Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز pada 19 Januari 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Dua hari yang lalu telah wafat seorang Khadim tulus Jemaat Ahmadiyah, Sahibzadah Mirza Khursyid Ahmad Sahib. Innaa Lillahi Wa Innaa Ilaihi Raji’un. Allah Ta’ala menganugerahi kemuliaan atas beliau untuk memiliki nasab ruhani (hubungan kerohanian) dengan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan nasab jasadi (menjadi bagian dari keluarga beliau as). Ini adalah hukum Allah Ta’ala bahwa seseorang yang datang ke dunia ini, harus meninggalkannya suatu hari nanti. Semuanya fana. Satu-satunya yang kekal hanya Allah Ta’ala.

Tapi beruntunglah mereka yang berusaha membuat kehidupan duniawi mereka – yang mana ini anugerah Allah Ta’ala – menjadi bermakna dan mempunyai tujuan serta berupaya meraih ridha-Nya. Mereka paham betul bahwa semata-mata memiliki nasab jasadi (keturunan jasmani, silsilah keluarga) dengan seorang Nabi atau seorang Wali atau dengan sosok yang bertakwa tidak akan menjadikan kehidupan mereka bermakna, memiliki arti dan bertujuan; begitu pula adanya silsilah kekeluargaan [dengan seorang Nabi atau seorang saleh] ini juga tidak akan menjadikan mereka meraih ridha Allah Ta’ala. Hanya amal perbuatan dan tindakan mereka-lah yang memungkinkan mereka untuk meraih ridha Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) biasa menyampaikan sabda Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (saw) kepada putri beliau saw, Hadhrat Fatimah (ra), لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا laa aghni ‘anki minAllaahi syai-a – Sabda itu artinya, “Wahai Fatimah! Kamu tidak akan dapat meraih ridha Allah Ta’ala hanya karena keadaanmu menjadi putri saya. Melainkan, untuk meraih ridha Allah Ta’ala, kamu harus berupaya membiasakan hidupmu sesuai dengan perintah-perintah Allah Ta’ala. Jika kamu telah melakukannya, kamu harus tetap menanamkan rasa takutmu kepada Allah Ta’ala dan memperbanyak berdoa, ‘Semoga Allah Ta’ala menerima amal dan usaha keras saya dan membuat akhir hidup saya sebagai akhir yang baik melalui karunia-Nya.

Saya amat mengenal Mirza Khursyid Ahmad Sahib dan memiliki hubungan yang erat dengan beliau serta berkesempatan mengamati beliau dari dekat; sebagaimana juga banyak orang yang menulis sejumlah surat kepada saya dan memberitahukan hal ini secara khusus, bahwa Almarhum bekerja keras dengan penuh kerendahan hati untuk menyelesaikan tugas-tugas beliau dan memenuhi waqaf beliau. Tidak pernah beliau membangga-banggakan diri atas nasab (garis keturunan) beliau [beliau keturunan Imam Mahdi].

Beliau menghadiri Jalsah Salanah di sini tahun lalu dan mengungkapkan tekadnya ialah akhir hidup yang baik. Beliau menyebutkan sebuah contoh kisah sebagai berikut: ada seorang saleh yang ketika sakratul maut (hendak wafat) berkata: “Belum! Belum!” Hingga kehidupannya berakhir. Murid beliau amat ingin tahu apa maksud perkataan “Belum! Belum!” tersebut. Pada suatu hari salah seorang murid beliau melihat orang saleh itu dalam sebuah ru-ya. Ia pun bertanya kepada orang saleh itu mengenai sebab perkataan “Belum! Belum!” tersebut. Orang saleh itu menjawab, “Pada akhir hidup saya, setan datang kepada saya. Setan berkata kepada saya, ‘Kamu sudah selamat.’ Tapi saya menjawab: ‘Belum! Belum! Karena, selama masih ada nafas kehidupan di tubuh saya, saya tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh tubuh saya. Oleh sebab itulah, saya juga berkata kepada setan di akhir nafas saya, ‘Saya belum selamat. Dalam keadaan inilah Allah Ta’ala mencabut nyawa saya dan sekarang saya berada di surga.’”

Inilah jalan yang diikuti oleh mereka yang cemas dengan akhir hidup mereka. [husnul khatimah (akhir hidup yang baik) atau suu-ul khatimah (akhir hidup yang buruk)] Ringkasnya, Mirza Khursyid Ahmad telah menjelaskan contoh ini kepada saya dan biasa berpikiran secara khusus dalam hal ini. Beliau bekerja dengan memahami ruh waqf dan hakikatnya. Pada malam sebelumnya beliau menyempurnakan cita-citanya [husnul khatimah] dan pada jam 10 waktu London, beliau wafat pada umur 85 tahun.

Mirza Khursyid Ahmad Sahib adalah cicit (putra cucu) Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau cucu Hadhrat Mirza Sultan Ahmad Sahib, putra sulung Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau putra Hadhrat Mirza Aziz Ahmad Sahib (rha). Hadhrat Mirza Aziz Ahmad Sahib (rha) ialah cucu Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang Baiat sebelum ayahanda-nya [Hadhrat Mirza Sultan Ahmad] baiat.

Tn. Mirza Khursyid Ahmad lahir pada tanggal 12 September 1932 di Lahore. Pada tanggal 21 April 1945, di usia dua belas setengah tahun, beliau mengisi formulir waqaf untuk mengabdikan hidup beliau (guna mengkhidmati Jemaat). Pada waktu itu, beliau masih belajar di tingkat Sembilan. Beliau menyelesaikan matrikulasi beliau di sekolah menengah atas di Qadian. Setelah itu kuliah di Ta’limul Islam College di Qadian.

Kemudian, sesuai perintah dari Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, beliau menyelesaikan gelar Master dalam Sastra dan Bahasa Inggris di Universitas Negeri, Lahore. Pada tanggal 10 September 1956, beliau bergabung dengan Ta’limul Islam College di Rabwah sebagai Waqif Zindegi, dan berkhidmat sebagai pengajar bahasa Inggris selama 17 (tujuh belas) tahun sebagai guru yang teliti.

Beliau mempersiapkan pelajaran dengan rajin. Saya merupakan salah satu murid beliau. Banyak murid beliau yang mengirim surat kepada saya menyebutkan bahwa beliau berusaha dengan rajin dan mengajar dengan usaha yang maksimal. Beliau menguasai materi yang beliau ajarkan. Karena itulah, beliau amat dicintai para murid beliau. Pada tahun 1964, beliau datang ke Inggris selama satu tahun dengan beasiswa dari pemerintah Inggris (British Council) untuk kursus Ilmu Fonetik bahasa Inggris di University of Leeds.

Sekarang saya akan menyampaikan beberapa pengkhidmatan beliau di Jemaat. Pada hari-hari kerusuhan [terhadap Jemaat] di tahun 1974, yang terhormat Sahibzada Mirza Khursyid Ahmad Sahib menolong dan membantu Hadhrat Khalifatul Masih III rha. Almarhum siap sedia mengkhidmati beliau rha setiap waktu dan untuk itu saat itu Almarhum tinggal di kediaman Khalifah selama dua atau tiga bulan terus menerus.

Begitu juga, sesuai persetujuan Hadhrat Muslih Mau’ud (Khalifatul Masih II, ra) pada pertengahan tahun 1962, sebuah institut yang bernama Darul Iqamah wan Nusrat dibangun untuk mengurus, mendidik dan mengajar anak-anak yatim dan anak-anak orang miskin. Kemudian, Hadhrat Khalifahul Masih III mengganti namanya menjadi Imdad-e Tulaba (menolong dan membantu para pelajar). Almarhum mendapat tugas memimpin departemen tersebut dari tahun 1978 hingga Juli 1983. Setelah itu, tugas tersebut dipercayakan dibawah Nazarat Ta’lim (department pendidikan).

Pada tanggal 30 April 1973, beliau ditunjuk sebagai Nazir Khidmat-e-Darweshan (direktur pengkhidmatan para darwis). Dari tanggal 1 Mei 1976 hingga 1988, beliau dipercaya sebagai Additional Nazir-e-A’la (direktur eksekutif tambahan Sadr Anjuman). Selain itu, beliau juga menjadi anggota dari berbagai komite dan berkhidmat di dalamnya. Dari bulan Oktober 1988 hingga September 1991, beliau dipercaya sebagai Nazhir Umoor-e-‘Amah (direktur pelayanan urusan-urusan umum). Beliau berkhidmat sebagai Nazhir Umoor-e-Kharijiyah (direktur pelayanan urusan-urusan luar) dari bulan August 1992 hingga Mei 2003.

Selanjutnya, selama kekhalifahan saya, saya menunjuk beliau sebagai Nazhir-e-A’la (direktur eksekutif Sadr Anjuman) serta sebagai Amir Maqami (Amir lokal di markas Jemaat di Rabwah). Beliau menjalankan pengkhidmatan tersebut dengan cara yang sangat elok. Beliau juga berkhidmat sebagai anggota Majlis Iftaa (bidang fatwa-fatwa) dan Dewan Qadha (Dewan Yudisial) kira-kira selama dua belas atau tiga belas tahun. Pada tahun 1973, Allah Ta’ala menganugerahi beliau taufik untuk melaksanakan kewajiban ber-Haji.

Pada 26 Desember 1955 Hadhrat Khalifatul Masih ke-2 ra mengumumkan pernikahan beliau bersamaan dengan pengumuman pernikahan sejumlah 5 atau 6 pasangan nikah lainnya. Hadhrat Khalifatul Masih ke-2 ra bersabda mengenai Mirza Khursyid Ahmad dalam khotbah nikah, “Anak ini salah satu pemuda yang mewaqafkan diri dari keluarga kami. Ayahnya, Mirza Aziz Ahmad Sahib menyekolahkan dia dengan sangat baik hinggal level yang tinggi. Sekarang ia tengah kuliah di Magister dan belum lulus. Ia tengah menghadapi ujian Magister dalam Bahasa dan Sastra Inggris. Ia berkompeten dalam bahasa Inggris. Saya bekeinginan ia menjadi dosen bahasa Inggris di College [Ta’limul Islam College, Sekolah Tinggi milik Jemaat].”

Lalu, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Ia nanti akan membantu para penerjemah yang lain dalam bidang penerjemahan juga.”

Allah Ta’ala memberkati beliau dengan enam putra. Empat putra beliau merupakan Waqifin Zindegi. Dua lagi merupakan dokter. Salah satu putra beliau yang memiliki gelar Phd berkhidmat sebagai wakil direktur di Nazharat-e-Ta’leem (Departemen Pendidikan) juga. Begitu pula, seorangnya lagi yang berpendidikan hukum bekerja sebagai asisten di kantor penasihat hukum.

Almarhum mendapat taufik bekerja di berbagai bidang dan lembaga Jemaat dan menduduki berbagai jabatan. Beliau pernah menjadi Ketua Majlis Ansharullah Pakistan pada 2000 hingga 2003.

Salah satu putra beliau, Tn. Doktor Mirza Sultan Ahmad menulis: “Ayah kami memiliki kecintaan yang sangat kepada Hadhrat Khalifat-ul-Masih II (ra).”

Mirza Khursyid Ahmad selama waktu lama menderita penyakit jantung bertambah parah sedikit demi sedikit. Beberapa tahun yang lalu, beliau mengadakan kunjungan ke kota Okara. Ketika putranya tahu keadaan beliau, segera ia pergi ke sana disertai Dokter Nuri untuk menjemputnya pulang. Sepanjang perjalanan pulang ke Rabwah, Almarhum Mirza Khursyid Ahmad berkata kepada mereka berdua, “Saya berdoa agar cepat sampai di Rabwah supaya saya bisa wafat di kaki kuburan Hadhrat Khalifat-ul-Masih II.” Yaitu, di negeri yang Khalifatul Masih II ra dirikan (kota Rabwah) dan dikuburkan di sana. Inilah kisah kecintaan dan kasih sayang beliau terhadap Hadhrat Khalifat-ul-Masih II (ra).

Dr. Mirza Sultan Ahmad selanjutnya menulis: “Ketika beliau sakit yang terakhir, suatu malam beliau bangun dalam keadaan gelisah. Beliau berkata, ‘Saya melihat mimpi yang panjang banyak orang mengkritik Hadhrat Khalifah ke-2 ra dan tidak ada yang menjawab.’ Dalam keadaan gelisah karena tidak ada orang yang menjawab kritikan-kritikan tersebut, beliau tidak dapat tidur lagi.

Beliau sering mengatakan bahwa sebenarnya para penentang sangat dengki terhadap Hadhrat Khalifatul Masih II (ra), bahkan melebihi dengki mereka terhadap Hadhrat Masih Mau’ud (as). Hal demikian karena dalam anggapan mereka Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) membuat Jemaat ini sedemikian rupa kuat dan majunya.” (Hal ini benar sampai pada batas tertentu, bahwa Hadhrat Khalifat-ul-Masih II (ra)-lah yang memperkokoh bangunan organisasi Jemaat. Para penentang tersebut yakin jika Hudhur II ra tidak menyusun bangunan organisasi Jemaat dengan demikian kokoh, tentu mereka sesuai anggapan mereka akan sudah berhasil menghabisi Jemaat. Tapi, hal ini adalah taqdir bagi Jemaat, artinya apa yang Khalifah II ra lakukan demi mengorganisasi Jemaat telah ditakdirkan Allah Ta’ala. Namun, para penentang Jemaat amat membenci beliau ra karena beliau memperkuat Jemaat dan meletakkan organisasi yang kokoh).

Sebagaimana telah saya sebutkan pada 1974 [peristiwa teror dan penyerangan terhadap Jemaat di Pakistan], beliau berkhidmat dalam tim yang dibentuk oleh Hadhrat Khalifat-ul-Masih III (rh). Beliau mendapat taufik banyak berkhidmat dan tinggal di Qashr-e-Khilafat. Keadaan berlanjut satu atau satu setengah bulan. Anak-anak Almarhum biasa mengunjungi beliau di sana. Kemudian, barulah Almarhum diizinkan pulang ke rumahnya satu atau dua jam per minggu. Almarhum berkata, “Pada hari itu saya menyaksikan Hadhrat Khalifatul Masih III tidak tidur semalaman. Terkadang beliau istirahat sambil duduk di kursi. Tapi, beliau biasa siang-malam waktunya dihabiskan untuk mengkhidmati Jemaat atau berdoa.” (Anggota tim yang beliau bentuk juga sering berjaga seperti beliau)

Ada riwayat lain yang diceritakan oleh putra Almarhum yang menjelaskan bahwa Ayahnya juga menjadi anggota tim yang dibentuk oleh Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh) pada masa-masa kusut yang terjadi di tahun 1984. Beliau mengatakan kapan pun suasana kerusuhan muncul, Hadhrat Khalifatul Masih III (rh) dan Hadhrat Khalifat-ul-Masih IV (rh) tetap begitu luar biasa tenang (relax) dan sama sekali tidak panik. Almarhum juga mendapatkan kehormatan menjadi bagian rombongan perjalanan dari Rabwah ke Karachi saat hijrahnya Hadhrat Khalifatul Masih IV (rha) ke Britania.

Demikian pula, saat kejadian tanggal 28 Mei 2010 di Lahore, meski sakit, beliau secara kuat mengendalikan dan mengelola semua situasi yang kacau dengan penuh keberanian. Setiap kali dibawa jenazah Syahid ke Rabwah, beliau ikut menyalatkan jenazah itu, meski udara amat panas dan beliau ikut juga di Pekuburan [menghadiri pemakaman mereka].

Beliau seorang yang amat menjaga tingkat-tingkat kehormatan. Tn. Mirza Adil Ahmad (putra Almarhum) menulis, “Kami mengirimkan kepada Almarhum laporan-laporan Majlis Khuddamul Ahmadiyah lokal di Rabwah, suatu kali [dalam laporan tersebut] ada seseorang menuliskan huruf shad saja, bukannya shallaLlahu ‘alaihi wa sallam pada nama Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, sementara orang itu menulis lengkap ‘alaihis salaam’ kepada Hadhrat Masih Mau’ud alaihis salaam. Almarhum mengingatkan kami kesalahan ini dan berkata, “Pastikan untuk memperhatikan tingkatan-tingkatan penghormatan. Seharusnya menulis shallaLlahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna pada nama Nabi.”

Almarhum teratur melaksanakan shalat. Beliau baru menjamak shalat kalau sangat terpaksa. Bahkan, saat di Rumah Sakit pun di hari-hari terakhir sakitnya, Almarhum shalat pada waktu-waktunya. Kecuali beberapa kali saja beliau menjamak shalat.

Beliau berkhidmat sebagai Nazhir-e-Ala hingga kewafatan beliau. Ini jabatan amat penting dan ada tanggung jawab luar biasa yang menyertai jabatan tersebut. Sebab, ada berbagai perkara dan kasus berkenaan dengan Jemaat yang perlu ditangani. Almarhum selalu memikirkan masalah-masalah yang sebagian anggota Jemaat ajukan. Almarhum selalu bertanya – bahkan saat di rumah sakit – tanggal tertentu saat memutuskan atau ada masalah ini dan itu dan bagaimana solusinya.

Saat menerima undangan pernikahan, beliau akan menghadiri acara tersebut sebagai Nazhir-e-‘Ala dan Amir Maqami. Beliau berkata, “Hendaknya menjadi demikian karena saya perwakilan Khalifatul Masih, sekarang hal ini adalah kewajiban saya.” Begitupun, beliau biasa hadir pada kesempatan kesedihan dan kegembiraan seseorang. Beliau mengunjungi orang-orang pada waktu pemakaman keluarga mereka dan pada saat kejadian tragis lainnya, menjenguk orang sakit dan orang yang memerlukan guna menanyakan keadaan mereka. Termasuk kebiasaan beliau untuk pergi ke kantor dan bekerja sepanjang waktu meski dalam kondisi sakit, semua itu merupakan keutamaan beliau.

Pada hari-hari terakhir sakit beliau, beliau mengunjungi kantor dan menemukan banyak karyawan yang tidak ada di tempat, maka beliau menulis dengan rasa haru emosional kepada semua dan mengirimkan surat itu kepada semua kantor. Diantara tulisan beliau ialah, “Jika saya sendiri dapat datang ke kantor di waktu yang tidak sehat, bagaimana mungkin Anda sekalian tidak mampu?”

Almarhum seorang organisatoris ulung dan kuat. Beliau tetap kokoh meski situasi-situasi memburuk. Namun, beliau tetap menasehati dengan kecintaan dan kelembutan. Ketika Hadhrat Khalifatul Masih III (rh) wafat di kota Islamabad, Pakistan, Almarhum diberikan kehormatan untuk mengimami shalat jenazah karena beliau representatif Anjuman Ahmadiyah. Hadhrat Khalifatul Masih IV (Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rha) juga hadir saat itu. Almarhum meminta Hadhrat Khalifatul Masih IV (rha) untuk mengimami shalat jenazah tersebut. Beliau rha memang lebih tua. Namun, Hadhrat Khalifatul Masih IV bersabda, “Tidak! Karena Anda perwakilan Anjuman Ahmadiyah, Anda-lah yang mengimami shalat jenazah.’ Demikian pula, beliau juga mendapatkan kehormatan untuk ikut memandikan jenazah Hadhrat Khalifatul Masih the III (rh) pada saat kewafatannya.

Tn. Mirza Ghulam Ahmad (saudara Almarhum) menulis: “Almarhum tinggal di Qashr-e-Khilafat (rumah Khalifah) selama dua atau tiga bulan pada hari-hari sulit penyerangan terhadap Jemaat di tahun 1974. Ketika keadaan mulai membaik Hadhrat Khalifah ke-3 ra mengizinkan beliau untuk pulang, meskipun begitu beliau terus diberi tanggungjawab beberapa hal dan Almarhum membuat laporan-laporan setiap harinya kepada Khalifah. Almarhum meminta perintah baru dari Khalifah dan menyampaikan laporan seputar itu pada hari berikutnya tanpa putus.”

Tn. Mirza Ghulam Ahmad melanjutkan, “Ketika Hadhrat Khalifatul Masih IV (ke-4) rha telah baru saja terpilih sebagai Khalifah setelah wafatnya Hadhrat Khalifatul Masih III rha, pada hari kedua cincin Hadhrat Khalifatul Masih IV (ke-4) rha yang bertuliskan أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ‘alaisaLlahu bi-Kaafin ‘abdahu’ (bagian ayat ke-37 dari Surah az-Zumar [39], dan juga ilham yang turun kepada Pendiri Jemaat) tanpa disengaja misplace (tidak tahu entah ada dimana menaruhnya). Hadhrat Khalifatul Masih IV (ke-4) rha sangat cemas atas kehilangan itu. Beliau rha memanggil Almarhum dan bersabda, “Anda adalah seorang yang tulus kepada saya, bahkan kepada setiap Khalifah.” Lalu, Hadhrat Khalifatul Masih IV (ke-4) rha mengabari kehilangan tersebut dan menugaskannya untuk mencarinya. Dengan karunia Allah, cincin itu pun ditemukan.

Tahun lalu istri beliau wafat dan beliau pun sakit setelah itu karena menderita penyakit jantung. Saya memanggil beliau untuk menghadiri Jalsah di sini (London). Setelah awalnya saya sempat khawatir beliau tidak mampu melakukan perjalanan karena kesehatan dan kondisi perjalanannya, ternyata beliau berhasil melakukan perjalanan dan menghadiri Jalsah. Saat di UK, kesehatan beliau membaik sekali. Beliau datang dan menjumpai saya setiap malam meskipun udaranya tidak nyaman. Beliau terkadang tidak mempedulikan cuaca. Sewaktu berada di sini, setiap malam secara teratur beliau menjumpai saya.

Ibu Fauziah Shameem, Sadr Lajnah Imaillah Lahore, putri Nawab Amatul Hafizh Begum sahiba yang merupakan putri bungsu Hadhrat Masih Mau’ud (as), menulis: “Keutamaan beliau semakin tampak amat jelas setelah menjadi Nazir-e-Ala. Beliau sosok khadim yang sangat rendah hati bagi agama. Sering terjadi bahwa saya mengontak Almarhum untuk membicarakan sesuatu dan kemudian saya tahu beliau sedang Ijtima lalu beliau akhirnya mengontak saya setelah Ijtima selesai. Demikian pula sering beliau mengontak saya untuk permintaan mendadak demi membantu dukungan keuangan bagi program Dana Maryam untuk Pernikahan (membantu pernikahan pemudi Ahmadi yang kurang mampu). Beliau meminta dana tunai segera demi program itu.

Saya katakan kepada Almarhum dan menyebutkan keadaan-keadaan insidentil seperti itu. Beliau menasehati saya, ‘Ambillah uang tunai dari Amir Jemaat atau Anda atur dengan suatu atau lain jalan maka saya akan kirim uang bagi Anda setelah ini.’ Beliau sangat penyayang, penolong dan baik hati kepada semua sampai ke tingkat belum pernah saya lihat orang sebaik Almarhum.

Suatu kali seorang pemudi di sebuah desa seperti mengalami musibah-musibah dan hampir di luar kendali orang tuanya. Ia tidak percaya kepada siapa pun. Masalah ini disampaikan kepada Almarhum yang lalu beliau meng handle (mengambil alih terapi pengobatan) kepadanya dengan hikmah, kesantunan dan kecintaan. Almarhum mengabari saya (Ibu Fauziah) bahwa beliau saat di Qadian telah mendoakan banyak kepada pemudi. Beliau saat itu mengadakan perjalanan ke Qadian di luar hari-hari Jalsah. Pemudi itu pun kembali ke keadaan semula yang baik dengan karunia Allah dan menikah beberapa waktu kemudian. Saat pemudi itu menikah, Almarhum menghadiahinya perhiasan emas nan indah. Almarhum masih terus meminta pantauan keadaan si pemudi itu. Almarhum seorang yang amat penyayang.”

Ibu Fauzia berkata: “Setiap kali saya meminta saran dan nasehat beliau, beliau memberikan saran dan nasehat yang sangat baik kepada saya. Beliau sosok yang sangat banyak berdoa. Bilakah kami mendapat orang saleh dan amat wara’ seperti beliau? Saya amat bersedih. Berdoalah kepada kepada Allah agar Dia memberi pengganti kepada Anda atau Khilafat dengan orang saleh semacam Almarhum.” Saya berdoa juga semoga Allah Ta’ala menyediakan pribadi yang menduduki tempat beliau di keluarganya.

Tn. Chaudhri Hameedullah, Wakeel A’la (Direktur Utama) lembaga Tahrik-e-Jadid, menulis, “Saat Taleemul Islam College dipindah dari Lahore ke Rabwah pada 1953, para guru yang mengajar bahasa Inggris di sana belum berpindah dari sana bahkan tetap tinggal di sana. Almarhum Mirza Khursyid Ahmad pun mengatur susunan tim pengajar departeman bahasa Inggris yang baru pada 1956. Almarhum amat menguasai bahasa Inggris. Saya ingat tingkat kemampuan bahasa Inggris para siswa di College membaik sekali pada masanya.”

Tn. Chaudhry Hameedullah juga mengatakan bahwa Almarhum sangat rendah hati, pemaaf dan penyabar. Beliau akan membantu orang miskin baik dengan uangnya secara pribadi maupun secara administratif, dalam kapasitas sebagai pengurus. Beliau pribadi yang suka bekerja sama baik di College, kepanitiaan Jalsah Salanah, Majlis Khuddamul Ahmadiyah, Majlis Ansharullah dan Jalsah Salanah di Qadian.

Beliau senantiasa ikut dalam kesedihan maupun kegembiraan orang banyak. Entah itu acara pernikahan atupun pemakaman, beliau selalu hadir. Suatu kali ada staf wafat dan beliau tidak diberi tahu, beliau menampakkan sangat sedih.”

Salah seorang karyawan di Nazarat-e-‘Ulya, Tn. Tufail, mengatakan: “Almarhum yang terhormat mempunyai banyak keistimewaan yang terpuji dan dan tidak mungkin untuk menyebutkan semuanya. Beliau seorang yang baik, penyayang, lembut, sosiawan, simpati kepada orang yang susah dan sedang menghadapi masalah. Beliau bersahaja namun berwibawa dan memiliki kepribadian yang mulia. Saya telah bekerja bersama beliau selama hampir 10 tahun, menyertai beliau dan menghormati beliau. Satu pun saya tidak ingat jika beliau pernah mengungkapkan kemarahan atau ketidaksukaan. Tiap kali saya melakukan kesalahan, beliau akan membimbingnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang luar biasa.”

Kemudian Tn. Khawajah Muzaffar, seorang Murrabi yang bekerja di kantor Nazhir A’la, berkata: “Beliau sudah lama mengidap penyakit dan menghadapinya dengan sangat berani dan penuh kemuliaan. Beliau memiliki sifat penyabar dan sangat baik hati, beliau senantiasa tersenyum dan selalu memaafkan orang lain. Beliau dengan sabar mendengarkan orang lain dalam waktu yang lama. Almarhum telah mendapat taufik mengkhidmati Jemaat dalam waktu lama.

Beliau biasa bersikap penuh kasih sayang dan amat bersahabat daripada seorang ayah, penyayang dan simpatik sekali dalam mengkhidmati sesama. Saya perhatikan berkali-kali telah datang seseorang yang memerlukan – baik pria maupun wanita – ke kantornya. Beliau menerimanya. Beliau memerintahkan agar membekalinya dengan makanan, perlengkapan tidur, televisi dan sejumlah uang.

Saya perhatikan juga terkadang setelah pulangnya orang yang memerlukan itu, Almarhum menyuruh saya pergi ke rumah orang tersebut guna memastikan keperluan dia yang sebenarnya. Suatu kali di hari berikutnya saya menyampaikan laporan lalu beliau berkata kepada saya, ‘Menurut perkiraan saya, keperluan orang itu melebihi yang telah kita berikan kepadanya.’” (Beliau tidak hanya memenuhi permintaan saja bahkan mencari tahu fakta yang sebenarnya supaya dapat memberikan bantuan yang tepat bagi si pemohon)

”Beliau amat baik, penyabar, pembimbing, murah senyum, bersikap lembut atas aib-aib (kelemahan) seseorang dan pemaaf atas hal itu. Orang-orang biasa datang kepada beliau dengan keluhan-keluhan mereka dan mengharap keputusan sesuai keinginan mereka dan terkadang keputusan itu tidak sesuai keinginan mereka lalu mereka merasa tidak nyaman dan Almarhum menasehati mereka secara lembut dan sabar. Almarhum biasa mendengarkan kata-kata keluhan yang lama dengan sabar.

(Sifat seperti ini harus menjadi tanggung jawab bagi setiap pengurus. Jika setiap pengurus dengan sabar mendengarkan apa yang orang-orang katakan, maka segala masalah, serta keluhan dapat dihilangkan.)

Suatu kali ada sebuah kejadian dimana ada seseorang yang datang ke kantor beliau. Ia tergesa-gesa (berprilaku kasar) dalam menyampaikan sesuatu dan diwarnai kemarahan, namun beliau tetap diam mungkin tengah mendoakan orang itu. Saya berdiri dekat orang itu. Ia mengucapkan kata-kata tidak mengenakkan kepada Almarhum dan saya terpancing ingin mengatakan sesuatu. Almarhum berkata kepada saya, ‘Tidak apa-apa. Tiap perbuatan berada dalam coraknya masing-masing.’ Beliau menghadapi itu dengan lapang dada yang menimbulkan rasa bahagia.

Pemikiran beliau amat bijak (Beliau memiliki ingatan yang sangat kuat.). Beliau biasa membaca ratusan surat dan laporan. Masalah yang sudah berlalu berbulan-bulan, jika beliau memerlukan arsipnya maka beliau meminta staf beliau dalam rangka mendoakan atau mengikuti tindak lanjutnya, staf beliau biasasnya akan mulai membuka komputer untuk melihat. Tapi Almarhum mengingat apa yang tertulis dalam arsip apa yang harus diperhatikan atau arahannya kemana. Berapa banyak lembar arsip dan bagaimana mungkin mengingat arsip sebanyak itu. (Artinya, Almarhum mengenal betul file-file dalam berbagai hal di kantornya dan kokoh dalam pekerjaannya.)

Tn. Rashid Javed, Nazim Darul Qadha, menceritakan, “Dalam hal keputusan masalah rumahtangga, seorang suami ingin berdamai dengan istrinya dalam segala hal dan ingin memperbaiki keadaan. Namun, sang istri bersikeras agar suaminya mengembalikan sejumlah uang yang ia ambil darinya sementara keadaan ekonomi sang suami sedang sulit. Saya pergi kepada Hadhrat Mia dan beliau mengatakan secara langsung agar memberi saya titipan sebagian uang yang diminta dan saya akan mengatur (menanggung) penyediaan sebagian uang lagi. Saya berkata kepada beliau, ‘Anda seorang yang agung dan dapat mengatur penyediaan jumlah uang seluruhnya.’ Beliau tersenyum dan berkata, ‘Jika perdamaian menjadi mungkin dengan cara ini, buatkanlah permintaan tertulis secara khusus.’ Dengan demikian, beliau menyelesaikan masalah utang piutang antara seorang suami dan istrinya guna memfasilitasi rekonsiliasi pernikahan mereka berdua.”

Tn. Rabbani, seorang Murrabi yang bertugas di Fazle Umar Foundation menceritakan, ”Suatu kali saudari-saudari saya datang ke Rabwah, karena ada sakit kulit maka mereka meminta ditempatkan di kamar yang bersih di Rumah tamu (Dar-ul-Ziafat) yang baru dibangun. Dikatakan kepada mereka bahwa mereka perlu mendapat izin dari Nazhir A’la. Saudari-saudari saya berkata, ‘Kami takut bagaimana menghadapi pengurus besar dalam Jemaat sementara beliau dalam keadaan sibuk sekali dan kami tidak tahu apa beliau mau menyisihkan waktu bagi kami atau tidak.’ Ringkasnya, Almarhum memanggil mereka ke kantor beliau dan di sana beliau diperlakukan dengan sangat hormat seperti putrinya sendiri, menghilangkan kesulitan kami lalu memberikan kami izin menempati kamar yang sangat bersih. Hal tersebut mendapat apresiasi dari keluarga saya, mengokohkan kepercayaan kami pada Nizham Jemaat dan menguatkan iman kami juga.”

Amir Jemaat di Wilayah Khushab, Tn. Munawar Majoka, menulis: “Beliau seorang pengorganisasi yang hebat, memiliki sifat mulia dan senantiasa membantu orang lain. Beliau sangat memperhatikan bahkan sampai hal-hal kecil [menindaklanjuti sendiri suatu perkara untuk memastikan selesai pelaksanaannya].

Perihal simpati beliau bagi orang-orang miskin dan kepedulian beliau dalam menunaikan kewajibannya, saya ingin menceritakan sebuah kejadian yang memperlihatkan kepada saya kecemerlangan seorang pribadi yang luhur.

Pada tahun 2010 sesuai perkiraan saya, saya duduk di kantor saya ketika datang dua orang ibu-ibu dari wilayah Khusyab. Mereka berkata, ‘Tn. Mia atau Nazhir A’la meminta kami datang kepada Anda agar memberi kami rekomendasi atas permintaan untuk dibantu dari kami. Ketika saya mendengarkan masalah keduanya, saya memutuskan untuk menolong keduanya secara pribadi dari wilayah dan tidak mengembalikan kepada Markas. Saya mengantar keduanya ke Sekretaris Umur Amah wilayah. Keduanya pun dimintakan agar dibantu.

Saat hari selanjutnya saya sedang duduk di kantor, saya mendapat telepon langsung dari Hadhrat Mia Shahib. Beliau meminta laporan amatan terbaru dari saya dan mengatakan, ‘Saya telah mengirim kepada Anda dua orang ibu dari kalangan kurang mampu dari wilayah ke-Amir-an Anda supaya Anda memberikan rekomendasi atas permohonan mereka dan merealisasikan permintaan mereka namun mereka berdua belum datang kepada saya memberitahukan informasi bantuan tersebut hingga hari kedua. Saya cemas Anda menolak mereka berdua. Harap Anda menyegerakan rekomendasi Anda atas permintaan mereka dan mengirim mereka berdua kepada saya supaya saya membantu mereka berdua sebelum keadaan terlambat.’ Saya katakan kepada Almarhum, ‘Kami telah memberikan bantuan kepada keduanya dari Jemaat lokal kami dan karena itu kami belum mengirimkan keduanya [meminta mereka datang atau mengirim informasi] kepada Anda.’”

Tn. Amir [Khushab] selanjutnya menulis: “Peristiwa pengkhidmatan kecil tersebut merupakan dalil agung atas kepribadian beliau yang hebat dalam perasaan bersimpati dan mengkhidmati orang miskin serta mengkhidmati manusia. Perhatian dan kepedulian adalah hal yang esensial dalam membantu orang lain.”

Rasa tanggung jawab seperti ini harus dibangun pada diri setiap pengurus dalam Jemaat kita dan mereka harus mengetahui betul bagaimana cara memenuhi sebuah tugas. Bukan hanya sekedar mengirim perintah kepada pihak lain. Tapi, ketika sebuah permohonan dari kalangan miskin diajukan, si pemohon tentu saja mencoba untuk mengikuti perkembangannya namun seharusnya para pengurus dan mereka yang bertanggung jawab harus terus mengawal permohonannya itu hingga hal tersebut dilaksanakan atau hingga keluhan tersebut dihapuskan atau tugas tersebut dipenuhi bukannya membiarkannya begitu saja. Sebagaimana yang saya sampaikan sebelumnya bahwa jika sifat seperti ini tertanam pada diri para pengurus maka banyak masalah kita yang akan terselesaikan.

Tn. Hafiz Muzaffar Ahmad menulis: “Saya benar-benar menyaksikan bahwa Hadhrat Mia Sahib mewujudkan kecintaan dan kesetiaan kepada Khilafat dengan melaksanakan tanggungjawab yang beliau terima atau dipercayakan sebaik-baiknya. Beliau tidak mengurangi ketaatan kepada Khalifatul Masih dengan setia dan memenuhi janji Waqf-e-Zindeginya, memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak para makhluk sepanjang hayat beliau hingga akhir nafasnya. Memang benar beliau sibuk dalam jabatan tinggi dalam Jemaat namun beliau rendah hati, berakhlak mulia dan memimpin dengan prinsip-prinsip nan luhur.

Beliau merupakan teladan yang baik dalam hal melaksanakan shalat berjamaah secara disiplin. Saat menjabat sebagai pengurus Majlis Ansharullah, beliau mengarahkan perhatian berkali-kali dalam Ijtima kearah penunaian shalat berjamaah secara teratur. Bahkan, beliau berkata kepada diri sendiri, “Orang-orang mungkin berfikiran saya hanya mengulangi hal yang satu ini, namun apa yang harus saya katakan? Termasuk kewajiban saya untuk terus menerus mengingatkan terhadap sesuatu kewajiban yang belum ditunaikan secara benar.” (Para pengurus juga hendaknya harus teratur dalam shalat-shalat mereka. Saya melihat sebagian pengurus, jangankan shalat berjamaah, bahkan shalat lima waktu pun dalam beberapa kesempatan kadang ditinggalkan.) Almarhum rajin datang ke kantor baik itu dalam cuaca dingin atau panas. Tn. Hafizh menulis, “Amat susah melupakan kelembutan, kesantunan dan kecintaan beliau. Beliau contoh orang yang disiplin waktu dan teladan bagi kami.”

Tn. Muhammad Anwar, yang merupakan salah seorang anggota staff di kantor Nazharat-e-Ulya, menulis: “Mustahil melupakan kebaikan, kasih dan sayang beliau. Beliau senantiasa datang tepat waktu ke kantor dan merupakan teladan bagi kami semua. Meskipun beliau sudah lanjut usia dan sakit-sakitan, beliau akan datang tepat waktu ke kantor dan tetap melaksanakan tugas-tugas beliau. Beliau selalu mengutamakan pengkhidmatan agama (keimanan) daripada kenyamanan diri sendiri. Sebelum wafat pada 1 Januari 2018 meskipun nafas beliau sesak, beliau tetap datang ke kantor dan berusaha untuk tidak memperlihatkan penyakit beliau.

Saya berkata kepada beliau: “Tampaknya kesehatan tuan tidak baik.’ Almarhum menjawab, ‘Kesehatan saya memang tidak baik oleh karena itu saya akan pulang ke rumah segera dan tidak berada di kantor hingga sembuh namun bukan berarti saya tidak bekerja.’ Lalu, beliau meminta kepada staf agar memberikan file-file pekerjaan segera.

Saya memberikan file-file itu sesuai permintaannya. Saya ambil hal-hal yang berhubungan dengan Washiyat. Saya katakan kepada Almarhum, ‘Tampaknya kesehatan tuan tidak baik. File-file ini nanti saja dikerjakannya.” Beliau menjawab: “Tidak apa-apa , sekarang saja saya kerjakan tidak apa-apa”. Beliau berdiri dengan file-file itu lalu menemui para Nazhir dan pengurus sebelum pulang. Dengan demikian, beliau mengajarkan kami bagaimana mengkhidmati agama dan apa itu ruh waqaf.

Kemudian, seorang mubaligh Jemaat, Tn. Malik Muhammad Afzal, menyatakan: “Beliau biasa duduk di Masjid sembari tepekur menundukkan kepala. Beliau rajin dengan khusyu’ mendengarkan daras al-Quran setelah shalat Ashar ketika Ramadhan di Masjid Mubarak. Apabila ada yang datang menyampaikan masalah pribadinya kepada beliau, maka beliau dengan senang hati dan tenang mendengarkan apa yang disampaikan mereka dan memberikan solusinya. Demikianlah pemandangan yang biasa disaksikan masyarakat Rabwah.

Pada waktu saya masih kuliah di Jamiah, saya cemas sekali akan sesuatu dan saya belum memahami keputusan untuk itu. Solusi terakhir adalah doa. Saya pun pergi ke Mirza Khursyid Ahmad di kantornya. Meskipun beliau tengah banyak kesibukan, beliau memanggil saya ke kantornya. Saya menyampaikan permasalahan saya semua, tujuan saya hanyalah meminta didoakan saja namun beliau menyimak kesulitan-kesulitan saya dan menanyakan beberapa pertanyaan.

Saya tidak punya pemikiran sebelum datang ke kantornya akan menyita banyak waktunya namun beliau menampakkan kelembutan dan memberi saya banyak dari waktunya. Setelah itu, saya keluar dari kantornya, dan saya merasa apa yang begitu berat di hati saya telah menghilang. Saya keluar dari kantornya dengan disertai harapan baru yang timbul di hati.” Inilah kewajiban para pengurus yang membuat ketenangan dan kenyamanan bagi orang-orang lain.

“Beliau begitu baik hati dan penyayang layaknya malaikat. Pernah seorang kawan saya bercerita kepada saya bahwa ketika masih remaja dulu, saya pernah belajar mengendarai sepeda motor dan menabrak pagar rumah Mirza Khursyid Ahmad, Amir Maqami. Kebetulan beliau sedang menyiram tanaman dekat pagar tersebut. Saya sangat gelisah dan gugup karena bukan hanya saya salah namun juga saya belum waktunya mengendarai kendaraan serta sudah merusak kebun beliau. Akan tetapi, beliau dengan kebaikan dan kasih sayangnya segera menghampiri saya dan membantu saya berdiri. Beliau kemudian bertanya, ‘Hai Nak! Apakah engkau mengalami cedera yang serius?’, lalu beliau berkata dengan penuh kasih sayang, ‘Hargai dan jagalah nyawa dan hidup engkau sendiri.’”

Demikian juga, beliau menyayangi para Mubaligh dan Waqifin zindegi (mereka yang menazarkan hidupnya untuk mengkhidmati agama) serta memperlakukan mereka dengan amat santun. Meskipun beliau seorang yang penuh dengan ilmu dan berwawasan luas namun beliau amat rendah hati. Satu kali saya menunjuk beliau sebagai wakil saya untuk memimpin convocation (upacara peresmian atau kelulusan) bagi mereka yang meraih titel pendidikan Syahid di Jamiah Ahmadiyah (Pakistan). Dalam sambutan beliau kepada para mahasiswa Jamiah, beliau berkata: “Sepanjang hidup saya, saya telah banyak mendengarkan para Muballigh yang mulia.

Maka, hamba yang lemah ini hanya ingin menekankan satu poin, yang bukan hanya penting namun sangat vital yaitu simaklah apa yang Khalifah sabdakan dan bertindaklah sesuai arahan Khalifatul Masih. Kami adalah para pengurus dalam Jemaat dan Anda sekalian telah lulus sebagai Muballigh. Kita hendaknya menjadikan ta’limat (arahan) dari Khalifah sebagai pedoman kita dan berusaha mengamalkan apa-apa yang beliau berikan pada kita sekuat kemampuan kita. Kita juga harus berdoa kepada Allah Ta’ala agar kita dianugerahi kesempatan untuk bertindak susuai arahan tersebut.”

Seorang Pengurus dari Baddomalhi, Tn. Mas’ud menulis: “Saya telah berjumpa dengan Almarhum beberapa kali dan tiap kali berjumpa beliau merupakan pribadi yang penuh kecintaan dan lemah lembut. Beliau seorang yang penyayang kepada setiap orang. Beliau merupakan perwujudan akhlak mulia dan kerendahan hati yang sempurna. Beliau akan bangkit dari kursinya untuk menyambut setiap orang yang masuk ke kantor beliau, mengucap salam dan menjabat tangan mereka, meskipun tamu tersebut anak kecil. Beliau menyimak kata-kata sang tamu dengan penuh perhatian, meninggalkan pekerjaannya sendiri meski itu pekerjaan penting dan memperlakukan sang tamu dengan santun dan penuh kecintaan. [Kapan pun seseorang ingin berjumpa dengan beliau, beliau akan menyisihkan semua pekerjaan pentingnya dan akan mendengarkan dengan seksama apa yang orang tersebut katakan.] Itulah sebabnya mengapa setiap orang datang kepada beliau dengan permasalahan mereka dan memohon bantuan beliau.”

Almarhum memperlakukan orang miskin dan orang kaya, pengurus atau anggota Jemaat umumnya dengan perlakuan sama. Beliau memperlihatkan tanggapan atas pendapat atau perlakuan setiap orang yang mengisyarakatkan bahwa seolah-olah orang itu amat penting.

Dokter Nuri menulis: “Beliau seorang yang banyak menjaga perasaan dan emosi setiap orang serta memperhatikan dengan seksama keperluan mereka. Saya pernah menyebutkan kepada Almarhum bahwa kami mengurangi uang tunjangan kami demi melakukan kateterisasi jantung pada pasien. Saya menghubungi Almarhum dan meminta maaf karena telah membebaninya. Almarhum berkata, ‘Khalifah telah berpesan agar saya berusaha membantu para pasien yang berhak mendapatkannya. Maka dari itu, wajib bagi kita menunaikan kewajiban ini.’”

Saya ingat ketika beliau menjalani perawatan di rumah sakit, beliau berkata kepada saya, ‘Ambillah uang dari anak saya. Belikanlah sweater (pakaian hangat) kepada para perawat, baik perawat pria maupun wanita sebagai hadiah dari saya.’

Beliau sangat menghargai usaha dan jasa orang lain. Pada satu kesempatan beliau menulis kepada saya, “Ada berbagai perasaan dan curahan hati yang seseorang tidak mampu ungkapkan karena satu dan lain sebab. Inilah keadaan saya ketika mengucapkan selamat tinggal kepada Anda dari Rumah Sakit. Jazakumullah atas pengkhidmatan Anda yang amat baik.”

Beliau amat menyintai dan setia pada Khilafat. Beliau memiliki hubungan dekat dengan Tahir Heart Hospital (Rumah Sakit Jantung Tahir). Suatu hari beliau menulis kepada saya, ‘Tn. Nuri, Tahir Heart Hospital berkedudukan seperti anak bagi Khalifah [merupakan gagasan Khalifah Waqt saat itu]. Semoga Allah Ta’ala memenuhi keinginan Khalifah dan semoga institusi ini menjadi Dar-ul-Shifa (tempat penyembuhan) yang sebenarnya. Saya berdoa kepada Allah seteiap hari supaya Dia menyempurnakan semua harapan dan cita-cita Khalifah demi pendirian lembaga ini.”

Dokter Nuri menuliskan laporan harian [kepada Khalifah] mengenai sakit Almarhum. Dokter itu berkata, “Pada hari-hari sakitnya, saya menyusun laporan mengenai keadaannya dan saya bacakan di depannya. Suatu hari Almarhum memegang tangan saya dan berkata dengan amat emosional, ‘Tidak adakah kabar lain yang dapat kita berikan kepada Imam kita selain kesakitan dan keperihan?’”

Ada banyak surat lain dari saudara-saudara Jemaat yang menyebutkan kebaikan dan keistimewaan beliau. Setiap mereka menyebutkan secara khusus kerendahan hati dan sikap simpatik Almarhum. Di depan istri saya, suatu kali Mirza Khursyid Ahmad Sahib mengungkapkan bagaimana hubungan dan kecintaan beliau dengan Khilafat, hal itu terjadi saat istri saya bertanya kepada beliau: “Anda pasti berdoa untuk Khalifah. Saat mendoakan Khalifah, mohon ingat saya dan anak-anak saya juga dalam doa-doa Anda.”

Beliau menjawab: “Saya pun ingat dan berdoa bagi istri dan anak-anak Khalifah, dalam sujud-sujud saya yang saya khususkan demi berdoa untuk Khalifah.” Saat beliau menyebutkan hal itu beliau tampak terharu.

Tolok ukur ketaatan beliau kepada Amir dan juga atasan beliau amat tinggi. Pada tahun 2000 ketika Hadhrat Khalifatul Masih IV rha tengah sakit selama beberapa hari, saya datang ke sini, ke London bersama Almarhum Mirza Khursyid Ahmad. Saat itu saya bertugas sebagai Nazir A’la. Saya dengan Almarhum ada selisih pendapat soal masalah kecil. Ketika itu beliau membantah saya dan suara beliau agak tinggi. Saya pulang lebih dulu ke Rabwah beberapa hari sebelum beliau.

Ketika beliau pulang ke Rabwah, beliau datang ke kantor saya, duduk tanpa rasa canggung dan meminta maaf kepada saya. [Padahal Almarhum adalah guru bahasa Inggris Hudhur V atba saat Hudhur V masih sekolah setingkat SMA dan berusia lebih dari 20 tahun lebih tua – penerjemah] Lalu saya bilang: “Apa salah tuan? Saya tidak merasa tuan punya salah terhadap saya.” Beliau katakan: “Saat di London saya meninggikan suara di hadapan tuan karena marah, untuk itu saya mohon maaf, karena ini bertentangan dengan penghormatan terhadap Amir.”

Meskipun saya katakan bahwa hal itu tidak apa-apa, tapi beliau terus meminta maaf. Inilah kerendahan hati beliau dan penghormatan beliau kepada Amir.

Beliau memulai urusan ishlaah (perbaikan) dari rumah beliau sendiri bukan memfokuskan perbaikan orang-orang lain dan melupakan keluarga sendiri. Beberapa tahun lalu, saya menulis surat untuk Khandaan (anggota keluarga) Hadhrat Masih Mau’ud (as). Di dalam surat itu saya mengingatkan mereka akan tugas dan tanggung jawab mereka. Telah sampai kepada saya beberapa pengaduan mengenai mereka. Saya menasehati mereka secara umum supaya selesai hal itu. Ketika saya mengirim surat tersebut kepada Almarhum di Pakistan, saya meminta beliau untuk mengumpulkan para Khandaan dan meminta beliau membacakan surat saya di hadapan mereka.

Ketika beliau membacakan surat tersebut di hadapan para Khandaan, beliau amat terharu dan berkata: “Biarkan saya menjelaskan hal ini dengan sejelas-jelasnya bahwa anak-anak saya pun tidak boleh merasa lepas (tidak termasuk) dari kelemahan yang menjadi sorotan dalam surat ini. Saya menasehati mereka guna menjelaskan kelemahan ini dan berusaha untuk memenuhi harapan dan prasangka baik Khalifah.”

Inilah tingkat kejujuran dan ketakwaan beliau. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada para putra-putra Almarhum dengan kebaikan-kebaikan dan menjaga kebaikan-kebaikan tersebut. Semoga Allah melimpahkan anugerah kepada Jamaat dan juga Khilafat-e-Ahmadiyya dengan para penolong yang setia, tulus dan yang secara halus mematuhi poin-poin ketakwaan.

Tn. Mirza Anas Ahmad, putra sulung Hadhrat Khalifatul Masih III (rh) menulis surat kepada saya: “Saudara Khursyid mengkhidmati Jemaat sepanjang hidupnya hingga nafas terakhir dengan penuh kerendahan hati dan kesetiaan kepada Khilafat. Semoga Allah meninggikan derajat beliau dan menerima pengkhidmatan beliau. Semoga Allah juga menaungi beliau dalam naungan karunia-Nya dan melimpahkan rahmat yang tak terhitung banyaknya kepada beliau. Beliau telah memenuhi janjinya.” (Perkataannya benar. Tidak diragukan lagi beliau sudah memenuhi janji beliau.)

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk memenuhi janji keruhanian kita yang sejati dan meridhai kita untuk menyempurnakan janji-janji tersebut. Setelah dua shalat (jamak Jumat dan Ashar), saya akan mengimami shalat jenazah gaib. Insya Allah.