بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad

Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 11 Nubuwwah 1390 HS/November 2011

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Kekerasan-kekerasan terhadap para Ahmadi khususnya di Pakistan terus-menerus dilakukan oleh pihak lawan semenjak National Assembly (Majelis Nasional) Pakistan mengeluarkan undang-undang pada tahun 1974 yang memutuskan orang-orang Ahmadi sebagai bukan Islam. Kemudian Jenderal Zia-ul-Haq sebagai Kepala Negara yang diktator telah menggunakan kesempatan untuk menambah memperketat undang-undang itu sambil berkata, “Orang-orang Ahmadi ini [mereka menyebutnya bukan ‘orang Ahmadi’ tetapi orang ‘Qadiani’ atau ‘Mirzai’] tidak mempunyai arti apa-apa, mereka melanggar qanun (undang-undang) yang kita keluarkan. Kepada mereka harus ditanamkan anggapan bahwa mereka keluar dari umat Muslim. Katakan kepada mereka, ‘Kalian (para Ahmadi) satu dengan yang lain harus mengatakan bahwa kamu bukan Islam!’ Katakan kepada mereka, ‘Kalian tidak boleh membaca Kalimah!’ Katakan kepada mereka, ‘Kalian tidak boleh mengucapkan assalamualaikum kepada siapa pun!’ Katakan kepada mereka, ‘Kalian jangan bergerak walaupun sedikit saja yang secara umum bila dilakukan mirip dengan orang menyatakan diri sebagai orang Islam. Akan tetapi kalian membandel tidak menghiraukan semua peringatan itu dan kalian tetap berkata dan beramal seperti yang harus dilakukan oleh orang-orang Muslim sejati. Oleh sebab itu terpaksa kami akan mengurung kalian di dalam penjara. Atau karena kalian tidak mematuhi ordonansi dan karena kalian satu dengan yang lain saling menyebut diri kalian memiliki hubungan dengan Hadhrat Khatamul Anbiyaa Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kalian dikenakan hukuman mati. Mengapa kalian berani melanggar undang-undang padahal jumlah kalian tidak banyak dan kalian telah melukai hati mayoritas orang-orang Muslim dengan menyatakan diri kalian Muslim!?’”

Itulah ringkasan undang-undang Negara Pakistan yang diberlakukan terhadap orang-orang Ahmadi di sana. Apa yang selalu mereka usahakan sampai sekarang sambil berkata dengan nada keras adalah mendesak orang-orang Ahmadi untuk meninggalkan iman mereka. Mereka selalu dan sedang melakukannya. Hal itu bukan perkara baru. Hal semacam itulah yang kita jumpai dalam sejarah agama-agama. Manusia Fira’un yang muncul di setiap zaman selalu berkata demikian kepada para nabi dan kepada manusia-manusia Ilahi. Topik ini seperti yang dinyatakan Fira’un yang terekam dalam Alquranul Karim saat ini juga sedang berlaku,  إِنَّ هَؤُلاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ * وَإِنَّهُمْ لَنَا لَغَائِظُونَ

Inna haa-ulaa-i lasyirdzimatun qaliiluun wa innahum lanaa laghaafiluun – “Sesungguhnya mereka itu hanyalah segolongan kecil yang tidak berarti. Dan walaupun demikian mereka itu telah menimbulkan kemarahan kepada kami.” (Asy Syu’ara, 26 : 55-56)

            Jadi, kita orang-orang Ahmadi apabila menyaksikan penentangan ini maka iman kita bertambah segar sebab tarikh para nabi sedang terulang kembali di depan mata kita. Memang jumlah kita sekarang masih sedikit dan kita tidak mempunyai haitsiyyat (nilai) apa-apa pada pandangan dunia. Kita tidak merasa tersinggung atau marah dikatakan bahwa kita ini sedang berbuat dosa atau berbuat kejahatan, sedang melakukan pelanggaran undang-undang yang merugikan Negara, atau merampas hak-hak Pemerintah atau kita melakukan perbuatan terorisme. Sedangkan mereka merasa tersinggung oleh kita disebabkan kita sedang mencintai dan setia (mematuhi) kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan dalam menunjukkan kecintaan terhadap Negara, kita sedang menegakkan keamanan di dalam negeri. Dan mengapa kita tidak mau merampas dan menjarah hak-hak makhluk Allah Ta’ala. Mengapa kita tidak mau bergabung dengan pelaku terorisme yang dapat menciptakan suasana zalim (aniaya) dan barbariyyat (di luar batas kemanusiaan). Maka jawaban kita kepada mereka hanyalah bahwa kita telah beriman kepada Imam Zaman ini, ‘asyiq shadiq’ – pencinta hakiki Rasulullah saw, Mahdi Mau’ud dan Masih Mau’ud yang datang sesuai dengan nubuwatan beliau saw; yang datang ke dunia sambil menjalankan sunnah Majikan dan Junjungan beliau yang ditaati (yaitu Nabi Muhammad saw), mengajarkan mahabbat (kecintaan), piyaar (kasih sayang), aman (keamanan), rekonsiliasi dan cinta damai kepada dunia. Maka, ketika kita telah baiat kepada Imamuz Zaman yang telah datang ini lalu senantiasa mengerjakan semuanya itu maka kita sedang berusaha menunaikan haq (kewajiban) sebagai pengikut aqaa (Junjungan) dan sayyid (Baginda) kita, Hadhrat Muhammad Mushthafa saw. Kita berusaha menegakkan contoh yang telah dilakukan orang-orang Muslim di abad permulaan. Keberanian yang kita miliki, dan perasaan tidak takut mati menghadapi segala jenis ancaman, telah diberikan kepada kita oleh Imam Zaman yang telah diutus oleh Allah Ta’ala untuk kebangkitan Islam kedua kali. Keberanian kita menjaga iman lebih penting dari kehidupan pribadi telah diberikan oleh ‘asyiq shadiq’ – pencinta hakiki Hadhrat Nabi saw yang telah membawa iman dari bintang Tsurayya ke bumi. Jadi, apabila kita sudah siap untuk menyerahkan segala jenis pengorbanan, kita siap selalu karena sudah paham betul bahwa kita adalah pengikut Imam itu yang kepadanya Allah Ta’ala berfirman,  “جري الله في حلل الأنبياء” Jariyullah fii hulalil anbiyaa – “adalah Juara Allah (Rasul Tuhan) dalam jubah semua Nabi.” [2]

Kemudian dalam Barahin Ahmadiyyah’ bagian 5 Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan mengenai wahyu tersebut. Beliau bersabda,

            ”Maksud dari wahyu ini adalah sejak Adam ‘alaihissalam sampai akhir berapa pun jumlah para Nabi ‘alaihimussalam yang diutus oleh Tuhan, baik nabi Israili atau nabi bukan Israili, sebagian peristiwa-peristiwa yang khusus dari mereka semua atau sebagian dari sifat-sifat yang khusus dari mereka semua telah diberikan kepada hamba yang lemah ini. Dan tidak ada seorang Nabi pun yang telah berlalu yang kekhususannya atau peristiwa-peristiwa khususnya tidak diberikan kepada hamba yang lemah ini. Allah Ta’ala telah memberitahu kepadaku bahwa gambaran fitrat semua Nabi terdapat dalam fitratku.” [3]

            Maka jika sebagian fitrat dan peristiwa dari setiap Nabi telah diberikan kepada beliau maka bagian dari peristiwa-peristiwa penentangan juga akan sama-sama dialami oleh Jemaat beliau. Akan tetapi aksi penentangan atau undang-undang yang mereka buat sedikitpun tidak dapat menggoyahkan Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as. Sebab, bersamaan dengan itu Allah Ta’ala telah memberi kabar suka kepada beliau as tentang kemenangan dan kejayaan yang telah diraih oleh para nabi. Bahkan kemenangan yang lebih besar dari itu telah diberitahukan kepada beliau. Dalam sebuah ilham, Dia berfirman kepada beliau, بشرى لك يا أحمدي ‘Busyra laka yaa ahmadii’ – “Bersuka citalah engkau hai Ahmad-Ku!” [4]

            Jadi, undang-undang Negara, kekerasan dan kezaliman itu sama-sekali tidak dapat menghalangi kemajuan Jemaat Masih Mau’ud as. Akhir yang baik dan terbukanya pintu-pintu kemenangan telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala kepada beliau. Walau kita harus melalui masa-masa kesulitan dan penganiayaan di berbagai tempat. Kabar-kabar suka tentang kemenangan itu telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala berulang kali kepada beliau dalam berbagai segi. Dalam kitab beliau ‘Asmaani Faishlah’ – “Keputusan Samawi’, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

            “Dengan kata-kata yang jelas sekali Allah Ta’ala berfirman kepada saya, أنا الفتّاح أفتح لك. ترى نصرا عجيبًا، ويخرّون على المساجد. ربّنا اغفر لنا إنا كنا خاطئين Anal fattaahu aftahu laka- taraa nashran ‘ajiiban wa yukhirruuna ‘alal masajidi – rabbana ghfir lanaa innaa kunnaa khaathi-iin.’ – “Aku adalah Maha Pemenang. Aku akan memberi kemenangan kepada engkau. Engkau akan menyaksikan pertolongan yang sangat ajaib. Orang yang keadaan nasib baiknya sudah ditakdirkan akan menjatuhkan diri di tempat mereka sujud sambil berkata, ‘Hai Tuhan kami! Maafkanlah dosa-dosa kami sebab kami  bersalah.’”[5]

Sebuah lagi ilham yang beliau terima, لك الفتح ولك الغلبة ‘Lakal fathu wa lakal ghalabah’ – “Bagi engkau tersedia kemenangan dan bagi engkau keunggulan.” [6]

            Jadi, di balik aksi kekerasan dan penentangan serta pembuatan undang-undang larangan yang diterapkan terhadap khususnya Jemaat Pakistan, kemudian Jemaat-Jemaat Indonesia, Malaysia atau Jemaat di beberapa Negara Muslim lainnya Allah Ta’ala telah memberi kabar suka kepada kita tentang turunnya berbagai kemajuan dan kejayaan lebih besar dari kezaliman yang diderita oleh Mazhlum Ahmadi (Ahmadi yang teraniaya) kita. Dengan karunia Allah Ta’ala keberanian yang telah ditanamkan oleh Hadhrat Imam Zaman dalam kalbu kita, sedikitpun tidak tergoyahkan oleh kezaliman dan kesusahan yang mereka timpakan kepada kita. Jika ada sebuah Jemaat duniawi lain, pasti mereka dengan mudah dipaksa agar bertekuk lutut di hadapan orang-orang zalim itu. Atau mereka akan berlaku munafik di hadapan lawan-lawan mereka. Akan tetapi dengan karunia Allah Ta’ala, Jemaat Ahmadiyah bukan hanya bertahan melawan kezaliman, bahkan mereka tetap bertahan dengan sabar dan terus melangkah diatas jalan kemajuan, sekalipun keadaan mereka yang sangat serba susah. Jika ada orang berakal dan mencintai keadilan, maka hal itu cukuplah bagi mereka sebagai dalil bahwa Jemaat ini adalah benar dari Allah Ta’ala. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda sesuai dengan ilham dari Allah Ta’ala seperti telah pernah saya bacakan, “Akan tiba waktunya apabila orang-orang dari antara mereka itu yang sekarang belum dapat mengenal kebenaran disebabkan pengaruh hasutan orang-orang yang menamakan diri ulama atau karena pengaruh takut terhadap mereka atau takut kepada undang-undang, akan merebahkan diri sujud memohon ampun di hadapan Allah Ta’ala dari semua dosa dan akan merasa bangga telah menggabungkan diri dengan ‘asyiq shadiq’ – pencinta hakiki Rasulullah saw. Sedangkan orang-orang yang berfitrat buruk akan menyaksikan akhir kesudahan diri mereka, apakah mereka akan menjadi cermin yang menakutkan seperti keadaan musuh-musuh para nabi di zaman dahulu atau menjadi penentang kebenaran selamanya. Seperti terdapat peringatan di banyak tempat dalam Alquranul Karim diantaranya Allah Ta’ala berfirman,

 أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الأَرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللهِ مِنْ وَاقٍ * ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوا فَأَخَذَهُمُ اللهُ إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

            “Apakah mereka tidak bepergian di bumi supaya dapat melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka? Mereka itu lebih hebat kekuatannya dari pada mereka dan dilihat dari peninggalan-peninggalan mereka di bumi juga lebih hebat, maka Allah membinasakan mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan tidak ada penyelamat bagi mereka dari azab Allah. Yang demikian itu disebabkan rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan tanda-tanda nyata, tetapi mereka telah ingkar, maka Allah membinasakan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Kuat, keras dalam menghukum.” (Surah Al-Mu’min, 40 : 22-23)

            Ilham-ilham Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah saya sebutkan, bukanlah da’wa (klaim, pengakuan) dari diri beliau sendiri. Ilham-ilham ini menegaskan, “Allah Ta’ala bersamaku dan Dia memberi kabar suka tentang kemenangan-kemenangan yang diberikan kepadaku.” Menisbahkan suatu perkataan kepada Allah Ta’ala adalah sebuah perkara yang sangat besar. Allah Ta’ala tidak mengampuni orang yang menisbahkan suatu perkataan yang salah terhadap Allah Ta’ala. Jadi, apabila kita melihat dukungan dan pertolongan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as maka semua itu sungguh meningkatkan keimanan dan keyakinan kita bahwa sebagaimana Allah Ta’ala selalu bersama beliau dan menolong beliau sepanjang kehidupan beliau, maka di zaman mendatang pun Dia akan selalu berbuat seperti itu kepada kita dan Jemaat-Nya ini dan dengan karunia Allah Ta’ala sekarang juga Dia selalu bersama kita. Dan sekarang juga hakikat dan peristiwa-peristiwa yang terjadi tengah memberi dukungan bahwa Allah Ta’ala sedang menganugerahkan pertolongan-Nya kepada Jemaat ini. Sungguh, seperti nampak dari ayat-ayat itu, para penentang nabi-nabi dan para penganiaya Jemaat Ilahi selalu diberi tempo selama beberapa waktu oleh Allah Ta’ala, namun akhirnya pada suatu hari mereka akan ditangkap oleh Allah Ta’ala. Maka apabila sudah tiba waktunya bagi Allah Ta’ala untuk menangkap mereka, maka tidak ada kekuatan, tidak ada kemampuan dan tidak ada suatu bilangan mayoritas dapat menolong mereka. Dan sekarang para pelaku kekerasan dan kezaliman atau para pembuat undang-undang terhadap orang-orang Ahmadi atau orang yang menganggap orang-orang Ahmadi sebagai faqir (pengemis) atau dia yang menyatakan Ahmadiyah adalah kanker dalam Islam, na’udzu billah, sebetulnya dia mempunyai kekuatan hanya sedikit saja, ketika Tuhan telah menghancurkannya sedikitpun tidak ada tanda bukti yang tersisa dari jasadnya. Sedangkan contoh-contoh [para pemimpin zalim masa lampau] yang diberikan oleh Allah Ta’ala [lewat Alquran]  yang telah dibinasakan oleh Allah Ta’ala jauh lebih kuat dan tangguh dibandingkan para pemimpin yang sedang berlaku zalim terhadap kita sekarang yang tidak mempunyai harta apapun. Untuk menjalankan pemerintahan pun mereka mengemis mencari utang ke bangsa-bangsa lain. Inilah masa untuk berpikir bagi para pemimpin bangsa dan juga bagi masyarakat Pakistan bahwa tanpa sadar mereka telah melibatkan diri dan bekerja sama dengan para zalim dalam menentang Ahmadiyah sehingga dalam setiap surat resmi, dokumen, sertifikat atau surat resmi apapun yang diperlukan oleh rakyat di Pakistan dicantumkan kalimat caci maki terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as lalu dinyatakan disitu, “Jika anda seorang Muslim harus tanda tangan diatas dokumen yang mengandung tulisan caci-maki itu!” Di pasar-pasar, di kompleks pertokoan, di kantor-kantor atau di taman-taman mereka memasang poster besar-besar bertuliskan segala jenis caci-maki yang kotor terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan demikian semua orang telah terlibat dalam perbuatan dosa yang sangat besar itu. Mereka yang tinggal diam tanpa komentar pun tanpa disadari terlibat dalam perbuatan dosa yang sangat besar itu. Atau mereka sudah kehilangan kesopanan. [7] Atau mereka sudah tidak meyakini Tuhan. Mengajukan orang-orang Ahmadi ke pengadilan dengan cara tidak benar dan dusta mereka telah melakukan perbuatan yang betul-betul tidak disukai oleh Allah Ta’ala. Sedangkan Allah Ta’ala berfirman, “Berlakulah adil sekalipun terhadap musuh kalian. Berlakulah adil sekalipun terhadap orang-orang yang telah berbuat zalim terhadap kalian dan janganlah kalian berbuat zalim terhadap mereka.” Namun sebaliknya apa yang mereka lakukan itu. Betul-betul terbalik.

Allah Ta’ala berfirman, dusta adalah syirik dan dusta adalah sebuah najis dan dosa yang tidak diampuni oleh Allah Ta’ala. Akan tetapi perhatikanlah apa yang mereka kerjakan itu! Kita orang-orang Ahmadi menunjukkan hakikat taqwa, kebaikan dan hakikat ketinggian nama Allah dan Rasul-Nya. Saya akan ceritakan sebuah peristiwa yang akan menunjukkan lebih jelas lagi bagaimana keadaan sebenarnya mereka itu. Beberapa hari yang lalu seorang Ahmadi telah dituduh dalam sebuah kasus pembunuhan dan ia diseret ke pengadilan. Ketika para penjahat itu diingatkan, diberi pengertian, “Ini salah. Betapa zalim dan berlebihannya yang tengah kalian lakukan terhadap orang ini!” Maka para pendakwa dusta itu disebabkan pengaruh para mullah berkata, ”Memang kami tahu perbuatan kami ini salah dan orang ini tidak bersalah, tetapi karena dia seorang Ahmadi maka kami ajukan dia ke pengadilan. Jika ia hari ini bertaubat dari Ahmadiyah dan mulai mencaci-maki Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani, maka tuntutan kami akan ditarik kembali dari Pengadilan. Bahkan kami akan berusaha sekuat tenaga untuk membebaskannya dari penjara. Apabila sudah keluar dari penjara akan kami sambut dan kami kalungkan karangan bunga pada lehernya.” Beginilah keadaan mereka itu. Walaupun demikian mereka menamakan diri Muslim tulen dan orang-orang Ahmadi adalah kafir. Berkata dusta juga di pandangan mereka tidak ada nilai apa-apa.

Maka, “Wahai para penentang Ahmadiyah! Takutlah kalian kepada Tuhan Yang di hadapan-Nya harta kekayaan kalian, angan-angan kalian, takabbur kalian, kedudukan kalian sebagai imam mesjid-mesjid, partai-partai politik kalian, pemerintahan kalian, bilangan mayoritas kalian tidak ada nilai apa-apa. Jawaban kami terhadap semua kezaliman yang kalian lakukan adalah jawaban yang Alquranul Karim berikan إنه قوي شديد العقاب Innahu qawiyyun syadiidul ‘iqaab – “Sesungguhnya Dia sangat gagah perkasa dan Dia sangat keras sekali dalam memberi hukuman.”

Sekarang puncak kezaliman mereka sudah melanda sampai kepada anak-anak sekolah Ahmadi kita yang masih tak berdosa. Iya, di sekolah-sekolah ada salah satu pengajaran untuk memperlakukan mereka, “Kamu harus mencaci-maki Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani ‘alaihissalam!”[8] Jika ada seorang Kepala Sekolah atau pemilik sekolah swasta menunjukkan sedikit kebaikan, maka dikatakan kepadanya dengan ancaman; “Jika anak-anak Ahmadi diberi izin sekolah kami takkan mengirim anak-anak kami ke sekolah anda dan kami akan menuntut agar sekolah kamu ditutup dengan paksa!” Jika orang-orang baik itu tidak mau ikut kehendak para Mullah atau kehendak para pembuat kerusuhan maka mereka itu mengancam sambil memberitahu akibat-akibatnya. Pendeknya sebuah huru-hara sudah melanda Negara itu. Dan para penguasa, para ahli politik demi kepentingan politik pribadinya, disebabkan kelemahan dan ketidakmampuan mereka menjadi boneka permainan tangan para mullah dan para pembuat kerusuhan.

Jadi, sebagaimana telah saya katakan, apakah para mullah atau para ahli politik palsu atau sebagai petugas Negara, siapa saja yang terlibat dalam kezaliman ini harus ingat bahwa Allah Ta’ala شديد العقاب ‘syadiidul ‘iqaab’ – “sangat keras dalam memberi hukuman.” Bahasan ini bukan cerita lama mengenai suatu bangsa, melainkan tanda hidupnya Tuhan Yang Hidup atau tanda adanya Tuhan Pemilik Segala kekuatan yang sekarang juga tetap berlaku.

Jadi, para penentang yang melakukan permusuhan dan melampaui batas dalam melakukan permusuhan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as harus ingat bahwa  mengingkari hak dan kebenaran yang telah dinubuatkan oleh Hadhrat Nabi saw dan juga terdapat dalam Alquranul Karim yang mereka membacanya dengan penuh semangat atau menyatakan diri membacanya, akibatnya mereka akan termasuk kelompok orang-orang yang berkesudahan sangat buruk atau kesudahan buruk mereka akan disaksikan oleh orang-orang yang datang kemudian atau akan menjadi peringatan yang menakutkan bagi kaum yang akan datang dan disamping itu kejahatan apa lagi saat ini yang tidak sedang mereka lakukan. Selain penganiayaan yang sedang dilakukan terhadap orang-orang Ahmadi segala jenis dosa dan maksiat sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Diantaranya makan uang suap, bermacam dosa lainnya berupa perbuatan kotor, perbuatan tidak senonoh, pelanggaran akhlak, pencurian, perampokan, perkelahian dan pembunuhan, pendeknya setiap jenis keburukan muncul ke permukaan. Jadi, bukankah hal itu semua pembangkit kemurkaan Allah Ta’ala? Berpikirlah sedikit, wahai orang-orang ghafil (lalai, tak sadar)!

Inilah doa kita, ‘Allah Ta’ala qaum par rahm farmae – “Semoga Allah Ta’ala mengasihani kaum ini!” Sekarang hanya orang-orang Ahmadi yang berkewajiban untuk berusaha secara amal nyata menolong mereka demi simpati terhadap umat dan demi simpati terhadap insaniyat (humanity, kemanusiaan) sekalipun mereka diperlakukan berbagai macam keaniayaan. Lebih dari itu semua, orang-orang Ahmadi harus selalu memanjatkan doa-doa kepada Allah Ta’ala. Dimana secara amal nyata tidak dapat dilakukan, dimana tidak ada orang-orang yang bersedia mendengar perkataan kita, dimana hanya dengan mengucapkan salam dituntut ke pengadilan, disana orang-orang Ahmadi hendaknya melalui doa-doa memohon kepada Allah Ta’ala untuk perbaikan umat.

Tidak ragu lagi, sebagaimana telah saya katakan, Allah Ta’ala akan menganugerahkan kemenangan dan kejayaan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Sebab,  Allah Ta’ala selalu memberi kemenangan dan kejayaan kepada para rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman dalam Alquranul Karim, كَتَبَ اللَّهُ لأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ ‘Kataballahu la-aghlibanna ana wa rusuli innallaha qawiyyun ‘aziiz’ – “Allah Ta’ala telah memutuskan; Aku dan Rasul-rasul-Ku pasti akan menang, sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.” (Surah Al-Mujadalah, 58 : 22).

Sebagaimana jelas dari ayat ini bahwa keputusan kemenangan itu ada ditangan Tuhan. Dan sarana untuk meraih kemenangan itu atau dalil yang diberikan untuk meraih kemenangan itu telah diberitahukan oleh Tuhan yaitu Kekuatan dan Keperkasaan Allah Ta’ala. Jadi dalam hal ini terdapat pelajaran bagi kedua belah pihak  baik bagi orang-orang mu’min maupun bagi orang-orang ingkar dan kafir, kedua belah pihak harus merenungkannya. Kepada orang-orang Mu’min telah diberitahu bahwa Allah Ta’ala Yang memiliki semua kekuatan dan Gagahperkasa, Dialah yang telah memutuskan bahwa Tuhan beserta Rasul-Nya akan menang. Maka kalian jangan melihat kelemahan dan sedikitnya jumlah kalian, jangan mengira bahwa kami ini tidak mempunyai nilai apa-apa. Melainkan perkuatlah iman kalian dengan banyak memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala. Habiskan tenaga kalian untuk mengikat hubungan dengan Allah Ta’ala seerat mungkin. Supaya kalian termasuk kedalam kelompok orang-orang yang meraih kemenangan yang telah dijanjikan Allah Ta’ala. Maka laksanakanlah amal-amal saleh, laksanakanlah ibadah dengan baik dan dawam yang menjadi tujuan diciptakannya kalian. Berusahalah terus untuk meningkatkannya agar kalian menjadi bagian dari kemnangan. Kepada para penentang kita ajukan tantangan; “Berusahalah sekuat tenaga kalian, namun ingatlah bahwa Allah Ta’ala Maha Kuat, Maha Gagahperkasa. Dia telah memutuskan untuk memberi kemenangan kepada Utusan yang dikasihi-Nya. Dia akan menganugerahkan kemenangan insya Allah. Maka semua makar kalian, semua rencana busuk kalian, semua tipu daya kalian, kegiatan kalian mengusik dan mengacau anak-anak sekolah Ahmadi yang tak berdosa, semua usaha jahat kalian mengganggu para pegawai dan para pengusaha Ahmadi, usaha-usaha dusta kalian karena tunduk kepada para mullah mengajukan orang-orang Ahmadi tak berdosa ke pengadilan, semua kejahatan kalian itu sama-sekali tidak dapat menghalangi kemenangan Allah dan Rasul-Nya. Jika berdirinya Jemaat ini hasil karya seorang manusia, maka pasti semua daya kekuatan kalian untuk menghancurkannya sudah berhasil. Akan tetapi ini adalah hasil karya Tuhan, pada akhir kesudahannya Takdir Tuhan pasti akan menang.

            Jadi, apabila Allah Ta’ala berfirman إِنَّ اللهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ Innallaha qawiyyun ‘aziiz’ – “Allah Maha Kuat, Maha Gagahperkasa” maksudnya Tuhan mengumumkan, “Akulah yang melaksanakan pekerjaan ini. Di sini bilangan minoritas atau mayoritas, mempunyai banyak atau sedikit harta kekayaan, mempunyai banyak atau sedikit sarana atau perlengkapan bagi orang-orang Ahmadi tidak mempunyai nilai apa-apa. Apakah kemenangan dalam perang Badar, atau kemenangan dalam perang Uhud atau dalam perang manapun telah diperoleh karena lasykar Islam mempunyai banyak harta kekayaan? Sungguh tidak demikian!” Satu perkara yang sungguh-sungguh meyakinkan adalah bahwa sekalipun ada perjanjian dari Allah Ta’ala, sekalipun ada penegasan dari Allah Ta’ala, sekalipun adanya tanda-tanda cemerlang dari Allah Ta’ala, walaupun dengan perlengkapan fisik yang sangat sedikit Rasul Allah Ta’ala pasti berusaha melakukan upaya-upaya lahiriah sesuai dengan sarana yang ada. Akan tetapi perhatian utama beliau adalah terhadap doa-doa. Teladan sempurna dan paling utama untuk itu telah ditunjukkan oleh Hadhrat Muhammad Mushthafa saw. Perang Badr telah menampilkan pemandangan yang sangat agung kepada kita. Sekalipun sudah ada semua kabar suka dan jaminan dari Allah Ta’ala yang membuat hati tenteram, namun Hadhrat Nabi saw dengan sangat gelisah memanjatkan doa-doa sambil merintih demikian rupa seakan-akan nyawa sedang keluar dari tenggorokan beliau saw. Disebabkan rintihan doa-doa itu cadar berulang kali terjatuh dari bahu beliau. [9]

            Maka apabila Allah Ta’ala telah mentakdirkan dengan firman-Nya; Aku dan Rasul-Ku akan menang maka Rasul Allah juga terbenam dan melebur dengan kamil (sempurna) kepada Allah Ta’ala berusaha menjadi bagian dari perintah Ilahi dan sungguh beliau menjadi bagian dari itu. Kemudian quwwat qudsiyah dan tarbiyyat Rasulullah saw telah menciptakan para sahabat yang di waktu siang hari sibuk dengan jihad di medan perang dan di waktu malam hari sibuk dengan ibadah kepada Allah Ta’ala. Jika ditinjau dari segi perlengkapan duniawi setiap peperangan yang dilakukan oleh orang-orang Muslim pada waktu itu sedikitpun tidak dapat dibandingkan dengan kekuatan musuh. Akan tetapi hubungan dengan Allah Ta’ala dan ibadah-ibadah kepada-Nya serta terbenam dalam kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya telah membuat mereka bagian dari kemenangan. Kita pun harus ingat bahwa sekalipun di waktu siang hari terjadi serangan-serangan musuh atau terjadi peperangan, terjadi keadaan yang sangat genting Hadhrat Rasulullah saw dan para sahabat beliau tidak pernah lalai menunaikan shalat-shalat fardhu. Pernah terjadi suatu peristiwa disebabkan gencarnya serangan dan penentangan musuh shalat-shalat fardhu tidak dapat dilaksanakan. Dan waktu untuk shalat sudah berlalu. Dan akhirnya shalat-shalat fardhu itu dijamak dalam satu waktu. Pada waktu itu Rasulullah saw sangat sedih sekali sehingga beliau berkata kepada musuh-musuh sambil berdoa buruk bagi mereka, “Buruklah musuh! Celakalah musuh! Disebabkan ulah jahat mereka terpaksa shalat kita jamak!” Jadi, beliau saw tidak pernah merasa gelisah atau sedih karena kerugian jiwa atau harta. Dan tidak pernah pula berdoa buruk bagi musuh-musuh. Namun mendapat kesempatan berbuat demikian semata-mata disebabkan, “Saat ini musuh tidak memberi kesempatan kepada kita untuk beribadah dan menundukkan kepala di hadapan Rabb kami pada waktunya.” Sekalipun hati beliau saw selalu sibuk dengan zikir kepada Allah Ta’ala. Bibir beliau selalu bergerak setiap waktu berzikir kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi kesedihan karena terlepasnya waktu untuk menunaikan kewajiban tidak tertahankan oleh beliau.

            Maka, kita hendaknya ingat bahwa sekalipun tanpa keraguan bahwa Allah Ta’ala telah menjanjikan kemenangan akan tetapi menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala dan mematuhi ibadah-ibadah dengan penuh perhatian sangat diperlukan sekali agar dapat menarik karunia-karunia-Nya. Tanpa itu kita tidak dapat disebut pengikut Jemaat Rasul Allah Ta’ala. Orang-orang yang dianggap menjadi pengikut Jemaat Rasul Allah adalah yang banyak menaruh perhatian terhadap ibadah-ibadah kepada Allah Ta’ala. Apabila kita menyaksikan kekerasan dan penganiayaan para penentang Ahmadiyah, maka kita harus ingat bahwa untuk menjadi bagian dari janji-janji Allah Ta’ala sekali-kali kita tidak boleh lalai menunaikan ibadah kepada-Nya. Kedatangan Nabi dan Rasul Allah ke dunia tiada lain untuk mengikatkan hubungan manusia dengan Allah Ta’ala. Jika kita tidak menjadi penjalin hubungan dengan Allah Ta’ala bagaimana kita akan layak disebut Jemaat seorang Nabi. Bagaimana akan menjadi bagian dari kemenangan-kemenangan yang telah ditetapkan bagi Nabi dan Jemaatnya. Itulah maksud dari kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud as. Jadi, hal itu semua harus selalu menjadi pusat perhatian kita. Hadhrat Masih Mau’ud as dalam pembukaan karya tulis beliau ‘Kitabul Bariyyah’ bersabda,

            “Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat Gagah dan sangat Kuat. Orang yang tunduk kepada-Nya dengan cinta dan patuh taat sekali-kali tidak pernah disia-siakan. Musuh berkata, ‘Aku akan membinasakannya dengan menggunakan siasat dan rencanaku.’ Dan orang yang berpikiran buruk memiliki maksud, ‘Aku akan menghancurkannya.’ Akan tetapi Tuhan berfirman, ”Hai orang bodoh! Apakah kamu hendak berkelahi dengan Aku? Mampukah kamu menjatuhkan kekasih-Ku dalam kehinaan? Sesungguhnya diatas bumi ini tidak dapat terjadi suatu apapun, kecuali yang sebelumnya telah diputuskan di langit. Dan tidak ada jangkauan tangan bumi dapat dipanjangkan sebagaimana jangkauan tangan di langit telah dipanjangkan. Maka, orang-orang yang membuat rencana kezaliman sangat bodoh sekali, yang ketika membuat rencana jahat dan memalukan tidak ingat kepada Zat Yang Maha Mulia yang tanpa perintah-Nya selembar daun pun tidak dapat jatuh dari tangkainya. Oleh sebab itu, mereka selalu gagal dan membuat malu dalam rencana dan makar jahat mereka. Dan kejahatan mereka sedikit pun tidak dapat mempengaruhi orang-orang yang tulus dan jujur. Malah tanda-tanda Tuhan menjadi terbuka. Dan ma’rifat ruhani manusia semakin bertambah dan berkembang. Sekalipun Tuhan Yang Maha Perkasa tidak dapat dipandang oleh mata lahiriah ini akan tetapi Dia menunjukkan manifestasi-Nya melalui tanda-tanda-Nya yang sangat ajaib.” [10]

Jadi, jika kita dengan cinta dan setia selalu tunduk di hadapan Tuhan Yang Maha Kuat dan Dahsyat maka suatu perbuatan makar musuh atau suatu usaha mereka insya Allah Ta’ala tidak akan sampai merugikan Jemaat. Oleh sebab itulah pada beberapa hari Jum’at yang lalu saya telah menganjurkan secara khusus kepada Jemaat untuk memanjatkan doa-doa, ibadah-ibadah dan mengerjakan puasa nafal. Sebab, sekarang musuh-musuh sedang menyerang Jemaat Ahmadiyah dengan menggunakan segala kekuatan yang ada pada mereka. Senjata kita yang paling besar dan sangat ampuh [efektif] hanyalah doa. Penentangan terhadap Ahmadiyah yang sekarang sudah sampai ke tingkat Internasional (antar bangsa, antar ngara), dimana sudah nampak bahwa Allah Ta’ala pun ingin menunjukkan manifestasi-Nya lebih hebat dari sebelumnya dalam menzahirkan kemenangan-Nya dan Dia insya Allah akan menunjukkannya. Sekarang dunia Ahmadiyah juga harus bergerak maju, harus memperhatikan kewajiban yang paling utama dan paling dicintai yaitu masing-masing diri melaksanakan ibadah-ibadah. Sebelumnya majukanlah (tingkatkanlah) hubungan yang erat dan kecintaan dengan Allah Ta’ala. Semoga untuk itu Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua.

            Adaa satu perkara yang ingin saya sampaikan tentang ilham Hadhrat Masih Mau’ud as. “بعد 11 إن شاء الله” ‘bad giyarah Insya Allah’ – “Sesudah sebelas Insya Allah.” [11]

            Orang-orang Ahmadi banyak yang memberi perkiraan tafsir sendiri terhadap ilham ini, banyak juga yang menulis surat kepada saya [menanyakan maksudnya]. Tentang itu Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri bersabda, “Saya tidak tahu apakah artinya sebelas hari, sebelas minggu, sebelas bulan atau sebelas tahun.” [12]

            Bersabda, “Dalam masa itu akan nampak tanda kebebasan saya [bahwa saya tidak bersalah].”

            Karena pada hari ini adalah tanggal 11 Nopember, Nopember juga bulan 11 dan tahun juga 2011. Oleh sebab itu, orang-orang Ahmadi berpikir tentang itu menurut pendapat mereka masing-masing. Sesungguhnya, jika sesuatu telah ditetapkan akan terjadi pada tanggal 11 bulan 11 tahun 11 ini maka insya Allah pasti ia akan zahir. Akan tetapi harus diingat, banyak sekali ilham-ilham yang mengandung janji suatu manifestasi rahmaniyyat-Nya, bantuan Allah Ta’ala, dukungan dan pertolongan menggunakan lafaz “بغتةً” ‘baghtatan’ – “segala-galanya akan terjadi secara tiba-tiba, tanpa diduga.” Tidak jauh dari tanggal-tanggal ini, [tidak jauh] dari tanggal ini, [tidak jauh] dari hari ini, tanggal 11, bulan 11 dan tahun 2011 ini, takdir itu akan mulai berlaku. Akan tetapi kadangkala orang-orang yang membuat perkiraan sendiri dan banyak yang bertabiat lemah, jika tidak terbukti sesuai dengan apa yang telah ia perkirakan (sangkakan, harapkan) sendiri, mulailah ia bersikap cemas dan putus asa. Atau akibatnya ia bersikap kurang perhatian terhadap Allah Ta’ala. Yang demikian itu bukan cara hidup orang mu’min, bersikap putus asa. Kemenangan sudah meyakinkan dan ini adalah takdir Allah Ta’ala. Insya Allah ia akan terjadi! Bahkan, sedang trjadi. Penentangan terhadap Ahmadiyah dan keadaan para penentang, misalnya perasaan dan pikiran mereka tidak menentu dan memang sedang tidak menentu. Hal ini membuktikan dalil kemenangan dari Allah Ta’ala.

            Sehubungan dengan itu saya ingin menyampaikan sebuah perkara lagi bahwa Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra juga ketika hendak hijrah dari Qadian ke Pakistan telah menulis bagaimana jalannya hijrah itu. Pada waktu itu sangat sulit sekali untuk mengambil keputusan kapan waktu berangkatnya. Ketika itu rencana Hijrah sedang dipelajari. Beliau menulis, ”Saya sedang menelaah ilham-ilham Hadhrat Masih Mau’ud as maka pada waktu itu saya jumpai ilham ‘ba’d giyarah’ – “sesudah sebelas”. Saya anggap sudah yakin bahwa hijrah akan terjadi. Kemudian masalah sarana transportasi dan yang lainnya muncul, lalu dikarenakan soal tanggal [keberangkatan], pikiran saya menaruh perhatian dengan tanggal 11. Akhirnya transportasi sudah dipersiapkan dengan susah payah. Kemudian timbul halangan lagi dan pada hari yang telah ditentukan untuk berangkat, pada waktu itu juga timbul tanda-tanda adanya hambatan. Waktu sudah jam 10.00 dan Hadhrat Mirza Basyir Ahmad ra mengatakan, persiapan yang sedang diatur ‘musykil’ – “Begitu sulit.” Akan tetapi Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Ilham tentang sesudah sebelas itu tetap tertanam dalam pikiran saya, sesuai dengan ilham itu saya kira mungkin saja setelah pukul 11.00 hijrah akan berangkat. Maka tiba-tiba Allah Ta’ala menyediakan semua sarananya, itu semua terjadi secara tiba-tiba. Dan setelah pukul 11.00 semua persiapan dan perlengkapan sudah sempurna.” [13]

            Dan inilah Hijrah bersejarah yang terjadi dari Qadian ke Pakistan. [Ilham itu pun sempurna dalam corak peristiwa Hijrah tersebut]. Akan tetapi ilham ini sudah sempurna dalam bentuk lain lagi di banyak tempat. Seorang diktator yang berusaha ingin menghapuskan Jemaat Ahmadiyah, ingin mencabut Ahmadiyah dari akar-akarnya hingga musnah, akibatnya pemerintahan dia sendiri yang musnah dari akar-akarnya, dan ia musnah tepat 11 tahun setelah menjadi penguasa pemerintah.[14]

Masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lain telah terjadi yang sesuai dengan ilham ini. Dan nubuatan-nubuatan serta ilham-ilham sempurna berkali-kali. Oleh sebab itu kita harus mempunyai harapan agar dapat menyaksikan tanda-tanda yang lebih jelas dan lebih cemerlang lagi.

Namun kita juga harus ingat, bersamaan dengan ilham itu terdapat ilham dalam Bahasa Farsi juga yakni;

“بر مقام فلك شده يارب           گر اميدے  دِهَم مدار عجب”

 bar muqami falak syudah yaa Rabb

gar umiid e diham madaar ‘ajab

            Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “(Allah Ta’ala berfirman, ratapan tangis engkau telah sampai ke Langit. Sekarang jika Aku beri suatu harapan dan kabar suka kepada engkau maka janganlah engkau heran, ia tidak bertentangan dengan kecintaan dan sunnah-Ku.) Ba’d 11 (giyarah), insya Allah. – “Setelah sebelas, insya Allah.” (Bersabda, ‘us ki tafhiim nehi hui’ – “Saya tidak memahaminya.”)[15]

            Di sini timbul pembicaraan tentang doa, yakni ratapan tangis sudah sampai ke Langit. Kita harus menaruh perhatian keras terhadap doa seperti telah saya katakan sebelumnya. Oleh karena itu, saya pun menekankan agar menaruh perhatian terhadap doa, berdoalah sekuat tenaga, sekeras mungkin dengan ratap-tangis sehingga ratapan kita sampai ke Langit sehingga Arasy bergoncang kemudian kita insya Allah Ta’ala akan segera menyaksikan pemandangan berupa kemenangan-kemenangan, dan kita akan menyaksikan pula musuh-musuh putus asa. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada saya dan juga kepada semua untuk memanjatkan doa lebih banyak dari sebelumnya.

            Hari ini setelah shalat saya akan memimpin dua shalat jenazah ghaib. Yang pertama adalah seorang darweisy Qadian kita, yang terhormat tuan Coudhri Muhammad Shadiq Nanggali putra yang terhormat Waryam Din Nanggali. Beliau ini pada 29 Oktober jatuh dan mengalami patah tulang. Jantung beliau pun menderita sakit. Pengobatan dan lain sebagainya sedang dijalani namun pada 5 November beliau wafat. inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pada saat membuat gerakan Darwisyi, beliau sedang berumur masih sangat muda namun beliau mengatakan ‘Labbaik’ – “Baik, kami bersedia mengikuti” dengan sangat ikhlas masuk dalam gerakan ini dan sampai nafas terakhir telah dengan setia memenuhi janjinya. Beliau berkhidmat di kantor-kantor markazi. Berkhidmat mengurus tanah-tanah Jemaat di Qadian. Beliau seorang pekerja yang dermawan, cerdas, mukhlis. Sangat gemar melakukan khidmat khalq. Susu, sayuran, buah-buahan dan biji benih serta yang lainnya [yang beliau hasilkan dari perkebunan dan peternakan beliau] apabila tersedia di rumah sehari-hari beliau bagikan ke rumah-rumah lainnya tanpa mengharap balasan. Beliau sangat memperhatikan orang-orang yang datang untuk Jalsah Salanah di Qadian. Beliau mengeluarkan dana dan harta benda miliknya untuk kenyamanan, makanan dan minuman mereka. Seorang mukhlis yang penuh kasih-sayang, rajin shalat dan puasa, penyabar dan senantiasa bersyukur, senantiasa sederhana. Memberi tarbiyat kepada anak-anak dengan baik. Seorang musi. Meninggalkan 4 orang anak. Salah satu putranya, yang terhormat Doktor Muhammad Arif, melewatkan hidupnya sebagai officer Jalsah Salanah dan Nazir Baitul Maal dan tahun lalu telah wafat. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat almarhum.

            Jenazah kedua, tuan Ahmad Yusuf al-Khaburi Syahid. Beliau ini sahabat Arab Syam (Suriah). Beliau syahid bulan yang lalu. Dewasa ini di sana sedang terjadi huru-hara [kerusuhan antara pendukung dan penentang pemerintah] yang mensyahidkan beliau. Peristiwa pensyahidannya ialah seperti biasa beliau pulang dari tempat kerja ke rumah pada waktu Ashar pada 31 Oktober 2011. Tempat yang beliau lewati untuk sampai ke rumah adalah tempat yang sedang terjadi kerusuhan. Sewaktu-waktu peluru senantiasa melesat. Orang-orang memperingati dan melarang beliau agar tidak melewati daerah tersebut namun karena almarhum memiliki kekurangan pendengaran, peringatan ini tidak beliau pahami dan tetap melewati daerah itu. Saat sedang berjalan, peluru menembus kepala beliau dan syahid di tempat. Beliau lahir pada tahun 1976. Sejak sekolah dasar ia giat belajar. Pekerja yang rajin. Beliau belum menikah. Sudah 10 tahun sebelumnya, tabligh Ahmadiyah sudah sampai kepada beliau namun belum mendapat taufik baiat hingga November tahun yang lalu (2010). Tuan Yunus, keponakan almarhum mengatakan, “Almarhum berbicara dengan saya mengenai Jemaat yang sangat mengesankan hati saya. Karena pembicaraannya itu, saya baiat lebih dahulu dibanding beliau yang mendapat taufik baiat sebulan kemudian.” Saudari dan keponakan almarhum juga baiat atas pertablighan beliau. Almarhum yang syahid ini sebelum baiat termasuk dalam golongan Alawiyah yang dengan sangat tulus dan ikhlas mengambil baiat. Senantiasa mengikuti semua program Jemaat. Almarhum memiliki akhlak yang sangat tinggi. Bertabiat sederhana dan teladan yang sangat bersemangat menolong orang lain. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat almarhum, memperlakukannya dengan penuh pengampunan. Shalat jenazah untuk kedua almarhum insya Allah akan dilaksanakan setelah shalat Jum’at.

Alihbasa oleh Mln. Hasan Basri Shd

[1] Semoga Allah yang Mahaluhur mengokohkannya dengan pertolongan-Nya yang agung

[2] Barahin Ahmadiyah hishshah pancham (bagian V), Ruhani Khazain jilid 21, h. 116.

Fii hulalil anbiyaa-i (dalam jubah seluruh nabi) dalam terjemah Urdu ialah tamaam nabiyyong ke peraae me. Peraayah menurut kamus Urdu : ornament (ornamen), dress (baju), manner (kebiasaan), method (metode) dan behaviour (kebiasaan).

[3] Ibid. (sda.)

[4] Tuhfah Baghdad, Ruhani Khazain jilid 7, halaman 23

[5] Aasmani Faishlah, Ruhani Khazain jilid 4, halaman 342

[6] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22 halaman 702

[7] Syaraafat: kesopanan, peradaban, kemuliaan, adab yang baik

[8] Mereka seperti mengatakan, “Kalian orang Mirzai adalah kafir. Kalian tidak boleh belajar di sekolah ini. Hanya ada satu pilihan bagi kalian, boleh sekolah disini tapi kalian harus mencaci-maki Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, kalau tidak pergilah dari sini!”

[9] Syarh al-‘Allamah az-Zurqani jilid II bab ghazwah Badr al-Kubra halaman 281-282, Darul Kutub al-‘ilmiyyah Bairut, Lbanon, 1996

[10] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain, jilid 13, halman 19-20

[11] Arba’iin nomor 4, Ruhani Khazain jilid 17 halaman 457, catatan kaki

[12] Ibid.

[13] Dikutip dari Al-Fadhl 31 Juli 1949 jilid 3, disi 174 halmaan 5-6

[14] Muhammad Zia-ul-Haq; menjadikan dirinya sebagai Penguasa Pakistan ke-4 Berdasar UU Darurat dan Presiden Pakistan ke-6 dari Juli 1977 hingga 17 Agustus 1988

[15] Tadzkirah, halaman 327, edisi IV, 2004, terbitan Rabwah