Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

21 April 2017 di Frankfurt, Jerman

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Ini merupakan karunia Allah Ta’ala bahwa kita telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan bergabung di kalangan orang yang baiat kepada beliau dan hal itu adalah sarana untuk meningkatkan iman kita karena jika tidak bertambah keimanan dan keyakinan setelah berbaiat, maka tidak ada artinya baiat ini. Kita harus terbuka dan terang-benerang untuk menyampaikan pesan Islam tanpa perasaan rendah diri dan takut. Terkadang di hati sebagian para pemuda dan pemudi terbesit untuk tidak berbicara banyak mengenai Islam karena situasi umat Muslim di masa kini yang diasosiasikan dengan fitnah dan kerusuhan. Sementara itu, kebanyakan, dengan karunia Allah, mereka aktif. Berdasarkan laporan yang dikirm kepada saya terdapat sejumlah besar Ahmadi yang berpartisipasi dalam penyebaran selebaran-selebaran tabligh. Namun, terdapat sejumlah orang di kalangan mereka yang terkadang tertimpa perasaan rendah diri karena suatu sebab atau lainnya. Mereka menamakan diri Muslim karena termasuk menghubungkan diri dengan Islam tapi mereka tidak menampakkannya sebagaimana seharusnya.

Sementara itu, sebagai dampak perilaku umat Muslim yang lainnya maka kita harus memberanikan diri lebih banyak menampakkan kepada orang-orang gambaran hakiki Islam dan kita beritahukan bahwa situasi umat Muslim terkini ialah dalil kebenaran Islam karena Nabi Muhammad saw telah mengabarkan akan datangnya zaman tersebarnya kerusakan di kalangan umat Muslim, fitnah akan menjangkiti mereka, para ulama yang hanya sekedar nama itulah yang paling bertanggungjawab atas hal itu.

[Al-Jaami’ li Syi’bil Iman (Kumpulan cabang-cabang Iman) karya al-Baihaqi, cabang ke-18, bab nasyril ‘ilmi (penyebarluasan ilmu), pasal berkata, ‘yanbaghi li thalibil ‘ilmi..’, jilid 3, halaman 317-318, hadits 1763, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh-Saudi Arabia, 2004. يُوْ شِكُ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ الإِسْلاَمِ إِلاَّ اسْمُهُ, وَلاَ يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ رَسْمُهُ, مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى, عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ, مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةِ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ. ‘Yuusyika ‘alan naasi zamaanun laa yabqa minal Islami illa ismuhu, wa laa yabqa minal Qur’aani illa rasmuhu, masaajiduhum ‘aamiratun wa hiya kharaabum minal huda, ‘ulamaa-uhum syarru man tahta adiimis samaa-i, min ‘indihum takhrujul fitnati wa fiihim ta’uud.’ “Akan datang suatu zaman, Islam tinggal namanya dan Al-Qur’an hanya tulisannya, masjid-masjidnya ramai akan tetapi kosong dari petunjuk dan para ulama mereka adalah seburuk-buruk orang yang ada di bawah kolong langit, dari sisi mereka keluar fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka.”]

Kecintaan terhadap dunia akan menguasai umat Muslim. Ketika Al-Masih yang dijanjikan dan Imam Mahdi diutus, ia akan menjelaskan gambaran sejati Islam kepada dunia dan menyebarkan pesan sejati Islam dan kita para Ahmadi ialah yang mengimani beliau dan mengamalkan ajaran sejati Islam yang beliau as jelaskan dan ajarkan pada kita. Janganlah ada perasaan rendah diri.

Demikian pula, sebagian Ahmadi telah begitu terlibat dalam keduniawian setelah berpindah di negara-negara Barat ini karena terpengaruh masyarakat materialis di sini. Meskipun mereka secara ucapan berjanji mengutamakan iman di atas semua hal duniawi, namun realitanya, apa yang mereka lakukan berlawanan dengan hal itu. Para Ahmadi di sini sangatlah baik dalam menjalin kontak dengan orang-orang di masyarakat sini dan juga dalam menunjukkan akhlak yang baik terhadap selainnya, namun standar ibadah mereka dan memenuhi hak Allah Ta’ala belum meningkat hingga ke tingkat seperti yang diharapkan dari seorang Ahmadi.

Demikian pula, ada kelemahan hubungan satu dengan yang lain. Ada kelemahan dalam perlakuan para pengurus terhadap para anggota dengan penghormatan dan pemuliaan. Saya pun menerima keluhan-keluhan dari berbagai tempat bagaimana ada keperluan memperbaiki tingkat penghormatan dan pemuliaan terhadap para pengurus juga. Jemaat yang demi itu didirikan Hadhrat Masih Mau’ud as diutus bukan hanya untuk mengusahkan perbaikan soal kepercayaan saja bahkan guna meraih perbaikan amal perbuatan hingga ke tiap tingkat dan tiap bidang. Maka, dari segi ini tiap orang dari kita harus memeriksa diri sendiri apakah telah berusaha mencapai itu ataukah belum?

Karena makin banyak masjid dibangun di Jerman, lebih banyak Jemaat lokal yang didirikan, orang-orang pun lebih lagi mengenal Ahmadiyah dan paparan lebih banyak dinyatakan terhadap kita dan selanjutnya dunia akan melihat kita secara lebih kritis. Hal yang alami bahwa seiring bertambahnya jumlah kita dunia pun bertambah mengenali kita. Seiring bertambahnya orang-orang yang mengenal kita, bertambah pula kritik mereka atas kita sebagaimana itu telah kita perhatikan. Hal ini menuntut tiap orang dari kita untuk meningkatkan standar amal perbuatan kita guna mencapai tujuan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Saya selalu berkata tentang ini dan sekali lagi mengingatkan kalian bahwa 99,9% dari para Ahmadi yang bermigrasi ke sini dan diizinkan tinggal di sini, ke negara-negara Barat, bukanlah karena kualitas, keahlian ataupun bakat mereka. Namun, itu karena keberkatan Jemaat Ahmadiyah. Karena itu, setiap Ahmadi yang tinggal di sini adalah Muballigh Ahmadiyah secara tidak langsung. Dengan karunia Allah Ta’ala, dikarenakan contoh yang baik dari para Ahmadi di sini dan juga karena hubungan mereka yang baik di dalam masyarakat, mereka telah meninggalkan kesan yang baik kepada orang orang tentang Jemaat. Dan orang orang tersebut mengekspresikan hal ini pada berbagai kesempatan.

Di sini dalam beberapa hari lalu diselenggarakan acara pembukaan dua Masjid dan peletakan batu pondasi dua masjid. Orang-orang setempat ikut serta yang diantaranya ialah para pejabat penting lokal di lingkaran resmi dan para politisi. Mereka menyatakan pendapat dan pemikiran mereka mengenai Jemaat Ahmadiyah. Pendapat mereka itu membenarkan bahwa para Ahmadi setempat berpengaruh bagus bagi mereka, dengan karunia Allah.

Namun, saya merasa juga ajaran Islam hakiki belum diperkenalkan kepada orang-orang sebagaimana seharusnya karena tiap kali diadakan acara-acara ini tentang ajaran Islam, kebanyakan tamu mengatakan belum tahu soal ajaran Islam hakiki semacam ini sejak sebelumnya. Mereka berkata, “Segi-segi baik ajaran Islam ini tersembunyi bagi kami sejak sebelumnya, bahkan di pikiran kami, Islam itu seperti yang diberitakan oleh media massa saja.”

Mereka juga mengatakan, “Tidak diragukan kami mengenal beberapa Ahmadi. Kami telah datang kemari menanggapi undangan mereka namun di pikiran kami terdapat ketakutan juga.” Jadi, hubungan seseorang secara pribadi dengan kenalannya ialah sesuatu hal, sementara itu undangan kepadanya ke acara Jemaat dalam corak resmi dan pembicaraan tentang Jemaat mengambil corak lainnya sama sekali. [mengundang kenalan non Ahmadi ke acara Jemaat tapi obrolan mereka bukan tentang Tabligh Islam dan Jemaat]

Orang-orang itu [kenalan non Ahmadi yang diundang] menyangka, “Orang yang mengundang saya ialah teman saya dan mungkin ia orang baik di dalam dirinya namun saya tidak tahu keadaan Jemaat dan pemikirannya. Mungkin saja Jemaat Ahmadiyah mengandung ide-ide kekerasan.” Ringkasnya, di pikirannya ada ketakutan besar. Telah saya amati hal ini dari pemikiran dan ketakutan orang non Muslim di tiap Negara di dunia. Mereka bertanya-tanya, “Tidak kami tahu apa yang mungkin akan terjadi jika kami mengikuti acara orang Muslim. Bisa jadi kami mengalami teror.” Namun, mereka berkata setelah itu, “Kami menjadi tahu setelah mengikuti acara kalian bahwa kami salah tentang apa yang kami pikirkan sebelumnya.”

Mereka berkata kepada saya, “Kami menjadi paham setelah mendengarkan perkataan Anda mengenai Islam di berbagai kesempatan bahwa Islam ialah agama damai, keamanan, kecintaan dan menyebarluaskan kasih sayang dan persaudaraan, dan wajib untuk tidak menghubungkan Islam apa-apa yang telah dilakukan oleh sebagian orang.”

Saya telah bertemu banyak orang di acara di sini dan di banyak negara lainnya juga di berbagai kesempatan dan mereka berkata, “Setelah mendengarkan perkataan Anda, tidak hanya keberatan kami terhadap Islam jadi hilang bahkan ketakutan kami semuanya.” Bahkan, sebagian mereka berkata, “Sekiranya kami hari ini ingin memeluk sebuah keyakinan maka kami akan mengarah ke Jemaat Ahmadiyah.” Saya akan mengemukakan beberapa contoh tentang bagaimana pandangan orang-orang benar-benar berubah setelah mendengarkan perkataan kita.

Acara pertama dari pembukaan masjid mungkin di Waldshut. Salah seorang tamu yang hadir di sana, yaitu Simon Klauss berkata: “Pandangan saya tentang Islam telah benar-benar berubah. Hari ini, saya telah belajar tentang arti sesungguhnya Jihad. Setelah memahami arti sebenarnya Jihad, tidak ada alasan untuk takut terhadap kata Jihad. Malahan, tidak ada apapun yang orang perlu takut tentangnya.

Sebelum menghadiri acara ini, saya takut serangan teroris yang akan dilakukan terhadap saya dan karena itu, meskipun telah menerima undangan acara ini, saya awalnya memutuskan untuk tidak menghadiri acara tersebut. Namun, seorang teman saya yang telah melakukan riset mengenai Jemaat ini lewat internet dan juga memiliki beberapa video (tentang Jemaat), mengatakan kepada saya bahwa Jemaat ini adalah komunitas yang sangat damai dan oleh sebab itu ia mengatakan kepada saya tidak ada ruginya menghadiri acara mereka.

Meskipun awalnya takut namun saya bersyukur kepada Allah sekarang saya menghadiri acara ini. Setelah itu, saya menyimpulkan bahwa kalian bukanlah orang-orang yang akan merenggut nyawa orang lain, tapi justru kalian adalah orang-orang yang akan memberi kehidupan bagi orang lain. Kalian menganugerahi kehidupan bagi dunia melalui amal perbuatan simpati kepada umat manusia dan pengkhidmatan terhadap sesama makhluk.”

Tamu lain, berkebangsaan Prancis, Doktor Frace berkata: “Hari ini, saya telah menyaksikan Islam yang tidak disebarkan dengan mempromosikan kebencian, malah, kenyataannya, Jemaat ini menyebarkan Islam melalui cinta kasih.”

Seorang wanita yang menghadiri peresmian masjid yang kedua berkata: “Apa yang saya dengar hari ini belum pernah mendengar hal ini sebelumnya dari pemimpin Muslim yang lain.” Seorang wanita lainnya berkata, “Telah saya pelajari hari ini bahwa Islam ialah agama perdamaian dan rahmat dan betapa Islam menjaga hak-hak tetangga.”

Seorang Muslim Suriah yang mengadiri acara tersebut berkata:“Hari ini, adalah hari yang sangat emosional bagi saya. Saya diberitahukan sebelum datang ke acara ini, atau ini merupakan pandangan umum, bahwa para Ahmadi bukanlah Muslim dan Al-Quran mereka juga berbeda. Namun, hari ini saya belajar bahwa semua itu sama sekali tidak benar. Para Ahmadi membaca dan menganut Quran yang sama seperti kaum Muslim lain juga membaca dan mengamalkannya. Para Ahmadi juga beriman kepada Nabi Muhammad saw yang sama seperti kaum Muslim lainnya.” Setelah bertemu dengan saya (Hudhur), ia berkata: “Setelah bertemu Khalifah, mungkin saya juga akan menjadi seorang Ahmadi”

Kesan yang sama dibawa oleh para tamu yang ikut serta dalam kesempatan peletakan batu pondasi Masjid sebelumnya. Demikian pula mereka yang menghadiri acara di Marburg. Wakil Rektor Universitas Marburg, seorang wanita berkata: “Saya benar-benar dikuasai oleh berbagai emosi saat ini. Setelah mendengarkan kata-kata Khalifah Jemaat Ahmadiyah, khususnya setelah mendengarkan penjelasan mengenai konsep dua surga, saya merasa takjub.” (Saya [Hudhur atba] menjelaskan gambaran dua surga yang diajarkan oleh Islam, yaitu surga di dunia ini dan juga di akhirat.) Bagaimana beliau menjelaskan bahwa seseorang dapat meraih surga duniawi yang dengan itu ia dapat memperoleh surga akhirat.”

Ia juga mengatakan: “Hari ini saya juga belajar tentang kehidupan pendiri Islam, yaitu Nabi Muhammad Rasul Allah saw, dan juga sejarah awal Islam. Saya juga mempelajari bagaimana Islam mengajarkan seseorang untuk memenuhi hak-hak orang lain. Apabila semua yang disampaikan Jemaat dipahami setiap orang, maka akan tegaklah kedamaian, cinta kasih dan persaudaraan di dunia.”

Wanita ini begitu emosional sehingga orang yang diajak bicara olehnya berkata, “Wanita tersebut mulai menangis dan berkata, ‘Saya tidak dapat mengatakan hal lain lagi karena tidak memiliki kekuatan untuk meneruskannya.’”

Lihatlah bagaimana seorang wanita Kristen datang ke sebuah acara kita dan sebelumnya tidak memiliki pengetahuan apapun tentang ajaran-ajaran Islam. Malah Tn. Amir Jerman mengatakan pada saya bahwa wanita tersebut tidak mengetahui soal Islam dan mencari tahu tentang itu selama acara. Seiring dengan itu, dia menyimak perkataan saya (Hudhur), wanita tersebut menjadi sangat emosional sehingga ia bahkan tidak bisa mengontrol emosinya. Inilah bagaimana indahnya ajaran-ajaran Islam dan karenanya kita tidak perlu memiliki rasa rendah diri.

Nn. Esther berkata, “Khalifah Anda telah menjawab semua pertanyaan saya yang ada di hati saya sejak saya hadir di sini. Yang saya takutkan ialah setelah mendengarkan semua hal indah ini lalu saya pulang ke rumah, namun bukannya tidak mungkin besok ada orang yang melakukan distorsi (perusakan) atas wajah Islam dengan serangan terorisme atas nama Islam lalu orang-orang mengarahkan pandangan atas hal itu dan lupa dengan pesan yang damai ini (ajaran Islam). Ini adalah apa yang mengganggu saya dan menyakitkan saya.”

Inilah perasaan yang timbul di hati orang-orang. Ada juga kutipan-kutipan serupa dalam jumlah banyak dan datang dari tiap tempat. Apa yang disampaikan wanita ini benar adanya soal orang-orang akan melupakan pesan perdamaian ini. Inilah yang terjadi. Media terus berusaha untuk bagaimana agar gambaran Islam nan indah tidak tampil ke hadapan dunia. Maka dari itu, kewajiban kita untuk tidak meninggalkan usaha menyebarkan pesan Islam yang merupakan pesan kecintaan, persaudaraan dan perdamaian dan pesan penunaian hak-hak Allah dan hak-hak para hamba-Nya.

Setelah setiap tindakan negatif sebelumnya oleh sebagian orang Muslim yang hanya nama saja itu; kita harus membawa ajaran-ajaran positif Islam di hadapan dunia. Sebagaimana kita juga harus menghubungi secara kontinyu terhadap para tamu yang telah menghadiri acara-acara kita ini atau mereka yang telah ada kontak dengan kita.

Apa sebab kekaguman bangsa itu atas apa yang telah saya katakan? Kita membaca Al-Qur’an yang sama sebagaimana umat Muslim lainnya. Kita mengerjakan shalat sama sebagaimana umat Muslim lainnya. Kita mengimani Syariat yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, Muhammad saw dan beliau saw ialah Nabi terakhir. Orang-orang itu telah takjub dengan kata-kata saya dan setiap kekaguman ini ialah karena kita mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as dan sebagaimana telah saya katakan sebelum ini bahwa beliau as telah mengungkapkan pada kita hakikat Islam; dan beliau telah bersabda bahwa inilah hakekat ajaran-ajaran Al-Qur’an yang setiap orang Muslim Ahmadi harus menyebarkannya.

Sebagaimana terdapat keharusan membuat terjadi perubahan-perubahan amal suci dalam diri kita, begitu juga suatu keharusan untuk menyebarkan buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as di kalangan umat manusia. Inilah kewajiban dan tanggungjawab kita.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya pada saat peletakan batu pondasi masjid di Marburg, banyak tamu yang hadir dari umat Muslim termasuk para profesor dan mahasiswa/i dari universitas-universitas, juga sang wakil rektor yang telah saya sebutkan komentar-komentarnya, yang pendapat dan perasaannya sudah saya sebutkan sebelumnya. Diantara mereka ada dua orang professor yang berasal dari Mesir di Universitas itu. Keduanya mengajarkan Studi-Studi mengenai Islam dan Bahasa Arab. Setelah saya tanyakan, mereka menyebutkan jurusan Studi Islam yang mereka ajarkan adalah filosofi Islam. Saya tanyakan pada mereka apakah mereka telah membaca buku Filsafat Ajaran Islam yang ditulis oleh Hadhrat Masih Mau’ud as? Mereka menjawab: “Belum.” Saya katakan pada mereka bahwa mereka harus membaca buku ini, karena tanpa ita seseorang tidak dapat mengetahui kedalaman filosofi ajaran Islam, tak peduli seberapa banyak pengetahuan yang telah didapat dari berbagai sumber yang berbeda.

Alhamdulillah buku itu sudah dikirim kepada Profesor tersebut oleh Sekretaris Isyaat Nasional [Jemaat Jerman]. Ia membawanya dan mungkin ia mahasiswa dari salah seorang kedua profesor itu di masa lalu atau mungkin masih. Ringkasnya, pengetahuan keduanya telah mendalam namun saya heran seiring keilmuannya itu dan bidang pembelajarannya dan kegemaran mengkajinya, dulu belum juga ia menghadiahkan buku ini. Pendeknya, telah saya katakan supaya segera mempelajari kitab ini. Pada hari kemarin telah saya terima pesan darinya bahwa ia telah mengirim kitab-kitab kepada keduanya. Seyogyanya pula mengirimkan kepada keduanya terjemahan bahasa Arab dari buku ini supaya mereka berdua lebih banyak paham buku tersebut yang dibaca dalam bahasa mereka sendiri.

Banyak orang Arab yang menulis kepada saya menyatakan mereka berubah menjadi paham hakekat Islam setelah membaca buku ini. Demikian pula orang-orang Masehi (Kristen) dan selain mereka juga menulis surat kepada saya bahwa buku ini telah menjadikan diri mereka berubah sama sekali. Almarhum Ustadz Mushthafa Tsabit (Ahmadi Muslim keturunan Arab) ialah seorang cendekiawan besar dalam ilmu-ilmu Jemaat dan ilmunya mendalam bahkan ilmunya tentang Islam dalam sifat komprehensif mendalam. Beliau itu juga seorang lainnya yang pernah mengatakan bahwa yang memainkan peran besar dari bergabungnya beliau kedalam Jemaat ialah buku ini (Filsafat Ajaran Islam). Jika kalian berhubungan dengan orang yang terpelajar, maka berikanlah buku ini.

Beberapa pelajar (mahasiswa) kita, baik yang laki-laki maupun perempuan, beranggapan telah bertambah banyak ilmunya dengan membaca buku-buku para Fuqaha (ahli hukum, cendekiawan) zaman dahulu dan para ulama, atau merasa pengetahuan mereka akan meningkat berlipat-lipat dengan mempelajari amal perbuatan para Imam di masa lalu dan para Wali, dan sekarang tidak ada yang dapat menantang pengetahuan mereka.

Pengetahuan mereka mungkin telah meningkat dalam hal ini, namun, para ulama non-Ahmadi memiliki pemahaman yang lebih dari mereka dalam hal ini. Hanya dengan membaca buku-buku tersebut (yaitu kisah dan riwayat para ahli hukum, ulama, orang suci dan para Imam di masa lalu), seseorang janganlah menganggap diri mereka sudah sebagai ulama. Jika ada orang yang berpikiran seperti ini, mereka harus menyingkirkannya.

Pada masa sekarang tinggalkanlah para ulama dan orang-orang suci di masa lampau karena ilmu pengetahuan hakiki dan gambaran yang benar tentang Islam hanya dapat dipahami melalui pengetahuan dari tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as saja. Ingatlah selalu! Keputusan-keputusan yang diambil oleh Hadhrat Masih Mau’ud as saja-lah secara ekslusif keputusan yang benar. Selanjutnya, tafsir-tafsir yang dijelaskan para Khalifah beliau as berdasarkan ilmu kalam beliau as ialah tafsir yang benar maka pelajarilah itu dan ilmu akan bertambah. Tanamkanlah dalam benak ingatan setiap saat bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as diutus sebagai Hakaman ‘Adlan (Hakim Adil) pada zaman ini.

Oleh sebab itu, apapun yang dijelaskan dan ditegaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, itulah yang benar dan mewakili hakekat ajaran Islam. Jangan menganggap dengan membaca buku-buku orang lain dari kalangan ulama, Ahli Hukum dan Imam di masa lalu maka seseorang akan menjadi seorang ulama. Seseorang tidak dapat menjadi seorang ulama selama belum membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as.

Ketika Allah Ta’ala mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as untuk memperbaiki keadaan di zaman ini maka Dia telah mengaruniai ilmu juga dari-Nya kepada beliau as secara langsung. Beliau as bersabda: “Siapa saja yang telah mengaku beriman harus memastikan iman mereka berkembang menjadi keyakinan dan kesadaran, bukannya jatuh menjadi mangsa kecurigaan dan keraguan. Perhatikan dan dengarkanlah! Hanya prasangka saja tidak akan pernah terbukti bermanfaat. Allah Ta’ala sendiri berfirman: وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ ‘Tidaklah yang kebanyakan mereka ikuti selain hanya prasangka saja. Sesungguhnya, prasangka tidak bermanfaat apa-apa dibandingkan kebenaran.’ (Surah Yunus, 10: 37) Keyakinan berakibat menjadikan seseorang berhasil dan tidak ada urusan apa pun yang terselesaikan tanpa keyakinan.

Jika manusia mengedepankan prasangka dalam segala urusan maka ia takkan mampu hidup di dunia ini walau cuma sekejap. (Beliau as lalu menjelaskan dalam sebuah permisalan) Bahkan, ia takkan teguh untuk meminum air jika telah timbul dalam benaknya seseorang menyelipkan racun di dalamnya. Tidak juga ada orang yang memakan sesuatu yang dibelinya dari pasar dengan anggapan itu telah mengandung racun mematikan maka bagaimana ia akan hidup? Ini permisalan sederhana tapi seseorang mampu mengambil manfaat darinya dalam urusan-urusan kerohanian.

Sekarang, coba pikir sendiri dan ambil kesimpulan dari hati kalian, jika setelah berbaiat di tangan saya dan menerima saya sebagai Al-Masih yang Dijanjikan dan Hakim Adil, namun setelah mengakui hal ini kalian tetap berlabuh kebencian atau kegelisahan di hati kalian terhadap sesuatu keputusan ataupun hal-hal yang saya lakukan, maka kalian harus khawatir akan iman kalian. Iman yang dirusak dengan keragu-raguan dan syak wasangka tidak akan dapat memperolah hasil yang baik. Namun, jika kalian menerima dengan hati yang benar bahwa Al-Masih yang Dijanjikan adalah Hakim Adil, maka kalian harus menerima keputusan dan perbuatan beliau (tetap diam dan menerima putusan dan tindakan beliau). Hormatilah keputusannya supaya kalian menjadi termasuk orang-orang yang menghormati dan mengagungkan sabda suci Nabi Muhammad saw.

Kesaksian Rasulullah saw seharusnya cukup bagi kalian – dimana beliau saw bersabda bahwa Al-Masih yang Dijanjikan akan menjadi Imam kalian dan ia akan menjadi Hakim Adil. Jika seseorang tidak puas dengan hal ini, lantas kapankah dan apakah yang akan membuatnya puas? Bukan sebuah cara terpuji dan diberkati jika kalian mengimaninya, namun juga menyembunyikan syak wasangka buruk pada relung-relung hati kalian. Jika saya tidak benar, maka pergilah untuk mencari orang benar selainku. Ketahuilah seyakin-yakinnya, mustahil untuk mencari orang benar lainnya. Jika kalian gagal menemukan orang benar yang lain, dan memang tidak akan pernah menemukannya, maka saya minta hak saya yang dianugerahkan oleh Hadhrat Rasulullah saw. [Hak untuk dikenali dan diimani atau diikuti – penerjemah]

Mereka yang telah menolak saya dan berkeberatan terhadap saya, belum mengenali saya. Sedangkan bagi mereka yang telah menerima saya dan telah baiat kepada saya tapi masih saja mempunyai kritik terhadap saya, keadaan mreka bahkan lebih menyedihkan, karena mereka diberikan kebutaan meskipun sebelumnya dapat melihat.” (Termasuk membahayakan jika seseorang ragu setelah beriman maka ia lebih berdosa dan menjadi buta setelah sebelumnya melihat.)

Sebenarnya, zaman terkini juga mengurangi status dan kemuliaan. (yaitu saat orang-orang hidup di daerah dan masyarakat yang sama dengan seorang Nabi dan meski demikian, mereka tidak mampu mengenali dan memahami statusnya). Inilah mengapa Nabi Isa as bersabda: ‘Seorang nabi bukannya tidak dihormati, kecuali di tempat asalnya dan di rumahnya sendiri.’ (Matius, 13:57) Dari kalimat itu, dapat diukur betapa musibah dan kesulitan yang ditanggung oleh seorang Nabi karena tangan-tangan orang-orang senegerinya sendiri. Sunnah ini masih berlaku pada para Nabi ‘alaihimus salaam. Maka, bagaimana mungkin saya dikecualikan dari itu?”

Dengan demikian, beberapa orang melontarkan tudingan dan tuduhan kepada Ahmadiyah atau terhadap klaim Hadhrat Masih Mau’ud as dengan mengatakan para ulama dari kaum beliau as sendiri menolak beliau as dan menyatakan para Ahmadi bukanlah Muslim. Dari antara penuding dan penuduh itu diantaranya ialah orang-orang Arab dan juga dari negara-negara lain. Argumen ini cukup memadai bagi mereka yaitu tiap kali datang seorang Nabi di zaman mana saja, pasti orang-orang dari kaum mereka sendiri menolak mereka. Semua yang terpaksa saya dengar dari para penentang saya itu sesuai dengan sunnah : يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ ۚ مَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ “Alangkah sayangnya, para hamba-Ku. Tidaklah datang seorang Rasul kecuali mereka pasti memperolok-olokannya.” (Surah Yasin) Jadi, penentangan terhadap para Nabi dan penentangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as adalah dalil kebenaran beliau as karena itu termasuk sunnah Allah terhadap para Nabi.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Alangkah sayangnya! Jika mereka datang kepada saya dengan niat yang benar niscaya Allah Ta’ala akan memperlihatkan pada mereka apa-apa yang Dia anugerahkan pada saya, dan untuk menurunkan karunia-Nya atas mereka dan membuat mereka paham namun mereka keras kepala dan iri dengki maka bagaimana dapat saya membuat mereka mengerti?” (Sedangkan kita yang mengimani beliau as wajib mengeratkan hubungan dengan Allah Ta’ala setelah beriman pada Hadhrat Masih Mau’ud as dan supaya kita tidak terperosok jauh dalam kesibukan duniawi karena dunia ini sementara saja. maka dari itu, kita harus memperhatikan hari esok) Selanjutnya, beliau as melanjutkan dan bersabda, “Jika seseorang datang dengan niat benar berbahas mengenai kebenaran niscaya semua urusan akan selesai. Namun, jika tujuannya ialah mencaci dan berbicara buruk maka takkan selesai sedikit pun…”

“Telah diriwayatkan dalam buku Hujajul Kiramah sebuah perkataan yang dirujukkan pada Ibnu Arabi bahwa saat Al-Masih yang dijanjikan itu datang maka ia akan dianggap pengada-ada dan bodoh bahkan sampai dikatakan ia mengubah-ubah agama. Inilah yang terjadi sekarang ketika ditujukan pada saya tuduhan dari segi ini. Bagi seseorang dapat membersihkan dari keragu-raguan ini dan bukan dengan demikian tetapi ia menghiasi dirinya dengan ijtihad (pendayagunaan pemikiran) pribadi dan perenungan apakah orang yang mendakwakan diri itu orang benar atau tidak? (artinya, seseorang hendaknya memperhatikan hal ini dan merenungkannya serta mintalah petunjuk kepada Allah Ta’ala apakah beliau benar atau tidak?) Tidak diragukan lagi, bahwa sebagian, tapi orang-orang yang beriman kepada para Rasul, berprasangka baik dan menunggu dengan sabar dan teguh maka Allah Ta’ala singkapkan bagi mereka kebenaran.

Di zaman Rasulullah saw biasanya para sahabat tidak bertanya langsung kepada beliau saw. Tapi mereka menunggu orang-orang datang dan bertanya kepada Nabi saw lalu mereka mengambil faedah dari tanya-jawab itu atau jika tidak demikian, mereka duduk-duduk menundukkan kepala dan tetap diam tanpa berani mengajukan pertanyaan. Cara yang benar dan lebih diterima dalam pandangan saya ialah seseorang memilih menerapkan adab dan penghormatan. orang yang tidak mengenal adab penghormatan terhadap para Nabi dan menerapkannya maka dikhawatirkan mereka akan hancur.”[1]

Hadhrat Masih Mau’ud as juga menasehati para pengikut beliau as untuk tidak berprasangka buruk dan tidak asal bertanya tanpa sebab.

Hal pertama ialah tidak merasa rendah diri (minder), sebagaimana telah saya katakan sebelumnya. Jika orang-orang saleh dan para Wali zaman dulu mempunyai pendapat dalam hal-hal tertentu, janganlah memandangnya sebegitu penting sehingga apabila sang Hakim Adil ini telah berdalil dengan pendapat beliau as atau memutuskan suatu hukum yang bertentangan dengan pendapat para Wali dan Saleh masa lalu maka itu ditandingkan (dipertentangkan) dengan pandangan mereka (para Wali dan Saleh masa lalu).

Para suci tersebut memang telah melayani Islam dengan sangat hebatnya di masa mereka masing-masing dan berjuang untuk membimbing kaum Muslim sesuai kemampuan mereka. Namun sekarang setelah Khatamul Khulafa, Khatamul Auliya, Mujadid Akhiruz Zaman dan Hakim Adil telah muncul, maka keputusan-keputusan beliau as, pengetahuan beliau as dan apa saja yang beliau sampaikan mengenai Islam adalah yang benar semuanya sementara yang bertentangan dengan itu tidak benar. Setelah berbaiat, kita harus menjalankan keputusan beliau as dan ini yang harus terus kita ingat. Inilah Islam yang seluruh dunia menyukainya. Seperti telah saya katakan, mengapa orang-orang menyayangi kita? Karena kita menyajikan Islam yang diajarkan Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya telah menyampaikan beberapa contoh padahal masih banyak lagi.

Sebagaimana juga telah saya sebutkan, hal kedua yang wajib kita ingat ialah muthala’ah (penelaahan) tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as dan mengambil manfaat dari semua tulisan tersebut yang mana mengajarkan Islam hakiki pada kita. Maka dari itu, pada satu segi kita harus mempelajarinya dan pada segi lainnya kita harus menyampaikannya kepada orang-orang lain yang mempunyai ikatan kuat dengan kita. Mereka yang bertabiat baik juga penting untuk diberi penyampaian tersebut. Hendaknya kita mengutip dan mengambil manfaat dari itu semua dalam keputusan-keputusan dan persoalan-persoalan sehari-hari dan itu ialah hal yang sangat penting.

Maka dari itu, kewajiban setiap Ahmadi untuk mengambil manfaat dari tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as sebanyak mungkin dan memberikannya kepada orang-orang lain. Kita tidak perlu mencemaskan apa-apa yang orang-orang katakan, tidak mengkhawatirkan pemikiran-pemikiran yang timbul tentang kita di hati orang-orang non Muslim dan orang-orang duniawi. Para Nabi dan utusan Allah datang ketika paham kebendaan amat banyak dan meluas di dunia dan tampak kerusakan di sana, mayoritas mereka melupakan agama dan sibuk dalam keduniaan dan termasuk misi para Nabi dan Rasul untuk mengembalikan mereka ke jalan yang lurus.

Maka, kita telah pikul di bahu kita tanggungjawab memperbaiki dunia sebagai konsekuensi mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as dan kita akan menghadapi penentangan di jalan ini. Orang-orang duniawi melupakan hukum-hukum guna memperbaiki keduniaan dan memuaskan hawa nafsu mereka. Jika hokum-hukum itu bertentangan dengan perintah-perintah Allah maka kita harus memperbaiki dunia seiring hidup kita di wilayah jangkuan perintah-perintah itu dan kita membimbing dunia ke jalan yang lurus tanpa merasa rendah diri bahkan kita harus melanjutkan amal perbuatan ini dengan hikmah.

Oleh karena itu, tidak perlu bagi kita untuk cemas dan takut. Kita harus siap untuk menganggap salah apa-apa yang dianggap salah oleh agama, dan masing-masing Ahmadi harus membuatnya sebagai bagian dari pandangannya selalu. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan tentang mereka yang mengajukan banyak pertanyaan pada zamannya dan menyampaikan permisalan dari zaman Nabi saw dan beliau bersabda, “Seyogyanya tidak banyak mengajukan pertanyaan karena banyak bertanya tidak menumbuhkan ketaatan sempurna. Orang-orang lain dulu telah mengajukan banyak pertanyaan sementara orang-orang beriman merasa tentram dengan jawaban-jawaban para penanya tersebut.”

Telah dimaklumi bahwa bashirah (mata batin) para Nabi menembus tajam dalam menjawab pertannyaan-pertanyaan yang muncul di pikiran mereka yang datang. Jika sebagian orang yang datang berkata tentang saya – saya (Hadhrat Khalifatul Masih V atba) khadim yang sederhana dari Hadhrat Masih Mau’ud as – bahwa saya menjawab semua pertanyaan yang ada di pikiran mereka maka bagaimana pandangan Anda tentang para Nabi yang mana bashirah mereka amat tajam. Mereka menjawab pertanyaan secara mendalam. Seseorang sekali-kali tidak berpemahaman bahwa tidak ada jawaban atas sebagian pertanyaan mereka. Namun, seorang beriman harus meningkatkan tingkat ketaatan mereka.

 Orang yang mempunyai ketaatan sempurna kepada Hadhrat Masih Mau’ud as adalah Khalifah pertama. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyebutkan mutu ketaatan beliau. [2]

Kebiasaan beliau ra di majelis Hadhrat Masih Mau’ud as ialah duduk menundukkan kepala sebagaimana riwayat-riwayat menyebutkannya. Beliau tidak berbicara dan tidak bertanya.[3]

Jika ada orang bertanya maka beliau menyimak mencari manfaat dari jawabannya dan biasa menuliskannya atau mendengarkan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as di pertemuan dan menyerap manfaat dari itu.

Ingatlah baik-baik bahwa pendapat yang mengatakan Islam tidak bisa menjawab setiap pertanyaan adalah tidak benar. Bahkan setiap persoalan ada jawabannya dalam Islam. Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab tiap jenis pertanyaan di dalam buku-buku dan pengajaran-pengajaran beliau as. Demikian pula, telah saya katakan dan saya ulangi bahwa suatu keharusan untuk membaca buku-buku beliau as hingga kita kokohkan pembuktian keagungan Islam. Baik itu persoalan fiqhiyyah atau yang berhubungan dengan masalah umum atau masalah ilmiah; semua ini bisa kita temukan di dalam di buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Para Khalifah telah menerangkan rincian tambahan. Ringkasnya, apa yang kita perlukan ialah membacanya dan merenungkannya.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah mewasiyatkan Jemaatnya berulang-ulang bagaimana seharusnya mereka menjadi dan bagaimana seyogyanya keadaan iman mereka. Saya hendak menyajikan kutipan-kutipan beliau as dalam kekhususan ini supaya menjadikan tiap orang dari kita termasuk yang menunaikan hak baiat mereka.

Beliau as bersabda memberikan arahan kepada Jemaat beliau as dan nasehat penting sekali, “Keadaannya ialah telah banyak terjadi kerusakan di zaman kini ketika muncul jenis-jenis syirik, bid’ah dan kerusakan. Pernyataan dalam baiat ‘Saya akan mengutamakan agama diatas duniawi’ ini ialah di hadapan Allah. (ini hal yang patut diperhatikan). Sekarang seseorang hendaknya berpegang teguh atas hal itu dengan sungguh-sungguh hingga maut menghampirinya. Jika tidak demikian maka anggaplah kalian belum baiat. Jika kalian berpegang teguh atas hal itu maka Allah Ta’ala akan memberkati kalian dalam hal agama dan dunia. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar ketakwaan kepada-Nya sesuai kehendak-Nya. Waktu rentan sekali (kritis). Murka Ilahi tengah tampak. Siapa yang menjadikan dirinya pengikut ridha Ilahi maka ia telah menyayangi dirinya sendiri, keluarganya dan anak keturunannya.” (Keadaan-keadaan dunia saat ini tengah rusak secara terus-menerus maka marilah semuanya merenungkannya dan kembali kepada Allah)

“Perhatikanlah! Manusia biasa memakan roti. Selama ia tidak memakan hingga jumlah tertentu maka ia takkan kenyang. Jika ia makan hanya sepotong roti, apakah ia akan terbebas dari kelaparan? Tidak! Takkan kenyang. Demikian pula, jika setetes air masuk ke tenggorokannya maka setetes air tersebut takkan menyelamatkannya. Bahkan, ia akan mati meski telah meminum hanya setetes. Maka, tidak mungkin seseorang hidup kecuali ia memakan sejumlah tertentu makanan dan minuman sebagai kebutuhan untuk hidup. Demikian pula, keadaan iman seseorang. Selama imannya tidak mencapai batas puas dan kenyang maka ia tidak akan mungkin selamat. Seseorang harus mencapai keimanan, ketakwaan dan pengamalan perintah-perintah Allah ke suatu derajat sebagaimana makanan dan minuman menghilangkan kelaparan dan kehausannya.”

“Ingatlah baik-baik, ketiadaan tanggapan terhadap sebagian perintah Allah serupa dengan meninggalkan seluruh perintah-Nya. Jika satu bagian untuk setan dan satu bagian lagi untuk Allah, maka Allah tidak menyukai persekutuan. Nizham ini didirikan agar orang-orang mengarahkan perhatian padanya. Memang benar, datang kepada Allah itu hal yang sulit sekali. Bahkan, itu satu jenis kematian. Namun, di dalamnya terdapat kehidupan pada akhirnya. Maka, orang yang mengeluarkan dari dirinya bagian setani berarti ia diberkati. Bagian keberkatannya memenuhi setiap orang yang ada di rumahnya, dirinya dan kotanya. Ada pun jika bagian Dia itu kecil maka tidak akan ada padanya keberkatan. Maka selama baiat tidak terpenuhi secara amal perbuatan, itu takkan berfaedah selamanya.

Permisalannya jika kalian banyak bicara di depan seseorang dan tidak melakukan apa-apa, tentu orang yang mendengarkan itu takkan senang. Demikian pula, perlakuan Allah Ta’ala. Dia itu sangat banyak ghairat-Nya (Maha Menjaga Kehormatan) diantara semua yang tersinggung kehormatannya. Apakah mungkin menaati-Nya dan sekaligus menaati musuh-Nya juga? Inilah apa yang dinamai kemunafikan. Bagi seseorang agar tidak memikirkan di tingkat ini apa tingkatan Zaid atau Bakr [level orang lain]. Ia hendaknya berpegang teguh dengan itu hingga maut menghampirinya.”

“Ada dua jenis keburukanl. Yang satu adalah mengaitkan pasangan atau sekutu terhadap Allah, tidak mengakui keagungan-Nya dan menjadi malas dalam menyembah Dia dan menaati-Nya. Keburukan kedua ialah tidak menunjukkan kebaikan kepada para hamba-Nya dan tidak memenuhi hak-hak mereka. Anda sekalian harus berusaha menghindari kedua jenis kesalahan tersebut. Teguhlah dalam ketaatan terhadap Allah.

Tetap teguhlah pada janji yang kalian ambil dalam baiat. Janganlah menyakiti hamba-hamba Allah. Bacalah Al-Qur’an dengan pengertian mendalam dan juga mengamalkannya. Tinggalkanlah semua pertemuan yang mengejek, beromong-kosong, cabul dan menyembah berhala. Jagalah lima shalat wajib setiap hari. Singkatnya, seharusnya tidak satu pun perintah Tuhan yang Anda lupakan. Jagalah agar tubuh Anda bersih dan hati Anda bebas dari segala kebencian, dendam dan kedengkian. Inilah poin-poin yang Tuhan inginkan dari Anda.”[4]

Sekarang, kita semua harus melihat kepada diri masing-masing sejauh mana kita telah menjauhi majlis-majlis keburukan dan yang mengandung syirik. Mungkin sebagian orang akan berkata, “Toh kami sudah beriman kepada Allah dan tidak menghadiri majelis syirik.” Namun, ingatlah, majlis atau TV atau juga internet atau hal lain apa pun juga yang memalingkan dari shalat-shalat dan ibadah-ibadah itu ialah majlis syirik. Jadi, suatu keharusan untuk meninjau diri kita sendiri dalam corak mendalam. Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberi pengarahan dalam corak khas perihal penegakan shalat lima waktu. Ketahuilah! Penegakan shalat ialah mendirikan shalat dengan berjamaah dan tepat pada waktunya. Saya telah mengamati dan melihat bahwa masih saja dalam hal ini terdapat banyak kekurangan.

Saat orang-orang meminta didoakan oleh saya, saya menanyai mereka apakah mereka telah berdoa sendiri dan membiasakan shalat-shalat maka jawaban mereka ialah tidak atau mengatakan, “Kami tengah berusaha.” Jika dalam diri pemohon doa tidak ada semangat untuk berdoa bagi diri sendiri demi menyingkirkan kelemahan maka bagaimana mungkin muncul dalam diri orang lain untuk berdoa baginya dengan semangat. Ya Allah! Kecuali jika ia menunaikan hak kewajiban doa bagi diri sendiri maka barulah mungkin orang lain menolongnya dengan doa. Hal ini jugalah yang telah ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw.

[Shahih Muslim, Kitab tentang Shalat, bab keutamaan bersujud, 488; Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslamiy radhiyallahu ‘anhu berkata: Suatu hari aku bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku membawakannya air wudhu dan keperluannya, maka beliau berkata kepadaku: «سَلْ» “Mintalah (sesuatu dariku)!” Maka aku berkata: Aku memintamu menjadi temanmu (bersamamu) dalam surga! Rasulullah berkata: «أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ» “Atau adalah selain itu?” Aku menjawab: Hanya itu! Rasulullah berkata: «فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ» [صحيح مسلم] “Maka bantulah aku atas dirimu dengan banyak sujud”. [Sahih Muslim]]

Demikian pula keburukan berjamaah yang mana telah saya singgung secara singkat bahwa sebagian orang tidak mencapai derajat yang seharusnya dalam hal saling menyayangi dan menjunjung tinggi persaudaraan. Bahkan, mereka memendam dengki dan dendam. Setiap dari kita harus memeriksa diri kita sendiri bukannya memelototi orang lain. Kalian harus memperbaiki diri dan memperhatikan diri kalian sendiri.

Jika tiap orang memperbaiki dirinya tentu secara otomatis orang lain akan baik. Tidak mungkin seseorang dapat mengklaim telah suci dalam segala hal. Suatu keharusan bagi kita untuk beristighfar senantiasa demi menghilangkan kelemahan dan kesalahan kita. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk bisa mengamalkannya dan semoga kita menjadi orang-orang yang secara amal perbuatan menunaikan hak kewajiban baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. (آمين) Aamiin

[1] Malfuzhat, jilid 3, h. 73, edisi 1985, terbitan UK.

[2] Ainah Kamalaat-i-Islam, Ruhani Khazain, jilid 5, h. 586

[3] Al-Fadhl, 27 Maret 1957, h. 5, jilid 11/46 no. 74

[4] Al-Badr, Jilid 2, no. 4, h. 31 tanggal 13 Februari 1903