tugas kita adalah sebanyak mungkin berusaha untuk menyajikan kepada dunia berbagai segi kehidupan beberkat Rasulullah S.a.w.. Dalam rangka mempersiapkan hal ini, setiap Ahmadi harus membaca buku ‘Life of Muhammad’ (Sirat atau Peri Kehidupan Rasulullah S.a.w.) baik versi ringkasnya maupun versi besarnya atau bagian sirah dari buku ‘Debacah Tafsirul Quran’ – “Pengantar Mempelajari Al-Quran”.

Di dalamnya dijelaskan hampir semua aspek kehidupan beliau S.a.w., atau bisa dikatakan bahwa aspek penting kehidupan beliau S.a.w. telah dijelaskan. Selain itu sesuai dengan kemampuan akademik juga dzauq (kegemaran) dan syauq (hobi) masing-masing, pelajari jugalah buku-buku yang lain tentang kehidupan beberkat beliau S.a.w., dan sampaikanlah kepada dunia dengan berbagai cara, melalui berbagai hubungan komunikasi, melalui berbagai tema artikel dan pamflet tentang keindahan dan keagungan Rasulullah S.a.w..

Semoga Allah Ta’ala memberi kemampuan kepada setiap Ahmadi untuk melakukan pekerjaan dan tugas penting ini dan semoga Dia memberi pengertian kepada dunia sehingga kalangan orang-orang bijaksana, mereka sendiri menolak orang-orang yang membuat lelucon yang tidak sopan dan aniaya serta yang menunjukkan permusuhan tersebut, sehingga dunia terhindar dari ketidakamanan dan selamat dari hukuman Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala menjadikannya demikian.

Shalat Jenazah:  Maulana Nasrullah Khan Nasir Sahib

Setelah shalat Jum’at sekarang ini saya akan memimpin shalat Jenazah, shalat jenazah hadhir [antonim dari shalat jenazah gaib]. Jenazah tersebut ialah Maulana Nasrullah Khan Nasir Sahib, seorang Murabbi Silsilah. Beliau telah lama menderita sakit jantung.

Beliau wafat pada tanggal 23 September karena serangan jantung. Umur beliau 73 tahun, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raji’un.  Dewasa ini, di UK sinilah beliau tinggal. Beliau adalah putra dari Choudri Mehr Allah Dita Sahib Gujarat. Ayahanda beliau berjalan kaki dari kampung beliau menuju Sialkot untuk baiat langsung ditangan Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. pada tahun 1918.

Almarhum  Nasrullah Khan Nasir Sahib mewakafkan diri beliau pada tahun 1960. Beliau mendaftarkan diri masuk ke Jamiah Ahmadiyah Rabwah. Saat beliau masih kuliah di Jamiah, beliau menulis makalah pertama beliau yang berjudul “Khalifah Tidak Dapat Dimakzulkan atau Dipecat”, dimuat di suratkabar ‘Al-Fadhl’ Rabwah.

Beliau orang yang gemar akan keilmuan sehingga ditugaskan sebagai editor di edaran berkala ‘Majallah al-Jaami’ah’. Beliaupun memiliki kemampuan yang istimewa dalam menulis artikel-artikel. Beliau biasa menulis artikel-artikel di majalah-majalah dan suratkabar-suratkabar Jemaat. Setelah selesai dari Jamiah hingga tahun 1983 beliau berkhidmat sebagai Murabbi Silsilah di berbagai Jemaat di Pakistan.

Beliau juga mendapat taufik berkhidmat di kantor Maqami Ishlah-o-Irsyad di Markaz. Mulai tahun 1994 sampai tahun 2004 beliau menjadi editor bulanan ‘Ansharullah’. Dikarenakan posisi beliau itu, beliau sering sekali diajukan ke pengadilan. Untuk mengikuti persidangan-persidangan tersebut beliau terpaksa harus pergi dari Rabwah menuju Karachi, Sindh dan kota-kota lainnya di negara itu.

Kadang-kadang beliau mendapatkan tanggal-tanggal sidang yang berdekatan harinya, namun beliau tetap pergi mengikutinya dengan penuh semangat sekalipun dalam kondisi sakit dan umur yang sudah tua. Beliau menghadapi persidangan-persidangan itu dengan penuh keberanian.

Kadang kala keadaan-keadaan di pengadilan begitu buruk, ada kondisi yang membuat sangat putus harapan, beberapa kali pihak musuh menambah-nambah tuntutan permusuhan, akan tetapi, sungguh Allah Ta’ala menganugerahi beliau semangat tinggi dan keteguhan yang senantiasa beliau perlihatkan di muka sidang-sidang pengadilan.

Beliau juga mendapat taufik berkhidmat sebagai perwakilan barae a’ili mu’amalat di Darul Qadha. Beliau menulis sebuah buku berjudul ‘Ashaab Shidqi-o-Shafa’ (Para Sahabat nan Jujur lagi Suci), di dalamnya beliau menyebut-nyebut 313 sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Sejarah mereka dan hal-hal yang berkaitan dengan mereka. Selain buku itu, beliau juga menulis sangat banyak buku. Beliau seorang yang banyak berdoa, baik, sederhana, bertawakkal, memiliki tekad tekad yang tinggi, seperti telah saya sebutkan, bertabiat suka membimbing dan seorang yang sangat setia. Almarhum adalah seorang Mushi.

Semoga Allah Ta’ala memperlakukan beliau dengan penuh maghfirat dan menganugerahkan kedudukan tinggi dalam surga keridhoan-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada anak-anak almarhum untuk melanjutkan kebaikan-kebaikan beliau.

Seperti telah saya katakan, saya akan menyalatkan jenazah beliau yang sudah ada di sini. Segera setelah shalat Jum’at, saya akan di luar masjid dan orang-orang tetap di dalam masjid ini membentuk shaf yang baik.  [Imam shalat jenazah dan jenazah ada di luar ruangan masjid, para makmum ada di dalam masjid di belakang Hudhur].

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammads.a.w. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasihat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Selanjutnya disingkat s.a.w.

[3]Tuhfah Qaishariyah, Ruhani Khazain, jilid 12, halaman 257-258

[4] Tuhfah Qaishariyah (Hadiah untuk Sang Ratu), Ruhani Khazain jilid 12, halaman 282-283

[5]Khutbah Ilhamiyah (Pidato Yang Diilhamkan), Ruhani Khazain jilid 16, halaman 30 dan Tuhfah Qaishariyah (Hadiah untuk Sang Ratu), Ruhani Khazain jilid 12, halaman 279

[6] Tuhfah Gaznawiyah, Ruhani Khazain jilid 15 halaman 583

[7] Ainah-e-Kamaalaat-i-Islam, Ruhani Khazain jilid 5 halaman 590-594