Penganiayaan terhadap Ahmadiyah: Keteguhan Hati dan Doa

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

23 Desember 2016 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Penentangan dan penganiayaan terhadap Jemaat Ahmadiyah dan anggota-anggotanya bukanlah hal baru. Sebagaimana juga penentangan terhadap Jemaat-Jemaat para Nabi juga bukan hal baru. Setan-setan (pembuat kekacauan) berkumpul untuk penentangan ini.  Para Mullah dan pemimpin melontarkan tuduhan tidak berdasar yang beragam, mengherankan dan aneh-enah terhadap para Nabi dan Jemaat mereka demi menghasut oposisi (penentangan) dan menyalakan api kebencian.

Kita menemukan dari penjelasan Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an bahwa semua Nabi dan Rasul telah ditentang. Tidak ada satu Nabi pun yang tidak dimusuhi. Maka dari itu, apa-apa yang dihadapi oleh Jemaat Ahmadiyah bukanlah hal baru. Allah Ta’ala berfirman menjelaskan hal ini dalam Al-Qur’an,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Surah al-An’am, 6: 113)

Firman Allah Ta’ala ini benar hari ini juga bahwa para pemimpin agama yang membuat onar (radikalis dan ekstrimis) menipu orang-orang awam atas nama agama dan menghasut mereka. Beberapa pemimpin juga telah bergabung dengan mereka di beberapa tempat. Mereka menyebarkan desas-desus yang tidak ada dan tidak ada hubungannya dengan kenyataan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as dan Jemaat beliau. Demikian pula, tingkah laku mereka lainnya yang mana dari itu malahan menampakkan kebenaran Jemaat. ejekan dan olok-olokan mereka terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as telah disebutkan oleh Al-Qur’an semuanya dan dikatakan bahwa semua Nabi mengalami hal itu yaitu dituduh mengada-ada, diolok-olok dan diejek. Maka dari itu, penentangan dan penindasan ini menambahkan kekuatan dan keimanan bagi para Ahmadi Muslim.

Sementara sebagian Ahmadiyah menanggung kekejaman dengan keberanian, beberapa orang lagi secara naif mengusulkan bahwa karena tirani dan ketidakadilan telah mencapai puncaknya, penyerangan harus ditanggapi dengan agresi (serangan) balik. Jumlah mereka sedikit bahkan hanya segelintir saja. Namun, mereka menanamkan ide beracun ini kedalam pemikiran kaum muda Ahmadi dengan mengatakan, “Kita harus mengambil jalan duniawi untuk meraih kebebasan kita dan mencapai apa yang kita tuntut.”

Namun, itu termasuk kebodohan dan pandangan salah. Anggota yang mengusulkan tersebut – dikarenakan luapan emosionalnya – telah melupakan ajaran-ajaran mendasar dan prinsip-prinsip dan apa-apa yang Hadhrat Masih Mau’ud as harapkan dari kita. Beliau as mengajarkan kita untuk menanggung tirani dan penindasan dengan kesabaran. Atau mereka ingin membentuk sebuah kelompok dalam Jemaat dalam kondisi kesedihan. Setiap kali Jemaat maju, para penentang menerapkan berbagai jalan utuk menyerang kita dan mereka mengeluarkan berbagai jalan. Merupakan suatu hal yang mungkin mereka [penentang] juga menjadikan salah satu jalan tersebut sebagai cara untuk menyerang.

Allah Ta’ala telah menakdirkan berupa janji-janji kemajuan, kemenangan dan perkembangan untuk Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun itu takkan dicapai dengan kekerasan demi kekerasan, melainkan dengan menerapkan kecintaan, kasih sayang dan doa. Inilah yang beliau as nasehatkan berkali-kali bahwa kemajuan Jemaat dan kehancuran musuh ialah melalui doa-doa. Insya Allah. maka dari itu, kalian harus menyungkurkan diri di istana-istana Allah menyesuaikan diri dengan ajaran-ajaran Allah atas diri kalian dan menghiasi diri dengan ketakwaan. Hadhrat Masih Mau’ud as diutus sebagai Amir (pemimpin) perdamaian sebagaimana telah ditetapkan demikian atas beliau as, dan beliau as bersabda kepada para pengikut beliau as sejak awal bahwa jalan beliau as itu tidak mudah dan bukan bebas dari masalah. Bahkan, jalan tersebut sangat kasar dan dilengkapi dengan kesulitan-kesulitan. Anggota akan menghadapi kehilangan dan kerugian dari segi emosi, kekayaan, dan kehidupan.

Para anggota Jemaat – dengan karunia Allah – telah mempersembahkan setiap jenis pengorbanan di jalan ini. Mereka menuliskan surat sebagaimana telah saya kabarkan dalam khotbah-khotbah saya yang lalu bahwa mereka tidak takut akan serangan para musuh dan iman mereka bertambah kuat dibanding sebelumnya.  Namun, jika seseorang dari mereka berbicara yang bertentangan dengan ajaran Jemaat maka ini adalah hasutan fitnah. Mereka memberi kesempatan pada musuh untuk menambahkan permusuhannya dan merusak kita. Khususnya, jika perkataan semacam itu tersebar melalui media-media sosial seperti Twitter, Whatsapp dan Facebook.

Kita hingga sekarang bertindak berdasarkan ajaran kita ini bahwa kita tidak akan membalas kekejaman dan kebuasan dengan tindakan yang serupa dan kita tidak akan pernah mengangkat senjata melawan pemerintah-pemerintah. Perlawanan kita ialah dengan senjata doa-doa saja. Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, Hadhrat Masih Mau’ud as  telah mengajarkan, “Jika kalian ingin meraih kesuksesan dengan pertolongan Allah Ta’ala dan kecintaan-Nya, maka kalian takkan dapat mencapainya dengan cara menyerang musuh dengan tindakan yang sama dari mereka. Melainkan kalian harus mencari pertolongan Allah dengan kesabaran dan doa-doa. Dalam hal itulah kalian akan meraih keberhasilan-keberhasilan.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda di kesempatan lain dengan sebuah bait Persia,

“Wahai orang yang kusayang! Seseorang takkan berhasil hingga status itu tanpa ikhlas dan jujur.

Jadilah kamu setetes murni, sebab setetes murni itulah yang berubah menjadi mutiara.”

Kemudian, beliau as bersabda,

“Wahai orang-orang yang kusayangi! Jika kalian telah masuk ke dalam silsilah baiat saya, semoga Allah Ta’ala memberi taufik pada kalian yang membuat kalian dikasihi dan diridhai-Nya. Jumlah kalian saat ini sedikit sekali. Kalian dipandangi dengan begitu merendahkan. Kalian melewati masa ujian sesuai Sunnah yang berjalan sejak lama. Dari setiap segi dan arah akan ada usaha membuat kalian tergelincir. Kalian akan disakiti dengan segala cara yang mungkin. Kalian akan dipaksa mendengarkan perkataan-perkataan menyakitkan. Dan, setiap orang yang menyakiti kalian dengan lidah dan tangannya beranggapan telah menolong Islam. (Kebanyakan penentang kita berasal dari kalangan awam yang memusuhi kita karena kurangnya ilmu. Para ulama menanamkan pemikiran tersebut ke otak mereka bahwa memusuhi Ahmadiyah merupakan khidmat besar bagi Islam.)

Bersama kalian ada juga ujian-ujian yang turun dari langit dan diuji dari tiap pintu. Dengarkanlah saya sekarang! Bukanlah jalan kemenangan dan keunggulan kalian dengan berlidah kasar, ejekan dibalas ejekan, cacian dibalas cacian. Sebab, dengan kalian bertindak itu, hati kalian akan mengeras dan pada kalian tidak ada apa-apa kecuali perkataan kosong yang membuat Allah murka dan benci. Janganlah kalian  memanggil dua kutukan atas diri kalian, pertama la’natul Khaaliq (kutukan dari Yang Maha Pencipta) dan kedua la’natul khalq (kutukan dari orang-orang) juga.”[41]

Maka dari itu, kita harus mengamalkan ajaran-ajaran yang Hadhrat Masih Mau’ud as berikan pada kita dan mengikuti bimbingan yang beliau as bawa untuk kita.  Oleh karena itu, kita tidak menanggapi pelecehan dengan pelecehan, gangguan dengan gangguan yang sama dan main hakim sendiri. Sehubungan dengan Muslim Ahmadi, hukum di Pakistan berdiri di samping penentang bukannya mendukung kita. Jaminan orang Ahmadi yang teraniaya tidak diterima di pengadilan karena penegakan hukum di sana lemah. Pengadilan tidak berdaya di depan para ulama. Ulama mengancam hakim dan hakim terus menunda sidang dan keputusan karena takut. Para hakim tidak menegakkan hukum. Tidak ada lembaga penyelamat hukum yang memanggil kita. Hukum di sana tidak siap untuk menegakkan keadilan. Sementara itu, bukanlah termasuk ajaran kita untuk menimbulkan kerusuhan. Oleh karena itu, di sana hanya ada satu jalan yaitu teruslah kuat menghadap di ambang pintu Ilahi dan terus melakukan upaya berjamaah untuk membawa doa-doa Anda mencapai puncaknya.

Hadhrat Masih Mau’ud as,

“Seseorang terkadang menghadapi ujian demi ujian diantara masa doa dan pengabulannya. Terkadang ujian itu mencapai puncak teriknya. Namun, orang yang berfitrat sabar dan berlangkah teguh mencium harum wangi terbaik dari Tuhannya bahkan ketika tengah dalam ujian-ujian dan musibah-musibah; dan mereka melihat dengan pandangan firasat bahwa kemenangan akan datang setelahnya. Dalam datangnya ujian-ujian terkandung rahasia yaitu supaya lebih banyak berdoa yang sungguh-sungguh dan tulus. Hal demikian karena telah ditetapkan bahwa saat dalam keadaan tertindas dan tertekan maka jiwa akan meleleh dan itulah termasuk sarana-sarana terkabulnya doa. (artinya, hati seseorang akan mencair sesuai kerendahan hatinya dan keadaan ini Allah ciptakan guna pengabulan doanya) Oleh karena itu, kita tidak boleh menjadi cemas dan berprasangka buruk kepada Tuhan kalian dengan tidak sabar dan tidak teguh.” [42]

Inilah yang harus kita lakukan. Termasuk hal yang pasti bahwa janji-janji Allah Ta’ala terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as itu benar dan hak. Termasuk hal yang pasti bahwa Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa juga. Setiap orang dari kita harus memeriksa diri dan melihat apakah ia telah mencapai tingkat doa yang Allah ingin lihat dari kita. Apakah – bukannya memandang segi-segi duniawi – ruhani kita telah mencapai tingkatan yang dengan itu doa-doa kita dikabulkan. Tidak ada yang tahu tolok ukur-tolok ukur ini kecuali Allah. Kita tidak mampu mengetahuinya. Oleh karena itu, salahlah mengatakan bahwa kita telah meraih tingkatan-tingkatan ini namun bersamaan dengan itu doa-doa kita tidak berpengaruh dan dikabulkan. Kita tidak mengetahui. Allah-lah Yang Lebih Mengetahui. Sesungguhnya kita berpegang teguh pada tali Allah dengan sabar dan doa. Jika seseorang dari kita kosong dari kesabaran maka rugilah jiwanya.

Mayoritas Ahmadi yang menghadapi penganiayaan di berbagai Negara, khususnya di Pakistan [yang relatif sering diserang] mereka berlaku sabar, berdoa dan terus memiliki iman yang kuat. Justru orang-orang yang jauh (luar Pakistan) dan terjaga dari musibah dan kesedihan lahiriah yang lebih terganggu [melihat kezaliman terhadap Jemaat] sampai-sampai mengatakan soal pembalasan atas penyerangan. Jika Anda menyayangi saudara-saudara Anda [terutama yang diserang] maka berpegang teguhlah pada tali Allah.

Perintah dari Hadhrat Masih Mau’ud as kepada kita ialah,

“Jika ada orang yang mencaci-maki kita maka keluhkanlah itu kepada Allah Ta’ala saja bukan ke pengadilan lainnya. Dengan hal itu, itu termasuk menjalankan kewajiban berbelas kasih untuk umat manusia.” [43]

Termasuk kewajiban di dalamnya ialah bersikap simpati saat menerima cacian. Ringkasnya, setiap orang dari kita harus berpegang teguh pada kesabaran dan doa, baik itu yang secara langsung menerima penindasan atau pun tidak; dan ini adalah tanda keimanan. Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan nasehat bahwa berjalan bersama beliau as bukanlah hal yang mudah.

“Jika dari antara kalian ada yang tidak ingin berjalan bersama saya maka pisahkanlah diri dari saya. Saya tidak tahu berapa lagi yang akan saya potong [pisahkan] dari hutan-hutan menakutkan dan padang-padang rumput berduri. Mengapa para pemilik kaki-kaki nan lembut membebani diri mereka sendiri dengan bersama saya secara sia-sia? Mereka yang berasal dari saya tidak akan merendahkan diri saya selamanya disebabkan berbagai sebab, musibah-musibah, penghinaan-penghinaan, dan ujian-ujian Samawi. Mereka yang bukan berasal dari saya hanya secara kosong mendakwakan diri bersahabat dengan saya. Sebab, mereka akan memisahkan diri dari saya dalam waktu dekat dan nasib mereka lebih buruk dari keadaan mereka sekarang.

Apakah hal yang mungkin bahwa kita gentar dengan gempa-gempa dan apakah mungkin kita takut dengan ujian-ujian di jalan Allah? Akankah kita memutuskan hubungan dengan Tuhan kita tercinta dikarenakan ujian-ujian yang dari Dia juga? Tidak sama sekali! Kita takkan memutuskan-Nya. Dengan karunia-Nya semata dan rahmat-Nya.

Silakan meninggalkan saya bagi mereka yang ingin meninggalkan saya. Bagi mereka ada ucapan selamat tinggal. Namun, mereka harus ingat, ketika mereka itu kembali suatu hari setelah prasangka buruk dan pemutusan hubungan itu, dengan kembalinya itu, mereka tidak akan mendapatkan kehormatan dari Allah sebagaimana pada orang-orang yang tetap tinggal setia [dalam Jemaat] karena stigma prasangka buruk dan pengkhianatan itu sangat buruk.”[44]

Hadhrat Masih Mau’ud as kemudian menjelaskan bahwa tolok ukur orang beriman sangat tinggi dan mereka menghadapi setiap jenis keburukan bersamaan dengan musuh menimpakan musibah-musibah pada mereka. Mereka tidak mempedulikannya dan memaafkan orang lain meski ditimpakan kesakitan dan kesedihan atas mereka. Mereka tidak menghasut fitnah dan kerusuhan bahkan menjadi duta-duta perdamaian dan keamanan senantiasa. Beliau as bersabda:

“Ketahuilah dengan yakin bahwa orang beriman yang bertakwa tidak terjadi keburukan di hatinya. Setiap kali seseorang bertakwa maka ia tidak suka menghukum atau mencederai hak seseorang. Seorang Muslim tidak hanya tidak mempunyai pelabuhan dendam di hatinya. Setiap kali seseorang bertambah ketakwaannya, bertambah pula rasa simpatinya dan ia tidak ingin menimpakan hukuman dan kesakitan bahkan kepada musuhnya. Sementara ia memperolah kebencian di kalangan bangsa-bangsa lainnya; dalam arti hati mereka yang tidak kosong dari dendam dan selalu saja mengusahakan pembalasan atas orang lain. Saya lihat dengan mata sendiri apa-apa yang orang-orang lakukan selalu berupaya menyakiti saya namun saya selalu siap memaafkan ribuan kesalahan mereka. Kalian harus, wahai orang-orang yang berkaitan dengan saya, ingatlah, termasuk kewajiban kalian untuk bersimpati kepada tiap orang, terlepas agama apa pun dia, berbuat baiklah tanpa membeda-bedakan.”[45]

Di kalangan umat Muslim lainnya tidak terdapat Mursyid (pembimbing rohani) sehingga mereka menjadi rusak dan menjadi dari ketakwaan. Namun, kita para Muslim Ahmadi yang dianugerahi Allah Ta’ala seorang Mursyid dalam corak Masih Mau’ud harus menjadikan setiap amal perbuatan kita sesuai ajaran Islam dan setiap perkataan kita didasari oleh ketakwaan. Kita harus menjauhi gejolak perasaan yang sementara dan memeriksa hati kita apakah ada keluhuran ketakwaan di dalamnya. Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda menjelaskan apa itu ketakwaan, tanda-tanda hakikinya dan bagaimana penzahiran orang yang bertakwa.

“Kejahiliyahan (ketidaktahuan dan ketidakpedulian) tidak dapat menjadi bagian dari ketakwaan hakiki. Ketakwaan hakiki disertai oleh cahaya sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (Surah al-Anfal, 08:30), يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ dan juga berfirman (Surah al-Hadid: 57:29), وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ – ’Hai orang-orang yang beriman, jika kamu teguh dalam ketakwaan dan kamu berusaha menegakkan ketakwaan karena Allah, Dia akan mengadakan bagimu suatu pembeda yang jelas dengan orang-orang selain kamu, perbedaannya ialah, kamu akan diberi cahaya yang beserta cahaya itu kamu berjalan di semua jalan, itu artinya cahaya itu meliputi semua perbuatan, perkataan, kekuatan dan indra kamu.

Di akal kamu akan ada cahaya, di perkataanmu ada cahaya, di dalam mata kamu pun ada cahaya, di telingamu pun ada cahaya, di lidah kamu pun ada cahaya dan di dalam penjelasan, di tiap gerak dan diammu pun terdapat cahaya dan di jalan mana pun kamu lewati, jalan itu akan penuh dengan cahaya. Ringkasnya, di semua kekuatan dan indramu akan dipenuhi cahaya. (Artinya, setiap gerakan darimu, langkahmu, tubuhmu akan mengupayakan nur atau mengitarinya dan pemikiranmu dibuat umumnya dengan cahaya dan penuh dengan itu.) dan kamu akan berjalan di dalam cahaya seluruhnya.”[46]

Jika perkataan kita seperti orang-orang lainnya yang hanya dengan semangat saja tanpa akal sehat maka ini bukanlah ketakwaan. Jika dalam perkataan kita dan perbuatan kita tidak tampak nur Allah maka mau tak mau kita harus mencemaskan ketakwaan kita. Dan dalam keadaan banyak ketidakbenaran seperti ini, jika kita tidak mengamalkan pesan-pesan Imam Zaman dan pengarahan beliau as maka kita akan menjauh dari cahaya yang Allah takdirkan bagi kita dengan syarat ketaatan.

Kita harus menghitung-hitung diri kita apakah telah mencapai tingkat ketakwaan kita dengan menyaksikan cahaya Allah yang kita perlukan? Apakah doa-doa kita mencapai derajat sesuai yang Allah inginkan para pendoa sejati mencapainya? Jika memang itu demikian maka pasti kita meyakini bahwa pertolongan Allah itu dekat. Dia akan menciptakan Negara bagi kita dan Dia akan sediakan bagi kita tanah-tanah juga. Insya Allah.

Jika kita ingin pencapaian itu tanpa hal tersebut maka takkan meraih apa-apa dan di depan kita terdapat contoh gerakan-gerakan yang ingin mendirikan negara Islam dengan menghabiskan sejumlah besar sumber daya jutaan bahkan milyaran dolar namun gagal kecuali menghasilkan hanya fitnah, kezaliman dan kebuasan saja. Jika mereka mendirikan sebuah otoritas sementara lalu itu tergelincir dari tangan mereka. Lalu mereka akan disebut sebagai orang yang melecehkan Islam, bukannya salah seorang pengkhidmat Islam.

Hal demikian karena layanan dan penyebaran Islam ditakdirkan untuk dicapai melalui Hadhrat Masih Mau’ud as dan para pengikutnya. Hal itu hanya bisa berhasil hanya dengan mengikuti jejak utusan Allah Ta’ala dan jika tanpa itu maka seberapa pun usaha duniawi seseorang maka itu takkan berhasil. Sebab, padanya tidak ada kekuatan dan sarana guna mencapai sesuatu.

Namun, jika kita bertakwa dan menumbuhkan rasa takut akan Allah dalam hati kita lalu membuat doa-doa kita mencapai puncaknya guna mendapatkan nur dan kekuatan lalu tidak menerima keagungan kekuatan amal perbuatan sesuai apa yang dijelaskan Hadhrat Masih Mau’ud as dalam menjelaskan Al-Qur’an, dan demikian pula Allah Ta’ala berfirman إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُم ‘Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian ialah yang bertakwa.’ (Surah al-Hujuraat:14) maka apakah Allah Ta’ala itu tidak benar? Dia menyebut seseorang itu bertakwa lalu Dia tinggalkan orang itu direndahkan dan terhina di hadapan manusia? Tidak demikian! Hal ini mustahil. Tapi, suatu hal yang pasti bahwa para Nabi dan Jemaat mereka menghadapi penentangan dari penduduk dunia sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as juga. Namun, bukankah kegagalan dan kerugian senantiasa menjadi bagian para musuh? Bukankah setiap kali seseorang mencegah kemajuan Jemaat atau setiap kali mereka tempatkan rintangan di jalan kemajuan Jemaat, perkembangan dan kemajuan Jemaat itu menjadi lebih dari sebelumnya dan senantiasa demikian?

Penentangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as telah dilakukan dengan sokongan orang dalam juga namun Jemaat tetap saja maju ke depan hari demi hari dan sekarang telah berada di 209 negara di dunia. Setiap kali musuh berusaha untuk menekan Jemaat di suatu tempat, Allah Ta’ala memberi mereka ruang untuk menyebar di tempat lain.

Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia tidak akan meninggalkan seseorang tanpa pemuliaan, yaitu yang mengutamakan ketakwaan dibanding umumnya manusia. Apakah orang yang Dia Sendiri utus akan Dia tinggalkan ataukah Dia tinggalkan orang itu tanpa memenuhi janji-Nya bagi Jemaatnya sementara itu kita saksikan masih saja Dia dukung sejak satu seperempat abad lalu? Tidak! Tidak mungkin walau bagaimana pun. Namun, setiap hal ini akan tercapai sebagai hasil keteguhan dan kekokohan sebagaimana sabda Hadhrat Masih Mau’ud as.  Ini tak diragukan lagi. Selama kita masih beriman kepada Allah Ta’ala dengan kesabaran dan ketekunan tentu kita akan saksikan para musuh digagalkan dan dihinakan dengan izin Allah.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Jika kehidupan kalian, kematian kalian, setiap gerakan kalian, kelembutan kalian, ketegasan kalian itu demi Allah semata.” (Artinya, janganlah kemarahan kalian itu diakibatkan oleh kepentingan pribadi semata dan janganlah kegembiraan kalian itu karena memandang benda-benda duniawi melainkan jadikanlah itu semua karena Allah saja) “…dan janganlah kalian meremehkan Allah Ta’ala di tiap musibah dan kepahitan; dan janganlah memutuskan hubungan kalian dengan-Nya; melainkan kalian harus maju kepada-Nya. Kebenaran dan saya katakana kebenaran….sesungguhnya kalian dengan itu akan menjadi umat pilihan Allah Ta’ala. Kalian manusia seperti saya. Tuhan saya Tuhan kalian juga. Janganlah kalian sia-siakan kekuatan kalian nan suci. Jika kalian senantiasa kembali kepada Allah maka saya kabarkan bahwa sesuai dengan kehendak Allah maka kalian akan menjadi umat pilihan Allah Ta’ala. Resapkanlah keagungan Allah di hatimu. Janganlah merasa cukup dengan pernyataan Tauhid kepada-Nya dengan lidah kalian saja melainkan harus dengan amal perbuatan juga.”[47]

Setiap orang dari kita harus membuat perubahan baik dalam jiwanya. Siapa  yang lemah harus memeriksa dirinya. Mereka yang beranggapan telah melakukan hal baik harus juga mencari jalan lain guna memajukan diri dalam kebaikan-kebaikan sebab Allah Ta’ala-lah Yang Lebih Mengetahui mana yang lebih baik perbuatannya dan hingga sampai mana kita telah mencapai tujuan kita. Allah Ta’ala tidak senang bila kita diam saja di satu tempat. Seseorang hendaknya jangan sampai beranggapan telah banyak berbuat baik dan telah juara dalam kebaikan-kebaikan atau telah teguh di atasnya. Melainkan, ia harus fokus pada mempertinggi tingkatannya senantiasa.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Allah Ta’ala telah berfirman kepada saya supaya saya mengabari Jemaat saya bahwa mereka yang beriman dengan keimanan yang tidak bercampur keduniaan, yaitu keimanan yang tidak tercampur kemunafikan, kepengecutan dan bukan yang kosong dari ketaatan; maka mereka itulah yang mendapat ridha dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman bahwa mereka itulah yang telah berjalan dengan langkah yang benar.”[48]

Oleh karena itu, kita memerlukan berjalan di jalan ini dengan ‘langkah yang benar’ supaya kita menyaksikan pemandangan kemenangan-kemenangan yang dipercayakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan yang telah ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Masa ujian itu pasti akan berakhir. Namun, di sana diperlukan peningkatan standar ketakwaan kita secara terus-menerus supaya masa ujian berakhir cepat. Suatu hal yang tak diragukan bahwa Allah Ta’ala telah mendirikan Jemaat ini di zaman ini guna meninggikan kalimat Islam dan menyebarkan Islam di dunia dan supaya Islam meraih kemenangan diatas seluruh agama. Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa Jemaat beliau as akan berkembang dan menyebar dan tidak ada kekuatan duniawi yang mampu menghentikannya.

Hadhrat Masih Mau’ud as memperoleh kabar suka dari Allah dan mengatakan,

“Janganlah berpikiran Dia akan menyia-nyiakan kita. Kalian adalah benih yang ditanam oleh tangan-Nya. Tuhan berfirman bahwa benih ini akan bersemi dan tumbuh serta cabang-cabangnya akan menyebar ke segala arah dan akan menjadi sebuah pohon yang besar.”[49]

Kita berdoa kepada Allah supaya setiap orang dari kita adalah cabang segar dari pohon ini, dan mencapai apa-apa yang diharapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bagi Jemaatnya, dan kita maju dalam kesalehan dan semua serangan musuh digagalkan dan kita dalam kesabaran dan berdoa.

Setelah shalat Jumat saya akan shalat jenazah gaib untuk Almarhum Tn. Malik Khalid Javid putra Tn. Malik Ayyub Ahmad dari penduduk desa  Dulmiyal, wilayah Cakwal (di Pakistan). -An ia telah meninggal pada pada 12 Desember 2016 di masjid kami di desa Dulmiyal pada usia 69, setelah serangan jantung. إنا لله وإنا إليه راجعون kita semua milik Allah dan kepada-Nya kita kembali. Laporan menjelaskan bahwa pada 12 Desember 2016 sesuai dengan 12 Rabi’ul Awwal, para penentang Jemaat, sesuai rencana yang disengaja, mereka mengadakan demonstrasi besar di desa  Dulmiyal, wilayah Cakwal. Mereka menyerang Darudz Dzikr milik Jemaat. Mereka mengangkat slogan ofensif untuk memprovokasi orang. Mereka mulai melemparkan batu dan melanggar gerbang masjid. Beberapa Ahmadi tengah hadir di sana, termasuk almarhum Tn. Malik Khalid Javid.

Kerabat almarhum mengatakan bahwa ia tidak sakit penyakit jantung sebelumnya, dan belum pernah menggunakan obat-obatan untuk jantung. Almarhum berada di dalam masjid sementara para penentang mulai melancarkan serangan terhadap masjid Jemaat. Almarhum berulang-ulang berkata sebelum wafat: “Saya tidak tahan bahasa kasar dan keras ditujukan sampai batas ini terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as.” Almarhum pingsan saat tengah mengulangi kata-kata ini. Karena kemacetan massa di luar masjid tidak mungkin baginya untuk ke rumah sakit dengan ambulans, dan sementara itu ia meninggal. إنا لله وإنا إليه راجعون. Ahmadi pertama dalam keluarga Almarhum adalah neneknya, Ny. Manu Bey, yang merupakan saudari Maulwi Karam Dad, Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as.

(Di sini Hadhrat Amirul Mu-minin ayyadahuLlah Ta’ala bi nashrihil ‘aziiz bersabda, “Informasi tentang almarhum yang saya terima dari Markaz menulis dengan istilah rafiq (kawan) Hadhrat Masih Mau’ud as bukannya Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka juga menulis ‘Darudz Dzikr (tempat berdzikir) bukan kata Masjid, karena pembatasan yang diberlakukan oleh pemerintah pada kita di Pakistan. Tetapi ketika kantor Sekretaris pribadi menyajikan hal ini kepada saya seharusnya kata dan kalimatnya sudah dibetulkan dan menulis dengan istilah Islam yang benar.”)

Almarhum Ahmadi oleh kelahiran, dan memiliki akhlak  yang terpuji. Kecintaan dan dedikasinya untuk Khilafat dan ketaatan mutlak untuk Khalifah merupakan kualitasnya yang luar biasa. Dia berkomitmen untuk shalat Tahajjud sebagai tambahan untuk shalat lima waktu dan membaca Alquran. Dia tinggal di Sharjah untuk mencari nafkah selama hampir dua puluh tahun, dan kembali dari situ sebelum hampir dua puluh tahun lalu. Almarhum menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid, dan sementara itu, ia melakukan berbagai pekerjaan untuk mengkhidmati Jemaat, dan selalu pelopor dalam menjaga masjid. Beliau mencintai Al-Quran dengan luar biasa. Almarhum telah mendesak putranya, Tn. Subhan Ayub untuk menghafal Al-Quran. Larut saat menjabat sebagai sekretaris Jemaat untuk mengajarkan Al-Quran, telah bertugas di berbagai posisi lain juga. Almarhum meninggalkan jandanya, Ny. Udzran Beghum, dan dua putra, Tn. Salman Khalid, yang tinggal di sini di Inggris, Tn. Hafizh Subhan Ayub dan dua putri: Ibu Nada Maryam dan Ms. Hura Maryam. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala untuk menaikkan derajat-derajat Almarhum dan mengabadikan perbuatan baik dalam diri anak-anak beliau juga.