Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 6 Maret 2009/Aman 1388 HS

Di Baitul Futuh, London, U.K.

 

Nasihat-nasihat Hadhrat Masih Mau’uda.s. kepada Jama’at yang beliau berikan pada berbagai macam kesempatan, tentang maksud dan tujuan didirikannya Jama’at Ahmadiyah ini dan mengingatkan para anggota Jama’at tentang tanggung jawab mereka. Kemudian menjelaskan bahwa berkat memenuhi tanggung jawab itu, maka hasil dari maksud dan tujuan Jama’at sesuai dengan janji Allah Swt terhadap Hadhrat Masih Mau’uda.s. adalah merupakan karunia Allah Swt.

Sesuai dengan nasihat-nasihat beliau itu, saya akan mengemukakan beberapa hal supaya kita bisa menyadari tanggung jawab kita dan supaya dengan diulang-ulangnya perkara ini bisa menggugah kita menjadi orang-orang yang mampu meraih keridhaan-Nya. Dan kita akan menjadi pewaris-pewaris karunia Allah Swt yang akan diperoleh dengan mengadakan hubungan erat dengan Jama’at.

Sambil menjelaskan maksud dan tujuan Jama’at, Hazrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Zaman kita sekarang ini adalah zaman peperangan ruhani. Peperangan dengan syaithan sudah mulai. Dengan membawa semua kemakaran dan tipu daya, syaithan sedang melakukan penyerangan terhadap Kubu Islam. Dan ia ingin mengalahkan Islam. Akan tetapi Allah Swt telah mendirikan Jama’at ini untuk melakukan peperangan terakhir mengalahkan serangan-serangan syaithan untuk selama-lamanya. Mubaraklah bagi orang-orang yang mengenal hal ini.”

 Kita bersyukur kepada kemurahan Allah Swt yang telah memberi taufik kepada kita untuk menggabungkan diri ke dalam Jama’at ini. Di antara kita banyak yang telah menggabungkan diri ke dalam Jema’at ini disebabkan banyak kebaikan para leluhur mereka yang telah mendapat taufik lebih dulu untuk mengenal Jema’at ini.

Dan kita telah lahir di antara keluarga-keluarga yang baik. Dari antara kita juga banyak yang mendapat taufik langsung dari Allah Swt untuk bai’at dan menggabungkan diri ke dalam Jama’at ini.

Dan sampai sekarang Jama’at ini berjalan terus dengan lancar. Dan insya Allah Swt akan maju terus. Agar kita masuk ke dalam kelompok orang-orang yang memerangi syaithan untuk memperoleh keridhaan Allah Swt.

Oleh karena itu, banyak di antara kita yang tinggal di beberapa negara di dunia sedang melewati detik-detik perlawanan yang kejam dan zalim disebabkan mereka telah percaya kepada Imam Zaman sekarang ini. Akan tetapi untuk meraih maksud yang agung ini pengorbanan kita tidak terkira nilainya.

Hadhrat Masih Mau’uda.s. senantiasa mengingatkan kita terhadap percobaan dan ujian ini bahwa akan banyak sekali ujian dan cobaan yang akan dihadapi, kita akan diuji dengan berbagai macam kesulitan.

Dan sebagai natijahnya beliau memberi kabar-kabar yang menggembirakan juga. Beliau bersabda: ”Secara zahirnya orang-orang yang telah menerima kebenaran dakwaku di waktu sekarang ini harus melakukan peperangan yang sangat hebat terhadap nafsunya sendiri. Dia akan mengalami keadaan yang memaksa dirinya harus berpisah dari saudara-saudara kandungnya sendiri. Kegiatan ekonomi dan perniagaannya akan terpaksa harus terputus. Dia terpaksa harus mendengar berbagai macam penghinaan dan mendengar kutuk-laknat dari manusia. Akan tetapi ganjaran dari perkara itu semua akan diterima di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.”

Pada zaman sekarang ini, semua sabda Hadhrat Masih Mau’uda.s. itu sedang disaksikan kesempurnaannya di beberapa negara. Dan sekarang juga orang-orang Ahmadi yang sedang melakukan pengorbanan akan menerima ganjaran dari Allah Swt. Khususnya pada masa-masa sekarang ini yang tengah berlaku di Pakistan dan juga di Hindustan (India), orang-orang ghair Ahmadi melakukan kekejaman yang tidak terhingga kepada para Mubayi’in baru di sana.

Di Pakistan setelah berdirinya pemerintahan baru, berbagai macam kezaliman dan penganiayaan yang sangat berlebihan dilakukan terhadap para anggota Jama’at di sana. Dan perbuatan zalim itu dianggap mereka sebagai perkara biasa saja.

Para mullah (ulama) diberi kebebasan oleh Pemerintah di sana untuk berlaku aniaya terhadap orang-orang Ahmadiyah. Tekad dan rencana jahat mereka sangat mengerikan. Memang di negeri Pakistan itu, undang-undang sedang lumpuh tidak berfungsi. Negara seakan-akan tuna undang-undang. Undang-undang yang ada pun demikian lemahnya, sehingga tidak ada sedikit pun pengaruh dan kekuatan untuk menolong atau membela orang-orang Ahmadi.

Sungguh merupakan karunia Allah Swt yang sangat luar biasa, ketika mereka mengancam untuk menghancurkan Jama’at Ahmadiyah secara biadab dan zalim, Allah Swt telah menggagalkannya. Bahkan sebaliknya kehancuran telah menimpa diri mereka sendiri, dan hal itu kita telah menyaksikannya dengan mata kepala kita sendiri.

Pada hari-hari ini juga seperti itulah yang tampak kepada kita. Sebuah rencana disusun untuk menghancurkan Jama’at Ahmadiyah, akan tetapi Allah Swt Sendiri membangkitkan suasana kacau dan kerusuhan yang menimpa mereka sendiri.

     Maka ingatlah, di mana pun Ahmadiyah dijadikan sasaran kejahatan dan kezaliman, hal itu merupakan peperangan terakhir dengan setan. Dan demi meraih keridhaan Allah Swt, kita semua sudah bergabung dengan lasykar yang telah didirikan oleh Imam Zaman sekarang ini, oleh sebab itu sambil memperkuat iman kita harus meningkatkan azam (tekad bulat dan teguh) dan sambil memohon istiqomah kepada Allah Swt, kita harus memperlihatkan kesabaran dan ketabahan.

Setiap waktu harus selalu meningkatkan do’a sambil menundukkan kepala di hadapan Allah Swt. Maka insya Allah, akhirnya kemenangan akan berada di tangan Jama’at Hazrat Masih Mau’uda.s.

Sebagaimana beliau bersabda: “Untuk mengalahkan kekuatan syaithan-syaithan jahat itu, Allah Swt telah menegakkan Jema’at ini.” Akan tetapi kita harus ingat kepada yang satu ini, yaitu untuk mengalahkan syaithan yang berkeliaran di luar, kita harus berusaha untuk mengatasi syaithan yang ada di dalam diri kita masing-masing. Sebab kemenangan kita dapat diperoleh bukan karena adanya hubungan secara zahiriah dengan Hazrat Masih Mau’uda.s. melainkan dengan jalan khusyuknya do’a yang dipanjatkan kepada Allah Swt. Dan untuk kemakbulan do’a-do’a kita diperlukan adanya amal perbuatan yang sesuai dengan kehendak Allah Swt.

Dan untuk itu diperlukan jihad melawan hawa nafsu. Sehubungan dengan perkara ini Hadhrat Masih Mau’uda.s. telah memberikan nasihat kepada kita yaitu: “Keinginan-keinginan hawa nafsu adalah syirik, dia menutupi kalbu manusia. Sekali pun manusia telah melakukan bai’at, maka syirik itu akan menjadi sebab tergelincir baginya.” Yakni kehendak nafsu manusia adalah syirik. Dan dia menutupi kalbu manusia dengan tabir, sekali pun manusia telah melakukan bai’at dengan penuh pengertian dan pemahaman.

Banyak Ahmadi yang sudah tua-tua melakukan bai’at dengan sangat hati-hati, namun sering terjadi ia tergelincir juga karena syirik itu. Sebagai anggota Jama’at kita harus meninggalkan keinginan nafsu, dan melangkah ke depan dengan hati yang suci bersih. Maka kewajiban setiap orang Ahmadi adalah harus menghindarkan diri dari semua kehendak nafsunya sambil mensucikan hatinya dan berdiri tegak di atas Tauhid Ilahi.

Sekali pun sudah melakukan bai’at banyak manusia tergelincir. Sebabnya adalah ia tidak memahami maksud dan tujuan bai’at itu dengan sesungguhnya. Sedangkan maksud dan tujuan bai’at itu adalah menyerahkan diri seluruhnya secara sempurna kepada kehendak Allah Swt dan membersihkan diri dari setiap jenis syirik.

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Allah Swt menghendaki agar manusia memperlihatkan contoh kehidupan takwa dan kebersihan serta kesucian hati sesuai dengan maksud dan tujuan Dia telah mendirikan Silsilah Ahmadiyah ini. Dia menghendaki kebersihan dan Dia menghendaki sebuah Jama’at yang suci dan bersih.” Maka kita lihat dunia sekarang semakin penuh dengan akhlak dan perbuatan yang memalukan, tidak ada perhatian untuk menunaikan hak-hak Allah Swt dan tidak ada pula perhatian untuk memenuhi hak-hak kemanusiaan.

Pertengkaran dan permusuhan satu sama lain sudah merata ke seluruh dunia. Orang-orang Islam membunuh orang Islam lainnya atas nama Tuhan atau atas nama Agama.  Dari satu pihak dengan suara keras meneriakkan slogan: “Pemerintahan yang kami peroleh atas nama Islam akan kami dirikan sebuah pemerintahan agama Tuhan.” Dari pihak lain, demi kepentingan diri mereka sendiri menumpahkan darah orang-orang yang membaca dua kalimah syahadat, atas nama agama.

Sekarang anggapan dunia terhadap negara Pakistan sebagai negara barbariyat yang zalim dan menakutkan. Semoga Allah Swt mengasihani negara kita itu. Jama’at Ahmadiyah telah banyak mengeluarkan pengurbanan demi tegaknya negara itu.

Setiap Ahmadi Pakistani harus ingat selalu kepada hal itu. Sekarang jika ada yang bisa menyelamatkan negara ini dari kehancuran, maka di dalam lautan kegelapan kerusuhan dan permusuhan ini hanya terdapat satu-satunya bahtera untuk menyelamatkan mereka itu, yang telah dirakit oleh Hadhrat Masih Mau’uda.s, yang dengan karunia Allah Swt sekarang ini kita sedang berada di dalamnya. Maka kita harus berusaha secara khusus membuat diri kita menjadi anggota yang sesungguhnya dari pada penghuni bahtera itu.

Kita harus memanjatkan do’a yang khas, sambil menundukkan kepala di hadapan Allah Swt, bagi kemaslahatan bangsa sendiri yang tengah berada dalam suasana kemelut yang tidak menentu itu.

Berhati-hatilah dalam setiap perlakuan, jangan mengikuti langkah mereka yang menamakan diri pemimpin bangsa secara membabi buta tanpa berpikir secara bijak, sampai merusak kehidupan diri sendiri dan kehidupan bangsa. Bagaimanapun hal itulah dua macam tanggung jawab setiap anggota Jama’at, khususnya bagi Ahmadi asal Pakistan.

Ke manapun kita pergi di muka bumi ini, tampak keadaan dunia sekarang sudah bertambah kacau. Para anggota Ahmadi harus memberi perhatian penuh kepada situasi zaman sekarang ini, kemudian memanjatkan do’a khas kepada Allah Swt.

     Orang-orang Ahmadi yang telah dilimpahi kemudahan oleh Allah Swt di dalam kehidupan mereka, kadangkala mereka lupa kepada kedudukan mereka sebagai orang-orang Ahmadi. Mereka berlebihan dan melampaui batas di dalam menjalani kehidupan duniawi mereka. Tentang orang-orang seperti itu telah diterima banyak laporan. Mereka telah banyak melampaui kebiasaan hidup sebagai anggota Jama’at.

Pekerjaan yang paling penting demi menegakkan Tauhid Ilahi yang merupakan tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah Swt dan menjaga kewajiban shalat, tidak diberi perhatian sepenuhnya oleh mereka itu.

Jadi, perkara ini betul-betul sangat mengkhawatirkan Jama’at, dan jika ada kelemahan apa pun di antara sesama kita hendaknya jangan menjadi sasaran firman Tuhan ini, yaitu:

 

‌‌اِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صٰلِح                     اِنَّه لَـيْسَ مِنْ اَهْلِكَ

Innahû laysa min ahlik, innahû ‘amalun ghayru-shôlih

“Sesungguhnya ia bukanlah dalam dari antara keluarga engkau, sebenarnya ia adalah seorang yang amalnya tidak baik” (Surat Hud:47)

Semoga jangan terjadi, orang yang telah melakukan bai’at jangan sampai mempunyai kedudukan seperti itu di pandangan Allah Swt. Melihat keadaan seperti itu kita harus merasa takut sehingga bulu roma kita akan berdiri.

Semoga Allah Swt memberikan taufik untuk melakukan amal perbuatan yang menurut pandangan-Nya adalah amal saleh. Hendaknya di dalam pikiran kita jangan timbul keinginan menetapkan sendiri kedudukan ruhani kita. Melainkan kita harus berusaha mencapai kedudukan ruhani yang telah diberitahukan oleh Hadhrat Imam Zaman kepada kita.

Beliau bersabda: “Selama Jama’at kita tidak berusaha mencapai martabat Taqwa, Jama’at tidak akan memperoleh keselamatan. Dan Allah Swt tidak akan memberi perlindungan.” Selanjutnya beliaua.s. bersabda: “Sekalipun Allah Swt telah berjanji kepada Jama’at bahwa Dia akan memberi perlindungan kepada Jama’at dari musibah (wabah tha’un) akan tetapi di dalam perjanjian itu mengandung syarat:

يَلْبِسهُمْ اِيْمَانَهُمْ بظُلْمٍ لَمْlam yalbis-hum îmâna-hum bizhulmin — yakni orang yang tidak mencampuri imannya dengan perbuatan zhulum (khianat) dialah yang akan berada di dalam keselamatan.”

Pada zaman ini banyak sekali berbagai jenis musibah tengah berlaku di mana-mana di seluruh dunia. Untuk mendapat keselamatan dari bencana-bencana itu juga harus mengikuti peraturan atau persyaratan yang telah dijelaskan oleh Hazrat Masih Mau’uda.s.

Beliau bersabda: “Tentang “daar” (rumah) juga sama syaratnya telah ditentukan yaitu  اِلاَّ الَّذِيْنَ عَلَوْا مِنْ اِسْتِكْبَارٍ  — illa-lladzîna ‘alaw min istikbâr — perkataan  عَلَوْا  – alaw – di sini maksudnya adalah kecuali mereka melakukan jenis itha’at yang disertai dengan merendahkan diri. Selama manusia melakukan amal dengan niat yang baik maka barulah ia akan berada di dalam “daar” (Jema’at) itu. Dan hanya mendakwakan diri sebagai orang mukmin sama sekali tidak ada faedahnya. Selama manusia tidak mau merendahkan diri maka semua pendakwaannya tidak ada faedahnya sama sekali sebagai mukmin atau tidak ada faedah dari pernyataan bai’atnya.”

Demikianlah tolok ukur amal perbuatan kita yang diharapkan oleh Hadhrat Masih Mau’uda.s. dari pada kita, orang-orang Ahmadi. Jadi setiap orang Ahmadi harus berusaha melakukan kehidupan di atas jalan taqwa dan memiliki sifat ketaatan serta mempunyai perangai merendahkan diri yang bermutu setinggi-tingginya.

Dan dengan cara inilah yang bisa membimbing ke arah jalan untuk meraih derajat ruhani yang tinggi yang telah diisyaratkan oleh Hadhrat Masih Mau’uda.s. Mengenai hal itu Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Jika Jama’at kita ini mau menjadi Jama’at yang sejati, maka mereka harus bersedia menghadapi maut (menghadapi berbagai  macam kesulitan dan kesusahan).

Mereka harus menghindarkan diri dari perkara-perkara nafsani dan kehendak-kehendak nafsani mereka dan mereka harus mengutamakan kehendak Allah Swt di atas semua kehendak nafsu duniawi mereka. Banyak sekali manusia menjadi binasa disebabkan perbuatan riya dan kelalaian mereka. Banyak sekali jenis perbuatan riya dan perbuatan-perbuatan tercela yang membinasakan manusia. Karena itu kita setiap waktu harus mengadakan koreksi terhadap diri sendiri, apabila tampak kejanggalan atau sesuatu hal yang patut diperbaiki harus berusaha untuk segera memperbaikinya

Setiap orang harus mengawal (mengendalikan) nafsu pribadinya ke arah perbaikan. Dan harus selalu mengadakan koreksi pada diri pribadinya. Perlu diingat bahwa seseorang akan berhasil melakukan perbaikan terhadap dirinya apabila ia tidak berlaku keras kepala dalam sesuatu perkara. Ia akan merasa bahwa setelah masuk ke dalam Jema’at Hazrat Masih Mau’uda.s., kehidupan di dunia ini mempunyai tujuan, yaitu menunjukkan contoh kehidupan yang baik dan suci kepada yang lain dan mengamalkan hukum-hukum Allah Swt untuk meraih keridhaan-Nya.

Dan hal itu, disertai dengan perbaikan dirinya bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan Ahmadiyah dan Islam hakiki dan untuk memberi bimbingan kepada orang lain.

Sehubungan dengan itu Hazrat Masih Mau’uda.s. memberi nasihat sebagai berikut: “Setiap orang non Ahmadi yang berjumpa dengan kalian, ia akan memperhatikan perangai kalian. Dan ia akan memperhatikan bagaimana prilaku kalian, akhlak dan budi pekerti kalian, serta menilai bagaimana disiplin kalian di dalam mentaati peraturan, dan disiplin kalian dalam mentaati hukum-hukum Allah Swt. Jika mereka menjumpai semua tidak baik, maka mereka akan terpedaya oleh kalian. Maka ingatlah kalian kepada perkara itu semua.”

Di tempat lain beliau bersabda lagi: “Pada saat ini Allah Swt tengah mempersiapkan sebuah Jema’at orang-orang saleh dan jujur, maka kita harus memperlihatkan contoh “shiddiq” atau kejujuran yang sebenarnya.” Apa artinya “shiddiq” itu? Beliau a.s. jelaskan: “Yaitu apabila keadaan manusia secara umum keadaannya jujur dan mencintai ketulusan. Dan “shiddiq” atau kejujuran menjadikan manusia pandai dan bijak.

Dan ketulusan itulah yang bisa menarik shiddiq secara luar biasa, yang membuat manusia mampu melihat Allah Swt. Apabila manusia mampu melihat Allah Swt, maka ia bisa meraih ma’rifat ke-Esa-an Allah Swt. Apabila ia telah memperoleh ma’rifat Allah Swt, maka perhatiannya akan selalu terpaut kepada ketaatan yang paripurna kepada hukum-hukum Allah Swt. Dan ia akan mendapat irfan hakiki Allah Swt.

Dia akan membenci setiap jenis perkara yang berbau syirik. Ia memperoleh ilmu yang sebenarnya untuk menjadi hamba Allah Swt yang sejati. Ia memperoleh kekuatan untuk bersabar dalam menghadapi berbagai jenis kesulitan, musibah dan cobaan-cobaan yang menimpa dirinya. Timbullah tawakkal sejati kepada Allah Swt di dalam hatinya. Timbullah perhatian khusus untuk mengamalkan semua akhlaq hasanah yang setinggi-tingginya.

Pendeknya contoh shiddiq yang luhur untuk melaksanakan hak-hak Allah Swt dan hak-hak sesama manusia setiap saat memberikan bimbingan untuk mendapatkan pertolongan dan dukungn dari Allah Swt.”

 Demikianlah secara ringkas maksud dan tujuan Jama’at yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’uda.s. dan Jama’at orang-orang shadiq seperti itulah yang sedang dipersiapkan oleh Allah Swt.

Jika kita mengoreksi diri kita sambil membandingkan dengan sifat-sifat tersebut di atas maka timbullah perasaan di dalam hati kita. Dalam keadaan demikian kita harus rujuk kepada Allah Swt dan setiap saat memohon do’a sambil menundukkan kepala di hadapan-Nya. Untuk melangkah di atas jalan itu juga, tanpa ada karunia Tuhan, kita tidak dapat melakukannya.

Walaupun dengan sekuat tenaga kita melakukannya, namun jika tidak ada karunia dari Allah Swt, hal itu tidak mungkin berhasil. Semoga setiap orang dari kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang melangkah di atas jalan Taqwa dan termasuk dalam golongan orang–orang yang disebut oleh Hazrat Masih Mau’uda.s. bahwa Allah Swt menghendaki Jama’at orang-orang yang diselamatkan dari api kejahatan dan golongan orang-orang yang mukhlis dan muttaqi.

Dan siapakah golongan orang-orang muttaqi itu? Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Orang-orang muttaqi adalah mereka yang mendahulukan kepentingan agama dari pada kepentingan dunia sesuai dengan pernyataannya di waktu bai’at.” Pernyataan di waktu bai’at maksudnya adalah syarat-syarat bai’at. Orang-orang muttaqi itu senantiasa berusaha menempatkan diri mereka sesuai dengan syarat-syarat bai’at itu.

Semoga Allah Swt menjadikan kita orang-orang yang mendahulukan kepentingan agama kemudian memasukkan kita k edalam golongan orang-orang muttaqi, dan semoga kita menjadi orang-orang yang memahami betul hakikat dan pentingnya bai’at kepada Hadhrat Masih Mau’uda.s. yang tentang itu beliau a.s. sendiri telah menjelaskannya.

Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang mementingkan diri sendiri dan tidak menjadikan orang-orang tinggi hati dan egois dan semoga Tuhan tidak menjadikan kita orang-orang yang menentang perintah-perintah Allah Swt.

Dan semoga kita menjadi teladan bagi orang-orang lain. Supaya keturunan kita di masa mendatang mengikuti langkah-langkah kita seperti itu dan mereka menjadi orang-orang yang selalu mendo’akan kita.

Dan semoga anak-anak keturunan kita selalu mendo’akan orang-orang yang telah memberikan bimbingan mereka sehingga mendapatkan hidayah masuk ke dalam golongan orang-orang beriman. Insya Allah, Jama’at ini memang akan maju dan akan berkembang dengan pesat.

Kita menyaksikan semenjak seratus tahun silam, Jama’at ini terus berkembang maju dengan pesat kerana tangan Allah Swt selalu berada di atas Jama’at ini. Dan setiap tahun Jama’at ini mengumpulkan beratus-ratus ribu orang-orang yang bertabiat baik dan lurus.

Semoga Allah Swt memperkuat keimanan orang-orang yang baru menggabungkan diri ke dalam Jama’at ini dan semoga Dia menjadikan mereka orang-orang mukhlis dan bersyukur kapada Allah Swt. Semakin banyak jumlah anggota Jama’at ini, semakin besar juga api perlawanan terhadap Jama’at ini disebabkan semakin berkobarnya perasaan hasad dan dengki mereka.

Para penentang Jama’at selalu berpikir untuk mencelakakan Jama’at dan untuk melumpuhkan usaha-usaha Jama’at ini hingga binasa. Di kala tengah berkobarnya api perlawanan dan tindak kekejaman terhadap Jama’at ini, mereka menanti kehancuran Jama’at ini. Akan tetapi karunia Allah Swt pun semakin meningkat ke atas Jema’at ini.

Semoga Allah Swt menutupi kelemahan-kelemahan kita dan selalu menurunkan karunia-Nya dan kasih sayang-Nya di atas kita semua. Dan semoga setiap usaha jahat pihak lawan Jema’at selalu menghadapi kegagalan dan kebinasaan.

Semua keberhasilan Jama’at tidak hanya tampak kepada kita semua, namun ia tampak kepada para penentang Jama’at juga. Sebab sebelumnya sudah terdapat janji Allah Swt kepada Hadhrat Masih Mau’uda.s. dan beliau selalu memberikan ketenangan kepada Jema’at melalui janji-janji Allah Swt itu.

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Suatu zaman akan tiba apabila para pengikiut beliau a.s. akan terus menerus mendapat kemajuan, di zaman kehidupan kita atau di zaman yang akan datang. Allah Swt telah berjanji bahwa Raja- raja akan mencari barkat dari pakaian engkau. Nubuwatan ini masih ditunggu kesempurnaannya. Bersabda lagi: Merupakan sunnah Allah Swt bahwa Dia memilih kelompok orang-orang buta huruf dan miskin untuk beriman kepada Utusan-Nya. Dan mereka akhirnya selalu meraih kemenangan dan kejayaan.

Hal ini tidak membuat kami hairan (heran) apabila para pengikut beliau bukan orang-orang kaya raya. Mereka pasti orang-orang kaya, akan tetapi penyesalan akan timbul apabila orang-orang itu setelah menjadi kaya-raya kemudian mereka menjadi lengah dan mendahulukan urusan-urusan dunia. Maka demikianlah nasihat Hadhrat Masih Mau’uda.s. Jama’at Ahmadiyah ditakdirkan untuk maju dan menang, Insya Allah!! Akan tetapi setelah mendapat kemajuan dan kejayaan itu, orang-orang Ahmadi jangan hendaknya mendahulukan kepentingan dunia di atas kepentingan agama dan jangan menjadi lengah terhadap Allah Swt.

Semoga Allah Swt memberi taufik kepada setiap orang Ahmadi untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya. Semoga Allah Swt memberikan taufik kepada mereka untuk menyempurnakan keinginan dan harapan-harapan Hazrat Masih Mau’uda.s. dan semoga Dia melindungi mereka dari setiap keburukan yang telah beliau jelaskan. Dan semoga kita semua menjadi pewaris do’a-do’a beliaua.s.

Alihbahasa dari audio Urdu oleh Hasan Basri