Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 05 Januari 2018 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Di banyak tempat dalam al-Quran, kita menemukan bahwa Allah Ta’ala menarik perhatian orang-orang beriman kearah pengorbanan harta. Salah satu diantaranya ialah, ۞ لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۗ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنفُسِكُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِنْ خَيْرٍ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ () “Bukanlah tanggungjawab engkau memberi petunjuk kepada mereka, tetapi Allah swt-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan harta apapun yang kamu belanjakan maka manfaatnya adalah untuk dirimu, dan sebenarnya tidaklah kamu membelanjakan melainkan untuk mencari keridhaan Allah swt. Dan harta apa pun yang kamu belanjakan niscaya akan dikembalikan kepadamu dengan penuh dan kamu tidak akan dianiaya.” (Surah al-Baqarah, 2:273).

Di samping itu, ciri khas dari orang-orang beriman juga disebutkan bahwa mereka menafkahkan harta tersebut semata-mata demi meraih ridha Allah. (al-Quran karim) menyatakan,

وَمَا تُنفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ۚ “Tidaklah kamu menafkahkannya melainkan untuk mencari keridhaan Allah.” (2:273) Jadi betapa bahagianya orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah Ta’ala dengan pendekatan seperti itu.

Dengan karunia Allah, yang membelanjakan harta guna meraih ridha Allah pada hari ini di dunia ini tiada lain kecuali para Ahmadi. Memang ada orang-orang yang sesuai kemampuannya membelanjakan harta demi meraih ridha Allah namun dari segi berjamaah, hanya Jemaat Ahmadiyah-lah satu-satunya yang para anggotanya membelanjakan harta guna meraih ridha Allah demi menolong orang-orang fakir-miskin, orang-orang yang memerlukan dan demi menyebarluaskan agama Allah serta menyajikan gambaran Islam hakiki di hadapan dunia.

Mereka membelanjakan harta mereka meski dalam keadaan sempit harta. Hal yang sebenarnya, setiap harta yang mereka belanjakan ini, baik itu demi menolong seseorang atau demi agama, dibelanjakan demi meraih ridha Allah Ta’ala. Allah Ta’ala sama sekali tidak memerlukan harta bagi diri-Nya sendiri. Makna sebenarnya dari membelanjakan harta semata-mata demi diri-Nya adalah untuk kemajuan hamba-Nya dan demi keunggulan agama-Nya.

Dengan meriwayatkan dari Allah Ta’ala, Rasulullah (saw) bersabda (dalam hadits Qudsi), ” يَا ابْنَ آدَمَ ، أَوْدِعْ مِنْ كَنْزِكَ عِنْدِي وَلا حَرَقَ ، وَلا غَرقَ ، وَلا سَرَقَ أُوفِيكَهُ أَحْوَجُ مَا تَكُونُ إِلَيْهِ ” ‘yaa bna Aadama, audi’ min kanzika ‘indii wa laa haraqa, wa laa gharaqa, wa laa saraqa au fiikahu ahwaju maa takuunu ilaihi.’ – “Wahai anak Adam! Simpanlah hartamu pada-Ku dan beristirahatlah dengan tenang karena hartamu tidak akan dimakan api, tidak akan tenggelam dalam air, dan tidak akan dicuri oleh pencuri. Aku akan mengembalikan semua harta yang kamu simpan kepada-Ku, pada Hari ketika kamu amat sangat membutuhkannya.”

Ini artinya, apapun yang secara lahiriah kita belanjakan di jalan Allah guna meraih ridha-Nya sebenarnya tersimpan di dalam rekening kita sendiri. Dan ketika kita memerlukannya, Allah Ta’ala akan mengembalikan itu semua kepada kita.

Demikian juga, dalam sebuah riwayat Rasulullah (saw) bersabda, كُلُّ امْرِئٍ في ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ ‘Pada hari kebangkitan, orang-orang yang membelanjakan harta di jalan Allah akan berada dibawah naungan harta yang mereka belanjakan di jalan Allah hingga penghisaban berakhir.’

Namun, dalam hal itu Rasulullah (saw) pun menetapkan syarat juga bahwa Allah Ta’ala tidak menyukai harta yang kotor, yaitu yang didapat dengan cara tidak benar. Dalam pandangan Allah, tidak akan diterima pengorbanan harta kecuali pembelanjaan harta di jalan Allah dengan harta yang baik yang didapat dengan jalan baik dengan usaha dan keringat orang itu.

Oleh karena itu, kita haruslah ingat bahwa harta kita harus senantiasa tetap bersih.

Perhatikanlah! Para sahabat Rasulullah (saw) baik saat kaya maupun miskin berusaha mencari harta kekayaan dengan mengeluarkan keringat dengan susah payah semata-mata demi meraih ridha Allah Ta’ala. Selanjutnya, mereka berinfak (membelanjakan harta) di jalan Allah dalam rangka menanggapi seruan Nabi Muhammad saw untuk berinfak dan bersedekah.

Dari Abu Mas’ud Al-Anshari meriwayatkan: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَرَنَا بِالصَّدَقَةِ انْطَلَقَ أَحَدُنَا إِلَى السُّوقِ فَيُحَامِلُ فَيُصِيبُ الْمُدَّ وَإِنَّ لِبَعْضِهِمْ الْيَوْمَ لَمِائَةَ أَلْفٍ “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka salah seorang diantara kami (yang miskin) berangkat ke pasar dan menjadi kuli angkut, hingga ia mendapatkan upah satu mud (sekitar 7 ons, hampir satu kilo) untuk ia sedekahkan. Namun kini sebagian orang pada zaman sekarang memiliki 100 ribu dirham.”

Ada satu riwayat berkaitan dengan Hadhrat Abu Bakar Siddiq (ra) yang menyebutkan, أسلم أبو بكر يوم أسلم وله أربعون ألف درهم ketika beliau baru menerima Islam, beliau memiliki simpanan sebesar 40 ribu dirham atau ashrafis (satuan mata uang dari emas) di luar dari bisnis dan propertinya. Beliau bertekad menafkahkan hartanya di jalan Allah. Harta beliau tinggal 500 dirham ketika hijrah. Jika kita bandingkan satuan uang emas Ashrafi kala itu dengan nilai mata uang hari ini, mungkin nilainya mendekati 11 atau 12 juta poundsterling. Jumlah ini melebihi jumlah total uang Waqf Jadid kita sedunia.

Demikianlah keteladanan para Sahabat Nabi saw. Jika mereka tidak memiliki harta, mereka berusaha dengan keringat sendiri guna membayar candah baik hanya beberapa penny atau sen dengan itu. Mereka tetap berusaha membayar candah meski kondisi keuangannya tidak berlimpah harta. Siapa diantara mereka yang memiliki berlimpah harta, mereka menafkannya dengan berlimpah juga tanpa takut akan miskin.

Demikianlah keteladanan para Sahabat Nabi saw. Jika mereka tidak memiliki harta, mereka berusaha dengan keringat sendiri guna membayar dengan itu meski kondisi keuangannya tidak berlimpah harta. Siapa diantara mereka yang memiliki berlimpah harta, mereka menafkannya dengan berlimpah juga tanpa takut akan miskin.

Lalu, kita juga melihat hal tersebut diantara para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Kita mendengar peristiwa tentang pengorbanan harta Hadhrat Hakim Nuruddin, Khalifatul Masih I (ra), yang mana Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun menyebutkan bahwa beliau (ra) telah banyak berkorban. Demikian pula Doktor Khalifah Rasyiduddin (ra) – ayah dari Sayyidah Ummu Nashir (ibu Hadhrat Khalifatul Masih III rha) – saat mendengar seruan Hadhrat Masih Mau’ud (as) segera otomatis berkata, “Seseorang yang mendakwakan dengan dakwa seagung ini tidak mungkin seorang pembohong.” Lalu, beliau berbaiat.

Beliau terdapan dalam melakukan pengorbanan tak terhitung jumlahnya. Beliau (ra) berprofesi sebagai seorang dokter dan juga seorang pegawai negeri di pemerintahan. Beliau cukup kaya raya dengan penghasilan yang amat besar. Hadhrat Masih Mau’ud (as) memasukannya kedalam dua belas Hawari (murid dekat) beliau.

Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) mengatakan, “Pengorbanan beliau ra amat banyak sehingga Hadhrat Masih Mau’ud (as) memberikan kesaksian dengan bersabda, ‘Anda telah melakukan pengorbanan sedemikian besarnya demi Jemaat ini, jadi Anda selanjutnya tidak perlu melakukan pengorbanan apapun.’”

Demikianlah, orang-orang itu telah memberikan pengorbanan besar. Hadhrat Masih Mau’ud (as) memberikan kesaksian dengan sabda tersebut. Meski demikian, beliau ra tetap tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berkorban. Bahkan sebaliknya, beliau (ra) terus menerus melakukan pengorbanan.

Ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) digugat secara hukum di pengadilan Gurdaspur, beliau (as) menyampaikan saudara-saudara Jemaat bahwa biayanya meningkat untuk pengadilan dan biaya Darudh Dhiyaafah (penyambutan dan akomodasi tamu). Hal demikian karena Darudh Dhiyaafah dijalankan di Gurdaspur dengan keberadaan Hadhrat Masih Mau’ud (as) di sana. Demikian pula Darudh Dhiyaafah masih berjalan di Qadian. Dengan melihat adanya dua Darudh Dhiyaafah ini, beliau (as) meminta saudara-saudara Jemaat untuk membayar candah.

Tn. Khalifah Rasyidudin yang pada hari yang sama itu secara kebetulan telah menerima uang gaji dan mengetahui seruan Hadhrat Masih Mau’ud (as) kepada para anggota Jemaat, lalu mengirimkan seluruh uang gajinya tersebut kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) sebesar 450 rupes, dan saat itu merupakan jumlah yang sangat besar, setara dengan ratusan ribu Rupees hari ini [puluhan juta rupiah di Indonesia saat ini – penerjemah]. Kawannya berkata kepada Tn. Khalifah Rasyidudin bahwa beliau (ra) seharusnya menyimpan sedikitnya untuk keperluan rumah tangga dan keluarganya. Atas hal tersebut beliau menjawab, “Al-Masih Rabbani mengatakan agama memerlukan pengorbanan harta, maka untuk apa lagi saya harus menyimpannya? Jadi, apabila hal itu diperlukan demi agama, maka segalanya akan tertuju pada agama.”

Begitu pula, Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga menyebutkan dengan kecintaan pengorbanan beberapa Ahmadi yang miskin. Beliau (as) bersabda, “Saya melihat ketulusan dan kasih sayang dari para Jemaat saya dengan takjub karena orang-orang yang sangat miskin (melarat) diantara mereka seperti Mian Jamaludin, Khairuddin, dan Imamuddin asal dari Kashmir yang tinggal di dekat desa saya merupakan tiga orang saudara (sahabat) yang amat miskin. Mereka mungkin memiliki upah sebagai penghasilan sejumlah tiga hingga empat anna (satu Anna = 1/16 Rupee, 16 Anna berarti 1 Rupee) setiap harinya, tapi mereka aktif berkontribusi dalam pembayaran candah setiap bulannya.”

Lebih jauh Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Saya juga tercengang dengan ketulusan sahabat mereka, Mian Abdul Aziz, seorang pemungut pajak tanah pertanian. Meskipun amat miskin, ia memberikan 100 rupes untuk candah hari itu, dan berkata, ‘Saya ingin membelanjakan uang ini di jalan Allah Ta’ala.’”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Orang miskin ini bisa jadi mengumpulkan seratus rupee ini dalam beberapa tahun, tetapi kecintaannya kepada Tuhan menanamkan gairat untuk mendapatkan ridha Allah Ta’ala dalam dirinya.”

Saya telah menyajikan dua peristiwa pengorbanan harta dari riwayat hidup para Shahabat Nabi Muhammad saw. Saya juga menyampaikan satu atau dua peristiwa dari riwayat hidup para Shahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Inilah mata rantai pengorbanan harta yang berlandaskan perintah Ilahi dan dengan karunia Allah Ta’ala, bahkan hingga hari ini hal tersebut dapat kita temukan dalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as) ini. Allah Ta’ala telah menanamkan kedalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as) pemahaman akan sistem pengorbanan tersebut, yang – sebagaimana saya katakan – tidak Dia karuniakan kepada golongan lain di dunia.

Hari ini, seperti biasanya pengumuman tentang dimulainya tahun baru perjanjian Waqf-e-Jadid di Jumat pertama di bulan Januari, dan saya akan menceritakan beberapa peristiwa penggugah keimanan yang berkaitan dengan pengorbanan harta Waqf-e-Jadid; dan bagaimana Allah Ta’ala, karena buah dari pengorbanan mereka itu, telah memberikan keberkatan kepada mereka di dunia, sehingga menjadi sarana penguatan keimanan mereka. Bagaimana orang-orang berkorban dengan bersemangat, mengamalkan teladan para Shahabat yang telah saya sebutkan tadi bahwa para Sahabat pergi ke pasar dan bekerja lalu apa yang mereka dapatkan itu sebagian mereka persembahkan kepada Nabi saw. Kita melihat contoh keteladanan ini pada hari ini juga.

Amir Jemaat Burkina Faso menuliskan laporan bahwa Pemerintah di sana tengah memasang kabel fiber optik di dekat wilayah Wadko. Jemaat Kari terdapat di sana. Para Khuddam yang tinggal di sana berbicara dengan penanggungjawab proyek demi bisa bekerja di proyek itu dengan sistem kontrak borongan. Setelah mendapat persetujuan, mereka pun bersama-sama menggali tanah 1 kilometer dan meletakan kabel tersebut untuk mendapatkan uang satu juta CFA Francs, setara dengan 1.250 pounds [Setara dengan Rp 22.789.000 —>(1 pounds = Rp 18.230,-)], dan mereka memberikan uang tersebut untuk pengorbanan candah Waqf-e-Jadid. Jadi inilah ghairat, yang sebagaimana saya sebutkan, tidak akan didapati di luar Jemaat Ahmadiyah hari ini.

Bagaimana Allah Ta’ala memperkuat keimanan para remaja dan anak-anak melalui keberkatan candah (pengorbanan uang)? Saya sampaikan contoh-contohnya beberapa.

Salah seorang Ahmadi di Jemaat wilayah Lanfora di Burkina Faso mengatakan: “Sebelum saya pergi melakukan pekerjaan jauh sementara periode Waqf-e-Jadid telah berakhir. Saya berpesan kepada anak-anak supaya nanti jika panen sudah selesai maka keluarkan 10% untuk Candah. Setelah itu saya pun pergi. Ketika saya pulang, saya melihat Candah belum diberikan. Hasil panen masih dikumpulkan di rumah. Maka saya memerintahkan anak saya untuk segera membawa hasil panen keluar rumah semuanya dan mengeluarkan bagiannya untuk Candah. Bagian yang dicandahkan itu ditempatkan terpisah. Ketika anak saya mengembalikan hasil panen yang sudah diambil Candahnya ke tempat semula, ternyata hasil panen tadi tidak berkurang sedikit pun, tetap seperti semula.

Saya pun mengatakan kepada anak-anak, ‘Allah Ta’ala memperlihatkan kepada kalian bagaimana harta yang dibelanjakan di jalan-Nya tidak berkurang, bahkan bertambah.’”

Demikianlah keimanan dari seseorang yang mengamalkan ajaran Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan tinggal ribuan mil jauhnya dari sini.

Ada kejadian lain berupa hilangnya kesulitan dan pertumbuhan keimanan sebagai berkat candah. Salah seorang Ahmadi, Tn. Ya’qub dari Jemaat Dabangko di Pantai Gading menyampaikan laporan, “Saya telah lama menjadi Ahmadi namun belum mengikuti nizham candah dalam Jemaat. Kehidupan saya diliputi kesulitan senantiasa. Namun, setelah 3 tahun terakhir ini saya mengikuti Waqf-e-Jadid, kehidupan saya mulai berubah dengan karunia-Nya. Saya mengikuti sistem candah ini dengan sedisiplin mungkin. Sekarang anak-anak saya menikmati kesehatannya dan kebun-kebun saya berbuah lebat.”

Bagaimana ruh pengorbanan yang Allah Ta’ala tumbuhkan di hati orang-orang yang baru baiat? Ada seorang Kristen yang baru masuk Islam dan baiat kepada Jemaat di Pantai Gading. Namanya Tn. Zablor. Ia satu-satunya Ahmadi di kotanya. Ia rajin menyimak khotbah-khotbah saya. Ia juga rajin mengikuti program-program Jemaat. Ia banyak mencapai kemajuan dalam hal keimanan dan keikhlasan. Setelah baiat, ia rajin membaca buku-buku Jemaat dalam bahasa Prancis. Ia rajin bertabligh dan menjadi Dai yang aktif.

Ia meninggalkan tempat tinggalnya dan memilih pindah dekat dengan masjid Jemaat. Hal demikian dilakukannya demi meraih ilmu-ilmu keislaman dan kejemaatan. Sejauh ini ia belum punya pekerjaan. Ia tengah mencari-cari pekerjaan. Hanya istri beliau yang mempunyai pemasukan. Ketika ada himbauan Candah, beliau mencandahkan 5000 frank. Meskipun keadaan sulit. Ia berkata: ‘Ini dari saya dan keluarga saya. Saya tidak ingin mahrum (kehilangan kesempatan) dari keberkahan Candah.’”

Bagaimana Allah Ta’ala menganugerahi ketentraman dan kebahagiaan kepada para pembayar candah? Muballigh kita dari Pantai Gading menuliskan laporan, “Kota Bandako dianggap sebagai kota pusat Islam di negara kami. Di sana banyak terdapat Ulama. Ada seorang yang baiat di sana melalui tabligh kami. Namanya Tn. Abdurrahman. Ia mengenal Jemaat melalui selebaran. Ia berkata: ‘Empat tahun lalu saya beserta keluarga masuk Islam. Saya asalnya dari Kristen. Namun, saya tidak memperoleh ketentraman. Setelah saya mendapat kabar mengenai Jemaat, segera saya pergi ke pusat Jemaat. Saya mengajukan banyak pertanyaan dan mendapat kepuasan atas jawaban-jawabannya. Saya pun baiat.

Saya baiat pada bulan Desember. Muballigh pun di Masjid waktu itu mengumumkan soal pentingnya Waqf-e-Jadid dan mendoakan agar orang-orang membayar candah tersebut. Pada saat itu di saku saya ada uang 1.000 Francsifa. Saya segera membayarkannya untuk Waqf-e-Jadid. Semenjak itu Allah Ta’ala menjadikan hidup saya menjadi berubah drastis. Dia memberkahi pekerjaan saya. Semua orang menghormati di tempat kerja termasuk para pimpinan. Dalam gaji yang kecil, saya hidup dengan penuh keberkahan. Saya hidup dengan kebahagiaan. Hal demikian karena sejak awal saya baiat, saya langsung ikut didalam Nizam Candah.’”

Ada contoh seorang Ahmadi baru di Tanzania. Tn. Jinai Paulo dari desa Shatimbah menuturkan, “Awalnya saya sangat pelit dalam membayar Candah. Tiap kali pengurus mengingatkan saya soal membayar candah maka saya mencari-cari alasan untuk tidak membayar Candah. Saya bekerja dalam pembuatan arang. Dikarenakan memang penghasilan saya sangat kecil saya selalu menghindari membayar candah. Ketika saya mulai paham berkat Candah maka saya mulai dawam membayar Candah. Sawah yang tadinya hanya menghasilkan 8-10 karung gabah, setelah bayar Candah sekarang menghasilkan 56 karung gabah. Inilah berkah berinfaq fi sabilillah.

Alhamdulillah hidup saya berubah semenjak saya membayar candah. Keadaan keuangan saya pun membaik. Sekarang saya bisa membangun rumah yang besar dengan enam kamar. Tujuannya adalah, siapapun tamu Ahmadi yang datang ke rumah kami maka akan saya jamu di rumah saya tersebut. Supaya saya mendapat kesempatan untuk bisa mengkhidmati tamu.” Ia mengedepankan ridha Allah dan agamanya, bahkan, dalam hal membangun rumah. Ia menjadikan pengorbanan harta demi agama sebagai prioritasnya.

Seorang Muballigh di Mali menuliskan laporan, “Suatu hari seseorang yang mengaku bernama Abdurrahman datang ke rumah missi dan menyatakan ingin baiat. Kami pun bertanya, ‘Kenapa Anda ingin baiat?’ Ia bercerita, ‘Kakek saya adalah seorang yang amat saleh. Beliau telah mengabari kami bahwa Imam Mahdi telah datang. Salah satu tanda kedatangannya ialah mereka yang mengikuti Imam Mahdi akan menolongnya dengan pengorbanan harta.

Ketika saya mendengarkan siaran radio kalian (radio Ahmadiyah) mengabarkan soal kedatangan Imam Mahdi, saya juga mendengarkan terjemahan khotbah Khalifah kalian mengenai peristiwa-peristiwa pengorbanan harta. Dari hal itu, saya pun yakin inilah Imam Mahdi yang dikabarkan oleh kakek kami. Saya pun datang hendak baiat.’

Orang itu pun baiat. Ia membayar candah dengan teratur dan mengikuti Nizham maal.”

Mereka yang amat miskin hingga telah kemiskinannya mencapai titik puncaknya, juga tidak ketinggalan dalam mengorbankan harta. Amir Jemaat di Gambia menuliskan laporan, “Ada seorang wanita Ahmadi bernama Fatimah Jalo, berumur 49, dan tinggal di wilayah Kunda di distrik Niamey West. Ketika beliau diberi tahu tentang Waqfi Jadid. Maka beliau berkata, ‘Saya tidak punya uang. Tapi beberapa hari yang lalu seorang teman memberi saya seekor ayam. Jika Jemaat menerima ayam-ayam ini sebagai Candah Waqf-e-Jadid, maka saya berikan ayam ini.’ (Kisah ini mirip pada zaman Hadhrat Mushlih Mau’ud ra di Qadian. Seorang perempuan datang kepada beliau ra sambil membawakan ayam-ayam untuk candah.)

Setelah membayar candah, ia pun menyampaikan, ‘Saat ini, saya tengah merasa resah karena paman saya, penanggung nafkah keluarga sedang dipenjara di Senegal dengan tuduhan mengacau keamanan. Saya sangat sedih akan itu.’

Ia menulis surat juga kepada saya (Hudhur atba). Setelah membayar candah itu maka termasuk keberkatan membayar candah bahwa ia mendapat kabar baik dua bulan kemudian Pemerintah memaafkan pamannya tidak lama kemudian pamannya dibebaskan. Semua orang yang mendengar kabar pembebasannya berkata, ‘Ini mukjizat. Sama sekali tidak ada tanda kemungkinan ia akan dibebaskan.’

Ketika pamannya, Tn. Amin Jalo mengetahui kisah ini bahwa kemenakannya membayar candah, mengirim surat ke Khalifah dan setelah itu ia dibebaskan maka pamannya pun amat terkesan dan baiat masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah. Sekarang wanita ini, Ibu Fatimah Jalo amat rajin membayar candah dan terus bertabligh. Ia menyampaikan kepada orang-orang bahwa dengan berkat candah, pamannya dibebaskan dari penjara hal mana sebelumnya itu membuatnya bersedih.”

Dengan karunia Allah, para Ahmadi menampilkan keteladanan dalam hal keimanan dan keikhlasan agung ini tidak hanya di negara-negara Afrika tapi juga di negara-negara maju. Muballigh kita di Australia, Tn. Daud Ahmad menulis, “Ada seorang pemuda yang tengah kuliah di Melbourne. Ia telah berjanji untuk membayar sejumlah tertentu dalam Waqf-e-Jadid. Ketika ia kami ingatkan, ia menjanjikan akan membayar 500 dollar dengan tambahan. Ia membayar pada hari berikutnya. Pemuda ini bekerja juga disamping berkuliah. Setiap dua minggu ia mendapat 530 Dollar. Namun, pada minggu itu ia mendapatkan 1230. Suatu hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hal demikian ialah buah dari berinfaq di jalan Allah.”

Amir Jemaat Fiji menuliskan laporan mengenai seorang pemuda Jemaat di desa Nasrongga, “Ia adalah pemuda yang mukhlish sekali. Ia bertugas dalam pengkhidmatan sebagai Sekretaris Maal. Sejak ia membayar candah, Allah Ta’ala memberkahinya dalam pekerjaannya dengan berkah luar biasa. Istrinya yang sudah Muslim dan sebelumnya seorang Masihi (Kristen) berkata, ‘Ini adalah buah pengkhidmatan agama dan pengorbanan harta. Jika tidak demikian, tentu kami masih berada dalam lilitan utang yang wajib kami bayar terus-menerus.”

Ada sebuah Jemaat tua (lama) di sebuah wilayah di Benin (Afrika). Muallim kita di sana mengabarkan: “Orang-orang di sini pekerjaannya umumnya adalah bertani. Mereka menanam kapas. Para penduduk mengumpulkan hasil panenan kapas di tempat yang sama (semacam lumbung). Baru setelah itu mereka kirim ke pabrik. Suatu ketika lumbung penduduk kebakaran. Kapas seharga jutaan terlalap api. Hanya satu lumbung yang selamat dan itu milik seorang Ahmadi yang mukhlish. Mengetahui hal itu orang-orang menjadi heran. Orang-orang pun memberitahukan kepada orang Ahmadi itu dan berkata, ‘Suatu mukjizat bahwa Allah Ta’ala menjaga kapas-kapas Anda dari kebakaran.’ Beliau menyampaikan kepada orang-orang: ‘Saya begitu yakin jika Allah Ta’ala akan menyelamatkan lumbung saya, karena saya Ahmadi dan saya dawam membayarkan Candah setiap bulannya.’”

Muballigh kita dari Kongo Brazzaville menulis: “Madam Aisyah bekerja sebagai pengajar di sekolah pemerintah. Ia datang bersama putranya ke pusat kegiatan kami dan menceritakan keadaan keuangannya yang sangat sulit. Penyebabnya, suaminya belum memberi nafkah dan kedua, sebagian gajinya dikurangi demi membayar hutangnya. Ia amat bersedih karena pemerintah memotong setengah gajinya untuk membayar hutangnya. Hal kedua, suaminya tidak memberinya nafkah. Kami mendengar kisahnya yang membangkitkan perasaan sedih juga di hati kami. Kami memberi nasehat kepadanya untuk menulis surat kepada Khalifah dan mulai membayar candah semampunya.

Ia pun segera menulis surat kepada Hadhrat Khalifah dan juga mulai membayar candah atas namanya dan atas nama keluarganya. Belum berlalu beberapa hari, suaminya mulai membayar uang nafkah keluarga dan biaya sekolah anaknya. Demikian pula, saudari sulungnya yang menguasai harta warisan mengiriminya 100.000 Francsifa dan itu adalah untuk yang pertama kalinya. Ia pun mengontak pusat kami dan mengabarkan bahwa kesedihannya telah hilang berkat membayar candah. Beberapa waktu kemudian, ia datang ke Pusat dan membayarkan 10.000 Francsifa untuk membayar candah ini.”

Ketua Lajnah Imaillah Kanada melaporkan: “Seorang Mahasiswi yang kuliah di Universitas berkata kepada saya, ‘Sekretaris Waqf-e-Jadid berkata kepada saya bahwa bila saya membayar candah Waqf-e-Jadid maka kesulitan-kesulitan saya akan Allah hilangkan. Saya hanya memiliki uang 50 Dollar yang terbilang besar bagi saya sebagai Mahasiswi. Tapi itu saya berikan untuk Candah Waqf-e-Jadid. Beberapa waktu kemudian setelah infaq fii sabiliLlah ini, saya mendapatkan beasiswa sebagai Mahasiswi sejumlah 800 Dollar. Demikianlah, Allah Ta’ala jauh lebih banyak dari pada yang saya korbankan.”

Seorang Ahmadi dari Mesir bernama Tn. Abdur Rahman melaporkan pada bulan Juni lalu: “Pada Jumat lalu saya menerima tunjangan sebesar 100 Pound Mesir dan membayar 50 Pound darinya untuk candah Jemaat. Saya memakai 50 Pound diantaranya untuk biaya perjalanan dan keperluan mendasar lainnya. Saya tinggal jauh dari rumah dan kampung saya. Tidak ada penolong dan penyokong selain Allah saja.

Pada hari selanjutnya, tahulah saya bahwa gaji saya yang biasa telat dibayar kini lebih cepat datang. Saya pergi ke tempat mengambil gaji itu. Gaji saya naik 60%. Saya pun berencana membayarkan setengahnya untuk candah Jemaat pada Jumat mendatang. Saya pun berdoa kepada Allah agar Dia menganugerahi saya kelapangan rezeki pengorbanan di jalan-Nya.”

Tn. Saleem Khan dari India yang adalah salah seorang pengurus melaporkan, “Saya pergi mengunjungi Jemaat kita di Sambralaya di negara bagian Gujarat. Saya menghubungi salah seorang Jemaat melalui telepon dan mengabarkan bahwa kami akan sampai di tempatnya dalam beberapa jam. Kami sampai beberapa jam kemudian. Ketika kami tengah berbincang-bincang, datanglah dua orang dan orang Jemaat itu bercakap-cakap sebentar dengannya. Lalu kedua orang itu membawa kulkas (lemari es)nya. Saya pun bertanya ke orang Jemaat itu, ‘Apa ini?’ Dia menjawab, ‘Anda telah datang sementara saya tidak punya uang sepeser pun. Saya menjual lemari es saya.’

Kami berkata kepadanya, ‘Kami tidak mungkin membiarkan ketergesa-gesaan ini. Anda masih ada kesempatan mengambil kembali kulkas Anda.’ Dia menjawab, ‘Tidak mungkin orang-orang Pusat datang kemari dan kami membuatnya pulang dalam keadaan tangan kosong. Soal kulkas, insya Allah, saya akan membelinya lagi.’”

Semoga Allah Ta’ala memberkahi harta orang ini. Ia tinggal di rumah kontrakan (sewa) dan bekerja sebagai buruh bangunan. Meski dalam keadaan sempit keuangan, ia tidak ragu sedikit pun untuk berkorban harta di jalan Allah Ta’ala.

Tn. Munawwar di India, salah seorang inspektur Waqf-e-Jadid melaporkan, “Kami pergi ke wilayah Sandan di negara bagian Uttar Pradesh dalam rangka memungut candah ke seorang Ahmadi. Kami mendengar ia mengatakan bahwa keadaan ekonominya tidak begitu bagus. Ia sedang susah secara keuangan. Ia ingin agar kami memperhatikan hal ini. Keesokan harinya pun kami datang lagi ke tempatnya. Ia pun mengatakan tidak bisa mencapai jumlah candah yang ditentukan.

Perhatikanlah bagaimana seorang anak kecil menikmati ruh pengorbanan yang menakjubkan. Seorang anak perempuan dari Ahmadi tersebut mendengar perbincangan ayahnya. Ia berkata pada ayahnya, ‘Ayah pernah mengatakan bahwa musim dingin akan lebih keras. Ayah berjanji kepada saya akan membelikan saya sepatu musim dingin. Berikanlah uang untuk membeli sepatu itu kepada mereka sebagai candah.’ Anak perempuan bersikeras meminta uang yang dijanjikan ayahnya tersebut. Lalu ayahnya memberikannya uang untuk dibelikan sepatu musim dingin. Tapi uang tersebut dia bayarkan untuk Waqfi Jadid. Dia berkata: ‘Sepatu dapat dibeli nanti namun sekarang ambillah ini untuk candah Waqf-e-Jadid.’

Saya pernah mengatakan dahulu bahwa orang-orang yang keadaannya sulit seperti ini hendaknya jangan diambil Candahnya meski mereka berkeinginan membayarnya. Tetapi jika mereka bersikeras untuk membayar Candah maka terimalah candah tersebut dalam keadaan pengurus merasa kurang suka [merasa kurang enak]. Tapi kemudian Jemaat harus memperhatikan mereka yang mukhlish tersebut.

Ada juga pengurus lain, Tn. Fareed dari India yang menceritakan, “Saya pergi ke Negara Bagian Uttar Pradesh dalam rangka melawat Jemaat demi mengingatkan mereka supaya membayar candah Waqf-e-Jadid. Dalam perjalanan, saya sadar akan sebuah keluarga Jemaat di kota Meeruth yang telah putus hubungan dengan Jemaat selama bertahun-tahun. Ketika kami mengontak mereka dan mengingatkan soal pengorbanan harta mereka berkata, ‘Kami bukan saja belum membayar candah Waqf-e-Jadid, bahkan kami ingin berpartisipasi dalam pembayaran semua iuran.’

Ia pun berjanji akan membayar candah lazim sesuai ukuran yang telah ditetapkan sesuai pemasukan, disamping candah Waqf-e-Jadid dan Tahrik-e-Jadid dan iuran yang setiap Ahmadi bayar bagi organisasi badan-badan sesuai badan mana ia berada. Lalu, ia pun segera membayar 15.000 Rupees untuk membayar Waqf-e-Jadid.”

Demikianlah dengan keberkatan membayar candah Waqf-e-Jadid menjadikan terjadinya kontak sebuah keluarga Ahmadi dengan Jemaat. Sebagaimana telah pernah saya katakan juga, para pengurus tidak mengontak para anggota Jemaat dan keterputusan kontak ini terkadang menjadi lama. Maka dari itu, Nizham Jemaat harus segera aktif supaya mengontak secara berkelanjutkan dengan para anggota Jemaat.

Telah saya ceritakan beberapa kisah yang tidak hanya mengungkapkan pengorbanan harta dilakukan demi kepentingan agama (keimanan), namun bersamaan dengan itu, juga merupakan bukti kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan Jemaat Ahmadiyah ini serta fakta bahwa Jemaat ini didirikan oleh Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala merestui para anggota Jemaat untuk meningkatkan keimanan dan keyakinan mereka, serta semoga mereka terus-menerus meningkatkan pengorbanan mereka guna meraih ridha Allah Ta’ala.

Kini, saya akan menyebutkan tentang pengorbanan Waqf-e-Jadid tahun kemarin yang dilakukan oleh Jemaat-Jemaat yang ada di seluruh dunia, serta mengungkapkan urutan posisi mereka. Dengan karunia Allah Ta’ala, tahun ke-60 Waqf-e-Jadid telah berakhir pada 31 Desember 2017 dan 1 Januari 2018 mulai tahun ke-61 Waqf-e-Jadid. Total pengorbanan Waqf-e-Jadid yang dikumpulkan Jemaat Ahmadiyah seluruh dunia mencapai 8.862.000 poundsterling [Rp. 161,2 Milyar —-> (£ 1 = Rp 18.230)], naik 842 ribu poundsterling dari tahun sebelumnya. Setelah Pakistan yang selalu tetap berada di posisi pertama, posisi sepuluh teratas Negara-negara di belahan dunia lainnya yang berkontribusi besar adalah sebagai berikut:

Pertama adalah UK, kedua Jerman (namun untuk Tahrik Jadid posisinya sebaliknya), kemudian ketiga USA, Keempat Kanada, Kelima India, Keenam Australia, Ketujuh sebuah Negara Timur Tengah, Kedelapan Indonesia, Kesembilan sebuah Negara Timur Tengah, dan kesepuluh Ghana. Ghana mengalami banyak kemajuan tahun ini.

Dalam segi mata uang lokal, Negara-negara yang mengalami kenaikan secara signifikan dari tahun lalu: Kanada berada dalam urutan pertama, Negara tersebut membuat progres yang baik. Diantara Negara-negara Afrika, maka Nigeria mengalami progress yang baik dengan peningkatan sebesar 83%, Mali mencapai kenaikan 55%, Sierra Leone 45%, Cameroon 45%, Ghana 24%, dan semua Negara tersebut mengalami peningkatan pendapatan dari tahun lalu.

Hal yang pokok ialah jumlah yang ikut serta, dan memang poin mendasar dari ini adalah jumlah yang berpartisipasi harus meningkat, dan dengan karunia Allah Ta’ala lebih dari 1,6 Juta orang ambil bagian dalam rencana Waqf-e-Jadid ini. Terjadi peningkatan sebesar 268 ribu orang pembayar. Dalam hal pertambahan jumlah pembayar, Nigeria yang paling terdepan, kemudian disusul Sierra Leone, Niger, Benin, Mali, Cameroon, Pantai Gading, Senegal, Burkina Faso, Gambia, Guinea-Bissau, Kenya, Tanzania, Zimbabwe. Semua negara tersebut telah bekerja secara signifikan untuk hal tersebut.

Adapun untuk Chanda Balaghan, di tempat-tempat seperti Pakistan dan Kanada ada dua jenis Candah Waqf-e-Jadid yaitu Athfal [Ahmadi laki-laki yang berusia diatas 15 tahun ke bawah] dan Balaghan [Ahmadi laki-laki yang berusia diatas 16 tahun.], namun pada kesempatan ini Australia pun ikut berpartisipasi.

Di Pakistan, peringkat satu hingga tiga dalam hal Bulghaan sebagai berikut: Tempat pertama Lahore, kedua Rabwah, ketiga Karachi. Dalam hal distrik (wilayah kabupaten), peringkatnya sebagai berikut: berdiri paling pertama adalah Islamabad, kemudian Rawalpindi, Sargodha, Gujrat, Umarkot, Hyderabad, Mirpur Khas, Dera Ghazi Khan, Kotli Azad Kashmir dan Quetta.

Sepuluh Jemaat teratas dalam hal besarnya jumlah pendapatan adalah sebagi berikut: Kota Islamabad, Gulshan Iqbal Karachi, Samanabad Lahore, kota Rawalpindi, Azizabad Karachi, Delhi Gate Lahore, Mughalpura Lahore, kota Sargodha dan kota Dera Ghazi Khan. Jemaat yang masuk peringkat satu hingga tiga dalam hal candah Athfal adalah sebagai berikut: Pertama adalah Lahore, tempat kedua Karachi dan tempat ketiga Rabwah. Sementara Rangking distrik dalam hal candah Waqf-e-Jadid Athfal adalah sebagai berikut: Sargodha, Rawalpindi, Gujrat, Faisalabad, Hyderabad, Narowal, Dera Ghazi Khan, Kotli Azad Kashmir, Sheikhupura, Badin.

Rangking sepuluh teratas Jemaat-Jemaat yang ada di UK dalam total pengumpulan chandah adalah sebagai berikut: Pertama Worcester park, Kedua Masjid Fazl, Ketiga Birmingham South, keempat Gillingham, Kelima Birmingham West, Keenam New Malden, Ketujuh Glasgow, Kedelapan Islamabad, Kesembilan Putney and Kesepuluh Hayes. Dari segi daerah (wilayah), urutannya adalah sebagai berikut: Pertama adalah London B, Kedua London A, kemudian Midlands, North East, Middlesex, South London, Islamabad, East London, North West, Hertfordshire dan Scotland.

Rangking sepuluh besar Jemaat-jemaat yang ada di USA adalah sebagai berikut: Pertama adalah Silicon Valley, kemudian Seattle, Detroit, Silver Spring, Central Virginia, Boston, Los Angeles East, Dallas, Houston North dan Orwell.

Dalam hal besarnya pengorbanan Waqf-e-Jadid, maka lima besar Jemaat Imarat (keamiran) lokal yang ada di Jerman adalah sebagai berikut: Pertama Hamburg, kemudian Frankfurt, Wiesbaden, Gross-Gerau, Morfelden Walldorf. Dalam hal total pendapatan, sepuluh besar Jemaat di Jerman adalah sebagai berikut: Rodermark, Neuss, Mahdiabad, Nidda, Freiburg, Koblenz, Florsheim, Weingarten, Pinneburg dan Langen.

Rangking Wilayah Jemaat di Kanada yang berhubungan dengan jumlah pendapatan adalah sebagai berikut: Pertama Vaughan, kemudian Calgary, Peace Village, Brampton, Vancouver, Mississauga. Sementara rangking Sepuluh Jemaat besar dalam hal pengorbanan Waqf-e-Jadid adalah sebagai berikut: Durham, Edmonton West, Saskatoon South, Windsor, Bradford, Saskatoon North, Montreal West, Lloydminster, Edmonton East dan Abbotsford. Lima Jemaat yang menonjol dalam daftar candah Waqf-e-Jadid untuk Athfal adalah sebagai berikut: Durham, Bradford, Saskatoon South, Saskatoon North dan Lloydminster. Lima Imarat Jemaat yang menonjol dalam pengorbanan Waqfi jaded Atfal adalah sebagai berikut: Peace Village, Calgary, Vaughan, Vancouver, Vesten.

Di India, peringkat sesuai dengan state (negara bagian atau provinsi) sebagai berikut: Kerala, Jamu Kashmir, Telangana, Karnataka, Tamil Nadu, Odisha, West Bengal, Punjab, Uttar Pradesh, Maharashtra. Dalam hal jumlah pendapatan, maka rangkingnya Jemaat-Jamaat di India adalah sebagai berikut: Calicut, Hyderabad, Pathapiriyam, Qadian, Kolkata, Bangalore, Kannur town, Pangadi, Karvalai, Karunagappalli.

Sepuluh Besar Jemaat di Australia adalah sebagai berikut: Castle Hill, Brisbane Logan, Marsden Park, Melbourne Long Warren, Berwick, Pezith, Plumpton, Black town, Adelaide South dan Canberra. Jemaat-jemaat Australia yang terkemuka dalam Daftar pengorbanan Waqf-e-Jadid untuk Atfal adalah sebagai berikut: Brisbane Logan, Pezith, Brisbane South, Melbourne, Berwick, Adelaide South, Melbourne Long Warren, Plumpton, Castle Hill, Marsden Park dan Mount Druitt.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahi keberkahan tak terhingga kepada harta kekayaan dan jiwa semua orang yang ikut berkontribusi dalam pengorbanan ini. Semoga Allah Ta’ala meningkatkan keimanan dan ketulusan mereka, dan semoga Dia menjadikan setiap orang dari mereka mencari ridha-Nya melalui setiap tindakan, perkataan dan perbuatan mereka.

Setelah shalat saya akan memimpin shalat Jenazah, yang hari ini jenazahnya sudah ada di sini. Jenazah tersebut bernama Almarhum Ali Gohar Munawar, putra Wajih Munawar sahib dari Aldershot, UK (Inggris). Keluarga Wajih Munawar melakukan perjalanan ke Jerman pada tanggal 23 December 2017. Ketika hampir tiba di Cologne, saat sang ibu menyetir terjadi kecelakaan dimana ban mobil yeng mereka tunggangi pecah. Ali Gohar Munawar meninggal di usianya yang baru lima tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Almarhum telah diwakafkan. Kakeknya asal Narowal, Pakistan. Dialah yang menamai cucunya dengan nama kakek buyutnya (buyut almarhum), Hadhrat Ali Ghohar ra, yang juga termasuk Shahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Ali Ghohar ra ialah Ahmadi pertama di keluarganya. Kakek pihak ibu ialah Tn. Muhammad Aziz dari Haiderabad, Dekkan (India Tengah). Ibu Nushrat Jahan, ibu Almarhum, bekerja sebagai bidang tim penerjemah dan peringkas surat-surat berbahasa Inggris yang ditujukan kepada saya. Ialah yang menyetir mobilnya saat kejadian. Ibunya juga duduk di sisinya dan menderita sejumlah luka. Ia sekarang tengah berada di rumah sakit. Semoga Allah menganugerahi kesembuhan kepadanya.

Semoga kedua orangtua Almarhum mendapatkan ilham kesabaran. Dengan rahmat Allah Ta’ala, sang orang tua menanggung kesedihan dengan ikhlas, khususnya sang ibu. Anak tersebut masih bersih dan pasti Allah Ta’ala langsung memasukan anak tersebut ke surga. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kesabaran dan ketabahan kepada orang tuanya dan mengganjar mereka dengan yang lebih baik. Amiin

(Visited 113 times, 1 visits today)