Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

6 Mei 2005 di Mesjid Basyarat ,Spanyol.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

 وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Di dalam ayat  yang telah saya tilawatkan ini Allah berfirman:  Kamu adalah umat  terbaik yang dikeluarkan/ diciptakan  untuk faedah seluruh ummat manusia. Kamu  menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan kamu beriman kepada Allah.  ( Ali –Imran111) Yakni, kita yang menamakan diri kita  sebagai orang  Islam  adalah orang-orang yang terbaik. Dan kini sementara  sesuai dengan nubuatan Rasulullah  saw  kita juga telah mengimani  Masih dan Mahdi yang dijanjikan  akan datang, maka   setelah menerapkan ajaran-ajaran Islam kembali di dalam diri kita,dan setelah mengimani  Hadhrat Masih Mauud a.s  sesungguhnya   kita  merupakan    orang-orang  yang terbaik. Sebab setelah mengimani semua nabi  mulai dari  Hadhrat Adam a.s  hingga  Hadhrat Masih Mauud a.s  kita telah menyatakan iman kita yang sempurna kepada Allah. Nah, setelah  pengumuman itu tanggung jawab kita tidak menjadi  berakhir  sampai disitu  namun  justru  sejalan  dengan pengumuman itu, yakni kita sebagai Ahmadi muslim,maka    tanggung jawab itu menjadi bertamabah lebih besar.  Sebab Allah berfirman : Kalian  dikatakan sebagai ummat  terbaik karena kalian menyampaikan amanat kebaikan kepada orang lain dan  mencegah mereka  melakukan keburukan  dan berkenaan dengan orang lain pun kalian senantiasa memiliki pandangan yang baik.

          Allah berfirman bahwa” Kamu  adalah    orang yang baik karena kalian tidak hanya memikirkan  berkaitan dengan diri sendiri dan berkenaan dengan anak istri kalian belaka atau hanya berekaitan dengan keluarga semata atau berkaitan dengan suku sendiri semata atau tidak hanya berkaitan dengan orang –orang senegara kalian semata,tetapi  kalian juga memikirkan juga ,baik dia sebagai  keluarga siapapun atau baik  suku  manapun  atau negara manapun kalian harus melakukan kebaikan  kepada setiap orang dan  menaklukkan hati setiap orang. Dan wajib atas   kalian  bahwa untuk menaklukkan hati itu  kalian tidak akan melakukan keburukan kepada siapapun,bahkan akan mengalir  kebaikan dan  kecintaan  dari setiap amal kalian. Dan semua pekerjaan ini kalian harus  lakukan karena ini merupakan perintah Allah dan tampa  itu iman kalian  tidak akan dapat  menjadi  sempurna. Jadi perhatikanlah bahwa ummat terbaik Allah tidak hanya jadikan karena kita adalah  ummat Islam. Sebagaimana kalian banyak melihat orang-orang Islam ,yang jika kalian menanyakan kepada mereka bahwa ,apakah kalian orang Islam ? Maka mereka akan menjawab, alhamdulillah,  kami adalah Islam.Tetapi jika kalian  melihat amal mereka maka akan nampak bagi kalian bahwa syaithan pun lari menjauh dari mereka. Nah untuk menjadi individu ummat Islam  yang tebaik harus melakukan  amal baik/saleh  dan  meninggalkan keburukan-keburukan. Manakala kalian menjadikan amal kalian seperti itu  maka baru kalian dapat mengajurkan orang lain untuk  melakukan kebaikan-kebaikan  dan  dapat mencegah untuk melakukan keburukan-keburukan. Kalau tidak, kapan saja kalian berupaya untuk melakukan perbaikan  maka inilah  jawaban  yang kalian akan dapatkan  bahwa pertama luruskanlah  diri kalian sendiri dan perbaikilah diri kalian sendiri (baru memperbaiki orang lain.)

          Jadi,  ummat  terbaik  tidak bisa dibuat /terjadi  dengan melakukan penipuan kepada orang-orang  dan tidak pula bisa terbentuk dengan melakukan penipuan terhadap  Allah. Oleh karena itu  untuk mengukukan diri sendiri,untuk meneguhkan jemaat,   adopsilah hal-hal yang baik  dan selanjutnya  sampaikan pada orang lain. Dan sempurnakanlah amal seperti itu seraya  berjalan pada kebaikan-kebaikan  dan  menghindar dari keburukan-keburukan    maka akan mudah  dalam menyampaikan  pertablighan. Dan di dalam jemaatpun  akan terlahir tarbiat yang terbaik. Sebab kebaikan –kebaikan tengah diterapkan  dan tengah dilakukan pencegahan terhadap  keburukan-keburukan. Hal-hal baik dan perkara-perkara baik ini tidak terhitung  jumlahnya  yang disebutkan di dalam Al-Quran. Misalnya, perlakuan baik kepada kerabat,kejujuran, pengurbanan untuk orang lain,simpati pada kemanusiaan, ajaran  memiliki pandangan yang baik pada orang lain ,bertutur kata  yang benar ,memaafkan orang lain,bersabar,  berlaku adil , melakukan kebaikan kepada orang lain,memenuhi janji sendiri,membersihkan diri dari segala macam kekotoran, baik dari segi fiikiran  maupun  dari segi  jasmaniah. Tercetus dalam fikiran  menimpakan kerugian pada orang lain dan melakukan gerakan-gerakan tak bermoral yang melanggar nilai-nilai luhur budi pekerti. Kemudian meningkatkan  cinta dan kasih sayang  diantara sesama dalam hal-hal yang baik dalam masyarakat. Berlaku baik kepada keluarga, kepada tetangga dan berlaku baik kepada orang-orang yang sama dalam pekerjaan/teman sekerja  /sekantor adalah  budi pekerti luhur. Kemudian mereka yang memiliki status yang baik, yakni kondisinya baik dari segi harta  hendaknya mereka sendiri  juga memperhatikan orang-orang yang miskin  dan  hendaknya juga mengembangkan ajaran itu. Seperti itu tidak terhitung keburukan-keburukan  yang mana  manusia hendaknya menahan diri sendiri dari itu dan orang lainpun hendaknya menarik perhatian ke arah itu juga   sebab untuk melakukan kebaikan-kebaikan  sangat penting sekali meninggalkan keburukan-keburukan.

           Dari anatara keburukan-keburukan itu ada beberapa contohnya yang saya akan berikan,   contohnya yang berkenaan dengan itu Allah berfirman  bahwa keburukan-keburukan ini hendaknya jangan ada  pada diri orang-orang yang beriman. Misalnya kebiasaan kikir, yakni  setelah melihat keperluan-keperluan orang lain kendati   adanya  taufik  tidak memberikan pertolongan padanya atau menahan  candah-candah Jemaat. Kemudian berburuk sangka ,menuduh  orang lain tampa sebab,menganggap  hina pada orang lain,berlaku hasad/dengki,  pada hal-hal sia-sia dan tidak berguna  yang bukannya  berguna bagi diri sendiri dan juga bagi Jemaat  justru malah mendatangkan kemudaratan.  Melakukan gibat terhadap orang lain. Bertutur kata dusta. Berdusta pun   merupakan laknat yang sangat besar  yang menjerumuskan manusia dalam dosa-dosa yang lain. Melakukan khianat, di dalamnya termasuk pengkhianatan mata juga  di dalamnya, yakni  seorang laki-laki melihat perempuan dengan niat yang buruk. Khianat pada amanat orang lain juga. Di dalam itunya  banyak lagi  hal-hal lainnya termasuk di dalamnya.  Misalnya, mengerjakan tugasnya  dengan tidak baik. Jadi, sebagaimana saya telah katakan bahwa  untuk memilih atau melakukan kebaikan-kebaikan  harus meninggalkan keburukan-keburukan. Sebab, kebaikan dan keburukan tidak bisa bersatu di satu tempat. Oleh karena itu hendaknya senantiasa berusaha  bahwa kapan saja melakukan suatu kebaikan  maka sejalan dengan itu  harus  terpisah beberapa  keburukan-keburukan darinya. Dengan  demikian  hati setiap  Ahmadi baru bisa  bersih dari keburukan. Dan setiap orang Ahmadi Muslim yang mana kepada mereka terdapat perintah  untuk  melakukan kebaikan dan mencegah pada  keburukan,  maka harus pertama tama  membersihkan dirinya dari keburukan-keburukan  dan melakukan kebaikan-kebaikan. Maka, baru dia dapat memerintahkan untuk memlakukan kebaikan kepada orang lain.  Kalau tidak,manakala  jika kita tidak melakukan ini,  maka kita merupakan pelaku kemunafikan dan pelaku  sesuatu yang hina yang  berkenaan dengan orang seperti itu  Rasulullah saw memberikan peringatan yang sangat keras. Yang mana beliau bersabda bahwa orang-orang yang amal perbuatannya bertentangan dan ucapannya  adalah merupakan penghunmi-penghuni  neraka.

          Sebagaimana  Hadhrat Abu Wail a.s dengan perantaraaan  Hadhrat Usamah bin Said  terdapat sebuah riwayat yang panjang.  Di dalam itu beliau  meriwayatkan  bahwa saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa seorang akan dibawa pada hari Qiamat. Kemudian dia akan dilemparkan di dalam neraka. Di dalam neraka ususnya akan keluar di luar perutnya/melingkar di perutnya. Di atasnya    sedemikian rupa  dia akan berputar   sebagaimana keledai berputar di seputar  pasak talinya.  Kemudian orang-orang neraka akan berkumpul di sekelilingnya  dan akan bertanya  padanya, apa  urusanmu.  Apakah kamu tidak memerintahkan kepada kami  untuk mengerjakan hal yang baik  dan menyuruh  meninggalkan perkara-perkara yang tidak disukai ?  Maka dia akan menjawab: Saya menyuruh kamu melakukan amal-amal baik ,tetapi sendiri (saya sendiri) tidak melakukan amal yang saleh. Dan saya mencegah kamu menjadi pelaku –pelaku amal –amal  yang tidak disukai  tetapi saya sendiri melakukan itu. Jadi perhatikanlah,betapa  diperingatkannya akan hal  itu.

          Oleh karena itu  setiap orang Ahmadi  yang menasehatkan  kepada orang lain  untuk melakukan kebaikan-kebaikan  hendaknya dia sendiri juga mengamalkan keabaikan-kebaikan itu. Khususnya, mereka yang diserahi tugas dalam Jemaat   mereka hendaknya harus benar-benar   berhati-hati dan sambil memberikan  perhatian kepada perbaikan dirinya sendiri, sambil tunduk itaat pada Allah  dia hendaknya memohon karunia-Nya. Semoga Allah menganugerahkan taufik kepada kita  semuanya.

          Jika setelah mendengar  peringatan ini terfikir oleh seseorang bahwa kalau begitu maka lebih baik saya diam  dan saya jangan pernah memberikan pelajaran kebaikan  dan tidak  mencegah dari keburukan  selama saya belum  layak untuk itu. Jika terfikir fikiran seperti ini  maka manusia akan  tidak peduli akan  perbaikannya. Oleh karena itu  memberikan pendidikan ini  adalah perlu sebab ini  merupakan perintah Allah. Oleh karena itu penting untuk setiap orang bahwa perintahkanlah  juga untuk melakukan  kebaikan dan sejalan dengan itu hendaknya terus melakukan introkspeksi terhadap dirinya  sendiri dan terus memawas   keadaan dirinya sendiri,  apakah  terdapat perbaikan di dalam diri saya ada atau tidak. Ini merupakan perkara yang sangat penting.

          Dalam kaitan ini tertera dalam sebuah riwayat    bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya bahwa kalian harus melakukan amar ma’ruf  dan harus mencegah  dari hal-hal yang tidak disukai. Kalau tidak, mungkin saja  Allah akan menurunkan azab-Nya pada kalian. Dan setelah turunya azab kalian akan berdoa namun doa kalian tidak akan dikabulkan. Tirmidzi   Abwaabul fitan  baab ulamri bil ma’kruufi  wannahyi ‘anilmungkari Jadi untuk menghindar dari setiap musibah yang akan datang   itu penting bahwa seorang mu’min harus menyeru orang-orang kepada kebaikan  dan mencegah mereka dari melakukan keburukan-keburukan. Jadi sebagaimana bersabda bahwa akibat tidak melakukan pekerjaan itu  kepada kalian azab itu bisa turun dan kemudian doa-doapun  tidak akan dikabulkan. Inilah juga maksudnya  bahwa akibat melakukan perbuatan baik  ini doa-doa kalianpun akan terkabul  dan pada kalian pun akan  turun juga karunia Allah.  Rasulullah saw berkenaan dengan   melakukan perbuatan baik, menyebarkannya, berhenti dari  keburukan seperti itu, mencegah  orang-orang dari keburukan  sedemikian rupa beliau memberikan perhatian  sehingga beliau menyatakan ketidak adanya hubungan beliau saw dengan yang tidak maengerjakan pekerjaan yang baik.  Pada hal-hal yang sekecil-kecilnya sekalipun  beliau saw bersabda  bahwa lakukan kebaikan dan  beramallah yang baik.

             Sebagaimana  tertera dalam sebuah riwayat  bahwa beliau saw  bersabda:

”  Orang itu bukanlah dari kami  yang tidak mencintai  anak-anak kami dan tidak menghormati  hak-hak orang-orang tua kami dan tidak menganjurkan  untuk melakukan amar ma’ruf  dan tidak melarang dari perbuatan  yang tidak disukai,yakni hal-hal  yang makruf ini . Sampai disini  anak-anakpun  diperhatikan. Sebab, memperlakukan mereka dengan sikap yang baik juga  merupakan satu amal dari amal-amal yang baik. Demikian pula  memperhatikan kehormatan kehormatan   orang-orang dewasa ,orang-orang yang telah lajut usia dan para sesepuh  juga  dan demikian pula   hal-hal  baik lainnya  yang diperintahkan untuk melakukannya itu perlu untuk melakukannya. Dan dari  keburukan-keburukan mana diperintahkan untuk berhenti dari itu   perlu berhenti melakukan itu. Rasulullah saw bersabda: Jika kalian tidak melakukan itu   maka tidak ada hubungan  saya dengan kalian. Sunan Tirmidzi kitabul birri washilah  bab ma jaa a fi rahmatisshibyaan

Berkennaan dengan menganjurkan pada kebaikan dan  mencegah dari keburukan  Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda:

” Jadi  sebagaimana perlu mencegah lidah untuk mengatakan  sesuatu yang bertentangan dengan keredhaan Allah,  demikian pulalah  menzahirkan perkara kebenaran juga merupakan perkara yang  yang penting.  Dia berfirman: وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ   Inilah ciri khas  orang-orang mu’min. Yakni, sebelum melakukan amar ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran perlu  manusia dengan kondisi/keadaan amalnya sendiri membuktikan  bahwa dia memiliki kekuatan itu di dalam dirinya,sebab sebelum telebih dulu dia   menanamkkan pengaruhnya pada orang lain dia  perlu juga  menjadikan kondisinya memiliki pengaruh.  Oleh karena itu, janganlah pernah menahan lidah kalian dari melakukan amar bil ma’ruf. Ya, perlu memahmi situasi dan  kondisi. Dan cara pemaparan sedemikian rupa hendaknya lemah lembut dan mudah difahami. Dan mengkritisi/berlaku lancang pada  ketakwaan  seperti itu adalah           merupakan dosa yang sangat besar. (Malfuzat jilid awal hal.281-282 Cetakan Baru)  Yakni hendaknya senantiasa diingat   bahwa jangan hendaknya  menunjukkan sikap pengecut  dalam prihal menzahirkan kebenaran   sebab menyebarkan kebaikan-kebaikan  dengan  keberanian,   memerintahkan untuk melaksanakannya   dan mencegah untuk melakukan keburukan-keburukan  adalah  merupakan  satu standar  yang dari mana  seorang dapat diketahui menjadi seorang yang mu’min. Tetapi amal seorang yang mu’min hendaknya sesuai dengan itu. Manakala amalnya juga ada   maka baru pengaruhnya  juga  akan ada.Dan  jika ada pengamalan  maka tidak perlu adanya  kekerasan.  Dari nasehat orang-orang  seperti itu yang amalnya sendiri juga baik maka  akan terdapat  pengaruh baik dalam diri orang-orang dari itu. Inilah yang beliau tekankan dan nasehatkan  bahwa jika di dalam diri orang yang memberikan pemahaman  dan di dalam diri orang yang  memberikan nasehat terdapat kebaikan , dan di hati orang yang memberikan  pengertian terdapat rasa takut kepada Tuhan  maka jika kalian sesuai dengan kesempatan atau situasi dan kondisi  kalian melakukan pembicaraan  maka pembicaraan yang baik akan berpengaruh. Tetapi perlu memberikan nasehat atau menyampaikan tabligh/nasehat  sesuai dengan peritungan situasi dan kondisi. Jika setelah  melihat keburukan seseorang lalu memberikan nasehat padanya  di hadapan orang lain dan kalian melakukannya dengan bahasa yang kasar /keras  maka orang kedua yang kalian  tengah  berikan pengertian  tidak akan  mendapat kesan baik pada nasehat kalian. Bahkan sebaliknya  bisa jadi dia akan lebih melakukan pembangkangan lagi  lebih dari sebelumnya untuk melakukan keburukan. Jadi untuk memberikan pengertianpun harus mengenal situasi, waktu dan perlu adanya ketakwaan. Jika  ada amal seperti itu maka sesuai dengan janji Allah  maka dia akan berhak terhadap belas kasih-Nya. Sebab di tempat lain Allah berfirman: Barangsiapa  yang melakukan kebaikan seperti ini  maka Saya pasti akan mengasihinya. Semoga Allah menganugerahi taufik kepada  kita semua.

           Sebagaimana saya telah terangkan  bahwa Allah telah memerintahkan untuk mencegah dari segenap keburukan  dan  menganjurkan untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan sejumlah kebaikan –kebaikan dan keburukan-keburukan saya juga telah memberikan misal-misalnya dan secara singkat saya telah memberitahukan nama-namanya. Kini sejumlah keburukan-keburukan  itu  sesuai dengan waktu saya akan menerangkannya sedikit. Misalnya, bergunjing. Menyebut seseorang di belakangnya dengan kata-kata yang buruk kendati keburukan itu ada dalam dirinya  atau tidak. Jika ada suatu keburukannya   disebutkan atau  dibicarakan di belakangnnya maka ini adalah gibat. Tatkala  Rasulullah saw  biasa mengambil baiat maka hal itu sangat beliau tekankan secara khusus  bahwa,  saya tidak akan bergibat. Maka  betapa pentingnya(mencegah dari ) keburukan itu. Sebab, dari itu akan timbul kerusakan atau ketidak serasian  dalam masyarakat. Akan timbul rasa dengki diantrara satu dengan yang lain. Dan ini terkadang di dalam Jemaat menjadi factor fitnah. Oleh karena itulah Hadhrat Masih Mauud a.s berkenaan dengan  keburukan(gibat) itu sangat sedemikian tegas dalam memberikan pengertian.

          Beliau bersabda:

          ” Manakala anggota Jemaat kita  melihat aib saudaranya maka hendaknya dia mendoakannya. Namun, jika dia tidak mendoakannya  dan dengan menerangkannya dia memanjangkan mata raitai (gibat) itu  maka dia  telah melakukan dosa. Aib yang mana yang tidak bisa  jauh. Oleh karena itu hendaknya senantiasa menolong  saudaranya dengan doa-doa”.

          Beliau bersabda: Ada seorang sufi yang mempunyai dua orang murid. Seorang dari keduanya minum minuman keras lalu jatuh ke selokan karena pingsan. Yang kedua  mengadukan hal itu  pada sang sufi. Sufi itu berkata,  engkau  sangat tidak berbudi pekerti karena engkau telah mengadukan  dan kamu tidak pergi untuk mengangkutnya. Maka pada saat itulah dia pergi kemudian   mengangkatnya lalu membawanya “.  Sufi itu berkata”Yang satu telah minum banyak minuman keras  tetapi yang satu minum sedikit karena  dia telah mengangkut lalu membawanya “. Hadhrat Masih Mauud a.s   memberikan komentar beliau:” Maksud Sufi itu adalah,  kenapa kamu menggibat saudara kamu”.

          Beliau bersabda: Kepada Rasulullah saw ditanyakan prihal  gibat, maka beliau menjawab bahwa menerangkan perkara  seseorang yang benar sedemikian  rupa  di belakangnnya (di saat ketidak keberadaannya)  yang mana jika dia  ada   maka  dia tidak menyukai hal itu,itulah gibat. Dan jika hal itu tidak ada di dalam dirinya  lalu  engkau menerangkannya  maka itu namanya adalah tuduhan/fitnah. Tuhan berfirman:   وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا(dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati)  Surat Al-Hujurat 13) Disini gibat itu dita’birkan dengan memakan daging saudaranya  yang sudah mati. Dan dari ayat itu juga terbukti  bahwa  di dalam Jemaat orang-orang samawi  juga di dalamnya juga  pasti ada orang yang melakukan gibat. Dan jika  hal ini tidak ada,   maka ayat ini akan menjadi sia-         sia.  Jika orang-orang  mu’min suci sedemikian rupa   yang karenanya dari mana dia tidak melakukan keburukan   maka apa arti ayat ini ?”.

          Sejumlah orang ada yang lemah yang baru bangun dari penyakitnya  yang sangat keras. Ada  sebagian darinya yang  sedikit sudah ada kekuatan. Oleh karena itu barangsiapa yang mendapatkan yang lemah  maka hendaknya menasehatinya dengan diam-diam. Jika dia tidak mau mengikuti  maka doakanlah untuknya. Dan jika tidak berguna dengan yang dua hal itu  maka anggaplah itu merupakan urusan  qadha dan qadar (Allah). Jika Tuhan telah menerimannya   maka kamu hendaknya  manakala setelah  secara sepintas melihat aib  seseorang jangan hendaknya menunjukkan sifat emosi yang sedemikian cepat. Mungkin saja dia bisa menjadi benar. Para wali dan abdal pun kadang –kadang melakukan kesalahan juga  bahkan tertera   juga  bahwa para wali juga benar-benar melakukan zina. Banyak sekali pencuri dan pezina pada akhirnaya mereka  menjadi wali. Dengan cepat meninggalkan seorang bukanlah merupakan cara kami. Jika ada anak seseorang yang  rusak maka(bapaknya) dia berusaha penuh untuk memperbaikinya. Demikian pula  jangan hendaknya meninggalkan saudara sendiri  tetapi  dia  hendaknya berusaha untuk memperbaikinya.  Sama sekali bukanlah merupakan ajaran  Al-Quran  bahwa setelah melihat aib  lalu menyebarkannya  dan  membicarakannya  kesana kemari kepada  orang lain. Bahkan dia berfirman: وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ-  Mereka saling menasehati dengan sabar dan  kasih sayang. Surat Al-balad 18 . Marhamah  adalah  setelah  melihat aib orang lain lalu menasehatinya  dan dipanjatkan doa untuknya. Di dalam doa itu terdapat pengaruh yang sangat besar. Dan orang itu  sungguh sangat disesalkan  bahwa satu aib seseorang dia terangkan  sampai seratus kali tetapi satu kalipun dia tidak memanjatkan doa. Aib seseorang baru hendaknya diterangkan manakala   sebelumnya telah memanjatkan doa-doa  dengan menangis-nagis selama empat puluh hari”.

           Di dalam ini beliau menerangkan sebuah syair dalam bahasa Farsi yang di dalamnya tertulis.” Tuhan itu  mengetahui lalu menutupi kelemahan hamba-Nya” Yakni Allah mengetahui namun  kendati demikian Dia menutupi kelemahan. ” Sementara tetangga tahupun juga tidak  namun dia teriak kesana kemari. Nama Tuhan itu adalah Sattar, Hendaknya  kamu تخلقوا باخلاق الله –takhallaqu biakhlaqillah –kamu hendaknya mewarnai diri dengan sifat-sifat Allah. Bukanlah maksud kami bahwa kalian menjadi pelindung aib tetapi   maksudnya  adalah janganlah menyebarkan dan melakukan gibat,  sebab  sebagaimana dijelaskan  di dalam kitab Allah bahwa  merupakan dosa  meneybarkannya dan dilakukan gibat terhadapnya. Syekh Saidi memiliki dua orang murid.  Seorang biasa menerangkan  hakekat ilmu dan makrifat sementara  yang kedua bersifat pemarah. Pada akhirnya yang pertama menerangkan kepada Sa’di bahwa manakala saya menerangkan sesuatu  maka yang kedua menjadi marah  dan membenci  saya. Maka Sa’di berkata bahwa seorang telah memilih jalannya ke  neraka  karena dia telah melakukan dengki dan kamu telah melakukan gibat. Singkatnya  bahwa Jemaat ini /atau rangkaian ini tidak akan bisa berjalan selama  di antara kalian tidak ada sifat kasih sayang doa dan sifat sattar”. Malfuzhat  jilid 4  hal 60-61 Edisi baru

           Dari itu menjadi jelas bahwa betapa buruknya gibat itu  dan betapa betapa besarnya keburukan seperti  itu.

 Kemudian ada lagi satu keburukan yaitu  dusta,  seorang yang sedikit saja menemui kesulitan  maka untuk menghindar dari itu dia mencari sandaran dusta. Dan sungguh  merupakan hal yang sangat mengherankan bahwa keburukan dusta tidak dianggap sebagai  keburukan. Padahal dusta  merupakan keburukan  yang  merupakan akar  semua keburukan. Oleh karena itulah  Rasulullah saw  bersabda   kepada seorang yang memohon untuk  selamat dari suatu keburukan  yaitu  jika tidak bisa meninggalkan  semua kaeburukan itu  maka tinggalkanlah satu keburukan  dan itu adalah dusta. Dan berjanjilah  bahwa kamu akan senantiasa berkata benar. Kini sejumlah orang menganggap  bahwa dusta hanya sedemikian kecil yakni  dia telah memberikan keterangan yang salah di depan sidang pengadilan.  Jika dia tertangkap dalam keadaan  mencuri  maka dengan berdusta  dia berusaha melindungi dirinya. Jika dia melakukan  budi pekerti   yang salah maka dia berdusta. Atau dia memberikan kesaksian yang salah terhadap seseorang  dan tampa sebab dia menjerumuskan seseorang. Sesungguhnya  semua ini adalah merupakan dusta  namun memberikan keterangan  yang kecil-kecil pun  juga adalah salah.

          Rasulullah saw telah  memberikan satu contoh kepada kita,yang darimana  menjadi jelas  bahwa apa definisi  dusta itu. Misalnya, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:  Barangsiapa  yang mengatakan kepada seorang anak kecil bahwa datanglah, saya akan memberikan sesuatu kepada kamu  lalu dia tidak memberikan apa-apa padanya,  maka ini terhitung dalam katagori dusta. Inilah definisi dusta. Kini jika diantara kita setiap orang memeriksa dirinya sendiri atau melakukan introspeksi terhadap diri sendiri  maka dia akan meangetahui  bahwa kita setiap hari berapa banyak kita dalam hal-hal yang kecil melakukan dusta. Di dalam bersenda gurau berapa banyak   kita melontarkan kata-kata   yang  mana itu merupakan hal yang dusta.

 Maka sesuai dengan sabda Rasulullah saw ,  jika dalam kaitan ini  kita memberikan perhatian sampai pada ke kedalamannya baru   kita akan dapat mengikis habis laknat dusta ini dari diri kita dan dari diri anak-anak kita.

Berkaitan dengan itu Hadhrat Masih Mauud a.s  bersabda:

” Di dalam Al-Qu’ran  dusta juga dinyatakan  sebagai kekotoran dan kekejian. Sebagaimana  Dia berfirman: فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ, (maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.  Al-Haj 31) Lihatlah disini dusta itu dinyatakan sama dengan berhala.  Dan pada hakekatnya dusta juga  merupakan berhala juga,kalau tidak kenapa dengan meninggalkan kebenaran  lalu pergi menuju ke tempat lain. Sebagaimana di dalam diri berhala itu tidak ada hakekat apa-apa,  demikian pula di dalam  dusta juga tidak ada hekekat apa-apa kecuali kepalsuan /sepuhan. Kepercayaan tehadap orang yang berdusta  sampai sedemikian rupa menjadi berkurang  sehingga seandainya dia berkata benar sekalipun  maka akan dianggap  di dalamnyapun ada bercampur kebohongan. Jika seorang pendusta atau biasa bersdusta menghendaki supaya  kedustaannya  menjadi berkurang  maka  tidak dengan cepat bisa hilang.  Manakala sampai dalam jangka waktu yang panjang dia berlatih  maka baru  akan lahir kebiasaan berkata benar di dalam dirinya” Malfuzhat jilid 2 hlm 266 Edisi Baru

 Jadi perhatikalah,  betapa benar hal  yang beliau sabadakan. Kita setiap hari  mengalami dalam hidup kita bahwa jika seorang yang pendusta berkata benar sekalipun  maka kita tetap akan menganggap bahwa  apa yang dia katakana itu adalah dusta.

 Dalam kaitan baik dan buruk  di dalam sebuah hadis  Rasulullah saw dalam menyebut kebaikan dan  keburukan  bersabda:  Ini tidak pernah barsatu dalam satu tempat. Dalam kaitan itu Hadhrat Abu Hurairah r.a  meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: Di dalam hati seorang hamba tidak bisa bersatu iman dan kekufuran  dan tidak pula bisa  bersatu kebenaran  dan  keterangan yang dusta. Dan tidak pula kejujuran dan pengkhianatan dapat bersatu.Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 2  hlm 349 Edisi Bairut

Jadi hal pertama  yang beliau sabdakan adalah bahwa seorang yang  di dalam hatinya terdapat iman  lalu dia juga mengatakan  hal kekufuran. Sebagaimana kita  di permulaan telah melihat dalam ayat bahwa Allah berfirman bahwa orang-orang yang menganjurkan  kebaikan-kebaikan dan mencegah dari  keburukanlah merupakan orang  yang beriman pada Allah. Dan sesuai dengan hadis itu barangsiapa yang tidak melakukan ini maka  di dalam hatinya terdapat  kekafiran. Sebab tidaklah mungkin   bahwa kebenaran yang merupakan amanat  Allah  dan kedustaan yang merupakan amal orang-orang kafir  itu dapat bersatu di satu tempat. Dan demikian pula  kejujuran yang merupakan bagian dari iman dan  kemudian khianat,  memakan harta orang lain, tidak mengerjakan suatu tugas  dengan baik sungguh  bukanlah merupakan ciri khas seorang mu’min, bagaimana itu dapat bersatu dalam  satu tempat?”.

 Jadi kita sebagai orang Muslim Ahmadi yang telah  melakukan baiat di tangan Hadhrat Masih Mauud a,s . bahwa kita akan  beramal sesuai dengan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya,  akan meninggalkan semua keburukan-keburukan  dan akan melakukan semua kebaikan-kebaikan. Hendaknya kita berusaha sepenuhnya untuk meninggalkan keburukan-keburukan.  Jika manusia memiliki suatu keinginan yang  mantap  dan terus memohon  karunia dari Allah  maka tidaklah   mungkin  bahwa  keburukan itu tidak akan terpisah sehingga   kalian tidak menjadi layak  untuk dapat  menjadi orang-orang mengajurkan  pada kebaikan-kebaikan. Dengan mengimani yang benar  bagaimana manusia dapat melakukan dusta  dan dengan berjanji untuk  menunaikan  amanat maka bagaimana bisa  menjadi khianat terhadap amanat. Jadi setiap Ahmadi  yang telah baiat  masuk ke dalam Ahmadiyah  baiatnyapun juga merupakan janji. Dan jangan  pernah seorang Ahmadi manapun dengan tidak mengamalkan ajaran ke-Ahmadiyahan ,  dengan tidak mengamalkan ajaran Allah  dan rasul-Nya  hendaknya jangan menjadi pelaku pengkhianatan. Jadi setiap orang Ahmadi hendaknya  mengamalkan itu dengan teguh  bahwa dia tidak melakukan  pengkhianatan, baik  secara pribadi maupun  secara berjemaah. Jika kepada seseorang Ahmadi diserahi tugas jemaat  maka dia akan melakukannya dengan penuh keimanan dan kejujuran. Jika kepada  seseorang diserahi     sebagai pengawas keuangan  Jemaat dan  dia akan menjaganya dengan penuh kejujuran dan tidak akan berlaku khianat. Rasulullah bersabda : Kamu sedemikian rupa hendaknya meninggikan standar penunaian amanat  kalian sehingga jika  di dalam urusan dunia kalian sekalipun ada orang yang berlaku khianat pada kalian  maka tetap saja jangan kalian berlaku khianat  pada mereka. Jika ada amanatnya pada kalian  maka kembalikanlah itu kepadanya. Maka di dalam urusan agama, betapa hendaknya kita harus lebih menyadari akan  hal itu.

Hadhrat Masih mauud .as,

” Amanat dan kejujuran ialah   tidak redha menyakiti dengan menahan  harta orang lain dengan kenakalan dan perasangka   buruk. Jadi menjadi jelas bahwa amanat dan kejujuran  adalah  merupakan satu kondisi dari kondisi-kondisi alami   manusia. Oleh karena itulah seorang anak bayi yang sedang disusui   yang karena  kurang umurnya dan masih lugu dan akibat kurang umurnya  belum terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan  buruk sedemikian rupa dia benci terhadap  benda milik  orang lain  sehingga air susu  perempuan lainpun dia minum dengan kebencian /ras jijik.  Filsafat ajaran Islam ruhani Hazain jilid 10 him 44

 Jadi lihatlah, inilah fitrah manusia yang  Allah telah ciptakan  bahwa seorang anak kecil  yang sama sekali tidak mengetahui dunia  diapun mengenal  haknya. Dan dia memahami   bahwa meminum air susu perempuan lain adalah merupakan pengkhianatan. Dan jika perlu maka pada akhirnya setelah adanya upaya-upaya maka dapat ditanamkan  kebiasaan-kebiasaan  untuk meminum air susu perempuan lain. Tetapi setelah besar karena akibat pengaruh lingkungan  banyak sekali   orang-orang  mulai melakukan paengkhianatan. Dan para nabi datang untuk membersihkan pengaruh   lingkungan dan    meniciptakan perubahan-perubahan  suci.

Kini kita sebagai orang Ahmadi  yang  telah baiat di tangan Hadhrat Masih Mauud a.s. Telah mengimani beliau,kita sambil melakukan  perubahan suci di dalam diri kita  kita hendaknya menghindar dari segenap  sifat khianat,  menghindar juga dari dusta  dan  dari  keburukan-keburukan lainnya. Dan tidak hanya menghindar  bahkan sesuai dengan perintah-perintah  Allah  dan tanda yang Allah telah beritahukan mengenai tanda seorang mu’min  sesesuai dengan tanda itu  dari keburukan-keburukan itu orang lainpun kita harus lindungi dan kepada mereka pun harus mengajarkan ajaran-ajaran yang baik.

 Semoga Allah memberikan taufik kepada  setiap Ahmadi untuk melakukan pengamalan di tempatnya masing-masing. Semoga Allah menjadikan kalian sebagai Ahmadi yang teguh yang  melakukan pengamalan  pada  ajaran Allah dan Rasul-Nya. Amin.

 Insyaallah, sampai  dua hari berikutnya saya akan melakukan tourni ke dua Negara. Untuk itupun berdoalah semoga   Allah  memberikan berkatnya  pada kita dalam  segala seginya. Semoga dalam  setiap  segi Allah senantiasa menurunkan bantuan dan pertolongan-Nya. Amin.

                                                               Qamaruddin Syahid.

Ceramah Penutupan Jalsah Salanah 2004,di Tilford, London

          Sesudah membaca tasyahhud,ta’awwuz   dan surah Al-Fatihah Hudhur bersabda: Ciri Jemaat-jemaat  Ilahi  adalah  setiap saat senantiaa dalam upaya bagaimana  hukum-hukum atau perintah-perintah  Allah itu diamalkan  dan bagaimana keredhaan-Nya dapat diraih; dan setiap orang yang bergabung di dalam Jemaat Ilahi,setiap orang yang senantiasa berusaha  meraih redha-Nya,  keinginannya  adalah supaya  setiap saat berada dalam pencaharian hal-hal  yang diridhai Allah supaya kedekatan dan  kasih saying Allah dapat diraih. Imam (zaman) yang  dianugerahi  pemahaman  Al-Quran yang benar  dan memahami  secara  benar sabda-sabda Rasulullah  saw  telah menarik perhatian kita ke arah ini  dan memberitahukan kepada kita   apa perintah-perintah Allah   dan bagaimana itu diamalkan  sehingga hasilnya  baik. Dan dengan penuh rasa pilu beliau menasehatkan kepada  Jemaat  bahwa kalian janganlah menganggap  bahwa maksud kedatangan di dunia ini  hanya untuk melekatkan hati dengan permainan dan senda gurau dunia serta  serta maksud kalian hanya untuk meraih benda-benda  dunia  lahiriah belaka. Tidak, tetapi benda-benda/harta benda  ini diciptakan  adalah untuk menguji kalian supaya dapat mengetahui bahwa  apa perbedaan mu’min dan yang bukan mu’min.  Seorang mu’min jika berusaha untuk meraih barang-barang itu  hanya sebatas yang berguna  untuk kehidupannya. Jika dia berusaha untuk  meraih barang-barang itu karena  Allah telah memberikan  kemampuan-kemampuan yang berbeda kepada setiap orang dalam masyarakat, telah menciptakannya sebagai makhluk-makhluk yang terbaik  dan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya keperluan-keperluannya pun Dia telah bedakan,    maka akibat kemampuan-kemampuan itu  setiap orang memiliki  bidang dan tugas masing-masing.  Ada yang kaya dan ada yang miskin. Kalian yang menguasai harta benda ini  maka kalian  perhatikanlah  bahwa mereka  yang memiliki  benyak barang-barang harta benda itu,mereka yang kaya  hendaknya memperhatikan saudara-saudaranya yang lain  supaya sejalan dengan menunaikan hak-hak /tanggung jawab pada Allah,  hak-hak tanggung jawab pada makhluk Allahpun mereka dapat emban.  Oleh karena itu beliau bersabda bahwa orang-orang mu’min hendaknya memberikan  perhatian pada  dua hal, yaitu beribadah kepada Allah dan berlaku simpati kepada makhluk-Nya. Jika dua hal ini telah terbentuk   maka anggaplah bahwa kalian telah mencapai maksud kalian dan dari segi itu kalian akan terhitung dalam kelompok orang-orang  yang melangkah  pada akibat / hasil akhir yang baik /husnulkhaatimah dan kemudian Allah tidak akan menyia-nyiakan orang yang seperti itu bahkan Allah akan memberikan tempat pada mereka diantara  orang yang dekat dengan Allah dan   setelah mati akan dinyatakan sebagai  pewaris surga-surga -Nya yang kekal  abadi.

           Terkait dengan ibadat dan simpati kepada makhluk Allah jelas kita telah mengetahui  bahwa banyak sekali tanggung-jawab kita kepadanya. Di dalam waktu yang terpisah  kita terus mendengar  bahwa lunasilah hak-hak itu atau tanggung jawab itu  supaya  cara-cara  syaithan untuk menjerumuskan manusia dan serangan-serangannya   dapat dihindari serta itu dapat kita akhiri. Sebab syaithan sedemikian rupa menampakkan indah keburukan-keburukan itu sehingga berjalan pada kebaikan-kebaikan dalam masyarakat dewasa ini menjadi sangat sulit. Sambil  menghindar dari kesulitan-kesulitan banyak jalan-jalan  untuk melakukan kebaikan-kebaikan  yang dengan berjalan diatasnya  kita dapat meraih taufik untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Sejauh terkai dengan  syaithan menjerumuskan manusia  dari  beragam  jalan ,   disana para pilihan  Allah pun terus memberitahukan jalan kepada kita   supaya manusia terus melakukan perjalanan pada hasil akhir yang baik  dan dia dinyatakan sebagai pewaris surga-surga_Nya   dan lahir kondisi sedemikian rupa  dan tiba  saat yang sedemikian rupa  dimana Allah mengatakan:

  فَادْخُلِي فِي عِبَادِي. وَادْخُلِي جَنَّتِي – (Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku..Al-Baqarah 29-31) Hadhrat Masih Mauud a.s memberitahukan cara-cara itu kepada kita   yang saya akan terangkan   dan kebanyakan dalam kata-kata  Hadhrat Masih Mauud a.s  dan kebanyakan inilah kutipan yang saya ambil  yang Hadhrat Masih Mauud a.s telah sabdakan pada akhir Jalsah salanah tahun 1904.

          Beliau bersabda:

“Dari pihak saya ini merupakan nasehat   yang berkali-kali yang   sebelumnya telah saya nasehatkan berapa kali kepada jemaatku   bahwa oleh karena umur ini  sangat singkat  dan tugas yang dihadapi  sangat luhur dan berat,  karena itu hendaknya  berusaha  supaya dapat meraih hasil akhir yang baik atau husnulkhaatimmah. Memperoleh hasil akhir yang baik merupakan perkara  yang di jalannya  banyak sekali onak dan duri. Manakala manusia  datang ke dunia   maka  sedikit masa  dia lalui   dalam keadaan  dianya tidak menyadari akan apa yang dilaluinya. Masa  tidak sadar ini  merupakan masa tatkala  dia dalam keadaan masih  bayi yang mana dia tidak mengetahui akan dunia dan kondisinya. Sesudah itu manakala dia mulai sadar/mengerti  maka tiba  suatu saat  yang mana dia tidaklah dalam kondisi    tidak sadar  sebagaimana  terjadi dalam keadaan masih kanak-kanak  tetapi di dalamnya terdapat kondisi corak mabuk masa remaja yang  dalam keadaan hari-hari sadar itu pun  dapat menciptakan  kondisi  tidak sadar atau mabuk  dan  terdapat juga seperti itu  yang  dengan sengaja menjadi tidak sadar sebab  nafsu amarah meraih keunggulan pada dirinya.

          ” Sesudah itu ada masa  ketiga  yang mana sesudah adanya ilmu manusia menjadi tidak berilmu  dan di dalam panca indera  dan potensi lainya menjadi mulai berkurang  dan itu  merupakan masa  seperti orang tua’. Yakni masa  lanjut usia. Banyak sekali orang-orang  pada zaman ini menjadi hilang kesadaran  dan potensinya menjadi sia-sia.  Di kebanyakan orang-orang  terlahir   cikal bakal /embrio  untuk menjadi  gila. Seperti itu banyak sekali keluarga-keluaga  yang mana sesudah 60 atau 70 tahun   timbul kekurangan di dalam akal dan pemahaman   manusiawinya.  Singkatnya andaikata tidak juga seperti itu  maka dengan sia-sianya kekuatan dan lemahnya potensi, manusia dalam  alam sadar pun  menjadi tidak sadar. Dan gejala   lemah dan tidak gesit mulai menampakan pengaruhnya. Pembagian umur manusia  terbagi   pada tiga zaman  itu dan ketiga-tiganya ini  berada dalam bahaya dan dalam  kesulitan -kesulitan. Jadi bayangkalah untuk meraih hasil akhir yang baik betapa itu merupakan jenjang  yang sangat sulit”.

          Di dalam itu beliau telah menyebutkan tiga periode manusia,ada   tiga periode  umur yang beliau sebutkan. Periode  umur manusia yang pertama   ialah  manakala  mulai dari awal kelahiran tetap berada dalam umur masa  kanak-kanak  yang di dalamnya suatu  masalah  tidak diketahui sampai pada kedalamannya,   sebab  tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk   dan tidak layak  untuk membedakan yang  baik dan yang buruk. Kemudian sesudah itu tiba  zaman masa remaja. Di dalam itu begitu para remaja melangkahkan kakinya,maka di dalam diri   para remaja mulai  timbul perasaan  bahwa kami kini  adalah bebas  dan dapat melakukan  apa yang kami inginkan kami lakukan. Disini di Eropa juga  khususnya  yang kita sebut dengan anak tanggung mereka  begitu sampai pada umur itu  mereka  mulai menganggap dirinya merupakan   makhluk  yang lebih tinggi. Misalnya akibat dari kesia-siaan itu  dewasa ini di dalam surat-surat kabar  ada termuat bahwa tengah diperbincangkan untuk pembentukan  undang-undang  berekenaan dengan  mereka. Yakni pertama  masyarakat itu sendiri yang memberikan libur /istirhat pada mereka ,masyarakat sendiri telah menjadikan mereka menjadi  egois    dan karena nafsu ammarahnya mereka  telah menjadi bebas kemana-mana,   yakni  rasa di dalam diri  mereka  sama sekali sudah tidak ada lagi,  yang dari mana dapat diketahui dasar –dasar akhlak,yang karenanya  keburukan dan akhlak  yang memalukan    mulai meraih kesuksesan. Manakala rasa dan kesadaran ini  telah habis  maka tidak dapat diketahui  bahwa akhlak itu bagaimana, keburukan itu apa  dan kekejian itu apa. Manakala adat kebiasaan ini menjadi matang   maka seberapapun  kita bekerja keras  sekurang-kurangnnya   jika tidak  menjadi tidak mungkin  maka  sulit itu pasti, dalam suatu corak   keburukan-keburukan ini akan senantiasa ada. Kecuali jika terdapat  karunia  khusus dari Allah. Sebab, anak-anak kitapun tinggal di dalam masyarakat ini juga   dan terkadang merekapun juga menjadi hanyut dalam banjir keburukan-keburukan  ini.  Kendati yang ada  sedikit  sekalipun (di dalam Jemaat), tetapi  kenapa  itu  ada ? Dan   bukan hanya anak-anak yang baru meningkat remaja   bahkan orang-orang  yang sudah menikah dan   yang mempunyai anak-anak pun    terperosok dalam keburukan-keburukan itu.  Dan bukannya melunasi  hak-hak anak-anaknya,  uang-uangnya mereka  sia- siakan  untuk  minum minuman keras,  judi dan untuk  keburukan-keburukan serta untuk barang-barang memabukkan lainnya. Maka berkenaan dengan orang-orang seperti itu bersabda: Orang-orang seperti itu telah menyia-nyiakan akan tujuan hidup mereka”. Kemudian ada orang macam ketiga yang telah masuk ke dalam  usia lanjut   dan sebagian   ada yang terfikir juga   bahwa mari kini kita telah menginjak pada   umur ini  marilah  kita lakukan kebaikan-kebaikan.  Beliau bersabda bahwa paad saat seperti itu anggota badan sedemikian rupa lemahnya sehingga kini tidak lagi layak  untuk dapat  menegakkan standar dan mutu  kebaikan  yang dalam masa remaja dia dapat tegakkan. Jadi dengan demikian seperti itulah kehidupannya   berakhir tampa  tujuan  yang  pada akhirnya tiba saat  harus meninggalkan dunia ini. Bersabda:  Anak -anak jelas biasa meniru  orang-orang yang sudah besar, kadang dengan meniuru-niru dia mulai begitu  mengetahui dia mulai bagaimana melakukan shalat. Namun, manakala manusia itu menjadi tua  maka dari itupun dia menjadi tertinggal. Beliau bersabda bahwa dari itu menjadi terbukti bahwa masa kanak-kanak dan  masa  lanjut usia,bagian umur ini  merupakan umur  yang  sedemikian rupa  yang  mana di dalamnya manusia tidak dapat mencapai  maksud kelahirannya yang tinggi karena yang tersisa hanya zaman masa remaja. Jika masa itu digunakan dengan cara yang baik maka manusia dalam melakukan ibadat  pada standar yang tinggi  dan hak-hak hamba-hamba-Nya pun dalam standar yang tinggi   dapat dia tegakkan. Jadi jika kalian ingin menghiasi dunia dan  hasil akhir yang baik atau husnulkhatimah  dan  ingin terhitung dalam kelopok-kelompok hamba-hamba-Nya,maka harus memperoleh jaminan untuk tetapnya generasi kalian  dalam kebaikan. Jadi mulai  dari umur remaja sebelum  sampai pada  umur lanjut usia,  sebelum sampai pada umur itu  mula-mula hendaknya berusahalah untuk mengamalkan hukum-hukum Allah.

          Kemudian beliau bersabda: Hanya  satu zaman  yang merupakan zaman tengah diantara   keduanya,  yakni zaman masa remaja  tatkala  manusia bisa melakukan pekerjaan/tugas   sebab pada saat itu potensi itu sedang dalam pertumbuhan dan sedang tumbuhnya kekuatan-kekuatan juga. Tetapi inilah zaman dimana  nafsu amarah sedang menyertai.” Yakni nafsu yang membawa kepada keburukan yang menyertai . ” Dan itu melakukan penyerangan dengan berbagai cara padanya. Nafsu manusia mendorong  manusia  untuk melakukan keburukan –keburukan  dan nafsu itu ingin senantiasa mempengaruhinya . Inilah zaman yang merupakan zaman  pertanggung jawaban   dan untuk mereaih hasil akhir yang baik merupakan hari untuk  melakukan sesuatu juga. Tetapi dia telah tenggelam  dalam malapetaka –malapetaka dan musibah-musibah  sehingga jika tidak dilakukan kerja  keras  maka inilah zaman yang membawa pada neraka jahannam   dan menjadikannya   bernasib malang “. Akan menjadikannya bernasib malang. Dengan  tidak mengamalkan itu  dia akan menjadi orang yang  bernasib malang  .” Ya, jika dengan cara yang baik dan dengan keahlian dengan penuh hati-hati   zaman itu dilalui  maka dengan karunia dan kasih sayang Allah- diharapkan – itu akan berakhir dengan baik; sebab masa permulaan  merupakan masa penuh kelalaian dan ketidak pedulian. Allah tidak akan menuntutnya. Sebagaimana Dia sendiri berfirman : لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَاAllah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. “. Al-Baqarah 286  Dan pada zaman usia lanjut  kendati  akibat tua, akan timbul malas  dan timbulnya rasa lemah  tetapi malaikat pada saat itu  akan menulis di  dalam amalnya  gejolak dan fikiran-fikiran yang ada dalam masa remaja. Jika di masa remaja manusia menjadi licah ke arah kebaikan dan  terdapat rasa takut pada Tuhan dan mengamalkan hukum-hukum dan menghindar dari pelarangan-pelaranga-Nya  maka di masa tua kendati dalam melaksanakannya  ada semacam kemalasan  namun  Allah dengan memaklumi kelemahannya seperti itulah ganjaran yang dia akan berikan  “. Malfuzhat jilid 4 hal 199 Edisi Baru

           Dari   sabda beliau  ini menjadi terbukti   bahwa untuk melunasi  hak-hak Allah  dan untuk melunasi  hak-hak hamba-hamba-Nya   umur yang berfaedah dan berguna  adalah yang  di dalamnya terdapat organ fisik  atau tubuh  yang  kuat. Terdapat kekuatan di dalam potensi  sehingga dapat juga melakukan  ibadat kepada Allah dan untuk mengkhidmati hamba-hambanya pun dapat menegakkan mutu atau standar yang tinggi. Layak  dan tepat juga untuk memberikan pengorbanan demi untuk agama Allah  dan dapat juga  menegakkan setandar yang tinggi  dan pada umumnya masa itu  adalah  masa muda    yang mulai dari masa  umur 15 tahun hingga umur 45 -50 dan sebanyak-banyaknya adalah masa  umur 60 tahun. Sebab setiap orang dari segi kekuatan fisiknya  memiliki  kemampuan-kemampuannya  masing-masing  dan di dalamnya kemuadian dari mereka dapat diambil  faedah dari  pengalaman. Di  dalam umur-umur itu,   dari umur 50 dan diantara umur  60 tahun  kekuatan  pada umumnya tidak lagi seperti semula,  tidak bisa dilakukan kerja keras  sebagaimana bisa dilakukan oleh seorang pemuda, tetapi bagaimanapun juga dapat diambil faedah dari pengalaman-pengalaman. Oleh karena itu lihatlah  kini pemerintah-pemerintah  pun pada   umumnya  membuat peraturan untuk bekerja di pemerintah sampai umur 60 tahun dan sesudahnya baru  pemerintah memberikan pensiaun pada  pegawai-pegawainya. Jadi  zaman itu, yakni zaman masa muda  bagaimana dibuat berfaedah   yang dari itu dapat menjadi husnukhaatimah  yang baik, untuk itupun  Hadhrat Masih Mauud a.s telah memberitahukan  kiat-kiatnya.

          Bersabda:” Di dalam itupun  tiada keraguan bahwa  masa remaja dan masa usia muda  merupakan zaman dimana  nafsu ammarah telah menjadikannya  menjadi sia-sia/layak dimasukkan di tong sampah. Tetapi andaikata  ada hari-hari yang produktif dan berfaedah  adalah  hari-hari  ini. Ungkapan Hadhrat Yusuf a.s tertera dalam Al-Quran: وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ِ Dan aku tidak dapat menyatakan diriku  bebas, karena sesungguhnya nafsu ammarah  senantiasa  mendorong manusia untuk melakukan  kejahatan dan yang dapat bersih dari gerakan-gerakan itu adalah  orang yang  dikasihani  Tuhan-ku .  Yusuf 54.  Dari itu dapat dimaklumi  bahwa untuk dapat menghindar dari keburukan-keburukan dan gejolak-gejolak hawa nafsu itu pada zaman ini  syaratnya tidak hanya sekedar usaha semata,  tetapi doa-doa merupakan hal yang sangat penting ) hanya dengan zuhud /upaya pecaharian lahiriah yang (manusia upayakan  dengan upaya dan usahanya )  tidak akan produktif atau bermamfaat  selama  karunia dan kasih sayang Allah tidak mengiringi. Dan pada hakekatnya  inilah hakekat zuhud dan takwa  yang datang dari Tuhan. Kesucian hakiki dan ketakwaan hakiki hanya  diperolleh dengan cara seperti ini. Kalau tidak apakah ini tidak benar  bahwa banyak sekali gelas/botol minuman keras  yang warnanya benar-benar putih yang  kendati itu putih  namun itu  bisa kotor   jadi inilah perumpamaan takwa lahiriah  dan kesucian lahiriah itu”.  Malfuzhat jilid 4hlm 200 Edisi Baru  bahwa kain  atau pakaian yang putih pun bisa  kotor.

           Kemudian beliau bersabda : Nah,untuk meraih kesucian hakiki dan ketakwaan sejati hal itu merupakan hal  yang penting bahwa pada masa muda remaja inilah manusia  berusaha ,yakni pada saat  di dalam diri terdapat potensi,terdapat kekuatan dan kemampuan serta  di dalam hati  tedapat gejolak  dan  semangat. Berusaha  dalam kebaikan di zaman seumur seperti ini adalah merupakan  pekerjaan orang yang bijak dan untuk inilah Allah telah memberikan akal”.

 Kemudian untuk tetap tegak dalam kebaikan  Hadhrat Aqdas bersabda:  Ada tiga cara  yang dengan berjalan diatasnya manusia  dapat melakukan kebaikan-kebaikan dan yang manakah tiga jalan itu. Bersabda: Cara pertama itu adalah usaha atau upaya. Bersabda: Untuk mencapai maksud itu ( sebagaimana saya berkali-kali sebelumnya telah terangkan) Pertama, hal yang sangat penting adalah  manusia jangan memasukan dirinya sendiri dalam lubang atau kancah dosa dengan sengaja,  kalau tidak  dia  pasti akan binasa. Barangsiapa yang dengan sengaja menempuh  jalan yang  buruk  atau  jatuh  dalam sumur atau  memakan racun  maka dia pasti  akan binasa. Orang yang seperti itu  tidak bisa dinyatakan dikasihani, baik dari segi pandangan dunia dan tidak pula dari segi  pandangan Allah. Oleh karena itu penting  dan sangat penting,  khususnya, untuk Jemaat kita ( yang Allah telah pilih sebagai  contoh  dan Dia menghendaki supaya  dia dinyatakan sebagai contoh untuk generasi yang akan datang) bahwa  sedapat mungkin hendaknya  menghindar dari pergaulan bebas dan adat-istiadat  buruk  dan mengarahkan dirinya pada  kebaikan. Untuk meraih maksud itu  sejauh seharusnya harus melakukan upaya  hendaknya harus melakukan upaya dan hendaknya jangan lalai dalam melakukan upaya-upaya. Ingatlah bahwa upaya /usaha pun  merupakan ibadah yang terselubung, janganlah menganggap itu hina/enteng. Mereka  yang tidak melakukan langkah –langkah  dan tidak melakukan upaya-upaya  untuk   menghindar dari keburukan- keburukan seolah- olah mereka  menjadi redha /menyetujui  keburukan-keburukan itu  dan dengan cara itu Tuhan  menjadi terpisah dengan mereka”.

Bersabda: Saya katakan dengan sesungguhnya bahwa  manakala manusia , kendati berada dalam cengkeraman  nafsu ammarah,namun   dia tetap sibuk dalam upaya-upaya melepaskan diri   maka nafsu ammarahnya  pada pandangan Allah akan  menjadi nafsu lawaamah dan dia  mendapatkan perubahan suci yang sedemikian rupa  layak dihargai  sehingga ataukah itu  merupakan nafsu ammarah  yang layak untuk dilaknat  dan dengan mengupayakan dan melakukan sarana untuk melenyapkannya   nafsu ammarah yang layak dilaknat  menjadi nafsu lawwamah yang mendapat kemuliaan sehingga Allah pun  bersumpah atas namanya  ” yakni pertama dia bersemangat menuju ke arah keburukan lalu   mulai timbul di dalam hatinya penyesalan dan dia mulai mencerca keburukan itu. ” Ini bukanlah  kemuliaan yang kecil. Jadi untuk meraih  kesucian  ketakwaan hakiki  dan kesucian pertama ini merupakan syarat penting  bahwa sejauh adanya kemampuan  dan adanya kemungkinan  berupayalah dan  berusahalah untuk menghidar dari keburukan.Tinggalkanlah  pergaulan bebas   dan adat-istiadat atau prilaku  buruk  dan tinggalkanlah tempat-tempat   yang menjadi factor  pendorong tindakan-tindakan  itu. Seberapa banyak di dunia ini terbuka jalan untuk melakukan   upaya-upaya,  berupayalah sebanyak itu  dan janganlah lelah dari itu dan janganlah bergeser dari itu”.

Sejumlah orang mengatakan  bahwa  sebagian adalah  barang-barang   pamer  atau  dia melakukan shalat   hanya untuk sekedar pamer maka  katakanlah kepada orang seperti itu. Jika itu  pamer juga  dan niatnya  adalah untuk perbaikan  maka  akan tiba suatu saat  bahwa shalat-shalat  inilah yang  pada  akhirnya akan menjadi shalat-shalat  yang tenggelam dalam  rasa ketakutan. Ini adalah  pekerjaan syaitan yang setiap saat senantiasa menciptakan  was-was  di dalam hati  manusia bahwa, apa yang orang-orang  akan katakana,  dan oleh karena itu kamu   datang  atau jika  ada seorang  yang mengganggunya maka dia lalu berhenti (melakukannya). Pada umumnya inilah kebiasaan yang ada pada kalangan anak-anak muda.

 Perantara kedua   perbaikan atau  perantara  (kedua)   penunaian hak-hak itu (bisa dapat menjalankan tanggung jawab itu) adalah  doa. Beliau bersabda: Cara kedua untuk meraih kesucian hakiki yang Tuhan telah ajarkan dan untuk meraih hasil akhir yang baik atau untuk mencapai husnulkhaatimah  adalah doa. Oleh karena itu seberapa bisa   panjatkanlah doa.  Kiat inipun  merupakan kiat  yang sudah teruji dengan sangat baik dan sangat berfaedah   sebab Allah sendiri berjanji ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Al-Mu’mi 61 Berdoalah kamu kepadaku maka saya akan mengabulkan doa-doamu. Doalah yang merupakan suatu barang  yang  orang –orang Islam hendaknya  harus bangga. Bangsa-bangsa lain  sama sekali tidak menghargai doa  dan tidak pula mereka bisa merasa ada  kebanggaan terhadap  cara yang suci ini   tetapi yang merasa bangga pada doa hanya Islam.  Agama lain sama sekali  benar-benar  tuli atau tuna rungu akan hal itu. Kemudian beliau menambahkan : Yang memanjatkan doa adalah orang yang memahami akan tanggung jawab dan  pertanggung jawaban. Tetapi orang yang menganggap dirinya bebas dari tanggung jawab  maka kenapa dia akan  memanjatkan doa “.

 Jadi beliau bersabda:  Lihatlah,karena  orang Islam  mengetahui  bahwa seorang Muslim yang akan mengambil/memperoleh  ganjaran dan hukuman itu dia  akan ambil atau peroleh  akibat  amalnya karena itu dia juga melakukan amal baik  dan sejalan dengan itu dengan memanjatkan doa dia berusaha untuk   meraih dukungan dari-Nya  dan seorang yang  tidak yakin  bahwa ganjaran dan hukumannya adalah karena amalnya  maka kenapa dia mesti tertarik pada doa.

  Kemudian beliau bersabda bahwa bagaimana cara untuk berdoa?”  Tetapi ingatlah bahwa doa ini bukanlah nama hanya sekedar diucapkan  dan dilafalkan  dengan lidah semata  tetapi adalah hati yang penuh dengan rasa takut pada Allah   dan ruh orang yang berdoa mengalir seperti air  lalu   jatuh di atas singgasana Ilahi  dan untuk pengampunan kekurangan dan ketersandungan-ketersandungannya dia memohon ampunan,kekuatan dan kemampuan  kepada Tuhan yang  Maha Kuasa   dan inilah kondisi yang dalam bahasa lainnya kita sebut dengan nama kematian. Manakala kondisi ini telah tersedia  maka anggaplah bahwa pintu pengabulan doa telah dibukakan baginya. Dan dia dianugerahi kekuatan /potensi khusus, karunia dan keistiqamahan untuk terhindar dari keburukan-keburukan  dan untuk tetap teguh dalam kebaikan-kebaikan . Dan perantara ini  merupakan perantara yang paling besar “.

Yakni, dalam kondisi seperti ini akan terbuka  pintu pengabulan yakni tatkala manusia menjadi orang yang sangat  tunduk, sangat  setia dan penuh  rasa rendah hati di hadapan  Tuhan   serta  benar-benar khusyuk  menangis di hadapan Tuhan. Karena itulah bersabda bahwa ciptakanlah diatas diri kalian kondisi  sedemikian rupa sehingga benar –benar menjadi  fana pada Tuhan. Dan manakala kalian tenggelam seperti itu sambil  memanjatkan doa-doa pada  Tuhan  maka di dalam hati hanya Allah  dan Allah yang tertinggal dan kesadaran dan keinginan  terhadap dunia dalam kondisi  seperti itu akan menjadi hilang sirna. Dan setiap langkah yang diayunkan hanya akan melangkah ke arah kebaikan.

Bersabda tetapi ingatlah:  Tetapi hal yang sangat sulit adalah  bahwa orang-orang  tidak mengetahui hakekat doa dan tidak memahmi kondisi doa. Oleh karena itulah pada  zaman ini banyak sekali orang-orang yang  menjadi orang yang mengingkari doa. Sebab, mereka tidak mendapatkan  dampak-dampak dan pengaruh-pengaruh itu  dan satu lagi penyebab keingkaran mereka  juga adalah bahwa apapun yang terjadi  itu pasti akan terjadi  maka apa perlunya  pada doa. Tetapi saya mengetahui betul   bahwa ini hanya merupakan hanya  alasan semata.  Oleh sebab itu  mereka tidak ada pengalaman pada  doa, tidak mendapat  pengetahuan tentang  pengaruh-pengaruhnya,  karena itu mereka mengatakan seperti itu. Kalau tidak, andaikata mereka memang menjadi orang yang bertakwa seperti itu  maka kenapa setelah menderita sakit dia lalu berobat ?  Manakala mereka  terperangkap dalam suatu penyakit yang berbahaya  maka mereka berlari –lari kepada tabib. Bahkan saya katakan sebenar-benarnya bahwa orang yang paling banyak mengeluh ,yakni paling banyak berusaha (untuk sembuh) adalah orang-orang ini.

 Dalam urusan-urusan  dunia  manakala  sesuatu yang akan terjadi itu  pasti  terjadi  maka janganlah berusaha mengobati penyakit –penyakit.  Oleh karena itu beliau bersabda  bahwa orang yang mengikari doa mengatakan  bahwa Allah telah memutuskan  ini bahwa akan seperti ini  yang akan terjadi  karena itu tidak perlu doa. Maka beliau bersabda,kalau begitu maka  cobalah jangan menobati  penyakit-penyakit itu. Pembicaraan  seperti itu selain merupakan indicator  kurangnya ilmu tidak ada lagi. Bersabda,  memang benar  bahwa takdir Allah  yang akan bekerja, tetapi siapa yang mengetahui  bahwa dalam suatu perkara apa takdir Allah itu. Manakala sama sekali tidak mengetahui  maka  untuk tadbir-tadbir atau upaya-upaya  Allah telah perintahkan tadbir atau upaya itupun harus sepenuhnya  hendaknya dilakukan  dan bersabda bahwa satu yang paling luar biasa dari upaya itu adalah doa. Tetapi permasalahannya  adalah  bahwa  bagaimana  seharusnya harus  melakukannya   itu lakukanlah seperti itu.  Apa hak memanjatkan doa itu  dan apa tata tertib berdoa itu   yang sesuai dengan itu hendaknya harus memanjatkan doa.

Berkaitan dengan itu beliau bersabda: Sesungguhnya saya mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa   banyak sekali orang-orang  di dunia yang jauh dari point bahwa   doa itu memberi pengaruh dan  manakala  letih maka mereka lalu meninggalkan doa dan mereka sendiri yang menyimpulkan  bahwa doa tidak memberikan pengaruh apa-apa. Saya katakan bahwa ini  merupakan kesalahan dan kelemahan mereka  sendiri. Apabila  ukuran atau takarannya  belum  cukup,  baik itu racun atau obat maka  pengaruhnya tidak akan ada. Seorang  yang  lapar lalu   ingin  memenuhi perutnya dengan sebiji gandum  atau memakan satu tolah/suap  makanan   maka  apa yang bisa dilakukan  dengan itu sehingga dia bisa  kenyang ?  Sama sekali tidak bisa. Demikian pula seorang yang haus  dengan setetes air  kapan  hausnya  akan bisa menjadi hilang .    Tetapi untuk bisa menjadi kenyang dia  hendaknya  harus  memakan makanan yang cukup dan untuk menghilangkan haus maka harus meminum minuman yang secukupnya maka baru  dia bisa menjadi puas.

 Bersabda: Demikian pula   saat memanjatkan doa,  janganlah  hendaknya dilakukan tampa  perduli dan rasa cemas   dan jangan hendaknya begitu cepat  menjadi lelah, tetapi jangalah hendaknya bergeser dari itu  selama doa belum  menampakkan pengaruh  sepenuhnya. Barangsiapa yang  lesu dan mulai menjadi cemas  maka mereka  telah melakukan kesalahan,  sebab itu merupakan suatu tanda seorang menjadi mahrum. Menurut saya   doa merupakan barang yang sangat baik  dan saya katakan dengan pengalaman saya  bahwa ini bukanlah merupakan perkara  khayal belaka.  Sesuatu yang sulit tidak terpecahkan  dengan usaha, Allah menjadikannya menjadi mudah dengan perantaraan doa. Saya katakan dengan sebenarnya bahwa doa merupakan barang yang sangat berpengaruh luar biasa. Kesembuhan  dari penyakit bisa terjadi dengan  perantaraan itu. Kesusahan-kesusaahan dunia dan kesulitan-kesulitannya  jauh dari itu.  Ini dapat menyelamatkan dari makar para musuh. Dan apakah barang   yang tidak bisa diperoleh dengan perantaraan doa. Yang paling  besar  adalah bahwa ini dapat membersihkan manusia  dan menganugerahkan iman pada Tuhan yang hidup; memberikan keselamatan dari dosa dan keteguhan  pada kebaikan-kebaikan  akan datang  dengan perantaraan itu. Sangat beruntung sekali orang  yang beriman pada doa,  sebab dia melihat kekuasaan Tuhan yang aneh dan unik;    dia melihat  Tuhan  lalu beriman pada-Nya bahwa Dia adalah   Tuhan Yang maha Kuasa.

Allah mengajarkan doa ini di  awal Al-Quran itu sendiri  yang dari mana dapat diketahui   bahwa ini merupakan hal yang sangat agung   dan  sangat penting  yang   tampa itu manusia tidak dapat  menjadi apa-apa.   Allah berfirman الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ(2)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ(3)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Al-Fatehah 2-4) Di dalamnya Dia telah menerangkan 4 sifat yang merupakan  induk sifat.

          رَبِّ الْعَالَمِينَ – menzahirkan  bahwa Dia memelihara secara  bertahap. عالم-Alam adalah disebut  untuk hal  yang diperoleh beritanya /diketahui  akan beritanya. Dari itu diketahui bahwa di dunia ini tidak ada benda   yang tidak dipelihara oleh-Nya.Ruh-ruh , jiwa-jiwa manusia   dll  semuanya Dia yang memeliharanya. Dialah  yang memelihara segala sesuatu sesuai dengan kondisinya. Sejauh berkaitan dengan bahwa  Dia memeliha tubuh manuasia  disana untuk ketenangan dan kenyangnya ruh Dialah  yang  menganugerahkan ilmu-ilmu  makrifat dan hakekat-hakekatnya.

Kemudian Dia berfirman  bahwa Dia adalah    الرَّحْمَنِ   yakni sebelum amal juga rahmat-rahmatnya sudah ada. Sebelum kelahiran manusia   bumi ,bulan ,matahari air dan lain-lain  seberapa banyak benda-benda   yang perlu untuk ummat manusia  itu sebelumnya sudah ada.

 Dan kemudian Allah itu  adalaah  الرَّحِيمِ yakni Dia tidak menyia-nyiakan amal siapapun bahkan Dia memberikan ganjaran amal yang telah diperbuat ” Yakni Dia menganugerahkan  ganjaran amal perbuatan.

Kemudian  مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ Yakni Dialah yang memberikan ganjaran  dan Dialah yang memiliki hari hari pembalasan. Setelah menerangkan akan sifat-sifat Allah yang sedemikian rupa   Dia telah menghimbau untuk memanjatkasn doa. Manakala manusia beriman pada wujud Allah dan  sifat-sifat Allah  maka serta merta  di dalam ruh manusia  akan timbul gejolak  dan dia akan cederung untuk berdoa pada Tuhan.  Sesudahnya Dia  memberikan petunjuk untuk memanjatkan doa  اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ Dari itu dapat dimaklumi bahwa penampakan  dan untuk zahirnya rahmat-rahmat Ilahi  doa merupakan sesuatu yang sangat penting. Oleh karena itu hendaknya senantiasa siap dan sigap  dan jangan pernah menjadi lelah.

Singkatnya,  untuk perbaikan jiwa  dan untuk mencapai hasil akhir yang baik/khusnulkhatimah,   untuk meraih  taufik untuk melakukan kebaikan  sisi kedua adalah doa. Di dalam itu seberapa banyak  seorang yakin pada Allah dan bertawakkal   dan di jalan ini dia tidak  melangkahkan kaki yang mudah   lelah  maka sebanyak itulah hasil dan buah yang baik akan dia dapatkan. Semua kesulitan-kesulitan akan menjadi jauh  dan orang yang berdoa akan sampai pada kedudukan  yang paling tinggi. Sungguh ini  tidak dapat disangkal  bahwa selama Allah tidak memberisihkan seseorang  tidak ada seorang yang dapat menjadi bersih.  Gejolak hawa nafsu  hanya dapat mati dengan karunia Allah dan gejolak-Nya   dan gejolak dan semangat ini hanya dapat lahir dengan perantaraan doa  dan ini hanya dapat diraih dengan perantaraan doa.

Beliau bersabda: Khususnya jemaat kita jangan hendadaknya mereka tidak menghargai doa.

Beliau bersabda: Kemudian doa merupakan bukti wujud Tuhan yang luar biasa. Sebagaimana  Allah di suatu tempat berfirman وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ-Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, tuhan itu dimana dan bertahukanlah tentang buktinya maka  katakanlah  bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku. Jawaban ini kadang dengan ru’ya yang benar  dan terkadang dengan  kasyaf dan ilham  dan selain itu adalah dengan doa-doa  diungkapkan kekuasaan dan kekuatan Tuhan  dan dapat diketahui bahwa Dia sedemikian Kuasa sehingga Dia menjauhkan  kesulitan-kesulitan.

 Singkatnya, doa  merupakan harta benda atau kekayaan yang sangat bernilai  dan  merupakan sebuah kekuatan  yang dimana-mana di dalam Al-Quran ditekankan  mengenai hal itu  dan dibertahukan juga mengenai keadaan orang-orang  yang telah maemperoleh keselamatan dari kesulitan mereka  dengan perantaraan doa. Akar kehidupan para nabi dan rahasia  kesuksesan mereka dan perantara yang  sejati adalah doa.

Beliau bersabda:  Oleh karena itu  saya menasehatkan  bahwa untuk meningkatkan  kondisi iman  dan potensi amaliah kalian  senantiasa sibuklah dalam memanjatkan doa. Dengan perantaan doa  akan terjadi perubahan yang sedemikian rupa yang  dengan karunia Allah akan terjadi  hasil akhir atau husnulkhatimah yang baik “.

 Kemudian bersabda:  Perantara ketiga, untuk meraih kebaikan itu adalah  pergaulan dengan orang-orang yang saleh. Sebagaimana  Allah berfirman yakniكونوا مع الصادقين  bergaullah  dengan orang-oerang yang saleh. Di dalam pergaulan dengan orang-orang  yang saleh  terdapat  pengaruh yang istimewa. Cahaya kejujuran dan keteguhannya memberikan pengaruh pada orang lain dan memberikan bantuan dalam  menjauhkan kelemahan-kelemahannya”.

 Berkenaan dengan ini saya telah memberikan khutbah yang terinci dan pertemuan /Jalsah ini pun   merupakan satu bagian dari itu  (yakni merupakan bagian pergaulan dengan orang-orang yang saleh). Semoga Allah menganugerahkan taufik kepada setiap orang untuk mengambil faedah  dari itu  dan menjadikannya menjadi orang yang benar dan  memperoleh taufik untuk menyebarkan kebenaran.

 Kemudian, beliau bersabda:  Inilah tiga perantara/sarana  yang melindungi iman dari serangan-serangan  syaithan  dan memberikan kekuatan-kekuatan  padanya. Dan selama manusia tidak mengambil faedah dari sarana-sarana itu maka sampai saat itu dia senantiasa berada    dalam keadaan bahaya  bahwa syaithan  menyerang padanya lalu merampas kekayaan  imannya.   Oleh karena itu sangat penting sekali meneguhkan langkah  dan senantiasa dilakukan penuh kehati-hatian untuk bisa terhindar dari serangan-serangan  syaithan.  Barangsiapa yang tidak mempersenjatai dirinya dengan tiga senjata itu maka   Hadhrat Masih Mauud a.s bersabda: Maka saya sangat  khawatir bahwa dia akan mendapat kemudaratan dari suatu serangan yang tiba-tiba atau dadakan (yang entah dari  mana )”

 Maka beliau bersabda:  Yakni tiga perantara ini ,yakni nomer pertama adalah   berusaha untuk  menghindar dari keburukan-keburukan. Dalam lingkungan dewasa ini juga ribuan macam keburukan yang berdiri dengan mulut menganga /siap menerkam. Di setiap lorong dan jalan, di sekolah-sekolah  di collage-collage dan di tempat-tempat kerja,  singkatnya di  tempat  manapun  tidak ada yang tersisa  dimana kita bisa terhindar dari keburukan-keburukan.

Terkadang terjadi  di dalam fikiran manusia tidak ada terdapat keburukan  atau sekurang-kurangnya tidak dengan  sengaja berusaha untuk terperosok dalam keburukan tetapi tiba kondisi yang dimana dia ditarik dalam keburukan-keburukan. Misalnya laki dan perempuan  (yang tidak ada muhrimnya )  duduk bangun, bergaul  bertemu dengannya     terkadang akan menimbulkan suatu kasus yang sangat sulit diselesaikan. Disini di negeri ini lingkungan sedemikian rupa yang mana terkadang perempuan melontarkan fitnah  bahwa di dalam diri si fulan terdapat keburukan, dia telah melecehkan saya  atau sebaliknya laki-laki  menuding  perempuan yang melakukan plecehan. Oleh karena itu Islam menganjurkan  bahwa laki dan perempuan tidak baik berjumpa  dalam keadaan seperti itu. Diantara mereka hendaknya ada suatu hijab  yang akan melindungi kalian dari keburukan-keburukan   dan juga akan terhidar dari tuduhan atau fitnah keburukan-keburukan.

Kemudian hal yang kedua   yang melindungi  dari keburukan-keburukan  dan sejalan dengan mendapat taufik untuk  melakukan kebaikan-kenbaikan   juga membewa kepada hasil akhir yang dan husnulkhatimah adalah doa. Dan tabeat manusia baru cenderung pada doa  manakala ada rasa takut pada Allah  dan penuh dengan ketakwaan pada-Nya. Keburukan apapun dilihat maka hendaknya dengan rasa takut kepada Allah sambil tunduk dihadapan-Nya, sambil memanjatkan doa padan-Nya   berusahalah untuk menghindar dari itu. Dan sebagaimana bersabda bahwa doa hendaknya  sedemikian rupa dipanjatkan  sebagaimana ruh  itu menjadi larut  lalu mengalir di hadapan Tuhan. Dan sarana terbaik untuk memanjatkan doa  yang    Hadhrat Masih Mauud a.s telah nyatakan adalah shalat. Di satu tempat beliau bersabda bahwa shalat itulah doa dan shalat adalah merupakan sumsusm  ibadah. Tidak hanya sekedar doa-doa  secara lisan  semata  bahkan doa-doa itu pun sedemikian rupa hendaknya  sebagaimana perintah Allah  dan itu adalah bahwa lima waktu hendaknya hadir di hadapan-Nya     dan shalat –shalat dilakukan,  dan untuk menjadikan diri sendiri senantiasa  bersih  senantiasa berdoalah  pada-Nya.

Dan hal ketiga yang membawa pada kebaikan-kebaikan  adalah pergaulan dengan  orang –orang saleh. Caranya dewasa ini sebagaimana saya telah beritahukan adalah dengan menyampaikan dares, pertemuan-pertemuan ,ijtimak-ijtimak  dimanapun ada pertemuan-pertemuan  dimana para sepuh memperbincangkan  kebaikan-kebaikan,  jalsah-jalsah dan  membaca Al-Quran, memahminya, membaca hadis dan membaca buku-buku Hadhrat Masih Mauud a.s. Untuk memahami itu  terkadang perlu bekerja keras. Pergi ke majlis-majlis dari mana dapat memahami   hal –hal ini  hendaknya hal-hal itu diupayakan. Dan kemudian dengan melakukan  itu kalian akan dapat terhindar dari keburukan-keburukan dan maksudnya bukanlah  hanya untuk terhindar dari keburukan-keburukan  tetapi maksud utama adalah untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Dan hanya melakukan kebaikan-kebaikan  besar dan meninggalkan keburukan-keburukan besar   bukanlah tujuan orang yang beriman. Tetapi, manusia dan manusia yang mengakui  dirinya beriman,mengakui dirinya mu’min   setiap waktu senantiasa  dalam upaya   bahwa  keburukan yang sekecil-kecilnya pun  dia tinggalkan dan kebaikan-kebaikan yang sekecil-kecilnya pun dia lakukan dan melangkahkan kaki pada jalan ketakwaan yang sehalus-halusnya kalau tidak tidak ada faedahnya.

 Beliau di satu tempat  bersabda: Menghindar dari keburukan-keburukan yang msyhur seperti  mencuri,zina,bergunjing ,tidak jujur dan  memandang perempuan yang bukan muhrim  dll bukanlah kebaikan dan janganlah  hanya bangga dalam hal itu, sebab banyak sekali orang-orang    yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan agama  dan mereka tidak melakukan keburukan-keburukan itu . Al-Quran yang kita imani sebagai  kitab terakhir itu  ingin untuk menjadikan kita  memiliki sifat-sfat yang mulia.

 Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s bersabda:  Tetapi jemaat yang Allah telah sebutkan dalam Al-Quran  bahwa mereka melakukan amal saleh yang sedemikian rupa sehingga Tuhan menjadi redha kepada mereka  dan mereka juga akan redha pada Tuhan) hanya dengan meningglakan keburukan semata  tidak akan cukup.   Mereka  telah menganggap  kehidupan –kehidupan mereka menjadi tidak ada nilainya demi   untuk mencari keredhaan Allah. Mereka telah meninggalkan kebahagian dan kerenteraman mereka demi untuk mendatangkan  faedah bagi ummat manusia baru setelah pergi mereka sampai pada kedudukan dan derajat-derajat itu sehingga datang suara رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

 Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Albayyinah 8

” Oleh karena itu kalian janganlah  menganggap hanya satu hal itu cukup bagi kalian. Ya pertama hindarilah keburukan-keburukan  kemudian selain  itu  sebagai gantinya untuk meraih kebaikan-kebaikan   lakukan itu dengan usaha dan kerja keras serta mujahadah. Dan kemudian untuk memperoleh taufik dari Allah dan karunia-Nya panjatkanlah doa untuk itu. Selama manusia tidak bersifat dengan dua sifat itu,  yakni sejalan dengan meninggalkan keburukan-keburukan  lalu tidak melakukan kebaikan-kebaikan   sampai pada saat itu dia tidak dikatakan sebagai orang yang yang mu’min. Di dalam mendefinisikan  mu’min  yang sempurnan itulah    difirmankan    أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ              Kini renungkalah apakah hadiah itu hanya sedemikian rupa sedikitnya  bahwa dia tidak melakukan zina dan tidak merampok  atau ada  maksudnya yang sedikit  lebih besar dari itu. Tidak, di dalam  أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ      itu terdapat hadiah-hadiah  yang disebut mukhathabah dan mukalamah ” yakni sedemikian rupa  hubungan dengan Allah  dimana Allah berbicara juga dengan manusia dan juga mendengar-Nya.