Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 17 Ikha 1393 HS/Oktober 2014

di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Setiap pria, wanita, tua dan muda dari Jemaat Ahmadiyah mengetahui satu kalimat (ungkapan) yang sangat baik, yaitu “Aku akan mendahulukan agama atas hal-hal duniawi.”[2] Hal ini karena Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam memberi perhatian besar dari kita terhadap hal ini. Umumnya, pidato-pidato para Khalifah dan pidato para penceramah kita mengutip kalimat ini. Memang, kalimat ini adalah khulashah (sinopsis, ikhtisar) dari syarat baiat yaitu akan mendahulukan agama diatas kepentingan dunia. Begitu pula kalimat ini juga merupakan ringkasan dari janji berbagai organisasi badan-badan kita yaitu akan mendahulukan agama diatas kepentingan dunia. Demikian juga, kata-kata ini pun kita ulang-ulang disebutkan dalam syarat baiat. Singkatnya, kalimat ini adalah janji seorang Ahmadi yang kepada hal itu baiatnya tergantung. Hubungannya dengan Khilafat dan Nizam Jemaat mengandalkan ungkapan ini. Jika ia tidak ada maka pernyataan baiatnya adalah salah. Pernyataannya mengenai hubungan dengan Khilafat dan Nizam Jemaat adalah salah. Pernyataannya tentang baiat dan pembicaraannya mengenai pencapaian ridha Allah hanya ungkapan kosong di mulut saja. Dalam hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Jika seseorang menegaskan dalam baiatnya bahwa ia akan mendahulukan agama diatas kepentingan dunia, tetapi tidak memberlakukan janjinya secara benar, jujur, dan setia, apa pedulinya Allah Ta’ala terhadapnya?”[3]

Maka setiap orang dari kita harus memperhatikan ungkapan ini setiap saat. Seperti jelas dari ungkapan kalimat tersebut, bahwa tidak ada hal-hal duniawi yang boleh menghambat urusan-urusan agama. Dan apakah diin (agama) itu? Makna agama ialah seseorang melewati kehidupannya sesuai dengan dan di bawah perintah Allah Ta’ala. Berusaha untuk meraih ridha-Nya melalui setiap kata dan setiap perbuatannya. Dengan karunia Allah, mayoritas besar orang diantara kita berupaya untuk menghilangkan hambatan di jalan agama, akan tetapi itu juga adalah fakta yang benar, bahwa upaya semua orang tidak dapat sama. Karena orang-orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam hal pengetahuan dan hal-hal lainnya. Namun, dikarenakan Allah Ta’ala mengetahui apa niat kita, oleh karena itu Dia memperlakukan setiap individu sesuai dengan kapasitasnya. Maka dasar yang paling asasi dalam hal memenuhi janji ini adalah niat baik. Hendaknya didalamnya tidak ada alasan yang dibuat-buat. Dalam urusan yang berkaitan dengan hal-hal duniawi kita melihat, bahwa setiap orang memiliki kapasitas yang terbatas, karena pengetahuan yang tidak memadai atau faktor lain. Sementara sebagian yang lain melakukan upaya yang lebih besar dan tepat dan fokus pada pencapaian tujuan mereka dan memang mencapainya dengan sempurna.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pernah menjelaskan mengenai hal ini. Saya akan menjelaskan beberapa hal dalam khotbah hari ini didasarkan pada sabda-sabda beliau ra dan saya akan uraikan beberapa peristiwa secara khas. Contoh sehari-hari membuat usaha yang tidak memadai dalam hal tujuan seseorang. Ketika sebelum melangkah keluar, walaupun pekerjaannya tidak begitu penting, beberapa orang menaruh banyak perhatian terhadap penampilan mereka. Mereka begitu teliti, bajunya baik, tidak ada kerusakan di celana panjangnya. Demikian juga tidak ada kekurangan dengan coat yang dipakainya. Kemanapun ia pergi, setiap waktu perhatiannya ditujukan pada pakaiannya. Oleh karena itu mereka tidak memiliki cukup waktu untuk pergi ke mana mereka perlu. Ini adalah peristiwa di zaman itu.

Contoh tersebut dapat ditemukan hari ini terutama di kalangan pria dan wanita Asia yang terlalu fokus memperhatikan pakaian dan penampilannya. Akan tetapi kebalikannya, ada orang lain yang seperti, ini yang tidak diragukan lagi mereka sangat menyukai mengikuti mode, tetapi kalau di hadapannya ada beberapa tujuan lain, maka mereka melupakan dan mengorbankan gaya mereka. Jika mereka harus menjalankan suatu maksud yang dengan terpaksa harus berlari sambil memakai pakaiannya maka ia akan berlari. Jika mereka harus duduk di suatu tempat, mereka akan melakukannya. Bahkan kalau terpaksa berjalan di lingkungan berdebu, maka tanpa sungkan mereka akan menjalaninya. Mengapa? Karena yang mereka utamakan adalah tujuan mereka dan untuk ini mereka tidak peduli tentang hal-hal lain. Pakaian elegan atau pakaian serba putih tidak menjadi hambatan dalam pencapaian tujuan mereka.

Untuk penjelasan lebih lanjut lagi yaitu bagaimana orang-orang secara lahiriah berkurban dalam mencapai tujuannya satu contoh diberikan oleh Hadhrat Mushlih Mauud. Ini adalah satu contoh dalam sejarah Inggris. Peristiwa dalam sejarah yaitu Ratu Elizabeth I, beliau naik tahta kira-kira pada tahun 1558 dan memerintah Inggris selama 45 (empat puluh lima tahun). Dia adalah seorang ratu yang terkenal bahkan selama pemerintahannya Inggris mendapatkan kekuasaan dan menonjol. Ratu dikenal ingin suka berpakaian rapi dan anggota istana yang mengawal di sekelilingnya memakai paian yang rapi. Ia menyukai orang yang rapi. Bagi mereka yang tidak memakai pakaian yang mahal dan mewah, tidak diperkenankan memasuki sidang kerajaannya. Memang ia dikelilingi oleh abdi muda pesolek dan necis. Pada suatu hari ia pergi ke suatu tempat dengan jalan kaki bersama anggota-anggota istananya. Ketika mereka mencapai tempat berlumpur. Sekarang jalan-jalan di sini tertata sangat kuat.

Di zamannya banyak jalan-jalan yang berlumpur. Pendek kata kemanapun ia pergi, semua jalan berlumpur. Pada waktu itu bersamanya ada seorang komandan yang sangat dekat dan peduli pada Ratu. Ia pemuda yang menyukai memakai pakaian yang bagus. Ketika tiba di jalan berlumpur, ketika itu ia memakai coat (jubah musim dingin) yang mahal. Bahkan coat itu khusus untuk di tempat sidang kerajaan. Dipakai pada waktu yang khusus. Melihat jalan yang berlumpur, lagsung ia melempar coatnya. Ratu merasa heran melihatnya yaitu coat yang demikian mahalnya ia lemparkan ke lumpur (untuk tempat berpijak jalan kaki ratu). Dengan terheran-heran ratu bertanya kepadanya, ‘Apa-apaan kamu Raleigh?’ Nama komandannya adalah Sir Walter Raleigh. Sir Walter Raleigh menjawab, “Lebih baik jubah saya rusak dan kotor daripada kaki Yang Mulia Ratu rusak dan kotor.” Ratu sangat menyukainya. Sejak waktu itu, ia disayangi di sidang-sidang kerajaan. Kemudian, pada masa pemerintahan Raja James I (pengganti Elisabeth), ia dituduh makar dan kemudian dieksekusi, meskipun ia telah membuat banyak hal diantaranya mengadakan ekspedisi ke Amerika Utara pada masa Raja James I tersebut.[4]

Dari contoh ini didapat pelajaran, bahwa Raleigh, seorang pejabat, meskipun ia menyukai berpenampilan necis dan bergaya, ketika ratu memerlukan bantuannya maka ia rela mengorbankan gaya dan coatnya yang berharga untuk menyenangkan Ratu. Bbaginya harganya sangat mahal. Hendaknya kita kita harus berpikir berapa banyak yang harus kita lakukan dan korbankan untuk kemajuan dan penyebaran Islam, memperkuat dan memelihara agama-Nya dan demi mencapai ridha-Nya Yang telah mencipta kita!! Tidakkah ini menjadi tujuan kita yang lebih kita cintai dibandingkan rasa sayang Ratu kepada Raleigh? Meskipun rasa sayang, pengkhidmatan yang banyak dari Raleigh terhadap raja-raja dunia itu berakhir menyakitkan. Tapi, orang yang disayang oleh Allah Ta’ala, ia menjadi penerima berkat-berkat-Nya di dunia ini dan menjadikan akhir hidupnya sangat baik.

Kita harus selalu ingat bahwa tidak cukup hanya memiliki tujuan yang tinggi dan mulia, tetapi juga harus melayani dan membuat pengorbanan. Kesenangan Allah Ta’ala akan di dicapai, ketika seseorang benar-benar mengutamakan agama daripada hal-hal duniawi. Bahkan agama mengungguli dunia. Tidak diragukan lagi Allah Ta’ala tidak melarang kita untuk mencari nafkah di dunia dan apa saja yang tidak dilarang adalah sah. Memakai pakaian yang berharga, memakan makanan yang baik, tinggal di rumah-rumah indah, dan memiliki ornamen kelas tinggi. Namun, semua ini akan menjadi tidak jaiz (tidak baik atau terlarang), jika itu menjadi penghalang kemajuan Islam. Syariat tidak mengatakan agar mencari pendamping hidup yang buruk rupa. Syariat tidak melarang Anda untuk mencari seorang wanita menarik untuk dinikahi. Rasulullah saw bersabda bahwa mencari calon istri seharusnya tidak hanya mencari kualitas duniawinya, tetapi juga harus melihat bagaimana agama wanita tersebut.[5]

Syariat mengatakan, janganlah suami terhalang atau terhambat ibadahnya dan dalam shalatnya karena istrinya. Janganlah shalat-shalat kalian hancur karena istri kalian. Kalau anak laki-laki dan anak perempuan kita memperhatikan hal ini bahkan ibu bapak mereka menyadari hal ini, masalah keluarga akan diselesaikan dengan mendahulukan agama diatas masalah duniawi. Maka tujuannya akan tercapai, yaitu yang merupakan tujuan dari seorang mukmin sejati, yaitu memperoleh ridha Allah. Demikian pula halnya pakaian. Sekali-kali tidak ada larangan untuk memakai pakaian bagus. Namun, hendaknya menahan diri untuk tidak menyerap diri begitu banyak dalam mode dan tren hingga menakibatkan lalai dari tugas agama. Keadaannya yang seharusnya memperhatikan shalat, ia hanya memperhatikan pakaiannya yang bagus saja. apakah pakaian sudah disterika, apakah berkerut atau tidak. Pendek kata Islam mengajarkan untuk tidak melalaikan pekerjaan agama supaya dengan cara ini kita dapat menunaikan hak-hak untuk mendahulukan agama diatas dunia. Demikian juga agama tidak melarang seseorang untuk memakan makanan yang baik tapi apa yang tak berdasar adalah ketika santapan menjadi hambatan dalam hal agama. Ini harus selalu disimpan dalam pandangan saudara-saudara, bahwa apa pun yang menghalangi dalam urusan agama harus dijauhkan.

Dalam hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda; “Lihat, ada dua jenis orang; pertama; mereka yang menerima Islam kemudian menjadi asyik dalam bisnis duniawi dan perdagangan. Setan menunggangi mereka.” Benar-benar telah terjerumus kedalam dunia. “..bukannya maksud di sini untuk mengatakan bahwa perdagangan dilarang. – tidak – Sahabat-sahabat juga berdagang, tetapi mereka mengutamakan agama atas dunia. Ketika mereka menerima Islam, mereka mencapai pengetahuan benar yang memenuhi hati mereka dengan keyakinan tentang Islam. Inilah alasan mengapa mereka tidak goyah dalam menghadapi serangan Setan. Tidak ada yang menghentikan mereka dari mengekspresikan kebenaran. Mereka yang benar-benar telah menjadi budak dari dunia adalah seakan-akan menjadi penggemar dunia dan setan mengatasi dan berhasil membunuh mereka. Jenis kedua, adalah orang-orang yang peduli kemajuan agama. Inilah kelompok yang disebut sebagai Hizbullah (Partai Allah). Mereka telah menang atas setan dan pengikutnya.”[6]

Seperti yang telah saya sampaikan sebelum ini dari kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, yaitu dengan mendahulukan kepentingan agama diatas kepentingan dunia maka hak bai’at dipenuhi telah dipenuhi. Untuk memiliki wawasan ini penting untuk mencari ilmu agama bersama dengan hal-hal duniawi, kemudian pengetahuan harus dimasukkan ke dalam praktek dalam kehidupan. Tanpa mendapatkan pengetahuan agama, seseorang tidak dapat mengetahui apakah agama itu, seperti aku akan mengutamakannya diatas dunia.

Shalat adalah pondasi (dasar) dalam rukun Islam, tetapi mungkin lebih dari 80% orang Muslim tidak mengerjakannya. Jika mereka melakukannya, mereka melaksanakannya begitu tergesa-gesa. Oleh karena itu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis, bahwa banyak orang terkemuka malas dalam hal melaksanakan shalat dan [rasa enggan atau malas] melaksanakan shalat berjamaah bagi para Nawab dan Rais (kepala daerah) adalah sama dengan [rasa enggan atau malas] umat Islam biasa untuk makan daging babi.[7] Artinya, mereka shalat dengan rasa enggan.

Hal ini bukannya di zaman itu saja. Situasi ini terus berlanjut sampai hari ini. Seperti yang saya katakan, sebagian besar orang yang terkemuka lalai dalam hal shalat. Bahkan, jika pun mereka melaksanakan, kondisi mereka bertentangan dengan bagaimana seharusnya kondisi orang yang melaksanakan shalat. Mereka lalai darinya. Orang yang melaksanakan shalat akan menjaga kesucian nilai-nilai kemanusiaan. Allah menjelaskan bahwa shalat membawa perubahan keshalehan di dalam dirimu. Dikatakan bahwa jumlah jamaah di masjid-masjid non-Ahmadiyah di Pakistan meningkat. Namun, kalau orang-orang yang shalat bertambah, apakah telah terjadi perubahan revolusioner pada diri mereka? Pelajaran apakah yang diberikan Para ulama dan Mullah selain mengajarkan kebencian? Sebagai poin atas hal itu ialah meskipun jumlah jamaahnya meningkat tapi api kebencian terus dinyalakan. Selain melakukan penganiayaan terhadap kita, mereka juga melakukan tindak kekejaman di antara mereka sendiri. Hal itu karena ibadah-ibadah tersebut tidak mengutamakan agama diatas kepentingan dunia. Walaupun pergi ke masjid dengan tujuan yang sangat mulia secara lahiriah tetapi di belakangnya, di batinnya mengikuti tujuan duniawi yang hina. Untuk mendapat dasar tujuan yang mulia penting juga berpikir yang mulia. Bukannya untuk kepentingan pengorbanan pribadi bahkan untuk mendapatkan ridha Allah Swt. Jemaah yang ada di masjid-masjid kalau tidak memberi pandangan pada tujuan yang mulia yaitu, menunaikan hak umat manusia bersamaan dengan memenuhi hak-hak Allah, dan menyebarkan agama dan Islam, maka semua itu tidak berfaedah. Segala macam bentuk kesusahan yang menimpa orang-orang Muslim itu hendaknya menjadi keprihatinan kita. Kita adalah orang-orang Ahmadi. Kita harus memberikan perhatian yang lebih utama dibandingkan dengan sebelumnya yaitu bagaimana kita bisa faham atau hendaknya kita bisa memahami janji, bahwa kita akan lebih mengutamakan agama dibanding dunia?

Bersamaan dengan menegakkan hak Allah Ta’ala kita juga mendirikan hak-hak manusia. Kita berusaha untuk penyebaran agama Islam dan penegakannya. Bersama dengan kita menegakkan hak Allah Ta’ala, kita pun menegakan hak-hak manusia. Kita juga berusaha untuk menyebarkan agama Islam kemudian kita hanya akan mengambil faedah dari nikmat-nikmat duniawi yang dibolehkan untuk kita. Tanggung jawab menyebarkan keindahan Islam diletakkan pada kita. Kita sedang melaksanakan penyebaran Qur’an Karim kedalam berbagai bahasa. Itu adalah tanggung jawab kita yang sedang kita laksanakan. Pembangunan masjid-masjid di setiap tempat supaya kita dapat memfasilitasi para hamba sejati. Untuk melaksanakan tugas tersebut kita membuat rencana pendirian mesjid di setiap negara. Kita harus membangun cita-cita terbaik nilai-nilai kemanusiaan. Kalau semua ini kita laksanakan bersamaan dengan mencari nafkah dunia maka usaha mencari nafkah dunia kita juga menjadi ibadah bagi kita. Kalau tidak demikian maka pekerjaan baik kita juga dalam pandangan Allah Ta’ala menjadi tidak baik.

 Ketika Iphone baru diluncurkan, atau datang uang dari seseorang dan kita membeli mobil baru atau setelan jas dan kita menyingkirkan pemikiran untuk membayar candah demi membeli barang-barang tersebut maka barang-barang yang baik ini bagi kita menjadi tidak baik. Kalau di suatu tempat sedang berusaha mendirikan masjid, tetapi kita memberikan keutamaan untuk hal-hal lain, maka walaupun hal itu dalam kondisi normal dibolehkan untuk kita atau untuk orang-orang pada umumnya tetapi dalam kondisi demikian tidak diperbolehkan. Ketika terjadi pertempuran Uhud, menyebar rumor, bahwa Rasulullah saw telah disyahidkan. Pada waktu itu seorang sahabat yang selama beberapa hari dalam kondisi lapar, melompat ke medan pertempuran.[8]

Ketika itu semacam keadaan kemenangan sudah diraih kaum Muslim. Padanya ada beberapa buah kurma kering. Itulah makanannya. Ketika berita ini sampai ke telinganya maka dengan spontan ia melemparkan buah kurmanya dan ia melompat di medan pertempuran dan mati syahid sesampainya di sana. Saat itu ia meninggalkan semua pikiran perut dan laparnya bahkan beranggapan memakan kurma adalah dosa karena pada waktu itu agama menuntutnya memakan buah kurma di saat itu berdosa. Singkatnya, pekerjaan yang menghalangi jalan agama betapapun mulianya, adalah tidak baik dan yang bukan penghalang di jalan agama, walau betapapun rendahnya ia tidak akan tidak menjadi baik. Kita harus berusaha untuk menciptakan ruh semangat yang membuat kondisi hati kita mencari ridha Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati. Ada riwayat berkenaan mengetahui keberadaan hati seseorang. Pada suatu kali Rasulullah Saw duduk di masjid. Orang-orang pun duduk beserta beliau. Pada saat itu masuklah tiga orang. dua orang langsung pergi menuju kehadapan Rasulullah Saw dan seorang diantaranya berpaling. Setelah keduanya berdiri setelah mendekati Rasullah Saw. Salah satu dari dua yang tinggal dekat Nabi melihat, bahwa di dekat beliau Saw ada tempat kosong, ia cepat maju ke depan dan duduk di sana. Yang kedua duduk di belakang orang lain. Yang ketika beranggapan tidak ada tempat lagi, kemudian berbalik dan pergi. Ketika Rasulullah saw selesai menyampaikan daras, beliau bersabda, “Maukah kamu kuceritakan keadaan ketiga orang ini? Salah satu dari tiga orang mencari perlindungan Allah dan Allah memberikan kepadanya yang dekat dengan saya. Orang kedua adalah sedikit perasaan malu dan Allah juga memperlakukan perasaan malunya yakni dengan duduknya ia di majlis sana, penyebab dosa-dosanya diampuni. Dan yang ketiga berpaling dan Allah perpaling darinya.” [9]

Secara sepintas lalu, ini adalah narasi yang sangat biasa. Yaitu tiga orang datang, duduk dan satu diantara ketiganya pergi. Karena orang ketiga berasumsi, “Suara tidak sampai kepadaku karenanya tidak ada faedahnya duduk di sana”, maka ia meninggalkannya. Namun, karena tindakan ketiga orang itu didasarkan pada apa yang ada di dalam hatinya, dan itu adalah ekspresi dari kondisi hatinya sedangkan Allah melihat apa yang ada di hati maka pahala-Nya adalah sesuai dengan apa yang ada di dalam hati masing-masing. Karena itu, kondisi hati seseorang sangat signifikan dalam hal pemberian pahala. Hal ini harus selalu diingat. Allah melihat kondisi hati. Dia mengetahui keadaan hati siapa yang lebih maju dalam hal pengkhidmatan dan yang menunjukkan kemalasan. Dua yang pertama diberi ganjaran sesuai dengan tindakan derajat mereka dan yang ketiga tidak mendapatkan, bahkan menyebabkan ketidakridhaan Ilahi.

Oleh karena itu seorang mu-min harus melihat tujuan yang ada dihadapannya, seberapa jauh ia telah berkurban yang diharuskan untuknya. Berkorban sejauh mana sesuai dengan yang dibutuhkan menjadikannya layak mendapat pertolongan dan ganjaran Allah Ta’ala. Pengorbanan yang terus berlangsung selamanya atas dasar kelonggaran harta atau sesuai dengan kebutuhan. Itu artinya, setiap saat pemberian pengorbanan tidaklah atas dasar karena kemampuan harta saja. Pada suatu waktu Syariat hanya meminta pengorbanan sesuai kebutuhan. Sebagai contoh, jika seorang musafir datang, ditemuinya ada beberapa orang dan ia meminta £ 100 (seratus Pound). Beberapa orang dalam kelompok memenuhi kebutuhannya dari kantong mereka sebanyak yang bisa mereka berikan, tapi masih ada kekurangan sebesar £ 10. Saat itu, orang yang mampu datang. Kalau dia mau, dia dengan mudah bisa memenuhi seluruh kebutuhan musafir itu dari dirinya sendiri. Namun sesuai dengan kebutuhan saat itu hanya memberi £ 10. Meskipun ia memiliki kemampuan untuk membayar lebih, tapi jika ia membayar yang diperlukan yaitu £ 10. Jika niatnya baik, bahwa ia akan diberi pahala untuk itu. Demikian juga dalam suatu gerakan tertentu pengorbanan harta, kalau dikatakan sebagai contoh adalah pembayaran candah. Orang-orang menyumbang ratusan dan ribuan. Tetapi bagi orang-orang yang terbatas keuangannya sesuai dengan kemampuannya hanya dapat memberikan beberapa rupee atau pound saja. Maka Allah Ta’ala yang mengetahui apa yang ada dalam hati, memberkati tindakan ini dan orang seperti ini telah menyempurnakan tujuannya. Sama halnya orang kaya menyempurnakan tujuannya dengan membayar apa yang diperlukan pada saatnya dan ia membantu musafir yang kekurangan tadi, demikian pula orang yang terbatas keuangannya juga mencapai tujuannya dengan infaq di jalan Allah Ta’ala sesuai dengan kapasitasnya demi ridha-Nya. Diceritakan dalam satu Hadist, Rasulullah saw bersabda, “Sedekah atau infak satu Dirham mengungguli seratus ribu Dirham. Ini karena orang yang hanya memiliki dua Dirham memberikan satu Dirham, tapi orang yang lain, yang kekayaannya ratusan ribu Dirham hanya memberikan seratus ribu Dirham, sangat kurang menurut kapasitasnya.”[10] Maka hal ini harus selalu diingat, yaitu tujuan sebenarnya adalah ridha Allah. Dalam melakukan infak, tujuan keduanya (orang kaya dan orang miskin) adalah meraih ridha-Nya.

Dasar perbuatan orang mu’min adalah menundukkan hatinya pada perintah Allah dan untuk meraih ridha-Nya. Tujuan haruslah untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Didalamnya terdapat kesuksesan dan keselamatan. Untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala keadaan hati kita harus sesuai dengan keinginan-Nya. Inilah makna mendahulukan agama dari pada dunia. Tanggung jawab kita, seperti pernah saya katakan, telah ditetapkan dengan melakukan tugas-tugas yang besar. Kita telah berjanji mengorbankan jiwa, harta, waktu dan kehormatan kita. Oleh karena itu kita harus senantiasa berusaha merenungkan bagaimana kita harus memanfaatkan kapasitas kita untuk mendahulukan agama diatas hal-hal dunia.

Hari ini Ijtima Ansharullah [Inggris] dimulai. Mereka juga akan mengadakan Majlis Syura. Mereka harus memikirkan dan mempelajari dalam Syura dan ijtima-ijtima mereka mengenai bagaimana dan sejauh mana maju dalam meninggikan derajat mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan dunianya. Bahkan, mereka harus melakukannya. Usia Asharullah adalah usia dimana mereka harus harus menjadi panutan bagi yang lainnya.

Allah tidak membutuhkan apa-apa dari kita. Ini adalah ihsan-Nya, anugerah-Nya yaitu Dia berfirman kepada kita, yaitu, “Kalau kamu mendahulukan kepentingan agama dari pada kepentingan duniawi maka kamu akan mendapat keridhaan-Ku”. Memang Dia telah menganugerahkan rahmat dan karunia-Nya. Kalau kamu tidak demikian, Allah Ta’ala tidak memerlukan contoh-contoh pengorbanan harta sebagaimana telah saya sampaikan. Allah Ta’ala tidak membutuhkan apa-apa dari kita juga dari yang lainnya. Dia ciptakan bumi dan semua sumber daya, perak dan emas di dunia ini. Kalau Dia menghendaki, Dia bisa datangkan semua ini kepada orang-orang yang bekerja pada agama-Nya. Dia Sendiri dapat memfasilitasinya. Tetapi, Dia memberitahukan kepada kita tujuan kita kemudian memberi perhatian kepada kita untuk membuat pengorbanan supaya kita dapat menjadi orang-orang yang memperoleh ridha-Nya.

 Tidak hanya kekayaan saja, Tuhan juga telah memberikan kepada kita anak-anak. Dia juga bisa menyediakan jalan untuk mentarbiyyati mereka. Namun, Dia mengatakan kepada orang tua (ibu-bapak) supaya memberikan tarbiyyat pada anak-anaknya. Mereka membelanjakan hartanya sesuai dengan kemampuannya untuk mendapatkan tujuan yang mulia sehingga anak-anak mereka bisa berkembang untuk mengkhidmati agama. Bagi ibu bapak Ahmadi inilah tanggung jawab besar mereka yaitu memberikan tarbiyyat pada anak-anaknya sehingga setelah besar mereka dapat mengkhidmati agama. Dengan itu barulah menjadi sempurna tujuan mendahulukan kepentingan agama diatas kepentingan dunia. Janji itu tersempurnakan. Mereka harus mendidik anak-anak mereka sedemikian rupa, sehingga sejak masa kanak-kanak, anak-anak mereka memiliki wawasan mendahulukan kepentingan agama diatas keperluan dunia. Dengan mempercayakan hal ini kepada kita, Allah menguji kita dan juga memberikan anugerah kepada kita.

Di sini juga saya ingin menyampaikan pada setiap tingkatan kepengurusan, bahwa tanggung jawab mereka untuk menyempurnakan mendahulukan kepentingan agama diatas kepentingan dunia lebih dari anggota yang lain. Mereka telah dibuat bertanggung jawab untuk mencapai tujuan ini dan untuk kebutuhan ini mereka perlu lebih meninggikan lagi tingkat pengorbanannya. Dengan demikian setiap tingkatan kepengurusan, dari kepengurusan lokal hingga ke pusat, dari tingkat kelompok hingga pusat dapat berusaha menyempurnakan janjinya sesuai dengan kemampuannya dan hendaknya dilaksanakan. Hendaknya diingat, pandangan Allah Ta’ala tertuju pada hati. Allah Ta’ala selalu memberkati ketulusan mereka yang mengkhidmati agama seraya merasakan kepedihan hati. Dia memberi kedekatan-Nya kepada mereka. Para pengurus harus berusaha untuk mencapai derajat ini. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada para pengurus di setiap tingkat, dan setiap Ahmadi, dan juga kepada saya (Hudhur) untuk memiliki wawasan yang benar dan juga mengamalkan dalam hal mendahulukan kepentingan agama diatas kepentingan dunia.

Hari ini juga diterima berita duka. Terjadi pensyahidan di Pakistan. Tn. Latif Alam Butt putra Tn. Khursyid Alam Butt dari Kamra, distrik Okara pada 15 Oktober di waktu malam kurang lebih jam 7 di dekat rumahnya. Dua Orang yang tidak dikenal menembaknya dengan mengendarai sepeda motor yang menyebabkan beliau mati Syahid. Innalillahi wa Inna ilaihi raaji’uun. Peristiwanya sebagai berikut; Beliau memiliki toko di dekat rumahnya. Untuk keperluan biasa beliau pulang ke rumahnya. Ketika sampai di sebuah Gang di dekat rumahnya, dua oarng yang mengendarai sepeda motor memanggilnya dari belakang. Begitu beliau menoleh ke belakang, seseorang menembaknya. Akibat tembakannya 4 – 5 peluru mengenai dada almarhum syahid. Setelah mendengar berita, anaknya Tuan Zeeshan datang dan layanan darurat juga tiba, tapi tuan Latif Alam Sahib menjadi syahid dalam perjalanan ke rumah sakit. Innalillahi wa Inna ilaihi rajiuu’un.

Keluarga Tn. Latif Alam Butt berasal dari Maunki Kabupaten Gujranwala. Masuknya keluarga almarhum syahid kedalam Ahmadiyah melalui ayahnya, Tn. Khurshid Alam yang mendapat taufik berbaiat pada 1934. Almarhum lahir pada April 1952 dan setelah menyelesaikan pendidikan FAnya bekerja sebagai teknisi angkatan udara. Beliau pensiun pada 1991 setelah memulai bisnis buku hukum dan dikagumi oleh semua pelanggan termasuk pengacara non-Ahmadi. Putra beliau yang paling besar Tn. Khurram Butt bekerja di angkatan udara. Pada saat pensyahidan, almarhum bertugas sebagai publikasi nazim Ansharullah dan mengelola sebuah toko alat tulis. Beliau juga pernah mendapat taufik mengkhidmati Jemaat sebagai nazim Sehat Jasmani. Rumahnya digunakan sebagai pusat shalat untuk waktu yang lama. Selain itu rumahnya juga dipakai untuk kegiatan Jalsah, meeting dan kegiatan lainnya. Almarhum selalu siap mengkhidmati jemaat dan tugas apapun yang dibebankan padanya selalu dikerjakan dengan semangat, tidak pernah menolaknya. Almarhum syahid penerima tamu yang baik. Beliau memiliki hubungan setia dan kecintaan dengan Khilafat. Ketaatannya luar biasa. Beliau memperhatikan 5 waktu shalat dan shalat Jumatnya. Beliau sudah berangkat 2 jam sebelum waktu shalat Jum’at. Beliau seorang pemberani. Pernah berjuang dari penyerang pada tahun 2007-08 ketika seorang pria tak dikenal mencoba untuk menembak beliau, tapi peluru mengenainya. Ketika disyahidkan usianya 62 tahun. Wasiyyat-nya sedang diproses pada saat ke wafatannya tetapi Karpardaz (majlis yang mengurus Musi/Musiah) telah mengabulkannya.

Yth. Tuan Amir Wilayah mengatakan, bahwa Almarhum selalu berpartisipasi dalam semua program Jemaat, dan sangat luar biasa dalam ketaatannya pada Nizam Jemaat. Senantiasa hadir dalam program dan ijlas Jemaat. Tidak pernah tidak hadir dalam segala kegiatan Jemaat. Beliau meninggalkan jandanya, satu putri Iram Waseem dan empat anak laki-laki; Khurram Butt, Zeeshan Butt, Umer Butt dan Ali Butt. Setelah pensiun almarhum sengaja tinggal di daerah dan membuat rumah di sana dengan harapan Jemaat akan didirikan di sana. Semoga Allah membawa niat baik almarhum untuk berbuah dan dapat imbalan dari kesyahidannya. Allah memberi kita ratusan Ahmadiyah dan Jemaat berdiri di daerah. Semoga Allah mengangkat status almarhum dan memberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan. Semoga Allah memberikan buah atas niatnya. Semoga Allah Ta’ala sebagai ganti dari pensyahidan itu menganugerahkan kepada kita ratusan ribu Ahmadi di wilayah itu. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhum. Keluarganya diberikan kekuatan kesabaran. Allah Ta’ala menjaga keamanan anggota Jemaat di Pakistan dalam segala segi. Pihak-pihak yang memusuhi semakin meningkat dalam permusuhannya. Semoga Allah segera membawa keadaan damai dan tenang bagi kita! (Abdul Wahhab & Ata’ul A’la)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Malfuuzhaat, jilid 2, h. 70, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[3] Malfuuzhaat, jilid 4, h. 71, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[4] Khuthubaat-e-Mahmud (Khotbah-Khotbah Mahmud, Hadhrat Khalifatul Masih II ra), jilid 12, h. 78-79, khotbah Jumat 29 Maret 1929.

[5] Shahih al-Bukhari, kitab pernikahan, hadits nomor 5090. Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi saw bersabda, “Wanita dinikahi dari empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena diin-nya, pilihlah karena diin-nya, jika tidak, tanganmu akan penuh lumpur (bermasalah).” Arti diin = agama, ketaatan.

بَاب الْأَكْفَاءِ فِي الدِّينِ وَقَوْلُهُ { وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنْ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا }

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

[6] Malfuuzhaat, jilid 3, h. 193-194, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[7] Khuthubaat-e-Mahmud (Khotbah-Khotbah Mahmud, Hadhrat Khalifatul Masih II ra), jilid 12, h. 80, khotbah Jumat 29 Maret 1929

[8] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi, bab perang Uhud. no.4046

Dari Jabir ra., ia berkata: Pada perang Uhud, ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW: “Apakah engkau tahu dimanakah tempatku seandainya aku terbunuh?” Beliau menjawab: “Di dalam Surga.” Kemudian orang itu melemparkan biji-biji kurma yang ada di tangannya lalu dia maju perang sampai mati terbunuh.”

سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا قَالَ فِي الْجَنَّةِ فَأَلْقَى تَمَرَاتٍ فِي يَدِهِ ثُمَّ قَاتَلَ حَتَّى قُتِلَ

[9] Shahih al-Bukhari,Kitab mengenai ilmu, hadits nomor 66

بَاب مَنْ قَعَدَ حَيْثُ يَنْتَهِي بِهِ الْمَجْلِسُ وَمَنْ رَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا
عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ

[10] Sunan al-Kubra an-Nasai, Kitab tentang Zakat, bab shadaqah jahd al-muqill (sedekah terbaik ketika dalam kekurangan), nomor 2305

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال سبق درهم مائة ألف درهم قالوا وكيف قال كان لرجل درهمان فتصدق أجودهما وانطلق رجل إلى عرض ماله فأخذ منه مائة ألف درهم فتصدق بها