Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 2 Mei 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ o الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ oملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ o اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُo

 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَo صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْ عَمْتَ عَلَيْهِمْ, غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَo

Di dalam beberapa khotbah yang lalu saya telah memberi penjelasan sabda-sabda Hadhrat Masih Masih ’alaihish shalaatu wassalaam tentang cara untuk meraih ma’rifat Ilahi dan pengertian tentang Tuhan, cara menyintai Tuhan dan hakikat (arti sebenarnya) Wujud Tuhan. Pada hari ini akan saya kemukakan beberapa kutipan dari sabda-sabda beliau as yang bersumber dari Khazanah ilmu pengetahuan beliau, dimana beliau telah menjelaskan beberapa cara untuk meraih hakikat qurb (kedekatan dengan) Allah Ta’ala, pengertiannya, dan beliau as menyatakan harapan-harapan dari Jemaat beliau agar mereka dapat menghasilkannya.

Seraya menjelaskan bahwa untuk mencapai Allah Ta’ala perlu sekali mempunyai pemahaman dan pengertian bahwa kebajikan sejati itu ada di dalam Zat (Wujud) Allah Ta’ala dan kebajikan itu sumbernya datang dari-Nya, yang dapat dihasilkan melalui pengamalan ajaran-ajaran-Nya. Sebagai hasilnya manusia menghasilkan qurb dan rahmat-Nya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Pada hakikatnya, tidak ada satu pun yang baik kecuali Allah Ta’ala. Seluruh akhlaq fadillah dan seluruh kebajikan mutlak milik-Nya. Kemudian, semakin keras seseorang berusaha dengan hati dan jiwa serta fana meraih qurb Zat-Nya, maka demikian juga sifat-sifat Allah Ta’ala sangat kuat meresap mewarnai jiwanya.”

Itu artinya, jika seseorang berusaha meraih qurb Allah Ta’ala dengan mengalahkan kehendak hati dan jiwanya, maka ia berhasil meraih qurb-Nya itu, dan akhlaq Ilahiyah (Sifat-sifat Allah Ta’ala) berkesan meresap ke dalam jiwanya. Dalam kata lain, orang yang mengalahkan seluruh keinginan nafs atau jiwanya dan berusaha membenamkan diri (fana) dalam Zat Allah Ta’ala, maka hasilnya ia meraih warna dan akhlaq atau sifat-sifat Allah Ta’ala. Dan begitu banyak telah menyerap sifat-sifat Allah Ta’ala ia akan mendapat taufiq untuk mengamalkan hukum-hukum-Nya secara terus-menerus.

Baliau as bersabda, ”Maka kemajuan akhlaq dan kesucian rohaniah yang dihasilkan seseorang, semata-mata dihasilkan berkat qurb (kedekatan dengan) Allah Ta’ala. Memang harus demikian, sebab pada zatnya sendiri, makhluk tidak mempunyai nilai apa-apa. Maka akhlaq fadhilah Ilahiyah itu meresap ke dalam kalbu orang yang berusaha mengikuti sepenuhnya ajaran Kitab Suci Al-Qur’anul Karim.” — Yakni akhlaq fadhilah Allah Ta’ala meresap ke dalam kalbu orang yang secara sempurna mengikuti perintah-perintah Quran Syarif.

Selanjutnya beliau as bersabda, “…dan dari pengalaman yang nyata menunjukkan bahwa akhlaq fadhilah orang yang penuh dengan semangat rohaniah yang bersih dan suci serta kecintaan yang memancar dari kalbu-nya, sekarang tandingannya tidak dapat dijumpai di dunia ini. Sekalipun orang lain bisa membuat pernyataan seperti itu secara lisan dan setiap orang bisa menyatakan demikian dengan bangga, namun yang dapat melalui pintu pengalaman nyata yang pintunya sangat sempit itu dengan selamat hanyalah orang tersebut di atas. Dan orang lain yang sekalipun menunjukkan akhlaq fadhilah itu juga, namun ia tunjukkan hanya sekedar formalitas dan dibuat-buat untuk pamer belaka.”

Orang yang berusaha mewarnai dirinya dengan Sifat-sifat Allah Ta’ala dan berusaha mengamalkan hukum-hukum Kitab Suci Al Quran, maka dari dialah akhlaq fadhilah yang hakiki akan nampak. Selain itu di dunia ini jika ada orang yang menunjukkan akhlaq fadhilah atau secara lahiriah akhlaq fadhilah itu nampak padanya, maka hanya formalitas, dibuat-buat dan rekayasa belaka.

“Keburukan-keburukan mereka tutupi, kesalahan-kesalahan mereka sembunyikan, kemudian mereka memamerkan akhlaq dusta.”

Itu artinya, semua karat kotor yang melekat padanya disembunyikannya, tidak mempunyai akhlaq yang sebenarnya, hanya menunjukkan secara lahiriah saja, dibuat-buat dan rekayasa.

Beliau selanjutnya bersabda: ”Karena mendapat ujian yang kecil-kecil saja terbukalah kedok kepalsuan mereka.”

Yakni, apabila ia diuji dengan percobaan-percobaan kecil pun terbukalah kepalsuannya. Misalnya di waktu ia menghadapi tuntutan di Pengadilan, terbukalah keadaan sebenarnya. Kedustaan, kejujuran, kebenaran dan akhlaq semua nampak, yakni kedustaannya terbuka, kejujuran dan kebenaran yang sejauh itu ia sembunyikan, akhlak sampai dimana dia perlihatkan, semua dapat diketahui.

Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. memberi suatu misal, bahwa di suatu tempat dalam sebuah Majlis yang terdiri dari orang-orang besar terpelajar dari sebuah perkumpulan, sebuah keputusan telah disepakati, bahwa suasana majelis hari ini harus informality (tidak resmi). Beliau r.a. menjelaskan bahwa standar tidak resmi ini ialah, perilaku apapun yang sifatnya omong-kosong dan sia-sia, dibiarkan berlaku. Maka, terbukalah kedok semua kepalsuan mereka.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda lagi, ”Kebanyakan mereka melakukan akhlaq fadhilah sebagai formalitas, dibuat-buat dan rekayasa itu karena mereka memandang keindahan persiapan kehidupan dunia dan masyarakat terletak di dalam hal itu.” –Yakni, mengapa mereka menunjukkan akhlaq dengan cara dibuat-dibuat atau direkayasa, karena dengan cara demikian mereka menganggap berfaedah bagi dunia mereka, bagi perkara-perkara duniawi mereka dan bagi masyarakat, semata-mata bukan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Beliau as bersabda: ”Jika setiap waktu mereka harus mengikuti keburukan rohaniah mereka maka hal itu akan menjadi penghalang dalam kegiatan masyarakat.” – yakni jika mengikuti keburukan-keburukan yang tergores di dalam hati mereka, maka ia akan mempengaruhi jalannya urusan duniawi mereka. Oleh sebab itu maksud menunjukkan akhlaq itu semata-mata untuk kepentingan pribadi mereka, bukan untuk menghasilkan keridhaan Allah Ta’ala.

Beliau as bersabda: “Walaupun secara fitrati mereka juga mempunyai benih-benih akhlaq, akan tetapi benih-benih itu selalu berada di bawah tekanan duri keinginan nafsu mereka, karena dengan dicampuri maksud-maksud keinginan pribadi, dan secara murni tidak nampak semata-mata karena Allah Ta’ala, maka bagaimana benih-benih itu akan sampai ke puncak kesempurnaannya? Yang berhasil sampai ke puncak kesempurnaan yang tinggi hanyalah mereka yang telah membuat diri mereka menjadi milik Allah Ta’ala, jiwa mereka sama-sekali kosong dari menyintai sesuatu kecuali Allah Ta’ala serta mengisinya dengan warna Sifat-sifat-Nya yang suci dan membuat hatinya begitu menyintai akhlaq itu seperti Dia Sendiri menyintai mereka. Karena mereka telah larut dalam meraih kedudukan akhlaq fadhilah Allah Ta’ala demikian rupa, seolah-olah mereka sekarang menjadi instrumen (alat) Allah Ta’ala yang dengan perantaraannya itu Dia menunjukkan Sifat-sifat-Nya dan ketika Dia menjumpai mereka lapar dan dahaga, Dia memberi mereka minum air bersih dari sumber mata air-Nya yang khusus.” – Artinya, Tuhan memberi minum air rohaniah yang murni dan suci kepada mereka.[2]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ”Allah Ta’ala tidak bisa tertipu. Dia membuat sahabat dekat-Nya kepada orang yang selalu berenang di dalam sungai kecintaan-Nya laksana ikan dan yang berusaha menjadi milik-Nya. Dan dia fana (larut) di dalam mentaati-Nya. Maka orang yang benar dan jujur tidak akan pernah berkata bahwa kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa, pada hakikatnya semuanya kotor, tidak pernah ada orang suci dan tidak akan pernah pula ada…”

“…Seolah-olah Allah Ta’ala telah menciptakan hamba-hamba-Nya sia-sia, melainkan [maksudnya bahwa] ma’rifat hakiki menyatakan bahwa sesuai sunnah Allah Ta’ala semenjak zaman permulaan manusia diciptakan, Dia senantiasa mensucikan manusia yang menyintai-Nya. Dan kesucian hakiki serta Sumber mata air kesucian itu adalah Zat Allah Ta’ala Sendiri. Kepada orang yang patuh beribadah dan dengan penuh kecintaan selalu ingat dan sibuk berzikir kepada-Nya, Allah Ta’ala menanamkan Sifat-sifat-Nya agar mereka juga dapat meraih kesucian yang terdapat pada Zat-Nya secara hakiki dan murni.”[3]

Dalam menjelaskan tentang Hadhrat Rasulullah saw sebagai sarana dan tauladan untuk meraih akhlaq yang tinggi, kebaikan dan qurb Ilahi, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Kami juga percaya bahwa tanpa mengikuti Nabi kita Hadhrat Muhammad saw, manusia sama sekali tidak dapat meraih kedudukan shirathal mustaqim paling rendah sekali pun. Apa lagi kedudukan yang lebih tinggi dari itu. Kita sekali-kali tidak dapat meraih suatu martabat terhormat dan sempurna, suatu kedudukan terpuji dan qurb Allah Ta’ala kecuali dengan mengikuti serta dengan taat yang sempurna terhadap Nabi kita Muhammad saw. Apa saja yang kita peroleh adalah berkat zilli (refleksi) dan karunia taat kepadanya.”[4]

Apa hakikat Islam, apa yang harus dilakukan oleh orang Muslim dan sampai mana standar ketinggian qurb Allah Ta’ala yang harus dicapai orang-orang Muslim sendiri, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ”Hakikat Islam adalah seseorang menyerahkan lehernya di hadapan Allah Ta’ala seperti seekor kambing korban hendak disembelih; meninggalkan semua keinginan nafsu pribadinya dan mengorbankannya demi keinginan dan keridhaan Allah Ta’ala, membenamkan diri dalam lautan kecintaan Allah Ta’ala dan membiarkan maut menimpa dirinya, dengan kecintaan pribadi sepenuhnya hingga menghasilkan warna Sifat Allah Ta’ala. Menaati-Nya semata-mata karena gejolak semangat kecintaan yang sempurna kepada-Nya, bukan karena hal lain lagi. Dan memperoleh mata yang semata-mata memandang hanya kepada-Nya, dan memperoleh telinga yang semata-mata mendengar hanya kepada-Nya, menciptakan kalbu yang dengan sempurna tunduk taat kepada-Nya, dan menghasilkan lidah yang berbicara hanya mengikuti perintah-Nya.

Itulah semua kedudukan yang harus dicari sampai akhir, kemampuan dan kekuatan insani menyempurnakan fungsi serta tugas kewajibannya, dan kematian menimpa seluruh ego insaniyatnya, maka barulah rahmat Allah Ta’ala dan kalam (percakapan) yang hidup serta cahaya-Nya yang cemerlang memberi kehidupan baru kepada-nya.

Ia dianugerahi oleh Allah Ta’ala dengan kalaam (percakapan) yang sangat menyenangkan hati, dengan cahaya yang sangat halus yang tidak dapat dipantau oleh akal, dan mata sama-sekali tidak dapat memandangnya, Dia sendiri menjadi sangat dekat dengan manusia, sebagaimana firman-Nya: وَ نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ – ‘wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid.’ – “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (Al-Qāf, 50:17) Maka demikianlah Allah Ta’ala menganugerahkan qurb-Nya kepada insan yang tenggelam (fana) di dalam lautan kecintaan-Nya, lalu tiba-lah waktunya apabila kegelapan matanya hilang sirna dan timbullah pandangan matanya yang sangat cemerlang. Dan manusia melihat Tuhan-nya dengan pandangan matanya yang baru. Dan dia mendengar suara-Nya, sehingga ia mendapatkan dirinya terlena berbaring di dalam lipatan selimut cadar cahaya-Nya, barulah tujuan agama itu sudah terpenuhi, dan setelah mendapatkan Tuhan, manusia membuang jauh kehidupan tercela serta pakaian kotor yang menyelimuti dirinya….” — Yakni apabila sudah meraih qurb Allah Ta’ala, manusia membuang semua kebiasaan hidup penuh noda dan penggunaan barang-barang duniawi yang kotor dan terlarang. Kemudian ia memakai pakaian nur cemerlang, yakni ia memakai pakaian baru, menjalani kehidupan baru yang dilimpahi nur dari Allah Ta’ala. – “Ia menunggu nikmat memandang Tuhan serta anugerah nikmat surga alam skhirat, tidak hanya merupakan janji belaka, bahkan di dunia ini juga ia memperoleh nikmat memandang Tuhan itu serta mendengar suara Tuhan dan menerima nikmat-nikmat surga.”[5]

Dalam menjelaskan tentang Istighfar ada dua macam, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Istighfar yang karenanya akar-akar iman menjadi kokoh-kuat, telah dijelaskan di dalam Al-Quran Syarif dalam dua arti. Arti pertama, memperkuat hati manusia dalam menyintai Allah Ta’ala, berhenti melakukan dosa, mendekatkan kembali manusia apabila ia sudah jauh dari Tuhan, sambil menjalin hubungan erat dengan Allah Ta’ala dan sambil mendekatkan diri memohon pertolongan kepada-Nya, maka istighfar ini khusus bagi orang-orang yang sangat dekat dengan Allah Ta’ala, setiap waktu melakukan istighfar, yang membuat iman dan kecintaan manusia kepada Allah Ta’ala terus-menerus semakin kuat.

Istighfar ini adalah bagi orang-orang yang sangat dekat dengan Allah Ta’ala, yang menganggap berpisah dengan Allah Ta’ala walaupun hanya sekejap lebih buruk dari pada kematian.” — Yakni ia berpisah dengan Tuhan walaupun hanya sekejap saja dirasakan sebagai kematian atau kehancuran baginya. – “Oleh sebab itu ia selalu istighfar, tidak mau tinggal tanpa istighfar agar ia semakin kuat dalam menyintai Allah Ta’ala.

Arti kedua dari istighfar adalah keluar dari cengkeraman dosa, lalu berlari ke arah Allah Ta’ala dan berusaha seperti sebatang pohon tumbuh kuat di dalam tanah, demikianlah hati manusia juga tenggelam dalam lautan kecintaan Allah Ta’ala, supaya setelah mendapat pertumbuhan yang suci, hati manusia selamat dari kekeringan dan keburukan dosa. Kedua keadaan tersebut dinamakan istighfar.[6]

Dalam menjelaskan banyak sekali martabat untuk mengenal Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Martabat yang paling utama dan paling tinggi adalah qurb (kedekatan) Allah Ta’ala. Manusia jangan merasa gembira hanya dengan menerima kasyaf ataupun ilham. Bal’am Ba’ur juga (di zaman Nabi Musa as) menerima ilham, namun ia telah tersandung dan jatuh. Oleh sebab itu carilah (usahakanlah) untuk mendapat qurb Ilahi dan qurb dapat diperoleh dengan menggabungkan diri kepada orang yang diutus oleh Allah Ta’ala, sebab ia secara terus-menerus menerima cahaya rohaniah dari Allah Ta’ala dan keridhaan Allah Ta’ala senantiasa menjadi tujuannya.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda lagi, “Allah Ta’ala adalah Nur, sebagaimana firman-Nya اَللّٰہُ نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ – Allahu nuurus samaawati wal ardh “Allah adalah Nur seluruh langit dan bumi” (An Nur, 24:36). Orang yang hanya melihat Nur ini seperti orang yang melihat kepulan asap api dari jarak jauh tetapi tidak melihat cahaya api, maka ia tidak mendapatkan faedah dari pada Nur ini.” – yakni cahaya Allah Ta’ala dapat diperoleh dengan membenamkan diri dalam lautan kecintaan terhadap Allah Ta’ala. “Dan dari panasnya juga yang membakar kekekotoran rohaniah manusiawi.” — yakni ia tidak mendapatkan panasnya api itu juga yang dapat membakar kekotoran manusiawi atau kesalahan dan kelemahan yang menutupinya – “Maka orang-orang yang hanya menggunakan dalil-dalil ilmu pengetahuan dan akal atau dengan ilham-ilham khayalan membuktikan [keberadaan] Wujud Allah Ta’ala — seperti para ulama lahiriah atau para pakar filsafat atau orang yang beriman kepada Wujud Tuhan Yang Maha Kuasa hanya menggunakan kekuatan batin, rukya dan kasyaf, namun mereka tidak berhasil memperoleh cahaya qurb Allah Ta’ala — mereka adalah seperti keadaan manusia yang melihat kepulan asap api dari jarak jauh, tetapi ia tidak dapat melihat cahaya api itu dan ia percaya kepada adanya wujud api itu hanya dengan melihat kepulan asapnya saja.[7]

Lebih lanjut dalam menjelaskan banyak martabat qurb (kedekatan) Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud bersabda: ”Disebabkan terdapat berbagai martabat qurb (kedekatan) dan hubungan dengan Allah Ta’ala Yang Maha Esa, oleh karena itu sekalipun seorang manusia yang dianggap sudah dekat dengan Allah Ta’ala, apabila dibandingkan dengan orang yang lebih maju dalam martabat qurb dan kecintaan Ilahi, maka hasilnya adalah orang yang berada pada martabat rendah dalam qurb Ilahi, tidak hanya sekedar binasa bahkan ia mati dalam keadaan tidak beriman, seperti keadaan Bal’am Ba’ur ketika ia melawan Nabi Musa as[8]

Jadi, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa martabat qurb (kedekatan dengan) Allah Ta’ala yang paling tinggi adalah martabat Hadhrat Rasulullah saw, dan kita dapat menyaksikan bahwa pada zaman ini karena ketaatan yang sempurna kepada Hadhrat Rasulullah saw, Allah Ta’ala telah menganugerahkan martabat itu kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Al-Masih dan Mahdi Mau’ud as. Karena itu pada zaman ini orang yang mencari martabat qurb Allah Ta’ala sambil memisahkan diri dari Al-Masih dan Mahdi Mau’ud as akan memperoleh akhir kesudahannya seperti Bal’am Ba’ur.

Dalam menjelaskan qurb Allah Ta’ala dapat diraih melalui Al Quran, Al-Masih dan Mahdi Mau’ud a.s bersabda: ”Qurb Allah Ta’ala dapat diraih melalui Al-Quranul Karim. Dan kepada orang yang mencari qurb itu Allah Ta’ala memperlihatkan Tanda-tanda-Nya. Setiap orang yang melakukan perlawanan kepada orang yang menjadi pengikut hakiki Al-Quranul Karim, Allah Ta’ala menunjukkan Tanda yang sangat menakutkan, bahwa Dia senantiasa bersama hamba-Nya yang mengikuti kalam-Nya. Sebagaimana Dia telah menyatakan buktinya terhadap Lekh Ram, ia sendiri sangat paham bahwa kematiannya yang sangat dahsyat itu Allah Ta’ala telah menentukan sebagai cap bagi kebenaran Islam.

Pendeknya melalui qudrat atau kekuatan-Nya yang hidup Allah Ta’ala menarik sedekat mungkin kepada-Nya para pengikut hakiki Al-Qur’anul Karim dan menyampaikan mereka ke martabat qurb-Nya ke puncak menara paling tinggi.[9]

Selanjutnya Hadhrat Masih dan Mahdi as bersabda: ”Hal ini juga harus diingat sebaik-baiknya, bahwa setiap benda mengandung faedah. Tengoklah di alam dunia ini dari tetumbuhan yang berkwalitas tinggi sampai kepada makhluk yang paling rendah seperti cacing atau semut sekalipun, tidak hampa dari manfaat atau faedah bagi manusia. Apakah semua benda-benda itu ardhi atau samawi (benda-benda bumi atau langit) adalah proyeksi dan Tanda-tanda dari Sifat-sifat Allah Ta’ala.

Apabila di dalam Sifat-sifat itu terdapat banyak sekali faedahnya maka bayangkan betapa banyak tingkat faedah di dalam Zat-Nya sendiri. Harus diingat juga kedudukannya bahwa apabila di dalam benda-benda itu kadang-kadang terbukti merugikan juga, hal itu disebabkan kesalahan kita dan kurangnya pengertian tentang benda-benda itu, bukan karena di dalam zat benda-benda itu sendiri mengandung bahaya…” — yakni di dalam benda-benda itu hanya terkandung unsur yang membahayakan — “Sesungguhnya, jika manusia mengalami kerugian dan mara bahaya darinya, hal itu disebabkan kesalahan dan kekeliruan mereka sendiri.

Begitu juga kita terlibat di dalam suatu kesulitan dan musibah, hanya disebabkan kita tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang Sifat-sifat Allah Ta’ala. Jika tidak, Allah Ta’ala Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada kita. Di dunia ini kita menghadapi kesulitan dan kesengsaraan disebabkan kesalahan sendiri, lemahnya pengertian dan kelirunya pemahaman sehingga kita terlibat di dalam musibah dan mara bahaya…” — Yakni karena kita tidak memahami betul suatu perkara atau kita tidak memiliki pengetahuan yang sebenarnya maka kita terlibat di dalam berbagai musibah dan bahaya.

Beliau as bersabda, “Maka dengan perantaraan pengertian terhadap Sifat-sifat Allah Ta’ala kita mendapatkan Allah Ta’ala Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Mulia sebagai Wujud Yang Maha Pemberi faedah di luar dugaan kita. Dan yang dapat memiliki pengertian tentang faedah dan manfa’at ini hanyalah orang yang memperoleh qurb (kedekatan) dengan Allah Ta’ala, dan kedudukan ini dapat diraih oleh orang-orang yang disebut muttaqi (orang bertakwa) dan memperoleh kedudukan qurb dengan Allah Ta’ala.

Semakin dekat terus-menerus orang bertakwa (muttaqi) kepada Allah Ta’ala, semakin banyak pula ia memperoleh nur hidayat (petunjuk) dari-Nya Yang menciptakan cahaya khusus di dalam pengetahuan dan pengertiannya. Demikian juga jika semakin jauh terus-menerus dari Allah Ta’ala, merupakan sebuah kegelapan yang membinasakan hati dan alam pikirannya, sehingga menjadi sasaran ayat صُمٌّۢ بُکۡمٌ عُمۡیٌ فَہُمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ — mereka itu tuli, bisu dan buta, tidak dapat kembali. (Al-Baqarah, 2:19), dan menjadi korban kehinaan dan kebinasaan.

Tetapi sebaliknya, manusia yang diberkati dengan nur akan meraih kesenangan dan kehormatan yang luhur. Allah Ta’ala a sendiri berfirman, يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ * ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

Hai jiwa yang tenteram! Kembalilah kepada Tuhan engkau, engkau ridha kepada-Nya dan Dia pun ridha kepada engkau! (Al Fajr, 89: 28-29).[10]

Hadhrat Masih dan Mahdi Mau’ud as bersabda: ”Hai jiwa yang tenteram! Ketenteraman ini diperoleh karena dekatnya hubungan dengan Allah Ta’ala. Kebanyakan orang secara lahiriah merasakan tenteram setelah menghasilkan sesuatu dari Pemerintah, sedangkan sarana ketenteraman bagi kebanyakan orang lain adalah berupa anak-anak, keluarga dan orang-orang yang tinggal di sekitar lingkungan mereka. Tetapi semua itu tidak dapat menciptakan ketenteraman yang sejati, melainkan seperti seorang sakit yang dahaga (kehausan) mencari ketenteraman dari orang-orang itu namun perasaan dahaganya semakin bertambah terus dan tidak pernah merasa tenteram bahkan akhirnya binasa disebabkan suatu penyakit.

Namun di pihak lain Allah Ta’ala berfirman, bahwa manusia yang mendapat ketenteraman setelah meraih qurb (kedekatan) Ilahi, sekalipun ia memiliki kekayaan yang luar biasa banyaknya, dia tidak mempedulikannya sebesar zarrah-pun dibandingkan dengan Allah Ta’ala Yang Mahakuasa. Dunia bukan tujuan utama-nya. Dia mencari ketenteraman sejati yang terdapat pada Zat (Wujud) Allah Ta’ala.”

Selanjutnya beliau as bersabda: ”Allah Ta’ala telah mengajar kita bahwa semua ketenteraman sejati manusia terletak dalam qurb Allah Ta’ala dan dalam kecintaan kepada-Nya. Jika posisi ini ditinggalkan kemudian bertekuk lutut kepada dunia, maka mulailah dengan kehidupan Jahannam. Dan kehidupan dunia ini akhirnya akan disadari sebagai Jahannam oleh setiap orang — cepat atau pun lambat — apabila kematian sudah diambang pintu dan hampir meninggalkan dunia fana ini beserta segala harta milik serta semua relasi.[11]

Hadhrat Masih, Mahdi Mau’ud as bersabda: ”Kegembiraan paling tinggi terdapat di dalam Tuhan, di dalam selainNya tidak terdapat kegembiraan yang besar dan tinggi. Jannah (surga) disebut tersembunyi…” — yakni mengapa benda yang tersembunyi itu disebut jannah — “Dan surga disebut jannah karena ia tertutup dengan nikmat-nikmat. Jannah (surga) hakiki adalah Allah Ta’ala. Orang yang bersama dengan-Nya tidak merasa gentar. Oleh sebab itu diantara nikmat-nikmat Jannah yang paling besar adalah, ورضوان من الله أكبر ‘wa ridhwaanum minAllahi akbar.’ Yakni: Keridhaan Allah adalah paling besar. (AtTaubah, 9:72). Manusia, disebabkan kedudukannya sebagai manusia, sedikit banyak selalu terlibat dalam suatu kesusahan dan kemunduran. Namun semakin banyak ia meraih qurb Ilahi secara terus-menerus dan تخلَّقوا بأخلاق الله takhallaquu bi akhlaaqiLlaah yakni mewarnai dirinya dengan sifat-sifat Allah Ta’ala, semakin mantap ia memperoleh ketenteraman dan kesenangan yang sejati. Seberapa banyak qurb Ilahi ia peroleh pastilah sebanyak itu pula ia akan memperoleh banyak bagian dari pada nikmat-nikmat Allah Ta’ala”.[12]

Berkaitan dengan kesudahan orang yang meraih qurb Ilahi, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ala dan mewakafkan kehidupannya di jalan-Nya serta giat melakukan amal saleh maka ia akan memperoleh ganjarannya dari mata air qurb Ilahi. Dan sedikitpun mereka tidak akan merasa takut dan tidak pula merasa sedih.”

 Yakni orang yang menggunakan semua kekuatan dan kemampuannya di jalan Allah Ta’ala dan semata-mata karena Allah Ta’ala, perkataannya dan amal perbuatannya serta setiap gerak-geriknya dan seluruh kehidupannya diwakafkan kepada Allah Ta’ala, dan menyibukkan diri dalam melakukan kebaikan, maka Allah Ta’ala akan memberi ganjaran kepadanya dan Dia akan menyelamatkannya dari rasa takut dan sedih”.[13]

Dalam menjelaskan doa sebagai sebuah sarana untuk meraih qurb Ilahi, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ”Doa laksana sebuah sumber mata air yang sejuk dan segar, orang beriman tinggal di sekitarnya. Dia dapat minum sekenyangnya bilamana saja ia mau. Sebagaimana ikan tidak bisa hidup tanpa air, demikian juga doa adalah air bagi orang beriman. Tanpa doa ia tidak bisa hidup. Waktu yang paling tepat untuk berdoa adalah shalat. Apabila orang mukmin mendapat ketenangan dan kebahagiaan, tidak dapat dibandingkan dengan kegembiraan yang diraih orang penggemar hidup mewah yang dia rasakan diwaktu melakukan dekadensi moral dan tidak ada artinya.

Perkara besar yang diraih dari doa adalah qurb Ilahi. Melalui doa manusia menjadi dekat dengan Allah Ta’ala dan menarik Tuhan kepada dirinya.” — Maka untuk menghasilkan qurb Ilahi itu shalat adalah perkara yang sangat penting sekali dan kewajiban shalat dapat dipenuhi jika dilaksanakan secara dawam sesuai dengan perintah Allah Ta’ala.[14]

Selanjutnya dalam mengingatkan standard doa dan shalat, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ”Untuk menghasilkan qurb Allah Ta’ala, di dalam hati manusia harus ada perasaan rindu kepada-Nya, karena itu ia menjadi layak dihargai di pandangan Allah Ta’ala. Jika perasan rindu ini tidak terdapat di dalam hatinya, dan hanya merasa rindu kepada dunia dan semua yang ada di dalamnya, maka setelah mendapat peluang hidup sebentar akhirnya akan binasa.

Allah Ta’ala memberi peluang karena Dia Halim, Penyabar, akan tetapi orang yang tidak mengambil faedah dari Sifat Halim-Nya itu, apa yang akan Tuhan lakukan? Keberuntungan (nasib baik) manusia itu sangat terikat adanya hubungan sedikit demi sedikit dengan Allah Ta’ala. Hati manusia adalah titik pusat semua ibadah. Jika manusia beribadah kepada Allah Ta’ala namun hatinya tidak condong kepada Allah Ta’ala, bagaimana bisa baik ibadah seperti itu? Oleh karena itu perlu sekali hati manusia condong sepenuhnya kepada Allah Ta’ala.” – Yakni hati manusia condong sepenuhnya kepada Allah Ta’ala sangat diperlukan sekali.

Sekarang tengoklah ada beribu-ribu buah masjid, akan tetapi di dalamnya hanya terdapat ibadah secara ritual belaka. Seperti itulah juga keadaan orang-orang Yahudi di Zaman Hadhrat Rasulullah saw. Mereka melakukan ibadah hanya sebagai kebiasaan ritual belaka, hati mereka sekali-kali tidak condong secara murni, yang merupakan intisari ibadah kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itulah Allah Ta’ala menurunkan laknat kepada merea.

Demikian pula pada zaman ini juga orang-orang yang tidak menaruh perhatian terhadap kesucian hati mereka, jika sampai beratus tahun pun beribadah secara ritual belaka sedikit pun tidak akan mendatangkan faedah kepada mereka. Kesuburan taman amal tercipta karena kesucian hati. Oleh sebab itulah Allah Ta’ala telah berfirman قد أفلح من زكاها — “sungguh beruntunglah orang yang menyucikan kalbunya, وقد خاب من دسّاها — dan orang yang tidak mensucikannya yakni mengotorinya dengan debu dan menjadikan tempat berkumpulnya keinginan-keinginan nafsu peribadinya akan menghadapi kegagalan.” (As Syams, 91:10-11)

Kita tidak menyangkal bahwa untuk sampai kepada Tuhan terdapat ribuan macam hambatan. Jika hambatan-hambatan ini tidak ada maka di dunia ini tidak akan ada orang Hindu dan tidak pula orang Kristen, hanya akan nampak orang Muslim semuanya. Akan tetapi semua hambatan-hambatan itu juga dapat dihapuskan dengan karunia Allah Ta’ala. Jika Dia memberi taufiq maka manusia dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Oleh karena itu akhirnya manusia harus kembali kepada Tuhan agar Dia memberi kekuatan dan kemampuan”.[15]

Kemudian dalam mengingatkan untuk bertobah demi mencapai qurb Ilahi, Hadhrat Masih, Mahdi Mau’ud as bersabda: “Ingatlah baik-baik! Dosa adalah racun, dengan memakannya manusia binasa. Bukan hanya binasa bahkan dia luput dari qurb Allah Ta’ala. Dan dia tidak layak menerima karunia dari Allah Ta’ala. Semakin banyak manusia melakukan dosa dia menjadi semakin jauh dari Allah Ta’ala. Dan ia menjadi jauh dari nur atau cahaya terang yang pernah dia peroleh melalui qurb Allah Ta’ala. Ia terlempar jauh ke dalam kegelapan dan dirundung oleh banyak kesulitan dan bala musibah, sehingga musuhnya yang paling berbahaya pun dipengaruhi syaitan untuk menghancurkannya.

Akan tetapi untuk menyelamatkan diri dari mara bahaya itu Allah Ta’ala menyediakan sarananya juga, dan jika manusia mengambil faedah darinya maka ia akan selamat dari kehancuran. Kemudian ia dapat meraih qurb Allah Ta’ala juga. Apakah sarana itu? Yaitu, kembali kepada Tuhan dan taubat sejati.

Nama Allah Ta’ala adalah التوّاب (tawwaab). Dia juga kembali kepada manusia. Sesungguhnya, apabila manusia berbuat dosa maka ia menjadi jauh dari Allah Ta’ala., dan Allah Ta’ala pun jauh menyingkir dari padanya. Akan tetapi apabila manusia kembali (rujuk), yakni seraya menyesali dosanya ia tunduk dibhadapan Allah Ta’ala, maka ghairah kasih sayang Tuhan Yang Rahim dan Karim bergerak menuju hamba-Nya itu, dan Dia kembali kepadanya. Oleh sebab itu nama Allah Ta’ala juga adalah التوّاب (at-Tawwaab).” Dia juga kembali kepada hamba-Nya, sambil mengabulkan taubahnya. Maka manusia harus kembali kepada Tuhan-nya agar Dia juga kembali kepadanya dengan rahmat dan kasih sayang-Nya.[16]

Selanjutnya beliau as bersabda: “Islam mengajarkan bagaimana cara meraih najaat (keselamatan) yang hakikatnya telah ditetapkan semenjak azali (permulaan sekali) yaitu, mencari kedudukan qurb Allah Ta’ala dengan iman yang sejati dan amal saleh serta dengan tekun mencari keridhaan Allah Ta’ala.

Usahakanlah untuk menghasilkan qurb dan keridhaan-Nya sebab semua azab Allah Ta’ala turun disebabkan manusia jauh dari-Nya dan karena kemurkaan-Nya. Maka, apabila manusia menjadi dekat dengan Allah Ta’ala karena taubat sejati, dengan berusaha mencari sarana yang hakiki, dengan ketaatan yang sempurna, dan dengan serius mengabulkan Tauhid, dan membuat-Nya ridha maka azab itu akan dijauhkan oleh-Nya”.[17]

Berkaitan dengan amal saleh untuk meraih qurb Ilahi, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Amal saleh adalah nikmat yang sangat besar, Allah Ta’ala menjadi ridha karena amal saleh, dan qurb Hadhrat Ahadiyat dapat diraih. Akan tetapi sebagaimana melalui teguk terakhir minum arak menjadi mabuk, demikianlah juga berkat-berkat amal saleh tersembunyi pada kebaikan terakhir. Manusia yang tekun sampai akhir dan melakukan amal saleh sampai tingkat yang sempurna, dia memperoleh berkat-berkat itu. Akan tetapi orang yang di tengah jalan meninggalkan عمل صالح amal saleh dan tidak dapat sampai kepada tujuan istimewa yang dimaksud maka ia terlepas dari semua berkat itu.”[18]

Selanjutnya beliau as bersabda: ”Saya mengetahui bahwa orang mukmin disucikan, dan ia menjadi seperti warna sifat Malaikat. Semakin banyak qurb Allah Ta’ala tertanam di dalam kalbunya, ia dapat mendengar Suara Allah Ta’ala hingga ia menjadi sangat tentram karenanya. Setiap orang diantara kalian harus berpikir dalam hati masing-masing mampukah ia memperoleh kedudukan seperti itu?

Saya berkata dengan sesungguhnya bahwa kamu merasa puas hanya dengan memperoleh kulitnya saja, padahal itu tidak berarti sedikit pun. Allah Ta’ala menghendaki isinya. Seperti pekerjaan saya ini, menghentikan serangan-serangan yang dilakukan dari luar terhadap Islam, dan juga menanamkan ruh dan intisari agama Islam diantara orang-orang Muslim.”[19]

Beliau as bersabda lagi: ”Di dalam itulah terletak kehormatan manusia, dan itulah kekayaan yang paling besar dan nikmat untuk menghasilkan qurb Allah Ta’ala. Apabila manusia sudah menjadi ‘muqarrab’ Allah Ta’ala (sangat dekat dengan Allah Ta’ala) maka Allah Ta’ala menurunkan beribu-ribu berkat kepada-nya, baik dari bumi maupun dari langit juga. Berapa banyak kekuatan telah dikerahkan oleh orang-orang Quraisy untuk menghancurkan Hadhrat Rasulullah saw Mereka sebuah kaum secara menyeluruh sedangkan Hadhrat Rasulullah saw hanya seorang diri. Tetapi, perhatikanlah! Siapa yang telah berjaya? Siapa yang telah menelan kegagalan? Pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala terhadap ‘muqarrab’-Nya adalah Tanda yang sangat besar sekali.”[20]

Dalam mengingatkan untuk meraih qurb Allah Ta’ala beliau as bersabda: ”Hendaklah kamu senantiasa takut sekali akan laknat Allah, sebab Dia itu Quddus dan Ghayyur (sangat tinggi rasa hormat-Nya). Setiap orang yang berkelakuan buruk tidak akan dapat memperoleh qurb-Nya. Setiap orang takabbur tidak akan dapat memperoleh qurb-Nya, begitu juga, orang zalim, orang khianat, dan setiap orang yang tidak mempunyai rasa hormat terhadap nama Tuhan. Barangsiapa tergila-gila oleh keduniaan dan layaknya seperti anjing, semut atau burung nasar (tatkala ia melihat bangkai busuk), dan mereka yang sudah merasa puas oleh kesenangan dunia, mereka tidak dapat memperoleh qurb-Nya. Setiap orang yang tidak bersih matanya ia akan tetap jauh dari Dia. Setiap orang yang hatinya tidak bersih, tidak akan menyadari adanya Tuhan. Barangsiapa tinggal di dalam gejolak api (penderitaan) ia akan diselamatkan dari api itu. Barangsiapa menangis demi Dia, ia akan dibuat tertawa gembira oleh-Nya. Barangsiapa memutuskan diri dari dunia demi Dia, ia akan menemukan Dia.

Dengan kesungguhan hati, dan dengan penuh ketulusan serta dengan langkah-langkah bersemangat jadilah sahabat Tuhan, agar Tuhan pun akan menjadi sahabat kamu. Perlihatkanlah belas-kasih terhadap bawahan kamu, istri-istri kamu, dan saudara-saudara kamu yang tak berada, agar kamu pun di langit dilimpahi kasih-sayang. Hendaknya kamu benar-benar menjadi kepunyaan-Nya agar Tuhan pun menjadi kepunyaan kamu”.[21]

Kemudian bagaimana Allah Ta’ala menaruh ghairat kecintaan-Nya bagi orang-orang yang sudah dekat dengan Allah Ta’ala dan menghancurkan para penentangnya, Hadhrat Masih, Mahdi Mau’ud as bersabda,

”Apabila penghinaan dan penganiayaan telah sampai ke puncak kesempurnaannya dan ibtila (ujian) yang dikehendaki-Nya telah berlalu, maka pada waktu itu ghairat kecintaan Allah Ta’ala terhadap sahabat-sahabat-Nya mulai bergejolak. Tuhan melihat mereka dalam keadaan mazhlum (teraniaya) dan menyaksikan mereka sedang dianiaya dan dicaci-maki, secara batil dinyatakan kafir dan diburu oleh tangan-tangan zalim, maka Dia berdiri kemudian melaksanakan sunnah-Nya dan menunjukkan Rahmat dan kasih- sayang-Nya dan menolong hamba-hamba-Nya yang saleh, maka ditanamkan-Nya di dalam kalbu mereka agar perhatian mereka terpusat sepenuhnya kepada Allah Ta’ala, dan dengan merendahkan diri memohon kepada-Nya di waktu siang dan malam. Demikianlah sunnah Allah Ta’ala berlaku keatas orang-orang yang telah memperoleh qurb-Nya. Maka akhirnya kekayaan dan pertolongan dianugerahkan kepada mereka dan Allah Ta’ala menjadikan musuh-musuh mereka makanan singa dan harimau buas. Dan begitulah juga Sunnatullah berlaku atas orang-orang yang mukhlis, Dia tidak mensia-siakan mereka. Mereka diberkati dan tidak dibuat hina dan dijadikan orang-orang terhormat.”[22]

Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa kita telah menyaksikan perlakuan Allah Ta’ala terhadap Hadhrat Masih, Mahdi Mau’ud as juga persis seperti itu. Dan Allah Ta’ala telah menimpakan kehinaan terhadap musuh-musuh beliau as. Hal demikian telah terjadi bukan hanya sekali, dua kali atau tiga kali melainkan berulang kali di berbagai kawasan dan di berbagai negara, musuh-musuh Ahmadiyah di timpa kehinaan dan kehancuran, berkali-kali dan secara terus-menerus kita telah menyaksikannya.

Sekarang juga kita sedang menyaksikan pemandangan seperti itu, dan saya ingin menganjurkan para Ahmadi Pakistani, bahwa gada Allah Ta’ala pasti akan menghantam para penentang Ahmadiyah, insya Allah! Kita sedang menyaksikan kejadian-kejadian itu dalam ukuran kecil. Akan tetapi jika kita ingin segera menyaksikan kejadian itu dalam ukuran yang besar dan luas, maka setiap Ahmadi yang tinggal di Pakistan dan setiap Ahmadi yang mempunyai hubungan dengan Pakistan harus meningkatkan lebih banyak lagi qurb mereka kepada Allah Ta’ala. Maka kesampingkanlah urusan dunia dan tingkatkanlah martabat qurb Allah Ta’ala. Dan untuk itu harus berusaha dan bergerak maju agar kita dapat segera menyaksikan pemandangan itu. Para Ahmadi di seluruh dunia juga harus menaruh perhatian secara khusus agar kerajaan syaitan segera berakhir di atas dunia ini. Dan kerajaan orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala segera berdiri. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq untuk memanjatkan doa-doa itu, semoga Dia menggabungkan kita ke dalam golongan para muqorrobiin Allah Ta’ala (orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala).

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Barahin-e-Ahmadiyya, Bag. 4, Ruhani Khaza’in, Jld. I, footnote, Hal. 541-542

[3] Satt Bachan, Ruhani Khaza’in, Vol. 10, p. 210

[4] Izala-e-Auham, Ruhani Khaza’in, Vol. 3, p. 170

[5] Lecture Lahore, Ruhani Khaza’in, Vol. 20, Hal. 160

[6] Four Questions by a Christian and their Answers, Hal. 22-23

[7] Haqiqatul Wahi, Ruhani Khaza’in, Vol. 23 hal. 14

[8] Chashma Ma’rifat, Ruhani Khaza’in, Vol 23, Hal. 349

[9] Chashma Ma’rifat, Ruhani Khaza’in, Vol 23, p. 309

[10] Malfuzat, Jld I, Hal. 69, edisi baru

[11] Lecture Lahore, Hal. 16

[12] (Malfuzat, Vol.I, Hal. 396, edisi baru)

[13] Four Questions by a Christian and their Answers, p. 20

[14] Malfuzat, Vol. 4, p. 45, new edition

[15] Malfuzat, Vol. 4, pp. 222-223, new edition

[16] Malfuzat, Vol. 4, pp. 141-142, new edition

[17] Satt Bachan, Ruhani Khaza’in, Vol. 10, p. 275

[18] Maktoobat-e-Ahmad (Surat-Surat Ahmad), jilid 1 halaman 600, surat kepada Tn. Mir Abbas Ali, surat nomor 45.

[19] Malfuzat, Vol. 4, p. 565, new edition

[20] Malfuzat, Vol. 5, p. 106, new edition

[21] Bahtera Nuh Hal.19-20

[22] Hujjatullah, Ruhani Khaza’in Vol. 12, p. 198